NASKAH WAYANG LEBAR BERBAHASA INDONESIA
RAHWANA SANG DASAMUKA
DISUSUN OLEH: SUJANI SABDALEKSONORAHWANA SANG DASAMUKA
SINAR DI TENGAH KELUAR BUAYA, BURUNG, KIJANG, DAN KANCIL, MASUK. SELURUH BAGIAN LAYAR DENGAN WARNA SINAR BIRU, DI BAGIAN SEBELAH KIRI TERDAPAT SINAR BUNDAR BERWARNA MERAH, DIDALAMNYA TERDAPAT BAYANGAN RAKSASA TERLIHAT JELAS. DARI SEBELAH KANAN BERJALAN PERLAHAN BAYANGAN BINATANG HARIMAU, DISUSUL DENGAN SEMUA JENIS BINATANG DARI YANG PALING LEMAH SAMPAI PADA YANG PALING PERKASA, KUAT, GALAK, SEMUANYA BERJALAN BERIRING – IRINGAN TANPA SALING MENGGANGGU, RAKSASA DALAM BAYANGAN SINAR MERAH PANDANGAN KE ARAH PERJALANAN BINATANG. SELANJUTNYA SATU PERSATU BINATANG TERSEBUT MASUK KE WILAYAH BAYANGAN RAKSASA DALAM LINGKARAN DAN MASUK MENYATU DENGAN BAYANGAN RAKSASA, DISUSUL BERURUTAN KEHADIRAN BAYANGAN MANUSIA DARI BERBAGAI JENIS KARAKTER MANUSIA, BERJALAN SECARA MERDEKA SEPERTI PADA SAAT BAYANGAN BINATANG BERJALAN MENUJU LINGKARAN. PADA SAAT BERJALAN DAN MENJELANG MASUK PADA LINGKARAN TEMPAT BAYANGAN RAKSASA, BAIK BINATANG MAUPUN MANUSIA SEMUA GERAK – GERIKNYA DISESUAIKAN DENGAN KARAKTER MASING – MASING TOKOH.
SETELAH KESEMUANYA MASUK MENYATU DENGAN RAKSASA, RAKSASA MERASA PUAS DAN BERGERAK / SOLAH PERTANDA KEPUASAN DAN KEGEMBIRAAN, BAYANGAN RAKSASA MENJADI BESAR, MENELAN BUNDARAN MERAH, LAMPU MERAH DAN BIRU PADAM BERSAMA – SAMA, BAYANGAN RAKSASA BESAR TERSEBUT MELANJUTKAN GERAK KEGEMBIRAANNYA, PADA SAAT GERAK MEMUNCAKRAKSASA MERASA PUAS DAN MEREBAHKAN DIRINYA, SEHINGGA BAYANGANNYA HANYA TAMPAK PADA BAGIAN MUKANYA SAJA.
PADA BAGIAN MUKA TEPATNYA BAGIAN MULUT RAKSASA DISOROT LAMPU BUNDAR WARNA HIJAU, DARI LINGKARAN WARNA TERSEBUT KELUARLAH DUA TOKOH BONEKA GOLEK PUTREN DAN SATRIYA, DIGERAKKAN SEHINGGA MEMPEROLEH KESAN CINTA KASIH DENGAN DILENGKAPI DENGAN GERAK – GERAK YANG KADANGKALA BERKESAN TERJADI KONFLIK ANTARA KEDUA TOKOH TERSEBUT, AKHIRNYA KEDUA TOKOH BONEKA TERSEBUT, KELUAR DARI BUNDARAN SINAR DAN SALING BERPISAH, ATAU TETAP PADA BUNDARAN KEMUDIAN SEMAKIN KECIL DAN SINAR HILANG. MENJELANG BAYANGAN BONEKA HILANG KELUARLAH TOGOG DENGAN SIKAP PENUH PERHATIAN PADA PERJALANAN BONEKA TERSEBUT.
BERSAMAAN DENGAN MUNCULNYA BAYANGAN BONEKA TOKOH PUTREN DAN SATRIYA DIMASUKAN NARASI.
NARASI / POCAPAN :
Sepasang putra mahkota
Rama dan Sinta, selamanya akan tetap berpasangan Tetap bersama dalam sunyi dan sepi dalam duka dan lara. Bersama pula waktu maut merengut.
Diantara celah – celah kebersamaan dan kesendirian Disana angin sorga menari – nari dalam kemesraan. Cinta senantiasa bergerak bebas
Bagaikan air hidup lincah mengalir Diantara pantai kedua jiwa
Saling isi dan saling memberi Saling bagi dan saling menerima.
Tali kecapi masing – masing punya hidup sendiri – sendiri Walau lagu yang sama menggetarkannya.
Berbunyi tak saling menguasai Mengejar tak saling memburu
Dan tiada perpecahan tanpa keutuhan Utuh dan pecah bergolak menjadi satu tekad Tekad yang bulat tanpa ikatan yang erat Mampu menggapai cita – cita langgeng.
SEBELUM BAYANGAN BONEKA DALAM SINAR BUNDAR MENGHILANG, KELUARLAH TOGOG DARI KANAN DENGAN SIKAP MEMPERHATIKAN PERJALANAN BAYANGAN TERSEBUT SAMPAI HILANG. TOGOG DI SEBELAH KANAN BAYANGAN AGAK BESAR, DIAM TIDAK BERGERAK MENGHADAP KE KIRI KE ARAH MASUKNYA BAYANGAN KEDUA TOKOH PRIA DAN WANITA, MELIHAT DAN MERASAKAN DENGAN HATI YANG DALAM ATAS PERISTIWA YANG SEDANG BERJALAN.
KEDATANGAN RAHWANA DARI KANAN, SEGERA MENDEKATI TOGOG YANG SEDANG MELAMUN, DAN KEMUDIAN DIJENDUL KEPALANYA, TOGOG KAGET.
RAHWANA SAMBIL MENEKAN KEPALA TOGOG.
DIALOG :
TEGURAN LIRIH
RAHWANA:
Ndlongop, gog!
TOGOG:
Hehehehehe. (tertawa lirih semu kaget)
RAHWANA:
Apakah yang kauperhatikan gog, bukankah aku ini gustimu.
TOGOG:
Oh, nggih benar gusti, apa yang pernah aku rasakan, pada saat ini telah menjadi kenyataan, gusti.
RAHWANA:
Maksudmu, gog?
TOGOG:
Ternyata hanya gusti prabu Ramawijayalah raja besar dan raja dunia yang patut untuk dikagumi, gusti.
RAHWANA:
Gendeng kau, gog!
TOGOG:
Gusti prabu, di tangan prabu Ramawijaya, bumi ini menjadi indah, yang kasar menjadi halus, yang tamak, dengki dan jahat menjadi arif bijaksana. Di atas tangannya bawana ini menjadi manik manikam yang mampu memancarkan kearifan penuh cinta kasih, gusti.
