• Tidak ada hasil yang ditemukan

Risala h

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Risala h"

Copied!
56
0
0

Teks penuh

(1)

audara-saudaraku yang seiman dan seagama, semoga Rahmat dan Nikmat Allah Swt senantiasa tercurahkan kepada hati-hati kita yang bening lagi Nyaman, semoga kita didalam mengarungi hidup dan kehidupan ini senantiasa selalu didalam petunjuk-Nya, apa saja yang mengiringi seluruh aktivitas didalam keseharian kita, Insya Allah akan senantiasa bernilai Ibadah.

Allah Swt berfirman :

“ Tidak kuciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku “ (QS, Adz- Dzaariyat : 56)

Saudaraku yang dirahmati oleh Allah,

Risalah yang akan kami sampaikan ini adalah sebuah risalah yang teramat besar yang menyatakan kepada kita semua tentang apa sesungguhnya yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt atas diri kita ini, yaitu suatu risalah yang menyatakan kesudahan Ilmu orang tahkik, dan tidak akan ada yang diperoleh lebih dari itu, walau Ambiya Allah sekalipun. Pikirkan dan renungkan olehmu baik-baik, karna perkataan yang sedikit ini akan lebih besar kaidahnya bagimu, jika dibandingkan dengan dunia beserta isinya, kerasnya akan melebihi dari kerasnya sebuah batu dan tajamnya akan melebihi dari tajamnya sebilah pedang.

Untuk itu berhati-hatilah didalam mempelajari dan memahaminya, simpan baik-baik risalah ini pada amaliahmu sehari-hari.

Saudara-saudaraku yang saya kasihi.

Risalah ini sengaja kami ketik, kami susun dan kami tata kembali sebagaimana risalah aslinya dengan mengadakan perbaikan dan penyempurnaan dibeberapa bagiannya, ini kami maksudkan agar saudara-saudaraku mendapatkan kemudahan-kemudahan didalam mempelajari dan memahami akan isinya.

Dibeberapa bagian dari isi risalah ini, saudaraku nantinya akan banyak dihadapkan dengan pernyataan-pernyataan dan kata-kata yang terasa sangat musykil dan tidak layak kiranya untuk dibicarakan, untuk itu pelajari dan pahamilah baik-baik olehmu supaya kamu mendapat petunjuk

(2)

Ingatlah wahai saudaraku :

” Janganlah kamu angkat bicara dan membicarakan risalah kecil ini kepada yang tidak sepaham dan sependapat denganmu,sebab dikhawatirkan nantinya akan bisa menjadi fitnah yang amat besar dikalanganmu sendiri, dan

ingatlah pula olehmu, bahwa sesungguh Ilmu Allah itu bukan untuk diperdebatkan karna semakin Ia diperdebatkan,

maka semakin jauhlah dirimu dari kebenaran yang sesungguhnya ” Allah Swt berfirman dalam Hadits Qudsy :

” Aku itu ada didalam sangka-sangka hamba-Ku saja ”

Pandai-pandailah membawa diri, gunakan waktu dan kesempatan hidup ini dengan sebaik mungkin niscaya Allah Swt akan senantiasa mencurahkan dan melimpahkan Rahmat dan Nikmat-Nya kepada kita semua... Amin ya Robbal ’alamin.

Balikpapan, 27 Mei 2009 Penyusun dan Pembina

= Adhie Shinantra =

(3)

Begitulah kami menyebutkannya didalam Ilmu, sesungguhnya sebutan itu hanya sebatas nama saja atau sebatas keterangan yang menerangkan tentang identitas formal yang menyatakan jati diri yang sesungguhnya, dalam rangka mengekspresikan semua maksud dan tujuan, baik yang tersurat maupun yang tersirat, yang nyata dan yang tersembunyi pada pernyataan dan kenyataan diri kita yang sebenarnya, dengan satu harapan kiranya diri ini dapat meraih dan menggapai hakekat kesempurnaan hidup yang sesungguhnya. Maqom ke-delapan juga bukan suatu maqom yang khusus apalagi istimewa menurut kami, sebab apabila seseorang telah mencapai pemahaman yang tertinggi, maka ia akan dapat merasakan bahwa sesungguhnya bukan maqomnya yang istimewa akan tetapi inti sari dan sari pati dari maqom itulah yang terasa istimewa, sementara maqomnya itu akan lebur dan lenyap dengan sendirinya, kembali kepada arti dan pemaknaan awal saja yaitu hanya sebatas nama dan sebutan saja.

Maqom ke-delapan itu, disebut juga “ Maqom perjalanan Syara’ul Hisab “, dengan Nas Qur’annya berbunyi :

Huwal Awwalu Man Kholakallahu ta’ala An Nur ”Yang awal sekali Allah ciptakan adalah Nur”

Untuk rujukan dari Nas Qur’an tersebut diatas, tentang asal kejadian dari pada Nur, bersumber dari keterangan-keterangan yang ada didalam :

Kitab Hadits Qudsy Bayanullah

Kitab Hadits Qudsy Bayanul Insan, danKitab Hadits Qudsy Bayanullah Hurubiyyin,

yang 3 jilid dan terhimpun didalam “ Kitab Barencong “, kepunyaan Datu sanggul dari tanah Muning, tatakan rantau Kalimantan Selatan.

Ini kami maksudkan, agar kita semua dapat benar-benar menyempurnakan akan asal muasal dari kejadian diri kita, asal muasal kejadian akan Agama Nabi Muhammad Saw (Islam), dan asal muasal kejadian Pengenalan akan diri kita., sebab :

(4)

“Barang siapa Ia tidak mengetahui akan asal muasal kejadian dirinya, maka sesungguhnya dipandang tidaklah syah semua amal ibadahnya

dan sia-sia saja semua perbuatannya,

baik yang telah lalu, waktu sekarang dan waktu yang akan datang “

Maksudnya : Seluruh amal ibadah yang telah ia lakukan itu semuanya akan tergantung sampai kelak suatu masa dirinya itu mampu mengenal akan diri, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri, barulah seluruh amal-amal yang tergantung itu bermamfaat baginya. Saudara-saudaraku sekalian.

Maqom ini adalah Maqom Khas atau maqom rahasia, yaitu rahasia perjalanan ilmu Haq Allah ta’ala, atau dapat juga kita menyebutnya dengan sebutan maqom perjalanan Baginda Rosulullah Saw, kedudukannya satu tingkat diatas maqomnya orang-orang Laduni yaitu maqom ke-tujuh didalam perjalanan 99.

Disebut maqom rahasia perjalanan Ilmu Haq Allah ta’ala, oleh sebab yang dikaji, dibahas dan dibicarakan adalah mengenai risalah yang Haq.

Apa sesungguhnya yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt atas diri kita ini...?, siapa sesungguhnya Allah itu...?,

dan siapa sebenarnya kenyataan diri kita ini...?. Allah Swt telah berfirman :

” Aku ciptakan manusia itu dalam bentuk yang paling sempurna lagi mulia, namun apabila ia ingkar kepada-Ku,

maka akan Aku lemparkan kamu pada tempat yang paling hina, bahkan amat hina dari pada yang hina ”

Maksudnya :

Kesempurnaan dan kemuliaan itu menurut pandangan Allah Swt, baru akan kita peroleh apabila kita ini mampu untuk mengadakan pengenalan terhadap diri kita sendiri, siapa sesungguhnya diri yang sebenarnya,

yaitu diri yang sebenar-benarnya diri yang hidup dan tidak akan pernah mati, namun sebaliknya kita akan dipandang hina sehina-hinanya dalam pandangan Allah Swt, apabila sepanjang usia kita hidup didunia ini buta terhadap diri kita sendiri, itulah keingkaran dan kelalaian yang nyata atas diri kita sesungguhnya, Nauzu billahi minzalik.Betapa celaka dan ruginya kita, jika kita mempunyai satu keyaqinan namun kenyataannya keyaqinan kita itu salah dan keliru.

Menganggap Tuhan apa yang sesungguhnya bukan Tuhan, menganggap Nabi apa yang sebenarnya bukan Nabi, begitu pula dengan Rosul, Al-Qur’an dan Hari Akhirat,

(5)

Berani berikrar dan angkat saksi :

” Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan

Aku bersaksi pula bahwa Muhammad itu adalah benar utusan Allah ”

Sementara kenyataannya, apa yang kita ikrar dan kita persaksikan itu bagi kita kabur dan samar-samar, jika ini yang terjadi atas diri kita, maka kitalah sesungguhnya orang yang ingkar dan lalai itu, dan sangat wajar sekali jika keislaman dan keimanan kita itu layak diragukan dan dipertanyakan... Silahkan saudaraku renungkan kembali.

Kemudian dikatakan Maqom perjalanan Baginda Rosulullah Saw, oleh karna kita meyaqini sepenuh hati, bahwa Agama yang dibawa oleh Rosulullah Saw itu benar dan lurus, yaitu Islam (keselamatan atau Fitrah/Suci).

Allah Swt berfirman :

” Sesungguhnya Agama yang syah pada pandangan Allah, ialah Islam ” ( QS, Ali Imran : 19 )

” Barang siapa mencari agama selain agama Islam,

maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan diakhirat (mereka) termasuk orang-orang yang rugi ” ( QS, Ali Imran : 85 )

Jika demikian kenyataannya, maka jelaslah sudah bahwa maqom ini adalah maqom yang terakhir dan tidak akan ada maqom lagi diatasnya, sebab kejahiran Rosulullah Saw itu kemuka bumi atau alam dunia ini menegaskan kepada kita bahwa beliaulah Nabi dan Rosul yang akhir, penutup dari semua Nabi dan Rosul yang sudah ada, bahkan yang lebih istimewa adalah kejahiran atau kehadirannya dimuka bumi ini sebagai Rahmat bagi semesta alam.

Allah Swt berfirman :

”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri tauladan yang baik bagimu

(yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (rahmat) Allah

dan (kedatangan) hari Qiyamat dan ia banyak menyebut (nama) Allah ” ( QS, Al- Ahzab : 21 )

Adapun pokok-pokok risalah yang akan dikaji atau dibahas untuk sampai pada pengenalan diri yang sebenarnya, yaitu :

Mengenal asal muasal diri

Mengenal diri yang sebenar-benarnya diri, dan Mematikan diri.

