• Tidak ada hasil yang ditemukan

WESTERNISASI SEBAGAI PROBLEMA PENDIDIKAN ERA MODERN | Suharni | Al Ijtimaiyyah 255 465 1 SM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "WESTERNISASI SEBAGAI PROBLEMA PENDIDIKAN ERA MODERN | Suharni | Al Ijtimaiyyah 255 465 1 SM"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

WESTERNISASI SEBAGAI PROBLEMA

PENDIDIKAN ERA MODERN

Oleh: Suharni 1

A. PENDAHULUAN

Pengaruh budaya Barat atau yang dikenal dengan istilah “Westernisasi” telah terlihat

jelas dewasa ini. Dimana pola kehidupan masyarakat semakin hari semakin hanyut dalam

pola modernis dengan berkiblat kepada sistem budaya Barat (Westernisasi), yang dianggap

sebagai kebudayaan modern atau sebagai alternatif budaya masa kini. Dan ini terjadi di

kalangan remaja, yang begitu rapuh menerima peradaban-peradaban asing sebagai suatu

kebanggaan.

Pengaruh budaya ini memang tidak dapat dihindari di zaman yang semakin canggih

ini, proses interaksi antar bangsa-bangsa di dunia melalui pertukaran pelajar atau mahasiswa

kunjungan wisatawan dan program lainnya semakin meningkat hari demi hari. Sedangkan

proteksi untuk menghadapi arus pengaruh budaya ini sangat lemah di masyarakat, sehingga

merakapun mulai meninggalkan jati diri sebagai bangsa yang berbudi luhur, tanpa mengenal

batas-batas ajaran agama dan moralitas budaya.

Kondisi seperti ini sesuai sebagaimana yang dikatakan oleh Koentjaraningrat bahwa

“proses sosial yang timbul bila suatu kelompok manusia dengan suatu budaya bertemu dengan

unsur-unsur kebudayaan asing sedemikian rupa, sehingga unsur-unsur dari kebudayaan itu

lambat laun diterima dan diolah ke dalam masyarakat sendiri”.1 Hal itu terjadi tanpa disadari

dan secara perlahan-lahan merubah tatanan nilai dan moral yang berlaku di tempat asal

1 Alumni Fakkultas Dakwah IAIN Ar-Raniry Jurusan Bimbingan Konseling, Guru Min Lamrabo

Kecamatan Kuta Baro Aceh Besar

Jurnal Al Ijtimaiyyah

Prodi Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Ar-Raniry

(2)

tersebut.

Disamping itu, pola modernisasi Barat yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam

dikhawatirkan akan merusak moral umat Islam dan menghentikan arus kebangkitan Islam

serta mendorong kaum Muslimin keluar dari ajaran Islam. Upaya ini terlihat nyata terjadi

melalui media hiburan dan kesenangan yang berupa seni, tarian, kemewahan dan cinta

sebagai unsur pokok.2

Berdasarkan fenomena yang terjadi, maka kajian ini ingin melihat sejauhmana

pengaruh westernisasi yang terjadi dalam kehidupan ummat Islam dewasa ini. Setelah itu,

apa faktor yang mempengaruhi umat Islam terhadap westernisasi. Kemudian, upaya apa saja

yang harus dilakukan untuk mengantisipasinya, serta kebijakan apa yang harus dilakukan

oleh orang tua dalam membina remaja agar terhindar dari pengaruh westernisasi.

B. WESTERNISASI DALAM KEHIDUPAN MASYARAKAT

Pengertian Westernisasi

Kata Westernisasi secara hariah bermakna “membaratkan” berasal dari kata

westernize.3 Keadaan meniru-niru yang terdapat dalam dunia Barat. Atau dengan kata lain

westernisasi menjadikan kita orang Barat yang berkebudayaan Barat.4 Koentjaraninggrat

mengatakan westernisasi itu adalah usaha meniru gaya hidup orang Barat secara berlebihan,

meniru dari segala segi kehidupan baik dari segi fashion, tingkah laku, budaya dan lainnya.

di sisi lain, sikap para peniru yang merendahkan adat, budaya dan bahasa nasional.5

Jadi, westernisasi merupakan perbuatan pemujaan yang berlebihan terhadap Barat6

dengan cara mengadopsi secara keseluruhan pola kehidupan mereka tanpa ada ilter yang menyaringnya. Pola adopsi ini tidak saja terjadi secara objektif, namun bisa terjadi secara

subjektif yaitu interaksi yang lahir dari ide suatu individu, masyarakat atau bangsa untuk

mengambil dan meniru cara-cara orang Barat dalam berbagai demensi untuk suatu tujuan ke

arah kemajuan.

Sejarah Westernisasi

Proses imperialisme dan kolonialime dalam waktu yang panjang terjadi di Indonesia

memberikan dampak yang luas dalam kehidupan masyarakat. Diantara dampak itu adalah

terjadinya westernisasi dalam segala segi kehidupan masyarkat Indonesia.

Dalam lembaran sejarah Indonesia tidak pernah dijelaskan secara pasti sejak kapan

proses westernisasi ini terjadi. Sebagian para pakar sejarah Islam mengatakan bahwa proses

westernisasi ini terjadi sejak dimulainya kolonialisme dan imperialisme di Indonesia dan

dunia Islam lainnya pada abad 19 masehi.7 Hal dapat dibenarkan karena pengaruh secara

langsung dapat dilakukan oleh Barat terhadap masyarakat Indonesia terjadi di era itu.

