STUDI KOMPARATIF TERHADAP GAYA BELAJAR, SELF-EFFICACY DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA ANTARA SISWA KELAS UNGGULAN DENGAN SISWA KELAS REGULER SMP BINTANG LAUT TELUKDALAM.

36  12  Download (0)

Teks penuh

(1)

STUDI KOMPARATIF TERHADAP GAYA BELAJAR, SELF-EFFICACY DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA ANTARA SISWA KELAS

UNGGULAN DENGAN SISWA KELAS REGULER SMP BINTANG LAUT TELUKDALAM

TESIS

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan dalam Memperoleh Gelar Magister Pendidikan pada

Program Studi Pendidikan Dasar

Oleh:

MURNILAM WARASI

NIM : 8136182034

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

(2)
(3)
(4)
(5)

ABSTRAK

MURNILAM WARASI. Studi Komparatif Terhadap Gaya Belajar, Self-efficacy Dan Hasil Belajar Matematika Antara Siswa Kelas Unggulan Dengan Siswa Kelas Reguler SMP Bintang Laut Telukdalam. Tesis. Medan: Program Pascasarjana Universitas Negeri Medan, 2015.

Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan hasil belajar Matematika, gaya belajar dan self-efficacy terhadap Matematika antara Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler. Merupakan penelitian kausal komparatif bersifatex post facto terhadap dua sampel independen. Dilaksanakan di SMP Bintang Laut Teluk dalam. Memiliki tiga variabel: hasil belajar Matematika, gaya belajar dan self-efficacy. Hasil belajar Matematika diperoleh melalui studi dokumentasi dan hasil tes. Gaya belajar dan self-efficacy diperoleh melalui angket. Perbedaan hasil belajar Matematika dianalisis dengans tatistik t'-test. Nilait'hit = 7,760 sedangkan nilait'tab (0,05;118) = -1,658. Nilait'hit > t'tab, maka hipotesis H0 diterima. Kesimpulan terdapat perbedaan yang signifikan hasil

belajar Matematika antara Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler. Hasil belajar Matematika Kelas Unggulan lebih tinggi dibandingkan Kelas Reguler. Variabel self-efficacy terhadap Matematika dianalisis dengan menggunakan statistic t'-test. Nilai t'hit = 2,087 dannilai t'tab (0,05;118) = -1,658. Nilai t'hit > t'tab, ,sehingga hipotesis H0 diterima.

Kesimpulan terdapat perbedaan yang signifikan self-efficacy terhadap Matematika antara Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler. Tingkat self-efficacy Kelas Unggulan terhadap Matematika lebih tinggi dibandingkan Kelas Reguler. Persentase jumlah siswa Kelas Unggulan berdasarkan gaya belajar: visual 15%, auditorial 62%, kinestetik 23%. Sedangkan Kelas Reguler: visual 7% auditorial 66%, kinestetik 27%. Disimpulkan terdapat perbedaan gaya belajar antara Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler ditinjau dari persentase siswa pada jenis gaya belajar. Secara umum sebagian besar siswa memiliki gaya belajar auditorial. Sebagian lagi visual atau kinestetik. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, maka diharapkan guru membelajarkan siswa sesuai karakteristiknya masing-masing. Melalui komparasi Z-score (Z) diperoleh nilai Zhasil belajar Matematika berdasarkan gaya belajar: nilai ZV= 0,16; nilai ZA =-0,05 dan nilai

ZK= 0,07. Nilai ZV >ZA dan nilai ZV> ZK. Kesimpulan gaya belajar visual berkontribusi

lebih besar terhadap hasil belajar Matematika. Temuan pada beberapa siswa memiliki self-efficacy tinggi terhadap Matematika, tetapi hasil belajar Matematikanya rendah bahkan paling rendah. Bandura berpendapat kemungkinan hal ini dapat terjadi antaralain, karena proses kognitif yang tidak akurat dalam merefleksikan realitas dirinya sehingga muncul perilaku yang salah atau Gaya belajarnya yang belum terakomodir dengan baik dalam proses pembelajaran. Menjadi masukan bagi guru dan bagi peneliti berikutnya.

(6)

ABSTRACT

MURNILAM WARASI. A Comparative Study on Learning Style, Self-efficacy and Mathematics Learning Outcomes between Students in Preeminent Classes and in Regular Classes at Bintang Laut Junior High School in Telukdalam. A Thesis. Postgraduate Program of State University of Medan, 2015.

This research aims to discover the differences in Mathematics learning outcomes, learning styles and self-efficacy between students in Preeminent Classes and Regular Classes. It is an ex post facto causal comparative study of two independent samples, and it was conducted at Bintang Laut Junior High School in Telukdalam. There are three variables: Mathematics learning outcomes, learning styles and self-efficacy. Mathematics learning outcomes were obtained through documentation study and test results. Learning style and self-efficacy were obtained through questionnaires. The difference in Mathematics learning outcomes was analysed with statistic t-test. The value of tcalc = 7.760 while that of t table (0.05;118) = -1.658.

The value of tcalc> t table ; therefore, H0 hypothesis was accepted. It was concluded that there

was a significant difference of learning outcomes between Preeminent Classes and Regular Classes. The learning outcomes of students in Preeminent Classes exceeded those of students in Regular Classes. The self-efficacy variable of Mathematics was analysed with statistic t-test. The value of t calc= 2.087 and that of t table(0.05; 118) = -1.658. The value of t calc> t table ;

therefore, H0 hypothesis was accepted. It was concluded that there was a significant difference

of Mathematics efficacy between Preeminent Classes and Regular Classes. Students’ self-efficacy level toward Mathematics in Preeminent Classes exceeded that in Regular Classes. The percentages of students in Preeminent Classes regarding learning styles were: visual 15%, auditory 62%, kinesthetic 23%. Meanwhile, those in Regular Classes were: visual 7%, auditory 66%, kinesthetic 27%. It was concluded that students’ learning style in Preeminent Classes differed from that in Regular Classes with regard to the percentages of students’ learning style types. In general the majority of students had auditory learning style. This means that every class was dominated by students who found it easier to learn by listening while the rest was visual and kinesthetic. In order to achieve the maximum learning outcomes, teachers taught the students in accordance with their characteristics. Through the comparison of Z-score (Z), the

value of Z of Mathematics learning outcomes based on learning styles was obtained: The value of Zvisual = 0.16; that of Zauditory = -0.05 and that of Zkinesthetic = 0.07. This means the value of

Zvisual > Zauditory and the value of Zvisual> Zkinesthetic. It was concluded that in this research the

visual learning style contributed more to Mathematics learning outcome. It was discovered that some students with high level of self-efficacy toward Mathematics had low or even the lowest learning outcomes. Based on Bandura’s theory, this possibility occurred due to several reasons: 1). Inaccurate cognitive process in the reflection of self realisation, which triggered unacceptable behaviour, 2). Learning style which has not yet well-accomodated in learning process. This can be invaluable input for teachers and future researchers.

