• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA ALAM

STRATEGI LAYANAN PENDIDIKAN PRA DAN PASKA BENCANA ALAM

B. UPAYA PENGURANGAN RISIKO BENCANA ALAM

Berbagai bencana alam khususnya gempa bumi dan tsunami, telah

termasuk fasilitas pendidikan. Begitu besar dampak gempa bumi dan tsunami terhadap kehancuran fasilitas pendidikan yaitu sekolah, sehingga peraturan dari kepala BNPB memfokuskan pedoman penerapan sekolah/

madrasah aman bencana hanya pada gempa bumi dan tsunami saja (Perka BNPB No. 4 tahun 2012: Pasal 2).

Umumnya banyaknya korban atau masyarakat yang terdampak karena tidak memiliki pengetahuan tentang cara menghadapi situasi bencana.

Kesiapsiagaan terhadap bencana seharusnya “dibiasakan dan menjadi bagian dari kehidupan” guna memperkecil atau meniadakan dampak risikonya.

Diperlukan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kebencanaan yang secara formal dapat terjadi di sekolah, terutama yang berada di wilayah dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Kesiapan menghadapi bencana bisa terjadi apabila warga sekolah memiliki kompetensi tentang kebencanaan yang aplikatif.

Pada peristiwa gempa bumi yang disusul tsunami di Aceh tahun 2004, banyak sekali memakan korban jiwa dan herta benca. Hal tersebut karena masyarakat di Aceh dan sekitarnya pada umumnya belum memiliki pengetahuan tentang bencana alam, indikasi bencana alam, dan upaya yang dapat dilakukan guna memperkecil risiko yang ditimbulkan oleh bencana di Aceh tersebut. Dengan kondisi ini masyarakat pada umumnya tidak siap menghadapi bencana. Kesiapan ini sangat diperlukan karena bencana alam merupakan peristiwa yang sering terjadi di Indonesia yang tidak dapat diperkirakan waktu kejadiannya dengan tepat. Kesiapan masyarakat dalam menghadapi bencana ini paling tidak dapat memperkecil risikonya. Hasil survei di jepang pada kejadian gempa Great Hanshin Awaji 1995, menunjukkan bahwa faktor yang paling menentukan adalah penguasaan pengetahuan yang dimiliki oleh “diri sendiri” untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman risiko bencana (BNPB, 2017: hal 12). Sementara itu, kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana, belum dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Suatu studi yang dilakukan Litbang Kompas pada Juni-Juli 2011 tentang kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana

mengungkapkan tentang minimnya pengetahuan dan kesiapsiagaan terhadap bencana karena hampir separuh dari 806 responden yang tinggal di zona bahaya tidak menyadari ancaman bencana yang sangat mungkin melanda daerah mereka (Arnani, 2018).

Kesiapsiagaan merupakan hal yang penting dan harus dibangun pada seluruh kelompok masyarakat. Salah satu wadah formal bagi upaya membangun kesadaran tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana adalah sekolah. Sekolah dapat menjadi tempat penghubung dan tempat belajar bagi masyarakat. Siswa dalam hal ini dapat menjadi penyambung penyampai pengetahuan tentang kebencanaan yang didapatnya di sekolah kepada masyarakat di sekitarnya termasuk keluarganya. Di sekolah, edukasi tentang kebencanaan dan kesiapsiagaan dapat diberikan kepada seluruh warga sekolah mencakup kepala sekolah, guru, orang tua siswa, tenaga kependidikan lainnya, dan siswa. Bentuk edukasi tersebut antara lain melalui : sosialisasi, pelatihan, panduan atau petunjuk teknis lainnya tentang kebencanaan dan PRB. Khusus kepada siswa, edukasi tentang ini dapat diberikan melalui kegiatan intra kurikuler, ekstrakurikuler, ko kurikuler, muatan lokal, dan pendidikan karakter.

Mengedukasi warga sekolah tentang kebencanaan dan PRB memerlukan kesungguhan, mengingat adanya pengaruh secara positif terhadap kesiapsiagaan warga sekolah dan masyarakat dalam menghadapi bencana.

Guru dan siswa di kab. Nias Selatan yang pernah mendapatkan pengetahuan dan pelatihan tentang kebencanaan dan PRB misalnya, memperlihatkan adanya peningkatan pengetahuan tentang kebencanaan dan cara menghindar dari risikonya (Nugroho, 2007). Pengalaman pernah merasakan bencana gempa bumi yang diikuti dengan tsunami di Kab. Nias Selatan berkekuatan 7,8 SR, membuat masyarakat termasuk warga sekolah memiliki pengetahuan tentang bencana alam itu sendiri dan bisa menjadi modal pengetahuan tentang gempa dan cara menghindarkan risikonya.

