BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang
senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan
hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan hak-hak
asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945,1 dari sisi
kehidupan berbangsa dan bernegara anak adalah masa depan bangsa dan generasi
penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup,
tumbuh dan berkembang, berpartisipasi, serta berhak atas perlindungan dari
tindak kekerasan dan diskriminasi juga penelantaran.
Anak adalah potensi serta penerus cita-cita bangsa yang dasar-dasarnya
telah diletakkan oleh generasi sebelumnya dan agar setiap anak mampu memikul
tanggungjawab tersebut, maka ia perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya
untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar baik secara rohani, jasmani maupun
sosial.2
Anak adalah harapan bangsa dimasa mendatang, hak-hak yang harus
diperoleh anak terhadap orang tuanya sejak anak dilahirkan didunia yang
berdasarkan hukum dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Perlindungan hukum terhadap anak dapat diartikan sebagai upaya perlindungan
hukum terhadap berbagai kebebasan dan hak asasi anak (fundamental rights and
1
Penjelasan Undang-Undang Tentang Perlindungan Anak Nomor 23 Tahun 2002, Ketentuan Umum.
2
freedoms of children ) serta berbagai kepentingan yang berhubungan dengan kesejahteraan anak.3
Upaya perlindungan hukum terhadap anak telah lama dibicarakan baik di
Indonesia maupun di dunia internasional. Pembicaraan mengenai masalah anak ini
tidak akan pernah berhenti karena disamping merupakan masalah universal juga
karena di dunia ini akan selalu dihiasi oleh anak-anak.
Anak sebagai mahkluk Tuhan yang Maha Esa memiliki hak asasi sebagaimana manusia lainnya, sehingga tidak ada manusia ataupun pihak lain yang boleh merampas hak tersebut. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.4
Negara yang maju adalah negara yang memberikan perhatian serius
terhadap anak, sebagai wujud kepedulian akan generasi bangsa. Anak adalah
karunia Tuhan yang harus dihargai dengan melindungi dan membimbing anak
menjadi pribadi yang mengagumkan. Kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari,
perhatian terhadap anak seringkali terabaikan oleh orang dewasa, dianggap sepele
atau sebelah mata karena yang dihadapi hanya seorang anak kecil. Padahal
sebenarnya, perhatian terhadap anak sejak dini sangat mempengaruhi masa
depannya kelak.
Anak adalah bagian dari generasi muda sebagai salah satu sumber daya
manusia yang merupakan potensi dan penerus cita-cita perjuangan bangsa di masa
yang akan datang, yang memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat
3
Waluyadi, Hukum Perlindungan Anak (Bandung : Mandar Maju,2009), hlm. 1 4
khusus, memerlukan pembinaan dan perlindungan dalam rangka menjamin
pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial secara seimbang.
Anak adalah tunas, potensi dan generasi penerus cita-cita bangsa, memiliki peran strategis dalam menjamin eksistensi bangsa dan negara dimasa mendatang. Agar kelak anak mampu memikul tanggung jawab itu, maka anak perlu mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental, sosial, maupun spiritual. Anak perlu mendapatkan hak-haknya, perlu dilindungi dan disejahterakan. Seperti tertulis dalam Pasal 4 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.5
“Setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang dan berpartisipasi
secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
Pasal 13 ayat (1) UU Perlindungan Anak menyebutkan :6
Setiap anak selama dalam pengasuhan orangtua, wali atau pihak lain manapun yang bertanggungjawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan :
a. Diskriminasi
b. Ekspoitasi, baik ekonomi maupun seksual c. Penelantaran
d. Kekejaman, kekrasan dan penganiayaan e. Ketidakadilan, dan
f. Perlakuan salah lainnya
Indonesia merupakan salah satu negara yang meratifikasi Konvensi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tentang Hak-Hak Anak, melalui Keputusan
Presiden Nomor 36 Tahun 1990 tanggal 25 Agustus 1990. Dengan diratifikasinya
konvensi tersebut, seharusnya secara hukum negara berkewajiban melindungi dan
memenuhi hak-hak anak, baik sosial, politik, budaya dan ekonomi.7
5
Lihat Pasal 4 Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak 6
Lihat Pasal 13 ayat (1) Undang - Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
7
Setiap anak kelak mampu memikul tanggung jawab, maka ia perlu
mendapat kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara
optimal, baik fisik, mental maupun social dan berakhlak mulia, perlu dilakukan
upaya perlindungan serta untuk mewujudkan kesejahteraan anak dengan
memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta adanya perlakuan
tanpa diskriminasi.
