30
TEOLOGI IBADAH DALAM PENDIDIKAN KRISTEN
Roike R. Kowal
1. PENGANTAR
Dalam suratnya kepada Timotius Rasul Paulus menulis : “Latihlah dirimu beribadah” (1 Tim. 4:7b). Lebih lanjut Rasul Paulus berkata, “…….ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini, maupun untuk hidup yang akan datang. Dengan demikian ibadah adalah suatu hal yang amat penting dalam hidup orang-orang Kristen. Bahkan harus dipahami, bahwa ibadah adalah merupakan identitas Gereja atau orang-orang percaya.
Ibadah yang relevan dengan situasi jemaat (kontekstual) adalah cita-cita gereja; yang dapat dimengerti dan mampu mengakomodasi respons lokal. Tapi kita harus memperhatikan prinsip-prinsip dasar ibadah kristen dan norma-norma umum yang didalamnya keputusan-keputusan pastoral (lokal) dapat dibuat. Hal ini tidaklah mudah untuk dijawab, karena semakin praktis keputusan, semakin perlu dasar-dasar teoritisnya ditemukan. Karena itu sebagai langkah awal dalam tulisan ini, kita akan mencoba mengamati dasar dari ibadah kristen, karena hal ini akan membantu kita berefleksi dan menempuh langkah yang lebih baik dalam memikirkan pembaharuan ibadah.
II. IBADAH
Sejarah Ibadah
Umat manusia telah menyembah Allah sejak awal sejarah. Adam dan Hawa secara teratur bersekutu dengan Allah di Taman Eden (bd. Kej 3:8). Baik Kain maupun Habel membawa persembahan (bah. Ibr. minhah yang juga diterjemahkan sebagai "upeti" atau "hadiah") berupa tanaman dan ternak kepada Tuhan (Kej 4:3-4); keturunan Set "memanggil nama Tuhan" (Kej 4:26). Nuh mendirikan mezbah bagi Tuhan untuk mempersembahkan korban bakaran setelah air bah (Kej 8:20). Abraham membangun mezbah-mezbah korban bakaran bagi Tuhan di berbagai tempat di negeri perjanjian (Kej 12:7-8; 13:4,18; 22:9) dan berbicara secara akrab dengan Dia (Kej 18:23-33; 22:11-18).
Akan tetapi, baru setelah peristiwa keluaran ketika Kemah Suci didirikan, maka ibadah yang umum memperoleh bentuknya. Setelah itu, korban-korban yang tetap dipersembahkan setiap hari dan secara khusus pada hari Sabat. Allah juga menetapkan beberapa hari raya agama tahunan sebagai saat-saat penyembahan umum bagi Israel (Kel 23:14-17; Im 1:1-7:38; 16:1-34; Im 23:4-44; Ul 12:1-32; 16:1-22). Ibadah ini kemudian dipusatkan di Bait Suci di Yerusalem (bd. rencana-rencana Daud sebagaimana tercatat dalam 1Taw 22:1-26:32). Ketika Bait Suci dibinasakan pada tahun 586 SM, orang Yahudi membangun sinagoge sebagai tempat pendidikan dan ibadah sementara mereka berada dalam pembuangan dan di manapun mereka tinggal. Bangunan-bangunan ini masih dipakai sebagai tempat ibadah bahkan setelah bait suci yang kedua dibangun di bawah pimpinan Zerubabel (pasal-pasal Ezr 3:1-6:22). Terdapat banyak sinagoge di Palestina dan seluruh wilayah Roma
31
pada masa PB (mis. Luk 4:16; Yoh 6:59; Kis 6:9; 13:14; Kis 14:1; 17:1,10; 18:4; 19:8; 22:19).
Ibadah gereja yang mula-mula dilaksanakan di Bait Suci Yerusalem dan rumah-rumah pribadi (Kis 2:46-47). Di luar Yerusalem, orang Kristen beribadah dalam sinagoge selama mereka diizinkan; ketika tidak diperbolehkan lagi, mereka berkumpul di tempat lain untuk beribadah -- biasanya di rumah-rumah pribadi (bd. Kis 18:7; Rom 16:5; Kol 4:15; Filemon 1:2), sekalipun kadang-kadang di gedung-gedung umum (Kis 19:9-10).
2.1. Istilah-Istilah dan Pemahaman Etimologis tentang Ibadah :
Ada banyak istilah yang dipakai untuk menunjukkan kegiatan ibadah, antara lain:
Worship berasal dari kata weorthscipe (weorth (worthy) scipe (ship) berarti hal yang layak dilakukan. Kata worship biasanya digunakan dalam kata Sunday Worship atau Ibadah Minggu.
