• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Soni Eranata 1257

STUDI KOMPARASI KONSEP PENDIDIKAN ISLAM MENURUT MUHAMMAD ABDUH DAN ABUDDIN NATA

Soni Eranata

Universitas Ibn Khaldun Bogor

INFORMASI ARTIKEL ABSTRAK

URL : http://e-jurnalmitrapendidikan.com

© 2019 Kresna BIP. e-ISSN 2550-0481

p-ISSN 2614-7254

Jurnal Mitra Pendidikan (JMP Online)

Dik irim : 10 September 2019 Revisi pertama : 17 September 2019 Diterima : 21 September 2019 Tersedia online : 01 Ok tober 2019

Pendidik an ak an terus berk embang mengik uti zaman, sehingga dibutuhk an pemik iran -pemik iran tok oh Islam yang focus dalam dunia pendidik an, untuk memecah segala problematik a pendidik an yang dirasak an saat ini. Kedua tok oh ini terk enal k onsen dalam melihat pendidik an dan mengamati sebagai salah satu instrument yang digunak an untuk mencet a k generasi yang memilik i syak siyah islamiya. Proses k ependidik an Islam memerluk an k onsep-k onsep yang pada gilirannya dapat dik embangk an menjadi teori -teori yang teruji dalam prak tek nya dilapangan. Bangunan teoritis k ependidik an Islam itu ak an dapat berdiri tegak diatas pondasi pandangan dasar (filosofis) yang telah digarisk an oleh Tuhan dalam k itab suci wahyu-Nya yaitu Al-Qur’an.

Metode yang digunak an dalam penelitian i n i adalah desk ripitif k ualitatif untuk memberik an gambaran k onstruk si k onsep pendidik an dari tok oh -tok oh Islam yaitu Muhammad Abduh dan Abuddin Nata dalam melihat pendidik an dari sisi tujuan pendidik an, k urik ulum pendidik an, dan output yang ak an dicetak . Pada penelitian ini penulis menggunak an jenis penelitian k epustak aan (Library Research) yaitu penelitian k epustak aan dan literatur yang ada relevansinya dengan judul.

Kata Kunci: Konsep Pendidik an Islam, Muhammad Abduh, Abuddin Nata

(2)

Soni Eranata 1258

PENDAHULUAN Latar Belakang

Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi manusia, karena melalui pendidikan seseorang dapat mengetahui sesuatu yang ia tidak ketahui sebelumnya. Bertolak dari asumsi bahwa life is education and education is life dalam arti pendidikan merupakan persoalan hidup dan kehidupan, dan seluruh proses hidup dan kehidupan manusia adalah proses pendidikan maka pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang sangat urgent dalam mengembangkan pandangan hidup dan keterampilan seseorang. Dalam setiap perkembangan hidup manusia, pendidikan memiliki peranan penting yang mana tujuan utamanya yaitu untuk mencapai kesempurnaan sifat kemanusiaan manusia itu sendiri melalui berbagai keadaan dan cara yang pada akhirnya ia dapat menemukan tujuan hidupnya.

Pendidikan Islam pada dasarnya merupakan upaya pembinaan dan pengembangan potensi manusia, agar tujuan kehadirannya di dunia ini sebagai hamba Allah dan sekaligus tugas khalifah Allah tercapai sebaik mungkin. Potensi yang dimaksud meliputi potensi jasmaniah dan potensi rohaniah seperti akal, perasaan, kehendak, dan potensi rohani lainnya. Dalam wujudnya, pendidikan Islam dapat menjadi upaya umat secara bersama atau upaya lembaga kemasyarakatan yang memberikan jasa pendidikan bahkan dapat pula menjadi usaha manusia itu sendiri untuk dirinya sendiri. (Mappasiara, 2018:147).

Dengan demikian ajaran Islam sarat dengan nilai-nilai pendidikan, yang mana hal tersebut bersifat subjektif dan transcendental. Agar menjadi sebuah konsep yang objektif perlu didekati dengan keilmuan atau sebaliknya perlu menggunakan paradigma Islam yang sarat dengan nilai-nilai pendidikan.

Pemikiran semacam ini kiranya pada saat sekarang memiliki momentum yang tepat karena dunia pendidikan sering menghadapi krisis konseptual, disamping karena begitu cepatnya terjadi perubahan sosial yang sulit, maka menjadi tanggung jawab bagi setiap pakar pendidikan untuk membangun teori dan konsep pendidikan Islam. Saat ini ada kecenderungan pendidikan Islam kian mendapat tantangan seiring berkembangnya zaman, disatu sisi muncul persaingan global dalam dunia pendidikan yang mana menjanjikan masa depan pembentukan kualitas anak didik namun pada sisi lain juga memunculkan kekhawatiran merosotnya kualitas pendidikan yang merusak nilai-nilai kependidikan Islam itu sendiri.

Apabila kita lihat kembali dalam pengertian pendidikan Islam akan terlihat dengan jelas sesuatu yang diharapkan terwujud setelah orang mengalami pendidikan Islam secara keseluruhan, yaitu kepribadian seseorang yang membuatnya menjadi “insan kamil” dengan pola taqwa. Insan kamil artinya manusia utuh rohani dan jasmani, dapat hidup dan berkembang secara wajar dan normal karena taqwanya kepada Allah SWT ini mengandung arti bahwa pendidikan Islam itu diharapkan menghasilkan manusia yang berguna bagi dirinya dan masyarakatnya serta senang dan gemar mengamalkan dan mengembangkan ajaran Islam dalam berhubungan dengan Allah dan dengan manusia sesamanya, dapat mengambil manfaat yang semakin meningkat dari alam semesta ini untuk kepentingan hidup di dunia dan di akhirat nanti. Maka berdasarkan hal diatas, oleh karena itu proses kependidikan Islam memerlukan konsep-konsep yang pada gilirannya dapat dikembangkan menjadi teori-teori yang

(3)

Soni Eranata 1259 teruji dalam prakteknya dilapangan. Bangunan teoritis kependidikan Islam itu akan dapat berdiri tegak diatas pondasi pandangan dasar (filosofis) yang telah digariskan oleh Tuhan dalam kitab suci wahyu-Nya yaitu Al-Qur’an.

