Pelaksanaan Pengalihan Aset Yayasan yang Belum Disesuaikan Dengan Undang-Undang Yayasan (Undang-Undang No. 16 Tahun 2001 sebagaimana Diubah dengan Undang-Undang No. 28 Tahun 2004)

Teks penuh

(1)

PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NO.16 TAHUN 2001

A. Dasar Hukum Yayasan

1. Sejarah Terbentuknya Perundang-undangan Tentang Yayasan

Yayasan, konon kabarnya sudah lama ada sebelum abad Masehi dimulai sejak jaman Pharaoh di Mesir22, bahkan Yayasan sebagai suatu organisasi jauh lebih tua dari berbagai organisasi usaha yang lain, misalnya organisasi usaha Perseroan Terbatas, Firma, Perseroan Komanditer dimana lembaga-lembaga tersebut baru dikenal di Hindia Belanda pada tahun 1847 yaitu ketika diundangkan beberapa peraturan perundangan23, akan tetapi ironisnya di Indonesia sampai abad ke 21 (dua puluh satu), peraturan tentang yayasan ini belum mempunyai peraturan perundangan yang mengatur secara khusus mengenai Yayasan, padahal disisi lain yayasan sudah mulai berkembang di Indonesia, sehingga dengan demikian keberadaan yayasan saat ini merupakan realita yang harus diterima.

Sebelum berlakunya Undang-Undang Yayasan, belum ada keseragaman tentang cara mendirikan yayasan. Pendirian Yayasan hanya didasarkan pada kebiasaan dalam masyarakat, karena belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang cara pendirian yayasan, serta keharusan pembentukan yayasan

22 Chatamarrasjid Ais,Tujuan Sosial Yayasan dan Kegiatan Usaha Bertujuan Laba, Cet I.PT Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, halaman 1 dan 2

23

(2)

melalui akta Notaris.24Dalam KUHPerdata pengaturan tentang yayasan juga tidak terdapat, demikian juga dalam KUHDagang dan peraturan-peraturan lainnya pun tidak mengaturnya. Sebelum hadirnya Undang-Undang No.16 Tahun 2001 tentang Yayasan, maka Badan Hukum Yayasan hanya hadir sebagai kebutuhan hukum. Kehadiran Yayasan hanya ditopang oleh hukum kebiasaan dalam masyarakat dan Yurisprudensi, belum ada keseragaman peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang tata cara pendirian suatu yayasan, serta keharusan pembentukan yayasan melalui akta Notaris. Hal ini mengakibatkan perdebatan mengenai status yayasan sebagai badan hukum atau bukan, masih terus berlangsung.

Pada saat itu masyarakat mendirikan yayasan dengan maksud untuk berlindung dibalik status badan hukum yayasan, yang tidak hanya digunakan sebagai tempat mengembangkan kegiatan sosial, keagamaan, kemanusiaan, melainkan juga untuk memperkaya diri para Pendiri, Pengurus dan Pengawas. Padahal peranan dari Yayasan bergerak di bidang sosial, pendidikan dan keagamaan yang keliatan, tetapi tidak ada satupun Undang-Undang yang mengatur secara terperinci dan tegas tentang yayasan.

Kemudian kedudukan Yayasan dimasukkan sebagai Badan Hukum. Yayasan adalah suatu badan hukum yang di lahirkan oleh suatu pernyataan kehendak. Pernyataan kehendak ini harus berisikan pemisahan suatu kekayaan untuk suatu tujuan tertentu dengan penunjukan, bagaimanakah kekayaan itu diurus dan digunakan.

24

(3)

Yayasan dalam bahasa Belanda disebut stichting, dalam KUHPerdata yang berlaku di Indonesia tidak terdapat pengaturannya , istilah yayasan dapat dijumpai dalam beberapa ketentuan yang terdapat dalam Pasal 365, Pasal 899, Pasal 900 dan

Pasal 1680 KUHPerdata25.

Pada masa sebelum berlakunya Undang-Undang Yayasan, ada kecenderungan masyarakat memilih bentuk yayasan antara lain alasan:

1. Proses pendiriannya sederhana; 2. Tanpa pengesahan dari Pemerintah;

3. Adanya Persepsi (yang salah) dari masyarakat bahwa Yayasan bukan merupakan subyek pajak26.

Akibatnya yang sering terjadi dalam prakteknya dikalangan masyarakat adalah terdapat beberapa bentuk-bentuk Yayasan dengan peruntukan atau tujuan yang berbeda-beda, sehingga yayasan-yayasan itu dapat digunakan untuk tujuan apapun tanpa batasan, dan banyak yayasan yang digunakan sebagai sumber keuntungan sehingga yayasan tersebut tidak murni sosial tetapi lebih kepada mencari profit/keuntungan bagi pendirinya dibalik kedok sosial dan kemanusiaan. Tanpa adanya peraturan tertulis tentang Yayasan, mengakibatkan tidak adanya keseragaman hukum yang dapat dijadikan dasar bagi suatu yayasan dalam menjalankan kegiatannya untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Keadaan yang seperti ini tidak luput dari kelemahan yang dimiliki oleh sebuah yayasan. Ada beberapa