Demikian pula, guru dan siswa di Bengkulu yang menerapkan Sekolah Siaga

menghadapi bencana melalui pelatihan yang diikuti dengan simulasi, menunjukkan adanya peningkatan kesiapannya dalam menghadapi bencana karena tingkat penguasaan tentang kebencanaan dan PRB mereka bertambah setelah guru dan siswa mengikuti pelatihan (Hidayati dkk, 2010).

Lebih lanjut, peningkatan pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana ini ternyata meningkatkan kesadaran (aware) siswa tentang apa saja yang dilakukan guna mengurangi risiko bencana. Studi lainnya yang dilakukan di SDN 3 Tangse Kec. Tangse Kab. Pidie Prov. Aceh pada tahun 2015 (Fahrizal dkk, 2016), menemukan bahwa terdapat pengaruh yang cukup berarti antara pelatihan kesiapsiagaan bencana dan PRB terhadap peningkatan pengetahuan tentang kebencanaan dan kesiapsiagaan terhadap 20 siswa kelas-5 yang telah mendapatkan pelatihan yang dilengkapi dengan simulasinya. Kesiapsiagaan yang diberikan di sekolah-sekolah dapat dikembangkan sebagai modal keterampilan hidup bagi siswa, terutama yang berada di daerah yang berisiko bencana alam.

Pentingnya pendidikan PRB mencakup pengetahuan kebencanaan dan kesiapan menghadapi bencana, mulai disadari sejak tahun 2005 paska kejadian gempa bumi dan tsunami Aceh di tahun 2004. Tragedi tersebut telah mendorong perhatian serius pemerintah Indonesia dan dunia internasional dalam manajemen penanggulangan bencana. Salah satu wujud perhatian tersebut adalah diterbitkannya Peraturan Presiden RI No. 83 tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanganan Bencana (BAKORNAS PB), yang ditandangani Presiden RI pada 29 Desember 2005, atau setahun paska bencana alam di Aceh. Kaitannya dengan kesiapsiagaan, di dalam perpres ini memuat bahwa BAKORNAS PB mempunyai tugas melaksanakan penanganan bencana kedaruratan mulai dari sebelum, pada saat, dan setelah terjadi bencana yang meliputi pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan darurat, dan pemulihan (Pasal-2 ayat (b)).

PRB sudah menjadi tekad negara Indonesia untuk diimplementasikan sejak tahun 2006 yang dituangkan di dalam Buku Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko Bencana (RENAS-PRB) 2006-2009, Pengurangan dan

pencegahan risiko bencana serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana, merupakan salah satu dari 9 prioritas Pembangunan Nasional. Salah satu sektor yang akan mengimplementasikan RENAS-PRB ini adalah Kemendikbud dengan maksud agar melalui aktivitas pendidikan tentang kesiapsiagaan menghadapi bencana, dapat merubah paradigma warga sekolah dalam menangani bencana, dari yang selama ini masih bersifat merespon dalam menangani bencana, menjadi suatu kegiatan yang sifatnya prefentif atau pencegahan, sehingga bencana alam itu selain dapat dicegah atau diminimalisir juga risikonya dapat dikurangi, bahkan sedapat mungkin ditiadakan.

Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana menekankan bahwa Penanggulangan Bencana tidak hanya terpaku pada tahap tanggap darurat/ respons saja, tetapi juga mencakup tahap pra bencana (kesiapsiagaan) dan pasca bencana (pemulihan). Undang-undang ini merupakan langkah lebih lanjut dari RENAS-PRB. Di dalam Undang-Undang tersebut juga memuat bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun situasi terdapat potensi bencana. Undang-undang ini selanjutnya dijadikan dasar bagi kementerian pendidikan untuk melakukan langkah-langkah untuk melakukan pengembangan kurikulum, silabus, rencana program pembelajaran, modul-modul, maupun buku pelajaran dengan konteks kesiapsiagaan menghadapi bencana yang selanjutnya diikuti dengan pelatihan dan pendampingannya di berbagai satuan pendidikan.

Guna menindaklanjtui UU No. 24 tahun 2007 ini, Pusat Kurikulum, Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional pada tahun 2009 telah menerbitkan sebanyak 15 Modul Ajar Pengintegrasian Pengurangan Risiko “Bencana” dan satu Modul Pelatihan Pengintegrasian Pengurangan Risiko Bencana untuk SD, SMP, dan SMA. Penyediaan seluruh

Kepala Pusat Kurikulum, dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan di lapangan berkenaan dengan upaya mengintegrasikan PRB di sekolah.

