BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Pengertian Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau
(RTH)
1. Pengertian Fasilitas Umum (FASUM)
Fasilitas umum adalah segala sarana dan prasarana yang di sediakan oleh pemerintah untuk masyarakat agar mencapai suatu kepentingan atau tujuan tertentu yaitu memudahkan masyarakat dalam melakukan pekerjaan atau aktifitas kegiatan sehari-hari.
Dikatakan “fasilitas umum” karena keberadaan wadah atau tempat ini bersifat mempermudah atau memperlancar terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan bersama dari kelompok atau komunitas tertentu, misalnya, di bidang keamanan, komunikasi, rekreasi, olahraga, pendidikan, kesehatan, administrasi publik, religius, dan sosial-budaya.
2. Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Ruang terbuka hijau adalah area memanjang/ jalur dan mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam (Peraturan Daerah Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sragen Tahun 2011-2031 pasal 1 ayat 52).
Proporsi 30 (tiga puluh) persen merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hidrologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ketersediaan udara bersih yang diperlukan masyarakat, serta sekaligus dapat meningkatkan nilai estetika kota. Untuk lebih meningkatkan fungsi dan proporsi ruang terbuka hijau di kota, pemerintah, masyarakat, dan swasta didorong untuk menanam tumbuhan di atas bangunan gedung miliknya (Undang – Undang
commit to user
Proporsi ruang terbuka hijau publik seluas minimal 20 (dua puluh) persen yang disediakan oleh pemerintah daerah kota dimaksudkan agar proporsi ruang terbuka hijau minimal dapat lebih dijamin pencapaiannya sehingga memungkinkan pemanfaatannya secara luas oleh masyarakat (Undang – Undang Penataan Ruang No 26 Tahun 2007 pasal 29 ayat 3).
Taman kota merupakan salah satu bentuk RTH yang banyak digunakan oleh masyarakat untuk melakukan berbagai macam aktivitas mulai rekreasi, olah raga maupun aktivitas yang bersifat pasif. Dengan semakin berkurangnya area lahan terbuka akibat beralih fungsi menjadi pemukiman maupun pemanfaatan lain di perkotaan menyebabkan kebutuhan akan ruang terbuka menjadi semakin tinggi. Perkembangan tersebut sungguh menjadikan taman kota sebagai bagian penting penduduk perkotaan, namun menjadi tidak bermanfaat saat penggunaan taman kota dibatasi.
Dalam konsep UU Penataan Ruang, taman kota merupakan bagian dari RTH publik. Lebih jelasnya Pasal 29 Ayat (1) UU Penataan Ruang menyebutkan bahwa Ruang terbuka hijau publik merupakan ruang terbuka hijau yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah kota yang digunakan untuk kepentingan masyarakat secara umum. Yang termasuk RTH publik, antara lain, adalah taman kota, taman pemakaman umum, dan jalur hijau sepanjang jalan, sungai, dan pantai. Yang termasuk ruang terbuka hijau privat, antara lain adalah kebun atau halaman rumah gedung milik masyarakat/swasta yang ditanami tumbuhan. (Edi Suharto, 2005).
2.1.1. Tujuan Penyelenggaraan Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
1. Tujuan Penyelenggaraan Fasilitas Umum (FASUM)
Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sragen Nomor 12 Tahun 2009 tentang Penyelenggaraan Fasilitas umum, tujuan diadakannya fasilitas umum antara lain :
1. Dalam rangka memberikan pelayanan untuk kepentingan umum, Pemerintah Daerah menyediakan fasilitas umum bagi masyarakat.
2. Setiap orang berhak menikmati dan memanfaatkan fasilitas umum yang disediakan oleh Pemerintah Daerah.
3. Untuk menjamin kenyamanan fasilitas umum, Pemerintah Daerah melalui kantor yang membidangi kebersihan dan pertamanan melakukan pemeliharaan terhadap fasilitas umum.
4. Setiap orang wajib menggunakan dan memanfaatkan fasilitas umum yang disediakan Pemerintah Daerah sesuai dengan fungsi dan peruntukannya bagi kepentingan umum.
2. Tujuan Penyelenggaraan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Peyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan, tujuan diadakannya RTH antara lain :
1. Menjaga ketersediaan lahan sebagai kawasan resapan air;
2. Menciptakan aspek planologis perkotaan melalui keseimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat;
3. Meningkatkan keserasian lingkungan perkotaan sebagai sarana pengaman lingkungan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih.
4. Menjaga keserasian dan keseimbangan ekosistem lingkungan perkotaan. 5. Mewujudkan kesimbangan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan di
perkotaan.
6. Meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan yang sehat, indah, bersih dan nyaman.
2.1.2. Fungsi Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Fasilitas Umum dan Ruang terbuka tidak dapat dipisahkan dari manusia baik secara psikologis, emosional, ataupun dimensional. Manusia berada didalam
commit to user
terbuka sebenarnya merupakan wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakat di wilayah tersebut. karena itu, Fasilitas umum dan ruang terbuka mempunyai kontribusi yang akan diberikan kepada manusia berupa dampak yang positif. Fungsi tersebut adalah sebagai berikut :
1. Fungsi Ekologis
Fasilitas umum dan ruang terbuka hijau (RTH) berfungsi ekologis merupakan satu bentuk Fasilitas umum dan RTH yang berlokasi, berukuran, dan berbentuk pasti dalam suatu wilayah kota untuk menjamin keberlanjutan suatu wilayah kota secara fisik. Secara ekologis Fasilitas umum dan RTH dapat berfungsi sebagai :
a. Penyegaran udara;
b. Menurunkan temperatur kota; c. Penyerap air hujan;
d. Pengontrol radiasi matahari; e. Pengendalian banjir;
f. Memelihara ekosistem tertentu; g. Meningkatkan kualitas air tanah;
h. Memberi jaminan pengadaan Fasilitas umum dan RTH menjadi bagian dari sistem sirkulasi udara (paru-paru kota).