Service berasal dari kata servitium, artinya pelayanan; suatu pekerjaan yang dilakukan untuk orang lain. Misalnya Morning Service untuk ibadah pagi.
Office dari kata officium (kesediaan melayani, kewajiban) digunakan untuk aktifitas beribadahan. Misalnya Daily Office atau Divine Office untuk ibadah harian.
Cult (kultus) mempunyai arti yang lebih sempit dari kata aslinya (Latin) colore, yang menyangkut relasi ketergantungan antara pemberi dan penerima. Misalnya seorang petani akan mendapat musibah jika tidak menyirami tanamannya.
Liturgi adalah kata yang paling umum dipakai. Kata ini dari bahasa Yunani leitourgia, berarti pelayanan atau kerja (ergon) bangsa, publik, masyarakat atau umat (laos). Kata laos dan ergon diambil dari kehidupan Yunani kuno, yang berarti membayar pajak dan melakukan bentik pengabdian atau membela negara dari ancaman. Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan (leitourgos) (Rm 15:16; 13:6).
Dari pemahaman Paulus, liturgi berarti sikap beriman sehari-hari. Kata liturgi selanjutnya menjadi kata yang khas untuk menyebut ibadah Kristen, misalnya Liturgy of Word untuk pemberitaan firman.
Kebaktian adalah kata yang dipakai dalam bahasa Indonesia. Asal katanya adalah bakti, yaitu perbuatan yang menyatakan setia dan hormat, memperhambakan diri, perbuatan baik. Bakti dapat ditujukan kepada negara maupun Tuhan. Misalnya Kebaktian Natal.
Ibadah berasal dari bahasa Arab ebdu (hamba), sama dengan bahasa Ibrani abodah (ebed=hamba). Artinya perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Tuhan. Ibadah terkait erat dengan kegiatan manusia terhadap Allah, yaitu pelayanan kepada Tuhan. Alkitab tidak memiliki kata tersendiri untuk ibadah. Tapi kita dapat menemukan banyak kosa kata tentang ibadah dalam Alkitab. Diantaranya adalah kata Junani Latreuo atau Latreuein (Rom. 12 : 1 ; Fil. 3 : 3). Kata Latreuo atau Latreuein dapat berarti : dapat bekerja untuk …..; menundukkan diri ; melayani ; mengabdikan seluruh hidup kepada Allah ; pelayanan kepada Allah atau ibadah kepada Allah.
2.2. Arti Ibadah
32
Sembah sujud (Kej 18: 2). Kata ini paling utama muncul dalam Alkitab, di mana Abraham sembah sujud kepada 3 orang yang dilihatnya.
Mencium (Yoh 4 : 20 _ 24). Artinya rasa hormat dan taat kepada Tuhan. Ada satu perasaan ingin dekat dan mendengar serta menghormati Firman Tuhan.
Liturgi (Mat 4 : 10 dan Ibrani 9 : 9 & 14) mempunyai arti pelayanan dalam ibadah dan satu tata cara ibadah yang tersusun.
Dari kesimpulan di atas, bagaimanapun kita beribadah, kita harus mempunyai satu liturgi yang tersusun dan mempunyai rasa rindu ingin dekat kepada Tuhan, rasa hormat serta taat pada Firman Tuhan. Setiap jemaat dalam beribadah harus sopan dan hormat kepada Tuhan kita.
Jadi ibadah adalah :
o Menyembah Allah atau mengabdi kepada Allah. Dan dalam rangka mempersembahkan ibadah kepada Allah, para hambaNya harus menundukkan diri untuk mengungkapkan rasa takut penuh hormat, kekaguman dan ketakjuban penuh puja kepada Tuhan (Kej. 24 : 26 …berlutut dan sujud menyembah Tuhan). Hal itu dapat dilakukan secara pribadi, tapi juga melalui ibadah umat (bersama) dengan liturgi atau upacara tertentu. Namun demikian ibadah juga harus dipahami bukan hanya terbatas pada „upacara agama‟ (misalnya di Jemaat), tapi ibadah adalah mencakup persembahan seluruh hidup dan semua aktivitas sehari-hari kepada Allah.
o Ibadah merupakan penyataan kasih / pelayanan kasih Allah kepada dunia - termasuk manusia - dan respons jawaban manusia atas pelayanan kasih Allah. Ibadah adalah cara orang percaya menghidupi, mengalami dan merayakan karya keselamatan. Apa yang telah Allah lakukan dalam sejarah diperbaharui dan dihadirkan kembali untuk dialami jemaat dalam situasi hidup mereka yang konkret sekarang ini.
