• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENYERAPAN ANGGARAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI PEMODERASI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENYERAPAN ANGGARAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI PEMODERASI"

Copied!
134
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PERENCANAAN ANGGARAN DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP

PENYERAPAN ANGGARAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI PEMODERASI

THE EFFECT OF BUDGET PLANNING AND HUMAN RESOURCE COMPETENCE ON BUDGET ABSORPTION WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT AS MODERATOR

MUHAMMAD IQBAL

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

(2)

ii

PENGARUH PERENCANAAN ANGGARAN DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP

PENYERAPAN ANGGARAN DENGAN KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI PEMODERASI

THE EFFECT OF BUDGET PLANNING AND HUMAN RESOURCE COMPETENCE ON BUDGET ABSORPTION WITH ORGANIZATIONAL COMMITMENT AS MODERATOR

sebagai persyaratan untuk memperoleh gelar Magister

disusun dan diajukan oleh

MUHAMMAD IQBAL P3400215007

kepada

PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2018

(3)
(4)

iv Yang bertanda tangan di bawah ini :

Nama : MUHAMMAD IQBAL

NIM : P3400215007

Jurusan/Program Studi : Magister Akuntansi

menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa tesis yang berjudul:

PENGARUH PERENCANAAN ANGGARAN DAN KOMPETENSI SUMBER DAYA MANUSIA TERHADAP PENYERAPAN ANGGARAN DENGAN

KOMITMEN ORGANISASI SEBAGAI PEMODERASI

adalah karya ilmiah saya sendiri dan sepanjang pengetahuan saya di dalam naskah tesis ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah diajukan/ditulis/

diterbitkan sebelumnya, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.

Apabila di kemudian hari ternyata di dalam naskah tesis ini dapat dibuktikan terdapat unsur-unsur jiplakan, saya bersedia menerima sanksi atas perbuatan tersebut dan diproses sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku (UU No. 20 Tahun 2003, pasal 25 ayat 2 dan pasal 70).

Makassar, Januari 2018 Yang membuat pernyataan,

MUHAMMAD IQBAL

(5)

v

Alhamdulillah kita panjatkan kepada Allah Subhanahu Wa Taala karena atas berkat dan karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan tesis ini.

Tesis ini merupakan syarat untuk mencapai gelar Magister Sains (M.Si) pada Program Pendidikan Magister Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin Makassar.

Tesis ini membutuhkan proses yang panjang dalam penyelesaiannya.

Untuk itu peneliti mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu terselesaikannya tesis ini. Ucapan terima kasih peneliti sampaikan kepada Bapak Drs. Harryanto, M.Com.,Ph.D dan Ibu Dr. Andi Kusumawati, SE.,Ak.,M.Si.,CA sebagai tim penasihat atas waktu yang telah diluangkan untuk membimbing, memotivasi, dan memberi bantuan literatur, serta diskusi-diskusi panjang yang telah dilakukan. Begitupun ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada Ibu Prof. Dr. Mediaty, SE.,Ak.,M.Si.,CA dan Ibu Dr. Nirwana, SE.,Ak.,M.Si.,CA serta kepada Bapak Dr. Tawakkal, SE.,Ak.,M.Si.,CA selaku tim penguji/penilai atas waktu yang diluangkan untuk memberikan masukan- masukan yang membangun dalam rangka penyelesaian tesis ini. Ucapan terima kasih juga peneliti tujukan kepada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar yang telah memberi izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian dibeberapa Satuan Kerja Pemerintah Daerah.

Terima kasih yang besar juga penulis ucapkan kepada teman-teman seperjuangan Mahasiswa Magister Akuntansi Unhas Angkatan 2015 atas kekompakannya yang senantiasa saling membantu saat menemui kesulitan dan saling berbagi pengalaman serta dukungan semangat terutama bagi peneliti.

Insyaa Allah buah dari perjuangan kita hari ini akan menjadi bekal untuk lebih baik dihari esok.

(6)

vi

telah memberikan pengorbanan yang cukup besar serta telah mendoakan, memberi inspirasi, serta memberikan dukungan dan kasih sayangnya, baik moril dan materil selama penulis menempuh pendidikan magister ini.

Akhir kata dengan segala hormat dan kerendahan hati, peneliti menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kata sempurna, untuk itu peneliti mengharapkan kritikan serta saran untuk kesempurnaan tesis ini. Semoga tesis ini bermanfaat bagi pembaca dan pihak-pihak yang membutuhkan.

Makassar, Januari 2018

MUHAMMAD IQBAL

(7)

vii

MUHAMMAD IQBAL. Pengaruh Perencanaan Anggaran dan Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap Penyerapan Anggaran dengan Komitmen Organisasi sebagai Pemoderasi (dibimbing oleh Harryanto dan Andi Kusuma).

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh perencanaan anggaran dan kompetensi sumber daya manusia terhadap penyerapan anggaran, baik secara langsung maupun melalui komitmen organisasi sebagai variabel moderasi pada Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data primer. Sampel sebanyak 96 responden. Responden tersebut merupakan aparatur pengelola anggaran, yaitu kepala satuan kerja selaku pengguna anggarankepala bagian keuangan, kepala bagian perencanaan, dan bendahara pengeluaran pada setiap satuan kerja sebanyak 25 satuan kerja Pemerintah kabupaten Polewali Mandar.

Pengumpulan data dilakukan melalui survei dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden. Data dianalisis dengan menggunakan analisis multiple regression (regresi berganda) dan moderated regression analysis (MRA) dengan alat bantu statistical package for the social sciences (SPSS).

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa perencanaan anggaran dan kompetensi sumber daya manusia berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat penyerapan anggaran. variabel komitmen organisasi tidak memoderasi hubungan perencanaan anggaran dengan penyerapan anggaran. namun mampu memoderasi hubungan kompetensi sumber daya manusia terhadap penyerapan anggaran.

Kata Kunci: perencanaan anggaran, kompetensi SDM, penyerapan anggaran, komitmen organisasi

(8)

viii

MUHAMMAD IQBAL. The Effect of Budget planning and the Competence of the Human Resources on the Budget Absorption with the Organizational Commitment as the Moderate (supervised by Harryanto dan Andi Kusuma).

This research aimed to investigate the effects of the budget planning and the competence of the human resources on the budget absorption either directly or through the organizational commitment as the moderating variable in the Government of Polewali Mandar Regency.

The research used the qualitative opproach. The data used were the primary data. The 96 samples as respondents were chosen using the purposive sampling technique. Those respondent were the apparaturs of budget management, namely the head of work unit as the user of budget, the head of financial departement, the head of planning and the treasurers of each work unit in the work units of the Regional Government of Polewali Mandar Regancy. the method of the data collection was the survey using the questionnaires distributed to the respondents. The data were then analyzed using the multiple Regression analysis and the Moderated regression Analysis (MRA) with the help of the Statistical Package for the Sosial Sciences (SPSS).

The research results indicated that the budget planning and the competence of human resources had positive and signicant effect on the level of the budget absorption. The variable of the organizational commitment did not moderate the budget planning with the budget absorption, though it could moderate the correlation of the competence of the human resources with the budget absorption.

Keywords: planning, budget, competence of human resources, budget absorption, organization commitment

(9)

ix

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN ... iv

PRAKATA ... v

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah... 16

1.3 Tujuan Penelitian... 16

1.4 Kegunaan Penelitian ... 17

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 17

1.4.2 Kegunaan Praktis... 17

1.5 Ruang Lingkup Penelitian... 17

1.6 Sistematika Penulisan ... 18

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 20

2.1 Tinjauan Teori dan Konsep ... 20

2.1.1 Keuangan Publik ... 20

2.1.2 Teori Perilaku Organisasi... 22

2.1.3 Penyerapan Anggaran ... 24

2.1.4 Perencanaan Anggaran ... 26

2.1.5 Kompetensi Sumber Daya Manusia... 30

2.1.6 Komitmen Organisasi... 32

2.2 Tinjauan Empiris... 37

BAB III KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS... 41

3.1 Kerangka Pemikiran ... 41

3.2 Hipotesis... 42

3.2.1 Perencanaan Anggaran terhadap Penyerapan Anggaran... 42

3.2.2 Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap Penyerapan Anggaran ... 45