RAHWANA:
Gog, hanya akulah sebenarnya raja binatara, penakluk bumi, penjelajah jagad dan penguasa kawula. Bandaku, donyaku tumpang tindih, tumpuk undung, cubluk kau tidak mampu melihatnya. Lihatlah kebesaranku gog, jangan kau selalu mengagungkan Ramawijaya, itu kebesaran keropos, kebesaran yang kerdil, mengapa kau sanjung si Ramawijaya gog.
TOGOG:
kena ing minggat. Eman – eman gusti, suara dendang lantang dari mas picis raja brana mengalun di tengah – tengah jerit tangis kelaparan perut dan kelaparan juwa sesama manusia gusti. Hamba kira, hanya yang tak berdaya yang mampu mengamini kebesaran paduka gusti.
RAHWANA:
Iblis, keparat, gog! Aku tetap dalam keyakinanku. Tiada kekuatan yang mampu mengungguliku. Rekyan Sinta tak kan kukembalikan pada Ramawijaya. Justru sekaranglah saatnya yang tepat, tanpa harus menunggu hari terbit esok, prabu Ramawijaya harus mati dan negeri Ayodya segera ditanganku. Dengar dan saksikanlah. Bandaku, ya donyaku, mas inten berlian pujaanku. Aku mohon doa restu. Akan kugapai cita – citaku ngelar jagad, nggulung bumi. Prabu Ramawijaya, buktikanlah bahwa kau raja marteng jagad hanjayeng bawana. Hayo maju, rawe – rawe rantas, malang – malang putung, tigas pedang, gumlundung kepalamu.
TOGOG:
Duh, gusti, sabar, sabar, gusti. Jangan lakukan itu gusti. Hamba sudah terlalu banyak makan garam gusti. Dan ternyata tiada peperangan yang mampu melahirkan kedamaian di hati maupun di bumi. Perselisihan sebenarnya bukan untuk saling memusnahkan. Oh, gusti, andaikata huru hara nanti benar – benar terjadi, percayalah itu bukan karena salah bunda mengandung paduka gusti, eling gusti. Prabu Ramawijaya adalah titising Wisnu Batara. Sura dira jayaningrat akan lebur dening pangastuti gusti.
RAHWANA:
Cukup, gog, aku tak ingin diperbudak dengan ucapan – ucapan yang menyesatkan.
TOGOG:
Gusti ……
RAHWANA:
Diam, lihatlah gog, akan aku buktikan, bahwa akulah yang terbesar dan terkuasa di muka bumi ini.
TOGOG:
Maaf gusti, rasanya terlalu mahal, terlalu mahal untuk mendapatkan kebesaran dan kekuasaan dengan mempertaruhkan sekian nyawa sesama yang barangkali tanpa tahu dosa – dosanya gusti.
RAHWANA:
Gog, ternyata kau telah merasa disucikan oleh impian dan lamunanmu yang ngaya – wara gog. Siapa junjunganmu keparat! Gog, kurasa kau tidak patut lagi menjadi abdi di negeri Alengka ini. Kaulah ternyata penghambatku yang paling dekat. Oh, bandaku ya donyaku, ini benar – benar terjadi. Gog, segeralah angkat kaki, pergi dan minggat dari sini.
TOGOG MERASA SEDIH DAN KECEWA (BAYANGAN TOGOG MLEDING) DI MUKA RAHWANA PERTANDA MINTA MAAF YANG SEBESAR – BESARNYA.
DIALOG: TOGOG:
Maaf, gusti. Bukan maksud hamba menyakitkan hati paduka. Hamba hanya ngeman, ngeman gusti. Karena itu memang tugas hamba. Semuanya hamba lakukan, karena memang paduka sesembahan hamba. Gusti, dari kuncung sampai gelung, hanya padukalah junjungan hamba. Hamba tetap masih sanggup menggendong paduka. Baik untuk menempuh jalan yang terjal maupun jurang yang dalam. Semuanya akan dengan ikhlas hamba lakukan. Mangga, mangga gusti, hamba akan selalu patuh.
RAHWANA:
Bagus gog, wathathithah, bandaku ya donyaku, mas inten berlian sesembahanku, aku mohon doa restu. Akan kukejar cita – citaku, ngelar jagad, nggulung bumi. Hayo gog, kita jemput Ramawijaya dengan pedang ligan di tangan, dukung dan laksanakan perintahku gog.
TOGOG:
Sendika gusti.
RAHWANA SEGERA BERANGKAT KE KIRI, DISUSUL TOGOG, TOLAH TOLEH, AGAK RAGU DAN SEGERA MASUK KE KIRI SATU RAMBAHAN.
SEKELOMPOK PRAJURIT RAKSASA KELUAR BAYANGAN DI BAGIAN KIRI BAWAH, KEDATANGAN CAKIL, DISUSUL KEDATANGAN TOGOG DARI KANAN, CAKIL SEGERA MEMBERI HORMAT DISUSUL OLEH SELURUH PRAJURIT RAKSASA SEMUA MEMBERI HORMAT SECARA BERSAMA SERENTAK.
DIALOG:
RAKSASA MINTA KABAR SECARA BERSAMA – SAMA :
Kyai lurah, mohon dawuh kyai.
TOGOG:
Hai, semua raksasa warga negeri Alengka, sesuai dengan dawuh gusti Rahwana, lakukanlah segala apa yang akan kukatakan ini.
RAKSASA:
Sendika kyai lurah, sendika kyai.
TOGOG:
Ketahuilah, bahwa gusti Rahwana tetap bersikeras untuk tidak bakal mengembalikan Dewi Sinta, bahkan prabu Ramawijaya akan segera dibunuhnya demi kebesaran dan kekuasaannya.
BUTA I:
He, teman – teman, maukah kalian melakukan hal ini?
BUTA II:
Ah, tidak, wong bertahan hidup saja sulit, kok malah membunuh.
BUTA III:
Justru itu, harus dilakukan demi kebahagiaan kita bersama.
BUTA I:
Tidak, aku tidak setuju, tak ada sebuah kebahagiaan melalui pembunuhan, siapapun yang bakal terbunuh.
TOGOG DATANG DARI SUDUT SEBELAH ATAS KANAN.
DIALOG: TOGOG:
He, semuanya saja, dengarkan sekali lagi kata – kataku ini. Memang ini suatu pekerjaan yang berat dan men yak i t kan . Tet api meru pak an s ebu ah pen gabdian , pe-ngab-di-an, jelas! Maka harus dipikul bersama. Adapun pahit, getir, penderitaan dan kesengsaraan adalah merupakan bagian dari pengabdian demi tercapainya citra kebahagiaan
bumi Alengka dan kebahagiaan Sang Rahwana raja binatara, jelas! Hayo, bila sudah jelas, yang tidak mau berangkat silakan ngacung, … unjuk jari … cepat … nah, diam pertanda setuju, hayo berangkat!
IRINGAN BUDALAN, TOGOG MBAGUSI MASUK KE KANAN DISUSUL OLEH CAKIL. SALAH SATU BALA BUTA MAJU KE DEPAN DAN MENGUMANDANGKAN ABA – ABA BUDALAN PARA PRAJURIT RAKSASA, IRINGAN SIREP.