(7)

DAFTAR ISI

B Identifikasi Masalah ... 14

C Pembatasan Masalah ... 15

D Rumusan Masalah ... 16

E Tujuan Penelitian ... 17

F Manfaat Penelitian ... 17

BAB. II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS ...………... 19

2.1 Kajian Pustaka ………... 19

2.1.1 Konsep dan Teori Belajar ... 19

2.1.2 Hasil Belajar ………... 29

2.1.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar ……… 31

2.1.4 Modalitas Belajar ……… …...………... 34

2.1.5 Mitos Tentang Belajar Anak ……….. 49

2.1.6 Pembelajaran Individual ... 51

2.1.7 Proses Belajar Mengajar Menurut Pilihan Siswa……… 57

2.1.8 Model Multiple Talents dari Taylor ………. 58

(8)

2.1.10 Program Pendidikan Kelas Unggulan ……… 64

2.1.11 Konsep Anak Berbakat ... 73

2.1.12 Gambaran Umum Kelas Reguler ………... 79

2.1.13 Matematika ………... 80

2.1.14 Self-Efficacy ………... 90

2.1.15 Penelitian yang Relevan ... 102

2.2 Kerangka Konseptual dan Hipotesis ... 104

2.2.1 Kerangka Konseptual ………... 104

2.2.2 Hipotesis Penelitian ……….. 107

BAB. III METODE PENELITIAN ………... 110

3.1 Lokasi Penelitian ... ..………... 110

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian ………...………... 110

3.3 Desain Penelitian ……….. 112

3.4 Definisi Operasional dan Variabel Penelitian …………... 114

3.5 Teknik Pengumpulan Data ………... 118

3.6 Kisi-kisi Instrumen Pengumpulan Data ... 121

3.7 Skala Pengukuran ………. 129

3.8 Prosedur Penelitian ………... 132

3.9 Uji Coba Instrumen ………... 133

3.10 Teknik Analisa Data ………. 137

BAB. IV HASIL DAN PEMBAHASAN ……….. 146

4.1 Deskripsi Data Hasil Penelitian ……… 146

4.2 Pengujian Persyaratan Analisis ………... 150

(9)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel: 3.1 Kisi-kisi Instrumen Gaya Belajar ……… 121

3.2 Kisi-kisi Instrument Self-efficacy Terhadap Matematika …... 122 3.3 Kisi-kisi Instrumen Tes Hasil Belajar Matematika …………. 123 3.4 Aturan Skoring Angket Gaya Belajar ………. 130 3.6 Aturan Skoring Angket Self-Efficacy ……….. 131 3.7 Aturan Skoring Variabel Tes Hasil Belajar Matematika 132 3.8 Interpretasi Koefisien Reliabilitas Tes/Instrumen ……... 135

4.1 Perbedaan Nilai Tertinggi, Nilai Terendah dan Rata-rata Hasil Belajar Matematika ... 147

4.2 Perbedaan Hasil Belajar Matematika Berdasarkan Tingkat

Penguasaan Kompetensi... 148

4.3 Perbedaan Tingkat Self-efficacy Terhadap Hasil Belajar

Matematika ……….. 149

4.4 Perbedaan Hasil Belajar Matematika Berdasarkan Tingkat

Self-efficacy……… 161

4.5 Perbedaan Hasil Belajar Matematika Berdasarkan Jenis Gaya

Belajar ………. 168 4.6 Nilai Z-score Hasil Belajar Matematika Pada Gaya

Belajar ………... 168

4.7 Perbedaan Persentase Gaya Belajar Kelas Unggulan

Berdasarkan Tingkat Self-efficacy ... 171

4.8 Perbedaan Persentase gaya belajar Kelas Reguler

Berdasarkan Tingkat Self- efficacy ... 171

Titik Persentase Distribusi F untuk Probabilita = 0,05 ……...

Tabel Nilai Kritis Untuk Uji Lilliefors ………

Distribusi Normal Standar ………..

(10)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar: 3.1 Desain Penelitian... 113

3.2 Prosedur Penelitian ... 137

4.1 Persentase Jumlah Siswa Pada Jenis Gaya Belajar ... 149

4.2 Perbedaan Tingkat Self-efficacy ………... 159

4.3 Perbedaan Persentase Jumlah Siswa Pada Jenis Gaya

Belajar ……….

164

4.4 Perbedaan Gaya Belajar Berdasarkan Tingkat

Self-efficacy ………

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran: 1.a Instrumen Penelitian Hasil Belajar Matematika……… 181

1.b Instrumen Gaya Belajar ... 187

1.c Instrumen Self-efficacy ... 189

2 Kunci Jawaban dan Penyelesaian Tes Hasil Belajar Matematika 191 3 Data Hasil Penelitian ………. 202

4.a Analisis Data Hasil Belajar Matematika ... 213

4.b Analisis Data Self-efficacy Terhadap Matematika ... 220

4.c Analisis Data Gaya Belajar ... 223

5 Uji Validitas dan Uji Reliabilitas Angket Self-efficacy Terhadap Matematika ... 239

6 Dokumentasi Penelitian ……… 243

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan pendidikan pada umumnya adalah menyediakan lingkungan yang

memungkinkan peserta didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya

secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya

sesuai dengan kebutuhan pribadinya dan kebutuhan masyarakat. Kita menyadari

bahwa setiap orang memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda-beda dan

karena itu membutuhkan pendidikan yang berbeda-beda pula. Oleh karena itu

penyelenggara pendidikan bertanggungjawab untuk memandu, mengembangkan

dan meningkatkan bakat tersebut, termasuk peserta didik yang berbakat atau

memiliki kemampuan atau kecerdasan tinggi.

Yohanes Surya (2012:4 (Online)) mengungkapkan bahwa, pendidikan

merupakan indikator penting dalam pembangunan di sebuah negara bahkan dunia.

Menurutnya semakin baik kualitas pendidikan di sebuah negara akan semakin mempengaruhi kesejahteraan masyarakat di negara tersebut. Yohanes Surya juga

meyakini bahwa adanya hubungan yang erat antara pertumbuhan ekonomi di

sebuah negara dengan kualitas pendidikan yang ada di negara tersebut.

Bagaimanakah profil pendidikan nasional di Indonesia dewasa ini? Tilaar

(2012: 77), di dalam berbagai survei dan penelitian menunjukkan bahwa kualitas

pendidikan di Indonesia tergolong rendah. Bahkan ia mengatakan “Tidak ada

satupun juga universitas di Indonesia yang masuk kelompok 100 universitas

(13)

tingginya sudah sedemikian rendah, apalagi pendidikan dasar dan menengahnya,

tentunya kualitasnya tidak lebih baik. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan

pemerintah untuk meningkatkan kualitas pendidikan baik di tingkat nasional

maupun di tingkat daerah. Selain perubahan pada kurikulum muncul model-model

sekolah dengan label dan karakteristiknya masing-masing. Ada Sekolah Nasional

Bertaraf Internasional (SNBI), Sekolah Terpadu, Sekolah Plus dan Sekolah

Unggulan bahkan ada muncul program yang belum lama ini diselenggarakan yang

disebut Program Pendidikan Kelas Unggulan disingkat PPKU. Program Kelas

Unggulan ini telah dilaksanakan di SMA Negeri 2 Ngawi dan beberapa daerah

lainnya di Indonesia. Program-program ini adalah sederetan nama dan istilah

untuk memberi ciri khas khusus pada sekolah yang bermaksud menawarkan

program-program yang pada dasarnya ingin mengembangkan dan memajukan

pendidikan.

Demikian pula upaya yang dilakukan oleh pemerintah kabupaten Nias

Selatan yang merupakan salah satu kabupaten di kepulauan Nias. Sejak Tahun

Pelajaran 2011/2012 menyelenggarakan PPKU. Program ini dicanangkan untuk

pendidikan dasar dan pendidikan menengah pada sekolah terpilih. Tujuan utama

program tersebut untuk menghimpun siswa atau peserta didik dari berbagai

tempat di kabupaten Nias Selatan dan sekitarnya yang memiliki bakat dan

kemampuan intelektual lebih baik dibandingkan dengan siswa lainnya (siswa

reguler). Diharapkan bahwa melalui PPKU ini segala potensi atau bakat yang

dimiliki siswa yang terekrut dalam program ini dapat berkembang secara

maksimal. Maka sejak tahun pelajaran 2011/2012 terdapat dua jenis rombongan

belajar di SMP Swasta Bintang Laut yakni, pertama rombongan belajar siswa

(14)

(2009:100, (Online)) menyatakan bahwa, salah satu dampak positif Kelas

Unggulan dalam meningkatkan mutu pendidikan adalah dari hasil analisa data

terhadap hasil nilai Ujian Nasional di SMAN-2 Ngawi diketahui bahwa rata-rata

nilai untuk mata pelajaran yang diunaskan, siswa Kelas Unggulan sangat baik.

