BAB I PENDAHULUAN. manusia yang lain. Pada kehidupan bermasyarakat itu telah ada norma-norma

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sudah menjadi kodratnya manusia itu harus hidup berdampingan dengan manusia yang lain. Pada kehidupan bermasyarakat itu telah ada norma-norma pergaulan hidup yang berkembang sejak zaman dahulu kala sampai sekarang ini. Norma-norma pergaulan hidup itu tercipta atau diciptakan sedemikian rupa untuk mengatur tata tertib masyarakat, mengatur hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, antara individu dengan penguasa dan lain-lainnya yang ada kaitannya dengan kehidupan manusia dalam bermasyarakat.

Ketertiban dalam masyarakat diciptakan bersama-sama oleh berbagai lembaga secara bersama-sama, seperti hukum dan tradisi, oleh karena itu dalam masyarakat juga dijumpai berbagai macam norma yang masing-masing memberikan sahamnya dalam menciptkan ketertiban itu.1 Hukum menjadi aspek dari kebudayaan, seperti halnya dengan agama, kesusilaan, adat istiadat, dan kebiasaan, yang masing-masing menjadi anasir kebudayaan kita.2

Pada kehidupan bermasyarakat itu sering terdapat adanya penyimpangan-penyimpangan terhadap norma-norma pergaulan hidup masyarakat terutama yang dikenal dengan nama norma hukum. Penyimpangan norma hukum di masyarakat disebut dengan kejahatan. Sebagai salah satu bentuk penyimpangan dari norma pergaulan hidup, kejahatan merupakan masalah sosial yaitu masalah yang timbul

1

Satjipto Rahardjo, Ilmu Hukum, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, halaman 13.

2

Utrecht / Saleh Djindang, Pengantar Dalam Hukum Indonesia, PT. Ichtiar Baru, Jakarta, 1989, halaman 3.

(2)

di tengah-tengah masyarakat dimana pelaku dan korbannya adalah anggota masyarakat juga. Kejahatan yang merupakan suatu bentuk dari timbulnya gejala sosial itu tidak berdiri sendiri, melainkan ada hubungan dengan berbagai perkembangan baik kehidupan sosial, ekonomi, hukum, maupun teknologi. Kejahatan ini juga ditimbulkan dari perkembangan-perkembangan lain sebagai akibat sampingan yang negatif dari setiap kemajuan atau perkembangan sosial di masyarakat.

Saat ini, dunia telah mengalami perkembangan yang sangat pesat dan modernisasi. Perkembangan dan modernisasi tersebut terutama dapat dirasakan pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, karena perkembangan tersebut juga telah memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap perkembangan pertumbuhan perekonomian.

Satjipto Rahardjo menulis bahwa modernisasi menekankan pada rasio, penampilan manusia secara individual, kebebasan manusia, orientasi kepada dunia serta penggunaan rasio sebagai alat untuk memecahkan berbagai masalah.3 Sutan Takdir Alisyahbana dalam bukunya “ Hukum dan Proses Modernisasi di Indonesia “ menulis antara lain bahwa proses modernisasi menyangkut perubahan kelakuan dan nilai-nilai kebudayaan yang sejalan dengan perubahan sikap hidup dan cara berpikir manusia. Menurut Sutan Takdir, kebudayaan modern bersifat progresif dan ditandai oleh diterapkannya nilai teori dan nilai ekonomi.4

3

Nanda Agung Dewantara, Kemampuan Hukum Pidana Dalam Menanggulangi Kejahatan Kejahatan Baru yang Berkembang Dalam Masyarakat, Liberty, Yogyakarta, 1988,

(3)

Pada dasarnya pertumbuhan perekonomian yang terjadi belakangan ini mengalami perkembangan yang tidak seimbang. Hal ini dapat di lihat dimana pertumbuhan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan taraf hidup masyarakat sehingga jumlah masyarakat miskin semakin bertambah di Indonesia.

Diketahui bahwa keadaan masyarakat yang berada dibawah garis kemiskinan tersebut menyebabkan sangat rendahnya tingkat daya beli masyarakat. Hal ini berdampak pada ketidakmampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, yang kemudian akan dapat menjadi penyebab atau latar belakang dari setiap kejahatan atau tindak pidana dalam masyarakat, dimana salah satu bentuknya adalah pencurian.

