SENSITIVITY AND SPECIFICITY DETERMINATION OF IDEAL BODY WEIGHT STANDARDS BASED BROCCA AND WAIST HIP RATIO ( RLPP )
AGAINST THE BODY MASS INDEX ( BMI ) IN ACEH POLYTECHNIC EMPLOYEES
SENSITIVITAS DAN SPESIFISITAS PENENTUAN BERAT BADAN IDEAL BERDASARKAN STANDAR BROCCA DAN RASIO LINGKAR PINGGANG
PANGGUL (RLPP) TERHADAP INDEKS MASSA TUBUH (IMT) PADA PEGAWAI POLTEKKES ACEH
Iskandar* dan Alfridsyah** dan Abul Hadi*** Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Aceh
Jln. Soekarno-Hatta Kampus Terpadu Poltekkes Kemenkes Aceh Email : [email protected]
ABSTRACT
Many methods are used to determine your ideal weight, in Indonesia, which is often used is the standard Brocca and BMI, while RLPP to detect the spread of fat in adipose issue. Ideal bodies of each course, there are differences in how these weight values are considered most desirable. This difference raises the question of determining the actual Which better utritional status. It is necessary for a study of the validity (sensitivity and specificity) method of determining ideal weight based on standard Brocoa, BMI, RLPP.The purpose of the study determine the sensitivity and specificity of the method of determining ideal weight based on standard Brocca and RLPP to IMT. Type of research is cross-sectional and Analytic Epidemiology in assessing the sensitivity and specificity of the measurement tool determinants of nutritional status/ideal weight. The experiment was conducted from September to December 2013 at the Polytechnic of Health Ministry of Health of Aceh. Sample of 49 people drawn from the study data Risbinakes in 2011 with the title " Relationship Performance Based IMT polytechnic lecturers ". Analysis of the data with the test Se and Sp of each method.Results of male height reratanya larger (164.4 ± 5.8 cm) than in women (153.3 ± 4.2 cm). Weight men reratanya greater (71.4 ± 9.1 kg) than women ( 65.5 ± 14.6 kg ) . Waist circumference men the avarage greater ( 93.8 ± 9.1 cm ) than women ( 84.6 ± 11.5 cm ) . While the male hip circumference the avarage lower ( 100.7 ± 5.6 cm ) than women ( 103.4 ± 12.0 cm ) . Standard Brocca have more sensitivity to detect malnutrition at 97.1 % , while the specificity for detecting normal nutritional status at 71.4 %. Waist Hip Ratio has the sensitivity to detect low nutrition (42.8 %) while the specificity for detecting normal nutritional status (78.6 %). In women, the standard Brocca have a higher sensitivity for detecting 100 % more nutrition. In RLPP men have higher specificity (100 %) for the detection of normal nutritional status. Conclusions In women, Brocca standard has a higher sensitivity for detecting 100 % more nutrition while on Waist Hip Ratio men have higher specificity (100 %) for the detection of normal nutritional status.
Keyword; Sensitivity, Specificity, BMI, Standart Brocca, and Waist Hip Ratio Reading List : 16 (1989 - 2011)
*) staf Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes RI Aceh
ABSTRAK
Penetuan berat badan idealyang sering digunakan adalah standart Brocca dan IMT terutama di institusi rumah sakit.Banyaknya cara menentukan Berat Badan Ideal, tentunya terdapat perbedaan nilai berat badan yang dianggap ideal dari masing-masing cara tersebut. Perbedaan ini akan menimbulkan pertanyaan manakah sebenarnya penentuan status gizi yang lebih baik. Untuk itu perlu dilakukan suatu studi tingkat validitas (sensitivitas dan spesifisitas) cara penentuan status gizi/berat badan ideal berdasarkan standar Brocca, IMT, RLPP. Tujuan penelitianmengetahui sensitifitas dan spesifisitas berat badan ideal berdasarkan standar Brocca dan RLPP terhadap IMT. JenispenelitiannyaCrossectional dan bersifat Epidemiologi Analitik,pelaksaannya pada September sampai Desember 2013 di Poltekkes Aceh. Sampel sebanyak 49 orang diambil dengan metode purposive Sampling. Analisa data dengan uji Se dan Sp dari masing-masing metode. Standar Brocca mempunyai sensitivitas mendeteksi gizi lebih sebesar 97,1%, sedangkan untuk spesivisitas mendeteksi status gizi normal senbesar 71,4%.Rasio Lingkar Pinggang Panggul mempunyai sensitivitas untuk mendeteksi gizi lebih yang rendah (42,8%) sedangkan untuk spesifisitas mendeteksi status gizi normal (78,6%).Pada perempuan, standart Brocca mempunyai sensitivitas lebih tinggi 100% untuk mendeteksi gizi lebih.Pada laki-laki RLPP mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi (100%) untuk mendeteksi status gizi normal. Pada perempuan, standart Brocca mempunyai sensitivitas lebih tinggi 100% untuk mendeteksi gizi lebih sedangkan pada laki-laki RLPP mempunyai spesifisitas yang lebih tinggi (100%) untuk mendeteksi status gizi normal.
