• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAHAN DAN METODE Hewan Uji dan Pakan Percobaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAHAN DAN METODE Hewan Uji dan Pakan Percobaan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

# Ko r esp o n d e n si: Balai Be sar Riset Bu d id aya Lau t d an Pe n yu lu h an Pe r ikan an . Jl. Br. Go n d o l Ke c. Ge ro kg ak Kab . Bu le le n g , Po . Bo x 1 4 0 , Sin g ar aja 8 1 1 5 5 , Bali, In d o n e sia. Te l. + 6 2 3 6 2 9 2 2 7 8

E-m ail: adi asmar anyoman@ yahoo.com

Tersedia online di: ht t p://ej ournal-balit bang.kkp.go.id/index.php/j ra

FORM ULASI DAN APLIKASI PAKAN BUATAN BERBASIS RUM PUT LAUT UNTUK PENDEDERAN BENIH TERIPANG PASIR (Holothuria scabra)

Nyoman Adiasmara Giri#, Sari Budi M oria Sem biring, M uhammad M arzuqi, dan Retno Andam ari

* Balai Besar Riset Bud idaya Laut d an Penyu luhan Pe rikanan

(Naskah dit erima: 22 M ei 2017; Revisi final: 26 Sept ember 2017; Diset uj ui publikasi: 26 Sept ember 2017)

ABSTRAK

Teripang merupakan salah satu komoditas perikanan penting dan mempunyai nilai ekonomi yang tinggi di Asia. Teknologi pembenihan teripang sudah mulai dikembangkan dan telah mampu memproduksi benih secara massal untuk budidaya. Pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan budidaya teripang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi beberapa formula pakan berbasis rumput lau t un tu k pe nd e de ran te ripang pasir. Emp at pakan p erco baan difo rmu lasi me nggu n akan ko mb in asi beberapa jenis bahan baku, khususnya rumput laut. Pakan dibuat dalam bentuk pelet dengan kandungan protein 14% dan lemak 4,5%. Kontrol adalah pakan berupa bentos segar. Benih teripang pasir yang digunakan berukuran bobot 2,0 ± 0,6 g dengan panjang 2,8 ± 0,5 cm. Benih teripang dipelihara dalam bak persegi berkapasitas 150 L d engan kep adat an 50 eko r pe r bak. Be nih terip ang diberi pakan perco baan sekali dalam sehari pada sore hari. Perco baan dirancang d engan Rancan gan Acak Len gkap terdiri atas lima p e r la ku an p ak an d an e m p a t u lan ga n . Pe r co b a an b e rlan gs u n g se la m a 1 20 h a ri. Ha sil p e rco b aa n m e n u n ju kka n b a h wa b e n ih t e rip an g p as ir yan g d ib e ri p aka n b u at an m e n gh a silk an p e rt u m b u h an (pertambahan bobot 341,3%-386,8%) dan sintasan (92,5%-97,5%) lebih tinggi dan berbeda nyata (P< 0,05) dibandingkan dengan yang diberi pakan bentos (kontrol), yaitu masing-masing 126,9% dan 75,0% untuk pe rt amb ah an bo bot d an sintasan. Namun p ert um buh an be nih t eripang pada se mu a p erlakuan p akan bu atan t idak b erbe da nyata (P> 0,05). Kand ungan p rot ein te rip ang yang dib eri pakan buatan (22,3%-24,4%) lebih tinggi (P< 0,05) dibandingkan dengan yang diberi pakan kontrol (18,4%). Hasil penelitian ini men unju kkan bahwa ben ih te ripang pasir dapat mem anfaatkan pakan bu atan dengan baik dan pakan berbasis tepung Sargassum sp. dapat diaplikasikan pada pemeliharaan benih teripang pasir.

KATA KUNCI: formulasi pakan; rumput laut; teripang pasir (Holothuria scabra)

ABSTRACT: Formulat ion and applicat ion of art ificial seaweed-based diets for nursery of sea cucumber (Holothuria scabra) juveniles. By: Nyoman Adiasmara Giri, Sari Budi M oria Sembiring, M uhammad M arzuqi, and Retno Andamari

(2)

t reat ment s was not significant ly different (P> 0.05). Prot ein cont ent of sea cucumber fed t he art ificial feeds was significant ly higher (22.3%-24.4%) (P< 0.05) t han t hat of t he cont rol (18.4%). Result s of t his st udy indicat ed t hat juveniles of sea cucumber could ut ilize art ificial feed properly and Sargassum sp. based diet could be applied for nursery of sea cucumber juveniles.

KEYW ORDS: feed formulation; seaweed; sea cucumber (Holot huria scabra)

PENDAHULUAN

Te r ip a n g m e r u p a k a n s a la h s a t u k o m o d it a s perikanan pent ing dan mempunyai nilai ekono mi yang t in g gi d i Asia. Te rip an g p asir (Holot hur ia scabr a), d it e m u ka n s e ca r a lu a s d i p e r a ir a n In d o -Pa s ifik t erut ama di daerah pant ai berpasir sampai berlumpur (Mercier et al., 2000). Sebanyak 120 ribu t o n t eripang diperkirakan dit an gkap se t iap t ahu nnya di se luruh dunia sejak t ahun 1987. Dari jumlah t ersebut , Indo -nesia merupakan pemaso k t erbesar t eripang, dengan n egara p en gim po r t erbe sar ad alah Ho ngko n g dan Singapura (Co nand & Byrne, 1993). Dengan akt ivit as penangkapan t ersebut , Co nand (2004) dan Ut hicke (2004) melapo rkan bahwa pro duksi t eripang dari hasil t angkapan di alam cenderung menuru n. Sement ara Rah m a n et al . (2 0 1 5 ) m e n ya t a ka n s e ca r a glo b a l pro duksi t eripang meningkat dari 130 ribu t o n pada t ahun 1995 menjadi 411.878 t o n pada t ahun 2012. Namun demikian, dinyatakan bahwa pro duksi t eripang di n egara-negara Asia (Cina, Jepang, India, Filip ina, Indo nesia, dan Malaysia) mengalami penurunan karena penangkapan berlebih dan pengelo laan yang kurang b aik. Un t u k m e n gan t isip asi m e nu ru nn ya po p u lasi t e rip an g s e cara ko n t in u d i a lam , m ak a k e giat an budidaya t eripang yang dimulai dari pro duksi benih perlu segera dikembangkan, baik unt uk mendukung pemulihan st ok di alam, maupun untuk tujuan budidaya pembesaran.

Te rip an g m e m p u n yai p o t e n si yan g b aik u n t u k d ik e m b a n g k a n b u d id a ya n ya k a r e n a b e b e r a p a pert imbangan, ant ara lain t eripang merupakan hewan t ingkat tro pik rendah, t eknik budidaya teripang cukup se d e rh ana, t id ak m e m b ut u h kan m o d al be sar d an k e a h lia n k h u s u s , d a n d a p a t m e r u p a k a n u s a h a sampingan bagi masyarakat (FAO, 1988). Keberhasilan pengembangan budidaya t eripang sangat t ergant ung d ar i ke t e rs e d ia a n b e n ih , p a k a n d a n lin g k u n g a n b ud id aya yang se suai. Dari t ah un 19 94 –19 9 8 dan d im u la i la gi p ad a t a h u n 2 0 1 5 , Balai Be s ar Ris e t Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Go ndo l-Bali t elah melakukan penelit ian pembenihan t eripang pasir (Holot huria scabra) dan t elah berhasil mempro duksi benih secara massal (Sembiring et al., 2004, Sembiring et al., 2016).