Sementara itu, pengaruh westernisasi dikalangan masyarakat muslim secara

umum muncul dalam dua periode: Pertama, westernisasi muncul ketika Islam di bawah

(3)

kemunduran, baik di bidang politik maupun ekonomi. Pengaruh itu terlihat jelas pada era ini

dengan pergeseran nilai-nilai Islam akibat takluknya wilayah-wilayah Islam. Selain itu, dapat

ditandai dengan hilangnya sikap zuhud dalam tubuh masyarakat Islam. Kedua, westernisasi

muncul di masa kepemimpinan Turki Usmani ketika terjadi perpecahan di antara khalifah

Islam yang memberi peluang modernisasi westernisasi.8

Disamping dua periode di atas, pada dasarnya proses westernisasi sudah lama terjadi

melalui interaksi sarjana Barat dengan sarjana Islam di perguruan-perguruan Arab di Andalusia dan wilayah-wilayah Islam lainnya. Proses tersebut terjadi melalui penyerapan pendapat-pendapat pemikir Barat atau tenaga westernisasi.9

Pengaruh Westernisasi bagi Masyarakat

Faktor yang mempengaruhi timbulnya westernisasi di Indonesia secara umum

disebabkan oleh faktor informasi dan yang datangnya melalui audio visual, disamping itu

juga melalui kontak sosial terutama sekali di daerah-daerah pusat industri dan kepariwisataan.

Kemajuan-kemajuan yang sangat besar dalam bidang komunikasi menyongsong timbulnya

era informasi secara global, artinya tidak ada satu bangsapun di dunia ini menutup diri dari

era informasi.

Kemudian dari pada itu, tuntutan perkembagan zaman yang menghendaki pola

kehidupan yang lebih maju dari segala segi kehidupan, mengakibatkan

perubahan-perubahan di sektor ekonomi dan sistem sosial budaya masyarakat. Namun, yang sangat

mengkhawatirkan adalah perubahan sistem sosial budaya ini cenderung ke barat-baratan

atau westernisasi.

Pengaruh tersebut terjadi di masyarakat secara nyata saat ini dalam berbagai bidang kehidupan di antaranya yaitu;

1. Pengaruh Ilmu dan Teknologi

Ilmu pengetahuan dan Teknologi mempunyai peranan penting dalam kehidupan

dewasa ini, suatu bangsa akan maju dan berkembang jika memiliki ilmu pengetahuan

dan teknologi yang mumpuni. Perkembangan ilmu pengetahuan ini terjadi dalam

berbagai sektor industri, mulai dari pertanian, pertahanan, ekonomi, kedokteran, dan

lain sebaginnya.

Perkembangan ilmu dan teknologi di dunia Barat terjadi dengan begitu

pesatnya, kadang-kadang jauh melampaui nilai manfaat dan kegunaannya bahkan nilai

kemanusiaan dan lingkungan. Penciptaan industri batu bara dan perminyakan dengan

mengabaikan kerusakan lingkungan, penemuan-penemuan di bidang meliter seperti

bom atom berdampak sangat luas tidak saja terhadap manusia itu sendiri tetapi juga

terhadap lingkungan.

Penemuan-penemuan tersebut juga mempengaruhi dunia Islam untuk berpacu

sehingga tidak dikatakan sebagai bangsa yang terbelakang dan kejumudan dalam bidang

teknologi. Maka, mulailah ummat Islam mengejar ketertinggalannya di bidang ilmu dan

(4)

dengan mengabaikan nilai-nilai dasar agama Islam.

2. Berkembangnya Kebudayaan Asing ke dalam Masyarakat Islam

Pertumbuhan dan perkembangan kebudayaan menjadi suatu kebiasaan yang terjadi

dalam kehidupan antar manusia dengan alam dan lingkungannya. Maka kebudayaan

dapat berubah-ubah setiap saat, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

Dimana kebudayaan tersebut terdapat perbedaan-perbedaan antar suku yang satu dengan

yang lain. khususnya antara kebudayaan asing dengan kebudayaan Islam. Perbedaan itu

terletak pada sistem nilai, perbedaan sikap hidup.

Westernisasi yang dilakukan oleh Barat terhadap negeri-negeri Islam adalah satu

upaya dalam merubah sikap dan pandangan hidup ummat Islam agar sesuai dengan

keinginan mereka. Sehingga upaya westernisasi oleh Barat ini dicurigai adalah salah satu upaya Barat dalam merusak prinsip-prinsip dasar Islam. Selanjutnya ummat Islam akan teperangkap dalam pola pemikiran dan kehidupan Barat. dengan tumbuhnya pemikiran Barat jiwa ummat Islam, maka dengan sendirinya nilai-nilai budaya Islami

menjadi kosong dan kering dalam jiwa ummat Islam.

Mengenai hal di atas Anwar pernah mengatakan bahwa “pembaratan adalah istilah yang digunakan oleh para orientalis Barat untuk menyebut garis perjuangan

yang ditempuh oleh kekuatan-kekuatan yang mengendalikan politik luar negeri, untuk

menyeret ummat Islam kepada paham-paham Barat dan Peradabannya. kekuatan itu

senantiasa mengeluarkan kaum muslimin dari lingkungan keislaman untuk dimasukkan

dalam sistem politik, ekonomi dan sosial mereka dan akhirnya akan meleburkan kaum

muslimin dalam cetakan Barat. sasarannya adalah menyimpangkan Islam dari tujuan pokoknya dengan jalan menyusupkan unsur-unsur Barat ke dalamnya”.10

Pola-pola penyusupan kebudayaan Barat ke dalam kehidupan umat Islam sebagaimana dikatakan Anwar tersebut telah telihat nyata dalam kehidupan saat ini. Paling tidak sudah terlihat di dunia hiburan dalam negeri seperti bioskop, sandiwara,

drama televisi, surat khabar, radio dan lain-lain yang mengabaikan nilai-nilai Islam.

Pola lain pengaruh westernisasi yang paling parah adalah munculnya paham kebebasan tak terbatas dalam segala sisi kehidupan. Paham ini menyerang kaum remaja

dan pemuda Islam yang meyebabkan pergaulan bebas muda-mudi tanpa batas, kumpul

kebo, pesta umum yang bercampur mudi-mudi, dan pemakaian busana yang jauh dari

nilai-nilai Islami sudah menjadi kebiasaan dalam kehidupan mereka terutama terjadi di

perkotaan besar yang menyandang taraf metropolitan.