BUTA I:
Hayoooo, siyaga cabutaaaaa …
BUTA SEMUA:
Tandya cabuta … hehehehe …
BUTA I:
Lumaksana magiro – giroooooo …
BUTA SEMUA:
Hehehehe … hayukkkkkk … ho … ha .. ha .. hahaha.
PARA WADYA RAKSASA SEGERA BERANGKAT BERSAMA – SAMA DENGAN GERAK – GERAK RAMPAK, KEMUDIAN MASUK KE KANAN. DISUSUL TITIHAN KEWAN.
PARA WADYA RAKSASA BERANGKAT BERSAMA – SAMA DENGAN BERTINGKAH YANG SAMA DENGAN GERAK SERAGAM KEMUDIAN MASUK, DISUSUL PARA RAKSASA NAIK BINATANG : BANTENG, CELENG, BAYA, MACAN, GAJAH, DAN SEBAGAINYA. DISUSUL RAMPOGAN DUA RAKSASA KELUAR DARI BARISAN KEMUDIAN BERHENTI / MENYALIP.
BUTA I:
He kang, kok jadi berangkat?
BUTA II:
Rawe – rawe rantas malang – malang putung.
BUTA I:
Apanya yang putung?
BUTA II:
Itu kawan – kawan buta itu, jarinya putung semua, tidak bisa ngacung, ini akibatnya, lha takut paman Togog.
BUTA I:
Makanya jangan grudak gruduk asal – asalan, dasar buta glundung.
BUTA II:
Lho, kok malah aku yang salah, kapan niye salahnya, kan kita sama – sama, tegese padha buta glundunge, wah, wah, jelas ini kena perangkap, ditepu kita, kembali yoh, kembali saja …
TOGOG:
Hee, siapa itu, tidak setuju ngacung … goblok.
BUTA I:
E eeeee, eeeee, l h a dalah , c epat ben er pam an Togog m em ut ar h al uan , bener – bener canggih.
BUTA II:
Eeee, hayolah hayo, berangkat saja.
BUTA I DAN II MASUK BERJALAN KE KANAN, DISUSUL RAMPOGAN, INDRAJID KELUAR DARI KIRI, CANCUT, ABUR – ABURAN, MASUK KE KANAN.
RAHWANA NAIK KERETA DITARIK SINGA KE KANAN MASUK DISUSUL RAMPOGAN. IRINGAN SESEG MENJADI PALARAN.
PRABU RAMA DI PUCUK KAYON SEBELAH ATAS KANAN DENGAN MEMBAWA JEMPARING GREGET TURUN KE BAWAH, NAIK KE ATAS KAYON SEBELAH KIRI, MASUK KE KIRI, SEMAR TERGESA – GESA MENYUSUL PRABU RAMA DARI KANAN BAWAH MENGEJAR DENGAN CEPAT, ULAT – ULAT SEGERA TURUN DAN MASUK KE KIRI.
PRABU RAMA DARI KANAN GREGET DISALIP SEMAR BERHENTI BERHADAP – HADAPAN. IRINGAN BERUBAH MENJADI RASA AGUNG.
DIALOG: RAMA:
Kakang Semar lepaskan aku kakang …
SEMAR:
Hehehehe, raden, tindak kemana raden?
RAMAWIJAYA:
Semar, jangan halangi kehendakku, hayo, majulah si Rahwana si rambut culung, aku tak bakal rela at as segala polah mu, jagad akan kau gulu ng, kemerdekaan k au injak – injak.
SEMAR:
Laeeee, gusti, grusa grusu bakal kesluru, bila hal ini sungguh terjadi, pasti bakal sulit membedakan antara Sri Ramawijaya dengan Rahwana, gusti.
RAMAWIJAYA:
Memang keparat si Rahwana, kakang.
SEMAR:
Sabar raden.
RAMAWIJAYA:
Kakang Semar, ketahuilah, Rahwana telah menghancurkan semua harapanku, telah merampas kebahagiaan dan kedamaianku kakang.
SEMAR:
Hehehehehe, gusti, tabahkanlah. Hamba tahu dan sadar, betapa sakit penderitaan paduka. Hamba pun tahu dan mengerti, betapa besar kesetiaan paduka terhadap gusti ayu rekyan Sinta. Tetapi sadarlah raden, bahwa cinta akan semakin membara bila suatu ketika, benang – benang cinta itu sendiri terputus oleh pisau golok si tangan – tangan jahil, raden.
RAMAWIJAYA:
Kakang Semar …
SEMAR:
Raden, dalam hal ini serahkan dan percayakanlah pada gusti ayu rekyan Sinta, bukankah cinta kasih akan tetap mampu mengalir dari pancaran kasih sayang, yang tumbuh dalam lubuk hati yang dalam, tanpa harus memilikinya gusti, andaikata hal ini memang harus benar – benar menjadi kenyataan, raden.
RAMAWIJAYA:
Kakan g, bu kan han y a s ekedar c i nt a, kak ang, ket ahu i l ah Rah wana t el ah menginjak – injak harkat dan martabatku, Rahwana telah dengan sengaja menghancurkan aku sebagai manusia dan sebagai raja yang harus memangku beban memayu hayuning bumi. Kakang, sikap inilah yang harus kumusnahkan dari muka bumi, kakang.
SEMAR:
Hehehe, gusti, hamba percaya, bahwa paduka raja agung binatara, oleh sebab itu, raden, hidarilah pertikaian, singkirkanlah pertengkaran antara sesama, carilah jalan terang untuk menuju kedamaian. Bebasan nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. Dan itu bisa paduka lakukan raden, hamba yakin raden.
RAMAWIJAYA MERASA LEGA, SEMAR DIANGKAT SAMPAI PADA ATAS KEPALA RAMAWIJAYA.
DIALOG: RAMAWIJAYA:
Kakang Semar, ala tanpa rupa gedibal sangalikur, andaikata tanpa kau kakang, semua kebesaran yang pernah kuperoleh akan hancur lebur bersama kejatuhanku, kakang.
SEMAR:
Raden, hamba malu ahhh.
SEMAR SEGERA DITURUNKAN DARI PEGANGAN RAMAWIJAYA.
DIALOG: RAMAWIJAYA:
Kakang, segera tolonglah, panggil gustimu Hanoman untuk menghadap sekarang juga.
SEMAR:
Sendika dawuh, gusti.
HANOMAN DATANG DARI KIRI MENGHADAP RAMAWIJAYA. (KEMUNGKINAN DALAM LINGKARAN CAHAYA DI SUDUT KIRI ATAS ATAU KANAN ATAS)
DIALOG: RAMAWIJAYA:
Hanoman …
HANOMAN:
RAMAWIJAYA:
Tunjukkanlah baktimu kepada negeri ini, Hanoman, patahkan sayap – sayap keserakahan, kebatilan, kedengkian dan bungkamlah keangkaramurkaan Rahwana, sehingga di bumi ini tiada lagi terdengar dendang kecongkakan dan keangkuhannya.
HANOMAN:
Gusti, beban berat menjadi tanggung jawab abdi paduka, betapa pun tingginya akan kugapai, dan gusti, kakiku mulai gatal ingin melangkahnya, gusti, hamba mohon pamit.