(6)

Ketiga hal tersebut itu merupakan komponen utama yang harus dilalui secara bertahap dan berurutan,

Ketiga-tiganya itu adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisah-pisahkan didalam rangka mengadakan pengenalan akan diri, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri.

Bagaimana mungkin kita dapat mengenal akan diri, jika kita tidak tau akan asal muasal kejadiannya, begitu pula selanjutnya, bagaimana mungkin kita mampu mengenal akan diri jika kita sendiri tidak mati, yaitu mati secara ma’nawiyah bukan mati hissiyah, kembali kami memulangkan kepada saudaraku sekalian, silahkan renungkan baik-baik...

(7)

M

engenai arti dan ma’na logo/lambang

” Air Setitik ”

juga tidak terlalu spesifik, hanya sebatas isyarat dan perlambang saja yang menerangkan tentang tingkat emosional seseorang didalam mengadakan perjalanan batiniyah, akan tetapi logo/lambang itu dapat atau syah-syah saja jika dijadikan patokan atau pedoman didalam mengadakan pengembaraan ilmu, mengarungi samudra rahasia guna mencapai derajat tertinggi dimata Allah Swt, yaitu merasakan manisnya buah Ma’rifat yang akan membawa dirinya untuk menggapai dan meraih Hakekat Kesempurnaan hidup yang sesungguhnya.

Mari kita lihat dan perhatikan pada logo/lambang yang ada : Pada logo/lambang tertulis kata :

Maqom

Angka delapan (8), dan Huruf Alif.

Kata Maqom, artinya suatu kedudukan atau tingkat ilmu tertentu didalam mengadakan suatu perjalanan batin yang panjang dan melelahkan, sedangkan Angka delapan (8) menerangkan akan kedudukannya, tempat dan martabatnya, yaitu pada tingkat dan kedudukan yang ke delapan, sebagai mana yang telah kami jelaskan diatas (Profil maqom kedelapan).

Didalam pengembaraannya, maqom kedelapan menghimpun semua perjalanan yang ada, dari perjalanan yang berada ditingkat paling bawah, yaitu tingkat awam atau Syareat, hingga sampai pada tingkat yang tertinggi, yaitu Ma’rifat kemudian menyatukannya kedalam satu Ujud yang jika kita lihat didalam logo/ gambar itu disandikan dengan huruf Alif (berdiri tegak dan tunggal).

Berdiri tegak dengan ujung-ujungnya mengarah keatas dan kebawah, keatas menguasai 7 petala langit atau bisa juga dibilang kutub positif atau kutub utara, mengadakan sebuah nama, yaitu nama Awal-Awal Nur Muhammad.

Dan kebawah menguasai 7 petala bumi atau bisa juga diartikan kutub negatif atau kutub selatan, mengadakan sebuah nama, yaitu nama Awal-Awal Ummat.

(8)

Tunggal, artinya tidak bilang (Esa), jika pada kenyataannya berbilang-bilang maka itu oleh sebab yang tunggal itu menyifatkan diri sehingga terlihat banyak atau berbilang-bilang namun pada hakekatnya sesungguhnya Ia satu jua adanya.

” Pandang olehmu yang banyak itu kepada yang satu, dan pandang pula olehmu yang satu itu kepada yang banyak, maka pandanganmakan berhenti pada memandang yang satu kepada yang satu jua adanya ”

Gambar selanjutnya, yaitu :

Dua buah telapak kaki, melambangkan sebuah perjalanan

Posisi sejajar, melambangkan keseimbangan, yaitu keseimbangan antara jahir dan batin, manusia dan alam, kebaikan (Haq) dan keburukan (Bathil), dunia dan akhirat.

Menghadap keatas, melambangkan tujuan yang paling tinggi, agung lagi mulia, yaitu Allah Swt, dengan jalan pengenalan akan diri sendiri, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri (jati diri sejati)

.

” Kenalilah dirimu, niscaya kamu akan kenal dengan tuhanmu, kenal akan tuhanmu maka binasalah jasadmu

(kamu akan mati/mati dalam ma’nawiyah bukan mati dalam hissiyah) oleh sebab pengenalanmu itu, maka dengan keyaqinan penuh dan keimanan yang sempurna, maka Allah Swt akan tampak dan nyata dalam pandangan Basyariahmu ”

Warna putih, melambangkan kesucian atau kebersihan,

Allah Swt itu suci dan dia menyukai sesuatu yang suci dan bersih, oleh karnanya, maka hanya jiwa-jiwa yang bersih dan suci sajalah yang akan beroleh Rahmat dan Nikmat dari-Nya.

Gambar tetesan Air, adalah sebagai perlambang bahwa sesungguhnya asal muasal kejadian Insan/manusia itu adalah dari setetes air (Nutfah)

Allah Swt berfirman :

” Man Kholakal Insanu Min Thin / Man Kholakal Insanu Min Nudfhatin ” ” Manusia berasal dari tanah, tanah berasal dari air, air berasal dari

(9)

Allah Swt juga berfirman didalam Al-Qur’an :

” Hendaknya kamu memikirkan akan asal kejadian dirimu ”

” Sesungguhnya diri anak Adam itu adalah dosa yang besar, terkecuali ia mengetahuinya ”

Perhatikan dan coba bandingkan antara proses kejadian nabi Adam As dengan proses kejadian anak cucu Adam ( Insan ).

Proses penciptaan nabi Adam As :Tanah asal

Tanah dan Zat Air

Tanah dan Hawa (Angin)Tanah dan Zat Panas (Api)Bagan (bentuk)

Bentuk sempurnaJiwa.

Proses penciptaan anak cucu Adam ( Insan ) :Rangkaian Tanah asal

Air mani laki-lakiPencampuran SpermaSegumpal darahTulang belulangDaging pembungkusRuh.

Pepatah bijak mengatakan :

” Ilmu Manusia itu laksana setetes Air ditengah lautan yang luas jika dibandingkan dengan Ilmu Allah ”

Tapi coba kita merenung dengan baik, betulkah atau mungkinkah akan tercipta sebuah lautan yang maha luas itu, jika tidak diawali dengan setetes Air.

(10)

Kemudian perlambang Warna yang ada pada logo/lambang : • Warna Kuning, melambangkan kemuliaan

Warna Biru, melambangkan kedamaian

Warna Putih sebagai dasarnya, melambangkan kebersihan dan kesucian. Warna-warna tersebut diatas mengisyaratkan kepada kita bahwa :

Untuk dapat memperoleh kemuliaan dan kedamaian itu seseorang harus tetap berada pada rel atau jalur yang suci lagi bersih, karna hanya hati-hati yang suci lagi bersihlah yang dapat menyingkap dan menghalau tabir hijab yang membentengi diri seseorang terhadap kebenaran yang Haq.

Allah Swt berfirman :

” Beruntunglah mereka yang membersihkan dan mensucikan dirinya, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang mengotorinya ”

Jika yang Haq itu sudah benar-benar tampak dalam pandangan Basyariahmu, maka kebahagiaan dan kemuliaan itu berlaku atas dirimu.

Mulia dimata Allah Swt, oleh sebab dirinya senantiasa beroleh limpahan rahmat dan kurnia dari-Nya, didunia maupun diakhirat, dan kedamaianpun akan senantiasa menyertainya, kapan saja, dimana saja dan dalam kondisi apapun.

Dalam keadaan yang demikian itu maka apa saja yang kita dengar, kita lihat dan kita rasakan serta apa saja gerak tubuh tingkah laku baik yang tersembunyi maupun yang nyata semuanya selalu dan senantiasa bernilai ibadah, tidak satupun yang sia-sia, sebagai mana yang telah difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an :

” Tidak Ku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku ” ( QS, Adz Dzaariyat : 56 )

Demikian ”Profil Maqom ke-Delapan” yang mungkin dapat dan layak untuk kami ungkap kepermukaan sebagai awal pembuka Risalah ini, semoga bermamfaat bagi kita semua sehingga Allah Swt dengan Qudrat dan Iradat-Nya senantiasa memberi kemurahan dan kemudahan-Nya kepada kita sekalian...Amin ya Robbal ’alamin.

(11)

ermula Agama itu ialah ” Awalluddin Ma’rifatullah ”

Artinya : Awal agama itu ialah dengan mengenal Allah, yaitu mengetahui akan Sir Allah yang ada atas dirimu, oleh sebab Sir Allah yang ada pada dirimu itulah maka kamu tercipta dalam bentuk yang paling sempurna jika dibandingkan dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain.

Namun jika Sir Allah yang ada pada dirimu itu tidaklah kamu ketahui, maka dirimu dikatakan belum beragama, dengan demikian maka seluruh Aktivitas ibadahnu baik yang dulu, sekarang maupun yang akan datang tetap dipandang tidak syah dan sia-sia saja.

Rosulullah Saw bersabda :

” Diri anak Adam itu adalah dosa yang besar, terkecuali ia mengetahuinya ”

”Barang siapa menyembah Allah, dan ia tidak mengetahui dengan yang empunya nama Allah itu,

maka dihukumkanlah bagi mereka itu seperti hanya menyembah nama saja, bukan menyembah si empunya nama ”

”Barang siapa menyembah nama, tiada ia mengetahui dengan yang empunya nama, maka orang itu kafir lagi jahil dan barang siapa

menyembah-nyembah nama Allah tapi ia tidak tau dengan yang empunya nama Allah itu,

maka ia dihukumkan batal perkataan, yaitu sia-sia saja ”.

Ketahuilah olehmu wahai saudaraku sekalian...!

Setiap Firman Allah itu pasti mengandung 2 penafsiran, yaitu : • Penafsiran secara jahiriyah (tafsir jahir), danPenafsiran secarta batiniyah (tafsir batin)

B

(12)

Sebagian Ulama mengatakan, bahwa :

Tafsir batin itu pasti akan menyalahi akan kaida-kaidah umum secara jahir, dan bila kita akan masuk pada tafsir batin, maka tinggalkan olehmu akan kaidah-kaidah jahir atau tinggalkan olehmu itu tentang pendapat-pendapat umum.