Disisi lain, kebijakan pemerintah yang sudah terpegaruh oleh paham westernisisi

Barat menyebabkan keadaan ini semakin parah. Kebijakan yang melegalkan minuman

keras diperjualbelikan dengan bebas di tengah masyarakat Islam - hal yang sangat

dilarang dalam Islam - menyebabkan proses westernisasi semakin lancar dan terlindungi

oleh penguasa, bahkan jika ada yang melawan kebijakan tersebut akan dianggap sebagai

(5)

Dalam kenyataan sekarang memang masyarakat Islam mengikuti hal-hal tersebut

di atas, bahkan lambat laun akan menerima dan menjadikan budaya yang lazim dalam

kehidupan mereka pada zaman yang modern ini. Semuanya itu datang dan muncul dari

kebudayaan Barat atas keberhasilan pengaruh yang mereka usahakan selama ini.

3. Pengaruh Lembaga Pendidikan Asing yang berkembang di Negara Islam

Pengaruh westenisasi dalam lembaga pendidikan telah dimulai sejak abad ke 19 masehi, salah satu contohnya adalah Mesir pada waktu itu dipimpi oleh Muhmaad Ali yang selalu berkiblat ke Barat merubah pola pendidikan di Mesir hampir menyerupai pola yang ada di Barat.

Pola-pola di atas berlanjut sampai sekarang dimana banyak negeri Islam yang telah menerapkan pola pendidikan yang mencontek dari Barat. padahal tidak semua sistem pendidikan gaya Barat ini sesuai dengan budaya atau sistem nilai Islam.

Pengaruh Barat dalam dunia pendidikan ini bukan tidak beralasan, faktor perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia Barat menyebabkan ummat

Islam tertinggal jauh dari perkembangan peradaban. Sehingga dituntut untuk belajar

dari mereka dalm rangka mengejar ketertinggalan dalam bidang ilmu pengetahuan dan

teknologi ini.

Momen yang sangat baik ini digunakan oleh pihak Barat untuk mempengaruhi

para pelajar yang datang ke negeri mereka untuk belajar dalam menerapkan

prinsip-prinsip budaya dan pola kehidupan Barat dalam masyarakat dan bangsa mereka ketika

kembali ke negara asal. Maka sasaran dalam menajalani misi ini adalah menarik minat

pelajar dan mahasiswa yang genius di negara Islam untuk diberikan beasiswa dalam

menutut pendidikan di negara-negara Barat. dengan harapan bahwa orang-orang ini akan menjadi perpanjangan tangan misi Barat di negara-negara Islam dalam rangka

mencapai tujaun yang mereka harapkan.

Hasilnya, seperti yang telah kita lihat sekarang banyak lembaga-lembaga

pendidikan baik pemerintah maupun swasta (milik Asing/Lokal) yang telah menerapkan pola pendidikan Barat di dalam negeri. Seperti pencampuran siswa putra dan putri dalam

satu kelas, penerapan jam belajar untuk ilmu-ilmu science lebih banyak waktunya

daripada ilmu agama, penyesuaian kurikulum pendidikan dengan metode Barat, dan hal

lain sebagainya. Maka tidak mengherankan sarjana yang lahir saat ini adalah sarjana

Islam dengan pola pikir Barat.

Dampak Westernisasi Dalam Kehidupan Masyarakat

Pengaruh arus globalisasi saat ini terjadi di setiap negara, pengaruh ini menyebabkan

dampak luas di masyarakat pada setiap negara. Kemajuan ilmu dan teknologi yang semakin

maju menyebabkan perubahan budaya pada setiap bangsa, arus asimilasi budaya akibat

globalisasi ini setidaknya menyebabkan banyak dampak negatif dan positif bagi agama dan

(6)

adalah:

1. Keraguan terhadap Syari’at Islam

Pengaruh westernisasi yang telah tumbuh lama di Indonesia sangat terasa

khususnya di bidang hukum. Hal ini disebabkan penjajahan dan kolonialisasi yang

dilakukan oleh kaum Barat dalam segala bidang di masa lalu, sehingga dampaknya

masih terasa sampai saat sekarang. Dinamika yang muncul di masyarakat Indonesia

yang mayoritas berpenduduk muslim adalah keraguaan dalam menerapkan hukum

syari’at.

Dampak pengaruh penjajahan dari orang-orang Eropa ini mengakibatkan

berubahnya pola pikir bangsa Indonesia terhadap penerapan hukum, bahkan sebagian

masyarakat menggangap hukum syari’at adalah hukum usang yang tidak layak

diterapkan lagi pada masa sekarang ini. Hasilnya adalah pengadopsian hukum penjajah

dalam masyarakat Islam yang dianggap lebih modern dan terkini atau disebut hukum

positif Indonesia. Jika pun terdapat beberapa daerah di wilayah Indonesia seperti Aceh

yang berusaha menerapkan hukum syari’at harus mengacu dan mengikuti aturan-aturan

hukum positif yang berlaku sekarang. Hal ini terjadi karena pengaruh westernisasi di

bidang hukum yang cukup mengakar dalam masarakat Indonesia dewasa ini.

2. Akidah Ummat Islam Menjadi Rusak

Tidak dapat dipungkiri, pengaruh westernisasi menyebabkan rusaknya akidah dan moral masyarakat khususnya kalangan remaja. Pengaruh dunia hiburan dewasa

ini sangat membahayakan kalangan remaja, musik-musik dengan lirik-lirik yang

mengundang syahwat dilantunkan dengan bebas tanpa sensor dan pengawasan yang

ketat dari pemerintah.

Penyedian panggung hiburan setiap pagi dan malam oleh lembaga penyiaran

menyebabkan terjadinya kosentrasi masa yang sangat besar, baik laki dan perempuan

tanpa ada pembatas. Maka tidak heran, akan terjadi pelecehan seksual dan tindakan

kriminal lainnya ketika acara berlangsung atau sesudahnya.