Berlakunya manusia itu sebagai pembawa hak, mulai dari saat ia
dilahirkan dan berakhir pada saat ia meninggal dunia, malah seorang anak yang
masih dalam kandungan ibunya dapat dianggap sebagai pembawa hak.8 Orang
tua, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara
hak asasi tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum.
Demikian pula dalam rangka penyelenggaraan perlindungan anak, negara dan
pemerintah bertanggung jawab menyediakan fasilitas dan aksesibilitas bagi anak,
terutama dalam menjamin pertumbuhan dan perkembangannya secara optimal dan
terarah.
Pertanggungjawaban orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah dan
negara merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan secara terus-menerus
demi terlindunginya hak-hak anak. Rangkaian kegiatan tersebut harus
berkelanjutan dan terarah guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan anak,
baik fisik, mental, spiritual maupun sosial. Tindakan ini dimaksudkan untuk
mewujudkan kehidupan terbaik bagi anak yang diharapkan sebagai penerus
bangsa yang potensial, tangguh, memiliki nasionalisme yang dijiwai oleh akhlak
8
mulia dan nilai Pancasila, serta berkemauan keras menjaga kesatuan dan persatuan
bangsa dan negara.
Perlindungan terhadap anak pada suatu masyarakat bangsa merupakan
tolak ukur peradaban bangsa tersebut, karenanya wajib diusahakan sesuai dengan
kemampuan nusa dan bangsa. Kegiatan perlindungan anak merupakan suatu
tindakan hukum yang berakibat hukum.9 Oleh karena itu, perlu adanya jaminan
hukum bagi kegiatan perlindungan anak. Kepastian hukum perlu diusahakan demi
kegiatan kelangsungan perlindungan anak dan mencegah penyelewengan yang
membawa akibat negatif yang tidak diinginkan dalam pelaksanaan kegiatan
perlindungan anak.10
Penelantaran anak merupakan salah satu bentuk kekerasan dalam rumah
tangga, hal ini akibat dari orang tua yang tidak melaksanakan kewajiban dan
tanggung jawabnya terhadap anak untuk memberikan jaminan perlindungan bagi
anak-anak mereka. Orang tua kerap sekali tidak mempedulikan keselamatan
anaknya. Kebanyakan orang tua di kota-kota besar tidak mengharapkan kehadiran
anaknya kedunia. Kebanyakan orang tua menganggap bahwa anak yang
dilahirkannya adalah aib bagi dirinya dan juga keluarganya.
Kebanyakan orang tua yang tidak mengharapkan kehadiran anaknya
tersebut malah membuang anak tersebut ketika si ibu baru saja melahirkan
anaknya. Anak yang tidak memiliki dosa tersebut lahir kedunia ini bukan
9
Bismar Siregar, Abdul Hakim Garuda Nusantara, Suwanti Sisworahardjo, Arif Gosita, Hukum dan Hak-Hak Anak, (Jakarta: C.V. Rajawali, 1986), hlm. 23.
10
mendapatkan kasih sayang seperti anak-anak lainnya malahan anak tersebut
mengalami penderitaan dan berjuang hidup tanpa kasih sayang orang tuanya.
Kasus penelantaran anak yang terjadi bukanlah persoalan baru, hanya saja
perhatian masyarakat, pemerintah, serta berbagai kalangan kurang peduli terhadap
masalah ini. Bahkan penanganannya masih diskriminatif, baik dari perhatian
pemerintah, lembaga hukum, dan pemberitaan media masa. Orang tua tidak sadar
bahwa menelantarkan anak adalah sebuah tindak pidana melawan hukum.
Pengaruh dan dampak yang paling terlihat jika anak mengalami
penelantaran adalah kurangnya perhatian dan kasih sayang orang tua terhadap
anak. Anak yang kurang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya
menyebabkan berkembangnya perasaan tidak aman, gagal mengembangkan
perilaku akrab, dan selanjutnya akan mengalami masalah penyesuaian diri pada
masa yang akan datang. Penelantaran anak tidak hanya merugikan si anak saja,
tetapi orang tua juga harus menanggung resiko atas perbuatannya yaitu hukuman
yang sesuai dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan
Anak. Kasus penelantaran anak sangatlah sering terjadi di Indonesia, namun
penanganannya sangatlah kurang diperhatikan.