3.2.3 Komitmen Organisasi memoderasi Perencanaan Anggaran terhadap Penyerapan Anggaran ... 47

3.2.4 Komitmen Organisasi memoderasi Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap Penyerapan Anggaran... 49

(10)

x

4.3 Populasi dan Sampel... 52

4.4 Jenis dan Sumber Data ... 53

4.5 Metode Pengumpulan Data... 53

4.6 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 54

4.6.1 Variabel Penelitian ... 54

4.6.2 Definisi Operasional ... 54

4.7 Instrumen Penelitian... 58

4.8 Teknik Analisis Data ... 58

4.8.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 58

4.8.2 Uji Kualitas Data... 59

4.8.3 Uji Asumsi Klasik... 60

4.8.4 Model Analisis Data ... 61

4.8.5 Pengujian Hipotesis ... 62

BAB V HASIL PENELITIAN ... 64

5.1 Karakteristik Responden Penelitian... 64

5.2 Statistik Deskriptif ... 66

5.3 Uji Kualitas Data ... 74

5.4 Uji Asumsi Klasik ... 76

5.5 Uji Hipotesis... 78

BAB VI PEMBAHASAN... 85

6.1 Perencanaan Anggaran berpengaruh positif signifikan terhadap Penyerapan Anggaran ... 85

6.2 Kompetensi Sumber Daya Manusia berpengaruh positif signifikan terhadap Penyerapan Anggaran ... 86

6.3 Komitmen Organisasi memperkuat hubungan Perencanaan Anggaran dengan Penyerapan Anggaran ... 88

6.4 Komitmen Organisasi memperkuat hubungan Kompetensi Sumber Daya Manusia dengan Penyerapan Anggaran ... 91

BAB VII PENUTUP ... 94

7.1 Kesimpulan... 94

7.2 Implikasi... 95

7.3 Keterbatasan Penelitian ... 96

7.4 Saran ... 96

DAFTAR PUSTAKA ... 97

(11)

xi

Tabel Halaman

1.1 Pencairan Anggaran Belanja Pemerintah Kabapaten Polewali

Mandar Tahun 2012-2015 ... 6

1.2 Persentase Kemiskinan Sulawesi Barat Tahun 2011-2015 ... 8

2.1 Review Penelitian Terdahulu ... 37

4.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 57

5.1 Karakteristik Responden ... 64

5.2 Deskripsi Kuesioner Penelitian ... 65

5.3 Statistik Deskriptif ... 67

5.4 Ikhtisar Rentang Skala ... 69

5.5 Deskripsi item Pertanyaan Variabel Perencanaan Anggaran (X1) ... 69

5.6 Deskripsi item Pertanyaan Variabel Komptensi SDM (X2) ... 71

5.7 Deskripsi item Pertanyaan Variabel Komitmen Organisasi (M) ... 72

5.8 Deskripsi item Pertanyaan Variabel Penyerapan Anggaran (Y) ... 73

5.9 Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian ... 75

5.10 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian ... 76

5.11 Hasil Uji one-Sample Kolmogorov-Smirnov Test ... 77

5.12 Hasil Uji Asumsi Multikolinearitas ... 77

5.13 Hasil Uji Hipotesis Pertama ... 78

5.14 Hasil Uji Hipotesis Kedua ... 80

5.15 Hasil Uji Hipotesis Ketiga ... 81

5.16 Hasil Uji Hipotesis Keempat ... 82

(12)

xii

Gambar Halaman

3.1 Kerangka Pemikiran ... 42

(13)

xiii

Lampiran Halaman

1. Kuesioner Penelitian ... 103

2. Analisis Statistik Deskriptif ... 109

3. Uji Validitas dan Realibilitas Instrumen ... 112

4. Uji Asumsi Klasik ... 116

5. Hasil Moderat Analisis Regresi (MRA) dan Pengujian Hipotesis ... 119

(14)

1 1.1 Latar Belakang

Penerapan Undang-undang Nomor 22 tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah atau lebih dikenal dengan Undang-Undang Otonomi Daerah serta Undang-Undang Nomor 25 tahun 1999 yang direvisi menjadi Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah telah menciptakan perubahan yang mendasar terhadap tata pelaksanaan pemerintahan terutama dalam hal pengelolaan keuangan negara, serta menjadi langkah awal kemunculan Otonomi Daerah. Otonomi daerah mengamanahkan pemerintah daerah memiliki kewenangan sendiri dan keberadaannya terpisah dengan otoritas yang diserahkan oleh pemerintah pusat guna mengalokasikan sumber-sumber material yang substansial tentang fungsi-fungsi yang berbeda (Philip Mahwood, 1983). Sejalan dengan pendapat tersebut, Vincent Lemius (1986) juga mengatakan bahwa otonomi daerah merupakan suatu kebebasan atau kewenangan dalam mengambil suatu keputusan politik maupun administratif sesuai dengan yang ada di dalam peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

Penerapan undang-undang tentang Pemerintah Daerah dan undang- undang tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah memberi harapan agar pemerintah mampu meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam menyelenggarakan pemerintahan dengan lebih memperhatikan aspek-aspek hubungan antara susunan pemerintahan dan antara pemerintahan daerah, potensi dan keanekaragaman daerah, serta peluang dan tantangan dalam persaingan global. Selain itu, pemerintah juga

(15)

diharapkan mampu mempercepat laju kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan peran serta masyarakat, dan peningkatan daya saing daerah (Yani, 2013). Lebih sederhana dikatakan oleh Oates (1977) bahwa adanya desentralisasi memungkinkan penyesuaian pelayanan publik dengan permintaan lokal, sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan inovasi, dan menciptakan persaingan antar jurisdiksi.

Dalam rangka penyelenggaraan fungsi daerah otonom tersebut, maka salah satu aspek yang harus diatur secara hati-hati oleh pemerintah daerah adalah masalah anggaran dan pengelolaannya. Secara umum anggaran dapat didefinisikan sebagai rencana terperinci dari pendapatan dan penggunaan sumber daya keuangan dan sumber daya-sumber daya lainnya pada satu periode tertentu (Garrison, Noreen, dan Brewer. 2007). Sedangkan menurut Robert D Lee, et al. (1978) bahwa “Budget a document or a collection of documents that refer to the financial condition of an organization (family, corporation, government), including information on revenues, expenditures, activities, and purposes or goals”.

Sama halnya dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah baik pada tingkat provinsi maupun kabupaten/kota juga merupakan pelaksana pengelolaan anggaran yang dilaksanakan dalam periode satu tahun. Yani (2013) menyatakan bahwa langkah awal dari pengelolaan keuangan daerah meliputi keseluruhan kegiatan seperti perencanaan, pelaksanaan, penatausahaan, pelaporan, pertanggungjawaban, dan pengawasan keuangan daerah. Dalam Permendagri Nomor 13 tahun 2006 disebutkan bahwa segala bentuk Penerimaan Daerah maupun Pengeluaran Daerah harus dicatat dan dikelola dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Penerimaan dan pengeluaran daerah tersebut adalah dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas desentralisasi.

(16)

Tahun anggaran APBD juga mengikuti tahun anggaran APBN yaitu dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember tahun yang bersangkutan. Sehingga pengelolaan, pengendalian, dan pengawasan keuangan daerah dapat dilaksanakan berdasarkan kerangka waktu tersebut. Total pendapatan yang dianggarkan dalam APBD merupakan perkiraan yang terukur secara rasional yang dapat tercapai untuk setiap sumber pendapatan. Pendapatan dapat direalisasikan melebihi jumlah anggaran yang telah ditetapkan.

Sedangkan berkaitan dengan belanja, jumlah belanja yang dianggarkan dalam APBD merupakan batas tertinggi untuk setiap jenis belanja. Belanja adalah semua pengeluaran rekening kas umum daerah yang mengurangi saldo anggaran lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah (Erlina, 2008). Sedangkan Permendagri nomor 21 tahun 2011, mendefinisikan belanja daerah sebagai kewajiban pemerintah daerah yang diakui sebagai pengurang nilai kekayaan bersih. Oleh karena itu serapan belanja tidak boleh melebihi jumlah anggaran belanja yang telah ditetapkan. Meskipun demikian bukan berarti capaian penyerapan anggaran belanja diperbolehkan lebih rendah dari yang telah direncanakan. Penyerapan anggaran merupakan rencana sistematis yang berisikan tentang keseluruhan aktivitas dan kegiatan yang berlaku dalam waktu tertentu untuk selanjutnya diwujudkan secara nyata (Mardiasmo, 2009). Secara garis besar penyerapan anggaran yang dimaksud adalah pencapaian dari suatu estimasi yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dipandang pada suatu saat tertentu.

Persoalan penyerapan anggaran melebihi pagu anggaran masih kerap terjadi dibeberapa kementrian maupun lembaga dan satuan kerja pemerintah.

Seperti temuan di Kementrian Perhubungan yaitu terdapat pembengkakan

(17)

anggaran sebesar Rp 5.35 trilliun, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sebesar Rp 1.9 trilliun dan pada Kementrian Kelautan dan Perikanan sebesar Rp. 1.5 trilliun (BPK, 2015). Atas permasalahan ini, kepala BPK menyatakan bahwa serapan belanja yang melebihi batas yang telah ditetapkan akan berdampak buruk terhadap kas pemerintah berupa penambahan biaya yang menyebabkan kerugian dan hutang negara (Poernomo, 2016).