Hal di atas terjadi dengan menjiplak budaya barat dalam mengadakan konser

hiburan di negara mereka, padahal dalam Islam sangat tegas melarang kegiatan yang

tidak bermamfaat seperti ini, segbagaimana diutarakan oleh Muhammad 11 bahwa

”mendengarkan nayian dan musik tidak terdapat manfaatnya bagi jiwa dan tidak

mengandung maslahat, bahkan faktor merusak lebih besar daripada manfaatnya,

nyanyian dan musik terhadap jiwa ibarat arak terhadap badan yang membuat orang

mabuk. Bahkan mabuk karena nyanyian dan musik lebih besar efek yang ditimbulkan

daripada mabuk karena arak itu sendiri.”

3. Adanya Kehidupan Individualis

Pada zaman era globalisai sekarang ini kehidupan yang bersifat individualis

(7)

pergaulan remaja sebagai generasi masa kini. Dalam kenyataannya mereka bebas tanpa

menghiraukan norma-norma agama, minum-minuman keras, berdiskotik, dan dalam

kehidupan sehari-hari tidak menghiraukan norma sosial dan bersifat mementingkan diri

sendiri.

Dan akhirnya mereka tenggelam dalam kemewahan hidup, kesombongan,

hura-hura karena menganggap kehidupan dunia adalah kehidupan indah dan kekal

selama-lamanya. Disisi lain, mereka tidak menghiraukan mayarakat yang hidup miskin,

begitulah sikap egois yang tinggi telah menghilangkan kasih sayang sesama ummat di

zaman sekarang ini.

4. Adanya Pemikiran yang diwarnai oleh Sekulerisasi

Persepsi masyarakat tentang kebahagiaan dan kesuksesan hanya dilihat dari materi

semata telah mengeser pemahaman qana’ah, kesederhanaan, sifat tolong menolong dan

kebersamaan sebagaimana yang telah diajarkan dalam Islam. Sehingga penyimpangan

persepni ini menyebabkan orang-orang menghalalkan berbagai cara dalam memenuhi

kebutuhan hidup di dunia. Dan menganggap agama hanya untuk akhirat semata.

Hal ini telah merasuki di bidang pendidikan misalnya, pemisahan ilmu-ilmu yang

di gagas oleh para pemikir Barat telah menyebakan terpisahnya antara ilmu yang

dikelompokkan dengan ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu science yang terlepas dari

nilai-nilai keagamaan. sehingga akibat pemisahan ini terjadi ketidakseimbangan masyarakat

dalam memperoleh ilmu secara utuh. Maka lahirlah para ilmuan di bidang science

yang melakukan penemuan-penemuan baru tanpa batas dan tidak menhiraukan

nilai-nilai agama, seperti penemuan di bidang persenjataan dan meliter untuk melakukan

pembunuhan manusia secara massal dan banyak penemuan lainya yang merusak

lingkungan.

Disamping beberapa dampak negatif yang ditimbulkan akibat dari westernisasi juga

membawa dampak positif yang sangat baik bagi ummat. Antara lain adalah ummat Islam

telah sadar atas ketertinggalanya dalam bidang teknologi sehingga akan berusaha untuk

mengejar ketertinggalan itu.

Selanjutnya, perkembangan teknologi penyiaran yang sangat maju dewasa ini akan

berdampak posistif jika pengaturan penyiaran disesuaikan dengan perkembangan budaya

dan nilai-nilai agama yang hidup dan berkembang di masayarakat Indonesia yang dikenal

berbudi luhur dan sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama. penyiaran terhadap

tokoh-tokoh dan anak-anak yang berprestasi misalanya akan mendorong orang dan anak lainnya

untuk mengikuti hal yang sama.

Kemudian, pengaruh westernisasi dalam ummat Islam telah mengaktifkan kembali

para da’i-da’i yang telah lama mati suri untuk lebih giat dalam berdakwah kepada ummat

dan memperdalam agama Islam kepada masyarakat, dengan cara pengabdian, kajian-kajian,

(8)

C. WESTERNISASI SEBAGAI PROBLEMA DAKWAH DALAM MASYARAKAT

Padangan Islam Terhadap Ilmu dan Teknologi

Islam adalah agama yang humanis dan toleran terhadap pekermbangan zaman dan

ilmu pengatahuan. Oleh karena itu, Islam memandang ilmu pengetahuan dan teknologi

seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, karena Islam menjunjung tinggi

ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat guna. Pada prinsipnya ilmu pengetahuan itu

berkembang, senantiasa mengalami perubahan dalam kancah kemajuan kehidupan manusia.

Namun, dibalik kemajuan ilmu dan teknologi dapat membawa kepada kehancuran. Ia

digunakan untuk tujuan baik dan jahat sekaligus.

Akan tetapi, di sisi lain ilmu dan teknologi membawa manfaat yang banyak dan

mudharatnya jauh lebih banyak lagi. Sebagai contoh teknologi dapat memberikan sumber

energi, ketika sumber energi lainnya mulai menyusut. Dunia kedokteran telah menggunakan

tekhnologi, bukan saja untuk mendiagnosa penyakit, tetapi jauh dari pada itu ialah untuk

membunuh sel-sel penyakit seperti kanker. Hal ini bisa terwujud tiada lain dengan kemajuan

penemuan ilmu dan teknologi dewasa ini. Namun demikian, penyelesaian akhir dari semua

perkembangan ilmu dan teknologi tersebut harus merujuk kepada referensi-referensi dasar

nilai-nilai agama Islam.

