• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab II Tujuan Kebijakan Dan Strategi Rev Rtrw Mks 2030

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Bab II Tujuan Kebijakan Dan Strategi Rev Rtrw Mks 2030"

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN AKHIR

LAPORAN AKHIR

BAB II. TUJUAN,

BAB II. TUJUAN,

KEBIJAKAN, DAN STRATEGI

KEBIJAKAN, DAN STRATEGI

A. TUJUAN

A. TUJUAN

Secara khusus, tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar 2030 adalah mewujudkan ruang wilayah Kota Makassar Secara khusus, tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar 2030 adalah mewujudkan ruang wilayah Kota Makassar sebagai KOTA TEPIAN AIR KELAS DUNIA yang didasari atas keunggulan dan keunikan lokal menuju kemandrian lokal sebagai KOTA TEPIAN AIR KELAS DUNIA yang didasari atas keunggulan dan keunikan lokal menuju kemandrian lokal dalam rangka persaingan global demi Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara yang aman, nyaman, produktif dan dalam rangka persaingan global demi Ketahanan Nasional dan Wawasan Nusantara yang aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.

berkelanjutan.

Secara umum, tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar adalah menyusun satu dokumen Rencana Tata Ruang Secara umum, tujuan Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar adalah menyusun satu dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota yang lengkap

Wilayah (RTRW) Kota yang lengkap agar dapat dimanfaatkan:agar dapat dimanfaatkan: 1. Sebagai bahan acuan/referensi bagi kebij

1. Sebagai bahan acuan/referensi bagi kebij akan perencanaan penataan ruang lainnya;akan perencanaan penataan ruang lainnya; 2. Sebagai matra

2. Sebagai matra ruang Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengruang Rencana Pembangunan Jangka Panjang/Menengah Kota Makassar;ah Kota Makassar; 3.

3. Sebagai Sebagai pedoman dasar pedoman dasar perencanaan yang perencanaan yang diharapkan diharapkan mampu menjawab mampu menjawab masalah-masalah Tuntutanmasalah-masalah Tuntutan Pembangunan dan Tuntutan Lingkungan Global serta rumusan maupun kebijaksanaan yang dibutuhkan di masa Pembangunan dan Tuntutan Lingkungan Global serta rumusan maupun kebijaksanaan yang dibutuhkan di masa mendatang;

mendatang;

4. Sebagai pedoman dasar perencanaan yang diharapkan bisa menjadi pegangan untuk bagaimana membangun dan 4. Sebagai pedoman dasar perencanaan yang diharapkan bisa menjadi pegangan untuk bagaimana membangun dan menjadikan Makassar berdiri dan berkembang sesuai dengan ciri keunikan dan keunggulan lokalnya, dengan tetap menjadikan Makassar berdiri dan berkembang sesuai dengan ciri keunikan dan keunggulan lokalnya, dengan tetap berbasis pada peruntukan dan kepentingan Hak-Hak Dasar

berbasis pada peruntukan dan kepentingan Hak-Hak Dasar Masyarakat;Masyarakat; 5.

5. Sebagai pedoman dasar Sebagai pedoman dasar perencanaan pembangunan Kota yang perencanaan pembangunan Kota yang secara konsep secara konsep desain rencana desain rencana disusundisusun berdasarkan Filosofi Rencana Tata Ruang yang Sehat, Tata Ruang Untuk Rakyat, dan Tata Ruang Terkendali; berdasarkan Filosofi Rencana Tata Ruang yang Sehat, Tata Ruang Untuk Rakyat, dan Tata Ruang Terkendali; 6. Sebagai kebijakan pokok pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam wilayah Makassar dan sekitarnya sesuai 6. Sebagai kebijakan pokok pemanfaatan dan pengendalian ruang dalam wilayah Makassar dan sekitarnya sesuai

dengan dasar kondisi wilayahnya

dengan dasar kondisi wilayahnya yang berazaskan kepada pembangunan berkelanjutan;yang berazaskan kepada pembangunan berkelanjutan; 7. Sebagai wadah keterpaduan, keterkaitan, dan kes

7. Sebagai wadah keterpaduan, keterkaitan, dan kes eimbangan perkembangan antar wilayah/kawasan di dalam dan dieimbangan perkembangan antar wilayah/kawasan di dalam dan di luar wilayah Makassar serta keserasian antarsektor pembangunan;

luar wilayah Makassar serta keserasian antarsektor pembangunan;

8. Sebagai wadah perencanaan yang bertujuan meningkatkan peran dan fungsi Makassar tidak hanya sebagai satu 8. Sebagai wadah perencanaan yang bertujuan meningkatkan peran dan fungsi Makassar tidak hanya sebagai satu Kota, tetapi lebih jauh dari itu perannya ingin ditingkatkan secara lebih besar menjadi satu Kota dengan representasi Kota, tetapi lebih jauh dari itu perannya ingin ditingkatkan secara lebih besar menjadi satu Kota dengan representasi sebagai “Ruang Keluarga Indonesia Timur”’;

sebagai “Ruang Keluarga Indonesia Timur”’; 9.

9. Sebagai refleksi Sebagai refleksi dalam perencanaan dalam perencanaan MAMMINASATA khususnya MAMMINASATA khususnya untuk Kota untuk Kota Makassar dan Makassar dan tingkattingkat keterhubungannya baik secara spasial

keterhubungannya baik secara spasial maupun aspasial dengan wilayah-wilayah MAMMINASATA lainnya;maupun aspasial dengan wilayah-wilayah MAMMINASATA lainnya;

10. Sebagai bahan informasi dalam penetapan investasi yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan dunia 10. Sebagai bahan informasi dalam penetapan investasi yang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat, dan dunia

usaha/swasta; dan usaha/swasta; dan

(2)
(3)

11. Se pen Selain t 1. Ter nya 2. Ter dan 3. Ter ma 4. Me

B.

SA

Untuk 1. Me Na dal ped per 2. Me atu per yan 3. Dal dan izin

agai acuan/referensi dalam tahapan atau pelaksanaan k ujuan tersebut di atas, beber selenggaranya dan terwujud man, produktif dan berkelanj wujudnya pemanfaatan ruan berhasil guna, serasi, selar wujudnya kemudahan untu syarakat adil dan makmur be ujudkan keseimbangan ke

ARAN

encapai tujuan di atas, sec mantapkan sistim perencan

ional (RTRWN), RTRW Pu m penyusunan RTRW Pul oman penyusunan RTRW P encanaan tata ruang tersaji

ngelola sistim pengaturan zo ran-aturan spesifik keruanga encanaan. Sistim zonasi dih

g lebih ramah lingkungan da am memperkuat pengendali

diinsentif serta pengenaan pemanfaatan ruang tetapi ju

perumusan program pem egiatan pembangunan dala apa tujuan lain Penataan Ru

nya penataan dan pemanfa utan berlandaskan Wawasa g wilayah Kota Makassar d s, seimbang, dan lestari/ber k melaksanakan pembang rdasarkan Pancasila; dan entingan kesejahteraan dan

ra rinci sasaran RTRW Kota an tata ruang yang bersifat lau, RTRW Propinsi, dan R u (RTRW Pulau merupakan ropinsi yang kemudian diped

alam Gambar 2-1.