Didalam Islam sendiri ada 3 tingkatan, yaitu : • Awam

Khawas, danKhawasul khawas

Mustakhil orang awam bisa masuk dan memahami akan Khawas apa lagi Khawasul khawas, begitu pula orang khawas, mustakhil bisa masuk dan memahami akan khawasul khawas, karna pada setiap tingkatan itu sendiri pada kenyataannya sangat jauh berbeda. Apa yang dicari oleh orang-orang yang Arifbillah itu pastilah akan menyalahi dari kebanyakan orang, maka tidak mengherankan jika orang-orang yang masuk kebatin itu jumlahnya tidak sebanyak seperti secara jahir.

Orang yang sudah kenal kepada Allah, maka bicaranya bukan pada lidahnya, bukan pada hatinya, bukan pada ruhnya, juga bukan pada sir, akan tetapi tidak akan adalagi yang akan dibicarakan tentang hamba itu, karna sesungguhnya hamba itu sendiri tidak ada. Berbeda dengan orang-orang jahir dilisan saja dan belum masuk kedalam hati, kalau pembicaraan itu hanya sebatas lisan saja, maka pembicaraan itu tidak akan pernah memberi bekas, minimal pembicaraan itu bersumber dari hati, sehingga pembicaraan itu akan membekas dan mamfaat, tapi kalau pembicaraannya itu sebatas lisan saja maka seluruhnya tiada yang dapat memberi mamfaat baginya.

(13)

B

ermula yang sebenar-benarnya Asal kejadian dari pada Nur Muhammad itu berlangsung didalam kosong (kekosongan), yaitu kosong tiada siapa-siapa, pada waktu itu tuhan pun belum lagi bernama Allah, belum ada Arsy, belum ada kursy, belum ada langit, belum ada bumi, belum ada Syurga, belum ada Neraka dan belum ada firman semuanya kosong, hening dan hampa.

Ketika itu tuhan yang belum bernama Allah itu menjahirkan yang pertama kali dengan Ilmu, Qudrat dan Iradat-Nya, adalah Nur (Nur Muhammad) dari pada Nur Zat-Nya. Penjahiran Nur Muhammad ketika itu berlangsung didalam Alam yang bernama Alam Satiyaril Gaib ( Satiyaul Buhti ).

Keterangan :

Ketika itu dijahirkanlah Nur Muhammad itu dari pada Nur Zat-Nya, didalam Alam dan dihari yang Gaib (Alam hari Zat Zatul Buhti), jadi ketika Nur Muhammad itu dijahirkan bukan dialam dunia ini, akan tetapi disuatu alam yang dialam itu nama Zat Wajibal Wujud pun belum ada. ( Nurul Bahtinul lati namanya ).

Setelah itu Nur Muhammad diturunkan lagi dialam Sir Zat Ilbugti, yaitu Alam rahasia yang ada dibagian diri tuhan yang belum bernama Allah, dan awal namanyapun masih tersembunyi, setelah itu Nur Muhammad diturunkan lagi kealam Ilmu (Alam Pengetahuan), baru setelah itu Nur Muhammad diturunkan kealam Dunia.

Kala itu tajallilah Nur Muhammad, saat tajalli Nur Muhammad itu, Ia pun tidak melihat siapa-siapa melainkan dirinya sendiri saja, dan ketika itulah Nur Muhammad berkata :

Asyhadu Anla Ilaha Ilallah ” Tiada yang ada hanya Aku ”

( Inilah Syahadat Nur Muhammad ketika dialam Zatul Buhti )

Berkata Nur Muhammad itu dengan lantang tanpa keraguan ” Akulah Tuhan ” Mengapa demikian :

Karna memang saat itu Ia tidak melihat siapa-siapa yang ada melainkan hanya dirinya saja yang ada,

(14)

Namun dikekosongan, keheningan dan kehampaan selain dari pada Nur Muhammad itu sendiri, terdengarlah suara sayup-sayup yang memecah keheningan dan kehampaan itu sebuah kalimah jawaban atas ucapan Nur Muhammad tadi, yaitu :

Asyhadu Anna Muhammaddar Rosulullah ” Ya Nur Muhammad, diri engkau itu kujadikan dari pada Nur Zat-Ku, kelak sekalian alam ini akan jadi dari pada engkau wahai Nur Muhammad kekasih-Ku ”

( Inilah Syahadat Zat Wujudul Ujud dan inilah asal kejadian dari pada Syahadat seperti yang kita ketahui sekarang ini ).

Betapa terkejut dan tersentaknya Nur Muhammad kala itu, ketika Ia mendengar perkataan Zat, Ia pun berkata, bahwasannya ternyata ada yang lebih dulu dari pada diriku, Seraya bermunajat Ia kepada Zat Allah ta’ala dengan mengangkat zikir awal, (zikir awal Nur Muhammad) dan salawat awal (salawat awal Nur Muhammad) sebagai permintaan do’a Ia kepada Zat Allah ta’ala.

La Ilaha Ilallah Muhammadur Rosulullah

” Tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah, hai Tuhanku bahwasannya diri-Ku ini dari pada Ujud diri-Mu ” (Inilah asalnya kejadian Zikir)

Nurul Haqullqh Air La Ilaha Ilallah

” Tiada yang disembah melainkan Allah, Hai Tuhanku bahwasannya diri-Ku ini daripada Air Nuktah cahaya diri-Mu ”

La Ilaha Ilallah Muhammaddun Astagfirullah

” Tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah hai Tuhanku, Bahwasannya Aku minta ampun, bertaubat Aku kepada engkau yang telah engkau terima ” lalu Ia mengucap

:

Astagfirullah Hal Azim, Al Laji La Ilaha Illa Hual Hayyul Qayyumu Wa Atubu Ilaihi

(Inilah asal kejadian Taubat)

Kun Sholli Ala Muhammad

” Jadilah..., maka jadilah hai Tuhanku, engkau jadikan diri-Ku sebagaimana yang telah engkau kehendaki, maka jadilah atas diri-Ku ”

(Inilah asalnya kejadian Salawat)

(15)

Kemudian Zat Allah ta’ala berkata kepada Nur Muhammad :

• Ketahuilah olehmu hai Nur, bahwasannya Aku jadikan Zat-Ku menjadi Nyawa kepadamu,

• Aku jadikan Sifat-Ku itu menjadi Tubuh kepadamu, Aku jadikan Asma-Ku itu menjadi Nama kepadamu dan Aku jadikan Af’al-Ku itu menjadi Kelakuan kepadamu.

• Ya Nur Muhammad, asal kejadian dirimu itu dari pada Zat-Ku dan asal kejadian dirimu itu akan menjadikan seluruh umatmu

.

• Ya Nur Muhammad, Aku berpesan kepadamu, bahwasannya jadikanlah Nyawamu itu menjadi rahasia kepada umatmu, jadikanlah Tubuhmu itu menjadi Ruh kepada umatmu dan jadikanlah Kelakuanmu itu menjadi Hati kepada umatmu, apabila Aku memuliakan atas dirimu maka itu sama juga Aku memuliakan atas umatmu.

• Ya Nur Muhammad, Aku wajibkan atas umatmu itu untuk mengenal ia akan asal kejadian dirinya dan Aku wajibkan pula atas umatmu itu agar ia mengenal akan Agama-Ku dan Aku wajibkan pula atas umatmu itu untuk mengenal akan dirinya dengan sungguh-sungguh (dengan sebaik-baiknya pengenalan)

• Ya Nur Muhammad, titikkan air nuktahmu itu untuk menjadikan malaikat yang empat, Titikan yang pertama itu bernama Nur Mada, titikan yang kedua itu bernama Nur Madi, titikan ketiga itu bernama Nur Mani dan titikan yang terakhir atau yang ke empat itu bernama Nur Manikam, apabila engkau berucap Iya Kun jadi Jibril, maka jadilah Ia Jibril, apabila engkau berucap Iya Kun Fayakun jadilah Mikail, maka jadilah Ia Mikail, apabila engkau berucap Iya Kun Fayakun jadilah Isrofil, maka jadilah Ia Isrofil dan apabila engkau berucap Iya Kun Fayakun jadilah Izrail, maka jadilah Ia Izrail.

Ya Nur Muhammad, perintahkanlah olehmu Malaikat Jibril agar dari anasirnya itu akan menjadikan bumi (Tanah), perintahkan kepada malaikat Mikail agar dari anasirnya itu akan menjadikan Air, Perintahkan olehmu malaikat Isrofil agar dari anasirnya itu akan menjadikan Angin dan perintahkan pula olehmu malaikat Izrail agar dari anasirnya itu menjadikan Api, selanjutnya perintahkan olehmu wahai Nur Muhammad kepada Jibril, agar ia mengambil Tanah dialam Akbar untuk Ku jadikan lembaga Adam, perintahkan pula olehmu hai Nur kepada Mikail, agar ia mengambil Air dialam Mualak untuk kujadikan lembaga Adam,

(16)

perintahkan pula olehmu hai Nur kepada Israfil, agar ia mengambil Angin dialam Izzati untuk kujadikan lembaga Adam, dan perintahkan pula olehmu hai Nur kepada Izrail, agar ia mengambil Api dialam Amarah untuk kujadikan lembaga Adam.

• Ya Nur Muhammad, Aku gaibkan diri-Ku dengan kehendak-Ku dan setelah itu akan Aku gaibkan engkau hai Nur Muhammad, maka gaiblah engkau kealam Sir, Alam Ruh, Alam, Nur baru setelah itu Aku jadikan Dunia ini akan tetapi masih dalam keadaan kosong dan belum ada isinya.

Selanjutnya tajallilah huruf 4 yang awal, yaitu : • Huruf Alif ( ا )

Huruf Mim ( م )Huruf Nun ( ن ), danHuruf Tha ( ت ) Untuk kemudian :

• Dari huruf Alif (

ا

) itu akan menjadikan titik-titik yang jumlahnya 9999 titik, dari yang 9999 titik itu kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 99 titik saja, sisanya 9900 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata.