25 Rochmat Soemitro, Hukum Perseroan Terbatas, Yayasan dan Wakaf,. Eresco, Bandung, 1993, halaman 165

26

Suyud Margono,Badan Hukum Yayasan, Dinamika Praktek,Efektivitas & Regulasi Di Indonesia,

(4)

kelemahan yang dapat ditemui dalam prakteknya, antara lain bahwa yayasan bersifat tertutup, status hukumnya tidak jelas, dan pengelolaannya belum professional.

Di Indonesia setelah 56 (lima puluh enam) tahun merdeka baru mempunyai peraturan mengenai yayasan, yaitu Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan, yang diundangkan pada tanggal 6 Agustus 2001 dalam Lembaran Negara RI Tahun 2001 No.112 dan Tambahan Lembaran Negara RI No.4132, dan mulai berlaku sejak tanggal 6 Agustus 200227. Dalam rangka untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum agar yayasan berfungsi sebagaimana mestinya maka diharapkan Undang-Undang tersebut dapat mencapai tujuannya berdasarkan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas kepada masyarakat.

Lahirnya Undang-Undang Yayasan tersebut dipandang tergolong lama, jika diukur sejak Indonesia merdeka, kelahiran Undang-Undang Yayasan seolah-olah menunggu setelah adanya Reformasi dan dikatakan baru terpikirkan ketika Negara memasuki era Reformasi. Lambatnya pengaturan tentang yayasan ini mengakibatkan lambatnya masyarakat untuk menyesuaikan diri terhadap Undang-Undang tersebut terutama bagi yayasan yang telah berdiri sebelumnya, karena masyarakat terbiasa mengelola yayasan dengan cara tradisional yang norma-normanya telah internalized atau mendarah daging. Sedangkan Undang-Undang Yayasan dibentuk dengan tujuannya digunakan untuk melakukan perubahan masyarakat (agent of change),agar yayasan dapat sebagai lembaga yang dikelola professional dan mampu berperan maksimal di masyarakat28.

27Gatot Supramono.,Op.Cit.,halaman 7

28

(5)

Terbitnya Undang-Undang No.16 Tahun 2001 tersebut karena fakta dalam praktek hukum status dari yayasan tersebut digunakan untuk tumpuan dari kegiatan yang seharusnya hanya sebatas kegiatan sosial, keagamaan, kemanusiaan tetapi dalam perkembangannya digunakan untuk memperkaya para pendirinya. Oleh karena itu tujuan dari yayasan itu harus dikembalikan dan untuk inilah maka perlu dibuatlah Undang-Undang yang mengaturnya. Undang-Undang Yayasan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat mengenai yayasan kemudian pula bisa menjamin kepastian dari ketertiban hukum serta mengembalikan fungsi yayasan sebagai pranata hukum dalam rangka mencapai tujuannya tersebut.

Proses pendirian yayasan yang mudah mendorong orang untuk mendirikan yayasan dalam menjalankan kegiatan mereka. Oleh karenanya yayasan berkembang di masyarakat tanpa ada aturan yang jelas, banyak yayasan disalahgunakan dan menyimpang dari tujuan semula yaitu bidang sosial kemanusiaan. Sedangkan status hukumnya sebagai badan hukum masih sering dipertanyakan oleh banyak pihak, karena keberadaan yayasan sebagai subyek hukum belum mempunyai kekuatan hukum yang tegas dan kuat. Dalam PutusanMahkamah Agung Republik Indonesiatanggal 27 Juni 1973 Nomor 124K/Sip/1973 berpendapat bahwa yayasan adalah badan hukum29. Yayasan yang telah ada sebelum berlakunya Undang-Undang Yayasan tersebut, dan telah didaftarkan di Pengadilan Negeri tetap diakui sebagai badan hukum. Hal ini merupakan hak yang telah diperoleh yayasan sebelumnya, oleh karena itu sesuai dengan prinsip hukum yang berlaku, hak tersebut tidak dapat hilang

29

(6)

begitu saja. Akan tetapi bagaimana tata cara yang harus dipenuhi oleh pengelola yayasan untuk memperoleh status badan hukum tersebut masih juga belum secara jelas diatur dalam peraturan perUndang-Undangan, keberadaan lembaga yayasan hanya didasarkan pada kebiasaan, doktrin dan yurisprudensi Mahkamah Agung. Hal ini menunjukkan walaupun tidak disebutkan secara tegas, yayasan di Indonesia telah diakui pula sebagai badan hukum.

