• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Klasifikasi Molar Ketiga Mandibula Impaksi Di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara Pada Periode 1 Oktober 2016 – 31 Maret 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Gambaran Klasifikasi Molar Ketiga Mandibula Impaksi Di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara Pada Periode 1 Oktober 2016 – 31 Maret 2017"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Gigi Impaksi

Gigi impaksi merupakan gigi yang tidak dapat muncul sepenuhnya ke dalam rongga mulut dalam jangka waktu perkembangan yang diharapkan dan tidak ada lagi kemungkinan untuk erupsi.1,2,11-14Harus dipahami bahwa bukan semua gigi terpendam adalah gigi terimpaksi.

2.2 Gigi Yang Paling Sering Mengalami Impaksi

Gigi impaksi merupakan sebuah fenomena yang sering terjadi di masyarakat. Gigi impaksi merupakan sumber potensial yang terus menerus dapat menimbulkan keluhan sejak gigi mulai erupsi. Keluhan utama yang paling sering dirasakan adalah rasa sakit dan pembengkakan yang terjadi di sekeliling gusi gigi tersebut bahkan terkadang dapat mempengaruhi estetis, gangguan pengunyahan, kesulitan berbicara, dan mengganggu aktifitas sehari-hari. Gigi impaksi ini juga sering menjadi tempat retensi makanan yang sulit dibersihkan. Retensi debris makanan dan plak akan menyebabkan karies pada gigi tersebut atau pada gigi tetangganya dan menyebabkan bau mulut. 15-17

(2)

15-25 tahun adalah 84%. Dalam penelitian Gopal (2012) dan peneliti-peneliti lain menunjukkan bahwa distribusi impaksi M3 paling banyak pada rahang bawah. 8

2.3 Etiologi Gigi Impaksi

Banyak teori mengenai gigi impaksi. Hal ini disebabkan oleh tingginya insiden impaksi molar ketiga mandibula. Salah satu teori yang paling populer adalah pengembangan ruang retromolar yang tidak adekuat. 3

Faktor- faktor lain adalah malposisi tooth germ pada masa tahap ektopik, malposisi tooth bud selama tahap awal kalsifikasi dan perkembangan akar, faktor keturunan, kurangnya daya erupsi untuk gigi M3 dan evolusi dalam ukuran tulang rahang yang menghasilkan mandibula yang terlalu kecil untuk tempah geraham M3 tumbuh dengan sesuai.1,2,11Menurut penelitian Yamaoka (1995), jika dibandingkan dengan gigi M3 mandibula yang sudah erupsi sempurna, gigi M3 mandibula impaksi memiliki prevalensi akar bersudut yang lebih tinggi. Penelitian Bjork (1963) menunjukkan bahwa ruangan antara ramus dengan aspek distal dari gigi molar kedua berhubungan dengan arah pertumbuhan kondilus, panjang mandibula, jalan erupsi gigi, dan maturasi gigi M3. Penelitian Richardson (1977) menunjukkan bahwa ruangan untuk erupsi gigi M3 tergantung pada hal resorpsi ramus dan gerakan maju gigi pada rahang.15

Kelompok studi Belfast mengklaim bahwa mungkin ada pertumbuhan akar diferensial antara akar mesial dan akar distal yang menyebabkan gigi cenderung erupsi ke sudut mesial atau memutar ke posisi vertikal. Mereka juga menemukan bahwa pasien dengan gigi impaksi hampir selalu memiliki gigi berukuran lebih besar daripada pasien yang tidak memiliki gigi impaksi. Selain itu, terdapat juga peningkatan insiden impaksi saat perkembangan gigi relatif lebih lambat dari pertumbuhan tulang dan pematangan rahang.2,16

(3)

memiliki gigi impaksi. 3,5,7 Penyebab dasar utama dari gigi impaksi pada orang dewasa dari Eropa Barat, Inggris, Irlandia, Amerika Serikat dan Kanada adalah karena makanan artifisial bayi, kebiasaan buruk yang dikembangkan selama masa kanak-kanak, konsumsi makanan manis yang lebih oleh anak-anak dan remaja yang mengakibatkan disproporsi rahang dan gigi. 7,10

2.4 Komplikasi Impaksi Molar Ketiga Mandibula

Gigi molar ketiga mandibula yang tidak erupsi dengan sempurna atau tidak erupsi langsung, sering dikaitkan dengan masalah patologi yang bervariasi.