2. Fungsi Sosial
a. Tempat bermain, berolah raga b. Tempat bersantai
c. Tempat komunikasi sosial
d. Tempat peralihan atau tempat menunggu
e. Memberikan cadangan ruang kota untuk keperluan darurat
f. Sebagai sarana penghubung antara satu tempat dengan tempat yang lain g. Sebagai pembatas atau jarak di antara massa bangunan
3. Fungsi Arsitektural/Estetika
Secara arsitektural, fasilitas umum dan RTH dapat meningkatkan nilai keindahan dan kenyamanan kota melalui keberadaan taman – taman kota, kebun – kebun bunga, dan jalur – jalur hijau di jalan – jalan kota.
a. Meningkatkan kenyamanan, memperindah lingkungan kota baik dari skala mikro: halaman rumah, lingkungan permukiman, maupun makro, landscap kota secara keseluruhan;
b. Menstimulasi kreativitas dan produktivitas warga kota; c. Pembentuk faktor keindahan arsitektural;
d. Menciptakan suasana serasi dan seimbang antara area terbangun dan tidak terbangun.
4. Fungsi Ekonomi
Sedangkan secara ekonomi melalui pengusahaan lahan – lahan kosong menjadi lahan pertanian/perkebunan (urban agriculture) dan pengembangan sarana wisata hijau perkotaan yang dapat mendatangkan wisatawan.
a. Sumber produk yang bisa dijual, seperti tanaman bunga, buah, daun, sayur mayur;
b. Bisa menjadi bagian dari usaha pertanian, perkebunan, kehutanan dan lain-lain.
2.1.3. Tipologi Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Fasilitas Umum dan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan, pengklasifikasikan fasilitas umum dan RTH yang ada sesuai dengan tipologi berikut :
1. Berdasarkan fisik
Berdasarkan fisik, fasilitas umum dan RTH dapat dibedakan menjadi : a. Fasilitas Umum dan RTH Alami
fasilitas umum dan RTH alami adalah dari habitat liar alami, kawasan lindung, dan taman-taman nasional.
commit to user
b. Fasilitas Umum dan RTH Non Alami/Binaan
Fasilitas umum dan RTH non alami/binaan adalah terdiri dari taman, lapangan olahraga, makam, dan jalur-jalur hijau jalan.
2. Berdasarkan struktur ruang
Berdasarkan struktur ruang, Fasilitas umum dan RTH dapat dibedakan menjadi :
a. Fasilitas umum dan RTH dengan pola ekologis
Merupakan fasilitas umum dan RTH yang memiliki pola mengelompok, memanjang, tersebar.
b. Fasilitas umum dan RTH dengan pola planologi
Merupakan Fasilitas umum dan RTH yang memiliki pola mengikuti hirarki dan struktur ruang perkotaan.
3. Berdasarkan segi kepemilikan
Berdasarkan segi kepemilikan, RTH dapat dibedakan menjadi : a. RTH Publik
b. RTH Privat
4. Berdasarkan fungsi
Berdasarkan fungsinya, Fasilitas umum dan RTH dapat berfungsi sebagai: a. Fungsi Ekologis
b. Fungsi Sosial Budaya c. Fungsi Arsitektural/Estetika d. Fungsi Ekonomi
2.1.4. Penyediaan Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Di Kawasan Perkotaan
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Fasilitas Umum dan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan dapat dikelompokan menjadi beberapa bagian, antara lain :
1. Penyediaan Fasilitas umum dan RTH berdasarkan kebutuhan fungsi tertentu Fungsi Fasilitas umum dan RTH pada kategori ini yaitu untuk perlindungan atau pengamanan, sarana dan prasarana misalnya melindungi kelestarian sumber daya alam, pengaman pejalan kaki atau membatasi perkembangan pengguna lahan agar fungsi utamanya tidak terganggu.
2. Penyediaan Fasilitas umum dan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
Fungsi Fasilitas umum dan RTH pada kategori ini untuk menentukan luas RTH berdasarkan jumlah penduduk dilakukan dengan mengalihkan antara jumlah penduduk yang dilayani dengan standar luas RTH perkapital sesuai peraturan yang berlaku.
commit to user
Berikut ini Tabel 2.1 merupakan tabel Penyediaan Fasilitas Umum dan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk
Tabel 2.1. Penyediaan Fasilitas Umum (FASUM) dan RTH Berdasarkan Jumlah Penduduk No . Unit Ling. Tipe RTH Luas Minimal/ Unit (m2) Luas Minimal/ Kapital (m2) Lokasi 1. 250 jiwa Taman RT 250 1,0 Di tengah lingkungan RT 2. 2500 jiwa Taman RW 1250 0,5 Di pusat kegiatan RW 3. 30000 jiwa Taman Kelurahan 9000 0,3 Dikelompokan dengan sekolah/ pusat kelurahan 4. 120000 jiwa Taman Kecamatan 24000 0,2 Dikelompokan dengan sekolah/ pusat Kecamatan
Pemakaman Disesuaikan 1,2 Tersebar
5. 480000 jiwa
Taman Kota 144000 0,3 Dipusat wilayah/
kota
Hutan Kota Disesuaikan 4,0 Di kawasan
pinggiran Untuk
Fungsi-Fungsi tertentu Disesuaikan 12,5
Disesuaikan dengan kebutuhan
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Peyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan
3. Penyediaan Fasilitas Umum dan RTH Berdasarkan Luas Wilayah
Penyediaan FASUM dan RTH berdasarkan luas wilayah pekotaan adalah sebagai berikut :
a. Fasilitas Umum dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di perkotaan terdiri dari Publik dan Privat;
b. Proporsi FASUM dan RTH pada wilayah perkotaan adalah sebesar minimal 30% yang terdiri dari 20% FASUM dan RTH Publik dan 10% FASUM dan RTH Privat;
c. Apabila luas FASUM dan RTH baik publik maupun privat di kota yang bersangkutan telah memiliki total luas lebih besar dari peraturan atau perundangan yang berlaku, memiliki proporsi tersebut harus tetap dipertahankan keberadaannya.
commit to user
Berikut ini Gambar 2.1 Merupakan Tabel Bagan Proporsi Kawasan Perkotaan.
