CARDIAC BOARD DISCUSSION
23 Mei 2021
• S/ Laki-laki 40 tahun , atlit lari, mudah lelah, tidur
ngorok
• O/ Lab normal, EKG sinus bradikardi. Sleep HR
42-50x/menit. Resting HR 60-70x/menit.
• A/ ???
• P/
– Tidak ada terapi spesifik
– Pemasangan pacemaker
– Intermittent nocturnal wakening
– Pemeriksaan TSH
• S/ Laki-laki 50 tahun, sesak napas semakin memberat
bila beraktifitas
• O/ S1 yang mengeras, diastolik rumble di daerah apeks. Ro
thoraks : atrium kiri disertai pembesaran arteri pulmonalis
• A/
• P/
• Derajat berat ringannya penyakit :
– Luasnya area katup triskupid
– Lamanya pembukaan katup aorta – Area orifisium bertambah 2 cm – Kenaikan tekanan ventrikel kirI – Adanya gradien transmitral
• S/ Wanita 28 th, SLE, nyeri dada substernal, terasa lebih
nyeri saat menarik nafas dan batuk, dan berkurang jika
membungkuk ke depan sejak 2 minggu yang lalu, dan
semakin bertambah berat sejak kemarin.
• O/ TD 100/60 mmHg, Nadi 98 kali/menit, respirasi 26 kali
per menit, temp 37.5 °C, fiction rub. Echocardiografi efusi
perikard pocketed 50 cc. Sudah dapat Indometasin 150 mg
per hari sejak 2 minggu sebelumnya.
• A/
• P/
• Tata laksana selanjtnya?
– Lanjuktkan Indometasi 150 mg/hari sampai dengan 6 minggu – Perikardiosintesis
– Ditamhakan Azatiophrine 50 mg/hari, dan prednisolon 40 mg/hari
– Ditambahkan hidroksi kloroquin 200 mg/hari dan prednison 10 mg/hari
• laki-laki, 38 tahun, Sesak nafas sejak I bulan yang lalu, memberat sejak 4 hari yang lalu, sesak tidak berkurang dengan perubahan posisi, tidak
disertai nyeri dada, atau keluhan dada berdebar. kelemahan pada kaki dan tangan yang semakin lama semakin memberat disertai kekakuan pada
kulit disekitar tangan, kaki dan punggung, sangat sakit untuk digerakan. Dirawat 1 bulan yang lalu, dilakukan perikardiosintesis, peningkatan JVP +5 cmH2O. pelebaran batas jantung kanan, murmur sistolik blowing di inter costal space IV para sternal line sinistra, grade III/IV tidak menjalar
• laboratorium darah lengkap dalam batas normal, tes fungsi renal baik, tes fungsi hepar dalam batas normal. Echocardiografi ulang saat ini
didapatkan pasien mengalami pulmonary hipertensi. Dari hasil ANA profile dengan anti-U1 RNP, Ro-52 recombinan, SS-A native positif. Berdasarkan hasil CT angiografi didapatkan bahwa tidak tampak filling defect yang menandakan suatu tromboemboli, terdapat pulmonary hipertensi dan tampak lesi kistik multiple dengan fibrosis di sekitar lapang paru.
• Tatalaksana pada pasien adalah
– Sidenafil 50 mg/hari – Prednison 60 mg/hari
– Prednison 10 mg/hari + Heparin
– Prednison 60 mg/hari + Nifedipin 30 mg/hari – Prednsion 60 mg/hari + Heparin
• Pernyataan yang salah ttg penyakit jantung hipertensi
• Hipertrofi ventrikel kiri yang terjadi pada penyakit jantung
hipertensi merupakan kompensasi jantung menghadapi tekanan darah tinggi ditambah dengan faktor neurohormonal
• Patofisiologi terjadinya hipertrofi konsentrik adalah fungsi
diastolik yang terganggu akibat dari gangguan relaksasi ventrikel kiri, kemudian disusul dengan dilatasi ventrikel kiri.
• Pada tahap awal, seperti pada hipertensi pada umumnya kebanyakan tidak bergejala
• Perlu dilakukan evaluasi terhadap kemungkinan hipertensi
sekunder, faktor-faktor yang akan mempengaruhi pengobatan, kerusakan organ target dan fator resiko PJK lainnya.