RAMAWIJAYA:
Jaya, jaya wijayanti Hanoman.
HANOMAN ATUR SEMBAH, RAMAWIJAYA DIPUNDI DIATAS KEPALANYA, DITARUH KEMBALI DAN SEGERA BERANGKAT, (CEPAT BERANGKAT) RAMAWIJAYA TEBAH JAJA MERASA HARU DAN HILANG BAYANGAN MEMBESAR.
HANOMAN KELUAR, CANCUT, TERBANG TINGGI. (IRINGAN PALARAN) HANOMAN BERADA PADA LINGKARAN CAHAYA DI SUDUT KANAN ATAS KECIL SEKALI.
LAYAR GELAP PENATAAN PARA REWANDA / KERA BERBARIS TIDAK TERATUR PADA BAGIAN BAWAH LAYAR SEBELAH KIRI, SINAR LAYAR MENJADI TERANG, HANOMAN HILANG MASUK (HILANG DARI SINAR BUNDAR) MASUK KE KIRI, KEMBALI DARI KIRI ATAS MELIHAT PADA KERA SUDAH SIAP MELAKSANAKAN TUGAS, HANOMAN BERJALAN MENYEBERANG LAUTAN KERA. LAUTAN KERA DITERJANG HANOMAN SEGERA BANGUN MENYUSUL HANOMAN BERURUTAN MASUK KE KIRI.
HANOMAN TERBANG TINGGI, KEMUDIAN MASUK, DI BAWAH TERDAPAT WILKATHAKSINI, HANOMAN SEGERA MENEMUINYA.
DIALOG:
WILKATHAKSINI:
Hehehe, mengapa kautinggalkan hutan lindungmu, ketahuilah disini daerah perbatasan daerah terlarang untuk margasatwa sepertimu, sebab hutan disini sudah gundul, kalau sampai terjadi kau berada disini dan mati, kelaparan, bakal menjadi bukti, bukti yang memalukan bagi sang majikan penebang hutan. Ketahuilah bahwa nyawa binatang disini mahal nilainya bahkan semahal manusia.
HANOMAN:
He, aku bukan binatang piaraan, aku adalah binatang yang bebas, bebas berulah dan bebas bertingkah.
WILKATHAKSINI:
Wo, lah, ternyata kethek kamanungsan.
HANOMAN:
Benar, tolonglah aku untuk menghadap si Rahwana.
WILKATHAKSINI:
Hehehe, jangankan menghadap gustiku, sedangkan kakimu menginjak bumi Alengka ini adalah merupakan suatu pelanggaran besar dan harus menerima hukuman yang berat, maka segera dengan cepat tinggalkan tempat ini, keparat.
HANOMAN:
WILKATHAKSINI:
Hehehehe, keparat, aku bilang pergi … harus pergi!
TERJADI PERANG ANTARA HANOMAN DAN WILKATHAKSINI SEHINGGA MATI TERBUNUH OLEH HANOMAN.
HANOMAN MASUK NEGERI ALENGKA DENGAN MELALUI TEMPAT – TEMPAT SEPI. TAMAN SOKA IRINGAN SEKAR MANIS TRENYUH. DI SEBELAH KANAN ATAS DEWI SINTA DALAM SINAR FOLLOW SPOT RUANG BUNDAR, KEDATANGAN HANOMAN HATUR SEMBAH : NARASI ATAU SEKAR. KEDATANGAN RAHWANA DARI SEBELAH KIRI GEDRUK – GEDRUK DAN BERBICARA KERAS.
RAHWANA:
Jid, bangsat keparat, kecolongan jid, binatang itu jid, tangkap, tangkap jid, jid …
HANOMAN PERGI DARI SEBELAH DALAM LINGKARAN, CAHAYA MATI, INDRAJIT DATANG DARI KIRI MENGHADAP RAHWANA.
DIALOG: RAHWANA:
Jid, anakku jid, tolonglah aku jid, di dalam taman ada binatang menggoda rekyan Sinta, jid.
INDRAJID:
Rama, sebuah pertanda kejayaan akan hadir di negeri ini, rama.
RAHWANA:
Hus, cepat jid, malapetaka telah menimpaku jid, aku takut dibawa kabur, jid.
INDRAJID:
Tidak mungkin terjadi, rama, justru itulah penyebab ibu Dewi Sinta betah berada di taman Soka.
RAHWANA:
Prekkk, kanjingan setan kau, aku tidak ingin binatang itu berada disana tahu, tangkap dan bunuh dia, cepat!
INDRAJID:
Ananda berangkat.
INDRAJID ATUR SEMBAH DAN BERANGKAT DISUSUL RAHWANA. INDRAJID BERTEMU DENGAN HANOMAN DISUSUL BUTA – BUTA.
DIALOG: HANOMAN:
Maaf raden, aku tak akan bermaksud mengganggu ketentraman negeri Alengka, raden.
INDRAJID:
Maksudmu?
HANOMAN:
Aku Hanoman, raden, dari negeri Pancawati. Ketahuilah raden bahwa kedatanganku ini hanya sekedar ingin mengetahui keadaan gusti rekyan Sinta, akulah yang bakal sanggup menjaganya
siang dan malam apabila harus terjadi sesuatu pada dirinya. Raden, semoga niatan baik ini dapat diterima oleh sang Rahwana.
BUTA I:
Hehehehe, ternyata dunia penuh keajaiban, binatang, mampu berbicara lancar, mampu berbicara tepat dan nalar bila kepepet dan kesasar, alasannya begitu tepat untuk menyelamatkan diri dari noda – noda dosanya, hehehehe, persis manusia.
BUTA II:
Hahahaha, dan sebaliknya, raksasa bahkan manusia, yang justru bertingkah sebagai binatang bila ada kesempatan, hahahahaha.
BUTA I:
Ternyata sulit membedakan mana teman, mana yang lawan, mana yang salah dan mana yang sudah kaprah. Semuanya tumpang tindih tunggang – menunggang.
SUARA LANTANG SANG RAHWANA DARI DALAM.
RAHWANA:
Jid, tangkap dan bunuh binatang itu jid, cepat!
DISUSUL KEDATANGAN RAHWANA BERHADAPAN DENGAN HANOMAN.
HANOMAN:
Gusti prabu, hamba Hanoman dari negeri Pancawati yang akan membawa angin segar bagi kesejahteraan negeri Alengka.
RAHWANA:
Nahh, jid, pucuk dicinta ulam tiba.
BUTA:
Hehehehe, penuh trapsila, unggah ungguh dan menghayati sopan santun.
HANOMAN:
Hamba Hanoman dari negeri Pancawati datang menghadap, sebagai utusan perdamaian bagi gusti hamba prabu Ramawijaya dari negeri Ayodya, gusti.
IRINGAN SERENG RAHWANA BERTERIAK KERAS DAN BERLARI KETAKUTAN.
RAHWANA:
Keparat jid, tangkap binatang itu jid, celaka jid, tangkap jid!