2.3. Ibadah Dalam Alkitab
2.3.1. Ibadah Perjanjian Lama (PL)
Pada awalnya kita menemukan adanya ibadah atau persembahan pribadi kepada Allah (Kej. 4:4 Habil memberikan persembahan kepada Tuhan ; lihat pula, Kel. 24:26). Hal itu menunjukkan bahwa pada dasarnya ibadah adalah merupakan ungkapan bathin seseorang yang mengakui bahwa Allah berdaulat, penuh kuasa dan baik. Atau ibadah adalah menunjukkan ketinggian spritual seseorang yang disertai ungkapan pujian dan syukur kepada Tuhan, karena Ia patut disembah (bd. Ayub 1:20 ; Yos. 5 :14)
Kemudian, pelaksanaan ibadah itu berkembang menjadi ibadah umat. Musa adalah seorang tokoh yang dianggap sebagai peletak dasar dari ibadah umat yang diorganisir, dan yang menjadikan Jahwe sebagai alamat ibadah satu-satunya. Ibadah umat diorganisir di dalam Kemah Pertemuan, dan upacaranya dipandang sebagai “pelayanan suci” dari pihak umat untuk memuji Tuhan.
Pada perkembangan selanjutnya, setelah Kemah Pertemuan, lahirlah Bait Suci dan Sinagoge sebagai tempat ibadah bagi Israel. Perkembangan ini didasari oleh pemahaman bahwa ibadah adalah merupakan faktor penting dalam kehidupan Nasional Jahudi. Bait Suci dihancurkan oleh Babel, dibentuk kebaktian Sinagoge karena pelaksanaan ibadah tetap dirasakan sebagai kebutuhan penting.
Disamping tempat ibadah, orang Jahudi juga memiliki kalender tahunan untuk upacara agamawi. Diantaranya yang amat penting adalah : Hari Raya Paskah (Kel. 12:23-27), Hari
33
Raya Perdamaian (Im. 16 : 29 – 34), Hari Raya Pentakosta (bd. Kis.2), Hari Raya Pondok Daun, dan Hari Raya Roti Tidak Beragi (Kel.12:14-20).
Pemimpin ibadah di Bait Suci dan Sinagoge adalah para Imam. Mereka adalah keturunan Lewi yang telah dikhususkan untuk tugas pelayanan ibadah. Para imam memimpin ibadah umat pada setiap hari Sabat dan pada Hari Raya agama lainnya. Ibadah di Sinagoge terdiri dari : Shema, doa, pembacaan Kitab Suci dan penjelasannya. Ibadah juga berkaitan dengan kewajiban-kewajiban agama, yakni perintah-perintah Tuhan (pbd. Ul.11:8-11). Jadi, pada hakekatnya ibadah bukanlah hanya merupakan pelaksanaan upacara keagamaan di tempat-tempat ibadah, akan tetapi adalah mencakup pelaksanaan kewajiban agama, seperti : sunat, puasa, pemeliharaan Sabat, torat dan doa. Dengan demikian, ibadah juga harus mengandung makna bagi hidup susila.
2.3.2. Ibadah Perjanjian Baru (PB)
Pada zaman PB di Bait Suci dan di Sinagoge tetap diikuti. Jesus sendiri turut ambil bagian dalam kedua rumah ibadah itu (Mark. 1:21 ; 12:35-37). Ia tidak menolak ibadah tradisionil, tapi Ia melawan hukum-hukum ritual selama hukum itu hanya diikuti secara formalitas. Dalam ajaranNya Ia selalu menekankan bahwa kasih kepada Allah adalah ibadah yang sesungguhnya. Ia meletakkan Hukum Kasih diatas kebiasaan Sabat dan Kurban (Mat. 5:23-24 ; 12:7-8 ; Mark. 7:1-13). Dengan demikian, ibadah yang sebenarnya adalah : suatu pelayanan yang dipersembahkan kepada Allah tidak hanya dalam arti ibadah di Bait Suci, tapi juga dalam arti pelayanan kepada sesama (Luk. 10:25 ; Mat. 5:23 ; Yoh.4:20-24).
Orang-orang Kristen dalam Gereja mula-mula juga masih terus mengikuti ibadah di Bait Suci, terutama di Sinagoge. Dan ketika terjadi perpisahan antara Jahudiisme dan gereja, ada dugaan bahwa ibadah Sinagoge banyak mewarnai ibadah gereja.
