• Tidak ada hasil yang ditemukan

Transformasi Perlawanan Petani dalam Menghadapi Tengkulak (Studi Kasus Petani Cabai Lahan Pasir Pantai di Kecamatan Panjatan, Kulon Progo)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Transformasi Perlawanan Petani dalam Menghadapi Tengkulak (Studi Kasus Petani Cabai Lahan Pasir Pantai di Kecamatan Panjatan, Kulon Progo)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

Seminar Nasional Dalam Rangka Dies Natalis UNS Ke 43 Tahun 2019

“Sumber Daya Pertanian Berkelanjutan dalam Mendukung Ketahanan dan Keamanan Pangan Indonesia pada Era Revolusi Industri 4.0”

Transformasi Perlawanan Petani dalam Menghadapi Tengkulak (Studi Kasus Petani

Cabai Lahan Pasir Pantai di Kecamatan Panjatan, Kulon Progo)

Eksa Rusdiyana, Retno Setyowati, dan Joko Purnomo

Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jl.Ir Sutami 36 A Kentingan, Jebres, Solo 57126

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan transformasi perlawanan petani lahan pasir pantai di Kecamatan Panjatan, Kulon Progo terhadap mafia cabai. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, focus group discussion (FGD), dan dokumentasi. Validitas data ditentukan dengan triangulasi sumber data dan triangulasi metode. Dasar petani melakukan perlawanan adalah adanya dominasi dan permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak dan mafia cabai terhadap petani. Perlawanan bergeser dari perlawanan individu ke kelompok yang dilakukan secara terbuka, bersifat organik, sistematik, dan kooperatif melalui bentuk perlawanan yang dilakukan melalui tindakan- tindakan kolektif.

Kata kunci: Cabai, Perlawanan, Petani, Tengkulak

Pendahuluan

Petani dengan tengkulak sering dihubungkan dengan ikatan saling membutuhkan (resiprosisten) atas komoditas hasil pertanian. Petani memerlukan tengkulak sebagai pembeli hasil pertanian, sementara bagi tengkulak petani merupakan produsen hasil pertanian yang diperlukannya untuk memperoleh keuntungan. Interaksi antara petani dan tengkulak merupakan interaksi sosial yang bermuatan ekonomi dimana di dalamnya berlaku hukum pertukaran. Bagi petani, selama tengkulak memberikan keuntungan maka interaksi tersebut akan senantiasa dijalin dan dilanjutkan. Sebaliknya apabila interaksi tersebut merugikan petani maka petani bisa saja mengalihkan peran tengkulak pada saluran pemasaran yang lain seperti pasar, pedagang besar maupun memasarkan komoditas langsung ke konsumen.

Tengkulak tak ubahnya sebagai salah satu bentuk lembaga pemasaran yang memainkan fungsi pemasaran. Kotler dan Keller (2006), Firdaus (2008) menyebutkan bahwa lembaga pemasaran harus mampu menjalankan 3 fungsi utama pemasaran yaitu ; (1) fungsi pertukaran (exchange function), yang terdiri atas fungsi penjualan dan pembelian, (2) Fungsi fisis (physical

(2)

function) yang meliputi fungsi pengangkutan, bongkar muat, dan pergudangan, serta (3) Fungsi penyediaan sarana (facilitating function), yang meliputi kegiatan standarisasi dan grading, penanggungan resiko, pembiayaan, kredit, informasi pasar dan harga. Pilihan yang paling logis dilakukan petani adalah memilih lembaga yang dinilai paling memberikan keuntungan meskipun petani dihadapkan pada kondisi memperoleh keuntungan minimalis.

Interaksi petani dengan tengkulak sejak awal memiliki potensi konflik dalam aspek penentuan harga, menentukan keberadaan produk, pembayaran, serta maksimalisasi keuntungan (Suratiyah, 2001). Diantara keduanya siapa pihak yang paling kuat akan menekan pihak lainnya, konsep ini menurut Weber (Ritzer, 2002) sebagai bentuk kekuasaan yang bisa dipaksakan sekalipun pihak yang lemah menolak atau melawan. Pada masa dimana masyarakat merasa tertindas dan frustasi atas ketidakadilan yang diterimanya maka tekanan untuk melakukan perlawanan untuk mengubah keadaan akan semakin besar (Zubir, 2002).