Sedangkan untuk penyerapan belanja yang rendah memiliki resiko lebih luas. BPKP (2011) menjelaskan bahwa penyerapan anggaran yang tidak memenuhi target menyebabkan dana terlambat atau bahkan tidak tersalurkan kepada masyarakat dan tidak tersalurkan kesistem perekonomian, sehingga penerima manfaat tidak sepenuhnya bisa menikmati hasil pembangunan dan pelayanan yang dibiayai oleh anggaran publik. Senada dengan pernyataan tersebut, hasil penelitian dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menyatakan bahwa penyerapan anggaran belanja yang rendah adalah permasalahan serius oleh karena akan memperburuk perekonomian secara umum (Willy, 2013).

Terdapat dua sudut pandang terkait rendahnya penyerapan anggran, yang pertama yaitu jumlah realisasi anggaran pada akhir tahun diperbandingkan dengan jumlah anggarannya dan yang kedua dari segi ketidakproporsionalan serapannya (Halim, 2014). Kondisi penyerapan anggaran yang rendah memperlihatkan adanya permasalahan yang serius dikalangan pengguna anggaran yang selalu saja terulang setiap tahun. Dan apabila dikaji lebih runut, belanja pemerintah memang selalu melonjak drastis dipertengahan sampai akhir triwulan ketiga tahun anggaran. Trennya adalah empat bulan terakhir selalu melonjak dengan sangat tajam (Anfujatin, 2016).

Meskipun dalam kerangka penganggaran berbasis kinerja, tinggi rendahnya penyerapan anggaran bukanlah merupakan target alokasi anggaran

(18)

karena anggaran berbasis kinerja lebih fokus pada kinerja ketimbang penyerapan itu sendiri. Untuk mengukur kinerja suatu kegiatan, yang dilihat adalah output serta outcome-nya. Akan tetapi variabel pendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia sampai saat ini masih lebih didominasi oleh faktor konsumsi, sehingga belanja pemerintah yang merupakan konsumsi pemerintah menjadi pendorong utama percepatan pertumbuhan. Jadi, kegiatan yang langsung menyentuh kepentingan masyarakat, makin awal pelaksanaan kegiatannya maka manfaat serta efek stimulusnya juga akan semakin besar. Dan apabila pelaksanaanya cenderung lambat bahkan hingga akhir tahun, maka yang dirugikan adalah masyarakat, karena manfaat yang akan diterima tertunda (Halim, 2014).

World Bank (2015) menyebut bahwa negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia mempunyai permasalahan yang seragam dalam penyerapan anggaran yang disebut “slow back-loaded”, artinya penyerapan rendah pada awal sampai tengah tahun anggaran, namun melonjak memasuki akhir tahun anggaran. Penumpukan pencairan dana ditriwulan IV merupakan cerminan bahwa penyerapan anggaran tidak sesuai dengan rencana kegiatan yang telah di tetapkan (Syarah, 2016).

Permasalahan “slow back-loaded”, juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, salah satunya terjadi pada kabupaten Polewali Mandar.

Berdasarkan keterangan wakil DPRD provinsi Sulawesi Barat bapak Hasan.S yang mengatakan bahwa secara umum Pemprov Sulawesi Barat dan seluruh kabupaten yang berada dalam lingkup wilayah pemprov Sulawesi Barat memiliki permasalahan yang sama dalam penyerapan anggaran. Sekalipun penyerapan memenuhi target pada akhir tahun, namun persentase capaian terlihat menumpuk diakhir tahun anggaran. Pola semacam ini tentu tidak sehat untuk perekonomian daerah dan kemakmuran masyarakat secara umum. Salah satu kabupaten yang menjadi perhatiannya adalah kabupaten Polewali Mandar yang

(19)

dianggap masih belum mampu mengoptimalkan penyerapan anggaran.

Menurutnya permasalahan seperti ini disebabkan kurang maksimalnya kinerja para satuan kerja daerah (indonesiatimur.co). Berikut hasil pencairan anggaran belanja pemerintah kabupaten Polewali Mandar tahun 2012-2015.

Tabel 1.1 Pencairan Anggaran Belanja Pemerintah Kabupaten Polman tahun 2012-2015

Tahun Triwulan

I II III IV Total

2012 11.8 % 19.3 % 29.4 % 34.2 % 94.7 %

2013 12.3 % 20.2 % 26.2 % 32.6 % 94.3 %

2014 10.1 % 18.8 % 28.0 % 35.8 % 92.7 %

2015 11,5 % 19.4 % 27.4 % 33.1 % 90.4 %

Rata-Rata 11.4 % 19.4 % 27.8 % 34.7 % 93.0 % Sumber: Pemkab Polewali Mandar (Data diolah)

Tabel 1.1 di atas menunjukkan bahwa capaian penyerapan anggaran kabupaten Polewali Mandar memiliki penyerapan yang belum maksimal dan pola penyerapan anggaran dari triwulan ke triwulan belum memenuhi target proporsional. Padahal untuk ukuran penyerapan anggaran triwulan, telah ditargetkan perencanaan penarikan dana untuk tahun 2012 hingga 2015 sebesar 15-20% untuk triwulan pertama, 25-30 untuk triwulan kedua, 25-30 untuk teriwulan ketiga dan 20-25 untuk triwulan keempat.

Merujuk pada rencana target yang telah ditetapkan, terlihat adanya ketidakproporsionalan dalam penyerapan anggaran. Pada data penyerapan 2012 sampai 2015 menunjukkan rata-rata penyerapan pada triwulan pertama hanya sekitar 11,4%, dan triwulan kedua sekitar 19,4. Sekalipun pada triwulan ketiga, penyerapan anggaran cukup ideal dari segi pencapaian tiap triwulan yaitu sebesar 27,8%, akan tetapi secara kumulatif belum menyentuh angka ideal yaitu 70-75%, namun hanya berkisar angka 58,6%. Hal tersebut berarti bahwa anggaran yang akan dicairkan pada triwulan keempat mencapai angka 41,4%

dari total anggaran belanja apabila penyerapan diasumsikan dapat terserap hingga 100%.

(20)

Target yang ditetapkan oleh pemerintah kabupaten Polewali Mandar tersebut, sesuai dengan pola ideal penyerapan anggaran yang dipersyaratkan oleh Dirjen Perbendaharaan Kemenkeu 2015 yaitu 15% untuk triwulan pertama, 20-25% untuk triwulan kedua, 30-35 untuk triwulan ketiga dan 20-30% untuk triwulan keempat. Berdasarkan data Dirjen Perbendaharaan, tren penyerapan anggaran kementrian/lembaga dan pemerintah daerah dari tahun 2009 sampai tahun 2014 pada triwulan pertama hanya berkisar 9,5% dan untuk triwulan kedua sebesar 18,4%. Hal tersebut memaksa terjadinya penumpukan pada triwulan ketiga dan keempat.

Rendahnya capaian penyerapan anggaran, sangat bertentangan dengan prisnsip “the three Es” (Ekonomis, Efesien, Efektif) dalam teori anggaran sektor publik (Jones dan Pendlebury, 1998). Selain itu, hal tersebut juga akan berdampak terhadap perekonomian nasional secara umum. Pertama, tidak berjalannya fungsi kebijakan fiskal dalam rangka peningkatan pertumbuhan ekonomi secara efektif. Kedua, hilangnya manfaat belanja disebabkan anggaran yang telah dialokasikan ternyata tidak semua dapat dimanfaatkan yang berarti terjadi idle money. Ketiga, terlambatnya pelaksanaan program pemerintah terkait dengan penanggulangan kemiskinan. Keempat, penumpukan tagihan pada akhir tahun anggaran yang sangat tidak sehat bagi manajemen kas pemerintah (Seftianova 2013). Terutama untuk jenis belanja barang dan belanja modal.

Belanja tersebut dapat meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarkat melalui peningkatan nilai konsumsi, peningkatan produktifitas tenaga kerja, pengurangan angka kemiskinan dan terwujudnya stabilisasi makro ekonomi (David, 2010). Penelitian Priatno (2013) juga menyimpulkan bahwa apabila penyerapan anggaran yang rendah masih terus berlanjut, hal ini akan mengganggu rencana kinerja kebijakan APBD terhadap perekonomian secara umum dan akan berdampak pula pada pertumbuhan ekonomi, penyerapan

(21)

tenaga kerja, dan pengentasan kemiskinan yang merupakan sasaran kebijakan fiskal secara khusus.

Beberapa dampak yang ditimbulkan oleh rendanhnya penyerapan anggaran yang disebutkan di atas secara nyata dapat dilihat pada kabupaten Polewali Mandar. Seperti halnya persentase angka kemiskinan yang menjadi angka tertinggi dari beberapa kabupaten dalam lingkup wilayah pemprov Sulewesi Barat. Berikut persentase angka kemiskinan kabupaten dalam lingkup wilayah pemprov Sulawesi Barat berdasarkan Badan Pusat Statistik (BPS) provinsi Sulawesi Barat.