Gambar 2.1. Bagan Proporsi Kawasan Perkotaan
Keterangan :
RTH = Ruang Terbuka Hijau KDB = Koefisien Daerah Bangun
( Sumber : PERMEN PU No 5: Tahun 2008 )
Ruang Perkotaan Terbangun Hunian (40%) Non Hunian (20%) RTH Privat 10% RTH (2%) RTH (8%) RTH (1,5%) KDB (80%) RTH (6%) KDB (70%) RTH (12,5%) KDB (0%) KDB (90%) KDB (80%) Lainnya (7,5%) Jalan (20%) Taman (12,5%) Terbuka RTH Publik 20% RTH Kota 30%
2.1.5. Manfaat Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Peyediaan dan Pemanfaatan Fasilitas Umum dan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan, manfaat Fasilitas Umum dan RTH dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu :
1. Manfaat langsung yaitu membentuk keindahan dan kenyamanan (teduh, segar, sejuk) dan mendapatkan bahan–bahan untuk dijual (kayu, daun, bunga, buah); 2. Manfaat tidak langsung yaitu pembersih udara yang efektif, pemeliharaan akan
kelangsungan persediaan air tanah, pelestarian fungsi lingkungan beserta segala isi flora dan fauna yang ada.
2.1.6. Macam – Macam Ruang Terbuka Hijau (RTH)
Berdasarkan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 5/PRT/M/2008 tentang Pedoman Peyediaan dan Pemanfaatan RTH di kawasan perkotaan, macam-macam RTH menurut letak dan fungsinya antara lain :
a.
RTH PekaranganDalam rangka mengoptimalkan lahan pekarangan, maka RTH pekarangan dapat dimanfaatkan untuk kegiatan atau kebutuhan lainnya.
RTH pada rumah dengan pekarangan luas dapat dimanfaatkan sebagai tempat utilitas tertentu (sumur resapan) dan dapat juga dipakai untuk tempat menanam tanaman hias dan tanaman produktif (yang dapat menghasilkan buah-buahan, sayur, dan bunga, tanaman obat keluarga/apotik hidup), dan tanaman pot sehingga dapat menambah nilai estetika sebuah rumah.
b. FASUM dan RTH Rukun Tetangga
RTH Rukun Tetangga (RT) dapat dimanfaatkan penduduk sebagai tempat melakukan berbagai kegiatan sosial di lingkungan RT tersebut.Untuk mendukung aktivitas penduduk di lingkungan tersebut, fasilitas yang harus disediakan minimal bangku taman dan fasilitas mainan anak-anak. Selain sebagai tempat untuk melakukan aktivitas sosial, RTH Taman Rukun
commit to user
c. FASUM dan RTH Kecamatan
RTH kecamatan dapat dimanfaatkan oleh penduduk untuk melakukan berbagai aktivitas di dalam satu kecamatan.
Taman ini dapat berupa taman aktif dengan fasilitas utama lapangan olahraga, dengan jalur trek lari di seputarnya, atau dapat berupa taman pasif untuk kegiatan yang lebih bersifat pasif, sehingga lebih didominasi oleh ruang hijau.
Berikut ini Tabel 2.3 merupakan tabel contoh kelengkapan fasilitas pada taman kecamatan.
Tabel 2.3. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kecamatan Jenis
Taman
Koef. Daerah
Hijau (KDH) Fasilitas Vegetasi
Aktif 70-80%
Lapangan terbuka; Lapangan basket; Lapangan volley; Trek lari, lebar 5 m, panjang 325 m; WC umum; Parkir kendaraan; Termasuk sarana kios; Kursi-kursi taman. Minimal 50 pohon (sedang dan kecil); Semak; Perdu; Penutup tanah. Pasif 80-90%
Sirkulasi jalur pejalan kaki, lebar 1,5-2 m; WC umum; Parkir kendaraan Termasuk sarana kios (jika diperlukan); Kursi-kursi taman. Lebih dari 100 pohon tahunan (pohon sedang dan kecil); Semak; Perdu; Penutup tanah.
Berikut ini Tabel 2.4 merupakan tabel contoh kelengkapan fasilitas pada taman kota.
Tabel 2.4. Contoh Kelengkapan Fasilitas pada Taman Kota Koefisien
Daerah Fasilitas Vegetasi
Hijau (KDH)
70–80 % 1) lapangan terbuka; 1) 150 pohon
2) unit lapangan basket (14x26 m); (pohon sedang 3) unit lapangan volley (15 x 24 m); dan kecil) 4) trek lari, lebar 7 m panjang 400 m; semak;
5) WC umum; 2) perdu;
6) parkir kendaraan termasuk sarana kios 3) penutup tanah. (jika diperlukan);
7) panggung terbuka; 8) area bermain anak;
9) prasarana tertentu: kolam retensi untuk pengendali air larian;
10) kursi.