Kejahatan adalah suatu masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, dimana setiap masalah sosial dapat berbeda-beda dari setiap masyarakat, tergantung dari kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat tersebut. Adapun faktor lain yang menjadi penyebab dari terjadinya masalah sosial tersebut adalah berasal dari faktor lingkungan, sifat dari masyarakat tersebut, serta keadaan dari setiap orang yang menjadi anggota penduduk dari masyarakat tersebut.

Kejahatan adalah suatu fenomena yang hidup dan berkembang dalam masyarakat. Telah diketahui ada berbagai macam faktor yang dapat menjadi latar belakang dari suatu kejahatan, namun perlu dipahami bahwa kejahatan sebagai salah satu bentuk tingkah laku masyarakat sebagai fenomena mengalami perkembangan yang sejalan dengan perkembangan dari masyarakat tersebut. Hal ini berarti bahwa dengan semakin berkembangnya keadaan masyarakat tersebut,

(4)

maka akan semakin berkembang pula bentuk dan jumlah kejahatan yang terjadi di dalam masyarakat.

Terkait dengan hal tersebut di atas, maka dapat kita ketahui bahwa perkembangan kejahatan adalah merupakan suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri lagi, baik pada masyarakat sederhana maupun modern.

Salah satu jenis kejahatan yang semakin berkembang baik dari segi frekuensi maupun dari segi cara melakukannya adalah kejahatan pencurian. Telah dijelaskan di atas bahwa pencurian terjadi disebabkan oleh banyaknya kalangan masyarakat yang tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya karena daya beli yang sangat rendah.

Diluar Provinsi Sumatera Utara sendiri banyak sekali kasus pencurian, namun sangatlah tidak memiliki hati nurani karena kasusnya sampai dilaporkan ke Polisi dan dilimpahkan ke Pengadilan. Memang pencurian tetaplah bentuk kejahatan, akan tetapi alangkah baiknya jika disesuaikan kejahatan pencuriannya apakah memang pantas untuk disidang di Pengadilan atau masih bisa diselesaikan secara musyawarah kekeluargaan.

Bentuk kasusnya seperti, di Kediri Provinsi Jawa Timur, Basar Suyanto dan Kholil yang mencuri satu buah semangka senilai Rp. 30.000,- (tiga puluh ribu rupiah) yang diputus bersalah dengan hukuman 15 hari penjara atas tuntutan sebelumnya hukuman penjara selama dua bulan. Kasus lain seperti di Banyumas

(5)

Provinsi Jawa Tengah, Minah yang mencuri tiga biji kakao yang diputus bersalah dan diberi sanksi berupa hukuman penjara satu bulan 15 hari.5

Sesuai dengan pengaturan yang terdapat dalam hukum pidana Indonesia, bahwa pencurian pada waktu malam hari adalah pencurian yang tergolong dalam pencurian berat, hal ini dikarenakan pada waktu malam hari adalah waktu yang Masih banyak contoh kasus lainnya yang sebenarnya masih bisa diselesaikan melalui jalur kekeluargaan seperti kasus AAL di Provinsi Sulawesi Tenggara yang mencuri sepasang sandal jepit, dan kasus lainnya seperti anak yang mencuri sebuah voucher pulsa senilai Rp. 10.000,- (sepuluh ribu rupiah) serta pembantu yang mencuri 6 buah piring milik majikannya. Semua kejadian ini berbanding terbalik dengan kasus para koruptor yang hingga kini belum tuntas. Memang dengan adanya sanksi ini diharapkan memberi efek jera kepada pelaku mengingat kasus pencurian juga merugikan orang lain.

Saat ini kejahatan pencurian memang sangat marak terjadi, baik yang terjadi di pinggir jalan, di perumahan, bahkan di dalam gedung perkantoran. Pencurian ini sendiri dapat dilakukan pada siang hari, malam hari, dengan kekerasan, tidak dengan kekerasan, ataupun terhadap keluarganya sendiri. Sanksi yang dijatuhi pun berbeda atas jenis pencurian yang berbeda pula. Salah satu contoh kasus Pencurian dengan Pemberatan Pasal 363 KUHP adalah kasus dengan Terdakwa Andy Azwar. Hal ini menimbulkan pertanyaan yang berkembang dalam masyarakat, bahwa apakah yang menjadi unsur-unsur pembeda antara jenis tindak pidana pencurian yang satu dengan yang lain ?.

