i BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
BAB II
GAMBARAN UMUM
BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH
Identifikasi kondisi dan karakteristik wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang meliputi karakteristik fisik, kependudukan, administratife, keuangan dan perekonomian daerah, kebijakan penataan ruang, struktur organisasi serta tugas dan tanggung jawab perangkat daerah.
2.1 Geografis, Administratif, dan Kondisi Fisik 2.1.1 Geografis
Kabupaten Sidenreng Rappang dengan ibukota Pangkajene sebagai salah satu sentra produksi beras di Sulawesi Selatan, terletak 183 Km di sebelah utara Makassar (Ibu Kota Provinsi Sulawesi Selatan) dengan luas wilayah 1.883,25 Km2, yang secara administratif terdiri dari 11 Kecamatan dan 106 Desa/Kelurahan. Kabupaten Sidenreng Rappang berbatasan dengan :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang dan Enrekang. - Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Luwu dan Wajo
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Pinrang dan Kota Parepare. - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru dan Soppeng.
Kabupaten Sidenreng Rappang dengan letak geografis 3º43’ - 4º09’ Lintang Selatan (LS) dan 119º41’ - 120º10’ Bujur Timur (BT) dengan posisi strategis dan aksebilitas yang tinggi, sehingga memiliki peluang pengembangan ekonomi melalui keterkaitan wilayah khususnya keterkaitan dengan daerah yang mendukung pembangunan sosial ekonomi dan budaya.
2.1.2 Kondisi Fisik Wilayah
a. Kondisi Topografi dan Kelerengan
Kondisi kelerengan yang ada di Kabupaten Sidenreng Rappang terbagi dalam 4 (empat) kategori yaitu :
3 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
- Kemiringan lereng 2 – 15 %, yang termasuk dalam kategori tersebar adalah pada 5 (lima) kecamatan.
- Kemiringan lereng 15 – 40 %, yang juga termasuk pada kategori ini terdapat pada 5 (lima) kecamatan. Serta
- Kemiringan lereng diatas 40 %, pada kategori ini terdapat di 5 (lima) kecamatan.
Kelerengan sangat terkait dengan kondisi derainase, yaitu keadaan tergenangnya bagian permukaan tanah oleh air pada saat tertentu, yang tidak ditunjukkan khusus seperti kolam dan lainnya. Keadaan drainase disuatu tempat ditentukan oleh kemiringan tanahnya, semakin tinggi dan semakin bervariasi kemiringan maka cenderung drainasenya makin baik. Keadaan tofografi di Kabupaten Sidenreng Rappang yang bervariasi mulai dari datar sampai curam agak menguntungkan dari aspek ketergantungannya. Pengaturan air yang semakin baik dan berfungsinya saluran pengairan menyebabkan daerah tidak tergenang kecuali jika terjadi banjir dan bencana alam lainnya. Daerah yang kadang tergenang terdapat di Kecamatan Panca Lautang, Tellu LimpoE, MaritengngaE dan Watang Sidenreng dengan luasan yang sempit. Sedangkan Daerah yang tergenang terdapat di Kecamatan MaritengngaE, Watang Sidenreng, Pitu Riawa dan Pitu Riase, merupakan Daerah rawa.
Selanjutnya adalah masalah erosi.terjadinya erosi dipengaruhi oleh kemiringan tanah, ketinggian tempat, tekstur, jenis tanah, curah hujan dan tumbuhan penutup tanah (vegetasi). Oleh karena itu keadaan erosi disuatu tempat akan bervariasi tergantung dari banyaknya faktor pendukung terjadinya erosi yang ada ditempat itu. Berdasarkan terkikisnya tanah permukaan, maka tanah di Kabupaten Sidenreng Rappang dibedakan atas daerah yang ada erosi dan tidak erosi.
b. Iklim dan Curah Hujan
Keadaan iklim Kabupaten Sidenreng Rappang adalah identik dengan keadaan iklim wilayah lain yang ada di Pulau Sulawesi secara keseluruhan, hal ini dapat dilihat pada temperatur udara maksimum 35 oC dan suhu udara minimum 26 o
c. Hidrologi
Pada umumnya kondisi hidrologi di Kabupaten Sidenreng Rappang sangat berkaitan dengan tipe iklim dan kondisi geologi yang ada. Kondisi hidrologi permukaan ditentukan oleh sungai-sungai yang ada yang pada umumnya berdebit kecil, oleh karena sempitnya daerah aliran sungai sebagai wilayah tangkapan air (cathmen area) dan sistem sungainya. Kondisi tersebut diatas menyebabkan banyaknya aliran sungai yang terbentuk.
Air tanah bebas (watertable groundwater) dijumpai pada endapan aluvial dan endapan pantai. Kedalaman air tanah sangat bervariasi yang tergantung pada keadaan dan jenis lapisan batuan.
Pada wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang, sistem jaringan sumber daya air yang merupakan wilayah Sungai (WS) Nasional ada 2 yaitu Wilayah Sungai Walanae Cenranae sebagai wilayah sungai strategis nasional yang meliputi DAS Walanae - Cenranae, DAS Bila, DAS Siwa dan DAS Gilireng serta Wilayah Sungai Saddang sebagai wilayah sungai lintas provinsi yang meliputi DAS Kariango, DAS Rappang, dan DAS Karajae. Terdapat 38 (Tiga Puluh Delapan) sungai yang mengaliri berbagai kecamatan. Di Kecamatan Panca Lautang terdapat 6 (enam) aliran sungai sepanjang 33.750 meter, Kecamatan Tellu LimpoE dengan panjang 18.000 meter, Kecamatan Watang Pulu dengan panjang 39.000 meter, Kecamatan Baranti dengan panjang 15 meter, Kecamatan Panca Rijang dengan panjang 19.550 meter, Kecamatan Kulo dengan panjang 25.700 meter, Kecamatan MaritengngaE dengan panjang 5.000 meter, Kecamatan Dua Pitue dengan panjang 68.460 meter, merupakan Kecamatan yang memiliki aliran sungai terpanjang di Kabupaten Sidenreng Rappang, Kecamatan Pitu Riawa dengan panjang 7.500 meter.