Jadi, Islam sangat menekankan tujuan daripada penemuan-penemuan ilmu pengetahuan

dan teknologi adalah kesejahteraan ummat, mempertimbangkan hubungan sebab akibat

dari alam semesta. Yang lebih penting adalah tujuan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan untuk mengambil manfaat dalam rangka mengabdi kepada Allah Swt. sebagaimana dalam irmannya:

“Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mukmin. (al-Ankabut: 44)

Oleh karena itu, upaya global untuk mengislamkan sains dan teknologi disamping mencari

alternatif Islam dalam ekonomi, pendidikan, politik rekayasa sosial budaya dan sebagianya

harus kita dukung bersama.

Konsep Islam Tentang Kebudayaan

Dewasa ini perkembangan zaman semakin pesat kepada modernisasi meskipun

modernisasi tidaklah selalu identik dengan westernisasi, akan tetapi penggambaran umum

sebagai sebuah perumpamaan dari masyarakat maju cenderung mengambil Eropa atau dunia

Barat lainnya sebagai ukuran dari modernisasi tersebut. Hal ini dapat dilihat dalam bentuk

sistem yang diterapkan semuanya itu mengacu dan menerapkan pola-pola yang berlambang

Barat.

Realita saat ini kebudayaan modern yang berkembang sekarang adalah kebudayaan

Barat, dan pada saat ini kebudayaan tersebut telah melanda seluruh dunia khususnya Indonesia

(9)

dan bangsa tertentu yang bukan Barat secara aktif berpartisipasi untuk menyebarluaskan kebudayaan Barat. Sehingga manusia tenggelam dalam persoalan-persoalan yang

dihadapinya. Masyarakat terusik dan kebingungan, sulit mengambil sikap dan keputusan

terhadap keadaan baru, mereka dihadapkan antara pilihan nilai-nilai lama yang telah diyakini

turun temurun atau mengikuti suatu yang baru dipandang modern.

Mengenai hal ini M. Saleh Muntasir pernah mengatakan bahwa kita tidak boleh

menempatkan diri pada suatu pola kebudayaan tertentu, bila itu terjadi maka kita seperti

wayang yang kebebasan kita akan terbatas. Dalam hal ini masalahnya bukan terletak pada

kebudayaan yang timbul dari suatu kreatiitas dan kreatiitas yang sangkut paut dengan

kebebasan. 12

Dengan demikian kebudayaan dalam arti semula yakni upaya perbaikan nasib manusia

agar menjadi lebih baik, memang perlu dikembangkan. Akan tetapi manakala telah berubah

dari konsep semula dimana manusia tidak lagi menjadi subjek tetapi telah menjadi objek dari

modernisasi yang tidak terkendali, maka hal ini patut disayangkan. Apalagi jika modernisasi ternyata adalah upaya untuk mensosialisasikan nilai-nilai yang berlaku di Barat, modernisasi

menjadi identik dengan westernisasi.

Karena itu nilai-nilai sebagai norma-norma yang ditanamkan oleh agama, tradisi dan

kebiasaan perlahan-lahan mulai ditinggalkan dan masyarakat berbondong-bondong menyerap

kebudayaan Barat yang dibungkus modernisasi. Tanpa mereka disadari sebenarnya nilai dan

norma yang mereka miliki semula adalah sesuatu yang hakiki dan dapat mengantarkan pada

kebahagian yang sebenarnya.

Karena demikian, nilai-nilai kebudayaan yang terjadi di Barat secara bebas tanpa

terkendali sangat bertentangan dengan nilai-nilai yang ada dalam Islam. Oleh karena itu,

Islam memiliki beberapa konsep dasar tentang kebudayaan dalam pembinaan ummat, antara

lain:

1. Membina Kebudayaan kearah yang Islami

Dalam masyarakat banyak terjadi perubahan-perubahan kebudayaan akibat dari

pengaruh kebudayaan asing. Penanaman aqidah bagi kehidupan masyarakat merupakan

suatu hal yang penting kerena dalam Islam aqidah yang terdapat dalam hati nurani

sangat sulit dipisahkan dari hukum yang mengendalikan kehidupannya.13

Oleh karena itu, pembinaan kebudayaan kearah yang Islami salah satu tujuan

utama dalam mengembangkan kebudayaan Islam sehingga dapat menangkal sedidni

mingkin segala pengaruh dari luar yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Syariat.

2. Membentuk Lembaga Dakwah

Lembaga-lembaga organisasi dakwah merupakan ujung tombak dalam

pengendalian kebudayaan Islami yang efektif masa kini, mengajak ummat manusia

kepada kebaikan dan mencegah dari yang mungkar merupakan salah satu tugas dan

(10)

Artinya: ”Kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk manusia menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkardan beriman kepada Allah…”

Untuk mencegah dari yang mungkar dimanapun mereka berada harus mampu

menyangkal dan menghalang yang ingin merongrong kebudayaan Islam.

Fungsi Kebudayaan Dalam Islam

Berbicara masalah fungsi kebudayaan dalam kehidupan maka tidak terlepas dari

bahasan tentang masyarakat. Dalam al-Qur’an sangat banyak membicarakan tentang sistem

kehidupan sosial masyarakat, diantaranya Allah Swt. menyebutkan dalam surat al-Maidah ayat 2 yang berbunyi:

Artinya: “…dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Allah Swt. sesunggahnya Allah Swt. amat berat siksannya.”

Kemudian dalam ayat lain Allah Swt. berirman:

Artinya: “Hai Manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah Swt. ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu sesungguhnya Allah Swt. maha mengetahui lagi maha mengenal.” (Q.S: al-Hujarat: 13)

Dalam ayat pertama di atas menunjukkan bahwa dalam kehidupan sehari-hari untuk

memenuhi kebutuhan hidupnya Allah Swt. menganjurkan kepada hambanya untuk saling

tolong menolong mengerjakan yang makruf dan mencegah yang mungkar sehingga dapat

terjalin hubungan baik. Kemudian pada ayat kedua Allah Swt. menjelaskan bahwa dalam kehidupan di dunia ini Allah Swt. menciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar

manusia saling mengenal satu sama lainnya, antara satu kebudayaan dengan kebudayaan

lainnya.