Siti Juwariyah seorang pelaku tindak pidana penelantaran anak yang
terjadi di Kota Surakarta. Siti Juwariah terbukti melakukan tindak pidana
penelantarana anak yang dilakukan pada hari minggu tanggal 26 Juli 2015 yang
bertempat di kebun milik saksi Nur Indriyati yang beralamat di Kp. Pucabsawit
Rt.04 Rw.01, Kec.Jebres, Kota Surakarta atau setidak-tidaknya pada suatu tempat
Terdakwa Siti Juwariyah terbukti membuang bayinya tersebut agar bayi terdakwa
tersebut ditemukan orang dan terdakwa ingin melepaskan dirinya dari tanggung
jawab. Terdakwa Siti Juwariyah terbukti melakukan penelantaran anak sesuai
dengan Pasal 77B Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 atas Perubahan
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.
Berdasarkan uraian diatas, maka perlu dibahas tentang “Analisis Hukum
Pidana Terhadap Tindak Pidana Penelantaran Anak Oleh Orang Tua (Studi
Putusan Nomor : 141/Pid.Sus/2015/PN.Skt)”
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan tersebut, penulis memilih
beberapa hal yang menjadi permasalahan dalam penulisan skripsi ini. Adapun
permasalahan yang akan dibahas, antara lain :
1. Bagaimana ketentuan sanksi pidana terhadap pengaturan tindak pidana
penelantaran anak?
2. Bagaimana pertanggungjawaban hukum pidana terhadap tindak pidana
penelantaran anak oleh orang tua ditinjau dari Putusan Nomor :
141/Pid.Sus/2015/PN.Skt?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penulisan
skripsi ini, antara lain :
1. Untuk mengetahui ketentuan sanksi pidana terhadap pengaturan tindak pidana
2. Untuk mengetahui pertanggungjawaban hukum pidana terhadap
pertanggungjawaban pidana terhadap tindak pidana penelantaran anak oleh
orang tua ditinjau dari Putusan Nomor : 141/Pid.sus/2015/PN.Skt
D. Manfaat Penulisan
1. Secara teoritis, kiranya kehadiran skripsi ini mampu memberikan sumbangan
pemikiran dan pengembangan ilmu hukum pidana khususnya mengenai
ketentuan sanksi pidana terhadap pengaturan tindak pidana penelantaran
anak. Kiranya skripsi ini juga mampu memenuhi hasrat keingintahuan para
pihak yang ingin ataupun sedang mendalami pengetahuan mengenai tindak
pidana penelantaran anak, baik itu mahasiswa, akademisi, maupun masyrakat
luas.
2. Secara parktis, manfaat dari skripsi ini dapat memberikan informasi hukum
kepada semua kalangan, terutama penegak hukum dalam praktik pengambilan
kebijakan khususnya dalam menangani tindak pidana penelantaran anak oleh
orang tua.
E. Keaslian Penulisan
Skripsi ini berjudul “ Analisis Hukum Pidana Terhadap Tindak Pidana
Penelantaran Anak Oleh Orang Tua (Studi Putusan Nomor :
141/Pid.Sus/2015/PN.Skt).”
Berdasarkan penelusuran yang penulis lakukan di perpustakan dan
Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara itu
dalam rangka membuktikan bahwa judul skripsi tersebut belum ada atau belum
terbukti bahwa skripsi ini benar-benar merupakan hasil pemikiran dari penulis
sendiri dan bukan berasal dari karya tulis orang lain.
Penulis melakukan penelusuran di perpustakaan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara dan saat melakukan penelusuran penulis menemukan
judul yang hampir sama yaitu : “PENERAPAN HUKUM PIDANA TERHADAP
PELAKU PENELANTARAN ANAK DARI PERSPEKTIF
UNDANG-UNDANG NOMOR 23 TAHUN 2002 JO UNDANG-UNDANG-UNDANG-UNDANG REPUBLIK
INDONESIA NOMOR 35 TAHUN 2014 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK
(Studi Kasus Putusan Mahkamah Agung Nomor 1726 K/Pid.Sus/2009 dan
Putusan Pengadilan Negeri Rantau Prapat Nomor 498/Pid.B/2014/PN-Rap) yang
ditulis oleh Yogi Ar Chaniago/ 110200003.
Rumusan masalah dalam skripsi tersebut adalah:
1. Bagaimana perlindungan terhadap anak yang mengalami penelantaran dari
perspektif hukum nasional Indonesia?
2. Bagaimana penerapan hukum pidana terhadap pelaku penelantaran anak
berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 jo Undang-Undang
Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak?