Tabel 2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang
No. Nama DAS Km2
1 DAS Walanae – Cenranae 7.924
2 DAS Bila 1.368 3 DAS Siwa 268,40 4 DAS Gilireng 518 5 DAS Kariango 466,20 6 DAS Rappang 379 7 DAS Karajae 142,45
5 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
2.1.3 Administratif
Gambaran administrasi pemerintahan di Kabupaten Sidenreng Rappang disajikan pada Tabel berikut ini:
Tabel 2.2 Nama, Luas Wilayah per kecamatan dan Jumlah Desa/Kelurahan
Nama Kecamatan Jumlah
Desa/Kel. Luas Wilayah Administrasi Luas Wilayah Terbangun Ha (%) thd total Ha (%) thd total
Kecamatan Panca Lautang 10 15.393 8,17 266,75 6,49
Kecamatan Tellu Limpoe 9 10.320 5,48 261,05 6,36
Kecamatan Watang Pulu 10 15.131 8,03 356,85 8,69
Kecamatan Baranti 9 5.389 2,86 392,77 9,56
Kecamatan Panca Rijang 8 3.402 1,81 401,25 9,77
Kecamatan Kulo 6 7.500 3,98 221,05 5,38
Kecamatan Maritengngae 12 6.590 3,50 547,50 13,33
Kecamatan Watang Sidenreng 8 12.081 6,41 402,15 9,79
Kecamatan Dua Pitue 10 6.999 3,72 425,30 10,35
Kecamatan Pitu Riawa 12 21.043 11,17 401,10 9,77
Kecamatan Pitu Riase 12 84.477 44,84 431,75 10,51
TOTAL 106 188.325 100,00 4.107,52 100,00
7 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
Peta 2.2 Peta Administrasi Kabupaten Sidenreng Rappang
2.2 Demografi
Jumlah penduduk Kabupaten Sidenreng Rappang pada tahun 2011 sebanyak 274.652 jiwa yang terdiri dari 133.672 jiwa penduduk laki-laki dan 140.980 jiwa penduduk perempuan, dengan penduduk terbanyak berada di Kecamatan Maritengngae yaitu sebesar 46.643 jiwa.
Jumlah penduduk perempuan hampir di semua kecamatan lebih banyak dibanding penduduk laki-laki. Hal ini dilihat dari rasio jenis kelamin (sex ratio) yang lebih kecil dari 100, kecuali di Kecamatan Pitu Riase. Ratio jenis kelamin di Kabupaten Sidenreng Rappang pada tahun 2011 sebesar 94,82%. Artinya dalam setiap 100 penduduk perempuan terdapat sekitar 95 penduduk laki-laki.
Kepadatan penduduk per Km2 dapat dijadikan salah satu indikator penyebaran penduduk di suatu wilayah. Kepadatan penduduk di Kabupaten Sidenreng Rappang pada tahun 2011 sekitar 146 jiwa/Km2. Kepadatan penduduk tertinggi berada di Kecamatan Panca Rijang yaitu sekitar 803 jiwa/Km2. Sedangkan kepadatan terendah berada di Kecamatan Pitu Riase yaitu sekitar 24 Jiwa/Km2.
2.2.1 Laju Pertumbuhan Penduduk
Perkembangan atau pertumbuhan penduduk merupakan indeks perbandingan jumlah penduduk pada suatu tahun terhadap jumlah penduduk pada tahun sebelumnya. Perkembangan jumlah penduduk dalam suatu wilayah dipengaruhi oleh faktor kelahiran dan kematian (pertambahan alami), selain itu juga dipengaruhi adanya faktor migrasi penduduk yaitu perpindahan keluar dan masuk. Pada dasarnya tingkat pertumbuhan jumlah penduduk, dapat digunakan untuk mengasumsikan prediksi atau meramalkan perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang. Prediksi perkiraan jumlah penduduk dimasa yang akan datang dilakukan dengan pendekatan matematis dengan pertimbangan pertumbuhan jumlah penduduk 3 tahun terakhir.
Data jumlah penduduk Kabupaten Sidenreng Rappang 3 tahun terakhir menunjukkan jumlah penduduk pada tahun 2009 sebanyak 252.483 jiwa, sedangkan pada tahun 2011 mencapai 274.652 jiwa. Hal tersebut memperlihatkan adanya perkembangan jumlah penduduk yang tidak menentu. Dimana pada tahun 2010 terjadi peningkatan jumlah penduduk yang sangat sigfikan yaitu sebanyak 19.428 jiwa, sedangkan pertambahan jumlah
9 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
penduduk selama kurun waktu tahun 2010 ke tahun 2011 sekitar 2741 jiwa. Sedangkan untuk proyeksi dipakai laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Sidenreng Rappang per tahun selama sepuluh tahun terakhir yakni dari tahun 2000 – 2010 sebesar 1,29 persen.
2.2.2 Proyeksi Jumlah dan Kepadatan Penduduk
Data pertumbuhan jumlah penduduk 5 (lima) tahun terakhir dapat menjadi acuan kecenderungan pertumbuhan penduduk pada masa yang akan datang, setidaknya jika diasumsikan tidak terjadi kondisi insidentil yang mungkin akan sangat mempengaruhi kuantitas penduduk secara signifikan. Kecenderungan pertumbuhan penduduk selama 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan trend linier sehingga dengan menggunakan perangkat matematis, maka jumlah dan kepadatan penduduk dapat diproyeksikan.
Rumus Rata-rata Tingkat Pertumbuhan Penduduk; r = 1 + ((Po – Pt)/Pt)(1/t -1) – 1
r = Rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk Po = Jumlah Penduduk Sekarang
Pt = Jumlah penduduk tahun sebelumnya t = Jumlah tahun sebelumnya
Rumus proyeksi jumlah Penduduk; Pn = P0 . (1 + r)n
Pn = Proyeksi Jumlah Penduduk tahun berikutnya po = Jumlah penduduk Sekarang
r = Rata-rata tingkatpertumbuhan penduduk n = Jumlah Tahun Proyeksi
Tabel 2.3 Jumlah Penduduk dan Kepadatannya 3 (tiga) Tahun Terakhir
Nama Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah KK Tingkat Pertumbuhan Kepadatan Penduduk
2009 2010 2011 2009 2010 2011 2009 2010 2011 2009 2010 2011 Panca Lautang 17.071 17.241 17.339 4.317 4.303 4.427 91 93 93 111 112 113 Tellu Limpoe 21.511 22.728 22.871 5.440 5.155 5.304 89 90 90 208 220 222 Watang Pulu 25.959 30.128 30.582 6.567 7.289 7.500 96 97 97 172 199 202 Baranti 26.569 28.068 28.369 6.720 7.042 7.246 91 93 93 493 521 526 Panca Rijang 25.258 27.086 27.332 6.389 6.450 6.637 93 93 93 742 796 803 Kulo 10.660 11.345 11.462 2.695 2.761 2.841 94 94 95 142 151 153 Maritengngae 40.767 46.139 46.643 10.311 10.678 10.987 93 94 94 619 700 708 Watang Sidenreng 15.729 17.051 17.203 3.979 4.077 4.195 94 96 96 130 141 142 Dua Pitue 26.340 27.272 27.549 6.663 6.257 6.438 93 94 95 376 390 394 Pitu Riawa 24.212 24.980 25.213 6.124 5.767 5.934 96 97 97 115 119 120 Pitu Riase 18.407 19.873 20.089 4.657 4.734 4.871 102 101 101 22 24 24 TOTAL 252.483 271.911 274.652 63.862 64.513 66.380 94 95 95 134 144 146
