• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH RIBA DAN MACAM MACAM RIBA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH RIBA DAN MACAM MACAM RIBA"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

RIBA DAN MACAM-MACAM RIBA

Makalah ini Disusun Guna Memenuhi Mata Kuliah Fiqh Muamalah Dosen Pengampu : Imam Mustofa, M.S.I.

Disusun oleh :

WITA DERA TIRANTI (1502100316)

KELAS A

PROGRAM STUDY S1 PERBANKAN SYARIAH

JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)

(2)

1 A. Pendahuluan

Dalam bingkai ajaran Islam, aktivitas ekonomi yang dilakukan oleh manusia untuk dikembangkan memiliki beberapa kaidah dan etika atau moralitas dalam syariat Islam. Allah telah menurunkan rizki ke dunia ini untuk dimanfaatkan oleh manusia dengan cara yang telah dihalalkan oleh Allah dan bersih dari segala perbuatan yang mengandung riba.

Diskursus mengenai riba dapat dikatakan telah "klasik" baik dalam perkembangan pemikiran Islam maupun dalam peradaban Islam karena riba merupakan permasalahan yang pelik dan sering terjadi pada masyarakat, hal ini disebabkan perbuatan riba sangat erat kaitannya dengan transaksi-transaksi di bidang perekonomian (dalam Islam disebut kegiatan muamalah) yang sering dilakukan oleh manusia dalam aktivitasnya sehari-hari. Pada dasarnya, transaksi riba dapat terjadi dari transaksi hutang piutang, namun bentuk dari sumber tersebut bisa berupa qardh, buyu' dan lain sebagainya. Para ulama menetapkan dengan tegas dan jelas tentang pelarangan riba, disebabkan riba mengandung unsur eksploitasi yang dampaknya merugikan orang lain, hal ini mengacu pada Kitabullah dan Sunnah Rasul serta ijma' para ulama. Bahkan dapat dikatakan tentang pelarangannya sudah menjadi aksioma dalam ajaran Islam. Beberapa pemikir Islam berpendapat bahwa riba tidak hanya dianggap sebagai sesuatu yang tidak bermoral melainkan sesuatu yang menghambat aktifitas perekonomian masyarakat. Sehingga orang kaya akan semakin kaya sedangkan orang miskin akan semakin miskin dan tertindas.

Manusia merupakan makhluk yang "rakus", mempunyai hawa nafsu yang bergejolak dan selalu merasa kekurangan sesuai dengan watak dan karakteristiknya, tidak pernah merasa puas, sehingga transaksi-transaksi yang halal susah didapatkan karena disebabkan keuntungannya yang sangat minim, maka haram pun jadi (riba). Ironis memang, justru yang banyak melakukan transaksi yang berbau riba adalah kalangan umat Muslim yang notabene mengetahui aturan-aturan (the rules of syariah) syari'at Islam. bahwa sarjana Barat tersebut menemukan banyak orang Islam di Indonesia, tetapi perbuatan orang Islam di Indonesia sedikit yang Islami, sebaliknya sarjana Barat sedikit menemukan orang Islam di negara barat tetapi perbuatan atau pekerjaannya mencerminkan kebudayaan Muslim (Islamic values). Kalau demikian kondisi umat Islam, maka celakalah "mereka". Karena seorang muslim sejati hanya akan "melongok" dunia

(3)

2

mengumandangkan "ini halal dan ini haram, ini yang diridhoi Allah dan yang ini dimurkai oleh-Nya".

Riba merupakan suatu tambahan lebih dari modal asal, biasanya transaksi riba sering dijumpai dalam transaksi hutang piutang dimana kreditor meminta tambahan dari modal asal kepada debitur. tidak dapat dinafikkan bahwa dalam jual beli juga sering terjadi praktek riba, seperti menukar barang yang tidak sejenis, melebihkan atau mengurangkan timbangan atau dalam takaran.

B. Pengertian Riba

Menurut bahasa, riba memiliki beberapa pengertian, yaitu :

1. Bertambah, karena salah satu perbuatan riba adalah meminta

tambahan dari sesuatu yang dihutangkan.