Gambar 2-1 Komplementar

nasi yang berperan sebagai n yang mengikat untuk setia

rapkan nantinya dapat diara n menjamin keberlanjutan di an pemanfaatan ruang, mak

anksi terhadap pelanggaran ga kepada penerima izin.

angunan baik yang menya ruang dan pengendalian p ang Wilayah Kota Makassar atan ruang Kota Makassar

Nusantara dan Ketahanan n sekitarnya yang lebih ber kelanjutan;

nan yang berkelanjutan d

keamanan.

Makassar yang ingin dicapa umum ke khusus yaitu Re RW Kota/Kabupaten. RTR instrumen operasional RT omani lebih lanjut RTRW Ka

itas Rencana Tata Ruang

instrumen pelaksanaan renc p kawasan dengan fungsi t hkan ke pemanfaatan ruang segala bidang.

a perlu diterapkan peraturan tata ruang yang dikenakan t

gkut sumber pembiayaan, manfaatan ruang.

adalah:

an sekitarnya yang aman, asional;

ualitas serta berdaya guna

alam rangka mewujudkan

i:

cana Tata Ruang Wilayah Nasional menjadi acuan WN. RTRW Pulau menjadi bupaten/Kota. Bagan sistim

ana tata ruang dan memuat rtentu dalam suatu wilayah yang kompak dan integratif

zonasi, pemberian insentif idak hanya kepada pemberi

(4)
(5)

4. Mempertegas dan memperjelas kewenangan antara pemerintah pusat, pemerintah propinsi dan pemerintah kabupaten/Kota. Ini dimaksudkan agar dalam pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang dapat terwujud harmonisasi dan saling melengkapi antara pemerintah pusat, propinsi dan kabupaten/Kota.

5. Memberikan arahan penegasan muatan rencana tata ruang yang meliputi perkembangan lingkungan strategis, pemerataan dan keselarasan pembangunan antara pusat dengan daerah-daerah dengan memperhatikan dan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan masing-masing daerah. Hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi penurunan kualitas ruang yang ada dan tidak terjadi pemborosan pemanfaatan ruang;

6. Memantapkan pengelolaan kawasan yang tidak hanya terbatas pada kawasan lindung dan budidaya tetapi diperluas pada kawasan metropolitan dan kawasan strategis nasional dan Kota. Ini dimaksudkan agar tercipta kesesuaian penggunaan dan pemanfaatan tanah pada fungsi kawasan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang wilayah, sehingga tidak terjadi penurunan kualitas lingkungan;

7. Memantapkan kepastian hukum dan akuntabilitas dalam pelaksanaan penataan ruang setelah perencanaan RTRW Kota ini dibuat. Hal ini berarti pelaksanaan penataan ruang telah dilindungi oleh hukum dan peraturan perundang-undangan maupun peraturan daerah;

8. Memberikan arahan penataan ruang yang berdasarkan sistim wilayah dan sistim internal perKotaan termasuk didalamnya fungsi utama kawasan, wilayah administrasi, kegiatan kawasan dan nilai strategis kawasan. Berikut ini gambaran RTRW Kota Makassar 2030, yang apresiasi nilai dasar pengembangan ruangnya perlu dan penting untuk dicermati kembali (Gambar 2.2)

Gambar 2-2 Peta Kawasan Terpadu di Kota Makassar

9. Dalam penataan ruang wilayah Kota sesuai dengan amanah UU, ruang terbuka hijau (RTH) dialokasikan sebesar 30% dari luas wilayah Kota. Hal ini berarti penataan ruang wilayah Kota tidak hanya untuk keperluan ekonomi (produktif) dan estetis tetapi juga aspek kenyamanan dan bioekologis (RTH sebagai pengatur sirkulasi udara dan air secara alami). Berikut ini tipologi ruang terbuka hijau sebagai dasar dalam perencanaan struktur RTH dimulai dari aspek fisik sampai aspek kepemilikan (Gambar 2.3)

(6)
(7)

Untuk 1. Me poi dan 2. Me asp per 3. Me Jan 4. Me dib per spe seb a.

encapai TUJUAN DAN SA ngkaji dan menganalisis kon

awal dalam mencapai sin pertumbuhan ekonomi bagi ngkaji dan menganalisis per ek kependudukan, perekon untukan dan penggunaan la nyusun konsep pengemban

gka Panjang (RPJP) Kota M nyusun konsep perencanaa wah bumi) dengan mengi encanaan ini perlu dan pen

sifik berdasarkan kebutuha agai berikut:

Matra Darat Ruang Per (dicirikan dengan karakteri ukuran, fungsi dan karakter 1) Wilayah Manfaat Ruang

dan informasinya dalam

 Jumlah Pulau  Tipe Pulau (benu

dataran rendah, dan

 Besaran Pulau (uku  Klasifikasi Penutup   G eomorfologi (dar

geomorfik)

  Hidrogeologi  Nilai-nilai Ekologis (  Fisik Lahan (Spasial  Parameter Perairan   Berpenghuni/Tidak  Jenis Kegiatan/Pek  Karakteristik Lokal  Sensor Sosial Buda

Gambar 2-3 Tipologi

ARAN di atas, maka RTRW sep pengembangan Mammi rgitas wilayah antar kabupa Makassar khususnya dan re masalahan dan potensi yan

mian, daya dukung dan da an;

gan dan pembangunan tat akassar;

pembangunan Kota Maka entifikasi potensi dan kara ting untuk diidentifikasi sec

dan kepentingan perenca

encanaan Kota Makassar ik ruang daratnya dengan yang mengikutinya) berupa: Pulau, terakumulasi data ilai-nilai sebagai berikut:

, vulkanik, karang timbul, atol)

ran dan kapasitas) ahan

tan, lautan, dan proses

abitat, ekosistim)

l Information, multi spasial, (proses kelautan, dinamika

erpenghuni rjaan

a (tatanan sosial, hukum da

uang Terbuka Hijau

Kota Makassar harus dapat asata dengan melihat pera ten/Kota guna mewujudkan gion MAMMINASATA secar dimiliki oleh Kota Makass ya tampung lingkungan, str

ruang wilayah berdasark

sar melalui matra perencan kter yang dimiliki kawasan

ra baik dengan urutan pen aan pemanfaatan ruang d

ulti temporal, multi spektral) antai, ombak, gelombang, d

n tata adat tata krama, dan k

Gambar 2-4 Apresia Pulau dan

emperhatikan:

an Kota Makassar sebagai pemerataan pembangunan

luas;

r yang ditinjau dari aspek-ktur tata ruang, pemilikan,

n Rencana Pembangunan

aan (darat, laut, udara dan yang direncanakan. Matra itraan kawasan yang lebih n wilayah Kota Makassar,

an arus)

earifan lokal)

i Pemanfaatan Ruang Sekitarnya

(8)
(9)

2) Wilayah Manfaat Ruang Pesisir, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Panjang Bentang Pesisir

 Bentuk Pesisir (daratan alluvial, perbukitan sisa, permukaan planasi, dan daratan alluvial)  Topografi Pesisir

  Geomorfologi

 Jenis Pelataran Pesisir (model permukaan)  Karakteristik Pesisir (pesisir dalam, luar)  Indeks dan Tipologi Pesisir

 Paramater Perairan Laut (dinamika pantai)  Klasifikasi Penutup Lahan

 Ranah Ekologi Pesisir (alamiah, antropogenik dan sebagainya)  Ranah Ekonomi Pesisir (aktivitas ekonomi)

 Ranah Agraria Pesisir (struktur agraria)  Ranah Geopolitik dan Geostrategis Pesisir