Kata Kunci; Sensitivitas, Spesifisitas, IMT, Standart Brocca, dan RLPP
PENDAHULUAN
Banyak cara yang dapat digunakan untuk menentukan berat badan ideal pada orang dewasa berusia 25 tahun ke atas untuk mengetahui berat badan orang tersebut apakah tergolong kurus, ideal, atau gemuk. Cara yang sering digunakan di Indonesia adalah standart Brocca, terutama adalah di institusi rumah sakit. Sedangkan Rasio lingkar pinggang panggul (RLPP) merupakan suatu metode yang sederhana untuk menjelaskan distribusi penumpukan lemak di bawah kulit dan jaringan adiposa intra abdominal. RLPP pada
laki-laki > 1.0 dan pada perempuan > 0,8 merupakan indikasi dari obesitas1.
Di negara-negara eropa, seperti Amerika dan canada, cara yang telah umum digunakan adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Atmarita dan Lucya (1992) menyatakan bahwa baik standar Brocca maupun Indek Massa Tubuh ternyata sangat sensitif ( Se > 90) dalam menentukan berat badan normal pada orang dewasa2.
Dengan banyaknya cara yang dapat digunakan untuk menentukan Status Gizi atau Berat Badan Ideal pada orang dewasa yang tentunya terdapat
perbedaan nilai berat badan yang dianggap ideal dari masing-masing cara akan terjadi. Perbedaan yang terjadi tersebut akan menimbulkan pertanyaan yang manakah sebenarnya penentuan status gizi yang lebih baik (memiliki tingkat validitas yang tinggi) untuk digunakan3. Untuk itu perlu dilakukan suatu studi melihat bagaimana tingkat validitas (sensitivitas dan spesifisitas cara penentuan status gizi/berat badan ideal berdasarkan standar Brocoa, IMT, RLPP pada pegawai Poltekkes Kemenkes Aceh.
Tujuan
Untuk mengetahui tingkat sensitifitas dan spesifisitas dari cara penentuan status gizi/berat badan ideal berdasarkan standar Brocca dan Rasio Lingkar Pinggang dan Panggul terhadap Indeks Massa Tubuh.
Perumusan Masalah
Terdapatnya 3 (tiga) metode yang sering digunakan dalam menentukan status gizi orang dewasa yaitu Standar Brocca, IMT, RLPP yang berbeda penggunaannya4 dan untuk memberikan alternative pilihan cara menentukan berat badan ideal orang dewasa yang paling baik dalam menentukan berat badan ideal/status gizi, perlu dilakukan
studi sensitifitas dan spesifisitas dari ketiga cara tersebut agar penilaian terhadap status gizi tidak memberikan perbedaan yang sangat jauh pada setiap cara yang digunakan.
Gambar 1.
Kerangka Pikir dari penelitian
METODE PENELITIAN Desain Penelitian
Dilakukan secara Cross Sectional dan bersifat Epidemiologi5 Analitik didalam mengkaji Sensitifitas dan Spesifisitas terhadap alat ukur penentu status gizi/berat badan ideal.
Tempat dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di semua Jurusan Politeknik Kesehatan Aceh yang ada di kota Banda Aceh dan Aceh Besar, dan dilaksanakan pada bulan September sampai dengan November 2013.
Populasi dan sampel
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh fungsional dosen yang terdapat pada jajaran Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Aceh sedangkan sampel
Karekteris-tik
sex dan umur Keadaan gizi
Cara penentuan BBI
IMT
Broc-ca RLPP
diambil dengan metode Purposive
Sampling6 dengan kriteria inklusi adalah Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan fungsional dosen, berbadan sehat dan tidak hamil bagi perempuan, berada di Banda Aceh selama waktu penelitian, bersedia dan mau ikut dijadikan responden dalam penelitian.