Apabila Kemudian kita melirik sedikit pada Pendidikan Islam bukan menjadi hal yang baru bagi kalangan pemikir, pendidik, dan dunia pendidikan itu sendiri, bahwa Pendidikan Islam dapat menjadi salah satu jawaban atas ketidakteraturan sistem pendidikan yang ada pada masa dekade yang lalu, akan tetapi kenyataan yang ada saat ini menempatkan pendidikan Islam pada posisi yang sangat memprihatinkan layaknya masih mencari identitasnya yang mulai tergerus oleh zaman dengan seiring majunya perkembangan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta semakin tinggi arus modern mengakibatkan pendidikan Islam dihadapkan pada kondisi materialistis, sekularis, dan lainnya

Ekspektasi kemajuan pendidikan Islam tidak pernah terputus dari mata rantai keinginan masyarakat Muslim, khususnya para pemikir dan praktisi. Kendati pun belum menyadari secara aplikatif dan implementatif dalam kehidupan sehari-hari, namun para pemikir dan praktisi Islam sangat mengerti dan memahami bahwa kemajuan pendidikan Islam memiliki berbagai fungsi strategis baik secara politik, ekonomi, sosial maupun kultural.

Banyak tokoh pendidikan Islam baik nasional maupun internasional yang telah berjasa dalam pembentukan konsep pendidikan Islam. Dari tokoh-tokoh pemikir itulah konsep pendidikan Islam melahirkan teori-teori yang aplikatif dilapangan serta membuahkan hasil bagi kemajuan pendidikan Islam. Diantara dua tokoh nasional dan internasional yang akan menjadi fokus bahasan penulis dalam skripsi ini adalah tokoh pendidikan dan pemikir Islam Muhammad Abduh dan Abuddin Nata yang mana kedua tokoh ini telah banyak menelurkan konsep-konsep serta pemikiran-pemikiran mengenai bagaimana memajukan dan mensukseskan pendidikan Islam secara kompherensip terkhusus dalam dunia pendidikan Islam, oleh karenanya penting sekali bagi penulis menelaah dan menganalisis pemikiran serta konsep pendidikan kedua tokoh tersebut.

Sebagaimana yang dikemukakan oleh Qomar (2013:4) pendidikan Islam dalam sebuah bangsa akan maju dan berhasil jika bangsa tersebut mampu menguasai dan mengimplementasikan epistemologi pendidikan Islam dan metodologi pendidikan Islam (yang didalamnya terdapat konsep-konsep pendidikan Islam aplikatif dan teruji berhasil diterapkan di lapangan). Sebaliknya bangsa yang buta terhadap epistemologi dan metodologi pendidikan Islam tidak mungkin mampu memajukan konsep dan teori pendidikan Islam.

Rumusan Masalah

Pendidikan menjadi tombak pertumbuhan yang akan mengalami perkembangan setiap waktunya secara pesat. Dimana dibutuhkan secara sungguh-sungguh untuk menemukan formula atau kontribusi ilmu untuk menambah khazanah yang dikeluarkan oleh para pemikir-pemikir Islam sebagai bentuk problem solving atas segala permasalahan pendidikan yang ada.

(4)

Soni Eranata 1260 Dari latar belakang masalah tersebut, maka rumusan masalah yang akan diangkat dalam pembahasan ini ialah:

1. Apa konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Abduh dan Abuddin Nata? 2. Apa persamaan dan perbedaan konsep pendidikan Islam menurut Muhammad

Abduh dan Abuddin Nata?

Tujuan Penelitian

Dalam hal ini, penulis ingin memberikan gambaran para pemikir-pemikir Islam dalam memberikan kontribusi terhadap konsep pendidikan, maka dengan ini, tujuan penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk dapat memberikan gambaran tentang konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Abduh dan Abuddin Nata.

2. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Abduh dan Abuddin Nata.

Manfaat Penelitian

Dari hasil penelitian ini, diharapakan dapat memberikan kontibusi bagi pendidikan dalam meningkatkan kualitas pendidikan:

1. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan dalam arti memperkaya khazanah ilmu kependidikan Islam yang berkaitan dengan konsep pendidikan Islam menurut para tokoh pendidikan nasional maupun internasional.

2. Diharapkan dapat memperkaya pengetahuan dan wawasan terkhusus bagi para pendidik baik guru-guru, dosen ustadz dan lain sebagainya yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

KAJIAN PUSTAKA

Pengertian Konsep Pendidikan

Dalam bahasa arab, ada beberapa istilah yang biasa digunakan dalam penyebutan pengertian pendidikan, yaitu biasa menggunakan istialh ta’lim, yang mana sesuai dengan firman Allah SWT yang berbunyi :

أنِإ ِء َلَُؤََٰه ِءاَمأسَأِب يِنوُئِبأنَأ َلاَقَف ِةَكِئ َلََمألا ىَلَع أمُهَضَرَع َّمُث اَهَّلُك َءاَمأسَ ألْا َمَدآ َمَّلَع َو َنيِقِداَص أمُتأنُك

Artinya :

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang benar orang-orang yang benar.” (QS Al-Baqoroh : 31). Juga kata tarbiyah dipergunakan untuk pendidikan.

Seperti firman Allah yang berbunyi :

...