11 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
Tabel 2.4 Jumlah Penduduk saat ini dan proyeksinya untuk 5 (lima) Tahun
Nama Kecamatan Jumlah Penduduk Jumlah KK
Tingkat Pertumbuhan Penduduk Kepadatan Penduduk (org/Ha) 2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 2013 2014 2015 2016 2017 Panca Lautang 17.789 18.019 18.251 18.487 18.725 4.542 4.601 4.660 4.720 4.781 - 229 232 235 238 1,16 1,17 1,19 1,20 1,22 Tellu Limpoe 23.465 23.768 24.074 24.385 24.699 5.442 5.512 5.583 5.655 5.728 - 303 307 311 315 2,27 2,30 2,33 2,36 2,39 Watang Pulu 31.376 31.781 32.191 32.606 33.027 7.695 7.794 7.895 7.996 8.100 - 405 410 415 421 2,07 2,10 2,13 2,15 2,18 Baranti 29.106 29.481 29.861 30.247 30.637 7.434 7.530 7.627 7.726 7.825 - 375 380 385 390 5,40 5,47 5,54 5,61 5,69 Panca Rijang 28.042 28.403 28.770 29.141 29.517 6.809 6.897 6.986 7.076 7.168 - 362 366 371 376 8,24 8,35 8,46 8,57 8,68 Kulo 11.760 11.911 12.065 12.221 12.378 2.915 2.952 2.990 3.029 3.068 - 152 154 156 158 1,57 1,59 1,61 1,63 1,65 Maritengngae 47.854 48.471 49.097 49.730 50.372 11.272 11.418 11.565 11.714 11.865 - 617 625 633 642 7,26 7,36 7,45 7,55 7,64 Watang Sidenreng 17.650 17.877 18.108 18.342 18.578 4.304 4.359 4.416 4.473 4.530 - 228 231 234 237 1,46 1,48 1,50 1,52 1,54 Dua Pitue 28.264 28.629 28.998 29.372 29.751 6.605 6.690 6.777 6.864 6.953 - 365 369 374 379 4,04 4,09 4,14 4,20 4,25 Pitu Riawa 25.868 26.201 26.539 26.882 27.229 6.088 6.167 6.246 6.327 6.408 - 334 338 342 347 1,23 1,25 1,26 1,28 1,29 Pitu Riase 20.611 20.877 21.146 21.419 21.695 4.997 5.062 5.127 5.193 5.260 - 266 269 273 276 0,24 0,25 0,25 0,25 0,26 TOTAL 281.784 285.419 289.101 292.830 296.608 68.104 68.982 69.872 70.773 71.686 0 3635 3681,9 3729 3778 1,50 1,52 1,54 1,55 1,57
2.3 Keuangan dan Perekonomian Daerah
Pembangunan ekonomi selalu menjadi sentral dan lokomotif pembangunan bidang lain, oleh karena itu dalam penyusunan strategi pembangunan selalu dimulai dengan pemetaan serta analisa mendalam tentang kondisi perekonomian yang sedang dihadapi dan prospek pengembangannya yang didasari oleh asumsi asumsi terhadap variabel yang mempengaruhi pembangunan ekonomi itu sendri.
Pada bagian ini menjelaskan terkait kondisi keuangan dan perekonomian daerah, dimana pembiayaan dibidang sanitasi dianggarkan pada beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah antara Lain Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, Badan Lingkungan Hidup, Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang, dan Dinas Kesehatan.
13 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
Tabel 2.5 Rekapitulasi Realisasi APBD Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2009-2011
No. Realisasi Anggaran Tahun Rata-Rata
2009 2010 2011
A Pendapatan (a.1 + a.2 + a.3) 529.706.205.000 497.898.198.000 745.896.471.000 591.166.958.000
a.1 Pendapatan Asli Daerah (PAD) 37.730.796.000 39.302.441.000 47.835.076.000 41.622.771.000
a.1.1 Pajak Daerah 3.237.058.000 3.901.000.000 4.481.536.000 3.873.198.000
a.1.2 Retribusi Daerah 21.512.408.000 19.792.380.000 20.609.562.000 20.638.116.667
a.1.3 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yg sah 2.535.000.000 3.535.000.000 4.700.000.000 3.590.000.000 a.1.4 Lain-Lain pendapatan daerah yang sah 10.446.330.000 12.074.061.000 18.043.978.000 13.521.456.333
a.2 Dana Perimbangan (Transfer) 412.221.831.000 394.216.517.000 469.116.031.000 425.184.793.000
a.2.1 Dana Bagi Hasil 49.308.551.000 38.899.942.000 52.326.430.000 46.844.974.333
a.2.2 Dana Alokasi Umum 306.792.280.000 318.050.275.000 369.923.301.000 331.588.618.667
a.2.3 Dana Alokasi Khusus 56.121.000.000 37.266.300.000 46.866.300.000 46.751.200.000
a.3 Lain-Lain Pendapatan yang Sah 79.753.578.000 64.379.240.000 228.945.364.000 124.359.394.000
a.3.1 Hibah 30.396.763.000 16.200.000.000 5.420.000.000 17.338.921.000
a.3.2 Dana Darurat - - - -
a.3.3 Dana Bagi hasil pajak dari prov. Ke kab/kota 13.144.145.000 14.322.004.000 13.252.763.000 13.572.970.667 a.3.4 Dana Penyesuaian dan Dana Otonomi Khusus 28.555.434.000 15.000.000.000 192.734.274.000 78.763.236.000 a.3.5 Bantuan Keuangan dr Prov/Pemerintah lainnya 7.657.236.000 18.857.236.000 17.538.327.000 14.684.266.333
B Belanaja (b.1 + b.2) 598.820.818.000 534.929.965.000 749.855.670.390 672.868.817.797
b.1 Belanja Tidak Langsung 280.846.874.000 293.218.798.000 362.482.715.390 312.182.795.797
b.1.1 Belanja Pegawai 224.518.569.000 250.053.701.000 329.896.326.390 268.156.198.797
b.1.2 Bunga 4.730.000.000 4.730.000.000 5.230.000.000 4.896.666.667
b.1.3 Subsidi 2.786.708.000 - - 928.902.667
b.1.4 Hibah 2.944.000.000 2.930.000.000 440.924.000 2.104.974.667
b.1.5 Bantuan Sosial 27.204.192.000 16.054.192.000 15.225.700.000 19.494.694.667
b.1.6 Belanja Bagi hasil 1.010.140.000 1.010.140.000 1.009.900.000 1.010.060.000
b.1.7 Bantuan Keuangan 7.953.265.000 8.740.765.000 7.679.865.000 8.124.631.667
b.1.8 Belaja Tidak Terduga 9.700.000.000 9.700.000.000 3.000.000.000 7.466.666.667
b.2 Belanja Langsung 317.973.944.000 241.711.167.000 387.372.955.000 315.686.022.000
b.2.1 Belanja Pegawai 37.212.874.000 33.017.828.000 30.113.421.000 33.448.041.000
b.2.2 Belanja Barang dan Jasa 82.043.160.000 96.978.483.000 129.522.924.500 102.848.189.167
b.2.3 Belanja Modal 198.717.910.000 111.714.856.000 227.736.609.500 179.389.791.833
C Pembiayaan 77.069.325.000 65.493.700.000 192.753.865.205 111.772.296.735
Tabel 2.6 Rekapitulasi Realisasi Belanja Sanitasi SKPD Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2009-2011
No. S K P D Tahun Rata – Rata
2009 2010 2011
1 DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG 17.231.666.800 10.159.946.000 11.497.790.400 12.963.427.733
1.a Investasi 16.280.881.000 9.021.101.500 10.325.600.000 11.875.860.833
1.b Operasional / Pemeliharaan (OP) 951.665.800 1.138.844.500 1.172.190.400 1.087.566.900