Tabel 1.2 Persentase Kemiskinan Sulawesi Barat Tahun 2011-2015

Tahun Kabupaten

Polman Majene Mamasa Mamuju Matra

2011 19.10 % 18.42 % 16.25 % 8.17 % 6.20 %

2012 18.02 % 17.29 % 15.04 % 7.59 % 5.77 %

2013 17.79 % 16.40 % 14.38 % 7.11 % 5.30 %

2014 18.43 % 15.29 % 13.92 % 6.81 % 4.71 %

2015 18.70 % 15.05 % 6.72 %

Sumber: Badan Pusat Statistik (Data Diolah)

Tabel 1.2 di atas menunjukkan bahwa persentase kemiskinan kabupaten Polewali Mandar masih menjadi yang tertinggi di lingkup wilayah pemprov Sulawesi Barat dengan rata-rata 18.4%. Angka tersebut bahkan di atas dari rata- rata presentase angka kemiskinan nasional selama lima tahun terakhir yaitu sebesar 11.61%. Kabupaten Polewali Mandar juga memiliki angka persentase yang fluktuatif dari tahun ketahunnya.

Dampak lain yang banyak dikeluhkan masyarakat adalah infrastruktur jalan dan jembatan yang mengalami penurunan nilai manfaat akibat keterlambatan dalam perbaikan. Beberapa kecamatan dan desa di kabupaten Polewali Mandar seperti Desa Siporaki, Desa Kalumammang, Desa Puppuring, Kecamatan Matangnga, Kecamatan Tutar dan wilayah-wilayah lainnya, masih memiliki infrastruktur jalan dan jembatan yang buruk. Perbaikan yang tertunda dan memakan waktu yang lama menjadi permasalahan tersendiri. Seperti

(22)

keterangan kepala desa siporaki yang mengatakan bahwa jalan utama dan jalan- jalan tani serta jembatan untuk penghubung antar desa dan akses lahan mengalami kerusakan hingga angka 70%. Sementara menurutnya, wilayah- wilayah yang saling terhubung oleh infrastruktur yang bermasalah tersebut memiliki potensi yang cukup tinggi dalam bidang pertanian dan perkebunan.

Akibatnya, masyarakat menjadi merugi oleh karena keuntungan yang diperoleh hampir sama dengan biaya yang harus dikeluarkan dalam mendistribusi hasil panen (parepos.fajar.co.id). Dengan demikian perekonomian masyarakat menjadi tertunda oleh karena hilangnya manfaat secara agregasi yang memengaruhi besarnya tingkat pertumbunhan perekonomian (Herriyanto, 2012).

Selain kemiskinan dan infrastruktur jalan, permasalahan lain seperti pelayanan kesehatan yang dan ketersediaan sarana pendidikan berupa gedung-gedung sekolah yang layak juga masih sering didengungkan oleh masyarakat. Tentu hal- hal semacam ini menjadi tolok ukur tersendiri oleh masyarakat mengenai pengelolaan anggaran yang di percayakan kepada pemerintah namun masih belum bisa dioptimalkan.

Berdasarkah hasil monitoring oleh Dirjen Perbendaharaan pada tahun 2010-2013 yang dilaksanakan terhadap seluruh kantor pembayaran KPPN di seluruh Indonesia, menemukan beberapa faktor tentang rendahnya penyerapan anggaran, antara lain yaitu tahap perencanaan yang buruk (Setyanova, 2013).

Hasil survei tersebut kemudian dipertegas oleh hasil laporan Dirjen Perimbangan Keuangan pada tahun 2013 yang menyatakan bahwa besar kecilnya tingkat penyerapan belanja daerah dalam mendanai pelayanan publik sangat dipengaruhi oleh proses perencanaan anggaran, oleh karena tahap perencanaan yang tidak maksimal merupakan hambatan yang signifikan yang dapat mencegah penyerapan anggaran. Kedua pernyataan di atas juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Imam Dwi Kuswoyo yang menunjukkan bahwa

(23)

penyebab utama penumpukan penyerapan anggaran belanja salah satunya disebabkan oleh perencanaan anggaran yang kurang maksimal.

Pada dasarnya, perencanaan (planning) merupakan proses yang diawali dengan penetapan tujuan berupa penentuan strategi untuk pencapaian tujuan secara menyeluruh serta perumusan sistem perencanaan untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi, hingga tercapainya tujuan tersebut (Robbins dan Coulter, 2002 dalam Bastian, 2010).

Sementara itu Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 Pasal 1 ayat (1) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

Tahap perencanaan anggaran pemerintah daerah dikoordinir oleh satuan kerja daerah, sementara untuk tahap penganggaran dikelola oleh Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Setiap tahun, penyusunan APBD dimulai dari penyusunan RKPD dengan menyiapkan rancangan kebijakan umum, program indikatif, dan pagu indikatif. Rancangan RKPD ini selanjutnya disampaikan ke DPRD untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan. Setelah disepakati bersama dengan DPRD, maka kebijakan umum anggaran serta program prioritas dan plafon anggaran sementara yang telah disahkan, akan menjadi dasar bagi satuan kerja untuk menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA). RKA ini selanjutnya digunakan untuk menyusun RAPBD yang kemudian wajib disampaikan ke DPRD untuk dibahas dan diperbaiki sebelum disetujui untuk ditetapkan menjadi APBD (PP No 58 tahun 2005).

Prinsip anggaran yang diterapkan oleh pemerintah adalah anggaran berbasis kinerja, yaitu penyusunan anggaran yang didasarkan pada target kinerja yang ditetapkan terlebih dahulu. Idealnya kegiatan yang direncanakan merupakan kegiatan yang benar-benar dibutuhkan baik dari segi jenis maupun

(24)

jumlahnya dalam rangka memenuhi tugas pokok dan fungsi organisasi sehingga diharapkan dapat meminimalisir deviasi antara kebutuhan dengan jenis dan jumlah kegiatan yang dicantumkan dalam RKA (Anfujatin, 2016). Beberapa satuan kerja di kabupaten Polewali Mandar masih kesulitan dalam menerapkan prinsip tersebut, terbukti dengan sorotan yang dilayangkan oleh ikatan akademisi Universitas Sulawesi Barat (UNSULBAR) yang mengemukakan bahwa terdapat beberapa kegiatan yang dianggarkan dalam perencanaan yang tidak berdampak langsung pada masyarakat kecil sehingga perencanaan yang dilakukan terkesan kurang serius dan kurang memikirkan masyarakat (terassulbar.co. 2016).

Permasalahan lain yang sering muncul adalah penetapan anggaran oleh pemerintah daerah dan DPRD yang terlalu lama sehingga waktu pelaksanaan program/kegiatan ikut bergeser dari waktu yang telah ditetapkan sehingga secara otomatis akan memangkas periode penyerapan (Nina et.al, 2016). Seperti halnya yang terjadi pada TAPD Polewali Mandar yang tidak kunjung menemukan titik temu dengan Banggar DPRD. Permasalahan yang terjadi disebabkan oleh ketidaksesuaian jumlah anggaran yang direncanakan oleh pihak pemerintah dengan apa yang menjadi keinginan DPRD pada belanja tertentu sehingga mengakibatkan keterlambatan pengesahan anggaran untuk periode anggaran 2016 (radarsulbar, 2016).

Pada dasarnya harapan penyerapan anggaran yang maksimal tanpa dibarengi dengan perencanaan anggaran yang baik dapat dikatakan sebagai suatu hal yang hampir mustahil akan terwujud (Halim, 2014). Yunarto (2011) juga mengemukakan bahwa, perencanaan anggaran yang buruk sering menimbulkan hambatan dalam pelaksanaannya, sehingga harus direvisi atau bahkan tidak dapat direalisasikan sama sekali.

Selain perencanaan, kapasitas sumber daya manusia (SDM) juga merupakan unsur utama dalam pengelolaan anggaran. SDM merupakan

(25)

rancangan sistem-sistem formal dalam suatu organisasi untuk memastikan penggunaan bakat manusia secara efektif dan efisien guna mencapai tujuan organisasi (Mathis dan Jackson, 2006). SDM menjadi unsur utama dalam setiap aktivitas yang dilakukan, dengan kompetensi berupa pengalaman dan motivasi yang dimiliki menjadikan SDM sebagai faktor kunci dalam pengelolaan anggaran (Zarianah, 2015). Kompetensi SDM memang mutlak diperlukan agar pengelolaan anggaran dapat terlaksana dengan baik karena SDM yang buruk menjadikan pengelolaan anggaran buruk dan berakibat terlambatnya realisasi anggaran (Nina et al. 2016).