اَمُهأمَحأرا ِ بَر ا ًريِغَص يِناَيَّبَر اَمَك

Artinya :

"Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil" . (QS Al-Isra : 24)

Pengertian pendidikan Islam yang berjangkauan luas sebagai berikut: “Islamic

education in true sense of the term, is a system of Education which enables a man tolead his life according to the Islamic ideology, so that he may easily mould his life in

(5)

Soni Eranata 1261

accordance with tenets of Islam. And thus peace and prosperity may prevail in his own life as well as in the whole world. This Islamic scheme of education is, of necessity an all embracing system, for Islam encompasses the entire gamut of a muslim's life. it can justly be said that all brances of learning which are not Islamic are included in the Islamic education. The scope of Islamic education has been changing at different times. In view of demands of the age and the development of science and technology, its scope has also widened.”

Marimba (2012:34) sebagaimana yang dikutif oleh Tafsir menyatakan bahwa pendidikan adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak didik menuju terbentuknya kepribadian yang utama. Pendidikan lebih dari sekedar pengajaran, yang dapat dikatakan sebagai suatu proses transfer ilmu, transformasi nilai, dan pembentukan kepribadian dengan segala aspek yang dicakupnya. Dengan demikian pengajaran lebih berorientasi pada pembentukan spesialis atau bidang-bidang tertentu, oleh karena itu perhatian dan minatnya lebih bersifat teknis.

Dari batasan terminologi pendidikan yang disebutkan penulis sebelumnya, memberikan gambaran bahwa pendidikan merupakan salah satu syarat utama dalam upaya meneruskan dan mengekalkan nilai-nilai kebudayaan dari sebuah masyarakat. Dengan demikian pendidikan menjadi sebuah alat untuk mencapai suatu tujuan bagi sebuah masyarakat. Pada dasarnya konsep pendidikan Islam mencakup seluruh tujuan pendidikan yang dewasa ini diserukan oleh Barat bahkan diserukan oleh negara-negara di dunia. Lebih dari itu, pendidikan Islam adalah satu-satunya konsep pendidikan yang menjadikan makna dan tujuan pendidikan lebih tinggi sehingga mengarahkan manusia kepada visi ideal dan menjauhkan manusia dari ketergelinciran dan penyimpangan. Karena Islamlah, pendidikan memiliki misi sebagai pelayan kemanusiaan dalam mewujudkan kebahagiaan individu dan masyarakat. Secara universal Allah SWT menyerukan kepada seluruh umat manusia agar masuk ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh). Hal ini berarti bahwa ajaran Islam bukan hanya mencakup satu aspek saja, akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan manusia yang intinya adalah mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Salah satu aspek ajaran Islam dalam kehidupan manusia adalah pendidikan atau pendidikan Islam yang tentunya seluruh konsep pendidikannya diambil dari sumber ajaran Islam, yakni Al-Quran dan Al-Hadis serta hasil penalaran para ulama serta para ahli-ahli pendidikan Islam.

Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya sama dan sesuai dengan tujuan diturunkannya agama Islam itu sendiri yaitu untuk membentuk manusia yang muttaqin yang rentanganya berdimensi tidak terbatas menurut jangkauan manusia, baik secara linear maupun secara algoritmik (berurutan secara logis) berada dalam garis mukmin-muslim-muhsin dengan perangkat, komponen dan variabel dengan parameternya masing-masing yang secara kualitatif bersifat kompetitif. Tujuan pendidikan Islam pada hakikatnya bertolak dari konsep penciptaan manusia itu sendiri sebagai khalifah dan fitrah manusia.

(6)

Soni Eranata 1262 Manusia dalam Al-Qur’an menempati posisi yang sangat istimewa, karena ia diciptakan oleh Allah SWT yang berperan sebagai khalifatullah dimuka bumi, dengan tugas dan fungsi untuk beribadah hanya kepadanya. Disamping itu menurut Fadhil Al-jamali sebagaimana yang dikutip oleh Abbudin Nata juga mengkategorikan tujuan pendidikan Islam menjadi empat, yaitu: Mengenalkan manusia mengenai perannya diantara sesama mahluk dan tanggungjawabnya dalam hidup ini. Mengenalkan manusia dengan interaksi sosial dan tanggungjawabnya dalam tata hidup bermasyarakat. Mengenalkan manusia akan alam dan mengajak mereka mengetahui hikmah diciptakannya serta memberi kemungkinan pada mereka untuk mengambil manfaat darinya. Mengenalkan manusia kepada pencipta alam (Allah) dan menyuruhnya beribadah kepada-Nya. Tujuan pendidikan Islam adalah memberikan pemahaman-pemahaman bagi peserta didik dan membentuk budi pekerti, sebagaimana misi Rasulullah SAW sebagai pengemban perintah menyempurnakan ahklak manusia untuk memenuhi kebutuhan kerja. Tujuan pendidikan Islam yang bersifat universal memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

Mengandung prinsip universal (syumuliyah) antara lain aspek akidah, akhlak, ibadah, dan muamalah; keseimbangan dan kesederhanaan (tawazun dan iqtisyadiyah) antara aspek pribadi, komunitas dan kebudayaan; kejelasan (tabayyun), terhadap aspek kejiwaan manusia (qalb, akal dan hawa nafsu) dan hukum setiap masalah; kesesuaian atau tidak bertentangan dengan berbagai unsur dan cara pelaksanaannya; realisme dan dapat dilaksanakan, tidak berlebih-lebihan, praktis, realistik, sesuai dengan fitrah dan kondisi sisioekonomi, sosiopolitik, sosiokultural yang ada; sesuai dengan perubahan yang diinginkan, baik pada aspek rohaniah dan nafsiah, serta perubahan kondisi psikologis, sosiologis, pengetahuan, konsep pemikiran, kemahiran, nilai-nilai, sikap peserta didik untuk mencapai dinamisasi kesempurnaan pendidikan; menjaga perbedaan individu, serta prinsip.

