LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
DI PT X
Diajukan untuk memenuhi mata kuliah praktik kerja lapangan
Oleh:
ARIFIN ROBBY
NPM. 14010037
TEKNIK TEKSTIL
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
DI PT X
Diajukan untuk memenuhi mata kuliah praktik kerja lapangan
Oleh:
ARIFIN ROBBY
NPM. 14010037
TEKNIK TEKSTIL
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
DI PT X
Diajukan untuk memenuhi mata kuliah praktik kerja lapangan
Oleh:
ARIFIN ROBBY
NPM. 14010037
TEKNIK TEKSTIL
Pembimbing: Hendra, S.SiT.,M.Tech
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN
DI PT X
Diajukan untuk memenuhi mata kuliah praktik kerja lapangan
Oleh:
ARIFIN ROBBY
NPM. 14010037
TEKNIK TEKSTIL
Pembimbing
( Hendra, S.SiT.,M.Tech )
DISETUJUI DAN DISAHKAN OLEH
Ketua Penguji
Tanggal
Ketua Jurusan
Tanggal
Teknik Tekstil
Direktur Politeknik
Tanggal
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan ridho,
rahmat serta hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Praktik
Kerja Lapangan di PT Binausaha Cipta Prima sebagai salah satu syarat untuk
mencapai kelulusan mahasiswa selama menempuh pendidikan program D-IV
jurusan Teknik Tekstil di Politeknik STTT Bandung. Shalawat serta salam semoga
senantiasa tercurah kepada jungjungan kita, Nabi Muhammad SAW beserta para
sahabat-Nya dan para umat-Nya hingga akhir zaman. Aamiin Ya Robbal Alamiin.
Alhamdulillahirabbilalamiin, dengan terselesaikannya Laporan Praktik Kerja
Lapangan sebagai salah satu tugas akhir, penulis ingin mengucapkan rasa terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tua yang telah memberikan
banyak sekali do’a serta dukungan moril maupun materil kepada penulis dan
kepada seluruh pihak yang dengan ikhlas telah memberikan bantuan, bimbingan
serta petunjuk kepada penulis dalam menyelesaikan Laporan Praktik Kerja
Lapangan ini, yang diantaranya yaitu kepada :
1. Bapak Hendra, S.SiT.,M.Tech selaku pembimbing yang telah memberikan
arahan kepada penulis dengan teliti dan penuh keikhlasan dalam menyusun
Laporan Praktik Kerja Lapangan ini.
2. Bapak Rianto, Bapak Kaswanto, dan Bapak Dani selaku pembimbing umum
selama melaksanakan Praktik Kerja Lapangan di PT Binausaha Cipta Prima.
Pada akhirnya kritik yang membangun sangat diharapkan. Semoga laporan kerja
Praktik ini berguna bagi semua pihak. Aamiin.
Bandung, 18 Januari 2018
Penulis,
DAFTAR ISI
2.1 Perkembangan Perusahaan ... 3
2.2 Struktur Organisasi Perusahaan ... 6
2.2.1 Bentuk Struktur Organisasi ... 6
2.2.2 Uraian Tugas ... 7
2.3 Permodalan dan Pemasaran ... 12
2.3.1 Permodalan ... 12
2.3.2 Pemasaran ... 12
2.4 Ketenagakerjaan ... 13
2.4.1 Jumlah dan Tingkat Pendidikan ... 13
2.4.2 Distribusi Tenaga Kerja ... 13
2.4.3 Sistem Pembinaan dan Pengembangan Karyawan ... 15
2.4.4 Tunjangan dan Fasilitas Karyawan ... 16
2.4.4.1 Pengupahan ... 16
2.4.4.2 Jaminan Kesehatan dan Kesejahteraan... 17
BAB III BAGIAN PRODUKSI ... 19
3.1 Perencanaan dan Pengendalian Produksi ... 19
3.1.1 Perencanaan Produksi... 19
3.1.2 Pengendalian Produksi ... 19
3.2 Produksi ... 21
3.2.1 Jenis dan Jumlah Produksi ... 21
3.2.2 Mesin dan Tata Letak ... 22
3.2.2.1 Mesin Produksi Departemen Spinning ... 22
3.2.3 Proses Produksi ... 25
DAFTAR ISI
( Lanjutan )
Halaman
3.2.4.1 Tenaga Listrik ... 29
3.2.4.2 Kompresor ... 29
3.2.4.3 Dust Collecting ... 30
3.2.4.4 Pengolahan Air ... 30
3.2.4.5 Pengolahan Limbah ... 30
3.2.4.6 Laboratorium ... 31
3.2.4.7 Bengkel ... 32
3.2.4.8 Pergudangan ... 32
3.3 Pemeliharaan dan Perbaikan Mesin ... 32
3.3.1 Pemeliharaan Mesin ... 33
3.3.2 Perbaikan Mesin ... 33
3.3.2.1 Jadwal Kegiatan Bagian Maintenance ... 34
3.4 Pengendalian Mutu ... 34
3.4.1 Raw Material ... 35
3.4.1.1 Field Raw Material ... 35
3.4.1.2 Analyst Raw Material ... 35
3.4.2 Proses ... 35
3.4.3 Produk ... 36
BAB IV DISKUSI ... 37
4.1 Latar Belakang ... 37
4.2 Identifikasi Masalah ... 38
4.3 Pembahasan... 38
4.3.1 Faktor Penyebab Target Produksi Tidak Tercapai ... 38
4.3.2 Cara Penanggulangan Permasalahan ... 38
BAB V PENUTUP ... 44
5.1 Kesimpulan ... 44
5.2 Saran ... 44
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1 Anak Perusahaan (Holding Company) PT Binausaha Cipta Prima ... 6
Tabel 2.2 Komposisi tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan ... 13
Tabel 2.3 Data jumlah tenaga kerja ... 13
Tabel 2.4 Waktu kerja karyawan Non Shift ... 15
Tabel 2.5 Waktu kerja karyawan Shift ... 15
Tabel 3.1 Jumlah produksi benang Open End di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 22
Tabel 3.2 Daftar mesin di Departemen Spinning I PT Binausaha Cipta Prima ... 22
Tabel 3.3 Daftar mesin pada bagian Blowing Spinning I di PT Binausaha Cipta Prima ... 23
Tabel 3.4 Daftar mesin pada Departemen Spinning II di PT Binausaha Cipta Prima ... 23
Tabel 3.5 Daftar mesin pada bagian Blowing Spinning II di PT Binausaha Cipta Prima ... 24
Tabel 3.6 Persentase pencampuran bahan baku ... 26
Tabel 3.7 Kecepatan Bottom Roll pada mesin Drawing I (RC) Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 28
Tabel 3.8 Kecepatan Bottom Roll pada mesin Drawing II (Cotton) PT Binausaha Cipta Prima ... 28
Tabel 3.9 Tenaga listrik di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima .... 29
Tabel 3.10 Kapasitas dan spesifikasi kompresor Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 30
Tabel 3.11 Jadwal kegiatan Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 34
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Denah PT Binausaha Cipta Prima ... 4
Gambar 2.2 Tata letak PT Binausaha Cipta Prima ... 5
Gambar 2.3 Struktur organisasi PT Binausaha Cipta Prima ... 8
Gambar 2.4 Struktur organisasi Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 9
Gambar 3.1 Alur penerimaan pesanan di PT Binausaha Cipta Prima ... 20
Gambar 3.2 Tata letak Departmen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 24
Gambar 3.3 Proses produksi pembuatan benang di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 26
Gambar 3.4 Limbah micro dust di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima ... 31
Gambar 4.1 Diagram fishbone penyebab target produksi tidak tercapai ... 39
Gambar 4.2 Yarn Guide normal ... 39
Gambar 4.3 Yarn Guide patah ... 39
Gambar 4.4 Yarn Guide pada mesin Open End Rieter R35 patah ... 40
Gambar 4.5 Yarn Guide pada mesin Open End Rieter R35 pada posisi standar 41 Gambar 4.6 Yarn Guide pada mesin Open End Rieter R35 pada posisi menunduk ... 41
RINGKASAN
PT Medan Jaya yang selanjutnya dikenal sebagai PT Binausaha Cipta Prima merupakan perusahaan tekstil berbentuk Perseroan Terbatas (PT) dengan luas tanah 22 hektar dan luas bangunan 15,4 hektar yang didirikan pada tahun 2001. PT Binausaha Cipta Prima merupakan perusahaan tekstil dengan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang beralamat di Jalan Cibaligo KM 0,5 No. 32 Cigugur Tengah, Leuwigajah, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat 40535. Struktur organisasi yang diterapkan adalah sistem garis dan staf dengan Direktur sebagai pemegang kekuasaan tertinggi. Jumlah tenaga kerja di PT Binausaha Cipta Prima sampai dengan Desember 2017 berjumlah 841 orang. Berdasarkan tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) 13,68%, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 34,12%,, Sekolah Menengah Atas (SMA) 44,70% hingga Perguruan Tinggi 7,50%. Perkembangan PT Binausaha Cipta Prima pada saat ini yaitu menjadi induk (Holding Company) dengan sejumlah anak perusahaan didalamnya. Terdapat tiga anak perusahaan yaitu PT Wistex (CI) yang bergerak di bidang Pertenunan (Weaving), PT Wistex II yang bergerak di bidang Pemintalan (Open End), dan PT Mercu Utama yang bergerak dibidang Pemintalan (Ring Spinning).
