7
BAB 1 Pendahuluan 1.1. Gambaran Umum Objek Peneitian
Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah satu-satunya Pasar Modal di Indonesia dan regulator yang memfasilitasi perkembangan Pasar Modal di Indonesia. BEI sendiri merupakan hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta (BEJ) dengan Bursa Efek Surabaya (BES). Berdasarkan UU Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 Bursa Efek Indonesia merupakan pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sarana untuk mempertemukan penawaran jual beli efek pihak-pihak lain dengan tujuan memperdagangkan Efek diantara mereka.
Dari informasi yang didapatkan di www.idx.co.id, perusahaan yang terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia sampai dengan Februari 2019 sebanyak 625 perusahaan. Bursa Efek Indonesia juga memiliki indeks harga saham. Indeks sejatinya adalah indikator ataupun ukuran atas sesuatu. Di dalam dunia pasar modal, indeks atas saham maupun obligasi merupakan portofolio imaginer yang mengukur perubahan harga dari suatu pasar atau sebagian dari pasar tersebut.
Indeks Harga Saham adalah ukuran statistik perubahan gerak harga dari kumpulan saham yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu dan digunakan sebagai sarana tujuan investasi. Saat ini Bursa Efek Indonesia memiliki 21 jenis indeks saham. Salah satu jenis Indeks Saham yang dimiliki Bursa Efek Indonesia adalah Jakarta Islamic Index (JII). Jakarta Islamic Index (JII) adalah indeks saham syariah yang pertama kali diluncurkan di pasar modal Indonesia pada tanggal 3 Juli 2000. Konstituen JII hanya terdiri dari 30 saham syariah paling likuid yang tercatat di BEI. Sama seperti ISSI, review saham syariah yang menjadi konstituen JII dilakukan sebanyak dua kali dalam setahun, Mei dan November, mengikuti jadwal review oleh OJK.
BEI menentukan dan melakukan seleksi saham syariah yang menjadi konstituen JII. Adapun kriteria likuditas yang digunakan dalam menyeleksi 30 saham syariah yang menjadi konstituen JII adalah sebagai berikut.
8
1. Saham syariah yang masuk dalam konstituen Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) telah tercatat selama 6 bulan terakhir
2. Dipilih 60 saham berdasarkan urutan rata-rata kapitalisasi pasar tertinggi selama 1 tahun terakhir
3. Dari 60 saham tersebut, kemudian dipilih 30 saham berdasarkan rata-rata nilai transaksi harian di pasar regular tertinggi
4. 30 saham yang tersisa merupakan saham terpilih.
Pada saat indeks saham bergerak naik, berarti harga sebagian besar saham-saham yang diukur oleh indeks tersebut bergerak naik. Sebaliknya, apabila indeks saham bergerak turun, maka sebagian besar saham-saham konstituen indeks bergerak turun. Dengan melihat pergerakan suatu indeks saham, maka investor dapat mengetahui performa harga secara umum atas saham-saham yang dimilikinya. Selain itu, investor juga dapat mengetahui kondisi pasar saham secara umum apabila terjadi perubahan kebijakan dari dalam maupun luar negeri.
Aspek penting yang dijadikan sebagai acuan oleh investor atau pemilik untuk menilai kinerja manajemen dalam mengelola suatu perusahaan adalah dengan mengukur profitabilitasnya (Lestari & Chairi, 2016). Menurut Kasmir (2018:196), profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk menilai kemampuan perusahaan dalam memperoleh laba dan memberikan tingkat efektivitas manajemen sebuah perusahaan yang ditunjukkan dalam laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan investasi. Profitabilitas yang besar menunjukkan semakin besar kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajiban jangka pendeknya atau likuiditasnya semakin baik. Tingkat likuiditas yang semakin tinggi dapat meningkatkan kredibilitas perusahaan yang menimbulkan reaksi positif dari investor untuk memberikan modalnya yang dapat digunakan perusahaan untuk investasi dalam upaya meningkatkan profitabilitasnya. (Fadhilah, 2017)
Jakarta Islamic Index (JII) adalah salah satu index yang mengukur performa harga dari 30 saham-saham syariah yang memiliki kinerja keuangan yang baik dan likuiditas transaksi yang tinggi. Dengan demikian perusahaan pada index JII dipilih sebagai objek penelitian.