Kurikulum Pendidikan Islam

Pada tahun itu kata kurikulum digunakan dalam bidang olahraga, yakni suatu alat yang membawa orang dari start sampai ke finish. Barulah pada tahun 1955 istilah kurikulum dipakai dalam bidang pendidikan dengan arti sejumlah mata pelajaran di suatu perguruan. (Tafsir, 2012:81). Dalam konteks seperti diatas kurikulum dapat dipandang sebagai suatu rencana pembelajaran (lesson plan). Artinya bahwa kurikulum tersebut disusun atau dirancang sedemikian rupa adalah untuk memperlancar proses belajar mengajar dalam bimbingan dan tanggungjawab sekolah atau lembaga pendidikan bersama-sama dengan tenaga kependidikannya.

Akan tetapi pada tahap selanjutnya, banyak dari para ahli kurikulum yang tidak puas dengan pengertian yang terbatas pada kegiatan sekolah yang direncanakan saja, melainkan meliputi semua pristiwa yang terjadi dalam pengawasan sekolah, sehingga kurikulum merupakan keseluruhan dari berbagai kegiatan sekolah. Konsep seperti itu terlihat jelas pada rumusan kurikulum yang dinyatakan sebagai “the total effort of the

school to bring about desired outcomes in school and out of school situations.”

(7)

Soni Eranata 1263 Berdasarkan rumusan ini kurikulum tidak lagi sekedar rencana mata pelajaran, melainkan segala usaha sekolah untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Lebih dari itu kurikulum tidak lagi terbatas pada situasi didalam persekolahan, akan tetapi meliputi situasi diluar sekolah. Kurikulum yang ditawarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah dalam bentuk pengelompokan mata pelajaran pokok yang komperensip menurut Rosyadi (2017:77) adalah meliputi: Pendidikan agama, pendidikan aqidah, akhlak dan ibadah, pendidikan baca Al-Qur’an, menulis, membaca, halal-haram dan keterampilan dan, pendidikan seks dan kesehatan jasmani.

Metode Pendidikan Islam

Metode dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah thariqoh yang berarti langkah-langkah strategis yang dipersiapkan untuk melakukan suatu pekerjaan. Bila dihubungkan dengan pendidikan maka metode itu harus diwujudkan dalam proses pendidikan, dalam rangka mengembangkan sikap mental dan kepribadian agar peserta didik menerima pelajaran dengan mudah, efektif dan dapat dicerna dengan baik. Terkait dengan metode para ahli mendefiniskan metode sebagai berikut :

Hasan Langgulung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan. Abd. Al-Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran. Ahmad Tafsir, mendefinisikan bahwa metode mengajar adalah cara paling tepat dan cepat dalam mengajarkan mata pelajaran.

Berdasarkan beberapa definisi diatas sebagaimana yang dikutif dari Ramayulis (2015:272) dapat disimpulkan bahwa metode adalah seperangkat cara, dan jalan yang digunakan oleh pendidik dalam proses pembelajaran agar peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran atau menguasai kompetensi tertentu yang dirumuskan dalam silabi mata pelajaran.

Maka penggunaan metode bersifat konsisten, sistematis dan mempunyai tujuan berdasarkan kondisi sasaranya. Mengingat bahwa sasaran metode adalah manusia, sehingga pendidik dituntut untuk berhati-hati dalam penerapannya.

METODE PENELITIAN Jenis Penelitian

Pada penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian kepustakaan (Library

Research) yaitu penelitian kepustakaan dan literatur yang ada relevansinya dengan

judul. Dimana penelitian dilakukan dengan cara mengkaji dan mendalami serta mengkomparasikan pemikiran dari Muhammad Abduh dan Abuddin Nata mengenai konsep pendidikan Islam melalui buku-buku karangan keduanya maupun buku-buku atau sumber lain yang membahas konsep pendidikan Islam dari kedua tokoh tersebut.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan dari pengumpulan data sampai pada tahap menganalisis konsep kedua tokoh besar ini Muhammad Abduh dan Abuddin Nata selama dua bulan lamanya. Pada bulan April-Juni, tahun ajaran 2018/2019.

(8)

Soni Eranata 1264

Teknik Pengumpulan Data

Dalam mengumpulkan data dalam menundukung penelitian ini, sebagai berikut:

1. Data Primer

Penulis menggunakan data primer berupa buku-buku pendidikan karya Abbudin Nata dan Muhammad Abduh sebagai sumber rujukan utama.

2. Data Sekunder.

Penulis menggunakan data sekunder berupa buku-buku yang membahas mengenai pendidikan Islam serta yang membahas mengenai biografi Muhammad Abduh dan Abuddin Nata.

Teknik Analisis Data

Teknik analisis data bertujuan untuk menyederhanakan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan dijabarkan, dalam memberikan penjabaran data yang diperoleh, akan digunakan metode deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang berusaha mendepripsikan suatu gejala dan kejadian yang terjadi pada saat sekarang. (Sugiono, 2014 : 82). Selanjutnya penulis menggunakan metode deskriptif untuk menyimpulkan sebuah kesimpulan komparasi yang berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini. Setelah data-data dan sumber terkumpul kemudian peneliti menganalisisnya dan kemudian menarik kesimpulan dari hasil penelitian tersebut.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Konsep Pendidikan Islam Menurut Muhammad Abduh

Pemikiran Abduh tentang pendidikan dinilai sebagai awal kebangkitan umat Islam di awal abad ke-19. Pemikiran Muhammad Abduh yang disebarluaskan melalui tulisannya di majalah al-Manar dan al-‘Urwat al-Wusqa menjadi rujukan para tokoh pembaharu dalam dunia Islam, sehingga di berbagai dunia Islam muncul gagasan mendirikan sekolah-sekolah dengan menggunakan kurikulum yang dirintis oleh Abduh.

