BAB I PENDAHULUAN Gambaran Umum Objek Penelitian Gambaran Umum Komunitas

13 

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1. Gambaran Umum Komunitas

Komunitas Motor Box Bandung atau dapat disingkat sebagai KOMBO Bandung adalah suatu komunitas otomotif dimana anggotanya adalah pecinta box motor yang berada di kota Bandung. Box motor adalah aksesoris tambahan untuk membawa barang bagi pengendara sepeda motor. Berdirinya Komunitas Motor Box (KOMBO) Bandung berawal dari perbincangan di media sosial Facebook oleh pendiri KOMBO Bandung yaitu Siddiq Saparudin, Dede Syarif, Imam Rachmat Fauzi, Firman dan Iman. Dari perbincangan tersebut mereka sepakat untuk membuat komunitas yang pada awalnya diberi nama GIVI BAHENOL pada tanggal 5 Januari 2014 karena mayoritas anggota adalah pengguna produk box motor GIVI. Seiring berjalannya waktu, anggota KOMBO Bandung semakin banyak dan merek box motor tidak hanya dari produk GIVI saja, akan tetapi dari berbagai merek box, maka dari itu dilakukan perubahan nama komunitas dari sebelumnya GIVI BAHENOL menjadi Komunitas Motor Box (KOMBO) Bandung pada bulan Oktober 2014 (Hasil wawancara dengan pengurus KOMBO Kang Deden, 3 Februari 2015).

Saat ini KOMBO Bandung tidak hanya terdapat di kota Bandung, akan tetapi sudah meluas ke pulau Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dengan jumlah regional sebanyak 38 dan anggota sebanyak 27.966 orang di seluruh Indonesia. Khusus KOMBO Bandung jumlah anggotanya adalah sebanyak 1.526 orang. Keanggotan KOMBO Bandung terbuka bagi semua orang tak terkecuali pengendara sepeda motor yang belum memiliki box motor akan tetapi mempunyai keinginan untuk memakai box motor

(2)

2 (Hasil wawancara dengan pengurus KOMBO Kang Deden, 3 Februari 2015).

Kegiatan rutin KOMBO Bandung setiap minggunya adalah kopdar. Kopdar atau kopi darat adalah kegiatan silaturahmi antar anggota KOMBO Bandung untuk meningkatkan kebersamaan dan membahas isu-isu terbaru yang terjadi di dalam komunitas. Kopdar dilaksanakan setiap hari Minggu pukul 18.00 sampai dengan selesai bertempat di Jln. Japati depan Kantor Telkom Gasibu Bandung. Kegiatan rutin lainnya selain kopdar adalah rolling bersama. Rolling adalah kegiatan konvoi mengendarai motor bersama-sama keliling kota Bandung, konvoi ini dilaksanakan setelah acara kopdar selesai. Rolling ini memiliki tujuan yaitu mencari simpatik masyarakat dan memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa KOMBO Bandung selalu mengutamakan pengendara lain dan tidak bersikap anarkis serta arogan saat berkendara. Kegiatan lainnya yaitu touring dan beberapa kali kegiatan bakti sosial ke panti asuhan (Hasil wawancara dengan pengurus KOMBO Kang Deden, 3 Februari 2015). 1.1.2. Logo Komunitas

Gambar 1.1 adalah logo Komunitas Motor Box (KOMBO) Bandung.

Gambar 1.1 Logo Komunitas

(3)

3 Makna dari logo Komunitas Motor Box Bandung :

1. Gambar motor dengan aksesoris box dengan background bendera merah putih melambangkan pengendara motor yang berada di Indonesia

2. Senjata Kujang yaitu senjata khas daerah Jawa Barat menggambarkan kekuatan dan keberanian

3. Gedung Sate melambangkan bahwa komunitas berasal dari Kota Bandung.

4. Keseluruhan logo mewakili ciri khas Kota Bandung dan Jawa Barat (tatar sunda)

1.1.3 Visi dan Misi Komunitas

Visi komunitas motor box (KOMBO) Bandung adalah menjadikan KOMBO Bandung tetap yang pertama dan ternama di Nusantara.

Misi KOMBO Bandung adalah

1. Menjaga suksesnya seluruh kegiatan KOMBO Bandung 2. Menjaga silaturahmi antar anggota KOMBO Bandung

1.1.4 Struktur Organisasi

Gambar 1.2 adalah struktur organisasi Komunitas Motor Box Bandung.