9
Latar Belakang Peneitian
Pada era globalisasi ini, perkembangan teknologi dan informasi yang semakin pesat, menjadikan internet sebagai sarana yang paling efisien, internet sudah menjadi sebuah kebutuhan yang sangat signifikan pada segala aspek kehidupan. Terkhusus dalam dunia bisnis, internet digunakan sebagai alat pengungkapan informasi, hal tersebut dilakukan agar tidak adanya asimetri informasi antara pihak internal perusahaan dan eksternal perusahaan, pengungkapan informasi juga dilakukan untuk memberikan laporan positif maupun negatif kepada pihak eksternal.
Perkembangan teknologi informasi sangat membantu perusahaan untuk mengungkapkan informasi secara cepat, murah, dan atraktif. Informasi yang disajikan dalam website dapat bersifat statis seperti visi dan misi perusahaan, pimpinan, produk, alamat usaha dan sebagainya, di samping itu melalui website perusahaan dapat menyajikan informasi yang lebih dinamis dan diperbaharui secara berkala seperti informasi tentang keuangan, berita perusahaan (news), topik aktual (highlights), artikel ataupun promosi produk dan jasa perusahaan. Dengan keberadaan sebuah website perusahaan, tentunya perusahaan berharap proses publikasi dan komunikasi dengan pihak-pihak terkait menjadi lebih lancar. Di samping itu diharapkan dapat memberikan citra yang baik bagi perusahaan sehingga menarik investor. Penyajian informasi baik keuangan maupun informasi pertanggung jawaban sosial perusahaan dengan menggunakan teknologi internet disebut Internet Financial and Sustainability Reporting (IFSR).
Internet telah membawa perubahan bukan hanya pada pola pikir masyarakat, tetapi juga cara melakukan bisnis suatu perusahaan dan bagaimana informasi dapat dipertukarkan secara real-time. Internet yang dianggap mampu memberikan informasi yang tepat pada waktunya, menjadikan informasi tersebut dianggap relevan sebagai pengambilan keputusan dan informasi tersebut tidak kehilangan kapasitanya. Pengungkapan informasi dengan menggunakan internet memiliki banyak keunggulan, tidak hanya pengungkapan informasi yang real-time, internet juga dapat mudah menyebar (pervasiveness), tidak mengenal batas (borderless- ness), biaya rendah (low cost) dan memiliki interaksi yang tinggi (high interaction). Internet mengintegrasikan teks, gambar, gambar bergerak dan
10 suara. Karakteristik yang lengkap tersebut menjadi sangat popular di kalangan pengguna informasi keuangan perusahaan (Rozak, 2012)
Pada hasil survei Penggunaan dan Penerapan Sarana Komunikasi dan Teknologi Informasi (P2SKTI) tahun 2017 yang dilaksanakan oleh Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan bahwa penetrasi pengguna internet pada tahun 2017 mencapai 143.26 juta jiwa (54,68%) dan setiap waktu jumlahnya akan terus bertambah naik. Menurut Sekjen APJII, Soemartono (2018) Jumlah ini dikatakan naik dibanding tahun lalu yaitu 132.7 juta jiwa. Sekjen APJII menambahkan bahwa hal ini juga berlaku untuk penetrasi di level ekonomi, semakin tinggi strata ekonomi maka akan semakin tinggi penetrasinya. Dimana untuk kelas sosial ekonomi A penetrasinya mencapai 93.10%. Artinya, pertumbuhan pengguna internet di Indonesia yang sangat pesat akan berdampak ke berbagai sektor kehidupan, terutama pada perusahaan sektor bisnis (Kominfo, 2018).
Peningkatan penggunaan internet di Indonesia yang sangat pesat ini tidak hanya menjadi daya tarik bagi masyarakat umum saja tetapi juga daya tari bagi perusahaan yang ada di Indonesia. Adanya peningkatan penggunaan internet di Indonesia mengharuskan perusahaan memanfaatkan internet sebagai alat komunikasi dalam hal menyediakan informasi secara daring. Hal tersebut juga merupakan sebuah upaya dari perusahaan untuk mengurangi asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar (Rozak, 2012). Pengungkapan informasi pada website merupakan suatu sinyal dari perusahaan kepada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya, pengungkapan informasi keuangan pada website perusahaan sering disebut Internet Financial Reporting (IFR) (Chariri, 2017).
Berikut ini merupakan grafik yang menggambarkan jumlah perusahaan yang melakukan pelaporan informasi keuangan pada website resmi perusahaan dari 30 perusahaan pada Jakarta Islamic Index (JII) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2016.