5

http://regional.kompas.com/read/2009/12/16/13074643/pencuri.semangka.divonis.15.ha ri.penjara

(6)

umumnya digunakan oleh setiap orang untuk beristirahat, sehingga pada saat itu pemilik dari barang tersebut tidak dapat melakukan perlindungan atau penjagaan terhadap harta benda miliknya, oleh sebab itulah pencurian pada malam hari digolongkan sebagai pencurian dengan pemberatan, dan berarti dalam penjatuhan hukuman akan mendapatkan saksi yang lebih berat, sehingga muncul pertanyaan apakah yang menjadi dasar pertimbangan bagi hakim kelak ketika akan menjatuhkan putusan ?.

Hal inilah yang menjadi latar belakang dari penulisan skripsi yang diberi judul : “ANALISIS PUTUSAN PENGADILAN NEGERI MEDAN NO. 830/

PID.B/ 2010/ PN. MDN. TERHADAP PERKARA KASUS PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN PASAL 363 KUHP”.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan dari apa yang telah dipaparkan dalam bagian pendahuluan pada penulisan skripsi ini, dan juga untuk memberikan pembatasan dari ruang lingkup pembahasan yang kemudian akan diangkat sebagai bahan materi dalam skripsi ini, maka dapat dirumuskan beberapa pokok permasalahan yang akan diangkat, yaitu sebagai berikut :

1. Mengapa tindak pidana dalam Putusan Pengadilan Negeri Medan Nomor 830/ Pid.B/ 2010/ PN. Mdn. dikategorikan tindak pidana pencurian dengan pemberatan ?

(7)

2. Apa yang menjadi dasar pertimbangan pada putusan Hakim dalam menjatuhkan sanksi terhadap Terdakwa dengan hukuman 1 tahun 6 bulan pada kasus tindak pidana pencurian dengan pemberatan ini ?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Pada dasarnya tujuan adalah merupakan suatu alasan penting bagi kita dalam melakukan suatu pekerjaan, oleh sebab itulah perlu dirumuskan apakah yang menjadi tujuan dari penulisan dan penyelesaian skripsi ini. Adapun yang menjadi tujuan penulisan dalam skripsi ini adalah:

a. Untuk mengetahui secara teori perbedaan unsur-unsur kejahatan jenis tindak pidana pencurian, yaitu unsur-unsur tindak pidana pencurian biasa dengan unsur-unsur tindak pidana pencurian dengan pemberatan. b. Untuk mengetahui dasar pertimbangan bagi jaksa dalam membuat

tuntutan dan dasar pertimbangan bagi hakim dalam membuat putusan. 2. Manfaat Penelitian

Hasil dari pelaksanaan penelitian sudah selayaknya akan dapat bermanfaat tidak hanya bagi penulis saja, tetapi juga dapat bermanfaat pula bagi semua pihak yang terkait dalam penelitian skripsi ini, untuk itu saya memaparkan tentang hal-hal yang menurut saya akan memberikan manfaat dari hasil penelitian dan penulisan skripsi ini, yaitu antara lain :

(8)

a. Manfaat Teoritis

Diharapkan agar kiranya hasil dari penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran di bidang hukum, khususnya dalam disiplin ilmu hukum pidana mengenai kejahatan pencurian yang dilakukan pada waktu malam hari.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi seluruh pengambil kebijakan dan para pelaksana hukum di bidang hukum pidana, khususnya mengenai kejahatan pencurian dengan pemberatan yang dilakukan pada malam hari, dengan mengetahui unsur-unsur tindak pidana pencurian dengan pemberatan serta dasar pertimbangan bagi hakim dalam menjatuhkan putusan.

D. Keaslian Penelitian

Proses penulisan skripsi yang berjudul “Analisis Putusan Pengadilan Negeri Medan No. 830/ Pid.B/ 2010/ PN.Mdn. terhadap perkara kasus Pencurian dengan Pemberatan Pasal 363 KUHP” ini, sejauh pengamatan dan pengetahuan penulis tentang materi yang diangkat pada skripsi ini, belum ada penulis lain yang mengemukakannya, sehingga saya tertarik untuk mengangkat judul tersebut di atas serta pokok permasalahannya sebagai judul dan pembahasan yang akan diangkat dan dikembangkan dalam skripsi ini. Apabila di kemudian hari ada judul yang sama sebelum penulisan ini, saya bertanggung jawab sepenuhnya.

(9)

E. Tinjauan Kepusakaan 1. Pengertian Kejahatan

Kejahatan merupakan suatu istilah yang tidak asing lagi dalam kehidupan masyarakat. Pada dasarnya istilah kejahatan ini diberikan kepada suatu jenis perbuatan atau tingkah laku manusia tertentu yang dapat dinilai sebagai perbuatan jahat.