2 BADAN LINGKUNGAN HIDUP 29.370.000 - 1.676.677.000 568.682.333
2.a Investasi 29.370.000 - 1.652.772.000 560.714.000
2.b Operasional / Pemeliharaan (OP) - - 23.905.000 7.968.333
3 DINAS KESEHATAN 72.253.000 53.840.000 41.500.000 55.864.333
3.a Investasi 72.253.000 53.840.000 41.500.000 55.864.333
3.b Operasional / Pemeliharaan (OP) - - - -
4 BAPPEDA 100.000.000 40.000.000 45.500.000 61.833.333
4.a Investasi 100.000.000 40.000.000 45.500.000 61.833.333
4.b Operasional / Pemeliharaan (OP) - - - -
5 Belanja Sanitasi (1 + 2 + 3 + 4) 17.433.289.800 10.253.786.000 13.261.467.400 13.649.807.733 6 Pendanaan Investasi Sanitasi (1a+2a+3a +4a) 16.482.504.000 9.114.941.500 12.065.372.000 12.554.272.500 7 Pendanaan OM (1b + 2b + 3b + 4b) 951.665.800 1.138.844.500 1.196.095.400 1.095.535.233 8 Belanja Langsung 317.973944.000 241.711.167.000 387.372.955.000 315.686.022.000
9 Proporsi Belanja Sanitasi – B Langsung (5/8) 0,05 0,04 0,03 0,04
10 Proporsi Sanitasi – Total Sanitasi (6/5) 0,95 0,89 0,91 0,91
15 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
Tabel 2.7 Belanja Sanitasi Perkapita Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2009-2011
No. S K P D Tahun Rata-Rata
2009 2010 2011
1 Total Belanja Sanitasi Kabupaten 17.433.289.800 10.253.786.000 13.261.467.400 13.649.514.400
2 Jumlah Penduduk 252.483 271.911 274.652 266.348
Belanja Sanitasi Perkapita 69.047,38 37.710,08 48.284,62 51.246,92
Sumber : PDRB Kab. Sidrap Tahun 2012
Tabel 2.8 Tabel Peta Perekonomian Kabupaten Sidenreng Rappang Tahun 2009-2011
No. S K P D Tahun
2007 2008 2009 2010 2011
1. PDRB harga konstan (struktur ekonomi) (Rp.) 1.264.330,02 1.368.325,73 1.459.401,19 1.524.360,11 1.704.579,59 2. Pendapatan Perkapita (Rp.) 7.869.481,00 9.596.593,00 11.660.748,00 12.387.006,00 15.350.303,00
3. Pertumbuhan Ekonomi (%) 5,46 8,23 6,66 4,45 11,82
2.4 Tata Ruang Wilayah
2.4.1 Tujuan Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang
Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang yang ingin dicapai pada masa yang akan datang. Tujuan dari penataan ruang wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang adalah“Mewujudkan Pembangunan Kabupaten Sidenreng Rappang Yang Maju Dan Sejahtera Dengan Berbasis Pada Pembangunan Agribisnis Modern yang Didukung Oleh Peningkatan Indeks Pembangunan Manusia Yang Tinggi”
Wujud ruang wilayah yang mendukung perkembangan agribisnis modern diharapkan dapat meningkatkan minat investasi, selain juga untuk mengakomodasi dampak perkembangan di wilayah sekitar seperti Kota Parepare, Kabupaten Enrekang dan Pinrang, Kabupaten Soppeng dan Kabupaten, serta Kabupaten Wajo yang diharapkan akan memicu pertumbuhan perekonomian wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Ruang yang mendukung pertanian selain dari pertimbangan sosial budaya dan potensi geofisik wilayah, juga seiring untuk mendukung keseimbangan ekologis yang berkelanjutan. Adanya sinergi dengan sektor lainnya (hulu dan hilir) diharapkan meningkatkan nilai tambah pertanian sekaligus mengangkat perekonomian yang lebih merata dalam lingkup wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Pengembangan potensi wisata alam baik yang sudah berkembang maupun yang belum dioptimalkan perkembangannya ditunjang pertumbuhannya melalui pengaturan ruang serta pendukungnya terutama aspek sarana prasarana dan manajerialnya.
Dengan demikian, maka tujuan dari penataan ruang dalam Revisi RTRW Kabupaten Sidenreng Rappang memiliki beberapa kata kunci utama yang selanjutnya akan menjiwai penyusunan Perda Tata Ruang Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai payung kebijakan spasial.
17 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
2.4.2 Kebijakan dan Strategi Penataan Ruang Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Kebijakan dan strategi penataan ruang wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang membahas mengenai kebijakan dan strategi penataan struktur ruang wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang, kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang wilayah kabupaten, serta kebijakan dan strategi penetapan kawasan strategis wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
A. Kebijakan Dan Strategi Kependudukan 1. Kebijakan Kependudukan
a. Penataan dan penyebaran penduduk secara lebih seimbang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan.
b. Peningkatan kualitas sumberdaya manusia di Kabupaten Sidenreng Rappang.
2. Strategi Kependudukan
a. Menata administrasi kependudukan.
b. Memeratakan pembangunan ekonomi di seluruh wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
c. Meningkatkan kesehatan di Kabupaten Sidenreng Rappang dengan penyedian fasilitas kesehatan yang memadai dengan kualitas yang prima. d. Meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Sidenreng Rappang
dengan penyediaan sarana dan prasarana pendidikan secara lebih merata di Kabupaten Sidenreng Rappang.
B. Kebijakan dan Strategi Penetapan Struktur Ruang Wilayah KabupatenSidenreng Rappang
Penentukan Kebijakan dan strategi penetapan struktur ruang Kabupaten Sidenreng Rappang adalah untuk meningkatkan keserasian ruang. Kebijakan dan strategi penetapan struktur ruang ini meliputi strategi terkait dengan : sistem perdesaan, sistem perkotaan, fungsi wilayah, serta sistem jaringan prasarana wilayah di Kabupaten Sidenreng Rappang.
1. Kebijakan pengembangan struktur ruang dilakukan melalui :
a. Pembentukan pusat pelayanan guna mendorong pertumbuhan wilayah yang mendukung perkembangan industri, pertanian dan pariwisata.
b. Penyediaan prasarana wilayah untuk lebih mendorong iklim investasi produktif sesuai kebutuhan masyarakat melalui pengembangan dan penyediaaan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, sumber daya air, dan prasarana lingkungan.