Definisi Operasional
Berat Badan adalah ukuran tubuh yang menggambarkan jumlah massa tubuh, diukur dengan timbangan injak dengan ketelitian 0,1 kg dan skala rasio. Tinggi Badan adalah ukuran tubuh yang menggambarkan panjang ruas tubuh yang meliputi tunggkai bawah, tulang panggul, tulang belakang, tulang leher, dan kepala pada posisi tegak sempurna, diukur dengan pengukur tinggi badan dengan ketelitian 0,1 cm, dan skala rasio.
Rasio Lingkar Pinggang Panggul adalah hasil perbandingan nilai pengukuran pinggang terhadap lingkar panggul yang dinyatakan dalam skala rasio, dengan perhitungan dua desimal terdekat.
Berat Badan Ideal menurut Brocca: Berat badan yang diperoleh melalui perhitungan dengan rumus:
a. (tinggi badan – 100) – 10%. untuk pria tinggi badan > 160 cm dan wanita > 150 cm
b. (tinggi badan – 100). untuk pria tinggi badan < 160 cm dan wanita < 150 cm.
Berat badan Ideal menurut IMT adalah berat badan yang diperoleh dari perkalian antara tinggi badan kuadrat dalam satuan meter dengan nilai batas IMT normal yaitu: 18,7 – 22,8 untuk perempuan dan 20,1 – 25,0 untuk laki-laki.
Sensitivitas Pengukuran BBI adalah kemampuan suatu cara atau alat dalam menentukan berat badan ideal.
Spesifisitas Pengukuran BBI adalah kemampuan suatu cara atau alat dalam menentukan berat badan ideal selain dari berat badan ideal (kurus atau gemuk).
Jenis Data
Data yang dikumpulkan yang dianalis dalam penelitian ini adalah data sekunder dari penelitian Risbinakes Poltekkes Kemenkes RI Aceh tahun 2011 dengan tema “Hubungan Kinerja Dosen Poltekkes Berdasarkan IMT”.
Datanya mencakup semua
variabel/dimensi/ aspek yang diteliti mencakup pengisian kuesioner dan
penguran antropometri dan sekunder tentang gambaran umum Jurusan sampel/responden.
Pengumpulan data
Data primer dalam penelitian ini diperoleh secara pengisian kuesioner oleh responden terhadap variabel karakteristik, dan pengukuran antropometri yang mencakup berat badan dengan mengunakan timbangan injak digital dengan ketelitian 0,1 kg, data tinggi badan dengan mengukanan
microtoise dengan ketelitian 0,1 cm,
data Rasio Lingkar Pinggang Panggul dengan mengunakan pita meteran. Pengumpulan data dilakuan oleh peneliti dengan dibantu oleh 3 (tiga) orang mahasiswa Jurusan Gizi Poltekkes Aceh.
Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan dan penganalisaan data dilakukan dengan mengunakan perangkat lunak komputerisasi. Analisa data dilakukan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan mengunakan tahapan analisa univariat untuk melihat deskripsi dari variabel yang diteliti, analisa sensitifitas dan spesifisitas dengan uji Se dan Sp untuk masing-masing cara yang akan diuji yang
dibagi menjadi 2 (dua) kategori ideal-gemuk dan ideal-kurus.
HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian
Populasi dari penelitian ini adalah seluruh fungsional dosen yang terdapat pada jajaran Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Aceh dengan kriteria inklusi adalah Pegawai Negeri Sipil yang menduduki jabatan fungsional dosen, berbadan sehat dan tidak hamil bagi perempuan, berada di Banda Aceh selama waktu penelitian, bersedia dan mau ikut dijadikan responden dalam penelitian. Adapun rincian responden berdasarkan Jurusan adalah sebagai berikut :
Tabel 3. Distribusi Responden Berdasarkan Jurusan No Jurusan Jumlah n % 1. Gizi 13 26.5 2. Kebidanan 9 18.4 3. Keperawatan 11 22.4 4. Kesehatan Gigi 7 14.3 5. Kesehatan Lingkungan 9 18.4 Jumlah 49 100 HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian mengenai tingkat sensitivitas dan spesifisitas penentuan berat badan ideal berdasarkan Rasio Lingkar Pinggang Panggul (RLPP) dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dibandingkan dengan standar Brocca
pada pegawai Poltekkes Kemenkes RI Aceh di uraikan dalam bentuk analisis deskriptif dan analitik sesuai dengan tujuan penelitian