Kejahatan ditinjau dari sudut yuridis, merupakan jenis-jenis kejahatan yang sudah definitif atau menimbulkan akibat hukum karena unsur deliknya. Maksudnya telah ditentukan secara tertentu dalam suatu ketentuan Undang-Undang bahwa perbuatan jenis-jenis tertentu dianggap sebagai perbuatan jahat, dengan kata lain dalam norma hukum tertentu dalam suatu masyarakat telah ditetapan berbagai jenis perbuatan yang merupakan kejahatan.6

a. Paul Mudikdo Muliono menyatakan bahwa kejahatan adalah perbuatan manusia yang merupakan pelanggaran norma, yang dirasa merugikan, menjengkelkan, sehingga tidak boleh dibiarkan.

Pengertian kejahatan dalam hukum pidana menganut asas legalitas, maksudnya kejahatan pidana harus ditentukan oleh suatu aturan Undang-Undang yang definitif. Kejahatan adalah delik hukum, dan pelanggaran merupakan delik Undang-Undang. Menurut beberapa Ahli Hukum, pengertian kejahatan adalah :

7

b. W. A. Bonger menyatakan bahwa kejahatan adalah merupakan perbuatan yang immoral dan asosial yang tidak dikehendaki oleh masyarakat dan harus dihukum oleh masyarakat.8

6

Chainur Arrasjid, Suatu Pemikiran tentang Psikologi Kriminil, Kelompok Studi Hukum dan Masyarakat Fakultas Hukum USU, Medan, 1998 halaman 28.

7

(10)

c. Utrecht mengemukakan bahwa kejahatan adalah perbuatan karena sifatnya bertentangan dengan ketertiban hukum, sedangkan pelanggaran adalah perbuatan yang oleh undang-undang dicap sebagai suatu perbuatan yang bertentangan dengan ketertiban hukum.9

Kejahatan ditinjau dari segi psikologis adalah merupakan manifestasi kejiwaan yang terungkap pada tingkah laku manusia bertentangan dengan norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat. Kejahatan dari segi psikologis menitikberatkan sejauh manakah pengaruh kejiwaan yang dapat menimbulkan tingkah keabnormalan individu dalam tingkah lakunya yang dapat digolongkan perbuatan jahat sesuai dengan penyimpangan terhadap norma-norma yang berlaku dalam suatu masyarakat.10

2. Pengertian Pencurian

Menurut Pasal 362 KUHP, pencurian berarti mengambil barang, yang sama sekali atau sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk memiliki barang itu dengan melawan hukum. Apabila barang yang diambil itu sudah ada dalam kekuasaannya atau dipercayakan kepadanya, maka ini tidak dapat digolongkan ke dalam pencurian, tetapi masuk kepada penggelapan.

Pencurian itu sendiri terbagi atas beberapa jenis yaitu :11 a. Pencurian biasa

b. Pencurian dengan pemberatan

8 Ibid. 9 Ibid, halaman 29. 10 Ibid, halaman 31.

(11)

c. Pencurian ringan

d. Pencurian dengan kekerasan e. Pencurian di lingkungan keluarga.

Adapun dari rumusan ketentuan pidana yang diatur dalam Pasal 364 KUHP dapat diketahui bahwa yang oleh undang-undang disebut pencurian ringan itu dapat berupa :12

a. Tindak pidana pencurian dalam bentuk pokok;

b. Tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama; atau

c. Tindak pidana pencurian, yang untuk mengusahakan jalan masuk ke tempat kejahatan atau untuk mencapai benda yang hendak diambilnya, orang yang bersalah telah melakukan pembongkaran, perusakan, pemanjatan atau telah memakai kunci palsu, perintah palsu, atau seragam palsu.

Dengan syarat :

a. Tidak dilakukan di dalam sebuah tempat kediaman

b. Tidak dilakukan di atas sebuah pekarangan tertutup yang diatasnya terdapat sebuah tempat kediaman

c. Nilai dari benda yang dicuri itu tidak lebih dari du ratus lima pulh rupiah.

Terhadap pencurian dengan kekerasan Pasal 365 KUHP, dapat dimasukkan dalam pengertian kekerasan yakni setiap pemakaian tenaga badan

12

P.A.F. Lamintang, Delik-Delik Khusus Kejahatan Terhadap Harta Kekayaan, Sinar Grafika, Jakarta 2009, halaman 54.