2. Strategi Pembentukan pusat pelayanan guna mendorong pertumbuhan wilayah yang mendukung perkembangan industri, pertanian dan pariwisata dilakukan melalui :
a. Meningkatkan interaksi antara pusat kegiatan perdesaan dan perkotaan secara berjenjang.
b. Mengembangkan perkotaan Kabupaten Sidenreng Rappang sebagai pusat pelayanan sosial - ekonomi bagi area yang lebih luas.
c. Pengembangan fungsi kawasan peruntukan industri besar di kawasan Watang Pulu.
d. Mengembangkan fungsi kawasan perdesaan sesuai potensi wilayah, yakni perdesaan terletak di kawasan pegunungan untuk hutan lindung, hutan produksi, perkebunan dan hortikultura, perdesaan di dataran rendah untuk pertanian pangan, dan perdesaan.
e. Meningkatkan nilai tambah produk pertanian dengan pengolahan hasil, serta pengembangan sistem agribisnis pada kawasan potensial.
f. Mengembangkan kawasan wisata sebagai andalan pengembangan perdesaan di Kabupaten Sidenreng Rappang.
3. Strategi penyediaan prasarana wilayah dilakukan melalui :
a. Mengembangkan sistem transportasi darat melalui pengembangan jalan antara Kota Parepare – Kabupaten Sidenreng Rappang – Kabupaten Wajo / pengembangan jalan Arteri primer, rencana pembangunan jalan lingkar kota serta jalan lokal primer pada semua jalan penghubung utama antar kecamatan dan penghubung dengan fungsi utama di Kabupaten Sidenreng Rappang yang tidak terletak di jalan arteri maupun kolektor guna mendukung perkembangan industri, pertanian dan pariwisata.
b. Mengembangkan prasarana transportasi darat dengan upaya pemeliharaan dan peningkatan terminal tipe Cpada beberapa terminal yang tersebar diwilayah perencanaan yang berpotensi sebagai sumber bangitan dan tarikan lalulinas.
19 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
digunakan oleh banyak provider secara bersama-sama dan menjangkau ke pelosok perdesaan guna mendukung iklim investasi dan pemasaran di bidang industri dan pariwisata.
d. Mengembangkan sumber daya pengairan dengan peningkatan sistim jaringan irigasi sederhana dan irigasi setengah teknis; perlindungan terhadap sumber-sumber mata air dan daerah resapan air, serta pengembangan dalam, cekdam dan embung pada kawasan potensial guna pengembangan sektor pertanian.
e. Mengembangkan sistem jaringan energi dengan peningkatan jaringan listrik pada wilayah pelosok pedesaan yang belum terlayani dan terisolir, serta pengembangan sistem penyediaan setempat melalui mikro hidro dan
Bio-Mass Energyguna mendukung pertumbuhan wilayah dan peningkatan
investasi di Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
f. Mengembangkan prasarana lingkungan dengan optimalisasi tingkat penanganan sampah perdesaan dan perkotaan melalui pengelolaan sampah berkelanjutan dan mendukung pertanian misalnya menjadikan sampah hasil pertanian sebagai bahan baku kompos, pengembangan TPA, serta melakukan upaya reduce, reuse dan recycle(3R) terhadap timbunan sampah dan limbah secara terpadu.
C. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
1. Kebijakan pengembangan pola ruang wilayah terdiri atas penetapan kawasan lindung dan budidaya meliputi:
a. Pemantapan fungsi kawasan lindung yang mencakup kawasan hutan lindung, kawasan yang memberikan perlindungan pada kawasan bawahannya, kawasan perlindungan setempat, kawasan pelestarian alam, kawasan cagar budaya dan ilmu pengetahuan, kawasan rawan bencana alam dan kawasan lindung lainnya dengan menetapkan fungsi utamanya adalah fungsi lindung dan tidak boleh dialihfungsikan untuk kegiatan budidaya; serta
b. Pengembangan kawasan budidaya melalui optimasi fungsi kawasan pada kawasan hutan produksi, kawasan pertanian, kawasan perkebunan, kawasan
peternakan, kawasan pertambangan, kawasan peruntukan industri, kawasan dan objek pariwisata, kawasan permukiman, kawasan eksploitasi sumber daya air dan mineral serta ruang terbuka hijau (RTH) dalam mendorong ekonomi dan kesejahteraan masyarakat
2. Strategi pengembangan kawasan lindung meliputi:
a. Memantapkan fungsi lindung pada kawasan yang memberi perlindungan kawasan bawahannya sebagai hutan lindung dan kawasan resapan air dengan pelarangan melakukan kegiatan budidaya yang dapat mengganggu fungsi lindung dan pengembalian fungsi pada kawasan yang telah mengalami kerusakan, melalui penanganan secara teknis dan vegetatif dengan pelibatan peran serta dari masyarakat sekitar kawasan.
b. Mengembangkan dan pemantapan kawasan perlindungan setempat dengan pembatasan kegiatan yang tidak berkaitan dengan perlindungan setempat yang meliputi kawasan sepanjang sungai, sekitar DAM, Cekdam, embung dan mata air, dibatasi untuk kepentingan pariwisata dengan pengamanan kawasan dan mengutamakan vegetasi sedangkan dan penggunaan fungsional seperti pariwisata, permukiman diijinkan dengan memperhatikan kaidah lingkungan.
c. Mengembangkan dan pemantapan kawasan pelestarian alam hanya diperuntukkan bagi kegiatan yang berkaitan dengan pelestarian kawasan diantaranya memelihara habitat dan ekosistem khusus yang ada dan sifatnya setempat yang nantinya dapat meningkatkan nilai dan fungsi kawasan dengan menjadikannya sebagai tempat wisata, objek penelitian, kegiatan pecinta alam yang pelaksanaan dan pengelolaannya secara bersama.
d. Mengembangkan dan penanganan kawasan rawan bencana alam dengan menghindari kawasan yang rawan terhadap bencana alam banjir, longsor, angin ribut sebagai kawasan terbangun, peringatan dini dari kemungkinan adanya bencana angin ribut dan banjir, pengembangan bangunan yang dapat meminimasi terjadinya bencana pengembangan bangunan tahan gempa pada daerah terindikasi rawan gempa.
