commit to user
45
BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Lokasi Penelitian dan Kondisi Umum Kualitas Air Limbah
Penelitian ini terletak di Perumahan Mutihan RT 03/ RW X, Sondakan, Laweyan, Surakarta, seperti pada Gambar 4.1. menunjukkan peta lokasi penelitian. Penelitian ini dilakukan pada salah satu rumah dan tidak dilakukan secara komunal. Cara pemenuhan kebutuhan pada perumahan ini adalah dengan menggunakan air Pam. Pemrosesan kembali air limbah rumah tangga ini diharapkan dapat digunakan kembali sebagai kebutuhan air non-potable sehingga dapat memanfaatkan, menjaga dan menghemat kebutuhan air.
Limbah rumah tangga pada penelitian ini meliputi air buangan bekas cucian, peralatan dapur dan air kamar mandi. Sumber limbah rumah tangga dapat dilihat pada gambar berikut ini:
commit to user
Gambar 4.4. Sumber Limbah Rumah Tangga Air Kamar Mandi
4.1.1. Kondisi Kualitas Air Limbah
Penelitian ini membuktikan bahwa air limbah mengandung bahan-bahan organik dan deterjen, keberadaan kandungan tersebut dapat dilihat dalam hasil pengujian yang diambil pada 30 Oktober 2015 pada Tabel 4.1.Hasil pengolahan air limbah diujikan di Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit di Yogyakarta.
Tabel 4.1. Kondisi Kualitas Air Limbah Sebelum dilakukan Pengolahan
No Parameter Satuan Hasil Uji Metode Uji
1 pH - 8.0 SNI 06-6989.11-2004 2 Suhu oC 24 SNI 06-6989.23-2005 3 DHL mmhos/cm 778 SNI 06-6989.1-2004 4 BOD mg/L 64 SNI 6989.72-2009 5 COD mg/L 163 SNI 6989.2-2009 6 TSS mg/L 22 In House Methode 7 TDS mg/L 380 In House Methode 8 Deterjen mg/L 0.4998 SNI 06-6989.51-2005
commit to user
Kandungan bahan organik yang terdapat pada air limbah rumah tangga di Perumahan Mutihan RT 03/RW X, Sondakan, Laweyan, Surakarta dengan konsentrasi awal tertinggi untuk BOD sebesar 105,02 mg/L (pada Tabel 4.2.) dan COD sebesar 162,5 mg/L (pada Tabel 4.1). Dalam Supradata (2005) merupakan air limbah dengan tingkat pencemaran sedang, besarnya kandungan BOD dan COD dalam air limbah tersebut dapat dipahami, mengingat bahwa limbah domestik tersebut hanya berasal dari kegiatan domestik (penghuni perumahan), dalam pengertian bahwa dari lokasi tersebut tidak terdapat berbagai aktivitas usaha yang potensial menimbulkan polutan bahan organik dalam jumlah yang besar dan atau dengan konsentrasi yang cukup tinggi, seperti: pasar, pusat pertokoan/ mall ataupun rumah makan (restaurant). Limbah rumah tangga di Mutihan ini termasuk kategori gray water, yaitu air limbah berasal dari buangan dapur dan kamar mandi, yang pada umumnya tidak mengandung polutan dengan konsentrasi yang cukup tinggi.
Peraturan Menteri Nomor 05 Tahun 2014 tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik, telah mempersyaratkan bahwa batas kandungan BOD dalam air limbah domestik adalah 100 mg/L. Berdasarkan hal tersebut, maka air limbah rumah tangga di Mutihan masih perlu dilakukan pengolahan sehingga kualitas air limbah yang akan dibuang ke perairan umum dapat memenuhi baku mutu yang dipersyaratkan. Polutan dalam limbah rumah tangga pada Perumahan Mutihan RT 03/X, Sondakan, Laweyan, Surakarta sebagian besar berupa bahan organik, dengan tingkat pencemaran yang relatif sedang dan debit limbah yang relatif sedikit dan tidak tetap/ fluktuatif, maka sistem pengolahan limbah dapat menggunakan sistem yang sederhana, namun dapat mengakomodasi variasi debit limbah yang ada. Sistem pengolah limbah tersebut dapat terpelihara dengan baik, maka diperlukan sistem pengolah limbah yang mudah dan murah operasionalnya. Salah satu alternatif sistem tersebut adalah sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan Horizontal (HSSF-Wetlands).
commit to user
dan tanaman air dalam mengolah limbah sehingga kinerja sistem pengolah limbah ini akan sangat dipengaruhi oleh kondisi suhu dan pH larutan limbah, karena kedua parameter tersebut merupakan faktor pembatas kehidupan mikroorganisme air.