Penulis skripsi ini juga menelusuri berbagai judul karya ilmiah melalui
media internet, dan sepanjang penelusuran yang penulis lakukan, belum ada
penulis lain yang pernah mengangkat topik dengan perumusan masalah yang sama
dengan penulis. Sekalipun ada, hal itu adalah diluar sepengetahuan dan tentu saja
substansinya berbeda dengan substansi dalam skripsi ini. Permasalahan yang
pada pengertian-pengertian, teori-teori, dan aturan hukum yang diperoleh melalui
referensi media cetak maupun media elektronik. Oleh karena itu, dapat dinyatakan
bahwa skripsi ini adalah karya asli penulis dan dapat dipertanggungjawabkan
secara ilmiah.
F. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengertian Tindak Pidana
Aspek larangan berbuat yang disertai dengan ancaman pidana disebut
tindak pidana atau perbuatan pidana (berasal dari
kata strafbar feit), yang juga sering disebut delik (berasal dari kata delict). Tindak pidana merupakan rumusan tentang perbuatan yang dilarang untuk
dilakukan dalam peraturan perundang-undanagn yang disertai ancaman
pidana bagi siapa yang melanggar larangan tersebut. Jadi, perbuatan (feit) adalah pokok dari suatu tindak pidana yang dirumuskan tersebut.11
Perbuatan-perbuatan yang ditentukan yang dilarang pada garis besarnya
ada dua golongan yakni, Pertama, perbuatan-perbuatan aktif/perbuatan positif yang sering juga disebut dengan perbuatan materil (materiil feit), Kedua,
perbuatan-perbuatan pasif/perbuatan negatif. Perbuatan materiil adakalanya
disebut dengan perbuatan jasmani ialah perbuatan yang untuk mewujudkannya
disyaratkan adanya gerakan nyata dari tubuh atau bagain dari tubuh orang,
misalnya memukul dengan gerakan tangan dan menyepak dengan gerakan kaki.
Hukum pidana yang mengatur tentang itu disebut dengan tindak pidana positif
atau tindak pidana aktif. Sementara itu, perbuatan pasif sesungguhnya berarti
11
tidak melakukan perbuatan secara fisik, dimana hal tersebut justru melanggar
suatu kewajiban hukum karena dituntut bagi yang bersangkutan untuk
melaksanakan perbuatan tertentu. Seseorang dalam keadaan-keadaan dan dengan
syarat-syarat tertentu oleh undang-undang diwajibkan untuk melakukan suatu
perbuatan tertentu, yang apabila kewajiban hukum untuk berbuat itu
diabaikannya, misalnya perbuatan “membiarkan dalam keadaan sengsara” (Pasal
304), maka sebenarnya yang demikian itu telah berbuat pasif. Oleh karena itu, dia
dijatuhi pidana.12
Tindak pidana juga disebut dengan strafbar feit. Tentang hukum pidana ini sering mempergunakan istilah delik, sedangkan pembuat undang-undang mempergunakan istilah peristiwa pidana, atau tindak pidana, atau
perbuatan pidana. Menurut Vos, pengertian dari istilah strafbar feit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh peraturan perundang- undangan, jadi, suatu kelakuan yang pada umumnya dilarang dengan ancaman pidana.13
Menurut Pompe, pengertian strafbar feit dibedakannya ke dalam dua kelompok yakni:14
1) Defenisi menurut teori memberikan pengertian “strafbar feit” adalah suatu pelanggaran terhadap norma, yang dilakukan karena kesalahan si pelanggar dan diancam dengan pidana untuk mempertahankan tata hukum dan menyelamatkan kesejahteraan umum; dan
2) Defenisi menurut hukum positif, merumuskan pengertian “strafbar
feit” adalah suatu kejadian (feit) yang oleh peraturan perundang-undangan dirumuskan sebagai suatu perbuatan yang dapat dihukum.
Sejalan dengan pengertian yang di atas, J.E. Jonkers juga mengemukakan
mengenai strafbar feit dengan membagi ke dalam dua kelompok yakni:15
12
Ibid, hlm. 5 13
Bambang Poemomo., Asas-Asas Hukum Pidana, (Yogyakarta: Ghalia Indonesia, 1982), hlm. 90.
14
Ibid, hlm. 91 15
1) Defenisi pendek memberikan pengertian “strafbar feit” adalah suatu kejadian
(feit) yang dapat diancam pidana oleh undang-undang; dan
2) Defenisi panjang atau yang lebih mendalam memberikan pengertian “stragbar
feit” adalah suatu kelakuan yang melawan hukum berhubungan dilakukan dengan
sengaja atau alpa oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan.