Perlawanan petani cabai lahan pasir pantai di Kulon Progo terhadap tengkulak menarik untuk diteliti, transformasi perlawanan individu dalam menghadapi tekanan harga dari tengkulak pada akhirnya bertransformasi ke perlawanan kolektif yang bersifat soft dengan mengandalkan kelembagaan pasar lelang. Model perlawanan seperti ini bisa menjadi referensi bagi petani lain yang mengalamai kondisi yang sama. Berdasarkan latar belakang tersebut penelitian ini bertujuan mendeskripsikan transformasi perlawanan petani terhadap tengkulak yang terjadi di Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo.

Metodologi

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang berupaya fokus menemukan atau menjelaskan fenomena yang ingin diteliti atau dikaji. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dimana data dikumpulkan dengan menggunakan wawancara terstruktur, dokumentasi, observasi terlibat serta focus group discussion (FGD). Observasi terlibat meliputi kegiatan transaksi jual beli langsung antara petani-tengkulak dalam penentuan harga, aktifitas transaksi dalam pasar lelang, rapat kelompok tani (khususnya yang berkaitan dengan penentuan masa tanam, masa panen, dan buka pasar lelang), koordinasi pengelola pasar lelang, koordinasi asosiasi pasar tani Manunggal Karyo, serta interaksi antar sesama tengkulak, maupun tengkulak dengan jaringan pasarnya di luar daerah. Informan dalam penelitian dan FGD meliputi ketua kelompok tani, ketua asosiasi pasar lelang, anggota kelompok tani yang menjual di pasar lelang, anggota kelompok tani yang menjual langsung ke saluran pemasaran selain pasar lelang (tengkulak, pasar, dan lainnya), tengkulak, dinas terkait maupun pemerintah setempat, serta penyuluh. Untuk menjaga validitas data yang dikumpulkan ditentukan dengan menggunakan triangulasi metode dan sumber data.

(3)

Hasil dan Pembahasan Perlawanan Individu Petani

Petani cabai lahan pasir pantai di Kecamatan Panjatan Kabupaten Kulon Progo sejak tahun 1980 sampai tahun 2004 (kurang lebih 24 tahun) memasarkan hasil cabainya langsung kepada tengkulak baik menjual pasca panen maupun dengan sistem kontrak penjualan di awal. Pada posisi menjual langsung ke tengkulak petani dirugikan dalam transaksi jual beli karena dalam penentuan harga petani seringkali kalah dan ditekan oleh tengkulak. Lemahnya posisi petani dikarenakan 2 faktor yaitu (1) ketiadaan informasi pasar, (2) tidak adanya ikatan kelompok, serta (3) lemahnya jaringan diantara petani. Informasi pasar terutama yang menyangkut informasi harga tidak banyak diketahui petani sehingga dalam penetuan harga petani tidak banyak memiliki referensi selain harga dari pasar lokal. Ketiadaan ikatan kelompok diantara petani membuat petani secara individu berhadapan langsung dengan tengkulak/pasar dalam proses negosiasi harga. Dalam posisi ini masing-masing petani memiliki kompetensi berbeda antara petani satu dengan petani lainnya. Keadaan ini diperparah dengan lemahnya jaringan pemasaran yang dimiliki petani karena selama itu petani hanya mengandalkan tengkulak sebagai satu-satunya saluran pemasaran yang utama, mengingat daya serap pasar lokal sangat terbatas. Hal ini sangat memungkinkan karena letak Kecamatan Panjatan yang berada di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo yang aksesnya tidak mudah serta jauh dari aktifitas utama ekonomi Kabupaten Kulon Progo maupun Yogyakarta.

Upaya tengkulak menekan harga sangat dimungkinkan agar tengkulak memperoleh keuntungan yang semakin besar dari margin harga di tingkat petani dengan jaringan pasar di atasnya. Selain dalam penentuan harga, strategi tengkulak menekan petani sedini mungkin dilakukan tengkulak dengan memberikan modal awal usaha tani sehingga secara tidak langsung pada saat pemasaran hasil panen petani terikat kepada tengkulak tersebut. Selama kurang lebih 24 tahun petani pasrah dengan kondisi yang dialami tersebut. Sekalipun petani menerima harga dari tengkulak, sebetulnya petani selalu berupaya melawan keadaan tersebut dengan semakin keras dalam upaya negosiasi harga. Sayangnya perlawanan itu selalu berujung pada kekalahan petani karena petani dihadapkan ketiadaan pilihan lain selain menjual pada tengkulak. Perlawanan petani dilakukan dengan jaringan yang sangat terbatas dan hanya digerakkan beberapa orang saja dan selalu berujung pada kegagalan. Sesama petani saling berkompetisi dan berlomba untuk memperoleh harga yang tinggi.