Hasil penelitian menunjukkan, bahwa suhu air limbah pada saat awal penelitian sebesar 24,2 oC untuk air limbah pagi hari, dengan pH limbah = 8,0 (air limbah pagi hari). Kondisi pH limbah yang relatif netral, maka sangat menunjang untuk proses pengolahan dengan mikroorganisme, karena tidak perlu melakukan proses netralisasi guna memperoleh kondisi pH ideal untuk pertumbuhan mikroorganisme, sehingga dapat menekan biaya pengolahan air limbah tersebut. Kondisi suhu air limbah tersebut relatif normal dari rata-rata suhu air diperairan tropis (25 oC).
4.1.2. Perhitungan Luas Kolam untuk Tampungan Grey Water
Sesuai hasil analisis perbandingan perhitungan penggunaan tampungan grey water yang digunakan untuk pemanfaatan non potable maka didapatkan hasil perhitungan kebutuhan air baku dan perhitungan dimensi kolam tampungan di Mutihan RT 03/ XI, Sondakan, Laweyan, Surakarta sebagai berikut :
1. Jumlah Kebutuhan Air Baku
Jumlah Penghuni Rumah = 4 orang
Kebutuhan air rata-rata = 120 liter/hari (Standar Direktorat Jenderal Cipta Karya, Departemen Pekerjaan Umum (PU))
Kebutuhan air baku perhari = Jumlah jiwa x kebutuhan air rata-rata
= 4 x 120 liter/hari
= 480 liter/hari
2. Volume Kolam Tampungan Grey Water Volume = panjang x lebar x tinggi
= 1,35 m x 0,55 m x 1 m = 0,743 m3 > 0,48 m3
Hasil perhitungan diatas telah didapatkan volume yang dibutuhkan untuk menampung air limbah rumah tangga sebesar 0,743 m3, sedangkan jumlah kebutuhan air baku sebesar 0,48 m3. Kolam penampung memenuhi perhitungan sesuai dengan air limbah yang ditampung. Kolam tampungan grey water berada di bawah permukaan tanah seperti pada bak kolam yang lain. Menurut penelitian sebelumnya dalam Supradata, 2005 penempatan kolam lahan basah buatan lebih efektif jika diletakkan di bawah permukaan tanah.
4.2. Sistem Pengaliran Grey water
Sistem pengaliran pada lahan basah buatan (constructed weatlands) yang berasal dari limbah rumah tangga yang terdiri dari air limbah kamar mandi, air limbah cucian dan cucian dapur dialirkan pada bak penampungan pertama atau kolam 1 yang berisikan bak pengendapan dan disaring untuk memisahkan air dari suspensi limbah. Air limbah dipompa kemudian dialirkan pada lahan basah buatan atau
construsted wetlands yang berisi kerikil, pasir dan tanaman bintang air, diolah
selama 24 jam. Endapan air limbah yang sudah terolah disaring terlebih dahulu dengan kerikil pada bagian terakhir bangunan tersebut terdapat pada bak tampungan sebelum dialirkan kembali pada bak penampungan terakhir. Kolam ke -3 yang berisi tampungan air hasil olahan dari lahan basah buatan dengan cara gravitasi sehingga tidak perlu memerlukan pompa dalam pengaliranya.