Senada dengan itu, hasil penelitian Sutiono (1997) juga menemukan bahwa faktor yang memengaruhi lambatnya daya serap keuangan, salah satunya disebabkan karena kualitas SDM yang terlibat dalam pengelolaan belum memadai dan belum tersebar secara merata sesuai kebutuhan daerah. Kondisi seperti ini dapat dilihat dari masih adanya pejabat yang tidak teliti dalam menyusun perencanaan dan penganggaran. Pejabat tersebut hanya mengusulkan program pembangunan, namun tidak mengetahui situasi sebenarnya yang ada di lapangan. Ketika anggaran sudah disahkan maka terjadi kesulitan untuk merealisasikan karena terdapat berbagai kendala lapangan (Halim, 2014). Permasalahan yang sama juga diutarakan oleh anggota DPRD Kabupaten Polewali Mandar dari fraksi PAN yaitu bapak Jamar Jasin Badu yang menjelaskan bahwa masih banyak pejabat pada satuan kerja yang belum cermat membedakan antara jenis belanja yang dialokasikan, sehingga belanja modal kabupaten Polewali Mandar masih sangat minimalis dari total biaya pembangunan yang ada (antaranews.com, 2016).

Permasalahan utama lainnya adalah kurangnya pejabat yang memenuhi kualifikasi sesuai dengan regulasi seperti dalam pengadaan barang/jasa. Hal ini menyebabkan seorang pejabat dipaksa untuk mengerjakan banyak kegiatan

(26)

yang bahkan tidak sesuai dengan tugas pokoknya. Seperti keterangan salah seorang pegawai dari dinas pendidikan kabupaten Polewali Mandar yang mengemukakan bahwa terdapat beberapa pegawai yang terpaksa rangkap jabatan, dan disisi lain ada pula yang ditempatkan tidak sesuai dengan spesifikasi keilmuan dan keahliannya.

Hakekatnya dalam suatu organisasi baik organisasi private maupun organisasi public, kedudukan manusia merupakan unsur utama yang memiliki karakteristik seperti kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan, kebutuhan, dan pengalaman. Komponen karakteristik inilah yang kemudian membentuk perilaku seseorang dan akan menggerakkan serta membawa organisasi untuk mencapai tujuan (Thoha, 2011). Setiap organisasi mutlak membangun SDM yang profesional dan memiliki kompetensi yang tinggi. SDM yang kompeten merupakan keunggulan tersendiri dalam suatu organisasi sekaligus sebagai pendukung daya saing organisasi pada era globalisasi dalam menghadapi lingkungan kerja serta kondisi sosial masyarakat yang mengalami perubahan yang dinamis (David, 2016). Ditambah dengan adanya regulasi/aturan sebagai pedoman dalam bekerja yang memerlukan pemahaman terhadap aturan yang mengikat dan menyesuaikan kebijakan-kebijakan yang diambil dengan aturan yang ada (Putri, 2014).

Beberapa penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa perencanaan anggaran dan sumber daya manusia (SDM) berpengaruh pada keterlambatan perencanaan anggaran dan sumber daya manusia (SDM) berpengaruh pada keterlambatan penyerapan anggaran dilaksanakan oleh Dwi Kuswoyo (2011), Hendris Herriyanto (2012), Mashudi Adi Nugroho (2013), Monik Zarinah (2015), Cut Malahayati (2015), Eko Suryanto (2015), Nina et al. (2016), Ledy et al.

(2016) dan Anfujatin (2016). Akan tetapi, hasil penelitian yang menyatakan bahwa faktor perencanaan berpengaruh pada penyerapan anggaran ternyata

(27)

tidak didukung oleh hasil penelitian Ratih Seftianova (2013), Helmy Adam (2013) dan Ahmad Rifai (2016) yang menyatakan sebaliknya, bahwa perencanaan tidak terdapat pengaruh terhadap penyerapan anggaran. Begitupun yang diungkapkan Prasetyo Adi Priatno (2013), Biana (2016) dan Ahmad Rifai (2016) yang menyatakan bahwa faktor sumber daya manusia tidak mempunyai pengaruh terhadap penyerapan anggaran.

Merujuk pada berbagai ulasan hasil penelitian sebelumnya, dimana terdapat ketidakkonsistenan hasil yang memengaruhi faktor perencanaan anggaran dan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pada penyerapan anggaran. Sehingga diduga terdapat faktor lain yang bersifat situasional yang saling berinteraksi dalam memengaruhi satu situasi tertentu. Dimana faktor tersebut mampu memperkuat ataupun melemahkan hubungan atau menjelaskan kedudukan faktor-faktor lainnya. Salah satu faktor yang diyakini mampu memengaruhi hubungan tersebut adalah komitmen organisasi.

Allen dan Meyer (1991) mendefinisikan komitmen organisasi sebagai suatu kondisi psikologis yang menggambarkan hubungan anggota organisasi (pegawai/karyawan) dengan organisasinya dan memiliki implikasi terhadap keputusan individu untuk melanjutkan atau tidak keanggotannya dalam berorganisasi. Komitmen organisasional juga merupakan identifikasi dan keterlibatan seseorang yang relatif kuat terhadap organisasi dan bersedia serta berusaha keras bagi pencapaian tujuan organisasi (Mowday, 1982). Singkatnya, Lincoln (1994) menyebutkan bahwa komitmen organisasional mencakup kebanggaan anggota, kesetiaan anggota, dan kemauan anggota pada organisasi. Tingginya komitmen organisasi yang dimiliki oleh seseorang akan menimbulkan rasa tanggungjawab yang tinggi pula (Fatimah, 2012).

Sementara itu, dalam konsep penganggaran sektor publik disebutkan bahwa salah satu karakteristik yang wajib dimiliki oleh pemerintah selaku

(28)

pengelola anggaran adalah komitmen yang tinggi terhadap nilai, tujuan dan fungsi organisasi pemerintah. Dengan adanya komitmen, teori anggaran sektor publik meyakini akan lebih memudahkan dalam pencapain target pemerintah.

Selanjutnya, Merchant (1981) mengemukakan bahwa kadar komitmen organisasi yang baik yang dimiliki pengelola anggaran, akan sangat memungkinkan para pengelola lebih mudah dalam mengkomunikasikan, mengungkapkan serta memberikan informasi lokal (pribadi) yang diketahui untuk dimasukkan dalam standar atau sebagai dasar penilaian sebuah anggaran.

Hasil penelitian yang dilakukan Nouri dan Parker (1996) menyimpulkan bahwa semakin tinggi komitmen organisasi seorang individu maka semakin tinggi kerelaan dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Ratifah dan Ridwan (2012) juga menyatakan bahwa kepercayaan dari seseorang terhadap nilai-nilai organisasi, dan kerelaan seseorang untuk mendukung dalam merealisasikan tujuan organisasi serta kesetiaan untuk tetap menjadi bagian organisasi merupakan unsur-unsur yang merupakan dasar dari komitmen organisasi.

Anggota organisasi akan merasa senang dalam bekerja jika merasa terikat dengan nilai dan tujuan organisasi, hal ini akan berdampak pada tanggung jawab dan kesadaran yang dimiliki anggota dalam menjalankan organisasi (Randall, 1990).

Fenomena mengenai penyerapan anggaran yang belum maksimal dan belum proporsional merupakan hal yang setiap tahun terjadi, sehingga perlu suatu kajian penelitian untuk mengetahui penyebab tersebut. Penelitian ini terinspirasi oleh penelitian yang dilakukan oleh Eko Saryanto (2017). Penelitian tersebut meneliti tentang faktor-faktor yang memengaruhi penyerapan anggaran pada salah satu SKPD di kota Palu. Hal yang menjadi pembeda pada penelitian ini adalah ditambahkannya variabel moderasi yaitu komitmen organisasi yang diduga mampu memperkuat penjelasan hubungan variabel-variabel yang ada.

(29)

Pada penelitian sebelumnya hanya dilakukan pada satu SKPD saja, namun pada penelitian ini mengambil beberapa SKPD yang berada dalam lingkup pemerintah kabupaten Polewali Mandar.

Berdasarkan latar belakang dan fenomena tersebut di atas, maka peneliti tertarik untuk menguji kembali faktor-faktor yang memengaruhi keterlambatan penyerapan anggaran yaitu faktor perencanaan anggaran dan faktor kompetensi sumber daya manusia dengan judul “Pengaruh Perencanaan Anggaran dan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Penyerapan Anggaran dengan Komitmen Organisasi sebagai Pemoderasi”

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan sebelumnya, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah Perencanaan Anggaran berpengaruh terhadap tingkat Penyerapan Anggaran?

2. Apakah Kompetensi Sumber Daya Manusia berpengaruh terhadap tingkat Penyerapan Anggaran?

3. Apakah Komitmen Organisasi dapat memoderasi hubungan Perencanaan Anggaran terhadap tingkat Penyerapan Anggaran?

4. Apakah Komitmen Organisasi dapat memoderasi hubungan Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap tingkat Penyerapan Anggaran?