11 Gambar 1. 1 Daftar Perusahaan pada Jakarta Islamic Index (JII) yang
Menggunakan IFR Tahun 2013- 2016
Dilihat dari Gambar 1.1, pada periode tahun 2013 sampai dengan tahun 2016 penerapan Internet Financial Reporting oleh 30 perusahaan pada Jakarta Islamic Index (JII) yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tidak semua perusahaan melakukan pengungkapan informasi keuangan pada website resmi perusahaan dan masih terdapat tiga perusahaan yang tidak memiliki website resmi. Akan tetapi, dilihat dari pergerakan grafik ada peningkatan yang cukup konsisten setiap tahunnya. Hal tersebut dikarenakan adanya peraturan yang dikeluarkan oleh Peraturan Otoritas Jasa Keuanga Nomor 8/POJK.04/2015, yang menyatakan bahwa, dalam rangka meningkatkan transparansi sekaligus meningkatkan akses pemegang saham serta pemangku kepentingan lainnya atas informasi Emiten atau Perusahaan Publik yang aktual dan terkini sebagai penerapan prinsip tata kelola perusahaan baik oleh Emiten atau Perusahaan Publik, transparansi melaui keterbukaan informasi oleh Emiten atau Perusahaan Publik perlu dilakukan dengan memanfaatkan teknologi. Berdasar pada pertimbangan tersebut, perlu menetapkan peraturan Otoritas Jasa Keuangan tentang Situs Web Emiten atau Perusahaan Publik.
Tujuan dibuatnya peraturan tersebut diharapkan bagi setiap Emiten atau Perusahaan Publik dapat lebih transparan terhadap informasi-informasi penting bagi pemegang kepentingan perusahaan, serta memotivasi Emiten atau
23 26 27 29 0 10 20 30 40 2013 2014 2015 2016
DAFTAR PERUSAHAAN PADA JAKARTA
ISLAMIC INDEX (JII) YANG MELAKUKAN
IFR
12 Perusahaan Publik untuk menerapkan Internet Financial Reporting (IFR) pada website perusahaan. Semakin tinggi tingkat pengungkapan informasi yang dipublikasikan, maka semakin tinggi pula dampak pengungkapan tersebut terhadap keputusan investor.
Penelitian mengenai penerapan Internet Financial Reporting telah dilakukan oleh Ahmed, Burton, & Dunne (2017), merupakan salah satu penelitian yang tujuan penelitiannya untuk memberikan bukti eksplorasi tentang pengguna internet untuk keperluan pengungkapan oleh perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Mesir pada tahun 2010-2011. Hasil penelitian ini menemukan bahwa pada tahun 2010 sebesar 40,7 % dan tahun 2011 sebesar 42,7% dari perusahaan menyediakan beberapa bentuk informasi keuangan melalui situs web mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa perusahaan mesir telah menerapkan media internet sebagai alat pengungkapan, tetapi dengan tingkat praktik yang masih terbatas dan gangguan 6 yang disebabkan oleh politik di tahun 2011 tidak menyebabkan pengurangan kecenderungan untuk menyediakan pengungkapan sukarela.
Pengungkapan informasi pada website juga merupakan suatu sinyal dari perusahaan pada pihak luar, salah satunya informasi keuangan yang dapat dipercaya dan akan mengurangi ketidak pastian mengenai prospek perusahaan yang akan datang. Internet Financial Reporting (IFR) juga dipandang sebagai alat komunikasi yang efektif kepada pelanggan, investor dan pemegang saham (Handayani & Almilia, 2013).
Internet menawarkan berbagai kemungkinan kepada perusahaan untuk menyajikan informasi keuangan dengan kuantitas yang lebih tinggi, hemat biaya dan dapat menjangkau para pemakai secara luas tanpa halangan geografis. Internet merupakan suatu media yang tepat untuk digunakan sebagai sarana mengakomodasi perubahan yang dibutuhkan dalam pelaporan perusahaan (Puri D. R., 2013). Penelitian serupa oleh (Pennington & Kelton, 2012) yang juga menyatakan bahwa Internet menyediakan cara yang efisien bagi perusahaan untuk meningkatkan komunikasi dengan investor keuangan individu, mengurangi biaya yang terkait dengan penyebaran informasi cetak, dan meningkatkan frekuensi pengungkapan informasi.