commit to user
Lahan basah buatan (constructed weatlands) ini terdiri dari tiga bagian yaitu kolam 1 untuk menampung limbah grey water dengan kapasitas 0,7425 m3. Kolam 2 adalah bangunan utama constructed wetlands dengan kapasitas dalam kolam ini adalah 0,875 m3. Kolam 3 sebagai enampung air hasil olahan, dengan kapasitas pada kolam ini mencapai 0,66 m3, berikut ini adalah gambar dan foto bak-bak dalam lahan basah buatan (constructed weatlands)
Gambar 4.5. Desain Bangunan Lahan Constructed Wetland Tampak Atas dan Foto Constructed Wetland
Gambar 4.6. Desain Potongan A-A Bangunan Lahan Constructed Wetland
Gambar 4.7. Desain Potongan B-B Bangunan Lahan Constructed Wetland
60 cm 30 cm 30 cm
commit to user
Gambar 4.8. Kolam 1 Sebagai Bak Penampung dan Penyaring Grey Water Tampak Depan
Gambar 4.9. Kolam 2 Sebagai Bangunan Utama (constructed wetland) Tampak Depan
Gambar 4.10. Kolam 3 Sebagai Bak Penampung Air Olahan Tampak Depan
4.3. Proses Pengujian
Tanaman Bintang Air sebelum dilakukan pengolahan harus diadaptasikan selama 30 hari dengan proses aklimatisasi, seperti yang telah dijelaskan pada Bab 3, setelah proses aklimatisasi selesai maka lahan basah buatan sudah siap untuk dijadikan bak pengolahan.
Air limbah hasil pengolahan dari lahan basah buatan, diendapkan dalam selama 24 jam. Sampel air limbah yang pertama diolah pada Jumat, 27 November 2015 pada pukul 10.00 WIB, sebelumnya diambil sampel pertama pada saluran inlet sebanyak 1,5 liter. Air limbah didiamkan selama 24 jam sehingga pukul 10.00 WIB air limbah diambil dari saluran outlet sebanyak 1,5 liter. Air limbah dan air hasil pengolahan disimpan dalam lemari pendingin dengan suhu 1-3 oC. Lahan basah buatan kemudian dibersihkan dan didiamkan selama 24 jam dengan cara mengalirkan air bersih ke dalam lahan basah tersebut. Air limbah diolah kembali pada hari Minggu, 29 November 2015 dengan cara yang sama dengan sebelumnya.
commit to user
Hasil pengolahan air limbah yang menginap di lemari pendingin dibawa untuk diujikan ke Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit di Yogyakarta.
Air limbah rumah tangga ini diolah kembali dengan menggunakan lahan basah buatan dan dengan cara yang sama pada hari Rabu, 2 Desember 2015, sehingga pengujian kembali dilakukan pada hari Jumat, 4 Desember 2015. Hasil laboratorium/ pengujian air limbah di terima setelah 4 minggu pengujian. Hasil laboratorium/ pengujian air limbah dapat dilihat pada Bab Lampiran.
Mengacu dari hasil penelitian terdahulu (Sobriyah dkk, 2015) bahwa waktu tinggal optimal untuk proses pengolahan air limbah rumah tangga dengan sistem
SSF-wetlands berlangsung dalam 1 hari.
Berdasarkan waktu tinggal optimal tersebut, maka penggunaan tanaman hias jenis Bintang Air memiliki efektivitas/ kinerja yang tidak jauh berbeda dengan jenis tanaman yang telah umum digunakan dalam SSF- Wetlands, seperti jenis
Cattail, sehingga tanaman hias jenis Bintang Air cukup baik apabila digunakan
pengolahan air limbah rumah tangga sistem SSF-Wetlands.
4.4. Data Parameter Uji
Penelitian yang dilakukan ini adalah proses pengolahan air limbah rumah tangga dengan sistem lahan basah buatan tipe aliran bawah permukaan horizontal terhadap air limbah domestik yang berasal dari kegiatan rumah tangga (mencuci, mandi & buang air kecil). Air limbah yang digunakan untuk penelitian ini diambil pada pagi hari (pukul 09.00 WIB) dan pada pukul 10.00 WIB yang ditempatkan pada masing-masing bak reaktor secara terpisah.
