BAB 68
PERIHAL SANDANG.
§ 791. Pendahuluan
Sebagaimana kita maklum rakjat jang bertempat tinggal dinegara2
jang bermusim dingin mempunjai kebutuhan sandang lebih besar dan lebih beraneka matjamnja daripada rakjat jang bertempat tinggal dinegara2
jang berhawa panas, baik subtropis maupun tropis, seperti negara Indonesia inf.
Keadaan ini mudah dapat difahami.
Dinegaranegara jang mengenal musim dingin, orang menganggap pakaian jang tebal dan baik keadaannja sebagai sjarat mutlak untuk dapat hidup dengan lajak dan sehat disamping kebutuhannja akan bahan makanan jang tjukup banjak dan. tjukup mengandung zatzat jang diper lukan buat dapat bertahan terhadap hawa dingin
Ditanah air kita sendiri, djuga dapat dilihat dengan djelas perbe daan akan kebutuhan pakaian bagi penduduk jang bertempat tinggal ditempattempat hawa dingin seperti Tjipanas, djika dibanding dengan rakjat kita jang berdiam ditempattempat hawa panas seperti Djakarta dan lainlainnja. jang berdiam di Tjipanas membutuhkan pakaian jang lebih tebal daripada mereka jang tinggal di Djakarta.
Disamping itu, tingkat ketjerdasan dan kemadjuan seseorang turut pula menentukan besarketjilnja kebutuhan akan sandang. Hal inipun mudah difahami.
Seorang pedjabat tinggi atau seorang jang mempunjai kedudukan sosial jang baik, dalam hidupnja seharihari mesti menjesuaikan dirinja dengan tempatnja dalam masjarakat. Tugasnja seharihari mengharus kannja untuk berbuat demikian. Luasnja pergaulan menentukan kebu tuhannja akan sandang lebih besar daripada seorang jang hidup didesa sebagai petaniketjil atau buruhketjil.
Dan memang hukum alam mentjiptakan keadaan jang demikian dinegara manapun djuga, dan dimasjarakat jang bagaimana tjorak rldeologi,nja.
Adalah mendjadi kehendak alam, bahwa setiap orang berusaha dengan sekeras dan sekuat tenaga untuk mentjukupi kebutuhannja akan sandang menurut kemampuan jang ada padanja. Dalam ichtiar. mentju kupi kebutuhannja itu orang tidaklah merasa puas sebelum kebutuhan minimum tertjapail, ja'ni minimum jang demikian sehingga sampai pada taraf „hidup lajak dalam hal, sandang”.
Sandang jang lajak, te.rlepas daripada djenis dan kwalitetnja, hares
dapat memenuhi segala matjam keperluan jang bertalian dengan hidup seseorang. Kemudian untuk hidup sehat, adalah diantara lainnja suatu sjarat mutlak sebagai ukuran untuk „sandang jang lajak” itu. Sjarat2
Bertalian dengan itu dapat dimengerti, bahwa tiap negara berusaha dengan berbagai tjara dan kesungguhan hati untuk dapat mentjukupi kebutuhan rakjatnja dalam hal sandang, Negara Indonesia tidak ter ketjualikan.
Sungguh satu hal jang perlu menclapat sambutan jang seimbang, bahwa Kabinet Kerdja dalam programnja jang pertama mentjantumkan persoalan Sandang—Pangan. Kalau kita lebih meneliti memang san dang merupaka,n persoalan jang pouting sekali untuk menentukan apa penduduk setiap tahun bertambah dengan bilangan djuta. Walaupun angka resmi mengenal hal ini belum ada, namun kita wadjib memper
Amanat penderitaan Rakjat memberi komando kepada kita sekalian. hidupnja mendjadi petaniketjil, buruhtani dan lain'. Pada umumnja mereka hanja memiliki 1—2 stel pakaian, tak bersepatu/bersandal. Hasrat untuk membeli pakaian baru pada hari2 mendjelang Lebaran/
Tahun Baru, sesuai dengan kebiasaan pada masa2 jang lain tetap mereka
miliki. Tetapi dengan tak seimbang hasil pendapat mereka dengan ke
bahan bakunja, ja'ni benang dan kapas, sebagian besar masih harus diimpor. Keadaan jang sematjam ini, jakni susunan ekonomi jang sangat tergantung dart luar negeri, adalah merupakan warisan susunan ekonomi kolanial jang ditanam oleh Imperialis Belanda di Tanah Air kita ber abadabad lamanja.
Kalau kita lihat kebelakang pada djaman bahari, terutama pada masa2 djajanja bangsa kita sebelum datangnja pendjadjah di Tanah Air
kita, tidak demikianlah keadaannja. Dimanamana Leluhur Bangsa Indonesia telah dapat menghasilkan pakaian untuk kebutuhannja dengan kekuatan tenaga sendiri. Mereka sanggup berdiri sendiri dan tidak perlu mengimpor textil dari negara lain. Sungguhpun djenis dan kwalitetnja sederhana, jang memang sesuai dengan taraf kebudajaan pada djaman itu, tetapi, bahan baku maupun pembuatannja dapat dikerdjakan sendiri. Djadi pada djaman itu dalam kebutuhan pakaian/textil Indonesia telah dapat selfsupporting. Peninggalan djaman gemilang itu hingga kini masih dapat kita djumpai dibeiberapa daerah, dimana Rakjat masih terus karena kekurangan bahan baku, kurangnja tenaga listrik dan tenaga ahli. Hasil produksi keseluruhan.nja baru bisa mentjukupi 20% dari seluruh produksi jang kita butuhkan jang sebenarnja dapat dili!pat gan dakan sampai tiga empat kali, djika potensi alat2 itu dapat seluruhnja
direaliseer. Ini berarti, bahwa dengan taraf produksi jang sekarang, 80% harus diimpor jang berarti pula pemakaian devisen beratusratus djuta rupiah. Dan jang 20% tersebut diataspun bahan bakunja sebagian besar masih harus diimpor,
Agar Indonesia dalam keadaan internasional jang sebagaimanapun djuga, tidak lagi tergantung kepada Iuar negeri, tetapi dapat normal memenuhi kebutuhan sendinri dan lagi untuk menghemat devisen jang banjak jang dapat dipergunakan untuk pembangunan Nasional di bidanga lain dan djuga sebagai salah satu usaha untuk mengisi kemer
dekaan kita maka perlu sekali diusahakan selfsupporting dalam bidang textil. Sebagai fakta dapat kiranja ditjatat, bahwa ahir pada waktu pe rang dunia ke II dan waktu ropolusi kemerdekaan kita di Indonesia, terasa betul tidak adanja produksi dalam Negeri dan tergantungnja Indonesia dari impor bahan Pakaian.
Dengan memperhatikan hale tsb. diatas, dapatlah disimpulkan bah
wa pokok2 pikiran jang dapat diidjadikan landasan untuk menentukan.
projek2 pokok (mainproject) dibidang Sandang adalah sebagai berikut:
1. tudjuannja adalah selfsupporting, terutama dalam hal bahan2 baku
dan keperluan alatalat lain.
2. djenis pakaian/textil adalah sederhana tetapi tjotjok dengan selera Rakjat banjak dan memenuhi sjaratsjarat kesehatan.
3. dapat terbeli oleh kekuatan dajabeli Rakjat terbanjak.
§ 793. Penentuan hatuan Pembangunan Semesta Berentjana disusun setjara sederhana tidak muluka dan =dab dimengerti oleh alam pikiran jang sederhana, baik
dalam susunan kata2nja maupun tjara mengutarakan buah pikirannja.
Tjara pembangunan jang sedemikian itu banjak memberikan keuntungan, karena selain daripada keuntungan dibidang pembangunannja sendiri, hal ini pula menjangkut segi° sosiologis dan politis :
a. Landreform akan membawa kita kepada suatu konstelasi harmonis dalam komposisi masjarakat. Baik pembagian tanah, maupun.pe makaian tanah (landuse). akan lebih menundjukkan struktur ter atur. Pembukaan tanah dPdaerahdaerah jang baru jang tadinja belum mengenal utilisasi dan exploitasi, akan mengakibatkan ter susunnja masjarakat baru dengan lapisan2 jang mempunjai biding'
living bukan life sematamata (penghidupan dan kehidupan). Ke harmonian society jang serupa itu lebih dapat disusun dan diatur. Tehnis daerah sedemikian dapat pula ditatur, sehingga ada tanah jang dipakai,ada tanah jang ditjadangkan dengan hutan2 orologi,
hutan penghasil, debitdebit sungai2 lebih terdjamin, keseluruhannja
merupakan kekajaan nasional jang terpelihara. Pemindahan pen duduk dari daerah padat kedaerah kosong, tidak sadja membawa arti transmigrasi an sich, namun membawa perkembamgan pera saan nasional dan sangat penting bagi keperluan pertahanan, per ubahan ethnologis dan terisinja bangunan ekonomi : kampung. akan
mendjelma disusuli kota2 serta perhubungan dari lalulintas tidak
ketinggalan. Dengan demikian terang kita Iihat adanja .wellmanaged utilization jang mengakibatkan hasit tidak semata2 meerproduksi an
sich namun membawakan perkembangan2 dari segisegi lainnja
dengan keseimbangan dan pentbulatan dalam susunan masjarakat nja.
b. pembukaan lapangan kerdja baru.
Dengan adanja usaha penananian bahan2 baku seperti! kapas, rami
untuk rayon akan terbukalah kesempatan bagi Rakjat didesadesa, jang tidak mempunjai matapentjaharian tertentu, untuk mendapat kan lapangan kerdja. Hal ini akan membantu usaha Pemerintah dalam mengurangi pengangguran.
Demikianpun pendirian pabrik2 textil tidak sedikit akan mengurangi
penjakit pengangguran dan disamping itu mendorong Rakjat untuk tinggal dirumah2 dikomplex pabrik2 itu, sehingga akibatnja kota2 bare
selalu sulit pemetjahannja. Dengan berpindahnja Rakjat dari satu: pulau kepulau lain, maka rasa solider sebagai satu Bangsa lebih terasa.
c. Penghidupan kembali warisan pusaka nenek mojang.
Dari sedjarah kita dapat kita ketahui, bahwa ada beberapa daerah jang memiliki kebiasaan jang baik. Misalnja : ukuran terpeladjar/ terdidik ibagi seorang gadis ialah apabila to telah dapat menenun kainnja sendki disamping peladjaran jang lain. Kepribadian dalarn didikan Bangsa kita sematjam ini adalah sungguh sangat baik. Alangkah baiknja, apabila hal ini dapat dipulihkan kembali.
Menurut penjelidikan setjara ilmijah ternjata, bahwa rami dapat ditanam dengan mudah di Indonesia.
Tanah di Sumatera sangat tjotjok untuk menanam rami.
Dengan adanja usaha penanaman rami disana setjara besarbesaran taraf hidup Rakjat disana akan dapat lebih dinaikkan.
Disamping itu dengan berdirinja pabrik2 textil pengolah rami itu,
akan lebih mudah didjadikan Bajapenarik oleh Pemerintah buat memindahkan penduduk jang terlalu padat jang ada di Djawa. Hal inipun dengan sendirinja akan lebih menanam perasan mereka sebagai satu Bangsa.
C. Rayon
Di Indonesia terdapat beberapa daerah misalnja di Kalimantan, Sulawesi, Sumatera Utara dan lainlain jang hutannja mengandung pohon2 pinus dan djenis kaju2 lainnja jang tjotjok buat bahan rayon.
Pohon itu hingga kini tidak diexploitir sebagai mina mestinja. Paling banjak pohon2 itu ditebang dan didjadikan bahan kaju bakar.
Disamping malapetaka jang hebat, pohona djenis itu akan lebih
berharga, apabila dikerdjakan untuk keperluan Sandang, pembang unanpembangunan bidang lain.
Dengan adanja bahan2 seperti diuraikan diatas maka jang paling
tjepat dapat dikerdjakan dewasa ini ialah mendirikan pabrik Rayon, dengan kapasitet diantara 5 sampai 10.000 ton setahun.
Mengingat bahwa untuk produksi nylon dan serat sintetis lainnja memerlukan lebih dahulu adanja industri2 kimia jang sudah madju,
maka bahanibahan ini belum dapat dipertimbangkan mendjadi main project pada pola pembangunan pertama in.
Sutra dan serat alam (nanas, Manilahennep) dianggap suatu bahan untuk pakaian jang tidak merupakan bahan textil utama, tetapi lebih merupakan bahan mewah, sedang pengetahuan tentang per industriannja belum raendalam, maka bahan2 inipun helm dapat
dipertimbangkan mendjadi mainproject pada pembangunan pertama ini, sekalipun dianggap perlu untuk penjelildikan lebih landjut. D. Kulit.
Sesudah tertjapainja kemerdekaan bangsa Indonesia, maka ternjata bahwa 'Rakjat umumnja memerlukan sepatu, sandal, koper, dan
barang2 lain dart kulit, maka itu industri kulit dipandang perlu
untuk didjadikan main project dan perlu diandjurkan memperluas peternakan untuk keperluan kulit disamping keperluan daging untuk Nngan.
E. Bahan Pembungkus
Berhubung pada Sandang ditegaskan pula membahas bahan serat untuk keperluan pembungkus, maka perlu menindjau dan mamba has kemungkinan2 industri pembungkus (karung) mendjadi main
project.
Karena keharusan membungkus bennatjaur.matjam bahan jang perlu diangkat dari satu daerah kedaerah lain dan selainnja itu untuk keperluan bahan2 expor adalah pada tempatnja untuk menundjuk
industri bahan pembungkus ini mendjadi main project.
Tentang penanaman bahan rosella jang telah dikerdjakan oleh pabrik karung Delanggu di Djawa Tengah dan pabrik Ngagel di Djawa Tilmur sangat perlu diintensivir dan diperluas.
Mengenai bahan2 lainnja seperti Manilahennep, jute dan sisal perlu
§ 795. Pertimbangan wituk perkenrbangan selandjutnja
f. serat2 alam, serat nanas, Manila hennep.
I. 2. Industri Tekstil : kapas, rami, rayon terdiri atas :
a. penanaman
b. pengolahan niendjadi serat c. pemintalan
d. pertenunan/peradjutan
e.
finishing : a. l. pengelantangan, pengetjatan,,dan pembatikan.
c. pengolahan, selandjutnja untuk mendjadi kulit konsumsi.
d. pembuatan barang2 dari kulit seperti sepatu,
kopor, tas dan bahan2 kulit lainnja.
III. Bahan2 untuk karung a.1. ialah : tosella, manila hennep,
Saran saran
1. Berhubung dengan dewasa ini ,selfsupporting dalam hal tekstil belum tertjapai, maka Indonesia masih memerlukan impor. Untuk memperketjil djumlah devisen jang dikeluarkan, maka dipandang perlu untuk menjarankan :
a. mengutamakan impor bahan2 benang dan kapas untuk meme
nuhi kebutuhan2 seluruhnja dari Industri pemintalan dan per
tenunan jang ada, sehingga industri iniiberdjalan dengan kapa sitet setinggitingginja.
b. mengutarnakan perluasan dari Industri tersebut, sehingga baik kebutuhan utama tekstil dari pertenunan maupun kebutuhan benang dari pemintalan untuk pertenunan dipenuhi.
c. dengan madjunja industri2 tersebut diatas hendaknja impor
bahan djadi berangsur2 dikurangi seimbang dengan kemadjuan
produksi dalam negeri.
2. Adalah baik untuk mengerdjakan kapas setjara besarbesaran di antara lain di Timor, Flores, Sumbawa, Sumba, Lombok, Djawa Timur, Djawa Tengah dan Palembang, serta penanaman rami di Sumatera Timur. Dalam usaha ini baik djuga dipikirkan/diselidiki untuk daerah2 lain jang keadaannja sesuai dengan kultur itu.
Saran ini mungkin menjalahi perhitungan jang strict economis, tetapi disamping itu perlu djuga dipertimbangkan baikbaik faktor2
b. penanaman radii dan pembersiban serat oleh rakjat serta pe mintalan dan penenunan sebagai keradjinan rakjat.
c. penanaman setjara besarbesaran pinus dan pohon2 lainnja
ditanah kosong untuk kemudian hari mendjadi bahan untuk keperluan industri2 kertas rayon, korekapi dan sebagainja.