PT Binausaha Cipta Prima memiliki beberapa Departemen yang bisa dilakukan untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan yaitu Pemintalan (Spinning), Pertenunan (Weaving), Pencelupan dan Penyempurnaan (Dyeing Finishing). PT Binausaha Cipta Prima merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dengan hasil produksi pada Departemen Spinning yaitu benang Open End. Perusahaan memproduksi benang Cotton dan Rayon yang juga digunakan sebagai benang lusi pada kain denim yang diproduksi pada Departemen Weaving PT Binausaha Cipta Prima. Pemintalan yang dimiliki perusahaan ini mempunyai dua bagian, yaitu bagian Pemintalan satu untuk memproduksi benang RC(Rayon - Cotton) dengan 800 spindel dan untuk bagian Pemintalan dua memproduksi benang Cotton
dengan 1.200 spindel. Produk yang dihasilkan oleh Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima adalah benang Open End Ne1 7s, 10s, 14s, dan 16s dengan
persentase pencampuran bahan baku untuk produksi benang Cotton yaitu 80%
Cotton dan 20% Waste produksi. Untuk produksi benang RC (Rayon - Cotton) bahan baku yang digunakan adalah Rayon 60%, Cotton 30%, dan Waste produksi 10%. Proses produksi benang yang dilakukan di PT Binausaha Cipta Prima dimulai dari proses mixing, Blowing, Carding, Drawing, dan Open End pada bagian akhir proses produksi. Mesin yang digunakan untuk pemintalan benang di Departemen Spinning yaitu mesin Open End Rieter R35 berkapasitas 400 spindel per mesin. Selain mesin produksi juga terdapat sarana penunjang produksi yang diantaranya yaitu Tenaga Listrik (PLN), mesin Kompresor, mesin Recyling, Bale Press, Pergudangan dan lain-lain.
BAB I PENDAHULUAN
Praktik Kerja Lapangan atau yang lebih dikenal dengan PKL merupakan salah satu
dari kurikulum pendidikan yang harus dipenuhi mahasiswa D-IV Politeknik STTT
Bandung. Tujuan dilakukannya Praktik Kerja Lapangan yaitu untuk memperdalam
dan menambah pengetahuan mahasiswa tentang dunia kerja yang sebenarnya,
sehingga mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang didapat dibangku kuliah ke
dunia kerja yang nyata. Maka dari itu penulis mengajukan Praktik Kerja Lapangan
sesuai dengan arahan yang harus dilaksanakan sebagai mahasiswa di semester
tujuh dengan beban 12 sks, Praktik Kerja Lapangan ini dilaksankan selama 64 hari
kerja terhitung mulai tanggal 2 Oktober 2017 sampai dengan 28 Desember 2017
di PT Binausaha Cipta Prima yang berlokasi di jalan Cibaligo KM 0,5 No. 32
Cigugur Tengah, Leuwigajah, Kelurahan Cibeureum, Kecamatan Cimahi Selatan,
Kota Cimahi, Provinsi Jawa Barat 40535.
PT Binausaha Cipta Prima merupakan perusahaan yang bergerak di bidang tekstil
dengan hasil produksi yaitu benang Open End. Perusahaan ini memilki beberapa
Departemen yang bisa dilakukan untuk melakukan Praktik Kerja Lapangan yaitu
Pemintalan (Spinning), Pertenunan (Weaving), Pencelupan dan Penyempurnaan
(DyeingFinishing).
Pada saat Praktik Kerja Lapangan di PT Binausaha Cipta Prima, penulis
melakukan Praktik Kerja Lapangan di Departemen Spinning. Pemintalan yang
dimiliki perusahaan ini mempunyai dua bagian, yaitu bagian Spinning I untuk
memproduksi benang RC(Rayon - Cotton) dengan 800 spindeldan untuk bagian
Spinning II memproduksi benang Cotton dengan 1.200 spindel.
Tidak terdapat banyak kendala yang dihadapi pada saat melakukan Praktik Kerja
Lapangan, karena perusahaan sangat terbuka kepada Mahasiwa yang melakukan
Praktik Kerja Lapangan di perusahan tersebut dan sangat membantu untuk
melakukan pengamatan-pengamatan yang dilakukan pada saat Praktik Kerja
Lapangan. Hanya saja ketika berada pada bagian produksi ada beberapa
perbedaan penyebutan bahasa dan istilah yang digunakan oleh Operator maupun
Maintenance mengenai penyebutan nama mesin, nama bagian mesin dan istilah
saat berada di industri sangatlah berbeda. Untuk itu disarankan oleh pembimbing
dari perusahaan agar lebih memahami dan beradaptasi kembali dengan
penyebutan bahasa maupun istilah yang digunakan di perusahaan untuk
kelancaran bersama dalam melakukan Praktik Kerja Lapangan di PT Binausaha
Cipta Prima.
Setelah melaksanakan Praktik Kerja Lapangan, mahasiswa diwajibkan untuk
membuat Laporan Praktik Kerja Lapangan yang terdiri dari lima Bab yaitu Bab I
yang berisi penjelasan singkat mengenai Praktik Kerja Lapangan yang dilakukan
oleh mahasiswa. Bab II yang menguraikan mengenai perkembangan perusahaaan
secara umum, struktur organisasi perusahaan beserta tugas-tugasnya,
permodalan dan pemasaran, serta uraian dalam bidang ketenagakerjaan di
perusahaan. Bab III berisi proses produksi yang meliputi jenis dan jumlah produksi,
mesin-mesin yang digunakan beserta tata letaknya, diagram alir proses, proses
produksi dengan penjelasannya, pengendalian mutu, pemeliharaan dan
perbaikan mesin, serta sarana penunjang produksi yang dimiliki perusahaan
beserta penjelasannya. Bab IV menjelaskan tentang diskusi permasalahan
mengenai masalah yang terjadi pada proses produksi dan Bab V berisi mengenai
kesimpulan dan saran terhadap diskusi permasalahan yang diambil oleh
BAB II BAGIAN UMUM PERUSAHAAN
2.1 Perkembangan Perusahaan
PT Binausaha Cipta Prima atau yang dikenal dengan nama Medan Jaya
merupakan perusahaan yang bergerak dibidang tekstil terpadu, dengan proses
produksi yang bergerak secara berkelanjutan dari awal proses pembuatan benang
hingga proses penyempurnaan. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1980 dengan
izin mendirikan perusahaan No.SIUP.132/MJA-2/2 UT-II/Non PMA dengan badan
hukum Perseroan Terbatas (PT) akta nomor 98 yang disahkan oleh Albertus
Sutjipto Budiharjoputra S.H pada tanggal 26 Juli 1983 dengan nama PT Medan
Jaya, setelah berjalan selama 18 tahun PT Medan Jaya resmi berganti nama
tepatnya pada tahun 2001 menjadi PT Binausaha Cipta Prima hingga sekarang
yang sering disebut dengan singkatannya PT BUCP, perubahan nama ini terjadi
dikarenakan kepentingan perusahaan.
PT Binausaha Cipta Prima berlokasi didaerah industri Cibaligo yang beralamat di
jalan Cibaligo KM 0,5 No. 32 Cigugur Tengah, Cimahi Selatan, Kota Cimahi,
Provinsi Jawa Barat 40535, denah lokasi perusahaan dapat dilihat pada Gambar
2.1 di halaman 4 dan tata letak PT Binausaha Cipta Prima dapat dilihat pada
Gambar 2.2 di halaman 5. Perusahaan ini didirikan di atas tanah seluas 22 hektar
dengan luas bangunan 15,4 hektar.