1.3 Tujuan Penelitian

Bedasarkan latar belakang dan rumusan masalah yang telah dipaparkan, maka tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menguji dan menganalisis:

1. Pengaruh Perencanaan Anggaran terhadap tingkat Penyerapan Anggaran.

2. Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap tingkat Penyerapan Anggaran.

(30)

3. Kemampuan Komitmen Organisasi dalam memoderasi pengaruh Perencanaan Anggaran terhadap tingkat Penyerapan Anggaran pemerintah.

4. Kemampuan Komitmen Organisasi dapat memoderasi pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia terhadap tingkat Penyerapan Anggaran pemerintah.

1.4 Kegunaan Penelitian

Penelitian ini dapat memiliki kegunaan sebagai berikut:

1.4.1 Kegunaan Teoritis

1. Memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, secara umum pada bidang ilmu akuntansi dan secara khusus pada bidang sektor publik (keuangan/anggaran).

2. Memberikan tambahan informasi kepada penelitian di bidang akuntansi dan dibidang sektor publik khususnya mengenai variabel Perencanaan Anggaran, Kompetensi Sumber Daya Manusia, Komitmen Organisasi dan Keterlambatan Penyerapan Anggaran.

1.4.2 Kegunaan Praktis

1. Guna menambah pengetahuan dalam bidang penelitian mulai dari pengumpulan data, pengolahan data hingga penyajian dalam bentuk laporan.

2. Bagi pemerintah Kabupaten Polewali Mandar, diharapkan dapat digunakan sebagai sumbang saran bagi pemerintah daerah dalam mencapai tingkatan penyerapan anggaran pemerintah.

3. Bagi akdemik, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi pada penelitian selanjutnya.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada 25 Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam lingkup pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dengan fokus

(31)

penelitian pada aparat yang terlibat langsung dalam pengelolaan keuangan/anggaran, yaitu; Kepala SKPD, Kepala Bidang Keuangan, Kepala Bidang Perencanaan dan Bendahara Pengeluaran pada masing-masing SKPD.

1.6 Sistematika Penulisan

Bab I Pendahuluan, menguraikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, ruang lingkup penelitian, dan sistematika penulisan, bab ini berisi tinjauan secara umum perencanaan penelitian yang akan dilakukan.

Bab II Tinjauan Pustaka, menguraikan teori dan konsep serta tinjauan empiris. Bab ini membahas mengenai teori yang manjadi dasar dalam proses meneliti. Peneliti mengkajinya dari berbagai sumber baik penelitian-penelitian terdahulu sehubungan dengan judul sehingga menghasilkan hipotesis dan digambarkan di kerangka pikir berupa alur penelitian yang akan dilakukan peneliti.

Bab III Kerangka Konseptual dan Hipotesis, menguraikan kerangka konseptual dan proses penurunan hipotesis penelitian. Bab ini menjelaskan mekanisme pembentukkan hipotesis berdasarkan konsep penurunan logis.

Bab IV metode Penelitian, menguraikan rancangan penelitian, lokasi dan waktu penelitian, populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, sumber data, metode pengumpulan data, variabel penelitian dan definisi operasional serta teknik analisis data.Bab ini menjelaskan teknik pengolahan data sampai pada penggunaan alat analisis yang digunakan peneliti.

Bab V hasil penelitian, menguraikan deskripsi data dan deskripsi hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan metode dan prosedur yang diuraikan dalam metodologi penelitian yang terdiri atas paparan data yang disajikan

(32)

dengan topik sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian dan hasil analisis data.

Bab VI pembahasan, menguraikan dan membahas hasil analisis data penelitian sebagai dasar dalam menarik kesimpulan.

Bab VII penutup. menguraikan mengenai kesimpulan, implikasi dan keterbatasan penelitian serta saran dari pembahasan yang dilakukan terhadap hasil yang diperoleh dari penelitian

(33)

20

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Teori dan Konsep 2.1.1. Keuangan Publik

Keuangan publik merupakan bagian dari ilmu ekonomi yang mempelajari tentang aktivitas finansial pemerintah. Glen A. Welsch, et.al (2000), menjelaskan bahwa keuangan publik merupakan suatu bentuk pernyataan dari sebuah rencana dan juga kebijaksanaan. Kebijaksanaan tersebut menyangkut manajemen yang digunakan dalam periode tertentu, yaitu petunjuk dalam periode tersebut. Sementara menurut Suparmoko (1992), bahwa keuangan publik merupakan suatu ilmu tentang pengaruh-pengaruh dari anggaran penerimaan dan belanja negara (publik) terhadap perekonomian, terutama pengaruh terhadap pencapaian tujuan-tujuan kegiatan ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, distribusi pendapatan yang lebih merata, peningkatan efisiensi serta penciptaan kesempatan kerja. Dengan demikian, Otto Eckstein (1990) menulis bahwa keuangan publik merupakan studi tentang dampak anggaran terhadap ekonomi, terutama pengaruhnya terhadap pencapaian objek ekonomi utama seperti pertumbuhan, stabilitas, keadilan dan efisiensi.

Pada dasarnya, keuangan publik menjelaskan belanja publik dan teknik- teknik yang digunakan oleh pemerintah untuk membiayai belanja tersebut.

Keuangan publik juga menganalisis pengeluran-pengeluaran publik untuk membantu dalam memahami mengapa jasa tertentu harus disediakan oleh negara dan mengapa pemerintah menggantungkannya pada jenis-jenis pajak tertentu. Keuangan publik juga mempelajari proses pengambilan keputusan oleh pemerintah, karena setiap keputusan mempunyai pengaruh pada ekonomi dan

(34)

keuangan rumah tangga dan swasta. Sehingga, penting untuk mengembangkan model-model perekonomian yang membantu menjelaskan arti alokasi sumber daya yang efisien atau optimal, arti keadilan, dan antisipasi akibat finansial maupun ekonomi atas suatu keputusan publik. Dengan demikian, fokus keuangan publik adalah mempelajari pendapatan dan belanja pemerintah dan menganalisis implikasi dari kegiatan pendapatan dan belanja pada alokasi sumber daya, ditribusi pendapatan, dan stabilitas ekonomi.

Hakekatnya, tujuan utama keuangan publik adalah mengatur sektor- sektor penting negara (industri, pertanian, perdagangan luar negeri dan transportasi) dan untuk memfasilitasi kegiatan ekonomi pemerintah dan sektor swasta. Menyediakan layanan dasar kepada masyarakatnya seperti pembelaan, pemeliharaan hukum dan ketertiban, perlindungan kehidupan dan harta benda.

Menyediakan layanan sosial bagi masyarakat, pendidikan, perawatan kesehatan dan jaminan sosial. Memastikan stabilitas ekonomi dan mencapai tingkat pembangunan yang wajar untuk menunjukkan prioritas investasi.

Bahasan keuangan publik dimulai dari kondisi dan alasan perlunya peran pemerintah dalam perekonomian. Hal ini menyangkut adanya eksternalitas yang perlu dikendalikan pemerintah, adanya barang publik yang perlu disediakan oleh pemerintah, adanya mekanisme pasar yang perlu diintervensi pemerintah karena berbagai alasan, perlunya pencapaian kondisi stabil dalam ekonomi dimana peran pemerintah sangat dominan, dan sebagainya. Kemudian, bahasan keuangan publik mencakup masalah-masalah kreasi memperoleh pendapatan yang dilakukan oleh pemerintah. Sumber pendapatan pemerintah dapat mencakup pajak dan non pajak. Selanjutnya keuangan publik akan membahas aspek belanja publik yang merupakan aktivitas utama pemerintah dalam penyediaan barang dan jasa publik untuk kesejahteraan masyarakat. Contoh belanja pemerintah meliputi kesehatan, pendidikan dan pertahanan, dimana

(35)

bahasan tersebut akan dihubungkan dengan aspek efisiensi penyediaan jasa tersebut.

Aspek pembiayaan merupakan bahasan keuangan publik berikutnya.

Secara tipikal, pemerintah perlu memberikan stimulus pada perekonomian melalui kebijakan belanjanya yang mengalami pertumbuhan dari waktu ke waktu, dimana belanja tersebut dapat didanai oleh pendapatan yang dihasilkan dari kegiatan pemerintah. Bahasan keuangan publik yang terakhir menyangkut kegiatan analisis hubungan antara kebijakan pemerintah dengan perekonomian yang dikelola oleh rumah tangga dan swasta.

Implikasi keuangan publik terhadap penelitian ini, dapat menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar sebagai suatu lembaga pemerintahan akan senantiasa berupaya menjalankan pemerintahan dengan pengembangan teknik-teknik ekonomi demi mengoptimalkan pendapatan dan merealisasikan alokasi belanja secara cepat dan merata guna menjaga stabilitas ekonomi secara khusus dan menjamin ketersediaan pelayanan dasar terhadap masyarakat.