Dalam perkembangan selanjutnya, terutama setelah perpisahan gereja dengan Jahudiisme, hari ibadah utama bagi orang Kristen ditetapkan pada Hari Tuhan (Kis.2:46 ; 20:7). Dengan demikian kebiasaan Sabat pun ditinggalkan. Unsur-unsur yang dicantumkan dalam ibadah jemaat dapat kita lihat dari 1 Kor. 14:26-33, yakni : Mazmur/pujian, doa, pembacaan Kitab Suci dan penjelasannya. Perjamuan Kasih (1 Kor. 11:23-28) juga merupakan unsur penting dalam ibadah gereja.
Pada mulanya ibadah gereja dilakukan di rumah-rumah orang percaya. Hal ini terus berlanjut hingga orang-orang Kristen memiliki rumah ibadahnya sendiri. Hal yang amat penting dalam kepercayaan Kristen tentang ibadah adalah, Kehadiran Allah (Mat. 18:10 ; 1 Kor. 14:25).
Bagi gereja, ibadah umat tetap diutamakan karena ibadah ini bertujuan untuk : - Membangun „tubuh Kristus‟ atau gereja (1 Kor. 14 : 5, 12, 26 ; 1 Tim. 4 : 13)
- Membina pelayanan sesama (Kis. 2 : 45) - Membina Persekutuan (1 Kor. 10 : 16 – 17)
- Menunjukkan respon kita terhadap kemuliaan Allah, yang dinyatakan dengan doa dan ucapan syukur (Mzm. 116:12).
Hidup setiap orang Kristen juga harus menjadi ibadah, yakni menjadi „persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan pada Allah‟ (Rom. 12 : 1). Itu berarti bahwa orang Kristen harus menyadari bahwa tubuhnya, adalah Bait Roh Kudus
34
sehingga ia dapat melayani Dia baik dengan pikirannya, rohnya, maupun dengan tubuhnya.
Ibadah yang sejati adalah mempersembahkan tubuh kepada Allah dan semua yang dikerjakannya setiap hari. Dan hal itu dapat terjadi apabila hidup orang-orang percaya berubah oleh „pembaharuan budi‟ (Rom. 12 : 2), yakni dengan kehidupan yang berpusat pada Kristus.
MENGAPA KITA HARUS BERIBADAH?
Tuhan menginginkan bangsa Israel ke luar dari tanah Mesir dengan satu maksud yaitu beribadah kepadaNya. Melalu ibadah ini, bangsa Israel bisa mengetahui siapa Tuhan yang mereka sembah dan percaya itu. Demikan juga kita. Kita beribadah bukan hanya satu formalitas saja, tetapi karena panggilan Tuhan, bahwa setiap orang yang sudah percaya untuk beribadah kepadaNya.
a. Suatu perintah Tuhan (Kej 27)
b. Hanya Tuhan yang layak disembah (Why 4 : 11 ; 5 : 12)
Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan Sang Pencipta yang Maha Kuasa. Dalam 10 Hukum Taurat dengan jelas Tuhan tidak ingin ada tuhan lain yang menggantiNya. Dengan demikian, orang yang percayalah baru bisa beribadah
III. UNSUR-UNSUR DALAM IBADAH (Kebaktian Umum).
Dalam kitab Yesaya 6:1- 9a kita akan memperoleh unsur-unsur apa saja yang harus ada dalam satu ibadah. Setiap umat Tuhan harus tahu bahwa datang beribadah karena Kemuliaan Tuhan sudah ada di dalam gereja. (II Taw 5 : 14); Kita beribadah bukan karena acaranya enak atau tidak, beribadah bukan karena memandang pengkhotbahnya bermutu atau tidak. Tetapi, kita ingin datang menghadap ke hadirat Allah, memuji kemuliaanNya. Jika demikian, bagaimana sikap kita menghadap Kemuliaan Allah? Bagaimana persiapan kita dalam beribadah?
Kita harus jelas kepada siapa kita memuji, dengan begitu pujian itu baru berarti bagi kita. Di mana ada Kemuliaan Allah di situ pujian terjadi. Hal ini dapat kita lihat dalam kitab Wahyu. (Wahyu 15:1-4). Jangan memaksakan diri memuji Tuhan, kalau kita belum tahu bahwa Tuhan sudah hadir (Kemuliaan Tuhan). Jika kita tahu bahwa Tuhan sudah hadir, maka dengan sendirinya pujian itu muncul dari hati dan mulut kita.
Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang maha Kudus sehingga kita tidak layak datang kepadaNya dengan penuh keberdosaan kita. Kita perlu minta pengampunan dosa terlebih dahulu supaya hati dan pikiran kita bisa berkonsentrasi penuh pada ibadah itu dan mengikutinya dari awal sampai akhir dengan baik.