 Sensor Sosial Budaya (struktur sosial masyarakat, hukum adat, tata krama, dan kearifan lokal)

3) Wilayah Manfaat Ruang Dataran, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Luas dan Bentuk Lahan  Klasifikasi Penutup Lahan   Topografi

 Geomorfologi (struktur sesar dan sebagainya)   Hidrogeologi

 Nilai-Nilai Ekologis (habitat, ekosistem)

 Fisik Lahan (spasial Information, multi spasial, multi temporal, multi spektral)  Isu Ekologi (alamiah, antropogenik dan sebagainya)

 Isu Ekonomi (aktivitas ekonomi)  Isu Agraria (struktur agraria)  Isu Geopolitik dan Geostrategis

 Sensor Sosial Budaya (tatanan sosial, hukum dan tata adat, tata krama, dan kearifan lokal)

b. Matra Air Ruang Perencanaan Kota Makassar (dicirikan dengan karakterik tipologi Perairannya yang terbagi dalam Ukuran, Fungsi dan Karakter yang mengikutinya, tersebar dalam ruang manfaat sebagai berikut: laut, sungai perairan delta, hutan mangrove, rawa-rawa, dataran banjir, lebak-lebung, muara sungai, embung, situ dan bendungan) diurai dalam asumsi perencanaannya sebagai berikut:

1) Wilayah Manfaat Ruang Laut, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Dimensi Geografis dan Konsepsi Teritorial Laut (zonasi)  Basis Ekosistim Laut

 Geosistim Laut  Keunikan Perairan

 Konsepsi Sedimen Sel dan Konsepsi Ekoregion  Konsepsi Integrasi Daerah Aliran Sungai

(10)
(11)

Gam

2) Wilayah Manfaat Ruang

 Panjang Sungai  Spesifikasi Sungai (  Karakteristik Fisik S  Proses Input dan O  Deskripsi properties  Pola Presipitasi terh  Sebaran Geografi S  Kedudukan Muka F  Surface Storage  Surface Runoff  SubSurface Runoff  Overland Flow  Sensor sosial-ekon

krama, dan kearifan

3) Wilayah Manfaat Ruang

 Jenis Mangrove (br

ar 2-5 Integrasi Hubungan Pe

Sungai, terakumulasi data d

air permukaan, bawah perm ungai

tput Sungai (alami/buatan, , fenomena, dan distribusi ai adap DAS

ungai

eatik Sungai (efemeral, inter

mi-budaya masyarakat terh lokal)

Gambar 2-6 Diagram Sungai

Mangrove, terakumulasi dat mbang, cemara laut, jeruju,

manfaatan Ruang Laut dan

an informasinya dalam

nilai-kaan)

liran, sedimen, proses evap

mitten, perenial)

adap sungai (tatanan sosial,

dan Keterkaitannya

a dan informasinya dalam nil waru laut, kalimuntung, nipa

arat

ilai sebagai berikut:

transpirasi)

hukum dan tata adat, tata

ai-nilai sebagai berikut: , dan nibung)

(12)
(13)

 Kualitas Air dan Subtrat Mangrove

 Karakteristik dan Kelayakan Lingkungan “green belt“ (pariwisata maupun perikanan)  Spesifikasi Ekosistem

 Kesesuaian Lahan

 Inventarisasi (struktur komunitas lokal dari mangrove)  Sensor sosial-ekonomi-budaya masyarakat sekitar

4) Wilayah Manfaat Ruang Rawa, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Pola dan Bentuk Rawa  Spesifikasi Rawa

 Keanekaragaman Hayati (ekologis dan ekonomi)  Deskripsi properti, fenomena, dan distribusi air

5) Manfaat Ruang Dataran Banjir, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Spesifikasi dan Bentuk Sungai (meander , besar/kecil)  Karakteristik Fisik Sungai

 Sebaran Titik Limpah

  Proses Input  dan Output Sungai (alami/buatan, aliran, sedimen, proses evapotranspirasi)  Deskripsi properti, fenomena, dan distribusi air

 Sebaran Geografi Sungai

 Kedudukan Muka Freatik Sungai (efemeral, intermitten, perenial)  Surface Storage

 Surface Runoff  SubSurface Runoff  Overland Flow 

 Sensor sosial-ekonomi-budaya masyarakat terhadap sungai

6) Wilayah Manfaat Ruang Muara Sungai, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Spesifikasi Sungai (air permukaan, bawah permukaan)  Karakteristik Fisik Sungai

 Proses Input dan Output Sungai (alami/buatan, aliran, sedimen, proses evapotranspirasi)  Deskripsi properti, fenomena, dan distribusi air

 Sebaran Geografi Sungai

 Kedudukan Muka Freatik Sungai (efemeral, intermitten, perenial)  Surface Storage

 Surface Runoff  SubSurface Runoff  Overland Flow

 Sensor sosial-ekonomi-udaya masyarakat terhadap sungai

7) Wilayah Manfaat Ruang Embung dan Situ, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

 Pola dan bentuk   Ukuran

 Deskripsi properti, fenomena dan distribusi air  Pola presipitasi (hujan)

 Fluktuasi kecukupan air  Kemiringan lereng (8-30%)

(14)
(15)

 Sebaran geografi  Surface Storage  Surface Runoff  SubSurface Runoff  Overland Flow

 Sensor sosial-ekonomi-budaya masyarakat terhadap sungai

c. Matra Udara Ruang Perencanaan Kota Makassar mengenai penguasaan, penggunaan, dan pemanfaatan ruang udara yang berwujud konsolidasi pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, ruang udara dan sumber daya lainnya sebagai satu kesatuan, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

1. Pemanfaatan dan Fungsi Ruang Udara (ruang terbatas, ruang bebas, berbahaya) 2. Ambang Batas Mutu Udara

3. Konsepsi Teknologi Akrab Lingkungan

d. Matra Di bawah Muka Bumi Ruang Perencanaan Kota Makassar mengenai penguasaan, penggunaan dan pemanfaatan ruang di bawah bumi berwujud konsolidasi pemanfaatan ruang daratan, ruang lautan, ruang udara dan sumber daya alam yang terdapat di bawah bumi sebagai satu kesatuan, terakumulasi data dan informasinya dalam nilai-nilai sebagai berikut:

1. Jenis (minyak, batubara, gas alam, mineral) 2. Luasan

3. Pemanfaatan melalui kegiatan eksplorasi dan eksploitasi 4. Ambang batas eksplorasi dan eksploitasi sumber daya alam

5. Konsepsi Teknologi Akrab Lingkungan dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi

Proses identifikasi wilayah bertujuan untuk mengurai semua potensi dan manfaat yang dimiliki oleh Kota yang didasarkan pada keunikan dan keunggulan lokalnya. Identifikasi ini dapat menjadi acuan bagi penyelenggara dan pelaksana (pemerintah, masyarakat, swasta) penataan ruang Kota dalam mengatur dan memilah kebutuhan perencanaannya secara lebih terinci dan terukur. Potensi dan manfaat yang tersebar di 14 ruang kecamatan serta semangat kebersamaan yang menjangkau matra daratan hingga matra laut telah mampu memberikan ruang yang cukup besar dan potensial bagi Kota Makassar, dalam merencanakan pembangunan dan pengembangan wilayah Kota yang lebih baik dan lebih propektus.

