• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAMPAK BENCANA ALAM TERHADAP PENDIDIKAN DI INDONESIA

Tidak dapat ditolak bahwa Indonesia merupakan negara yang mengalami bencana alam terbanyak di dunia. Bencana alam merupakan jenis bencana yang paling banyak terjadi di Indonesia. Sejumlah gempa bumi, tsunami, letusan gunung api hingga fenomena likuifaksi telah meluluhlantakkan wilayah terdampak dan menelan banyak korban (BBC, 2018a).

Bencana alam merupakan bencana yang berdampak paling banyak terhadap kerusakan fasilitas pendidikan. Setidaknya terdapat kurang lebih total 250 ribu sekolah atau 75% dari seluruh sekolah di Inonesia yang rawan tertimpa bencana seperti banjir, gempa bumi, erupsi gunung merapi, tsunami, dan tanah longsor (Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan,

2017). Bencana yang dahsyat ini menyebabkan sejumlah anak usia sekolah kehilangan tempat tinggal dan tempat untuk menuntut ilmu. Data menunjukkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kegempaan yang tinggi di dunia, lebih dari 10 kali lipat tingkat kegempaan di Amerika Serikat (Arnold, 1986 di dalam BNPB, 2017).

Selain kehilangan jiwa, bencana alam juga menyebabkan kerusakan pada bangunan sekolah yang menyebabkan siswa tidak dapat melakukan aktivitas pembelajaran. Beberapa peristiwa gempa bumi yang merusak bangunan sekolah diantaranya (Juknis Penerapan Sekolah Aman Bencana bagi Anak Berkebutuhan Khusus, Kemendikbud, 2016): 1) gempa bumi tsunami di Aceh tahun 2004 menghancurkan 2000 sekolah, 2) gempa bumi di Yogyakarta tahun 2006 menghancurkan 2900 sekolah, 3) gempa bumi di Jawa Barat tahun 2009 menghancurkan 2.126 sekolah dimana 35 bangunan sekolah diantaranya rata dengan tanah, 4) gempa bumi di Sumatera Barat tahun 2009 menyebabkan 1.247 sekolah rusak berat, 919 sekolah rusak sedang, dan 670 sekolah rusak ringan, 5) gempa bumi dan tsunami di Mentawai menyebabkan 7 sekolah rusak berat, 6) gempa bumi di Bener Meriah dan Aceh Tengah menyebabkan 327 sekolah dan 30 madrasah rusak, 7) erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara menyebabkan 185 sekolah rusak dan beberapa diantaranya harus di relokasi, 8) gempa bumi di Lombok Utara tahun 2013 menyebabkan 30 sekolah rusak, serta 9) erupsi gunung Kelud Jawa Timur tahun 2014 menyebabkan 394 sekolah di Kediri rusak berat.

Bencana, sebagaimana sudah disampaikan terdahulu sangat sering terjadi di Indonesia. Kejadiannya bervariasi dari tahun ke tahun dengan jumlah kerusakan sekolah yang juga bervariasi. Tabel di bawah menunjukkan kekerapan kejadian bencana di tahun 2016 – 2019 dan jumlah fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan.

Tabel 1.3. Jumlah Fasilitas Pendidikan Rusak Akibat Bencana Alam di Indonesia (2016 – 2019)

Jenis Bencana Alam 2016

Jumlah Kejadian (kali) Jumlah Fasilitas Pendidikan Rusak (Unit)

2017 2018 2019 Juml 2016 2017 2018 2019 Juml 1 Puting

beliung 663 885 804 568 2920 61 88 75 51 275

2 Banjir 823 978 679 385 2865 1137 1049 368 257 2811

3 Tanah

longsor 599 846 473 355 2273 31 54 22 16 123

4 Banjir dan

JUMLAH 2302 2853 2572 1426 9153 1484 1326 1736 378 4924

Sumber: BNPB, 2019, diolah.

Merujuk pada tabel di atas terlihat bahwa dari 11 peristiwa bencana alam, terdapat empat bencana yaitu: 1) kebakaran hutan dan lahan, 2) banjir dan tanah longsor, 3) kekeringan, dan 4) letusan gunung api sepanjang tahun 2016 – 2019 yang tidak menyebabkan kerusakan bangunan sekolah.

Sementara itu banjir dan gempa bumi merupakan bencana alam dengan jumlah sekolah rusak terbanyak. Banjir yang bersamaan dengan tanah

longsor yang terdapat dalam tabel di atas, terlihat hanya dua kali terjadi, sedangkan banjir saja terlihat sebanyak 2.668 (dua ribu enam ratur enam puluh delapan) kali. Informasi berkenaan dengan peristiwa banjir yang melanda Indonesia di akhir-akhir belakangan ini antara lain disebabkan oleh perilaku manusia. Sebaliknya, gempa bumi merupakan kejadian bukan karena perilaku manusia. Banyaknya sekolah yang rusak akibat bencana alam, sudah barang tentu menyebabkan kegiatan pembelajaran terganggu atau tidak dapat terlaksana. Dalam kondisi yang demikian, siswa menjadi terhambat kebutuhan belajarnya. Oleh sebab itu, pada peristiwa bencana alam, pemerintah dengan selalu berperan aktif untuk menghidupkan kembali kegiatan pembelajaran meskipun dilaksanakan dalam kondisi serba terbatas seperti di ruang kelas darurat atau di sekolah lain yang tidak terdampak bencana alam.