2. Berkembang, berbunga, karena salah satu perbuatan riba

adalah membungakan harta uang atau yang lainnya yang

dipinjamkan kepada orang lain.

3. Berlebihan atau menggelembung.

Sedangkan menurut istilah, yang dimaksud dengan riba

menurut Al-Mali yang artinya adalah “akad yang terjadi atas

penukaran barang tertentu yang tidak diketahui perimbangannya menurut ukuran syara’, ketika berakad atau dengan mengakhirkan tukaran kedua belah pihak atau salah satu keduanya”.

Menurut Abdurrahman al-Jaiziri, yang dimaksud dengan riba

ialah akad yang terjadi dengan penukaran tertentu, tidak diketahui sama atau tidak menurut aturan syara’ atau terlambat salah satunya.

Syaik Muhammad Abduh berpendapat bahwa yang dimaksud

dengan riba ialah penambahan-penambahan yang diisyaratkan

(4)

3

hartanya (uangnya), karena pengunduran janji pembayaran oleh

peminjam dari waktu yang telah ditentukan.1

Riba dapat timbul dalam pinjaman (riba dayn) dan dapat pula

timbul dalam perdagangan (riba bai’). Riba bai’ terdiri dari dua jenis,

yaitu riba karena pertukaran barang sejenis, tetapi jumlahnya tidak

seimbang (riba fadhl), dan riba karena pertukaran barang sejenis

dan jumlahnya dilebihkan karena melibatkan jangka waktu (riba nasi’ah).2

C. Hukum Riba

Riba itu haram. Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan

riba, demikian pula hadis-hadis yang menerangkan larangan riba dan

yang menerangkan siksa bagi pelaku riba.

Hukum riba haram sebagaimana firman Allah SWT yang artinya : “bahwasanya jual-beli itu seperti riba, tetapi Allah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba”. (Q.S Al Baqarah, ayat 275).

Dalam hadis, tentang larangan riba dinyatakan :

Nabi Muhammad SAW. bersabda yang artinya :

Dari Jabir R.A ia berkata : Rasulullah SAW telah melaknati

orang-orang yang suka makan riba, orang-orang yang jadi wakilnya, juru tulisnya, orang yang menyaksikan riba. Rasulullah selanjut bersabda : “mereka semuanya sama”. (dalam berlaku maksiat dan dosa).3

D. Macam-macam Riba

1

Hendi suhendi, Fiqh Muamalah, (Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2002) h.57

2

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, (Jakarta : Rajawali Press, 2011) h.13

3

(5)

4

Riba itu ada empat macam, yaitu :

1. Riba fuduli

Fuduli artinya lebih, misalnya menjual salah satu dari dua barang

yang sejenis yang saling dipertukarkan lebih banyak daripada yang

lainnya, misalnya :

 Menjual uang Rp. 100.000,- dengan uang Rp. 110.000,-

 Menjual 10 kg beras dengan 11 kg beras.

Yang dimaksud lebih ialah dalam timbangannya pada

barang yang ditimbang ; takaran pada barang yang

ditakar ; ukuran pada barang yang diukur, dan jumlah

banyak pada uang yang dipertukarkan dan sebagainya.

2. Riba qardi

Riba qardi, yaitu meminjam dengan syarat keuntungan bagi yang

menghutangi (qardi=pinjam), seperti orang berhutang Rp. 100.000,-

dengan perjanjian akan membayar kembali kelak Rp. 110.000,-

3. Riba yad

Riba yad, yaitu berpisah sebelum timbang terima. Misalnya orang

yang membeli sepeda motor, sebelum ia menerima barang yang dibeli

dari si penjual, si penjual tidak boleh menjual sepeda motor itu kepada

siapapun, sebab barang yang dibeli dann belum diterima masih dalam

ikatan jual-beli yang pertama.

4. Riba nasa’

Riba nasa’, misalnya dipersyaratkan salah satu dari kedua barang yang dipertukarkan ditangguhkan pembayarannya. Umpama, membeli

(6)

5

125.000,-. Kelebihan membayar Rp. 25.000,- inilah yang dinamakan riba nasa’.4

E. Macam-macam Riba menurut Para Ulama

 Menurut Jumhur Ulama5

Jumhur Ulama membagi riba dalam dua bagian, yaitu riba fadhl dan riba nasi’ah.

a. Riba Fadhl

Menurut ulama Hanafiyah, riba fadhl adalah tambahan zat harta

pada akad jual-beli yang diukur dan sejenis.