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap parameter uji (BOD, TSS dan Deterjen), maka terjadi penurunan konsentrasi parameter uji dengan rincian untuk masing– masing parameter uji sebagaimana tersaji pada Tabel 4.2. berikut ini :
commit to user
Tabel 4.2. Penurunan Kadar BOD, TSS dan Deterjen
Penurunan konsentrasi pencemar dapat terlihat dari kondisi fisik air limbah. Kondisi fisik influen lahan basah buatan terlihat keruh berwarna putih seperti air susu, sedangkan kondisi efluen lahan basah buatan terlihat lebih bening.
4.5. Analisis Penurunan BOD
Kebutuhan oksigen biologi atau Biochemical Oxygen Demand (BOD) didefinisikan sebagai banyaknya oksigen yang diperlukan oleh organisme pada saat pemecahan bahan organik, pada kondisi aerobik. Bahan organik ini digunakan oleh organisme sebagai bahan makanan dan energinya diperoleh dari proses oksidasi. BOD merupakan parameter yang memperlihatkan besarnya oksigen yang dibutuhkan oleh mikroba untuk menguraikan bahan organik dalam proses dekomposisi secara biokimia. Pada prinsipnya BOD merupakan indikator dalam mengetahui kandungan bahan organik di perairan, semakin tinggi nilai BOD maka semakin tinggi zat pencemar organik yang terkandung dalam air tersebut.
Berdasarkan data hasil penelitian sebagaimana tersaji pada Tabel 4.1. ditas, terdapat perbedaan konsentrasi parameter BOD antara kualitas air limbah inlet dan outlet pada Tabel 4.3. berikut,
Waktu Tinggal
(hari) inlet outlet inlet outlet inlet outlet
1 30-Okt-15 64,2 - 22 - 0,4998 -2 27-Nov-15 28,21 10,7 14 7 0,2458 0,0542 3 29-Nov-15 105,2 8,2 70 8 56,2525 1,07820 4 02-Des-15 25,2 9,2 12 9 0,2971 0,0839 5 04-Des-15 27,2 8,2 22 1 36,3360 0,5791 Deterjen No. BOD TSS
commit to user
Tabel 4.3. Efisiensi Prensentasi Penurunan BOD
Grafik 4.1. Efisiensi Prensentasi Penurunan BOD
Berdasarkan tabel dan grafik di atas maka didapatkan bahwa efisiensi penurunan konsentrasi BOD dijelaskan sebagai berikut:
BOD dari inlet tertinggi adalah pada sampel percobaan ke-3 = 105,2
Efisiensi BOD hasil pengolahan tertinggi adalah pada sampel \percobaan ke- 3 =92,21 %
Rata-rata efisiensi dari pengolahan constructed wetland = 71,91%
Waktu Tinggal
Efisiensi
(hari)
inlet
outlet Penurunan (%)
1
30-Oct-15
64.2
-
-2
27-Nov-15
28.21
10.7
62.07
3
29-Nov-15
105.2
8.2
92.21
4
2-Dec-15
25.2
9.2
63.49
5
4-Dec-15
27.2
8.2
69.85
71.91
Rata-Rata
No.
BOD
Hasil pengolahan dengan lahan basah buatan (constructed weatlands) bahwa kandungan BOD tertinggi dari 105,2 mg/L menjadi 8,2 mg/L adalah memenuhi syarat Permen No 05/2014, nilai yang disyaratkan 100 mg/L. Penurunan konsentrasi bahan organik dalam sistem wetlands terjadi karena adanya mekanisme aktivitas mikroorganisme dan tanaman, melalui proses oksidasi oleh bakteri aerob yang tumbuh disekitar rhizosphere tanaman maupun kehadiran bakteri heterotrof di dalam air limbah.
4.6. Analisis Penurunan TSS
Zat Padat Tersuspensi (TSS) berhubungan erat dengan erosi tanah. Total padatan tersuspensi merupakan bahan-bahan tersuspensi (diameter >1µm yang tertahan pada saringan dengan diameter pori 0,45 µm. TSS terdiri atas lumpur dan pasir halus serta jasad-jasad renik terutama yang disebabkan oleh kikisan tanah atau erosi yang terbawa ke dalam badan air. Padatan ini terdiri dari senyawa- senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air, mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TSS adalah bahan anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air, misalnya pada air buangan rumah tangga (Sugiharto, 1987 dalam Supradata, 2005).