2.1.2 Perilaku Organisasi

Teori perilaku organisasi merupakan suatu disiplin ilmu yang mempelajari mengenai perilaku individu dan tingkat kelompok dalam organisasi serta dampak terhadap kinerja, baik kinerja organisasi, kinerja kelompok ataupun kinerja secara individual. Perilaku organisasi juga dikenal sebagai studi tentang organisasi.

Studi tersebut merupakan bidang telaah akademik khusus yang mempelajari organisasi, dengan memanfaatkan metode-metode dari sosiologi, ekonomi, ilmu politik, antropologi serta psikologi.

Menurut Stephen P. Robbins dan Timothy A. Judge (2008), perilaku organisasi adalah bidang studi yang menyelidiki pengaruh yang dimiliki oleh

(36)

individu, kelompok dan struktur terhadap perilaku dalam organisasi, yang bertujuan menerapkan ilmu pengetahuan guna meningkatkan keefektifan suatu organisasi. Adapun yang dikemukakan oleh Kelly dalam Thoha (2014) bahwa perilaku organisasi merupakan sebagai suatu sistem studi dari sifat organisasi seperti misalnya bagaimana organisasi dimulai, tumbuh dan berkembang dan bagaimana pengaruh terhadap anggota-anggota sebagai individu, kelompok- kelompok pemilih, organisasi-organisasi lainnya dan institusi-institusi yang lebih besar.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa perilaku organisasi adalah hakikat mendasar pada ilmu perilaku itu sendiri yang dikembangkan dengan pusat perhatiannya pada tingkah laku manusia dalam suatu organisasi. Perilaku organisasi juga secara langsung berhubungan dengan pengertian, ramalan dan pengendalian terhadap tingkah laku individu dalam organisasi, dan bagaimana perilaku individu tersebut memengaruhi usaha-usaha pencapaian tujuan organisasi. Kerangka dasar perilaku organisasi didukung minimal dua komponen, yaitu individu yang berperilaku dan organisasi formal sebagai wadah dari perilaku tersebut.

Oleh karena itu, untuk memahami perilaku organisasi sebaiknya diketahui terlebih dahulu individu-individu sebagai pendukung organisasi tersebut. Salah satu cara untuk memahami sifat-sifat manusia ialah dengan menganalisis prinsip- prinsip dasar yang merupakan salah satu bagian dari padanya. Menurut Thoha (2014) bahwa terdapat prinsip-prinsip perilaku dalam berorganisasi antara lain :

a) Manusia berperilaku berdasarkan kemampuan yang dimiliki.

b) Manusia berperilaku berdasarkan kebutuhan.

c) Manusia berperilaku berdasarkan lingkungan yang diketahuinya.

d) Manusia berpikir tentang masa depan, dan membuat pilihan tentang bagaimana bertindak.

(37)

e) Manusia bereaksi terhadap senang atau tidak senang.

f) Sikap dan perilaku manusia ditentukan berbagai faktor internal.

2.1.3 Penyerapan Anggaran

Penyerapan anggaran yang terjadi pada pemerintah pusat maupun pemerintah daerah di indonesia memiliki kondisi yang identik. Diistilahkan oleh World Bank (2005) yaitu lambat di awal tahun namun menumpuk di akhir tahun (slow and back-loaded expenditure). Penyerapan anggaran yang menumpuk pada akhir tahun biasanya belanja yang nonrecurrent, seperti belanja modal dan dana bantuan sosial.

Menurut Halim (2014), bahwa penyerapan anggaran adalah pencapain dari suatu estimasi yang hendak dicapai selama periode waktu tertentu yang dipandang pada suatu saat tertentu (realisasi dari anggaran). Secara lebih mudah, masyarakat umum menyebutnya pencairan anggaran. Oleh karena yang diamati adalah entitas pemerintahan atau organisasi sektor publik, maka penyerapan anggaran dapat diartikan sebagai pencairan atau realisasi anggaran sesuai yang tertera dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA) pada saat tertentu.

Senada dengan pendapat Halim, menurut Kuncoro (2013) bahwa penyerapan anggaran adalah salah satu dari beberapa tahapan dalam siklus anggaran yang dimulai dari perencanaan annggaran, penetapan dan pengesahan anggaran oleh Dewan Perwakilan Rakyat/Daerah (DPR/DPRD), penyerapan anggaran, pengawasan anggaran dan pertanggungjawaban anggaran.

Kinerja manajer publik akan dinilai berdasarkan pada ketercapaian target anggaran, seperti seberapa besar yang berhasil dicapai. Penilaian terhadap kinerja dilakukan dengan menganalisis simpangan kinerja aktual dengan yang dianggarkan” (Mardiasmo, 2009). Sedangkan menurut Lusiana (1997) dalam Adi

(38)

(2013) menyatakan bahwa kemampuan penyerapan anggaran dianggap baik dan berhasil apabila prestasi penyerapan anggaran sesuai dengan prestasi aktual fisik pekerjaan yang dapat diselesaikan dengan anggapan bahwa prestasi fisik aktual pekerjaan tersebut adalah relatif sama dengan target prestasi penyelesaian pekerjaan yang telah direncanakan. Sederhananya, dari pendapat tersebut dapat dikatakan bahwa suatu penyerapan anggaran dikategorikan baik apabila telah dilaksanakan sesuai dengan perencanaan.

Terdapat dua sudut pandang mengenai rendahnya penyerapan anggaran (Halim 2014). Ada pun pendapat tersebut sebagai berikut:

1) Penyerapan anggaran yang dimaksud adalah realisasi anggaran pada akhir tahun dibandingkan dengan anggarannya.

2) Dari segi ketidakproporsionalitasnya penyerapan anggaran.

Selanjutnya menurut Lubis (1993) dalam Shenny (2012), mengatakan bahwa efektivitas penyerapan anggaran lebih menekankan pada pencapaian segala sesuatu yang dilaksanakan berdaya guna yang berarti tepat, cepat, hemat, dan selamat. Adapun penjelasannya sebagai berikut:

1) Tepat, diartikan bahwa apa yang dikehendaki tercapai memenuhi target dan apa yang diinginkan menjadi realitas.

2) Cepat, diartikan bahwa pekerjaan tersebut dapat diselesaikan sesuai atau sebelum waktu yang ditetapkan.

3) Hemat, diartikan bahwa tidak terjadi pemborosan dalam bidang apapun dalam pelaksanaan pekerjaan untuk mencapai tujuan tersebut.

4) Selamat, diartikan bahwa tidak mengalami hambatan-hambatan yang dapat menyebabkan kegagalan sebagian atau seluruh usaha pencapaian tujuan.

(39)

2.1.4 Perencanaan Anggaran

Secara umum perencanaan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang dilakukan untuk masa mendatang yang lebih baik dengan memperhatikan keadaan sekarang maupun keadaan telah lalu. Perencanaan (planning) merupakan proses yang diawali dengan penetapan tujuan organisasi berupa penentuan strategi untuk pencapaian tujuan secara menyeluruh serta perumusan sistem perencanaan yang menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengkoordinasikan seluruh pekerjaan organisasi, hingga tercapainya tujuan tersebut (Robbins dan Coulter, 2002 dalam Bastian, 2010). Perencanaan dapat dilihat dalam tiga kategori, yaitu:

1) Kategori Proses

Perencanaan merupakan suatu proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan cara atau strategi dalam pencapaian tujuan tersebut.

2) Kategori Fungsi Manajemen

Perencanaan berfungsi pada kondisi dimana pimpinan menggunakan pengaruh atau wewenangnya untuk menentukan atau mengubah tujuan serta kegiatan organisasi.

3) Kategori Pengambilan Keputusan

Perencanaan adalah pengambilan keputusan jangka panjang atau yang akan datang mengenai hal yang akan dilakukan, cara pelaksanaan, dan waktu serta pelaku hal tersebut. Dalam perencanaan, keputusan yang diambil belum tentu sesuai dengan tujuan sebelumnya sehingga implementasi perencanaan tersebut akan dibuktikan pada masa yang akan datang.

Pokok dari perencanaan adalah salah satu langkah antisipasi atas kejadian di masa depan berdasarkan tujuan yang telah ditetapkan di awal.

(40)

Perencanaan anggaran adalah salah satu bagian dari perencanaan organisasi, baik untuk organisasi publik maupun organisasi privat.

Menurut Conyers dan Hills dalam Kuncoro (2012), perencanaan diartikan sebagai suatu proses yang berkesinambungan mencakup keputusan-keputusan atau pilihan-pilihan berbagai alternatif penggunaan sumber daya untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu pada masa yang akan datang. Merujuk pada definisi tersebut, terdapat empat elemen dasar perencanaan, yaitu :

1) Merencanakan berarti menentukan pilihan

Hal tersebut dapat diartikan bahwa tahap perencanaan adalah proses pemilihan berbagai sumber daya yang akan digunakan dalam mewujudkan tujuan yang diinginkan.