13 Perkembangan teknologi internet yang sangat pesat membuat sektor bisnis juga memanfaatkan pola komunikasi melalui internet dengan memanfaatkan website perusahaan. Manfaat website secara umum yaitu menyediakan informasi – informasi yang ingin kita sampaikan dan yang dibutuhkan oleh pengunjung website. Karena website perusahaan berupa media yang mudah diakses oleh semua orang, perusahaan akan semakin dikenal secara luas karena berisikan semua informasi perusahaan. Menurut (Sukanto, 2012), pengungkapan informasi pada website merupakan sinyal dari perusahaan kepada pihak luar, salah satunya berupa informasi keuangan yang dapat dipercaya dan mengurangi ketidakpastian mengenai prospek perusahaan masa depan (Rozak, 2012), sehingga teori sinyal menggambarkan kondisi dan kinerja suatu perusahaan kepada para investor. Pelaporan keuangan di internet dianggap sebagai sinyal yang berarti apakah perusahaan bertindak sesuai kesepakatan, sehingga teori sinyal dapat digunakan untuk memprediksi kualitas pengungkapan perusahaan melalui pelaporan keuangan di internet.
Dalam website, perusahaan akan mengungkapkan semua tentang informasi keuangan dan non keungan dalam laporan keuangan. PSAK No.1 (IAI, 2015) menjelaskan laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah untuk memberikan suatu informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi pengguna laporan keuangan (investor, kreditur, dan pihak lain) dalam pembuatan keputusan ekonomi. Pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No. 29/POJK.04/2016 Tentang Laporan Tahunan Emiten Atau Perusahaan Publik pada Bab III Pasal 7 (1) membahas tentang Penyampaian Laporan Tahunan yang menyebutkan bahwa Emiten atau Perusahaan Publik wajib menyampaikan Laporan Tahunan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) paling lambat pada akhir bulan keempat setelah tahun buku berakhir. Penyampaian laporan keuangan melalui Otoritas Jasa Keungan (OJK) tergolong pengungkapan wajib, dan melalui internet atau yang disebut Internet Financial Reporting (IFR) tergolong pengungkapan sukarela karena mampu memberikan informasi tambahan guna meningkatkan kualitas pelaporan.
14 Pada penelitian ini fokus pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII), karena perusahaan tersebut mewakili dan menggambarkan nilai perusahaan yang besar dan maju sehingga memiliki website perusahaan demi kelangsungan bisnisnya. Dari hasil pencarian pada website perusahaan, walaupun pelaporan informasi keuangan dan non keuangan perusahaan melalui internet sedang berkembang dan sudah diterapkan di beberapa perusahaan, tetapi sebagian diantaranya masih ada yang belum menerapkan pengungkapan pelaporan keuangan dan non keuangan dalam website perusahaan dengan baik.
Tabel 1. 1 Perbandingan perusahaan berdasarkan IFR Index
Kode Nama Perusahaan IFR Index
IFR Score
HIGHEST IFR SCORE Component
A
Component B
Component C
UNVR Unilever Indonesia Tbk. 0,278 0,167 0,417 0,861 TLKM Telekomunikasi Indonesia
(Persero) Tbk. 0,278 0,139 0,389 0,806
JPFA Japfa Comfeed Indonesia Tbk. 0,250 0,139 0,417 0,806
LOWEST IFR SCORE
BTPS Bank Tabungan Pensiunan
Nasional Syariah Tbk. 0,250 0,139 0,167 0,556 WSBP Waskita Beton Precast Tbk. 0,250 0,139 0,167 0,556 ERAA Erajaya Swasembada Tbk. 0,222 0,139 0,222 0,583 (Sumber: data diolah oleh penulis)
Pada tabel 1.1 dapat dijadikan fenomena sebagai pelaporan informasi keuangan dan non keuangan pada website perusahaan melalui internet (IFR) pada perusahaan yang terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII). Perusahaan dengan pelaporan keuangan di internet tertinggi adalah perusahaan UNVR, TLKM, dan JPFA. Pada komponen technology and user support yang terdapat pada component A, penggunaan XBRL merupakan fitur canggih dalam website perusahaan karena bermanfaat untuk meningkatkan efisiensi kecepatan dan
15 mengotomasikan pengolahan data yang dapat menunjang proses analisis dan kualitas informasi yang digunakan untuk pengambilan keputusan perusahaan. Isinya diantara lain adalah: laporan tahunan dalam multiple format, data keuangan dalam format yang dapat diproses, tabel yang dihubungkan dengan isinya, menu petunjuk atas bawah, hyperlink di dalam laporan tahunan, hyperlink ke data dalam website pihak ketiga, file-file audio, file-file video, tanda email, email langsung ke investor relation, gambar grafik yang dinamis, dan internal search engine.