(12)

yang tidak terlalu ringan. Kekerasan tersebut tidak perlu merupakan sarana atau cara untuk melakukan pencurian, melainkan cukup jika kekerasan tersebut terjadi sebelum, selama, dan sesudah pencurian itu dilakukan dengan maksud seperti yang dikatakan di dalam Pasal 365 ayat (1) KUHP yakni :13

a. Untuk mempersiapkan atau untuk memudahkan pencurian yang akan dilakukan;

b. Jika kejahatan yang mereka lakukan itu diketahui pada waktu sedang dilakukan, untuk memungkinkan dirinya sendiri atau lain-lain peserta kajahatan dapat melarikan diri;

c. Untuk menjamin tetap mereka kuasai benda yang telah mereka curi.

3. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana

Seseorang yang telah melakukan tindak pidana akan dapat dihukum apabila pelaku sanggup mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah diperbuatnya. Masalah pertanggungjawaban erat kaitannya dengan kesalahan, oleh karena adanya asas pertanggungjawaban yang menyatakan dengan tegas Geen Straft Zonder Schuld (Tidak dipidana tanpa ada kesalahan) untuk menentukan apakah seorang pelaku tindak pidana dapat dimintai pertanggungjawaban dalam hukum pidana, akan dilihat apakah orang tersebut pada saat melakukan tindak pidana mempunyai kesalahan.

Pertanggungjawaban pidana menjurus kepada pemidanaan pelaku, jika telah melakukan suatu tindak pidana dan memenuhi unsur-unsur yang telah

(13)

ditentukan oleh undang-undang. Dilihat dari segi terjadinya perbuatan yang terlarang, ia akan diminta pertanggungjawaban apabila perbuatan tersebut melanggar hukum. Dilihat dari sudut kemampuan bertanggungjawab maka hanya orang yang mampu bertanggungjawab yang dapat diminta pertanggungjawaban.14

a. Keadaan jiwanya

Pada umumnya seseorang dikatakan mampu bertanggungjawab dapat dilihat dari beberapa hal yaitu :

b. Kemampuan jiwanya

Hal tersebut terdapat dalam Pasal 44 KUHP, yang mana disebutkan bahwa menurut pasal ini orang yang tidak dapat dihukum adalah orang yang tidak dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya karena :15

a. Kurang sempurna akalnya; b. Sakit berubah akalnya.

Apabila ternyata perbuatan itu memang tidak dapat dipertanggungjawabkan kepada pelaku disebabkan oleh kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal maka dapatlah hakim memerintahkan dia untuk dimasukkan ke rumah sakit jiwa.

Menurut sejarahnya yaitu melalui M.v.T. (Memori van Toelichting) dalam penjelasannya mengenai alasan penghapus pidana, mengemukakan apa yang disebut “alasan-alasan tidak dapat dipertanggungjwabkannya seseorang atau

14

http://ilmucomputer2.blogspot.com/2009/10/pengertian-pertanggungjawaban.html.

15

(14)

alasan tidak dapat dipidananya seseorang”. Hal ini berdasarkan pada dua alasan, yaitu :16

a. Alasan tidak dapat dipertanggungjwabkannya seseorang yang terletak pada diri orang tersebut, dan

b. Alasan tidak dapat dipertanggungjawabkannya seseorang yang terletak di luar diri orang tersebut.

Dari keterangan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian pertanggungjawaban pidana yaitu kemampuan seseorang untuk menerima resiko dari perbuatan yang diperbuatnya sesuai dengan undang-undang.

4. Pengertian Hukuman

Hukuman adalah sanksi fisik maupun psikis untuk kesalahan atau pelanggaran yang dilakukan. Hukuman mengajarkan kepada masyarakat apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.17

Pengertian pidana sebagai sanksi berupa penderitaan yang sengaja dikenakan Negara kepada seseorang yang terbukti melakukan tindak pidana dan

Pada istilah umum, hukuman adalah untuk segala macam sangsi baik perdata, administratif, disiplin, dan pidana. Menurut bahasa Belanda untuk menyebut istilah hukuman disebut straf.

16

M. Hamdan, Pembaharuan Hukum Tentang Alasan Penghapus Pidana, USU Press, Medan, 2008, halaman 3.

(15)

mempunyai kesalahan. Adapun pengertian pidana menurut beberapa Ahli Hukum ialah :18

a. Menurut Ted Honderich, pidana adalah suatu pengenaan pidana yang dijatuhkan oleh penguasa, berupa kerugian atau penderitaan, kepada pelaku tindak pidana.

b. Menurut Rupert Cross, pidana adalah pengenaan penderitaan oleh Negara kepada seseorang yang telah dipidana karena suatu kejahatan. c. Menurut Sudarto, pidana adalah penderitaan yang sengaja dibebankan

kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.

d. Van Hammel memeberikan arti pidana menurut hukum positif yakni suatu penderitaan yang bersifat khusus, yang telah dijatuhkan oleh kekuasaan yang berwenang untuk menjatuhkan pidana atas nama Negara sebagai penanggungjawab dari ketertiban hukum.