Permasalahan dimaksud yakni: (1) Beratnya beban kurikulum siswa;

(2) Kurangnya pemahaman guru mengenai bencana ; (3) Kurangnya kapasitas dan keahlian guru dalam integrasi PRB kedalam kurikulum;

(4) Minimnya panduan, silabus dan materi ajar yang terdistribusi dan dapat diakses oleh guru; (5) Terbatasnya sumberdaya (tenaga, biaya dan sarana);

dan (6) Kondisi bangunan fisik sekolah, sarana dan prasarana pada ummnya memprihatinkan, tidak berorientasi pada AMDAL dan konstruksi tahan gempa. (Pusat Kurikulum, Kemdiknas, Pengurangan Risiko Bencana, Modul, 2009). Kelimabelas modul tersebut merupakan panduan bagi guru yang memuat pendidikan pengurangan risiko bencana. Kelimabelas modul ajar tersebut ditujukan untuk jengang SD, SMP dan SMA. Setiap modul ajar tersebut memuat penjelasan masing-masing jenis bencana alam, contoh silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, model bahan ajar. Modul pelatihan merupakan penaduan fasilitasi dan bahan bacaan bagi pealtih mengenai penyelenggaraan penanggulangan berncana, pengurangan risiko bencana, sekolah siaga bencana, pendidikan PRB, dan strategi pengintegrasian pendidikan PRB ke dalam kurikulum satuan pendidikan. Modul dimaksud, disajikan tiga buah contoh berikut.

Modul sebagaimana disampaikan di atas, memuat pengetahuan tentang masing-masing jenis bencana sesuai cover modul, dan cara mengintegrasikan ke dalam silabus-RPP berikut contohnya. Secara umum modul bersifat praktis sehingga dapat dengan mudah diimplementasikan oleh guru di lapangan. Namun sejauh ini belum diperoleh informasi tentang implementasi dari seluruh modul ajar dan modul pelatihan tersebut.

Langkah yang juga ditempuh Kemendiknas sehubungan dengan diterbitkannya UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, yakni diterbitkannya Surat Edaran No, 70a/MPN/SE/2010, tentang Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah. Keberadaan SE ini semakin mempertegas bahwa Kemendiknas secara sungguh-sungguh ingin melakukan langkah aksi yang dapat mengurangi atau memperkecil dampak bencana kepada seluruh masyrakat dengan menggunakan sekolah sebagai alat penggeraknya. SE dimaksud ditujukan kepada seluruh gubernur, bupati dan walikota di Indonesia, dengan muatan antara lain pelaksanaan strategi pengarusutamaan PRB di sekolah dilakukan guna mewujudkan budaya kesiapsiagaan dan keselamatan terhadap bencana di sekolah melalui pengintegrasian PRB ke dalam kurikulum satuan pendidikan formal, pada kegiatan intra maupun ekstrakurikuler.

SE tentang Penanggulangan Bencana ini juga merupakan arahan dari Menteri Pendidikan Nasional kepada gubernur dan bupati/walikota untuk menggunakan rujukan Strategi Pengurangan Risiko Bencana di Sekolah yang telah disiapkan Kemendiknas. Keberadaan Strategi PRB ini dapat digunakan oleh gubernur maupun walikota/bupati dalam melakukan pembinaan berkenaan dengan pengurangan risiko bencana kepada unsur satuan pendidikan di wilayah masing-masing. Di dalam Strategi PRB, memuat visi dan misi PRB yang dapat dijadikan acuan untuk pelaksanaannya di sekolah (Kemendiknas-Bappenas, 2010). Visi PRB yakni, “Terwujudnya budaya sadar bencana, kesiapsiagaan (preparedness), keselamatan (safety), dan ketangguhan (resiliency) di sekolah untuk mencegah dan mengurangi potensi

strategi PRB yakni: 1) menumbuhkan budaya sadar bencana, kesiapsiagaan, keselamtan, dan ketangguhan menghadapi kemungkinan bencana melalui pendidikan PRB, 2) memberdayakan peran kelembagaan dan kemampuan komunitas sekolah untuk dapat mewujudkan praktek-praktek pengarusutamaan PRB, 3) mengintegrasikan PRB melalui kegiatan intra kurikuler dan ekstrakurikuler, 4) membangun kemitraan antar berbagai pihak untuk mendukung pelaksanaan praktek-praktek pengarusutamaan PRB di sekolah, 5) melaksanakan pemantauan dan evaluasi secara berkala terhadap pelaksanaan pendidikan PRB, 6) mempertahankan keberlanjutan (sustainabilty) pendidikan pengurangan risiko bencana di sekolah melalui diseminasi dan replikasi, serta 7) memperhatikan dan mempertimbangkan fakto struktural (gedung) dan non struktural ketika membangun sekoah yang aman bagi siswa.