Karekteristik Sampel
Sampel yang diteliti berjumlah 49 orang yang terdiri dari 26 (53,1%)
orang laki-laki dan 23 (46,9%) orang perempuan. Penyebaran jumlah sampel berdasarkan jenis kelamin dan kelompok umur akan disajikan pada tabel berikut ini:
Tabel 4. Distribusi Sampel Berdasarkan Kelompok Umur Kelompok Umur (tahun) Jenis Kelamin
Jumlah Laki-laki Perempuan n % n % n % < 30 2 33,3 4 66,7 6 100 30 - 50 14 66,7 9 33,3 21 100 > 50 10 45,4 12 54,6 22 100 Total 26 53,1 23 46,9 49 100 Ukuran Antropometri Tinggi Badan
Berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan sampel diketahui bahwa sampel laki-laki lebih tinggi badannya dibandingkan dengan perempuan, untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 3 berikut ini:
Tabel 5. Rerata Tinggi Badan Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin n Tinggi Badan (cm) ẍ±SD Min Maks Laki-laki Perempuan 26 23 164,4±5,8 153,1 176,5 153,3±4,2 142,7 158,7 Berat Badan
Berikut ini di sajikan hasil pengukuran berat badan sampel berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 6. Rerata Berat Badan Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin n Barat Badan (kg) ẍ± SD Min Maks Laki-laki Perempuan 26 23 71,4±9,1 55,9 90,3 65,5±14,6 49,0 107,0
Berdasarkan hasil pengukuran berat badan sampel dapat diketahui bahwa berat badan sampel laki-laki juga lebih besar dari pada sampel perempuan. Namun demikian nilai rentang berat badan sampel perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-laki dan nilai maksimumnya jauh lebih besar (107 kg) dari laki-laki (90,3 kg).
Lingkar Pinggang
Dari hasil pengukuran lingkar pinggang diketahui bahwa lingkar pinggang sampel laki-laki juga lebih
besar dibandingkan dengan perempuan. Rerata lingkar pinggang sampel dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini;
Tabel 7. Rerata Lingkar Pinggang Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin n Lingkar Pinggang (cm) ẍ± SD Min Maks Laki-laki Perempuan 26 23 93,8±9,1 73,0 110,0 84,6±11,5 69,0 115,0 Lingkar Panggul
Berikut ini juga di sajikan hasil pengukuran Lingkar Panggul sampel berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 8. Rerata Lingkar Pinggang Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin n Lingkar Panggul (cm) ẍ± SD Min Maks Laki-laki Perempuan 26 23 100,7±5,6 89,0 113,0 103,4±12,0 88,8 137,0
Berdasarkan hasil pengukuran lingkar panggul sampel dapat diketahui bahwa ukuran lingkar panggul sampel sampel permpuan lebih besar dari pada sampel laki-laki. Demikian juga nilai rentang ukuran lingkar panggul sampel perempuan lebih besar dibandingkan dengan laki-laki dan nilai maksimumnya jauh lebih besar (137,0 kg) dari laki-laki (113,0 kg).
Analisis Sensitifitas dan Spesifitas Cara Penentuan Berat Badan
Dalam analisis sensitifitas dan spesivisitas digunakan Indek Massa
Tubuh penentuan berat badan ideal sebagai penguji dengan standart Brocca dan Rasio Lingkar Pinggang Panggul sebagai cara yang di uji. Setelah ditentukan berat badan idealnya berdasarkan ketiga cara penentuan berat badan ideal tersebut, masing-masing sampel dinilai persen berat badannya terhadap berat badan ideal menjadi status gizi lebih, normal, dan kurang7. Berdasarkan pada pada penilaian tesebut, maka diperoleh prevalensi dari status gizi sampel dapat dilihat pada tabel 9 berikut ini:
Tabel 9. Status Gizi Sampel
Berdasarkan Standart Brocca, IMT dan RLPP Cara Penentua n BBI Status Gizi Jumlah Lebih Normal n % n % n % Brocca IMT RLPP 33 35 18 67,3 71,4 36,7 16 14 31 32,7 28,6 63,3 49 49 49 100 100 100
Berdasarkan tabel 9 diatas, maka ketiga cara penentuan berat badan ideal memberikan angka prevalensi status gizi sampel yang bervariasi. Walaupun demikian, beberapa angka prevalensi menunjukkan nilai yang hampir sama besarnya sebagaimana ditunjukkan oleh standart Brocca dan IMT baik pada status gizi lebih ataupun status gizi normal.