Sumber : Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 05/PRT/M/2008 Tentang Pedoman Peyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau Di Kawasan Perkotaan
d. FASUM dan RTH Jalur Pejalan Kaki
FASUM dan RTH jalur pejalan kaki dapat dimanfaatkan sebagai:
1. Fasilitas untuk memungkinkan terjadinya interaksi sosial baik pasif maupun aktif serta memberi kesempatan untuk duduk dan melihat pejalan kaki lainnya;
2. Sebagai penyeimbang temperatur, kelembaban, tekstur bawah kaki, vegetasi, emisi kendaraan, vegetasi yang mengeluarkan bau, sampah yang bau dan terbengkalai, faktor audial (suara) dan faktor visual.
commit to user
e. FASUM dan RTH di Bawah Jalan Layang
Selain sebagai daerah resapan air, RTH di bawah jalan layang dapat menjadi unsur estetika untuk meminimalkan unsur kekakuan konstruksi jalan. Disamping itu RTH di bawah jalan layang dapat dimanfaatkan sebagai:
1. Lokasi penempatan utilitas seperti drainase, gardu listrik, dan lain-lain;
2. Tempat istirahat sementara bagi pengendara sepeda motor/pejalan kaki pada saat hujan;
3. Lokasi penempatan papan reklame secara terbatas.
f. Jalur Hijau Sempadan Rel Kereta Api
RTH/jalur hijau sempadan rel kereta api dapat dimanfaatkan sebagai pengamanan terhadap jalur lalu lintas kereta api. Untuk menjaga keselamatan lalu lintas kereta api maupun masyarakat di sekitarnya, maka jenis aktivitas yang perlu dilakukan berkaitan dengan peranan RTH sepanjang rel kereta api adalah sebagai berikut:
1. Memperkuat pohon melalui perawatan dari dalam, sehingga jaringan kayu dapat tumbuh lebih banyak yang akan menjadi pohon lebih kuat;
2. Menghilangkan sumber penularan hama dan penyakit serta menghilangkan tempat persembunyian ular dan binatang berbahaya lainnya;
3. Memperbaiki citra/penampilan pohon secara keseluruhan 4. Membuat saluran drainase.
g. Jalur Hijau Jaringan Listrik Tegangan Tinggi
Jaringan listrik tegangan tinggi sangat berbahaya bagi manusia, sehingga RTH pada kawasan ini dimanfaatkan sebagai pengaman listrik tegangan tinggi dan kawasan jalur hijau dibebaskan dari berbagai kegiatan masyarakat serta perlu dilengkapi tanda/peringatan untuk masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan tersebut.
h. RTH Sempadan Sungai
Pemanfaatan RTH daerah sempadan sungai dilakukan untuk kawasan konservasi, perlindungan tepi kiri-kanan bantaran sungai yang rawan erosi,
pelestarian, peningkatan fungsi sungai, mencegah okupasi penduduk yang mudah menyebabkan erosi, dan pengendalian daya rusak sungai melalui kegiatan penatagunaan, perizinan, dan pemantauan. Penatagunaan daerah sempadan sungai dilakukan dengan penetapan zona-zona yang berfungsi sebagai fungsi lindung dan budi daya. Pada zona sungai yang berfungsi lindung menjadi kawasan lindung, pada zona sungai danau, waduk yang berfungsi budi daya dapat dibudidayakan kecuali pemanfaatan tanggul hanya untuk jalan.
Pemanfaatan daerah sempadan sungai yang berfungsi budi daya dapat dilakukan oleh masyarakat untuk kegiatan-kegiatan:
1. Budi daya pertanian rakyat;
2. Kegiatan penimbunan sementara hasil galian tambang golongan c; 3. Papan penyuluhan dan peringatan, serta rambu-rambu pekerjaan; 4. Pemasangan rentangan kabel listrik, kabel telpon, dan pipa air minum; 5. Pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/jembatan baik umum
maupun kereta api;
Untuk menghindari kerusakan dan gangguan terhadap kelestarian dan keindahan sungai, maka aktivitas yang dapat dilakukan pada RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut:
1. Memantau penutupan vegetasi dan kondisi kawasan DAS agar lahan tidak mengalami penurunan;
2. Mengamankan kawasan sempadan sungai, serta penutupan vegetasi di sempadan sungai, dipantau dengan menggunakan metode pemeriksaaan langsung dan analisis deskriptif komparatif. Tolak ukur 100 m di kanan kiri sungai dan 50 m kanan kiri anak sungai;
3. Menjaga kelestarian konservasi dan aktivitas perambahan, keanekaragaman vegetasi terutama jenis unggulan lokal dan bernilai ekologi dipantau dengan metode kuadrat dengan jalur masing-masing lokasi 2 km menggunakan analisis vegetasi yang diarahkan pada
jenis-commit to user
5. Aktivitas memantau, menghalau, menjaga dan mengamankan harus diikuti dengan aktivitas melaporkan pada instansi berwenang dan yang terkait sehingga pada akhirnya kawasan sempadan sungai yang berfungsi sebagai RTH terpelihara dan lestari selamanya.
i. RTH Sempadan Pantai
RTH sempadan pantai selain sebagai area pengaman dari kerusakan atau bencana yang ditimbulkan gelombang laut, juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan yang diizinkan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Tidak bertentangan dengan Keppres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
2. Tidak menyebabkan gangguan terhadap kelestarian ekosistem pantai, termasuk gangguan terhadap kualitas visual;
3. Pola tanam vegetasi bertujuan untuk mencegah terjadinya abrasi, erosi, melindungi dari ancaman gelombang pasang, wildlife habitat dan meredam angin kencang;
4. Khusus untuk kawasan pantai berhutan bakau harus dipertahankan sesuai ketentuan dalam Keppres No. 32 Tahun 1990.
j. RTH Sumber Air Baku/Mata Air
Pemanfaatan RTH sumber air baku/mata air dilakukan untuk perlindungan, pelestarian, peningkatan fungsi sumber air baku/mata air, dan pengendalian daya rusak sumber air baku/mata air/danau melalui kegiatan penatagunaan, perizinan, dan pemantauan.
Berikut ini Tabel 2.5 merupakan tabel RTH danau dan mata air.