Tuhan itu setia dan adil. Jika kita mengakui dosa kita dengan jujur di hadapanNya, maka Tuhan akan menyucikan kita dari segala kejahatan. (I Yoh 1:9)
a. Penglihatan (Yes 6:1) b. Pemujaan (Yes 6:3)
c. Pengakuan dosa (Yes 6:4-5) d. Pengampunan dosa (Yes 6:6-7)
e. Panggilan Tuhan (Proklamasi) (Yes 6:8a)Dalam ibadah kita mendengar suara Tuhan, bukan suara manusia. Artinya setiap Firman Tuhan yang disampaikan, haruslah kita
35 terima. Setelah itu kita harus menaatiNya.
f. Dedikasi (Yes 6:8b) Kita harus memiliki sikap bahwa Firman Tuhan itu berbicara kepada setiap pribadi kita, bukan kepada orang lain. Setelah itu tindakan apa yang harus kita lakukan setelah mendengarNya? Firman Tuhan bukan untuk "enak didengar". Tetapi, harus ada respon yang jelas terhadap Firman Tuhan yang kita dengar.
g. Tugas dan Pelayanan (Yes 6:9a) Jika kita memiliki sikap yang baik mendengar Firman Tuhan, maka kita akan mengetahui tugas dan pelayanan apa yang dapat kita lakukan untuk Tuhan. Ini yang Tuhan inginkan kta beribadah.
A. Unsur ibadah perjanjian baru
Kata ibadah berasal dari bahasa inggris worship yang diambil dari bahasa saxon weorthscipe, yg artinya menyatakan layak atau penghargaan pada seseroang yg dinilai layak atau diberi penghormatan , didalam ibadah gereja siapakah yang layak : tentu saja hanya Yesus , oleh karena itu didalam ibadah yang menjadi tujuan ibadah adalah hanya Yesus , dalam kitab wahyu pasal 5 dijelaskan " Siapakah yang layak " seorang malaikat berteriak dengan keras, Tidak ada yang layak kecuali sat karena Dialah juruselamat.. penatua penatua dan mahluk mahluk tunduk sampai ke tanah dalam pujian semuanya beribadah menyembah Dia "
Ibadah baik dalam perjanjian baru dan perjanian lama mempunyai arti ganda dalam hal melayani dan menundukkan diri, dalam perjanjian lama melibatkan korban -korban , upacara upacara. persembahan miniman dan minyak, kewajiban memberikan persembahan persepuluhan, yg sangat menonjol adalah semua jenis musik termasuk musik tunggal, pujian bersama, menari , sorak sorai, yang dianggao bagian ibadah juga adalah menerima firman Tuhan baik melalui nabi nabi dan pengajaran kitab suci.Ibadah bersama perjanjian baru sangat bergantung kebiasaan peribadahan yahudi. Orang Kristen mula mula banyak yang meminjam praktek ibadah yang sudah dikenal dari sinagoge sinagoge, tetapi mengubah ciri yahudi dengan unsur kekristenan seperti beroda dalam nam ayesus, menyanyikan mazmur , pengajaran firman Tuhan kepada Yesus .
Dalam Efesus 5:18-19 Rasul Paulus menggambarkan bahwa musik memiliki tempat yang terhormat didalam ibadah Kristen sejak dari permulaan " hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata seorang dan yang lain dalam mazmur, kidung pujian dan nyanyian rohani, bernyanyi dan bersoraklah kepada Tuhan segenap hati".
Dalam ibadah hal ini yang diketemukan oleh penulis dalam membaca perjanjian baru , terutama surat surat rasul paulus sebagai unsur unsur yang harus ada sehingga dinamakan ibadah
Tujuan kepada Tuhan Yesus :penyembahan dan pengagungan pada Tuhan Unsur Pujian yang bisa juga ditunjang oleh adanya Unsur musik
Pengajaran firman oleh para rasul/hamba Tuhan Doa
Unsur Spirit penundukan diri kepada Tuhan dan melayani Tuhan Unsur membawa persembahan
36 B. Karakter ibadah dalam perjanjian baru.
Selain unsur unsur ibadah, kita dapat mempelajari karekter dar ibadah itu sendiri, Robert Godfrey seorang profesor sejarah gereja dan di westmister Theological seminary di California USA, menuliskan dalam bukunya yang mengupas tentang ibadah bahwa untuk belajar menyembah Allah dengan cara yang menyukakan hati Allah, kita harus memahami definisi alkitab tentang ibadah , alkitab menggunakan kata Ibadah setidaknya dalam tiga arti :
1. Ibadah menunjukkan seluruh hidup orang percaya;
Kita hidup untuk Allah dan dibawah Allah, kita harus memiliki kerinduan supaya segala hal yang kita lakukan menjadi pelayanan penuh kasih kepada dia, dalam Roma 12:1-2 Paulus mengatakan "Persembahkan tubuhmu sebaai persembahan yang hidup.."
2. Ibadah dapat menunjukkan kepada waktu waktu ibadah pribadi;
Ketika memusatkan perhatian pada Allah lewat doa, pujian, perenungan dan pembacaan alkitab , dan beribadah saat ia beroa dan menyanyi sendirian dimalam hari Mazmur 63:7 " apabila aku ingat kepadaMu ditempat tidurku, merenungkan engkau sepanjang kawal malam ..."
3. Ibadah dapat menunjuk pada saat berkumpul bersama sebagai jemaat;
Ketika Orang orang kirsten berkumpul bersama sebagai jemaat untuk memuji Allah, bentuk ini ibadah ini dipuji dan diperintahkan dalam Alkitab , Ibr 10:25 " Janganlah kita menjauhkan diri dar pertemuan ibadah kita seperti yang dibiasakan orang oleh beberapa orang , tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan mendekat".
IV. MAKNA UNSUR-UNSUR DALAM LITURGI A. Perspektif
Ibadah merupakan suatu aktifitas agama yang dikemas sedemikian rupa sehingga tampak kesakralannya. Kesakralan itu dikemas melalui suatu tata liturgi, sehingga umat yang beribadah masuk dalam situasi yang khusuk, beralih dari dunianya, dari aktifitas kesehariannya, dan merasakan „kehadiran Tuhan‟ (God Presence) di dalam ibadah itu.
Pengertian lain memahamkan ibadah sebagai aktifitas pelayanan dalam ruang sosial, melalui serangkaian perbuatan baik, atau pekerjaan baik yang mendatangkan keadilan, kebenaran, kesejahteraan kepada orang lain/sesama.
Ketika digunakan dalam lingkungan ritus agama, ibadah lalu dibawa masuk ke dalam hubungan antara Tuhan dengan umat. Bentuk relasi sosial tadi diubah menjadi suatu relasi ritual yang terkadang mistis. Karena itu aspek pelayanan dimengerti sebagai pelayanan ritual.
Aspek ekspresi umat sebetulnya yang menjadi hal penting dalam liturgi. Ekspresi yang muncul sebagai cara umat meresponi Tuhan yang telah menyatakan diri dan hadir di dalam kehidupan mereka.
Orang-orang Yahudi lebih suka memahami tindakan itu sebagai „abodah‟ yang kemudian diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai „wor[k]ship‟. Kedua istilah itu menunjuk pada ada suatu sistem yang teratur di dalam tindakan melayani. Artinya sebuah
37
realitas pelayanan itu tidak dilakukan secara serampangan, tanpa aturan dan tanpa tujuan. Ada aspek „kerja‟ yang diatur melalui suatu sistem kerja agar dapat berjalan secara tertib dan terarah kepada tujuan.
Orang-orang Yunani memahamkannya dari apa yang disebut „latreia‟, atau „leitourgea‟. Referensi dalam bahasa Inggris pun menterjemahkan kata itu sebagai „wor[k]ship‟. Tentu dengan kandungan makna yang kurang lebih sama dengan „abodah‟. Tetapi istilah Yunani ini lebih menjurus pada pelayanan praksis, dalam hal ini „membantu orang lain miskin‟.
Liturgi juga bermakna teknis, yaitu „tata ibadah‟. Bentuk pemahaman ini yang selama ini dipahami warga gereja. Ketika menyebut liturgi, warga gereja akan terfokus pada formulir tata ibadah.
Pengertian teknikus ini memperlihatkan bahwa liturgi itu disusun dan perlu ada untuk mengarahkan jalannya ibadah, terutama mengarahkan pola-pola respons umat terhadap Tuhan yang telah menyapa mereka. Liturgi ada ada supaya suatu ibadah dapat berjalan dengan tertib/teratur.
B. Unsur-unsur dalam Liturgi
Terlepas dari semua variasi itu, ada tujuh unsur pokok di dalam liturgi, yaitu : Votum, Pengakuan Dosa, Pengampunan Dosa dan Petunjuk Hidup Baru, Pemberitaan Firman, Respons dan Jawaban umat, dalam bentuk, Pengakuan Iman dan Persembahan Syukur, Doa Syafaat dan Pengutusan dan Berkat.