Jika melihat IFR content, dari segi komponen informasi keuangan perusahaan (content) pada component B yaitu: laporan tahunan tahun berjalan, laporan tahunan tahun lalu, other filling, link to Edgar atau 10-K Wizard, anggaran dasar untuk komite audit, dan kode etik untuk direktur dan karyawan yang hampir disajikan dalam format HTML dan hanya quarterly report yang disajikan dalam format PDF. Format PDF memerlukan program pendukung yaitu Adobe Acrobat Reader untuk membaca dan mencetak file dimana program tersebut tidak selalu tersedia. Sedangkan HTML menggunakan konsep hypertext untuk mendukung navigasi melalui link di setiap halaman dan tidak memerlukan program pendukung, sehingga lebih memudahkan pengguna mengakses informasi keuangan secara efektif.
Kemudian dari segi komponen ketepatan waktu (timeliness) pada component C, terdiri dari: anggota dewan direksi, data keuangan bulanan yang terbaru, gambaran mengenai ikhtisar kinerja perusahaan (hal penting, fact sheet), estimasi laba, tanggal-tanggal peristiwa yang berkaitan dengan investor, publikasi berita keuangan yang terbaru, daftar analis yang mengikuti perusahaan, pemeringkatan analis, teks pidato dan persentasi, harga saham hari yang sama, harga saham historis, informasi mengenai agen transfer saham perusahaan, keuntungan memiliki saham perusahaan, informasi yang berkaitan dengan rencan reinvestasi dividen, histori dari dividen, prinsip/pedoman corporate governance, dan anggaran dasar komisaris. Artinya UNVR, TLKM, dan JPFA adalah perusahaan yang menerapkan pelaporan keuangan di internet pada websitenya sesuai pada komponen IFR index, karena menyadari pengguna laporan keuangan bukan hanyak pihak internal perusahaan tetapi juga publik. Sehingga itu menjadi
16 alasan mengapa UNVR, TLKM, dan JPFA mempraktikkan Internet Financial Reporting sesuai komponennya dan membuat desain websitenya lebih berkualitas.
Kemudian untuk perusahaan dengan kualitas pelaporan keuangan di internet terendah adalah perusahaan BTPS, WSBP, dan ERAA. Artinya walaupun BTPS, WSBP, dan ERAA adalah perusahaan yang tergolong besar dengan kapitalisasi pasar tertinggi menurut Jakarta Islamic Index (JII), ternyata belum menerapkan Internet Financial Reporting (IFR) dengan maksimal pada websitenya, mungkin dikarenakan tergolong pengungkapan sukarela (voluntary disclosure) sehingga perusahaan tidak merasa perlu menerapkan pelaporan keuangan di internet pada websitenya. Maka menjadi alasan mengapa BTPS, WSBP, dan ERAA mempraktikkan Internet Financial Reporting belum sesuai komponen dan membuat desain website yang standar karena tidak ada pedoman dan ketentuan yang mendasar tentang apa saja yang perlu disajikan dalam pelaporan keuangan di internet (internet financial reporting).
Internet Financial Reporting (IFR) merupakan media alternatif yang digunakan untuk melakukan aktifitas hubungan antara investor dan perusahaan dengan lebih efisien dan efektif. Karena dapat mencerminkan kondisi perusahaan secara lengkap, menyeluruh dalam kondisi yang sebenarnya terjadi agar informasi tersebut dapat bermanfaat bagi investor (Handayani & Almilia, 2013). Semakin berkualitas informasi keuangan yang diungkapkan oleh perusahaan melalui IFR merupakan sebuah sinyal kepada pasar sehingga semakin banyak para investor tertarik untuk menanamkan modal di perusahaan tersebut. Selain itu, dapat dengan mudah diakses oleh kalangan publik lainnya secara efektif agar dapat memonitori kinerja perusahaan sehingga dapat mengurangi insentif pemegang saham pengendali untuk melakukan tindakan yang menguntungkan kepentingan mereka atau merugikan kepentingan pemegang saham non pengendali (Virgiawan & Dyanty, 2015).
Mengacu pada Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nomor KEP – 431/BL/2012 tentang Penyampaian Laporan Tahunan Emiten atau Perusahaan Publik menetapkan kewajiban perusahaan publik untuk memuat laporan tahunannya dalam bentuk softcopy pada website perusahaan, dan dapat diakses
17 setiap saat pada waktu bersamaan dengan pelaporan tahunan tersebut kepada OJK. Dimana kewajiban ini semakin diperkuat dengan adanya Peraturan OJK No. 8/POJK.04/2015 tentang Situs Web Emiten atau Perusahaan Publik membahas kewajiban perusahaan memiliki website yang transparan, aktual, dan terkini. Artinya, perusahaan publik yang menerapkan IFR dapat meningkatkan pelaksanaan tata kelola perusahaan yang baik, meningkatkan kepercayaan investor, khususnya pemegang saham, masyarakat, pemerintah, serta pemangku kepentingan lainnya terhadap perusahaan tersebut. Hal tersebut menunjukkan penyampaian laporan keuangan melalui Otoritas Jasa Keungan (OJK) tergolong pengungkapan wajib (Mandatory Disclosure), sedangkan melalui internet atau yang disebut Internet Financial Reporting (IFR) tergolong pengungkapan sukarela (Voluntary Disclosure), sehingga penerapan IFR tidak diwajibkan bagi perusahaan, karena belum memiliki standar dan pedoman tertentu tentang apa saja yang perlu diungkapkan kepada masyarakat publik.