Pada awalnya perusahaan hanya terdiri dari Departemen Persiapan Pertenunan
dan Departemen Pertenunan saja, namun setelah mengalami perkembangan dan
peningkatan kebutuhan produksi, maka pada tahun 1990 PT Binausaha Cipta
Prima menambah departemen lainnya, yaitu Departemen Spinning (pemintalan),
Departemen Dyeing (pencelupan), Departemen Printing (pencapan), dan
Departemen Finishing (penyempurnaan). Sejak tahun 1995 PT Binausaha Cipta
Prima mengurangi produksi secara makloon yang bertujuan untuk
mengoptimalkan sarana dan prasarana produksi yang dimiliki.
Pada tahun 1998, perusahaan terkena dampak dari krisis moneter yang melanda
Indonesia. Hal ini berpengaruh terhadap turunnya permintaan akan produk
pencapan dan pencelupan dari kain tenun bukan denim, yang pada akhirnya
Sumber: PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Gambar 2.1 Denah Lokasi PT Binausaha Cipta Prima
PT Binausaha Cipta Prima mendirikan Departemen Spinning yang bertujuan untuk
mengurangi produksi pembuatan benang secara makloon. Departemen Spinning
dibagi menjadi dua departemen, yaitu Departemen Spinning I dengan bahan baku
pemintalan Rayon - Cotton dan Departemen Spinning II dengan bahan baku
pemintalan kapas, sedangkan untuk benang pakan diperoleh dari perusahaan lain.
Benang pakan yang digunakan adalah Polyester, Spandex, campuran
Sumber: PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Gambar 2.2 Tata letak PT Binausaha Cipta Prima
Keterangan Gambar 2.2 Denah PT Binausaha Cipta Prima.
1. Gerbang 26. Bengkel
2. Pos satpam I 27. Gardu induk PLN
3. Koperasi pegawai 28. Bagian Spinning I
4. Kantin 29. Area Blowing I
5. Parkiran motor 30. Area Carding I
6. Timbangan truk 31. Area Drawing I
7. Masjid 32. Area Open End I
8. Pos satpam II 33. Area benang jadi I
9. Parkiran mobil Staff 34. Ruang Filter Waste I
10. Kantor HRD dan ADM 35. Ruang StaffSpinning
11. Pengolahan air proses 36. Laboratorium pengujian
12. R. Pencucukan Weaving I 37. Ruang Maintenance
15. Gudang Sparepart 40. Gudang benang jadi
16. Inspecting & gudang produk 41. Gudang Sparepart
17. R. Pencucukan Weaving II 42. Gudang bale kapas
18. Bagian Weaving II 43. Bagian Spinning II
19. Bagian pencelupan benang 44. Area Blowing II
20. Gudang bahan baku (benang) 45. Area Carding II
21. Bagian Warping 46. Area Drawing II
22. Parkiran mobil 47. Area Open End II
23. Ruang absen karyawan 48. Ruang Filter Waste II
24. Bagian Finishing 49. Penyimpanan Can Sliver
25. Boiler 50. Area benang jadi II
Pada saat ini PT Binausaha Cipta Prima sedang memfokuskan pada produk
andalannya yaitu kain denim Stretch maupun Non Stretch dengan Cotton sebagai
bahan baku utama untuk benang lusi. Benang pakan yang digunakan yaitu
Polyester - Cotton untuk menghasilkan jenis Jeans Non Stretch dan Polyester -
Cotton - Spandex untuk menghasilkan jenis Jeans Stretch.
Perkembangan PT Binausaha Cipta Prima menjadi induk (Holding Company)
dengan sejumlah anak perusahaan didalamnya dapat dilihat pada Tabel 2.1 di
bawah ini.
Tabel 2.1 Anak Perusahaan (Holding Company) PT Binausaha Cipta Prima
No Nama
Perusahaan Produksi
Lokasi
1. PT Wistex (CI) Pertenunan Cibiru
2. PT Wistex II Pemintalan (Open End) Rancaekek
3. PT Mercu Utama Pemintalan (Ring Spinning) Rancaekek
Sumber: Personalia PT Binausaha Cipta Prima, 2017
2.2 Struktur Organisasi Perusahaan
2.2.1 Bentuk Struktur Organisasi
PT Binausaha Cipta Prima mempunyai struktur organisasi berbentuk garis dan
dibawahnya pada semua bidang pekerjaan. Melalui struktur organisasi ini dapat
dilihat hubungan kerjasama antara satu bagian dengan bagian yang lainnya,
dimana mereka secara bersama-sama akan menunjang keberhasilan dari suatu
manajemen produksi. Garis vertikal menyatakan adanya wewenang atasan untuk
memberikan instruksi kepada bawahannya serta terdapat tanggung jawab
bawahan terhadap atasanya, sedangkan garis horizontal menyatakan hubungan
kerjasama antara bagian satu dengan bagian yang lainnya.
Jalur birokrasi (komando instruksional) di PT Binausaha Cipta Prima bersifat
top-down dan struktur organisasi di PT Binausaha Cipta Prima bisa dilihat pada
Gambar 2.3 halaman 8.
2.2.2 Uraian Tugas
Uraian tugas dan tanggung jawab secara struktural serta fungsional berdasarkan
struktur organisasi untuk Departemen Spinning dapat dilihat pada Gambar 2.4 di
halaman 9 adalah sebagai berikut:
1. Direktur
Sebagai pengambil keputusan tertinggi dan pembuat garis-garis besar
kebijakan perseroan dalam bidang operasional yang mengawasi kerja para
manajer di bawahnya.
2. Staf Ahli
Sebagai pemberi saran untuk memberikan masukan kepada Direktur guna
mengambil kebijakan dengan segala pertimbangan yang tepat.
3. Manajer Pabrik
Membuat garis-garis kebijakan perseroan dalam bidang operasionalnya
masing-masing dengan menjabarkan garis-garis besar direktur yang meliputi
perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan kordinasi bagian-bagian.
1) Manajer Personalia dan Umum
- Merencanakan dan menyelenggarakan transportasi serta sistem
pengamanan perusahaan.
- Merencanakan, menyelenggarakan dan mengevaluasi
kegiatan-kegiatan kepersonaliaan dengan General Affair untuk mendukung
terciptanya jaminan pelayanan terhadap seluruh karyawan dan
perusahaan serta terciptanya hubungan kerja yang harmonis antara
sesama karyawan antara karyawan dengan perusahaan.
Sumber: Personalia PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Sumber: Kepala Bagian Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
2) Manajer Produksi
Mengelola seluruh produksi, operasional pabrik untuk menghasilkan
produk (kain denim) sesuai dengan target produksi (secara kuantitas) dan
kualitas.
3) Manajer Pemasaran (Marketing)
Mengelola dan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan
pemasaran produk yang dihasilkan oleh bagian produksi.
Mengatur arus permintaan dan penawaran barang di pasaran serta
mengkordinasikannya dengan bagian produksi.
4) Manajer Pemintalan (Spinning)
Mengelola seluruh produksi dan opersional pabrik untuk menghasilkan
produk (benang) sesuai dengan target produksi (secara kuantitas) dan
kualitas yang telah ditetapkan dengan biaya efisien.
4. Staf
1) Staf Manajer Personalia dan Umum
Membantu Manajer Personalia dan Umum, dalam hal menyelenggarakan
dan mengevaluasi kegiatan-kegiatan kepersonaliaan.
2) Staf Manajer Marketing
Membantu Manajer Marketing dalam hal pemasaran, permintaan dan
penawaran barang yang diproduksi.
5. Kepala Bagian
Sebagai pelaksana fungsi dalam perencanaan, pelaksanaan, dan
pengawasan secara langsung.
1) Kepala Bagian Gudang
Memeriksa laporan-laporan persediaan barang agar akurat.
Bertanggung jawab terhadap pengiriman barang-barang terhadap
pelanggan atau pemakai agar tepat waktu.
Menentukan pemilihan sarana angkutan untuk pengiriman barang.
Memperluas, memperbaiki dan menganti fasilitas gudang atas
persetujuan dari atasan.
Memperhatikan efisiensi persediaan.
Bertanggung jawab terhadap penyimpanan barang-barang agar
2) Kepala Bagian QC (Quality Control)
Memberikan pengamatan yang berhubungan dengan Quality Control
dalam memeriksa mutu benang dan kain yang dihasilkan untuk memenuhi
kualitas yang diinginkan.
3) Kepala Bagian Maintenance
Bertanggung jawab terhadap pemeriksaan, pemeliharaan dan perbaikan
peralatan serta mesin-mesin produksi guna kelancaran proses produksi.