Angka prevalensi gizi baik yang merupakan prevalensi status gizi
sampel yang memiliki berat badan ideal menunjukkan angka lebih tinggi pada cara penentuan berat badan ideal berdasarkan RLPP (63,3%), sedangkan cara penentuan berat badan ideal berdasarkan standart Brocca yang mempunyai berat badan ideal, jauh lebih rendah (32,7 %). Akan tetapi penentuan berat badan ideal berdasarkan standar Brocca tidak berbeda jauh dangan IMT (28,6 %) dalam hal ini digunakan sebagai penguji dalam analisis Se dan Sp.
Analisis Se dan Sp dilakukan dengan melihat pada penkategorian penilaian berat badan tersebut, baik pada laki-laki maupun pada perempuan. Kategori dari penilaian berat badan terdiri dari dua jenis, yaitu gizi lebih dan gizi normal. Hasil analisis dari kedua penentuan berat badan ideal (standar Brocca dan RLPP) secara umum memiliki tingkat validitas yang lebih baik untuk memperkirakan berat badan ideal pada kedua kategori untuk masing-masing jenis kelamin8. Hal ini dapat dapat terlihat dari nilai Se dan Sp yang besaran nilainya hampir berimbang. Hasil analisis selengkapnya untuk masing-masing cara penentuan berat badan ideal akan disajikan berikut ini:
Analisis Se dan Sp Penentuan Berat Berat Ideal Berdasarkan Brocca
Sensitivitas perhitungan berat badan ideal dengan menggunakan standart Brocca, yaitu kemampuan pengukuran status gizi untuk mendeteksi gizi lebih pada sampel yang benar-benar mempunyai gizi lebih. Sedangkan untuk spesifisitas adalah kemampuan penentuan status gizi dengan standart Brocca untuk mentukan sampel yang mempunyai berat badan normal.
Tabel 10. Sensitifitas Dan
Spesivisitas Berat Badan Ideal Berdasarkan Standart Brocca
Standart Brocca
Berat Badan Ideal
Total Se (%) SP (%) Lebih Normal Lebih Normal 34 1 4 10 38 11 97,1 74,1 Jumlah 35 14 49
Berdasarkan tabel 10 diatas, standart Brocca mempunyai sensitivitas mendeteksi gizi lebih adalah sebesar 97,1%, sedangkan untuk spesivisitas mendeteksi status gizi normal senbesar 71,4%.
Pada laki-laki
Tabel 11. Sensitifitas Dan Spesivisitas
Berat Badan Ideal Berdasarkan Standart Brocca Pada Laki-laki
Standart Brocca
Berat Badan Ideal
Total Se (%) SP (%) Lebih Normal Lebih 17 3 20 94,4 62,5 Normal 1 5 6 Jumlah 18 8 26
Sensitifitas standart brocca untuk mendetiksi gizi lebih pada sampel laki-laki mempunyai persentase yang lebih tinggi (94,45), sedangkan spesivisitasnya lebih rendah (62,5%). Berbeda halnya dengan sampel perempuan, sensitifitas dan spesivisitas standart brocca mempunyai persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan sampel laki-laki, masing-masing 100% untuk sensitifitas dan 83,3% untuk spesivisitasnya. Nilai Se dan Sp untuk sampel perempuan akan disajikan dalam tebel 12 berikut ini;
Tabel 12. Sensitifitas Dan Spesivisitas
Berat Badan Ideal Berdasarkan Standart Brocca Pada Perempuan
Standart Brocca
Berat Badan Ideal
Total Se (%) SP (%) Lebih Normal Lebih 17 1 18 100 83,3 Normal 0 5 5 Jumlah 17 6 23
Analisis Se dan Sp Penentuan Berat Berat Ideal Berdasarkan RLPP
Sensitivitas perhitungan berat badan ideal dengan menggunakan Rasio Lingkar Pinggang Panggul, yaitu kemampuan pengukuran status gizi untuk mendeteksi gizi lebih pada sampel yang benar-benar mempunyai gizi lebih. Sedangkan untuk spesifisitas adalah kemampuan penentuan status gizi dengan Rasio Lingkar Pinggang
Panggul untuk mentukan sampel yang mempunyai berat badan normal.