Namun Yohanes Surya (2012: 4, (Online)) menyatakan bahwa, Tidak

ada anak yang bodoh, yang ada hanya anak yang tidak mendapat kesempatan

belajar dari guru yang baik dengan metode yang benar”. Artinya dapat dikatakan

bahwa pada dasarnya anak dapat belajar, yang ada hanyalah cara mengajar guru

belum sesuai dengan cara belajar siswanya atau yang lebih dikenal dengan istilah

gaya belajar siswa. Yohanes Surya membuktikan pernyataannya ini dengan pergi

ke Papua untuk mencari murid yang paling bodoh, yang paling sering tinggal

kelas, yang tidak bisa menjumlahkan, pokoknya yang dianggap paling bodoh.

Setelah di latih oleh guru yang baik dan metode yang benar dan diberi kesempatan

untuk belajar sesuai dengan cara belajar yang diinginkan siswanya, maka pada

tahun 2011, anak-anak itu menjadi juara Olimpiade Sains dan Matematika Asia,

dengan merebut emas, perak dan perunggu.

Kemudian Santrock (2011:153) berpendapat bahwa, “Pengelompokan

mengandung efek negatif terhadap murid yang dimasukkan dalam jalur lambat”.

Santrock menuliskan, bahwa di San Diego Country Publik School melaksanakan

program Achieving Via Individual Determination (AVID), yakni suatu program

yang memberikan bantuan kepada murid yang lamban belajar dengan tidak

menempatkan mereka di jalur yang lambat, tetapi dimasukkan dalam kelas

dengan pelajaran yang ketat dan tetap diberi bantuan agar berprestasi. Maka

(15)

Pendapat ini didukung Gardner (dalam Santrock 2011:142) jika guru memberikan

murid kesempatan untuk menggunakan tubuh, imajinasi dan indra mereka, maka

hampir semua murid akan menyadari bahwa dirinya punya kelebihan dalam salah

satu hal bahkan murid yang tidak menonjol dalam satu area mungkin menyadari

bahwa mereka punya keunggulan relatif.

Utami Munandar (1999: 15) mengemukakan bahwa, dari sejarah

tokoh-tokoh yang unggul dalam bidang tertentu ternyata ada diantara mereka yang semasa kecil atau sewaktu di bangku sekolah tidak dikenal sebagai siswa yang

berprestasi di sekolah, namun mereka berhasil dalam hidup.

Selanjutnya Utami Munandar mengemukakan bahwa, ada juga dari antara

mereka yang potensial berkemampuan tinggi, tetapi tidak pernah mencapai keunggulan. Ia mengatakan, “Beberapa penelitian membuktikan bahwa lebih dari

separuh dari antara anak-anak berbakat ini, namun kenyataannya berprestasi jauh

di bawah kemampuannya, dengan perkataan lain termasuk underachiever”.

Artinya seseorang itu berprestasi di bawah taraf kemampuannya, bahkan ada yang

putus sekolah. Anak-anak seperti ini dikhawatirkan kelak menjadi anggota

masyarakat yang relatif non-produktif. Utami Munandar (1999: 238):

Siswa berbakat atau yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa diharapkan mencapai prestasi yang tinggi (unggul) di sekolah dan kelak menjadi anggota masyarakat yang dapat memberi sumbangan yang bermakna

untuk kesejahteraan bangsa dan negaranya, namun sayang sekali tidak semua

siswa berbakat dapat berprestasi setara dengan potensinya.

Utami Munandar berpendapat, banyaknya anak berbakat yang berprestasi

kurang tidak diketahui dengan pasti, tetapi angka-angka yang diperoleh dari survei

dan penelitian misalnya, di Amerika Serikat diperkirakan 15% - 50% (Marland,

(16)

yang diidentifikasikan berdasarkan tes inteligensi dan tes kreativitas termasuk

underachievement.

Rimm (dalam Utami Munandar:1999: 239) mengemukakan, salah satu

karakteristik anak berbakat berprestasi kurang adalah rasa harga diri yang rendah

yang merupakan akar dari kebanyakan masalah underachievement. Menurutnya,

anak-anak yang termasuk dalam kelompok anak berbakat berprestasi kurang tersebut, mereka tidak percaya bahwa mereka sebenarnya mampu melakukan apa

yang diharapkan orang tua dan guru dari mereka dan mereka dapat menutupi

rendahnya rasa harga diri mereka dengan perilaku berani serta menentang atau

dengan mekanisme pertahanan diri untuk melindungi diri. Sangat berbeda dengan anak-anak yang memiliki keyakinan atau kepercayaan diri atau dalam tulisan ini

penulis menggunakan istilah self-efficacy (efikasi diri) yakni suatu sikap mental

seseorang yang memiliki keyakinan diri bahwa ia bisa menguasai situasi dan

menghasilkan hasil positif.

Kemudian berdasarkan pengamatan dalam masyarakat dan juga hasil-hasil

penelitian para peneliti terdahulu menunjukkan bahwa sekolah-sekolah yang

memiliki label khusus sebagaimana diuraikan di atas tidak saja membawa

kemajuan, tetapi juga membawa stres yang berat bagi siswa. Sebagaimana dialami

oleh siswa yang sekolah di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) di SMPN 1 Medan, seperti dituliskan Rahmawati (2012: 5 (Online)), diperoleh

gambaran mengenai tuntutan yang harus dijalani oleh siswa RSBI di SMPN 1

Medan, mulai dari bahasa pengantar dalam belajar yang menggunakan bahasa

Inggris, beban pelajaran yang terlalu banyak dalam sehari, dan tugas ataupun PR yang banyak diberikan kepada siswa, standar nilai yang lebih tinggi dibandingkan

(17)

Olejnik dan Holschuh ( 2007: 101) menegaskan bahwa kondisi seperti ini dapat

menimbulkan stres pada siswa apabila siswa tidak mampu memenuhi tuntutan yang diberikan padanya. Kenyataan ini dapat kita lihat pada salah satu kutipan

wawancara yang dituliskan Rahmawati (2012: 4, (Online)):

Standar nilai kami lebih tinggi kak, kami harus dapat nilai 8, kalo sekolah biasa kan kalo gak salah saya pernah nanya sama tetangga saya standar nilai orang itu 7, kalo kami disini standarnya harus dapat 8... , sama jam pulang sekolah kami kan beda kak.. kami pulang jam setengah 4, kalo sekolah biasa kan jam 2 udah pulang kak, capek lah kak sore gitu pulangnya.. (TS, Komunikasi Personal, 09/11/2011).

Dari berbagai pendapat dan fakta seperti diuraikan di atas, maka sekarang

muncul pertanyaan, apakah penyelenggaraan PPKU ini menjadi posisi strategis

dalam memajukan pendidikan di kabupaten Nias Selatan?. Karena dana yang

dialokasikan pemerintah untuk program ini cukup besar sebab harus membiayai

semua kebutuhan siswa yang direkrut dalam program ini seperti biaya pendidikan,

pemondokan dan sarana-prasarana belajar yang memadai.