Berikut disajikan Tabel 4.4. Hasil Efisiensi Untuk Penurunan TSS berdasarkan hasil penelitian pada air limbah rumah tangga adalah sebagai berikut :
commit to user
Tabel 4.4. Efisiensi Prensentasi Penurunan TSS
Grafik 4.2. Efisiensi Prensentasi Penurunan TSS
Berdasarkan tabel dan grafik di atas maka didapatkan bahwa efisiensi penurunan konsentrasi TSS dijelaskan sebagai berikut:
TSS dari inlet tertinggi adalah pada sampel percobaan ke-3 = 70
Efisiensi TSS hasil pengolahan tertinggi adalah pada sampel \percobaan ke- 5 =95,45 %
Rata-rata efisiensi dari pengolahan constructed wetland = 64,76 %
Waktu Tinggal
Efisiensi
(hari)
inlet
outlet Penurunan (%)
1
30-Oct-15
22
-
-2
27-Nov-15
14
7
50.00
3
29-Nov-15
70
8
88.57
4
2-Dec-15
12
9
25.00
5
4-Dec-15
22
1
95.45
64.76
No.
TSS
Rata-Rata
commit to user
Nilai TSS sebelum dilakukan pengolahan sudah memenuhi syarat 100 mg/L sesuai dengan Permen No 05/2014. Hasil pengolahan dengan lahan basah buatan
(constructed weatlands) bahwa kandungan TSS tertinggi dari 70 mg/L menjadi
8,0 mg/L. Efisiensi penyisihan kandungan air limbah menunjukkan rata-rata 64,76%. Perbedaan laju penurunan TSS pada tiap-tiap reaktor dapat terjadi, akibat perbedaan porositas media yang dibentuk oleh sistem perakaran tanaman dalam reaktor. Telah diuraikan pada Bab 2, bahwa proses pengolahan air limbah dalam sistem Lahan Basah Buatan Aliran Bawah Permukaan tidak hanya terjadi proses biologis, namun juga terjadi proses secara fisik, baik itu melalui proses filtrasi maupun sedimentasi.
Penurunan debit air limbah ini akan memudahkan terjadinya proses sedimentasi partikel-partikel solid dalam air limbah. Sistem perakaran tanaman yang terbentuk dalam reaktor tidak tumbuh secara merata pada masing-masing reaktor, sehingga pola aliran air limbah tidak membentuk aliran sumbat yang sama untuk masing-masing reaktor. Mengingat kondisi tersebut, maka debit maupun pola aliran air limbah pada tiap reaktor akan dapat berbeda-beda, tergantung keseragaman ukuran media maupun sistem perakaran tanaman yang terbentuk, dengan demikian maka kecenderungan penurunan TSS pada masing- masing reaktor tidak dapat dibandingkan. Dari data hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadi penurunan konsentrasi TSS yang cukup besar pada sampel percobaan pertama sebanyak 50%, memperlihatkan kecenderungan yang sama dengan penurunan BOD. Pada sampel percobaan ke-3 penurunan TSS tidak terlalu signifikan, hanya sebesar 25%. Hal ini dikarenakan tercampurnya air limbah tersebut dengan padatan (lempung) yang dibawa oleh air hujan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka dapat diduga bahwa partikel–partikel solid yang terdapat dalam air limbah sebagian besar terbentuk dari bahan organik. Bahan organik yang berbentuk padatan akan tertahan dalam media HSSF Wetland melalui mekanisme filtrasi dan sedimentasi. Padatan yang tertahan dalam media, kemudian oleh bakteri akan didegradasi menjadi unsur yang lebih sederhana dan terlarut dalam air limbah. Penurunan bahan organik solid yang cukup besar akan berpengaruh terhadap
commit to user
4.7. Penurunan Kadar Deterjen
Deterjen berasal dari kegiatan pencucian piring dan gelas yang digunakan dalam kegiatan rumah tangga. Deterjen biasanya mengandung fosfor dalam bentuk
natrium tripolifosfat. Diperkirakan 3 – 40 % fosfor yang masuk ke perairan
berasal dari fosfat yang terdapat di dalam deterjen. Surfaktan merupakan bahan pembersih utama yang terdapat di dalam deterjen.