Te r ip a n g m e ru p a kan b io t a la u t ya n g b e r sifa t o mnivo r yang cenderung herbivo r (Hauksso n, 1979 dalam Seo et al., 2011; Zhang et al., 1995). Sebagai h ewan ke lo m po k t in gkat t ro p ik re nd ah , m akanan t eripang berukuran kecil (2,5–5,0 cm) t erut ama t erdiri at as diat o m menempel dan det rit us o rganik. Teripang dengan ukuran lebih besar memakan mo luska kecil, ko pepo da, diat o m menempel, dan rumput laut . Pakan merupakan salah sat u fakt o r yang berperan pent ing d a la m m e m a c u p e r t u m b u h a n b e n ih t e r ip a n g , khususnya pada pemeliharaan dengan kepadat an yang le b ih t in g gi. Sh i et al. (2 0 1 3 ) m e lap o rkan b ah wa budidaya t eripang Apost ichopus j aponicus (Selenka) di Cina menggunakan alga co klat Sargassum t hunbergii sebagai pakannya. Beberapa alga makro lain juga t elah dico ba sebagai pakan sumber pro t ein unt uk t eripang Apost ichopus j aponicus (Selenka), di ant aranya Undaria pinnat ifida (Seo et al., 2011), Gracilaria lemaneiformis (Gao et al., 2011), dan Ulva lact uca (Xia et al., 2012a). Pada perco baan lainnya, Xia et al. (2012b) melapo rkan pakan yang mengandung 50% Laminaria j aponica dari t o t al alga dalam pakan, sangat co co k unt uk budidaya t e rip an g Apost ichopus j aponicus. Bai et al. (2 0 1 6 ) menemukan pakan dengan kandungan prot ein 11% dan lemak 2,8% memberikan pert umbuhan dan efisiensi pakan t erbaik unt uk t eripang A. j aponicus. Sement ara it u Wu et al. (2015) dan Huiling et al. (2004) masing-masing melapo rkan t eripang A. j aponicus t umbuh baik dengan pakan yang mengandung 4,38% dan 21,5% pro -t ein .

Info rmasi rinci mengenai kebut uhan nut rien dan pakan sert a aplikasi pakan buat an untuk t eripang pasir (Holot hur ia scabr a) m as ih s a n g a t t e rb a t a s . Pa d a e k o s is t e m b e n t o s p e s is ir k e b a n ya k a n t e r ip a n g memilih sedimen yang banyak mengandung det rit us a lg a m a k r o (Ut h ic k e & Ka r e z , 1 9 9 9 ). Pa d a pengembangan t eknik pro duksi benih t eripang di In-dia, pemeliharaan juvenil t eripang H. scabra dilakukan dengan menggunakan ekst rak rumput laut Sargassum sebagai pakannya. Sement ara unt uk ukuran t eripang yang lebih besar (panjang 10–20 mm) diberikan pakan berupa t epung Ulva lact ula (Bat t aglene et al., 1999).

(3)

Sargas-sum s p . d a n Ul va s p . u n t u k d ia p lik a s ik a n p a d a pendederan t eripang pasir H. scabra.

BAHAN DAN M ETODE

Hewan Uji dan Pakan Percobaan

Perco baan dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan (BBRBLPP), Gondol-Bali m u la i Me i s a m p a i Se p t e m b e r 2 0 1 6 . Pe r c o b a a n dirancang dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang t e r d ir i at a s lim a p e rla k u a n d a n e m p a t u lan g an . Sebanyak 20 buah bak plast ik (polipro pena) ber vo lume 1 5 0 L d igu n aka n se b aga i wa d ah p e rco b aa n . Bak perco baan dit em pat kan di luar lab o rat o rium basah (out door) dan dilengkapi dengan sist em air mengalir dan aerasi sebagai pasok o ksigen. Bak dit ut up dengan waring u nt uk mencegah be nih t eripang keluar dari bak.

Benih t eripang yang digunakan berasal dari hasil p e m b e n ih an d i BBRBLPP, Go n d o l d e n ga n u ku r an panjang 2,8 ± 0,5 cm dan bo bo t 2,0 ± 0,6 g. Benih t eripang dit ebar dengan kepadat an 50 eko r per bak. Benih t eripang pada masing-masing bak diberi salah sat u dari empat pakan perco baan at au pakan ko nt ro l. Pakan diberikan sekali dalam sehari p ada so re hari karena t eripang lebih akt if makan pada malam hari. Pakan difo rmulasi dari beberapa bahan baku dengan pro po rsi yang berbeda unt uk masing-masing pakan perco baan (Tabel 1). Pakan perco baan (Diet -1, Diet -2, dan Diet -3) menggunakan ko mbinasi t epung rumput lau t Sar gassum s p . d an Ulva s p . Ru m p u t lau t in i merupakan makanan alami t eripang, ket ersediaannya di alam melimpah, dan belum d imanfaat kan secara k o m e r s il. Pa k a n p e r c o b a a n (Die t -4 ) t a n p a me nggunakan t epu ng rum pu t laut . Ko nt ro l adalah bent o s yang merupakan pakan segar yang selama ini d igu nakan pad a p en d ed e ran t e rip ang pasir. Pakan dibuat dalam bent uk pelet (semi-moist) dengan kadar air 25% dan kandungan pro t ein 14% (Bai et al., 2016; Xia et al., 2015). Bent o s segar hasil kult ur dalam bak yang d igu nakan sebagai pakan ko nt ro l t erdiri at as fitoplankt on dari kelas Diatoms dan famili Melosiraceace; Naviculaceae; Nitzschiaceae sert a zoo plankt on dari famili Acart iidae (Sembiring et al., 2015).

Untuk menget ahui pengaruh pakan percobaan yang diberikan, set iap bulan dilakukan pengukuran bo bo t dan panjang t erhadap 25 eko r benih t eripang yang diambil secra acak dari set iap bak perco baan. Pada awal dan akhir perco baan, semua benih t eripang diukur bobot dan panjangnya. Set elah dipuasakan selama dua h ari p ad a akh ir p e rco b aan , se b an yak 2 5 –3 0 e ko r t eripang diambil dari masing-masing bak perco baan, dibilas dengan air t awar, dibekukan dan dikeringkan dengan freeze dryer (Labco nco Liphlo ck 6, Amerika).

Teripang kering kemudian dihaluskan dan dianalisais ko mpo sisi pro ksimat nya dan pro fil asam amino sert a asam lemaknya. menent ukan nilai kecernaan nut rien pakan perco baan. Benih t eripang ukuran bo bo t rat a-rat a 8,62 ± 1,27 g dan panjang 4,7 ± 0,6 cm dit ebar dengan kepadat an 5 0 e ko r /b a k s e b a g a i h e w a n u ji. Be n ih t e rip a n g diadapt asikan dengan pakan perco baan selama sat u m in g gu se b e lu m d ila ku k an p e n gu m p u lan fe s e s . Teripang diberi pakan perco baan secara berlebih. Sisa pakan dan ko t o ran dalam bak dibersihkan empat jam se t e la h p e m b e ria n p a kan . Se lan ju t n ya d ilaku k an analisis.Ko nsent rasi kro mium dalam pakan dan feses d ian alis is b e rd asarkan p ro se d u r Take u ch i (1 9 8 8 ). Kecernaan bahan kering dan pro t ein pakan percobaan dihit ung berdasarkan rumus berikut (Bai et al., 2016).

ADD (%)= 100 x (1 – MD/MF) t eripang dianalisis di Laborat o rium Nut risi dan Pakan, BBPPBL, Go ndol berdasarkan met ode AOAC (1990) dan Takeuchi (1988). Kadar air dit ent ukan dengan met o de gravimet ri. Sampel dipanaskan pada suhu 110°C dalam oven (Memmert 854, Jerman) sampai beratnya konst an. Kandungan prot ein ditentukan dengan meto de Kj eldahl (Kjelt ecTM

(4)

setelah pembakaran bahan dalam t anur (Carbo lit e ESF S20, Inggris.) pada suhu 550°C. Serat kasar ditent ukan dengan gravimetri set elah sampel bahan dimasak pada larut an asam dan basa. Karbo hidrat (BETN) dihit ung berdasarkan fo rmula:

{100 – (kad ar air + kadar pro te in + kadar lemak + kadar abu + kadar serat kasar)}

Analisis asam amino dan asam lemak pakan dan t eripang dilakukan di Labo rat o rium Terpadu, Inst it ut Pert anian Bo go r. Ko mpo sisi asam amino dit ent ukan d en gan High Pe rfo rmance Liq uid Ch ro m at o graph y (HPLC Shimadzu 10A, Jepang, dengan ko lo m t hermo scient ific ODS-2 hyersil) dan ko mpo sisi asam lemak d ianalisis m en ggu nakan Gas Chro mat o grap hy (GC Shimadzu 2010 plus, Jepang, dengan ko lo m kapiler

cyan o p ro pil me t h yl sil, panjan g 60 m d en gan dia-met er ko lo m 0,25 mm).

Un t u k m e n g e t a h u i r e s p o n s b e n ih t e r ip a n g t e r h a d a p p a ka n p e rc o b a a n , d a t a b o b o t a k h ir, p e r t a m b a h a n b o b o t , p a n ja n g , s in t a s a n , s e r t a k o m p o s isi p r o k s im a t t e r ip a n g d ia n a lisis r a g a m (ANOVA) dengan pro gram SPSS 14.0 for Windows dan dilanjut kan dengan uji Tukey pada selang kepercayaan 95% (St eel & To rrie, 1980).

HASIL DAN BAHASAN

Performansi Pertumbuhan Teripang

Nilai ke ce r n a an ke e m p at p a ka n b u a t a n p ad a percobaan ini bervariasi yaitu 49,5%–53,7% unt uk bahan Tabel 1. Ko mpo sisi pakan perco baan (g/100 g pakan)

Table 1. Composit ion of experiment al diet s (g/100 g diet )

Di et -1 Di et -2 Di et -3 Di et -4

Tep u n g ikan (Fish meal) 9 5 4 -

Tep u n g Sargassum sp . (Sargassum meal) 4 4 4 4 - -Tep u n g Ulva sp. (Ulva meal) - 4 0 4 9 -Tep u n g ked elai (Soybeam meal) - - - 1 8.5 Tep u n g b er as (Rice flour) - - - 3 5

Ben to s (Benthos) 3 5 - 3 5 2 2

Tep u n g kelekap (Lap lap meal) 7 7 7 2 0

Min yak ikan (Fish oil) 1 1 1 1

Vitamin mix1 ) 1 1 1 1

Min eral mix2 ) 1 1 1 1

Bin der 2 1 2 1 .5

To tal 1 00 1 00 1 00 1 0 0

Kad ar air (M oisture) (%) 25 .6 28 .7 27 .3 2 7.3 Pr o tein kasar (Crude prot ein) (% DM) 13 .3 14 .2 15 .0 1 4.2

Lemak (Lipid) (% DM) 4 .9 4 .5 4 .5 4 .1

Kad ar ab u (Ash) (% DM) 45 .4 25 .8 43 .6 1 9.7 Ser at kasar (Crude fiber) (% DM) 28 .3 30 .8 21 .2 1 6.5

BETN (NFE) (% DM)3 ) 8 .1 24 .7 15 .7 4 5.5 Nilai kecer n aan bah an ker in g

Dry matt er digest ibilitycoef ficient (%) 52 .7 49 .5 53 .7 5 1.0 Nilai kecer n aan pr o tein

Prot ein digestibilit ycoef ficient (%) 70 .4 67 .5 69 .8 7 4.9

3) 

BETN (NFE): bahan e kst rak tanpa nit rogen (nit rogen free ext ract) 2) 

Mineral mix (mg/g) : CuSO4.5H2O 20; Fe SO4.H2O 50; ZnO 200; Ca(IO3)2 7,5; MnO2 50; CoCO3.H2O 0,05; Na2Se O3 0,8.

7 8.9 1 1.1 4 .8 6 2.2 1 6.7 5 .2

-Pakan percobaan (Exper imental diets)

Bahan (Ingr ediets)

1) 

Vitamin mix : Vit A 5000 UI/g; Vit D3 1200 UI/g; Vit E 75 UI/g; Vit K3 23,5 mg/g; Vit B1 15 mg/g; riboflavin 20 mg/g; Vit B6 20 mg/g; Vit B12 0,01 mg/g; pantothe nic acid 45,1 mg/g; niacin 100 mg/g; folic acid 7 mg/g; biotin 0,2 mg/g.

Kont rol Control

B

e

n

to

s

se

g

a

r

(

F

re

sh

b

en

th

o

s

)

Ko mp o sisi p r o ksimat p akan d an n ilai kecern aan :

(5)

kerin g d an 67 ,5%–74 ,9 % u n t u k p ro t ein. Variasi in i d ikare n akan ad an ya p e rb e d aa n b ah an b ak u yan g digunakan (Tabel 1). Pad a pakan yang mengandung campuran dua jenis t epung rumput laut , yait u Sargas-sum sp. dan Ulva sp. (Diet -2) nilai kecernaan prot einnya paling rendah (67,5%). Sement ara pakan yang t idak untuk bahan kering dan 65%–76% untuk kecernaan pro -t e in p akan (-t ujuh je nis p akan ) yan g me nggun akan t e p u n g Sar gassum t hunber gi i s e b an yak 2 0 %– 4 0 %, t epung kedelai dan diko mbinasikan dengan t epung ru mp ut Undaria pinnat ifida at au Laminaria j aponica unt uk t eripang A. j aponicus.

Po la pert umbuhan benih teripang pasir yang diberi p akan p e rco baan se lam a 1 2 0 h ari d isajikan p ad a Gambar 1. Secara umum dipero leh laju pert umbuhan benih t eripang pasir yang diberi pakan buat an pada 60 hari pert ama pemeliharaan adalah tinggi, kemudian cenderung menurun pada bulan ket iga dan keempat . Sement ara it u, laju pert umbuhan benih t eripang pasir yan g dib eri pakan b en t o s (ko n t ro l) san gat lam bat se la m a 1 2 0 h ar i p e m e lih a ra an d a n le b ih re n d ah dibandingkan dengan kelo mpo k t eripang yang diberi pakan buat an. Menurunnya laju pertumbuhan t eripang set elah 60 hari pemeliharaan diduga t erjadi karena ukuran benih t eripang yang semakin besar dan sifat t erip an g yang su ka b erge ro mb o l, seh in gga t e rjad i persaingan ruang dan persaingan dalam mendapatkan pakan. Sem en t ara p ad a pe rlakuan ko nt ro l, karen a pert umbuhannya lebih lambat , maka bo bo t t eripang jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang diberi pakan pakan buat an. Pert umbuhan juvenil t eripang H. scabra ukuran 2 cm at au lebih sangat ber variasi t ergant ung d ar i ke p ad at an s e rt a ke t e rse d iaan p akan se lam a p e m e lih a r a a n . Ba t t a g le n e (1 9 9 9 ) m e la p o r k a n p e rt u m b u h an rat a-rat a ju ve n il t e r ip an g H. scabr a (ukuran > 2 cm) mencapai 0,2–0,8 mm per hari selama dua bulan pemeliharaan pada ko ndisi yang no rmal.

Pa d a Ta b e l 2 d is a jik a n s in t a s a n , ke r a g a a n pertumbuhan, dan konversi pakan benih t eripang pasir

yang diberi pakan perco baan. Sint asan benih t eripang pasir relat if t inggi berkisar 92,5%–97,5% unt uk teripang yang diberi pakan buat an dan berbeda nyat a (P< 0,05) den gan ko nt ro l yang h anya 75,0%. Kemat ian be nih t e ripang, khu susnya pad a p erlakuan ko nt ro l, leb ih banyak t erjadi pad a awal perco baan diduga karena m asih d a lam p ro se s ad ap t asi d e n gan lin gku n gan pemeliharaan yang baru.

Keragaan pert umbuhan yang meliput i bo bo t akhir, persent ase pert ambahan b o bo t , dan panjan g akhir diantara benih t eripang pasir yang diberi pakan buatan t idak berbeda nyat a (P> 0,05), namun berbeda nyat a dengan keragaan pert umbuhan benih t eripang yang diberi pakan bent o s (P< 0,05). Pakan perco baan pada penelit ian ini difo rmulasikan unt uk mengandung pro -tein dan lemak yang sama yaitu masing-masing berkisar 13,3%–15,0% dan 4,1%–4,9% menggunakan Sargassum sp ., Ul va sp ., d an b e n t o s d e n g an p ro p o r si yan g berbeda, serta satu pakan tanpa menggunakan dua alga makro t ersebut .Penggunaan Sargassum sp. dan Ulva s p . s e b ag ai b ah an p ak an u ji p a d a p e n e lit ia n in i berdasarkan info rmasi dari Bat t aglene et al. (1999), di mana ekst rak Sargassum sp. dan t epung Ulva sp. t elah digunakan pada pro duksi benih t eripang pasir di In-dia. Sement ara bent o s merupakan pakan yang selama in i d igu n akan pad a p e m be n ih an t erip an g pasir d i BBRBLPP, Go ndo l (Sembiring et al., 2016). Shi et al. (2 0 1 3 ) ju ga m e n ggu n akan alga co klat Sar gassum t hunber gii se b aga i p akan p ad a b u d id aya t e rip an g Apost ichopus j aponicus (Selenka) di Cina, karena alga ini mempunyai kandungan pro t ein yang cukup unt uk kebut uhan pro t ein t eripang, yait u 7,8%–11% dan kaya akan asam amino . Beberapa jenis rumput laut lainnya yang ju ga d igu nakan p ad a pe m e lih araan t e ripan g pada pemeliharaan t eripang, pro ses pembuat an pakan juga be rpengaruh t erh adap pert umbuh an t e ripang. Teripang Apost ichopus j aponicus yang diberi pakan yang diproses dengan ekstruder menghasilkan pert umbuhan d an ko n versi p akan yang le bih b aik diban dingkan dengan yang diberi pakan pelet (ko mpak), flake at au moist (Xia et al., 20 1 3 ), walau p un p akan t e rseb u t dirubah menjadi part ikel kecil sebelum diberikan pada t eripan g.

(6)

t ersedia. Berdasarkan habit at dan kebiasaan makannya di alam, diduga kebutuhan protein untuk pert umbuhan t eripang relat if rendah. Pernyat aan ini didukung o leh hasil penelit ian Seo & Lee (2010) dan Huiling et al. (2 0 0 4 ) yan g m a sin g -m a s in g m e n ya t a k a n b a h w a t eripang Apost ichopus j aponicus ukuran rat a-rat a 1,3 g dan 4,5–4,8 g membut uhkan pakan dengan kandungan p r o t e in 2 0 % d a n 2 1 , 5 % u n t u k m e n d u k u n g pert umbuhannya, sedangkan untuk kandungan lemak pakannya mencapai 2% (Seo & Lee, 2010). Sement ara it u , Bai et al. (2 0 1 6 ) m e n yat akan b ah wa t erip an g Apost ichopus j aponicus ukuran 5,0 g t umbuh baik bila diberi pakan dengan kandungan pro tein 11% dan lemak 2,8%. Kandungan pro t ein dan lemak ini hampir mirip dengan kandungan pro t ein dan lemak pakan ko nt ro l (bent o s) pada penelit ian ini yait u bert urut -t urut 11,1%

dan 4,8%. Kandungan pro t ein bent o s ini lebih rendah dibandingkan dengan kandungan protein pakan buatan. Ha l in i d id u ga m e ru p a k a n s a lah s a t u p e n ye b a b rendahnya pert umbuhan t eripang yang diberi pakan b e n t o s d ib a n d in g ka n yan g d ib e ri p a ka n b u a t a n . Berdasarkan dat a pert umbuhan pada perco baan ini, dapat diduga bahwa t eripang pasir ukuran rat a-rat a 2,0 g membut uhkan pakan dengan kandungan pro -t ein lebih -t inggi dari 11% un-t uk -t umbuh o p-t imal.

Se la in m e m p e r h a t ik a n a s p e k n u t r is i p a k a n , teripang juga memerlukan campuran pasir atau lumpur dengan ukuran part ikel t ert ent u pada pakannya. Pasir dan lumpur laut sebagai bahan dalam pakan diduga berperan mengatur waktu lamanya pakan berada dalam saluran pencernaan dari t eripang. Pasir dan lumpur Gambar 1. Po la pert amb ahan b o bo t t erip ang pasir yang dibe ri pakan

perco baan selama 120 hari pemeliharaan.

Figure 1. Growt h pat t ern of sea cucumnber, Holothuria scabra fed wit h t he experiment al diet s for 120 days.

0 2 4 6 8 10

0 30 60 90 120

Die t -1 Die t -2 Die t -3 Die t -4 Bent hos

Perio de pem eliharaan (hari) / Rearing period

(day)

B

o

b

o

t

(

W

ei

g

h

t

)

(g

)

Pakan -1 (Di et -1) Pakan -2 (Di et -2) Pakan -3 (Di et -3) Pakan -4 (Di et -4) Ben to s (Bent hos)

Tabel 2. Sint asan dan perfo rma pert umbuhan t eripang pasir yang diberi pakan perco baan selama 120 hari1)

Table 2. Survival and growt h performances of sea cucumber fed wit h t he experiment al diet s for 120 days

Pakan percobaan Exper imental diets

Sint asan Survival (%)

Bobot akhir Final weight (g)

Pert am bahan bobot W eight gain (%)

Panjang akhir Final length (cm )

Konversi pakan

FCR2 )

Pakan -1 (Diet -1) 9 2.5 ± 4.7a 8 .5 ± 0 .5a 3 4 7.0 ± 43 .3a 4 .6 ± 0 .8a 2 .3 ± 0 .1a

Pakan -2 (Diet -2) 9 7.5 ± 2.5a 9 .4 ± 1 .1a 3 6 8.3 ± 57 .2a 4 .7 ± 0 .1a 2 .0 ± 0 .1a

Pakan -3 (Diet -3) 9 5.5 ± 1.9a 8 .7 ± 0 .6a 3 4 1.3 ± 53 .7a 4 .9 ± 0 .6a 2 .1 ± 0 .2a

Pakan -4 (Diet -4) 9 7.5 ± 3.0a 9 .2 ± 1 .0a 3 8 6.8 ± 40 .8a 4 .6 ± 0 .3a 2 .0 ± 0 .3a

Ko n tr o l (Cont rol) 7 5 .0 ± 1 1 .1b 4 .3 ± 0 .6b 1 26 .9 ± 4 8 .7b 3 .5 ± 0 .4b 4 .3 ± 1 .6b

2) 

Konversi pakan be rdasarkan berat ke ring pakan (Feed conversi on rat io based on dry weight) 1) 

(7)

laut dengan ukuran part ikel lebih kecil dari 0,008 mm dalam pakan mem berikan p ert umb uhan le bih baik unt uk t eripang Apost ichopus j aponicus (Shi et al., 2015). In fo rmasi be rbe da d ilapo rkan o le h Ro bin so n et al. (2013) pada pemeliharaan t eripang secara int ensif pada sist em resirkulasi (RAS) di mana pencampuran pasir pada pakan t idak berpengaruh t erhadap pert umbuhan t e rip a n g Holot hur ia scr abr a, t e t a p i p as ir s e b ag ai s u b s t ra t m e m an g b e r p e n g ar u h p o sit if t e r h a d a p pert umbuhan t eripang. Unt uk memenuhi kebut uhan partikel atau komponen lumpur pada pakan percobaan, maka pada fo rmulasi pakan ini dit ambahkan t epung klekap. Wen et al. (2016) melakukan percobaan dengan t e rip ang Apost ichopus j aponicus yan g d ib e ri p akan masing-masing hanya dengan bahan t epung rumput laut Sargassummat icum, Gracilarialemaneiformis at au Ulvalact uca, at au masing-masing t epung rumput laut t erseb u t d icam pu r de n gan t e p un g klekap (bent hic m at t er) m e n yim p u lk a n b a h w a k le k a p d a p a t m e nggant ikan t e pu n g ru m p ut lau t se b agai p akan t eripang. Hal ini didasarkan pada hasil perco baannya yang menunjukkan bahwa t eripang yang diberi pakan campuran tepung rumput laut dan klekap menghasilkan pert umbuhan yang sama at au lebih baik dibandingkan dengan yang diberi hanya t epung rumput laut .

Komposisi Biokim ia Teripang

Tabel 3 menyajikan ko mpo sisi pro ksimat t eripang pasir set elah diberi pakan perco baan selama 120 hari. Pakan perco baan berpengaruh nyat a (P< 0,05) t erhadap kan d u n g a n p ro t e in , a b u , s e r a t ka s ar, d a n BETN teripang. Teripang yang diberi pakan buatan mempunyai kandungan prot ein yang lebih t inggi dan berbeda nyata (P< 0,05) dibandingkan dengan t eripang yang diberi pakan bent o s segar. Namun demikian, kandungan pro -t ein keempa-t grup -t eripang yang diberi pakan bua-t an t idak berbeda nyat a (P> 0,05). Data ini sejalan dengan dat a keragaan pert umbuhannya, yang menunjukkan b ah wa fo rmu lasi pakan b u at an yang d ico b a t idak

berpengaruh t erhadap pert umbuhan dan kandungan pro t ein t eripang. Hal yang sama juga dilapo rkan pada abalo n, Haliot is squamat a, di mana kandungan pro t ein daging abalo n yang diberi pakan buat an lebih t inggi daripada yang diberi pakan segar berupa Gracilaria sp. (Giri et al., 2015). Shearer (1994) menyat akan bahwa ko mposisi proksimat dari ikan budidaya secara umum d ip en garu hi o le h fakt o r int ernal (gen et ik, ukuran , seks, dan siklus hidup) dan fakt o r ekst ernal sepert i pakan (ko mpo sisi, frekuensi, jumlah pakan, dan lain-lain) d an lingkungan (suhu, salinit as, dan lain -lain-lain). Lebih lanjut dinyat akan bahwa fakt o r yang do minan m em en garu hi ko mp o sisi p ro ksim at ikan bu d id aya ad alah ukuran ikan, siklu s hid up , d an en ergi yang diko n sum si (pakan). Zacarias-So t o & Olve ra-No vo a (20 15) juga m elapo rkan bahwa kand ungan pro t ein t e rip an g Isost ichopus badionot us d ip e n gar u h i o le h kandungan pro t ein dan lemak pakan ko mersil yang diberikan. Teripang I. badionot us t ersebut diberi pakan dengan kandungan pro t ein yang berbeda yait u 20,1%; 37,7%; dan 14,8% dan masingmasing kandungan pro -t e in -t u b u h n ya a d a lah 2 2 ,1 %; 2 3 ,7 %; d a n 1 7 ,6 %. Se lan jut nya, kadar abu t eripang yan g d ibe ri pakan bent o s cukup t inggi dibandingkan dengan perlakuan pakan lainnya. Hal ini sesuai dengan kadar abu pakan ko nt ro l (bent o s) yang t ert inggi (62,2%) dibandingkan pakan lainnya. Kadar abu t eripang yang diberi pakan perco baan Diet-4 dengan kadar abu sebesar 19,7% juga relatif t inggi dan t idak berbeda nyat a (P> 0,05) dengan kadar abu t eripang yang diberi pakan bent o s. Dat a ini menunjukkan bahwa kadar abu pakan yang t inggi t idak t erkait langsung dengan kadar abu t eripang.

Ko m p o s isi asam a m in o t e rip a n g p asir s e t e lah diberi pakan perco baan selama 120 hari t ert era pada Tabel 4. Kandungan asam amino t eripang pasir yang d ib eri p akan p e rco b aan Die t -4 d an p akan b en t o s (ko nt ro l) lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Pakan perco baan Diet -4 t idak mengandung t ep un g ikan d an pakan ko nt ro l hanya t erd iri at as

Tabel 3. Ko mpo sisi pro ksimat (% BK) t eripang pasir set elah diberi pakan perco baan selama 120 hari1)

Table 3. Proximat e composit ion (% DM ) of sea cucumber fed wit h t he experiment al diet s for 120 days

Pakan percobaan Experimental diets

Prot ein Pr otein

Lem ak Lipid

Kadar abu Ash

Serat kasar Crude fiber

BETN NFE

Pakan -1 (Diet -1) 2 2 .3 ± 1 .1a 2 .6 ± 0 .6a 4 5 .3 ± 0 .5ab 2 4 .7 ± 0 .9ab 5.1 ± 0 ,3b

Pakan -2 (Diet -2) 2 4 .4 ± 0 .4a 3 .4 ± 0 .4a 4 3 .9 ± 0 .9a 2 4 .5 ± 0 .8ab 3.8 ± 0 .2ab

Pakan -3 (Diet -3) 2 3 .6 ± 1 .2a 3 .0 ± 0 .3a 4 5 .0 ± 2 .1ab 23 .5 ± 1.2a 4.9 ± 0 .4b

Pakan -4 (Diet -4) 2 3 .5 ± 0 .4a 2 .9 ± 0 .7a 4 7 .9 ± 1 .1bc 22 .2 ± 0.9a 3 .5 ± 0.3a

Ko n tr o l (Cont rol) 1 8 .4 ± 0 .2b 2 .6 ± 0 .2a 4 9 .6 ± 1 .4c 26 .1 ± 3.0b 3 .3 ± 0 .2a

1)  

Nilai pada lajur yang diikuti dengan huruf yang sama me nunjukkan t idak be rbe da nyat a

(8)

berbagai jenis plankton yang diduga menyebabkan lebih rendahnya asam amino pada teripang yang diberi kedua pakan t ersebut . Kandungan arginin, glisin, dan asam glu t a m at m e ru p aka n a sa m a m in o d o m in an ya n g dit emukan pada t eripang p asir pada perco baan ini. Hasil ini sesuai dengan yang dilapo rkan Ridho wat i & Asnani (2015) bahwa glisin dan asam glut amat , diikut i arginin dan alanin merupakan asam amino do minan pad a daging t e ripan g pasir alam yan g dike ringkan. Glisin m e ru p akan asam am in o d o min an (1 8,3 8 %– 19,17%) yang dit emukan p ada daging empat spesis t e r ip a n g d a r i a la m yait u Act i nopyg a m aur it i ana, H ol ot h ur i a sca br a, Boha d sch i a m a r m or a t a, d a n Holot huria leucospilot a (Omran, 2013). Seo et al. (2011) pada perco baannya menggunakan bahan nabat i berupa rumput laut unt uk pakan pemeliharaan t e ripang A. j aponicus melapo rkan bahwa ko mpo sisi asam amino t eripang t id ak dipengaruhi o leh bahan pakan yang digunakan.

Kompo sisi asam lemak t eripang pasir setelah diberi pakan percobaan selama 120 hari disajikan pada Tabel 5. Ko mpo sisi asam lemak t eripang pasir yang diberi pakan buat an t idak banyak ber variasi. Namun secara umum kandungan asam lemak (% dari kadar lemak) grup t eripang yang diberi pakan buat an lebih t inggi (21,0%–34,62%) dibandingkan dengan yang diberi pakan be nt o s (5 ,5 3%). Ren dahnya t o t al asam lem ak yang

t erd et eksi pada t eripang yan g dibe ri pakan ben t o s t idak sejalan dengan dat a kandungan lemak t eripang (Tabel 3), di mana kandungan lemak t eripang t idak berbeda nyata pada semua perlakuan. Kandungan asam le mak lino leat (18 :2n -6 ) yang relat if t inggi (1 ,62 %) dipero leh pada t eripang pasir yang menerima pakan Diet -4 yang berbahan baku t epung kedelai. Kedelai m e ru p akan bah an p akan n ab at i yang m e m p u n yai kandungan asam lemak lino leat yang t inggi. Sementara it u, kandungan asam lemak arakido nat yang t inggi (7,05%) dipero leh pada t eripang yang menerima pakan Diet -1 dengan bahan baku t epung Sargassum sp. Giri et al. (2015) melapo rkan bahwa t epung Sargassum sp. mempunyai kandungan asam lemak arakido nat yang jauh lebih tinggi (8,32% dari kadar lemak) dibandingkan dengan Ulva sp. (0,34%) dan Gracilaria sp. (5,14%). Pakan Diet -2 juga difo rmulasi menggunakan t epung Sargas-sum sp. yang kandungannya sama dengan pakan Diet -1 (44%) dan diko mbinasikan dengan t epung Ulva sp. (4 0 %). Nam u n kan d u n gan asam le mak arakid o n at t eripan g yang diberi pakan Diet -2 cend erun g le bih rendah dibandingkan dengan yang diberi pakan Diet -1. Hasil ini sejalan dengan hasil penelit ian Wen et al. (2016) unt uk t eripang A. j aponicus yang diberi pakan t e pung Sargassum mut icum m em pu nyai kan du ngan asam le m ak arakid o nat le bih t in ggi d iban d in gkan dengan yang diberi pakan campuran t epung Sargas-Tabel 4. Ko mpo sisi asam amino t eripang pasir set elah diberi pakan perco baan selama 120

hari (% w/w)

Table 4. Amino acids composit ion of sea cucumber fed wit h t he experiment al diet s for 120 days (% w/w; simplo)

Pakan-1 Diet-1

Pakan-2 Diet-2

Pakan-3 Diet-3

Pakan-4 Diet-4

Kont rol Contr ol

Essent ial AA:

Leu cin e 1 .0 1 1 .1 1 1 .1 9 0.6 3 0.7 2 Meth io n in e 0 .2 0 0 .6 0 0 .4 9 0.1 5 0.2 3 Isoleu cin e 0 .4 7 0 .7 5 0 .8 0 0.1 6 0.2 7 Valin e 0 .6 2 0 .9 0 0 .9 9 0.2 5 0.3 7 Ar g in in e 1 .4 9 2 .7 1 1 .6 9 0.9 0 0.9 3 Th r eo n in e 0 .8 9 0 .9 3 0 .9 9 0.3 8 0.4 4 Histid in e 0 .1 8 0 .1 7 0 .2 0 0.1 2 0.1 4 Ph en ylalan ine 0 .5 5 0 .7 9 0 .8 8 0.3 3 0.4 0 Lysin e 0 .6 5 0 .7 4 0 .5 4 0.4 2 0.4 8 Non-esensial AA:

Alan ine 1 .6 0 1 .6 3 1 .6 9 1.3 6 1.0 8 Asp ar tic acid 1 .8 9 1 .8 8 2 .0 0 1.3 4 1.3 0 Glu tamic acid 3 .1 4 3 .6 3 3 .7 9 2.2 4 2.1 0 Glycine 2 .4 8 2 .0 1 1 .9 9 1.8 8 1.4 8 Serin e 0 .9 1 0 .8 3 0 .9 0 0.7 1 0.6 8 Tyr osin e 0 .5 1 1 .1 5 1 .2 5 0.2 8 0.3 5

Tot al 16.59 19.83 20.54 11.14 10.96

Asam am ino Amino acids

(9)

sum mut icum dengan bent hic mat t er. Sait o et al. (1999) menyat akan bahwa pakan merupakan fakt o r ut ama yang memengaruhi ko mpo sisi dan t o t al asam lemak ikan, t et api fakt o r lain sepert i ukuran at au umur dan st at us repro duksi ikan juga mempunyai pengaruh yang n yat a. Di an t ara gru p t erip an g yan g dib e ri pakan b u a t a n , t e r ip a n g ya n g m e n e r im a p a k a n Die t -2 mempunyai kandungan EPA (20:5n-3) paling rendah (2,13%). Pakan Diet -2 difo rmulasi dengan Ulva sp. dan Sar g assum s p . ya n g t e r n ya t a ju g a m e m p u n ya i kandungan EPA yang rendah (Giri et al., 2015).

Secara u mu m kan du n gan asam le m ak m irist at , palmit at dan st earat merupakan asam lemak do minan pada t eripang set elah pemberian pakan perco baan. Asam lemak EPA juga merupakan asam lemak yang do minan kecuali pada t eripang yang menerima pakan ko n t ro l (b e n t o s). Hal yan g sa m a ju ga d ila p o rkan Rid h o w a t i & As n a n i (2 0 1 5 ) b a h w a a s a m le m a k palmit at , st earat ,kelekap dan arakido nat merupakan asam lemak do minan dari t eripang pasir yang dio lah dengan pengeringan, namun t idak unt uk kandungan EPA. Fawzya et al. (2015) juga melaporkan bahwa asam lemak palmit at merupakan asam lemak do minan pada teripang Holothuria fuscogilva dan kandungannya bahkan mencapai 32% dari t ot al asam lemak (Wen et al., 2010). As a m le m a k s t e a r a t (1 8 :0 ) d a n o le a t (1 8 :1 n -9 ) ce n d e ru n g d iaku m u lasi o le h t e rip an g Isost ichopus badionot us yang diberi pakan dengan kandungan lemak b e rle b ih (Za ca ria s -So t o & Olve ra -No vo a , 2 0 1 5 ). Sement ara t eripang Apost ichopus j aponicus yang diberi

Tabel 5. Ko mpo sisi asam lemak t eripang pasir set elah diberi pakan perco baan selama 120 hari (% w/w lemak)

Table 5. Fat t y acids composit ion of sea cucumber fed wit h t he experiment al diet s for 120 days (% w/ w lipid)

pakan de ngan kan du ngan le mak t inggi cen de ru ng mengakumulasi asam lemak lino lenat dan o leat (Seo & Le e , 2 0 1 0 ). Be b e r a p a in fo r m a s i t e r s e b u t m e n u n ju kkan b ah w a p r o fil asa m le m ak t e rip an g dipengaruhi o leh kandungan lemak pakannya.

KESIM PULAN

Benih t eripang pasir dapat memanfaat kan pakan b u a t a n d e n g a n b a ik u n t u k p e r t u m b u h a n n ya dibandingkan dengan pakan bento s. Pemberian pakan b u a t a n d ap a t m e n in gk at k an k a n d u n g an p r o t e in t eripang pasir diban dingkan dengan p akan ben t o s. Pa k a n b e r b a s is t e p u n g Sa r g a ssu m s p . d a p a t diaplikasikan pada pemeliharaan benih t eripang pasir.

UCAPAN TERIM A KASIH

Penelit ian ini dibiayai o leh APBN DIPA Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Budidaya Laut (BBPPBL), Go n d o l t ah u n an ggaran 2 0 1 6 . Pe nu lis sam paikan t e rim a kasih ke pad a Ni Mad e Me it a dan Su mard i (t eknisi Labo rat o rium Pakan) sert a Deny Puji Ut ami d an Darsud i (t e kn isi Lab o rat o rium Kimia) BBPPBL, Gondol at as bantuannya dalam pelaksanaan penelit ian in i.

DAFTAR ACUAN

Asso ciat io n o f Official An alyt ical Che mist (AOAC). (1 9 90 ). Official m et h o d s o f an alysis. 1 2 t h Ed . Washingt o n, D.C. Asso ciat io n o f Official Analyt i-cal Chemist s, p. 1141.

Pakan-1 Diet-1

Pakan-2 Diet-2

Pakan-3 Diet-3

Pakan-4 Diet-4

Kont rol Contr ol

Myr istic acid, 1 4 :0 0 .9 3 0 .2 0 0 .35 0 .3 6 0.1 2 Palmitic acid , 1 6 :0 4 .0 8 1 .2 0 1 .69 1 .5 4 0.5 6 Stear ic acid , 1 8 :0 3 .9 4 2 .2 1 2 .78 2 .7 6 0.9 2 Oleic acid , 1 8 :1 n -9 0 .5 1 1 .1 0 0 .96 1 .6 4 0.4 6 Lino leic acid , 1 8 :2 n -6 0 .2 5 0 .3 0 0 .34 1 .6 2 0.0 9 Lino len ic acid , 1 8 :3 n -3 0 .4 4 0 .6 4 0 .69 0 .8 2 0.2 3 Ar ach ido n ic acid , 2 0:4 n-6 7 .0 5 4 .7 0 4 .96 4 .3 7 0.5 3 Eico sapen taen oic acid (EPA), 20 :5n -3 5 .0 9 2 .1 3 4 .32 5 .4 1 0.1 8 Do co sah exaen oic acid (DHA), 2 2 :6 n -3 0 .4 5 0 .4 9 0 .67 0 .9 1 0.0 4 To tal n -3 5 .9 8 3 .2 6 5 .68 7 .1 4 0.4 5 To tal n -6 7 .4 3 5 .0 9 5 .59 6 .1 1 0.6 2 To tal fatty acid s 3 4 .6 2 2 1 .0 0 2 6 .2 8 30 .62 5.5 3

Asam lem ak Fatty acids

(10)

Bai, Y., Zhang, L., Xia, S., Liu, S., Ru, X., Zhang, T., & Yang, H. (2016). Effect s o f diet ar y pro t ein levels o n t he gro wt h, energy budget , and physio lo gical and immuno lo gical perfo rmance o f green, whit e a n d p u r p le co lo r m o r p h s o f s e a cu c u m b e r, Apost ichopus j aponicus. Aquacult ure, 450, 375-382. Bat t aglene, S.C. (199 9). Cult ure o f t ro p ical sea cu-cumbers fo r st o ck rest o rat io n and enhancement . The ICLARM Quart erly, 2(4), 4-11.

Bat t aglene, S.C., Seymo ur, J.E., & Ramo fafia, C. (1999). Sur vival and gro wt h o f cult ured ju venil sea cu-cumbers, Holot huria scabra. Aquacult ure, 178, 293-322.

Co nand, C. & Byrne, M. (1993). A review o f recent develo pment s in t he wo rld sea cucumber fisher-ies. M arine Fisheries Review 55(4), 1-13.

Co nand, C. (2004). Present st at us o f wo rld sea cu-cumber resources and ut ilizat io n: an int ernat io nal o ver view. In: Advances in Sea Cucumber Aquacul-t ure and ManagemenAquacul-t (Lo vaAquacul-t elli, A., Co nand, C., Purcell, S., Ut hicke, S., Hamel, J.F. & Mercier, A. eds), pp.13–23. FAO, Ro me, It aly.

FAO. (1988). Sea cucumber cult ure: pot ent ial and pros-pects. ht t p://www.fao .o rg/docrep/field/003/ac869e/ AC869E06.ht m# ch6.2. Diakses t gl. 16 April 2015. Fawzya, Y.N., Januar, H.I., Susilo wat i, R., & Chasanah, E. (2015 ). Ch emical co m po sit io n and fat t y acid pro file o f so me Indonesian sea cucumbers. Squalen Bull. of M ar. & Fish. Post har vest & Biot ech., 10(1), by sea cucumber Apost ichopus j aponicus (Selenka) (Ech ino dermat a: Ho lo t hu ro idea): evidence fro m carbo n st able iso t o pe. Aquacult ure, 319, 272–276. Giri, N.A., Marzuqi, M., Ast ut i, N.W.W., Andriyant o , W., Rusdi, I., & Andamari, R. (2015). Evaluasi bahan baku pakan dan pengembangan pakan buatan untuk budidaya pembesaran abalo n (Haliot is squamat a). Jurnal Riset Akuakult ur, 10(3), 379-388.

Hu ilin g, S., Mengqing, L., Jingp ing, Y., & Biju an, C. (2004). Nut rient requirement s and gro wt h o f t he sea cucumber, Apost ichopus j aponicus. In Advances in se a cucu mbe r aquacu lt u re and manageme nt (Lo vat elli, A., Co nand, A., Purcell, C., Ut hicke, S., Hamel, S., & Mercier, J. F. eds), pp. 327–331. FAO Fish erie s Techn ical Pape r No . 46 3. FAO, Ro m e, It aly.

Mercier, A., Batt alene, S.C., & Hamel, J.F. (2000). Set tle-ment preferences and early migrat ion o f t he tro pi-cal sea cucumber Holot huria scabra. Journal of Ex-periment al M arine Biology and Ecology, 249, 89-110. Omran, N.E.E. (2013). Nut rit io nal value o f so me Egyp-nal of Chemical, Environment al & Biological Sciences (IJCEBS), 3(4), 344-348. digrumna and C. t ile) and family siganidae (Siganus canaliculat us). Lipids, 34(10), 1073-1082.

Se m b ir in g , S.B. M., Su g a m a , K., Sw a s t ik a , I. M., Makat u t u, D., & Ju fri. (20 0 4). Pe do m an Te knis Te kno lo gi Perb enihan Teripang Pasir, Holot hur ia scabra. Pusat Riset Perikanan Budidaya, Badan Riset Kelaut an dan Perikanan. Depart emen Kelaut an dan Perikanan, Jakart a, 23 hlm.

Sembiring, S.B.M., Hut apea, J.H., Sugama, K., Susant o , B. , Gir i, N. A. , & Ha r ya n t i. (2 0 1 5 ). Te k n ik p e r b e n ih an t e r ip a n g p as ir Hol ot hur ia scabr a. Dal am: Re ko m e n d asi Te kn o lo gi Ke lau t a n d an Pe r ik a n a n 2 0 1 5 (So e k a d i, F., Su g a m a , K. , Nurhakim, S., Heruwati, E.S., Purba, M., Kusnendar, E., Djunaidah, I.S., Sudibjo , E.R., & Sakt i, I. eds.). h lm . 1 8 7 -2 0 0 . Ba d a n Lit b a n g Ke la u t a n d a n Perikanan, Kement erian Kelaut an dan Perikanan. Jakart a.

Sembiring, S.B.M., Wardana, I.B., & Har yant i. (2016). Perfo rma benih t eripang pasir, Holot huria scabra d ar i su m b e r in d u k yan g b e rb e d a. Jur nal Riset Akuakult ur, 11(2), 147-156.

Shearer, K.D. (1994). Fact o rs affect ing t he proximat e co mpo sit io n o f cult ured fishes wit h emphasis o n salmo nids. Aquacult ure, 119, 63-88.

(11)

Shi, C., Do ng, S., Wang, F., Gao , Q., & Tian, X. (2015). Effect s o f t he sizes o f mud o r sand part icles in feed o n gro wt h and energy budget s o f yo ung sea cucu mb e r (Apost ichopus j aponicus). Aquacult ur e, 440, 6-11.

Seo , J.Y. & Lee, S.M. (2010). Opt imum diet ar y pro -t e in and lipid le vels fo r gro w-t h o f ju venile sea cucumber Apost ichopus j aponicus. Aquacult ure Nu-t riNu-t ion, 17 (2), e56-e61.

Seo , J.Y., Shin, I.S., & Lee, S.M. (2011). Effect o f di-et ar y inclusio n o f vario us plant ingredient s as an alternative for Sargassum t hunbergii o n growt h and b o d y co m p o s it io n o f ju ve n ile s e a cu cu m b e r Apost ichopus j aponicus. Aquacult ure Nut rit ion, 1 7, 549–556.

St e e l, R.G.D. &. To rrie , J.H. (1 9 8 0). Princip le s an d pro cedures o f st at ist ics. New Yo rk, USA. McGraw Hill, p. 481.

Takeuchi, T. (1988). Labo rat o r y wo rk-chemical evalu-at io n o f diet ar y nut rient . In Wevalu-at anab e, T. (Ed.). Fish Nut rit ion and M aricult ure. JICA Kanagawa In-t ernaIn-t io nal Fishe ries Training CenIn-t re. To kyo , p. 179-233.

Ut hicke, C. (2004) Overfishing o f ho lo t hurians: les-so ns fro m t he Great Barrier Reef. In Advances in Se a Cu cu m b e r Aq u acu lt u re an d Ma n ag e m e n t (Lo vat elli, A., Co nand, C., Purcell, S., Ut hicke, S., Hamel, J.F., & Mercier, A. eds), pp. 163–171. FAO, Ro me, It aly.

Ut hicke, S. & Karez, R. (1999). Sediment pat ch selec-t iviselec-t y in selec-t ro pical sea cucumbers (Ho lo selec-t hurio idea: Aspido chiro t ida) analyzed wit h mu lt ip le cho ice experiment s. Journal of Experiment al M arine Biol-ogy and EcolBiol-ogy, 236, 69–87.

Wen, J., Hua, C., & Fana, S. (2010). Chemical co mpo -sit io n and nut rit io nal qualit y o f sea cucumbers. J. Sci. Food Agric., 90, 2469–24745.

Wen, B., Gao , Q., Do ng, S., Ho u, Y., Yu, H., & Li, W. (2 016). Effect s o f differe nt feed ingredie nt s o n gro wt h, fat t y acid pro files, lipid pero xidat io n and

am in o t ran sfe ra se s a ct ivit ie s o f se a cu cu m b e r Apost ichopus j aponicus (Selenka). Aquacult ure, 454, 176–183.

Wu, B., Xia, S., Rahman, M.M., Rajkumar, M., Fu, Z., Tan, J., & Yang, A. (2015). Subst it ut ing seaweed wit h co rn leaf in diet o f sea cucumber (Apost ichopus j aponicus): Effe ct s o n gro wt h, fee d co n ve rsio n rat io and feed digest ibilit y. Aquacult ure, 444, 88-92.

Xia, S., Yang, H., Li, Y., Liu, S., Zho u, Y., & Zhang, L. (20 1 2a). Effe ct s o f d iffe re n t seawee d d iet s o n gro wt h, digest ibilit y, and ammo nianit ro gen pro -duct ion of t he sea cucumber Apost ichopus j aponicus (Selenka). Aquacult ure, 338–341, 304–308. Xia, S., Zhao , P., Chen, K., Li, Y., Liu, S., Zhang, L., &

Yang, H. (2012b). Feeding preferences o f t he sea cucumber Apost ichopus j aponicus (Selenka) o n vari-o us seaweed diet s. Aquacult ure, 344-349, 205-209. Xia, S., Yan g, H., Li, Y., Liu, S., Zhang, L., Chen, K., Le e, J.H., & Zo u , A.G. (20 13 ). Effect s o f differ-ent ly pro cessed diet s o n gro wt h, immunit y and w a t e r q u a lit y o f s e a cu cu m b e r, Apost i chopus j aponicus (Selenka 1867). Aquacult ure Nut rit ion, 19, 382–389.

Xia, B., Wang, J., Gao , Q., Sun, Y., Zhang, L., Ma, J., & Liu , X. (20 15). The nut rit io nal co nt ribut io ns o f d ie t ar y p ro t e in so u rce s t o t issu e gro wt h an d m e t a b o lis m o f s e a cu c u m b e r Ap ost i ch op u s j aponicus (Selenka): Evidence fro m nit ro gen st able iso t o pe analysis. Aquacult ure, 435, 237–244. Zacarias-So t o , M. & Olvera-No vo a, M. (2013). Effect

o f different diet s o n bo dy bio chemical co mpo si-t io n o f si-t he fo ur-sided sea cucumber, Isost ichopus badionot us, u n d e r cu lt u re co n d it io n s. J. Wor ld Aquacult ure Soc., 46(1), 45-52.

Gambar

Tabel 1.Komposisi pakan percobaan (g/100 g pakan)Table 1.Composition of experimental diets (g/100 g diet)
Gambar 1.Pola pertambahan bobot teripang pasir yang diberi pakanFigure 1.percobaan selama 120 hari pemeliharaan.Growth pattern of sea cucumnber, Holothuria scabra fed with theexperimental diets for 120 days.
Table 3.Proximate composition (% DM) of sea cucumber fed with the experimental diets for 120 days
Table 4.Amino acids composition of sea cucumber fed with the experimental diets for 120 days (%
+2

Referensi

Dokumen terkait

Pertemuan dan kontak antara dua komunitas atau institusi yang berbeda seperti yang terjadi pada Pesantren Tebuireng Jombang yang menganut sistem pendidikan

Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan merupakan salah satu upaya mengimplementasi Standar Isi dan Standar Kompetensi Lulusan menjadi kegiatan pembelajaran

Biasanya keadaan ini terjadi pada pasien yang memiliki kekurangan dalam sistem kekebalan tubuh untuk setiap penyakit yang kronis seperti diabetes atau infeksi oleh virus

Maka dari itu penulis menganalisis untuk membuat layout yang benar serta menentukan elemen dengan unsur cyberpunk yang tepat, penulis menganalisis tiga scene yaitu lorong,

Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa populasi ternak sapi Propinsi Sulawesi Selatan menunjukkan peningkatan dari tahun 2006 yaitu 637.128 ekor menjadi 703.965 pada tahun 2009,

[r]

Berdasarkan hasil penelitian lapangan dan pengolahan data, dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1) Potensi energi laut yang memungkinkan untuk dikembangkan di

Beranjak dari itu semua, rekomendasi yang terdapat dalam Surat Keputusan Bupati Rokan Hulu Nomor 141 Tahun 2012 Tentang Pengesahan Pemberhentian Kepala Desa Non Aktif Serta