Suatu realita yang tidak dapat dipungkiri bahwa, keberadaan PPKU ini

disambut positif, baik oleh pihak sekolah terpilih maupun oleh masyarakat Nias

Selatan dan sekitarnya, sehingga Kelas Unggulan menjadi prioritas utama bagi

siswa dan orang tua dibandingkan dengan Kelas Regular.

Bertolak dari pendapat Yohanes Surya di atas bahwa “Tidak ada anak

yang bodoh, yang ada hanyalah anak yang tidak mendapat kesempatan belajar

dari guru yang baik dengan metode yang benar”, maka pendidik atau guru harus

mengenal potensi pribadi dan segala hal yang berpengaruh pada peserta didik.

Gardon Dryden & Jeannette Vos (2001: 341) memberikan beberapa contoh:

Albert Einsteinkecil dikenal suka melamun, guru-gurunya di Jerman mengatakan

(18)

merusak disiplin kelas bahkan dikatakan lebih baik dia tidak bersekolah. Namun,

dia terus berusaha hingga menjadi salah satu ilmuwan terbesar sepanjang sejarah.

Winston Churchill, sangat lemah dalam pekerjaan sekolah. Dalam berbicara dia

agak gagap dan cadel. Namun, dia akhirnya menjadi salah satu pemimpin dan

orator terbesar di abad ke-20. Thomas Alva Edison pernah dipukul di sekolah

dengan ikat pinggang kulit karena gurunya menganggap dia “mempermainkan”

dengan mengajukan begitu banyak pertanyaan. Bahkan dia sering kali dihukum di

sekolah, sehingga ibunya mengeluarkan dia dari sekolah hanya setelah tiga bulan

mengenyam pendidikan formal. Namun Edison terus berusaha yang didampingi

oleh ibunya dengan cara belajar yang disukainya dan akhirnya Edison menjadi

penemu paling produktif sepanjang masa.

Beberapa contoh tersebut menunjukkan bahwa, setiap anak memiliki

karakteristik yang berbeda dalam belajar. Dengan kata lain agar dapat menolong

peserta didik, maka ia harus dikenal dalam segala aspeknya dan dalam konteks

(situasi) hidupnya di mana ia hidup. Sebab tanpa pengenalan terhadap pribadi

peserta didik, tidak mungkin pendidik/guru dapat membuat rencana yang efektif

untuk mengadakan perubahan dalam diri peserta didik tersebut. Suryasubroto

(dalam Irham, Wiyani: 2013:67) bahwa “Ketidakmampuan guru melihat dan

memperhatikan perbedaan-perbedaan individu peserta didiknya selama proses

pembelajaran banyak membawa kegagalan dalam proses pembelajaran”. John W.

Santrock (2011: 487) menyatakan “pertimbangan perbedaan individual anak

merupakan salah satu landasan pendidikan yang efektif”. Sardiman (2011: 121)

menyatakan, salah satu karakteristik siswa yang dapat mempengaruhi kegiatan

(19)

yang dilakukan oleh siswa dalam belajarnya untuk mencapai tujuan yang

diharapkan yaitu hasil belajar yang baik. Munif Chatib (2012: 100),” Gaya belajar

adalah respons yang paling peka dalam otak seseorang untuk menerima data atau

informasi dari pemberi informasi dan lingkungannya”. Gaya belajar

masing-masing siswa berbeda seperti halnya dengan tanda tangan masing-masing-masing-masing

individu. Kita semua tahu bahwa sebagian orang belajar lebih baik dengan suatu

cara, sebagian yang lain dengan cara yang lain pula. Setiap orang memiliki gaya

belajar dan gaya bekerja yang unik. Sebagian siswa lebih mudah belajar secara

visual: melihat gambar dan diagram, sebagian lebih mudah belajar secara

auditorial: suka mendengarkan, dan sebagian lagi mungkin ada yang lebih mudah

belajar secara kinestetik yaitu dengan menggunakan indra perasa atau

menggerakkan tubuh dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, guru perlu mengetahuai gaya belajar siswa, sehingga

memudahkan dalam mengorganisasikan proses pembelajaran dengan berbagai

metode dan cara mengajar sehingga bisa diterima dan dipahami oleh seluruh

siswa. Gordon Dryden & Jeannette Vos (2000: 99, terjemahan) mengatakan, “

Saat ini banyak anak-anak yang putus sekolah lanjutan karena gaya belajar

mereka tidak sesuai dengan gaya belajar yang diterapkan di sekolah”. Gordon

Dryden & Jeannette Vos menegaskan: “Einstein, Churchill dan Edison memiliki

gaya belajar khas yang tidak sesuai dengan gaya sekolah mereka. Dan

ketidaksesuaian semacam itu terus berlanjut hingga sekarang pada jutaan anak

lain. Mereka menyimpulkan bahwa kemungkinan hal tersebut menjadi satu

(20)

Selanjutnya berkaitan dengan apa yang dikemukakan oleh Rimm di atas

bahwa salah satu karakteristik anak berbakat berprestasi kurang adalah rasa harga

diri yang rendah (low self-esteem) dan merupakan akar dari kebanyakan masalah

underachievementt. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain yang juga turut

mempengaruhi hasil belajar siswa adalah kepercayaan diri atau efikasi diri atau

dalan tulisan ini diistilahkan “Self-Efficacy”. S.Edstin Liufeto (Online), penelitian

yang dilakukan oleh Retnaning (2008) mengenai hubungan antara self efficacy

dengan prestasi belajar Matematika siswa SMA Laboratorium Universitas Negeri

Malang menunjukkan ada hubungan positif yang signifikan antara efikasi diri

dengan prestasi belajar Matematika dengan r = 0,974, p = 0,000 < 0,05. Hasil

penelitian oleh Fatimah (2005) mengatakan bahwa ada kontribusi yang positif

antara efikasi diri dengan prestasi belajar Matematika sebesar 23,4%.

Menurut Bandura (dalam Santrock, 2011: 523), bahwa self-efficacy adalah

faktor penting yang mempengaruhi prestasi murid. Dalam model pembelajaran

Bandura dikatakan bahwa faktor person (kognitif) juga memainkan peran penting.

Faktor person (kognitif) yang ditekankan Bandura (dalam Santrock, 2011: 286)

pada masa belakangan ini adalah self-efficacy, yakni keyakinan bahwa seseorang

bisa menguasai situasi dan menghasilkan hasil positif. Efikasi diri ini diartikan

sebagai kemampuan untuk menyadari, menerima dan mempertanggung jawabkan

semua potensi, keterampilan atau keahlian secara tepat. Menurutnya bahwa, orang

yang memiliki self-efficacy, akan menempatkan diri pada posisi yang tepat.

Ismunamto dkk (2011: Pengantar), mengatakan, “kepercayaan diri untuk

yakin bahwa Matematika adalah ilmu yang mudah dipelajari merupakan modal

(21)

untuk mewujudkan sistem, cara atau metode yang cocok dalam proses belajar

mengajar di sekolah”. Bandura (1997), self-efficacy merupakan konstruksi sentral

yang akan mempengaruhi seseorang dalam pengambilan keputusan, dan tindakan

yang akan dilakukannya. Seseorang cenderung akan menjalankan sesuatu apabila

ia merasa kompeten dan percaya diri. Makin tinggi self-efficacy seseorang, makin

besar upaya, ketekunan, dan fleksibilitasnya. Self-efficacy juga mempengaruhi

pola pikir dan reaksi emosionalnya. Sedangkan seseorang dengan self-efficacy

yang rendah akan mudah menyerah, cenderung menjadi stres, depresi, dan

mempunyai suatu visi yang sempit tentang apa yang terbaik untuk menyelesaikan

masalah itu. Sedangkan self-efficacy yang tinggi, akan membantu seseorang dalam

menciptakan suatu perasaan tenang dalam menghadapi masalah atau aktivitas

yang sukar.

Untuk melihat perbedaan kemampuan antara siswa Kelas Unggulan

dengan siswa Kelas Reguler dalam bidang akademik, peneliti tertarik untuk

meneliti hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. Sebab pelajaran

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang diujikan dalam perekrutan

siswa baru Kelas Unggulan. Dewasa ini bagi peserta didik pelajaran Matematika

merupakan suatu kebutuhan yang tidak dapat dihindari bahkan dalam setiap

seleksi penerimaan siswa baru pada setiap jenjang pendidikan hampir selalu

memunculkan pelajaran Matematika sebagai salah mata pelajaran yang diujikan.

Kemudian baik di lingkungan pendidikan maupun di masyarakat umum

ada anggapan bahwa jika seorang siswa memiliki nilai mata pelajaran Matematika

lebih tinggi dari pada teman-temannya yang lain, maka siswa tersebut dianggap

(22)

seseorang menentukan prestasi seseorang itu dalam berbagai bidang akademik.

Seperti dikemukakan Fadjar Shadiq (2014: 3) bahwa:

Tidak sedikit orang tua dan orang awam yang beranggapan bahwa Matematika dapat digunakan untuk memprediksi keberhasilan seseorang. Menurut mereka, jika seorang siswa berhasil mempelajari Matematika dengan baik, maka ia diprediksi akan berhasil juga mempelajari mata pelajaran lain. Begitu juga sebaliknya, seorang anak yang kesulitan mempelajari Matematika akan kesulitan juga mempelajari mata pelajaran lain. Peran penting Matematika

diakui Cockcroft (1986), if would be very difficult-perhaps impossible-to live a

normal life in very many parts of the world in the twentieth century without

making usu of Mathematics of some kind”. Akan sangat sulit atau tidaklah

mungkin bagi seseorang untuk hidup di bagian bumi ini pada abad ke-20 ini tanpa sedikitpun memanfaatkan Matematika.

Ismunamto dkk. (2011: i), “tanpa Matematika dunia pendidikan terasa

kurang lengkap”. Santoso (dalam Hudojo: 2005: 25), 60 %-80 % negara-negara

maju hingga sekarang, dominan menggantungkan diri pada Matematika. Uno

(2007: 130) mangatakan, “seseorang akan merasa mudah memecahkan masalah

dengan bantuan Matematika, karena ilmu Matematika itu sendiri memberikan

kebenaran berdasarkan alasan logis dan sistematis”. Selanjutnya Tilaar (2012:

79), di dalam sistem pendidikan Barat sampai abad ke–19, Matematika dianggap

lebih tingggi dari Ilmu Pengetahuan Sosial, Kesenian maupun Keterampilan.

Suatu fakta bahwa jika kita melihat level yang dicapai siswa Indonesia

dalam Programme for International Student Assessment (PISA) Matematika tahun

2009, diperoleh 43,5% siswa tidak mampu menyelesaikan soal PISA paling

sederhana, sekitar 33,1% hanya bisa mengerjaan soal jika pertanyaan dari soal

kontekstual diberikan secara eksplisit serta data yang dibutuhkan diberikan secara

tepat, kemudian hanya 0,1% siswa Indonesia yang mampu mengembangkan dan

(23)

penalaran (Wijaya: 2012). Selanjutnya dari hasil penelitian Depdiknas (2002)

(Online) bahwa rata-rata nasional Nilai Ebtanas Murni (NEM) mata pelajaran

Matematika untuk jenjang SLTP dalam 4 tahun terakhir selalu di bawah 6,0. Hal

serupa juga dikemukakan Roheni (2013: 3, (Online)), bahwa pada kenyataannya

kemampuan pemecahan masalah matematis siswa SMP masih di bawah skor

rata-rata Internasional. Hal ini berdasarkan hasil Third International Mathematics and

Science Study (TIMSS) tahun 2003 menunjukkan bahwa kemampuan siswa

Indonesia berada pada peringkat 34 dari 45 negara. Skor rata-rata yang diperoleh

siswa Indonesia adalah 411. Skor tersebut masih jauh di bawah skor rata-rata

internasional sebesar 467 (Mulisetal, 2004). Lebih jauh lagi pada survey PISA

(Programe for Internasional Student Assesment) tahun 2003 menunjukkan bahwa

dari 41 negara yang di survey untuk kemampuan Matematika dan kemampuan

membaca, Indonesia menempati peringkat ke-39 dengan skor yang diperoleh

360,2. Skor tersebut berada di bawah skor rata-rata Internasional sebesar 500.

Kemudian M. Nawi (2012: 3), jika ditinjau dari persentase siswa mengulang maka

Matematika masih menjadi mata pelajaran yang sulit bagi siswa bahkan pada TP.

2009/2010 terdapat 3 sekolah di kota Medan dengan persentase kelulusan pada

mata pelajaran Matematika adalah 0 %.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa terjadi beberapa

perbedaan pendapat baik para ahli maupun para peneliti terdahulu mengenai

kecerdasan atau keunggulan seseorang (peserta didik). Kemudian disadari bahwa

setiap peserta didik memiliki bakat, kemampuan dan cara belajar yang

berbeda-beda, maka diharapkan bahwa pembelajaran yang dilaksanakan guru seharusnya

(24)

Irham & Wiyani- (2013: 77), “Perbedaan individu yang sangat kompleks

ini tidak sepenuhnya diperhatikan dalam dunia pendidikan dan pembelajaran,

bahkan oleh ahli pembelajaran sekalipun”. Sardiman (2011:119) mengatakan

bahwa, “Sekolah-sekolah di Indonesia sampai sekarang memang belum berhasil

membantu secara optimal dalam upaya mengembangkan siswa/anak didik secara

individual”. Irham & Wiyani (2013: 107), “Perbedaan individu sudah pasti akan

berdampak pada tingkat kecepatan, metode dan aktivitas siswa dalam belajar dan

dalam mengikuti proses pembelajaran. Oleh sebab itu, guru perlu memahami

dengan baik kondisi dan karakteristik belajar siswanya. Menurutnya pembelajaran

yang baik dan efektif adalah ketika proses pembelajaran yang dilakukan dapat

merespon kebutuhan individual siswa. Oleh sebab itu dalam pembelajaran perlu

mempertimbangkan beberapa hal antara lain: gaya belajar siswa, self-efficacy dan

kemampuan akademik siswa agar dapat menacapai hasil yang maksimal.

Sehubungan dengan fakta-fakta tersebut di atas, maka menarik sekali

untuk melihat bagaimana keberadaan siswa dari dua jenis rombongan belajar yang

berbeda yang ada di SMP Bintang Laut jika dilihat dari gaya belajarnya,

self-efficacynya dan hasil belajar Matematikanya. Oleh karena itu peneliti memandang

sangat perlu melakukan penelitian terhadap ketiga komponen tersebut. Peneliti

bermaksud meneliti apakah terdapat perbedaaan yang signifikan mengenai hasil

belajar Matematika antara siswa Kelas Unggulan dengan siswa Kelas Reguler?

dan apakah hasil belajar Matematika siswa Kelas Unggulan jauh lebih tinggi dari

pada hasil belajar Matematika siswa Kelas Reguler?.dan apakah ada perbedaan

(25)

self-efficacy siswa terhadap pelajaran Matematika apakah ada perbedaan antara

siswa Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler?

Betolak dari uraian tersebut, maka penulis ingin melakukan penelitian

dengan judul “ Studi Komparatif Terhadap Gaya Belajar, Self-Efficacy dan

Hasil Belajar Matematika antara siswa Kelas Unggulan dengan Siswa Kelas

Reguler di SMP Bintang Laut Telukdalam”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar balakang masalah, maka peneliti mengidentifikasi

beberapa permasalahan antara lain: Apakah penyelenggaraan Program Pendidikan

Kelas Unggulan merupakan program yang strategis bagi kemajuan pendidikan di

kabupaten Nias Selatan? Apa saja yang dilakukan pemerintah kabupaten Nias

Selatan dalam menyelenggarakan Kelas Unggulan? Apa persyaratan yang dimiliki

oleh sekolah sehingga dapat menyelenggarakan Kelas Unggulan? Bagaimana

pemerintah mempersiapkan sekolah terpilih penyelenggara Kelas Unggulan ini

baik dari segi tenaga pengajar, sarana pra-sarana dan pembiayaan? Bagaimana

cara perekrutan siswa yang diterima di Kelas Unggulan? Apakah ada perbedaan

perlakuan pembelajaran antara siswa Kelas Unggulan dengan siswa Kelas

Reguler? Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara gaya belajar,

self-efficacy dan hasil belajar Matematika antara siswa Kelas Unggulan dengan siswa

Kelas Reguler? Apa jenis gaya belajar yang dominan dimiliki oleh siswa Kelas

Unggulan dan siswa Kelas Reguler? Apakah ada hubungan gaya belajar dan

self-efficacy terhadap hasil belajar Matematika? Seberapa besar perbedaan

(26)

siswa Kelas Reguler?. Apakah terdapat siswa yang memiliki self-efficacy tinggi

terhadap Matematika tetapi hasil belajar Matematikanya rendah? Apakah ada

perbedaan hasil belajar Matematika ditinjau dari jenis gaya belajar? Apakah

terdapat siswa yang rata-rata hasil belajar Matematika lebih rendah dari pada yang

lain, namun berada di rombongan belajar siswa Kelas Unggulan?. Dan sebaliknya

apakah terdapat siswa yang rata-rata hasil belajar Matematika lebih tinggi tetapi

berada pada rombongan belajar siswa Kelas Reguler? Apakah rata-rata hasil

belajar Matematika siswa Kelas Unggulan jauh lebih tinggi dari pada Kelas

Regular ?. Manakah diantara jenis gaya belajar yang memberikan kontribusi besar

terhadap hasil belajar Matematika baik siswa Kelas Unggulan maupun siswa

Kelas Reguler?.

C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, maka

penelitian ini akan dilaksanakan di SMP Swasta Bintang Laut Telukdalam

Kabupaten Nias Selatan. Dengan penelitian komparatif, yang berfokus terhadap

gaya belajar, self-efficacy dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

Agar pelaksanaan penelitian lebih efektif dan efisien, maka penelitan ini dibatasi

pada siswa kelas IX TP. 2014/2015. Dengan demikian terdapat tiga variabel yang

akan diteliti yakni gaya belajar siswa , self-efficacy siswa dan rata-rata hasil

belajar Matematika. Gaya belajar yang dimaksud pada tulisan ini adalah gaya

belajar siswa berdasarkan modalitas belajar yang dikemukakan oleh DePorter

yaitu: gaya belajar visual, gaya belajar auditorial dan gaya belajar kinestetik,

(27)

juga self-efficacy yang dimaksud adalah self-efficacy yang dimiliki siswa terhadap

pelajaran Matematika dan bagaimana konsekuensinya terhadap hasil belajar mata

pelajaran Matematika. Sedangkan hasil belajar Matematika yang dimaksud adalah

hasil penilaian yang dilakukan baik oleh Pendidik (Guru) dan Satuan Pendidikan.

Maka untuk memperoleh data hasil belajar Matematika, peneliti mengambil data

berdasarkan rata-rata nilai rapor siswa mulai dari nilai Matematika semester I

(satu) di kelas VII sampai dengan nilai Matematika semester I di kelas IX (ada

lima semester) dan nilai hasil tes yang dilakukan oleh peneliti pada materi

pelajaran Matematika SMP Tahun Pelajaran 2014/2015 berdasarkan kurikulum

2006 atau KTSP.

D. Rumusan Masalah

Bertolak dari uraian pada latar belakang di atas, identifikasi masalah dan

pembatasan masalah, maka peneliti merumuskan masalah yang akan diteliti

sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata hasil belajar Matematika

antara siswa Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler ?.

2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan self-efficacy Matematika antara

Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler merujuk pada angket self-efficacy

siswa terhadap pelajaran Matematika ?.

3. Bagaimana perbedaan gaya belajar antara siswa Kelas Unggulan dengan siswa

Kelas Reguler merujuk pada angket gaya belajar?.

4. Manakah jenis gaya belajar yang memberikan kontribusi yang cukup besar

(28)

E. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian adalah:

1. Untuk mengetahui perbedaan rata-rata hasil belajar Matematika antara siswa

Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler ?

2. Untuk mengetahui perbedaan self-efficacy Matematika antara siswa Kelas

Unggulan dengan Kelas Reguler merujuk pada angket self-efficacy siswa

terhadap pelajaran Matematika.

3. Untuk mengetahui gaya belajar siswa Kelas Unggulan dan gaya belajar siswa

Kelas Reguler merujuk pada angket gaya belajar.

4. Untuk mengetahui jenis gaya belajar yang memberikan kontribusi lebih besar

terhadap hasil belajar Matematika.

F. Manfaat Penelitian

Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

a. Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah untuk menambah kasanah

dan mengembangkan wawasan keilmuan serta mendukung teori-teori yang telah

ada yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, khususnya tentang gaya

belajar, self-efficcacy terhadap Matematika dan hasil belajar siswa pada mata

pelajaran Matematika.

b. Manfaat Praktis

1. Bagi peneliti, menambah wawasan, pengetahuan dan keterampilan dalam

(29)

informasi tentang data-data yang ada dalam tulisan ini kepada peneliti

berikutnya.

2. Bagi siswa, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap gaya belajarnya

dan memotivasi siswa untuk meningkatkan self-efficacy terhadap mata

pelajaran Matematika, dan membantu siswa dalam memahami peranan Kelas

Unggulan di sekolahnya.

3. Bagi para guru SMP Swasta Bintang Laut, menjadi bahan kajian atau

informasi, refleksi dan evaluasi untuk menentukan kebijakan di sekolah dalam

usaha meningkatkan kualitas proses pembelajaran di kelas dan terutama

dalam menyelenggarakan Kelas Unggulan dan juga menjadi pertimbangan

bagi guru dalam kegiatan belajar mengajar sehari-hari.

4. Bagi pemerintah dan sekolah-sekolah penyelenggara Pendidikan Program

Kelas Unggulan serta semua stakeholder pendidikan, hasil penelitian ini akan

menjadi masukan dan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan untuk

meningkatkan kualitas pendidikan pada umumnya dan untuk pengembangan

Program Pendidikan Kelas Unggulan pada khususnya. Dengan demikian

diharapkan bahwa pemerintah, khususnya di kabupaten Nias Selatan semakin

banyak memperoleh informasi tentang perkembangan program pengembangan

pendidikan di wilayah kabupaten Nias Selatan.

5.

Bagi masyarakat di Nias Selatan dan sekitarnya, hasil penelitian ini akan

memberi gambaran tentang keberadaan dan peranan Program Pendidikan

Kelas Unggulan di SMP Swasta Bintang Laut, sehingga menambah wawasan

(30)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisa data, pengujian hipotesis dan pembahasan, maka

hasil penelitian ini dapat dikemukakan beberapa simpulannya sebagai berikut:

1. Terdapat perbedaan yang signifikan rata-rata hasil belajar Matematika antara

siswa Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler. Berdasarkan hasil analisis data

menunjukkan, hasil belajar Matematika siswa Kelas Unggulan lebih tinggi

dibandingkan dengan hasil belajar Matematika Kelas Reguler. Gestalt seorang

tokoh psikologi kognitif menyatakan, belajar adalah fenomena kognitif atau

intelektual dan kemampuan belajar Matematika adalah kemampuan kognitif,

sehingga pembelajar yang memiliki kemampuan secara kognitif akan mampu

memikirkan semua unsur yang dibutuhkan untuk memecahkan problem secara

kognitif sampai problem tersebut terpecahkan. Hal ini berarti Matematika

dapat digunakan sebagai seleksi siswa yang berprestasi di bidang akademik.

2. Terdapat perbedaan yang cukup signifikan self-efficacy terhadap pelajaran

Matematika antara siswa Kelas Unggulan dengan siswa Kelas Reguler.

Berdasarkan data hasil penelitian diperoleh bahwa self-efficacy siswa Kelas

Unggulan terhadap Matematika lebih baik atau lebih tinggi jika dibandingkan

dengan siswa Kelas Reguler.

3. Merujuk pada angket gaya belajar, disimpulkan bahwa terdapat perbedaan

gaya belajar antara Kelas Unggulan dengan Kelas Reguler ditinjau dari

persentase siswa pada jenis gaya belajar. Ditemukan bahwa sebagian besar

(31)

gaya belajar auditorial. Artinya kelas didominasi siswa yang menginginkan

kondisi pembelajara dengan suasana tenang duduk sopan untuk mendengarkan

guru mengajar. Hal ini dapat saja terjadi karena sudah menjadi tradisi atau

kebiasaan yang sudah dikondisikan sedemikian rupa sejak kecil dari keluarga

dan dilanjutkan di bangku sekolah bahwa anak diharapkan duduk sopan, dan

mendengarkan dengan baik informasi yang disampaikan kepadanya. Sebab

jika tidak demikian, maka anak dianggap berperilaku tidak sopan. Sering kali

orang tua/guru tidak menyadari bahwa si anak mempunyai caranya sendiri

dalam menanggapi berbagai informasi di sekitarnya.

4. Diantara ketiga jenis gaya belajar, melalui komparasi Z-score (Z) diperoleh

rata-rata hasil belajar Matematika pada siswa yang memiliki kecenderungan

gaya belajar visual lebih tingi dibandingkan dengan rata-rata hasil belajar

Matematika pada siswa yang memiliki kecenderungan gaya belajar auditorial

atau gaya belajar kinestetik. Oleh karena itu peneliti menyimpulkan bahwa

gaya belajar visual memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap hasil

belajar Matematika. Namun demikian tetap diharapkan bahwa guru mampu

melakukan pendekatan-pendekatan pembelajaran yang lebih menyentuh bagi

siswa yang memiliki gaya belajar auditorial atau kinestetik agar merekapun

dapat memperoleh hasil belajar yang lebih baik.

B. SARAN

Bertolak dari hasil penelitian, maka peneliti memberikan beberapa saran

kepada seluruh stakeholder pendidikan sebagai berikut:

1. Suatu realita bahwa Matematika sangat penting dalam kehidupan sehari-hari

dan bagi perkembangan kognitif peserta didik di semua jenjang pendidikan.

(32)

belajar Matematika adalah kemampuan kognitif, sehingga pembelajar yang

memiliki kemampuan secara kognitif akan mampu memikirkan semua unsur

yang dibutuhkan untuk memecahkan problem secara kognitif sampai problem

terpecahkan. Maka pendekatan pembelajaran yang dapat dilakukan terhadap

masing–masing gaya belajar siswa antara lain,

Gaya belajar visual, untuk mengoptimalkan hasil belajar peserta didik yang

memiliki gaya belajar ini, gunakan simbo-simbol seperti: titik, gambar, warna

dan lain-lain; gunakan gambar berwarna, grafik, tabel sebagai media

pembelajaran, gunakan setiap benda, gambar, tulisan di dalam kelas sebagai

sumber belajar.

Gaya belajar auditoral, guru/orang tua dapat membekali mereka dengan tape

recorde untuk merekam materi pelajaran, menciptakan pembelajaran dengan

diskusi, membacakan informasi, kemudian meringkasnya dalam bentuk lisan

dan direkam untuk selanjutnya diperdengarkan kepada mereka.

Gaya belajar Kinestetik, individu yang memiliki gaya belajar ini merasa lebih

mudah belajar apabila prosesnya disertai dengan kegiatan fisik. Oleh sebab itu

diharapkan guru melakukan pendekatan pembelajaran melalui pengalaman

siswa dengan memperbolehkannya belajar sambil melakukan gerakan tertentu.

Maka untuk itu salah satu saran praktis dari Munif dalam membantu anak

belajar adalah “biarkan anak belajar dengan gaya belajarnya sendiri”.

2. Berdasarkan temuan peneliti pada beberapa siswa yang memiliki self-efficacy

tinggi terhadap Matematika, tetapi memperoleh hasil belajar Matematika yang

lebih rendah atau bahkan paling rendah nilainya diantara teman-temannya.

Bandura mengemukakan bahwa anggapan self-efficacy seseorang itu mungkin

(33)

self-efficacy (keyakinan dirinya yang sesungguhnya). Sebab sebagian orang

percaya bahwa self-efficacy mereka rendah padahal sebenarnya cukup tinggi.

Sebaliknya sebagian orang menganggap bahwa self-efficacynya tinggi, tetapi

sebenarnya rendah. Bandura menyatakan bahwa, situasi yang terbaik adalah

ketika anggapan seseorang itu sesuai dengan kemampuan yang sesungguhnya.

Bandura menganggap betapa penting proses kognitif dalam penentuan

perilaku manusia. Karena perilaku seseorang sebagian ditentukan oleh proses

kognitifnya, maka jika proses kognitif tidak akurat dalam merefleksikan

realitas akan mungkin muncul perilaku yang salah. Oleh karena itu guru

diharapkan mampu menumbuhkan self-efficacy yang positif di dalam diri

peserta didik melalui pendekatan pembelajaran. Terdapat empat sumber yang

bisa dimanfaatkan guru untuk memupuk self-efficacy ini, yakni: (1) guru

menciptakan sebanyak mungkin pengalaman sukses dialami oleh siswa. (2)

contoh atau model, melalui keberhasilan kakak kelas atau adik kelasnya. (3)

persuasi social, memberikan komentar positif atau pengakuan dari guru yang

bernada positif. (4) faktor psikoligis, siswa sedang dalam kondisi baik dan

nyaman dengan penampilan dirinya disertai dengan dukungan dari guru-

gurunya. Untuk mencapai hasil belajar yang maksimal, guru dapat melayani

peserta didik sesuai dengan karakteistiknya masing-masing atau sesuai dengan

gaya belajarnya. Meskipun dipahami bahwa, tidak dapat melayani kebutuhan

semua siswa secara individual setiap saat karena model pembelajaran bersifat

klasikal, namun hendaknya menjamin bahwa selama proses pembelajaran

siswa terlayani secara bergantian sesuai dengan karakteristiknya

(34)

Daftar Pustaka

Agusnadi. 2010. Situs Pembelajaran Matematika Berbasis E-learning. (Online) http://mediateropon gsiswa.blogspot.co.id/2010/11/teori-belajar-robert-m-gagne.html#!/tcmbck, diakses 09 April2015.