Tabel 13. Sensitifitas Dan Spesivisitas
Penentuan Berat Badan Ideal Berdasarkan RLPP
RLPP Berat Badan Ideal Total Se (%) SP (%) Lebih Normal Lebih 15 3 18 42,8 78,6 Normal 20 11 31 Jumlah 35 14 49
Rasio Lingkar Pinggang Panggul mempunyai sensitifitas untuk mendeteksi gizi lebih dengan persentase yang rendah (42,8%) dari pada persentase spesifisitas untuk mendeteksi status gizi normal (78,6%). Demikian juga halnya jika sampel dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin. Sensitifitas penentuan status gizi berdasarkan RLPP mempunyai nilai persentase yang lebih rendah (27,7%). Sedangkan spesifisitasnya mmempunyai nilai yang sempurna (100%). Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 14 berikut ini:
Tabel 14. Sensitifitas Dan Spesivisitas
Berat Badan Ideal Berdasarkan RLPP Pada Laki-laki RLPP Berat Badan Ideal Total Se (%) SP (%) Lebih Normal Lebih 3 0 3 27,7 100 Normal 15 8 23 Jumlah 18 8 26
Pada sampel perempuan sensitifitas dan spesivisitas penentuan
Berat Badan Badan Ideal Berdasarkan Rasio Lingkar Pinggang Panggul berbeda dengan sampel laki-laki. Pada sampel perempuan nilai persentase sensitifitasnya lebih tinggi (70,6%) dari pada spesivisitas (50,0%).
Tabel 15. Sensitifitas Dan Spesivisitas
Penentuan Berat Badan Ideal Menurut RLPP Pada Perempuan
RLPP Berat Badan Ideal Total Se (%) SP (%) Lebih Normal Lebih 12 3 15 70,6 50,0 Normal 5 3 8 Jumlah 17 6 23 PEMBAHASAN
Analisis Se dan Sp Penentuan Berat Berat Ideal Berdasarkan Brocca
Penetuan berat badan berdasarkan standart Brocca ini sangat sensitif (Se; 97,1%) terutama pada sampel kategori gemuk, baik pada laki-laki (se; 94,4%) maupun pada perempuan (se; 100%). Sedangkan untuk sensitifitas untuk berat badan dengan kategori normal kurang spesifik (71,4%). Walupun pada kelompok laki-laki mempunyai spesifisitas yang rendah (sp; 62,5%) untuk penentuan berat badan dengan kategori normal, akan tetapi pada sampel perempuan mempunyai spesifisitas lebih tinggi (sp; 83,3%) dibandingkan dengan sampel laki-laki2.
Dibandingkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Atmarita dan Lucya (dalam waspadji; 2010) terhadap IMT dengan menggunakan standar Brocca dengan batas nilai maksimum dan minimun, penentuan berat badan kategori gemuk lebih sensitif (se; 97,1%) sedangkan penelitian sebelumnya (se; 90%)1. Sedangkan untuk spesivisitanya lebih rendah, sensintifitas untuk berat badan normal pada penelitian ini pada kelompok laki-laki hanya (sp; 62,5%), dan pada penelitian sebelumnya adalah (se; 83 %), demikian juga pada kelompok perempuan, pada penelitian ini (sp; 83,3%) sedangkan pada penelitian sebelumnya (sp; 88 %). Perbedaan hasil ini mungkin disebabkan karena pada standar Brocca yang digunakan pada penelitian ini telah memberikan batasan tinggi badan yang tertentu antara laki-laki dan perempuan untuk menentukan berat badan idealnya, sedangkan pada penelitian sebelumnya tidak ada batasan untuk tinggi badan tertentu antara laki-laki dengan perempuan dalam menentukan berat badan ideal1.2..
Pada kategori gemuk untuk laki-laki terlihat bahwa, se > 90% (94,4%) tetapi sp-nya < 90% (62,5%). Hal ini
menunjukkan bahwa penyimpangan pengkategorian berat badan ideal untuk laki-laki banyak terjadi kesalahan negatif, yang berarti terdapat sejumlah sampel yang memiliki berat badan ideal menurut IMT, tetapi tidak termasuk ideal menurut standar Brocca. Analisis menurut standar Brocca ada 3 sampel (37,5%) menyatakan gemuk padahal menurut IMT sampel tersebut normal
(false negatif)4.5. Hal ini menyebabkan
angka prevalensi gizi lebih menurut standar Brocca 37,5% lebih rendah dari pada Indek Massa Tubuh. Untuk sampel perempuan sensitifitas untuk mendeteksi berat badan lebih sensitifitasnya 100% dan ada satu sampel (16,6%) menyatakan gemuk namun menurut IMT sampel tersebut juga menyatakan normal (false negatif). Hal ini juga menyebabkan angka prevalensi gizi lebih menurut standar Brocca 16,6% lebih rendah dari pada Indek Massa Tubuh.