Sebagai tindak lanjut Strategi PRB di Sekolah, Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas telah melakukan upaya langkah-langkah pengembangan sebagai berikut (UNESCO, 2012:98): 1) mengitegrasikan PRB ke dalam kurikulum seluruh mata pelajaran jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan menengah, 2) mengembangkan PRB ke dalam bentuk kurikulum muatan lokal, 3) mengintegrasikan PRB ke dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti Pramuka, Seni, PMR, dan 4) mengembangkan modul ajar tentang pengintegrasian PRB serta modul pelatihannya. Tahapan yang dilakukan dalam mengintegrasikan PRB ke dalam mata pelajaran yakni: 1) mengidentifikasi materi pelajaran yang dapat diintegrasikan oleh PRB, 2) menganalisis kompetensi dasar yang sesuai dengan PRB, 3) mengembangkan silabus, dan 4) mengembangkan rencana program pembelajaran. Sementara itu, tahapan dalam mengintegrasikan PRB ke dalam kurikulum muatan lokal, tahapan yang dilakukan adalah:

1) menganalisis kondisi sosial, budaya dan alam di daerah tertentu, 2) mengembangkan standar kompetensi dasar untuk muatan lokal, serta 3) mengembangkan pedoman, silabus dan rencana program pembelajaran.

Hasil yang telah dicapai oleh Pusat Kurikulum ini, seharusnya ditindak

lanjuti oleh setiap provinsi, kabupaten/kota, dan satuan pendidikan dalam aksi sesuai dengan kewenangan masing-masing.

Berkenaan dengan upaya pengurangan risiko bencana, Kemendikbud bekerjasama dengan BNPB melalui Sektretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana, telah menerbiktan buku Pendidikan Tangguh Bencana yang didalamnya memuat berbagai hal tentang kebencanaan dan langkah-langkah yang dilakukan guna mengurangi risiko yang ditimbulkan akibat bencana. Salah satu kegiatannya ditetapkan pada Pendidikan Tangguh Bencana ini yakni pada Pilar-3 yang kegiatannya meliputi: 1) peningkatan kapasitas bagi warga sekolah (kepala sekolah, guru, komite, siswa dan tenaga kependidikan lainnya) dan pengawas sekolah, 2) praktik simulasi evakuasi secara mangisi dan berkelanjutan, 3) integrasi materi pengurangan risiko bencana dalam berbagai mata pelajaran ke dalam kegiatan ekstrakurikuler seperti pramuka, dokter kecil, palang merah remaja), dan 4) kampanye rutin mengenai keselamatan yang praktis. Apa yang sudah menjadi kebijakan Kemendikbud ini, merupakan langkah yang seharusnya dilakukan di sekolah-sekolah secara otomatis karena berhubungan dengan keselamatan jiwa seluruh warga sekolah.

Berdasarkan uraian di atas, sebelum di suatu lokasi mengalami bencana alam, maka kegiatan yang seharusnya dapat diberikan yakni, memberikan edukasi tentang kebencanaan kepada sekolah dan masyarakat. Presiden Joko Widodo pada Sidang Kabinet Paripurna, 7 januari 2019, menyampaikan sebagai berikut, “ Sebagai negara di tempat rawan bencana alam, ring of fire, kita harus siap merespon dan tanggung jawab menghadapi segala bencan alam. Saya minta edukasi lebih baik, konsisten dan lebih dini bisa masuk ke dalam muatan sistem pendidikan kita”. Instruksi presiden Joko Widodo ini, antara lain dapat ditindaklanjuti dalam bentuk penyusunan kurikulum yang menintegrasikan pendidikan kebencanaan, dengan ketentuan bahwa:

1) mitigasi bencana akan menjadi bagian dari kurikulum nasional yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan pembelajaran baik intra, ekstra

pelajaran tersendiri karena akan memberatkan proses pembelajaran, kecuali bagi daerah-daerah khusus yang dapat mengembangkannya menjadi muatan lokal. Dengan demikian, instruksi presiden Joko Widodo seharusnya dapat diimplementasikan tanpa rintangan yang menyulitkan karena untuk langkah ini sudah ada modul maupun buku panduan yang khusus memuat pengetahuan tentang kebencanaan dan pengurangan risikonya. Pemerintah dalam hal ini sudah memiliki sebagian “modal dasar” yang diperlukan untuk mendorong sekolah menyelenggarakan pendidikan pengurangan risiko bencana.

C. FAKTA TENTANG LAYANAN PEMBELAJARAN KEPADA