• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN VISUAL THINKING DISERTAI PROBL

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENERAPAN VISUAL THINKING DISERTAI PROBL"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PENERAPAN VISUAL THINKING DISERTAI PROBLEM

BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN

KEMANDIRIAN BELAJAR MATEMATIKA

SISWA

Oleh :

Husni Tamrin Hrp1, Edy Surya2

(Jurusan Pendidikan Matematika, PPs UNIMED Medan)

[email protected] [email protected]

Abstrak. Penelitian ini didasarkan pada permasalahan rendahnya kemandirian belajar matematis siswa. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan pembelajaran Visual Thinking disertai aktivitas Problem based learning. Kemandirian belajar merupakan aspek yang sangat penting dalam pembelajaran matematika. Hal ini didasarkan bahwa indikator kemandirian belajar seperti 1) Inisiatif Belajar, 2). Mendiagnosa Kebutuhan Belajar, 3) Menetapkan Target dan Tujuan Belajar, 4) Memonitor, Mengatur dan Mengontrol, 5) Memandang Kesulitan Sebagai Tantangan, 6) Memanfaatkan dan Mencari Sumber yang relevan, 7) Memilih dan Menerapkan Strategi Belajar, 8) Mengevaluasi Proses dan Hasil Belajar dan 9) Self Eficacy (konsep diri) sesuai dan mendukung dengan penerapan Visual Thinking disertai Problem Based Learning

Keyword: Visual Thinking, Problem Based Learning, Kemandirian Belajar

I. Pendahuluan

Sikap mandiri seseorang tidak terbentuk dengan cara yang mendadak, namun melalui proses sejak masa anak-anak. Dalam perilaku mandiri antara tiap individu tidak sama, kondisi ini dipengaruhi oleh banyak hal. Hal yang mempengaruhi atau faktor penyebab sikap mandiri seseorang itu dibagi menjadi dua, yaitu faktor dari dalam individu dan faktor dari luar individu. Menurut Hasan Basri (1994: 54) kemandirian belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu faktor yang terdapat di dalam dirinya sendiri (endogen) dan faktor – faktork yang terdapat di luar dirinya (eksogen).

Independence (mandiri) secara umum menunjuk pada kemampuan individu untuk menjalankan atau melakukan sendiri aktivitas hidup terlepas dari pengaruh kontrol orang lain (Steinberg dalam Sutanto, 2006). Kemandirian merupakan salah satu aspek kepribadian yang sangat penting bagi individu. Seseorang dalam menjalani kehidupan ini tidak pernah lepas dari cobaan dan tantangan. Individu yang memiliki kemandirian tinggi relatif mampu menghadapi segala permasalahan karena individu yang mandiri tidak tergantung pada orang lain, selalu berusaha menghadapi dan memecahkan masalah yang ada.

Kemandirian belajar siswa, akan menuntut mereka untuk aktif baik sebelum pelajaran berlangsung dan sesudah proses belajar. Murid yang mandiri akan mempersiapkan materi yang akan dipelajari. Sesudah proses belajar mengajar selesai, murid akan belajar kembali mengenai materi yang sudah disampaikan sebelumnya dengan cara membaca atau berdiskusi. Sehingga murid yang menerapkan belajar mandiri akan mendapat prestasi lebih baik jika dibandingkan dengan murid yang tidak menerapkan prinsip mandiri.

(2)

terjadi dengan sendirinya karena setiap siswa memiliki kondisi yang berbeda antara satu dengan lainnya baik ekonomi, kecerdasan, sosial budaya, ataupun prasarana dan sarana yang tersedia.

II. PEMBAHASAN

2.1 Definisi Visual Thinking

Visual Thinking atau Berpikir Visual adalah proses intelektual intuitif dan ide imajinasi visual, baik dalam pencitraan mental atau melalui gambar (Brasseur dalam Surya, 2010). Laseau (Surya, 2011) menyatakan mengandalkan proses berpikir bahasa gambar visual, bentuk, pola, tekstur, symbol. Namun Visual Thinking memerlukan lebih banyak dari pada visualisasi atau representasi. John Steiner (Surya, 2011) menyatakan “Ini adalah mewakili sensasi pengetahuan dalam bentuk struktur ide, aliran ide itu bias sebagai gambar, diagram, penjelasan model, lukisan yang diatur ide-ide besar dan penyelesaian sederhana.”