Gambar 1.2 Struktur Komunitas

(4)

4 Gambar 1.2 menunjukkan struktur komunitas KOMBO, garis komando paling atas berada pada Dewan Penasihat atau 5 orang pendiri KOMBO. Dewan Penasihat bertugas sebagai penasihat, memberikan arahan dan mengawasi komunitas. Arahan yang diberikan merupakan hasil rapat atau musyawarah para pengurus KOMBO Kota Bandung. Dewan Penasihat memberikan komando atau arahan secara langsung ke seluruh bagian dalam komunitas seperti Sekretaris, Bendahara serta Koordinator Wilayah dan Koordinator Lapangan. Sekretaris memiliki tugas mengurusi semua hal yang berhubungan dengan administrasi komunitas. Bendahara berkewajiban menata keuangan komunitas dimana dana dihasilkan dari hasil iuran bulanan anggota komunitas. Dana ini akan digunakan untuk membiayai kegiatan komunitas kedepannya.

Dewan Penasihat juga memberikan komando atau arahan kepada Koordinator Wilayah yang terbagi menjadi 2 wilayah. Koordinator Wilayah 1 mengawasi dan menyampaikan komando/arahan dari Dewan Penasihat kepada para Koordinator Lapangan bagian Utara, Selatan, dan Tengah Bandung. Begitu juga dengan Koordinator Wilayah 2 yang menyampaikan komando/arahan kepada Koordinator Lapangan bagian Barat dan Timur Bandung. Komando/arahan yang disampaikan Koordinator Wilayah kemudian di teruskan oleh Koordinator Lapangan kepada para anggota KOMBO di seluruh Bandung.

1.2 Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang senang hidup berkelompok. Manusia dapat berkembang sebagai manusia seutuhnya apabila dia hidup dalam suatu kelompok sosial dan berinteraksi dengan manusia lainnya. Kelompok sosial dapat terbentuk melalui beberapa faktor antara lain adanya kesamaan tujuan, kesamaan lingkungan, dan kesamaan minat (http://www.marketeers.com). Salah satu tipe kelompok sosial yang dapat terbentuk adalah komunitas. Secara umum, suatu komunitas terbentuk karena kesamaan minat antar anggotanya yang dibatasi oleh geografis

(5)

5 tertentu misalkan negara, pulau, dan provinsi (http://sosbud.kompasiana.com). Fakta diatas diperkuat oleh Wilbur J.Peak (dalam Iriantara, 2007:22), komunitas bukan sekedar kumpulan orang yang tinggal pada lokasi yang sama, komunitas itu juga bisa merupakan unit sosial yang terbentuk disebabkan oleh adanya interaksi diantara mereka. Dari beberapa fakta dan teori diatas dapat dikatakan pentingnya keberadaan sebuah komunitas. Komunitas dapat menjadi wadah bagi seseorang untuk saling berinteraksi dengan sesamanya. Dengan adaya interaksi tersebut dapat mengembangkan dirinya agar menjadi manusia seutuhnya. Berdasarkan kesimpulan diatas, keberadaan komunitas khususnya di Indonesia sendiri patut menjadi perhatian.

Keberadaan komunitas di Indonesia saat ini sudah berkembang dengan sangat pesat, salah satu penggerak terbentuknya komunitas di Indonesia adalah anak-anak muda, Dimana anak-anak muda merupakan generasi penerus bangsa. Komunitas yang berkembang saat ini dapat menciptakan bibit-bibit baru generasi bangsa Indonesia untuk menciptakan Indonesia menjadi lebih baik dan lebih berkembang. Komunitas dapat menyediakan tempat untuk anak muda saling berinteraksi dengan sesamanya dan terkadang suatu komunitas dapat menghasilkan ide-ide kreatif dan inovatif yang bertujuan untuk membangun Indonesia. Diharapkan kedepannya berbagai komunitas bisa terus melakukan inovasi untuk membuat suatu terobosan-terobosan baru sehingga bisa menjadi tren di daerah masing-masing. (http://muda.kompasiana.com).