Jalan pemikiran dalam pengertian pendek ini pada hakekatnya menyatakan
bahwa pastilah untuk setiap delik yang dapat dipidana harus berdasarkan
undang-undang yang dibuat oleh pembentuk undang-undang-undang-undang dan pendapat umum tidak
dapat menentukan lain dari pada yang telah ditentukan undang-undang.
Sedangkan dalam pengertian yang panjang tersebut di atas menitikberatkan pada
sifat melawan hukum dan pertanggungjawaban yang merupakan unsur-unsur yang
secara tegas di dalam setiap delik, atau unsur-unsur yang tersembunyi secara
diam-diam dianggap ada. Apabila dirumuskan secara tegas justru dalam
membuktikan unsur-unsur delik tersebut akan banyak persoalan, untuk setiap kali
harus dibuktikan yang merupakan beban yang berat bagi penuntut umum.
Elemen yang terdapat di dalam strafbar feit oleh Vos, telah ditunjuk
pendapat dari Simons yang menyatakan, “suatu perbuatan feit adalah perbuatan
yang melawan hukum dengan kesalahan yang dilakukan oleh oarang yang dapat
dipertanggungjawabkan. Dapat dikatakan bahwa suatu strafbar feit mempunyai elemen “wederrechtelijkheid” (perbuatan melanggar hukum pidana) dan
“schuld” (kesalahan).16
16
Setiap tindak pidana yang terdapat dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Pidana pada umumnya dapat dijabarkan ke dalam dua unsur yaitu : 17
a. Unsur subjektif adalah unsur-unsur yang melekat pada diri si pelaku atau yang berhubungan dengan diri si pelaku dan termasuk ke dalamnya yaitu
segala sesuatu yang terkandung di dalam hatinya.
b. Unsur objektif adalah unsur-unsur yang ada hubungannya dengan keadaan-keadaan, yaitu di dalam keadaan-keadaan mana tindakan-tindakan dari si
pelaku itu harus dilakukan.
Unsur-unsur subjektif dari sesuatu tindak pidana adalah :18 1. Kesengajaan atau ketidaksengajaan (dolus atau culpa);
2. Maksud atau voornemen pada suatu percobaan atau poging seperti yang dimaksud di dalam Pasal 53 ayat 1 KUHP;
3. Macam-macam maksud atau oogmerk seperti yang terdapat misalnya di dalam kejahatan-kejahatan pencurian, penipuan, pemerasan, pemalsuan dan lain-lain;
4. Merencanakan terlebih dahulu atau voorbedachte raad seperti yang misalnya yang terdapat di dalam kejahatan pembunuhan menurut Pasal 340 KUHP;
5. Perasaan takut atau vress seperti yang antara lain terdapat di dalam rumusan tindak pidana menurut Pasal 306 KUHP.
Unsur-unsur objektif dari sesuatu tindak pidana adalah :19 1. Sifat melanggar hukum atau wederrechtelijkheid;
2. Kualitas dari si pelaku, misalnya “Keadaan sebagai seorang pegawai
negeri” di dalam kejahatan jabatan menurut Pasal 415 KUHP atau “keadaan sebagai pengurus atau komisaris dari suatu perseroan terbatas” di dalam kejahatan menurut Pasal 398 KUHP;
3. Kausalitas, yakni hubungan antara sesuatu tindak pidana sebagai penyebab dengan sesuatu kenyataan sebagai akibat.
Moeljatno menyatakan suatu perbuatan dapat dikatakan sebagai tindak pidana apabila memenuhi unsur-unsur sebagai berikut :20
1. Subjek
17
P.A.F. Lamintang, Dasar-dasa r Hukum Pidana Indonesia, (Bandung: PT. Citra Adya Bakti, 1997), hlm. 193
2. Kesalahan
3. Bersifat melawan hukum (dari tindakan)
4. Suatu tindakan yang dilarang atau diharuskan oleh undang-undang/perundang-undangan dan terhadap pelanggarnya diancam dengan pidana;
5. Waktu, tempat, dan keadaan (unsur objektif lainnya).
C.S.T Kansil menyatakan,Tindak pidana atau delik ialah tindakan yang mengandung 5 unsur yakni:21
1. Harus ada suatu kelakuan (gedraging);
2. Kelakuan itu harus sesuai dengan uraian undang-undang (wattelijke omschrijving);
3. Kelakuan itu adalah kelakuan tanpa hak; 4. Kelakuan itu dapat diberatkan kepada pelaku; 5. Kelakuan itu diancam dengan hukuman.