Untuk diakui sebagai badan hukum yayasan harus memenuhi: a) Syarat materiil yang terdiri dari :

a. harus ada pemisahan harta kekayaan. b. adanya suatu tujuan tertentu.

c. suatu organisasi. b) Syarat formil :

a. dengan akta autentik30.

Umumnya yayasan selalu didirikan dengan akta notaris sebagai syarat bagi terbentuknya suatu yayasan. Namun ada juga yayasan yang didirikan oleh badan-badan pemerintah dilakukan atau dengan suatu Surat Keputusan dari pihak yang berwenang untuk itu atau dengan akta notaris. Didalam akta notaris yang dibuat tersebut dimuat ketentuan tentang pemisahan harta kekayaan oleh pendiri yayasan, yang kemudian tidak boleh lagi dikuasai oleh pendiri. Akta Notaris itu tidak didaftarkan di Pengadilan Negeri dan tidak pula diumumkan dalam berita negara. Para pengurus yayasan tidak diwajibkan

30

(7)

untuk mendaftarkan dan mengumumkan akta pendiriannya, juga tidak disyaratkan pengesahan aktanya Kementerian Hukum Dan Hak Asasi Manusia.

Kemudian setelah Undang-Undang Yayasan No.16 Tahun 2001 tersebut berjalan kurang lebih 2 (dua) tahun, pemerintah merasa ada beberapa pasal yang kurang dan perlu diubah kembali sehingga dikeluarkanlah Undang-Undang No. 28 Tahun 2004 perubahan atas Undang-Undang No.16 Tahun 2001 pada tanggal 6 Oktober 2004 melalui Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 No.115 dan Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia No. 4430, dan mulai berlaku sejak tanggal 6 Oktober 2005, satu tahun setelah diundangkan31.

Perubahan yang terjadi terhadap Undang-Undang Yayasan ini sangat cepat, ini menunjukan bahwa masalah tentang yayasan sangat banyak dan tidak sederhana sehingga diperlukan aturan yang bisa membatasinya dan mengaturnya secara tegas dan kuat. Undang-Undang Yayasan Nomor 28 Tahun 2004 ini tidak mengganti Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001. Perubahan yang dilakukannya hanya mengganti sebagian pasal-pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001. Jadi Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2004 tidak mengganti seluruhnya Undang-Undang Nomor 16 Tahun 200132.

Diterbitkannya Undang-Undang tentang Yayasan ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat yang benar tentang yayasan.

Undang-31

Gatot Supramono,Op.Cit,halaman 8

32

(8)

Undang menegaskan bahwa yayasan adalah suatu badan hukum yang mempunyai maksud dan tujuan bersifat sosial, keagamaan dan kemanusiaan yang didirikan dengan syarat formal yang ditentukan dalam undang-undang ini dan sangat diharapkan bisa menjadi dasar hukum yang kuat untuk mengatur tata cara pendirian dan pengelolaan yayasan.

Menurut Sentosa Sembiring, yang menyatakan ada beberapa pandangan terhadap pernyataan apakah Yayasan boleh mencari untung, pandangan pertama menyatakan bahwa Yayasan dalam menjalankan kegiatan sosialnya tidak perlu repot-repot dalam mencari sumber dana sebab dana telah tersedia untuk itu. Pada umumnya jenis yang telah mempunyai sumber dana tetap adalah Yayasan yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan besar. Perusahaan tersebut menyisihkan sebagian keuntungannya untuk kegiatan sosial. Pendapat kedua yang mengemukakan Yayasan boleh saja mencari untung. Hanya saja keuntungan yang diperoleh harus digunakan untuk kepentingan Yayasan. Jenis Yayasan seperti ini tampak cocok untuk Yayasan yang belum mempunyai dana abadi33. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya, yayasan membutuhkan dana agar yayasan tersebut bisa berjalan dengan lancar, untuk itu dalam perkembangannya, yayasan diperkenankan untuk mendapat keuntungan sepanjang itu diperuntukan sebagai dana yang digunakan untuk mempertahankan keseimbangan yayasan tersebut.