2.4.1 Perikoronitis

Sebagian pasien akan mengalami lebih kurang 1 kali episode perikoronitis ketikasebagian gigi terimpaksi tertutupi sejumlah besar jaringan lunak pada sekeliling aksial dan permukaan oklusal. Perikoronitis adalah infeksi jaringan lunak sekitar mahkota gigi sebagian terimpaksi dan biasanya disebabkan olehflora normal dalam rongga mulut.7Perikoronitis dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang berikut.1 Faktor-faktor Perikoronitis:

1. Keseimbangan antara pertahanan host dan bakteri.

Infeksi dapat terjadi apabila pertahanan host terganggu. Dengan demikian, meskipun gigi impaksi telah hadir selama beberapa waktu tanpa infeksi, jika pasien bahkan mengalami penurunan pertahanan tubuh yang ringan dan sementara, perikoronitis akan terjadi biarpun tubuh tidak memiliki masalah imunologi.

(4)

3. Sisa makanan terperangkap di bawah operkulum karena saku ini tidak dapat dibersihkan,bakteri berkolonisasi pada daerah tersebutsehingga memicu terjadinya perikoronitis.

4. Bakteri – bakteri Streptococcus dan sejumlah besar bakteri anaerobik yang bervariasi (bakteri yang biasanya menghuni di sulkus gingiva).

Perikoronitis sering merupakan penyebab pencabutan gigi M3 impaksi mandibula, namuntidak ada definisi standar perikoronitissaat ini. Proses erupsi mungkin menyebabkan gingivitis dimana gejalanya mirip dengan perikoronitis.2,7

2.4.2 Resorpsi akar

Tekanan dari gigi M3 impaksi yang menimpa akar gigi yang berdekatan akan menyebabkan resorpsi akar.1Proses ini meskipun belum jelas, namun sama halnya dengan proses resorpsi gigi primer yang berlaku selama proses erupsi gigi permanen.1,2 Beberapa penelitian telah menunjukkan hubungan antara resorpsi akar dan peningkatan usia.

2.4.3 Karies

(5)

2.4.4 Periodontitis

Ketidakmampuan pasien untuk membersihkan daerah gigi sebagian erupsi secara menyeluruh dapat mengakibatkan penyakit periodontal awal.2 Pasien umumnya memiliki inflamasi gingiva dengan gingiva cekatnya mengalami migrasi apikal pada aspek distal gigi molar kedua, bahkan dengan gingivitis ringan, bakteri penyebab memperoleh akses ke sebagian besar permukaan akar yang kemudian menghasilkan pembentukan awal periodontitis yang dapat merusakkan gigi. 1,2,11

2.4.5 Gigi Tiruan

Sebelum dilakukan konstruksi gigi tiruanlepasan atau cekat, dokter gigi harusmemastikanbahwa tidak ada gigi yang impaksi di daerah edentulus yang butuh restorasi. Apabila gigi impaksi tersebut diekstraksi hanya setelah gigi tiruan dibuat, gigi tiruan akan tidak dapat beradaptasi dengan sempurna ke alveolar ridge karena tulang alveolar akan beresorpsi setelah gigi diekstraksi. Jika sebaliknyabasis gigi tiruan dibuat tanpa pengambilan gigi impaksi dahulu dan mengadaptasi diatas gigi impaksi yang ditutupi oleh hanya jaringan lunak atau 1 - 2mm tulang alveolar, lama- kelamaan tulang diatasnya akan diserapdan timbulnya perforasi mukosa di atas gigi impaksi tersebut. Hal ini disebabkan oleh kompresi dari gigi tiruan ke jaringan lunak dan gigi impaksi. Hasilnya adalah ulserasi pada jaringan di atasnya dan inisiasi infeksi odontogenik.1,2,7,11

