Bunga Rampai
LAYANAN
PENDIDIKAN BAGI SISWA
KORBAN
BENCANA ALAM
LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SISWA KORBAN
BENCANA ALAM
PUSAT PENELITIAN KEBIJAKAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN DAN PERBUKUAN KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
2020
Penulis:
Dr. Etty Sisdiana
Dra. Etty Sofyatiningrum, M.Ed.St.
Fransisca Nur'aini Krisna, S.Si. Apt., M.P.P.
Arie Budi Susanto, S.K.M.
ISBN: 978-602-0792-86-6 Penyunting:
Apriyuanda Bayu Pradana, STP, M.Sc.
Dra. Karmidah, M.Si.
Erni Hariyanti, S.Psi.
Tata Letak:
Joko Purnama, M.Sc.
Desain Kover:
Genardi Atmadiredja, S.Sn., M.Sn.
Sumber Kover: freepik.com Penerbit:
Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Redaksi:
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Gedung E Lantai 19 Jalan Jenderal Sudirman-Senayan, Jakarta 10270
Telp. +6221-5736365 Faks. +6221-5741664
Website: https://puslitjakdikbud.kemdikbud.go.id Email: [email protected]
Cetakan pertama, 2020 PERNYATAAN HAK CIPTA
© Puslitjakdikbud/Copyright@2020 Hak cipta dilindungi undang-undang.
Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.
I
ndonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan peristiwa bencana paling banyak. Bencana alam merupakan peristiwa bencana yang paling banyak terjadi dan paling banyak merusak berbagai fasilitas termasuk bangunan sekolah. Bencana alam juga menyebabkan sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan kehilangan nyawa atau menjadi cacat serta sejumlah peserta didik menjadi cacat. Kondisi demikian menyebabkan terhambatnya aktivitas pendidikan. Hambatan pemberian layanan pendidikan kepada siswa harus dicarikan jalan keluarnya. Diperlukan berbagai upaya agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan tetap mempertimbangkan kondisi sekolah, kondisi pendidik dan tenaga kependidikan serta kondisi peserta didiknya.Kajan bertujuan menghasilkan model layanan pendidikan bagi peserta didik korban bencana alam dalam upaya memperkecil dampak yang ditimbulkan oleh bencana alam. Model dimaksud menggambarkan penyiapan oleh sekolah sebelum bencana alam, langkah yang dapat dilakukan oleh sekolah saat bencana terjadi, serta pemberian layanan pendidikan kepada peserta didik setelah terjadinya bencana alam sesuai dengan kondisi masing-masing. Tahapan pengembangan model ini antara
K ATA SAMBUTAN
Kota Mataram, Kota Denpasar, dan Kota Makassar dalam memberikan layanan pendidikan bagi korban bencana alam.
Hasil kajian ini sangat terbuka untuk mendapatkan masukan dan saran dari berbagai pihak. Semoga Buku Laporan ini dapat bermanfaat dalam rangka menyiapkan generasi yang berkuailtas.
Akhirnya, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada semua pihak yang telah membantu terwujudnya penerbitan Buku Laporan Hasil Kajian ini.
Jakarta, Agustus 2020 Plt. Kepala Pusat Irsyad Zamjani, Ph.D
K ATA PENGANTAR
B
encana alam gunung meletus yang terjadi di Bali pada tahun 2017, gempa bumi di NTB pada tahun 2018 dan gempa bumi di Kota Palu pada tahun 2018 memberikan dampak luar biasa bagi layanan pendidikan di tiga kabupaten/kota ini. Banyaknya wilayah yang hancur, diikuti dengan bangunan sekolah yang rusak berat serta guru dan tenaga kependidikan yang gugur, menyebabkan layanan pendidikan tidak dapat diberikan secara optimal di tiga wilayah ini.Pada sektor pendidikan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) bergerak cepat merespon kondisi ketidakberdayaan pemberian layanan pendidikan kepada peserta didik sebagai dampak dari bencana alam. Pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/
kota melalui kebijakannya, mendorong dan mengupayakan agar siswa korban bencana alam memeroleh hak pendidikan. Layanan pendidikan secara inklusif diberikan oleh sekolah di wilayah yang tidak terkena bencana alam kepada siswa yang berasal dari wilayah bencana. Layanan pendidikan secara regular diberikan oleh sekolah yang terkena bencana alam yang berlangsung di kelas darurat.
Bunga rampai “Layanan Pendidikan bagi Siswa Korban Bencana Alam”
di dunia maupun di Indonesia. Khusus uraian tentang bencana alam di Indonesia, disajikan juga dampaknya terhadap aspek pendidikan termasuk contoh pemberian layanan pendidikan bagi siswa yang terdampak oleh meletusnya gunung Agung, gempa bumi di Lombok, serta gempa bumi yang diikuti dengan tsunami di Sulawesi Tengah. Pada bab terakhir bunga rampai ini disajikan strategi agar siswa dapat terhindar dari situasi yang tidak diinginkan saat terjadi bencana alam, dalam bentuk konsep model.
Bunga rampai ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu saran dan masukan demi perbaikan sangat diharapkan. Semoga bunga rampai ini memberikan manfaat bagi pengambil keputusan dalam upaya memberikan layanan pendidikan kepada siswa sebagai antisipasi agar siswa siap menghadapi kejadian bencana alam.
Jakarta, Agustus 2020 Penulis
Daftar Isi
KATA SAMBUTAN III
KATA PENGANTAR V
DAFTAR ISI VII
BAB I BENCANA ALAM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDIDIKAN
Oleh: Etty Sisdiana 1
A. Bencana dalam Kehidupan Manusia 2
B. Macam-Macam Bencana Alam 3
C. Bencana Alam yang Menghancurkan Dunia 5
D. Bencana Alam di Indonesia 8
E. Dampak Bencana Alam Terhadap Pendidikan di Indonesia 24 BAB II LAYANAN PENDIDIKAN BAGI SISWA KORBAN GEMPA LOMBOK
Oleh: Arie B Susanto 33
A. Hari Mencekam di Pulau Lombok 34
B. Kondisi Sekolah Paska Gempa Bumi 38 C. Pelaksanaan Layanan Pendidikan Paska Gempa Bumi 51
BAB III KESEMPATAN BERSEKOLAH BAGI SISWA PENGUNGSI ERUPSI GUNUNG AGUNG
Oleh: Fransisca Nur’aini Krisna 73
A. Gunung Agung Nan Dahsyat 74
B. Gunung Agung Meletus (Lagi) 75
C. Siswa Korban Erupsi Gunung Agung Tetap Bersekolah 81
D. Peran Aktif Pemerintah Daerah 86
E. Peran Serta Warga Sekolah dan Masyarakat 91 F. Keunggulan Nilai Budaya Masyarakat 94
G. Faktor Penghambat 95
H. Dampak Psikologis Bencana Terhadap Siswa 98
I. Sekolah Aman Bencana 99
BAB IV LAYANAN PENDIDIKAN DI MAKASAR BAGI SISWA KORBAN BENCANA ALAM PALU DAN DONGGALA
Oleh: Etty Sofyatiningrum 105 A. Gempa Bumi, Tsunami dan Likuifaksi Meluluhlantakkan
Sulawesi Tengah 106
B. Eksodus Siswa Terdampak Gempa Bumi Palu dan Donggala ke Makasar 111 C. Pemerintah dan Pemerintah Daerah Hadir untuk Siswa Terdampak Bencana di Palu dan Donggala 113 D. Keterbukaan Sekolah di Makasar Menerima Siswa dari Palu dan
Donggala 117 E. Kondisi Awal Siswa Masuk ke Sekolah Tujuan 120 F. Layanan Psikososial Bagi Siswa Korban Gempa Bumi Palu dan Donggala 122 G. Pembelajaran Bagi Siswa Korban Gempa Bumi Palu dan
Donggala 127 H. Keberadaan Siswa “Pindahan” di Sekolah 130 I. Faktor Pendukung, Kendala dan Harapan 133
BAB V STRATEGI LAYANAN PENDIDIKAN PRA DAN PASKA BENCANA ALAM Oleh: Etty Sisdiana 145
A. Sebaran Risiko Bencana Alam dan Dampak Terhadap Warga
Sekolah 146
B. Upaya Pengurangan Risiko Bencana Alam 151 C. Fakta Tentang Layanan Pembelajaran Kepada Siswa Korban
Bencana Alam 160
D. Model Layanan Pendidikan Berbasis Kesiapsiagaan Terhadap
Bencana Alam 162
B A B I
BENCANA ALAM DAN DAMPAKNYA TERHADAP PENDIDIK AN
Oleh: Etty Sisdiana (e-mail: [email protected])
Abstrak
Kajian ini bertujuan untuk menghasilkan informasi berbagai peristiwa bencana alam dan dampaknya pada kehidupan terutama pada aspek pendidikan.
Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik kajian literatur dan wawancara. Literatur yang digunakan memuat informasi tentang peritiwa bencana alam di dunia dan dampaknya bagi kehidupan serta bencana alam di Indonesia dan dampaknya terhadap pendidikan. Wawancara dilakukan kepada unsur dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Direktorat Pendidikan Khusus Kemendikbud. Hasil yang didapat yakni: 1) bencana alam terdiri atas bencana geologi, hidrologi, meteorologi, 2) terdapat bencana alam yang paling mengerikan karena memakan korban manusia sampai ratusan ribu jiwa, 3) Wilayah Indonesia berpotensi terjadi gempa bumi, 4) Indonesia merupakan negara yang terbanyak memiliki gunung api yang aktif, 5) bencana alam di Indonesia yang paling banyak terjadi adalah banjir, 6 bencana alam di Indonesia yang paling banyak memakan korban jiwa adalah gempa bumi dan tsunami, serta 7) bencana alam di Indonesia yang banyak merusak fasilitas pendidikan adalah puting beliung, tanah longsor, banjir, gempa bumi dan tsunami. Hasil kajian ini mengawali kajian lain yang berhubungan dengan layanan pendidikan
berbasis pada kesiapsiagaan terhadap bencana alam yang seluruhnya dimuat di dalam buku laporan ini.
Kata Kunci: bencana alam, gempa bumi, tsunami, banjir, gunung api.
A. BENCANA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
M
anusia dan bencana tidak dapat dipisahkan. Hal tersebut mengingat sejak jaman dulu, manusia telah menghadapi berbagai bencana alam yang berulang kali terjadi. Bencana alam adalah kondisi atau sesuatu yang harus selalu dihadapi manusia sejak karena bencana alam memiliki kemampuan untuk memusnahkan populasi manusia dan satwa liar dalam jumlah yang signifikan (Barclay, 2014). Bencana alam seperti gempa bumi dan banjir telah terjadi sepanjang sejarah bumi (Roy dan Pandey, 2016). Namun di masa lalu, jumlah manusia masih sedikit demikian pula persebaran manusia masih sangat terbatas sehingga dapat dikatakan tidak ada manusia yang sampai terdampak oleh bencana alam tersebut baik secara fisik maupun ekonomi. Kondisi demikian menyebabkan manusia tidak menyadari akan peristiwa bencana alam termasuk bahaya yang ditimbulkan oleh bencana alam. Di saat terjadi penambahan populasi manusia yang diikuti dengan persebarannya, peristiwa bencana alam sudah memberikan dampak pada kehidupana manusia dan ini menyebabkan manusia menyadari akan keberadaan bencana termasuk bahayanya bencana alam. Sebuah kondisi dikatakan sebagai bencana apabila kondisi tersebut menyerang populasi manusia dalam berbagai aspek. Bahken lebih tegas lagi, PBB menyatakan bahwa bencana merupakan kondisi kerusakan yang sangat serius yang mengancam fungsi-fungsi manusia dan komunitasnya (Roy dan Pandey, 2016). Hal tersebut mengingat bencana berdampak pada manusia, materi, ekonomi atau lingkungan secara luas yang melampoi kemampuan manusia untuk mengatasinya.Di dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dinyatakan bahwa bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana juga dapat diartikan sebagai peristiwa mendadak dan berbahaya yang secara serius mengganggu fungsi suatu komunitas atau masyarakat dan menyebabkan kerugian manusia, material, dan ekonomi atau lingkungan yang melebihi kemampuan komunitas atau masyarakat untuk mengatasi menggunakan sumber dayanya sendiri (IFRC, 2018). Pengertian tentang bencana disampaikan oleh Below, Wirtz dan Sapir, 2009 sebagai berikut, bencana merupakan situasi atau peristiwa di suatu wilayah yang terjadi secara tiba-tiba yang menyebabkan kehancuran luar biasa dan tidak dapat diatasi oleh wilayah tersebut sehingga memerlukan pertolongan di tingkat nasional atau internasional untuk mengurangi penderitaan manusia.
B. MACAM-MACAM BENCANA ALAM
Bencana dapat terjadi kapanpun dan dimanapun serta dapat menimbulkan dampak buruk terhadap kehidupan manusia dan lingkungannya. Terdapat beragam bencana yang secara garis besar, dikelompokkan menjadi bencana alam, bencana non alam, dan bencana social. Pengertian masing-masing jenis bencana adalah sebagai berikut (UU No. 24 tahun 2007).
1. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung Meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
2. Bencana nonalam adalah adalah bencana yang disebabkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal tekonologi, gagal modernisasai, epidemi, dan wabah penyakit.
3. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror.
Storm o Tropical
Cyclone o Extra-Tropical
Cyclone o Local Storm Meteorological
Extreme Temperature o Heat Wave o Cold Wave o Extreme
Winter Condition
Drought
Wildfire o Forest Fire o Land Fire Climatological
Flood o General Flood o Flash Flood o Storm Surge/
Coastal Flood
Mass Movement (Wet) o Rockfall o Landslide o Avalanche o Subsidence Hydrological
Hydro Meteorological +
Earthquake
Volcano
Mass Movement (Dry) o Rockfall o Landslide o Avalanche o Subsidence
Geophysical
Epidemic
o Viral Infectious Disease o Bacterial Infectious
Disease o Parasitic Infectious
Disease
o Fungal Infectious Disease o Prion Infectious Disease
Insect Infestation
Animal Stampede Biological
NATURAN DISASTER CLASSIFICATION
Sumber: Writz, Below, dan Guha-Sapir (2009)
Bencana alam dapat diklasifikasikan menjadi 3 jenis: (1) bencana alam geologis, 2 ) bencana alam meteorologis/klimatologis, dan 3) bencana alam ekstraterestrial (Larasati, 2018). Bencana alam geologis merupakan bencana alam yang terjadi di permukaan bumi, misalnya gempa bumi, tanah longsor, tsunami, dan gunung meletus. Bencana alam meteorologis/klimatologis merupakan bencana alam yang terjadi karena perubahan iklim yang ekstrim, misalnya kekeringan, banjir, angin dan puting beliung. Bencana alam ekstraterestrial merupakan bencana alam yang tejadi karena benda dari luar angkasa. Bencana alam ini jarang terjadi, misalnya badai matahari.
Sementara itu, berdasarkan kejadian atau peristiwanya, bencana alam dikelompokkan menjadi bencana geologi, bencana hidrologi, dan bencana
Bencana geologis merupakan bencana yang terjadi akibat pergerakan geologis bumi yang berdampak pada kehidupan manusia. Bencana alam ini bisa menimbulkan korban luka, korban meninggal dan kehilangan harta benda (Supendi, 2020). Macam-macam bencana geologi: gempa bumi, longsor dan gunung berapi. Bencana hidrologi adalah bencana yang diakibatkan oleh air bumi yang menyebabkan kerusakan baik oleh kualitas, pergerakan, hingga distribusi air (Supendi, 2020). Jenis bencana alam hidrologi antara lain: banjir dan tsunami. Bencana alam meteorology adalah bencana alam yang diakibatkan oleh indicator meteorology seperti curah hujan, iklim, kelembaban dan angin (Supendi, 2020). Jenis bencana alam meteorology antara lain: topan atau topan tropis, badai salju, hujan es. Pengelompokan lain dari bencana alam adalah sebagaimana dalam gambar di atas.
C. BENCANA ALAM YANG MENGHANCURKAN DUNIA Bencana alam dapat dikatakan mengerikan di muka bumi, karena efeknya biasanya sangat besar sekali, bisa menghancurkna suatu kota dan bahkan sampai memakan korban jiwa dalam jumlah yang besar. Sebagai manusia biasa, tidak pernah bisa mengetahui datangnya bencana alam.
Sebagaimana sudah disampaikan sebelum ini bahwa bencana alam dapat berupa gempa bumi, angin topan, banjir, tsunami, gunung meletus. Terdapat bencana alam yang paling mengerikan karena menyebabkan kematian dalam jumlah yang besar sekali. Sepuluh bencana alam yang pernah melanda dunia diantaranya (Romdlon, 2017).
1. Gempa Antiokhia tahun 526
Gempa Antiokhia adalah sebuah ledakan besar yang menimpa Suriah dan Antiokhia di bulan Mei tahun 526 yang menewaskan lebih dari 250.000 orang. Gempa dengan besar guncangan sekitar 7,5 skala ritcher ini diikuti oleh api dan gempa berturut-turut yang membuat orang-orang Kekaisaran Bizantium merasa sangat ketakutan.
2. Gempa Shaanxi tahun 1556
Gempa Shaanxi adalah gempa bumi yang paling mengerikan di dunia, dengan guncangan 8,0-8,3 skala ritcher. Gempa bumi pada tahun 1556 ini terjadi pada malam hari di daerah padat penduduk dan langsung menelan sekitar 830.000 korban jiwa penduduk China. Gempa ini juga berdampak pada medan pegunungan sekitar yang menyebabkan tanah longsor besar dan mengakibatkan wilayah desa terdekat menjadi hilang.