5. Pengertian Penjatuhan Hukuman

Penjatuhan hukuman adalah pemberian sanksi kepada si pelaku tindak pidana yang mampu mempertanggungjawabkan perbuatan yang telah dilakukannya sendiri sehingga diharapkan dapat memberikan efek jera kepada si pelaku.

KUHP sendiri menetapkan beberapa jenis pidana yang dapat dijatuhkan bagi si pelaku, yakni terdapat dalam Pasal 10 KUHP yaitu :19

18

(16)

a. Pidana pokok, yang terdiri dari : 1. Pidana mati 2. Pidana penjara 3. Pidana kurungan 4. Denda 5. Pidana tutupan

b. Pidana tambahan, yang terdiri dari : 1. Pencabutan beberapa hak yang tertentu 2. Perampasan beberapa barang yang tertentu 3. Pengumuman putusan hakim.

Bagi satu kejahatan atau pelanggaran hanya boleh dijatuhkan satu hukuman pokok. Pembebanan rangkap lebih dari satu hukuman pokok tidak diperkenankan, akan tetapi dalam tindak pidana ekonomi dan subversi, kumulasi hukuman dapat dijatuhkan, yakni hukuman badan dan hukuman denda.

Menurut Pasal 35 KUHP, dalam beberapa hal yang ditentukan, selain dari satu hukuman pokok dijatuhkan pula dengan salah satu dari hukuman tambahan. Hukuman tambahan hanya sebagai penambah dari hukuman pokok sehingga tidak dapat dijatuhkan sendiri.20

6. Pengertian Penuntutan

Penuntutan diatur dalam Bab XV, Pasal 137 – 144 KUHAP. Menurut Wirjono Prodjodikoro menuntut seorang terdakwa di muka hakim pidana adalah

19

(17)

menyerahkan perkara seorang terdakwa dengan berkas perkara kepada hakim dengan permohonan, supaya hakim memeriksa dan kemudian memutus perkara pidana itu terhadap terdakwa.21

Penuntut umum adalah Jaksa yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim. Penuntut umum adalah jaksa, tetapi sebaliknya jaksa belum tentu berarti penuntut umum, atau dengan kata lain tidak semua jaksa adalah penuntut umum, tetapi semua penuntut umum adalah jaksa, karena menurut ketentuan hanyalah jaksa yang dapat bertindak sebagai penuntut umum. Seorang jaksa baru memperoleh kapasitasnya sebagai penuntut umum apabila ia menangani tugas penuntutan.

Penuntutan dengan singkat dapat dikatakan merupakan perbuatan penuntut umum menyerahkan perkara kepada hakim untuk diperiksa dan diputus.

22

“ jaksa adalah pejabat yang diberi wewenang oleh Undang-Undang ini untuk bertindak sebagai penuntut umum serta melaksanakan putusan pengadilan yang telah memperolah kekuatan hukum tetap “.

Sementara, Pasal 1 butir 1 UU Nomor 5 Tahun 1991 menyebutkan :

23

Jaksa melakukan penuntutan untuk dan atas nama Negara, sehingga jaksa merupakan satu-satunya pejabat yang mempunyai wewenang melakukan penuntutan.24

21

Soedirjo, Jaksa dan Hakim dalam Proses Pidana, CV. Akademika Pressindo, Jakarta, 1985, halaman 4.

22

Harun M. Husein, Penyidikan dan Penuntutan dalam Proses Pidana, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1991, halaman 223.

23

Yudi Kristiana, Independensi Kejaksaan dalam Penyidikan Korupsi, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2006, halaman 51.

24

Dalam perkembangannya Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juga memiliki kewenangan yang sama, bahkan lebih luas dibandingkan dengan kejaksaan.