Perkembangan komunitas yang sangat pesat di Indonesia juga berdampak pada perkembangan komunitas di kota Bandung. Jumlah komunitas di kota Bandung sangat banyak, bisa dikatakan bahwa kota Bandung adalah kota yang memiliki jumlah komunitas paling banyak di Indonesia. Beragam bentuk dan jenis komunitas bisa ditemui di kota ini dengan sangat mudah. Mulai dari komunitas-komunitas kecil yang berhubungan dengan hobi dan minat/kesukaan sampai dengan komunitas besar yang dibentuk atas tujuan tertentu (http://www.sebandung.com).

(6)

6 Terkait jumlah, pada Tabel 1.1 dapat dilihat jumlah komunitas dan organisasi yang terdaftar di Kota Bandung.

Tabel 1.1

Komunitas dan Organisasi Yang Terdaftar pada DISPORA dan DISBUDPAR Kota Bandung

No Jenis Organisasi dan Komunitas Jumlah

1. Grup Kesenian 565

2. Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) 83

3. Organisasi Kepelajaran 464

4. Organisasi Mahasiswa 110

5. Organisasi kepemudaan lainnya / Komunitas 177

Total 1399

Sumber : Dinas Pemuda dan Olahraga serta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (2014)

Tabel 1.1 menunjukkan jumlah organisasi dan komunitas yang terdaftar pada Dinas Pemuda dan Olahraga (DISPORA) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (DISBUDPAR) adalah sebanyak 1399. Bisa dilihat bahwa 177 diantaranya adalah komunitas. Dengan jumlah yang banyak, komunitas di kota Bandung merupakan aset yang harus didukung dan dikembangkan agar mempunyai tujuan positif untuk berperan membangun kota Bandung. Apalagi mayoritas anggota komunitas adalah anak muda dimana mereka masih mencari aktualisasi diri melalui interaksi dalam komunitas. Salah satu jenis komunitas yang berkembang pesat di kota Bandung adalah komunitas yang dibentuk atas dasar kesamaan hobi/minat. Jenis komunitas ini meliputi berbagai macam aspek seperti olahraga, seni, dan otomotif. Salah satu jenis komunitas otomotif adalah komunitas motor (http://muda.kompasiana.com).

Khusus komunitas motor, perkembangan komunitas ini berkembang dengan pesat di Indonesia. Hal ini sejalan dengan penjualan sepeda motor di Indonesia yang merupakan pangsa pasar yang terbesar di Asia. Menurut

(7)

7 data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang dapat dilihat pada Tabel 1.2, terjadi peningkatan penjualan sepeda motor dalam kurun waktu 3 tahun terakhir mulai dari tahun 2012 sampai tahun 2014.

Tabel 1.2

Penjualan Sepeda Motor Indonesia Tahun 2010-2014

No. Tahun Jumlah Penjualan Sepeda Motor

Indonesia 1. 2010 7.369.249 2. 2011 8.012.540 3. 2012 7.064.457 4. 2013 7.743.879 5. 2014 7.867.195 Sumber : http://www.aisi.or.id/statistic/

Perkembangan jaman yang begitu cepat menuntut masyarakat untuk mempunyai alat transportasi dengan tingkat mobilitas yang tinggi dan sepeda motor menjadi pilihan utama bagi sebagian masyarakat di Indonesia. Peningkatan penjualan sepeda motor menyebabkan jumlah sepeda motor di Indonesia pun semakin bertambah. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Firman Mas’udi pada tahun 2014 menyatakan bahwa salah satu penyebab meningkatnya jumlah kendaraan bermotor adalah banyaknya showroom motor resmi yang menawarkan berbagai macam produk sepeda motor dengan penawaran pembelian secara kredit tanpa uang muka atau dengan uang muka yang sangat terjangkau.

Masih menurut penelitian yang dilaukan oleh Firman Mas’udi, menyatakan bahwa peningkatan kepemilikan sepeda motor oleh kalangan muda dan dewasa memicu beberapa orang untuk membentuk komunitas yang berawal dari kesamaan dan kecintaan terhadap tipe motor yang dimiliki. Menurut jurnal yang disusun oleh Dian Ady Ningsih pada tahun 2014, menyatakan bahwa pada saat ini kepemilikan sepeda motor tidak hanya didasari oleh kegunaannya untuk mempercepat waktu tempuh

(8)

8 perjalanan. Sepada motor dengan berbagai macam model menjelma menjadi semacam identitas yang dianggap mewakili para penggunanya. Berdasarkan pemahaman tersebut berakibat muncul dan berkembang berbagai macam komunitas sepeda motor dengan karakteristik atau ciri yang berbeda-beda.

