DI SMP UNISMUH MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
NURKHORIAH AGUSTIN NIM 105311106217
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN 2021
x
xi
xii
xiii
xiv
Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Andi Sukri Syamsuri dan Pembimbing II Nurindah.
Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui bagaimana pengetahuan guru tentang pemanfaatan media pembelajaran interaktif berbasis TIK didalam kelas, (2) mengetahui apa sajakah yang menjadi kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK, (3) mengetahui apa saja upaya yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK.
Metode penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis pendekatan deskriptif. Dalam penelitian ini yang menjadi informan adalah 3 guru dan 3 siswa SMP Unismuh Makassar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Hasil penelitian ini menggambarkan guru-guru sudah mampu menerapkan media pembelajaan interaktif berbasis TIK dan terampil dalam memanfaatkan sarana TIK dalam mengembangkan materi menjadi produk media pembelajaan interaktif. Terdapat beberapa kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan media pembelajaran interkatif berbasis TIK, yaitu hambatan teknis seperti koneksi internet dan hambatan non teknis seperti hal-hal lain yang harus dibenahi oleh guru, seperti skill dan pengetahuan. Upaya yang dilakukan yaitu guru-guru terus belajar untuk mengupgrade skill dan pengetahuan agar dalam menerapkan media pembelajaran interkatif berbasis TIK menjadi lebih efektif dan optimal.
Kata kunci: Kompetensi Guru, Media Pembelajaran Interakatif berbasis TIK
ix
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“…. Boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui” (Q.S. Al-Baqarah :216).
“Aku berdasarkan prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berbaik sangka, maka ia akan mendapatkan kebaikan. Jika ia berprasangka buruk, maka ia akan mendapatkan keburukan” (HR. Ahmad)
Kupersembahkan karya ini buat:
Kedua orang tuaku, saudaraku, keluargaku, dan para sahabatku Atas keikhlasan dan doanya dalam mendukung penulis Mewujudkan harapan menjadi kenyataan
x
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur selalu penulis hanturkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kemampuan berpikir, bernalar serta petunjuk dan bimbingan-Nya, sehingga skripsi ini yang berjudul Kompetensi Guru dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran Interaktif berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di SMP Unismuh Makassar dapat di selesaikan oleh penulis walaupun jauh dari kata sempurna.
Shalawat dan taslim penulis kirimkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah atau zaman pembodohan menuju zaman yang islamiyah. Semoga penulis mendapat syafaatnya.
Dengan segala kekurangan penulis juga berharap skripsi ini bisa bermanfaat bagi banyak pihak.
Penulis menyadari bahwa apa yang telah penulis peroleh tidak semata-mata hasil dari jerih payah penulis sendiri tetapi hasil dari keterlibatan semua pihak.
Untuk itu dengan kesungguhan hati, penulis ucapkan terima kasih kepada Orang tua penulis, bapak Ahmad dan ibu Kismawati yang senantiasa penulis hormati dan sayangi. Melalui pengorbanan dan kasih sayang mereka penulis bisa menjadi seperti sekarang ini. Restu dan amanah mereka selalu menjadi cambuk kesadaran bagi penulis.
xi
Tidak lupa penulis juga mengucapkan kepada saudara penulis Hilma Oktavia Ahmad, S.Pd. yang selalu mendukung, menguatkan, serta menjadi pendengar keluh kesah dari penulis selama menyusun skripsi ini. Serta Keluarga besar penulis yang tanpa henti nya memberikan dukungan dan restu pada apapun yang penulis lakukan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya penulis haturkan kepada Bapak Dr. H. Andi Sukri Syamsuri, M.Hum. selaku pembimbing I dan Ibu Nurindah, S.Pd., M.Pd. selaku pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktu, pikiran serta kesabaran dalam memberikan bimbingan, arahan, serta motivasi kepada penulis sehingga skripsi ini dapat selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. H Ambo Asse., M.Ag.
selaku Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar. Erwin Akib, M. Pd., Ph.D.
selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dr. Muhammad Nawir, M.
Pd. Selaku Ketua Program Studi Teknologi Pendidikan. Nasir, S. Pd., M. Pd. Selaku Sekertaris Program Studi Teknologi Pendidikan. Kaharuddin., M.Pd., PH.D selaku penasehat akademik penulis selama menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Makassar.
Ucapan terima kasih yang sebesar besar nya juga penulis ucapkan kepada sahabat-sahabat penulis Karmilawati, Ratih Rezki Nur, Nur Fadillah, Nur Alisa, Megawati, Ulil Amri, Yusri Yusuf, Jaenal, Yulhan serta teman-teman mahasiswa Teknologi Pendidikan angkatan 2017 khususnya kelas B yang selalu menemani dan memberikan motivasi untuk menyelesaikan skripsi ini. Serta sahabat yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
xii
Akhirnya dengan segala kerendahan hati penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran yang bersifat membangun dari berbagai pihak, karena penulis yakin bahwa suatu persoalan tidak akan berarti sama sekali tanpa adanya kritikan.
Mudah-mudahan dapat memberikan maanfaat bagi para pembaca terutama bagi diri pribadi penulis. Aamiin.
Makassar, Juli 2021
Penulis
xiii
DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL ... i
HALAMAN JUDUL ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
SURAT PERNYATAAN ... v
SURAT PERJANJIAN ... vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vii
ABSTRAK ... viii
KATA PENGANTAR ... x
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian... 7
D. Manfaat Penelitian... 7
E. Definisi Operasional ... 8
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 10
A. Kajian Pustaka ... 10
1. Penelitian relevan ... 10
2. Kompetensi Guru ... 13
3. Media Pembelajaran Interaktif ... 17
4. Media Pembelajaran Berbasis TIK ... 28
B. Kerangka Pikir... 32
BAB III METODE PENELITIAN ... 34
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ... 34
B. Lokasi dan Waktu Penelitian... 35
C. Fokus Penelitain ... 35
xiv
D. Jenis dan Sumber Data ... 36
E. Teknik Penentuan Informan ... 36
F. Definisi Operasional Variabel ... 38
G. Instrumen Penelitian ... 39
H. Teknik Pengumpulan Data ... 39
I. Teknik Analisis Data ... 40
J. Uji keabsahan Data... 42
BAB IV HASIL PENELITIAN ... 43
A. Hasil Observasi ... 43
B. Hasil Wawancara... 46
C. Telaah Dokumen ... 68
BAB V PENUTUP ... 70
A. Simpulan... 70
B. Saran ... 70
DAFTAR PUSTAKA ... 72 LAMPIRAN-LAMPIRAN
RIWAYAT HIDUP
xv
DAFTAR TABEL
3.1 Informan Penelitan ... 46
3.2 Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007 ... 47
4.1 Hasil Observasi ... 43
4.2 Triangulasi Sumber (Guru) ... 56
4.3 Triangulasi Sumber (Siswa) ... 69
xvi
DAFTAR GAMBAR
2.1 Kerucut Pengalaman dari Edgar Dale ... 22 2.2 Bagan Kerangka Pikir Kompetensi Guru dalam Memanfaatkan Media
Pembelajaran berbasis TIK ... 33
A. Latar Belakang
Secara umum pendidikan adalah hal yang sangat mendasar yang dapat membawa perubahan bagi manusia. Perubahan ini bertahap dan membutuhkan banyak waktu. Secara fungsional, pendidikan pada dasarnya adalah mempersiapkan manusia untuk masa depan agar dapat hidup lebih sejahtera, baik secara individu maupun kolektif sebagai warga masyarakat, bangsa dan negara.
Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3 menyatakan bahwa:
Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan nasional mempunyai tugas menyiapkan sumber daya manusia yang baik dan berguna untuk masa depan.
Warsita (2008) sektor pendidikan saat ini tengah menghadapi permasalahan, terutama dalam hal perluasan dan pemerataan akses pendidikan, peningkatan kualitas, relevansi dan daya saing pendidikan, serta peningkatan
1
2
akuntabilitas pengelolaan dalam pendidikan. Untuk mengatasi masalah tersebut, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 11 Ayat 1 mengamanatkan bahwa:
Pemerintah dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Selain itu, dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat perlu diimbangi dengan pembelajaran gerak cepat dan tepat.
Mengingat begitu pentingnya pendidikan, maka sudah seharusnya setiap lembaga pendidikan senantiasa meningkatkan perannya termasuk dalam meningkatkan mutu pembelajaran. Peningkatan mutu pendidikan di Indonesia tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat (Pitrawati, dkk. 2016).
Suriansyah, dkk (2015) adanya tuntutan terhadap mutu pendidikan yang tinggi itu pada akhirnya memerlukan guru yang bermutu dan profesional dalam bidangnya. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Pasal 8 tentang guru menetapkan bahwa “guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.
Berdasarkan ketetapan Undang-Undang tersebut, seorang guru harus memiliki kompetensi yang akan menunjang tugas profesionalnya.
Berdasarkan pada Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru ada 4 kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru yaitu: 1) Kompetensi pedagogik, merupakan kemampuan atau keterampilan
3
guru dalam mengelola suatu PBM (proses belajar mengajar). 2) Kompetensi kepribadian, kompetensi kepribadian berkaitan dengan karakter personal. Ada indikator yang mencerminkan kepribadian yang positif dari seorang guru yaitu jujur, sabar, rendah hati, supel, berwibawa, santun, ikhlas, berakhlak mulia, bertindak sesuai norma sosial dan hukum, empati dan lain sebagainya.
Kepribadian yang positif wajib dimiliki seorang guru karena para guru harus bisa menjadi teladan bagi para peserta didiknya. 3) Kompetensi professional, merupakan kemampuan atau keterampilan yang wajib dimiliki supaya tugas- tugas keguruan bisa diselesaikan dengan baik. 4) Kompetensi sosial, kompetensi sosial berkaitan dengan keterampilan komunikasi, bersikap, serta berinteraksi secara umum, baik itu dengan peserta didik, sesama guru, tenaga kependidikan, orang tua siswa, hingga pada masyarakat luas.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, pada kompetensi pedagogik disebutkan tentang pemanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran. Kemudian pada kompetensi profesional disebutkan bahwa guru harus memanfaatkan TIK untuk kepentingan pembelajaran serta guru juga harus mampu memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
Selain itu, dalam Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang Guru pasal 3 ayat 4 juga menyatakan bahwa di dalam kompetensi pedagogik salah satu kemampuan yang harus dikuasai guru dalam pengelolaan pembelajaran adalah pemanfaatan teknologi pembelajaran.
Sedangkan pada kompetensi profesional salah satu kemampuan yang harus
4
dikuasai guru adalah menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan budaya.
Kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK sangat berperan penting dalam keberhasilan pembelajaran. Untuk itu, seorang guru harus mampu memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK agar dapat menyelenggarakan pembelajaran yang berkualitas.
Dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran, media pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Media pembelajaran merupakan salah satu sarana yang dapat membantu proses pembelajaran yang berkaitan dengan pendengaran dan penglihatan. Kehadiran media pembelajaran dapat mempercepat proses belajar mengajar menjadi efektif dan efisien dalam lingkungan yang kondusif sehingga siswa dapat lebih cepat memahami. Dengan adanya media pembelajaran, tradisi lisan dan tulisan dalam proses pembelajaran dapat diperkaya dengan berbagai perangkat pembelajaran. Selain itu, seorang guru dapat menciptakan berbagai situasi kelas, mengidentifikasi metode pembelajaran untuk digunakan dalam berbagai situasi, dan menciptakan suasana yang baik antar siswa.
Selain itu, media pembelajaran dapat membantu guru membawa dunia luar ke dalam kelas. Dengan demikian, gagasan abstrak dan asing menjadi konkrit dan mudah dipahami oleh siswa. Jika lingkungan belajar ini dapat digunakan secara tepat dan proporsional maka proses pembelajaran akan lebih efektif.
5
Yayuk (2014) salah satu cara untuk mengatasi masalah dalam pembelajaran adalah dengan menggunakan TIK sebagai sarana dalam pembelajaran. Pembelajaran dengan memanfaatkan TIK diharapkan peserta didik bisa menjadi lebih cerdas, kritis dan kreatif serta mampu memecahkan masalah yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Rahim, dkk (2019) dibutuhkan inovasi yang pesat dalam dunia pendidikan dan menjadi prioritas utama dalam pengembangan sistem pendidikan khususnya dalam menciptakan media pembelajaran. Media pembelajaran memiliki kedudukan yang penting dalam sebuah perencanaan pembelajaran.
Proses perencanaan pembelajaran dimulai dengan perumusan tujuan instruksional khusus sebagai pengembangan dari tujuan intruksional umum.
Agar tujuan pembelajaran dapat tercapai, perlu adanya penggunaan alat bantu pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik siswa.
Fakta terkait perkembangan teknologi dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia jika digunakan dengan benar dan cerdas. Keberadaan teknologi telah mengalami kemajuan yang sangat pesat yang ditandai dengan munculnya berbagai perangkat TIK seperti smartphone, komputer dan laptop, serta perkembangan jaringan internet secara global. Kemajuan teknologi berdampak positif terhadap hasil belajar siswa terutama dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan observasi awal di sekolah SMP Unismuh Makassar memiliki fasilitas Lab (IPA, Komputer, dan Bahasa) serta fasilitas jaringan
6
internet. Dimasa pandemi COVID-19 saat ini, siswa SMP Unismuh Makassar tetap menjalankan aktivitas belajarnya dirumah masing-masing dengan menggunakan media online (daring). Segala proses belajar mengajar, seperti penyampaian materi, pemberian tugas dan pelaksanaan evaluasi belajar dilaksanakan menggunakan media pembelajaran online. Adapun media pembelajaran online yang digunakan seperti, WhatsApp, Google Classroom, Instagram, Video Converence (Google Meet dan Zoom Meeting) serta Youtube.
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan tindakan penelitian dengan judul “Kompetensi Guru dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran Interaktif berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi di SMP Unismuh Makassar.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah:
1. Bagaimana pengetahuan guru tentang pemanfaatan media pembelajaran interaktif berbasis TIK di dalam kelas?
2. Apa sajakah yang menjadi kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK?
3. Apa sajakah upaya yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK?
7 C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka tujuan pada penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui bagaimana pengetahuan guru tentang pemanfaatan media pembelajaran interaktif berbasis TIK di dalam kelas.