3. Topan Calcutta tahun 1737
Topan Calcutta dianggap sebagai gempa sangat besar yang pernah terjadi di Eropa. Calcutta, yang saat ini dikenal sebagai Kolkata, dikejutkan oleh topan mematikan ini pada tanggal 7 Oktober 1737, yang dikabarkan memakan korban jiwa hampir 300.000 orang. Topan dahsyat ini juga menghancurkan sekitar 20.000 kapal dari pelabuhan termasuk desa-desa di dekatnya, dan dianggap sebagai bencana yang paling mengerikan dalam sejarah umat manusia. Topan ini bisa menerbangkan rumah, memotong sambungan jalur kereta api, menyebabkan tanah longsor di daerah pegunungan, dan juga menyebabkan banjir besar di seluruh negara bagian.
4. Banjir Sungai Kuning tahun 1887
Banjir Sungai Kuning disebabkan karena luapan sungai terdekat, yang semula dibangun oleh petani pada tahun 1887 untuk difungsikan sebagai waduk. Namun, sungai mengungguli kapasitas dengan kelebihan luapan karena hujan. Akibatnya banjir besar ini terjadi. Banjir dahsyat ini dikabarkan membunuh sekitar 900.000 sampai 2.000.000 korban jiwa, merusak tanaman, menghancurkan gubuk, dan memicu penyakit yang paling berbahaya. Sekitar dua juta orang juga langsung kehilangan tempat tinggal karena banjir.
5. Kekeringan paling mematikan di China tahun 1876-1879 Kekeringan yang paling mematikan ini juga dikenal sebagai “Kelaparan
Tiongkok Utara” dan disebut bencana alam yang paling mengerikan sepanjang masa. Kondisi kekeringan melanda hampir seluruh wilayah di China karena selama tiga tahun tak pernah turun hujan. Akibatnya China kala itu menjadi seperti daerah padang pasir. Bencana kekeringan ini dikabarkan membunuh 9-13 juta orang. Kelaparan dan serangan penyakit jadi faktor utamanya.
6. Gempa Haiyuan tahun 1920
Haiyuan, yang terletak di Republik Cina, mengalami bencana gempa bumi pada tahun 1920 yang menghancurkan kota dengan guncangan sekitar 7,8 skala ritcher dengan angka kematian 273.400 orang. Namun, laporan lainnya menyebut besar gempa ini justru mencapai 8,5 skala ritcher. Kota- kota besar seperti Xining, Taiyuan, Lanzhou, dan Xi”an hampir bisa dikatakan langsung habis dan dampaknya memicu tanah longsor di Kabupaten Guyuan yang langsung menewaskan lebih dari 30.000 orang.
7. Banjir China tahun 1931
Pada tahun 1931, China mengalami banjir mematikan dan menghancurkan yang diketahui merupakan peristiwa terburuk di abad ke-20. Total korban jiwa akibat Banjir China ini diperkirakan sekitar 3,7 juta dan 4 juta orang dan disebut salah satu bencana terburuk dalam sejarah umat manusia. Kasus kelaparan, kematian, tunawisma, dan penyakit mematikan sangat umum terjadi, di mana dampak utamanya adalah dari bulan Juli sampai Agustus 1931. Kondisi cuaca yang tidak normal adalah penyebab utama di balik banjir, yang berlangsung terus-menerus selama dua bulan yang panjang yang menyebabkan air “marah”.
8. Topan Bhola tahun 1970
Topan Bhola adalah topan destruktif yang sangat kuat dan membunuh 500.000 orang secara langsung. Pada tanggal 12 November 1970, topan
185 km/jam. Topan ini mencabut hampir semua pulau di dekatnya yang mempengaruhi sekitar 45% penduduk Upazila.
9. Gempa Tangshan tahun 1976
Tangshan adalah kota industri yang terletak di timur laut Hebei, China.
Gempa ini menimbulkan getaran yang sangat besar, sekitar 7,8 skala ritcher.
Pemerintah China menganggap gempa ini sebagai gempa bumi terbesar dan dahsyat di abad ke-20 karena memakan sangat banyak korban jiwa, yakni sekitar 655.000 orang. Namun menurut hitungan resmi yang terakhir dirilis korbannya berkurang menjadi sekitar 240.000 orang.
10. Gempa bumi dan tsunami di Samudera Hindia tahun 2004 Pada tahun 2004 Samudra Hindia diguncang gempa bumi hebat sekaligus tsunami. Gempa ini terjadi dengan guncangan yang sangat keras 9,1-9,3 skala ritcher, yang dikabarkan langsung menelan korban jiwa sebanyak 280.000 orang. Gelombang tsunami ini disebut telah menghancurkan tanah di 14 negara, dan yang paling parah adalah Indonesia, India dan Sri Lanka.
D. BENCANA ALAM DI INDONESIA
Secara geografis Indonesia merupakan negara kepuluan yang terletak pada pertemuan empat lempeng tektonik yaitu lempeng benua Asia, benua Australia, Samudera Hindia dan Samudra Pasifik. Selain itu , pada bagian selatan dan timur Indonesia terdapat sabuk vulkanik yang emmanjang dari Pulau Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan Sulawesi yang sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah yang sebagian didominasi oleh rawa-rawa. Kondisi ini sangat berpotensi terjadinya bencana seperti letusan gunung api, gempa bumi, tsunami, banjir dan tanah longsor (BNPB, 2017). Indonesia, sudah sejak jaman dulu merupakan negara dengan jumlah kejadian bencana alam yang tinggi dengan tingkat kerusakan yang tinggi pula.
Berkenaan dengan peristiwa bencana, BNPB mencatat sejak awal
tahun 2017 sampai dengan bulan Desember 2017, terjadi 2.175 kejadian bencana di Indonesia, terdiri atas: banjir (737 kejadian), puting beliung (651 kejadian), tanah longsor (577 kejadian), kebakaran hutan dan lahan (96 kejadian), banjir dan tanah longsor (67 kejadian), kekeringan (19 kejadian), gempa bumi (18 kejadian), gelombang pasang/abrasi (8 kejadian), serta letusan gunung api (2 kejadian). Dari sejumlah kajadian bencana ini, terdapat tujuh kejadian bencana yang sangat parah, yakni: 1) banjir yang sampai merendam 7 kecamatan di Sumbawa, 2) longsor di Ponorogo, 3) meletusnya kawah Seleri Dieng, 4) gempa di Tasikmalaya, Ambon, dan Kabupaten Lebong, 5) meletusnya gunung sinabung sebanyak dua kali, 6) meletusnya gunung Agung, dan 7) siklon tropis Cempaka. Peristiwa meletusnya Agung, tidak memakan korban jiwa. Meskipun demikian, abu vulkanik yang dihasilkan gunung ini membuat terhentinya aktivitas masyarakat di sana, tidak terkecuali aktivitas pembelajaran. Gunung Agung yang berlokasi di Kabupaten Karangasem, Bali ini menyebabkan sekitar 100 ribu orang melakukan evakuasi secara mandiri ke tempat yang aman (Jawa Pos, 2017). Peserta didik yang ikut dievakuasi, memerlukan tempat/sekolah untuk mengikuti pembelajaran. Daerah/wilayah yang menjadi tujuan sebagian besar masyarakat yang berasal dari areal Gunung Agung adalah kota Denpasar. Pengaturan pemberian layanan pendidikan kepada peserta didik korban bencana meletusnya gunung Agung, dilakukan oleh pemerintah Provinsi Bali. Lebih khusus lagi, dinas pendidikan kota Denpasar mengatur secara khusus proses penerimaan peserta didik yang berasal dari Kabupaten Karangasem (Nusabali, 2017).
Untuk mengetahui upaya yang dilakukan pemerintah Kota Denpasar berkenaan dengan pemberian layanan pendidikan kepada peserta didik korban meletusnya gunung Agung, Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pengumpulan data di kota Denpasar dengan menggali informasi dari berbagai nara sumber yang berhubungan langsung dengan pemberian bantuan kepada korban bencana alam.
diantaranya merupakan bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor dan angin puting beliung. Selain bencana hidrometeorologi, di tahun 2018 juga terjadi bencana geologi seperti gempa bumi dan banjir sebanyak 76 peristiwa. Terdapat lima peristiwa bencana alam di tahun 2018 yang sangat dahsyat bila dilihat dari kualitas dan kuantitas dampaknya. Kelima bencana tersebut yakni: 1) Longsor di Brebes Jawa Tengah pada tanggal 22 Februari 2018, 2) gempa bumi di Lombok NTB bulan Juli 2018, 3) gempa dan tsunami serta likuifaksi di Donggala dan sekitarnya di Sulawesi Tengah, 4) banjir bandang Mandailing Sumatera Utara tanggal 12 Oktober 2018, dan 5) tsunami di Selat Sunda tanggal 22 Desember 2018 (BBC, 2018a). Dari kelima wilayah terkena bencana alam ini, dua diantaranya yakni Lombok dan Donggala merusak bangunan sekolah dengan jumlah yang besar.