• Bila sudah terjadi gagal jantung hipertensi, maka prinsip pengobatannya sama dengan pengobatan gagal jantung lainnya
• Seorang wanita 65 tahun datang ke UGD dengan nyeri dada keluhan timbul 30 menit yang lalu disaat terbangun dari tidur disertai juga keluhan muntah 5x, pusing, sakit kepala, ketika tiba tekanan darah 70/30 mmHg dengan denyut nadi 60 x / menit, tampak cemas , pada pemeriksaan paru normal. Hasil EKG di jumpai elevasi di lead 2, 3, AVF dan ST depresi di lead V1 dan V2 dengan irama sinus, foto thorax normal, ekokardiografi menunjukkan left ventricular
function normal dan dilatasi ventrikel kanan. Apa terapi yang diberikan segera mungkin pada pasien diatas dengan hipotensi ?
– Aortic counterpulsation
– Dobutamin, 5 mikrogram /kg berat badan/menit – Bolus normal salin, 500 ml
– Dopamin, 5 mikrogram /kg berat badan/menit – Pacemaker transvenous placement
• KJlasifikasi gagal jantung berdasarkan
modifikasi konsensus ACC /AHA 2013, gagal
jantung dengan penuruna EF (HFrEF),
• ejeksi fraksi sebesar:
– ≥ 50%
– ≤ 40%
– 41% – 49%
– > 40%
• Laki-laki 63 tahun , jantung terasa berdebar-debar sejak 3 jam yang lalu. Riwayat minum 2 gelas kopi 3 jam yang lalu.
• D/?
– Supraventrikular Takikardia – Atrial Fibrilasi
– Sinus takikardia
– Premature atrial complexes – Ventricular extrasistole
• Manakah pernyataan tentang kompleks atrial prematur
di bawah ini yang benar ?
– PAC lebih sering dijumpai pada pasien dengan penyakit
jantung struktural
– PAC meningkat frekuensinya seiring dengan pertambahan
usia
– PAC hampir selalu menimbulkan keluhan berdebar-debar
– PAC tidak mungkin berkaitan dengan kondisi infeksi
sistemik
– PAC hamper selalu memiliki contour gelombang p yang
sama seperti contour gelombang p pada irama sinus yang
normal
• Manakah pernyataan tentang VES di bawah ini
yang tidak benar ?
– Fokus ektopik pada VES bisa berasal dari lebih dari 1
tempat pada ventrikel
– Bila dijumpai 3 atau lebih VES salvo dalam EKG, maka
bisa disebut VT
– Pasien dapat diberikan minor tranquilizer bila merasa
tidak nyaman
– VES tidak bisa dijumpai pada keadaan jantung yang
normal
– Frequent VES yang muncul pasca infark miokard
akut menandakan prognosis yang lebih buruk
• Seorang laki-laki tanpa identitas berusia kurang lebih 30-35 tahun ditemukan kondisi tidak sadarkan diri di pinggir jalan. Penderita tersebut lalu di bawa ke UGD terdekat. Dari pemeriksaan fisik umum dibadapat GCS E1V1M1, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur, pada
pemeriksaan EKG awal mengalami ventrikel fibrilasi. Penderita dilakukan resusitasi dengan 2 siklus RJP dan 2 defibrilasi. Setelah defibrilasi pertama selesai, pada monitor terlihat tindakan apa selanjutnya yang paling tepat dikerjakan:
– Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan magnesium sulfat 2 gram
– Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan sulfas atropin 0,5 mg – Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan vasopresin 40 unit – Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung paru dan amiodarone 300 mg – Defibrilasi 200 Joule diikuti resusitasi jantung-paru dan epinefrin 1 mg
• Pasien laki-laki usia 70 tahun datang ke UGD diantar keluarga karena 30 menit sebelumnya pasien mengeluh dada berdebar-debar, keringat dingin dan pusing. Dari pemeriksaan awal UGD, pasien tidak sadar dan tidak respon dengan rangsang nyeri. Tidak ditemukan denyut arteri karotis selama pengukuran 10 detik. Pasien lalu dilakukan RJP selama 2 menit. Monitor telah dipasang,
ditemukan irama VT polimorfik dengan QT interval memanjang, setelah defibrilasi 200 joule, tambahan terapi apa yang
diindikasikan untuk VT polimorfik dengan Long QT Syndrome ?