Akan tetapi, seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa pelaporan informasi keuangan maupun non keuangan menggunakan internet (IFR) ini pun tidak diterapkan oleh beberapa perusahaan dalam websitenya. Artinya, terdapat faktor lain yang mempengaruhi pilihan perusahaan tersebut untuk menggunakan atau mengimplementasikan Internet Financial Reporting (IFR) atau tidak. Faktor-faktor tersebut diantaranya adalah profitabilitas, jenis industri, dan umur listing perusahaan. Variabel tersebut telah banyak diteliti sebelumnya akan tetapi masih menunjukkan hasil penelitian yang bervariasi dan belum konsisten, sehingga perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui temuan yang baru pada kondisi lingkungan dan waktu yang berbeda.
Profitabilitas merupakan suatu aspek penting yang dapat dijadikan acuan oleh investor atau pemilik untuk menilai kinerja manajemen dalam mengelola suatu perusahaan (Rozak, 2012). Menurut (Sutrisno, 2010) dalam (Mayasari, Verawaty, & Jaya, 2014) profitability adalah suatu perusahaan yang menunjukkan perbandingan antara laba dengan modal atau aset yang menghasilkan laba tersebut. Perusahaan dengan profitabilitas yang tinggi akan menarik perhatian investor dalam menyediakan Internet Financial Reporting dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi. Hal ini semakin diperkuat menurut penelitian (Prasetya
18 & Irwandi, 2012) yang menjelaskan bahwa perusahaan dengan kinerja yang buruk menghindari penggunaan teknik pelaporan seperti IFR karena mereka berusaha untuk menyembunyikan badnews.
Berbeda dengan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi, mereka menggunakan IFR untuk membantu perusahaan menyebarluaskan goodnews. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Rozak, 2012) konsisten menyatakan bahwa profitabilitas berpengaruh positif terhadap Internet Financial Reporting (IFR) hal ini berarti perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi cenderung mengimplementasikan IFR untuk menyebarluaskan goodnews suatu perusahaan. Serupa dengan hasil penelitian oleh (Mayasari, Verawaty, & Jaya, 2014) menunjukkan bahwa profitability perusahaan berpengaruh positif terhadap aksesibilitas Internet Financial Reporting hal ini berarti perusahaan yang profitabilitasnya meningkat akan berusaha menarik perhatian investor dengan menyediakan informasi keuangan dengan tingkat aksesibilitas yang tinggi. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Puri, 2013) bertentangan dengan penelitian sebelumnya, yaitu bahwa tidak terdapat pengaruh antara profitabilitas terhadap IFR index pada perusahaan dengan nilai kapitalisasi pasar terbesar tahun 2011. Tidak berpengaruhnya variabel profitabilitas terhadap pelaporan keuangan di internet dikarenakan perusahaan yang memiliki profitabilitas tinggi tidak menjamin perusahaan mengungkapkan IFR indeks secara lengkap.