2. Pengertian Anak
Secara umum dikatakan bahwa anak adalah seorang yang dilahirkan dari
perkawinan antara seorang perempuan dan sorang laki-laki, terlepas anak itu
dilahirkan di dalam ataupun di luar ikatan perkawinan.
Pengertian anak dalam kedudukan hukum meliputi pengertian kedudukan
hukum meliputi pengertian kedudukan anak dari pandangan sistem hukum, atau
disebut kedudukan dalam arti khusus sebagai subjek hukum. Kedudukan anak
dalam lingkungan hukum adalah sebagai subjek hukum, ditentukan dari bentuk
dan sistem hukum terhadap anak sebagai kelompok masyarakat yang berada di
dalam status hukum dan tergolong tidak mampu atau di bawah umur.
Menurut KUHP penngertian anak tidak ada dijelaskan secara tertulis tapi
pengertian anak ada disebutkan secara tersirat yaitu dalam Pasal 293 ayat (1) ada
disebutkan seseorang yang belum dewasa. Dan menurut R. Soesilo dalam KUHP
21
yaitu dalam pasal 292 KUHP yaitu Dewasa adalah yang telah berumur 21 tahun
atau belum umur 21 tahun, akan tetapi sudah atau sudah pernah kawin.
Menurut undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak menyatakan anak adalah amanah sekaligus karunia
Tuhan Yang Maha Esa, yang dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak
sebagai manusia seutuhnya. Anaka adalah tunas, potensi dan generasi muda
penerus cita-cita perjuangan bangsa, memiliki peran strategis dan mempunyai cirri
dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi banhsa dan negara pada
masa depan.
Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, “Anak adalah seseorang yang belum
berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan”.
Menurut Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
menurut Pasal 1 ayat (26) menyebutkan bahwa Anak adalah setiap orang yang
berumur dibawah 18 (delapan belas) tahun.
Menurut undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan
Anak menurut pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang
belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin. Akan
tetapi walaupaun seseorang belum genap berusia 21 tahun, namun apabila dia
sudah pernah kawin maka dia tidak lagi berstatus anak, melainkan orang yang
sudah dewasa.22
22
Menurut Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child)
yang telah diratifikasi berdasarkan Keputusan Nomor 36 Tahun 1990 menurut
pasal 1 bagian 1 menentukan : seorang anak adalah setiap manusia yang berusia
18 tahun kecuali berdasarkan Undang-Undang yang berlaku bagi anak-anak
kedewasaan dicapai lebih cepat.
Menurut Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia menurut Pasal 1 ayat (5) bahwa yang dimaksud dengan anak adalah
setiap manusia yang berusia di bawah delapan belas tahun dan belum menikah,
termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi
kepentingannya.
Anak dalam pemaknaan yang umum mendapat perhatian tidak saja dalam
bidang ilmu pengetahuan (the body of knowledge) tetapi dapat ditelaah dari sisi pandang sentralistis kehidupan.23
Anak adalah generasi penerus yang akan datang. Baik buruknya masa
sepan bangsa tergantung pula pada baik buruknya kondisi anak saat ini. Berkaitan
hal tersebut, maka perlakuan terhadap anak dengan cara yang baik adalah
kewajiban kita bersama, agar ia bias tumbuh berkembang dengan baik dan dapat
menjadi pengemban risalah peradaban bangsa ini.
Berdasarkan beberapa uraian mengenai perbedaan batas usia anak tersebut,
maka dapat disimpulkan secara umum batas anak-anak adalah seseorang yang
berusia maksimal 18 tahun dan belum pernah menikah. Persoalannya kematangan
jiwa seseorang tidak hanya ditentukan oleh usia tetapi juga ditentukan oleh
23
kematngan berpikir, sebagai contoh tidak sedikit orang yang usiannya dewasa
tetapi bertingkahlaku seperti anak-anak. Begitu juga sebaliknuya oleh karena itu
perlu adanya uji kejiwanan.
3. Pengertian Penelantaran Anak
Penelantaran berasal berasal dari kata lantar yang memilki arti tidak
terpelihara, terbengkalai, tidk terurus.24
Penelantaran adalah setiap bentuk pelalaian kewajiban dan tanggung
jawab seseorang dalam rumah tangga yang menurut hukum seseorang itu telah
ditetapkan sebagai pemegang tanggung jawab terhadap kehidupan orang yang
berada dalam lingkungan keluarganya.25
Penelantaran adalah adalah sebuah tindakan baik disengaja maupun tidak
disengaja yang membiarkan anak tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya (sandang,
pangan, papan). Penelantaran terhadap anak tidak mengenal alasan
motivasi/intensi. Disengaja maupun tidak, jika ada anak dibiarkan tidak
memperoleh makan, tidak mendapatkan tempat tinggal yang layak, dan pakaian
yang layak untuk melindunginya dari berbagai penyakit dan bahaya, maka insiden
ini dikatakan penelantaran dan akan dikenakan sanksi.26
Pasal 9 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 Tentang
Penghapusan Kekerasa Dalam Rumah Tangga, berbunyi :
Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah tangganya. Padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikanb kehidupan, perawatan,
atau pemeliharaan kepada orang tersebut”.