Dengan kata lain, riba fadhl adalah jual-beli yang

mengandung unsur riba pada barang sejenis dengan adanya

tambahan pada salah satu benda tersebut.

Oleh karena itu, jika melaksanakan akad jual-beli

antarbarang yang sejenis, tidak boleh dilebihkan salah satunya

agar terhindar dari unsur riba.

b. Riba Nasi’ah

Menjual barang dengan sejenisnya, tetapi satu lebih banyak,

dengan pembayaran diakhirkan, seperti menjual satu kilogram

gandum dengan satu tengah kilogram gandum, yang

dibayarkan setelah dua bulan. Contoh jual-beli yang tidak

ditimbang, seperti membeli satu buah semangka dengan dua

buah semangka yang akan dibayar setelah sebulan.

4

Ibid, h.775-777

5

(7)

6

Ibn Abbas,Usamah Ibn jaid Ibn Arqam, Jubair, Ibn Jabir, dan

lain-lain berpendapat bahwa riba yang diharamkan hanyalah riba nasi’ah.

 Menurut Ulama Syafi’iyah

Ulama Syafi’iyah membagi riba menjadi tigas jenis : a. Riba Fadhl

Riba fadhl adalah jual-beli yang disertai adanya tambahan

salah satu pengganti (penukar) dari yang lainnya. Dengan kata

lain, tambahan berasal dari penukar paling akhir. Riba ini terjadi

pada barang yang sejenis, seperti menjual satu kilogram

kentang dengan satu setengah kilogram kentang.

b. Riba Yad

Jual-beli dengan mengakhirkan penyerahan (al-qabdu),

yakni bercerai-cerai antara dua orang yang akad sebelum

timbang terima, seperti menganggap sempurna jual-beli antara gandum dengan sya’ir tanpa harus saling menyerahkan dan menerima di tempat akad.

Menurut ulama Hanafiyah, riba ini termasuk riba nasi’ah, yakni menambah yang tampak dari utang.

c. Riba Nasi’ah

Riba nasi’ah, yakni jual beli yang pembayarannya diakhirkan, tetapi ditambahkan harganya.

Menurut ulama Syafi’iyah, riba yad dan riba nasi’ah sama -sama terjadi pada pertukaran barang yang tidak sejenis.

(8)

7

sebentar. Al-Mutawalli menambahkan, jenis riba dengan riba

qurdi (mensyaratkan adanya manfaat). Akan tetapi, Zarkasyi

menempatkannya pada ribs fadhl.6

F. Jenis-jenis Riba

Secara garis besar riba dikelompokkan menjadi dua.

Masing-masing adalah riba utang-piutang dan riba jual beli. Kelompok pertama

terbagi lagi menjadi qardh dan riba jahiliyyah. Sedangkan kelompok kedua, riba jual beli, terbagi menjadi riba fadhl dan riba nasi’ah. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

a. Riba Qardh

Suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan

terhadap yang berhutang (muqtaridh).

b. Riba Jahiliyyah

Utang dibayar lebih dari pokoknya, karena si peminjam tidak

mampu membayar utangnya pada waktu yang ditetapkan.

c. Riba Fadhl

Pertukaran antarbarang sejenis dengan kadar atau takaran

yang berbeda, sedangkan barang yang dipertukarkan itu termasuk

dalam jenis barang ribawi.

d. Riba Nasi’ah

Penangguhan penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi

yang dipertukarkan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba dalam nasi’ah karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan

6

(9)

8

antara yang diserahkan saat ini dengan yang diserahkan

kemudian.7

G. Konsep Riba dan Dasar Keharamannya

Secara bahasa riba berarti al-ziyadah (tumbuh subur, tambahan).

Seluruh fuquha sepakat bahwasanya hukum riba adalah haram

berdasarkan keterangan yang sangat jelas dalam Al-Quran dan

al-Hadis.