21 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
a. Mengembangkan hutan produksi, dengan pengembangan hutan yang bernilai ekonomi tinggi tetapi tetap memiliki fungsi perlindungan kawasan dengan melakukan peningkatan nilai tambah kawasan melalui penanaman secara bergilir, tebangan pilih dan pengelolaan bersama masyarakat; pada kondisi khusus dimana akan dilakukan alih fungsi maka harus dilakukan pengganti lahan setidaknya tanaman tegakan tinggi tahunan yang berfungsi untuk menggantikan fungsi hutan. b. Mengembangkan kawasan pertanian dilakukan melalui: penetapan dan pengendalian secara ketat kawasan lahan pertanian pangan berkelanjutan, pengembangan intensifikasi dan pemanfaatan teknologi tepat guna, pengembangan sentra produksi dan agribisinis, pengembangan hortikultura dengan pengolahan hasil pertanian dan melakukan upaya eksport serta peningkatan sarana dan prasarana pertanian untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
c. Mengembangkan kawasan perkebunan dilakukan melalui pengembalian lahan yang rusak atau alih komoditas menjadi perkebunan, peningkatan produktivitas dan pengolahan hasil perkebunan dengan teknologi tepat guna serta pengembangan kemitraan dengan masyarakat yang tinggal disekitar perkebunan. d. Mengembangkan kawasan peternakan melalui pengembangan dan pengelolaan
hasil peternakan dengan industri peternakan yang ramah lingkungan yang didukung dengan adanya pengembangan cluster sentra produksi peternakan terutama terkait dengan industri pakan ternak dan pemanfaatan kotoran ternak. e. Mengembangkan kawasan pertambangan dilakukan melalui penetapan kawasan
pertambangan sesuai dengan jenis bahan galian, pengembangan kawasan pertambangan yang sudah ada dan melakukan rehabilitasi kawasan bekas pertambangan sesuai dengan dokumen AMDAL yang menyertainya.
f. Mengembangkan kawasan peruntukan industri melalui pengembangan dan pemberdayaan industri kecil dan home industry untuk pengolahan hasil pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, yang diikuti dengan peningkatan kegiatan koperasi usaha mikro, kecil dan menengah serta pengadaan prasarana wilayah pada kawasan Pitu Riawa yang telah ditetapkan sebagai kawasan untuk peruntukan Agro Industri Moderen untuk menarik investasi.
g. Mengembangkan kawasan pariwisata melalui pengembangkan obyek wisata andalan prioritas berbasis alam; membentuk zona wisata yang dikaitkan dengan kalender wisata dalam skala nasional dengan disertai pengembangan paket wisata, pengadaan kegiatan festival wisata atau gelar seni budaya yang didukung oleh pemasaran hasil industri kecil kerajinan hasil pertanian dan hasil pengolahan produksi pertanian.
h. Mengembangkan kawasan permukiman dengan pengembangan permukiman perdesaan yang disesuaikan dengan karakter fisik, sosial-budaya dan ekonomi masyarakat perdesaan yang didukung dengan penyediaan sarana dan prasarana permukiman perdesaan dan peningkatan kualitas permukiman perkotaan serta pengembangan perumahan terjangkau dan layak huni.
i. Mengembangkan kawasan eksploitasi sumber daya air dan mineral melalui pelestarian daerah di sekitar kawasan eksploitasi sumberdaya air dan mineral dengan melalukan reboisasi di daerah sekitarnya untuk menjaga agar siklus daur hidrologi berjalan sebagaimana mestinya sehingga dapat mempertahankan debit air yang ada serta memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar untuk menjaga kawasan eksploitasi sumberdaya air dan mineral agar tidak terjadi pencemaran terhadap kualitas dan kebersihan air tersebut.
j. Mengembangkan kawasan ruang terbuka hijau (RTH) dengan penetapan kawasan ruang terbuka hijau di wilayah perkotaan minimal 30 % dari luas wilayah perkotaan akan tetapi proporsi RTH privat dapat berbeda pada kawasan-kawasan yang ditetapkan sangat strategis, bernilai lahan sangat tinggi, dan atau pada kawasan-kawasan yang berfungsi sebagai kawasan penyangga atau kawasan lindung atau berfungsi konservasi maka komposisi Ruang Terbuka Hijau yang dipersyaratkan sebagai komposisi penyediaan RTH privat disesuaikan dengan peraturan yang berlaku sesuai dengan fungsinya.
D. Kebijakan dan Strategi Penetapan Kawasan Strategis Wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang
1. Pengembangan kawasan sesuai fungsi masing-masing dalam mendukung fungsi pertahanan dan keamanan, pengembangan ekonomi wilayah, dan lingkungan hidup guna mewujudkan Kabupaten Sidenrang Rappang yang lestari dan berdaya saing tinggi.
23 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
2. Strategi pengembangan kawasan strategis ini meliputi :
a. Mengembangkan kawasan strategis pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sidenrang Rappang meliputipengembangan kawasan industri di Kecamatan Pitu Riawa yang ditunjang dengan pengembangan kawasan Agroindustri Moderen.
b. Mengembangkan fungsi lindung pada kawasan sosio-kultural melalui upaya peningkatan pemanfaatan Makan Andi Cammi dan Peninggalan Sejarah di Watang Sidenreng dan Panarukan untuk penelitian, pendidikan dan pariwisata dan pengendalian perkembangan kegiatan di sekitarnya.
c. Mengembangkan kawasan yang diperuntukkan bagi kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pendayagunaan sumber daya alam dilakukan dengan pengembangan kawasan pendayagunaan sumber daya alam berdasarkan lokasi sumberdaya alam strategis Danau Sidenreng dan Kawasan Industri dan Pergudangan di wilayah perbatasan dengan Kota Parepare yang masuk dalam batas administrasi Kabupaten Sidenrang Rappang.
2.4.3 Potensi Daerah Rawan Bencana
A. Banjir
Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi perilaku manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya telah terjadi perubahan tata ruang secara massive, sehingga daya dukung lingkungan menurun drastis. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri telah mengubah keseimbangan fungsi lingkungan, bahkan kawasan retensi banjir (retarding basin) yang disediakan alam berupa situ-situ telah juga dihabiskan. Keadaan ini secara signifikan menurunkan kapasitas penyerapan air secara drastis.
Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase permukiman yang kurang memadai, sehingga pada curah hujan tertentu, menimbulkan genangan air di mana-mana. Selain itu, lemahnya penegakan hukum ikut mendorong tumbuh dan berkembangnya permukiman ilegal di bantaran sungai, bahkan masuk ke badan sungai. Keadaan ini makin memperburuk sistem tata air lingkungan, karena kapasitas tampung dan pengaliran sungai menurun dan terjadilah luapan air.
Di Kabupaten Sidenreng Rappang terdapat titik rawan banjir yang tersebar pada beberapa kecamatan diantaranya di Kecamatan Tellu Limpoe, Panca Lautang, dan Kecamatan Watang Sidenreng yang berada disekitar Danau Sidenreng, Kecamatan Watang Pulu dan di Kecamatan Dua Pitue.
B. Longsor
Pada umumnya kawasan rawan longsor merupakan kawasan dengan ingkat curah hujan rata-rata yang tinggi, atau kawasan rawan gempa, serta dicirikan dengan kondisi kemiringan lereng lebih curam dari 20o.