24
W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, hlm 564 25
Muchsin, Dalam Varia Peradilan No. 303 edisi Pebruari 2011, (Jakarta: IKAHI,2011), hlm. 18
26
Seorang anak dikatakan terlantar, bukan sekedar karena ia sudah tidak
memiliki salah satu orang tua atau kedua orang tuanya. Tetapi, terlantar disini
juga dalam pengertian ketika hak-hak anak untuk tumbuh kembang secara wajar,
untuk memperoleh pendidikan yang layak, dan untuk memperoleh kesahatan yang
memadai tidak terpenuhi karena kelalaian, ketidakmengertian orang tua,
ketidakmampuan, atau karena kesengajaan.27
4. Pengertian Orangtua
Orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, orang tua memiliki peranan yang sangat
penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu/ayah dapat diberikan untuk
perempuan/pria yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang
mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak) dan ayah tiri (suami ibu biologis anak).28
Orang tua angkat adalah pria dan wanita yang menjadi ayah dan ibu
seseorang berdasarkan adat atau hukum yang berlaku. Sedangkan pengertian
orang tua asuh adalah orang yang membiayai (sekolah dan sebagainya) anak yang
bukan anaknya sendiri atas dasar kemanuasiaan.29
Menurut Thamrin Nasution, orang tua merupakan setiap orang yang
bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam
kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.Jika menurut Hurlock, orang
tua merupakan orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam
27
Ibid., hlm 213 28
https://id.wikipedia.org/wiki/Orang_tua diakses pada tanggal 6 Maret 2016 pukul 11.22
WIB 29
masa perkembangan. Tugas orang tua melengkapi dan mempersiapkan anak
menuju ke kedewasaan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang
dapat membantu anak dalam menjalani kehidupan. Dalam memberikan bimbingan
dan pengarahan pada anak akan berbeda pada masing-masing orang tua kerena
setiap keluarga memiliki kondisi-kondisi tertentu yang berbeda corak dan sifatnya
antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
G. Metode Penelitian
Diperlukan metode penelitian sebagai suatu tipe cara secara sistematis
yang dipergunakan dalam penelitian dan penulisan skripsi ini, yang akhirnya
bertujuan mencapai keilmiahan dari penulisan skripsi ini. Dalam penulisan skripsi
ini, metode yang dipakai adalah sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penelitian dapat ditinjau dari berbagai macam sudut, maka hasilnya adalah
adanya bermacam-macam penelitian.
Secara singkat, maka macam-macam penelitian tersebut mencakup:30 1. Dari sudut sifatnya yaitu meliputi penelitian eksploratoris atau
penjelajahan, penelitian deskriptif dan penelitian eksplanatoris.
2. Dari sudut bentuknya yaitu meliputi penelitian dianostik, penelitian preskriptif dan penelitian evaluatif.
3. Dari sudut tujuannya yaitu meliputi penelitian “fact-finding”, penelitian
“problem-identification” dan penelitian “problem-solution”.
4. Dari sudut penerapannya yaitu meliputi penelitian murni/dasar/fundamentil, penelitian yang berfokuskan masalah, dan penelitian terapan/terpakai.
Dari sudut tujuan penelitian hukum terdapat:31
1. Penelitian hukum normatif, yang mencakup penelitian terhadap azas-azas hukum, penelitian terhadap sistematika hukum, penelitian terhadap
30
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 1986), hlm. 51-52 31
taraf sinkhronisasi hukum, penelitian sejarah hukum dan penelitian perbandingan hukum.
2. Penelitian hukum sosiologis atau empiris, yang terdiri dari penelitian terhadap identifikasi hukum (tidak tertulis) dan penelitian terhadap efektivitas hukum.