Menurut Abduh, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk kepribadian, moral agama, yang dengannya diharapkan mampu menumbuhkan sikap politik, sikap sosial, jiwa gotong royong dan semangat ekonomis. (Rohman, 2016:89) Kesalahan sistem pendidikan dan orientasi serta tujuannya mengakibatkan kelemahan umat Islam yang sekaligus memperlemah dan merendahkan agama Islam. Oleh karena itu, Abduh menyatakan: “Islam itu diperlemah (ter-halang) oleh umat Islam sendiri”.

Menurut Muhammad Abduh maka sistem pendidikan Islam harus lebih diberdayakan agar kualitas dan efektifitasnya dapat ditingkatkan, sehingga pendidikan Islam dapat berkompetensi dengan pendidikan modern. Adapun langkah-langkah tersebut adalah:

Tujuan Pendidikan Islam

Untuk memahami tujuan pendidikan menurut Muhammad Abduh maka penulis akan memaparkan sekilas pemikiran Muhammad Abduh tentang manusia. Manusia menurut Muhammad Abduh adalah makhluk yang paling serasi dan memiliki

(9)

Soni Eranata 1265 kepribadian yang paling sempurna. Manusia sempurna bukan hanya dari segi fisik yang terdiri dari pancaindra dan seluruh anggota tubuhnya, tetapi lebih dari itu manusia adalah makhluk yang sempurna yang dapat berfikir untuk berkreasi dan dengan kreasinya ia bisa menjadi makhluk yang taat kepada Allah.

Untuk meningkatkan pemberdayaan sistem pendidikan Islam, Muhammad Abduh menetapkan tujuan pendidikan Islam yang dirumuskannya sendiri. Yakni; tujuan hakiki dari pendidikan adalah pendidikan akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas yang memungkinkan anak didik menemukan kebahagiaan yang sempurna. (Supriadi, 2016:46)

Dalam pandangan Abduh, ia melihat bahwa semenjak masa kemunduran Islam, system pendidikan yang berlaku di seluruh dunia Islam lebih bercorak dualisme. Bila diteliti secara seksama, corak pendidikan yang demikian lebih banyak dampak negatif dalam dunia pendidikan. Sistem madrasah lama akan menghasilkan lmu pengetahuan agama, sedangkan sekolah pemerintah mengeluarkan tenaga ahli yang tidak memiliki visi dan wawasan keagamaan. (Rohman, 2016:89)

Pendidikan akal menurut Muhammad ‘Abduh adalah sebagai alat untuk menanamkan kebiasaan berfikir yang dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, antara yang membawa manfaat dan yang mendatangkan mudharat. Muhammad ‘Abduh berpendapat bahwa pendidikan akal dapat membuat seseorang terhindar dari kebodohan dan menghindarkannya dari penghambaan terhadap tuhan-tuhan yang tidak berhak disembah, sehingga ia dapat membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya.

Sedangkan pendidikan jiwa adalah menanamkan kemampuan dan sifat-sifat dalam jiwa anak didik, bahkan memenuhinya dengan sifat-sifat yang utama, menjauhkan diri dari sifat-sifat jelek dan mengikuti norma-norma sosial. Dengan menanamkan kebiasaan berfikir, Muhammad Abduh berharap kebekuan intelektual yang melanda kaum muslimin saat itu dapat dicairkan, dan dengan pendidikan spritual, diharapkan akan dapat melahirkan generasi baru yang tidak hanya mampu berfikir kritis, tetapi juga memiliki akhlak mulia serta jiwa yang bersih, sehingga sikap yang mencerminkan kerendahan moral dapat dihilangkan. (Supriadi, 2016:47)

Pendidikan menurutnya tidak boleh lepas dari nilai akal dan jiwa, jika salah satunya hilang, maka hilang jugalah tujuan dari pendidikan tersebut. Jika nilai-nilai pendidikan akal dan jiwa bersatu dalam jiwa seseorang maka ia mendapatkan suatu manfaat dan akan terhindar dari bahaya. Rumusan tujuan pendidikan Muhammad Abduh yang demikian itu tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kehidupan masyarakat pada masa itu. Kondisi umat Islam yang mengagungkan sikap taklid, bid’ah dan khurafat yang sesungguhnya menafikan nilai-nilai akal dan jiwa.

Kurikulum Pendidikan Islam

1. Kurikulum Al-Azhar

Kurikulum perguruan tinggi al-Azhar disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat pada masa itu. Dalam hal ini, Ia memasukkan ilmu filsafat, logika dan ilmu pengetahuan modern ke dalam kurikulum al-Azhar. Upaya ini dilakukan agar

(10)

Soni Eranata 1266 tersebut, Muhammad Abduh mengusulkan untuk memasukannya mata kuliah filsafat, logika, dan ilmu- ilmu pengetahua modern kedalam kurikulum Al-Azhar. 2. Kurikulum Sekolah Dasar

Muhammad Abduh beranggapan bahwa dasar pembentukan jiwa agama hendaknya sudah dimulai semenjak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, mata pelajaran agama hendaknya dijadikan sebagai inti semua mata pelajaran. Pandangan ini mengacu pada anggapan bahwa ajaran agama (Islam) merupakan dasar pembentukan jiwa dan pribadi Muslim. Dengan memiliki jiwa kepribadian Muslim, rakyat mesir akan memiliki jiwa kebersamaan dan nasionalisme untuk dapat mengembangkan sikap hidup yang lebih baik, sekaligus dapat meraih kemajuan. (Nata, 2012:310)