Penuntutan pidana terhadap pelaku tindak pidana merupakan monopoli jaksa. Kedudukan jaksa disini sebagai wakil Negara, maka jaksa harus

(18)

bisa menampung seluruh kepentingan masyarakat, Negara, dan korban kejahatan agar bisa dicapai rasa keadilan masyarakat.25

7. Pengertian Putusan

Menurut Pasal 1 butir 11 KUHAP Putusan Pengadilan adalah “pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang hukum acara pidana”.26

Leden Marpaung menyebutkan pengertian Putusan adalah hasil atau kesimpulan dari sesuatu yang telah dipertimbangkan dan dinilai dengan semasak-masaknya yang dapat berbentuk tertulis maupun lisan. Demikian dimuat dalam buku “Peristilahan Hukum Dalam Praktik” yang dikeluarkan Kejaksaan Agung RI 1985 halaman 221. Rumusan tersebut terasa kurang tepat selanjutnya jika dibaca pada buku tersebut, ternyata “putusan” dan “keputusan” di campuradukkan. Ada juga yang mengartikan putusan (vonnis) sebagai “vonis tetap”.

27

Dasar dalam penjatuhan putusan ialah surat dakwaan dan pemeriksaan di sidang.28

Hakim dan kewajiban-kewajibannya seperti tersirat dalam Pasal 5 ayat (1) Undang-Undang No. 48 Tahun 2009 tentang UU Pokok Kekuasaan Kehakiman adalah sebagai “sense of justice of the people". Hakim sebagai penegak hukum Memang yang menjadi tujuan akhir dari suatu proses pemeriksaan perkara di Pengadilan Negeri adalah diambilnya suatu putusan oleh hakim yang berisi penyelesaian perkara yang dilaporkan.

25

Yudi Kristiana, Op.cit, halaman 52.

26

Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana, Pasal 1 butir 11.

27

(19)

dan keadilan menggali, mengikuti dan memahami nilai-nilai hukum yang hidup dalam masyarakat. Untuk melaksanakan peran tersebut, hakim harus terjun ke tengah-tengah masyarakat untuk mengenal, merasakan dan mampu menyelami perasaan hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat, dengan demikian hakim dapat memberikan putusan yang sesuai dengan hukum dan rasa keadilan masyarakat.

Tugas hakim bukan hanya sebagai penerap hukum (Undang-undang) atas perkara-perkara di Pengadilan atau 'agent of conflict", tetapi seharusnya juga mencakup penemuan dan pembaruan hukum. Hakim yang ideal selain memiliki kecerdasan yang tinggi, juga harus mempunyai kepekaan terhadap nilai-nilai keadilan, mampu mengintegrasikan hukum positif ke dalam nilai-nilai agama, kesusilaan, sopan santun dan adat istiadat yang hidup dalam masyarakat melalui setiap putusan yang dibuatnya, karena pada hakikatnya mahkota seorang hakim itu bukan pada palunya, melainkan pada bobot atau kualitas dari putusan yang dihasilkan.

Putusan dijatuhkan oleh hakim yang berjumlah ganjil dalam setiap persidangan. Semua wewenang dan tugas yang dimiliki oleh hakim harus dilaksanakan dalam rangka menegakkan hukum, kebenaran dan keadilan tanpa pandang bulu dengan tidak membeda-bedakan orang seperti diatur dalam lafal sumpah seorang hakim, dimana setiap orang sama kedudukannya di depan hukum dan hakim.29

29

Keputusan Bersama Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia dan Ketua Komisi Yudisial Nomor : 047/ KMA/ SKB/ IV/ 2009 dan 02/ SKB/ P. KY/ IV/ 2009 tentang Kode Etik dan Pedoman Perilaku Hakim bagian Pembukaan.

(20)

Kewajiban hakim untuk memelihara kehormatan dan keluhuran martabat, serta perilaku hakim sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan harus diimplementasikan secara konkrit dan konsisten baik dalam menjalankan tugas yudisialnya maupun di luar tugas yudisialnya, sebab hal itu berkaitan erat dengan upaya penegakan hukum dan keadilan.30

F. Metode Penelitian

1. Spesifikasi Penelitian

Penelitian yang digunakan adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif terdiri dari : 31

a. Penelitian terhadap asas-asas hukum.

Penelitian terhadap asas-asas hukum ini seperti misalnya penelitian terhadap hukum positif yang tertulis atau penelitian terhadap kaidah-kaidah hukum yang hidup di dalam masyarakat.

b. Penelitian terhadap sistem hukum.

Penelitian terhadap sistem hukum dapat dilakukan pada perundang-undangan tertentu ataupun hukum tercatat. Tujuan pokoknya adalah untuk mengadakan identifikasi terhadap pengertian-pengertian pokok/dasar dalam hukum, yakni masyarakat hukum, subyek hukum, hak dan kewajiban, peristiwa hukum, hubungan hukum dan obyek hukum. Penelitian ini sangat penting oleh karena masing-masing

(21)

pengertian pokok / dasar mempunyai arti tertentu dalam kehidupan hukum.

c. Penelitian terhadap sinkronisasi hukum.