Dalam kawasan ini sering dijumpai alur-alur dan mata air, yang pada umumnya berada di lembah-lembah dekat sungai.Kawasan dengan kondisi seperti di atas, pada umumnya merupakan kawasan yang subur, sehingga banyak dimanfaatkan untuk kawasan budidaya, terutama pertanian dan permukiman. Kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terkait dengan tingkat kerentanan kawasan terhadap longsoran, mengakibatkan masyarakat kurang siap dalam mengantisipasi bencana, sehingga dampak yang ditimbulkan apabila terjadi bencana longsor, akan menjadi lebih besar.
Dalam wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang berdasarkan hasil survey dan pengumpulan data instansi yang diperkuat oleh hasil wawancara terhadap masyarakat yang ada disekitar kawasan rawan longsor, terdapat potensi rawan longsor pada beberapa lokasi diantaranya di Desa Betao Riase Kecamatan Pitu Riawa, dan beberapa desa yang ada di Kecamatan Pitu Riase yaitu Desa Lepangeng, Desa Tanatoro, dan Desa Belawae.
C. Angin Puting Beliung
Sedangkan untuk kawasan rawan bencana rawan angin terdapat beberapa titik yang sering terkena dampak yaitu di Kecamatan Kulo, Kecamatan Watang Sidenreng, Kecamatan Maritangngae, Kecamatan Tellu Limpoe serta Kecamatan Panca Lautang.
25 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
Peta 2.3 Peta Rencana Struktur Ruang Kabupaten Sidenreng Rappang
Sumber : RTRW Kab. Sidrap Tahun 2012 – 2032
2.4.4 Penentuan Pusat Kegiatan Perkotaan
Pusat kegiatan perkotaan di Kabupaten Sidenreng Rappangseperti tergambar pada Peta 2.3 di atas ditentukan oleh pelayanan kegiatan perkotaan dalam skala regional dan perkotaan yang secara langsung mempengaruhi sistem perkotaan di Kabupaten Sidenreng Rappang :
A. Pusat Kegiatan Lokal (PKL) berada di Perkotaan Pangkajene Kecamatan Maritenggae.
Pengembangan kawasan Perkotaan Pangkajene dilakukan dengan penataan dan pengembangan sarana prasarana perkotaan dengan tingkat pelayanan skala kabupaten diantaranya pengembangan pasar induk, saran kesehatan, pendidikan, peningkatan RTH, pembuatan Sistem Mitigasi Bencana, serta penanganan sistem persampahan didaerah perkotaan.
B. Pusat Kegiatan Lokal Promosi (PKLP) :
1. Perkotaan Lawawoi di Kecamatan Watang Pulu, yang didukung dengan penataan kawasan perkotaan, pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengembangan prasarana transportasi, perdagangan, dan pendidikan, serta pengembangan potensi wilayah yang dikembangkan sebagai kawasan agropolitan pertanian, perikanan, dan peternakan yang ditunjang oleh industri beserta sarana dan prasarana penunjangnya,
2. Perkotaan Rappang di Kecamatan Panca Rijang yang didukung dengan penataan kawasan perkotaan, pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengembangan prasarana transportasi, perdagangan, pembuatan sistem mitigasi bencana, dan pendidikan, serta pengembangan potensi wilayah yang dikembangkan sebagai kawasan agropolitan perkebunan.
3. Perkotaan Tanru Tedong di Kecamatan Dua Pitue yang didukung dengan penataan kawasan perkotaan, pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH), pengembangan prasarana transportasi, perdagangan, pembuatan sistem mitigasi bencana, dan pendidikan, serta pengembangan potensi wilayah yang dikembangkan untuk kawasan agropolitan pertanian, dan peternakan yang ditunjang oleh industri beserta sarana dan prasarana penunjangnya.
Penentuan PKLp dengan aksesibilitas yang tinggi serta ketersediaan sarana prasarana wilayah dengan skala regional serta merupakan upaya dalam rangka pemerataan pembangunan yang seimbang pada bagian-bagian wilayah yang dapat memicu atau merangsang perkembangan wilayah tertinggal.
C. Pusat Pelayanan Kawasan (PPK):
1. Perkotaan Kawasan Perkotaan Lancirang di Kecamatan Pitu Riawa, sebagai kawasan pengembangan komoditas pertanian dan pusat pengembangan industri kecil dan menengah. Selain itu, untuk mendukung pengembangan perkotaan, dikembangkan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kinerja perkotaan diantaranya pengembangan Penataan Sistem Perkotaan melalui studi rencana detail perkotaan dan pengembangan RTH, sarana perdagangan berupa peningkatan pasar, peningkatan kualitas terminal untuk memperlancar arus orang dan barang serta peningkatan pendidikan masyarakat melalui pengembangan sarana pendidikan dan kesehatan.
27 BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG
2. Perkotaan Empagae di Kecamatan Watang Sidenreng, sebagai kawasan pengembangan komoditas pertambangan, peternakan dan permukiman beserta sarana dan prasarana penunjangnya, melalui pengembangan sistem perkotaan, pengembangan RTH, pusat kawasan industri menengah dan kecil, pengembangan sarana pendidikan, kesehatan, dan perdagangan serta penanganan bencana dengan pembuatan Sistem Mitigasi Bencana banjir dan Angin Kencang.
3. Perkotaan Amparita di Kecamatan Tellu LimpoE, sebagai kawasan pengembangan industri pengolahan hasil pertanian, serta pengembangan sistem perkotaan melalui penyusunan rencana sistem perkotaan (RDTR), pengembangan dan peningkatan sarana pendidikan dan kesehatan, serta pembuatan Sistem Mitigasi Bencana Banjir pada kawasan rawan bencana banjir.
D. Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL)
Pusat Pelayanan Lingkungan (PPL) berada di seluruh ibukota kecamatan diluar PKL, PKLP dan PPK, yaitu antara lain Baranti, Kulo, Pitu Riase, dan Panca Lautang. Pengembangan kawasan Pusat Pelayanan Lingkungan dengan penataan dan pengembangan sarana prasarana wilayah antara lain pengembangan sarana perdagangan (pasar lingkungan) untuk mendukung kegiatan ekonomi masyarakat serta mendukung pengembangan industri kecil/industri rumah tangga, peningkatan kualitas pendidikan melalui peningkatan sarana prasarana pendidikan, dan pengembangan sarana kesehatan.
Peta 2.4 Peta Rencana Pola Ruang Kabupaten Sidenreng Rappang
2.5 Sosial dan Budaya
Kondisi Sosial Budaya menggambarkan keadaan prasarana pendidikan, jumlah penduduk miskin dan kawasan kumuh yang terdapat di wilayah Kabupaten Sidenreng Rappang.