Dari yang 99 titik itulah yang akan menjadikan perjalanan 99 (Perjalanan Syara’ul Asgah), dengan Nas Qur’annya berbunyi :

Man Khalaqal Insanu Min Thin, atau Man Kholaqal Insanu Min Nutfatin ” Sesungguhnya Insan itu berasal dari pada tanah atau sesungguhnya Insan itu berasal dari Nuktah ( setetes air ) ”

Adapun Maqom tertinggi didalam perjalanan 99 ini, adalah Maqom ke tujuh (7), yaitu Maqom Laduni, yang jika mau disebutkan kaumnya, maka inilah kaum Mupassirin

• Dari huruf Mim (

م

) itu akan mengadakan titik-titik yang jumlahnya 8888 titik, dari yang 8888 titik itu kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 88 titik saja, sisanya 8800 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata.

Dari yang 88 titik itulah yang akan menjadikan Perjalanan Syara’ul Hisab, dengan Nas Qur’annya berbunyi :

(17)

Huwal Awwalu Man Kholaqallahu ta’ala An- Nur ” Yang pertama kali dijadikan oleh Allah ta’ala itu adalah Nur ”

Inilah Maqom kedelapan (8) atau Maqom Khas atau Maqom Rahasia, yaitu Maqom Rahasia Perjalanan Ilmu Haq Allah ta’ala, atau Maqom Perjalanan Baginda Rosulullah Saw, dan jika mau disebutkan kaumnya, maka inilah kaum

Mudj’tahidin.

• Dari huruf Nun (

ن

) itu akan mengadakan titik-titik yang jumlahnya 7777 titik, dari yang 7777 titik itu kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 77 titik saja, sisanya 7700 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata.

Dari yang 77 titik itu, pada kenyataan hanya 73 titik saja yang kebanyakan diketahui oleh orang, inilah yang akan menjadikan I’tiqat yang 73 itu, yang kita kenal dan kita ketahui, selanjutnya masih ada 4 titik lagi dari 77 titik itu yang tertinggal, kemana yang 4 titik sisanya itu ...?, jawabnya 4 titik sisanya itu jatuh pada Zikir 4, yaitu :

TaubatSyahadatZikir, danTakbir

Yang pada Maqom kedelapan (8), dijadikan Istinja Jahir dan Istinja Batin.

• Dari huruf Tha (

ت

) itu akan mengadakan titik-titik yang jumlahnya 6666 titik, dari yang 6666 titik itu kemudian jahir kedunia yang kosong dan belum ada isinya ini hanya 66 titik saja, sisanya 6600 titik tertinggal dialam baqa dan hanya milik Allah semata.

Dari yang 66 titik itu, pada kenyataannya hangya 63 titik saja yang kebanyakan diketahui oleh orang, inilah yang akan menjadikan Kaidul Iman yang 63 itu, yang kita kenal dan kita ketahui, selanjutnya masih ada 3 titik lagi dari 66 titik itu yang tertinggal, kemana yang 3 titik sisanya itu....?, jawabnya 3 titik sisanya itu jatuh pada Huruf 3, yaitu : A, I dan U, yang isinya Sbb :

1. Huruf A ( اَ ) : Aku Asal dari pada Allah ta’ala. 2. Huruf I ( اِ ) : Aku (I) karna Allah ta’ala

(18)

Yang pada Maqom kedelapan (8), dijadikan untuk mendudukkan diri, yaitu diri yang sebenar-benarnya diri :

A , I , U : Aku (I) ujud Allah ta’ala yang (I) tiada mati. Keterangan :

Tubuh Ilmu (I) = Wujud Allah ta’alaTubuh Ilmu (I) = Haq Allah ta’ala

Tubuh Ilmu (I) = Diri yang sebenar-benarnya diri kitaTubuh Ilmu (I) = Rahasia.

Haq Manusia = HidupHaq Rosulullah = Rasa Allah ta’ala berfirman :

Bikanu Makanu Wabiyakunu Mayakunu

” Sebelum terjadi bumi dan langit, Arsy dan Kursy sudah sedia- Nya- Aku ”

Kemudian tajallilah Allah ta’ala pada ” Gaibul Mutallaq ”, disini Allah ta’ala membawa :

ZatSifatAsma, dan Af’al.

Selanjutnya tajalli lagi Allah ta’ala pada ” Gaibul Hawiyah ”, dengan membawa :Huruf Alif ( ا )

Huruf Lam Awal ( ل )Huruf Lam Akhir ( ل ), dan Huruf Ha ( ٥

Setelah itu Allah ta’ala mengadakan ” Sifat Nur ”, dan juga mengadakan dua (2) nama, yaitu : ” Kun Sa ” dan ” Kun Zat ”.

(19)

Kun Sa adalah titik dari Nur Muhammad yang berada diatas Arsy, yang meliputi 7 petala langit, dan mengadakan nama, yaitu Nama Awal-Awal Nur Muhammad (Z Z H), yaitu Nama dari Ibu Bapak sekalian Amal dan Pahala.

Kun Zat adalah titik dari Nur Muhammad yang berada dibawah Arsy, yang meliputi 7 petala bumi, dan mengadakan nama, yaitu Nama Awal-Awal Ummat

( ANTH ), yaitu Sulbi Ifra’it. Baru setelah itu :

Zat maujud kepada huruf Alif ( ا )

Sifat maujud kepada huruf Lam Awal ( ل )Asma maujud kepada huruf Lam Akhir ( ل ), danAf’al maujud kepada huruf Ha ( ھ ).

Allah ta’ala berfirman :

• Hai Nur, engkau yang menunjukkan Aku, Aku yang engkau tunjukan • Hai Nur, engkaulah ganti diri-Ku

• Hai Nur, engkaulah yang bernama Allah

• Hai Nur, semesta sekalian alam ini terjadi dari pada Nurmu dengan serta-Ku jua. Kemudian tajallilah Nur sembari mengata ”AK” lalu bersuaralah Nur :

• Ya Allah, ya tuhanku, ya saidi, ya maulana, bagaimana aku menunjukkan tuihanku...?

• Ya Allah, ya tuhanku, ya saidi, ya maulana, bagaimana aku menggantikan tuhanku....?

• Ya Allah, ya tuhanku, ya saidi, ya maulana, kenapa aku yang bernama Allah...? • Ya Allah, ya tuhanku, ya saidi, ya maulana, bagaimana aku mengadakan semesta

sekalian alam ini dengan nurku dan serta-Mu jua. LaluAllah ta’ala berkata ;

An- Nurril Mausufi Bittakadduni Wal Awaliyah Arti dan maksudnya

(20)

“ Hai Nur, Aku sudah laitsya pada dirimu, jangan kau cari lagi Aku, karna Aku tiada bertempat “

Aku tidak dibulu, Aku tidak dikulit, Aku tidak didaging, Aku tidak didarah, Aku tidak diurat, Aku tidak ditulang, Aku tidak diotak dan Aku tidak disumsum,

hanya batin pada rahasiamu, berkata-kata engkau itu, Aku. Berkata Allah ta’ala selanjutnua :

Barang siapa ummatmu, menda’wakan Aku : zahir pada hatinya, bahwa yang berkata-kata itu, Aku maka Kafir Munafiq-lah ia,

dan barang siapa ummatmu, menda’wa Aku :

zahir pada lidahnya yang berkata-kata itu, Aku maka Kafir Zindik-lah ia

(21)

ermula asal muasal kejadian akan diri itu 2 perkara, yaitu : • Asal muasal kejadian Hamba, dan

Asal muasal kejadian Insan.

Jika kita berbicara mengenai asal muasal hamba, maka prosesnya agak sedikit berbeda dengan asal muasal Insan. Berkaitan dengan kapasitasnya selaku hamba (Insan yang awal / Nabi Adam As), maka tentu anasirnya akan berbeda dengan hamba (Insan yang kedua / Manusia).

Adapun Anasir dari pada Insan yang awal / Nabi Adam As, yaitu meliputi : • Tanah

Air

Angin, danApi

Ketika Allah ta’ala menjadikan lembaga Adam, Allah ta’ala berseru kepada Nur Muhammad untuk memerintahkan kepada malaikat yang empat untuk mengambil tanah, air, angin dan api guna untuk bahan baku bagi lembaga Adam.

Adapun proses penciptaannya adalah Sbb :

Thuraq = Tanah asal

Thin = Tanah dan zat air

Hama = Tanah dan zat hawa (angin)Fakhar = Tanah dan zat panas (api)Shalsa = Bagan (bentuk)

(22)

Akhsanu taqwin = Bentuk sempurna, dan

Ruh = Jiwa.

Allah ta’ala didalam mencipta cukup hanya satu kali saja hingga dunia ini Qiyamat untuk selanjutnya hasil ciptaannya itulah yang berkembang dengan sendirinya menjadi berkaum-kaum, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa, namun pada hakekatnya satu saja. Adapun jika kita menyimak tentang penciptaan dari anak cucu Adam (manusia / Insan), disitu juga kita jumpai 4 anasir namun jenisnya saja yang berbeda akan tetapi pada hakekatnya sama jua

.Keempat anasir itu, ialah :

Nur MadaNur MadiNur Mani, danNur Manikam.

Dari keempat anasir kejadian anak cucu Adam (manusia / Insan) itu, hanya Nur manikam-lah yang berlanjut hingga menjadi seorang anak manusia, keturunan Nabi Adam As atau disebut anak cucu Adam.

Tidaklah Ia bernama Manikam apabila Nur Manikam itu tidak jatuh pada rahim seorang perempuan, mata rantainya hanya terputus sampai pada Nur Mani saja.

Manikam itulah ” Hidayatul Amanah” dari Allah ta’ala, istananya ada pada otak laki-laki dan tidak diotak perempuan, inilah yang membedakan antara laki-laki-laki-laki dengan perempuan, oleh sebab perempuan tidak memiliki manikam.

Lihat dan perhatikan singgasana kedudukan Manikam didalam otak laki-laki seperti dibawah ini, betapa maha sempurnanya Allah ta’ala didalam mencipta dan menempatkan amanahnya itu, senantiasa tertutup dan tersembunyi dengan liputan lapisan-lapisan sebagai benteng rusaknya Amanah itu.