Tabel 2.5. RTH Danau dan Mata Air
No. Jenis RTH Dimensi Sempadan Pemanfaatan
1. Danau/Waduk Minimal 50 m dari a) jaringan utilitas;
titik pasang b) budi daya pertanian rakyat;
hasil galian tambang golongan C;
d) papan penyuluhan dan
peringatan, serta rambu-rambu pekerjaan;
e) pemasangan rentangan kabel listrik, kabel telpon, dan pipa air minum;
f) pemancangan tiang atau pondasi prasarana jalan/ jembatan baik umum maupun kereta api; g) penyelenggaraan
kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial, keolahragaan, pariwisata dan kemasyarakatan yang tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kelestarian dan keamanan fungsi serta fisik sungai dan danau; dan
h) pembangunan prasarana lalu lintas air, bangunan pengambilan dan pembuangan air.
2. Mata Air Radius 200 m a) ruang terbuka hijau dengan aktivitas sosial terbatas penekanan pada kelestarian sumberdaya airnya;
b) luas ruang terbuka hijau minimal 90% dengan dominasi pohon tahunan yang diizinkan.
commit to user
k. FASUM dan RTH Pemakaman
Pemakaman memiliki fungsi utama sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenasah. Pemakaman juga dapat berfungsi sebagai RTH untuk menambah keindahan kota, daerah resapan air, pelindung, pendukung ekosistem, dan pemersatu ruang kota, sehingga keberadaan RTH yang tertata di komplek pemakaman dapat menghilangkan kesan seram pada wilayah tersebut.
2.1.7. Perencanaan Fasilitas Umum (FASUM) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Taman Techno Park Sragen
Untuk membuat taman yang menarik diperlukan beberapa persiapan yang matang. Persiapan tersebut antara lain :
2.1.7.1.Menentukan Gaya Taman
Taman pada perkotaan dapat ditata dengan berbagai gaya yang menarik untuk menarik perhatian konsumen. Gaya yang dapat ditampilkan antara lain :
1. Gaya Minimalis
Gaya ini merupakan gaya kontenporer yang dapat dijadikan pilihan. Taman gaya ini tidak dipenuhi aneka ragam jenis tanaman. Pilihan tanaman hanyalah sebagai elemen dekorasi karena gaya ini lebih menitikberatkan pada kekuatan perencanaan desain secara keseluruhan. Komposisi ruang pandang merupakan fokus dari gaya minimalis, yakni keselarasan segala unsur yang tercangkup di dalamnya. Dengan jenis tanaman yang seminimal mungkin, gaya minimalis sangat menonjolkan elemen lain seperti pemasangan paving block sebagai alas tanaman, pot yang dekoratif, kursi taman, patung, relief (dinding), dan lampu sebagai penerangan.
commit to user
2. Gaya Campursari
Campursari artinya terdiri dari beragam jenis. Taman ini terdiri dari beragam jenis tanaman, mulai dari pohon pelindung, perdu tinggi, bahkan pohon buah, perdu rendah, pisang–pisangan, groundcover hingga tanaman merambat. Taman ini membutuhkan penataan yang tepat agar tidak terkesan seperti hutan yang dipenuhi oleh tanaman. Cara menata taman ini bisa menggunakan gradasi dari perdu yang rendah di bagian terdepan, perdu yang tinggi di bagian belakang, hingga pohon pelindung yang melatarbelakangi pemandangan taman.
Berikut ini gambar 2.11 merupakan contoh gambar taman campursari
Gambar 2.11. Contoh Taman Campursari Sumber : Fradeny.wordpress.com
3. Gaya Taman Sari
Gaya taman ini dipenuhi oleh kolam–kolam yang dihiasi tanaman air serta tanaman–tanaman air dalam pot. Bentuk taman sari cukup beragam, ada yang berbentuk kolam hias dengan aneka tanaman airnya, ada yang terdiri dari berbagai gentong atau tempayan yang tersusun sedemikian rupa membentuk rawa–rawa mini, ada pula kolam kecil dengan air terjun mini atau pancuran, atau kolam lengkap dengan mata airnya (Don WS, Threes Emire, Cherry Hadibroto, 2004).
1. Pola geometris yaitu garis–garis pembangian bidang yang ditanami terlihat tegas dan formal.
2. Pola geometris alami yaitu garis–garis bidang lebih luwes dengan lengkungan dimana–mana.
3. Pola natural yaitu pola ini mengadaptasi lahan kebun yaitu mengikuti kontur tanah yang ada dan besar kecilnya bidang yang tersedia.
2.2.1. Membentuk Perspektif
Setelah membuat pola, barulah penataan taman menggunakan perspektif dari beberapa sudut pandang secara lengkap yang meliputi komposisi tinggi – rendah, jenis dan warna tanaman serta aspek–aspek taman lain seperti pergola, gazebo, kolam air, dan aksesoris taman lainnya.
2.2.2. Menentukan Warna dan Tekstur
Warna dari suatu tanaman dapat menimbulkan efek visual tergantung pada refleksi cahaya yang jatuh pada tanaman tersebut. Warna tanaman dapat menarik perhatian manusia, binatang dan mempengaruhi emosi yang melihatnya.
Efek Psikologi yang ditimbulkan oleh warna antara lain :
1. Warna cerah : memberi rasa senang, gembira dan kesan dekat, hangat. 2. Warna lembut : memberi rasa tenang, sejuk dan kesan jauh (Rustman
Hakim, 1993).
