• Tidak ada hasil yang ditemukan

Respons Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Kompos TKKS dan Jarak Tanam di Dataran Rendah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Respons Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) Terhadap Pemberian Kompos TKKS dan Jarak Tanam di Dataran Rendah"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman

Bawang merah termasuk dalam Kingdom : Plantae; Divisi : Spermatophyta; Sub Divisi : Angiospermae; Kelas : Monocotyledonae;

Ordo : Liliales; Familia : Liliaceae; Genus : Allium ; Spesies : Allium ascalonicum L. (Suminah et al., 2002).

Tanaman mempunyai akar serabut dengan daun berbentuk silinder berongga. Umbi terbentuk dari pangkal daun yang bersatu dan membentuk batang yang berubah bentuk dan fungsi, membesar dan membentuk umbi berlapis (Hervani et al., 2008).

Bentuk daun bawang seperti pipa, yakni bulat kecil memanjang antara 50 – 70 cm, berlubang, bagian ujungnya meruncing, berwarna hijau muda sampai hijau tua, dan letak daun melekat pada tangkai yang ukurannya relatif pendek (Rukmana, 1995).

Bawang merah memiliki umbi lapis yang bervariasi. Ada yang berbentuk bulat, bundar seperti gasing terbalik sampai pipih. Ukuran umbi ada yang besar, sedang dan kecil. Warna kulit umbi ada yang kuning, merah muda, hingga merah tua ataupun merah keunguan. Baik biji maupun umbi lapis dapat dijadikan sebagai bahan perbanyakan tanaman (Jaelani, 2007).

(2)

berbentuk agak pipih dan berukuran kecil. Pada waktu masih muda, biji berwarna putih bening dan setelah tua berwarna hitam (Pitojo, 2003).

Kelemahan biji bawang merah adalah membutuhkan waktu budidaya yang lebih lama, karena membutuhkan pembibitan. Biji bawang merah membutuhkan perlakuan penyemaian dengan waktu 30 hari dan akan dipanen 60-70 hari setelah pindah tanam. Umur tanaman bawang merah di dataran tinggi memiliki umur yang lebih panjang yaitu 118 hari setelah tanam. Pertumbuhan optimal terjadi pada umur 84 HST. Di Brebes dilaporkan bawang merah dengan biji memiliki umur 70-80 hari setelah pindah tanam (Sumarni dan Rosliani, 2010).

Syarat Tumbuh

Iklim

Tanaman bawang merah lebih senang tumbuh di daerah beriklim kering. Tanaman bawang merah peka terhadap curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, serta cuaca berkabut. Tanaman ini membutuhkan penyinaran cahaya matahari yang maksimal (minimal 70% penyinaran), suhu udara 25-320C, dan kelembaban nisbi 50-70% (AAK, 2004).

Di Indonesia bawang merah dapat ditanam di dataran rendah sampai ketinggian 1000 m di atas permukaan laut. Ketingian tempat yang optimal untuk pertumbuhan dan perkembangan bawang merah adalah 0-450 m di atas permukaan laut (Wibowo, 2007).

(3)

22°C tanaman bawang merah tidak akan berumbi. Oleh karena itu, tanaman bawang merah lebih menyukai tumbuh di dataran rendah dengan iklim yang cerah (Rismunandar, 1986).

Agar dapat tumbuh dengan baik, tanaman bawang merah harus di tanam pada kondisi lingkungan yang cocok. Tanaman bawang merah paling menyukai daerah yang beriklim kering, suhu udara yang agak panas, tempat terbuka atau cukup terkena sinar matahari, dan tidak berkabut. Daerah yang berkabut kurang baik terhadap pertumbuhan tanaman bawang merah karena dapat menimbulkan penyakit. Selain itu, daerah yang terlindung dapat menyebabkan pembentukan umbi bawang merah tidak maksimal (Nasution, 2008).

Tanah

Tanaman ini memerlukan tanah berstruktur remah, tekstur sedang sampai liat, drinase / aerase baik, mengandung bahan organik, dan reaksi tanah tidak masam (pH tanah : 5,6 - 6,5). Tanah yang paling cocok untuk tanaman bawang merah adalah tanah Aluvial atau kombinasinya dengan tanah humus (Rahayu dan Berlian, 1999).

Bawang merah dapat tumbuh hampir pada semua jenis tanah dan menyukai jenis tanah lempung berpasir. Di Indonesia 70 % penanaman dilakukan pada dataran rendah di bawah 450 meter. Bawang merah membutuhkan banyak air tetapi kondisi yang basah menyebabkan penyakit busuk. Tanah yang cukup lembab dan air tidak menggenang disukai oleh tanaman bawang merah (Rismunandar, 1989).

(4)

ketinggian kurang dari 200 m di atas permukaan laut. Selain itu, bawang merah

juga cukup luas diusahakan pada jenis tanah Andosol, tipe iklim B2/C2 yaitu (5-9) bulan basah dan (2-4) bulan kering dan ketinggian lebih dari 500 m di atas

permukaan laut (Nurmalinda dan Suwandi, 1995).