HANOMAN MENYUSUL MASUK KE KANAN, RAHWANA DARI KIRI MUNDUR DENGAN KEBENGISANNYA.
RAHWANA:
Bangsat, iblis, keparat, whathathithah, Ramawijaya, kau telah meremehkan aku, menyamakan aku penguasa besar negeri Alengka dengan binatang, menyamakan derajadku dengan kethek, munyuk elek semacam itu. Jid, indrajid, bunuh kethek ini jid, segera bunuh utusan ini, dan siap gelar perang berangkat dan bunuh putra Ayodya si Ramawijaya, bunuhhh!!
IRINGAN SERENG, INDRAJID MEMBURU HANOMAN SEHINGGA TERJADI PERANG SERU. WADYA ALENGKA MAJU MENYERANG MENGEROYOK HANOMAN, HANOMAN TIDAK MAMPU BERGERAK AKHIRNYA TRIWIKRAMA SEBAGAI PUNCAK KEMARAHAN HANOMAN SEHINGGA PARA RAKSASA
DIBUANG JAUH DAN KEWALAHAN LARI TUNGGANG LANGGANG, RAHWANA MARAH DATANG MEMBANTUNYA BERHADAPAN DENGAN HANOMAN TRIWIKRAMA.
DIALOG: HANOMAN:
Rahwana si rambut culung, gelah – gelahing jagad leletheking bumi, sumbarmu bagai gunung mencuat terlalu tinggi, sungguh menakutkan, tetapi sadarlah suatu saat gunung itu akan meletus, rata dengan tanah, hancur membawa malapetaka bagi umat manusia tanpa pilih kasih, suatu saat pula kau akan hancur bersama dosa – dosamu.
RAHWANA:
Keparat Hanoman, sekarang saat kematianmu, mohonlah pengampunan pada dewamu sebelum kukirim kau ke neraka. Berdoalah sebelum berubah pikiran.
HANOMAN:
Rahwana, hidup atau mati bagiku bukan persoalan yang perlu dipertentangkan, yang lebih utama untuk apa aku hidup atau mati. Dan sekarang menghadapi kebiadabanmu aku yakin, yakin seyakin – yakinnya untuk apa sebenarnya aku harus mati.
RAHWANA:
Bangsat.
HANOMAN:
Lihatlah api neraka terpancar diwajahmu, dewa telah mengutukmu.
RAHWANA:
Kutukan dewa tak akan mempan bagiku.
HANOMAN:
Pergilah ke dasar neraka, kau akan hancur bersama dosa – dosamu.
IRINGAN SERENG.
HANOMAN DISERANG RAHWANA, TERJADI PERANG BESAR TANDINGAN. HANOMAN DAN RAHWANA SILIH UNGKIH, HANOMAN TERPOJOK TIDAK MAMPU BERDAYA, KEMUDIAN HANOMAN MEMBAKAR DIRI (BERINGAS BERAPI – API MENYALA BESAR) MEMBURU RAHWANA DAN PARA RAKSASA YANG MEMBELANYA. INDRAJID BERUSAHA MEMBELA TETAPI TETAP TAK MAMPU BERTAHAN WALAUPUN BANYAK JEMPARING YANG DILEPASKANNYA. SEHINGGA BANYAK KORBAN BERGELIMPANGAN, SUASANA GELAP KEMERAH – MERAHAN, BAYANGAN RAHWANA PENUH KEGELISAHAN DI TENGAH – TENGAH PENDERITAAN RAHWANA BANYAK.
JANTURAN:
(dalam doa)
Alengka terbakar, Rahwana terbakar, Alengka bergolak, Rahwana bergolak, Alengka hangus Rahwana hangus.
Alengka merah membara, merah karena marah, merah berlimbah darah, ratap tangis dan jerit teriakan anak – anak tanpa bapak, membelah hati manusia.
Pohon – pohon hangus, puing – puing berserakan, bau anyir dan mayat tumpang tindih, menyiksa dan membutakan umat manusia, siksaan tanpa batas, mati tanpa dosa.
SUASANA JANTURAN SEPI, NGLANGUT, SEDIH DAN SUSAH, HARU.
PADA SAAT ITU KELUAR HANOMAN KECIL DENGAN TOGOG SALING BERHADAPAN, BERPANDANG – PANDANGAN SEJENAK, TOGOG MULAI DIALOG.
TOGOG MEMBERHENTIKAN AMUKAN HANOMAN.
GINEM: HANOMAN:
Togog, aku telah menghancurkan sebagian dari negeri Alengka, saya puas. Kunikmati sejak dari istana sampai disini, dan bukan hanya itu gog, peristiwa ini akan saya kabarkan kepada seluruh negeri Pancawati karena mereka pun berhak menikmati kegemilangan ini, gog.
TOGOG:
Benar, gusti raden benar, berhasil dan puas, tapi lihatlah, bergetar seluruh bulu tubuhku, puing – puing berserakan, pohon – pohon hangus dan gundul, tangis anak – anak yang barangkali kehilangan orang tuanya raden, rintih kesakitan, bau daging yang masak, daging manusia, raden. Mayat – mayat berserakan, barangkali mereka mati tanpa mengetahui dosanya, raden. Puaskah melihat itu semua, gusti?
HANOMAN:
Togog, darah dan bau amis lumrah dalam perang, gog.
TOGOG:
Maaf, raden. Barangkali raden tidak mampu merasakan seperti apa yang kurasakan. Raden jarang berkumpul dengan mereka, kawula cilik. Tetapi saya setiap saat tidur bersama mereka.
HANOMAN:
Gog, kau melihat hanya dari akibatnya gog. Hanya ini yang dapat kulakukan, gog.
TOGOG:
Terima kasih, terima kasih, raden. Saya telah puas dapat berbicara secara terus terang kepada raden, menyenangkan ataupun tidak kuserahkan kepada raden. Tetapi meskipun begitu, saya berharap raden setidak – tidaknya kata – kata hamba ini sedikit masih bisa dipertimbangkan terutama kelak pada saat terjadi perang, apabila memang harus terjadi, raden.
HANOMAN:
Benar, gog, memang harus terjadi, selama Rahwana tetap dalam pendiriannya.
TOGOG PERGI, HANOMAN MENJADI BAYANGAN BESAR. (MENGAMUK / KRIDHA) DIBALIK BAYANGAN HANOMAN, SANG RAHWANA MONDAR MANDIR MERASA KETAKUTAN DAN KEBINGUNGAN SERTA MENERIAKKAN AMARAHNYA.
RAHWANA:
Jid, jid, Indrajid, keparat, kumandangkan ke seluruh negeri dan siapkan bala tentara Alengka. Serang dan hancurkan prajurit Ayodya, jid!!
BERSAMAAN DENGAN RAHWANA MELAMPIASKAN AMARAHNYA, RADEN WIBISANA MASUK BERUSAHA MELERAI KEMARAHAN KAKAKNYA RAHWANA.
WIBISANA:
Sabar kakang, berhentilah sebentar.