Kerusakan bangunan ini dari rusak ringan sampai dengan rusak berat yang menyebabkan bangunan tidak dapat digunakan lagi.
Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menyebutkan bahwa Indonesia memiliki 12 jenis ancaman bencana yang “beresiko tinggi” yaitu: gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, gerakan tanah, banjir, banjir bandang, kekeringan, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim dan abrasi, kebakaran, hutan dan lahan, epidemi dan wabah penyakit, serta gagal tekonologi.
Beberapa contoh peristiwa bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia, disampaikan sebagai berikut.
1. Gunung Berapi
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang mempunyai gunung api aktif terbanyak. Sejarah mencatat bahwa letusan gunung api besar yang mengubah dunia beberapa diantaranya terjadi di Indonesia.
Sejumlah peristiwa erupsi gurung api besar pernah terjadi di Indonesia yang sampai menyebabkan bencana besar, antara lain: Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat, gunung Rinjani di Lombok Nusa Tenggara Barat dan gunung Krakatau di Selat Sunda. Terdapat sebanyak 5 gunung berapi yang dinyatakan teraktif di dunia berdasarkan pertimbangan sejarah erupsi
berskala besar dan detruktif serta kepadatan penduduk di sekitarnya. Salah satunya adalah gunung Merapi yang berada di Indonesia (Sumardani, 2009).
Selain itu, terdapat lima ledakan terbesar sepanjang peradaban dan dua diantaranya yakni, gunung Tambora dan Gunung Toba yang berada di Indonesia (Sumardani, 2009).
Berikut beberapa daftar gunung api aktif yang ada di Indonesia dari peta persebaran gunung api aktif berdasarkan data dari Kementerian ESDM, ditunjukkan pada gambar berikut.
Gambar 1.2. Sebaran Gunung Api Aktif di Indonesia
Sumber: ESDM, 2018
Merujuk pada diagram di atas, terlihat bahwa gunung berapi menyebar di hampir seluruh pulau di Indonesia. Ada dua pulau besar yang tidak ada gunung apinya, yakni Kalimantan dan Papua. Berikut daftar dan sebaran gunung api yang masih aktif yang ada di Indonesia sesuai provinsi.
Tabel 1.1. Daftar Sebaran Gunung Api di Indonesia
No Nama Provinsi Nama Gunung Jumlah
1 Bali Gunung Agung, Gunung Batur 2
2 Sulawesi Utara Gunung Ambang, Gunung Awu, Gunung Karangetang, Gunung Lokon, Gunung Mahawu, Gunung Ruang, Gunung Soputan, Gunung Tangkoko
8
3 Lampung Gunung Anak Krakatau 1
4 Nusa Tenggara Timur
Gunung Anak Ranakah, Gunung Batutara, Gunung Ebulobo, Gunung Egon, Gunung Ile Werung, Gunung Ili Boleng, Gunung Ili Lewotolok, Gunung Inielika, Gunung Inierie, Gunung Iya Gunung, Gunung Kelimutu, Gunung Lereboleng, Gunung Lewotobi Laki- Laki, Gunung Lewotobi Perempuan, Gunung Rokatenda, Gunung Sirung
16
5 Jawa Timur Gunung Arjuno Welirang, Gunung Bromo, Gunung Ijen, Gunung Kelud, Gunung Lamongan, Gunung Raung, Gunung Semeru
7
6 Maluku Gunung Banda Api, Gunung Wurlali 2 7 NAD Gunung Bur Ni Telong, Gunung Peut Sague,
Gunung Seulawah Agam
3
8 Jawa Barat Gunung Ciremai, Gunung Galunggung, Gunung Gede, Gunung Guntur, Gunung Papandayan, Gunung Salak, Gunung Tangkuban Parahu
7
9 Sulawesi Tengah
Gunung Colo 1
10 Sumatera Selatan
Gunung Dempo 1
11 Jawa Tengah Gunung Dieng, Gunung Slamet, Gunung Sumbing, Gunung Sindoro
4
12 Maluku Utara Gunung Dukono, Gunung Gamalama, Gunung Gamkonora, Gunung Ibu, Gunung Kie Besi
5
13 Bengkulu Gunung Kaba 1
14 Sumatera Barat
Gunung Kerinci, Gunung Marapi, Gunung Talang, Gunung Tandikat
4
15 DIY Gunung Merapi 1
16 Nusa Tenggara Barat
Gunung Rinjani, Gunung Sangeangapi, Gunung Tambora
3
17 Sumatera Utara
Gunung Sinabung, Gunung Sorikmarapi 2
Sumber: Arnani, M, 2018. diolah
Merujuk pada tabel di atas terlihat bahwa hanya 50% dari 34 provinsi di Indonesia yang memiliki gunung api. Dari seluruh gunung api yang ada di Indonesia, ternyata Provinsi Nusa Tenggara Timur menempati provinsi yang terbanyak memiliki gunung api. Informasi tentang keberadaan gunung api ini dapat digunakan untuk mengantisipasi tentang aksi yang seharusnya dilakukan sebelum, pada saat dan setelah peristiwa gunung meletus atau erupsi gunung api.
2. Gempa Bumi
Gempa bumi disebabkan oleh adanya interaksi lempeng tektonik.
Peristiwa gempa bumi dapat menimbulkan gelombang pasang apabila
bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.
Gambar 1.3. Wilayah Rawan Gempa di Indonesia Sumber: Fauzi, 2018
Di Indonesia, terdapat beberapa wilayah yang rawan terjadi gempa, seperti ditunjukkan pada gambar berikut.
Indonesia termasuk daerah kegempaan aktif dimana selama tahun 1976-2006 sudah terjadi 3.486 gempa bumi dengan magnitudo lebih dari 6,0 SR. Penelitian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak tahun 1991‐2009 (19 tahun) telah terjadi 27 kali gempabumi merusak dan 13 kali gempabumi menimbulkan tsunami (Sunarjo dkk, 2012:2) Kalau dirata ratakan dan pembulatan, Indonesia mengalami kejadian gempabumi sebanyak 2 kali dan tsunami 1 kali setiap tahunnya.
Berikut gempa bumi yang terjadi di Indonesia dengan korban mencapai ribuan (Indocrop Circles, 2013).
a. Gempa Ambon
Tanggal : 17 Februari 1674 Lokasi : Tidak tercatat
Magnitudo : Tidak tercatat karena belum ada teknologi pencatan gempa, diperkirakan 7,5 SR
Korban : 2.322 meninggal dunia Dampak : Tidak tercatat
b. Gempa Pulau Bali
Tanggal : 20 Januari 1917 jam 06.50 WITA Lokasi : pusat gempa di tenggara pulau Bali Magnitudo : 6,6 SR
Korban : Lebih dari 1500 orang meninggal dunia karena banyaknya tanah longsor akibat gempa.
Dampak :
• tanah longsor dan mengakibatkan kerusakan luas di seluruh Bali, terutama di bagian selatan pulau.
• Gempa ini juga dirasakan di bagian timur pulau Jawa dan Sumbawa, dan terasa sangat kuat di Lombok
• Banyak perumahan di desa-desa tertimbun longsoran tanah.
• Banyak bangunan yang runtuh
c. Gempa Papua, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tanggal : 25 Juni 1976
Lokasi : Tidak tercatat lokasi tepatnya Magnitudo : 7,1 SR
Korban : 422 meninggal dunia : 5000 - 9000 hilang
Dampak : enam desa dilaporkan hancur di daerah gempa d. Gempa Flores, Nusa Tenggara Timur
Tanggal : 12 Desember 1992
Lokasi : lepas pantai Flores, Indonesia, diikuti dengan tsunami Magnitudo : 7,8 SR
Korban :
• 2000 meninggal dunia
• 500 hilang
• 447 luka
• 5.000 mengungsi Dampak :
• menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores
• menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya
• Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur
• Kota yang paling parah ialah Maumere. Lebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak berat
e. Gempa Andaman (gempa Aceh) Sumatera Tanggal : 26 Desember 2004
Lokasi : pusat gempa bumi di bagian pantai barat Sumatera, Indonesia.