Pernyataan Al-Qur’an tentang larangan riba dan perintah

meninggalkan seluruh sisa-sisa riba yang terdapat pada surat

al-Baqarah ayat 276 yang artinya “ jika kamu tidak meninggalkan

sisa-hikmah pengharaman riba adalah untuk menumbuh suburkan

shadaqah, maka dengan sendirinya tradisi riba yang diharamkan oleh

Al-Qur’an adalah praktek riba yang bertentangan dengan seruan

shadaqah.9

Zainuddin Ali, Hukum Perbankan Syariah, (Jakarta : Sinar Grafika, 2008) h.92-93

8

Ghufro A. Mas’adi, fiqh muamalah kontekstual, (Jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2002) h.151-152

9

(10)

9

Emas dan perak adalah dua unsur pokok bagi uang yang

dengannya transaksi dan pertukaran menjadi teratur. Keduanya adalah

standar harga-harga yang kepadanya penentuan nilai barang-barang

dikembalikan. Sementara keempat benda lainnya adalah unsur-unsur

makanan pokok yang menjadi tulang punggung kehidupan.

Apabila riba terjadi pada barang-barang ini makan akan

membahayakan manusia dan menimbulkan kerusakan dalam

muamalah. Oleh karena itu, syariat melarangnya, sebagai bentuk kasih

sayang terhadap manusia dan perlindungan terhadap

maslahat-maslahat.

Dari sini tampak jelas bahwa ilat pengharaman emas dan perak

adalah keberadaan keduanya sebagai alat pembayaran. Sementara

ilat pengharaman benda-benda lainnya adalah keberadaanya sebagai

makanan pokok.

Apabila ilat pertama ditemukan pada alat-alat pembayaran lainnya

selain emas dan perak maka hukumnya sama dengan hukum emas

dan perak sehingga tidak boleh diperjualbelikan kecuali dengan berat

yang sama dan diserahterimakan secara langsung.

Demikian juga, apabila ilat kedua ditemukan pada makanan pokok

selain gandum, jelai, kurma, dan garam maka tidak boleh dijualbelikan

kecuali dengan berat yang sama dan diserahterimakan secara

langsung.

Ma’mar bin Abdullah meriwayatkan bahwa Nabi SAW melarang untuk menjualbelikan makanan kecuali dengan berat yang sama.10

I. Syarat Menghindari Riba

10

Diriwayatkan oleh Muslim di dalam Shahih Muslim sebagaimana dikutip oleh Sayyid Sabiq,

(11)

10

Syarat menjual sesuatu barang supaya tidak menjadi riba, yaitu :

1. Menjual emas dengan emas, perak dengan perak, makanan

dengan makanan yang sejenis, misalnya beras dengan beras,

hanya boleh dilakukan dengan tiga syarat, yaitu :

a. Serupa timbangan dan banyaknya

b. Tunai

c. Timbang terima dalam akad (Ijab qabul) sebelum

meninggalkan majlis akad

2. Menjual emas dengan perak dan makanan dengan makanan

yang berlainan jenis, misalnya beras dengan jagung, hanya

dibolehkan dengan dua syarat, yaitu :

a. Tunai

b. Timbang terima dalam akad sebelum meninggalkan majlis

akad (taqaabul qablat-tafaaruq)

Keterangan :

Yang dikenai hukum riba hanya pada tiga macam, yaitu

emas, perak dan makanan manusia (termasuk makanan

yang bukan obat).11

J. Hikmah diharamkannya Riba

Islam mengharamkan riba, karena riba mengandung hal-hal yang

sangat negatif bagi perseorangan maupun masyarakat, yakni :

1. Melenyapkan faedah hutang-piutang yang menjadi tulang

punggung gotong-royong atas kebajikan dan takwa.

2. Sangat menghalangi kepentingan orang yang menderita dan

miskin.

3. Melenyapkan manfaat yang wajib disampaikan kepada orang

yang membutuhkan.

11

(12)

11

4. Menjadikan pelakunya malas bekerja keras.

5. Menimbulkan sifat menjajah darikaum hartawan terhadap orang

miskin.