RAHWANA:
WIBISANA:
Maaf kakang, sabarlah, ingat kakang, bumi sudah mulai lapuk, karena peperangan. Dan sekarang di bumi Alengka terlalu banyak yang terkorbankan. Bertumpuk – tumpuk mayat, yang semuanya tanpa dosa. Terlalu banyak darah yang mengalir di bumi Alengka, hanya, maaf, karena ulah kakang prabu.
RAHWANA:
Keparat wibisana. Ini adalah soal kebesaran negeri Alengka. Kebesaran yang terus harus kuraih, kujunjung dan aku pertahankan.
WIBISANA:
Maaf kakang, perang kali ini, bukan persoalan bersama dan bukan persoalan negara. Tapi semua kawula Alengka telah kakang prabu libatkan untuk kepentingan kakang prabu pribadi.
RAHWANA:
Goblok! Dengar wibisana, rekyan Sinta harus kupertahankan dan harus kupertahankan dengan taruhan apapun dan harus menang. Rekyan Sinta adalah titisan Dewi Widowati yang bakal menurunkan tahta dan kuasa bagi anak cucuku besok untuk bumi Alengka dan jagad raya. Dari keturunannyalah akan lahir raja unggul, manusia terpilih untuk memimpin dunia dan isinya. Kejayaan negeri Alengka ada di masa depan. Goblok kau, Wibisana!
WIBISANA:
Terlalu banyak yang terkorbankan, kakang.
RAHWANA:
Keparat, ya bandaku, ya donyaku, Wibisana. Dengarlah! Aku adalah penguasa tunggal di negeri ini. Apa yang aku ucapkan adalah hukum bagi negeri Alengka. Sebagai kawula negeri Alengka, kau harus bertanggung jawab, patuh dan tunduk pada keputusanku. Kalau tidak kau adalah pengecut, pengkhianat, minggir dan minggat dari sini!
WIBISANA:
Maaf kakang.
RAHWANA:
Cukup, pergi! Pergi dari sini. Minggaaaaattttttt!!!
WIBISANA AKAN MENYEMBAH, RAHWANA BERPALING TANPA BERGERAK SEDIKITPUN, KEDUA – DUANYA DALAM TEMPO SEJENAK. WIBISANA MUALI BERGERAK PERLAHAN. AKHIRNYA WIBISANA RELA MENINGGALKAN ALENGKA. BERANGKAT BERJALAN PERLAHAN – LAHAN SAMPAI PADA SUDUT KIRI BAWAH BAYANGAN KECIL, MASUK KE KIRI.
BAYANGAN RAHWANA MENJADI BESAR, KELIHATAN GELISAH, RAHWANA MEMBENTAK KERAS.
RAHWANA:
Hahahahaha, jangan kau kotori negeri ini dengan ulah pengecutmu!
BERSAMAAN DENGAN KATA PENGECUTMU, KUMBAKARNA DATANG DARI KIRI, RAHWANA KAGET DAN SEGERA MEMALINGKAN MUKANYA KE KANAN DAN BERBICARA KERAS.
RAHWANA:
Hai, bangsat, semua telah terkena racun berbisa. Pergi, aku tidak butuh kau lagi!
DIALOG: KUMBAKARNA:
Sabar kakang, sabar. Kita semua bersaudara kakang.
RAHWANA:
Tidak, Kumbakarna! Kau telah menghasut adikmu untuk menjadi pengecut.
KUMBAKARNA:
Kau keliru, kakang. Tidak ada diantara saudara – saudaraku yang ingkar dari tanggung jawab. Apalagi menjadi pengecut yang melarikan diri dari pertempuran, kakang. Tak ada yang pernah merasa takut dalam kemelutnya perang.
RAHWANA:
Bagus, engkau masih tersisa dari lambang kebesaran negeri Alengka, yayi.
KUMBAKARNA:
Tapi untuk kali ini aku heran, kakang. Adakah diantara yang kurang jantan. Adakah diantara kami yang tidak lagi sakti. Adakah diantara satriya Alengka yang tidak lagi digdaya?
RAHWANA:
Maksudmu, yayi?
KUMBAKARNA:
Sampai – sampai kakang prabu Rahwana Narendra yang binatara tega merebut dengan curang dan menjadikan sebagai tawanan kaum yang lemah, seorang perempuan, kakang.
RAHWANA:
Keparat!
KUMBAKARNA:
Melik hanggendong lali, kakang. Kau rampas seorang isteri yang sudah menjadi hak pribadi seorang suami. Ohhh, kakang, dimana letak kebesaranmu, kakang prabu. Aku malu kakang.
RAHWANA MARAH MENDENGAR KATA – KATA KUMBAKARNA, KUMBAKARNA SEGERA DITEMPELENG. KUMBAKARNA KAGET, AMBRUK BERPALING KE KIRI DAN TIDAK BERGERAK, BERSAMAAN DENGAN KEMARAHAN RAHWANA.
RAHWANA:
Whathathithah, Kumbakarna, iblis kau, semakin bertumpuk ngelmu yang kau regug, semakin cubluk, keparat!
KUMBAKARNA MENDENGAR KATA – KATA RAHWANA, SEGERA SADAR DAN MERASA TERSINGGUNG. KUMBAKARNA BANGUN DARI PENDERITAANNYA, KRIDA DAN DENGAN CEKATAN MEMEGANG RAHWANA KEMUDIAN DIANGKAT TINGGI – TINGGI DENGAN MAKSUD AKAN DIBANTING KE TANAH / DIHAJARNYA. NAMUN RAHWANA MERASA KAGET DAN BERTERIAK KERAS KETAKUTAN.
RAHWANA:
Lho, lho, edan, edan, gila kau, Kumbakarna …
KUMBAKARNA SADAR, SEGERA MENGGAGALKAN NIATNYA. RAHWANA DILEPASKAN DARI GENGGAMANNYA DAN DITURUNKAND ARI HAJARANNYA. PELAN – PELAN. KUMBAKARNA SEGERA MEMINTA MAAF KEPADA RAHWANA, NAMUN RAHWANA TETAP DALAM KEMARAHANNYA. MAKA
PADA SAAT KUMBAKARNA AKAN MENGHATURKAN SEMBAHNYA, SEGERA DITENDANG OLEH RAHWANA SEHINGGA TERJUNGKAL KE KIRI YANG KEDUA KALINYA, SEGERA BANGUN KEMBALI DAN MENYEMBAH RAHWANA TETAPI DITINGGAL BERPALING OLEH RAHWANA DAN TETAP MARAH.
RAHWANA:
Tinggalkan negeri ini sekarang juga!
KUMBAKARNA MENYEMBAH DAN PAMIT.
KUMBAKARNA:
Maaf,kakang. Rayi mohon pamit.
RAHWANA:
Embuh. Ora sudi!
KUMBAKARNA PERGI, PERLAHAN – LAHAN, IRINGAN SESEGAN KUMBAKARNA MASUK. BAYANGAN RAHWANA MENJADI BESAR DENGAN KEMARAHANNYA.
RAHWANA:
Keparat kalian semua! Tanpa kalian semua, prabu Dasamuka tak akan mundur setapak pun. Tidak ada kekuatan yang mampu menumbangkanku. Dasamuka dan Alengka akan tetap jaya sepanjang masa.