Pada masa sekarang surfaktan yang umum digunakan adalah linier alkil sulfonat (LAS). LAS merupakan surfaktan yang dapat dipecahkan oleh bakteri. Masalah utama yang ditimbulkan dalam penelitian ini adalah busa yang dihasilkannya dapat mengganggu lingkungan. Bahan pembentuk utama yang digunakan untuk membentuk deterjen adalah natrium tripolifosfat (Na5P3O10) Tingginya konsentrasi fosfat dalam air dapat menyebabkan kondisi lewat subur sehingga dapat meningkatkan perkembangan alga serta tanaman air. Deterjen dengan rantai pendek jauh lebih mudah diuraikan daripada deterjen dengan rantai panjang dan bercabang seperti Alkil Benzen Sulfonat. Deterjen dengan rantai panjang dan bercabang ini sangat sulit diuraikan secara alamiah sehingga akan menimbulkan masalah bagi lingkungan tempat ia dibuang. Dalam jumlah berlebih dan tidak dapat diuraikan dengan cepat, menjadikan deterjen sebagai bahan yang dianggap cukup potensial mencemari lingkungan.
Pencemaran akibat deterjen mengakibatkan timbulnya bau busuk. Bau busuk ini berasal dari gas NH3 dan H2S yang merupakan hasil proses penguraian bahan organik lanjutan oleh bakteri anaerob. Tingginya masukkan deterjen dalam perairan menyebabkan tingginya kandungan surfaktan. Lahan basah buatan (constructed weatlands) dapat digunakan untuk mengolah air limbah domestik. Sistem ini tidak hanya terfokus pada jenis limbah tertentu tetapi juga pada parameter khusus seperti linear alkyl benzens ulfonates (LAS).
Berdasarkan data hasil penelitian sebagaimana tersaji pada Tabel 4.5. di bawah, maka dapat diperoleh efektivitas dari sistem lahan basah buatan dalam mereduksi kandungan penurunan kadar deterjen dari air limbah rumah tangga.
Tabel 4.5. Efisiensi Prensentasi Penurunan Deterjen
Grafik 4.3. Efisiensi Prensentasi Penurunan Deterjen
Penggunan kadar deterjen dalam limbah rumah tangga mempengaruhi efisiensi penurunanya, apabila penggunaan deterjen yang masuk pada inlet sedikit maka pengolahan lahan basah buatan (constructed weatlands) akan mengolah deterjen dengan jumlah yang sedikit juga.
Waktu Tinggal
Efisiensi
(hari)
inlet
outlet Penurunan (%)
1
30-Oct-15
0.4998
-
-2
27-Nov-15
0.2458
0.0542
77.95
3
29-Nov-15
56.2525
1.0782
98.08
4
2-Dec-15
0.2971
0.0839
71.76
5
4-Dec-15
36.3360
0.5791
98.41
86.55
Rata-Rata
No.
Deterjen
commit to user
Penurunan kadar deterjen dalam air limbah rumah tangga dapat terjadi akibat tanaman Bintang Air yang menyerap fosfat sebagai nutrisi untuk hidup dan pertumbuhannya. Telah diuraikan dalam Bab 2 bahwa tanaman Bintang Air mampu menyerap fosfat sebesar 180 kg/ha/th. Pada Tabel 4.4. dan Grafik 4.3. terlihat bahwa terjadi reduksi yang cukup signifikan untuk nilai penurunan kadar deterjen dari air limbah, yaitu persentase reduksi rata-ratanya adalah 86,55% dengan persentase reduksi maksimum dapat mencapai 98,41%. Konsentrasi penurunan kadar deterjen influen air limbah sudah memenuhi baku mutu lingkungan saat masuk ke lahan basah buatan, hal ini dimungkinkan karena sedikitnya penggunaan sabun dalam kegiatan pencucian di rumah tersebut.