Sedangkan tekstur pada tanaman ditentukan oleh cabang batang, ranting, daun, tunas dan jarak pandang terhadap tanaman tersebut. Tekstur juga mempengaruhi pisikis dan fisik yang memandang. Pemahaman warna menyangkut segi sifat, gradasi dan kombinasi. Pada dasarnya terdapat dua kelompok warna, yaitu warna–warna sejuk seperti hijau dan biru, dan warna hangat seperti merah dan jingga (Don WS, Threes Emire, Cherry Hadibroto, 2004).
commit to user
2.2.3. Mengerjakan Konstruksi Taman
Pengerjaan konstruksi taman terdiri dari :
1. Pembuatan Drainase
Drainase (sistem penyerapan air) yang berfungsi baik merupakan awal dari kesuburan tanaman–tanaman taman. Tanah yang cenderung selalu basah cenderung menyebabkan akar–akar tanaman cepat membusuk. Sedangkan tanah yang kering cenderung kurang memiliki unsur–unsur hara sehingga tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik. Sebuah taman yang luas dapat dengan mudah diatur kelandaian atau kemiringan permukaan tanahnya untuk diarahkan ke satu sisi pembuangan. Dengan demikian, air penyiraman yang berlebih atau curah hujan yang sudah tidak mampu diserap tanah lagi akan segera mengalir ke saluran pembuangan (got).
2. Memasang Instalasi Air Listrik
Pemasangan instalasi air digunakan untuk membersihkan dedaunan di pohon yang tinggi dan menyiram tanaman–tanaman disekitarnya. Pipa air sebaiknya dipasang menempel pada tembok dan diatur sedemikian rupa agar tidak mengganggu pemandangan. Sama halnya dengan saluran air, instalasi listrik idealnya dipasang sebelum penanaman dengan menentukan letak lampu taman yang telah direncanakan, letak sakelar yang dapat terlindung dari percikan air ketika penyiraman atau hujan, dan jaringan kabel yang akan ditanam agar tidak terinjak.
3. Pembuatan Pori Resapan
Biopori adalah lubang–lubang di dalam tanah yang terbentuk akibat berbagai aktifitas organisme didalamnya seperti cacing, perakaran tanaman, rayap dan fauna tanah lainnya. Lubang–lubang yang terbentuk akan terisi udara dan akan menjadi tempat berlalunya air di dalam tanah.
Lubang resapan biopori adalah teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk mengatasi banjir dengan cara :
2. Mengubah sampah orgaik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca;
3. Memanfaatkan peran aktifvitas fauna tanah dan akar tanaman;
4. Mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.
2.2.5. Pemeliharaan Taman
Membuat sesuatu yang indah bukanlah hal yang sulit, apalagi bila semua sarana dan prasarana terpenuhi. Namun untuk mempertahankannya merupakan hal yang sangat sulit dan butuh bukkan hanya kesabaran dan ketelatenan saja namun dibutuhkan keterampilan dan kreatifitas. Merawat taman bukan hanya menyiram atau memangkas saja, melainkan juga tentang bagaiman memelihara dan membuat taman tetap mempunyai bentuk yang utuh sepeti saat pertama dibuat. Pemeliharaan taman dimaksudkan untuk menjaga dan merawat areal taman dengan segala fasilitas yang ada didalamnya sehingga kondisinya tetap baik dan dapat dipertahankan sesuai dengan tujuan rencana atau desain semula. Manajemen dan pelaksanaa pemeliharaan taman dapat dilakukan sendiri oleh pemilik atau diserahkan pada jasa pengelola taman. Untuk taman yang terbuka untuk umum biasanya ditangani oleh Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota.
Umumnya, pengelola taman akan melaksanakan program pemeliharaan taman dalam bentuk organisasi yang berpedoman pada aturan dan teknik pemeliharaan yang baik. Tujuannya untuk mewujudkan taman dengan persyaratan pemanfaatan area dan fasilitas secara optimal.
Pemeliharaan taman merupakan kunci kebersihan suatu pembuatan taman. Oleh karena itu, dalam mendesain taman hendaknya yang mudah dibangun dan dirawat. Ada dua tipe pemeliharaan taman yaitu pemeliharaan fisik dan pemeliharaan ideal yang keduanya saling berhubungan erat satu sama lain.
2.2.5.1.Pemeliharaan Fisik
commit to user
merupakan pemeliharaan pencegahaan misalnya membersihkan lumut dan karat, perbaikan instansi dll.
Sedangkan pemeliharaan tanaman meliputi pembersihan akar, penyiangan, pemangkasan, penyiaman, pemupukan, dan lain–lain. Pada intinya pemeliharaan fisik tanaman meliputi pekerjaan menjaga keindahan, keasrian, dan keamanan taman.
1. Penyiraman
Tanaman butuh untuk disiram agar tanah tetap lembab sehingga akar–akar tanaman dapat melakukan fungsinya yaitu menyerap zat unsur hara dalam tanah. Penyiraman dapat dikatakan sempurna apabila air terhisap tanah hingga kedalaman 30 – 40 cm.
Secara alami, setelah penyiraman pasti dimbangi dengan adanya evaporasi atau penguapan air dalam tanah. Oleh karena itu, perlu diperhatikan waktu dan frekuensi penyiramannya. Penyiraman secara efektif dilakukan pada pagi dan sore hari.
Selain menjaga kelembaban tanah, penyiraman dibutuhkan tanaman untuk meluruhkan kotoan debu dan daun–daunnya. Dan jika taman memiliki aneka janis tanaman dengan kebutuhan air yang berbeda–beda, penyiraman harus dilakukan dengan lebih cermat. Tanaman yang tidak membutuhkan banyak air, akar–akarnya mudah membusuk karena kelebihan air disekitarnya.
2. Pemangkasan tanaman
Tanaman taman perlu dipangkas secara berkala agar pertumbuhannya terkendali. Ada dua macam pemangkasan yang pada umumnya dilakukan oleh para pengelola taman yaitu pengkas produksi dan pangkas pemeliharaan.
Pangkas produksi merupakan pemangkasan yang dilakukan untuk memacu pertumbuhan generatif tanaman, yaitu agar tanaman lebih cepat berbunga dan menghasilkan buah. Sedangkan pangkas pemeliharaan adalah pemangkasan yang dilakukan untuk mengendalikan pertumbuhan tanaman dan juga dapat membuat bentuk tanaman menjadi indah.