Waktu tanam bawang merah yang baik adalah pada musim kemarau dengan ketersediaan air pengairan yang cukup, yaitu pada bulan April/Mei setelah panen padi dan pada bulan Juli/Agustus. Penanaman bawang merah di musim kemarau biasanya dilaksanakan pada lahan bekas padi sawah atau tebu, sedangkan penanaman di musim hujan dilakukan pada lahan tegalan. Bawang merah dapat

ditanam secara tumpangsari, seperti dengan tanaman cabai merah (Sutarya dan Grubben, 1995).

Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit

(5)

selulosa dalam TKKS menyebabkan bahan tersebut sulit mengalami proses dekompsisi (Kasli, 2008).

Fungsi TKKS antara lain adalah konservasi air, perbaikan truktur tanah, dan penyediaan beberapa unsur hara. Dalam hal konservasi air, pupuk organik turut menjamin agar air tetap tersedia bagi tanaman dan tidak segera turun ke lapisan bawah tanah. Ketersediaan air tersebut juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan tanaman akan air. Air tersebut juga berfungsi melarutkan unsur-unsur hara yang pada mulanya tidak tersedia bagi tanaman. Proses pelarutan ini sangat penting karena unsur-unsur hara hanya dapat tersedia bagi tanaman dalam bentuk larutan. Selain itu, bahan-bahan organik juga memperkecil laju pencucian (leaching), yaitu pelenyapan unsur-unsur hara yang telah terlarutkan karena terbawa turun bersama kelebihan air. Perbaikan struktur tanah di sini mengandung arti mencegah terjadinya kompaksi (pemadatan) tanah, sehingga pori-pori tanah tersedia dalam jumlah yang mencukupi. Fungsi pori-pori tanah adalah menjamin tersedianya oksigen bagi akar untuk pernafasan, memungkinkan penetrasi akar dalam tanah, dan memberi peluang bagi terjadinya evaporasi dari dalam tanah (Mangoensoekarja dan Semangun, 2008).

Jarak Tanam

(6)

hasil. Secara umum hasil tanaman persatuan luas tertinggi diperoleh pada kerapatan tanaman tinggi, akan tetapi bobot masing – masing umbi umbi secara

individu menurun karena terjadi persaingan antara tanaman (Sumarni dan Hidayat, 2005).

Adanya interaksi diantara tanaman yang berdekatan merupakan fungsi dari jarak tanam dan besarnya tanaman yanhg bersangkutan. Disamping populasi tanaman, pengaturan jarak tanam menjadi penting dalam mengoptimalkan penggunaan faktor lingkungan. Terdapat beberapa sistem pengaturan jarak tanam dilapangan yang mungkin mempengaruhi hasil produksi tanaman antara lain bentuk empat persegi atau bujur sangkar, bentuk barisan dengan jarak tanam dalam baris teratur atau tidak dan arah barisan yaitu Utara – Selatan atau Barat – Timur (Jumin, 2002).

Jumlah populasi tanaman per/ha merupakan faktor penting untuk mendapatkan hasil suatu tanaman yang maksimal dapat dicapai bila menggunakan jarak tanam yang tepat. Semakin tinggi tingkat kerapatan tanam akan mengakibatkan tingkat persaingan yang besar antar tanaman dalam hal mendapatkan unsur hara, air dan cahaya matahari (Palungkun dan Budiarti, 1993).

(7)

akan menurunkan produksi tanaman tersebut. Sebaliknya produksi persatuan tanaman akan turun secara terus menerus dengan bertambahnya kerapatan tanaman. Keadaan ini terjadi karena pengaruh kompetisi. Adanya persamaan kebutuhan di antara tanaman yang sejenis akan dapat menyebabkan terjadinya kompetisi apabila factor yang dibutuhkan tersebut dalam keadaan kurang. Dengan demikian tinggi rendahnya populasi merupakan factor penentu terhadap besar kecilnya kompetisi.

Referensi

Dokumen terkait

Interaksi pemberian mulsa dan pengaturan jarak tanam menghasilkan bobot kering umbi per sampel tertinggi yaitu terdapat pada taraf perlakuan kombinasi M2J1 (Pemberian mulsa

Pertumbuhan, Produksi, dan Kualitas Bawang Merah pada Pemupukan ZA dan Pupuk Kandang dengan Berbagai Jarak Tanam di Kabupaten Deli Serdang.. Arisanti

Pengalaman Penelitian : Respon pertumbuhan dan produksi tanaman bawang merah (allium ascalonicum L) terhadap cara pemberian pupuk NPK dan jarak tanam.. Jember, 16 April 2018

Perlakuan jarak tanam berpengaruh sangat nyata terhadap variabel tinggi tanaman dan jumlah daun pada umur 35 HST, bobot basah umbi dan bobot kering tanaman

Hasil Analysis of Variance (ANOVA) dengan Rancangan Petak Terpisah (RPT) menunjukkan bahwa pengaruh jarak tanam terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman bawang

Kombinasi Jarak tanam dengan berbagai dosis kompos TKKS tidak dapat meningkatkan jumlah umbi bawang merah, hal ini diduga karena unsur hara N, P dan K yang terkandung

Interaksi pemberian mulsa dan pengaturan jarak tanam menghasilkan jumlah daun tertinggi yaitu terdapat pada taraf perlakuan kombinasi M 2 J 2 (Pemberian mulsa

Hasil uji BNJ 5% pada Tabel 1 menunjukkan bahwa perlakuan jarak tanam yang renggang pada bawang merah varietas Lembah Palu (V ) umur 45 dan 60 HST menyebabkan