33

(9)

Belum adanya peraturan tertulis mengenai yayasan berakibat tidak adanya keseragaman yang dijadikan dasar bagi sebuah yayasan dalam menjalankan kegiatannya untuk mencapai tujuan yang dicita-citakan. Keadaan yang demikian tidak luput dari kelemahan yang dialami oleh Yayasan. Dalam praktiknya, ada beberapa kelemahan yaitu:

1. Yayasan bersifat tertutup

2. Status hukum yayasan tidak jelas 3. Pengelolaan secara tradisional34.

Itulah sebabnya dengan kondisi yang demikian Yayasan-yayasan pada masa sebelum lahirnya UU Yayasan cenderung bermasalah, baik masalah yang berkaitan dengan kegiatan Yayasan yang tidak sesuai dengan maksud dan tujuan yang tercantum dalam Anggaran Dasar, sengketa antara Pengurus dengan Pendiri atau pihak lain, maupun Yayasan yang digunakan untuk menampung kekayaan dari para pendiri atau pihak lain yang diperoleh dengan cara melawan hukum. Berdasarkan perkembangannya dan mengingat eksistensi Yayasan-yayasan di Indonesia telah banyak memberikan kontribusi bagi pembangunan bangsa, walapun pendiriannya selama ini dilakukan berdasarkan hukum kebiasaan dalam masyarakat, karena belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur, maka untuk menjamin kepastian dan ketertiban hukum agar Yayasan-yayasan berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya berdasarkan prinsip keterbukaan dan akuntabilitas kepada masyarakat.

34

(10)

2. Status Badan Hukum Yayasan

Sebelum terbitnya Undang-Undang No.16 Tahun 2001 sebagaimana diubah dengan Undang-Undang No.28 Tahun 2004, berstatus tidak jelas karena tidak ada pengaturan tentang yayasan, apakah sebagai badan hukum atau tidak. Tetapi dalam beberapa pasal pada KUHPerdata yang menyinggung adanya lembaga yayasan seperti Pasal 365, Pasal 899, Pasal 9000, Pasal 1680 KUHPerdata35.

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia istilah yayasan adalah badan atau organisasi yang bergerak dalam bidang social, keagamaan dan pendidikan yang bertujuan tidak mencari keuntungan.

Yayasan dalam bahasa Belanda disebut dengan Stichting, adalah suatu badan hukum yang berbeda dengan badan hukum perkumpulan atau Perseroan Terbatas, dimana dalam yayasan tidak mempunyai anggota atau persero, yayasan adalah badan hukum tanpa diperlukan campur tangan pemerintah.

Menurut Soebekti pengertian badan hukum yaitu suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan melakukan perbuatan seperti menerima serta memiliki kekayaan sendiri, dapat digugat, dan menggugat di muka hakim36.

Suatu organisasi dapat dikatakan sebagai badan hukum, harus melalui suatu proses yaitu adanya pengesahan dari pemerintah. Dengan tidak adanya pengaturan secara tertulis pada saat itu mengakibatkan yayasan mengalami kesulitan untuk dapat

35Anwar Borahima.,Op.Cit.halaman 1

36

(11)

mengatakan bahwa yayasan itu adalah badan hukum. Adanya Yurisprudensi yang menetapkan suatu yayasan sebagai badan hukum sifatnya hanya perkasus saja, dan pengadilan mempertimbangkan status yayasan dimaksud tidak terlepas dari penerapan teori badan hukum yang dilakukan oleh Yayasan.Hanya yayasan yang berperkara dipengadilan dan ditetapkan sebagai badan hukum, sedangkan yang lainnya masih belum jelas statusnya37.

B. Pendirian Yayasan

1. Tujuan dan Kegiatan Yayasan

Yayasan adalah kumpulan dari sejumlah orang yang terorganisasi dan dilihat dari segi kegiatannya, lebih tampak sebagai lembaga sosial.38Dari sejak awal, sebuah yayasan didirikan bukan untuk tujuan komersial atau untuk mencari keuntungan, akan tetapi tujuannya tidak lebih dari membantu atau meningkatkan kesejahteraan hidup orang lain. Yayasan didirikan harus sesuai dengan maksud dan tujuan dalam Anggaran Dasar Yayasan. Dalam rangka mencapai tujuannya Yayasan dimungkinkan untuk menjalankan atau melaksanakan kegiatan usaha, termasuk untuk mendirikan badan usaha dan/atau ikut serta dalam badan usaha.

Keberadaan yayasan merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat, yang menginginkan adanya wadah atau lembaga yang bersifat dan bertujuan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Dengan adanya yayasan, maka segala keinginan sosial, keagamaan, dan kemanusiaan, itu diwujudkan di dalam suatu lembaga yang diakui

37

Gatot Supramono.,op.cit,halaman 5 38

(12)

dan diterima keberadaannya39. Tujuan yayasan dapat diarahkan kepada pencapaian sesuatu yaitu kesejahteraan umum atau untuk kepentingan umum. Sebagai contoh, tujuan untuk memajukan pendidikan sudah pasti termasuk di dalam tujuan sosial kemanusiaan, tanpa mempersoalkan asal penerimaan sumbangan pendidikan atau dengan kata lain sumber penghasilannya, tetapi yang terpenting adalah tujuannya. Tujuannya adalah untuk mencerdaskan anak-anak bangsa, memajukan pendidikan dan/atau meningkatkan mutu pendidikan. Dalam praktiknya yayasan pendidikan memungut biaya pendidikan (SPP).