Tanaman juga perlu dipangkas agar tidak menjadi cepat besar atau rimbun, juga agar komposisi bentuk tanaman tidak berubah. Disamping itu, pada tanaman yang terlalu rimbun pasti ada bagian–bagian tertentu yang tidak memperoleh cukup sinar matahari, sehingga akan memberi kesan lembab dan kemudian mengundang hama dan penyakit.
Untuk membuat bentuk tanaman yang indah dan menarik, perlu untuk diperhatikan hal–hal berikut ini.
Agar tanaman tidak cepat menjadi tinggi, diharapkan untuk memotong pucuk tunas muda yang tumbuh ke atas dengan gunting potong. Hal ini bertujuan untuk mengurangi dominasi aplikasi dan berguna bagi pembentukan cabang
Memotong dahan atau cabang yang keras dengan gergaji tepat dipangkalnya. Hal ini bertujuan untuk menghindari tumbuhnya tunas baru di bagian sisa dahan yang dipotong. Selain itu luka atau bekas potongan sebaiknya segera untuk diberi lapisan disinfektan tanaman agar tidak terinfeksi oleh jamur, hama, virus dan organisme pengganggu tanaman lainnya.
3. Pemupukan
Meskipun tanah sudah memiliki aneka unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman, namun keberadaan unsur hara tersebut semakin lama akan semakin kurang baik oleh aktivitas tanaman atau hilang akibat tercuci oleh air. Oleh karena itu perlu untuk ditambah suatu zat atau senyawa yang dibutuhkan oleh tanaman, yaitu pupuk.
Pemupukan lewat daun lebih efektif bila disemprotkan melalui permukaan daun bagian bawah. Karena pada permukaan daun bagian bawah, banyak terdapat stomata sehingga pupuk dapat diserap secara efektif oleh daun. Sedangkan pupuk tabur merupakan jenis pupuk yang diberikan lewat tanah. Biasanya jenis pupuk ini adalah jenis–jenis pupuk yang memiliki karakter reaksi yang lamban, misalnya seperti urea, NPK, dan lain sebagainya.
commit to user
Gulma atau rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman utama (tanaman hias) akan saling berkompetisi merebut nutrisi yang dibutuhkan oleh tanaman utama.
Tidak hanya itu, dalam mendapatkan sinar matahari pun antara tanaman utama dengan gulma akan saling berebut. Sebaliknya, penyiangan dilakukan secara berkala misalnya sebulan sekali. penyiangan bisa dilakukan secara manual dengan tangan atau menggunakan cangkul.
5. Perawatan terhadap gangguan hama
Meskipun tanaman sudah dirawat secara teratur, gangguan hama tanaman seperti ulat, kutu, bekicot, belalang dan lain–lain seringkali menyerbu, melahap daun, batang, bunga dan lain–lain. Organisme ini menyebabkan pertumbuhan tanaman menjadi terganggu, merusak bentuk dan penampakan tanaman, kebusukan batang, akar, dan lain sebagainya. Pembasmian tersebut bisa dilakukan dengan menggunakan pestisida.
Selain oleh binatang, organisme penggangu tanaman juga dapat berasal dari golongan jamur, bakteri, atau virus. Untuk penanganan tanaman yang telah terserang, tidakan pertama dan paling aman adalah memangkas bagian–bagian tanaman yang terkena. Bila perlu, membongkar tanaman tersebut dan menyingkirkannya dari tanaman–tanaman lain agar tidak menular. Untuk serangan akibat jamur, digunakan fungisida untuk membasminya. Herbisida untuk tanaman liar, dan bakterisida untuk serangan akibat bakteri.
Adakalanya rayap dan nematode menjadi musuh utama bagi akar. Penggunaan dosis pestisida harus diperhatikan, jangan sampai melebihi dosis karena bahan kimia yang terkandung didalam pestisida akan mudah mengendap pada tanaaman dan apabila tanaman tersebut berproduksi maka akan membahayakan manusia bahan kimia tersebut terakumulasi dalam tubuh manusia dengan jumlah yang banyak.
2.2.5.2.Pemeliharaan Ideal
Pemeliharaan ideal merupakan pemeliharaan yang mengacu pada ide dan tujuan desain awal. Oleh karena itu, pada periode tertentu perlu untuk dilakukan evaluasi agar kondisi taman tetap sama dengan desain semula sehigga fungsi dan
estetika taman tetap terjaga. Bila salah satu fungsi terganggu atau tidak terawat baik, maka secara ideal tanaman tersebut tidak cocok lagi seperti fungsi semula.
Sebagai contoh pada taman yang mempunyai pola simetris dan formal seperti pada taman perkantoran, secara ideal harus diperhatikan. Bila pola tersebut berubah dan tidak simetris lagi, maka tidak lagi terkesan simetris dan formal.
Ada beberapa faktor yang mendukung berjalannya pemeliharaan ideal. Yang pertama adalah merencanakan dan merancang taman dengan pola yang sederhana sehingga memudahkan dilakukan pemeliharaan fisik. Yang kedua adalah dalam penggunaan elemen taman yang baik elemen keras ataupun elemen lunak hendaknya menggunakan komponen yang tidak sulit dicari agar tidak sulit dalam penggantian dan perawatan.
Berikutnya adalah dalam pemilihan sistem struktur yang kuat dan awet serta pemilihan bahan perkerasan yang sesuai. Sebagai contoh, pada taman I di Jalan Bhayangkara Surakarta penggunaan paving block dari bahan yang mirip dengan batu candi. Pada taman tersebut dapat membahayakan anak–anak karena mudah berlumut sehingga licin, sehingga untuk faktor keamanan digunakan rumput sebagai bahan permukaan.
Keempat adalah bahwa pembuatan pola sirkulasi harus jelas dan rasional sehingga alur di dalam taman selalu lancar.