Persoalan hubungan kebudayaan dan masyarakat pernah disinggung oleh Sidi ghazalba

dalam karyanya, beliau mengatakan bahwa kebudayaan mustahil lepas dari masayarakat,

kebudayaan adalah cara dan manifestasi kehidupan makhluk manusia. Kebudayaan adalah

produk manusia sedangkan manusia bukanlah individu tetapi sebuah kelompok, apabila

manusia tidak hidup berkelompok membentuk masyarakat maka kabudayaan tidak akan

terwujud. Oleh karena itu orang menyebutkan masyarakat ialah wadah kebudayaan.14

Hal ini semakin jelas kedudukan dan fungsi kebudayaan dalam kehidupan

sehari-hari tidak terlepas dari anggota masyarakat. Tebentuknya kebudayaan disebabkan kehidupan

manusia secara berkelompok sehingga terciptalah sistem masyarakat yang saling berhubungan

satu dengan lainnya yang disebut adat kebiasaan.

Karena itu, dalam Islam pembentukan masyarakat yang berkebudayaan sangat penting

untuk menjadi manusia yang beradab, namun nilai budaya tersebut harus sejalan dengan

(11)

kebudayaan masyarakat, maka jika kebudayaan yang tidak berdasarkan nilai-nilai islami

akan menimbulkan kegoncangan dalam kehidupan bermasyarakat.

Hal di atas telah diungkapkan oleh Zakiah Darajat yang mengatakan bahwa

“nilai-nilai moral yang tidak didasarkan kepada agama akan terus berubah sesuai dengan keadaan,

waktu dan tempat. Keadaan nilai-nilai yang berubah itu menimbulkan kegoncangan pula,

karena menyebabkan orang-orang hidup tan[a pengangan yang pasti”.15

Beranjak dari pendapat di atas menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat dan

kebudayaan sangatlah erat hubungnnya, oleh karena itu nilai-nilai kebudayaan yang tumbuh

dalam masyarakat haruslah sejalan dengan nilai-nilai agama yang berkembang dalam

masyarakat, hal ini agar fungsi kebudayaan dalam masyarakat mempunyai nilai ganda yaitu

dapat menjaga keseimbangan antara adat istiadat dan dapat menjaga terjalinnya hubungan

antar manusia dengan baik dan harmonis.

Pandangan Dakwah Terhadap Westernisasi

Dewasa ini tantangan dakwah semakin berat akibat perkembangan masa dan

peradaban yang samakin maju, selain itu terjadinya asimilasi kebudayaan antar bangsa

di dunia menambah PR baru bagi pendakwah dalam menyelamatkan moral ummat yang

semakin hari semakin jauh dari nilai-nilai moral agama.

Persentuhan budaya Barat dalam dunia Islam membawa pengaruh negatif bagi

perkembagan moral ummat, karena kenderugan dampak negatif ini merupakan akibat dari

kode Napolion telah mencapai tahap yang mengkhawatirkan dan sangat berperan dalam

merusak masyarakat Islam.16

Program westernisasi dijalankan dengan cara yang halus, penuh rayuan, tipuan

dan jebakan serta kepalsuan yang dapat menyesatkan dan menjauhkan ummat Islam

dari kebenaran Islam yang benar. Inilah pandangan yang sangat mengkhawatirkan dari

perkembangan westernisasi.

Dalam hal ini, pengaruh westernisasi juga membawa dampak lain yaitu perkembangan

ilmu dan teknologi yang sangat pesat semakin hari. Namun perkembangan tersebut tidak

ditopang oleh nilai-nilai moral yang baik dan benar, sehingga perkembangan teknologi dan

ilmu pengetahuan tersebut telah melewati batas nilai-nilai moral yang berkembang dalam

masyarakat.

Islam pada hakikatnya bukan merupakan agama yang antipati terhadap perkembangan

ilmu pengetahuan dan teknologi, apalagi perkembangan itu ditujukan bagi kebutuhan dan

meningkatkan kesejahteraan ummat manusia. Namun perkembangan tersebut harus dikontrol

dan diawasi dengan baik agar tidak melenceng dari nilai-nilai moral dan agama.

Untuk itu salah satu tujuan Islam adalah untuk memberikan tuntutan sehingga manusia

memiliki dan menikmati hidup dan kehidupan secara layak, wajar dan manusiawi. Islam

merupakan agama yang menuntun manusia dari taraf kehidupan terbelakang menuju taraf

hidup yang modern.

(12)

bagi ummat Islam, agar selalu berusaha secara maksimal untuk mencapai kesuksesan yang

gemilang, sebagaimana irman Allah Swt dalam surat al-Rahman ayat 33 yang berbunyi: Artinya: “Hai Jamaah Jin dan Manusia, jika kamu sanggup menebus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menenbusnya melainkan dengan kekuatan.”

Dalam hal ini, Islam menganjurkan mencapai kesuksesan dalam segala bidang baik

di bidang berbagai ilmu pengatahuan dan bidang-bidang teknologi yang bermanfaat bagi

ummat, namun pencapaian kesuksesan tersebut harus dibingkai denga nilai-nilai agama dan

moral yang manusiawi. Oleh karena itu, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di

Barat yang sangat bebas tanpa ilter yang tepat menyebabkan terjadi degradasi moral yang parah atau di Indonesia dikenal dengan Westernisasi.

Karena itu pandangan dakwah untuk menentang westernisasi sangat beralasan adanya

karena akan merusak akhlak generasi ummat Islam, maka usaha untuk mengikisnya dengan

menanamkan aqidah Islam, akhlak pada generasi muda sebagai generasi penerus, menanam

pendidikan akhlak pada setiap ummatnya harus dilakukan dengan giat melalui da’i-da’i yang

handal yang siap memberi peringatan kepada orang yang perlu diperingati, siap menjadi

pemimpin ke jalan yang lurus, dan siap serta bersedia menunjukkan dan membawa

orang-orang tersesat dalam kegelapan menuju cahaya kenbenaran yang telah dianugrahkan Allah

Swt. kepada setiap ummat manusia yakni petunjuk dan pembeda antara yang hak dan yang

bathil sebagaimana Allah Swt. berirman dalam surat Ali Imran Ayat 110 yang berbunyi: Artinya: “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”

Seorang da’i dituntut agar dalam melaksanakan amar makruf memahami isi dunia ini,

pengetahuan yang luas dan wajib mengetahui hukum-hukum yang mengatur alam semesta.

Selain itu, dakwah dan pendakwah harus mampu bersaing dalam berbagai macam cara

untuk melumpuhkan westernisasi yang berkembang dalam masyarakat supaya masyarakat

menyadari kebenaran Islam. sehingga pada akhirnya pihak Baratpun menyadari bahwa kunci

kekuatan masyarakat Islam selama ini berada pada konsistensi dan konsekwensi mereka

terhadap ajaran agamanya. Selain itu mereka selalu bersih dari pengaruh budaya luar.17

Upaya Dakwah Dalam Mengatasi Westernisasi

Dalam upaya mengatasi westernisasi dikalangan ummat Islam, maka harus dilakukan

langkah untuk mengembalikan pola kehidupan manusia manuju masyarakat yang Islami.

Dengan cara mengabaikan segala macam ketakutan dan ancaman dari berbagai pihak dalam

menentang upaya ini. Untuk itu secara konkritnya terdapat beberapa tugas yang harus dilakukan oleh pendakwah dalam mengatasi westernisasi antara lain sebagai berikut:

(13)

Tugas utama para da’i dalam mengatasi westernisasi adalah membina dan

mengajak manusia agar melaksanakan berbagai upaya yang baik dan benar, serta

manjauhkan segala perbuatan yang keji dan mungkar.

Para da’i yang ddidambakan adalah mereka yang mampu merumuskan dan

meneruskan risalah Rasulullah Saw. karena sejarah mencatat bila mereka menuruti

kehendak hawa nafsunya tanpa tulus ikhlas maka eksistensi mereka di tengah masyarakat

tidak mempunyai dampak positif. Tetapi sebaliknya bila para da’i dalam menjalankan

tugasnya sesuai dengan ajaran Rasulullah Saw. maka dampak posistifnya akan terlihat

dalam pembinaan ummat.

Tugas ini merupakan perintah Allah Swt. secara menyeluruh untuk melaksanakannya dengan penuh konsekwensi, sebagaimana irman Allah Swt. dalam surat Ali Imran ayat 104 yang berbunyi:

Artinya: dan Hendaklah ada diantara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kabaikan menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, merekalah orang-orang yang beruntung”

Dalam ayat yang lain Allah Swt. menegaskan pula yang berbunyi:

Artinya: Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Quran dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada Ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.(QS. As-Syura: 7)

Kedua dali di atas mengandung pengertian bahwa usaha inilah yang pertama sekali

dianjurkan kepada ummat yaitu menjauhkan mereka dari perbuatan mungkar dengan

bijksana. Oleh karena itu seorang dai harus berusaha menampakkan sikap sebagaimana

dalam irman Allah Swt. yang berbunyi:

Artinya:“Maka karena itu serulah (mereka kepada agama ini) dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan Katakanlah: “Aku beriman kepada semua kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya Berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan Kami dan Tuhan kamu. bagi Kami amal-amal Kami dan bagi kamu amal-amal kamu. tidak ada pertengkaran antara Kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita)”. (QS. As-Syuura: 15)

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa para da’i atau orang-orang yang menjadi

pemimpin harus menempatkan diri sebagai juru penerang seperti Rasulullah Saw. ia

sebagai pemimpin ummat dalam segala hal dan memberikan contoh atau tauladan

kepada masyarakat.

(14)

khususnya, seorang da’i diharapkan memberi bimbingan dengan cara lemah lembut dan

menghindari cara-cara kekerasan. Hal ini sebagaiman Allah Swt tegaskan dalam al-Qur’an surat an-Nahlu ayat 125 yang berbunyi:

Artinya: serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dengan demikian peranan da’i sangat penting dalam rangka pembentukan

karakteristik masyarakat yang islami, sebagai pemimpin ummat berkewajiban

membimbing dan mengajak ummat kepada jalan yang benar. Mencegah dari yang

mungkar sehingga dapat mengawasi hal-hal yang terjadi di kalangan masyarakat,

terutama sekali untuk mengatasi pembaratan westernisasi bagi para remaja Islam.

2. Membina ummat dalam pendidikan Islam

Ajaran Islam mempunyai ruang lingkup yang amat luas yang meliputi aspek dunia

dan akhirat. Dengan demikian ruang lingkup pendidikan-pun mempunyai jangkauan

yang luas sebagaimana irman Allah Swt. dalam surat al-‘Alaq ayat 1-5 yang berbunyi:

Artinya:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam,

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dari ayat di atas menunjukkan bahwa membina ummat dalam pendidikan merupakan

salah satu jalan untuk mengatasi pem-Baratan dalam dunia Islam, keagamaan dan terutama

dalam pendidikan aqidah Islam dan Syari’ah Islam. untuk mencapai sasaran tersebut

setidaknya terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam membina ummat melalui

pendidikan, yaitu

a. Pendidikan Aqidah Islam

Hakikat tentang aqidah dan keimanan sesungguhnya telah tertera dalam al-Qur’an

sebagaimana irman Allah Swt. dalam surat al-Ikhlas ayat 1-5 yang berbunyi: Artinya:

1. Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa.

2. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. 3. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,

4. dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”

(15)

tersebut manusia dibimbing untuk berbuat baik, berikir dan bertingkah laku secara

benar. Oleh sebab itu, pendidikan tentang aqidah harus diajarkan secara mendalam

untuk mencetak masyarakat yang mampu mengatasi westerrnisasi di lingkunganya.