DALAM BAYANGAN RAHWANA, WIBISANA BERJALAN PELAN – PELAN DARI SUDUT KANAN BAWAH MENUJU KE SUDUT KIRI ATAS MENJADI KECIL, MENOLEH KE KANAN BERBALIK KE KIRI MERENUNG SEJENAK. SETELAH KESIMPULAN HATINYA BULAT BERBALIK KE KIRI DAN CEPAT PERGI.
BERSAMAAN DENGAN KEPERGIAN WIBISANA, DI BAGIAN KANAN KEDATANGAN KUMBAKARNA DENGAN TERGESA – GESA, TEPAT PADA HAMPIR TENGAH – TENGAH LAYAR. KAKI KUMBAKARNA MELANGKAH TEPAT DI MUKA WIBISANA. WIBISANA KAGET DAN BERHENTI, SEGERA MELIHAT KEATAS (MENDONGAK) DALAM TEMPO YANG AGAK LAMA. WIBISANA MATUR :
WIBISANA:
Kakang!
TERDEMGAR SUARA ADIKNYA WIBISANA, KUMBAKARNA SEGERA MENYAMBUTNYA. BAYANGAN KUMBAKARNA YANG HANYA TERLIHAT KAKINYA SANA MELOROT MENJADI TERLIHAT BAGIAN MUKANYA DENGAN MENGUCAPKAN KATA.
KUMBAKARNA:
Yayi …
KUMBAKARNA MERANGKUL WIBISANA, WIBISANA SEGERA MENYEMBAH.
DIALOG: KUMBAKARNA:
WIBISANA:
Kakang untuk menaklukkan prabu Ramawijaya terang tidak mungkin. Dan andaikan Alengka mampu, dunia dan sepenuh isinya akan mengamuk dan murka, kakang. Korban peperangan akan semakin berjatuhan, sebab mereka tahu, prabu Ramawijaya ada di pihak yang benar, kakang. Kakang, sebagai satriya Alengka yang terlahir dari rahim bunda Dewi Sukesi dan rama Resi Wisrawa, rayi tak akan tinggal diam. Rayi harus menentukan pilihan.
KUMBAKARNA:
Aku mengerti, yayi.
WIBISANA:
Kakang, rayi mohon pamit.
KUMBAKARNA:
Wibisana, ingatlah. Kau lahir, dewasa dan sempurna sebagai satriya tergodog di bumi Alengka, yayi.
WIBISANA:
Benar kakang, justru itulah rayi sadar. Bersama kakang dan semua putera Alengka, rayi sadar, darah saya yang pertama di negeri ini tumpahnya. Dan kakang, di negeri ini pula rayi akan mengakhirinya. Kakang, apalagi yang masih bisa rayi sumbangkan untuk kesejahteraan negeri ini nanti, selain rayi harus memilih melawan kecongkakan, kerakusan, dan ketidak benaran yang rasanya semakin mapan, kakang.
KUMBAKARNA:
Oh, yayi, yayi, kuhargai pilihanmu, pilihan satriya Alengka. Semoga sejahtera dengan pilihan yang telah kau yakini, yayi.
PADA SAAT KUMBAKARNA DIALOG OH, YAYI, WIBISANA DIANGKAT TINGGI – TINGGI DIATAS KEPALA KUMBAKARNA. DI BIDANG LAIN / SEBELAH BAGIAN KIRI TERDAPAT BAYANGAN RAHWANA GEDRUG – GEDRUG KEMUDIAN MENGHILANG LAGI. KUMBAKARNA MELEPASKAN GENGGAMAN WIBISANA, KEMUDIAN DIRANGKUL, DILEPASKAN SALING BERPANDANGAN. WIBISANA BERMAKSUD AKAN MENYEMBAH TIDAK DIPERBOLEHKAN OLEH KUMBAKARNA.
DIALOG: KUMBAKARNA:
Tidak usah yayi, kita sama – sama saling menghargai. Tidak ada yang lebih tinggi dan tak ada pula yang lebih rendah, yayi. Tidak ada yang lebih kuasa dan tidak harus saling menguasai, yayi.
KEDUANYA SALING BERPANDANGAN.
DIALOG: WIBISANA:
Kakang, rayi mohon pamit, kakang.
KUMBAKARNA:
Oh, yayi Wibisana, adikku, yayi …
WIBISANA MUNDUR, KE KANAN, MENOLEH KE KIRI, KEMBALI MENOLEH KE KANAN DAN KELUAR PERLAHAN – LAHAN, MASUK.
KUMBAKARNA DI TENGAH – TENGAH BAYANGAN BESAR, MERASA ANGGLONG DELOG – DELOG MENGHADAP KE ARAH KEPERGIAN WIBISANA DALAM TEMPO SESAAT, TEBAH JAJA, BERNAPAS PANJANG, TERASA LEGA, IKHLAS ATAS KEPERGIAN ADIKNYA. MAKA TERGUGAH KEMBALI SEMANGATNYA, BAYANGAN MENJADI SEMAKIN BESAR, HANYA TERLIHAT KEPALANYA SAJA.
NGUDARASA: KUMBAKARNA:
Kakang, haruskah Alengka hancur karena keangkuhanmu kakang, tidak! Akulah yang akan melindungi kehancuran negeriku. Kakang, aku mencintai negeri ini lebih dari sekedar kakang prabu Rahwana mencintai tahtamu, kakang. Akan kubela negeri ini sampai nanti nyawaku dicabut gusti Hyang Agung. Wibisana, adikku cah bagus, sebagai satriya Alengka sekarang kita satu sikap, namun berbeda tempat cah bagus, aku akan mendahuluimu. Sejahteralah kamu, rayi. Betapa besar keinginanku untuk terus bisa memangkumu. Aku tunggu kau disana untuk bisa mengagumimu. Hohohohoho, Hyang Agung, lindungilah. Hai, prajurit Ayodya, aku yang datang.
KUMBAKARNA MAJU KE KANAN PERLAHAN – LAHAN DENGAN TEKAD TANPA ADA NIATAN UNTUK MENIMBULKAN PENDERITAAN BAGI SIAPAPUN. DISUSUL KEDATANGAN WADYA WANARA DARI KANAN SEGERA MENGEROYOK KUMBAKARNA. KUMBAKARNA SAMA SEKALI TIDAK MEMPERDULIKAN KEROYOKAN BARISAN KERA, BERJALAN DENGAN BAYANGAN UTUH SATU RAMBAHAN. PARA BARISAN KERA SELALU MENGIKUTI DENGAN SEMANGATNYA, SEHINGGA BANYAK KERA YANG TERTINGGAL, TETAPI SEGERA MEMBURUNYA PULA. KUMBAKARNA BERJALAN KELIHATAN BAYANGAN KAKINYA SAJA, DIKERUBUTI KERA. BANYAK YANG TERJATUH, KUMBAKARNA TETAP BERJALAN TANPA MENGHIRAUKAN KERUBUTAN KERA TERSEBUT. KUMBAKARNA TERLIHAT BAYANGAN KEPALANYA SAJA DIKERUBUT JUGA TIDAK DIHIRAUKAN. BANYAK KERA YANG TERJATUH DAN LARI TUNGGANG LANGGANG MENGEJARNYA.
