11 Potensi Ancaman Bencana Virus Corona di Provinsi Aceh
Musliyadi, SP, M.Si
Program Studi Teknik Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Serambi Mekkah, Banda Aceh
Abstrak
Virus Corona pertama kali ditemukan di China, virus ini diklaim berasal dari binatang kelelawar, klaim ini dikaitkan dengan ditemukannya pemakan sup daging kelelawar yang terjangkiti virus corona, sejak merebaknya wabah corona ini, negara China menjadi sangat kacau, terutama sekali di kota Wuhan yaitu kota pertama tempat penemuan virus tersebut. Gejala yang ditimbulkan dari penderita virus tersebut berupa batuk, pilek serta sesak nafas yang dapat berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan serius. Selang beberapa lama kemudian virus tersebut menular ke orang lain dan orang lain tersebut mengalami kontak anggota badan dengan orang lain lagi seperti bersalaman, berbicara berdekatan sehingga percikan air liur (droplet) mengenai tubuh orang lain, kemudian orang yang sudah tertular tidak menyadari bahwa dirinya sudah tertular virus tersebut, sehingga orang tersebut bepergian kesana kemari sehingga tibalah virus tersebut masuk ke berbagai belahan dunia, tak ketinggalan juga masuk ke Indonesia dan masuk ke provinsi Aceh. Jenis penelitian ini adalah bersifat kualitatif dengan melakukan pendekatan secara fenomenologi yaitu memahami gejala sosial yang terjadi pada suatu wilayah, gejala sosial tersebut yaitu masyarakat banyak yang tertular oleh virus tersebut, sehingga pemerintah menganjurkan kepada seluruh warga negara untuk menjaga jarak, cuci tangan, memakai masker dan jenis protokol kesehatan lainnya kepada seluruh warga negara agar terhindar dari potensi bencana virus corona ini dan masyarakat yang sudah terkena agar cepat sembuh.
Kata Kunci: Virus Corona, Wabah, Penularan, Aceh
PENDAHULUAN
Virus Corona atau yang disebut dengan Corona Virus Disease 19 (COVID 19) merupakan suatu jenis virus yang mulai ditemukan pada akhir tahun 2019, pada awalnya virus ini ditemukan di negara China, tepatnya di kota Wuhan, yaitu salah satu kota terbesar di Cina, dan virus ini disinyalir berasal dari binatang kelelawar karena terdapat orang yang sudah memakan sup yang berbahan baku dari kelelawar, setelah beberapa lama kemudian, orang yang sudah memakan sup tersebut mengalami gejala sakit-sakit yaitu mengalami susahnya indra pernafasan, pusing, mual, flu dan sebagainya, sehingga menular ke orang lain satu persatu, lalu kota Wuhan dibuat heboh oleh kasus ini. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2020), Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia
12 sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID 19).
Virus Corona mulai masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020, tetapi pada saat itu pemerintah masih belum menyadari bahwa apa benar virus tersebut sudah ditemukan di Indonesia, tetapi desas desus yang berkembang menyatakan bahwa virus corona sudah masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020, kemudian pada bulan Maret 2020 ditemukan pada dua orang warga Depok dan setelah diselidiki ternyata memang benar bahwa virus tersebut sudah mulai ditemukan pada warga Depok, penulis sendiri pada bulan Maret 2020 sedang berada di Jakarta dan tidak melihat banyak orang yang memakai Alat Pelindung Diri (APD), hanya beberapa orang saja yang memakai APD seperti Masker. kemudian selang beberapa waktu kedepan yang menjadi korban dari virus ini semakin bertambah banyak, hampir setiap hari ada saja ditemukan yang positif COVID 19, sehingga membuat pemerintah menjadi kalang kabut, oleh karena itu Pemerintah menganjurkan kepada setiap masyarakat untuk selalu menjaga protokol kesehatan seperti memakai masker, mencuci tangan dengan hand sanitizer atau sabun cuci, menjaga jarak dengan tiap individu guna untuk mengurangi risiko penyebaran, jika perintah tersebut diabaikan maka akan menjadi sebuah potensi bencana yang besar. Berikut merupakan grafik pergerakan kasus virus corona sampai April 2020.
Gambar 1. Grafik Penyebaran Virus Corona di Indonesia
Gambar diatas menunjukkan bahwa setiap hari terjadi lonjakan sebaran meluasnya virus corona di Indonesia. Sejak bertambah banyaknya korban, pemerintah mulai membuat peraturan sejenis Lockdown yaitu membatasi pergerakan masyarakat, kalau di Indonesia dinamakan dengan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), akan
13 tetapi PSBB ini berjalan tidak maksimal, karena banyak masyarakat yang tidak mematuhi peraturan tersebut, bahkan Nabi Muhammad SAW saja sudah menjelaskan jauh-jauh hari sebelumnya bahwa jika terjadi wabah pada suatu negeri, maka jangan tinggalkan negeri tersebut dan jika ada yang mau memasuki negeri tersebut, maka janganlah memasukinya, nah, akibat tidak patuhnya masyarakat, sampai saat penulis menuliskan artikel ini kasus COVID 19 masih saja menggila. Aceh sendiri juga tidak luput dari virus ini, setiap hari terdapat masyarakat yang positif setelah melalui uji tes cepat dan tes swab, berikut adalah grafik penyebaran corona di Aceh.