Tujuan dibangunnya yayasan merupakan salah satu syarat materiil yang harus dipenuhi untuk mendirikan suatu yayasan. Tujuan itu harus idiil, tidak boleh bertentangan dengan hukum, ketertiban umum, kesusilaan, dan kepentingan umum. Tujuan itu tidak boleh diarahkan pada pencapaian keuntungan atau kepentingan kebendaan lainnya bagi pendirinya. Dengan demikian, tidak diperkenankan pendirian suatu yayasan yang pada hakikatnya bertujuan sebagai suatu badan usaha perdagangan.

Keberadaan Yayasan sebelum berlakunya Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2001 Jo Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Yayasan, menimbulkan berbagai kontroversi sebab yayasan yang pada dasarnya bertujuan untuk kepentingan masyarakat, seringkali justru dijadikan wadah melakukan perbuatan melanggar hukum. Yayasan yang demikian, umumnya telah menyimpang dari maksud dan

39

(13)

tujuan yang telah ditetapkan dalam Anggaran Dasarnya. Usaha yang semula difokuskan pada usaha yang bersifat sosial dan kemanusiaan itu dibelokkan arahnya sehingga kepentingan individu yang diprioritaskan. Selain itu, beberapa yayasan melakukan usaha layaknya badan usaha yang bertujuan mengejar keuntungan. Dengan mengejar keuntungan, Yayasan itu umumnya tidak segan untuk melakukan tindakan melawan hukum dan bertentangan dengan kepentingan umum.

Bergesernya fungsi yayasan menjadi suatu badan usaha mengakibatkan tujuan aslinya menjadi kabur, salah arah, dan hampir tidak terkendali. Tampak disini yayasan digunakan untuk menjalankan usaha bisnis dan komersial dengan segala aspek manifestasinya. Dengan ketiadaan peraturan yang jelas ini,maka semakin berkembang dan bertumbuhanlah yayasan-yayasan di Indonesia dengan cepat, pertumbuhan mana tidak diimbangi dengan pertumbuhan peraturan dan pranata yang memadai bagi yayasan itu sendiri, sehingga masing-masing pihak yang berkepentingan menafsirkan pengertian yayasan secara sendiri-sendiri sesuai dengan kebutuhan dan tujuan mereka. Dalam rangka menjamin kepastian dan ketertiban hukum agar yayasan berfungsi sesuai dengan maksud dan tujuannya berdasarkan prinsip keterbukaan dan akutabilitas kepada masyarakat.

2. Tata Cara Pendirian Yayasan Sebelum Terbitnya Undang-Undang Yayasan

(14)

keseragaman tentang cara mendirikan yayasan40. Pendirian yayasan hanya didasari oleh kebiasaan dalam suatu masyarakat, karena belum adanya peraturan yang mengatur tentang tata cara pendirian yayasan, serta keharusan bahwa pembentukan yayasan harus dengan menggunakan akta notaris. Hal mengakibatkan perdebatan tentang status hukum dari yayasan itu sendiri, apakah sebagai badan hukum atau bukan masih terus berlangsung. Ditambah lagi, karena tidak ada suatu ketentuan yang menyebutkan bahwa yayasan konkordan mengikuti hukum Belanda, apalagi di Belanda sendiri pengaturan tentang Yayasan di Belanda sudah mengalami perubahan setelah Indonesia merdeka.

Ada beberapa syarat agar perkumpulan atau badan/badan usaha disebut sebagai badan hukum. Hal ini berkaitan dengan sumber hukum, khususnya dalam kaitan dengan sumber hukum formal. Tentang syarat badan hukum yang dikaji dari sumber hukum formal memberikan beberapa kemungkinan, bahwa badan hukum tersebut telah memenuhi:

1. Syarat berdasarkan ketentuan perundang-undangan.

Syarat berdasarkan Undang-Undang mendasarkan diri pada ketentuan Pasal 1653 KUHPerdata, maka dapat disimpulkan ada 2 (dua) cara, yaitu:41

a. Dinyatakan dengan tegas (uitdrukkelijk), bahwa suatu organisasi adalah merupakan badan hukum.

40Anwar Borahima.,Op.Cit,halaman 22

(15)

b. Tidak secara tegas disebutkan, tetapi dengan peraturan demikian rupa bahwa badan itu adalah badan hukum. Oleh karena itu dapat ditarik kesimpulan, bahwa badan itu adalah badan hukum. Jadi untuk mendirikan suatu badan hukum dibutuhkan pengesahan pemerintah.