3. Kurikulum Sekolah Menengah dan Sekolah Kejuruan

Muhammad Abduh merasa perlu untuk memasukkan beberapa materi, khususnya pendidikan agama, sejarah Islam, dan kebudayaan Islam. Di madrasah-madrasah yang berada di bawah naungan al-Azhar, Abduh mengajarkan Ilmu Manthiq, Falsafah dan Tauhid, sedangkan selama ini al-Azhar memandang Ilmu Manthiq dan Falsafah itu sebagai barang haram. Di rumahnya Abduh mengajarkan pula kitab Tahzib al-Akhlaq oleh Ibn Maskawayh, dan kitab sejarah peradaban Eropa susunan orang Prancis yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul al-Tuhfat alAdabiyah fi Tarikh Tamaddun al-Mamalik al-Awribiyah. (Rohman, 2016:90)

Metode Pendidikan Islam

Muhammad Abduh mengubah cara memperoleh ilmu melalui metode hafalan dengan metode rasional dan pemahaman (insight). Ia juga menghidupkan kembali metode munazharah (diskusi) dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid buta terhadap para ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan mahasiswa al-Azhar. Ia juga menjadikan bahasa Arab yang selama ini hanya merupakan ilmu yang tidak berkembang menjadi ilmu yang berkembang yang dapat dipergunakan dalam meterjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab. (Nata, 2012:312).

Konsep Pendidikan Islam Menurut Abuddin Nata

Pemikiran Abuddin Nata merupakan kumpulan pemikiran dari para pakar pendidikan yang dipoles sehingga tercipta konsep yang lebih mutakhir. Metode pembelajaran menurut Abuddin Nata paling tidak ada tiga metode dalam proses pembelajaran, yaitu teacher centris, student centris, dan penggabungan antara teacher

centris dan student centris. Abuddin Nata menguraikan metode Quantum Teaching

yang merupakan perpaduan dan penyempurnaan dari metode-metode yang telah ada sebelumnya. Menurut Abuddin Nata perubahan kurikulum penting dilakukan untuk mengimbangi perkembangan zaman, akan tetapi harus ditangani oleh orang-orang yang ahli dibidangnya.

Abuddin Nata berusaha untuk mencerdaskan tidak hanya secara intelektual semata, tetapi juga jiwa dan raga serta membina keterampilan bagi peserta didik oleh tenaga profesional dengan metode dan berbagai aspeknya yang sesuai dengan tuntutan

(11)

Soni Eranata 1267 zaman dan tidak terlepas dari ajaran agama Islam. Pendidikan Islam sekarang jauh lebih berat, di zaman sekarang selain menghadapi pertarungan ideologi-ideologi besar dunia juga menghadapi berbagai kecenderungan seperti kecenderungan integrasi ekonomi, politik, teknologi komunikasi dan informasi, ketergantungan, dan tuntutan budaya masyarakat untuk memperoleh pekerjaan. Relevansinya konsep pendidikan yang dihasilkan dari Abuddin Nata patut mendapatkan penghargaan, sebab konsep ini menurut hemat penulis sangat cocok dengan perkembangan pendidikan sekarang yang selain mengedepankan keilmuan semata, tetapi juga memperhatikan masalah kejiwaan dan keahlian serta keterampilan.

Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan ini dalam pandangan Islam banyak berhubungan dengan kualitas manusia yang berakhlak. Pendidikan Islam merupakan sarana yang mengantarkan anak didik agar menjadi orang yang berakhlak. Bertolak dari rumusan tujuan pendidikan tersebut, maka seluruh aspek pendidikan lainnya, yakni materi pelajaran, guru, metode, sarana dan sebagainya harus berdasarkan ajaran Islam. Selain aspek- aspek di atas juga peran serta orang tua anak didik harus menjadi langkah awal juga supaya pengelola suatu lembaga. Pendidikan Islam harus mengikutsertakan orang tua anak dalam program kesuksesan dalam pencapaian tujuan pendidikan, sebab pengaruh orang tua sangat besar. Begitu pula dengan tujuan pendidikan Islam menurut Abuddin Nata yaitu memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Mengarahkan manusia agar menjadi khalifah Tuhan di muka bumi dengan sebaik-baiknya, yaitu melaksanakan tugas-tugas memakmurkan dan mengolah bumi sesuai dengan kehendak Tuhan.

2. Mengarahkan manusia agar seluruh pelaksanaan tugas kekhalifahannya di muka bumi dilaksanakan dalam rangka beribadah kepada Allah, sehingga tugas tersebut terasa ringan dilaksanakan.

3. Mengarahkan manusia agar berakhlak mulia, sehingga ia tidak menyalahgunakan fungsi kekhalifahannya.

4. Membina dan mengarahkan potensi akal, jiwa dan jasmaninya, sehingga ia memiliki ilmu, akhlak dan keterampilan yang semua ini dapat digunakan guna mendukung tugas pengabdian dan kekhalifahannya.

5. Mengarahkan manusia agar dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akherat. (Nata, 2003:212)

Setelah mengetahui tujuan pendidikan Islam menurut Abuddin Nata di atas, maka pada sejatinya tujuan pendidikan Islam menekankan orientasinya pada peran manusia sebagai khalifah di muka bumi yang memiliki tanggung jawab untuk melaksanakan, memajukan dan mengelola sebaik mungkin dengan tujuan ibadah kepada Allah SWT untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kurikulum Pendidikan

Adapun ciri-ciri kurikulum pendidikan Islam, Abuddin Nata mengutip pendapat Omar Muhammad at-Toumy al-Syaibani bahwa kurikulum pendidikan Islam memiliki lima ciri yaitu:

(12)

Soni Eranata 1268 1. Menonjolkan tujuan agama dan akhlaq pada berbagai tujuannya, kandungan,

metode, alat, dan tekniknya bercorak agama.

2. Meluas cakupannya dan menyeluruh kandungannya, yaitu kurikulum yang betul-betul mencerminkan semangat, pemikiran dan ajaran yang menyeluruh.