Presmeg (Ariawan, 2016) mengungkapkan tujuh peranan visual thinking, yaitu: (1) Untuk memahami masalah, dengan merepresentasikan masalah visual siswa dapat memahami bagaimana unsur-unsur dalam masalah berhubungan satu sama lain; (2) Untuk menyederhanakan masalah, visualisasi memungkinkan siswa mengidentifikasi masalah versi yang lebih sederhana, pemecahan masalah dan kemudian memformalkan pemahaman soal yang diberikan dan mengidentifikasi metode yang digunakan untuk masalah yang serupa; (3) Untuk melihat keterkaitan (koneksi) masalah; (4) Untuk memahami gaya belajar individual, setiap siswa memiliki gaya tersendiri ketika menggunakan representasi visual saat pemecahan masalah; (5) Sebagai pengganti komputasi/penghitungan, penyelesaian masalah dapat diperoleh secara langsung melalui representasi visual itu sendiri, tanpa penghitungan; (6) Sebagai alat untuk memeriksa solusi, representasi visual dapat digunakan untuk memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh; (7) Untuk mengubah masalah ke dalam bentuk matematis, bentuk matematis dapat diperoleh dari representasi visual dalam pemecahan masalah.

Beberapa kelebihan visual thinking menurut Sword (S. Nuraini, 2014): (a) Visual thinking sangat ampuh dan cepat, kompleks, ampuh, detail dan imaginatif. Dengan visual thinking, informasi diproses secara instan, hanya dengan melihat gambar. (b) Visual thinking menemukan dan menyelesaikan masalah. Ketika pokok persoalan disampaikan kepada mereka, mereka dapat segera menyampaikan permasalahan yang mereka lihat dan kemudian mengerti bagaimana cara menyelesaikannya. (c) Visual thinking kreatif, melihat gambar dari sudut pandang yang lebih jelas dan kreatif dari pemikir lainnya. Proses kreatif menggabungkan kesadaran akan masalah, mengumpulkan informasi, mengembangkan ide, merencanakan, dan menghasilkan penyelesaian.

Langkah-langkah visual thinking menurut Bolton (Ariawan: 2016) adalah: (1) looking, yaitu siswa mengidentifikasikan masalah dengan aktivitas melihat dan membaca serta mengumpulkan informasi dalam suatu permasalahan; (2) seeing, yaitu siswa mengerti dan memahami keterkaitan antara yang diketahui dan yang ditanyakan dengan aktivitas menyeleksi dan mengelompokkan serta merencanakan pemecahan masalah dalam suatu permasalahan; (3) imagining, yaitu siswa menentukan pola dengan aktivitas menggambarkan masalah serta menuliskan solusi pemecahan masalah dalam suatu permasalahan; (4) showing and telling, yaitu siswa menjelaskan apa yang diperoleh dari permasalahan tersebut dan mempresentasikan hasilnya.

2.2 Definisi Problem Based Learning

(3)

ini diperlukan untuk memecahkan masalah yang dihadapi siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Masalah yang dihadapkan pada siswa berupa konsep materi pembelajaran, sehingga dengan adanya permasalah tersebut maka dapat merangsang proses berpikir siswa yang lebih tinggi dalam memecahkan permasalahan.

Woei Hung, dkk (2008) menyatakan bahawa Problem-based learning (PBL) is perhaps the most innovative pedagogical method ever implemented in education. Menurut Woei Hung, dkk PBL merupakan metode pedagogis paling inovatif yang diterapkan di bidang pendidikan.

Pendapat lain mengemukakan bahwa Problem Based Learning (PBL) adalah lingkungan belajar yang di dalamnya menggunakan masalah untuk belajar. Yaitu, sebelum pebelajar mempelajari suatu hal, mereka diharuskan mengidentifikasi suatu masalah, baik yang dihadapi secara nyata maupun telaah kasus. Masalah diajukan sedemikian rupa sehingga para pebelajar menemukan kebutuhan belajar yang diperlukan agar mereka dapat memecahkan masalah tersebut (Pusdiklat, 2004).