Peningkatan jumlah sepeda motor di Indonesia berdampak ke seluruh wilayah, tak terkecuali di Bandung, menurut Kepala Seksi Manajemen dan Rekayasa Lalulintas Dishub Kota Bandung Bapak Yudhiana “saat ini (tahun 2014), setidaknya ada 1,25 juta kendaraan bermotor di Kota Bandung. Dari jumlah tersebut sekitar 94% nya adalah kendaraan pribadi, terkait jumlah sepeda motor, terdapat sekitar 895 ribuan unit atau sekitar 72% dari total komposisi kendaraan bermotor di Bandung” (http://log.viva.co.id/). Dengan jumlah sepeda motor yang mendominasi jalan-jalan di Kota Bandung dan juga adanya kesamaan minat dan pemahaman mengenai sepeda motor, berakibat banyak bermunculan komunitas-komunitas yang berhubungan dengan sepeda motor di Kota Bandung.

Komunitas motor mendominasi jumlah komunitas yang terdaftar di Kota Bandung. Menurut data yang dihimpun dari Dinas Pemuda dan Olahraga Tahun 2014, jumlah komunitas otomotif yang terdaftar adalah sebanyak 69 komunitas. Dari jumlah ini 67 di antaranya adalah komunitas motor. Tabel 1.3 menunjukkan jenis-jenis komunitas beserta jumlahnya yang berada di Kota Bandung menurut data dari Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Tahun 2014.

Tabel 1.3

Komunitas yang terdaftar pada DISPORA Kota Bandung 2014

No. Jenis Komunitas Jumlah

1. Komunitas Film dan Foto 18

2. Komunitas Kesenian dan Budaya 22

3. Komunitas Kreatif 5

4. Komunitas Otomotif 69

5. Komunitas Peduli Lingkungan 6

(9)

9

6. Komunitas Pendidikan 5

7. Komunitas Pecinta Hewan 6

8. Komunitas Sepeda 3

9. Komunitas Sosial 19

10. Komunitas Teknologi 6

11. Komunitas Lainnya 18

Total 177

Sumber : Data Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung Tahun 2014 Berkembangnya komunitas motor di Kota Bandung patut menjadi perhatian pemerintah Kota Bandung untuk dapat terus didukung agar memiliki kontribusi untuk membangun kota Bandung. Mengingat salah satu penggerak komunitas adalah anak-anak muda yang merupakan generasi penerus bangsa (http://muda.kompasiana.com). Salah satu komunitas yang terbentuk berdasarkan kesamaan minat/hobi di Kota Bandung adalah Komunitas Motor Box Bandung (KOMBO Bandung)

KOMBO Bandung adalah komunitas yang terbentuk atas dasar kesamaan minat/hobi yaitu pecinta box motor. KOMBO Bandung adalah komunitas yang sudah berdiri lebih dari 1 tahun lalu yaitu pada tanggal 5 Januari 2014 dan masih tergolong komunitas baru yang jika dilihat dari struktur dan jumlah anggota. Terdapat masalah dan tantangan yang dihadapi diantaranya belum ada teknis pendataan anggota yang pasti sehingga jumlah anggota KOMBO Bandung yang terdaftar masih mengikuti jumlah anggota yang hadir dalam kopdar setiap hari Minggu sore. Komunikasi antar anggota pun belum terjalin dengan baik, hal ini disebabkan karena ketika kopdar (kopi darat) para anggota sering membentuk grup-grup kecil sehingga komunikasi dengan anggota lain kurang terjalin dengan baik. Selanjutnya, karena masih tergolong komunitas baru, KOMBO Bandung belum terdaftar di Dinas Pemuda dan Olahraga sehingga KOMBO belum mendapatkan pemberdayaan dari dinas terkait. Kegiatan pemberdayaan yang dilakukan seperti pemberian pelatihan teknis berkendara yang baik (Safety Riding), pelatihan otomotif mesin dan pengembangan moral.

(10)

10 Tantangan lain yang dihadapi adalah KOMBO Bandung belum memiliki kegiatan rutin yang bertujuan untuk membangun kota Bandung. (Wawancara dengan pengurus KOMBO Kang Deden, 3 Februari 2015).