Analisis Se dan Sp Penentuan Berat Berat Ideal Berdasarkan RLPP
Penetuan berat badan ideal berdasarkan RLPP mempunyai sensitifitas rendah (se; 42,8%) untuk mendeteksi gizi lebih. Demikian juga halnya dengan sampel menurut jenis kelamin, pada sampel laki-laki (se;
27,7%) dan pada perempuan jauh lebih tinggi (se; 70,6%) namun sensitifitasnya masih < 90. Hal ini mungkin disebabkan karena pengukuran lingkar pinggang dan panggul yang kurang akurat, terutama pada penentuan terhadap letak pengukuran ataupun cara mengukur dimana pita/meteran pengukur dililit terlalu ketat atau saat pengukuran sampel dalam keadaan berpakaian dan bahan pakaian yang digunakan dengan ukuran yang berbeda-beda4, sehingga terjadi kesalahan dalam penentuan ukuran lingkar pinggang dan panggul yang selanjutnya menyebabkan kesalahan pada penentuan berat badan idealnya berdasarkan pada penggolongan kelompoknya. Disamping itu rendahnya nilai Sp juga dapat dimungkinkan karena standar berat badan ideal yang digunakan terlalu tinggi untuk orang Indonesia, karena standar yang berat badan ideal yang digunakan adalah standar berat badan ideal oarang eropa9.
Dibandingkan dengan IMT yang digunakan sebagai standar penguji, tingkat sensitivitas dari penentuan berat badan ideal berdasarkan RLPP ini secara keseluruhan masih lebih rendah (se; 42,8%), baik pada sampel
perempuan maupun pada laki-laki masih se < 90.
Perbedaan nilai Se antara IMT pada penelitain sebelumnya dengan RLPP juga mungkin disebabkan karena batas persentasi penilaian berat badan yang berbeda. IMT menggunakan batas nilai minimum dan maksimum untuk berat badan ideal adalah 80% - 110 % BBI, sedangkan pada RLPP batas yang digunakan adalah 90 – 110% BBI. Perbedaan pada penentuan batas untuk menentukan apakah seseorang mempunyai berat badan yang ideal untuk masing-masing cara adalah berbeda, sesuai dengan teori yang ada mengenai penilaian berat badan ideal yang juga berbeda. Menurut Cataldo (1986), seseorang dikatakan memiliki berat badan diatas normal atau ideal, bila berat badannya 10% – 20% di atas BBI dan berat badan dibawah normal, bila kurang dari 10% - 15% dari BBI10.
Pada kelompok laki-laki dengan kategori gemuk nilai Sp < 90 sedangan untuk nilai Se > 90, hal ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan pengkategorian berat badan ideal untuk sampel laki-laki berdasarkan RLPP. Pada kelompok laki-laki ada 15 sampel (83,3%) menurut IMT gemuk akan tetapi, berdasarkan RLPP dinyatakan
normal. Ini menunjukkan penentuan berat badan ideal berdasarkan RLPP terjadi pada keselahan positif (false
positif). Hal ini menunjukkan bahwa
angka prevalensi gizi lebih berdasarkan berdasarkan RLPP kurang sensitif atau terjadi penurunan gizi lebih sebesar 83,3% dibandingkan dengan IMT. Akan tetapi RLPP lebih spesifik untuk mendeteksi sampel yang mempunyai berat badan normal (true negatif) 100%, atau berat badan normal dengan menggunakan RLPP sama dengan IMT11.
Pada sampel perempuan sensitifitas dan spesivisitas penentuan Berat Badan Badan Ideal Berdasarkan RLPP berbeda dengan sampel laki-laki. Pada sampel perempuan nilai sensitifitasnya lebih tinggi (70,6%) dari pada spesivisitas (50,0%). Pada kelompok perempuan ada 5 sampel (29,4%) menurut IMT gemuk akan tetapi, berdasarkan RLPP dinyatakan normal. Pada penentuan berat badan ideal berdasarkan RLPP terjadi pada keselahan positif (false positif). Hal ini menunjukkan bahwa angka prevalensi gizi lebih berdasarkan berdasarkan RLPP kurang sensitif atau terjadi penurunan gizi lebih sebesar 29,4% dibandingkan dengan IMT12. Pada
sampel dengan berat badan normal juga terjadi kesalahan negatif, ada tiga sampel (50%) menurut IMT normal, namun berdasarkan RLPP dinyatakan gemuk (false negatif). Hal ini juga menyebabkan angka prevalensi status gizi normal menurut berdasarkan RLPP sebesar 50% lebih randah dari IMT.