Perpaduan dan konektivitas 4 matra menjadi jawaban dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang mengemuka di ruang rencana. Perpaduan yang apik dan konektivitas yang utuh merupakan beban tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh dinas/masyarakat yang menjadi bagian dari satu atmosfir rencana. Struktur dan pola-pola ruang menjadi semakin jelas dan kaitannya terhadap kesempatan dalam menangkap peluang dan mengengineeringkan ruang menjadi semakin lebih komprehensif atas semua usaha-usaha mengoptimalkan pemanfaatan ruang baik yang ada di darat maupun yang ada di ruang perairan Kota Makassar. Berikut ini peta tutupan lahan wilayah Kota Makassar, yang secara akumulatif merupakan wilayah yang sangat potensil dan memungkinkan menjadi daerah yang berkembang dan maju di Kawasan Indonesia Timur.

Secara spesifik, dilihat dari tujuan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka SASARAN yang hendak dicapai dari tersusunnya RTRW Kota Makassar adalah sebagai berikut:

a. Menyusun suatu “Pedoman Baku” untuk mewujudkan pembangunan suatu Kota yang Lebih Teratur dan Tersistim Baik Sesuai Kebutuhan Memiliki karakter Makassar yang kuat Lengkap, Transparan dan Profesional Visioner; b. Mewujudkan atmosfir Kota Makassar yang memberikan “Kepastian” dan “Ketenangan” berusaha bagi Investor;

(16)
(17)

c. Mewujudkan sebuah Kota Makassar yang menarik, Berdaya Tarik Fungsi, merangsang gairah investasi untuk mempercepat Pembangunan Kota;

d. Mewujudkan suatu “Komunitas Kawasan” Kota dengan basis ekonomi yang jelas, kuat, berkembang dan organis, responsif akan bentuk “Pertahanan Ekonomi Rakyat” sebagai “Struktur” kekuatan pertumbuhan ekonomi Kota Makassar dalam merebut posisi penting pada skala global;

e. Memberi arahan pengembangan sistim pusat permukiman Kota;

f. Memberi arahan pengembangan sistim prasarana wilayah yang meliputi prasarana transportasi, telekomunikasi, dan energi;

g. Memberi arahan pengembangan kawasan yang perlu diprioritaskan pengembangannya selama jangka waktu rencana;

h. Menetapkan kebijaksanaan tata guna tanah, tata guna air, dan tata guna sumberdaya alam lainnya;

i. Menetapkan kebijaksanaan penunjang penataan ruang untuk mewujudkan rencana umum tata ruang yang direncanakan.

Adapun yang menjadi tema dan dasar pertimbangan dalam penyusunan RTRW Makassar ini adalah nilai-nilai yang terkandung dalam Visi Kota Makassar yaitu “Kembali ke Kota Dunia dengan Kearifan Lokal” dan penelaahan lebih lanjut dari tujuan penyusunan laporan ini secara filosofis menunjukkan bahwa konsep desain RTRW Kota Makassar lebih diarahkan kepada rencana Tata Ruang yang Sehat, Tata Ruang Untuk Rakyat, dan T ata Ruang Terkendali.

C. KEBIJAKAN DAN STRATEGI PENATAAN RUANG

1. Tinjauan Umum Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang

Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kota Makassar 2030 sebagai berikut:

a. Memantapkan fungsi Kota Makassar sebagai Kota MARITIM, NIAGA, PENDIDIKAN dan BUDAYA

1) Mengembangkan kawasan-kawasan terpadu yang mengakomodir dan memperkuat “PENEMPATAN” UTAMA Kota Makassar sebagai Kota maritim, bisnis, pendidikan dan budaya sesuai dengan DAYA DUKUNG, DAYA TAMPUNG dan DAYA TUMBUH serta DAYA SAING;

2) Mengembangkan kawasan-kawasan terpadu yang mendukung dan melengkapi ANATOMI “PENEMPATAN” UTAMA untuk menciptakan RUANG “ORGANIS” dan RUANG “PROFESIONAL” yaitu kawasan pergudangan terpadu, kawasan industri terpadu, kawasan pelabuhan terpadu, kawasan bandara terpadu, kawasan bisnis global terpadu, kawasan energi terpadu (bisnis), kawasan riset terpadu (pendidikan), kawasan pusaka, kawasan bisnis dan parawisata terpadu, kawasan olahraga terpadu (budaya), kawasan pariwisata pulau terpadu, kawasan pengembangan koridor pantai dan sungai (maritim).

b. Memperkokoh “ATMOSFIR” tata ruang yang berciri “Makassar” yang kuat;

1) Mendorong percepatan pembukaan, pengembangan dan pengendalian ruang-ruang tepian air dan pulau-pulau dalam suatu sistim “Integrated Coastal Zone Management” (ICZM) berbasis mitigasi dan adaptasi yang diatur dalam sistim “COASTAL CODE” Kota Makassar sebagai “WAJAH”;

2) Merevitalisasi dan mengintegrasikan semua situs peninggalan sejarah lokal, nasional, nusantara dan global dalam suatu sistim yang terakumulasi, “BERALUR” dan “TURISTIK” sebagai “WARNA” dari atmosfir tata ruang wilayah Kota makassar 2030 (sejarah dan budaya);

3) Mengembangkan dan menyebarkan sentra-sentra “KULINER MAKASSAR” secara terpadu yang melibatkan “orang Makassar” sebagai pelaku-pelaku ekonomi utama agar tercipta “AROMA” dari atmosfir tata ruang wilayah Kota Makassar 2030;

4) Menetapkan kawasan khusus yang harus mengakomodasi “ARSITEKTUR LOKAL” dalam tingkatan gradasi penerapan sebagai “IRAMA” dari atmosfir tata ruang wilayah Kota Makassar 2030.

(18)
(19)

c. Memprioritaskan mitigasi dan adaptasi lingkungan pesisir dan sungai

1) “MEMBENTUK ULANG” pantai Kota Makassar menjadi “BENTUK BARU” garis pantai melalui kegiatan reklamasi pantai yang terencana, terkendali dan terbatas sesuai dengan prosedur peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagai usaha mitigasi dan adaptasi pesisir (mitigasi sedimentasi dan abrasi serta tsunami);

2) Menetapkan “STANDAR TINGKATAN PESISIR” dengan membangun “BENCHMARK MITIGASI” pada semua kawasan koridor pantai dan sungai. (mitigasi dan adaptasi “KENAIKAN MUKA AIR LAUT” serta banjir sungai); 3) Mengembangkan sistim jaringan prasarana “DRAINASE TANGKAP” di sepanjang pesisir pantai dan sungai

(mitigasi pencemaran);

4) Mengembangkan ruang-ruang “waterfront” dalam bentuk “KOTA TEPI SUNGAI” dan “KOTA TEPI LAUT” yang terpadu dengan “RTH KONSERVASI DAS” dan “KONSERVASI MANGROVE PANTAI” yang “PRODUKTIF” dan “TURISTIK"

d. Mengembangkan fungsi “TEMATIK” ruang yang berdaya saing tinggi berstandar global

1) Mengembangkan kawasan-kawasan “PROGRESIF” dan “PROSPEKTIF” baru yang memilki keunggulan strategis untuk membangun dan memperkuat “penempatan” Kota Makassar baik dalam perannya di Pulau Sulawesi, Indonesia bagian Timur, Nusantara, dan Global yaitu: kawasan bisnis global terpadu, kawasan riset dan pendidikan terpadu, kawasan energi terpadu, kawasan bandara terpadu, kawasan pelabuhan terpadu dan kawasan maritim terpadu