2.4.6 Kista Odontogenik Dan Tumor.

(6)

2.4.7 Nyeri Idiopatik

Pasien terkadang mengeluh nyeri di daerah molar ketiga mandibula impaksi yang tidak memiliki tanda-tandaklinis maupun tanda-tanda patologi pada radiografi. Situasi ini menunjukkan pengambilan molar ketiga sering mengatasi masalah nyeri tetapi pada saat ini, masih tidak ada penjelasan yang masuk akal untuk kejadian ini. Sekitar 1- 2% dari molar ketiga rahang bawah yang diekstraksi untuk alasan ini. Apabila seorang pasien datang dengan jenis keluhan seperti ini, ahli bedah harus memastikan bahwa semua sumber-sumber lain yang menyebabkan nyeri dikesampingkan sebelum menyarankan operasi pengangkatan gigi molar ketiga. Selain itu, pasien harus diberitahu bahwa pengangkatan molar ketiga mungkin tidak akan menghilangkan rasa sakit sepenuhnya.1,2,11

2.5Klasifikasi Molar Ketiga Mandibula Impaksi

Molar ketiga mandibula impaksi dapat diklasifikasikan berdasarkan sifat jaringan yang menutupinya, Pell dan Gregory, Winter dan lain-lainnya. Peneliti di sini hanya akan membahaskan 3 jenis klasifikasi: Klasifikasi berdasarkan sifat jaringan, Pell and Gregory dan Winter.

2.5.1 Berdasarkan Sifat Jaringan

Berdasarkan sifat jaringan di atas gigi molar ketiga impaksi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, yaitu1:

a. Impaksi Jaringan lunak (Soft Tissue Impaction)

Adanya jaringan fibrous tebal yang menutupi gigi terkadang mencegah erupsi gigi secara normal.

b. Impaksi Tulang Parsial (Partial bony impaction)

(7)

c. Impaksi Tulang Penuh (Complete bony impaction)

Gigi terpendam secara utuh tertanam di dalam tulang, sehingga ketika flep jaringan lunak direfleksikan, gigi tidak terlihat. Jumlah tulang secara ekstensif harus diangkat, dan gigi perlu dipotong-potong sebelum dicabut.

Gambar 1. Klasifikasi Molar Ketiga Mandibula Impaksi berdasarkan sifat jaringan diatasnya. A) Jaringan Lunak B) Tulang Parsial C) Tulang Penuh1

2.5.2 Klasifikasi Pell dan Gregory

Pell dan Gregory menghubungkan kedalaman terpendam terhadap bidang oklusal dan garis servikal gigi molar kedua mandibula dalam sebuah pendekatan dan diameter mesiodistal gigi terimpaksi terhadap ruang yang tersedia antara permukaan distal gigi molar kedua dan ramus asendus mandibula dalam pendekatan lain.1,11 A. Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibular

Komponen pertama dalam sistem klasifikasi ini didasarkan pada hubungan antara ruang yang tersedia di antara permukaan distal gigi molar kedua dan ramus mandibula.4,13,18,19

(8)

1. Klas I: Diameter anteroposterior gigi sama atau sebanding dengan ruang antara batas anterior ramus mandibula dan permukaan distal gigi molar kedua. Pada klas I ada celah di sebelah distal molar kedua yang potensial menjadi tempat erupsi molar ketiga.

2. Klas II: Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan distal gigi dan ruang tidak cukup untuk erupsi gigi, sebagai contoh, diameter mesiodistal gigi lebih besar daripada ruang yang tersedia.

3. Klas III: Gigi secara utuh terletak di dalam akses mandibula yang sulit. Pada klas III, mahkota gigi terpendam seluruhnya terletak di dalam ramus.