Keterangan :

Yang dikenal hukum riba hanya ada empat macam, yaitu emas,

perak, makanan manusia dan uang.12

K. Dampak Negatif Riba

1. Dampak Ekonomi

Diantara dampak ekonomi riba adalah dampak inflatoir yang

diakibatkan oleh bunga sebagai biaya utang. Hal tersebut

disebabkan karena salah satu elemen dari penentuan harga adalah

suku bunga. Semakin tinggi suku bunga, semakin tinggi juga harga

yang akan ditetapkan pada suatu barang.

Dampak lainnya adalah bahwa utang, dengan rendahnya tingkat

penerimaan peminjam dan tingginya biaya bunga, akan menjadikan

peminjam tidak pernah keluar dari ketergantungan, terlebih lagi bila

bunga atas utang tersebut dibungakan.

2. Sosial Kemasyarakatan

Riba merupakan pendapatan yang didapat secara tidak adil. Para

pengambil riba menggunakan uangnya untuk memerintahkan orang

lain agar berusaha dan mengembalika, misalnya, 25% lebih tinggi

dari jumlah yang dipinjamkannya. Siapa pun tahu bahwa berusaha

memiliki dua kemungkinan : berhasil atau gagal. Dengan

menetapkan riba, orang sudah memastikan bahwa usaha yang

dikelola pasti untung.13

12

Ibid, h.778-779

13

(13)

12

Islam menganggap riba sebagai kejahatan ekonomi yang

menimbulkan penderitaan bagi masyarakat, baik itu secara

ekonomi, moral, maupun sosial. Oleh karena itu, Al-Qur’an

melarang kaum muslimin untuk memberi ataupun menerima riba.

Dalam mengungkap rahasia makna riba dalam Al-Qur,an, ar-Razi

(tt:88) menggali sebab dilarangnya riba dari sudut pandang

ekonomi, dengan beberapa indikasi sebagai berikut :

a. Riba tak lain adalah mengambil harta orang lain tanpa ada nilai

imbangan apapun. Padahal, menurut sabda Nabi harta

seseorang adalah seharam darahnya bagi orang lain.

b. Riba dilarang karena menghalangi pemodal untuk terlibat dalam

usaha mencari rezeki. Orang kaya, jika ia mendapatkan

penghasilan dari riba, akan bergantung pada cara yang

gampang dan membuang pikiran untuk giat berusaha.

c. Dengan riba, biasanya pemodal semakin kaya dan bagi

peminjam semakin miskin, sekiranya dibenarkan maka yang

ada orang kaya menindas orang miskin.

d. Riba secara tegas dilarang oleh Al-Qur’an, dan kita tidak perlu

tahu alasan pelarangannya.14

L. Ancaman Bagi Pelaku Riba

Hadis Muslim yang artinya :

“Rasulullah SAW melaknat pemakan riba, pemberinya, penulisnya, kedua saksinya, mereka semua sama”. (Matan lain : Ahmad : 13744)

14

(14)

13

Riba diharamkan baik dalam Al-Qur’an maupun hadis.

Berikut hadis yang melarang dan mengecam praktik riba dengan

kata-kata yang tegas dan jelas.15 Hadis Akhmad yang artinya :

Nabi Muhammad bersabda : “riba itu sekalipun dapat

menyebabkan bertambah banyak, tetapi akibatnya akan

berkurang”. (Matan lain : Ibnu Majah 2270)

Hadis ini merupakan ancaman bagi orang yang melakukan

praktik riba, bahwa riba memang dapat mendatangkan keuntungan

besar bagi pelakunya, tetapi suatu saat tidak akan mendapatkan

berkah dari Allah, sehingga pada akhirnya akan berkurang.16

15

Al-Mushlih Abdullah, Ash-Shawi Shalah, Fikih Ekonomi Keuangan Islam, Jakarta : Darul Haq, 2004.

16

(15)

14 M. Penutup

Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Riba dapat

timbul dalam pinjaman (riba dayn) dan dapat pula timbul dalam perdagangan (riba bai’). Riba bai’ terdiri dari dua jenis, yaitu riba karena pertukaran barang sejenis, tetapi jumlahnya tidak seimbang

(riba fadhl), dan riba karena pertukaran barang sejenis dan jumlahnya dilebihkan karena melibatkan jangka waktu (riba nasi’ah).