2) Perencanaan merupakan alat pengalokasian sumber daya

Pada tahap perencanaan dilaksanakan suatu proses alokasi besarnya sumber daya-sumber daya yang digunakan dalam mewujudkan tujuan yang diinginkan. Oleh karena itu pilihan berarti menentukan prioritas pembangunan daerah, baik fokus (sektoral) maupun lokusnya (wilayah).

Lokus memperlihatkan wilayah (kabupaten/kota/kecamatan/kawasan) yang ingin dikerjakan, sedangkan fokus memperhatikan sektor yang menjadi prioritas.

3) Perencanaan adalah alat untuk mencapai tujuan

Tujuan ini tercermin dari target atau ukuran kinerja yang ingin dicapai.

4) Perencanaan untuk masa depan

Diartikan bahwa perencanaan merupakan tahap yang diperlukan dalam menentukan masa depan.

Berbicara tentang perencanaan dan penganggaran anggaran pemerintah, sejak tahun 1990 proses tersebut sudah berubah secara substansial, aspek perubahan dan tuntutan yang mendasar terletak pada pertanggungjawaban dari

(41)

kinerja pemerintah dan ketersediaan dari teknologi informasi (Kelly et al.2008). Di Indonesia, tuntutan perubahan tersebut mulai terasa sejak tahun 1998, dikarenakan adanya tuntutan reformasi yang menuntut untuk diwujudkannya sistem tata kelola pemerintah yang baik. Sehingga Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 menekankan pengintegrasian sistem pertanggungjawaban kinerja kedalam sistem penganggaran. Pasal 14 ayat 2 dan Pasal 19 ayat 2 Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tersebut memaparkan bahwa rencana kerja dan anggaran disusun berdasarkan prestasi kerja (kinerja) yang akan dicapai.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2004 menyebutkan bahwa ketentuan mengenai penyusunan dan penetapan APBD/APBN dalam undang-undang tersebut meliputi penegasan tujuan dan fungsi penganggaran pemerintah, penegasan peran DPR/DPRD dan pemerintah dalam proses penyusunan dan penetapan anggaran, pengintegrasian sistem akuntabilitas kinerja dalam sistem penganggaran, penyempurnaan klasifikasi anggaran, penyatuan anggaran dan penggunaan kerangka pengeluaran jangkamenengah dalam penyusunannn anggaran.

Proses perencanaan dan penyusunan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah, secara garis besar sebagai berikut :

1. Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

Penyusunan RKPD merupakan tahapan awal dalam perumusan APBD.

RKPD merupakan penjabaran dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dengan menggunakan bahan dari Rencana Kerja SKPD untuk jangka waktu 1 (satu) tahun yang mengacu kepada Rencana Kerja Pemerintah Pusat. RKPD tersebut memuat rancangan kerangka ekonomi daerah, prioritas pembangunan dan kewajiban daerah, rencana kerja yang terukur dan pendanaannya, baik yang dilaksanakan

(42)

langsung oleh pemerintah, pemerintah daerah maupun ditempuh dengan mendorong partisipasi masyarakat. RKPD disusun untuk menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan.

2. Penyusunan Kebijakan Umum Anggaran serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara.

Setelah RKPD ditetapkan, Pemerintah daerah perlu menyusun Kebijakan Umum Anggaran (KUA) serta Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) yang kemudian menjadi acuan bagi Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dalam menyusun Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) SKPD. Rancangan KUA memuat target pencapaian kinerja yang terukur dari program-program yang akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah untuk setiap urusan pemerintahan daerah yang disertai dengan proyeksi pendapatan daerah, alokasi belanja daerah, sumber dan penggunaan pembiayaan yang disertai dengan asumsi yang mendasarinya. Kebijakan Umum APBD (KUA)

3. Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS).

Selanjutnya berdasarkan KUA yang telah disepakati, pemerintah daerah menyusun rancangan Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS).

Rancangan PPAS tersebut disusun dengan tahapan; menentukan skala prioritas untuk urusan wajib dan urusan pilihan; menentukan urutan program untuk masing-masing urusan; dan menyusun plafon anggaran sementara untuk masing-masing program.

4. Penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran SKPD (RKA-SKPD)

Selanjutnya menyusun RKA-SKPD yang memuat rencana pendapatan, rencana belanja untuk masing-masing program dan kegiatan, serta rencana pembiayaan untuk tahun yang direncanakan dijabarkan sampai

(43)

dengan penjabaran objek pendapatan, belanja, dan pembiayaan serta prakiraan maju untuk tahun berikutnya. RKA-SKPD juga memuat informasi tentang urusan pemerintahan daerah, organisasi, standar biaya, prestasi kerja yang akan dicapai dari program dan kegiatan.

5. Penyiapan Raperda APBD.

Selanjutnya, berdasarkan pada RKA-SKPD yang telah disusun oleh SKPD dilakukan pembahasan penyusunan Raperda oleh TAPD.

Pembahasan oleh TAPD dilakukan untuk menelaah kesesuaian antara RKA-SKPD dengan KUA, PPA, prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta capaian kinerja, indikator kinerja, kelompok sasaran kegiatan, standar analisis belanja, standar satuan harga, standar pelayanan minimal, serta sinkronisasi program dan kegiatan antar SKPD.

6. Penetapan APBD

Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD yang telah dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD tersebut dilakukan paling lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.

2.1.5 Kompetensi Sumber Daya Manusia

Menurut Spencer dan Spencer (1993), yang dikutip oleh Sutrisno (2009), kompetensi merupakan suatu hal yang mendasari karakteristik dari seorang individu yang dihubungkan dengan hasil yang diperoleh dalam suatu pekerjaan.

Kompetensi juga berkaitan dengan efektifitas kinerja seorang individu dalam

(44)

pekerjaannya. Senada dengan pendapat tersebut, Peraturan Pemerintah Nomor 101 Tahun 2000 pasal 3, menjelaskan bahwa yang dimaksud kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh Pegawai Negeri Sipil (PNS), baik berupa pengetahuan, keterampilan, maupun sikap perilaku yang diperlukan dalam menunjang pelaksanaan tugas dalam jabatannya. Penilaian terhadap pencapaian kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja para karyawan yang ada di dalam sebuah organisasi, dengan bukti penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan, nilai dan sikap sebagai hasil belajar (Sutrisno, 2009).

Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap, dan apresiasi yang harus dimiliki oleh sumber daya manusia dalam sebuah organisasi untuk menunjang keterlaksanaan tugas sesuai dengan yang seharusnya. Oleh karena itu perlu untuk lebih menekan kompetensi apa yang harus dikuasai oleh sumber daya manusia dalam suatu organisasi, agar dapat dinilai sebagai wujud dari hasil pelaksanaan tugas yang memberi dampak secara langsung terhadap pengalaman.

Terdapat tiga komponen utama pembentukan kompetensi (Hutapea dan Thoha, 2008) yaitu:

1) Knowledge (Pengetahuan)

Informasi yang dimiliki seorang individu untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya haruslah sesuai dengan bidang yang digelutinya (tertentu), misalnya akuntansi, anggaran dan pengorganisasian.

2) skill (Kemampuan)

Keahlian yang dimiliki oleh seorang individu untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya standar perilaku

Referensi

Dokumen terkait

Implementasi yang lain dari Location API dimungkinkan untuk mendukung lebih dari sebuah landmark store dan kemudian semua data yang disimpan akan digunakan secara bersama-sama oleh

Indonesia memiliki semua prakondisi untuk mewujudkan visi negara sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, yang

Penelitian ini mendasarkan pendapat dalam literatur analis keuangan yang fokus utamanya adalah pada book-tax differences dimana laba fiskal lebih besar dibanding laba akuntansi

Alat Modified Oveninidirancang agar kualitas dan produktivitas produk meningkat, distribusi api untuk pemasakanlebih merata, distribusi udara panas lebih bagus

(20) Diisi nomor urut dari Buku Rekening Barang Kena Cukai Minuman yang Mengandung Etil Alkohol dalam angka.. (21) Diisi kantor yang mengawasi pengusaha pabrik minuman yang

Patria Anugerah Sejati adalah sebuah perusahaan engineering dan konstruksi di bidang industri Minyak dan Gas Bumi yang didirikan pada tahun 1993 untuk

Sebagaimana kita tau pasar adalah sebuah tempat bertemunya pembeli dengan penjual guna melakukan transaksi ekonomi yaitu untuk menjual atau membeli suatu barang

Semakin tinggi polimer PVP yang digunakan maka dapat meningkatkan proses penyerapan air dan hidrasi dari polimer matriks, sehingga obat akan lebih mudah