2. Untuk mengetahui apa sajakah yang menjadi kendala yang dihadapi guru dalam menerapkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK.
3. Untuk mengetahui apa saja upaya yang dilakukan oleh guru dalam menerapkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk pengembangan ilmu khususnya dalam hal kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK. Selain itu hasil penelitian ini juga diharapkan bisa menambah referensi dan pengetahuan bagi mahasiswa lain.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK dalam proses belajar mengajar di kelas.
8 b. Bagi Siswa
Dengan menggunakan media dalam pembelajaran, siswa akan lebih tertarik dan tidak jenuh sehingga diharapkan dapat meningkatkan hasil belajarnya.
c. Bagi Peneliti
Dapat menambah ilmu pengetahuan sebagai hasil pengamatan langsung serta dapat memicu peneliti kedepannya ketika menjadi seorang tenaga pendidik untuk menggunakan inovasi-inovasi dalam memanfaatkan media dalam pembelajaran.
E. Definisi Operasional 1. Kompetensi Guru
Kompetensi guru adalah gambaran tentang apa yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik dari segi kegiatan, tingkah laku maupun hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam pembelajaran. Untuk dapat melakukan suatu pekerjaan, seorang guru harus memiliki kompetensi berupa kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian, dan profesional. Adapun kompetensi guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu kompetensi pedagogik dan profesional. Salah satu indikator dari dua kompetensi tersebut menyebutkan tentang pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran serta untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
9
2. Media Pembelajaran Interaktif berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK)
Media pembelajaran interaktif adalah suatu sistem penyampaian informasi berupa materi yang disampaikan melalui media audio, visual, audiovisual, dan multimedia yang dikendalikan oleh komputer agar peserta didik tidak hanya mendengarkan dan menonton, tetapi juga memberikan umpan balik yang positif.
10 BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Pustaka
1. Penelitian Relevan
a. Nengsih, Dewi Hernia. (2017). Analisis Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pengelolaan Proses di SD Negeri 10 Mandonga.
Hasil penelitian relevan sebelumnya yang sesuai dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Dewi Hernia Nengsih pada tahun 2017 berjudul Analisis Kompetensi Pedagogik Guru dalam Pengelolaan Proses di SD Negeri 10 Mandonga. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif.
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Untuk pengujian data dilakukan dengan teknik triangulasi data. Selanjutnya data dianalisis dengan langkah-langkah sebagai berikut: 1) pengumpulan data, 2) reduksi data, 3) display data, dan 4) verifikasi dan kesimpulan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui kompetensi pedagogik guru dalam pengelolaan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru SD Negeri 10 Mandonga, untuk mengetahui hambatan apa saja yang dihadapi guru dalam pengelolaan proses pembelajaran, dan untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan oleh guru dalam mengatasi hambatan tersebut.
10
11
Dari hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa kompetensi pedagogik guru dalam pengeloaan proses pembelajaran di SD Negeri 10 Mandonga sudah baik. Terdapat beberapa faktor yang menjadi hambatan guru dalam pengelolaan proses pembelajaran, namun belum ada upaya nyata dari guru untuk mengatasi hambatan yang dihadapi dalam pengelolaan proses pembelajaran.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan adalah sama-sama menganalisis kompetensi guru. Metode yang digunakan juga menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi.
Perbedaannya dalam penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak pada kompetensi guru. Pada penelitian ini, peneliti akan meneliti tentang analisis kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK, yaitu kompetensi pedagogik dan profesional guru. Perbedaan yang lain adalah dilihat dari jenjang sekolah dan lokasi penelitiannya. Lokasi dalam penelitian ini adalah di SMP Unismuh Makassar.
b. Pitrawati, dkk. (2016). Analisis Kompetensi Profesional Guru PAUD di Kecamatan Serasan Kabupaten Natuna.
Penelitian yang dilakukan oleh Pitrawati, dkk pada tahun 2016 berjudul Analisis Kompetensi Profesional Guru PAUD di Kecamatan Serasan Kabupaten Natuna. Tujuan penelitian ini adalah untuk
12
mengetahui kompetensi profesional guru PAUD di Kecamatan Serasan Kabupaten Natuna.. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan teknik deskriptif kuantitatif dengan persentase. Dalam penelitian ini data dikumpulkan menggunakan teknik komunikasi tidak langsung atau metode menggunakan pertanyaan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket (kuesioner). Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah jawaban angket dari responden yang disusun dengan skala likert sehingga menghasilkan angka-angka yang mempunyai bobot tertentu.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi profesional guru PAUD dalam menguasai materi pembelajaran anak usia dini tergolong baik dengan persentase mencapai 85,53%. Penguasaan guru terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran anak usia dini tergolong cukup dengan persentase mencapai 75,22%.
Pengembangan materi pembelajaran anak usia dini secara kreatif tergolong baik dengan persentase mencapai 83,55%. Pengembangan keprofesionalan dengan melakukan tindakan reflektif dalam pembelajaran anak usia dini tergolong cukup dengan persentase mencapai 73,77%. Kompetensi guru PAUD dalam memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri tergolong cukup dengan persentase mencapai 71,27%.
Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terdapat pada tujuan peneilitan, yaitu sama-sama ingin
13
mengetahui kompetensi guru. Sedangkan perbedaan dalam penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan terletak pada Metodologi penelitiannya. Perbedaan yang lain adalah dilihat dari jenjang sekolah dan lokasi penelitiannya. Lokasi dalam penelitian ini adalah di SMP Unismuh Makassar.
2. Kompetensi Guru a. Kompetensi
Menurut Charles dalam Mulyasa (2009: 25) mengemukakan bahwa “competency as rational performance which satisfactorily meets the objective for a desired condition (kompetensi merupakan perilaku yang rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan)”.
Menurut Mahmud (2011: 107) “istilah kompetensi merupakan gambaran tentang apa yang seyogyanya dapat dilakukan seseorang guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik berupa kegiatan, berperilaku, maupun hasil yang dapat ditunjukkan”.
Penjelasan tersebut mengandung arti bahwa kompetensi guru merupakan kemampuan yang menuntut tanggung jawab yang harus dimiliki sebagai guru yang profesional. “Kompetensi profesional guru adalah seperangkat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru agar ia dapat melaksanakan tugas mengajar dengan berhasil” (Uno, 2017: 18).
Kompetensi pada dasarnya adalah deskripsi tentang apa yang dapat dilakukan seseorang dalam pekerjaannya, serta jenis pekerjaan yang dapat
14
dilihat. Untuk dapat melakukan suatu pekerjaan, seseorang harus memiliki kompetensi berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan yang relevan dengan bidang pekerjaannya.
Mengacu pada pengertian kompetensi diatas, maka kompetensi guru dapat diartikan sebagai gambaran tentang apa yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan pekerjaannya, baik dari segi kegiatan, tingkah laku maupun hasil belajar yang dapat ditunjukkan dalam pembelajaran.
b. Guru
Berdasarkan pada Kamus At-Tarbuyah dalam Ali (1980: 486) secara etimologi, “istilah guru dalam bahasa Inggris disebut “teacher”, sedangkan dalam bahasa Arab dikenal dengan istilah “mu’alim, mudaris, muhadzib, mu’adib”, yang berarti orang yang menyampaikan ilmu, pelajaran, akhlak, dan pendidikan”. Sedangkan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia dalam Badudu dan Zain (2001: 487), “guru diartikan orang yang mengajari orang lain, di sekolah atau mengajari ilmu pengetahuan atau keterampilan”.
Menurut Uno (2017: 15) “guru adalah orang dewasa yang secara sadar bertanggung jawab dalam mendidik, mengajar, dan membimbing peserta didik”. Orang yang disebut guru adalah orang yang memiliki kemampuan merancang program pembelajaran serta mampu menata dan mengelola kelas agar peserta didik dapat belajar dan pada akhirnya dapat mencapai tingkat kedewasaan sebagai tujuan akhir dari proses pendidikan.
15
Berdasarkan Undang-Undang tentang Guru dan Dosen Nomor 14 tahun 2005 Bab 1 Pasal 1 dijelaskan bahwa yang dimaksud “guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan menengah”. Definisi tersebut mengandung pengertian bahwa guru adalah orang yang bekerja di suatu sekolah atau satuan pendidikan yang tugas utamanya adalah mendidik dan menilai dari anak usia dini sampai dengan pendidikan menengah.
c. Standar Kompetensi Guru
Berdasarkan Peraturan Pemerintahan Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 2008 tentang guru ada beberapa kompetensi yang harus dikuasai guru, antara lain:
1) Kompetensi Pedagogik
Merupakan kemampuan atau keterampilan guru dalam mengelolah pembelajaran dengan peserta didik. Ada 7 aspek yang harus dikuasai guru dalam kompetensi pedagogik, yaitu pemahaman wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, Perancangan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis, pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, evaluasi hasil belajar, pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.
2) Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal seorang guru dalam mencerminkan kepribadian seperti, beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, arif dan bijaksana, berwibawa, jujur dan kepribadian lainnya yang bisa menjadi teladan bagi peserta didik serta masyarakat.
3) Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat dalam berkomunikasi yang santun, berbaur masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta sistem nilai
16
yang berlaku, serta menerapkan prinsip persaudaraan sejati dan semangat kebersamaan.
4) Kompetensi Profesional
Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang ilmu pengetahuan, teknologi, atau seni dan budaya yang diampunya. Hal-hal yang harus dikuasai guru dalam kompetensi profesional, yaitu menguasai pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran yang akan diampu serta menguasai konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan, yang secara konseptual atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata pelajaran, dan kelompok mata pelajaran yang akan diampu.
d. Kompetensi Guru Dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran Standar kompetensi guru dalam memanfaatkan TIK ditetapkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasioanl Nomor 16 Tahun 2007 mengenai Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yang merupakan salah satu dari standar pendidik dan tenaga kependidikan.
Standar tersebut memuat daftar kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional yang terintegrasi dalam kinerja guru.
Berdasarkan empat kompetensi tersebut, kompetensi yang memanfaatkan TIK terdaftar dalam kompetensi pedagogik dan profesional.
Dalam daftar kompetensi pedagogik dan profesional dijelaskan bahwa salah satu kewajiban seorang guru adalah memanfaatkan TIK, dan pelaksanaannya dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu:
1) Memanfaatkan TIK untuk kepentingan pengelolaan pembelajaran (Kompetensi Pedagogik).
17
2) Memanfaatkan TIK untuk berkomunikasi dan mengembangkan keprofesian berkelanjutan (Kompetensi Profesional).
3. Media Pembelajaran Interaktif a. Media
Menurut Pribadi (2017: 15) “media berdasarkan asal katanya dari bahasa latin, medium yang berarti perantara”. Oleh karena itu media dapat diartikan sebagai perantara antara pengirim informasi yang berfungsi sebagai sumber atau resources dan penerima informasi atau receiver.
Adapun menurut Arsyad (2011: 3) “kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harfiah berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar’”.
Dalam bahasa Arab, media adalah perantara atau pengantar pesan dari pengirim kepada penerima pesan.
Riyana dan Rudi Susilana (2009: 7) menyatakan bahwa “media pembelajaran terdiri atas dua unsur penting, yaitu unsur peralatan atau perangkat keras (hardware) dan unsur pesan yang dibawanya (message/software)”. Media pembelajaran memerlukan peralatan untuk menyajikan pesan, namun yanhg terpenting bukanlah peralatan itu, tetapi pesan atau informasi belajar yang dibawakan oleh media tersebut.
AECT (Association of Education and Communication Technology, 1997) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi. disamping sebagai sistem penyampai atau pengantar, media yang juga sering diganti
18
dengan kata. Dengan istilah mediator, media menunjukkan fungsi atau perannya, yaitu mengatur hubungan yang efektif antara dua pihak utama dalam proses belajar siswa. Selain itu, mediator dapat merefleksikan gagasan bahwa setiap sistem pembelajaran yang memainkan peran mediasi dari guru ke peralatan yang paling kompleks dapat disebut media.
Satrianawati (2018) media berdasarkan fungsinya dibagi menjadi dua, yaitu media dalam arti luas dan sempit. Media dalam arti luas adalah segala bentuk yang digunakan seseorang untuk melakukan perubahan dengan harapan atau tidak langsung, sedangkan media pembelajaran dalam arti sempit misalnya adalah alat dan bahan yang digunakan oleh guru dalam proses belajar mengajar yang terjadi di kelas. untuk memecahkan masalah, atau untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan sarana penyampaian pesan dan informasi dari guru kepada siswa atau sebaliknya. Penggunaan media akan memungkinkan pembelajaran berlangsung pada diri siswa dan dapat digunakan untuk meningkatkan keefektifan kegiatan pembelajaran.
b. Pembelajaran
Mularsih dan Karwono (2018: 19) menyatakan bahwa “kata pembelajaran berasal dari kata belajar mendapat awalan “pem” dan akhiran
“an” menunjukkan bahwa ada unsur dar luar (eksternal) yang bersifat
“intervensi” agar terjadi proses belajar”. Jadi pembelajaran merupakan
19
upaya yang dilakukan oleh faktor eksternal agar terjadi proses belajar pada diri individu yang belajar.
Secara umum menurut Gagne & Briggs dalam Mularsih dan Karwono (2018: 23) menjelaskan bahwa “pembelajaran dilukiskan sebagai upaya orang yang bertujuan untuk membantu oleh belajar”. Pembelajaran sebagai seperangkat kegiatan eksternal yang dirancang untuk mendukung munculnya suatu proses pembelajaran internal. Belajar tidak sama dengan mengajar karena dalam pembelajaran ada penekanan pada semua kejadian yang secara langsung dapat mempengaruhi pembelajaran individu. Di sisi lain, pembelajaran tidak dikomunikasikan oleh manusia tetapi dapat disampaikan melalui bantuan bahan cetakan, gambar, televisi, komputer dan sumber lainnya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa Pembelajaran adalah proses dimana siswa dihadapkan pada lingkungan yang dilengkapi dengan fasilitas untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan dan secara khusus mengubah perilaku siswa menjadi lebih baik.
c. Interaktif
Menurut Yanto (2019: 77) “Interaktif adalah hal yang terkait dengan komunikasi dua arah. Suatu hal bersifat saling melakukan aksi dan reaksi, saling aktif dan saling berhubungan serta mempunyai timbal balik antara yang satu dengan yang lainnya”.
20
Media pembelajaran interaktif menurut Pior, dkk (2016) dan Kirschner (2010) dalam Yanto (2019: 77) adalah sebagai berikut:
Suatu bentuk media pembelajaran yang dalam penggunaanya dapat menimbulkan keterkaitan antara pengguna dengan media pembelajaran terebut dengan saling memberikan pengaruh serta saling memberikan aksi dan reaksi antara yang satu dengan yang lainya dalam membantu menyampaikan materi pembelajaran.
Berdasarkan pada beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan media pembelajaran interaktif merupakan suatu alat perantara penyampaian materi pembelajaran oleh guru kepada siswa dimana pada penggunaannya menimbulkan interaksi antara siswa dengan media dengan cara saling berkaitan serta saling memberikan aksi dan reaksi antara yang satu dengan yang lainnya.
d. Hakikat Media Pembelajaran
Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA) memiliki pengertian yang berbeda. Media adalah bentuk- bentuk komunikasi baik cetak maupun audio visual serta peralatannya.
Media hendaknya dapat dimanipulasi, dapat dilihat, didengar dan dibaca.
Apapun batasan yang diberikan, ada persamaan di antara batasan tersebut, yaitu bahwa media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Menurut Sadiman (2003: 6) media pembelajaran adalah:
21
Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi.
Pesan atau informasi yang disampaikan melalui media dalam bentuk isi atau materi pembelajaran itu harus dapat diterima oleh penerima pesan dengan menggunakan salah satu gabungan beberapa alat indera mereka.
Media pembelajaran dapat diartikan “segala sesuatu yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar yang disengaja, bertujuan dan terkendali” (Miarso, 2004: 458).
Berdasarkan beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran merupakan alat yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk menyampaikan pesan pembelajaran dari seorang sumber atau guru kepada penerima, dalam hal ini siswa, dan untuk memungkinkan terjadinya komunikasi yang baik antara guru dan siswa.
Pesan atau informasi yang dikirimkan melalui media berupa isi atau bahan ajar harus diterima oleh penerima pesan melalui salah satu atau gabungan beberapa alat indera mereka.
Media yang digunakan sebagai alat bantu belajar ada bermacam- macam jenis dari media grafis hingga media yang berbasis komputer. Dalam pengembangan media sebagai alat bantu Edgar Dale yang diadopsi dari
22
Arsyad ( 2007: 11) mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat dari yang paling konkret ke yang paling abstrak. Klasifikasi tersebut disebut kerucut pengalaman (Cone of Experience).
Adapun gambar kerucut pengalaman Edgar Dale yang diadopsi dari Arsyad (2007: 11), dapat dilihat seperti gambar dibawah ini:
Gambar 2.1 Kerucut Pengalaman dari Edgar Dale
Berdasarkan kerucut pengalaman Edgar Dale dapat disimpulkan bahwa pengalaman yang paling langsung adalah adalah yang lebih efektif digunakan sebagai media pembelajaran, karena lebih memudahkan siswa dalam menyerap materi pembelajaran melalui pengalaman yang dialaminya.
Proses pembelajaran pada dasarnya merupakan proses komunikasi, sehingga pesan-pesan yang dikomunikasikan dalam bentuk kurikulum harus mudah dipahami oleh siswa, karena pesan tersebut harus disalurkan melalui media pendidikan.
23
Miarso (2004) kemudian menyimpulkan bahwa ada berbagai kajian teoretik maupun empirik menunjukkan kegunaan media dalam pembelajaran, yaitu sebagai berikut:
1) Mampu memberikan rangsangan yang bervariasi kepada kita sehingga otak dapat berfungsi secara optimal.
2) Dapat membatasi keterbatasan pengalaman peserta didik.
3) Dapat melampaui batas ruang kelas.
4) Memungkinkan adanya interaksi langsung antara peserta didik dengan lingkungannya.
5) Menghasilkan keseragaman pengamatan, membangkitkan keinginan dan minat baru, membangkitkan motivasi untuk belajar.
6) Memberikan pengalaman integral atau menyeluruh dari sesuatu konkret maupun abstrak.
7) Memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar mandiri.
8) Pada tempat dan waktu serta kecepatan yang ditentukan sendiri.
9) Meningkatkan keterbacaan baru.
10) Meningkatkan efek sosialisasi.
11) Dapat meningkatkan kemampuan ekspresi diri.
e. Kedudukan Media dalam Sistem Pembelajaran
Suyanto dan Asep Jihad (2013: 108) menyatakan bahwa “proses belajar mengajar merupakan suatu sistem”. Didalamnya terkandung
24
berbagai komponen pembelajaran yang terintegrasi satu sama lain untuk mencapai tujuan. Dalam konteks ini peran guru sangat besar dalam upaya melaksanakan proses belajar mengajar. Untuk mencapai hasil belajar yang optimal, tidak semua komponen dalam proses belajar mengajar harus diabaikan. Salah satu komponen tersebut adalah pemanfaatan media dalam pembelajaran.
Suatu sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri dari rangkaian komponen atau bagian yang saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain. Pembelajaran dikatakan sebagai suatu sistem karena mengandung komponen yang saling terkait untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Komponen tersebut meliputi tujuan, bahan, metode, media dan evaluasi.
Setiap komponen terkait erat, proses perencanaan pembelajaran selalu diawali dengan rumusan tujuan pembelajaran yang spesifik sebagai pengembangan dari tujuan pembelajaran secara umum. Media pembelajaran memegang peranan penting dalam proses pembelajaran dan penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu pendidik menyampaikan bahan ajar.
f. Jenis-Jenis Media
Jenis-jenis media secara umum dapat dibagi menjadi:
1) Media visual, merupakan media yang bisa dilihat. Media ini mengandalkan indra penglihatan. Contohnya seperti media foto, gambar, komik, poster, majalah, buku, miniatur, alat peraga dan sebagainya.
25
2) Media audio, merupakan media yang bisa didengar. Media ini mengandalkan indra telinga sebagai salurannya. Contohnya seperti suara, musik dan lagu, alat musik, siaran radio, dan kaset suara, atau CD dan sebagainya.
3) Media audio visual, merupakan media yang bisa didengar dan dilihat secara bersamaan. Media ini menggerakkan indra pendengaran dan penglihatan secara bersamaan. Contohnya seperti media drama, pementasan, film, televisi dan media yang sekarang menjamur, yaitu VCD.
4) Multimedia, merupakan semua jenis media yang terangkum menjadi satu. Contohnya seperti internet, belajar dengan menggunakan media internet artinya mengaplikasikan semua media yang ada, termasuk pembelajaran jarak jauh.
g. Manfaat Media dalam Pembelajaran
Satrianawati (2018) menyatakan manfaat media dalam pembelajaran bagi guru dan juga siswa yang terbagi atas 6 aspek.
1) Penyampaian materi
Manfaat media pembelajaran berdasarkan aspek penyampaian materi, bagi guru dapat memudahkan dalam menjelaskan materi sedangkan bagi siswa dapat memudahkan dalam memahami materi pembelajaran.
26 2) Konsep
Manfaat media pembelajaran berdasarkan aspek konsep. Bagi guru, materi yang bersifat abstrak akan menjadi lebih konkret.
Sedangkan bagi siswa, konsep materi mudah dipahami.
3) Waktu
Manfaat media pembelajaran berdasarkan aspek waktu. Bagi guru, penggunaan waktu lebih efektif dan efisien, serta dapat mengulang materi pembelajaran kapan saja. Sedangkan bagi siswa, memiliki waktu yang lebih banyak dalam mempelajari materi.
4) Minat
Manfaat media pembelajaran berdasarkan aspek minat. Bagi guru, dapat mendorong minat belajar dan mengajar guru.
Sedangkan bagi siswa, dapat membangkitkan minat belajar siswa.
5) Situasi belajar
Manfaat media pembelajaran berdasarkan aspek situasi belajar. Bagi guru, situasi belajar lebih interaktif. Sedangkan bagi siswa, situasi belajar lebih multi-aktif.
6) Hasil belajar
Manfaat media pembelajaran berdasarkan aspek hasil belajar. Bagi guru, kualitas hasil mengajar lebih baik. Sedangkan bagi siswa, hasil belajar lebih mendalam dan utuh.
27
Secara umum, manfaat media dalam pembelajaran diantaranya sebagai berikut:
1) Membantu proses pembelajaran yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik. Tidak semua materi pembelajaran dapat disampaikan secara verbal saja, tetapi perlu alat bantu (tools) lain yang dapat membantu mengirimkan pesan atau konsep materi kepada peserta didik. Pendidik terbantu dalam menyampaikan materi pembelajaran, sedangkan peserta didik terbantu dan lebih mudah dalam memahami konsep materi yang disampaikan oleh pendidik. Sehingga, transfer of knowladge dan transfer of value dapat dilakukan secara maksimal.
2) Meningkatkan minat dan motivasi peserta didik dalam proses pembelajaran, rasa ingin tahu dan antusiasme peserta didik meningkat, serta interaksi antara peserta didik, pendidik dan sumber belajar dapat terjadi secara interaktif. Dapat membantu penyampaian materi yang bersifat abstrak menjadi lebih konkret.
Beberapa informasi dan konsep materi pembelajaran yang bersifat abstrak, rumit, kompleks, tidak dapat hanya disampaikan secara verbal saja. Sehingga, perlu adanya alat bantu berupa media misalnya berupa simulasi, permodelan, alat peraga, dan lain-lain.
3) Dapat mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra. Beberapa materi pembelajaran yang kompleks
28
membutuhkan ruang dan waktu yang panjang untuk penyampaianya. Oleh karena itu, media pembelajaran dapat disesuaikan dengan karakteristik materinya, sehingga keterbatasan tersebut dapat teratasi. Misalnya, dengan media pembelajaran online, e-learning, mobile learning, web based learning, yang dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja menembus batas ruang dan waktu. Materi pembelajaran dapat diakses kapan saja dan dimana saja.
4. Media Pembelajaran Berbasis TIK
Memasuki era teknologi informasi dan komunikasi (TIK), kebutuhan dan pentingnya penggunaan TIK dalam kegiatan pembelajaran dirasakan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang diharapkan. Sistem TIK menyediakan cakupan pengemasan dan penyebaran informasi yang luas, cepat, efektif dan efisien di berbagai belahan dunia.
TIK dalam bahasa Inggris, yaitu Information and Communication Technologies/ICT adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas. TIK mencakup dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi.
Teknologi informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan informasi.
Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan
29
penggunaan alat bantu untuk memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya.
Oleh karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi (TIK) adalah dua buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi TIK mengandung pengertian luas, yaitu segala kegiatan yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, pemindahan informasi antar media.
Pembelajaran melalui media televisi, komputer, web, slide presentasi atau media pembelajaran lainnya merupakan beberapa bentuk penggunaan TIK yang perlu dikembangkan dan diimplementasikan dalam dunia pendidikan saat ini. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling mendasar dalam seluruh proses pendidikan.
Kombinasi kedua faktor manusia (guru dan peserta didik) menciptakan interaksi dengan menggunakan TIK sebagai media. Selama kegiatan pembelajaran, guru dan siswa saling berinteraksi dan memberikan masukan.
Itulah mengapa aktivitas pembelajaran harus lebih hidup atau bersemangat, berharga, dan selalu memiliki tujuan yang jelas.
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan kontribusi terhadap terjadinya revolusi dalam berbagai bidang, termasuk bidang pendidikan. Eric Ashby (1972) dalam Suyanto dan Asep Jihad (2013: 6) menyatakan bahwa “dunia pendidikan telah memasuki revolusinya yang kelima”. Revolusi pertama terjadi ketika orang memberikan pendidikan anaknya kepada guru. Revolusi kedua terjadi ketika menulis digunakan untuk tujuan pembelajaran. Melalui tulisan ini, akses yang sangat luas dapat dibuka, sehingga
30
informasi dapat disimpan dan dibuka kembali. Revolusi ketiga bertepatan dengan ditemukannya mesin cetak, sehingga bahan ajar dapat disajikan melalui media cetak seperti buku teks, modul majalah, dan lainnya. Revolusi keempat terjadi ketika perangkat elektronik seperti radio, tape recorder, dan televisi digunakan dalam pengajaran untuk mendistribusikan dan memperluas pendidikan. Revolusi kelima, yaitu saat ini, penggunaan TIK di dalam pembelajaran.
Berikut ini merupakan beberapa contoh media pembelajaran berbasis TIK, antara lain:
a. Powerpoint
Microsoft powerpoint adalah salah satu program bawaan microsoft office yang digunakan untuk membuat dokumen presentasi. Presentasi merupakan kegiatan penyampaian gagasan atau ide seseorang kepada para audiens. Presentasi akan lebih mudah dimengerti dan dipahami jika ditampilkan dalam bentuk slide. Dengan microsoft powerpoint, kita bisa membuat slide presentasi yang unik dan menarik dengan menambahkan efek teks, gambar, clip Art, musik, video, dan Iain-lain.
b. Internet
Internet (interconnection-networking) adalah seluruh jaringan komputer yang saling terhubung menggunakan standar sistem global Transmission Control Protocol/Internet Protocol Suite (TCP/IP) sebagai protokol pertukaran paket (packet switching communication protocol) untuk melayani miliaran pengguna di seluruh dunia.
31 c. Compact Disk (CD) pembelajaran
Compact Disk (CD) pembelajaran adalah suatu media yang dirancang secara sistematis dengan berpedoman kepada kurikulum yang berlaku dan dalam pengembangan mengaplikasikan prinsip-prinsip pembelajaran sehingga program tersebut memungkinkan peserta didik menerima materi pembelajaran secara lebih mudah dan menarik. Secara fisik Compact Disk (CD) pembelajaran merupakan program pembelajaran yang dikemas dalam Compact Disk CD.
d. Video pembelajaran
Video pembelajaran adalah suatu media yang dibuat untuk menunjukkan contoh konkret atau penguatan dari isi materi pelajaran yang telah disampaikan sehingga siswa dapat memahami dan dapat menarik kesimpulan.
e. Buku Elektronik
Buku elektronik atau e-book adalah salah satu teknologi yang memanfaatkan komputer untuk menayangkan informasi multimedia dalam bentuk yang ringkas dan dinamis. Dalam sebuah e-book dapat diintegrasikan tayangan suara, grafik, gambar, animasi, maupun movie sehingga informasi yang disajikan lebih kaya dibandingkan dengan buku konvensional.
f. Electronic Learning (E-learning)
Beragam definisi dapat ditemukan untuk e-learning. Victoria L.
Tinio, misalnya, menyatakan bahwa “e-learning meliputi pembelajaran
32
pada semua tingkatan, formal maupun nonformal, yang menggunakan jaringan komputer (intranet maupun ekstranet) untuk pengantaran bahan ajar, interaksi, dan fasilitasi”. Untuk pembelajaran yang sebagian prosesnya berlangsung dengan bantuan jaringan internet sering disebut sebagai online learning.
B. Kerangka Pikir
Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini berdampak pada dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Ada empat kompetensi guru yang harus dikuasai, dua diantaranya adalah kompetensi pedagogik dan profesional. Dalam Peraturan Kementerian Pendidikan dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, dimana salah satu indikator dari dua kompetensi tersebut menyesebutkan tentang pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran serta pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
Penggunaan TIK sebagai alat bantu yang mendukung proses pembelajaran dan memfasilitasi guru untuk mentransfer dan memahami materi yang diajarkan kepada siswa, serta memberikan pengalaman baru kepada siswa yang sangat jenuh dengan model pembelajaran tradisional yang dilakukan oleh guru, dalam hal ini metode pembelajaran.
Sebagian besar institusi pendidikan telah menggunakan media untuk mendukung pembelajaran guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang berkualitas yang mampu menggunakan teknologi yang ada.
33
Pada penelitian ini peneliti ingin mengetahui kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran Interaktif berbasis TIK di SMP Unismuh Makassar. Karena tertuang dalam Undang-undang No.14 tahun 2005 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional tentang guru bahwa guru harus memiliki kompetensi untuk memanfaatkan TIK yang berkembang saat ini untuk meningkatkan proses pembelajaran dan untuk melaksanakan tugas keprofesionalannya.
Gambar 2.2 Bagan Kerangka Pikir Kompetensi Guru dalam Memanfaatkan Media Pembelajaran berbasis TIK
Kompetensi Guru
Profesional Pedagogik
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
untuk kepentingan pembelajaran.
Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi
untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
Pemanfaatan Media Pembelajaran Interaktif berbasis Teknologi Informasi
dan Komunikasi (TIK)
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Jenis penelitian ini adalah kualitatif. Menurut Moleong (2007: 6) penelitian kualitatif merupakan:
Penelitian yang bermaskud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subyek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.
Sugiyono (2020: 9-10) mengungkapkan mengenai penelitian kualitatif bahwa:
Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme atau enterpretif, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan observasi, wawancara, dokumentasi), data yang diperoleh…dan hasil penelitian kualitatif bersifat untuk memahami makna, memahami keunikan, mengkonstruksi fenomena, dan menemukan hipotesis.
Adapun jenis pendekatan penelitian ini adalah deskriptif. Menurut Gurito, dkk (2011: 43) menyatakan bahwa:
Penelitian deskriptif dilakukan untuk menguraikan aspek-aspek fenomena atau karakteristik variabel atau obyek yang menarik untuk diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk memahami karakteristik obyek yang diteliti atau menyusun profil obyek tersebut.
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu keadaan, peristiwa, objek, apakah
34
35
orang atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variabel yang bisa dijelaskan baik dengan angka maupun kata-kata (Setyosari, 2012).
Jenis penelitian deskriptif kualitatif yang digunakan pada penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK di SMP Unismuh Makassar.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Dalam penelitian ini, lokasi penelitian yang dijadikan sebagai sasaran peneliti dalam melaksanakan penelitian adalah berkenaan dengan judul penelitian ini yaitu di SMP Unismuh Makassar yang beralamat Jln. Talasalapang No. 40 D Kelurahan Gunung Sari Kecamatan Rappocini Kota Makassar.
Penelitian ini akan dilaksanakan pada tahun 2021 C. Fokus Penelitian
Adapun fokus dalam penelitian ini adalah bagaimana kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis teknologi informasi dan komunikasi di SMP Unismuh Makassar. Adapun kompetensi guru yang dimaksudkan dalam penelitian ini yaitu kompetensi pedagogik dan profesional. Salah satu indikator dari dua kompetensi tersebut menyebutkan tentang pemanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk kepentingan pembelajaran serta untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
36 D. Jenis dan Sumber Data
Data yang digunakan sebagai sumber penelitian ini adalah:
1. Data Primer
Data primer merupakan data yang dikumpulkan peneliti dari sumber pertamanya. Data primer dapat diperoleh peneliti dengan melakukan observasi dan wawancara secara langsung.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data penunjang selain dari data primer yang diperlukan peneliti sebagai bahan pendukung dalam penelitian. Data sekunder yang dimaksud adalah data yang diperoleh oleh peneliti melalui penelusuran terhadap sumber-sumber informasi yakni dari buku-buku, artikel internet, dan catatan tertulis yang relevan dengan masalah dan tujuan penelitian.
E. Teknik Penentuan Informan
Dalam penelitian ini, teknik penentuan informan yang digunakan peneliti adalah teknik purposive sampling. Karena keingintahuan peneliti mengenai bagaimana kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis teknologi informasi dan komunikasi di SMP Unismuh Makassar.
37
Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah tiga orang guru yang merupakan perwakilan dari guru-guru yang mengajar di kelas VII s/d IX dan tiga orang siswa di SMP Unismuh Makassar.
Tabel 3.1 Informan Penelitian
NO INFORMAN PENELITIAN JUMLAH
1. Guru kelas VII 1
2. Guru kelas VIII 1
3. Guru kelas IX 1
4 Siswa 3
Total 6
Informan harus memiliki beberapa kriteria yang perlu menjadi bahan pertimbangan antara lain (Martha dan Kresno, 2016) :
1. Guru yang mengajar di SMP Unismuh Makassar dan memiliki kemampuan dalam memberikan informasi yang sesuai dengan apa yang ditanyakan oleh peneliti.
2. Guru dan siswa yang masih terikat secara penuh serta aktif pada lingkungan sekolah yang menjadi sasaran penelitian.
3. Guru dan siswa yang memiliki banyak waktu dan kesempatan untuk dimintai informasi.
4. Guru dan siswa yang dalam memberikan informasi relatif lugu dalam memberikan informasi.
5. Guru yang dalam pembelajarannya menggunakan media pembelajaran interaktif berbasis TIK.
38 F. Definisi Operasional Variabel
Dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK merupakan salah satu kompetensi atau kemampuan yang harus dikuasai guru agar pembelajaran menjadi lebih efektif.