2. Syarat berdasar pada hukum kebiasaan dan yurisprudensi.

Kebiasaan dan Yurisprudensi merupakan sumber hukum yang formal, sehingga apabila tidak ditemukan syarat-syarat badan hukum dalam perundang-undangan dan doktrin, maka diusahakan untuk mencarinya dalam kebiasaan dan yurisprudensi. Berdasarkan pada hukum kebiasaan dan yurisprudensi yang ada, maka suatu badan dikatakan ada bilamana telah memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Harus terdapat pemisahan kekayaan. b. Penunjukan suatu tujuan tertentu. c. Penunjukan suatu organisasi tertentu42.

Salah satu contoh tentang penentuan badan hukum melalui yurisprudensi. Putusan Mahkamah Agung No.124 K/SIP/1973, tanggal 27 Juni 1973 tentang kedudukan suatu yayasan sebagai badan hukum dalam kasus Yayasan Dana Pensiun HMB. Sehingga Berdasarkan pada hukum kebiasaan dan yurisprudensi, maka suatu yayasan dikatakan sebagai badan hukum, bilamana telah memenuhi syarat sebagai berikut :

1. Syarat-syarat materil yang terdiri atas:

42

(16)

a. Harus ada suatu pemisahan kekayaan b. Suatu tujuan

c. Suatu organisasi

2. Syarat formal dengan akta otentik.

Para pengurus tidak diwajibkan untuk melakukan pendaftaran dan mengumumkan akta pendiriannya juga pengesahannya dari Menteri Kehakiman sebagai tindakan yang preventif yang tidak diisyaratkan.

3. Syarat berdasar pada pandangan doktrin.

Mengenai syarat-syarat yang menentukan suatu suatu organisasi, badan atau perkumpulan itu adalah badan hukum, maka dikalangan para ahli/doktrin berpendapat sebagai berikut:43

a. Menurut Sri Soedewi Masychun Sofwan.

Bahwa status sebagai badan hukum dapat diberikan kepada wujud-wujud tertentu yaitu :

1. Kumpulan orang-orang yang bersama-sama bertujuan untuk mendirikan suatu badan, yaitu berwujud perhimpunan;

2. Kumpulan harta kekayaan yang tersendirikan untuk tujuan-tujuan tertentu.44

b. Menurut Ali Rido.

43Ibid.,halaman 26-27

(17)

Untuk dapat dikatakan sebagai badan hukum, sesuatu perkumpulan/perhimpunan harus memenuhi 4 (empat) syarat, yaitu : 1. Adanya harta kekayaan yang terpisah

2. Mempunyai tujuan tertentu 3. Mempunyai kepentingan sendiri 4. Adanya organisasi yang teratur45 c. Menurut Soeroso.

Untuk keikutsertaannya dalam pergaulan hukum, maka suatu badan hukum harus mempunyai syarat yang harus mempunyai syarat-syarat yang telah ditentukan oleh hukum, yaitu:

1. Memiliki kekayaan yang terpisah dari kekayaan anggota-anggotanya 2. Hak dan kewajiban badan hukum terpisah dari hak dan kewajiban

para anggotanya.46

Dari semua syarat yang dipaparkan di atas, baik syarat yang ditetapkan dalam Undang-Undang, Yurisprudensi, juga Doktrin dapat disimpulkan, bahwa ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar dapat dikatakan sebagai badan hukum. Adapun syarat-syarat tersebut sebagai berikut: a. Adanya harta kekayaan yang terpisah

Pemisahan kekayaan ialah melepaskan sesuatu kekayaan (barang) dari pemilikan orang yang mendirikan Yayasan, sehingga menjadi

45Ibid.,halaman 27

(18)

milik dari yayasan itu sendiri. Barang itu dapat dipertukarkan atau dipindahtangankan dengan cara lain, asal saja menguntungkan bagi yayasan, kecuali jika ada peraturan yayasan tidak mengizinkannya. Pemisahan kekayaan merupakan syarat yang mutlak untuk suatu badan hukum, walaupun cara dan akibat pemisahan ini tidak sama untuk setiap badan hukum.

b. Mempunyai tujuan tertentu

Setiap orang yang mendirikan suatu badan hukum harus diketahui maksud dan tujuannya. Tujuan yang hendak dicapai tersebut hendaknya dirumuskan dengan jelas didalam Anggaran Dasar badan hukum yang bersangkutan.

c. Mempunyai kepentingan sendiri

Kepentingan tersebut merupakan hak subjektif sebagai akibat dari peristiwa huku, sehingga dapat dituntut dan dipertahankan terhadap pihak ketiga dalam pergaulan hukumnya.47

d. Ada organisasi yang teratur

Badan hukum adalah suatu kontruksi yuridis. Oleh karena itu badan hukum hanya dapat melakukan perbuatan hukum dengan perantaraan organnya. Segala hak atau kewenangan dan kewajiban dari para organ ditentukan dalam Anggaran Dasar dan peraturan lainnya atau