Terakhir, perlengkapan taman yang memadai meliputi penerangan lampu pada malam hari dan jaringan utilitas yang ada di bawah tanah (drainase, instalasi air dan listrik) agar direncanakan dengan baik sehingga tidak terjadi bongkar pasang pada pemelihaaan taman.
2.2.6. Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Rencana Anggaran Biaya atau yang lebih dikenal dengan sebutan RAB adalah suatu perhitungan banyaknya biaya yang diperlukan untuk bahan dan upah, serta biaya-biaya lain yang berhubungan dengan pelaksanaan bangunan atau proyek.Anggaran biaya merupakan harga dari bahan bangunan yang dihitung dengan teliti, cermat dan memenuhi syarat. Anggaran biaya pada bangunan yang
commit to user
Dalam menyusun Anggaran Biaya dapat dilakukan dengan 2 cara berikut :
1. Angka Biaya Kasar
Sebagai Pedoman dalam menyusun anggaran biaya kasar digunakan harga satuan tiap meter persegi (m2) luas lantai. Anggaran kasar dipakai sebagai pedoman terhadap anggaran biaya yang dihitung secara teliti.Walaupun namanya anggaran biaya kasar, namun harga satuan tiap m2 luas lantai tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti. Dibawah ini diberikan sekedar contoh, untuk dapat menggambarkan penyusunan anggaran biaya kasar yaitu : Bangunan Induk 10m x 10m = 100 m2 dikalikan harga satuan per m2 yaitu Rp.2.200.000,00 adalah Rp.220.000.000,00. Jadi dapat disimpulkan adalah harga satu bangunan induk tersebut adalah Rp.220.000.000,00.
2. Angka Biaya Teliti
Yang dimaksud anggaran biaya teliti adalah Anggaran Biaya Bangunan atau proyek yang dihitung dengan teliti dan cermat sesuai dengan ketentuan dan syarat – syarat penyusunan anggaran biaya. Pada anggaran biaya kasar sebagaimana diuraiakan terdahulu, harga satuan dihitung berdasarkan harga taksiran setiap luas lantai m2. Taksiran tersebut haruslah berdasarkan harga yang wajar dan tidak terlalu jauh berbeda dengan harga yang dihitung secara teliti.
2.2.6.1.Komponen- komponen yang perlu dihitung dalam RAB
Dalam suatu konstruksi bangunan rumah ada dua bagian segi pembiayaan yang perlu diperhitungkan, yaitu :
a. Biaya pokok yang berhubungan dengan material, upah kerja, dan perlatan. b. Biaya operasional termasuk biaya perijinan, fasilitas atau sarana (air, listrik sementara, gudang dan lain-lain), dan juga perlu diperhitungkan biaya tidak terduga.
Dalam perhitungan RAB suatu bangunan rumah , semua bagian komponen yang diperlukan dalam pekerjaan hingga selesai harus betul betul diperhitungkan, dimulai dari awal pekerjaan sampai selesainya tahap konstruksi.
2.2.6.2.Langkah – Langkah Menghitung RAB
1. Persiapan dan Pengecekan Gambar Kerja
Gambar Kerja adalah dasar untuk menentukan pekerjaan apa saja yang ada dalam komponen bangunan yang akan dikerjakan. Dari gambar akan didapatkan ukuran, bentuk dan spesifikasi pekerjaan. Gambar Kerja mengandung semua ukuran dan spesifikasi material yang akan digunakan untuk mempermudah perhitungan volume pekerjaan. Dari gambar yang ada anda disini sudah memulai coretan coretan item pekerjaan apa saja yang akan dihitung dalam pembuatan RAB nya. (Risa Irene, 2012)
2. Perhitungan Volume
Langkah awal untuk menghitung volume pekerjaan, yang perlu dilakukan adalah mengurutkan seluruh item dan komponen pekerjaan yang akan dilaksanakan sesuai dengan gambar kerja yang ada. Jika seluruh item pekerjaan sudah tertuang, selanjutnya mulai menghitung volume masing-masing volume pekerjaan tersebut. Untuk format sederhana dan memudahkan perhitungan, dapat dilakukan dalam format excel. Suatu hal yang perlu diperhitungkan adalah satuan pekerjaan yang dihitung harus sama dengan analisa harga satuan pekerjaan. Jika perhitungan sudah selesai, lakukan pengecekan kembali bilamana ada kemungkinan kesalahan perhitungan ukuran. (Risa Irene, 2012)
3. Membuat Harga Satuan Pekerjaan
a. Untuk menghitung Harga Satuan Pekerjaan, yang perlu dipersiapkan adalah : Indeks (koefisien) analisa pekerjaan
b. Harga Material/Bahan sesuai satuan
c. Harga upah kerja per hari termasuk mandor, kepala tukang, tukang dan pekerja
commit to user
buku SNI yang sudah ada untuk masing masing item pekerjaan). Untuk harga material dan upah kerja, tinggal memasukkan harga berdasarkan harga yang ada didaerah masing – masing dan harus dilakukan pengecekan harga kembali apabila ada kenaikan harga jika pekerjaan masih lama untuk dimulai . (Harga Satuan Pekerjaan Kabupaten SragenTahun 2013)
4. Perhitungan Jumlah Biaya Pekerjaan
Volume dan harga satuan pekerjaan telah terkumpul, kemudian volume dan harga satuan pekerjaan tersebut dikalikan sehingga didapat harga biaya pekerjaan dari masing masing item pekerjaan. Untuk memisahkan biaya antara Upah kerja dan Jumlah Biaya Material, pisahkan kolom perhitungan. (Risa Irene, 2012)
5. Rekapitulasi RAB
Rekapitulasi adalah jumlah masing masing sub item pekerjaan dan kemudian dijumlahkan sehingga didapatkan jumlah total biaya pekerjaan. Dalam rekapitulasi ini bilamana diperlukan juga ditambahkan biaya overhead. (Risa Irene, 2012)