Selain profitabilitas, faktor lainnya yang perlu diperhatikan adalah jenis industri. Perusahaan yang bergerak dalam industri tertentu secara politik akan lebih rentan dikritik masyarakat, sehingga penerapan Internet Financial Reporting (IFR) kemungkinan dilakukan untuk meminimalisir kemungkinan political cost seperti demo atau tuntutan dari masyarakat. Hasil penelitian (Keumala, Nida, & Muid, 2013) menemukan bukti bahwa jenis industri tidak berpengaruh signifikan terhadap praktik Internet Financial Reporting (IFR). Hasil tersebut berbeda dengan hasil penelitian (Oktavia, 2015) dan (Weli, 2017) yang menunjukan bahwa jenis industri berpengaruh terhadap penerapan IFR. Perusahaan-perusahaan yang menggunakan teknologi tinggi, lebih memilih memanfaatkan internet untuk melakukan pengungkapan informasi keuangannya (Marlina & Almunawwaroh, 2018)
19 Industri manufaktur menggunakan new knowledge untuk mengadopsi inovasi pada tingkat yang lebih canggih atau sebagai manufacturing innovations. (Marston C. , 2010) juga menambahkan bahwa terkait dengan pelaporan keuangan di internet, perusahaan-perusahaan di dalam industri “berteknologi tinggi” ingin menunjukkan kesadaran teknologi mereka melalui IFR dibandingkan dalam industri lainnya. Riset yang dilakukan oleh (Marston C. , 2010) memberikan hasil jenis industri berpengaruh positif signifikan terhadap IFR. Di era globalisasi dengan tingkat perkembangan teknologi yang tinggi, baik perusahaan manufaktur maupun non manufaktur berlomba-lomba untuk mengadopsi teknologi-teknologi baru seperti internet. Hal ini dilakukan untuk mempermudah aktivitas mereka, agar dapat menjangkau luas pihak-pihak yang berkepentingan atas laporan keuangan dan keberlanjutan perusahaan tersebut sehingga dapat menimbulkan citra positif bagi perusahaan.
Selain profitabilitas dan jenis industri, perusahaan yang terdaftar lebih lama memiliki pengetahuan tentang peraturan yang ada di BEI lebih banyak. Umur listing perusahaan merupakan lamanya perusahaan telah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Menurut UU Pasar Modal No. 8 tahun 1995 bahwa perusahaan yang listing dan yang akan listing memiliki kewajiban untuk melakukan pelaporan keuangan (Lestari & Chairi, 2016). Perusahaan yang lebih lama listing menyediakan publisitas informasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan yang baru saja listing. Perusahaan yang lebih lama listing atau lebih berpengalaman memiliki kecenderungan untuk mengubah pelaporan keuangannya sesuai dengan perkembangan teknologi untuk menarik investor melalui IFR (Lestari & Chairi, 2016). Hal ini menunjukkan pengaruh positif antara umur listing perusahaan dengan praktik IFR. Hasil penelitian yang dilakukan oleh (Prasetya & Irwandi, 2012) adalah bahwa umur listing perusahaan tidak berpengaruh terhadap IFR. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh (Lestari & Chairi, 2016) dan (Widiasmara, 2018) memberikan bukti bahwa umur listing perusahaan berpengaruh terhadap IFR. (Purbandari & Immanuela, 2018)
Perusahaan yang lebih lama listing menyediakan publisitas informasi yang lebih banyak dibandingkan perusahaan yang baru listing sebagai bagian dari praktik akuntabilitas yang ditetapkan oleh BAPEPAM (Lestari & Chariri, 2010).
20 Menurut (Harsanti, Mulyani, & Fahmi, 2014) Terdapat pengaruh positif antara umur terdaftar perusahaan dan ketepatan waktu internet financial reporting. Perusahaan yang memiliki jumlah umur terdaftar yang lebih lama memiliki pengalaman yang banyak dalam pelaporan informasi perusahaan akan lebih meningkatkan ketepatan waktu internet financial reporting.
Berdasarkan uraian dan inkonsistensi hasil penelitian terdahulu, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Profitabilitas, Jenis Industri, dan Umur Listing Perusahaan terhadap Internet Financial Reporting (Studi Kasus: Perusahaan Yang Terdaftar di Jakarta Islamic Index (JII) pada Bursa Efek Indonesia Periode 2016-2018)”.
Perumusah Masalah
Penyampaian laporan keuangan melalui Otoritas Jasa Keungan (OJK) tergolong pengungkapan wajib (Mandatory Disclosure), sedangkan melalui internet atau yang disebut Internet Financial Reporting (IFR) tergolong pengungkapan sukarela (Voluntary Disclosure), karena tujuannya mampu memberikan informasi tambahan guna meningkatkan kualitas pelaporan. Dikarenakan tergolong pengungkapan sukarela membuat penerapan IFR pada website perusahaan tidak memiliki standar dan pedoman tertentu tentang apa yang perlu diungkapkan kepada masyarakat publik. Sehingga website perusahaan belum dimanfaatkan secara maksimal untuk mendistribusikan informasi bagi para investor. Padahal IFR dapat menjadi media alternatif untuk melakukan aktifitas hubungan kepada investor dengan lebih efektif dan efisien. Selain itu, dapat diakses dengan mudah oleh kalangan publik lainnya secara efektif agar dapat memonitori kinerja perusahaan sehingga pelaporan keuangan di internet menjadi salah satu bentuk alternatif yang patut dilaksanakan oleh para perusahaan publik di pasar modal yang dimuat laporan berisi informasi tentang keuangan maupun non keuangan yang dapat diakses setiap saat oleh publik.