(19)

dalam keputusan rapat anggota.Dengan demikian, badan hukum mempunyai organisasi.48

a. Proses Pengesahan Akta Pendirian Yayasan

Pengesahan akta Pendirian sebelum terbitnya Undang – Undang Nomor 16 Tahun 2001 sebagaimana diubah dengan Undang – Undang Nomor 28 Tahun 2004, tidak ada aturan yang mewajibkan yayasan melakukan pengesahan akta pendiriannya kepada Menteri Kehakiman pada saat itu untuk memperoleh status badan hukum yayasan. Akibatnya banyak yayasan tidak mengesahkan akta pendirian yayasannya tersebut sehingga yayasan tersebut belum menjadi badan hukum. Syarat mutlak untuk diakui sebagai badan hukum, yayasan harus mendapat pengesahan dari pemerintah dalam hal ini diwakili oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia.49

b. Proses Pengumuman Yayasan Sebagai Badan Hukum

Proses pengumuman yayasan sebagai badan hukum pada saat sebelum adanya Undang Nomor 16 Tahun 2001 sebagaimana di ubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, dilakukan oleh pengurus yayasan, namun belum ada aturan-aturan yang memaksa untuk mengumumkan yayasan tersebut sebagai badan hukum. Sehingga masyarakat tidak dapat mengetahui kegiatan apa yang dilakukan oleh yayasan tersebut. Yayasan tidak bersifat transparan pada saat itu.50Dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 sebagaimana di ubah dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2004, pengumuman dilakukan oleh Menteri

48

Ibid,halaman 33

49

Suyud Margono,Op.Cit.,halaman 63 50

(20)

Hukum dan Hak Azasi Manusia, bukan lagi dilakukan oleh pengurus yayasan. Hal ini dikarenakan pada masa lalu banyak yayasan yang dengan sengaja tidak mengajukan permohonan untuk menjadi badan hukum juga tidak melakukan pengumuman pada Lembaran Berita Negara Republik Indonesia.

Setelah yayasan memperoleh status badan hukum, selanjutnya akta pendirian yang telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia wajib diumumkan dalam Tambahan Berita Negara Republik Indonesia. Maksud dan tujuan pengumuman tersebut, agar pendirian sebuah yayasan di ketahui oleh masyarakat. Dapat disimpulkan bahwa bagi yayasan-yayasan yang lahirnya sebelum Undang-Undang Yayasan ada 4 bentuk yayasan, yaitu:

1. Yayasan yang tetap diakui sebagai badan hukum dan telah melaksanakan kewajiban-kewajibannya untuk melakukan penyesuaian dan pemberitahuan kepada Menteri.

2. Yayasan yang tetap diakui sebagai badan hukum tetapi belum pernah melakukan penyesuaian terhadap Undang-Undang Yayasan.

3. Yayasan yang tetap diakui sebagai badan hukum dan telah melakukan penyesuaian terhadap Undang-Undang Yayasan, tetapi belum memberitahukan kepada Menteri.

4. Yayasan yang tidak diakui sebagai badan hukum.51

51

(21)

C. Kedudukan Aset Yayasan Sebelum Terbitnya Undang-Undang No.28 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang-UndangNo.16 Tahun 2001 tentang Yayasan.

Perundang-undangan sama sekali tidak mengatur tentang badan hukum Yayasan. Hanya dalam beberapa undang-undang disebut Yayasan, seperti pasal 899, 900, 1680 dan Pasal 365 K.U.H. Perdata, kemudian dalam Pasal 6 ayat 3 dan Pasal 236 Rv. Didalam pasal-pasal tersebut tidak terdapat perumusan tentang Yayasan. Seorang ahli hukum yang bernama Scholten mengatakan “Yayasan adalah suatu badan hukum, yang dilahirkan oleh suatu pernyataan sepihak. Pernyataan itu harus berisikan pemisahan suatu kekayaan untuk suatu tujuan tertentu, dengan penunjukan, bagaimanakah kekayaan itu diurus dan digunakan”52.

Yayasan adalah suatu badan hukum, yang dilahirkan oleh suatu pernyataan sepihak, Pernyataan itu harus berisikan pemisahan suatu kekayaan untuk suatu tujuan tertentu, dengan penunjukan, bagaimanakah kekayaan itu diurus dan digunakan.