Transformasi Perlawanan Individu Petani ke Perlawanan Kolektif

Dengan semakin terbukanya akses jalan di jalur Daendeles Kecamatan Panjatan serta akses informasi yang semakin mudah (akses petani terhadap handphone maupun mobilitas petani yang semakin baik), jaringan petani antar desa semakin berkembang. Kosmopolitan petani tidak hanya

(4)

terbatas pada desa sekitar namun ke tingkat kabupaten dan wilayah yang lain. Kebutuhan petani tidak lagi terbatas dalam lingkup lokal, akses ke kabupaten juga semakin terbuka. Peluang lain muncul dengan semakin banyaknya tengkulak yang masuk ke wilayah petani. Wahyudi (2005) menyebutkan bahwa semakin luasnya jaringan memungkinkan gerakan petani yang bersifat individual bertransformasi ke jaringan lain. Dengan kata lain perlawanan petani memperoleh dukungan serta tambahan aktor-aktor petani dari wilayah lain yang memperoleh kondisi yang sama.

Tranformasi pergeseran perlawanan petani di Panjatan Kulon Progo sebenarnya bermula dari ketidaksengajaan petani. Dimana pada tahun 2004 sejak semakin terbukanya jaringan informasi, petani yang memiliki kemampuan negosiasi harga yang bagus (Sudiro, Sukarman) ditunjuk oleh petani lain untuk memasarkan hasil panennya. Secara tidak sadar petani bergeser dari pemasaran individu ke pemasaran kelompok. Para tengkulak yang menginginkan membeli cabai dengan kuantitas yang banyak berdatangan ke rumah Sudiro (Desa Garongan) dan Sukarman (Desa Bugel). Tengkulak yang berdatangan membuat Sudiro dan Sukarman berinovasi dalam sistem pemasaran yaitu menggunakan sistem lelang tertutup. Melalui lelang tertutup kompetisi persaingan harga bergeser dari kompetisi antar petani ke kompetisi antar tengkulak.

Sistem lelang memberikan selisih harga yang sangat jauh jika dibandingkan dengan sistem pemasaran langsung ke tengkulak yaitu berselisih Rp 500-Rp 4.000,00/kg (Kuntadi, 2011). Sayangnya sistem lelang masih berbentuk informal yang memiliki banyak kelemahan seperti ketiadaan aturan, bebasnya tengkulak dalam keluar masuk sistem, pembayaran dengan kredit yang tidak kunjung dibayarkan oleh tengkulak. Upaya melemahkan model lelang oleh tengkulak sangat dirasakan oleh petani sehingga pengalaman yang dialami selama ini membuat petani berupaya mengelola sistem lelang dalam bentuk kelembagaan pasar lelang.

Kelompok tani mulai berkembang strukturnya dengan membentuk struktur kelembagaan pasar lelang di luar kelompok tani. Hal ini untuk menjaga profesionalitas pasar lelang sebagai ujung tombak pemasaran anggota kelompok. Kamajaya (2012) menyebutkan munculnya berbagai organisasi dalam berbagai sektor seperti buruh, nelayan, kaum miskin termasuk petani sebagai bentuk aktualisasi gerakan perlawanan yang selama ini hanya dilakukan secara sembunyi-sembunyi maupun individu. Perlawanan model ini oleh Scott (2000) ditujukan untuk mengurangi atau menolak klaim (misalnya harga) yang dibuat oleh pihak atau kelompok kuat atas kelompok yang dianggap lemah atau dilemahkan.

Perlawanan melalui model lembaga pasar lelang oleh Scott (2000) disebut sebagai perlawanan publik yang terbuka (public transcript) sebagai bentuk perlawanan individu yang selama ini dilakukan secara tertutup/disembunyikan (hidden transcript). Perlawanan seperti ini tidak dimaksudkan untuk mengubah dominasi tetapi diarahkan pada upaya untuk tetap hidup dalam

(5)

menguatkan kelembagaan pasar lelang diperkuat oleh kelompok tani dengan 2 cara yaitu; (1) mengatur pola hubungan yang mengikat antara petani-pasar lelang-dan tengkulak dimana pasar lelang merupakan lembaga pemasaran yang bertugas menghubungkan antara petani dengan tengkulak. Petani dan tengkulak dilarang bertransaksi secara langsung di luar pasar lelang, (2) Hubungan tersebut diwadahi dalam organisasi jaringan pemasaran berbentuk pasar lelang yang diturunkan dalam aturan (Standar Operasional dan Prosedur).