4.8. Efisiensi yang Diperoleh
Efisiensi yang diperoleh dari sistem lahan basah buatan (constructed weatlands) ini diperoleh dari besarnya jumlah air yang dapat dihemat karena digantikan oleh air olahan dari lahan basah buatan (constructed weatlands) ini. Secara rinci jumlah efisiensi yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Pompa aquarium (Power Liquide Filter WH-4300) = 35 watt Harga listrik = Rp 979/ KWH
Biaya oprasional = (35 x 12 x 979) : 1000 = Rp 420/ hari
= (jumlah air yang digunakan kembali x harga air) + biaya oprasional = ( 0,50 m3/hari x Rp 22.000/m3 ) + Rp 420/hari
= Rp 11.420/hari = Rp 342.600
commit to user
4.9. Rencana Anggaran Biaya Pembuatan Lahan Basah Buatan
(Constructed Weatlands), Perhitungan Volume Pekerjaan Dan
Durasi Pekerjaan
Perhitungan anggaran biaya pembuatan lahan basah buatan (constructed
weatlands) di Mutihan RT 03/ RW X, Sondakan, Laweyan, Surakarta.
Perhitungan ini menggunakan analisa biaya konstruksi yang disingkat dengan ABK, Standart Nasional Indonesia (SNI) dan harga upah minimum Kota Surakarta tahun 2015. Rencana anggaran biaya kolam lahan basah buatan
(constructed weatlands) keseluruhan adalah senilai Rp. 4.142.000,- dengan tipe konstruksi kolam constructed wetland terdiri 3 penampungan bak dari pasangan bata. Pembahasan rencana anggaran biaya (RAB) pembuatan kolam constructed
wetland akan dilampirkan pada Bab Lampiran. Berikut rincian perhitungan
volume dan Tabel 4.6 Rencana Anggaran Biaya kolam lahan basah buatan
(constructed weatlands) di Perumahan Mutihan RT 03/ RW X, Sondakan,
Laweyan, Surakarta :
Tabel 4.6. Rekapitulasi Pembuatan Kolam Constructed Wetland dan Media T : MUTIHAN RT 03/X, SONDAKAN, LAWEYAN, SURAKARTA
: 2015 I 1 10,00 m² Rp 7.810,00 Rp 78.100,00 2 3,75 m³ Rp 35.475,00 Rp 132.903,54 JUMLAH Rp 211.003,54 II 1 0,06 m³ Rp 5.752.879,00 Rp 345.172,74 4 Sloop beton bertulang 1,08 m³ Rp 93.853,65 Rp 101.361,94 JUMLAH Rp 446.534,68 III 1 12,35 m² Rp 204.477,90 Rp 2.525.302,07 2 12,35 m² Rp 36.949,09 Rp 456.321,24 2 12,35 m² Rp 52.050,33 Rp 642.821,55 JUMLAH Rp 3.168.123,62 IV 1 4 m' Rp 170.100,00 Rp 170.100,00 2 4 m' Rp 28.700,00 Rp 28.700,00 3 Pasangan Pipa Aquarium 3 m' Rp 4.000,00 Rp 12.000,00 4 1 unit Rp 105.000,00 Rp 105.000,00 JUMLAH Rp 315.800,00 Pasangan pipa PVC diameter 3/4"
Pemasangan Pompa Air Aquarium Pasangan pipa PVC diameter 3"
PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN
Pasangan bata merah 1pc : 5ps Plesteran 1pc : 5ps, tebal 15 mm Acian
PEKERJAAN BETON
Kolom beton praktis 10/10
PEKERJAAN INSTALASI PIPA DAN POMPA AIR
HSP RP
JUMLAH HARGA RP
PEKERJAAN PERSIAPAN, GALIAN DAN URUGAN
Pekerjaan persiapan lahan (lokasi pekerjaan)
VOLUME SATUAN
Pekerjaan galian tanah untuk tangki air
LOKASI
TAHUN ANGGARAN
commit to user