2) Mengembangkan seluruh kawasan ruang wilayah dengan konsep “RASIO TUTUPAN HIJAU” yang tinggi walaupun dengan koefisien daerah hijau (KDH) yang tersedia cukup rendah untuk mewujudkan “MAKASSAR GREEN CITY” dan “MAKASSAR LOW CARBON WATERFRONT CITY”

3) Mengembangkan kawasan-kawasan pariwisata “ THE TROPICAL MARINE ECOTOURISM” dan “THE TROPICAL RIVERPARK ECOTOURISM” yang merupakan “IKON-IKON” wisata yang paling diminati di dunia saat ini, sebagai kawasan “PEMICU” ekonomi berbasis ekoturisme.

e. Menyebar pusat-pusat kegiatan perkotaan yang tematik dan terpadu

1) Mengembangkan kawasan-kawasan “TEMATIK“ berdasarkan karakteristik daya dukung, daya tampung, daya tumbuh dan daya saing yang terpadu dan terakumulasi ,baik antar kawasan dalam ruang wilayah Kota maupun terpadu dalam kawasan dengan fungsi permukiman yang sesuai serta fungsi-fungsi pendukung lainnya dalam membentuk kawasan-kawasan yang “ANATOMIS” , “OTONOMIS” dan “PROFESIONAL” serta “PROSPEKTIF” yang tersebar merata dalam suatu bentuk “COMPACT CITY” yang “THEMATIC” berkarakter “MAKASSAR” 2) Mengembangkan dan meningkatkan jangkauan pelayanan sistim jaringan prasarana yang terpadu antar

kawasan dan sistim jaringan prasarana yang terpadu dalam kawasan dengan standar global. Mengembangkan “ATMOSFIR KARAKTER ARSITEKTUR” masing-masing kawasan dengan ke “KHAS”an masing masing sebagai “SUB KARAKTER” untuk membangun ruang wilayah Kota yang berciri “MAKASSAR” yang kuat.

f. Memaksimalkan ruang terbuka menjadi ruang terbuka hijau dengan mengembangkan dan memanfaatkan kawasan-kawasan ruang terbuka sebagai kawasan ruang terbuka hijau.

g. Meningkatkan “KUALITAS HIJAU” RUANG WILAYAH DENGAN “RASIO TUTUPAN HIJAU” (EMISI CO2) 1) Mengembangkan gerakan satu orang satu pohon, satu rumah “RASIO TUTUPAN HIJAU DIATAS 50%”, satu

kawasan satu jenis pohon.

2) Menetapkan ruang terbuka hijau kawasan baru hasil reklamasi diatas minimum 30 % dengan tingkat tutupan hijau di atas minimum 50 %;

3) Mengembangkan kawasan “TAMAN MANGROVE” baru pada setiap muara sungai dan muara kanal buatan serta kawasan-kawasan “PEMECAH ARUS”

(20)
(21)

h. Merevitalisasi kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana wilayah Kota

1) Mengembangkan dan meningkatkan interkoneksi antar pusat-pusat kegiatan Merevisi dan mengembangkan sistim jaringan drainase Kota Makassar

2) Mengembangkan sistim energi alternatif untuk mencukupi kebutuhan maksimal Kota Makassar 3) Mengembangkan sistim IPAL Kota dan ipal kawasan

4) Menetapkan sistim “ANTENA UTAMA” untuk menara telekomunikasi

5) Mengembangkan “SISTIM JARINGAN AIR BERSIH MANDIRI” untuk setiap kawasan 6) Mengembangkan “CYBER CITY” yang semua ruang wilayah Kotanya terlayani hot spot  7) Mengembangkan sistim jaringan CCTV Kota

i. Melengkapi Jaringan Prasarana Kota Standar Global ( JALAN LAYANG, TOL, STP KOTA, MONOREL) 1) Mengembangan sistim jalan layang pada simpul-simpul penting di Kota Makassar

2) Mendorong pembangunan kelanjutan jalan tol

3) Mengembangkan sistim jaringan prasarana jalan baru dengan 4 jalur 2 arah (standar global) 4) Mengembangkan sistim “STP” Kota

5) Mengembangkan sistim jaringan air bersih yang dapat langsung diminum setelah melalui sistem pengolahan 6) Mengembangkan sistim transportasi massal “MONOREL” terpadu

7) Mengembangkan sistim “PENANDA UMUM” yang berstandar global

8) Mengembangkan sistim jaringan “STREET SCAPE” terpadu untuk pejalan kaki dan sepeda

j. Mengembangkan sistim transportasi “AIR” dan sistim transportasi darat yang terpadu dengan “ODOT SYSTEM (one day one ticket) ”

1) Mengembangan sistim transportasi “AIR” Kota Makassar dimulai dari Sungai Jene’berang–Pantai Makassar –  Sungai Tallo

2) Mengembangkan sistim transportasi massal BUS WAY dan MONOREL 3) Mengembangkan sistim terminal dan dermaga laut terpadu dan “HIJAU” 4) Mengembangkan sistim terminal dan halte terpadu dan “HIJAU”

5) Mengembangkan sistim moda transportasi laut yang sesuai dengan karakteristik laut dan sungai

6) Mengembangkan pusat-pusat kegiatan pesisir yang TURISTIK, BERWAWASAN LINGKUNGAN dan PRODUKTIF

k. Mengembangkan sistim “INTERMODA” Transportasi yang Terpadu dan Hirarkhis 1) Bus way  untuk moda transportasi massal utama antar kawasan

2) Pete–pete menjadi feeder  dalam kawasan

3) Taksi becak menjadi moda transportasi dalam lingkungan 4) Sepeda menjadi moda transportasi individu utama

5) Pembatasan dan pengendalian motor 6) Pembatasan dan pengendalian mobil pribadi

7) Taksi motor menjadi moda transportasi antar lingkungan dalam Kota

8) Mengarahkan secara bertahap seluruh moda transportasi Kota berbahan bakar “GAS” dan “HYBRID” 2. Tinjauan Khusus Kebijakan Dan Strategi Penataan Ruang

Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah dil akukan dalam pengelolaan dan pengembangan struktur maupun pola ruang wilayah Kota Makassar.

a. Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang Kebijakan pengembangan struktur ruang meliputi:

(22)
(23)

a) Menjaga interkoneksi antar kawasan perKotaan, dan perKotaan dengan wilayah sekitarnya;

b) Mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang potensial dan belum terlayani oleh pusat pertumbuhan eksisting;

c) Mendorong kawasan perKotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan efektif dalam mendorong pengembangan wilayah sekitarnya;

d) Mendorong pengembangan pusat-pusat kawasan pertumbuhan ekonomi agar lebih produktif dan aktif sehingga dapat bersaing dalam skala global;

e) Mengembangkan SENTRA-SENTRA PRIMER baru di UTARA, TIMUR, BARAT dan SELATAN Kawasan Pusat Kota.

2) Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, dan energi secara terpadu dan merata di seluruh wilayah Kota Makassar yang meliputi:

a) Meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut dan udara;

b) Mendorong pengembangan prasarana telekomunikasi terutama di kawasan yang masih terisolir;

c) Meningkatkan jaringan energi dengan sistem kemandirian energi area mikro, serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik;

d) Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat terhadap pengadaan jaringan air bersih;

e) Mengembangkan dan menyempurnakan KESEIMBANGAN Sistem Transportasi antara KORIDOR UTARA-SELATAN dan KORIDOR TIMUR-BARAT serta pengembangan kemungkinan KORIDOR ALTERNATIF DIAGONAL Kota;

f) Mengembangkan SISTEM ANGKUTAN UMUM MASSAL dengan moda BUS sebagai moda angkutan utama antar sistim pusat-pusat kegiatan ke 12 Kawasan Terpadu, moda PETE-PETE sebagai FEEDER dari bagian-bagian ruang kawasan, dan moda BECAK sebagai moda angkutan masyarakat antar lingkungan Kawasan serta pengembangan terhadap kemungkinan-kemungkinan kelayakan MODA TRANSPORTASI KHUSUS diantarannya MONOREL.

b. Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang meliputi:

1) Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung, yang meliputi:

a) Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi sistem ekologi wilayah (ecoregion ); Strategi yang digunakan meliputi:

(1) Menetapkan kawasan lindung di ruang darat, laut maupun udara, dan ruang bawah muka bumi; (2) Mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah pulau dengan luas minimal 30% dari

luas pulau tersebut sesuai dengan kondisi ekosistemnya; dan

(3) Mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budidaya, dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.

b) Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup. Strategi yang digunakan meliputi:

(1) Menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi sistem ekologi wilayah;

(2) Melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;

(3) Melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;

(24)
(25)

(4) Mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan;

(5) Mengendalikan pemanfaatan sumberdaya alam secara bijaksana untuk menjamin kepentingan penerasi masa kini dan generasi masa depan;

(6) Mengelola sumberdaya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana, termasuk revitalisasi fungsi sistem ekologi lokal serta pembangunan sumberdaya baru untuk penghasilan dan pelestarian lingkungan;

(7) Mengelola sumberdaya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nil ai serta keanekaragamannya; dan

(8) Mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana.

2) Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan budidaya yang meliputi:

a) Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budidaya; Strategi yang digunakan meliputi:

(1) Menetapkan kawasan budidaya yang memiliki nilai strategis dan memanfaatkan sumberdaya alam di ruang darat, laut dan udara, termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah;

(2) Mengembangkan kegiatan budidaya unggulan di dalam kawasan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian wilayah;

(3) Mengembangkan dan melestarikan kawasan budidaya pertanian pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan wilayah;

(4) Mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk meningkatkan daya saing dan mewujudkan pengembangan ekonomi setempat;

(5) Mendukung kegiatan pengelolaan sumberdaya kelautan yang bernilai ekonomi tinggi di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia atau landasan kontinental untuk meningkatkan perekonomian nasional;

b) Pengendalian perkembangan kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.

Strategi yang digunakan meliputi:

(1) Membatasi perkembangan budidaya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana.

(2) Menumbuhkembangkan fisik pusat Kota dengan mengoptimalkan pemanfaatan ruang secara vertikal dan kompak, asri dan lestari seperti Kota taman;

(3) Menumbuhkembangkan kegiatan agropolitan yang memadukan agroindustri, agrobisnis, agroedukasi serta model rumah kebun di klaster sentra-sentra produksi komoditas pertanian unggulan;

(4) Mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas minimal 30% dari luas kawasan perKotaan; (5) Mengembangkan kegiatan budidaya kelautan yang dapat mempertahankan keberadaan

pulau-pulau kecil.

c. Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Kawasan Strategis Kota Kebijakan pengembangan kawasan strategis Kota ini meliputi:

1) Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi

(26)
(27)

perlindungan kawasan, melestarikan keunikan/keunggulan lokal, serta melestarikan warisan ragam budaya lokal;

2) Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian wilayah yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian nasional maupun regional;

3) Pemanfaatan sumberdaya alam dan atau perkembangan Iptek secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat;

4) Pelestarian dan peningkatan kualitas sosial dan budaya lokal yang beragam; dan d. Kebijakan Dan Strategi Pengembangan Kawasan Terpadu

Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan terpadu meliputi: 1) Pengembangan KAWASAN PUSAT KOTA

Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mendorong pengembangan kawasan strategis skala Nasional dan Internasional pada kawasan ekonomi prospektif terutama di kawasan sekitar Karebosi, Sepanjang Pantai Losari, Kawasan Pecinaan Utara Makassar, Koridor Jln Jend. Sudirman – Jln DR. Ratulangi dan Koridor Jl. A.P.Pettarani.

b) Mengembangkan sarana dan fasilitas TRANSPORTASI yang mendukung pengembangan SISTEM ANGKUTAN UMUM MASSAL.

c) Mengembangkan Progam peremajaan Kawasan KUMUH BERAT terutama pada Konsentrasi Kawasan kumuh Mariso, Kawasan kumuh sekitar Jln. Abubakar Lambogo dan Kawasan Kumuh Baraya dengan PEREMAJAAN TERBATAS untuk pembangunan RUMAH SUSUN MURAH.

Dengan Sistem: (1) Tanpa MENGGUSUR; (2) BERGULIR; (3) MUTUALISTIS; (4) PENGGUNAAN CAMPURAN; (5) 3 in 1.

d) Merevitalisasi KAWASAN PANTAI LOSARI secara terpadu dengan mereklamasi terbatas ruang pantai hanya untuk RUANG PUBLIK.

e) Membatasi pembangunan pada RUANG BELAKANG PANTAI LOSARI sekitar kawasan Makassar Golden Hotel (MGH) dengan membuat JALAN ARTERI “PEMBATAS” sampai ke depan BENTENG JUMPANDANG sekaligus memecahkan masalah kemacetan akibat SUMBATAN pada daerah sekitar MGH dan Memperkuat eksistensi BENTENG JUMPANDANG.

f) Menata SISTEM DRAINASE Kawasan Pesisir PANTAI MAKASSAR dengan pembuatan SALURAN TANGKAP sepanjang Pantai yang dilengkapi dengan SISTEM INSTALASI PENGELOHAN LIMBAH. g) Mengembangkan SISTEM INTERKONEKSI antara Jaringan Transportasi Darat dan jaringan Transportasi

Air serta Jaringan Pedestrian secara terpadu dengan sistem transportasi Makro.

h) Mendukung Pembangunan kawasan Bangunan Tinggi yang sudah terencana dengan standar Global seperti pada Kawasan Kompleks Apartemen Panakukang Makassar.

2) Pengembangan KAWASAN PERMUKIMAN TERPADU Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mendorong pembangunan KLUSTER PERMUKIMAN dengan standar yang baik dan baku serta memberikan KEMUDAHAN kepada setiap PENGEMBANG yang mampu Mewujudkan dan Memelihara

(28)
(29)

Kawasannya dengan KEASRIAN yang tinggi dan estetik dalam kegiatan melaksanakan kelanjutan Pembangunan Kawasannya.

b) Mendukung Pembangunan Kawasan SENTRA PRIMER TIMUR Baru pada Kawasan Panakukang Mas sebagai CBD kawasan Permukiman.

c) Mengembangkan dan menata sistim drainase kawasan permukiman terpadu serta menetapkan KONTROL TINGKATAN terhadap kawasan-kawasan permukiman tersebut agar bebas banjir dan bebas genangan.

d) Mendorong pertumbuhan kawasan permukiman kepadatan sedang sampai tinggi dalam upaya efesiensi pemanfaat ruang.