B. Berdasarkan pada jumlah tulang yang menutupi gigi terpendam.

Komponen kedua dalam sistem klasifikasi ini didasarkan pada jumlah tulang yang menutupi gigi terpendam. Gigi terpendam baik yang atas maupun yang bawah dapat dikelompokan berdasarkan kedalamannya dan hubungannya terhadap garis oklusal dan garis servikal molar kedua disebelahnya.7,12,16,17

Gambar 3. Klasifikasi Pell dan Gregory Kelas A, Kelas B dan Kelas C. 11

1. Posisi A: Bidang oklusal gigi terpendam berada pada tingkat yang sama dengan oklusal gigi molar kedua tetangga atau di atas garis oklusal molar kedua tetangga. 2. Posisi B: Bidang oklusal gigi terpendam berada pada pertengahan garis servikal

(9)

3. Posisi C: Bidang oklusal gigi terpendam berada di bawah garis servikal gigi molar kedua.

2.5.3 Klasifikasi Winter

Winter mengajukan sebuah klasifikasi gigi molar ketiga mandibula impaksi berdasarkan hubungan inklinasi gigi terimpaksi terhadap panjang aksis gigi molar kedua mandibula. Beliau juga mengklasifikasikan posisi impaksi yang berbeda seperti vertikal, horizontal, inverted, mesioangular, distoangular, bukoangular, dan linguoangular.1,7,9,11,16

Quek et al mengajukan sebuah sistem klasifikasi menggunakan protraktor ortodontik. Penelitian mereka menunjukkan angulasi dapat dideterminasi menggunakan sudut yang dibentuk antara pertemuan panjang aksis gigi molar kedua dan ketiga. Mereka mengklasifikasikan gigi molar ketiga mandibula impaksi sebagai berikut18:

a. Vertikal (10° sampai -10°) b. Mesioangular (11° sampai 79°) c. Horizontal (80° sampai 100°) d. Distoangular (-11° sampai -79°) e. Lainnya (101° sampai -80°)

(10)

Gambar 4. Klasifikasi Winter. Sudut-sudut yang dibentuk antara pertemuan panjang aksis gigi molar kedua dan ketiga.13

Gambar 5. Klasifikasi Winter. (1) Mesioangular (2) Distoangular (3) Vertical (4) Horizontal (5) Buccolingual (6) Linguoanular (7) Inverted. 9

1. Mesioangular: Gigi terpendam mengalami tilting terhadap molar kedua dalam arah mesial.

(11)

3. Vertical: Aksis panjang gigi terpendam berada pada arah yang sama dengan aksis panjang gigi molar kedua.

4. Horizontal: Aksis panjang gigi terpendam horizontal.

5. Buccoangular: Aksis panjang molar ketiga mengarah ke arah bukal. 6. Linguoangular: Aksis panjang molar ketiga mengarah kearah lingual.

7. Inverted: Gigi terpendam dengan mahkotanya berhadap ke bawah dan akar berhadap kearah oklusal.

Setiap inklinasi memiliki arah pencabutan gigi secara definitif, sebagai contoh, gigi impaksi posisi mesioangular sangat mudah untuk dicabut dan posisi distoangular merupakan posisi gigi yang paling sulit untuk dicabut.2Mesioangular paling sering terjadi pada gigi rahang bawah sedangkan posisi distoangular paling sering terjadi pada gigi rahang atas, tetapi kedua gigi tersebut juga paling mudah pengambilannya berbanding dengan angulasi lain.1,11

2.6 Indikasi dan Kontraindikasi Pengambilan Gigi Impaksi Pengambilan gigi impaksi memiliki indikasi dan kontraindikasinya.1,2,7,9

Indikasi Pengambilan Gigi Impaksi:

1. Infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (Perikoronitis). 2. Usia Muda

Penyembuhan umumnya terjadi lebih cepat dan lebih lengkap pada pasien yang lebih muda,namun operasi pengambilan gigi molar ketiga impaksi di usia sangat muda (pada usia 8 atau 9 di mana benih gigi M3 berkembang) merupakan kontraindikasi.

3. Adanya infeksi seperti Sellulitis.

4. Adanya keadaan patologik seperti karies pada gigi terpendam maupun pada gigi tetangganya.

5. Berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis, misalnya kista odontogenik. 6. Penyimpangan panjang lengkung rahang dan untuk membantu mempertahankan

stabilitas hasil perawatan ortodonti.