Tabel 2.9 Fasilitas Penddikan yang tersedia di Kabupaten Sidenreng Rappang
Nama Kecamatan
Jumlah Sarana Pendidikan
Umum Agama
SD SLTP SMA SMK MI MTs MA
Kecamatan Panca Lautang 17 2 1 - 3 3 1
Kecamatan Tellu Limpoe 16 3 1 - 1 2 1
Kecamatan Watang Pulu 23 3 2 2 - - -
Kecamatan Baranti 26 4 1 - - 2 2
Kecamatan Panca Rijang 23 6 3 1 1 1 1
Kecamatan Kulo 12 2 - 1 - 1 -
Kecamatan Maritengngae 28 7 3 3 3 4 2
Kecamatan Watang Sidenreng
14 2 - - 1 2 2
Kecamatan Dua Pitue 23 3 2 - 2 4 -
Kecamatan Pitu Riawa 25 5 1 - 2 1 1
Kecamatan Pitu Riase 26 4 - - - 1 -
TOTAL 233 41 14 7 13 21 10
Sumber : Dinas Pendidikan Kab. Sidrap
Tabel 2.10 Jumlah Penduduk Miskin Per Kecamatan
Nama Kecamatan Jumlah Keluarga
Miskin (KK)
Kecamatan Panca Lautang 2.209
Kecamatan Tellu Limpoe 2.475
Kecamatan Watang Pulu 1.491
Kecamatan Baranti 1.063
Kecamatan Panca Rijang 2.073
Kecamatan Kulo 951
Kecamatan Maritengngae 2.465
Kecamatan Watang Sidenreng 2.031
Kecamatan Dua Pitue 2.430
Kecamatan Pitu Riawa 2.777
Kecamatan Pitu Riase 2.749
TOTAL 22.714
Tabel 2.11 Jumlah Rumah Per Kecamatan
Nama Kecamatan Jumlah Rumah
Kecamatan Panca Lautang 4.315
Kecamatan Tellu Limpoe 4.821
Kecamatan Watang Pulu 5.408
Kecamatan Baranti 7.048
Kecamatan Panca Rijang 6.401
Kecamatan Kulo 2.540
Kecamatan Maritengngae 10.501
Kecamatan Watang Sidenreng 3.578
Kecamatan Dua Pitue 6.233
Kecamatan Pitu Riawa 5.323
Kecamatan Pitu Riase 4.397
TOTAL 60.565
Sumber : BPS Kab. Sidrap Tahun 2012
2.6 Kelembagaan Pemerintah Daerah
Kelembagaan Pemerintah Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang khususnya yang terlibat dalam kelembagaan Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokaja AMPL) Kabupaten Sidenreng Rappang yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sidenreng Rappang seperti yang dijelaskan dalam struktur organisasi berikut :
Gambar 2.1Struktur Organisasi Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang BUPATI WAKIL BUPATI BUPATI WAKIL BUPATI SEKRETARIAT DAERAH SEKRETARIAT DAERAH DPRD DPRD SEKRETARIAT DPRD · BAG. PERSIDANGAN · BAG. KEUANGAN · BAG. UMUM SEKRETARIAT DPRD · BAG. PERSIDANGAN · BAG. KEUANGAN · BAG. UMUM ASISTEN PEMERINTAHAN DAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ASISTEN PEREKONOMIAN DAN PEMBANGUNAN ASISTEN ADMINISTRASI
UMUM STAF AHLI
KECAMATAN KELURAHAN DINAS DAERAH · DINAS PENDIDIKAN · DINAS KESEHATAN · DINAS PSDA
· DINAS BINA MARGA
· DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG
· DINAS SOSIAL DAN NAKERTRANS
· DINAS KOPERASI, UMKM DAN PERINDAG
· DINAS PORA, KEBUD, DAN PARIWISATA
· DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
· DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
· DINAS KEHUTANAN, PERTAMBANGAN, DAN ENERGI
· DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI, DAN INFORMATIKA
· DINAS PENDAPATAN DAERAH
DINAS DAERAH
· DINAS PENDIDIKAN
· DINAS KESEHATAN
· DINAS PSDA
· DINAS BINA MARGA
· DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG
· DINAS SOSIAL DAN NAKERTRANS
· DINAS KOPERASI, UMKM DAN PERINDAG
· DINAS PORA, KEBUD, DAN PARIWISATA
· DINAS PERTANIAN DAN PERKEBUNAN
· DINAS PETERNAKAN DAN PERIKANAN
· DINAS KEHUTANAN, PERTAMBANGAN, DAN ENERGI
· DINAS PERHUBUNGAN, KOMUNIKASI, DAN INFORMATIKA
· DINAS PENDAPATAN DAERAH
LEMBAGA TEKNIS DAERAH
· BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
· BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAERAH
· BADAN LINGKUNGAN HIDUP
· BADAN KELUARGA BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
· BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAHAN DESA
· BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
· BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH
· BADAN PENYULUH DAN KETAHANAN PANGAN
· BADAN KESEBANG DAN LINMAS
· INSPEKTORAT KABUPATEN
· SEKRETARIAT KORPRI
· KANTOR PTSP
· RSUD NENE’ MALLOMO
· RSUD ARIFIN NU’MANG
· KANTOR ARSIP DAN PERPUSTAKAAN
· KANTOR PERWAKILAN
LEMBAGA TEKNIS DAERAH
· BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH
· BADAN PENGELOLA KEUANGAN DAERAH
· BADAN LINGKUNGAN HIDUP
· BADAN KELUARGA BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
· BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAHAN DESA
· BADAN PENANGGULANGAN BENCANA DAERAH
· BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH
· BADAN PENYULUH DAN KETAHANAN PANGAN
· BADAN KESEBANG DAN LINMAS
· INSPEKTORAT KABUPATEN
· SEKRETARIAT KORPRI
· KANTOR PTSP
· RSUD NENE’ MALLOMO
· RSUD ARIFIN NU’MANG
· KANTOR ARSIP DAN PERPUSTAKAAN
· KANTOR PERWAKILAN
KANTOR SATPOL PP BAG. ADM. PEMERINTAHAN
UMUM
BAG. ADM. KESEJAHTERAAN RAKYAT
BAG. ADM.KEMASYARAKATAN
BAG. ADM. PEMBANGUNAN BAG. ADM. SUMBER DAYA ALAM
BAG. ADM. PEREKONOMIAN DAN PM
BAGIAN HUKUM BAGIAN ORGANISASI BAGIAN UMUM DAN KEUANGAN SETDA BAGIAN HUMAS BUPATI BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH DINAS KESEHATAN DINAS CIPTA KARYA DAN TATA RUANG BADAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAN PEMERINTAHAN DESA BADAN LINGKUNGAN HIDUP BADAN KELUARGA BERENCANA DAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN SEKERETARIAT DAERAH
BIDANG FISIK DAN PRASARANA BIDANG PENGENDALIAN PENYAKIT DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN BIDANG PERMUKIMAN BIDANG KEBERSIHAN DAN KEINDAHAN BIDANG TEKNOLOGI TEPAT GUNA BIDANG PENGENDALIAN LINGKUNGAN
BAGIAN HUMAS BIDANG PEMBERDAYAAN PEREMPUAN
MANDAT TUPOKSI LANGSUNG STAKEHOLDER UTAMAN MANDAT TUPOKSI TIDAK LANGSUNG STAKE HOLDER PENDUKUNG