Berikut ini adalah perhitungan volume pekerjaan dari pembuatan constructed
wetland di Mutihan Rt 03/X, Sondakan, Laweyan, Surakarta:
I. Pekerjaan Persiapan
Pembersihan lahan
Volume Total = panjang x lebar = 4m x 2.5m = 10 m2
II. Pekerjaan Galian Tanah
Galian tanah = luas penampang
Kolam 1 (Tampungan Grey Water)
luas penampang = 1,5750 x 0,7750 = 1,221 m2 Galian Kolam 1 = 1,221 m2 x 1 m = 1,221 m3
Kolam 2 (Constructed Wetland)
luas penampang = 2,800 x 0,7250 = 2,030 m2 Galian Kolam 2 = 2,030 m2 x 0,7 m = 1,421 m3
Kolam 3 (Tampungan Air Bersih)
luas penampang = 1,425 x 0,7750 = 1,1044 m2 Galian Kolam 3 = 1,1044 m2 x 1 m = 1,1044 m3 \ 1 5.00 bh Rp 30,000.00 Rp 150,000.00 2 0.50 m³ Rp 350,000.00 Rp 175,000.00 3 6.00 bh Rp 7,500.00 Rp 45,000.00 4 0.40 m³ Rp 350,000.00 Rp 140,000.00 JUMLAH Rp 510,000.00 Ijuk Kerikil
Terbilang : Lima Ratus Sepuluh Ribu Rupiah Tanaman Bintang Air
Pasir Sungai
NO. BAHAN JUMLAH SATUAN HSP
RP
JUMLAH HARGA RP
commit to user
III. Pekerjaan Pemasangan Kolom
Kolom praktis 10 x 10 untuk dinding kolam
Volume = (panjang x lebar x tinggi) x ∑n = (0,10 x 0,10 x 1) x 6
= 0.06 m3
Sloop
Volume = tinggi x lebar x ∑panjang
= 0,2 x 0,12 x 12.35
= 0,2964
IV. Pekerjaan Pasangan Dinding dan Plesteran
a. Pasangan Bata Merah 1Pc : 5 Ps
Luas Dinding = Total panjang dinding tinggi dinding = 12,35m x 1m
= 12,35 m2
b. Pekerjaan Plesteran dan Pengacian
Volume = volume total pasangan batu bata x 1 = 12,35 m2 x 1
commit to user
V. Pekerjaan Instalasi Pipa dan Pompa Air
Pasang Pipa PVC Diameter 3” Panjang = 4 m
Pasang Pipa PVC Diameter 3/4” Panjang = 4 m
Pompa Aquarium Jumlah = 1 buah
Berdasarkan volume pekerjaan maka didapatkan durasi dan nilai bobot pekerjaan beserta kurva s, lama pengerjaan dalam pembuatan kolam lahan basah buatan ini adalah empat minggu, pembuatan lahan basah buatan ini dilaksanakan mulai tanggal 23 Agustus 2015, berikut ini adalah Tabel 4.7 Durasi Pekerjaan dan Nilai Bobot Pembuatan Lahan Basah Buatan dan Grafik 4.7 Kurva S
Tabel 4.7 Durasi Pembuatan dan Nilai Bobot Kolam Lahan Basah Buatan
Grafik 4.4. Grafik Kurva S
No Deskripsi Kegiatan Nilai Bobot (Rp.) Nilai Bobot (%) Durasi Bobot Tiap Minggu
1 Pekerjaan Persiapan, Galian dan Urugan Rp 211,003.54 5.09 1 5.09
2 Pekerjaan Beton Rp 446,534.68 10.78 1 10.78
3 Pekerjaan Pasangan dan Plesteran Rp 3,168,123.62 76.50 2 38.25
4 Pekerjaan Instalasi Pipa dan Pompa Air Rp 315,800.00 7.63 1 7.63
4,141,461.84
Rp 100.00
Total
Durasi Biaya Bobot
(Minggu) (Rp.) (%) 1 2 3 4
Pekerjaan Persiapan, Galian dan Urugan 1 Rp 211,003.54 5.09 5.09
Pekerjaan Beton 1 Rp 446,534.68 10.78 10.78
Pekerjaan Pasangan dan Plesteran 2 Rp 3,168,123.62 76.50 38.25 38.25 Pekerjaan Instalasi Pipa dan Pompa Air 1 Rp 315,800.00 7.63 7.63
TOTAL Rp 4,141,461.84 100.00
5.09 10.78 38.25 45.87 5.09 15.87 54.12 100.00
PRESTASI KUMULATIF
Kegiatan Minggu