Didalam otak itu ada lemak, didalam lemak itu ada minyak, didalam minyak itu ada Nur, didalam Nur itu ada Nur aqli, didalam Nur aqli itu ada hijabun Nur baru kemudi Manikam

(23)

7 6 5 4 3 2 1

Keterangan Nomor pada gambar, adalah Sbb : 1. Otak

2. Lemak 3. Minyak 4. Nur 5. Nur Aqly

6. Hijabun Nur, dan 7. Manikam

Masa Manikam itu 40 hari, dengan perhitungan Sbb :

• 7 hari pertama Manikam itu berada diistananya, yaitu didalam otak laki-laki • 7 hari kemudian Manikam itu turun pada tulang belakang dan bertahan pada • punggung

• 7 hari selanjutnya Manikam berpindah pada tulang dada • 7 hari selanjutnya Manikam turun lagi kepusat

• 7 hari kemudian Manikam turun pada sulbi, dan

• 5 hari kemudian Manikam berpindah pada kalam / zakar, untuk selanjutnya jatuh kepada rahim seorang perempuan yang bernama tar’ib untuk dikandung selama 9 bulan 9 hari lamanya.

Manikam akan bernama mada, apabila ia sampai pada awal kalam, dan bernama madi apabila ia sampai pada tengah kalam dan bernama mani apabila ia berada diujung kalam,

(24)

ketika ia jatuh pada rahim perempuan baru namanya Manikam, maka jadilah ia Nur Muhammad / Roh Idhofi tau syahadat.

Tatkala manikam itu 40 hari umurnya berada didalam taraib, maka berhentilah darah haid yang biasa dialami oleh seorang perempuan, ini karna diakibatkan seluruh peranakan tertutup oleh Manikam.

Pada bulan ke 4 barulah kemudian ia bernyawa (bergerak), darah haid yang berhenti oleh karna seluruh peranakan tertutup manikam, pada bulan ke 5 akan menjadi Upik kanak-kanak atau tembuni.

Sedangkan darah haid yang berhenti 40 hari sebelum manikam itu bernyawa, maka itulah yang akan menjadi darah nifas ( darah kotor yang keluar bersamaan dengan proses persalinan ).

Saat Manikam itu masih didalam kandungan perempuan maka :

• Pada usia 1 hari 1 malam, ia sudah memuji dengan pijiannya ” Hu ” • Pada usia 3 hari 3 malam, pujiannya ” Allah ”

• Pada usia 7 hari 7 malam, pujinya ” Innallah ”

• Pada usia 40 hari 40 malam, pujinya ” Surobbun Nur ” • Pada usia 4 bulan 4 hari, pujinya ” Subhanallah ” • Pada usia 6 bulan 6 hari, pujinya ” Al-hamdulillah ” • Pada usia 8 bulan 8 hari, pujinya ” Allahu Akbar ”, dan

• Pada usia 9 bulan 9 hari, pujinya ” Inna Ana Amana ” sebelum ia keluar. Keterangan :

Inna : SesungguhnyaAna : Saya (aku)Amana : Iman (aman) Inilah asalnya :

(25)

ntuk

menyempurnakan pengenalan kita tentang asal muasal kejadian diri,

maka perhatikan baik-baik olehmu nama-nama diri tersebut dibawah ini, yaitu : • Pada waktu sebelum ” Kun ” , bernama Air Setitik ( Nama sandi ). • Pada waktu ” Kun ” , bernama Roh Samar Putih.

• Dari ” Kun ” Ke ” Fayakun ” , bernama Awal-awal Nur Muhammad (zzh) • Pada waktu ” Fayakun ” , bernama Nukkirullah.

• Pada waktu dialam sagir, bernama Sirrullah

• Pada waktu diterima oleh Muhammad, bernama Insyirrullah • Pada waktu turun diujung Arsy, bernama Nur Kalamullah

• Sebelum dititikkan, bernama PN ( ini sandi saja mengingat nama ini tidak boleh

diucapkan dengan suara penuh sebanyak 2x didalam hidup kita ) • Pada waktu dititikkan, bernama Air Setitik ( nama sandi )

• Pada waktu diterima oleh perempuan ( Ibu ), bernama Nur Mani Allah • Ketika jadi segumpal darah, bernama Bayang-bayang Allah

• Ketika jadi mata, bernama Insan Kamil

• Ketika jadi sumsum dan otak, bernama Air Maning Mengkudu Allah • Ketika jadi Tulang dan urat, bernama Air Nur Malinang Allah • Ketika jadi daging dan darah, bernama Tikmapullah

• Ketika jadi kulit dan bulu, bernama Air Nur Lak Putih

(26)

• Saat didalam kandungan perempuan (ibu), usia 1 bulan 10 hari, ia bernama Nurrullah

• Ketika berumur 3 bulan 10 hari, ia bernama Allah • Ketika berumur 4 bulan 10 hari, ia bernama Pancarullah • Ketika berumur 5 bulan 10 hari, ia bernama Sinarullah • Ketika berumur 6 bulan 10 hari, ia bernama Asmarrullah

• Ketika berumur 7 bulan 7 hari 7 jam 7 menit dan 7 detik, ia bernama Zat Zanubah

• Ketika berumur 8 bulan 10 hari, ia bernama Ta’ala • Ketika berumur 9 bulan 10 hari, ia bernama Antahfi

• Saat keluar dari rahim perempuan (ibu) ia bernama Nur Basyariah. Tambahan nama :

1. Lendir pertama yang keluar sebelum Air ketuban keluar itulah Uri kita yang keluar, ia bernama Uriah (sahabat Insan)

2. Ketuban pecah dan air ketuban keluar itulah tuban, dan ketika berpisah dengan kelamin (kalam) perempuan (ibu), ia bernama Tubaniyah ( Sahabat Insan )

3. Tembuni yang keluar baik diawal atau diakhir bayi dan berpisah dengan kalam perempuan (ibu), ia bernama Tambuniyah (sahabat Insan)

4. Darah yang keluar pada proses persalinan itu bernama Comariyah (sahabat Insan) 5. Tangkai pusat atau tali pusat bernama Pancariah dan pusatnya bernama Fitriyah 6. Pembungkus bayi atau kuli ari-ari, bernama Arsistawa, bayinya yang keluar itu

bernama Waliyullah.

Demikian nama-nama diri ketika didalam kandungan sebagai pelengkap pengenal kita tentang asal muasal kejadian akan diri kita, hal lain yang masih berkenaan dengan asal muasal kejadian kita yang perlu juga untuk kita ketahui, ialah unsur-unsur atau anasir-anasir yang juga berperan seperti Unsur Tuhan kepada Muhammad, unsur Tuhan kepada Bapak, unsur Tuhan kepada Ibu, yaitu Sbb :

• Unsur atau Anasir Tuhan kepada Muhammad, meliputi : 1. Sirr

(27)

2. Budi 3. Cinta, dan 4. Rasa

• Unsur atau anasir Tuhan kepada Bapak, meliputi : 1. Urat

2. Tulang 3. Otak, dan 4. Sumsum

• Sedangkan unsur atau anasir Tuhan kepada Ibu, meliputi : 1. Darah

2. Daging 3. Kulit, dan 4. Bulu.

Itulah sifat diri kita dari Allah ta’ala. Yaitu dari Muhammad, dari Bapak dan dari ibu. Inilah yang sebenar-benarnya I’tiqat, dan inilah yang dipakai agar kita dapat sampai pada Baqa Billah ( Kekal atau lenyap kedalam Allah ), tiada i’tiqat lain dari padanya.

Adapun proses kejadian Insan itu adalah :

Sulalah Min Thin = Rangkaian Tanah asalNuktah = Air Mani laki-laki

Alaqah = Percampuran sperma

Mudgoh = Segumpal darah

Inham = Tulang belulang

Haham = Daging pembungkus

(28)

Diri itu adalah Al- Haq

.

Rosulullah Saw bersabda :

” Menuntut Ilmu itu wajib atas tiap-tiap muslim laki-laki dan muslim perempuan ” Oleh sebab itu maka ketahui olehmu wahai saudaraku sekalian akan Ilmu Ma’rifat Allah itu dengan yaqin., yaitu mengetahui akan hakekat dari ma’na syahadat.

Ma’rifat menurut logat (bahasa), yaitu mengetahui atau mengenal akan Zat Allah ta’ala baik itu yang berkenaan dan berhubungan dengan dalil ataupun dengan I’tiqad jazam lagi putus.

Ma’rifat itu menurut Hakekat ialah mengetahui akan sekalian yang ada ini, baik yang nyata maupun yang tersembunyi, itu semua adalah semata-mata adalah haq-Nya jua adanya

Laa Maujuudun Bihaqqi Ilallah

” Tiada yang ada melainkan Haq Allah ta’ala jua adanya ”

Keterangan mengenai Jazam dalam I’tiqad menurut pembicaraan Ilmu, dibagi menjadi 4 bagian, yaitu :

(29)

• Jazam mupakat dengan Haq tetapi dengan dalil, maka inilah yang dikatakan Ma’rifat.

• Jazam mupakat pada Haq akan tetapi tidak dengan dalil, maka inilah yang dinamakan Taklik Shohih.

• Jazam, tiada mupakad pada Haq, tetapi dengan dalil, maka inilah yang dinamakan Jahil mukarrab.

• Jazam tiada mupakat pada Haq dan tiada pula dengan dalil, maka inilah yang dinamakan Taklik Buta..

Allah Swt berfirman :

” Insan itu rahasia-Ku, Akulah rahasianya,

Rahasia-Ku itu kenyataan sifat-Ku dan sifat-Ku itu tiada lain dari pada Aku ”

” Sesungguhnya didalam kejadian bumi dan langit, yang bersalahan antara siang dan malam itu,

adalah merupakan suatu petunjuk yang nyata bagi orang-orang yang berakal ”

Al-Haq, adalah sesuatu yang harus ada dan ujud tidak boleh Tidak (hukumnya harus

/ wajib), itulah diri yang sebenar diri

Yang awal dan yang akhir, yang jahir dan yang batin, yang

Tersembunyi dari yang tersembunyi, bukan yang sembunyi dari yang tersembunyi, itulah yang sebenar-benarnya diri, jangan kamu ragu dan bimbang dengan ini sebab jika keraguan dan kebimbangan itu ada walau sedikitpun maka batallah seluruhnya.