Gambar 2. Grafik Penyebaran Virus Corona di Aceh
Grafik diatas menunjukkan perkembangan penyebaran virus corona di Aceh semakin meningkat dari hari ke hari, dimana terdapat pasien yang positif, yang meninggal dan yang sembuh.
KAJIAN PUSTAKA Pengertian COVID 19
Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). Coronavirus jenis baru yang ditemukan pada manusia sejak kejadian luar biasa muncul di Wuhan Cina, pada Desember 2019, kemudian diberi nama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-COV2), dan menyebabkan penyakit Coronavirus Disease-2019 (COVID 19). COVID 19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS (9,6%) lebih tinggi dibanding COVID 19 (kurang dari 5%), walaupun jumlah kasus COVID 19 jauh lebih banyak dibanding
14 SARS. COVID 19 juga memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
Penelitian ini menggunakan metode pendekatan fenomenologi yang tujuannya adalah untuk melakukan klarifikasi keadaan atau gejala yang dialami dalam kehidupan tiap individu dalam kehidupan sehari-hari (Giorgi & Giorgi, 2008). Fenomenologi ini berusaha untuk mendeskripsikan gejala-gejala sebagaimana yang menampakkan dirinya terhadap kehidupan sosialnya, gejala tersebut dapat berupa gejala langsung yang dapat diamati atau gejala yang hanya dapat dirasakan oleh pancaindera. (Abidin, 2002). Bukti saat ini menunjukkan bahwa COVID 19 menyebar antarmanusia secara langsung, tidak langsung (melalui benda atau permukaan yang terkontaminasi), atau kontak erat dengan orang yang terinfeksi melalui sekresi mulut dan hidung. Sekresi ini meliputi air liur, sekresi pernapasan, atau droplet (percikan) sekresi. Sekresi ini dikeluarkan dari mulut atau hidung misalnya ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi. Orang-orang yang berada dalam jarak dekat (1 meter) dengan orang yang terinfeksi dapat terpajan COVID 19 ketika percikan infeksius masuk ke mulut, hidung atau mata mereka Untuk menghindari kontak dengan droplet, penting untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter dari orang lain, sering mencuci tangan, dan menutup mulut dengan tisu atau siku yang terlipat saat bersin atau batuk. Ketika menjaga jarak fisik (berdiri dengan jarak satu meter atau lebih) tidak memungkinkan, memakai masker kain adalah langkah penting untuk melindungi orang lain. Sering membersihkan tangan juga sangat penting. (World Health Organization, 2020).
METODE PENELITIAN Jenis penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan fenomenologi. Menurut Ghony & Fauzan, 2012 adalah dialami dari pengalaman oleh individu, baik individu yang bersangkutan maupun yang lainnya.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dimulai pada bulan Januari sampai Maret 2020, sedangkan data penelitian ini berasal dari data primer dan sekunder, dimana data primer diperoleh dari beberapa sumber yang mempunyai gejala atau penyakit corona atau yang sudah sembuh dari penyakit corona dari beberapa kota yang terdapat di Aceh, seperti Banda Aceh, Sigli, Lhokseumawe, Meulaboh dan data sekunder diperoleh dari referensi, literatur yang relevan.
Analisis Data
Menurut Edmund Husselr (2001). Fenomenologi sangat erat bersentuhan dengan psikologi, juga sosio-psikologi. Gagasan yang dibawa adalah dengan mengedepankan analisis filsafat, ini lebih dikarenakan aspek biologis, psikologis, harus dikeluarkan dari kebenaran fisiologis dan dalam pendekatan ilmu saintis. Metode fenomenologi berupaya meretas posibilitas pengalaman yang dihidupi untuk bisa terjadi. Fenomenologi bertitik mula dari apa yang menampakkan diri (kesadaran non-verbal), lalu meretas relasi makna yang terjalin dari pikiran yang telah terverbalisasi, termasuk kesadaran akan yang lain. Secara umum, fenomenologi berupaya melandaskan segala sesuatu pada pengalaman yang definitif. Dalam pemikiran Husserl,
15 konsep fenomenologi itu berpusat pada persoalan tentang kebenaran. Baginya fenomenologi bukan hanya sebagai filsafat tetapi juga sebagai metode, karena dalam fenomenologi kita memperoleh langkah-langkah dalam menuju suatu fenomena yang murni. Husserl yakin bahwa ada kebenaran bagi semua dan manusia dapat mencapai kebenaran itu. Akan tetapi, Husserl melihat bahwa sesungguhnya di dalam filsafat itu sendiri tiada kesesuaian dan kesepakatan karena tidak adanya metode yang tepat sebagai pegangan yang dapat diandalkan.