Maka tugas para da’i dalam pembinaan aqidah sangat penting dilakukan secara

kontinyu dan berkeseninambungan.

b. Pembentukan Pribadi yang Sempurna

Untuk menghindari pengaruh negatif modernisasi dunia yang berkembang dewasa

ini, sangat perlu adanya bimbingan akhlakul karimah kepada masyarakat. Seorang

da’i dalam menyampaikan dakwahnya harus mampu mencerminkan sikap lembut

dan meninggalkan kesan tidak baik. Sebagaimana irman Allah Swt. dalam surat al-A’raf ayat 199 yang berbunyi:

Artinya: “jadilah Engkau Pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.”

Jelaslah Bahwa akhlak yang mulia, budi yang baik memang menjadi azas dan sendi

dari ajaran Islam. oleh karena itu, pembentukan pribadi yang baik merupakan suatu

hal yang dapat menyangkal pengaruh dari luar Islam (westernisasi).

D. PENUTUP

Berdasarkan uraian di atas, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi. Pertama,

westernisasi merupakan pola hidup gaya Barat yang mengandung program untuk

menyingkirkan sedini mungkin pola pikir muslim dan pribadi Islam. kedua, program

pendidikan merupakan sasaran westernisasi yang ampuh dan dianggap berhasil menyumbang

keberhasilan besar dalam mempengaruhi pola pikir kehidupan umat Islam dewasa ini.

Ketiga, perkembangan westernisasi dalam kehidupan masyarakat telah mentradisi sehingga

masyarakat menganggap bahwa hal tersebut telah menjadi kebiasaan mereka. Perubahan

prilaku tersebut tidak terlepas dari pengaruh ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin

maju dan modern terutama di bidang teknologi media komunikasi. Keempat, perkembangan

westernisasi dalam masyarakat telah mencapai taraf yang mengkhawatirkan sehingga

harus dilakukan upaya preventif yang efektif dalam menanggulanginya, antara lain melalui

penyebaran da’i-da’i yang handal dalam membimbing ummat ke jalan yang benar kemudian

dengan melakukan penguatan pendidikan di bidang aqidah dan pembentukan karakter ummat

yang tangguh terhadap pengaruh asing seperti westernisasi dan program Barat lainnya yang

(16)

ENDNOTES

1. Koentjaraningrat, Pengantar Ilmu Antropologi, (Jakarta: PN Reneka Cipta, 1981), h. 248

2. Anwar al-Jundy, Pembaratan di Dunia Barat, cet II, (Bandung; PN. Remaja Rosdakarya,

1993), h. 93

3. Wajewasoto, Kamus lengkap inggris Indonesia serta Indonesia Inggris, cet. III (Jakarta;

Warta, tt), h. 236.

4. Sidi Ghazalba, Modernisasi dalam Persoalan. Bagaimana Sikap Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1989), h. 59

5. Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembaratan, (Jakarta: Gramedia Pustaka Umum, 1992), h. 142

6. Muhammad Abduh Alim Mursi, Westernisasi dalam Pendidikan Islam, cet. I, (Jakarta: Fikahati Anesta, 1992), h. 35

7. Abdul Hasan Ali al-Husni al-Nadwi, Pertarungan antara Alam Pikiran Islam dengan Alam Pikiran Barat, (Bandung: Al-Ma’rif, tt), h. 139

8. Muhammad Abduh Alim Mursi, Westernisasi…,h. 50

9. Mustafa al- Saba’i, Peradaban Islam Dulu, Kini dan Esok, (Jakarta: Gema Insani Press,

1993), h. 17

10. Anwar al-Jundy, Pembaratan di Dunia Islam, terj. Cet. I, (Bandung; Remaja Rosdarya, 1991, h. 1

11. Muhammad bin Jameel Zeeno, Bimbingan Islam untuk Pribadi dan Masyarakat, (Saudi

Arabia, 1988), h. 130

12. Saleh Muntasir, Mencari Evidensi Islam, Analisa Awal Sistem Filsafat, Strategi dan Metodelogi Pendidikan Islam, (Jakarta: Rajawali,1985), hal. 43

13. Sayid Qutb, Beberapa Studi tentang Islam, (Jakarta Pusat; Media Dakwah, 1981), h. 97

14. Sidi Ghazalba, Pengantar Kebudayaan Sebagai Ilmu, Buku Dua, (Jakarta; Pustaka

Antara, 1976), h. 7

15. Zakiyah Darajat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta; Bulan Bintang, 1978), h. 151

16. Anwar al-Jundy, Pembaratan di…, h. 123

Referensi

Dokumen terkait

Kemampuan kepala sekolah dalam menciptakan budaya dan iklim sekolah yang kondusif dan inovatif bagi pembelajaran peserta didik, sebanyak 88% (58 orang) kepala sekolah dianggap

Tes pengujian penguatan yang diantaranya merupakan pengukuran acak dari range 40-70dB pada tes poin penguat 2 sebesar 50x yang dilakukan penulis pertama kali

Tampilan Form Pelatihan Masukkan nama karakter dari coretan huruf pada textbox, tekan tombol “Proses Ekstraksi Ciri” untuk melakukan proses ekstraksi ciri terhadap

pertama, sadar atau tidak, program otonomi daerah yang digulirkan oleh pemerintah hanya terfokus pada pelimpahan wewenang dalam pembuatan kebijakan, keuangan dan administrasi

Dari sistem informasi perizinan dan manajemen arsip data pada Badan Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu, maka pengembangan sistem dengan

pulang ke Inggris setelah kembali, Baden-Powell mendapati buku panduan ketentaraannya “Aids to Scouting” telah menjadi buku terlaris, dan telah digunakan oleh para guru

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi logistik ( logistic regression ), yaitu dengan melihat pengaruh reputasi auditor, pergantian manajemen,

In this study, stepwise multiple regression analyses were performed for both sexes and also the total sample to examine the relationships between the dependent variable