KESIMPULAN
Tinggi badan pada kelompok laki-laki mempunyai nilai reratanya lebih besar (164,4±5,8 cm) dari pada kelompok perempuan (153,3±4,2 cm). Berat badan pada kelompok laki-laki mempunyai nilai reratanya lebih besar (71,4±9,1 kg) dari pada kelompok perempuan (65,5±14,6 kg). Lingkar pinggang pada kelompok laki-laki mempunyai nilai reratanya lebih besar (93,8±9,1 cm) dari pada kelompok perempuan (84,6±11,5 cm). Lingkar panggul pada kelompok laki-laki mempunyai nilai reratanya rendah (100,7±5,6 cm) dari pada kelompok perempuan (103,4±12,0cm). Standar Brocca mempunyai Sensitivitas mendeteksi gizi lebih adalah sebesar 97,1%, sedangkan untuk spesivisitas mendeteksi status gizi normal senbesar 71,4%.
Rasio Lingkar Pinggang Panggul mempunyai sensitivitas untuk mendeteksi gizi lebih yang rendah (42,8%) sedangkan untuk spesifisitas mendeteksi status gizi normal (78,6%).
1. Pada perempuan, standart brocca mempunyai sensitifitas lebih tinggi 100% untuk mendeteksi gizi lebih. 2. Pada laki-laki RLPP mempunyai
spesifisitas yang lebih tinggi (100%) untuk mendeteksi status gizi normal.
SARAN
Penelitian terhadap tingkat sensitivitas dan spesifisitas cara penentuan berat badan ideal pada orang dewasa masih perlu dilakukan mengingat masih banyak cara penntuan berat badan ideal yang lainnya guna untuk membuktikan bahwa cara-cara yang ada tersebut juga baik untuk digunakan agar dapat juga diperoleh cara yang benar-benar sangat sensitif dan spesifik dalam menentukan berat badan ideal.
Berdasarkan hasil penelitian, untuk mendeteksi gizi lebih terutama pada kelompok perempuan, standar yang digunakan sebaiknya standar Brocca karena mempunyai sensitivitas yang sempurna (100%), sedangkan
untuk membedakan berat badan ideal dengan yang tidak, terutama pada laki-laki standar yang digunakan adalah RLPP.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kepada Direktur Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh dan Ketua Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Aceh yang telah memberikan kesempatan untuk melakukan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
1. Waspadji, S, Pengkajian Status
Gizi, Studi Epidemiologi, edisi ke-2. Jakarta; FK-UI, 2011.
2. Atmaria dan lucya. “Penggunaan
Indeks Massa Tubuh (Body Mass Index) sebagai Indikator Status Gizi Orang Dewasa”. Gizi Indonesia 1922, 17 (1/2): 50-56.
3. Idrus Jus’at. Validalitas dan
Reabilitas Variabel. Makalah Pada Pelatihan Guru Kesehatan Tentang Perancangan Kajian Ilmiah dan Metode Rapid Assessment procedure, Jakarta, 23 Juni-10 Juli, 1992.
4. Jahari,A.B.”Antropometri Sebagai
Indikator Status Gizi”,Gizi Indonesia 1988, 13 (2): 23-30.
5. Sutrisno,
Bambang. Pengantar Metode Epidemiologi. Cetakan Pertama. Jakarta: PT. Gramedia, 1989.
6.
Lemeshow, et al, 1997. “Besar
Sampel Dalam Penelitian Kesehatan”. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
7.
Lohman, G.T.,et al. Antropometric standardization Reference Manual, Illionis: Human Kinetics Book, 1988.
8.
Frisancho, A.R. Antropometric Standards for Assesment of Growth and Nutritional Status. Ann Arbor: The University of Michigan Press, 1989.
9. Waspadji, S., Suyono, S., Sukarji,
K., dan Kresmawan T., (2010) Obesitas Berdasarkan Tebal Lemak Bawah Kulit (Tlbk) pada Penderita Hiperlipidemia. Pengkajian
Status Gizi Studi
Epidemiologi, FKUI, Jakarta.
10.
Soekirman, Masalah Gizi Ganda dalam Pembangunan Jangka
Panjang Kedua. Makalah Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi, Jakarta 20-22 April 1993.
11. Weinbrenner,
Tanja., Helmut Schroder et al, 2006, Circulating Oxidized LDL Is Associated With Increased Waist Circumference Independent Of Body Mass Index In Men and Women.
The American Journal of
Clinical Nutrition 83, 1:
30-35.
12. Irawan, A.W., Rismawan, T., dan
Kusumadewi, S. 2008. Sistem pendukung keputusan Penentu kadar prosentase lemak tubuh Menggunakan regresi linier. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2008 (SNATI 2008) ISSN: 1907-5022