3) Pengembangan KAWASAN PELABUHAN TERPADU Strategi yang diupayakan:

a) Mendukung Rencana pembangunan PELABUHAN SOEKARNO-HATTA tahap 2 dan peningkatannya menjadi pelabuhan skala Internasional serta menjadi HUB PORT  di Timur Indonesia.

b) Mendukung pola pemanfaat ruang baru dengan jalan kegiatan REKLAMASI RENCANA sesuai dengan kaidah lingkungan dalam rangka memanfaatkan hasil sendimentasi yang ada.

c) Mengembangkan ruang-ruang kawasan yang baru hasil reklamasi terencana menjadi sentra-sentra primer baru di utara dengan fungsi-fungsi yang mendukung Fungsi Utama Kegiatan Kepelabuhanan.

d) Mengembangkan Jaringan jalan dan jembatan baru menyusuri pesisir pantai utara Makassar sebagai JALAN ARTERI ALTERNATIF tanpa melalui Jalan bebas hambatan menghubungkan kepada semua Sistim Pusat Kegiatan Kawasan-kawasan Ekonomi.

e) Mengembangkan ruang-ruang kawasan yang baru hasil reklamasi terencana menjadi sentra-sentra primer baru di utara dengan fungsi-fungsi yang mendukung Fungsi Utama Kegiatan Kepelabuhanan.

f) Menata kembali ruang-ruang kawasan berkualitas rendah dengan peremajaan ruang kawasan dengan model RUMAH SUSUN MURAH.

g) Meningkatkan kualitas DAS dengan kegiatan Normalisasi Sungai Tallo Mulai dari Muara sampai ke hulu. 4) Pengembangan KAWASAN BANDARA TERPADU

Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mendukung pembangunan Bandara Internasional Hasanuddin Tahap 2 dengan fungsi-fungsi baru yang strategis.

b) Mendukung pembangunan jalan bebas hambatan Makassar – Mandai

c) Mengendalikan Koefisien lantai bangunan sesuai dengan persyaratan bandara pada wilayah KAWASAN KESELAMATAN OPERASI PENERBANGAN (KKOP).

d) Mengembangkan kawasan Pusat Industri kecil yang berikat pada koridor KKOP. e) Mengembangkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada koridor Mandai – Makassar.

f) Membangunan jaringan transportasi air dengan sarana terminal dan dermaga yang terkoneksi dengan  jaringan jalan tersingkat menuju Bandara dalam bentuk KORIDOR WISATA sebagai terobosan dalam

upaya meningkatkan kegiatan Parawisata berdasarkan keunggulan dan keunikan lokal. 5) Pengembangan KAWASAN MARITIM TERPADU

Strategi yang dilakukan adalah:

a) Melanjutkan pembangunan Kawasan Permukiman Nelayan terpadu di Untia dengan melengkapi sarana dan prasarana yang lebih layak.

(30)
(31)

b) Mendukung kegiatan reklamasi terencana guna penyediaan ruang untuk pembangunan PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA.

c) Mengembangkan pembangunan jaringan jalan baru ke Kawasan Bandara, Kawasan Pelabuhan, Kawasan Pergudangan dan Kawasan Industri.

d) Mengembangkan sentra-sentra primer baru yang melengkapi dan memperkuat fungsi kemaritiman Kawasan di antaranya Kawasan Bisnis Maritim, Kawasan Rekreasi Pesisir, Kawasan Eco Tourism  ”Mangrove”, Kawasan Industri Maritim, dan Pusat Restoran seafood .

e) Mengembangkan Kawasan RTH koridor pesisir pantai utara.

f) Menerapkan prinsip-prinsip MITIGASI pada setiap kegiatan pembangunan pada kawasan ini. 6) Pengembangan KAWASAN INDUSTRI TERPADU

Strategi yang diupayakan adalah:

a) Mendorong pengembangan KIMA yang menjadi magnet kawasan.

b) Mendorong pembangunan IPA, IPAL dan Power Plant untuk memenuhi kebutuhan Kawasan ini.

c) Menetapkan KONTROL INTENSITAS BANGUNAN dengan ketat dan menentukan saat Intensitas Bangunan Industri harus dinaikkan.

d) Mendukung Pembangunan Jalan Bebas Hambatan Makassar – Mandai. e) Mengembangkan Jaringan Jalan baru menuju Kawasan ini.

f) Mendorong pembangunan sentra-sentra kegiatan Bisnis Industri, Permukiman pekerja industri, dan Pusat Kegiatan sektor informal.

7) Pengembangan KAWASAN PERGUDANGAN TERPADU Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mendukung kegiatan pembangunan bagian-bagian kawasan pergudangan yang terencana.

b) Mengembangkan sistim drainase kawasan yang terpadu dengan SISTIM KANALISASI yang juga mampu di fungsikan sebagai sarana transportasi air dalam upaya membebaskan kawasan dari bahaya banjir dan genangan serta menghidupkan kegiatan parawisata.

c) Mendorong pembangunan sentra sentra Bisnis, Permukiman, Rekreasi dan Pusat Kegiatan sektor Informal dalam mendukung fungsi utama kawasan.

8) Pengembangan KAWASAN PENDIDIKAN TINGGI TERPADU Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mengembangkan kawasan Daerah Aliran Sungai belakang Kampus Unhas, Kampus UMI dan Kampus Universitas 45 menjadi PENGIKAT Kawasan dan menjadi MUKA baru yang ditata dengan standar global sekaligus memanfaat peluang untuk menata kawasan secara terencana dan mengalihkan orientasi lama pada koridor Jln Perintis Kemerdekaan.

b) Mendorong pembagunan sentra sentra bisnis pendidikan, permukiman, asrama-asrama, sarana rekreasi dan sarana Perpustakaan serta dekat dengan Kawasan Riset terpadu sebagai kegiatan pendukung Fungsi Utama Kawasan.

c) Mengembangkan jaringan jalan baru untuk mewujudkan titik orientasi baru bagi Kawasan Pendidikan Tinggi Terpadu dengan memanfaatkan daya tarik sungai sebagai Benchmark alam.

d) Mengembangkan dan menata kawasan Ruang Terbuka Hijau pada Keseluruhan Kawasan dengan standar yang tinggi dan dengan koefisien tutupan hijau minimum 50% atau di atas standar optimal 47%. 9) Pengembangan KAWASAN BUDAYA TERPADU

(32)
(33)

a) Menetapkan kawasan sekitar BENTENG SOMBA OPU sebagai kawasan konservasi budaya dan sejarah dan menjadi Pusat Budaya Sulawesi Selatan yang di tata secara terpadu.

b) Mengembangkan dengan jalan membuat kembali RENCANA INDUK kawasan Taman Miniatur Sulawesi (TMS) menjadi Kawasan Pusaka dan Taman Tema SOMBA OPU yang terpadu guna untuk memperkuat NILAI PRODUKVITAS EKONOMI kawasan ini yang selama ini cenderung sangat terlantar dan mengalami DEGRADASI BERAT secara fisik yang disebabkan oleh besarnya beban biaya pemeliharaan.

c) Mengalihkan Orientasi Gerbang Mauk ke Arah Barat melewati pinggir Danau Tanjung Bunga dan membuka gerbang utama yang baru dari arah Selatan melalui pinggir sungai Jeneberang.

d) Mengembangkan Kawasan ini menjadi Pusat Hijau Binaan dengan tingkat tutupan hijau minimum yaitu sebesar 60%.

e) Mengembangkan sentra-sentra bisnis berwawasan budaya, kegiatan wisata air, kegiatan MICE dan Kegiatan Hotel serta Restaurant sebagai kegiatan pendukung dan pelengkap Fungsi Utama Kawasan. 10) Pengembangan KAWASAN OLAHRAGA T ERPADU

Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mendorong pembangunan stadion sepak bola dan lapangan-lapangan olahraga lainnya baik untuk sarana LATIHAN maupun untuk pertandingan yang didesain secara terpadu dengan Konsep SIMBIOSIS MUTUALISTIS antara konsep OLAHRAGA, TURISME dan BISNIS, serta antara Olahraga DARAT dan Olahraga LAUT di sepanjang garis pantai Barombong.

b) Mengembangkan SISTIM JARINGAN TRANSPORTASI MASSA menuju kawasan ini sebagai KAWASAN TUJUAN bagian selatan Kota.

c) Mendukung kegiatan “PEMBENTUKAN KEMBALI” yang terencana untuk bentuk pesisir pantai Barombong dengan jalan mereklamasi pesisir pantai dari deposit pasir hasil sendimentasi alam sebagai upaya MITIGASI terhadap bencana sepanjang pesisir pantai Barombong dan mendukung pemanfaatan ruang untuk kegiatan OLAHRAGA, TURISME dan BISNIS hasil dari kegiatan mereklamasi dan membentuk kembali

d) Mendorong tumbuhnya sentra-sentra Bisnis Olahraga, Kegiatan Wisata air dan darat, Ruang-ruang permukiman ber atmosfir resort sebagai kegiatan – kegiatan pendukung dan pelengkap dari Fungsi utama kawasan.

e) Mengembangkan RTH dengan tingkat tutupan hijau minimum 50% sebagai upaya untuk mengeleminir kecepatan angin yang berlebih serta upaya untuk menurunkan temperatur lingkungan dalam rangka mendukung tuntutan ATMOSFIR Kawasan.

11) Pengembangan KAWASAN BISNIS DAN PARAWISATA TERPADU Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mendorong kelanjutan pembangunan KOTA BARU TANJUNG BUNGA sesuai dengan MASTERPLAN yang telah di sahkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan sesuai dengan penetapan KOMPOSISI yang seimbang antara Kawasan BISNIS, WISATA dan PERMUKIMAN.

b) Mengembangkan Fungsi JALAN METRO yang merupakan FASUM dari Kawasan ini sebagai JALAN LINGKAR KOTA yang sangat strategis dan penting yang menghubungkan Kawasan Pusat Kota dengan Kawasan Barat dan Selatan Kota.

c) Mengembangkan Kawasan DANAU TANJUNG BUNGA menjadi KAWASAN WISATA PUBLIK dan Kawasan Olahraga Air berstandar Internasional serta menjadi Kawasan PUSAT JAJAN DAN MAKANAN UNGGULAN MAKASSAR di sepanjang kedua pesisir danau dengan atmosfir yang berwawasan Lingkungan.

(34)
(35)

d) Mendukung kegiatan Pembentukan Kembali yang Terencana demi Bentuk Pesisir Pantai Tanjung Bunga melalui kegiatan reklamasi dari deposit pasir hasil sendimentasi alam dalam upaya MEMITIGASI pesisir pantai Tanjung Bunga terhadap Bencana dan memanfaatkannya menjadi Kawasan WATERFRONT CITY dengan standar dan gaya internasional pada Kawasan sekitar Muara Pembuangan Danau Tanjung Bunga (Ex Sungai Balang Beru)

e) Mengembangkan Kawasan Riverside Sungai Jeneberang sebelah Barat   Rubber Dam sebagai jalur TRANSPORTASI AIR Kota dan kawasan sebelah timur Rubber dam sebagai kawasan Wisata air “bergerak”.

f) Mengembangkan RTH dengan tingkat tuupan hijau minimum 50 % untuk mewujudkan kenyamanan lingkungan yang baik dan asri diseluruh kawasan ini.

g) Mendorong pembangunan sentra-sentra bisnis baru, kegiatan wisata yang lengkap dan spesifik serta unik dan permukiman-permukiman bernuansa resort  dengan standar dan gaya internasional.

12) Pengembangan KAWASAN BISNIS GLOBAL TERPADU Strategi yang dilakukan adalah:

a) Mengembangkan KAWASAN TANAH TUMBUH yang merupakan tanah kosong milik negara sebagai Pusat BISNIS berstandar GLOBAL yang terpadu dan menjadi WAJAH INTERNASIONAL Kota Makassar. b) Mengembangkan pembangunan Kawasan dengan KLB tinggi dan KDB rendah dengan pola pemanfaatan

ruang standar Internasional dalam upaya mewujudkan misi Kawasan sebagai WAJAH MASA DEPAN Kota Makassar.

c) Mendorong percepatan Pembangunan Celebes Convention Center.

d) Mengembangkan pembangunan sistim jaringan jalan baru yang terpadu pada kawasan ini.

e) Mempercepat kegiatan Pembentukan Kembali bentuk pesisir pantai Kawasan Tanah Tumbuh dan sekitarnya dengan jalan mereklamasi Kawasan sekitar Tanah tumbuh dari deposit pasir hasil sendimentasi alam berdasarkan kaidah-kaidah lingkungan sebagai usaha untuk memenuhi KEBUTUHAN MITIGASI pantai Tanah Tumbuh dan Pantai Losari dan memanfaatkan ruang hasil reklamasi secara TERENCANA dan PRODUKTIF sesuai dengan Fungsi Utama Kawasan.

f) Mendorong Percepatan dan Keberlajutan pembangunan RUSUN di Mariso sebagai usaha untuk meremajakan Kawasan Kumuh yang ada di sekitar Kawasan ini.

(36)

Gambar

Gambar 2-1 Komplementar nasi yang berperan sebagai n  yang  mengikat  untuk setia
Gambar 2-2 Peta Kawasan Terpadu di Kota Makassar
Gambar 2-3 Tipologi
Gambar 2-6 Diagram Sungai

Referensi

Dokumen terkait

Setelah melaksanakan pembelajaran mata pelajaran IPA kompetensi dasar Mengidentifikasi beberapa jenis hubungan khas (simbiosis) dan hubungan makan dan di makan antar

Berdasarkan konsepsi geomorfologi, daerah penelitian merupakan bagian graben yang berbatasan langsung dengan bidang patahan ( horst ) dari Perbukitan Baturagung berada di sisi

hasil wawancara penulis pada bab III, bahwa terdapat kecurangan praktik jual beli yang dilakukan oleh depot air minum isi ulang Dua Putera, karena penjual dengan sengaja

Hukum dalam arti sempit atau formil tertulis, berupa undang-undang dan peraturan lainnya yang dibuat oleh penguasa atau badan legislatif suatu negara.. Hukum dalam arti luas

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan peneliti di Rumah Susun Sederhana Sewa Wonocolo atau Rusunawa Wonocolo, bahwa terdapat ketidaksesuaian pada penerapan tarif

Perlakuan cekaman dingin selama 5 hari pada antera sebelum dikultur dengan media kultur menggunakan hormon pertumbuhan 2.4-D + kinetin mampu mendapatkan kalus embriogenik lebih

Jika tidak ada, name server lokal akan melakukan query kepada root server dan mereferensikan name server untuk TLD (Top Level Domain) .com, kemudian root server akan

 PT Inhutani II Unit Semamu memiliki dokumen mengenai kegiatan peningkatan peran serta dan aktivitas ekonomi masyarakat yang dilakukan melalui program RKT dan