4) Kepala Bagian PPC (Production Plainning and Control)
Memberikan pengamatan dan membantu terlaksananya proses
perencanaan produksi yang sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh
bagian produksi (mulai dari bagian persiapan pertenunan, twisting,
pertenunan sampai penyempurnaan) untuk memenuhi permintaan pasar.
5) Kepala Bagian R&D (Research and Development)
Menguji segala zat-zat, benang, melakukan percobaan pencelupan serta
membuat sample untuk produksi agar sesuai dengan produksi dan
permintaan konsumen.
6) Kepala Bagian Warping, Dyeing-Sizing di persiapan pertenunan, Twisting,
Drawing in, Weaving di pertenunan, Finishing dan Spinning
Memberikan pengamatan yang berhubungan dengan proses produksi di
bagiannya masing-masing untuk memenuhi target produksi dan kualitas
yang telah ditetapkan.
7) Kepala Bagian Inspecting (Pemeriksaan)
Memberikan pengamatan yang berhubungan dengan proses pemeriksaan
dan pengelompokan (grading) barang jadi (kain yang dihasilkan)
berdasarkan sistem penilaian serta pengelompokan tertentu sebelum
barang dipasarkan atau dikirim kepada pembeli.
8) Kepala Bagian Utility
Mengatur dan bertanggung jawab terhadap ketersediaan tenaga listrik,
tenaga uap, pengolahan air proses, limbah, dan peralatan energi lainya
agar selalu dalam keadaan yang baik untuk menunjang keperluan pabrik
guna kelancaran proses produksi serta kelestarian lingkungan.
6. Kepala Shift (Kashift)
Sebagai fungsi-fungsi manajerial dalam perencanaan dan pelaksanaan
dengan lebih menitik beratkan segi pelaksanaan dan pengawasan, bertugas
kerja operator. Dalam pelaksanaan tugasnya bertanggung jawab secara
langsung kepada kepala bagian.
7. Kepala Regu (Karu)
Sebagai pemimpin satuan tugas dari suatu kelompok pelaksanaan tenaga
kerja. Tugasnya membantu kepala shift dalam melaksanakan kegiatan
produksi, membagi tugas dan mengawasi kerja operator.
8. Operator
Sebagai pelaksana untuk setiap pekerjaan. bertugas mengatasi
penyimpangan yang harus langsung dikerjakan pada waktu produksi sedang
berjalan. Melaksanakan kegiatan produksi secara efektif, efisien dan aman.
Melaporkan hasil kegiatan kepada kepala regu.
Urutan tersebut di atas menunjukan strata posisi vertikal berdasarkan
perimbangan bobot tugas, tanggung jawab, hak, kewajiban, wewenang dan
pendelegasiannya.
2.3 Permodalan dan Pemasaran
2.3.1 Permodalan
PT Binausaha Cipta Prima merupakan perusahaan yang berbadan hukum dengan
bentuk Perseroan Terbatas (PT) dan berstatus swasta murni dengan permodalan
berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) yang berarti saham
sepenuhnya dimiliki oleh swasta dalam negeri. Saham PT Binausaha Cipta Prima
dimiliki oleh keluarga Lumanto yang merupakan pendiri PT Binausaha Cipta
Prima. Mengenai besarnya investasi yang ditanam oleh PT Binausaha Cipta
Prima dan nama-nama pemegang saham tidak diperoleh data yang rinci atau
akurat dikarenakan untuk keamanan dan kenyamanan para investor tersebut.
Sedangkan untuk perluasan dan pengembangan perusahaan berasal dari
keuntungan yang diperoleh perusahaan.
2.3.2 Pemasaran
Sistem pemasaran yang dilakukan oleh PT Binausaha Cipta Prima adalah sistem
penawaran dan penjualan langsung (produk yang dihasilkan langsung dipasarkan
oleh Departemen Pemasaran tidak melalui jasa distributor) karena perusahaan
telah memiliki pelanggan tetap. Benang hasil produksi Departemen Spinning
sebagian besar dipergunakan oleh Departemen Pertenunan untuk dijadikan kain,
denim PT Binausaha Cipta Prima memasarkan produknya ke beberapa kota besar
di dalam negeri, seperti Bandung, Jakarta, Medan, Surabaya, Bali, dan kota-kota
lainya. Beberapa pelanggan (perusahaan garmen) memasarkan produknya ke
luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Taiwan, dan Jerman.
2.4 Ketenagakerjaan
2.4.1 Jumlah dan Tingkat Pendidikan
Jumlah tenaga kerja di PT Binausaha Cipta Prima sampai dengan Desember 2017
berjumlah 841 orang. Berdasarkan tingkat pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar
(SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) hingga
Perguruan Tinggi. Untuk lebih jelas mengenai komposisi tenaga kerja di PT
Binausaha Cipta Prima dapat dilihat pada Tabel 2.2 dibawah ini.
Tabel 2.2 Komposisi tenaga kerja berdasarkan tingkat pendidikan
No Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase
1. Sekolah Dasar (SD) 115 13,68% 2. Sekolah Menengah Pertama (SMP) 287 34,12% 3. Sekolah Menengah Atas (SMA) 376 44,70% 4. Perguruan Tinggi 63 7,50%
Total 841 100%
Sumber: Personalia PT Binausaha Cipta Prima, 2017
2.4.2 Distribusi Tenaga Kerja
Jumlah tenaga kerja di PT Binausaha Cipta Prima sampai dengan Desember
tahun 2017 tersebar ke berbagai bagian. Untuk distribusi tenaga kerja dapat dilihat
pada Tabel 2.3 di bawah ini dan lanjutannya pada halaman 14.
Tabel 2.3 Data jumlah tenaga kerja
No Bagian
Jumlah Karyawan
Total Jumlah Karyawan Tetap Kontrak Harian
Lembur
1 Persiapan dan Um +
Satpam 11 26 10 47
2 PPC - 2 - 2
Tabel 2.3 Data jumlah tenaga kerja (lanjutan)
No Bagian
Jumlah Karyawan
Total Jumlah Karyawan Tetap Kontrak Harian
Lembur
Sumber : Personalia PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Pengaturan waktu kerja yang dilakukan di PT Binausaha Cipta Prima sesuai
dengan peraturan perundang - undangan yang dikeluarkan oleh Departemen
Tenaga Kerja yaitu 8 jam sehari dengan waktu istirahat satu jam untuk karyawan
non shift dan 30 menit untuk karyawan shift. Kegiatan produksi dilakukan selama
24 jam setiap harinya. Untuk waktu pelaksanaan kerja dibagi menjadi dua yaitu
waktu kerja shift dan non shift sebagai berikut:
1. Waktu kerja non shift
Waktu kerja non shift adalah waktu kerja yang sudah ditetapkan setiap harinya
tanpa ada perubahan. Karyawan yang termasuk golongan non shift ini adalah
pimpinan perusahaan, manajer pabrik, kepala bagian, karyawan administrasi,
serta karyawan yang bekerja pada jam kerja yang telah ditentukan dan tidak
berhubungan langsung dengan proses produksi. Waktu kerja tersebut dapat
dilihat pada Tabel 2.4 di halaman 15.
2. Waktu kerja shift
Waktu kerja shift adalah waktu kerja yang sudah ditetapkan tetapi dibedakan
menjadi tiga bagian waktu yaitu pagi, siang, dan malam yang dilakukan secara
bergilir oleh karyawan shift. Karyawan shift adalah karyawan yang bekerja dan
berhubungan langsung dengan pelaksanaan produksi pabrik. Di PT Binausaha
Cipta Prima, shift ini dilakukan setiap satu minggu sekali secara bergiliran.
Tabel 2.4 Waktu kerja karyawan Non Shift
Sumber: Personalia PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Tabel 2.5 Waktu kerja karyawan Shift
Sumber: Personalia PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Karyawan diberikan hari libur setelah bekerja selama enam hari berturut-turut.
Untuk karyawan shift mendapatkan istirahat satu hari yang diberikan secara
bergiliran sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan pada setiap bagian,
sedangkan untuk karyawan non shift waktu libur diberikan serentak pada hari
Minggu.
2.4.3 Sistem Pembinaan dan Pengembangan Karyawan
Sistem pembinaan dan pengembangan karyawan merupakan suatu hal yang
penting dalam meningkatkan kinerja dari sumber daya manusia yang dimiliki oleh
perusahan. Proses ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, sebagai contoh
diadakannya pendidikan dan latihan mengenai manajerial, keterampilan, dan
motivasi.
Sistem pembinaan dan pengembangan karyawan di PT Binausaha Cipta Prima
selama ini belum dilakukan secara sistematik baik formal maupun informal.
Pembinaan dan pengembangan yang dilakukan masih bersifat kultural dan belum
adanya proses peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui
pelatihan-pelatihan yang berkesinambungan.
Hari Waktu Kerja Istirahat
Senin – Kamis 08.00 – 16.00 12.00 – 13.00 Jumat 08.00 – 16.00 11.30 – 12.30 Sabtu 08.00 – 15.00 12.00 – 13.00
Waktu
Shift Waktu Kerja
Istirahat
Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3
Pagi 06.00 – 14.00 10.30 – 11.00 11.00 – 11.30 11.30 – 12.00
Siang 14.00 – 22.00 17.30 – 18.00 18.00 – 18.30 18.30 – 19.00
2.4.4 Tunjangan dan Fasilitas Karyawan
2.4.4.1 Pengupahan
Upah minimum yang diberikan PT Binausaha Cipta Prima didasarkan kepada
Surat Keputusan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia yang terbaru. Dasar
pengupahan yang terdapat di PT Binausaha Cipta Prima terdiri dari upah bulanan
yang memiliki komponen sebagai berikut:
1. Gaji pokok
Pemberian gaji pokok disesuaikan dengan peraturan pemerintah tentang Upah
Minimum Regional (UMR).
2. Tunjangan masa kerja dan prestasi
Besarnya uang tunjangan ini diberikan kepada karyawan berdasarkan pada
masa kerja dan penilaian loyalitas, kedisiplinan, keterampilan dan hasil kerja.
3. Tunjangan jabatan
Diberikan kepada karyawan yang memiliki jabatan dan besarnya disesuaikan
dengan tingkatan jabatannya.
4. Premi hadir bulanan
Diberikan sesuai dengan presensi karyawan setiap bulan.
5. Premi kesejahteraan
Diberikan kepada karyawan atas ketentuan dan kebijakan perusahaan.
6. Jaminan Sosial Tenaga Kerja (Jamsostek)
Merupakan pemotongan upah karyawan sebesar 2% dari gaji pokok yang
diterima karyawan.
7. Upah lembur
Diberikan pada karyawan yang melakukan kerja lebih dari 8 jam dalam satu
hari kerja atau melakukan kerja pada hari libur sesuai dengan undang-undang
yang mengatur tentang upah dan waktu kerja lembur yaitu undang-undang
no.13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan pasal 78 ayat (2),(8).
Bagi karyawan yang bekerja lebih dari 40 jam per minggu akan mendapatkan upah
kerja lembur yang besarnya berdasarkan perhitungan sebagai berikut:
1. Upah lembur pada hari kerja biasa.
Jam ke I : 150 % x upah perjam
Jam ke II : 200 % x upah perjam
2. Upah lembur pada hari libur
Jam ke I : 2 x 150 % x upah perjam
4. Perhitungan upah perjam : 1/173 x upah pokok
2.4.4.2 Jaminan Kesehatan dan Kesejahteraan
Untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan, perusahaan memberikan
berbagai pelayanan berupa:
1. Tunjangan Hari Raya (THR)
Perusahaan memberikan THR sekali dalam setahun berbentuk uang yang
besarnya sama dengan satu kali gaji pokok.
Disamping itu perusahaan juga memberikan bingkisan dalam bentuk sandang
dan pangan. THR ini diberikan 1 minggu menjelang hari raya.
2. Jaminan sosial dan hari tua
Sesuai dengan anjuran dan peraturan pemerintah, maka PT Binausaha Cipta
Prima mengikut sertakan seluruh karyawannya dalam program Jaminan Sosial
Tenaga Kerja (Jamsostek).
3. Kesehatan
PT Binausaha Cipta Prima menyediakan sarana pengobatan berupa poliklinik
dan tenaga medis untuk menjaga kesehatan karyawan dan keluarga.
4. Perlengkapan kerja
Perusahaan menyediakan kelengkapan kerja yang diperlukan sesuai jenis dan
sifat pekerjaan. Para pekerja berkewajiban memakai perlengkapan kerja
selama melakukan kerja. Perlengkapan kerja tersebut terdiri dari:
Pakaian seragam lengkap (baju dan celana/rok).
Pekerjaan yang menurut pekerjaanya mudah terkena kotoran yang sukar
dibersihkan (seperti oil dan bahan kimia) memperoleh pakaian kerja khusus.
Pekerjaan yang karena sifat pekerjaannya harus melakukan tugas yang
berbahaya bagi kesehatan dan keselamatannya, maka disediakan
perlengkapan kerja seperti ear plug, masker, topi, kaca mata las, kaos
5. Konsumsi
Setiap karyawan mendapatkan jatah satu kali untuk makan dalam satu hari
kerja yang diberikan pada waktu istirahat.
6. Peribadatan
Perusahaan menyediakan sarana peribadatan berupa satu bangunan mesjid
dengan luas 200 m2 yang terletak dalam lingkungan pabrik dan mushola di
setiap bagian produksi sehingga karyawan dapat beribadah dengan mudah
tanpa meninggalkan lokasi pabrik.
7. Transportasi
Berdasarkan kesepakatan awal antara perusahaan dengan calon karyawan
bahwa lokasi tempat tinggal disyaratkan dekat dengan lokasi pabrik, sehingga
PT Binausaha Cipta Prima tidak menyediakan sarana transportasi bagi
karyawannya.
8. Koperasi karyawan
Perusahaan menyediakan koperasi karyawan untuk memenuhi kebutuhan
pokok serta sebagai sarana simpan pinjam dan pengelolaannnya ditangani
oleh karyawan.
9. Rekreasi, olah raga dan kesenian
Fasilitas olah raga dan kesenian tidak disediakan oleh perusahaan, namun
perusahaan memberikan kebebasan kepada karyawan untuk melakukan
BAB III BAGIAN PRODUKSI
3.1 Perencanaan dan Pengendalian Produksi
3.1.1 Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi merupakan salah satu proses yang sangat berpengaruh
terhadap kelancaran produksi. Perencanaan produksi sangat penting dalam
proses produksi untuk mendapatkan produk yang baik secara kualitas maupun
kuantitas sehingga akan mengefektifkan waktu maupun biaya.
Perencanaan produksi yang dilakukan di PT Binausaha Cipta Prima berdasarkan
pada pesanan konsumen kepada Manajer Pemasaran. Pesanan dari Manajer
Pemasaran diterima oleh Manajer Produksi kemudian diberikan kepada bagian
PPC (Planning Production and Control). Setelah itu, di bagian PPC dibuat
perencanaan produksi sesuai dengan pesanan yang diminta. Tugas–tugas yang
harus dijalankan bagian PPCdiantaranya:
1. Menerima dan menindaklanjuti pesanan dari Bagian Pemasaran.
2. Menerbitkan kartu proses yang terdiri dari data–data benang dan urutan proses
yang harus dilaluinya.
3. Merencanakan jadwal produksi.
4. Membuat order kerja pencelupan benang, penganjian dan pertenunan serta
mendistribusikannya.
Bagian PPCakan melakukan tugasnya setelah menerima pesanan dari konsumen
melalui Bagian Pemasaran dan dikoordinasikan dengan Manajer Produksi.
penerimaan pesanan di PT Binausaha Cipta Prima dapat dilihat pada Gambar 3.1
di halaman 20.
3.1.2 Pengendalian Produksi
Tujuan dari pengendalian produksi adalah agar semua perencanaan produksi
yang telah dibuat dapat tercapai sesuai dengan target yang diinginkan. Proses
pengendalian produksi meliputi dari pemilihan material, alur proses produksi yang
Sumber: PPC PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Gambar 3.1 Alur penerimaan pesanan di PT Binausaha Cipta Prima
Kegiatan yang dilakukan dalam proses pengendalian produksi antara lain:
1. Sebelum produksi
Setelah menerima kepastian produk yang akan dibuat, maka bagian
perencanaan produksi segera menetapkan garis besar proses produksi yang
akan dilaksanakan, seperti mempersiapkan form daftar jenis benang yang
akan diproses dari Departemen Gudang Bahan Baku, selanjutnya Departemen
Gudang Bahan Baku akan mengirimkan bahan baku yang diinginkan
berdasarkan jenis yang dibutuhkan oleh bagian produksi.
2. Saat produksi
Untuk mendapatkan mutu yang sesuai dengan spesifikasi pemesan, maka
proses produksi harus dikontrol, usaha untuk mengontrol proses produksi
tersebut sebagai berikut:
Menjalankan produksi sesuai dengan order kerja (perencanaan produksi)
Setiap proses selalu disertai dengan kartu proses produksi agar tidak
terjadi kesalahan proses.
Setiap kepala shift yang menangani proses produksi wajib mengisi dan
menyerahkan laporan kerja harian kepada kepala bagian.
Pengawasan terhadap proses produksi dilakukan oleh Kepala Regu,
Kepala Shift atau langsung oleh Kepala Bagian.
Jika terjadi masalah yang berpengaruh terhadap hasil produksi maka
langsung diatasi ditempat kejadian oleh Maintenance atau Operator bagian
mesin yang bersangkutan.
Bila Maintenance atau Operator mesin tidak dapat mengatasi masalah
maka harus segera melaporkannya ke atasan menurut jenjang jabatannya.
Himbauan keselamatan kerja bagi Operator ditempel pada tiap-tiap mesin
dengan tujuan untuk menghindari terjadinya kecelakaan.
3. Setelah Produksi
Setelah semua proses dilewati, sebelum diserahkan kepada pemesan, terlebih
dahulu dilakukan pemeriksaan terhadap cacat produk pada seluruh bagian
kain dan pengelompokan kain berdasarkan point cacat. Tindaklanjut dari
pemeriksaan cacat kain diantaranya sebagai berikut:
Bila cacat tersebut disebabkan oleh bagian mesin yang rusak atau bagian
operator yang kurang baik, maka bagian pemeriksaan akan melapor ke
bagian produksi dan bagian perawatan mesin.
Bila cacat tersebut kecil, maka diperbaiki bila memungkinkan. Sedangkan
bila cacat tersebut telalu besar atau tidak dapat diperbaiki, maka diberi
tanda untuk diperbaiki pada proses penyempurnaan atau dipotong.
Pada proses ini dilakukan analisa data terhadap kartu produksi dan
laporan-laporan. Hasil evaluasi dan surat harian kerja yang berupa kartu
proses dan resep produksi yang sudah dipakai dijadikan arsip.
3.2 Produksi
3.2.1 Jenis dan Jumlah Produksi
Jenis produksi yang dihasilkan oleh Departemen Spinning PT Binausaha Cipta
Prima yaitu benang dengan bahan baku Rayon, Cotton, dan Waste produksi.
Untuk saat ini produk yang dihasilkan adalah benang single dengan nomer benang
memproduksi benang dengan variasi nomer lainnya sesuai kebutuhan dari
pesanan yang diberikan oleh Bagian PPC. Benang yang diproduksi dan
diperdagangkan oleh PT Binausaha Cipta Prima adalah benang dengan nomor
(Ne1) meliputi nomor 7s, 10s, 14s, dan 16s. Jumlah produksi di Departemen
Spinning PT Binausaha Cipta Prima dapat dilihat pada Tabel 3.1 dibawah ini.
Tabel 3.1 Jumlah produksi benang Open End di Departemen Spinning
PT Binausaha Cipta Prima
No Bulan Produksi Benang
(ton/bulan)
1 September 2017 484,542
2 Oktober 2017 604,352
3 November 2017 584,668
Sumber: Bagian produksi departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
3.2.2 Mesin dan Tata Letak
3.2.2.1 Mesin Produksi Departemen Spinning
Mesin – mesin produksi pada proses pemintalan secara umum terdiri dari mesin
Blowing, Carding, Drawing dan Open End. Jumlah dan spesifikasi mesin yang
digunakan olehDepartemen Spinning I dan Departemen Spinning II dapat dilihat
pada Tabel 3.2 dibawah ini hingga Tabel 3.5 pada halaman 24, serta tata letak
Departemen Spinning dapat dilihat pada Gambar 3.2 halaman 24.
Tabel 3.2 Daftar mesin di Departemen Spinning I PT Binausaha Cipta Prima
Sumber: Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
No Nama
1 Blendomate Trutzschler
BDT 019
Jerman
1990 600 kg/jam
10,8
kW 1
2 Blowing Trutzschler Jerman
1990 480 kg/jam
12,5
kW 1
3 Carding Trutzschler
Tabel 3.3 Daftar mesin pada bagian BlowingSpinning I di PT Binausaha
1 Blendomate Trutzschler/BDT
019
3 Axiflow Trutzschler Jerman
1990 600 kg/jam 2,2
kW 1
4 Multi Mixer Trutzschler/MPM
1400 8 chamber
7 Dustex Trutzschler Jerman
1990 600 kg/jam 12 kW 2
Sumber: Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Tabel 3.4 Daftar mesin pada Departemen Spinning II di PT Binausaha Cipta Prima
1 Blendomate Trutzschler
BOA 2300
Jerman
2013 1000 kg/jam
10,8
kW 1
2 Blowing Trutzschler Jerman
2013 1000 kg/jam
12,5
kW 1
3 Carding Trutzschler
TC11
Tabel 3.5 Daftar mesin pada bagian BlowingSpinning II di PT Binausaha
1 Blendomate Trutzschler/BOA
2300
3 Axiflow Trutzschler/
CL-P
4 Multi Mixer Trutzschler/MXU
10
Sumber: Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Sumber: Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Keterangan tata letak Departemen Spinning:
1. Mesin Blendomate I 11. Mesin Drawing II
2. Mesin Blowing I 12. Mesin Open End II
3. Mesin Carding I 13. Mesin Recycling
4. Mesin Drawing 14. Ruang panel listrik
5. Mesin Open End 15. Ruang pelembab
6. Gudang benang 16. Kompresor - Utility
7. Mesin Recycling 17. Gudang Sparepart
8. Mesin Blendomate II 18. Gudang bal kapas
9. Mesin Blowing II 19. Gudang limbah
10. Mesin Carding II
3.2.3 Proses Produksi
Proses produksi di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima dilakukan
mulai dari masuknya bahan baku (bal kapas) lalu diproses dan menjadi benang,
urutan proses produksi pembuatan benang di PT Binausaha Cipta Prima dapat
dilihat pada Gambar 3.3 di halaman 26.
1. Gudang kapas
Bal kapas yang telah dipesan oleh perusahaan akan disimpan di gudang kapas
terlebih dahulu untuk dikarantina, lalu bal kapas yang telah ditentukan untuk
proses pembuatan benang akan dikirim dan di tempatkan pada area lay down
di mesin Blendomate.
2. Blowing
Blowing merupakan proses paling awal dalam pemintalan yang dimana fungsi
dari proses Blowing adalah untuk:
Pembukaan
Membuka gumpalan serat agar terurai dan terbuka.
Pembersihan
Membersihkan kotoran yang ada pada kapas (serat). Kotoran yang
dideteksi oleh Blowing yaitu ranting, dedaunan, kerikil, debu, serangga dan
Pencampuran
Mencampur serat agar lebih homogen dan menghasilkan serat dengan
karakteristik yang cukup panjang, halus dan kuat.
Sumber: Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Gambar 3.3 Proses produksi pembuatan benang di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
Untuk pembuatan benang RC (Rayon - Cotton) di Spinning I, pada proses ini
terjadi pencampuran antara serat rayon dan serat kapas yang dimana persentase
untuk pencampurannya dapat dilihat pada Tabel 3.6 dibawah ini.
Tabel 3.6 Persentase pencampuran bahan baku
No Bahan Baku Persentase Pencampuran
1 Rayon 60%
2 Cotton 30%
3 Waste 10%
Untuk di Spinning II, produksinya adalah pembuatan benang Cotton dengan
tambahan Waste 20%. Blendomate pada proses Blowing ini berperan
menghasilkan pencampuran serat yang rata, karena Blendomate berjalan secara
otomatis membuka dan mengambil gumpalan serat pada lay down sebanyak 20
hingga 25 bal kapas.
3. Carding
Setelah melalui di proses Blowing, gumpalan serat yang telah dibuka dan
dibersihkan akan masuk di proses Carding yang dimana tujuan proses Carding di
PT Binausaha Cipta Prima ini adalah untuk:
Membuka gumpalan serat lebih lanjut.
Membersihkan kotoran-kotoran serat dan debu yang masih terdapat didalam
gumpalan kapas.
Menguraikan neps.
Mengurangi dan menghilangkan serat pendek.
Mengubah bentuk hamparan serat (web) menjadi sliverCarding.
Gumpalan serat yang telah dibuka lalu dirubah menjadi bentuk memanjang yang
disebut sliver Carding. Sebelum proses menjadi sliver terjadi pelurusan,
peregangan serat dan terjadi pemisahaan antara serat pendek dan serat panjang.
Tujuan dari pemisahaan ini untuk menjaga agar kekuatan benang sesuai dengan
hasil yang diharapkan. Mesin Carding ini mampu menghasilkan kualitas sliver
yang baik dengan neps yang rendah dan kapasitas produksinya yang mampu
mencapai 448kg/jam pada Spinning I dan 880kg/jam untuk Spinning II.
4. Drawing
Setelah melalui proses Blowing dan Carding, serat yang telah menjadi sliver
Carding akan memasuki proses selanjutnya yaitu Drawing. Pada proses Drawing
ini sliver Carding akan disuapkan dengan beberapa sliver Carding lainnya yang
disebut dengan perangkapan, proses perangkapan ini berkisar antara 6 – 8 sliver
Carding tergantung dengan berat yang dibutuhkan produksi saat itu. Perangkapan
sliver Carding akan diluruskan dan disejajarkan dengan serat-serat didalam sliver
ke arah sumbu dari sliver, selain itu proses Drawing juga untuk memperbaiki
kerataan berat per satuan panjang dan campuran atau sifat-sifat lainnya dengan
jalan perangkapan.
Adapun proses dan fungsi yang terjadi pada mesin Drawing yaitu, sliver akan
kecepatan yang berbeda sesuai dengan settingan yang telah diatur untuk proses
tersebut, rol penarik ini terdiri dari Top Roll dan Bottom Roll. Kecepatan rol penjepit
yang berbeda-beda akan menjadikan proses drafting pada sliver, karena semakin
depan posisi rol maka kecepatan rol semakin cepat.
Output yang dihasilkan dari mesin Drawing ini adalah sliverDrawing yang dimana
proses selanjutnya akan menjadi bahan baku untuk menyuplai mesin Open End
untuk memproduksi benang. Terdapat kecepatan yang berbeda pada Bottom Roll
untuk proses drafting tersebut, kecepatan Bottom Roll pada mesin Drawing I (RC)
Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima tersaji pada Tabel 3.7 dan Tabel
3.8 dibawah ini.
Tabel 3.7 Kecepatan Bottom Roll pada mesin Drawing I (RC) Departemen
Spinning PT Binausaha Cipta Prima
No Bottom Roll Kecepatan (RPM)
1 Front Roll 6265
2 Middle Roll 990
3 Back Roll 900
Sumber: Bagian Maintenance di PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Tabel 3.8 Kecepatan Bottom Roll pada mesin Drawing II (Cotton) PT Binausaha Cipta Prima
No Bottom Roll Kecepatan (RPM)
1 Front Roll 5765
2 Middle Roll 924
3 Back Roll 822
Sumber: Bagian Maintenance di PT Binausaha Cipta Prima, 2017
5. Open End
Sistem pemintalan Open End ini yaitu untuk membuat benang dengan bahan
baku sliver Drawing setelah mengalami peregangan seolah-olah menjadi
benang. Berbeda dengan sistem yang diuraikan terlebih dahulu, maka pada
sistem ini pemberian antihan tidak menggunakan putaran spindel melainkan
dengan cara menggunakan gaya sentrifugal yang dihasilkan oleh putaran rotor.
3.2.4 Sarana Penunjang Produksi
Sarana penunjang produksi yang dimaksud adalah segala jenis sarana yang
terdapat di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima yang dapat
antara lain tenaga listrik, kompresor, dust collecting, pengolahan air, pengolahan
limbah, laboratorium, bengkel,dan pergudangan.
3.2.4.1 Tenaga Listrik
Untuk melancarkan pelaksanaan proses produksi, salah satu sarana penunjang
yang tidak bisa ditinggalkan yaitu kebutuhan tenaga listrik. Tenaga listrik yang
dibutuhkan untuk mesin-mesin produksi terutama pada Departemen Spinning di
PT Binausaha Cipta Prima berasal dari perusahaan listrik negara (PLN) dan dapat
dilihat pemakaian tenaga listrik yang digunakan oleh PT Binausaha Cipta Prima
tertera pada Tabel 3.9 dibawah ini.
Tabel 3.9 Tenaga listrik di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
No Jenis
Energi Kapasitas Pemakaian/bulan Sumber
1 Listrik PLN BU : 1.385 KVA 606.000 KWH PT PLN (Persero)
Sumber: Utility Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
3.2.4.2 Kompresor
Mesin – mesin produksi di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
rata-rata menggunakan sistem pneumatik atau tekanan angin, oleh sebab itu
penggunaan kompresor di Departemen Spinning sangatlah penting sebagai
pendukung proses produksi. Kompresor digunakan pada semua mesin yang ada
di Departemen Spinning sebagai penyuplai tekanan angin sesuai kebutuhan mesin
yang digunakan.
Kompresor yang digunakan oleh Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
terbagi menjadi dua jenis yaitu kebutuhan produksi dan kebutuhan cleaning. Untuk
kebutuhan produksi, kompresor yang dipakai adalah satu unit Atlas Copco dan
satu unit Airman Japan. Kompresor untuk kebutuhan produksi ini hanya disalurkan
melalui pipa-pipa mesin produksi saja. Sedangkan untuk kebutuhan cleaning
hanya menggunakan satu unit kompresor yaitu Airman Japan yang disalurkan
melalui pipa-pipa kecil untuk proses cleaning diarea pemintalan. Untuk kapasitas
Tabel 3.10 Kapasitas dan spesifikasi kompresor Departemen Spinning PT
Sumber: Utility Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
3.2.4.3 Dust Collecting
Untuk menjaga kebersihan area ruangan produksi maka digunakan sistem dust
collecting yang merupakan jaringan-jaringan penghisap debu atau fly waste
dengan jendela-jendela penghisap pada seluruh area ruangan produksi. Debu
maupun fly waste yang terhisap tertampung pada rotary filter yang secara periodik
dibersihkan dari kotoran-kotoran tersebut, sedangkan udara yang telah bersih dari
kotoran dihembuskan ke udara.
Limbah yang dihasilkan dari proses produksi hanya berupa debu dan limbah
bahan baku yang dihasilkan dari beberapa mesin yang berupa limbah yang
benar-benar sudah tidak dapat diolah lagi.
3.2.4.4Pengolahan Air
Air yang terdapat pada PT Binausaha Cipta Prima berasal dari sumur bor. Air
dimanfaatkan untuk keperluan pabrik seperti untuk kebutuhan air minum dan
keperluan karyawan lainnya.
3.2.4.5 Pengolahan Limbah
Limbah yang dihasilkan dari proses produksi hanya berupa debu (micro dust) dan
limbah bahan baku yang dihasilkan dari beberapa mesin yang berupa limbah yang
benar-benar sudah tidak dapat diolah. Limbah tersebut diproses pada mesin Bale
Press dan dijual keluar pabrik.
Sumber: Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima, 2017
Gambar 3.4 Limbah micro dust di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
3.2.4.6 Laboratorium
Laboratorium merupakan tempat pengujian untuk mengetahui karakteristik dari
suatu bahan dan mendapatkan informasi mengenai nilai dari bahan tersebut. PT
Binausaha Cipta Prima memilikilaboratorium sebagai fungsi control produksi dan
penunjang ketepatan.
Alat pengujian di laboratorium pada Departemen Spinning PT Binausaha Cipta
Prima, diantaranya adalah:
1. Reeling, merupakan alat yang berfungsi untuk menghitung panjang sliver
dalam satuan yard. Satu putaran alat reeling ini memutarkan sliver dengan
panjang 1 yard.
2. Lea Tester, merupakan alat yang berfungsi untuk mengetahui kekuatan dan
mulur benang setiap panjang benang per lea.
3. Uster Evenness Tester, merupakan alat yang berfungsi untuk mengetahui
ketidakrataan pada benang dan menghitung jumlah neps, thin, dan thick yang
4. Single Strength Tester, merupakan alat yang berfungsi untuk mengetahui
kekuatan dan mulur benang setiap panjang benang per helai.
5. Neraca Analitic, merupakan alat yang berfungsi untuk mengetahui berat dari
sliver ataupun benang yang sedang diuji.
3.2.4.7 Bengkel
Bengkel yang berada di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
berfungsi sebagai sarana untuk pemeliharaan dan perbaikan mesin-mesin yang
digunakan dalam peralatan-peralatan yang menunjang proses produksi. Alat-alat
yang terdapat dibengkel ini yaitu mesin las, gerinda, mesin bubut dan lain-lain.