Al- Haq itu adalah Al- Hayat, bukan Al- Hayyun.

Al- Hayat itu adalah Hidup, yaitu yang hidup dan tidak akan pernah mati dan itulah diri yang se-Zat-Inya diri.

Keterangan :

Sesuatu yang mati, apabila padanya dimasukkan Al-Hayat (Hidup), maka yang mati itu akan hidup dan mempunyai kehidupan, hukum-hukum kehidupanpun akan berlaku atasnya.

Sesuatu yang mati itu apabila Al-Hayat (Hidup) itu telah ada padanya, maka padanya akan hidup dan memiliki kehidupan, ia akan dapat melihat, ia akan dapat mendengar, ia akan dapat berkata-kata, ia kuasa, ia berkehendak dan iapun akan dapat merasa, namun

(30)

suatu masa apabila padanya Al-Hayat (Hidup) itu akan diambil dan dikeluarkan dari dirinya, maka ia akan kembali keasalnya, yaitu Mati.... Ia tidak akan dapat berbuat apa-apa lagi, tidak lagi ia dapa-apat melihat meskipun matanya ada, tidak lagi ia dapa-apat mendengar meskipun telinganya ada, tidak lagi ia dapat berkata-kata meskipun mulutnya ada, tidak lagi ia dapat berkuasa dan berkehendak sekalipun sarana dan prasarana semuanya ada padanya, semua akan kembali keasalnya, ia akan rusak dan berbau hingga akhirnya ia akan hancur berkeping-keping laksana debu halus yang tertiup angin terbang kesana kemari tanpa ada tujuan yang pasti dan jelas.

Itulah Haqnya Manusia, yaitu Hidup.

Maksudnya : keseluruhan anggota dirinya hanya semata-mata mengikuti kehendak dan kemauan Al-Haq (Hidup) tanpa ada perbantahan, Al-Haq (Hidup) itu mau melihat maka terpaksa tau tidak, ia akan ikut,

begitu pula dengan seluruh aktivitas dan pergerakan yang tampak ini semuanya akan berjalan dan berlaku sebagaimana yang dikehendaki oleh si Al-Haq (Hidup).

Jika demikian adanya maka siapa sesungguhnya Al-Haq (Hidup) itu ...?

Mari kita kupas perlahan-lahan dan perhatikan baik-baik oleh mu supaya dirimu benar-benar paham dan jelas serta tidak akan ada keraguan lagi tentang kenyataan yang sebenarnya.

Diri yang sebenar-benarnya diri itu adalah Ruh, ruh itu sendiri sebenarnya adalah Nyawa, Nyawa itu juga sebenarnya adalah sifat, sifat itu tidak lain adalah Nur (Nur Muhammad) dan Nur (Nur Muhammad) itu sendiri tidak lain dan tidak bukan adalah Zat Hayat (Al-Hayat) bukan Hayun, itulah yang sebenar-benarnya diri.

Yang sebenarnya Zat itu ialah Dirinya... (Ujudnya)Yang sebenarnya Sifat itu ialah Rupanya ... (Wajahnya)Yang sebenarnya Asma itu ialah Namanya.... (Hatinya)Yang sebenarnya Af’al itu ialah Kelakuannya .... (Fi’ilnya) Dengan demikian, maka yang bernama ”ALLAH” itu ialah :

ZatSifatAsma, dan Af’al

(31)

Huruf Lam Awal (

ل

) pada lafald ”Allah” itu masuknya pada Sifat Huruf Lam Akhir (

ل

) pada lafald ”Allah” itu masuknya pada Asma, dan Huruf Ha (

ھ

) pada lafald ”Allah” itu masuknya pada Af’al,

Itulah yang bernama ”Allah” hanya sekedar nama saja.

Akan tetapi ketika hal itu sampai pada diri kita, maka Arti Taatku, Patuhku, dan Cintaku itu akan terkias dan mantik kedalam sebuah risalah rahasia sebagaimana yang tersebut dibawah ini :

Semua orang Ingin mencintai Tuhan, namun pada kenyataannya Aku sendiri telah Lebur didalam cinta Tuhanku, Semua orang ingin taat kepada Tuhan, namun Ketaatanku itu telah menyatu denganku didalam hati dan seluruh perasaanku. Semua orang ingin menjadi wali Allah, akan tetapi bagiku sendiri cukuplah Allah yang Menjadi waliku, bagiku tiada dinding dan hijab didalam memandang

Akan kebesaran dan keagungan Tuhanku,

Kemana saja aku menoleh hanya kasihku saja yang terlihat,

Kemana saja aku arahkan pandanganku, hadapku dan seluruh persendianku, Maka disanalah Zat Allah, Sifat Allah, Fiil Allah, Wujud dan wajah Allah. Hilang dan lenyaplah aku didalam Jibu

Kini aku yang dulu telah terganti ma’na, kini aku adalah aku dalam segala hal dan keadaan

Kini Aku-ku yang haq ini telah gaib kedalam pandangan Rahasia.

( Bukan gaib dalam pandangan nafsu, akan tetapi gaib-ku, didalam gaibku sendiri Sehingga bila aku masuk didalam alam gaib, maka sesuatu dan seluruhnya yang gaib Pada saat itu tidaklah gaib lagi bagiku,

Semuanya akan nyata dalam pandangan Basyariah Rahasiaku,

Kini Akulah yang bernama Rahasia Insan, dan Rahasia Insan itu Rahasia Allah, Semua yang berlaku dalam keadaanku ini adalah rahasia Allah jua adanya tiada yang lain

Muhammad Arsyad Al- Banjari , dalam pagar Marta pura kalimantan selatan mengatakan :

Diri itu Hayat, Hayat itu Ruh, Ruh itu nafas, Nafas itu Rahasia, Rahasia itu Nur Muhammad dan Nur Muhammad itulah ujud kita ini.

Datu Sanggul , tanah muning tatakan rantau kalimantan selatan, beliau menjelaskan : yang sebenar-benarnya diri rohani itu ialah Allah ta’ala, untuk itu maka diri rohani itu jangan dicari lagi, oleh karna yang bernama Allah itu sudah menjadi nyawa segala makhluk.

(32)

Kesimpulannya :

Semua makhluk itu khaliq, jangan dicari lagi oleh karna Ia itu sudah Laitsya Kamitslihi Syaiun. Sekiranya hal ini sudah kamu ketahui dan yaqini dengan jelas akan rahasianya, maka rahasiakanlah ini kepada orang-orang yang memang belum mencapai kepada maqam ilmu hakekat ini, karna dikhawatirkan akan membuat fitnah besar nantinya ditengah umum.

Ditambahkan lagi oleh beliau bahwa, yang sebenar-benarnya diri itu adalah Hayat atau ruh, akan tetapi hendaknya jangan engkau itu berhenti pada ruh saja, teruskan dan tembuskan pandanganmu itu kepada hal dan sifat Allah ta’ala.

Jika pandanganmu itu berhenti hanya kepada nyawa saja, maka sesungguhnya kita telah salah dalam memahami dalil yang menyebutkan bahwa, ”diri itu Ruh”

• Tatkala Ia nasab kepada sekalian tubuh, maka Nyawa namanya, • Tatkala Ia keluar masuk, Nafas namanya

• Tatkala Ia berkehendak, Hati namanya

• Tatkala Ia percaya akan sesuatu, Iman namanya

• Tatkala Ia dapat memperbuat sesuatu, Akal namanya, dan pohon akal itulah Ilmu.

Inilah jalan dan inilah yang disebut dengan sebenar-benarnya diri, jika demikian keadaannya maka sekarang ini kita sebenarnya hanya bertubuhkan Ruh semata.Apa dan kenapa sebabnya hingga kita sekarang ini disebutkan bertubuhkan ruh semata....?

Jawabnya :

Karna ruh itu sendiri sudah fana lahir dan batin sehingga dalam kondisi seperti ini jangan diartikan bahwa kita yang memfanakan diri, akan tetapi fana itu sendiri datangnya dari Allah jua adanya, sedangkan kata-kata ” Kita ” pada keterangan diatas tadi pun sudah lebur jua kedalam fana itu sendiri.

Syech Abdus somad ( Bakumpul Kalimantan Selatan ) Beliau mengatakan :

Adapun badan Rohani itu sesungguhnya adalah Allah ta’ala jua, maka itu hendaknya jangan dicari lagi, karna ia sudah menjadikan rahasia kepada kita semua.

Kata-kata rahasia itupun ada 2 pengertiannya, yaitu : 1. Rahasia Insan

(33)

2. Rahasia Allah

Al-Insanu Sirri Wa Ana Sirrahu

” Insan itu Rahasiaku dan Akupun adalah Rahasianya ” ( Hadits Qudsy )

Maksudnya :

Rahasia Insan itu adalah rahasia Allah jua, tiada yang lain, jika kamu dapat memahami akan hal ini, maka sesungguhnya tugasmu hanya tinggal menggugurkan atau melaksanakannya saja, karna apapun jua yang datang kepadamu itu,

sesungguhnya semua itu datangnya dari Rahasia Allah jua adanya dan janganlah kamu sekali-kali memahami bahwa ada perbuatan lain atas dirimu, jika ini pandangan dan pemahamanmu, maka sesungguhnya tanpa kamu sadari kamu telah masuk didalam kesyirikan, yaitu kesyirikan yang sangat halus, karna sesungguhnya kamu itu sendiri sebenarnya sudah :

Wahua Ma Akum Ainama Kuntum

” Tuhan ada bersama kamu, dimana saja kamu itu berada ” Maksudnya :

Sudah berbarengan siang dan malam, demikianlah adanya supaya kamu itu paham dan mengerti betul dengan yang sebenarnya.