Magnitudo : 9,1 – 9,3 SR
Korban : 301.225 meninggal dunia Dampak :
• Gempa memicu serangkaian tsunami di sepanjang pantai minimal 13 negara-negara ditengah samudera maupun dilepas pantai Samudera Hindia
• gelombang tsunami juga menerpa Malaysia, Thailand, Myanmar, Sri Lanka, India, Maladewa, Seychelles, Somalia, Kenya, Tanzania, Madagaskar dan Afrika Selatan
f. Gempa Pulau Nias Sumatera Utara Tanggal : 28 Maret 2005, jam 23.09
Lokasi : dasar Samudra Hindia, sejauh 200 km sebelah barat Sibolga, di lepas pantai Pulau Sumatera, atau 1.400 km barat laut Jakarta, sekitar setengah jarak atau antara dua pulau, yaitu Pulau Nias dan Pulau Simeulue.
Magnitudo : 8,6 SR
Korban : 1.346 meninggal dunia Dampak :
• Getaran terasa di beberapa provinsi di Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Palembang.
• memutuskan aliran listrik dan telepon di sebagian pulau Sumatra.
g. Gempa Jogyakarta, DI Yogyakarta Tanggal : 26 Mei 2006
Lokasi : sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta
Magnitudo : 6,3 SR
Korban : 6.234 meninggal dunia Dampak :
• Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya.
• Gedung-gedung rusak parah
h. Gempa Padang
Tanggal : 30 September 2009
Lokasi : lepas pantai Sumatera Barat, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.
Magnitudo : 7,9 SR
Korban : 1.117 meninggal dunia. 1,214 luka parah, dan 1.688 luka ringan
Dampak : kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.
i. Gempa Palu/Donggala, Sulawesi Tengah
Tanggal : 28 September 2018, terjadi beberapa kali gempa, diikuti dengan gelombang tsunami
Lokasi : Pusat gempa bumi (episentrum) berada di darat, sekitar Kecamatan Sirenja, 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km.
Magnitudo : 6,0 – 7,4 SR
Korban : Lebih dari 1,649 meninggal dunia : Lebih dari 600 luka-luka
:Lebih dari 100 hilang
:Lebih dari 16.000 mengungsi
Banyaknya korban jiwa selain karena gempa dan tsunami, juga akibat peristiwa likuifaksi.
Dampak :
• Guncangan gempa bumi dirasakan di kawasan Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabu-paten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar.
• Daerah paling parah karena likuifaksi tanah adalah daerah Petobo,
Balaroa dan daerah Jono Oge. Semua bangunan di ketiga daerah tersebut terseret tanah berlumpur hingga sejauh kurang lebih dua kilometer, selain itu akibat likuifaksi banyak bangunan rumah yang terkubur atau tersedot ke dalam tanah.
Gambar 1.4. Tsunami di Indonesia sejak Tahun 1629 Sumber: Sidik, 2018
3. Tsunami
Tsunami merupakan gelombang yang biasanya ditimbulkan oleh guncangan di laut. Tsunami sangat mempengaruhi kondisi pesisir dan bawah laut karena gelombangnya bersifat menghantam. Peristiwa tsunami terjadi karena tubrukan atau pergeseran lempeng yang keras disertai gempa pada daerah lautan.
Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau yang dikelilingi oleh lautan yang luas, merupakan negara yang sering sekali mengalami tsunami. BNPB mencatat bahwa terjadi ratusan kali tsunami di Indonesia, ditunjukkan
Berikut adalah tujuh gelombang tsunami yang pernah terjadi di Indonesia yang digolongkan sebagai gelombang tsunami dahsyat. (Kompas, 2018):
a. Tsunami Sulawesi Tengah (10 Agustus 1968)
• 200 orang meninggal dunia di Donggala
• 500 keluarga hilang.
• Ribuan rumah hancur.
b. Tsunami Sumba (19 Agustus 1977)
• Di Pulau Sumbawa, 75 orang meninggal dunia, 26 orang hilang dan 18 orang lukan parah.
• Di Pulau Lomben, 187 orang meninggal dunia, dan 364 orang hilang.
c. Tsunami Flores (12 Desember 1992)
• Merusak sebagian besar wilayah Sikka dan Ende.
• Gelombang memporakporandakan rumah penduduk, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, perkantoran, dan sarana umum lainnya.
• Lebih dari 1300 orang meninggal dunia, 500 orang hilang.
• Ribuan rumah penduduk rusak.
d. Tsunami Banyuwangi (3 Juni 1994)
• Merusak sebagian besar wilayah Banyuwangi.
• Meluluhlantakkan perkampungan nelayan.
• Korban meninggal dunia paling sedikit 203 orang.
• 213 rumah rata dengan tanah.
• 187 perahu nelayan rusak.
e. Tsunami Kepulauan Banggai (9 Mei 2000)
• Korban meninggal dunia sebanyak 46 orang
f. Tsunami Aceh (26 Desember 2004)
• Gelombang dengan tinggi 35 meter meluluhlantakkan Aceh dan wilayah sepanjang pesisir Sumatera.
• Diperkirakan 160.000 orang meninggal dunia.
• Menghacurkan kehidupan warga Aceh.
g. Tsunami Pangandaran (17 Juli 2006)
• gelombang besar mengempaskan 125 perahu dan menghancurkan tempat pelelangan ikan (TPI) di Karangduwur
• 20 warung hanyut ke laut setelah disapu gelombang, sementara 150 unit perahu nelayan di Ayah dan 372 perahu di Pantai Suwuk hancur.
• diperkirakan mengakibatkan sedikitnya 100 orang tewas, ratusan lainnya hilang, dan ribuan warga di sejumlah wilayah pesisir mengungsi ke tempat yang lebih aman.
4. Banjir
Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat (BNPB). Banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun di Indonesia terutama pada musim penghujan. Penyebab banjir di seluruh wilayah relatif sama, meskipun dengan intensitas berbeda, yaitu: (1) curah hujan tinggi; (2) jumlah dan kepadatan penduduk tinggi; (3) pengembangan kota yang tidak terkendali, tidak sesuai tata ruang daerah, dan tidak berwawasan lingkungan sehingga menyebabkan berkurangnya daerah resapan dan penampungan air; (4) drainase kota yang tidak memadai akibat sistem drainase yang kurang tepat, kurangnya prasarana drainase, dan kurangnya pemeliharaan; (5) luapan beberapa sungai besar yang mengalir ke tengah kota;
(6) kerusakan lingkungan pada daerah hulu; (7) kondisi pasang air laut pada saat hujan sehingga mengakibatkan backwater; (8) berkurangnya kapasitas
bantaran sungai; (9) kurang lancar hingga macetnya aliran sungai karena tumpukan sampah; serta (10) ketidakjelasan status dan fungsi saluran (Bappenas, 2008). Banjir memiliki kekuatan erosif yang sangat besar dan bisa sangat merusak karena dapat membawa benda-benda yang berat sekalipun seperti rumah, mobil hanyut. Bahkan banjir dapat merobohkan jembatan atau membuat tanah longsor.
Terdapat lima macam banjir, yaitu banjir air, banjir lumpur, banjir rob, banjir lahar dan banjir bandang (Gilang, 2019). Banjir air merupakan banjir yang sering terjadi yang disebabkan oleh kondisi air yang meluap di beberapa tempat seperti sungai, danau maupun selokan. Banjir air biasanya terjadi karena hujan yang begitu lama sehingga sungai, danau maupun selokan tidak cukup menampung air hujan tersebut. Banjir lumpur merupaka banjir yang disebabkan oleh lumpur yang keluar dari dalam bumi yang menggenangi daratan. Banjir lumpur yang terkenal adalah banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo Surabaya. Banjir rob merupakan banjir yang disebabkan oleh naiknya air laut menggenangi daratan di sekitarnya. Banjir rob biasanya melanda wilayah yang dekat dengan laut, misalnya Muara Baru Jakarta. Banjir lahar merupakan banjir yang disebabkan oleh lahar gunung berapi yang mengalami erupsi atau meletus. Banjir bandang merupakan banjir yang memiliki tingkat bahaya yang tinggi karena biasanya disebabkan oleh bendungan air yang jebol (Ilmugeografi.com, tanpa tahun) Umumnya banjir bandang memiliki arus yang deras sehingga manusia sulit berenang. Keadaan ini yang sering menyebabkan banjir bandang menelan korban jiwa.
Banjir merupakan salah satu bencana alam dengan tingkat kekerapan yang paling tinggi di Indonesia dibandingkan dengan bencana alam lainnya.
Sebagian besar kab/kota di Indonesia mengalami banjir dan ditengarai memiliki risiko atau dampak yang tinggi pula. Tabel berikut menginformasikan banyaknya kab/kota di Indonesia dikaitkan dengan tingkat risiko yang ditimbulkan oleh banjir pada tahun 2018.