Setiap unsur dikembangkan di dalam setiap liturgi di semua kalangan kristen, hanya dengan metode dan pola pengembangan yang tentu berbeda pada masing-masingnya.
1. Votum
Adalah proklamasi yang menandai bahwa Tuhan telah masuk ke dalam Ibadah, dan melandasi ibadah itu. Artinya ibadah adalah perintah Tuhan kepada umat, sehingga melaluinya umat berjumpa dengan Tuhan. Secara formulatif, proklamasi itu berbunyi „Ibadah ini berlangsung dalam nama Allah Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus‟. Dengan demikian Votum bukanlah doa permulaan ibadah.
2. Pengakuan Dosa, Berita Anugerah Pengampunan Dosa dan Petunjuk Hidup
Baru.
Setiap manusia yang beribadah adalah orang berdosa. Di dalam ibadah ia akan mengalami suatu anugerah pengampunan dosa, setelah ia mengakui dosanya. Pengampunan dosa akan diikuti oleh petunjuk hidup yang baru, agar umat hidup sesuai dengan firman dan kehendak Tuhan, dan tidak melakukan dosa yang sama itu lagi. Pengakuan dosa berarti manusia merendahkan diri di hadapan hadirat Allah yang kudus, lalu memohonkan anugerah dan Allah memberi perintah yang baru untuk dilakukan.
3. Pemberitaan Firman.
Ibadah protestan berpusat pada pemberitaan Firman (bnd, konsep sola scriptura). Artinya Tuhan yang menyapa umat dalam ibadah adalah Tuhan yang memberi firman kepada mereka. Ia hadir di dalam ibadah dan bertindak melalui firmanNya. Karena itu,
38
setiap pemberitaan firman (khotbah) adalah penyampaian maksud dan kehendak Tuhan kepada manusia. Untuk itu, khotbah berisi pesan firman, dan bukan pesan pengkhotbah.
4. Respons atau Jawaban Umat.
Umat yang mendengar Firman adalah umat yang meresponi Tuhan. Ada dua bentuk respons umat dalam ibadah yaitu:
o Pengakuan Iman (affirmasi), yaitu bentuk respons umat tentang siapa Tuhan yang memberi kepadanya pengampunan dosa dan firmanNya. Pengakuan Iman ini adalah pernyataan kepercayaan umat/gereja yang ada di dalam dunia, di dalam pergumulan dengan realitas dunianya. Gereja yang sadar bahwa dalam pergumulan itu, Tuhan tidak meninggalkan dia. Pengakuan iman juga mengandung janji eskatologis yaitu kasih setia Tuhan yang tetap nyata di dalam hidup umat/gereja.
o Persembahan syukur (offerings). Unsur ini adalah unsur respons umat terhadap realitas anugerah yang ia terima dari Tuhan di dalam hidup sehari-hari. Persembahan yang dipolakan dalam liturgi adalah manifestasi dari tindakan pelayanan umat dalam hidup sesehari. Karena itu, persembahan di dalam ibadah harus menjadi spirit yang terus menyemangati pelayanan sosial di dunia. Artinya, ibadah protestan adalah ibadah yang terbuka dan terarah ke dunia.
4. Syafaat
Unsur ini adalah doa yang biasa diselenggarakan di dalam ibadah. Syafaat berarti doa bersama secara pasti/tepat/tegas/tidak berubah. Kata itu sendiri berarti hukum. Tetapi ada aspek perilaku yang berhubungan dengan hukum dalam kata itu, yaitu „kesetiaan‟ atau „kepatuhan‟ terhadap hukum. Karena itu „syafaat‟ dimengerti sebagai doa yang dilakukan dengan sungguh-sungguh, dan umat dituntut untuk setia dan patuh terhadap apa saja yang didoakan.
Syafaat adalah doa umum yang dipimpin oleh Juru Doa (Pendeta/Pendoa). Dalam kebiasaannya, syafaat biasa diakhiri dengan berdoa Bapa Kami secara bersama-sama, sebagai cara melibatkan jemaat dalam aktifitas berdoa secara bersama itu. Doa Bapa Kami bukanlah Doa sempurna, melainkan salah satu bentuk doa yang diajarkan Yesus kepada umat, agar mereka bisa berdoa bersama-sama. Juga bukan pelengkap doa syafaat, tetapi cara gereja melibatkan jemaat dalam doa umum.
5. Pengutusan dan Berkat.
Unsur ini merupakan unsur penting dalam liturgi umat yang beribadah adalah umat yang telah mengalami perjum,paan dengan seluruh realitas anugerah Tuhan. Umat telah mendengar firmanNya, dan diutus ke untuk bersaksi tentang Tuhan yang ia jumpai dalam ibadah di tengah hidup sesehari. Karena itu, berkat Tuhan adalah jaminan dasar dari kesaksian hidup manusia/umat. Di situ berarti ada korelasi yang jelas antara ibadah dengan tugas di dunia.
B. Esensi Ibadah/Liturgi.
Secara sedehana, kita dapat merangkum apa yang menjadi esensi ibadah, yakni: bertemu dengan Allah dalam ibadah dan menyadari realitas kebesaran Allah, menyadari
39
realitas diri (maksud Allah atas kehidupan manusia, juga menyadari keberdosaan manusia), pertobatan, pembaharuan relasi dengan Allah, Firman, dan akhirnya berbuah kesadaran akan tugas dan tanggung jawab yang telah ditebus Allah.
Kesadaran ini akhirnya mendapat bentuk nyata yang terintegrasi dalam unsur-unsur ibadah liturgis orang kristen. Secara sederhana akan diuraikan unsur-unsur utama dalam ibadah kristen (bnd. Jeremia 1):
Kesadaran akan hadirat Allah (kekuusan, kemuliaan, kebesaran, cinta, dll). Allahlah alasan yang memungkinkan kita beribadah dan mengenal kasih dan maksudNya dalam kehidupan kita.`Kesadaran inilah yang menjadi dasar sukacita dan pujian kita dalam ibadah. Di luar hal ini, maka unsuir entertainment lah yang menjadi dasar suka cita kita.
Kesadaran Diri. Kesadaran akan Allah juga itulah yang menjadi dasar kita dalam mengoreksi diri yang akhirnya melahirkan pengakuan; pengakuan dosa, kehawatirn, kelemahan, ketakutan, dan lain-lain.
Orang menyadari kelemahan, menyadari semua pelanggarannya dan mengakui dosaannya dengan tulus, inilah yang diinginkan oleh Tuhan. Pengakuan inilah yang mendahului absolusi (penebusan dosa) dan rekonsiliasi (pendamaian). Pengampunan dan pendamaian dari Allah akhirnya menjadi dasar kita dalam
berdamai dengan sesama. Inilah yang melahirkan rasa damai sejahtera dalam hidup manusia.
Firman – komunikasi. Orang yang diampuni dan berdamai menjadi gerbang komunikasi yang baik dengan Allah.
Response; Pengakuan iman, Persembahan, dll Komitment / Tekad
Pengutusan (sending out / Missi) dan Berkat
V. PENUTUP
Ibadah adalah identitas Gereja atau orang percaya, yang menunjukkan ketinggian spritual disertai ungkapan pujian dan syukur kepada Tuhan.
Ibadah yang benar adalah apabila kita menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yoh. 4:23), dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah sebagai persembahan yang hidup (Ro. 12:1).
Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita untuk beribadah dalam Roh dan Kebenaran. Untuk mencapai ibadah yang berkualitas kita harus meningkatkan kualitas Roh dan Kebenaran terlebih dahulu.
Matthew Simpson mengatakan ibadah orang Kristen buruk bukan karena acaranya yang buruk, tetapi hubungan diri pribadi kita dengan Tuhanlah yang buruk.. Saat ini jemaat beribadah, mereka inginkan tata caranya terlebih dulu. Kalau seleranya cocok, ibadah itu cocok dengan saya. Kalau seleranya tidak cocok, ibadah itu tidak cocok. Ibadah tidak berbicara soal selera. Ibadah berbicara tentang kerohanian seseorang. Dengan cara apapun, jemaat harus tetap bersikap hormat dan takut akan Allah.
40 Kepustakaan :
1. Alceste Atella in “Hand Book for Liturgical Studies”, edited by Chupungco, (1998; 4,5), The Liturgical Press, Collegeville Minnesota.
2. Crichtone J.D, “The Church Worship“ (1964;27), bnd. White. J.F., “Pengantar Ibadah Kristen” (2002;12), Jakarta, BPK Gunung Mulia
3.Olst, E.H. van., “Alkitab dan Liturgi” (1996:56), Jkt. BPK GM
4.Dyenes. W., “Tema-Tema Dalam Teologi Perjanjian Lama,”(1992;123, 124), Jkt. BPK GM
5.Reimer. G., “Cermin Injil, Ilmu Liturgi”, (2003:28-39), OMF
6.Erey. M., “Liturgical Worship”, (2002:13), Church Publishing House
7.Hesselgraf., “Kontextualisasi, Makna, Metode dan Model, (2002;21- ), Jkt. BPK GM .