3.2.4.8 Pergudangan
Gudang merupakan salah satu tempat yang menunjang kebutuhan produksi yang
dapat digunakan untuk menyimpan bahan baku, bahan pembantu, dan lainnya.
PT Binausaha Cipta Prima memiliki tiga macam gudang, antara lain:
1. Gudang Bahan Baku
Berfungsi untuk menyimpan bahan baku produksi seperti bal Cotton dan Rayon.
2. Gudang Suku Cadang
Berfungsi untuk menyimpan suku cadang (sparepart) mesin-mesin produksi,
mesin-mesin penunjang produksi, mesin-mesin yang lama sudah tidak
beroperasi, serta pelumas mesin.
3. Gudang Hasil Produksi
Berfungsi untuk menyimpan benang jadi (hasil produksi) sebelum dipasarkan
atau dikirim ke konsumen.
3.3 Pemeliharaan dan Perbaikan Mesin
Pemeliharaan dan perbaikan mesin di PT Binausaha Cipta Prima dilakukan oleh
bagian Maintenance dan Utility. Pemeliharaan mesin merupakan kegiatan yang
perlu dilakukan untuk menjaga kestabilan kondisi mesin, memperlancar proses
produksi dan memperpanjang masa pakai mesin maupun peralatan kerja.
Pemeliharaan mesin yang dilakukan secara teratur dan baik dapat mengurangi
3.3.1 Pemeliharaan Mesin
Pemeliharaan yang dilakukan secara periodik dan terencana sangat diperlukan
pada fasilitas-fasilitas produksi dan jika tidak, akan mengakibatkan kerusakan juga
masalah pada mesin.
Pemeliharaan mesin memiliki tujuan untuk:
1. Mencegah kerusakan mendadak saat mesin sedang berjalan.
2. Menjaga dan memelihara efisiensi mesin dan hasil produksi tetap tinggi.
3. Memperbaiki setiap kerusakan atau keausan dari peralatan secepat mungkin
agar dapat menekan sekecil mungkin jumlah mesin yang tidak beroperasi.
Sistem pemeliharaan mesin yang dilakukan oleh Departemen Spinning PT
Binausaha Cipta Prima adalah sebagai berikut:
1. Preventive Maintenance
Preventive Maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang
dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan yang tidak terduga dan
menemukan kerusakan fasilitas produksi.
Preventive Maintenance meliputi:
Routine Maintenance yaitu kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang
dilakukan secara rutin, misalnya pembersihan mesin, pemanasan mesin.
Periodik Maintenance yaitu kegiatan pemeliharaan dan perawatan yang
dilakukan secara periodikatau dalam jangka waktu tertentu.
3.3.2 Perbaikan Mesin
Perawatan perbaikan dilakukan pada mesin-mesin yang mengalami kerusakan
pada saat proses produksi berlangsung dan dikerjakan oleh teknisi dari bagian
Maintenance setelah menerima adanya complain dari operator yang
mengoperasikan mesin tersebut. Perbaikan dilakukan pada saat itu juga apabila
kerusakan pada mesin tidak terlalu berat sehingga mesin masih dapat diopersikan
untuk proses produksi. Sebaliknya, apabila mesin tidak dapat diperbaiki pada saat
itu juga, maka perbaikan dilakukan pada saat jadwal perawatan preventive mesin.
Perbaikan mesin ini disebut juga dengan Corrective Maintenance/Break Down
Maintenance. Corrective Maintenance adalah kegiatan perbaikan yang dilakukan
3.3.2.1 Jadwal Kegiatan Bagian Maintenance
Terdapat penjadwalan yang dilakukan oleh bagian Maintenance untuk perawatan
mesin di Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima dapat dilihat pada Tabel
3.11 di bawah ini.
Tabel 3.11 Jadwal kegiatan Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
No Nama Tugas Jangka Waktu Pelaksanaan
1. Mesin Blowing
a. Pengecekan Oli Gear Box 1 Minggu Sekali b. Pelumasan Cone Drum Setiap hari
2. MesinCarding
a. Pembersihan Doffer 3 Hari Sekali b. Pembersihan Bagian Silinder Setiap Hari
c. Penambahan Oli pada Gear
Box 1 Minggu Sekali
d. Pembersihan Top Flat 3 Bulan Sekali
e. Pembersihan Bagian Belakang
Mesin 1 Minggu Sekali
3. Mesin Drawing
a. Pengecekan Top Roll Setiap Hari b. Pengecekan Grease Top Roll Setiap Hari c. Pengecekan Oli Gear box 1 Minggu Sekali
4 Mesin Open End
a. Pemeriksaan Rubber Coat Setiap Hari
b. Scouring Mesin 2x 1 Minggu
c. Pelumasan Main Motor 6 Bulan Sekali
Sumber: Maintenance Departemen Spinning PT Binausaha Cipta Prima
3.4 Pengendalian Mutu
Pengendalian mutu merupakan suatu pengendalian produksi untuk memelihara
serta meningkatkan mutu produksi secara efektif dan efisien, sehingga dapat
menghasilkan produk dengan kualitas yang baik dan sesuai dengan yang
direncanakan serta memuaskan pelanggan.
Pengendalian tersebut meliputi Plan (Perencanaan) –Do (Pelaksanaan) –Check
(Pemeriksaan) – Action (tindakan) atau disingkat PDCA. Ke empat fungsi
merupakan proses yang terus menerus atau disebut deming circle (lingkaran yang
3.4.1 Raw Material
Raw Material (bahan baku) adalah bahan mentah yang digunakan dalam membuat
suatu produk dimana bahan tersebut secara menyeluruh tampak pada produk jadi
yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Bahan baku yang digunakan untuk
melangsungkan proses produksi pada Departemen Spinning PT Binausaha Cipta
Prima berasal dari pembelian pada perusahaan lain juga penggunaan beberapa
limbah produksi seperti limbah Blowing, Carding, dan Drawing dari produksi milik
sendiri.
Bahan baku yang telah datang akan di identifikasi, apakah telah sesuai dengan
spesifikasi yang diminta ataupun sebaliknya. Pengendalian mutu Raw Material
terbagi menjadi dua yaitu, Field Raw Material dan Analyst Raw Material.
3.4.1.1 Field Raw Material
Field raw material adalah pemeriksaan yang dilaksanakan pada bahan baku
secara fisik serta monitoring kualitas bahan baku selama penyimpanan.
Pemeriksaan ini dilakukan oleh bagian PPC (Planning Production Control). Bagian
PPC ketika menerima permintaan order produksi dilakukan pemeriksaan terhadap
bahan baku berupa serat yang akan digunakan pada saat proses produksi agar
sesuai dengan permintaan dari konsumen. Setelah pemeriksaan bahan baku
dinyatakan tepat, maka dilakukan pengelompokkan bahan baku tersebut untuk
pembuatan kartu produksi.
3.4.1.2 Analyst Raw Material
Analyst raw material adalah pemeriksaan untuk melakukan analisa terhadap
bahan baku sebelum dilakukan proses produksi. Maksud dari pemeriksaan ini
adalah untuk mengidentifikasi bahan baku yang masuk apakah sesuai dengan
spesifikasi yang sudah standar atau sebaliknya.
3.4.2 Proses
Pengawasan terhadap mutu selama proses bertujuan untuk mengawasi dan
mengendalikan sistem pengendalian mutu terhadap proses produksi sehingga
dapat menghasilkan produk yang berkualitas sesuai standar. Pengendalian mutu
proses dilakukan oleh operator yang bertugas disetiap mesin beserta kepala shift
Pengendalian mutu pada setiap proses secara umum adalah sebagai berikut:
1. Pengecekan kelengkapan bahan baku.
2. Cek kebersihan mesin.
3. Cek kondisi mesin.
4. Pengoperasian mesin harus sesuai standar yang telah ditetapkan.
5. Pengontrolan proses, tekanan angin, kecepatan motor dan lain-lain.
3.4.3 Produk
Produk yang dihasilkan adalah berupa benang Open End dengan nomor Ne1 yaitu
7s, 10s, 14s, dan 16s. Jenis pengendalian mutu untuk produk yang dihasilkan yaitu
dengan cara pengujian pada benang meliputi:
1. Uji kekuatan benang per helai.
2. Uji ketidakrataan benang.
3. Uji kenampakan benang.
4. Uji penimbangan berat benang (nomor benang).
Setelah benang di uji, benang-benang ini juga akan melalui proses pengendalian
mutu yaitu dengan pemeriksaan terhadap cacat gulungan pada benang agar
proses pengendalian mutu pada produk ini dapat terkendali sesuai dengan