Model pasar lelang tersebut coba dipegang oleh kelompok tani maupun kelompok lelang untuk melanggengkan kondisi yang ada saat ini dianggap cukup ideal. Penguatan individu (petani, pengelola pasar lelang), penguatan kelompok (kelompok tani, kelompok lelang), serta penguatan kelembagaan (pasar lelang) sangat diharapkan petani berjalan stabil. Kondisi ini diharapkan mengikat petani dalam kelompok perlawanan yang kokoh sehingga tidak menuju ke masa deklinasi yang oleh Sunarjo (2005) disebut sebagai masa perlawanan dimana para pendukung perlawanan (petani) mulai menarik dukungannya sehingga gerakan menjadi bubar dan kembali ke kondisi awal.

Kesimpulan dan Saran

Dasar petani melakukan perlawanan adalah adanya dominasi dan permainan harga yang dilakukan oleh tengkulak terhadap petani. Perlawanan bergeser dari perlawanan individu ke kelompok yang dilakukan secara terbuka, dan kooperatif melalui bentuk perlawanan melalui tindakan kolektif berwujud pasar lelang. Melalui pasar lelang terjadi pergeseran kompetisi harga diantara petani ke kompetisi harga diantara tengkulak

Daftar Pustaka

Firdaus, M. 2008. Manajemen Agribisnis. Bumi Aksara. Jakarta

Kamajaya, R. 2015. Transformasi Strategi Gerakan Petani. POLGOV UGM. Yogyakarta.

Kotler, P, and Keller, K,L. 2006. Marketing Manajemen 12th Edition. Pearson Educational International. New Jersey.

Kuntadi, E.B. 2011. Efisiensi Pemasaran Cabai Merah Lahan Pasir Pantai Melalui Pasar Lelang di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tesis S2 Magister Manajemen Agribisnis Tidak dipublikasikan. Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Ritzer, G. 2000, Sociological Theory, Fifth edition. University Of Maryland.

Rusdiyana, E, Ikrani, Rohman, A.2017.Pasar Lelang Perlawanan Petani atas Dominasi Tengkulak. CV Indotama. Solo

Sunaryo, W. 2005. Formasi dan Struktur Gerakan Sosial Petani. UMM Press. Malang.

Scott, J. C.2000. Moral ekonomi Petani, Pergolakan dan Subsistensi di AsiaTenggara. LP3ES. Jakarta.

Suratiyah, K. 2001. Identifikasi Potensi Pasar Produk Pangan dan Hortikultura di Kawasan Rawa Pening Kabupaten Semarang. Laporan Akhir Penelitian tidak dipublikasikan. Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

(6)

Zubir, Z. 2002. Radikalime Kaum Pinggiran: Studi tentang Idiologi, Isu, Strategi, dan Dampak Gerakan. Insist Press. Yogyakarta.

Referensi

Dokumen terkait

Pengetahuan dan sikap gizi kader dan ibu balita di posyandu dan pengaruhnya terhadap status gizi balita di Desa Babakan, Bogor Barat [skripsi] Bogor : Fakultas

Adapun jenis penelitian ini adalah jenis penelitian eksperimen dengan pendekatan quasi eksperimen yaitu perlakuan uji kemampuan larutan bonggol nanas (Ananas

Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana penerapan strategi aktif dalam pembelajaran PAI di SMA Negeri 1 Surakarta, apa saja startegi pembelajaran

Hasil jurnal guru pada siklus II sebagai berikut : (1) mengenai sikap siswa ketika menerima materi pembelajaran yang diterangkan guru yaitu sikap siswa sudah baik, meskipun masih

Untuk mengurangi problem ketidakunikan ini, maka perhitungan model harus bisa dibandingkan terhadap serangkai pengamatan lapangan lainnya yang mewakili kondisi batas atau

Berdasarkan hasil simulasi dengan ETAP untuk kondisi Eksisting diperoleh hasil tegangan terendah dicapai oleh Bus 93 (ujung Penyulang) yakni sebesar 11,789 kV

Seorang peksos yang bekerja dalam ranah HAM, memiliki beberapa perspektif yang bisa digunakan ketika akan menangani masalah klien yang terkait dengan HAM, yaitu (i)

Dari adjusted R square, diketahui bahwa 39% variasi harga saham yang dapat dijelaskan oleh variasi pengungkapan corporate social responsibility (CSR) terdiri dari CSR