– epineprin
– procainamide – amiodarone – isoproterinol
• Laki laki 72 tahun sesak napas yang memburuk dua
minggu terakhir. Nyeri dada yang hilang muncul bila
beraktivitas. Riwayat pingsan saat naik tangga. Sering
sesak di malam hari dan tidur dengan bantal tinggi.
• JVP 5+4 cmH2O, ronchi basah halus pada kedua basal
paru, murmur sistolik grade 3/6 pada sela iga 2
parasternal kanan yang menjalar ke karotis dan didapat
paradoksikal splitting pada bunyi jantung II, serta
edema pitting pada kedua pretibial.
• Kemungkinan penyebab gagal jantung pada pasien ini
adalah…
– Stenosis Aorta
– Regurgitasi Aorta
– Stenosis pulmonal
– Regurgitasi pulmonal
• laki-laki 52 tahun, nyeri dada mulai 3 jam lalu, terjadi saat
bekerja di kantor seperti tertindih benda berat, selama 30
menit disertai keringat dingin. Merokok 2 bungkus perhari
sejak umur 17 tahun, Diabetes Mellitus sejak 10 tahun lalu.
• Tekanan darah 150/100 mmHg, frekuensi nadi 100x/menit.
EKG : ST elevasi disadapan V1-V5.
• Diberikan trombolitik, pasien masih nyeri dada walaupun
telah diberikan obat penghilang nyeri secara infus kontinyu.
• Tatalaksana selanjutnya yang paling tepat untuk pasien ini
adalah…
– Pemberian trombolitik diulang kembali
– Rescue Percutaneus Coronary Intervention (PCI)
– Facilitated Percutaneus Coronary Intervention (PCI) dengan pemberian trombolitik
– Facilitated Percutaneus Coronary Intervention (PCI)
– Rescue Percutaneus Coronary Intervention (PCI) dengan pemberian trombolitik
• Seorang laki-laki berusia 44 tahun datang ke IGD
dengan keluhan nyeri dada yang menjalar sampai
ke dagu disertai keringat dingin dan rasa mual.
Pada pemeriksaan EKG didapatkan ST elevasi
pada sadapan I aVL, V1-V4, ST Depresi II,III, aVF.
VES (+).
• Pada kasus tersebut oklusi arteri koroner paling
mungkin terjadi pada…
– Posterior descending artery
– Left anterior descending artery
– Right coronary artery distal
– Left circumflexi coronary artery
– Right coronary artery proximal
• S/Wanita 65 tahun, nyeri dada timbul 30 menit yang lalu, muntah 5x, pusing, sakit kepala.
• O/ TD 70/30 mmHg, nadi 60x/menit, tampak cemas, paru normal. EKG dijumpai elevasi di sadapan 2,3, aVF dan ST depresi disadapan V1 dan V2 dengan irama sinus,foto thorax normal, ekokardiografi ditemukan fungsi ventrikel kiri normal,dan ada dilatasi ventrikel kanan.
• A/
• P/
• Terapi yang harus segera diberikan pada pasien tersebut untuk mengatasi hipotensi adalah…
– Aortic counterpulsation
– Dobutamin 5 mikrogram/kgBB/menit – Bolus Normal Salin 500 ml
– Dopamin 5 mikrogram/kgBB/menit – Norepinefrin
• S/ Laki laki, 71 tahun, hematemesis masif, syok hipovolemik. Riwayat infark miokard akut 1 tahun lalu, dan pemasangan 2 stent. nyeri dada tipikal berulang dengan intensitas tetap
• O/ LVEF 30%, pucat, takikardia, S3 galop, dan rhonki basah halus basal paru. EKG: sinus takikardia, Q
dan ST depresi 2 mm di sadapan precordial. EGD: Ulkus besar dengan perdarahan aktif
• A/
– Syok hipovolemik
• P/ Direncanakan hemostasis secara laparotomy.
• Toleransi risiko operasi pada pasien adalah…
A. High risk untuk komplikasi kardiovaskular: lanjutkan dengan operasi segera/cito
B. High risk untuk komplikasi kardioaskular: pertimbangkan coronary angiografi pra tindakan
C. High risk untuk risiko kardiovaskular: pertimbangkan MSCT scan cardio
D. High risk untuk risiko kardiovaskular: optimalkan dosis beta-bloker dan lanjut operasi.