Ahmadi, A. & Supriyono, W. 2008. Psikologi Belajar Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.

Ahmad zulfikar. 2013. Studi Literatur Pembelajaran Kooperatif Dalam Mengatasi Kecemasan Matematika dan Mengembangkan Self-efficacy Matematis Siswa. Prosiding. Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, (Online), (http://eprints.uny.ac.id/10730/1/P%20-%207.pdf, diakses 07 April 2015).

Bornok,S. 2015. STATISTIKA. Diktat disajikan dalam mata kuliah Statistika Program Studi Pendidikan Dasar. Medan. PPs. Unimed.

Chatib, M. (2012, 2014). Orangtuanya Manusia. Bandung: Kaifa.

Dalyono, M. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Daryanto. 2013. Inovasi Pembelajaran Efektif. Bandung: Yrama Widya.

Djamarah, S, B. 2011. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.

Dryden, G, Jeannette. 2000. Revolusi Cara Belajar (The Learning Revolution). Terjemahan oleh Word + + Tranlastion Service. Bandung: Kaifa.

Edstin, L. S. 2012. Efikasi Diri (Self-Efficacy) Dan Motivasi Belajar sebagai Prediktor Prestasi Belajar Matematika pada Siswa SMP Negeri 1 So'e Kelas VIII. Universitas Kristen Satya Wacana Jurnal. (Online), (http://re pository.uksw.edu/bitstream/12345 6789/.../T2_832008014_BAB %20I .pdf...diakses 17 Januari 2015).

Hasratuddin dkk. 2014. PROSIDING Seminar Nasional Pendidikan Matematika Berbasis PISA. Unimed: Unimed Press.

Hergenhahn, Matthew. Tanpa tahun. Theories of Learning (Teori Belajar). Terjemahan oleh Triwibowo. 2009. Jakarta: Prenada Media Group.

Hosnan, M. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor: Ghalia Indonesia.

Hudojo, H. 2005. Pengembangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang:

(35)

Ismunamto, A, dkk. 2011. Ensiklopedia Matematika. Jakarta: Lentera Abadi. Khairani, H, M. 2013. Psikologi Belajar.Slamet, Yogyakarta: Aswaja Pressindo

Masidjo.1995.Penilaian Pencapaian Hasil Belajar Siswa di Sekolah. Yogyakarta: KANISIUS

Minarti. (Online), http://minartirahayu.blogspot.com/2013/03/pengertian-gaya- belajar-berbagai-macam.html, diakses 03 April 2014.

Mujiono, dkk. 2012. Penelitian Kausal Komparatif. (Online), (https:// muji0n0. files.wordpress.com/2012/10/penelitian-kausal-komparatif1.pdf.,diakses 19 Nopember 2015).

Munandar, U. 1999. Pengembangan Kreativitas Anak Berbakat. Jakarta: PUSAT PERBUKUAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN, RINEKA CIPTA.

Nawi, M. 2012. Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Kemampuan Penalaran Formal Terhadap Hasil Belajar Matematika. Tesis tidak diterbitkan. Medan. Program Pascasarjana UNIMED.

Nasution. (2011,2013). Berbagai Pendekatan Dalam Proses Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumui Aksara.

Pardiana, I, P, Pratama. Penilaiana Hasil Belajar Instrumen Non-Kognitif Gaya Belajar. Fakultas Teknik danKejuruan: Universitas Pendidikan Ganesha (Online), (http://www.scribd.com/doc/194214763/Instrumen-Non-Kognitif-Gaya-Belajar-1115051029-Copy, diakses 20 Maret 2014).

Puwanto,M,N. 2007. Psikologi Pendidikan. Bandung: REMAJA ROSDAKARYA

Pustaka Sekolah. Pengertian Matematika. (Online) (http://www. pustakasekolah. com/pengertianmatema-tika.html, diakses 09 Maret 2014).

Putranti,N. 2007. Gaya Belajar Anda Visual, Auditori atau Kinestetik?.(Online), (https://nuritaputranti.wordpress.com/2007/12/28/gaya-belajar-anda-visual-auditori-atau-kinestetik/, diakses 09 Maret 2014).

Rahmawati. 2012. Pengaruh Self-efficacy Terhadap Stres Akademik (Online),

(http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/34182/7/Cover.pdf, diakses 09 Maret 2014)

Rockville, dkk. 2012. Gaya Belajar Siswa. (Online), (http://file.upi.edu/Direktori/ KD-SUMEDANG /197808222005012003 DIAHGUSRAYANI/ Buku_ Ajar_BI/bab2-gaya_belajar_siswa.pdf., diakses 09 April 2015)

Sardiman.2011. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.

Santrock, J.W. 2011. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Kencana.

(36)

Setiawan, P. 2014. Siapa Takut Tampil Percaya Diri .Yogyakarta. Parasmu.

Shadiq, F. 2014. Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: GRAHA ILMU.

Slameto.(2010, 2013). Belajar & Fakotr-faktor Yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.

Sugiyono.2013. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitattif dan R &D. Bandung: ALFABETA

Suharso & Retnoningsih, A. 2011. Kamus Besara Bahasa Indonesia. Semarang: Widya Karya.

Sukmadinata, N,S.2005.Landasan PsikologiProses Pendidikan. Bandung: REMAJA ROSDAKARYA.

Supriyono, A. 2009. Penyelenggaraan Kelas Unggulan di SMA Negeri 2 Ngawi. (Online), (core.ac.uk/download/pdf/12348602.pdf). Surakarta: Tesis

diakses 01 Nopember 2015).

Surya, Y. 2012. Buletin STKIP Surya SURYAKANTA Edisi 1, (Online), (http://www.stkipsurya. ac.id/download/ Suryakanta/ Suryakanta-Edisi1-vol1.pdf, Diakses 03 April 2015).

Suryosubroto,B.2010. Beberapa Aspek Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Suyanto & Asep Jihad. 2013. Menjadi Guru Profesional Strategi Meningkatkan Kualifikasi dan Kualitas Guru di Era Globalisasi.Jakarta: Erlangga.

Suyono & Hariyanto.2012. Belajar dan Pembelajarn. Bandung: REMAJA ROSDAKARYA

Tilaar, H, A, R. 2012. Standarisasi Pendidikan Nasional Suatu Tinjauan Kritis.Jakarta. Rineka Cipta.

Trisnawati,D,A.2013. Peran Self-efficacy dan Persepsi Citra Almamater Terhadap Ketakutan Akan Kegagalan Pada Para Pencari Kerja Berstatus Fresh Graduate (Online),https://www.google.com/search? q=JURNAL+SE LFE FFICACY+TRISNAWATI&ie=utf-8&oe=utf-8 diakses 01 Nop. 2015).

Uno, H, B. 2011. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatifdan Efektif. Jakarta: PT Buni Aksara.

Widoyoko,E,P. 2013. Teknik Penyusunan Instrumen Penelitian. Yogyakarta: PUSTAKA PELAJAR.

Wijaya, A. 2012.Pendidikan Matematika Realistik Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Matematika. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Figur

Tabel: 3.1
Tabel: 3.1 p.9
Gambar: 3.1 Desain Penelitian.................................................................
Gambar: 3.1 Desain Penelitian................................................................. p.10

Referensi

Outline : SIMPULAN DAN SARAN

Pindai kode QR dengan aplikasi 1PDF
untuk diunduh sekarang

Instal aplikasi 1PDF di