3. Bersikap seimbang diantara berbagai ilmu yang dikandung dalam kurikulum yang akan digunakan.

4. Bersikap menyeluruh dalam menata seluruh mata pelajaran yang diperlukan anak didik.

5. Kurikulum yang disusun selalu disesuaikan dengan minat dana bakat anak didik. Selanjutnya Abuddin Nata pertimbangkan tuntutan kemajuan zaman, maka perancangan kurikulum harus mengikuti perkembangan zaman pula. Sehuingga di dalam kurikulum harus mencakup empat bagian yang meliputi: Pertama, bagian yang berkenaan dengan tujuan-tujuan yang ingin dicapai oleh proses belajar mengajar.

Kedua, bagian yang berisi pengetahuan, informasi-informasi, data, aktivitas-aktivitas,

dan pengalaman-pengalaman yang merupakan bahan bagi penyusunan kurikulum yang isinya berupa mata pelajaran yang kemudian dimasukkan dalam silabus. Ketiga, bagian yang berisi metode atau cara penyampaian mata pelajaran tersebut. Keempat, bagian yang berisi metode atau cara melakukan penilaian dan pengukuran atas hasil mata pelajaran tertentu. (Nata, 2005:128)

Metode Pendidikan

Selanjutnya dalam pandangan Abuddin Nata terdapat beberapa metode yang cocok untuk diterapkan dalam pengajaran pendidikan Islam, yakni: pertama, metode teladan, metode kisah-kisah, metode nasehat, metode diskusi. Dalam hal ini Abuddin mengambil pendapat dari Arifin bahwa metode diskusi juga diperhatikan oleh Al-Qur’an dalam mendidik dan mengajar manusia dengan tujuan lebih memantapkan pengertian dan sikap pengetahuan mereka terhadap sesuatu masalah. Perintah Allah dalam hal ini agar kita mengajak ke jalan yang benar dengan hikmah dan mau‟izhah yang baik dan membantah dengan cara yang baik.

Komparasi Konsep Pendidikan Islam Muhammad Abduh dan Abuddin Nata

Pada bagian ini penulis akan mencoba menelaah dan memaparkan mengenai komparasi konsep pendidikan Islam menurut Muhammad Abduh dan Abuddin Nata, baik dalam aspek persamaan dan perbedaan konsep antara kedua tokoh pemikir pendidikan Islam tersebut. Penulis akan mencoba menganalisis tiga aspek bagian yang telah penulis paparkan sebelumnya mengenai kedua tokoh tersebut, yaitu dari aspek tujuan pendidikan, kurikulum pendidikan dan metode pendidikan.

1. Komparasi dari Segi Tujuan Pendidikan Islam

Menurut Muhammad Abduh tujuan hakiki dari pendidikan adalah pendidikan akal dan jiwa dan menyampaikannya pada batas yang memungkinkan anak didik menemukan kebahagiaan yang sempurna. Sedangkan tujuan pendidikan Islam menurut Abuddin Nata selaras dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia yaitu, bahwa tujuan pendidikan nasional pada akhirnya diarahkan untuk mewujudkan masyarakat yang maju, adil, makmur, dan beradab. Dengan kata lain, bahwa dalam tujuan tersebut fokus perhatiannya ditujukan pada pengembangan

(13)

Soni Eranata 1269 masyarakat. Dalam tujuan pendidikan yang dicetuskan oleh Muhammad Abduh yaitu pendidikan akal dan jiwa menyangkut atau berkaitan dengan tujuan individual manusia dan pada tujuan pendidikan Abuddin Nata mencakup tujuan pendidikan yang lebih global atau umum yaitu tujuannya adalah masyarakat.

Tak dapat dipungkiri bahwa tujuan pendidikan pada dasarnya terus berkembang dari masa ke masa, dari tingkat yang sederhana dan global ke tingkat yang lebih mendetail dan rinci dan tumbuh seiring dengan keinginan manusia untuk terus berkembang. Sehingga dalam hal ini tujuan pendidikan menurut Abuddin Nata lebih modern dan bersifat menyesesuikan tuntutan zaman.

2. Komparasi dari Segi Kurikulum Pendidikan Islam

Dari segi kurikulum pendidikan Islam antara Muhammad Abduh dan Abuddin Nata pada hakikatnya sangat mempunyai kemiripin antara keduanya, yaitu sama-sama menekankan pada modernitas sesuai dengan perubahan kultur masyarakat dan kebutuhan zaman. Kurikulum akan selalu berkembang dan selalu berubah-ubah sesuai dengan tujuan masing-masing pendidik.

3. Komparasi dari Segi Metode Pendidikan Islam

Muhammad Abduh mengubah cara memperoleh ilmu melalui metode hafalan dengan metode rasional dan pemahaman (insight). Ia juga menghidupkan kembali metode munazharah (diskusi) dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid buta terhadap para ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan mahasiswa al-Azhar. Ia juga menjadikan bahasa Arab yang selama ini hanya merupakan ilmu yang tidak berkembang menjadi ilmu yang berkembang yang dapat dipergunakan dalam meterjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab.

Menurut Abuddin Nata metode pendidikan Islam mempunyai arti antara lain: Pertama jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang Islami; Kedua cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Terdapat banyak persamaan dari penggunaan metode yang digunakan oleh Abuddin Nata dan Abduh dalam konsep pendidikannya masing-masing. Yaitu seperti metode diskusi yang keduanya sepakat dalam hal tersebut, disamping juga menekankan pada aspek kebebasan kepada para muridnya untuk bersikap kritis dan logis dalam mempelajari suatu ilmu. Selanjutnya adalah tetap berpijak pada modernitas yang terus memperbaharui khazanah keilmuan tanpa membatasi diri dan bersifat jumud.