Kekayaan yang terpisah itu diperlukan untuk mengejar tercapainya tujuan dan merupakan sumber dari segala hubungan-hubungan hukum. Walaupun Yayasan belum diatur dalam suatu Undang-Undang, praktek hukum yang berlaku di Indonesia, Yayasan selalu didirikan dengan akta Notaris sebagai syarat terbentuknya suatu Yayasan. Dalam akta pendiriannya memuat anggaran dasar yang memuat:

a. Kekayaan yang dipisahkan

b. Nama dan tempat kedudukan Yayasan c. Tujuan

52

(22)

d. Bentuk dan susunan pengurus serta cara penggantian anggota pengurus e. Cara pembubaran

f. Cara menggunakan sisa kekayaan dari Yayasan yang telah dibubarkan.53

Pemisahan aset yayasan merupakan syarat yang mutlak yang harus dimiliki oleh Yayasan, harta kekayaan ini diperoleh dari para anggota maupun perbuatan pemisahan yang dilakukan seseorang untuk suatu tujuan tertentu. Adanya harta kekayaan ini dimaksudkan sebagai alat untuk mencapai tujuan dan merupakan tujuan dan sumber dari segala hubungan hukum.

Yayasan pada saat sebelum terbitnya Undang-Undang Yayasan tahun 2001 landasan hukumnya tidak begitu jelas, karena belum ada aturannya secara tertulis54. Sifat tertutup tersebut terasa dikalangan masyarakat karena masyarakat pada umumnya tidak dapat mengetahui tentang struktur organisasi suatu yayasan. Orang luar tidak mengetahui apa saja yang menjadi organ yayasan itu.

Kemudian, dari segi administrasi pendaftaran, tidak ada kewajiban bagi yayasan untuk melakukan pendaftaran ke salah satu instansi pemerintah, sehingga pihak pemerintah tidak dapat melakukan pengawasan terhadap setiap kegiatan yang dilakukan oleh Yayasan.

Selain itu, tidak ada kewajiban bagi yayasan untuk mengumumkan dalam Berita Negara sehingga masyarakat tidak mengetahui secara resmi tentang adanya Yayasan.

53Ibid.,halaman 116

(23)

Dari segi keuangan, tidak ada kewajiban bagi yayasan untuk mengumumkan laporan tahunan dengan menempel dipapan pengumuman yayasan atau diumumkan melalui surat kabar, sehingga masyarakat tidak dapat mengetahui kondisi suatu yayasan.

Aset yayasan pada saat sebelum terbitnya Undang-Undang tentang Yayasan belum ada kejelasan, baik dalam proses pencarian dana untuk kepentingan yayasan dan bagaimana cara penggunaan dana tersebut. Selanjutnya tidak pula dapat diketahui dengan jelas tentang bagaimana pengurus mempertanggung jawabkan keuangan yayasan untuk setiap tahunnya.

Kurang jelasnya struktur organisasi dan masalah mengurus keuangan yayasan, merupakan salah satu alasan untuk mengatakan bahwa pengelolaan yayasan belum secara professional alias secara tradisional.Yayasan diciptakan dengan suatu perbuatan hukum, yakni dengan pemisahan suatu harta kekayaan untuk tujuan yang tidak mengharapkan keuntungan (altruistische doel) serta penyusunan suatu organisasi (berikut pengurus), dengan mana sungguh-sungguh dapat terwujud tujuannya dengan alat-alat itu. Dalam hubungan dengan masalah-masalah yang seringkali timbul itulah maka demi kepastian hukum, dipandang perlu yayasan diatur dengan hukum positif55.

Makna dari memisahkan harta kekayaan pendirinya menunjukkan bahwa pendiri bukanlah pemilik yayasan karena telah sejak awal semula memisahkan sebagian dari kekayan pendirinya menjadi milik yayasan. Yayasan sebagai badan

55

(24)

hukum harus memiliki kekayaan sendiri, karena kekayaan yayasan digunakan untuk kepentingan tujuan yayasan di bidang sosial, keagamaan, dan kemanusiaan. Hal ini yang harus menjadi perhatian dari pendiri yayasan. Pendiri yayasan bukanlah pemilik yayasan, ketika mendirikan yayasan pendiri sudah memisahkan harta kekayaannya, untuk dijadikan kekayaan awal yayasan. Oleh karena itu orang yang akan mendirikan yayasan harus memiliki kekayaan yang cukup, dan kekayaan itu harus dipisahkan. Dengan memisahkan kekayaannya tersebut dan kemudian mendirikan yayasan, maka harta tersebut sudah beralih menjadi milik yayasan. Hal ini merupakan alasan untuk berpendapat bahwa yayasan adalah milik masyarakat.

Dengan tidak jelasnya struktur organisasi dan masalah mengurus keuangan yayasan, merupakan salah satu alasan untuk mengatakan bahwa pengelolaan yayasan belum secara professional alias secara tradisional.56

56

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...