(12)

Kontraindikasi Pengambilan Gigi Impaksi:

Pengambilan gigi impaksi dapat disertai sejumlah resiko dankomplikasi. Salah satu alasan untuk mempertimbangkan tidak mencabut gigi impaksi adalahbesarnya kemungkinan kerugian yang akan dialami pasien lebih banyak dari manfaatnya.2,12.20 1. Pasien tidak menghendaki giginya dicabut.

2. Kemungkinan besar akan terjadi kerusakan pada struktuk penting di sekitarnya atau kerusakan tulang pendukung yang luas.

3. Sebelum panjang akar mencapai sepertiga atau dua pertiga dan apabila tulang yang menutupinya terlalu banyak (pencabutan premature).

4. Apabila kemampuan pasien untuk menghadapi tindakan pembedahan terganggu oleh kondisi fisik atau mental tertentu.

5. Penderita usia lanjut. Tulang yang menutupi gigi impaksi pada penderita usia lanjut sangat termineralisasi dan padat sehingga menyulitkan untuk melakukan odontektomi. Sebagai tambahan, orang usia lanjut biasanya berhubungan dengan keadaan umum yang tidak dianjurkan untuk menjalani proses pembedahan.

2.7 Evaluasi Pra Operatif

Pemeriksaan awal harus berupa sebuah riwayat medis dan dental, serta pemeriksaan klinis ekstra oral dan intra oral yang menyeluruh. Hasil penemuan positif dari pemeriksaan ini seharusnya dapat mendeterminasikan apakah pencabutan diindikasikan dan harus mengikutsertakan pemeriksaan radiologi. Dokter bedah harus memberi perhatian khusus pada berbagai faktor yang menyebabkan prosedur pembedahan lebih mudah atau lebih sulit. 2

2.7.1 Evaluasi Klinis

(13)

2.7.2 Pemeriksaan Radiografi

Tujuan dari evaluasi radiologi adalah untuk melengkapi evaluasi klinis dengan memberikan informasi tambahan. Hal ini sangat dibutuhkan supaya keputusan tentang prosedur pembedahan dapat diusulkan secara optimal, terlebih jika hendak menjelaskan prosedur-prosedur atau diagnosis kepada pasien, radiografi dapat membantu dalam hal tersebut. 11

Evaluasi radiografi meliputi penilaian gigi M3 mandibula impaksi dari aspekmorfologi akar, ukuran folikel gigi, kepadatan tulang sekitarnya, kontak dengan molar kedua, sifatjaringan di atasnya, saraf inferior alveolar dan pembuluh darah, hubungangigi dengan ramus mandibula, hubungan dengan gigi berdekatan dan posisi bukolingual gigi impaksi.Mayoritas faktor lokal yang menyebabkan kesulitan dalam pengambilan gigi M3 impaksi dapat didiagnosis dengan interpretasi radiografi pra operasi. Di bawah ini adalah contoh- contoh jenis radiografi yang biasa digunakan untuk membantu dalam pengambilan gigi M3 impaksi11:

1. Radiografi Periapikal 2. Radiografi Oklusal

3. Radiografi Lateral Oblik Mandibula 4. Orthopantomogram (Panoramik)

2.8Pencabutan Molar Ketiga Mandibula Impaksi

Rencana operasi standar dapat dibagi ke dalamtahapan berikut:

1. Insisi dan desain flep (Incision and Designing the Flap) 2. Pembuangan tulang(Bone Removal)

3. Pembelahan dan pengangkatan gigi dari soket(Sectioning and Delivery) 4. Pembersihan dengan irigasi (Debridement)

(14)

2.8.1 Insisi dan Desain Flep

Ukuran flep harus cukup untuk memungkinkan akses dan visibilitas yang memadai dan untuk memastikan kesembuhan tanpa hambatan seperti pembentukan saku periodontal pada sisi distal molar kedua. Faktor yang paling penting dalam merancang flep adalah posisi molar ketiga yang menentukan jumlah pembuangan tulang yang diperlukan dan ada tidaknya kebutuhan untuk pembelahan gigi.