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan

Pendidikan menurut Muhammad Abduh tidak boleh lepas dari nilai akal dan jiwa, jika salah satunya hilang, maka hilang jugalah tujuan dari pendidikan tersebut. Jika nilai-nilai pendidikan akal dan jiwa bersatu dalam jiwa seseorang maka Ia mendapatkan suatu manfaat dan akan terhindar dari bahaya. Maka Ia menitik beratkan konsep pendidikan Islam pada pembentukan akal dan jiwa. Abuddin Nata dalam konsep pendidikan Islamnya, berusaha untuk mencerdaskan tidak hanya secara intelektual semata, tetapi juga jiwa dan raga serta membina keterampilan bagi peserta

(14)

Soni Eranata 1270 didik oleh tenaga profesional dengan metode dan berbagai aspeknya yang sesuai dengan tuntutan zaman dan tidak terlepas dari ajaran agama Islam.

Muhammad Abduh mengubah cara memperoleh ilmu melalui metode hafalan dengan metode rasional dan pemahaman (insight). Ia juga menghidupkan kembali metode munazharah (diskusi) dalam memahami pengetahuan dan menjauhkan metode taklid buta terhadap para ulama. Ia juga mengembangkan kebebasan ilmiah dikalangan mahasiswa al-Azhar. Ia juga menjadikan bahasa Arab yang selama ini hanya merupakan ilmu yang tidak berkembang menjadi ilmu yang berkembang yang dapat dipergunakan dalam meterjemahkan teks-teks pengetahuan modern ke dalam bahasa Arab. Menurut Abuddin Nata metode pendidikan Islam mempunyai arti antara lain: Pertama jalan untuk menanamkan pengetahuan agama pada diri seseorang sehingga terlihat dalam pribadi objek sasaran, yaitu pribadi yang Islami; Kedua cara untuk memahami, menggali, dan mengembangkan ajaran Islam, sehingga terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman.

Terdapat banyak persamaan dari penggunaan metode yang digunakan oleh Abuddin Nata dan Abduh dalam konsep pendidikannya masing-masing. Yaitu seperti metode diskusi yang keduanya sepakat dalam hal tersebut, disamping juga menekankan pada aspek kebebasan kepada para muridnya untuk bersikap kritis dan logis dalam mempelajari suatu ilmu. Selanjutnya adalah tetap berpijak pada modernitas yang terus memperbaharui khazanah keilmuanb tanpa mebatasi diri dan bersifat jumud.

Saran

Penulis sangat menyadari bahwa tulisan yang penulis susun sangat jauh dari kata sempurna, namun setidaknya dapat membawakan pemahaman baru dan memperkaya khazanah keilmuan terkhusus bagi para tenaga kependidikan, guru-guru, dosen dan lain sebagainya yang bergerak dalam dunia pendidikan Islam. Dan penulis amat sangat terbuka dengan kritik dan saran yang membangun bagi kesempurnaan karya tulis ini.

DAFTAR PUSTAKA

Mappasiara. 2018. Pendidikan Islam (Pengertian, Ruang lingkup dan Epistemologi.

Jurnal Pendidikan Islam, Volume VII Nomor 1. Hal 147

Nata, Abuddin. 2012. Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Qomar, Mujammil. 2013. Strategi Pendidikan Islam. Jakarta : Penerbit Erlangga Ramayulis, 2015. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta : Kalam Mulia.

Rohman, Fathur. 2016. Pemikiran Pendidikan Islam Muhammad Abduh. Jurnal

Raudhah, Vol. IV, No. 1: Januari – Juni 2016.

Rosita. 2011. Kurikulum Pendidikan Islam, Gagasan Pendidikan Syed Naquid Al-

Attas. Banda Aceh : Penerbit Pena.

Rosyadi. 2017. Pendidikan Islam dalam Presfektif Kebijakan Pendidikan Nasional. Bogor : Uika Press

Sugiono. 2014. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R&D, Bandung : Alfabeta.

(15)

Soni Eranata 1271 Supriadi. 2016. Konsep Pembaharuan Sistem Pendidikan Islam Menurut M. Abduh.

Jurnal Kordinat.Vol. XV No. 1 April 2016.

Tafsir, Ahmad. 2014. Filsafat Pendidikan Islam Integrasi Jasmani, Rohani, Kalbu,

Referensi

Dokumen terkait

Dari sekitar 300.000 jenis tanaman yang tersebar di muka bumi ini, masing-masing tanaman mengan- dung satu atau lebih mikroba endofit yang terdiri dari bakteri dan jamur (Stro bel

And yet, Katherine Duncan-Jones, in her 1997 Arden edition of the sonnets, refused to let Thorpe stand as the only begetter of his tortuous dedication, suggesting instead that,

Already head and shoulders under the hood, Gray simply turned his head and gave her a dry look.. Brianna bit her lip as she watched

Individu atau beberapa anggota kelompok usaha dapat terdaftar secara legal dan memperbolehkan mereka membuat profit Kelompok usaha sepakat bahwa Individu atau beberapa anggota

Prinsip kerjanya adalah aliran data dari phones (client)/WAP protokol, akan mengirim encoded request, protokol gateway akan mentranslasikan request dari WAP protokol yang

1) Adanya dukungan Pemerintah Kabupaten Maros di bidang Komunikasi dan Informasi melalui Peraturan Daerah Kabupaten Maros Nomor 7 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan

yang nantinya menginkubasi perusahaan pemula dalam industri hilir kelapa sawit dan memberikan layanan bisnis dan teknologi kepada UMKM yang sudah ada. Berperan

Realitas perbedaan kalender Hijriyah di kalangan umat Islam, pada umumnya, terjadi antar-negara.Tetapi tidak demikian yang terjadi di Indonesia.Di Indonesia