Berdasarkan pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 tentang standar kompetensi guru. Ada empat kompetensi yang wajib dimiliki seorang guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Adapun salah satu indikator dalam kompetensi pedagogik dan profesional adalah memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran dan sebagai pengembangan diri.
Tabel 3.2 Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Mata Pelajaran dalam Permendiknas No. 16 tahun 2007
Kompetensi Indikator Penjelasan
Kompetensi Pedagogik
5. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk kepentingan pembelajaran.
5.1 Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran yang diampu.
Kompetensi Profesional
24. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi dan mengembangkan diri.
24.1Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk pengembangan diri.
24.2Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk berkomunikasi.
39 G. Instrumen Penelitian
“Dalam penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Dalam penelitian kualitatif instrumennya adalah orang atau human instrument, yaitu peneliti itu sendiri” (Sugiyono, 2013:
8).
Untuk memperoleh hasil penelitian yang cermat dan valid serta memudahkan peneliti, maka perlu menggunakan alat bantu berupa pedoman wawancara (butir-butir pertanyaan), pedoman observasi,dan pedoman dokumentasi.
H. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara dan dokumentasi.
1. Observasi
Sugiyono (2011: 310) menyatakan bahwa:
Dalam observasi partisipasi moderat, penelitian terlibat dengan kegiatan sehari-hari orang yang sedang diamati atau yang digunakan sebagai sumber data penelitian. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh sumber data, dan ikut merasakan suka dukanya. Dengan observasi partisipan ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap, tajam, dan sampai mengetahui pada tingkat makna dari setiap perilaku yang tampak.
Pada penelitian ini peneliti menggunakan teknik observasi partisipasi moderat secara terus terang. Peneliti mengikuti sebagian aktivitas situasi sosial penelitian dan mengungkapkan dengan terus terang bahwasanya peneliti sedang melakukan penelitian pada situasi sosial tersebut.
40 2. Wawancara
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini bersifat mendalam yang masuk dalam kategori in-depth interview. Adapun alat bantu yang digunakan dalam wawancara seperti buku catatan, tape recorder, dan kamera. Menurut Sugiyono (2020: 115-116) menyatakan bahwa:
…tujuan dari jenis wawancara ini adalah untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka, dimana pihak yang diajak wawancara diminta pendapat, dan ide-idenya. Dalam melakukan wawancara, peneliti perlu mendengarkan secara teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh informan.
3. Dokumentasi
Nasution (2004: 85) menyatakan mengenai sumber data penelitian kualitatif “… ada pula sumber (data) non manusia (non human resources), diantaranya dokumen, foto, dan bahan statistik”. Menurut Sugiyono (2020:
124) “dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari sesorang”.
I. Teknik Analisis Data
Pada penelitian ini, teknik analisis data menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman untuk menganalisis data hasil penelitian. Komponen- komponen analisis data model interaktif menurut Miles dan Huberman (1984) (Sugiyono, 2020) diantaranya yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing/verification).
41
1. Reduksi data adalah sajian analisis yang mempertegas, memperpendek, membuat fokus, membuang hal yang tidak penting dan mengatur sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir dapat dilakukan. Dengan kata lain, reduksi data bertujuan mempermudah pemahaman terhadap data yang telah terkumpul dari hasil catatan lapangan dengan cara merangkum, mengklarifikasi sesuai masalah dan aspek-aspek permasalahan yang diteliti. Kegiatan yang dapat dilakukan dalam reduksi data ini adalah:
a. Mengumpulkan data dan informasi dari catatan hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi yang diperoleh peneliti dari sumber penelitian.
b. Mencari hal-hal yang dianggap penting dari setiap aspek temuan penelitian.
c. Membuang data-data yang tidak diperlukan dari setiap aspek temuan.
2. Data display atau sajian data adalah menyajikan sekumpulan informasi yang tersusun dan memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Dalam hal ini, penyajian data disajikan berdasarkan data yang diperoleh sesuai dengan fokus penelitian untuk disusun secara baik, runtut sehingga mudah dilihat, dibaca, dan dipahami. Kegiatan pada tahap ini adalah:
a. Membuat rangkuman secara sistematis.
42
b. Memberi makna pada setiap rangkuman tersebut dengan memperhatikan kesesuaian dengan kajian penelitian.
3. Verifikasi atau penarikan kesimpulan yaitu kesimpulan yang ditarik dari semua hal yang terdapat dalam reduksi dan sajian data. Setelah melakukan reduksi dan sajian data, peneliti akan menyimpulkan apa yang telah menjadi temuan pada saat penelitian dilakukan.
J. Uji Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif, pengabsahan data merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Karena tanpa pengabsahan data yang diperoleh dari lapangan, maka akan sulit bagi seorang peneliti untuk mempertanggung jawabkan hasil penelitiannya. Dalam hal ini, peneliti menggunakan metode triangulasi sumber. Data yang berasal dari hasil wawancara di cek dengan hasil dokumentasi dan hasil observasi selama penelitian di lapangan.
Pada uji keabsahan data ini dilakukan dengan mengecek data hasil wawancara dengan observasi dan dokumentasi terkait dengan kompetensi guru dalam memanfaatkan media pembelajaran interaktif berbasis TIK. Selanjutnya didiskusikan lebih lanjut kepada guru untuk memastikan kebenaran data yang telah dijawab.
Dalam mengumpulkan data penelitian, peneliti menggunakan teknik obeservasi, wawancara, dan dokumentasi. Data yang telah terkumpul kemudian di analisis menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah tiga orang guru yang merupakan perwakilan dari guru-guru yang mengajar di kelas VII s/d IX dan tiga orang siswa di SMP Unismuh Makassar. Berikut disajikan hasil wawancara, observasi dan telaah dokumen.
A. Hasil Observasi
Untuk memperoleh hasil penelitian yang cermat dan valid, peneliti melakukan observasi untuk mengamati secara langsung aktivitas di sekolah.
Berikut disajikan hasil observasi penelitian ini.
No. Aspek-aspek yang diamati
Muh.
Darwis, S.Pd.I.
Muh.
Akbar Mattata,
S.Pd.
Ahmad Akram, ST.
Keterangan Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak
1. Guru
menggunakan media
pembelajaran interaktif berbasis
PowerPoint,
Video
Pembelajaran live streaming
YouTube.
Tabel 4.1 Hasil Observasi
43
44 TIK dalam proses
pembelajaran.
2. Guru
mengoperasikan perangkat TIK yang disediakan sekolah dalam proses
pembelajaran.
Sekolah
menyediakan fasilitas komputer, jaringan internet,
LCD dan
proyektor yang digunakan guru untuk kepentingan pembelajaran.
3. Guru
menggunakan fasilitas yang tersedia disekolah sebagai penunjang media
pembelajaran interaktif (Komputer,
Internet, LCD proyektor, dll).
Menggunakan
komputer,
jaringan internet,
LCD dan
proyektor untuk membuat media pembelajaran dan melakukan proses pembelajaran melalui fitur live streaming
YouTube..
4. Guru
menampilkan media
pembelajaran yang isinya sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Media yang
ditampilkan sesuai dengan RPP.
5. Guru
menampilkan media
pembelajaran yang isinya sesuai dengan materi pembelajaran.
Media yang
ditampilkan sesuai dengan RPP.