Flep yang paling umum dipilih adalah Envelope Flap yang memanjang dari posterior ke posisi gigi impaksi sampai bagian anterior molar pertama. Insisi tersebut dibuat sepanjang servikal gigi molar pertama dan kedua.

Jika akses yang lebih besar diperlukan untuk pengambilan gigi yang sangat terpendam, desain envelope flapmungkin tidak cukup. Dalam kasus tersebut, insisi flep pada aspek anterior dari sayatan dapat menjadiTriangular Flap.11

Gambar 6. Desain Flep. (A) Envelope flap pendek (B) Envelope flap panjang (C) Triangular flap pendek (D) Triangular flap panjang.12

2.8.2 Pembuangan Tulang

(15)

gigidan untuk memberikan titik aplikasi untuk mengangkat gigi. Pembuangan tulang bervariasi sesuai dengan kedalaman gigi impaksi. 11

Langkah pertama dari pembuangan tulang adalah untuk memberikan visualisasi dan akses ke permukaan gigi. Ini termasuk pembuangan tulang dari aspek oklusal dan kemudian dari aspek bukal untuk mendapatkan akses ke gigi impaksi. Tulang di distal gigi juga dapat dibuang jika diperlukan. Tulang di sisi lingual gigi tidak dibuang, kecuali bila menggunakan teknik pemisahan tulang lingual (Lingual Split-Bone Technique). Teknik ini tidak dianjurkan karena tingginya insiden trauma bedah dan cedera saraf lingual dibandingkan dengan pendekatan bukal yang standar.

Setelah mendapatkan akses ke gigi impaksi, langkah berikutnya adalah membuang tulang yang berdekatan dengan gigi impaksi untuk menyediakanfulkrum untuk tujuan elevasi gigi.Langkah selanjutnya adalah luksasi untuk mengangkat gigi dari soket. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, harus dipertimbangkan untuk pembelahan gigi.12

2.8.3 Pembelahan dan Pengangkatan Gigi A. Impaksi Mesioangular

Dari semua jenis impaksi, impaksi mesioangular dianggap paling mudah untuk dibuang. Ketika aspek mesial darigigi M3 berada dibawah kontur distal gigi molar kedua, ini akan menimbulkan hambatan mekanis untuk mengangkat gigi, karena itu, bur dapat digunakan untuk pembelahan gigi. Terdapat sejumlah cara yang memungkinkan pengangkatan mahkota dan akar gigi.

(16)

Gambar 7. Cara pembelahan gigi M3 mandibula impaksi mesioangular.12

Banyak ahli bedah lebih memilih untuk membuat pembelahan melintang secara paralel denganCementoenamel junction (CEJ) pada molar ketiga, dengan demikian memisahkan mahkota dari akarnya (Gambar 7C). Mahkota dapat digenggam dan diangkat dengan forsep atau rongeur, kemudian dilakukan hal yang sama untuk mengangkat sisa gigi. Apabila furkasinya ada, potongan kedua dapat dilakukan untuk membagi akar dari satu sama lain dengan menciptakan dua akar tunggal(Gambar 7D).

B. Impaksi Horizontal

(17)

Gambar 8. Cara pembelahan dan pengambilan gigi M3 mandibula impaksi horizontal. 11

C. Impaksi Vertikal

Impaksi vertikal adalah salah satu jenis gigi impaksi yang lebih sulit untuk dibuang,terutama jika impaksi tersebut sangatdalam. Prosedur pembuangan tulang dan pembelahan gigi mirip dengan yang impaksi mesioangular.Tulang dibuang pertama dari oklusal, bukal, dan aspek distal(Gambar 9A). Bagian distal tengah dari mahkota dipotong hingga furkasi dan diangkat bersama dengan akar (Gambar 9B). Mesialtengah dari gigi diangkat oleh elevator dengan aplikasi mesial pada garis servikal (Gambar 9C).