Penelitian terhadap taraf sinkronisasi baik vertikal maupun horizontal, maka yang diteliti adalah sampai sejauh manakah hukum positif tertulis yang ada serasi. Hal ini dapat ditinjau secara vertikal, yakni apakah peraturan perundang-undangan yang berlaku bagi suatu bidang kehidupan tertentu tidak saling bertentangan, apabila dilihat dari sudut hirarki perundang-undangan tersebut, sedang apabila dilakukan penelitian taraf sinkronisasi secara horisontal, maka yang ditinjau adalah perundang-undangan yang sederajat yang mengatur bidang yang sama.

d. Penelitian terhadap sejarah hukum.

Penelitian terhadap sejarah hukum merupakan penelitian yang lebih dititik beratkan pada perkembangan-perkembangan hukum. Biasanya dalam perkembangan demikian, pada setiap analisa yang dilakukan akan mempergunakan perbandingan-perbandingan terhadap satu atau beberapa sistem hukum.

e. Penelitian perbandingan hukum.

Penelitian perbandingan hukum merupakan penelitian yang menekankan dan mencari adanya perbedaan-perbedaan yang ada serta persamaan pada berbagai sistem hukum. Perbandingan hukum adalah suatu metode studi hukum, yang mempelajari perbedaan hukum antara

(22)

Negara yang satu dengan Negara yang lain, atau membanding-bandingkan sistem hukum positif dari bangsa yang satu dengan bangsa yang lain.32

2. Metode Pendekatan

Sesuai dengan judul dari skripsi ini, maka penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif yang menghubungkan asas-asas hukum dengan sinkronisasi hukum yang memperoleh data-data dan bahan-bahan yang telah ada, yang diperoleh dari berbagai sumber.

Metode pendekatan yang digunakan dalam penulisan skripsi dan penelitian ini adalah dengan cara normatif yuridis, yaitu dengan cara melihat apa saja yang menjadi unsur atas kejahatan pencurian pada waktu malam hari, dan dibantu dengan yuridis empiris yakni dengan mewawancarai hakim untuk mempertanyakan apa saja yang menjadi dasar pertimbangan bagi hakim dalam mengambil keputusan di pengadilan.

3. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan mempelajari berbagai literatur yang berhubungan dengan objek penelitian dan melakukan penelitian terhadap putusan yang dibuat oleh hakim di Pengadilan Negeri di Medan. Putusan pengadilan yang menjadi isu hukum yang dihadapi tersebut merupakan bahan hukum primer yang dirujuk oleh peneliti hukum.33

32

Hasim Purba, Suatu Pedoman Memahami Ilmu Hukum, CV. Cahaya Ilmu, Medan,

Selain studi kepustakaan peneliti juga melakukan studi lapangan dengan mewawancarai hakim Pengadilan Negeri Medan.

(23)

4. Analisis Data

Pada penulisan skripsi ini, analisis data yang digunakan adalah dengan cara kualitatif. Dari penelitian tersebut diatas, kemudian dapat memenuhi pembahasan skripsi ini secara deduktif, yaitu menarik kesimpulan dari fakta yang bersifat representatif (sesungguhnya, nyata, sesuai keadaan).

G. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan dalam skripsi ini terdiri dari empat bab, yaitu sebagai berikut :

BAB I : Merupakan bab pendahuluan yang berisikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, keaslian pene;itian, tinjauan kepustakaan (yang terdiri dari Pengertian Kejahatan, Pengertian Pencurian, Pengertian Pertanggungjawaban Pidana, Pengertian Hukuman, Pengertian Penjatuhan Hukuman, Pengertian Penuntutan, Pengertian Putusan), metode penelitian, dan sistematika penulisan.

BAB II: Merupakan bab yang membahas unsur tindak pidana pencurian biasa dan unsur tindak pidana pencurian dengan pemberatan (dalam hal ini terkait dengan putusan PN Medan No. 830/ Pid.B/ 2010/ PN.Mdn. ).

BAB III: Merupakan bab yang membahas studi putusan dengan melakukan analisis hukum terhadap tindak pidana pencuria

(24)

dengan pemberatan yang berisi kasus posisi (yang terdiri dari kronologis perkara, dakwaan, fakta-fakta hukum, amar putusan pengadilan negeri), dan analisis kasus.

BAB IV: Merupakan bab penutup yang berisikan kesimpulan dan saran.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :