• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAKU SKRIPSI KARYA SENI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAKU SKRIPSI KARYA SENI"

Copied!
89
0
0

Teks penuh

(1)

i

LAKU

SKRIPSI KARYA SENI

oleh

Devy Eka Rahayu

NIM 14111136

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN

INSTITUT SENI INDONESIA

SURAKARTA

2020

(2)

ii

LAKU

SKRIPSI KARYA SENI

Untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai derajat Sarjana S – 1

Program Studi Seni Pertunjukan Jurusan Karawitan

oleh

Devy Eka Rahayu

NIM 14111136

FAKULTAS SENI PERTUNJUKAN

INSTITUT SENI INDONESIA

SURAKARTA

2020

(3)
(4)

iv

MOTTO

1. Jika kau tak suka sesuatu, ubahlah. Jika tak bisa, maka ubahlah cara pandangmu tentangnya.

2. “Laku jujur bakal nemu jalur, laku ngawur bakal ajur” (Dalam hidupberbuatlah jujur pasti akan ada jalan, sebaliknya jika dalam hidup tak diatur maka pasti akan hancur)

Skripsi ini saya persembahkan kepada:

- Kedua orangtua tercinta, bapak Sekaryono dan ibu Jami.

- Adik saya Yunisa Dwi Rahmawati serta kakak saya Ratih Kusumaningrum,S.Sn.

(5)

v

PERNYATAAN

Yang bertanda tangan di bawah ini,

Nama : Devy Eka Rahayu

NIM : 14111136

Tempat, Tgl. Lahir : Ngawi, 5 Juni 1996

Alamat Rumah : RT / RW 001/002, Dusun Tapen, Desa Waruk Tengah,

Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi

Program Studi : S-1 Seni Karawitan

Menyatakan bahwa skripsi karya seni saya dengan judul Laku adalah benar – benar hasil karya cipta sendiri, saya buat sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dan bukan jiplakan (plagiasi). Jika dikemudian hari ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam skripsi karya seni saya ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian skripsi karya seni saya ini, maka gelar kesarjanaan yang saya terima dapat dicabut.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenar – benarnya dan penuh rasa tanggung jawab atas segala akibat hukum.

Surakarta, Penulis

(6)

vi

Abstract

This paper the result of a research that has the subject of an artwork called Laku, which was inspired by the phenomenon of the adat ceremony in Changing Langse. This work uses gamelan media as a means of working on it, such as bonang, kendhang, gender, slenthem, demung, saron, siter, fiddle, xylophone, kempul and gong. This composition work was arranged into a number of atmosphere including uncertain, grand, and peaceful.

(7)

vii

Abstrak

Skripsi ini adalah hasil penelitian yang mempunyai subyek karya seni berjudul Laku, yang terinspirasi dengan fenomena upacara adat Ganti Langse. Karya ini menggunakan media gamelan sebagai sarana garap, seperti bonang, kendhang, gender,slenthem, demung, saron, siter, rebab, gambang, kempul dan gong. Karya komposisi ini disusun menjadi beberapa suasana diantaranya bimbang, agung, dan damai.

(8)

viii

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan YME berkat rahmat, taufiq, dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi karya seni ini. Karya komposisi yang berjudul Laku sebagai salah satu syarat mencapai jenjang S1 pada Institut Seni Indonesia Surakarta. Dalam penyusunan karya komposisi tidak terlepas dari bantuan, bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis dengan senang hati menyampaikan terimakasih kepada :

1. Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, Dr. Sugeng Nugroho, S.Kar., M.Sn beserta staf akademik fakultas yang telah menyetujui dan memberikan kemudahan serta kelancaran dalam menempuh segala prosedur birokrasi.

2. Ketua Jurusan, Waluyo, S.Kar., M.Sn yang telah memberikan kemudahan penggunaan fasilitas jurusandalam proses TugasAkhir.

3. Penasehat akademik, Rusdiyantoro, S.Kar., M.Sn atas segala bimbingan selama penulis menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia Surakarta.

4. Danis Sugiyanto, S. Sn.,M.Hum., selaku dosen pembimbing yang telah memberikan wawasan akademik, motivasi, saran, dan kritik serta waktu untuk membimbing selama proses latihan.

5. Kedua orang tua, bapak Sekaryono dan ibu Jami serta keluarga besar yang senantiasa memberikan doa restu serta dukungan baik moril maupun materil kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan study dengan lancar.

(9)

ix

6. Teman – teman pendukung karya, Adi CahyoNugroho, Stefanus Kurnia Indra Citra Wahana, Chatur Rhama, Aulia Pangesthi,U’un Viska, Lenni Nur Latifah,Gilang Adi, Bimasakti, Jawanda Nur Akbar, Nugroho Aji, Farid Yusnia.

7. Teman-teman HIMA Jurusan Karawitan Institut Seni Indonesia Surakarta yang mendukung penuh dalam penyelenggaraan Tugas Akhir.

Semoga Tuhan YME memberikan balasan yang berlimpah kepada semuanya. Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna memperluas wawasan pengetahuan di kemudian hari. Semoga karya ini bermanfaat bagi semua pihak dalam dunia seni, khususnya bagi pelestarian dan pengembangan dunia karawitan.

Surakarta,

Penulis

Devy Eka Rahayu

(10)

x

DAFTAR ISI

PENGESAHAN iii MOTTO iv PERSEMBAHAN iv PERNYATAAN v ABSTRACT vi ABSTRAK vii

KATA PENGANTAR viii

DAFTAR ISI x

CATATAN UNTUK PEMBACA xiii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang 1

2. Gagasan 5

3. Tujuan dan Manfaat 8

4. Tinjauan Karya 9

(11)

xi 6. Metode Kekaryaan A. Tahap Persiapan 1. Observasi 12 2. Wawancara 13 3. Analisis Data 14 4. Eksplorasi 15 7. Sistematika Penulisan 17

BAB II PROSES PENYAJIAN KARYA SENI

A. Tahap Persiapan 1. Orientasi 19 2. Observasi 19 3. Wawancara 20 4. Analisis Data 21 5. Eksplorasi 21 B. TahapPenggarapan 1. Bagian Pertama 24 2. Bagian Kedua 27 3. Bagian Ketiga 30

(12)

xii

BAB IV REFLEKSI KEKARYAAN

A. Tinjauan Kritis Kekaryaan 45

B. Hambatan 46 C. Penanggulangan 47 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 48 B. Saran 49 DAFTAR PUSTAKA 50 WEBTOGRAFI 51 NARASUMBER 51 DISKOGRAFI 52 GLOSARIUM 53 BIODATA 56 LAMPIRAN

- DAFTAR PENDUKUNG KARYA 57

- FOTO PROSES 59

(13)

xiii

CATATAN UNTUK PEMBACA

Notasi ini dibuat berdasarkan notasi kepatihan laras slendro dan pelog serta simbol – simbol. Penggunaan notasi diharapkan dapat mempermudah pembaca untuk memahami tulisan. Adapun simbol, notasi kepatihan yang digunakan adalah sebagai berikut :

Notasi kepatihan laras slendro

t y 1 2 3 5 6 ! @ # mo nem ji ro lu mo nem ji ro lu Keterangan :

- Notasi bertitik bawah adalah bernada rendah - Notasi tidak bertitik adalah bernada sedang - Notasi bertitik atas adalah bernada tinggi.

Notasi kepatihan laras pelog

t y u 1 2 3 4 5 6 7 ! @ # mo nem pi ji ro lu pat mo nem pi ji ro lu - Notasi bertitik bawah adalah bernada rendah - Notasi tidak bertitik adalah bernada sedang

(14)

xiv

Notasi bertitik atas adalah bernada tinggi

Keterangan :

[.] : Tanda Pengulangan

~ : Tanda terus atau suara tidak boleh putus

g : Gong

B : bunyi “ dhah “ pada kendhang

/3 : tabuhan mati atau pithetan

I : Bunyi “ tak “ pada kendhang

P : Bunyi “ thung “ pada kendhang

K : Bunyi “ ket “ pada kendhang

(15)

1. Latar Belakang

Laku dalam masyarakat Jawabiasa disebut dengan tirakat. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Laku berarti perbuatan, gerak – gerik, tindakan, cara menjalankan atau berbuat. Tirakat mempunyai syarat menahan hawa nafsu; berupa berpuasa, berpantang, prihatin dan sebagainya ( sebagai syarat untuk mencapai suatu maksud ). Masyarakat penganut aliran kejawen yang masih kental biasanya selalu melakukan tirakatan disaat – saat tertentu, misalnya saat malam satu surå, malam wetonan dan lain sebagainya.

Dalam karya Laku ini penulis mengartikan Laku sebagai Perjalanan. Di kabupaten Ngawi, tepatnya di Dusun Brendil, Desa Babadan, Kecamatan Paron terdapat hutan yang sering disebut masyarakat sebagai Alas Ketånggå. Alas Ketonggo ini merupakan1 salah satu dari alas angker atau “wingit”1 di tanah Jawa. Alas Ketånggå, “alas” berarti hutan, dasar pokok atau keramaian. Ketånggå berasal dari kata katon (terlihat) dan ånggå (makhluk

1wingit/wi·ngit/a1 suci dan keramat; 2 angker: untuk masa yang panjang hutan Lodaya terkenal

sebagai hutan -- yang sukar ditaklukkan (Wikipedia.com)

(16)

halus) atau makhluk halus atau kehidupan yang halus yang katon atau kelihatan. Menurut Andriani, seperti yang ditulis dalam jurnalnya yang berjudul Mitos Alas Ketonggo Srigati (Petilasan Prabu Brawijaya V) Di Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi (Kajian Struktur, Fungsi, Nilai Budaya, Dan Pengaruh) mengemukakan bahwa Alas Ketonggo Srigati masih menyimpan karya lisan yang dipercaya oleh warga dan dilisankan secara turun-temurun, serta masih kental dengan mitosmitos dan tradisi yang dipercaya warga setempat. Sebagai bagian dari sejarah, sastra lisan menyimpan banyak informasi terkait kejadian di masa lampau. Sastra lisan seolah menjadi kebanggaan bahkan identitas masing-masing daerah.Tradisi tersebut merupakan perwujudan dari kepercayaan yang kuat terhadap adat istiadat serta tanggapan masyarakat terhadap kekuatan alam dan kekuatan gaib untuk mengetahui makna yang terkandung didalam upacara. Setiap adat upacara memiliki makna religi bagi para pendukungnya, di mana masyarakat akan mendapatkan rasa aman dan ketenangan batin apabila telah melaksanakannya. Semua adat yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sampai sekarang masih dilestarikan, karena di dalamnya terkandung ajaran-ajaran atau pengetahuan yang berisi norma-norma, nilai-nilai dan peraturan - peraturan dalam mengatur tingkah laku masyarakat tetap mempunyai kepercayaan terhadap kekuatan gaib. Kawasan Alas

(17)

Ketånggå mempunyai tempat pertapaan, di antaranya adalah Pesanggrahan Srigati yang dipercayai oleh masyarakat sekitar, sebagai petilasan Raja Majapahit yaitu Prabu Brawijaya V sebelum meneruskan perjalanan ke puncak Lawu.

“Menurut sejarah asal usuling Ganti Langse dijumbuhake nalika prabu kertabumi utawa sinuwun Brawijaya V mlayu saka Majapahit amarga anane pemberontakan saka Demak ing taun 1293, sing dipandhegani dening raden

Patah. Petilasan ing Srigati yaiku papan sing digunakake nalika sinuwun brawijaya kaping V nukar busana kanalendran utawa

ageman raja badhe ganti gelar sunan. Amarga prabu Kertabumi nindhakake laku ing Gunung Lawu, mula diarani Sunan Lawu. Kanggo mengeti babagan sing kaya mangkono, mula saben taun ing wayah sura masyarakat nganakake tradisi Ganti Langse ing petilasan prabu Kertabumi. Maknane tradisi kasebut yaiku nuduhake nalika prabu Kertabumi ganti gelar sunan gunung Jati.( Suluh Febriyan, 2013:4 ).”

Terjemahan : Menurut sejarah asal usul Ganti Langse dikaitkan ketika Prabu Kertabumi atau Sinuwun Brawijaya V melarikan diri dari Majapahit dikarenakan adanya pemberontakan dari Demak di tahun 1293, yang dipimpin oleh Raden Patah. Petilasan di Srigati adalah tempat yang digunakan ketika Prabu Brawijaya V melepaskan baju kebesaran atau pakaian raja akan berganti gelar Sunan. Karena Prabu Kertabumi melakukan perjalanan ke Gunung Lawu, karena itulah dijuluki Sunan Lawu. Untuk memperingati peristiwa tersebut, setiap tahun pada bulan Sura masyarakat mengadakan tradisi ganti langse di petilasan Prabu Kertabumi. Makna tradisi

(18)

tersebut yaitu menunjukkan ketika Prabu Kertabumi berganti gelar Sunan Gunung Jati.

Upacara Ganti Langse merupakan sebuah upacara adat yang dilaksanakan pada tanggal tanggal 1 sura. Menurut sejarah, ganti langse dikaitkan dengan suatu cerita dari kerajaan Majapahit, ketika raja majapahit Prabu Kertabumi atau prabu Brawijaya V melarikan diri dari Majapahit dikarenakan adanya pemberontakan yang dipimpin oleh Raden Patah. Beliau mengajak kedua abdinya untuk ikut melarikan diri. Dalam perjalanannya beliau singgah di Alas Ketånggå untuk melepas baju kebesarannya, kemudian bertapa di kali Tempur Sedalem. Namun raden Patah mengetahui keberadaannya, kemudian beliau meneruskan perjalanannya menuju puncak Lawu. Sebelum ke puncak Lawu beliau singgah di candi Cethå. Di tempat itu beliau mendapatkan jawaban atas kegundahan hatinya. Beliau mengikuti kehendak sang Putra untuk memeluk agama Islam, namun keputusan tersebut ditentang oleh kedua abdinya. Keduanya memilih meninggalkan sang raja. Karena merasa malu kepada rakyatnya, Prabu Brawijaya V memilih muksa ke puncak Lawu. ( Imam Joko Sulistyo ( Koreografer Tari Bedhaya Srigati, wawancara tanggal, 20 Juni 2016 )

Dalam karya tari Bedhaya Srigati, bapak Sungkono ( Penata musik Tari Bedhaya Srigati ) menceritakan sebuah fenomena non musikal kedalam

(19)

sebuah karya. Beliau ingin menggambarkan suasana – suasana yang terkandung dalam upacara adat ganti langse. Dari cerita serta hadirnya ketawang langse karya bapak Sungkono saat pelaksanaan upacara adat ganti langse mampu menginspirasi penulis untuk membuat sebuah karya musik komposisi. Dengan menggunakan instrumen bonang barung, kendhang bem dan penunthung, demung, saron, slenthem, rebab, siter, suling, kempul dan gong sebagai media garapnya.

2. Gagasan

Karya Laku merupakan pengembangan ide garap dari pikiran penyusun. Karya ini terinspirasi dari sebuah cerita sejarah perjalanan prabu Brawijaya V dalam melakukan napak tilas menuju puncak lawu. Karena karya ini berangkat dari tradisi upacara adat ganti langse, penulis berharap karya ini mampu mewadahi suasana – suasana yang terdapat dalam upacara adat tersebut.

Adapun suasana - suasana yang akan diwujudkan dalam karya Laku adalah sebagai berikut :

(20)

1 Suasana bimbang, menggambarkan kebimbangan hati Prabu Brawijaya V saat sang putra meminta beliau untuk mengikutinya memeluk agama islam.

2 Suasana sakral, menggambarkan ketika Prabu Brawijaya V melepaskan baju kebesarannya dan bertapa memohon petunjuk kepada sang Hyang Widhi.

3 Suasana damai, menggambarkan suasana hati Prabu Brawijaya V ketika beliau mendapatkan jawaban atas kegundahan hatinya.

Ganti Langse atau ganti selambu atau kain berupa mori putih yang difungsikan sebagai penutup Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo, Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sebagai tradisi tahunan setiap bulan Muharam/Suro. Ganti Langse atau ganti selambu berupa mori putih yang difungsikan sebagai penutup Palenggahan Agung Srigati di Alas Ketonggo, Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, sebagai tradisi tahunan setiap bulan Muharam/Suro. Satu ritual tradisi yang sarat magis tersebut digelar secara khidmat penuh penghayatan diawali dengan penyerahan kain selambu mori warna putih bersih sepanjang 15 meter. Selain itu pula karena anggapan diadakannya ritual ini bahwa petilasan dari Prabu Brawijaya memiliki kekuatan magis yang tidak bisa dilihat oleh kasat mata manusia yang

(21)

memang tidak dapat merasakan anggapan masyarakat, ritual Ganti Langse memiliki fungsi dan tujuan yang sama mengganti kain penutup dari Palenggahan Agung Srigati Alas Ketonggo dengan kain yang baru hal ini terdapat pesan tersirat dimana kita sebagai manusia harus bisa mengganti dan memperbaiki sifat-sifat serta perilaku maupun tindakan keburukan kita diperbarui menjadi yang baik. Selain itu karena itu merupakan petilasan dari Prabu Brawijaya V yang harus kita lestarikan agar daerah kita memiliki nilai kearifan local yang bisa menarik perhatian warga dari luar daerah. Usai diarak sampai Palenggahan Agung Srigati, kain yang digunakan untuk menutup Palenggahan Agung Srigati dagnatikan oleh yang baru dengan iringan Tari Bedhaya yang memiliki makna Penari yang membawakan tarian ini berjumlah sembilan yang menyimbolkan bahwa manusia harus dapat menutup 9 lubang dalam badan manusia agar dapat menyucikan badan. Kesembilan lubang tersebut adalah: dua mata, dua lubang hidung, dua lubang telinga, mulut, anus dan lubang seks. Jumlah sembilan juga merupakan simbol keberadaan alam semesta dengan segala isinya, meliputi matahari, bintang, bulan, angkasa (langit), bumi (tanah), air, angin, api, dan makhluk hidup yang ada di dunia. Acara yang paling ditunggu-tunggu yakni Ganti Langse dilakukan oleh para tokoh masyarakat dalam hal ini para perangkat Desa Babadan kurang lebih selama 15 menit. Kemudian

(22)

Langse/mori yang sudah diganti diserahkan kembali kepada juru kunci untuk dibagikan kepada warga masyarakat yang membutuhkan. Ritual selanjutnya berupa bancaan atau biasa dikenal dengan kalimat „Slametan‟ merupakan persembahan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dipimpin pemangku adat setempat.

3. Tujuan dan Manfaat

Tujuan dan Manfaat yang ingin dicapai dalam karya Laku adalah sebagai berikut:

a. Tujuan :

1. Memperkenalkan karya komposisi Laku kepada masyarakat, khususnya lingkup kampus Institut Seni Indonesia Surakarta dan Masyarakat Kabupaten Ngawi pada umumnya.

2. Mengasah imajinasi untuk membuat sebuah karya musik. b. Manfaat

1. Untuk dijadikan referensi oleh pengkarya selanjutnya.

2. Untuk menumbuhkan minat, kreativitas serta kepedulian pembelajaran dan pengembangan.

(23)

3. Memberi pengalaman dan melatih ide kreatif penyusun dalam mengolah ide yang muncul.

4. Tinjauan Karya

Karya komposisi Laku merupakan bentuk karya baru re-interpretasi dari Ketawang Ketånggå laras pelog pathet nem, untuk menghindari plagiasi terhadap karya – karya terdahulu maka dibutuhkan referensi dari karya – karya terdahulu.

a. Karya Ibu Bumi re- interpretasi, oleh Riyadi Setyawan, Institut Seni Indonesia Surakarta, tahun 2014. Karya ini merupakan karya bentuk penataan gendhing – gendhing tradisi yang bersumber dari Ketawang Ibu Pertiwi laras pelog pathet lima. Persamaan dengan karya laku adalah sama – sama terinspirasi dari gendhing tradisi. Sedangkan perbedaannya adalah dalam karya ibu bumi menggunakan pola – pola tradisi seperti ketawang,ladrang. Sedangkan dalam karya laku penulis membuat sebuah karya yang beraturan transmedium dari pola kemanak.

b. Karya Kajating Warih Oleh Sri Bawon, Institut Seni Indonesia Surakarta, Tahun 2018. Persamaan dengan karya Laku adalah

(24)

sama – sama berangkat dari ritual bersih desa. Persamaannya dengan karya Laku adalah sama – sama mengolah bahan yang sudah ada dalam upacara adat. Sedangkan perbedaannya, jika dalam karya Kajating Warih mengambil pola instrument bendhe kemudian ditransmedium menjadi sebuah karya musik baru. Namun pada karya Laku mengambil pola kemanak kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya musik.

5. Kerangka Konseptual

Penciptaan sebuah karya musik , proses penjelajahan bunyi sebagai pijakan sebuah karya musik tentu harus melalui pertimbangan yang selektif artinya pemilihan idiom-idiom bunyi lewat ricikan harus dipikirkan juga hasil yang hendak dicapai terutama berkaitan dengan estetik bunyi. Pengungkapan ekspresi melalui musik adalah dengan memilih karakter bunyi dengan perasaan yang diinginkan. Djohan menuturkan dalam bukunya yang berjudul Psikologi Musik:

Pemililihan beberapa karakter khusus agar penyaji dapat mengkomunikasikan musiknya kepada pendengar menjadi penting. Hal itu dimaksudkan agar penyaji dan pendengar benar-benar dapat mengenali ekspresi „‟kedalaman‟‟, „‟pengalaman‟‟, atau „‟keindahan‟‟ dengan intensitas yang sama dalam sebuah pertunjukan (Djohan, 2009:105)

(25)

Upacara adat Ganti Langse yang ada di dusun Mbrendil, desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi menjadi ide penulis untuk menggarap sebuah karya musik. Hadirnya kemanak serta adanya mantra dan syair ketawang Ketånggå karya bapak Sungkono mampu memberikan inspirasi kepada penyaji sebagai landasan ide penciptaan dalam karya Laku yang akan diurutkan menjadi empat bagian, yaitu :

a. Bagian pertama menggambarkan kebimbangan hati Prabu Brawijaya V saat melakukan napak tilas menuju puncak lawu dengan membuat seperti pathetan yang diberi vokal canon.

b. Bagian kedua menggambarkan keagungan ketika prabu brawijaya V melepas baju kebesaran dan bertapa di kali tempur sedalem agar mendapatkan ketenangan hati. Penulis membuat vokal bedhayan yang mana syairnya terinspirasi dari doa yang digunakan pada saat upacara adat ganti langse berlangsung.

c. Bagian ketiga menggambarkan kedamaian hati ketika Prabu Brawijaya mendapatkan jawaban atas kegundahan hatinya. Yang digarap dengan menggunakan instrumen demung, kendhang, kempul dan diperkuat dengan vokal.

(26)

6. Metode Kekaryaan

A. Tahap Persiapan

Proses Penciptaan/Penyajian Karya Seni memuat langkah-langkah

kreatif terkait dengan proses kekaryaan seni. Proses

penciptaan/penyajianterdiri atas dua tahap, yakni tahap persiapan dan tahap penggarapan.

1. Observasi

Observasi adalah salah satu teknik yang paling banyak dilakukan dalam penelitian baik kuantitatif, baik sosial maupun humaniora. Dalam etnografi teknik observasi dikategorikan sebagai aliran utama. Semua penelitian dunia sosial pada dasarnya menggunakan teknik observasi. Faktor terpenting dalam teknik observasi adalah observer ( pengamatan ) dan orang yang diamati yang kemudian juga berfungsi sebagai pemberi informasi, yaitu informan. ( Kutha Ratna, 2016:217 )

Langkah ini adalah upaya yang dilakukan penulis dalam mendalami objek yang diangkat. Penulis melakukan pengamatan langsung terhadap objek yang dipilih yaitu tari Bedhaya Srigati yang terdapat dalam upacara adat Ganti Langse. Penulis mengamati suasana – suasana yang muncul saat tari bedhaya srigati ditarikan dan upacara ganti langse berlangsung. Setelah

(27)

menemukan, penulis tertarik dengan cerita upacara adat ganti langse. Selain itu musik tari yang dipertunjukkan saat upacara adat Ganti Langse berlangsung membuat penulis terinspirasi membuat sebuah karya komposisi musik.

2. Wawancara

Wawancara adalah cara – cara memperoleh data dengan berhadapan langsung, bercakap – cakap, baik antara individu dengan individu maupun individu dengan kelompok . Sebagai mekanisme komunikasi pada umumnya wawancara dilakukan sesudah observasi. Pengamatan menyeluruh terhadap objek diikuti dengnan aktivitas tertentu dengan menggunakan instrument tertentu. ( Kutha Ratna, 2016:222 )

Selain beberapa tahap diatas yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan pendalaman materi yang dipilih adalah dengan melakukan wawancara kepada pihak – pihak terkait.

A. Imam Joko Sulistyo (38 tahun), Koreografer tari Bedhaya Srigati. Dari hasil wawancara tersebut, penulis mendapatkan informasi tentang sejarah palenggahan agung srigati yang berkaitan dengan penciptaan tari bedhaya srigati.

(28)

B. Marji (65 tahun). Juru kunci palenggahan agung srigati. Dari hasil wawancara tersebut penulis mendapatkan informasi tentang sejarah lengkap palenggahan agung srigati.

C. Sungkono (52 tahun). Seniman. Dari hasil wawancara tersebut penulis mendapatkan informasi tentang penggarapan karawitan tari pada tari bedhaya srigati.

D. Supriyadi (53 tahun). Seniman. Dari hasil wawancara tersebut penulis

mendapatkan informasi tentang sejarah palenggahan agung srigati.

3. Analisis Data

Analisis data adalah upaya untuk menguraikan data yang telah dikumpulkan (data berupa audio dan/ atau video). Hal ini dilakukan dengan mendengarkan karya – karya terdahulu seperti video Tugas Akhir Komposisi kajating warih, Video Tugas Akhir ibu bumi, Video pementasan upacara adat Ganti Langse maupun audio terkait objek yang dipilih. Selain itu penulis juga ikut terjun langsung untuk mengikuti prosesi – prosesi ritual dan mendokumentasikan dalam bentuk video maupun audio. Kemudian penulis mencari seseorang yang sedang mengalami kegundahan hati, lalu mengamati apa yang terjadi. Setelah mengamati penulis menuangkan apa yang didapatkan kedalam sebuah karya seni.

(29)

4. Eksplorasi

Eksplorasi adalah tahap penggalian sampai tahap pengembangan. Dari vokal yang berbentuk bedhayan kemudian penulis mengembangkan menjadi bentuk seperti pathetan, sampak. Selain itu penulis juga menuangkan dalam bentuk – bentuk tabuhan. Hadirnya kemanak membuat penulis terinspirasi untuk mengembangkan pola tersebut menjadi beberapa bentuk tabuhan, seperti :

O+O. O+O. dikembangkan menjadi ....jgg g ...jg g ..jg g j.g j.g j.g

Selain itu penulis juga mengembangkan syair vokal ketawang langse laras pelog pathet nem. Karena syair yang dipakai dalam ketawang tersebut dirasa penulis kurang menjelaskan apa yang diharapkan dalam karya tersebut. Dari cakepan itu penulis mengambil syair Manembah Hyang Suksma kang masesa jagad raya untuk dikaji ulang. Manembah Hyang suksma kang masesa jagad raya diartikan dengan beribadah. Kemudian penulis membayangkan situasi dimana seseorang beribadah. Setelah itu membuat syair tentang situasi saat beribadah, apa yang diminta. Ditambah dengan doa yang dipakai saat upacara adat berlangsung maka penulis membuat syair sebagai berikut :

(30)

Sedaya mugya kalising sangsaya

Durga mendhak kala sirna tebih ing sambekala Mbanyu mili rejeki sasat riris ing wanci tengange Jinurung donga rahayu

Mrih sembadha ing karya

Nggayuh luhuring kautaman laku manembah Manembah mring sang hyang maha gesang.

(31)

SISTEMATIKA PENULISAN

Sistematika Penulisan Karya komposisi musik terdiri dari V bab dibagi menjadi beberapa sub bab. Sistematika penulisan hasil karya komposisi sebagai berikut :

BAB I . Pendahuluan

1. Latar Belakang 2. Gagasan

3. Tujuan dan Manfaat 4. Tinjauan Karya 5. Kerangka Konseptual 6. Metode Kekaryaan a. Tahap Persiapan 1. Observasi 2. Wawancara 3. Analisis Data 4. Eksplorasi 7. Sistematika Penulisan

(32)

A. Tahap Persiapan 1. Orientasi 2. Observasi 3. Wawancara 4. Analisis Data

BAB III . Deskripsi Karya Seni

BAB IV . Refleksi Kekaryaan

A. Tinjauan Kritis Kekaryaan B. Hambatan C. Penanggulangan BAB V . Penutup A. Kesimpulan B. Saran Kepustakaan

(33)

BAB II

PROSES PENYAJIAN KARYA SENI

A. Tahap Persiapan 1. Orientasi

Karya Laku adalah karya musik yang diorientasikan pada bentuk transformasi dari tradisi menjadi karya baru dengan menggunakan pola – pola yang beraturan. Karya ini terinspirasi dari upacara adat Ganti Langse yang ada di Palenggahan Agung Srigati. Hal pertama yang dilakukan oleh penulis dalam membuat karya Laku adalah menentukan tema. Setelah itu penulis menentukan bentuk karya yang akan digarap. Dalam hal menentukan tema dan bentuk karya penulis melakukan beberapa hal seperti mendengarkan karya – karya terdahulu baik berupa audio maupun video. Penulis membuat karya dengan menggunakan gamelan jawa berlaras slendro seperti: gender, kendhang, bonang barung, demung, saron, slenthem, gambang, rebab, kempul dan gong ageng sebagai media garapnya.

2. Observasi

Observasi yang dilakukan penulis adalah dengan mengenal lebih dekat dengan objek yang akan diangkat. Kemudian mengamati suasana –

(34)

suasana yang ada saat upacara adat ganti langse berlangsung. Kemudian mencari cerita yang ada dibalik upacara adat tersebut. Setelah menemukan penulis mencari seseorang yang sedang mengalami kebimbangan hati, kemudian berdoa kepada Allah SWT, hingga ketika ia sudah pasrah akan takdir. Penulis mengamati kesan apa yang dapat dilihat dari tingkah laku, suasana hatinya, emosi yang timbul. Kemudian mencari instrument apa saja yang bisa menggambarkan suasana – suasana tersebut.

3. Wawancara

Selain beberapa tahap diatas yang dilakukan oleh penulis dalam melakukan pendalaman materi yang dipilih adalah dengan melakukan wawancara kepada pihak – pihak terkait.

A. Sungkono (52 tahun). Seniman. Dari hasil wawancara tersebut penulis mendapatkan informasi tentang penggarapan karawitan tari bedhaya srigati.

B. Supriyadi (53 tahun). Seniman. Dari hasil wawancara tersebut penulis mendapatkan informasi tentang sejarah palenggahan agung srigati. C. Jainuri ( 29 tahun ). Wiraswasta. Dari hasil wawancara tersebut penulis

mendapatkan informasi tentang suasana hati seseorang ketika mengalami kebimbangan dalam hidup.

(35)

4. Analisis Data

Analisis data yaitu untuk menguraikan data berupa audio atau video yang telah dikumpulkan. Referensi berasal dari kaset atau video youtube, analisis data perlu dilakukan untuk dapat memilih mana yang harus digunakan dan tidak digunakan karena penting dilakukan untuk pengklasifikasian. Penyusun melakukan analisis data dengan menggunakan cara melihat, mencermati, mendengar apabila objek dalam bentuk video, mendengarkan jika objek wujud audio, penyusun menguraikan hasil yang didapat dari menganalisis objek kemudian mencari kesan yang ada dalam objek. Analisis data yaitu upaya untuk menguraikan data berupa audio/vidio yang telah dikumpulkan. Referensi ini berasal dari rekaman mp3, maupun pertunjukan seni Tugas Akhir jalur Komposisi. Analisis data ini yang nantinya akan dikumpulkan sehingga dapat diurai dan dipahami. Maka perlu dilakukan pemilihan sumber data yang sesuai dengan gagasan kekaryaan.

5. Eksplorasi

Eksplorasi adalah tahap penyusunan. Pada bagian pertama penulis menggarap rebab.

(36)

Selain itu penulis juga mengembangkan vokal ketawang ganti langse. Adapun syair ketawang ganti langse sebagai berikut:

Langse warno seto iku lambang sejatine, Minangka pratandha sucine sasono mulyo, Ngeningaken cipto nggayuh geyongane kayun, Manembah Hyang Suksma kang masesa jagad raya.

Penulis mengambil satu baris yang isinya sama dengan cerita yang didapatkan selama proses observasi. Syair yang diambil adalah “Manembah hywang suksma kang masesa jagad raya”. Selain itu penulis juga mengambil doa saat upacara adat ganti langse berlangsung yang dilakukan oleh juru kunci. Adapun sebagai berikut:

Amiwiti ingsun memuji marang gusti pangeran, Mugiya sedaya masyarakat kalisa ing sambekala. Murah sandhang pangan, tansah antuk ridhane Hyang Widhi. Amin mugi gusti ngijabahi”.

Dari kedua syair tersebut kemudian dikembangkan menjadi:

Sun sung pepuji mring sang Hyang Agung Sedaya mugya kali sing sangsaya

(37)

Durga mendhak kala sirna tebih ing sambekala Mbanyu mili rejeki sasat riris ing wanci tengange Jinurung donga rahayu

Mrih sembadha ing karya

Nggayuh luhuring kautaman laku manembah Manembah mring sang hyang maha gesang.

Terjemahan : Saya berdoa kepada sang Hyang Agung. Semoga semua makhluk terhindar dari bahaya. Bahaya hilang jauh dari mara bahaya. Diberi rejeki yang mengalir seperti hujan di tengah malam. Dengan doa keselamatan, agar diberi kelancaran dalam pekerjaan. meraih kebaikan dengan berpasrah. Pasrah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Penulis mencoba menggambarkan suasana saat berdoa kepada Allah SWT. Kemudian mengaplikasikannya dengan menggunakan gamelan. Penulis mentransmedium pola kemanak kedalam tabuhan kempul.

B. Tahap Penggarapan Karya

Garap merupakan unsur yang terpenting dalam dunia karawitan. Melalui garap dapat me

(38)

bentuk sajian musik menjadi berkualitas, berkarakter dan mempunyai warna yang sesuai dengan kehendak penyusunnya. Garap merupakan pendekatan yang dapat diberlakukan pada cara kerja pencipta karya komposisi musik yang didasari kreativitas (Supanggah, 2005: 8).

Selain hal tersebut garap merupakan usaha untuk merealitaskan ide dan gagasan dari seniman musik tentang musiknya sehingga menjadi 12 kesenian yang dapat dinikmati oleh pendengarnya. Hal ini juga secara jelas sebagaimana disebutkan Supanggah jika :

Garap merupakan rangkaian kerja kreatif dari (seorang atau kelompok) pengrawit dalam menyajikan sebuah gendhing atau komposisi karawitan untuk dapat menghasilkan wujud (bunyi), dengan kualitas atau hasil tertentu sesuai dengan maksud, keperluan atau tujuan dari suatu kekaryaan, atau penyajian karawitan dilakukan. Garap adalah kreatifitas dalam (kesenian) tradisi “(2009:4).

Berangkat dari hal tersebut maka tahap persiapan selanjutnya dalam penyajian musik Laku adalah melakukan penggarapan. Proses penggarapan karya ini adalah bagian dari proses pengkarya untuk menemukan kerangka setiap musik disetiap bagian karya “Laku”. Beberapa bagian yang ditulis dalam penggarapan ini adalah sebagai berikut:

(39)

Pada bagian pertama musisi menggarap 3 rebab dengan nada yang

berbeda. Pada rebab pertama adalah senggreng y kemudian pada rebab kedua membunyikan nada 1.Rebab ketiga membunyikan nada 3 yang mana akan membentuk melodi yang tidak terputus. Kemudian rebab kedua membuat melodi dengan nada pelog, setelah rebab kedua membuat melodi instrument gambang masuk membuat melodi ritmis.

1 112 221 112 221

112 3 4 243

2 4 243

3 4 246OOOOO

6 56 353 j1123 j1j21y

Setelah melodi terakhir musisi mengisi dengan vokal humming, yang kemudian diisi dengan rebab dengan nada minir. Pada akhir bagian ini dimunculkan improvisasi bonang yang membuat tempo sendiri yang semakin lama temponya semakin cepat. Pada bagian ini musisi ingin

(40)

menggambarkan ketenangan hati seseorang namun dalam kehidupan tidak selamanya akan mulus saja. Semakin maju maka semakin besar problema kehidupan yang akan dihadapi. Maka dari itu penulis membuat bagian tenang kemudian semakin lama temponya semakin memuncak.

Setelah rebab musisi membuat semacam pathetan yang menggambarkan kebimbangan hati seseorang yang mendapatkan persoalan rumit. Namun pada akhirnya pasrah dengan takdir. Karena apa yang diterima adalah yang terbaik dari Tuhan Yang Maha Esa.

3 3 3 z6x5x.c3, 3 6 3 z2c3 z2x.c1 Twuh se sa wang, ngeng leng ang li ling

3 3 z2c3 y 1 2 y 3 se sam bat si ne but tyas a

6 5 3 6 3 6 5 3 3 6 g6 wus gin a ris le la kon den le la ku

Setelah vokal ini musisi mencoba mengolah lagi instrument yang digunakan sebagai backing pada bagian ini. Kemudian musisi memilih slenthem yang mempunyai karakter lembut. Karena pada bagian ini musisi

(41)

ingin menggambarkan situasi pasrah akan takdir. Maka untuk mempertegas penulis memilih vokal sebagai bagian yang ditonjolkan.

b. Bagian Kedua

Pada bagian kedua musisi membuat sebuah vokal bedhayan yang sumbernya mengambil dari doa yang dipakai dalam upacara adat ganti langse. Sebagaimana doa yang ada dalam upacara adat ganti langse adalah sebagai berikut :

“Amiwiti ingsun memuji marang gusti pangeran, Mugiya sedaya masyarakat kalisa ing sambekala. Murah sandhang pangan, tansah antuk ridhane Hyang Widhi. Amin mugi gusti ngijabahi”.

Terjemahan : Saya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Semoga semua masyarakat dijauhkan dari mara bahaya. Diberikan rejeki berlimpah, dan selalu mendapat ridho sang Hyang Widhi. Amin semoga Tuhan mengabulkan.

Kemudian diolah menjadi sebuah vokal bedhayan. Sedangkan instrument yang digunakan adalah kendhang, kempul, slenthem dan siter. Adapun pengembangan yang dilakukan oleh musisi sebagai berikut :

. . . . . 6 6 zj5c3 5 2 . 2 3 z5xx.xcgc3 Sun sung pe - pu - jimring sang Hyang

(42)

xxx.x c. 3 3 .6 6 @ ! 6 5 2 z3x x.xx.xc5 A – gung se – da - ya mu - gaka – lis – ing . . 6 6 z6xx.x x.xx@x x!x x.x x6x x!x c@ O O O Sang –sa - ya

. . . . @ zj@c# jz@c6 ! @ @ j!# @ . z6x xj5c3 5

Dur - ga men-dhak ka - la sir – na te - bih z2x c3 5 6 . zj3x6x c5 z3x x.x x.x x2x x3xx5xjx2c3 1 y

ingsam – be- ka- la mba - nyu

3 3 2 3 y 1 2 3 6 5 2 3 2 1 jz2c1 y Mili kang re je kisa - sat ri - rising wan - ci te – nga–nge

. . . 2 2 6 5 3 j5j 6 2

Ji – nu - rung do – ngara-ha-yu

. . . z6x c@ ! . . jz#c@ 6 . ! zj6c! !

Mrihsem ba - da ingkar- ya

.j6j j j @ j!jjj j 6 j!jj 5 j6j ! @ . . 5 3 j.6 . jz5x3xx c5 . jz3c2

Ngga-yuhlu-hur-ingka-u-ta-man la - ku ma nem - bah

. . . j53 j.5 j.6 5 zj3c5 2 . zj2c1 3 . jz2x3x c1 y Ma - nem -bah mring sang hyang ma - ha ge - sang

(43)

Untuk mengurangi pengulangan pada rambahan kedua maka musisi membuat vokal kedua dengan ketukan yang sama namun dibuat seperti vokal canon.

. . . 6 6 z5x c3 5 2 . 2 g3

sun pu – ji mring Hyang A- gung

z5x x.x c3 . . . .6 6 @ ! 6 5 2 . .

se – da – ya mu – ga ka – lis

. . . . 6 6 xzx6x x.x x.x x@xx x!x x.x6x Xx!x c@ . sang – sa - ya

. . . @ zj@xj c# zj@xj c6 ! @ @ j!# @ . z6

Dur – ga men – dhak ka – la sir - na

xj5xj c3 5 z2x x c3 5 6 . zj3x6x c5 z3x x.x x.x x2x x3x x5x jx2c3 te – bih ing sam – be – ka - la

1 y 3 3 2 3 y 1 2 3 6 5 2 3 2 1 mbanyu mi-li kang re-je-ki sa-sat ri-ris ing wan-ci te-

1 y . . . 2 2 6 5 3 j5j j 6

nga nge ji – nu – rung do – nga ra – ha -

2 . . . z6x c@ ! . . zj@xj c6 . . .

yu mrih sem - bada

(44)

u – ta – ma nem -

zjx3xj c2 . . j5j 3 j.j 5 j.j 6 5 zj3jx c5 2 . zj2xj c1 3 . zj2jx3x c1 y bah Ma – nem – bah mring sang Hyang ma – ha ge- sang

Pada bagian ini dibuat seperti bedhayan karena musisi berkeinginan membuat suasana yang agung.

c. Bagian Ketiga

Pada karya ini bagian terakhir adalah pada bagian ketiga. Dimana pada bagian ini musisi ingin menggambarkan ketika seseorang telah mendapatkan jawaban atas kegundahan hati. Namun ia rindu dengan kehidupan sebelumnya. Dimana ia merindukan banyak hal yang telah dilaluinya, namun tak bisa untuk kembali pada situasi tersebut. Pada akhirnya ia hanya bisa merindukan saja dan tetap melanjutkan kehidupan yang baru.

Pada bagian ini musisi membuat sebuah syair vokal kemudian

dieksplorasi sehingga menjadi sebuah lagu. Adapun syair yang dibuat adalah sebagai berikut :

. . 3 6 . j#j @ j!j /6 ! . . . . # @ j!/6 6 Bingung lamunden wuyung ngrerujit nala

(45)

. . 3 6 .j#j @ j!j /6 z!x x.c@ . . ! 6 zj5xj c6 3 Ngeglo ngengleng angliling angre ri du

. 3 j5j 6 j6j ! 6 5 g6 Se sa mar semu sinawang

. . 3 j56 j6! 6 zj5c3 2 . j12 3 y . j32 j./12 Linali tan bangkit lali mulat sekar angujiwat

. . 3 j5j 6 j6j ! 6 5 6 .6 . j#@ # . ! g6 Sun kapang setya angrantu bot brantaning kalbu

Kemudian musisi mengeksplorasi instrument yang dipakai. Musisi memilih slenthem, rebab, kempul dan siter untuk menghadirkan suasana yang musisi inginkan.

(46)

BAB III

DESKRIPSI KARYA

Deskripsi karya bertujuan untuk memperjelas dan mempermudah penulisan deskripsi sajian dari karya komposisi musik yang berjudul Laku.

A. Bagian Pertama

No Instrumen Notasi

1 Gong gedhe Geteran

2 Rebab 1 y~~~~~~~~~~~~~~~ _ y123 2123 212y _

3 Rebab 2 1~~~~~~~~~~~~~~~~~~ _ 1121 2321 y123 _ 4 Rebab 3 3~~~~~~~~~~~~~~ 112 221 112 3~~4~~ 243~ 3~~4~~ 243~ 3~~4~~ 246~~~~ 656 353 j1123 j121gy 32

(47)

5 Gender ---_ 321y _ 6 Gambang _ 6532 _ 7 Vokal 1 _ y..12..1y..12 _ O oo oo oo _ 3..56..53..56 _ O oo oo oo 8 Kendhang _ BjBBB jBBBjBB B _ 9 Bonang Improvisasi g2356 53/6. /3.56 531y gy1 j21j21j23 j56j35j32 j35jk3j5jk6!j6! j@# jk!j#jk@!6 10 Saron g2356 53/6. /3.56 531y _ j32j356 j36j6!6 j12j12j35 j65j362 _ Peralihan j65j356

(48)

j32j356 j32j356 j32j35j63 j.6j.5j.32 112j32j12y _336 j3!6 33y j12j356_ 11 Demung G2356 53/6. /3.56 531y _112 663 556 j53j21y_ j32j356 j32j356 j32j35j63 j.6j.5j.32 112j32j12y _336 j3!6 33y j12j356_ 12 Slenthem G2356 53/6. /3.56 531y _.12 .63 .56 .31y_ 13 Vokal 1 . 6 @j.6 j!j@ ! . 5 6 j.3 j5j ! 6 La-kukangtinemu ngga-yuh kang le-lakon

14 Vokal 2, 3, 4

. . 6 . 5 3 . . 3 . 1 2 Le – la – ku ti – ne – mu

(49)

jj6j 5 j6j ! 6 . 5 3. 5 6 z!c#z@c! @ Bakalanggayuhngga-yuh ngga-yuh le- la-kon

15 Rebab 1,2,3 _ yyyy _ 16 Vokal 1 dan 2 _.56. 56.5 6.56 ./6.G2 ./!@. /%/@./! @./%@ Oo oo o o oo o o oo oo o o oo ./!.G6_ Slendro o o _...# .!.@ .!#@ .!.G6 56.! 6.!@ .!56 O o o ooo o o oo o o oo ooo .!.G@_ Pelog o o 17 Vokal Tunggal 5 6 ! ! 5 6 4 5 z#x@x!x7c@ ! La – kuing – kangki – nar – ya le – la – kon

@ ! 6 z!c@ /! 6 5 6 La – kute – men kangti – ne – mu 6 3 6 @ ! 6 2 35 5 Ti – ne – mu le – kas tan – pa ti – las

18 Kempul

_p p p p6 p p p p6 p p p p6 p p p g2 p p p p3 p p p p3 p p p p3 p p p g6

19 Kendhang

(50)

_MMMB MMMB MMMB MMPB MMMB MMMB MMMB MMMB_ 20 Demung, saron, bonang y 123g5 6565 6565 6565 656/5 35/6 . 3/6 .jk1j2k3/2 .j33j12j35j35/3 .j13j21y 21 Slenthem _ ..12 .31y ..12 .31g2 _ 22 Vokal tunggal 3 3 3 z6x5x.c3, 3 6 3 z2c3 z2x.c1

Twuh se sa wang, ngeng leng ang li ling 3 3 z2c3 y 1 2 y 3

se sam bat si ne but tyas a

6 5 3 6 3 6 5 3 3 6 g6 wus gin a ris le la kon den le la ku

23 Vokal 2,3,4 _Laillahaillallah _

24 Senggak putra 1 _Om Awighnam Astu Namo Sidham. Om

Sidhirastu Tad Astu Swaha _

25 Senggak putra 2 _ Astaghfirullah‟aladzim _

Keterangan Garap: Pada awal penyajian diawali dengan geteran gong, kemudian rebab 1

(51)

membunyikan nada y kemudian disusul dengan vokal 2 yang membunyikan nada 1. Ketika rebab 2 masuk, rebab 1 melakukan

improvisasi nada seperti y123 2123 212y

yang dilakukan berulang – ulang hingga rebab 3 selesai membuat melodi nada. Setelah rebab 2 masuk disusul dengan rebab 3 yang membunyikan nada 3. Sama halnya dengan rebab 1, rebab 2 juga melakukan improvisasi

seperti berikut 1121 2321 y123. Saat semua rebab sudah masuk dan melakukan improvisasi kemudian rebab 3 membuat melodi. Ketika rebab 3 membuat melodi, gambang membuat

latar suara dengan menggunakan nada 6532

berulang – ulang hingga rebab selesai membuat melodi. Dilanjut dengan gender dengan nada

(52)

dengan improvisasi vokal 1 dan 2, setelahnya kendhang masuk dengan tempo yang lambat kemudian semakin cepat. Diakhiri dengan improvisasi bonang.

Setelah itu demung, slenthem, saron

menabuh bersama – sama 2356 53/6. .56

531y namun pada bonang sedikit berbeda yaitu 2356 53/6. _56!_ 56 531y pada tanda ulang diulangi 7 kali. Kemudian dilanjutkan dengan tabuhan seperti yang tercantum diatas. Pada tanda pengulangan pertama diulangi sebanyak 2 kali sebelum sirep, 2 kali sirepan, dan 1 kali udhar. Kemudian vokal 1 dan 2 masuk ketika sirepan dan diulangi 2 kali. Pada pengulangan kedua vokal dilakukan 2 kali, pada vokal 1 memakai laras slendro sedangkan pada vokal 2 memakai laras pelog. Setelah itu peralihan menuju vokal tunggal.

(53)

B. Bagian Kedua

No Instrumen Notasi

1 Slenthem _ ..35 .356 .321 .1.1 .11. .gy

.!65 .36j52 j.2j.2j1k.l23 g2 _

2 Vokal Tunggal _ ..35 .356 .321 .1.1 .11. .gy

3z3x5c6 @ @ @ @ @ @ z@c# z!c@ 6 5 z3c6 6 Gones Wening angga, Peksi jamang ngucap janma

Ramane Jarweng janma, janma kang koncatan jiwa Yomas Amung gusti amung gusti

.!65 .36j52 j.2j.2j1k.l23 g2 _

6 6 6 6 6 ! y @ 6 3 z6x5x3c2 2 Dipun enget lamun katamaning coba Wong prawira mati alabuh negara Amung gusti kang wenang murba wasesa

3 Kendhang _.... .... .... .... ...B .Gy

.... .... j.Bj.BjBkBBG2

(54)

.33. 56.2 !652 3565 .66. 6532 1y1. .13g2 .... 2321 2212 .365 2356 .5.3 .2.3 521y .3.3 y123 .123 212y ..6. 6656 225 .362 ..22 .221 232y .56! 1121 y12. 53j.6. j535.j32 ...j53 j.5j.653 2.13 212gy _ 5 Vokal bersama .... . 6 6 zj5c3 5 2 . 2 3 z5xx.xcgc3 Sun sung pe pu ji mring sang Hyang xxxx.x c. 3 3 . 6 6 @ ! 6 5 z2x c3 . . 5 A – gung se – da - ya muga ka – lis ing . . 6 6 z6x x.xx.xx@x x!xx.xx6xx!xc@ O O O Sangsa - ya

.... @ zj@c# jz@c6 ! @ @ j!# @.z6xx xj5c3 5 Dur - ga men-dhak kala sir – na te - bih z2x c3 5 6 . zj3x6xx c5 z3xx x.x x.xx2xx3x x5xjx2c3 1 y ing sam be - ka- la mba-nyu

(55)

3 3 2 3 y 1 2 3 6 5 2 3 2 1 jz2c1 y Mili kang rejeki sasat riris ing wanci tengange

.... .... . 2 2 6 5 3 j5j6 2 Ji – nu - rung do - ngara-ha-yu

Ji nurung donga rahayu .... .z6xc@ ! . .jz#c@ 6 . ! zj6c! ! Mrihsem - ba da ing kar- ya

.j6j @ j!j 6 j!j5 j6j ! @. .5 3 j.6 jz5x3xxc5 .jz3c2 Nggayuhluhuringkautaman la ku manem - bah

...j53 j.5j.6 5 zj3c5 2 . zj2c1 3 . jz2x3xc1 y Ma- nembah mring sang hyang maha gesang

6 Vokal 2 . . . 6 6 z5x c3 5 2 . 2 g3

sun pu – ji mring Hyang A- gung

z5x x.x c3 . . . . 6 6 @ ! 6 5 2 . .

se – da – ya mu – ga ka – lis

. . . . 6 6 xzx6x x.x x.x x@xx x!x x.x6x Xx!x c@ . sang – sa - ya

. . . @ zj@xj c# zj@xj c6 ! @ @ j!# @. z6 Dur – ga men – dhak ka – la sir - na

(56)

xj5xj c3 5 z2x x c3 5 6 . zj3x6x c5 z3x x.x x.x x2x x3x x5x jx2c3 te – bih ing sam – be – ka - la

1 y 3 3 2 3 y 1 2 3 6 5 2 3 2 1 mbanyu mili kang rejeki sasat riris ing wan-ci te- 1y . . . 2 2 6 5 3 j5j j 6 nga nge ji – nu – rung do – nga ra – ha - 2 . . . z6x c@ ! . . zj@xj c6 . . .

yu mrih sem - bada

. . . @ 6 5 . . . zj5xj c3

u – ta – ma nem

-

zjx3xj c2 ..j5j 3 j.j 5 j.j 6 5zj3jx c5 2.zj2xj c13.zj2jx3x c1 y bah Manembah mring sang Hyang mahagesang Keterangan Garap : Slenthem menabuh seperti notasi pada table, kemudian disusul suara doa – doa dengan lirih yang digunakan sebagai latar suara vokal tunggal. Dilakukan hingga vokal tunggal selesai. Kemudian beralih pada sinden tunggal, dan diulang sebanyak 3 kali. Dengan wangsalan sebagai berikut:

(57)

“Wening angga, peksi jamang ngucap janma Dipun enget, lamun katamaning coba” “Jarweng janma, janma kang koncatan jiwa Wong prawira, mati alabuh negara”

Pada bagian akhir hanya mengambil wangsalan jawab, yaitu “Amung gusti, Kang wenang murba wasesa”.

Kemudian dilanjutkan dengan bedhayan, pada bagian ini diulang 2 kali. pada pengulangan pertama dilakukan koor, sedangkan pada pengulangan kedua dibuat dengan teknik canon. C. Bagian Ketiga No Instrument Notasi 1 Slenthem _..36 .!.g3 .5.6 .!.6 ..36 .!.g3 .5.6 .!.3 .5.3 .5.g6 .3.6 .532 .j123y .3.g2

(58)

.5.3 .5.6 .3.2 .1.gy _

2 Vokal . . 36 . j#j @ j!j /6 ! . . . . #@ j!/6 6

Bingung lamunden wuyung ngrerujit nala . . 3 6 .j#j @ j!j /6 z!x x.c@ . . !6 zj5xj c6 3 Ngeglo ngengleng angliling angre ri du . 3 j5j 6 j6j ! 6 5 g6

Se sa mar semu sinawang

. .3 j56 j6! 6 zj5c3 2 .j12 3 y . j32 j./12 Linali tan bangkit lali mulat sekar angujiwat . . 3 j56 j6! 6 5 6 . 6 . j#@ # . ! g6 Sun kapang setya angrantu bot brantaning kalbu

Keterangan Garap: setelah peralihan

kemudian tempo dibuat cepat kemudian melambat . Sedangkan vokalnya sama dengan tempo balungan dan kendhang. Namun pada bagian akhir hanya mengambil gatra ke 4 dan 5 dan dilakukan solo vokal.

(59)

BAB IV

REFLEKSI KEKARYAAN

A. Tinjauan Kritis Kekaryaan

Karya komposisi musik Laku adalah fenomena non musikal yang diangkat penulis sebagai embrio karya. Laku sendiri biasa diartikan sebagai gerak – gerik atau tindakan. Namun dalam karya ini penyaji mengartikan laku sebagai perjalanan. Dimana setiap manusia memiliki perjalanan kehidupan. Dalam karya ini penulis bercerita tentang perjalanan Prabu Brawijaya V dalam melakukan napak tilas untuk mencari ketenangan hati.

Pada bagian pertama menggambarkan kebimbangan, bagian ini adalah transisi dari kesan damai ke bimbang. Instrumen rebab adalah penggambaran dari hati manusia. Dimana yang tadinya datar saja kemudian diberi improvisasi menggambarkan kebimbangan hati Prabu Brawijaya V ketika sang putra memintanya untuk memeluk agama islam. Selanjutnya hadirnya instrument kendhang dengan tempo lambat kemudian semakin cepat menggambarkan tekat Prabu Brawijaya V untuk melarikan diri dari Kerajaan Majapahit. Kemudian diperkuat dengan vokal yang isinya nasehat ”laku kang tinemu nggayuh kang lelakon”.

(60)

Pada bagian kedua menggambarkan suasana agung. Yaitu dengan membuat vokal seperti bedhaya yang diambil dari syair ketawang ganti langse dan doa yang dipakai saat upacara adat ganti langse berlangsung. Pada bagian ini juga musisi mentransmedium pola tabuhan kemanak kedalam tabuhan kempul. Kemudian pada rambahan kedua penulis membuat vokal seperti canon. Hadirnya siter, gambang, kendhang, gender sangat mendukung suasana yang diinginkan oleh musisi.

Pada bagian ketiga musisi membuat sebuah vokal yang digarap dengan tempo cepat kemudian melambat. Dalam bagian ini menggambarkan kebimbangan hati , emosi, namun juga bahagia karena mendapat ketenangan hati yang dicarinya. Namun ia tak bisa kembali ke Majapahit. Kemudian pada bagian akhir dibuat vokal tunggal tanpa instrument, hal ini menggambarkan kepasrahan dalam menjalani hidup. Karena kehidupan yang dilandasi dengan pasrah kepada Tuhan YME akan menciptakan kedamaian dalam hati.

B. Hambatan

Hambatan dalam proses karya “ Laku “ adalah ketika latihan didalam ruangan vokal cenderung tertutup oleh tabuhan, akan tetapi jika volume tabuhan dilirihkan maka tempo yang dibuat akan hilang. Selain itu ketika

(61)

latihan pendukung jarang bisa lengkap, sehingga saat latihan harus mengulang materi beberapa kali. Kendala waktu pendukung dalam kelompok lain ( tumbuk ). Ada juga yang tidak bisa datang tapi tidak pamit.

C. Penanggulangan

Penanggulangan yang terjadi pada karya adalah melatih vokal agar tidak kalah dengan tabuhan. Penanggulangan yang terjadi dengan pendukung yaitu menggunakan cara penyampaian tutur kata sopan santun untuk menegur pendukung yang kurang tertib waktu latihan. Mengganti jadwal latihan bila mana dalam waktu yang bersamaan ruang untuk latihan telah digunakan oleh kelompok lain. Mengganti jam untuk jadwal latihan ketika dalam waktu yang bersamaan pendukung telah mengikuti jadwal latihan kelompok lain. Menelfon Pendukung jika waktu latihan tidak datang dan meminta tolong pada pendukung yang lain untuk menjemput. Jika pendukung tidak lengkap proses latihan tetap berlangsung tetapi hanya untuk eksplorasi bagian tertentu.

(62)

BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Tugas akhir karya seni merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi S-1 di Institut Seni Indonesia Surakarta, yang terdapat ketentuan bahwa di Jurusan Karawitan munat komposisi, penyusun harus mampu menciptakan karya komposisi musik baru. Mahasiswa dituntut memiliki bekal sebagai pencipta karya seni, yang artinya seorang komposer harus mampu menyusun dan mengetahui karakter instrumen dan atau gagasan ide yang akan dibuat pada satu sajian musik baru.

Ide utama dari karya Laku adalah mengeksplorasi kembali instrument kemanak serta do‟a yang dilakukan pada upacara adat ganti langse. Kendatipun demikian masih dalam bingkai tradisi dengan memanfaatkan alat yang sudah ada dengan ditambah rainstic. Adapun instrument yang digunakan adalah Kendhang, bonang barung laras slendro ,siter, gender laras slendro, gambang laras slendro, demung laras slendro, saron laras slendro, rebab, slenthem laras slendro, kempul slendro dan gong ageng.

(63)

B. Saran

Karya ini tentu saja banyak terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Penulis merasa kurang dalam mengembangkan pola pada instrumen gamelan dan syair vokal yang dirasa sangat sederhana. Untuk penyusun-penyusun karya komposisi musik selanjutnya, dianjurkan untuk lebih dapat menggarap dan mengembangkan pola-pola pada gamelan yang sudah ada dengan lebih bervariasi dan berinovasi. Selain itu diharapkan dapat lebih mengenal dan mencintai kesenian tradisi daerah masing-masing, mengembangkan dan melestrikan seni tradisi daerah masing-masing agar kebudayaan akan tetap hidup.

(64)

DAFTAR ACUAN

Daftar Pustaka

Andriani. 2018. Mitos Alas Ketonggo Srigati (Petilasan Prabu Brawijaya V) Di Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi (Kajian Struktur, Fungsi, Nilai Budaya, Dan Pengaruh).

Bawon, Sri. 2018. “ Kajating Warih “ Deskripsi Tugas Akhir Karya Seni. Surakarta: ISI Press.

Chrisdyanto, Suluh Febrian. 2013. Makna Filosofis Sajrone Tradhisi Ganti Langse Ing Petilasan Prabu Kertabumi. UNESA

Djohan. 2009. Psikologi Musik. Yogyakarta : Best Publisher

Firmalia puspitasari, Irene. 2015. Kajian Koreografi Tari Bedhaya Srigati Kabupaten Ngawi Jawa Timur. Yogyakarta: UNY Press.

Kusumaningrum, Ratih. 2016. Fungsi Tari Bedhaya Srigati dalam Upacara Ganti Langse. Surakarta: ISI Press Surakarta.

Kutha Ratna, Nyoman. 2016. Metodologi Penelitian Kajian Budaya Dan Ilmu Sosial Humaniora Pada Umumnya. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR KENCANA

(65)

Setyawan, Riyadi. 2014. “ibu bumi” Deskripsi Tugas Akhir Karya Seni. Surakarta: ISI Press.

Supanggah, Rahayu. 2007. Bothekan Karawitan II. Surakarta: ISI Press Surakarta

Supanggah, Rahayu. Garap Salah Satu Konsep KajianPendekatan/Kajian Musik Nusantara dalam Menimbang Pendekatan & Penciptaan Musik Nusantara. Surakarta ISI Surakarta, 2005. Bhotekan Karawitan & Garap, Ed. Waridi. ISI Surakarta, 2009.

__________. 2017. Panduan Tugas Akhir Fakultas Seni Pertunjukan. Surakarta: ISI Press.

Webtografi

(https://id.m.wikipedia.org)

Narasumber

Imam Joko Sulistyo ( 38 tahun ), Koreografer. Jl. Kartini No.03, Ngawi.

Jainuri ( 29 tahun ), Wiraswasta. Desa Waruk Tengah, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi.

(66)

Marji ( 65 tahun ), Juru Kunci Alas Ketonggo. Dusun Brendil, Desa Babadan, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.

Rini Sulistyani S.Pd (35 Tahun) Guru. Jl. Kartini No.03, Ngawi.

Sungkono (52 tahun) Seniman. Dusun Jegolan, Desa Kedungputri, Kecamatan Paron, Kabupaten Ngawi.

Supriyadi ( 53 Tahun ) Seniman. Dusun Bendo, Desa Bendo, Kecamatan Padas, Kabupaten Ngawi.

Diskografi

Video pementasan Tari Bedhaya Srigati dalam upacara adat ganti langse di Dusun Brendil, Desa Babadan, Kecamatan Paron, Ngawi tahun 2014

Video Tugas Akhir Karya Seni Ibu Bumi oleh Riyadi Setyawan, tahun 2014.

(67)

GLOSARIUM

Arak-arakan : berjalan dengan posisi berbaris secara berurutan.

Bedhaya : tarian sakral yang di dalamnya mengandung nilai-nilai

filosofis.

Bonang barung: salah satu bagian dari seperangkat gamelan jawa yang berukuran sedang dan nada beroktaf tengah sampai tinggi.

Canon : menyanyi dengan irama susul menyusul

demung : salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga

balungan, yang memiliki wilahan relative tipis dan lebar daripada saron. Ganti Langse : Prosesi mengganti kain morri lama dengan kain morri baru di Palenggahan Agung Srigati

Garap : cara dan proses yang dilakukan seniman berdasarkan

pengembangan imajinasi dan intepretasi untuk mewujudkan karya seni.

gong : alat musik gamelan yang berbentuk bulat yang terdapat

(68)

kempul :salah satu perangkat gamelan yang ditabuh, biasanya digantung menjadi satu perangkat dengan Gong.

Keramat : suci dan dapat mengadakan sesuatu di luar kemampuan manusia biasa karena ketakwaanya kepada Tuhan.

Ketawang : bentuk gendhing Jawa yang ketukannya berjumlah 16.

Laku : Perbuatan; gerak – gerik; tindakan; cara menjalankan atau berbuat

Laras : susunan nada.

Napak Tilas : Berjalan kaki dengan menelusuri jalan yang pernah dilalui oleh seseorang, pasukan, dan sebagainya untuk mengenang perjalanan pada masa perang dan atau sejarah masalalu

Pathetan : lagu ber irama ritmis bersuasana tenang yang dimainkan oleh gabungan ricikan rebab, gender, gambang dan suling.

penunthung :

Pesanggrahan : tempat peristirahatan

Petilasan : tempat yang pernah digunakan untuk bersemayamnya salah

(69)

rebab : alat musik tradisional yang memiliki 2 senar dan menabuhnya dengan cara digesek.

saron : salah satu instrumen gamelan yang termasuk keluarga

balungan yang menghasilkan nada satu oktaf lebih tinggi daripada demung, serta berpenampilan fisik lebih kecil.

slenthem : salah satu instrumen gamelan yang terdiri dari lembaran lebar logam tipis yang diuntai dengan tali dan direntangkan di atas tabung-tabung dan menghasilkan dengungan rendah atau gema yang mengikuti nada saron.

Sindhenan : suara vokal dalam karawitan.

siter : alat musik petik dalam gamelan jawa.

suling : alat musik dari keluarga alat musik tiup kayu atau terbuat dari bamboo.

Vokal : alunan nada – nada yang keluar dari suara manusia.

Wingit : situasi atau kondisi tempat yang dianggap suci, sakral dan keramat.

(70)

BIODATA PENYAJI

Nama : Devy Eka Rahayu

NIM : 14111136

Tempat, Tanggal lahir : Ngawi, 5 Juni 1996

Alamat : RT/ RW. 001/002, Dusun Tapen, Desa Waruk

Tengah, Kecamatan Pangkur, Kabupaten Ngawi, Provinsi Jawa Timur

Riwayat Pendidikan :

1. TK Dharma Wanita Waruk Tengah 2, Tahun 2001 – 2002 2. SD Negeri Waruk Tengah 2, Tahun 2002 – 2008

3. SMP Negeri 1 Pangkur, Tahun 2008 – 2011 4. SMK Negeri 2 Ngawi, Tahun 2011 – 2014

(71)

LAMPIRAN

DAFTAR PENDUKUNG KARYA

No Nama Jurusan NIM Instrumen

1 Adi Cahyo Nugroho Alumni

Jurusan Karawitan

- Kendhang

2 Stefanus Kurnia

Indra Citra Wahana

Alumni Jurusan Karawitan

- Demung dan

Slenthem

3 Lenni Nur Latifah Karawitan 18111166 Vokal 1 dan

rebab

4 Aulia Pangesthi Karawitan 18111102 Vokal 2

5 U‟un Viska Tri

Hartanti

Karawitan 18111112 Vokal 3 dan

rebab

6 Chatur Rhama Pedalangan 17123111 Gambang dan

Demung

(72)

8 Bimasakti Nugraha Karawitan 191111064 Gender dan Saron

9 Nugroho Aji

Pamungkas

Karawitan 18111179 Kempul dan

Gong 10 Farid Yusnia Hasanudin Karawitan 17111113 Siter 11 Gilang Adi Setyawan

Karawitan 18111120 Bonang Barung

(73)

FOTO PROSES

Gambar 1. Latihan Wajib ( Foto Yafie, 2020 )

(74)

Gambar 2. Latihan Wajib ( Foto: Yafie, 2020 )

(75)

Gambar 3. Latihan Wajib ( Foto: Yafie, 2020 )

(76)

Gambar 4. Latihan Wajib ( Foto: Yafie, 2020 )

(77)

Gambar 5. Latihan Wajib ( Foto: Yafie, 2020)

(78)

Gambar 6. Latihan Wajib ( Foto: Yafie, 2020 )

(79)

Gambar 7. Latihan Wajib ( Foto: Yavie, 2020 )

(80)

Gambar 8. Ujian Penentuan Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2019 )

(81)

Gambar 9. Ujian Penentuan Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2019 )

(82)

Gambar 10. Ujian Penentuan Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2019 )

(83)

Gambar 11. Ujian Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2020 )

(84)

Gambar 12. Ujian Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2020 )

(85)

Gambar 13. Ujian Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2020 )

(86)

Gambar 14. Ujian Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2020 )

(87)

Gambar 15. Ujian Tugas Akhir ( Foto: Rika, 2020 )

(88)

Gambar 16. Foto bersama pembimbing dan pendukung ( Foto: Niken, 2020 )

(89)

SETTING PANGGUNG

1

2

3

4 5

6

7

8

9

1

0

1

1

1

2

Keterangan: 1. Kempul dan Gong 2. Kendhang ageng dan

penunthung 3. Vokal penyaji

4.

Slenthem

5.

Saron 1

6.

Gambang

7.

Demung 1

8.

Demung 2

9.

Gender

10.

Saron 2

11.

Suling dan Siter

12.

Bonang Barung

Gambar

FOTO PROSES
Gambar 2. Latihan Wajib  ( Foto: Yafie, 2020 )
Gambar 3. Latihan Wajib  ( Foto: Yafie, 2020 )
Gambar 4. Latihan Wajib  ( Foto: Yafie, 2020 )
+7

Referensi

Dokumen terkait

Adapun kualitas kemampuan pemecahan masalah matematis siswa yang memperoleh pembelajaran matematika dengan pendekatan problem posing masuk dalam kategori cukup dan

yang dilakukan pada tahap ini adalah penyusunan perangkat pembelajaran yang berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dibuat mengenai KD 2.3 mengenal

Pada setiap usaha pasti ada kendala-kendala dalam menjalankannya begitu juga usaha-usaha yang dijalankan oleh Gapoktan Kampar Makmur seperti: usaha simpan pinjam terdapat beberapa

Keterampilan guru dalam menggunakan media pembelajaran Visual untuk meningkatkan motivasi belajar siswa kelas unggulan di SMP Negeri 1 Gondang Tulungagung yaitu:

Mengacu pada empat model komunikasi yang dikemukakan oleh Grunig tentang model komunikasi kehumasan yang dilakukan pada masyarakat, maka dalam penelitian proses

Modul Bimbel Kami selalu disesuikan dengan Kurikulum yang ada di sekolah, sehingga kegiatan Bimbingan tidak sia-sia karena soal-soal yang kita sediakan hampir sama dengan

Hubungan Kondisi Ekosistem Mangrove dengan Struktur Komunitas Udang di Perairan Muara Sungai Asahan Kecamatan Tanjungbalai Kabupaten Asahan Provinsi Sumatera

Berdasarkan hal tersebut penelitian ini dilakukan untuk mengetahui konsentrasi seng di Perairan Morosari baik yang terlarut maupun di sedimen kemudian