(18)

D. Impaksi Distoangular

Impaksi distoangular dianggap sebagai gigi yang paling sulit untuk dibuang. Hal ini terjadi karena jalur pengeluarangigi impaksi distoangular adalah ke arah ramus mandibula. Tujuan dari teknik pengambilan gigi ini adalah untuk mendapatkan ruang bukal dan distal yang cukup di sekitar mahkota penuh gigi dengan kedalaman yang mencapai di bawah garis servikal(Gambar 10A). Mahkota dipotong secara horizontal dari akarnya dan diangkat dengan bantuan dari elevator (Gambar 10B). Sebuah titik fulkrum (purchase point) dibuat dan elevator digunakan untuk mengangkat kedua-dua akarnya bersama (Gambar 10C).11,12

Gambar 10. Cara pembelahan dan pengambilan gigi M3 mandibula impaksi distoangular.11

Akar terkadang perlu dibagi menjadi dua bagian yang terpisah dan diangkat secara terpisah.

2.8.4 Debridement

(19)

Metode terbaik untuk melakukannya adalah dengan membersihkan soket dan daerah bawah flep secara mekanis dengan kuret periapikal. Sebuah file tulang harus digunakan untuk menghaluskan tepi tulang yang tajam dan kasar. 1,2Sisa-sisa folikel gigi dibuangkan untuk mencegah kemungkinan pembentukan kista nanti.Septum interdental yang retak atau potongan tulang besar dapat dikeluarkandengan hemostat.11

Pada akhirnya, soket dan luka harus benar-benar diirigasi dengan saline atau air steril. Semakin banyak irigasi yang digunakan tetapi dengan kebatasan tertentu, semakin kecil kemungkinan terjadinya soket kering, penyembuhan tertundaataupun komplikasi lainnya.2,11

2.8.5 Wound Closure

(20)
(21)

2.10 Kerangka Konsep

Impaksi Molar ketiga Mandibula

Definisi

Etiologi

Komplikasi Impaksi

Klasifikasi Impaksi

Sifat Jaringan

Pell dan Gregory

Winter Distribusi Jenis-jenis

Impaksi

Indikasi & Kontraindikasi Pengambilan Gigi

Impaksi M3

Evaluasi Pra- Operatif

Gambar

Gambar 2. Klasifikasi Impaksi Pell dan Gregory Kelas I, Kelas II dan Kelas III. 11
Gambar 3. Klasifikasi Pell dan Gregory Kelas A, Kelas B dan Kelas C. 11
Gambar 5. Klasifikasi Winter. (1) Mesioangular (2) Distoangular (3) Vertical (4) Horizontal (5) Buccolingual (6) Linguoanular (7) Inverted
Gambar 6. Desain Flep. (A) Envelope flap pendek (B) Envelope flap panjang (C) Triangular flap pendek (D) Triangular flap panjang.12
+4

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan ketebalan angulus mandibula antara kelompok pasien gigi impaksi dengan tanpa gigi impaksi

melakukan penelitian pada gigi molar dua mandibula tentang panjang akar gigi. molar dua mandibula dengan menggunakan radiografi periapikal pada

Akar Molar Dua Mandibula Ditinjau Melalui Radiografi Periapikal Pada Mahasiswa Suku Batak di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Sumatera Utara Berusia 18- 22

Impaksi gigi molar ketiga bawah adalah gigi molar ketiga mandibula yang gagal untuk erupsi (tumbuh) secara sempurna pada posisinya, oleh karena terhalang oleh

analysis of impacted third molars among three ethnic groups of patients attending. AIMST dental

Universitas Sumatera Utara... Penyusunan Laporan

Hasil penelitian didapatkan untuk posisi molar tiga mandibula tidak ada beda antara periapikal dengan lateral oblique , kedua teknik dapat digunakan untuk melihat posisi

Faktor pertama adalah kedalaman relatif gigi molar ketiga yang terdiri atas kelas A dengan bidang oklusal gigi impaksi dalam posisi yang sama dengan bidang oklusal gigi molar