Tidak semua perusahaan menerapkan pelaporan keuangan dalam website pribadi mereka. Perusahaan cenderung tidak melakukan IFR karena tidak ada keamanan yang menjamin internet bebas dari penyalahgunaan. Dengan kata lain, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi pilihan perusahaan untuk menerapkan IFR atau tidak. Beberapa penelitian terdahulu telah menguji
21 hubungan antara profitabilitas, jenis industry, dan umur listing perusahaan dengan Internet Financial Reporting (IFR). Hasil yang berbeda – beda pada setiap penelitian terdahulu karena terdapat perbedaan indikator, objek dan jumlah sampel penelitian sehingga hasil penelitian terdahulu belum mampu menggambarkan kondisi yang terjadi di Indonesia. Maka perlu dilakukan analisis ulang faktor yang mempengaruhi pelaporan keuangan menggunakan internet pada website perusahaan ini menjadi penting dilakukan sehingga dapat menjadi alat media alternatif untuk melakukan aktifitas hubungan kepada investor dengan lebih efisien dan efektif.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas pokok permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1. Bagaimana Profitabilitas, Jenis industri, dan Umur Listing Perusahaan pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018 mempengaruhi penerapan Internet Financial Reporting (IFR)?
2. Apakah terdapat pengaruh secara simultan Profitabilitas, Jenis Industri dan Umur Listing Perusahaan terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018?
3. Apakah terdapat pengaruh secara parsial Profitabilitas terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018?
4. Apakah terdapat pengaruh secara parsial Jenis Industri manufaktur atau non manufaktur terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018?
5. Apakah terdapat pengaruh secara parsial Umur Listing Perusahaan terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018?
22
1.5 Tujuan Penelitian
Berdasarkan pertanyaan penelitiaan diatas, tujuan penelitian yang akan dibahas dalam penelitian ini yaitu:
1. Untuk mengetahui dan menganalisis Profitabilitas, Jenis industri, dan Umur Listing Perusahaan terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018.
2. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara simultan Profitabilitas, Jenis Industri dan Umur Listing Perusahaan terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara parsial Profitabilitas terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018.
4. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara parsial Jenis Industri terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018.
5. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh secara parsial Umur Listing Perusahaan terhadap penerapan Internet Financial Reporting (IFR) pada perusahaan yang terdaftar pada Jakarta Islamic Index (JII) periode 2016-2018.
1.6 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam memberikan informasi dan wawasan baru bagi beberapa pihak, yaitu:
1. Aspek Teoritis
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk menambah wawasan serta literatur tentang analisis faktor yang mempengaruhi Internet Financial Reporting (IFR), dan juga penelitian ini diharapkan bisa dijadikan rujukan untuk penelitian berikutnya.
23 2. Aspek Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Internet Financial Reporting (IFR) dan dapat meningkatkan kualitas pelaporan kepada pihak-pihak luar.
1.7 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian ini, maka disusunlah sistematika penulisan yang berisi informasi mengenai materi dan hal yang dibahas setiap bab. Sistematika penulisan penelitian ini secara garis besar adalah sebagai berikut:
BAB 1 PENDAHULUAN
Bab ini memberikan penjelasan mengenai gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian yang terdapat fenomena dan digunakan sebagai acuan meneliti, perumusan masalah yang didasarkan pada latar belakang penelitian, tujuan penelitian, dan kegunaan penelitian ini baik secara teoritis maupun praktis serta sistematika penulisan.
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN
Bab ini berisi teori-teori terkait penelitian dan penelitian terdahulu, kerangka pemikiran, dan hipotesis penelitian.
BAB III METODE PENELITIAN
Bab ini menegaskan pendekatan, metode, dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis temuan yang dapat menjawab masalah penelitian. Bab ini meliputi uraian tentang: Jenis Penelitian, Operasionalisasi Variabel, Populasi dan Sampel, Pengumpulan Data, serta Teknik Analisis Data.
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian dan pembahasan diuraikan secara sistematis sesuai dengan perumusan masalah serta tujuan penelitian dan disajikan dalam sub judul tersendiri. Bab ini berisi dua bagian: bagian pertama menyajikan hasil penelitian
24 dan bagian kedua menyajikan pembahasan atau analisis dari hasil data, kemudian diinterpretasikan.
BAB V PENUTUP
Kesimpulan merupakan jawaban dari pertanyaan penelitian, kemudian menjadi saran yang berkaitan dengan manfaat penelitian.