Secara lebih jelas lagi Proyek DUE-like UI (Muhson: 2009) mengemukakan langkah-langkah yang dilakukan dalam metode PBL, yaitu:

1. Identifikasi masalah 2. Analisis masalah

3. Hipotesis/penjelasan logik sistematik 4. Identifikasi pengetahuan

5. Identifikasi pengetahuan yang telah diketahui 6. Penentuan sumber pembelajaran

7. Identifikasi pengetahuan baru

8. Sintesis pengetahuan lama dan baru untuk diterapkan pada masalah 9. Pengulanagn Kegiatan

10. Menyimpulkan hal yang tidak terpelajari 11. Perangkuman hasil / penyunan Laporan 12. Penerapan ke masalah berikutnya

Dalam metode PBL, peserta didik diberikan suatu permasalahan. Kemudian secara berkelompok (sekitar lima hingga delapan orang), mereka akan berusaha untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Untuk mendapatkan solusi, mereka diharapkan secara aktif mencari informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber. Informasi dapat diperoleh dari bahan bacaan (literatur), narasumber, dan lain sebagainya.

Proses pembelajaran dengan PBL dapat digambarkan sebagai berikut:

(4)

merumuskan masalah; 3) mempelajari dan mencari sendiri materi yang berhubungan dengan masalah serta melaporkan solusinya.

Sugiyanto (Eni: 2012) mengemukakan ada 5 tahap yang harus dilaksakan dalam PBL, yaitu: 1) memberikan orientasi tentang permasalahannyan kepada siswa; 2) Mengorganisasikan siswa untuk meneliti; 3) membantu investigasi mandiri dan kelompok; 4) mengembangkan dan mempresentasikan hasil; menganalisis dan mengevaluasi proses mengatasi masalah.

Problem based learning (PBL) mempunyai kelebihan dan kekurangan. Kelebihan PBL antara lain adalah: 1) Pemecahan masalah yang diberikan dapat menentang dan membangkitkan kemampuan berpikir kritis siswa serta memberikan kepuasan untuk memukan sutau pengetahuan baru; 2) pembelajaran dengan PBL dianggap lebih menyenangkan dan lebih disukai siswa; 3) PBL dapat meningkatkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran; 4) PBL dapat memberikan kesempatan siswa untuk menerapkan pengetahuan yang mereka miliki ke dalam dunia nyata (Gijselaers, 1996).

Kelemahan PBL menurut Sanjaya (2009: 221) antara lain: 1) siswa tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba; 2) keberhasilan model pembelajaran melalui PBL membutuhkan cukup waktu untuk persiapan; 3) tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memcahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang ingin mereka pelajari.

2.3 Kemandirian Belajar

Para ahli memberikan pengertian kemandirian belajar yang beragam, diantaranya Steinberg (2007:12) menyatakan bahwa siswa yang memperoleh kemandirian merupakan siswa yang dapat memiliki kemampuan untuk mengatur diri sendiri secara bertanggung jawab, meskipun tidak ada pengawasan dari orang tua maupun guru dalam aktifitas belajar demi mendapatkan nilai dan prestasi yang memuaskan bagi diri dan orang tua. Kemudian Knain dan Tumo (Sugandi, 2013) menegaskan bahwa kemandirian belajar adalah suatu proses yang dinamik dimana siswa membangun pengetahuan, keterampilan, dan sikap pada saat mempelajari konteks yang spesifik. Untuk itu siswa perlu memiliki berbagai strategi belajar, pengalaman menerapkannya dalam situasi dan mampu merefleksi secara efektif.

Selanjutnya Montalvo dan Torres (Sumarmo, 2004) memberikan pengertian

kemandirian belajar yaitu gabungan antara keterampilan dan kemauan. Demikian pula menurut Sumarmo (2004: 1) kemandirian belajar merupakan proses perancangan dan pemantauan diri yang seksama terhadap proses kognitif dan afektif dalam menyelesaikan suatu tugas akademik. Dalam hal ini, Hargis (Sumarmo, 2004: 1) menekankan bahwa yang dimaksud kemandirian belajar bukan merupakan kemampuan mental atau keterampilan akademik tertentu, tetapi merupakan proses pengarahan diri dalam mentransformasi kemampuan mental ke dalam keterampilan akademik tertentu.

Bandura (Sumarmo, 2004: 2) mengidentifikasi karakter kemandirian belajar yaitu: mengamati dan mengawasi diri sendiri, membandingkan posisi diri dengan standar tertentu, dan memberikan respon sendiri (respon positif dan respon negatif). Paris dan Winograd (Sumarmo, 2006: 12) menegaskan, tiga karakteristik utama dari kemandirian belajar yaitu kesadaran berpikir, penggunaan strategi, dan motivasi yang terpelihara.

Selanjutnya, Paris dan Winograd (Ratnaningsih, 2007: 39) merinci dua belas kemandirian belajar ke dalam empat kategori:

1. Menilai diri mengarah pada pemahaman belajar yang lebih dalam. Menilai diri secara periodik akan bermanfaat bagi guru dan siswa, karena merupakan refleksi pada pembelajaran yang dinamik.

(5)

b. Mengevaluasi apa yang diketahui dan apa yang tidak diketahui, melihat kedalaman pemahaman tentang pokok-pokok materi, mempromosikan upaya yang efisien.

c. Penilaian diri dari proses belajar dan out-come secara periodik, adalah suatu kebiasaan yang bermanfaat untuk dikembangkan, karena akan meningkatkan pengendalian kemajuan, menstimulasi strategi yang diperbaiki, dan

meningkatkan perasaan self-efficacy.

2. Mengatur diri dalam berpikir, berupaya, dan meningkatkan pendekatan yang fleksibel pada pemecahan masalah yang adaptif (menyesuaikan diri), tekun, pengendalian diri, strategis, dan berorientasi tujuan.

a. Mentargetkan tujuan yang sesuai dan dapat dicapai tetapi menantang, paling efektif dipilih siswa.

b. Mengatur waktu dan sumber-sumber melalui perencanaan yang efektif dan pengontrolan, merupakan faktor penting dalam mengatur prioritas, mengatasi frustasi, dan dengan tekun menyelesaikan tugas.

c. Mereviu belajar sendiri, merevisi pendekatan, atau bahkan memulai sesuatu dari yang baru, memonitor diri dan komitmen pribadi untuk mencapai kinerja standar tinggi.

3. Self-regulation dapat diajarkan dengan berbagai cara. Self-regulation dapat diajarkan dengan pengajaran secara eksplisit, refleksi langsung, dan diskusi metakognisi; dapat ditingkatkan secara tidak langsung, dengan pemodelan dan aktivitas yang

memerlukan analisis reflektif dari belajar, mengevaluasi, membuat peta, dan mendiskusikan bukti-bukti dari pertumbuhan seseorang; terpilih dalam pengalaman naratif dan identitas dari setiap individual.

4. Belajar adalah bagian dari kehidupan seseorang, dan sebagai akibat dari karakter seseorang. Dengan pandangan ini, kemandirian belajar dibangun oleh karakter dari kelompok yang diikutinya.

a. Bagaimana individu memilih untuk menilai dan memonitor perilaku mereka, umumnya konsisten dengan identitas yang mereka pilih dan inginkan.

b. Memperoleh perspektif sendiri pada pendidikan dan belajar, menyediakan suatu kerangka kerja naratif, yang akan memperdalam kesadaran pribadi dari self-regulation.

c. Partisipasi dalam suatu komunitas yang reflektif akan meningkatkan banyak dan kedalaman pengujian kebiasaan self-regulation seseorang.

Kemandirian bukanlah semata-mata merupakan pembawaan yang melekat pada diri individu sejak lahir. Perkembangan kemandirian juga dipengaruhi oleh berbagai stimulus yang datang dari lingkungan, selain potensi yang telah dimiliki sejak lahir sebagai keturunan dari orang tua. Menurut Ali dan Asrosri (2006), ada sejumlah faktor yang sering disebut sebgaai korelasi bagi perkembangan kemandirian, yaitu: 1) Pola asuh orang tua; 2) Sistem Pendidikan di sekolah; 3) Sisitem kehidupan di masyarakat.

Menurut Schunk dan Zimmerman (Sumarmo, 2004: 2) terdapat tiga phase utama dalam siklus kemandirian belajar yaitu: merancang belajar, memantau kemajuan belajar selama menerapkan rancangan, dan mengevaluasi hasil belajar secara lengkap. Kegiatan masing-masing tahapan menurut Schunk dan Zimmerman dirinci sebagai berikut:

1. Merancang belajar meliputi kegiatan: menganalisis tugas belajar, menetapkan tujuan belajar, dan merancang strategi belajar.

(6)

apakah saya kembali pada kebiasaan lama, apakah saya tetap memusatkan diri, dan apakah strategi yang telah direncanakan berjalan dengan baik.

3. Mengevaluasi hasil dilakukan melalui pertanyaan: apakah strategi telah dilaksanakan dengan baik (evaluasi proses), hasil belajar apa yang telah dicapai (evaluasi produk), dan sesuaikah strategi dengan jenis tugas belajar yang dihadapi.

Masing-masing individu mempunyai tingkat kemandirian belajar yang bervariasi, tetapi belum ada aturan yang baku untuk menentukan hal itu. Pendapat Tillmann dan Weiss (Ratnaningsih, 2007: 41) bahwa siswa dikatakan mandiri dalam belajar, jika yang bersangkutan memiliki kemampuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap, yang meningkatkan dan memfasilitasi belajar selanjutnya dan juga mengabstraksi pengetahuan yang diperoleh untuk dapat ditransfer pada situasi belajar yang lain. Masih menurut Tillmann dan Weiss (2000) siswa dikatakan mandiri dalam belajar pada tingkatan perilaku jika memilih, menyusun, dan menciptakan lingkungan sosial dan material secara aktif yang akan mengoptimalkan proses belajarnya; kemudian siswa dikatakan mandiri dalam belajar pada aktivitas metakognitif jika merencanakan, mengorganisasikan, dan mengevaluasi secara terus-menerus.

Sumarmo (2004) mengutarakan tentang indikator dalam kemandirian belajar sebagai berikut : 1) Inisiatif Belajar, 2) Mendiagnosa Kebutuhan Belajar, 3) Menetapkan Target dan Tujuan Belajar, 4) Memonitor, Mengatur dan Mengontrol, 5) Memandang Kesulitan Sebagai Tantangan, 6) Memanfaatkan dan Mencari Sumber yang relevan, 7) Memilih dan Menerapkan Strategi Belajar, 8) Mengevaluasi Proses dan Hasil Belajar, 9) Self Eficacy (konsep diri).

III. METODE PENELITIAN

Metode penelitian ini merupakan studi kepustakaan yang mengumpulkan seluruh bahan dari kepustakaan baik itu bersumber dari Buku maupun berupa jurnal – jurnal yang sesuai dengan penelitian ini.

IV. KESIMPULAN

Kemandirian adalah kemampuan melepaskan diri dari ketergantungan emosi pada orang lain terutama orangtua, serta mampu mengambil keputusan dan berkomitmen pada keputusan yang diambil, dan bertingkah laku sesuai nilai yang diyakini dan berlaku pada lingkungan.

Banyak model pembelajaran atau pendekatan pembelajaran matematika lain yang dapat diterapkan guru kepada siswa di kelas, ide atau cara-cara baru guru dalam menerapkan pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, enak dan menyenangkan dapat terlaksana sehingga pembelajaran matematika yang selama ini ditakuti siswa , dan sulit dipelajari tidak terjadi.

(7)

Dalam metode PBL, peserta didik diberikan suatu permasalahan. Kemudian secara berkelompok (sekitar lima hingga delapan orang), mereka akan berusaha untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut. Untuk mendapatkan solusi, mereka diharapkan secara aktif mencari informasi yang dibutuhkan dari berbagai sumber. Informasi dapat diperoleh dari bahan bacaan (literatur), narasumber, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Ali, Mohammad dan Mohammad Asrori. 2006. Pesikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Bumi Aksara.

Ariawan. 2016.Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Visual Thinking Disertai Aktivitas Quick On The Draw Terhadap Kemampuan Komunikasi MatematisSiswa.

Ariwan, Rezi. 2016. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran Visual Thinking Disertai Aktivitas Quick On The Draw Terhadap Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa. Suska Journal of Mathematics Education. Vol.2, No. 1, 2016, Hal. 20 – 30. Gijselaers, W, 1996, American Journal of Physics, 60 (7), 13-21

Hasan Basri. (1994). Remaja Berkualitas: Problematika Remaja dan Solusinya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Hung, Woei., Jonassen, David H., Liu, Rude. 2008. Problem Based Learning.

Muhson, Ali. 2009. Peningkatan Minat Belajar Dan Pemahaman Mahasiswa Melalui Penerapan Problem-Based Learning. Volume 39, Nomor 2, November 2009, hal. 171-182.

Pusdiklatkes, (2004). Bahan pembelajaran problem based learning (belajar berdasar masalah). Diambil pada tanggal 24 Desember 2012, dari

http://www.lrckesehatan.net/cdroms_ht m/pbl/pbl.htm

Ratnaningsih, N. (2007). Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik serta Kemandirian Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi. UPI Bandung.

Ratnaningsih, N. (2007). Pengaruh Pembelajaran Kontekstual terhadap Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif Matematik serta Kemandirian Belajar Siswa Sekolah Menengah Atas. Disertasi. UPI Bandung : Tidak Dipublikasikan.

Sholihah, Ika. 2010. Penerapan Model Pembelajaran Problem Based Learning (Pbl) Untuk Meningkatkan Partisipasi Dan Keaktifan Berdiskusi Siswa Dalam Pembelajaran Biologi Kelas Vii Smp Negeri 2 Surakarta Tahun Pelajaran 2008/2009.

Sumarmo, U. (2004). Kemandirian Belajar : Apa, Mengapa, dan Bagaima na Dikembangkan pada Peserta Didik. Laporan Penelitian Hibah Pascasarjana UPI. Bandung : Tidak dipublikasikan.

Surya, Edy. 2010. Visual Thinking dalam Memaksimalkan Pembelajaran Matematika Siswa Dapat Membangun Karakter Bangsa.

Surya, Edy. 2011. Visual Thinking And Mathematical Problem Solving Of The Nation Character Development. Department of Mathematics Education, Yogyakarta State UniversityYogyakarta, July 21‐23.

Referensi

Dokumen terkait

Dataran tinggi mungkin terjadi karena berbagai alasan, seperti kehilangan minat dan kurangnya motivasi, kegagalan untuk memahami konsep yang jelas tujuan menjadi tidak

program pemerintah kepada publik sesuai arahan Presiden;. melaksanakan diseminasi dan edukasi terkait

Pada kampus II Universitas Muhammadiyah Purwokerto apabila terjadi hujan dengan intensitas yang tinggi di beberapa tidak mampu menampung limpasan hujan. Hal

Metode - metode perhitungan di dalam menghitung peramalan yang digunakan adalah Metode Single Moving Average ( Mean ), Single Moving Average ( 3 ), Double Moving Average ( 3X3

Yang telah melimpahkan segala nikmat-Nya pada kita, sehingga kita dapat menjalankan aktifitas sehari-hari dengan baik. Sehubungan akan diadakannya ”Role play” , yang

sederhana dan saling keterkaitan, serta mampu menggunakan metode ilmiah dan.. bersikap ilmiah dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapinya dengan lebih

[r]

 Pembentukan Satuan Tugas Sapu Bersih Pungutan Liar (Satgas Saber Pungli) Kabupaten Banjarnegara sesuai dengan Keputusan Bupati Banjarnegara Nomor: 700/1290