Jenis penelitian yang digunakan adalah metode hukum normatif32 yaitu
metode penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bagian pustaka
atau data sekunder. Penelitian hukum normatif disebut juga sebagai penelitian
kepustakaan atau studi dokumen. Penelitian hukum normatif disebut juga sebagai
penelitian hukum doktriner karena penelitian ini dilakukan atau ditujukan hanya
pada peraturan-peraturan yang tertulis atau badan hukum yang lain. Penelitian
hukum ini disebut juga sebagai penelitian kepustakaan atau studi dokumen
disebabkan karena penelitian ini lebih banyak dilakukan terhadap data yang
bersifat sekunder yang ada di perpustakaan.
2. Jenis Data dan Sumber Data
Penelitian biasanya membedakan antara data yang diperoleh secara
langsung dari masyarakat (mengenai perilaku-perilakunya, data empiris) dan dari
pustaka. Data yang diperoleh langsung dari masyarakat dinamakan data primer
atau data dasar. Sedangkan data yang diperoleh daru pustaka dinamakan data
sekunder.33
Data yang digunakan dalam skripsi ini adalah data sekunder. Data
sekunder diperoleh dari :
1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat, berupa
peraturan perundang-undangan antara lain: Undang-Undang Nomor 1
32
Ibid,
33
Tahun 1946 Tentang Peraturan Hukum Pidana ( Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana), Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab
Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Undang-Undang Nomor 35 Tahun
2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002
Tentang Perlindungan Anak, dan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004
Tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
2. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer, seperti misalnya, rancangan
undang-undnag, hasil-hasil penelitian, hasil karya dari kalangan hukum, dan
sterusnya.34
3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan yang memberikan petunjuk maupun
penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder. Contohnya adalah
kamus, ensiklopedia, indeks kumulatif dan seterusnya.35
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dari penulisan skripsi ini dilakukan melalui teknik studi
pustaka (literature research) dan juga melalui bantuan media elektronik, yaitu internet. Untuk memperoleh data dari sumber ini penulis memadukan,
mengumpulkan, menafsirkan, dan membandingkan buku-buku dan arti-arti yang
berhubungan dengan judul skripsi.
34
Ibid, hlm. 52 35
4. Analisis Data
Pada penelitian hukum normatif yang menelaah data sekunder, maka
biasanya penyajian data dilakukan sekaligus dengan analisanya36. Metode analisis
data yang dilakukan penulis adalah analisa kualitatif, yaitu dengan:
a. Mengumpulkan bahan hukum primer, sekunder, dan tersier yang relevan
dengan permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini.
b. Melakukan pemilahan terhadap bahan-bahan hukum relevan tersebut di atas
agar sesuai dengan masing-masing permasalahan yang dibahas.
c. Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari
permasalahan.
d. Memaparkan kesimpulan, yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif,
yaitu kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan.
H. Sistematika Penulisan
Pembahasan dan Penyajian suatu penelitian harus terdapat keteraturan agar
terciptanya karya ilmiah yang baik. Maka dari itu, penulis membagi skripsi ini
dalam beberapa bab yang saling berkaitan satu sama lain, karena isi dari skripsi
ini bersifat berkesinambungan antara bab yang satu dengan bab yang lainnya.
Adapun sistematika penulisan yang terdapat dalam skripsi ini adalah
sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Pada bab ini dikemukakan tentang Latar Belakang, Perumusan
Masalah, Tujuan Penulisan, Manfaat Penulisan, Keaslian
36
Penulisan, Tinjauan Kepustakaan, Metode Penulisan dan
Sistematika Penulisan.
BAB II : KETENTUAN SANKSI PIDANA TERHADAP PENGATURAN
TINDAK PIDANA PENELANTARAN ANAK
Pada bagian pertama akan mengemukakan ketentuan sanksi pidana
terhadap tindak pidana penelantaran anak ditinjau dari berbagai
pengaturan perundang-undangan.
Pada bagian kedua akan mengemukakan faktor-faktor yang
menjadi penyebab terjadinya tindak pidana penelantaran anak.
BAB III : ANALISIS HUKUM PIDANA TERHADAP TINDAK PIDANA
PENELANTARAN ANAK OLEH ORANG TUA DITINJAU
DARI PUTUSAN NOMOR : 141/Pid.Sus/2015/PN.Skt
Pada bagian pertama akan mengemukakan kasus posisi dari
Putusan Nomor : 141/Pid.Sus/2015/PN.Skt
Pada bagian kedua akan mengemukakan analisis kasus dari
Putusan Nomor : 141/Pid.Sus/2015/PN.Skt.
BAB IV : PENUTUP
Pada Bab ini, akan dikemukakan kesimpulan dari bagian awal
hingga bagian akhir penulisan yang merupakan ringkasan dari
substansi penulisan skripsi ini, dan saran-saran yang penulis