Bencana alam yang terjadi di Indonesia, secara empiris terjadi di luar waktu sekolah. artinya saat bencana alam, di sekolah sedang tidak aktivitas pembelajaran. Oleh sebab itu, sebagian besar bencana alam yang melanda Indonesia dan menghancurkan gedung sekolah, ternyata tidak banyak menimbulkan warga sekolah yang menjadi korban. Kejadian bencana alam yang memakan korban siswa dengan jumlah yang cukup besar yakni gempa bumi Padang Sumatera Barat pada tahun 2009. Pada gempa bumi ini sejumlah siswa yang sedang mengikuti bimbingan belajar meninggal karena tertimbun oleh bangunan gedung yang roboh (DetikNews, 2009).

Bencana dapat membawa dampak buruk pada keberlanjutan pendidikan anak. Hal itu terjadi karena beberapa penyebab, pertama, ada beberapa siswa dan guru yang turut menjadi korban, kedua, banyak anak-anak yang ikut mengungsi orang tua mereka, ketiga, banyak fasilitas sekolah baik sekolah dasar maupun sekolah menengah yang hancur atau rusak akibat bencana sehingga tidak dapat dipergunakan lagi, dan keempat, banyak bangunan sekolah yang dimanfaatkan sebagai lokasi pengungsian sehingga tidak dapat dipergunakan untuk kegiatan belajar mengajar.

sekolah tentunya akan menimbulkan tidak dapat berjalannya pembelajaran sebagaimana yang seharusnya. Selain menghancurkan sejumlah bangunan sekolah, bencana alam juga menyebabkan sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan kehilangan nyawa atau menjadi cacat. Selain itu, bencana alam juga bisa menyebabkan sejumlah pendidik dan tenaga kependidikan mengalami cacat fisik dan/atau cacat non-fisik. Dengan kondisi pendidik dan tenaga kependidikan yang demikian, secara langsung maupun tidak langsung kegiatan pembelajaran akan terhambat. Demikian pula, bencana alam juga bisa menyebabkan sejumlah peserta didik menjadi cacat fisik dan/

atau cacat non-fisik. Cacat non-fisik misalnya faktor psikologis yang menyebabkan siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana biasanya. Demikian pula, siswa yang mengalami cacat permanen misalnya adanya anggota tubuh yang hilang, yang menyebabkan siwa tidak dapat mengikuti pembelajaran sebagaimana layaknya ketika siswa tidak mengalami cacat.

Seluruh hambatan pada pemberian layanan pendidikan kepada siswa harus dicarikakn jalan keluarnya. Harus ada upaya dari berbagai institusi agar kegiatan pembelajaran tetap dapat berjalan dengan tetap mempertimbangkan kondisi sekolah, kondisi pendidik dan tenaga kependidikan serta kondisi peserta didiknya.

Kajian ini dilakukan dengan alasan untuk melihat bagaimana praktik baik layanan pendidikan bagi korban bencana alam yang dilakukan pemerintah daerah. Selain itu, kajian ini juga bermaksud untuk mengembangkan model layanan pendidikan bagi korban bencana berdasarkan praktik baik tersebut.

Uraian pada bab-bab berikut merupakan hasil telaahan tentang layanan pendidikan kepada peserta didik korban bencana alam yang telah dilakukan oleh pemerintah yakni Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP), pemerintah daerah terdiri atas dinas pendidikan provinsi dan dinas pendidikan kabupaten/kota, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, serta sekolah. Pengumpulan data telah dilakukan pada bulan Mei sampai Juli

2019, setelah bencana alam terjadi pada tahun 2017 dan tahun 2018. Lokasi pengumpulan data untuk kepentingan penulisan ini dilakukan di tiga kabupaten/kota dengan kriteria berbeda untuk setiap lokasinya. Kota Mataram dijadikan sasaran pengumpulan data karena di kota ini pernah terjadi gempa bumi Lombok di tahun 2018. Kota Denpasar dijadikan sasaran pengumpulan data karena Denpasar menerima peserta didik dari Kabupaten Karangasem yang terdampak oleh erupsi gunung Agung Bali pada tahun 2017. Kota Denpasar berlokasi satu provinsi dengan Kabupaten Karangasem.

Sementara itu, Kota Makassar dijadikan sasaran pengumpulan data karena di kota Makassar menerima peserta didik dari daerah yang terdampak gempa bumi yang diikuti likuifkasi di Palu dan Donggala. Kota Makassar berada di Provinsi Sulawesi Selatan, sedangkan gempa bumi yang diikuti likuifaksi berada di Provinsi Sulawesi Tengah.