Syech Muhammad Hassan , Nagara Kabupaten Kandangan Kalimantan Selatan. Beliau mengatakan :

Kalimah La Ilaha Illallah itu masuknya pada : 1. La masuknya pada Hayat

2. Ilaha itu masuknya pada Ruh

3. Illa itu masuknya pada pada Nafas, dan 4. Allah itu masuknya pada Nyawa.

Nyawa itu adalah Nur Muhammad dan Nur Muhammad itu adalah Sifat dan Sifat itu adalah Hayat. Hayat itu ruh Tuhan Robbul ‘alamin, akan tetapi ingatlah olehmu bahwasannya : Ruh itu bukan Tuhan, tetapi tiada lain dari pada Tuhan, asalkan saja engkau teruskan kepada Zat dan Sifatnya, seandainya ini sudah kamu pahami benar-benar maka jangan kamu cari lagi sehingga keraguan saja nantinya yang akan mengiringi kehidupanmu selamanya.

(34)

Syech Jamaluddin Surgi Mufti dari sungai Jingah Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Beliau mengatakan :

Yang sembahyang itu adalah jahir Allah ta’ala jua.

Ditambahkan oleh beliau bahwa siapa-siapa yang menganggap manusia semata yang berzikir, maka zikirnya itu haram, tambah banyak ia berzikir, maka semakin bertambah haram.

Catatan :

Syech Jamaluddin Surgi Mufti ini adalah seorang Wali besar dikota Banjarmasin, beliau juga keturunan Dalam Pagar, Martapura Kalimantan Selatan.

HOLAT, sesungguhnya sudah ada jauh sebelum Rosulullah Saw melakukan Mi’raj, yaitu ketika Allah ta’ala telah selesai menjadikan Nabi Adam As dan berseru, memerintahkan kepada seluruh penghuni Syurga untuk sujud kepada Adam.

Perintah sujud itu kemudian dipertegas kembali oleh Allah Swt melalui Nabi Muhammad Saw, yaitu ketika beliau selesai melaksanakan Mi’raj kesidratul muntaha, Istilah perintah sujud pun berubah makna menjadi perintah Sholat

Allah Swt berseru kepada seluruh penghuni Syurga :. “ Wahai sekalian penghuni Syurga,

Ku perintahkan kepadamu, sujudlah engkau semua kepada Adam ”

Perintah itu mengandung iktibar yang sangat besar bagi mereka yang beriman, Coba saja kita renungkan baik-baik, kenapa pada saat itu Allah Swt tidak berkata :

” Wahai sekalian penghuni Syurga dan engkau wahai Adam, sujudlah kamu semua kepada-Ku ”

Ini mengisaratkan kepada kita semua, bahwa sesungguhnya telah ada satu risalah dan rahasia yang teramat besar, yang telah dipertaruhkan oleh Allah Swt terhadap diri Adam dan ini juga berlaku atas diri kita, sebab antara Adam, Muhammad dan diri kita ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan.

(35)

Rosulullah Saw bersabda :

” Aku adalah bapak dari sekalian Ruh,

dan Adam itu adalah bapak dari pada sekalian Batang tubuh ” Allah Swt juga telah berfirman :

” Aku ciptakan manusia itu dalam bentuk yang paling sempurna, namun apabila ia lalai dan ingkar maka akan aku lemparkan ia ketempat yang paling hina bahkan amat hina dari yang paling hina ”

Rahasia apa kiranya yang melatar belakangi terciptanya manusia ini sehingga diri kita ini tercipta dalam bentuk yang paling sempurna, inilah yang hendaknya harus kita cari tau agar kita tidak termaksud orang-orang yang lalai dan ingkar, terutama sekali ketika kita beribadah, sebagaimana yang telah difirmankan oleh Allah Swt didalam Al-Qur’an yang berbunyi :

” Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepadaku ” (QS, Adz –Dzaariyat : 56)

” kecelakaan besarlah mereka yang sholat namun ia lalai didalam sholatnya ” Ketahuilah olehmu wahai saudaraku sekalian

Bahwa sahabat Rosulullah Saw, yaitu Syaidina Umar bin Khotob Ra pernah bertanya kepada Rosulullah Saw :

” Ya Junjunganku, apakah asalnya sembahyang itu...? ” Rosulullah Saw, menjawab :

” Asalnya adalah dari Namaku, yaitu Akhmad ” Akhmad (

دمحا

)

Alif (

ا

) ... itu Martabatnya... Api,

Api itu sifatnya cagat, menjilat keatas ... artinya berdiri tegak atau berdiri betul yaitu mencerminkan akan sifat kebesaran Allah ta’ala (Sifat Jalalullah) yaitu menjadikan Kuat dan lemah.

(36)

Kha (

ح

) ... itu Martabatnya ... Angin,

Angin itu sifatnya Condong, bertiup Horisontal ... artinya merunduk atau Ruku yaitu mencerminkan akan sifat Kekerasan Allah ta’ala (Qaharullah) yaitu menjadikan Hidup dan mati.

Mim (

م

) ... itu Martabatnya ... Air,

Air itu sifatnya meleleh, selalu mencari tempat yang rendah … artinya tersungkur atau Sujud yaitu mencerminkan akan sifat keelokan Allah ta’ala (Jamalullah) yaitu menjadikan Tua dan muda

Dal (

د

) ………. Itu martabatnya ……. Tanah,

Tanah itu sifatnya Diam, tidak bergerak ……. Artinya bersimpuh atau duduk yaitu mencerminkan akan sifat kesempurnaan Allah ta’ala (Kamalullah}yaitu menjadikan Ada dan tiada.

Adapun Sholat yang 5 waktu itu terbitnya dari kalimah :

دمحلا

( Al-Hamdu = segala puji )

Adapun sebab musabab rakaat itu adalah sebagai berikut :

Subuh 2 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah ta’ala pada 2 perkara, yaitu : 1. Zat

2. Sifat yang maujud

Djuhur 4 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah ta’ala pada 4 perkara, yaitu : 1. Ujud

2. Ilmu 3. Nur,dan 4. Suhud

Ashar 4 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah ta’ala pada 4 perkara, yaitu : 1. Api

(37)

2. Angin 3. Air,dan 4. Tanah

Magrib 3 rakaat, oleh sebab tajallinya Allah ta’ala pada 3 perkara, yaitu : 1. Ahdat ( Allah )

2. Wahdat ( Muhammad ),dan 3. Wahidiyat ( Adam )

Rosulullah Saw berkata :

” Barang siapa mengetahui yang 3 perkara ini,

maka sempurnalah sembahyangnya dan jika 3 perkara ini tidak diketahuinya maka adalah didalam dosa ”

Isya 4 rakaat, oleh sebab tajalli Allah ta’ala pada 4 perkara, yaitu : 1. Mada

2. Madi 3. Mani, dan 4. Manikam.

Adapun asal waktunya, sebagai berikut : Tajalli Huruf Alif Atas lafald Al-hamdu

Hari yang pertama dijadikan adalah hari Ahad dan dijadikan Haq Allah ta’ala itu pada waktu Djuhur. Itulah tajalli Alif menjadikan 4 perkara, oleh karna ditilik Allah ta’ala ada 4 perkara didalam diri kita, yaitu :

1. Suhud 2. Jauhar 3. Budi, dan 4. Nur

(38)

1. Iman 2. Islam

3. Tauhid, dan 4. Ma’rifat

4 perkara juga yang jahir pada diri kita, yaitu : 1. 2 buah mata, dan

2. 2 buah telinga.

4 perkara juga yang batin pada diri kita, yaitu : 1. Urat

2. Tulang 3. Otak, dan 4. Sumsum

Inilah asalnya Djuhur.

Tajalli huruf Lam atas lafald Al-hamdu

Sebab terjadinya waktu Ashar 4 rakaat, oleh karna ditilik Allah ta’ala 4 perkara, yaitu : 1. Wada

2. Wadi 3. Mani, dan 4. Manikam

4 perkara pula pengenalan kita, yaitu : 1. Rahasia

2. Tubuh 3. Hati, dan 4. Nyawa

Juga 4 perkara yang jahir pada diri kita, yaitu : 1. 2 buah kaki, dan

(39)

2. 2 buah tangan.

Juga 4 perkara yang batin pada diri kita, yaitu : 1. Darah

2. Daging 3. Kulit

4. Bulu atau Rambut

Inilah Asalnya Ashar

Tajalli huruf Kha atas lafald Al-hamdu

Sebab terjadinya waktu magrib 3 rakaat, karna ditilik oleh Allah ada 3 perkara, yaitu : 1. Zat

2. Muhammad, dan 3. Adam

3 perkara juga pengenalan kita, yaitu : 1. Wajib

2. Harus, dan 3. Mustakhil

Jahirnyapun 3 perkara juga pada diri kita, yaitu : 1. Jernih

2. Suci 3. Hening.

Hening itu cahaya Otak

Jernih itu cahaya Sumsum, danSuci itu cahaya Darah.

Inilah asalnya Magrib.

Tajalli huruf Mim atas lafald Al-hamdu

(40)

1. Roh Nurani 2. Roh Rohani 3. Roh Idhofi, dan 4. Roh Robbani

4 perkara juga pengenalannya pada diri kita, yaitu : 1. Diri terdiri

2. Diri terjeli 3. Diri terperi, dan 4. Diri yang diperikan.

Jahirnyapun ada 4 perkara juga pada diri kita : 1. 2 buah susu, dan

2. 2 buah lutut.

Batinnya pun 4 perkara juga pada diri kita, yaitu : 1. Hati sanubari

2. Hati Ma’nawi 3. Hati Nurani, dan 4. Hati Mu’min. Inilah asalnya Isya

Tajalli huruf Dal atas lafald Al-hamdu

Terjadinya waktu subuh 2 rakaat,. Karna ditilik oleh Allah ta’ala dan usul nabi 2 perkara, yaitu :

1. Nurani 2. Rohani

Pengenalannya 2 juga pada diri kita, yaitu : 1. Qodim

2. Muhaddas

(41)

1. Laki-laki 2. Perempuan

Batinnya 2 juga pada diri kita, yaitu : 1. Rahmat

2. Nilmat

Inilah asalnya subuh

Catatan :

Ketahui olehmu tentang asal diri kita ini dari 2 perkara, yaitu : • Awal dari Bapak

Awal dari Ibu

Dan ketahui pula olehmu bahwa yang awal dari bapak itu, ialah • Ajal

MautYaqin

Dan yang awal dari ibu itu, ialah Hidup.