Hukum riba adalah haram karena bersifat merugikan pihak yang

lain. Islam mengharamkan riba selain telah tercantum secara tegas

dalam al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 278-279 yang merupakan ayat

terakhir tentang pengharaman riba, juga mengandung unsur

eksploitasi. Dalam surat al-baqarah disebutkan tidak boleh

menganiaya dan tidak (pula) dianiaya, maksudnya adalah tidak boleh

melipatgandakan (ad'afan mudhaafan) uang yang telah dihutangkan,

karena dalam kegiatannya cenderung merugikan orang lain.

Macam-macam riba yaitu riba fudui, riba qardi, riba yad dan riba nasa’. Jenis-jenis riba ada riba qardh, riba jahiliyyah, riba fadhl, dan riba nasi’ah.

Emas, perak, gandum, jelai, kurma dan garam adalah

barang-barang pokok yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan tidak dapat

disingkirkan dari kehidupan. Semua itu tidak boleh diperjualbelikan

kecuali dengan berat yang sama dan telah diserahterimakan secara

langsung.

Islam mengharamkan riba, karena riba mengandung hal-hal yang

sangat negatif bagi perseorangan maupun masyarakat, yakni :

Melenyapkan faedah hutang-piutang yang menjadi tulang punggung

gotong-royong atas kebajikan dan takwa, sangat menghalangi

(16)

15

yang wajib disampaikan kepada orang yang membutuhkan,

menjadikan pelakunya malas bekerja keras, menimbulkan sifat

(17)

16

DAFTAR PUSTAKA

A.Mas’adi Ghufron, Fiqh Muamalah Kontekstual, Jakarta : PT Raja

Grafindo Persada, 2002.

Ali Zainuddin, Hukum Perbankan Syariah, Jakarta : Sinar Grafika, 2008.

Suhendi Hendi, Fiqh Muamalah, Jakarta : Rajawali Pers, 2013.

Syafei Rachmat, Fiqh Muamalah, Bandung : CV Pustaka Setia, 2001.

Rifai Moh, Mutiara Fiqih, Semarang : CV Wicaksana, 1998.

Mardani, Ayat-ayat dan Hadis Ekonomi Syariah, Jakarta : PT Raja

Grafindo Persada, 2012.

Ascarya, Akad dan Produk Bank Syariah, Jakarta : PT Raja Grafindo

Persada, 2011.

Syafi’i Antonio Muhammad, Bank Syariah, Jakarta : Gema Insani, 2001.

Nur Diana Ilfi, Hadis-hadis Ekonomi, Malang : UIN-Maliki Press, 2012.

Ismanto Kuat, Manajemen Syari’ah, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2015.

Al-Mushlih Abdullah, Ash-Shawi Shalah, Fikih Ekonomi Keuangan Islam,

Referensi

Dokumen terkait

dengan begitu merupakan konsep tentang sebuah proyek peradaban, 25 25 Maka Maka secara kronologis perkembangan dalam memahami pemikiran ekonomi Islam secara kronologis

Islam dengan tegas melarang praktik riba. Hal ini terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunah. Al-Qur’an menyatakan haram terhadap riba bagi kalangan masyarakat

Sedangkan yang dimaksud unsur syariah dalam penelitian ini adalah suatu bagian dari prinsip-prinsip ekonomi yang sesuai dengan prinsip Islam, yaitu bebas dari riba,

Cakupan masalah dalam kasus ini adalah kegiatan ekonomi masyarakat islam tentang kontrak keuangan yang mencakup praktek riba baik dari segi usaha dan berinvestasi

Bergantung pada riba dapat menghalangi manusia dari kesibukan kerja sebab jika si pemilik uang yakin bahwa degan melauli riba dia akan memperoleh tmabahan uang baik kontan

Penelitian ini mengambil judul "Diskursus Pemikiran Politik Islam di Indonesia (Studi Pemikiran M. Natsir dan Abdurrahman Wahid 3 tentang Relasi Islam

Analisis tentang larangan riba dalam Islam berdasarkan Al-Qur'an serta dampaknya pada muamalah dan kegiatan ekonomi