KUMBAKARNA TERLIHAT BAYANGAN SELURUH TUBUHNYA DENGAN TIDUR DIKERUBUTI KERA SELURUH BADANNYA. KUMBAKARNA BANGUN PELAN – PELAN. PARA KERA RONTOK SATU PERSATU, AKHIRNYA BERKUMPUL DI HADAPAN KUMBAKARNA. KUMBAKARNA SEGERA MELANGKAHKAN KAKINYA, SEMUA KERA TERPIJAK OLEH KAKI KUMBAKARNA, BANYAK YANG MATI KARENANYA. KUMBAKARNA MENOLEH, KAGET, MERASA KECEWA ATAS PERBUATANNYA TERSEBUT SEHINGGA PARA KERA YANG SUDAH MATI DIDOAKAN UNTUK BISA NAIK KE SORGA. BAYANGAN KERA MASUK DALAM SINAR BUNDAR, NAIK KE ATAS SUDUT KANAN ATAS. LESMANA MENTHANG LANGKAP DALAM SINAR BUNDAR. SETELAH MELIHAT PERISTIWA TERSEBUT, KUMBAKARNA MERASA BERSALAH DAN MENYATAKAN PENYESALANNYA SEBAB MERASA SUNGGUH BERDOSA.
NGUDARASA: KUMBAKARNA:
Ohhhh, kakang, ternyata terlalu banyak penderitaan. Terlalu banyak memakan korban, kakang. B u mi t el ah bas ah bers i mbah darah, wan gk e t u mpu k matimbun – timbun karena tingkah polahmu, kakang, terlalu banyak, terlalu banyak yang menjadi korban kakang. Ohhhh, kawula Ayodya, dan semua bala Alengka yang telah rela menjadi korban perang, tanpa mengetahui untuk apa sebenarnya itu kau lakukan, pulanglah saudaraku, kembalilah keharibaannya. Berbahagialah kau bersama keagungannya, saudaraku.
KUMBAKARNA MERASA LEGA DAN GEMBIRA SETELAH SELESAI MENDOAKAN KORBAN DENGAN HARAPAN MAMPU NAIK KE SORGA.
PADA SAAT SANG KUMBAKARNA MENIKMATI PENGALAMAN BATINNYA SETELAH MEMOHONKAN PARA KORBAN PERANG UNTUK DAPAT IKUT MERASAKAN KEBAHAGIAAN YANG LANGGENG, SEJENAK TERLENA, BERSAMAAN DENGAN MELUNCURNYA SEBUAH PUSAKA YANG MENGENAI TEPAT PADA DADA SANG KUMBAKARNA SEHINGGA MENYEBABKAN PRALAYA.
SANG KUMBAKARNA GUGUR PADA SAAT MENYUCIKAN PARA KORBAN PERANG. PADA SAAT ITU PULA BERSAMAAN DENGAN KEDATAANGAN SANG RAHWANA. MELIHAT ADIKNYA GUGUR DI
MEDAN LAGA, MAKA SANG RAHWANA SEGERA MERANGKUL / NGRUNGKEBI SANG KUMBAKARNA YANG TELAH GUGUR TERSEBUT. DAN SEMAKIN MEMUNCAK AMARAHNYA.
RAHWANA:
Ohhh, adikku Kumbakarna, tak kuduga kau telah mendahuluiku, yayi.
AMARAHNYA SEMAKIN MEMBARA.
RAHWANA:
Ramawijaya, telah kau bunuh satriya Alengka kekudanganku. Hayo, jangan mundur dan jangan kepalang tanggung, sekarang hadapilah aku prabu Dasamuka kakaknya, majulah bersama prajurit Ayodya, hayo, segera majulah Ramawijaya, pasti bakal kugedeng kepalamu!
RAHWANA SEGERA MELANGKAHKAN KAKI UNTUK MENJEMPUT KEDATANGAN PRABU RAMAWIJAYA DAN BERTEMU. BAYANGAN RAHWANA MEMBESAR KELIHATAN BENGISNYA DAN PRABU RAMAWIJAYA BAYANGANNYA BERADA DALAM SINAR BUNDAR KECIL PADA SUDUT SEBELAH KANAN DENGAN MENTANG LANGKAPNYA, DIINCARKAN KEPADA RAHWANA YANG BERADA PADA LAYAR SEBELAH KIRI.
DIALOG: RAMAWIJAYA:
Rahwana, masihkah engkau pada pendirianmu?
RAHWANA:
Keparat, rama. Dasamuka tidak pernah berpikir tentang keragu – raguan. Aku pasti menang.
RAMAWIJAYA:
Korban terlalu besar, rahwana. Bala Alengka dan semua saudaramu telah pula pralaya.
RAHWANA:
Rama, ketahuilah. Kebesaran dan kekuasaanku adalah buah dari ketegasan dan keteguhanku. Bila aku ingkar keruntuhan dan kemusnahan yang bakal datang. Tetap akan kupertahankan yang pernah berhasil aku raih sampai dengan titik darah penghabisanku yang tetap mendidih. Diatas penderitaan dan kesengsaraan adalah bagian terpenting dari kekuasaan dan kebesaranku. Aku yakini, rama. Aku yakini, keparat.
RAMAWIJAYA:
Rahwana, lihatlah mukamu semakin pucat. Pertanda ajalmu semakin dekat. Rahwana, lihatlah, pintu neraka telah membuka. Siap menerima kecongkakanmu, Rahwana.
RAHWANA:
Aku akan pergi kesana, besok ataupun sekarang. Justru disanalah tempatku yang utuh dan menyeluruh. Disana pulalah bakal mencuat kejayaanku. Kematian adalah kebahagiaanku. Dari sana pulalah kehidupanku yang tanpa batas akan kuhembuskan napas keperkasaan, kekuasaan, kebesaran dan cita – citaku kepada setiap insan yang berhati jantan. Waspadalah, bumi akan semakin terancam, percayalah. Hahahaha, tidak, aku tidak akan mati …… hahahaha.
RAMAWIJAYA DALAM SINAR BUNDAR MENTANG LANGKAPNYA DAN SEBUAH SINAR TAJAM TERKENA PADA DADA RAHWANA DENGAN SUARA MENGGELEGAR. RAHWANA TIDAK MATI JUSTRU LAHIR BERPULUH – PULUH BAYANGAN RAHWANA MEMENUHI LAYAR. DAN DI SUDUT KANAN ATAS BAYANGAN RAMAWIJAYA TETAP MENTANG LANGKAP DENGAN GAGAHNYA. TOGOG KELUAR DENGAN BAYANGAN BESAR DAN JELAS PADA BIDANG SEBELAH KIRI ATAS DENGAN KESEDIHAN YANG MENDALAM.
NARASI:
Sinar kejora yang indah, memudar ditelan malam yang kelam. Kelam, kelam, kelam.