Jika keduanya itu bersama maka akan menjadikan Nyawa dan Badan, maka inilah jalan yang Islam.

Selain itu ketahui pula olehmu wahai saudaraku akan rukun yang 13 yang wajib ketika kita akan melakukan sholat, jangan sampai engkau tidak mengetahuinya dan jangan juga engkau tidak dapat membedakan mana yang wajib dan mana yang sunah karna itu akan merusak sholatmu.

Adapun rukun 13 itu adalah sebagai berikut : 1. Niat 2. Berdiri betul 3. Takbiratul Ikhram 4. Fatekha 5. Ruku 6. I’tidal 7. Sujud

(42)

8. Duduk antara 2 sujud 9. Tahyat Awal 10. Tahyat Akhir 11. Salawat 12. Salam, dan 13. tertib.

Ashrarus Sholah, artinya rahasia didalam sembahyang (Sholat), oleh karna itu maka ketahuilah olehmu wahai saudaraku sekalian.

Adapun yang dimaksud Rahasia itu, yaitu hakekat dan ma’rifat yang ada didalam sembahyang.

Ulama ahli hakekat mengatakan :

” Ketahuilah olehmu, bahwasannya hakekat sembahyang itu asalnya atas 4 perkara, yaitu :

• Mengetahui hakekat didalam berdiri, yaitu kepada huruf Alif • Mengetahui hakekat didalam ruku, yaitu kepada huruf Lam Awal • Mengetahui hakekat didalam sujud, yaitu kepada huruf Lam Akhir, dan • Mengetahui hakekat didalam duduk, yaitu kepada huruf Ha ”

1. Berdiri itu asalnya dari Api, bukan Api pelita atau api bara, adapun maksud api disini adalah merupakan hakekat dari sifat Jalalullah (Kebesaran Allah), kebesaran-Nya masuk pada 2 perkara, yaitu :

Kuat, danLemah

Adapun yang kuat dan yang lemah itu adalah Iradat (kehendak)-Nya jua. Allah Swt berfirman :

” Allah Swt itu berbuat sekehendak-Nya,

dan hamba itu sekali-kali tidak mempunyai kuat dan lemah ”

Sebab kekuatan dan kelemahan hamba itu sesungguhnya dikuatkan dan dilemahkan oleh Allah Swt, maka inilah yang difanakan didalam berdiri, bahwa segala perbuatan yang baharu itu menyatakan perbuatan yang Qodim jua adanya.

(43)

Arifbillah mengatakan :

” Tiada apapun jua yang dapat ku perbuat didalam sembahyang itu, baik yang jahir maupun yang batin, melainkan Allah Swt jua yang berbuat ”

2. Ruku itu asalnya dari Angin, bukan angin barat atau angin timur adapun maksud Angin disini adalah merupakan hakekat dari sifat Jamalullah (keelokan Allah), Keelokan-Nya masuk pada 2 perkara, yaitu :

Tua, danMuda

Sebab hamba itu tiada sekali-kali mempunyai tua dan muda, inilah yang difanakan dikala ruku, yaitu semua nama kita yang baharu itu akan lenyap yang ada hanyalah nama Allah jua adanya.

Arifbillah berkata :

”Tiada nama yang lain didalam sembahyang itu,

baik jahir maupun batin melainkan Nama Allah jua adanya ”

Mengapa demikian, karna nama dengan yang empunya nama itu satu jua adanya baik jahir maupun batin tiada nama lain selain nama-Nya.

3. Sujud itu asalnya dari air, bukan air laut atau air sungai adapun maksud air disini adalah hakekat dari sifat Qaharullah (kekerasan Allah), kekerasannya masuk pada 2 perkara, yaitu :

Hidup, danMati

Hidup dan mati itu juga Iradat-Nya (kehendak-Nya), hamba itu tiada sekali-kali mempunyai hidup dan mati, sebab hidup dan matinya hamba itu dihidupkan dan dimatikan oleh Allah Swt, inilah yang difanakan ketika sujud segala sifat kita yang baharu akan lenyap dan yang ada hanya sifat Allah Swt jua yang ada.

(44)

” Tiada rupa yang lain didalam sembahyang itu selain rupanya jua adanya ” Sebab, Sifat dengan yang empunya sifat iotu satu jua adanya baik jahir maupun batin. Pengertian Sifat disini, yaitu :

Tiada yang hidup,Tiada yang tahu,Tiada yang kuasa,

Tiada yang berkehendak,Tiada yang mendengar,Tiada yang melihat, dan

Tiada yang berkat-kata, melainkan Allah Swt jua adanya.

4. Duduk itu asalnya dari tanah, bukan tanah pasir atau tanah lumpur, adapun maksud tanah disini adalah hakekat dari sifat Kamalullah (kesempurnaan Allah), kesempurnaan-Nya masuk pada 2 perkara jua, yaitu :

Ada, dan Tiada .

Hamba itu sekali-kali tiada memiliki hidup dan mati, sebab hidup hamba dan mati hamba itu dihidupkan dan dimatikan oleh Allah Swt, inilah yang difanakan ketika duduk didalam sembahyang itu, yaitu tiada ujud kita yang baharu melainkan ujud Allah jua adanya.

Arifbillah berkata :

” Tiada ujud yang lain didalam sembahyang itu, melainkan hanya ujud Allah jua adanya jahir dan batin ”

Inilah hakekat yang ada didalam sembahyang, oleh karena itu maka Hakekat maupun Ma’rifat kita harus benar-benar bersih dan suci dari 3 perkara, yaitu :

Suci dari pada Syirik

Suci dari pada Niddun ( Jangan bertimbang )Suci dar pada Dhiddun ( Jangan berlawanan ) Allah Swt berfirman :

(45)

” Dahulu Allah dengan tiada mendahului akan Dia

dan yang kemudian dengan tiada yang kemudian dari pada-Nya, Jahir Allah itu dengan tiada yang menjahirkan akan Dia dan bathin Allah itu dengan tiada yang tersembunyi ” Maksudnya :

Bermula Ia yang awal dan yang akhir, Ia yang jahir dan yang batin, tiada yang lain dari padanya, itulah Tauhid dan Ma’rifat yang sempurna.

Jika tidak demikian maka bisa kita katakan sesungguhnya kita sembahyang hanya menyembah berhala saja.

Berhala yang besar itu adalah Anak dan Istri serta semua hartamu sedangkan berhala yang kecil itu adalah nafsu-nafsumu yang ada didalam dirimu sendiri.

Adapun Rukun yang 13, yang telah kami sebutkan diatas tadi ruang lingkup lakunya berhuruf dan berkalimah ” Allah ” , yaitu :

BerdiriRukuSujud, dan Duduk

Ke 13 rukun itu jika kita perhatikan sesungguhnya hanya terhimpun kedalam 3 rukun saja 3 rukun itu ialah :

Rukun Qolbi, takluknya pada Hati (duduknya pada hati), yaitu : 1. Niat, dan

2. Tertib

Rukun Qauli, takluknya pada lidah (duduknya bacaan / lidah), yaitu : 1. Takbiratul Ikhram

2. Fatekha 3. Tahyat Awal 4. Salawat

(46)

5. Salam

Rukun Fi’li, takluknya pada laku (pekerjaan), yaitu : 1. Berdiri betul

2. Ruku 3. I’tidal 4. Sujud

5. Duduk antara 2 sujud 6. Duduk tahyat Akhir.

Selanjutnya Rukun 13 yang dihimpun menjadi 3 rukun berdasarkan takluknya, akan dihimpun kembali menjadi 3 bagian dalam satu gerak, yaitu ketika kita mengangkat Takbir pertama (Takbiratul Ikhram) duduk pada :

QasadTa’aradTa’yin

Qasad itu, tubuh kita yang menyatakan Niat dan perbuatan yang sempurna, sedangkan niat yang sebenar-benarnya niat itu, yaitu tiada berhuruf, tiada bersuara dan tiada bertempat, itulah Zat Allah ta’ala yang mutlak.

Ia-lah yang melemahkan sekalian yang maujud dan melingkupi sekalian yang maujud dialam ini.

Ta’arad itu, menyatakan fardhu, dan yang sebenar-benarnya fardhu itu ialah sifat Allah ta’ala, A’yan tsabitha itu ialah Nur Muhammad, wujud dan tempatnya pada sekalian roh manusia.

Ta’yin itu, nyata Af’al Allah ta’ala pada alam malakut, yaitu jasad Adam itulah tubuh kita.

Muqaranah Niat didalam Takbiratul Ikhram

Pasal ini adalah pasal yang menyatakan tentang Muqaranah niat didalam Takbiratul Ikhram pada sekalian Ahli Fikih dan I’tikat ahli sunnah wal jama’ah pada mazhab Imam Syafe’i yang diberi oleh Allah rahmat atasnya.

Referensi

Dokumen terkait

Terdapat tiga perusahaan penerbangan yang memiliki jasa MRO internal beserta bangunan hanggar maintenance-nya diantaranya adalah, Garuda Indonesia dengan Hanggar Garuda

Pada siklus 2 ini pelaksanaan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan media Mind Mapping sudah

Sedangkan dengan obesitas mendapat kontribusi sumbangan zat gizi dari kelompok bahan energi, protein, karbohidrat .lemak dan pangan kacang-kacangan tidak berbeda

Berdasarkan hasil penelitian maka dapat disusun pengendalian hama terpadu (PHT) lalat buah pada tanaman cabai dengan komponen pengendalian sebagai berikut, penggunaan tanaman

Berdasarkan objeknya, penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan (lybrary research), data dikumpul dari surah al-Baqarah, dengan mengutip, menyadur kemudian

Seluruh sahabatku mahasiswa-mahasiswi Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau Angkatan tahun 2011 Prodi Pendidikan Agama Islam, yang selalu

Tetapan kalorimeter dapat ditentukan dengan melakukan percobaan sederhana yaitu dengan mencampurkan sejumlah air panas dengan sejumlah air dingin sehingga