Tabel 1.2. Jumlah Kab/Kota Per Provinsi Sesuai Risiko Banjir 2018
No Provinsi Juml Kab/Kota Sesuai Risiko oleh Banjir
Tinggi Sedang Rendah
1 Aceh 19 0 0
2 Sumatera Utara 22 3 1
3 Sumatera Barat 9 0 0
4 Riau 11 0 0
5 Jambi 9 1 0
6 Sumatera Selatan 15 0 0
7 Bengkulu 7 0 0
8 Lampung 13 0 0
9 Kep. Riau 0 0 0
10 Kep. Bangka Belitung 6 0 0
11 Banten 7 0 0
12 Jawa Barat 22 0 0
13 Jawa Tengah 23 1 0
14 D I Yogyakarta 2 2 0
15 Jawa Timur 36 2 0
16 DKI Jakarta 4 1 0
17 Kalimantan Barat 14 0 0
18 Kalimantan Tengah 12 1 0
19 Kalimantan Selatan 13 0 0
20 Kalimantan Timur 10 0 0
21 Kalimantan Utara 4 0 0
22 Sulawesi Utara 1 0 0
23 Sulawesi Tengah 0 8 0
24 Gorontalo 1 0 0
25 Sulawesi Tenggara 2 12 0
26 Sulawesi Barat 1 4 0
27 Sulawesi Selatan 1 14 0
28 Nusa Tenggara Barat 5 0 0
30 Bali 0 0 0
31 Maluku 5 6 0
32 Maluku Utara 8 0 0
33 Papua Barat 11 2 0
34 Papua 23 1 0
Jumlah total 307 69 2
Sumber: BPS, 2018, diolah
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pada tahun 2018 jumlah kabupaten/kota dengan risiko akibat banjir tinggi (81,21%) jauh lebih banyak daripada kabupaten/kota dengan risiko akibat banjir sedang (18,25%). Bahkan pada tabel terlihat bahwa, hanya sedikit sekali kabupaten/
kota di Indonesia dengan risiko akibat banjir rendah yakni 0,53%. Dengan merujuk pada tabel maka dapat diartikan bahwa akan terjadi begitu banyak fasilitas salah satunya adalah fasilitas sekolah yang akan rusak. Kerusakan fasilitas sekolah ini secara langsung akan menyebabkan aktivitas pembelajaran di sekolah menjadi terhambat.
E. DAMPAK BENCANA ALAM TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA
Tidak dapat ditolak bahwa Indonesia merupakan negara yang mengalami bencana alam terbanyak di dunia. Bencana alam merupakan jenis bencana yang paling banyak terjadi di Indonesia. Sejumlah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api hingga fenomena likuifaksi telah meluluhlantakkan wilayah terdampak dan menelan banyak korban (BBC, 2018a).
Bencana alam merupakan bencana yang berdampak paling banyak terhadap kerusakan fasilitas pendidikan. Setidaknya terdapat kurang lebih total 250 ribu sekolah atau 75% dari seluruh sekolah di Inonesia yang rawan tertimpa bencana seperti banjir, gempa bumi, erupsi gunung merapi, tsunami, dan tanah longsor (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,
2017). Bencana yang dahsyat ini menyebabkan sejumlah anak usia sekolah kehilangan tempat tinggal dan tempat untuk menuntut ilmu. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986 di dalam BNPB, 2017).
Selain kehilangan jiwa, bencana alam juga menyebabkan kerusakan pada bangunan sekolah yang menyebabkan siswa tidak dapat melakukan aktivitas pembelajaran. Beberapa peristiwa gempa bumi yang merusak bangunan sekolah diantaranya (Juknis Penerapan Sekolah Aman Bencana bagi Anak Berkebutuhan Khusus, Kemendikbud, 2016): 1) gempa bumi tsunami di Aceh tahun 2004 menghancurkan 2000 sekolah, 2) gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006 menghancurkan 2900 sekolah, 3) gempa bumi di Jawa Barat tahun 2009 menghancurkan 2.126 sekolah dimana 35 bangunan sekolah diantaranya rata dengan tanah, 4) gempa bumi di Sumatera Barat tahun 2009 menyebabkan 1.247 sekolah rusak berat, 919 sekolah rusak sedang, dan 670 sekolah rusak ringan, 5) gempa bumi dan tsunami di Mentawai menyebabkan 7 sekolah rusak berat, 6) gempa bumi di Bener Meriah dan Aceh Tengah menyebabkan 327 sekolah dan 30 madrasah rusak, 7) erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara menyebabkan 185 sekolah rusak dan beberapa diantaranya harus di relokasi, 8) gempa bumi di Lombok Utara tahun 2013 menyebabkan 30 sekolah rusak, serta 9) erupsi gunung Kelud Jawa Timur tahun 2014 menyebabkan 394 sekolah di Kediri rusak berat.
Bencana, sebagaimana sudah disampaikan terdahulu sangat sering terjadi di Indonesia. Kejadiannya bervariasi dari tahun ke tahun dengan jumlah kerusakan sekolah yang juga bervariasi. Tabel di bawah menunjukkan kekerapan kejadian bencana di tahun 2016 – 2019 dan jumlah fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan.
Tabel 1.3. Jumlah Fasilitas Pendidikan Rusak Akibat Bencana Alam di Indonesia (2016 – 2019)
Jenis Bencana Alam 2016
Jumlah Kejadian (kali) Jumlah Fasilitas Pendidikan Rusak (Unit)
2017 2018 2019 Juml 2016 2017 2018 2019 Juml 1 Puting
beliung 663 885 804 568 2920 61 88 75 51 275
2 Banjir 823 978 679 385 2865 1137 1049 368 257 2811
3 Tanah
longsor 599 846 473 355 2273 31 54 22 16 123
4 Banjir dan Tanah Longsor
---- --- --- 5 5 0 0 0 1 1
5 Kebakaran hutan dan lahan
178 96 370 59 703 0 0 0 0 0
6 Kekeringan --- 19 129 33 181 0 0 0 0
7 Letusan
gunung api 7 1 58 4 70 0 0 0 0 0
8 Gelombang pasang/
abrasi
22 11 34 8 75 1 2 2 0 5
9 Gempa bumi 10 17 23 13 63 254 133 1004 53 1444
10 Gempa bumi
dan tsunami --- --- 1 --- 1 0 0 265 0 265
11 Tsunami --- --- 1 --- 1 0 0 0 0 0
JUMLAH 2302 2853 2572 1426 9153 1484 1326 1736 378 4924
Sumber: BNPB, 2019, diolah.
Merujuk pada tabel di atas terlihat bahwa dari 11 peristiwa bencana alam, terdapat empat bencana yaitu: 1) kebakaran hutan dan lahan, 2) banjir dan tanah longsor, 3) kekeringan, dan 4) letusan gunung api sepanjang tahun 2016 – 2019 yang tidak menyebabkan kerusakan bangunan sekolah.
Sementara itu banjir dan gempa bumi merupakan bencana alam dengan jumlah sekolah rusak terbanyak. Banjir yang bersamaan dengan tanah
longsor yang terdapat dalam tabel di atas, terlihat hanya dua kali terjadi, sedangkan banjir saja terlihat sebanyak 2.668 (dua ribu enam ratur enam puluh delapan) kali. Informasi berkenaan dengan peristiwa banjir yang melanda Indonesia di akhir-akhir belakangan ini antara lain disebabkan oleh perilaku manusia. Sebaliknya, gempa bumi merupakan kejadian bukan karena perilaku manusia. Banyaknya sekolah yang rusak akibat bencana alam, sudah barang tentu menyebabkan kegiatan pembelajaran terganggu atau tidak dapat terlaksana. Dalam kondisi yang demikian, siswa menjadi terhambat kebutuhan belajarnya. Oleh sebab itu, pada peristiwa bencana alam, pemerintah dengan selalu berperan aktif untuk menghidupkan kembali kegiatan pembelajaran meskipun dilaksanakan dalam kondisi serba terbatas seperti di ruang kelas darurat atau di sekolah lain yang tidak terdampak bencana alam.
Bencana alam yang terjadi di Indonesia, secara empiris terjadi di luar waktu sekolah. artinya saat bencana alam, di sekolah sedang tidak aktivitas pembelajaran. Oleh sebab itu, sebagian besar bencana alam yang melanda Indonesia dan menghancurkan gedung sekolah, ternyata tidak banyak menimbulkan warga sekolah yang menjadi korban. Kejadian bencana alam yang memakan korban siswa dengan jumlah yang cukup besar yakni gempa bumi Padang Sumatera Barat pada tahun 2009. Pada gempa bumi ini sejumlah siswa yang sedang mengikuti bimbingan belajar meninggal karena tertimbun oleh bangunan gedung yang roboh (DetikNews, 2009).
Bencana dapat membawa dampak buruk pada keberlanjutan pendidikan anak. Hal itu terjadi karena beberapa penyebab, pertama, ada beberapa siswa dan guru yang turut menjadi korban, kedua, banyak anak-anak yang ikut mengungsi orang tua mereka, ketiga, banyak fasilitas sekolah baik sekolah dasar maupun sekolah menengah yang hancur atau rusak akibat bencana sehingga tidak dapat dipergunakan lagi, dan keempat, banyak bangunan sekolah yang dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian sehingga tidak dapat dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
sekolah tentunya akan menimbulkan tidak dapat berjalannya pembelajaran sebagaimana yang seharusnya. Selain menghancurkan sejumlah bangunan sekolah, bencana alam juga menyebabkan sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan kehilangan nyawa atau menjadi cacat. Selain itu, bencana alam juga bisa menyebabkan sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan mengalami cacat fisik dan/atau cacat non-fisik. Dengan kondisi pendidik dan tenaga kependidikan yang demikian, secara langsung maupun tidak langsung kegiatan pembelajaran akan terhambat. Demikian pula, bencana alam juga bisa menyebabkan sejumlah peserta didik menjadi cacat fisik dan/
atau cacat non-fisik. Cacat non-fisik misalnya faktor psikologis yang menyebabkan siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana biasanya. Demikian pula, siswa yang mengalami cacat permanen misalnya adanya anggota tubuh yang hilang, yang menyebabkan siwa tidak dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana layaknya ketika siswa tidak mengalami cacat.
Seluruh hambatan pada pemberian layanan pendidikan kepada siswa harus dicarikakn jalan keluarnya. Harus ada upaya dari berbagai institusi agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan dengan tetap mempertimbangkan kondisi sekolah, kondisi pendidik dan tenaga kependidikan serta kondisi peserta didiknya.
Kajian ini dilakukan dengan alasan untuk melihat bagaimana praktik baik layanan pendidikan bagi korban bencana alam yang dilakukan pemerintah daerah. Selain itu, kajian ini juga bermaksud untuk mengembangkan model layanan pendidikan bagi korban bencana berdasarkan praktik baik tersebut.
Uraian pada bab-bab berikut merupakan hasil telaahan tentang layanan pendidikan kepada peserta didik korban bencana alam yang telah dilakukan oleh pemerintah yakni Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), pemerintah daerah terdiri atas dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kabupaten/kota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta sekolah. Pengumpulan data telah dilakukan pada bulan Mei sampai Juli
2019, setelah bencana alam terjadi pada tahun 2017 dan tahun 2018. Lokasi pengumpulan data untuk kepentingan penulisan ini dilakukan di tiga kabupaten/kota dengan kriteria berbeda untuk setiap lokasinya. Kota Mataram dijadikan sasaran pengumpulan data karena di kota ini pernah terjadi gempa bumi Lombok di tahun 2018. Kota Denpasar dijadikan sasaran pengumpulan data karena Denpasar menerima peserta didik dari Kabupaten Karangasem yang terdampak oleh erupsi gunung Agung Bali pada tahun 2017. Kota Denpasar berlokasi satu provinsi dengan Kabupaten Karangasem.
Sementara itu, Kota Makassar dijadikan sasaran pengumpulan data karena di kota Makassar menerima peserta didik dari daerah yang terdampak gempa bumi yang diikuti likuifkasi di Palu dan Donggala. Kota Makassar berada di Provinsi Sulawesi Selatan, sedangkan gempa bumi yang diikuti likuifaksi berada di Provinsi Sulawesi Tengah.
DAFTAR PUSTAK A
Bappenas (tanpa tahun). 2 Kebijakan Penanggulangan Banjir di Indonesia.
Diunduh dari https://www.bappenas.go.id/files/5913/
4 9 8 6 / 1 9 3 1 / 2 k e b i j a k a n - p e n a n g g u l a n g a n - b a n j i r - d i - indonesia_20081123002641.
Barclay, S. (2010). 8 Natural Disasters of Ancient Times. https://listverse.
com/2010/09/27/8-natural-disasters-of-ancient-times/. Diposting tanggal 27 September 2010.
BBC News. 30 Desember 2018. Deretan Bencana Alam Mematikan yang Menerjang Indonesia Sepanjang 2018. https://www.bbc.com/
indonesia/majalah-46691586.
BBC News. 7 Oktober 2018. Tsunami sudah menerjang Indonesia sejak tahun 416. https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-45742383.
Below, R., Wirtz, A., Guha-Sapir, D. (2009). Disaster Category Classification and peril Terminology for Operational Purposes, Centre for Research on the Epidemiology of Disasters (CRED) and Munich Reinsurance Company (Munich RE) https://www.cred.be/node/564
Biro Pusat Statistik. (2018). Indeks Risiko Bencana Indonesia.
BNPB. (2017). Potensi Ancaman Bencana. Badan Nasional Penanggulangan Bencana. https://bnpb.go.id/potensi-ancaman-bencana.
Detiknews. 2 Oktober 2009, 09:51 WIB. 36 Korban Luka dan Tewas Dievakuasi dar Reruntuhan Gedung Bimbel Gama. https://news.
detik.com/
berita/d-1213497/36-korban-luka-dan-tewas-dievakuasi-dari- reruntuhan-gedung-bimbel-gama.
Fauzi, A dan Agam, S. (2018). Wilayah Rawan Gempa di Indonesia. http://
indonesiabaik.id/infografis/wilayah-rawan-gempa-di-indonesia.
Gilang, R. (2019). Jenis-jenis Banjir. https://siagabencana.com/
5/post/jenis-jenis-banjir.
IFRC. (2018). What is a Disaster? https://www.ifrc.org/en/what-we-do/
disaster-management/about-disasters/what-is-a-disaster/
Jawa Pos. 26 September 2017, 09:35 WIB. Erupsi Gunung Agung Pernah Setahun, Ribuan Anak Sekolah di Pengungsian. https://www.jawapos.
com/jpg-today/26/09/2017/erupsi-gunung-agung-pernah-setahun- ribuan-anak-sekolah-di-pengungsian/.
Kemendikbud. (2016). Petunjuk Teknis Penerapan Sekolah Aman Bencana bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. (2018). Miliki 127 Gunung Api Aktif Jadikan Indonesia “Laboratorium” Gunung Api Dunia.
https://www.esdm.go.id/id/media-center/arsip-berita/miliki-127- gunung-api-aktif-jadikan-indonesia-laboratorium-gunung-api- dunia. Diposting tanggal 26 Maret 2018.
Larasati, D.M. (2018). Bencana Alam: Pengertian, Jenis, Dampak, dan Mitigasi. https://foresteract.com/bencana-alam/. Diposting tanggal 30 April 2018.
Nurkartika, D., Murakami, A., & Chagan-yasutan, H. (2018). International Journal of Disaster Risk Reduction Integrated health education in disaster risk reduction : Lesson learned from disease outbreak following natural disasters in Indonesia. International Journal of Disaster Risk Reduction, 29(July 2017), 94–102. https://doi.
Nusabali. 26 September 2017, 07:00 WIB. https://www.nusabali.com/
berita/19373/siswa-pengungsi-bersekolah-di-denpasar.
Pratama, A. N. (2018). Tujuh Tsunami yang Pernah Melanda Indonesia.
https://regional.kompas.com/read/2018/09/29/18474791/tujuh- tsunami-yang-pernah-melanda-indonesia?page=3. Diposting tanggal 29 september 2018, 18:47 WIB.
Romdlon, N. (2017). Korban Jiwanya Sangat Banyak dan Memberikan Trauma Mendalam. https://www.brilio.net/duh/10-bencana-alam- dunia-yang-paling-besar-mengerikan-sepanjang-sejarah-170714t.
html. Diposting tanggal 16 Juli 2017.
Roy, N., Pandey, B. W. (2016). Concepts and Practices of Disaster Management Concepts and Practices of Disaster Management. World Focus. https://
w w w . r e s e a r c h g a t e . n e t / p u b l i c a t i o n / 320126456_Concepts_and_Practices_of_Disaster_Management_
Concepts_and_Practices_of_Disaster_Management. Diposting bulan Mei 2016.
Sidik, F. M. (2018). BNPB: Indonesia Rawan Tsunami, Sejak 1629 ada 177 Kejadian. https://news.detik.com/berita/d-4359676/bnpb-indonesia- rawan-tsunami-sejak-1629-ada-177-kejadian. Diposting tanggal 26 Desember 2018, 18:34 WIB.
Sumardani, Dadan. 2018. Gunung Api di Dunia, e Book. https://fliphtml5.
com/hatgb/kfwi/basic. Di posting tanggal 11 April 2018 jam 12:23.
Sunarjo, Gunawan, MT., Pribadi, S. (2012). Gempa Bumi di Indonesia Edisi Populer. BMKG.
Supendi, D. 2020. Jenis-jenis Bencana Alam Secara Umum, diunduh dari https://www.harapanrakyat.com/2020/01/jenis-jenis-bencana-alam- secara-umum/
Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
Zunariyah, S., Demartoto, A., & Ramdhon, A. (2018). A transformative education model for disaster-resilient child. Humanities and Social Sciences Reviews, 6(3), 55–60. https://doi.org/10.18510/hssr.2018.638.
B A B I I
LAYANAN PENDIDIK AN
BAGI SISWA KORBAN GEMPA LOMBOK Oleh: Arie B Susanto (e-mail: [email protected])
Abstrak
Kajian bertujuan untuk mengidentifikasi layanan pendidikan bagi peserta didik korban gempa bumi Lombok. Kajian menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data: wawancara, FGD, observasi, dan kajian literatur.
Sumber informasi mencakup: pimpinan dinas pendidikan Provinsi NTB dan Kota Mataram, LPMP, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepala sekolah dan guru yang sekolahnya terdampak gempa bumi, berbagai literatur dan kebijakan tentang gempa bumi di Lombok, serta fisik sekolah terdampak gempa bumi. Hasil kajian: Gempa bumi berdampak pada terhambatnya aktivitas pembelajaran, Mendikbud meminta siswa tetap belajar di sekolah, kepala sekolah menginstruksikan pelaksanaan pembelajaran secara fleksibel di kelas darurat, pembelajaran di kelas darurat kurang efektif, tidak ada siswa mutasi ke sekolah lain, siswa mendapatkan layanan psikologi, serta rehabilitasi sekolah disesuaikan dengan tingkat kerusakan dan ketersediaan dana. Faktor pendukung: penerbitan inpres tentang percepatan dan rehabilitasi paska bencana, kehadiran presiden dan wapres ke lokasi, pernyataan mendikbud agar siswa tetap belajar, kegigihan kepala sekolah mencari bantuan, kepedulian orang tua siswa. Faktor penghambat:
rehabilitasi sekolah tidak utuh dan merata, koordinasi kurang baik, pemberian
rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah secara proporsional menggunakan data sesuai fakta yang selanjutnya dilakukan monitoring dan evaluasi, diperlukan koordinasi yang baik antar institusi, pemberian dana yang merata, aktivitas trauma healing bervariasi.
Kata Kunci: gempa bumi, Lombok, layanan pembelajaran, kelas darurat, trauma healing.
A. HARI MENCEKAM DI PULAU LOMBOK
P
ulau Lombok merupakan pulau terbesar di gugusan kepulauan di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Di pulau Lombok terdapat lima wilayah administrasi pemerintah yaitu: Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Timur, Kebupaten Lombok Utara, dan Kabupaten Lombok Tengah. Lombok dalam banyak hal mirip dengan pulau Bali dan mulai dikenal oleh wisatawan mancanegara.Beberapa tujuan wisata sudah dikembangkan di Pulau Lombok.
Meskipun menyimpan sejuta pesona, catatan sejarah mengungkapkan bahwa di pulau Lombok kerap kali mengalami gempa bumi sejak lama.
Beberapa gempa yang pernah terjadi di Pulau Lombok yaitu: 1) gempa dan tsunami Labuantereng, 25 Juli 1856, 2) Gempa Lombok 10 Aoril 1978 6,7 SR, 3) gempa Lombok 21 Mei 1979 5,7 SR, 4) gempa Lombok 20 Oktober 1979, 6,1 SR, 5) gempa Lombok 30 Mei 1979, 6.1 SR, 6) gempa Lombok 1 Januari 2000, 6,1 SR, dan 7) gempa Lombok 22 Juni 2013, 5,4 SR (Putri, 2018).
Kerapnya Lombok mengalami bencana karena sebagaimana disampaikan oleh Kepala Badan Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami bahwa secara tektonik Lombok merupakan kawasan seismik aktif dan terletak di antara dua pembangkit gempa dari selatan dan utara. Dari selatan terdapat zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Pulau Lombok, sedangkan dari utara terdapat struktur geologi Sesar Naik Flores (Ali, 2018).
Pada tanggal 29 juli 2018, telah terjadi situasi yang tidak pernah diduga oleh masyarakat di Lombok, yakni gempa bumi. Gempa bumi tersebut
terjadi berulang kali dengan titik gempa yang berpindah-pindah. Secara keseluruhan gempa bumi yang terjadi di Lombok berlangsung sejak 29 Juli 2018 sampai dengan 21 Agustus 2018 dengan total 1.005 kali gempa termasuk gempa susulan dengan puncak magnitudo sebesar 7,0 SR pada tanggal 5 Agustus 2018.
Sehubungan dengan kekerapan peristiwa gempa bumi di Lombok, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan bahwa kekerapan gempa di Lombok terbagi ke dalam dua periode. Menurut Sutopo (21 Agustus 2018), “Sejak gempa bermagnitudo 6,4 yang terjadi pada 29 Juli 2018 hingga yang bermagnitudo 6,9 pada 19 Agustus 2018, terdapat 825 kali gempa, kemudian diikuti dengan gempa susulan sampai dengan hari ini tadi sampai pukul 10.00 WIB, 180 gempa susulan” (Sinar Harapan, 2018). Informasi seperti yang disampaikan berkenaan dengan kekerapan gempa bumi di pulau Lombok, dituliskan dalam bentuk gambar berikut.
Gambar 2.1. Gempa Lombok (29 Juli – 21 Agustus 2018) Sumber: Sinar Harapan, 2018
Gempa bumi terutama yang mengenai daratan, akan memberi dampak kerusakan baik kerusakan lingkungan maupun kerusakan bangunan.
Gempa bumi yang terjadi di Lombok di tahun 2018 ini memang memiliki ciri yaitu adanya gempa susulan sejak terjadinya gempa bumi yang pertama.
Gempa susulan setelah terjadinya gempa pertama di tanggal 29 juli 2018, terjadi pada tanggal 5 Agustus dengan magnitudo yang lebih tinggi yaitu 7,0 SR. Berkenaan dengan akan terjadinya gempa susulan paska gempa pertama di Lombok, Sutopo, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan di dalam tweeternya sebagai berikut.
Gambar 2.2. Pernyataan tentang Gempa Susulan di Lombok Sumber: Mohammad, 2018
Terkait dengan dampak gempa bumi di bulan Juli – Agustus 2018 hubungannya dengan aspek pendidikan, yang dimuat di dalam Infografis Pos Pendidikan Penanganan Gempa Lombok yang di update tanggal 3 September 2018 (BMKG, 2018), disampaikan sebagai berikut:
1. jumlah siswa terdampak: 1) meninggal dunia: 33 siswa, 2) luka-luka:
72 siswa, dan 3) rawat inap: 29 siswa.
2. Satuan Pendidikan terdampak: 1) PAUD 2664 Satuan Pendidikan, 2) SD 639 Satuan Pendidikan, 3) SMP 155 Satuan Pendidikan, 4) SMA 72 Satuan Pendidikan, 5) SMK 56 Satuan Pendidikan, 6) SLB 8 Satuan Pendidikan, 7) LKP 15 Satuan Pendidikan, 8) PKBM 18 Satuan Pendidikan, 9) SPNF 5 Satuan Pendidikan, dan 10) SPS 3 Satuan Pendidikan.
3. Madrasah terdampak per Kabupaten: 1) Lombok Utara 102 Satuan Pendidikan, 2) Lombok Timur 97 Satuan Pendidikan, 3) Lombok Barat 106 Satuan Pendidikan, 4) Lombok Tengah 77 Satuan Pendidikan, dan 5) kota Mataram 52 Satuan Pendidikan.
4. Ruang Kelas terdampak: 1) 1224 ruang kelas rusak ringan, 2) 1151 ruang kelas rusak sedang, dan 3) 2338 ruang kelas rusak berat.
5. Jumlah sekolah terdampak per Kabupaten: 1) kabupaten Lombok Barat: 205 sekolah, 2) Kabupaten Lombok Utara: 294 sekolah, 3) Kabupaten Lombok Tengah: 140 sekolah, 4) Kabupaten Lombok Timur: 204 sekolah, 5) Kota Mataram: 84 sekolah, 6) Kabupaten Sumbawa: 166 sekolah, 7) Kabupaten Sumbawa Barat: 74 sekolah, 8) Kota Denpasar Bali: 9 sekolah, 9) Kabupaten Karangasem Bali: 55 sekolah, dan 10) Kota Mataram: 4 sekolah.
6. Jumlah siswa terdampak per jenjang pendidikan: 1) PAUD: 13.720 siswa, 2) SD: 82.064 siswa, 3) SMP: 37.353 siswa, 4) SMA: 47.735 siswa, 5) SMK: 37.209 siswa, dan 6) SLB: 412 siswa.
7. Terdapat 59.553 guru dan siswa yang mengungsi di Lombok Timur.
Peristiwa gempa di Lombok membuat pemerintah melakukan upaya gerak cepat dengan diterbitkannnya Instruksi Presiden No 5 tertanggal 23 Agusuts 2018, sementara rentetan gempa yang terjadi di Lombok dan sekitarnya baru berakhir tanggal 21 Agustus 2018. Artinya, surat edaran