Dengan adanya masalah dan tantangan tersebut, diharapkan tidak membuat KOMBO Bandung yang merupakan KOMBO pertama di Indonesia mengalami penurunan dan terhambat perkembangannya. Oleh karena itu, diperlukan analisis kajian faktor eksternal dan internal komunitas KOMBO sehingga komunitas mengetahui aspek-aspek dalam organisasi yang harus ditingkatkan atau dipertahankan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu Komunitas Motor Box (KOMBO) Bandung menemukan aspek dalam komunitas yang harus ditingkatkan dan diperhatikan. Informasi mengenai aspek tersebut diperoleh dari analisis faktor eksternal dan faktor internal komunitas yang meliputi peluang, ancaman, kekuatan dan kelemahan.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka peneliti bermaksud melakukan penelitian dengan judul “Kajian Kondisi Eksternal dan Internal Komunitas Motor Box (KOMBO) Bandung tahun 2015”.

1.3 Perumusan Masalah

Berdasarkan penjelasan dari latar belakang diatas, maka perumusan masalah yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana kondisi faktor eksternal Komunitas Motor Box Bandung saat ini ?

2. Bagaimana kondisi faktor internal Komunitas Motor Box Bandung saat ini ?

3. Apa saja faktor Strenght, Weakness, Opportunity, dan Threats yang dimiliki Komunitas Motor Box Bandung saat ini?

(11)

11 1.4 Tujuan Penelitian

Berdasarkan penjelasan latar belakang dan perumusan masalah, Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui kondisi faktor eksternal Komunitas Motor Box Bandung

2. Untuk mengetahui kondisi faktor eksternal Komunitas Motor Box Bandung

3. Untuk mengetahui faktor Strenght, Weakness, Opportunity, dan Threats Komunitas Motor Box Bandung saat ini

1.5 Kegunaan Penelitian

Penulis berharap hasil penelitian ini dapat memberikan manfaat dan kegunaan, baik dari sisi kegunaan secara teoritis dan praktis.

a. Kegunaan Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna untuk memberikan referensi dan sumbangan pemikiran mengenai komunitas KOMBO Bandung kepada pihak-pihak sebagai berikut :

1. Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk penelitian-penelitian selanjutnya yang mengangkat tema tentang komunitas motor.

2. Hasil peneltian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan pertimbangan untuk masyarakat apabila ingin bergabung dengan komunitas motor khususnya Komunitas KOMBO Bandung.

b. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan informasi dan saran kepada Komunitas Motor Box (KOMBO) Bandung mengenai :

(12)

12 1. Kondisi lingkungan eksternal dan internal komunitas saat ini. Pembahasan penelitian dilakukan secara detail berdasarkan aspek-aspek eksternal dan internal yang mempengaruhi dan dimilki oleh komunitas. Sehingga dari informasi ini komunitas dapat menyusun langkah kedepan untuk mengembangkan komunitas menjadi lebih baik.

2. Penelitian ini juga memberikan langkah strategi yang dapat diimplementasikan oleh komunitas KOMBO Bandung agar berkembang menjadi lebih baik berdasarkan kajian kekuatan dan kelemahan yang dimiliki serta ancaman dan peluang yang mempengaruhi komunitas.

1.6 Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran dan penjelasan mengenai penelitian agar mempermudah pembaca untuk memahamis isi dari penelitian yang dilakukan, maka disusun sistematika penulisan berisi informasi-informasi mengenai materi dan pembahasan pada setiap bab. Adapun sistematika penulisan penelitian disusun sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan dan dipaparkan mengenai gambaran umum dari objek penelitian, latar belakang penelitian, rumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, lingkup dari penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini dijelaskan tentang kajian pustaka mengenai teori-teori yang berkaitan dengan permasalahan, serta literatur yang berkaitan dengan penelitian. Pada bab ini meliputi landasan teori, penelitian terdahulu dan kerangka pemikiran.

(13)

13 BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai metode penelitian, pendekatan serta teknik-teknik yang digunakan dalam mengumpulkan, mengolah data dan menganalisis data sehingga bisa menjawab dan menganalisis permasalahan penelitian.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini dipaparkan tentang hasil dari penelitian dan pengolahan data beserta pembahasan secara sistematis sesuai dengan ruang lingkup penelitian dan sesuai dengan tujuan dari penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Pada bab ini berisi tentang kesimpulan serta saran atas hasil dari penelitian, baik itu saran untuk perusahaan / komunitas yang diteliti maupun saran untuk penelitian selanjutnya.

Figur

Memperbarui...

Related subjects :