PEMBAHASAN
Virus Corona atau COVID 19 adalah penyakit menular yang disebabkan oleh jenis coronavirus yang baru ditemukan. Ini merupakan virus baru dan penyakit yang tidak dikenal sebelum terjadi wabah di Wuhan, Cina, Desember 2019. COVID 19 adalah singkatan dari CoronaVirus Disease-2019. Coronavirus merupakan keluarga besar virus yang menyebabkan penyakit pada manusia dan hewan. Pada manusia biasanya menyebabkan penyakit infeksi saluran pernapasan, mulai flu biasa hingga penyakit yang serius seperti Middle East Respiratory Syndrome (MERS) dan Sindrom Pernafasan Akut Berat/ Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). COVID 19 disebabkan oleh SARS-COV2 yang termasuk dalam keluarga besar coronavirus yang sama dengan penyebab SARS pada tahun 2003, hanya berbeda jenis virusnya. Gejalanya mirip dengan SARS, namun angka kematian SARS (9,6%) lebih tinggi dibanding COVID-19 (kurang dari 5%), walaupun jumlah kasus COVID 19 jauh lebih banyak dibanding SARS. COVID 19 juga memiliki penyebaran yang lebih luas dan cepat ke beberapa negara dibanding SARS (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2020).
Jika seseorang sudah mempunyai gejala seperti susah pernafasan, demam, suhu tubuh naik turun, maka sebaiknya dapat segera menuju ke fasilitas kesehatan untuk melakukan pemeriksaan yaitu rapid test atau tes cepat dan tes swab. Rapid Test atau tes cepat COVID 19 bertujuan untuk mendeteksi kasus secara dini sehingga pemerintah dapat menyusun dan melakukan tindakan yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus corona. Tidak semua orang perlu mengikuti rapid test atau tes cepat. Hanya mereka yang direkomendasikan oleh petugas kesehatan yang perlu menjalaninya. Saat ini pemerintah melaksanakan kebijakan rapid test atau tes cepat. Rapid test dilakukan dengan mengambil tetes darah untuk melihat antibodi. Dengan dilakukannya rapid test di banyak daerah, akan ada lonjakan kasus positif. Mengetahui kasus positif penting bagi pemerintah untuk mengambil tindakan tepat dalam penanganan wabah COVID 19. Untuk meminimalisir virus corona ini, pemerintah menghimbau kepada masyarakat untuk selalu mengikuti standar protokol yang sudah ditetapkan oleh pemerintah, protokol tersebut adalah melakukan jaga jarak minimal 1 meter, cuci tangan dengan hand sanitizer atau air mengalir, gunakan sabun seperlunya, pakai masker, hindari daerah keramaian, membiasakan hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat dan vitamin-vitamin untuk menangkal peluang virus tersebut tidak menular ke tiap individu, jangan keluar rumah jika tidak mendesak, bekerja dari rumah, olahraga yang teratur, atur jam istirahat dan himbauan-himbauan lain yang positif, jika semua protokol ini kita abaikan maka potensi bencana akan terus menghantam di kehidupan kita dan akan sangat susah untuk diminimalisir atau sembuh.
16 DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Zainal. 2002. Analisis Eksistensial untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung : Refika Aditama
Almanshur Fauzan, Ghony Djunaidi. 2012. Metodologi Penelitian kualitatif, JogJakarta: Ar‐Ruzz Media
Giorgi A, Giorgi B. 2008. Phenomenological psychology. In: Willig C, Stainton-Rogers W, editors. The Sage handbook of qualitative research in psychology. London:
Sage. (Ebook: pp. 3-29, print pp. 165–179)
doi: http://dx.doi.org/10.4135/9781848607927.n10
Gugus Tugas COVID 19 Aceh. 2020. Sebaran COVID 19 di Aceh. http://covid19.acehprov.go.id
Gugus Tugas COVID 19 Indonesia. 2020. Situasi COVID 19 di Indonesia. https://www.covid19.go.id/situasi-virus-corona
Husselr, Edmund. 2001. The Idea of Phenomenology, Vol VIII, terjemahan Lee Hardy, Boston: Kluwer Academic Publishers.
Kementerian Kesehatan. 2020. Pengertian COVID 19.
https://www.kemkes.go.id/folder/view/full-content/structure-faq.html
Kuswarno, Engkus. 2009. Metode Penelitian Komunikasi : Fenomenologi, Konsepsi, Pedoman dan Contoh Penelitiannya, Widya Padjajaran, Perpustakaan Pusat UII
World Health Organization, 2020. Cara Penularan Virus Corona. https://www.who.int/indonesia/news/novel-coronavirus/qa-how-is-covid-19-transmitted