PALU DAN DONGGALA
H. KEBERADAAN SISWA “PINDAHAN” DI SEKOLAH
3. Harapan Pemberian Layanan Pendidikan yang Optimal Membantu seluruh siswa yang menjadi korban bencana di Sulteng
untuk bisa bersekolah sesuai dengan haknya, adalah merupakan kewajiban dari pemerintah dalam hal ini Kemendikbud, pemerintah daerah dalam hal ini Disdik Provinsi Sulsel, Disdik Prov Sulteng, Disdik Kota Makasar, dan Disdik Kota Palu untuk memenuhinya. Sekolah yang merupakan pelaksana kebijakan disdik terkait dengan pelaksanaan pemberian layanan pendidikan kepada siswa yang menjadi korban bencana alam Palu dan Donggala, juga memiliki tanggung jawab yang tidak sedikit sampai siswa diterima di sekolah dan mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kondisi siswa maupun kondisi sekolah. Pemberian layanan pendidikan sudah dapat dilaksanakan di sekolah-sekolah di Makassar untuk seluruh jenjang dan
Dalam proses memberikan layanan pendidikan bagi siswa “pindahan”
dari Palu tersebut sebagaimana disampaikan terdahulu banyak menghadapi kendala. Peristiwa bencana alam merupakan peristiwa yang tidak dapat diprediksi dengan tepat kejadiannya. Peristiwa gempa bumi yang melanda Sulteng di bulan September 2018, bisa saja terjadi di Sulteng maupun tempat lainnya. Dengan terjadinya bencana alam ini, tentunya diperlukan keterbukaan wilayah lain yang tidak terkena bencana alam untuk menerima siswa yang terdampak. Oleh sebab itu, beberapa harapan disampaikan agar wilayah khususnya yang tidak terkena dampak bencana alam dapat memberikan layanan pendidikan kepada siswa yang berasal dari wilayah bencana alam secara optimal. Harapan yang umum disampaikan yakni, diperlukan Prosedur Operasional Standar (POS) yang bersifat praktis dan dapat diterapkan secara mudah di lapangan. POS dimaksud diberlakukan bagi institusi pendidikan di wilayah yang tidak terkena bencana yang menerima siswa korban bencana alam. Selain itu, untuk kelancaran pemberian layanan pendidikan bagi siswa korban bencana di sekolah, sebaiknya ada panduan yang dapat membantu pihak sekolah, dalam hal ini kepala sekolah dan warga sekolah lainnya memberikan layanan terbaik kepada siswa korban bencana alam yang bersekolah di situ. Selanjutnya, harapan juga disampaikan kepada pemerintah dan pemerintah daerah sebagai berikut.
a. Kepada Kemendikbud, sebaiknya dalam pemberian layanan kepada siswa korban bencana alam di daerah yang tidak terdampak bencana alam, jangan berupa himbauan, akan lebih baik kalau berupa instruksi atau keputusan Mendikbud. Hal ini untuk menghindari adanya
“penolakan” dari berbagai pihak termasuk instusi pendidikan di daerah yang terkena bencana maupun di daerah yang menerima siswa dari daerah bencana tersebut. Selanjutnya, perlu dilakukan koordinasi misalnya ketua atau koordinator di wilayah penerima siswa dalam bentuk surat keputusan. Selain itu, Kemendikbud sebaiknya juga dapat menginstruksikan kepada Lembaga Penjaminan Mutu
Pendidikan (LPMP) yang merupakan unit pelaksana Kemendibud di Provinsi (Permendikbud No. 37 tahun 2012 tentang Organisasi dan Tata Kerja LPMP) untuk membantu pelaksanaan kebijakan Mendikbud berkenaan dengan penerimaan dan pemberian layanan pendidikan kepada siswa korban bencana alam. Instruksi dimaksud bisa bersifat sementara untuk memenuhi kebutuhan siswa korban bencana alam mendapatkan hak kependidikannya.
b. Kepada Disdik Prov dan Disdik Kab/Kota penerima siswa korban bencana alam, sebaiknya dapat mendistribusikan siswa untuk menghindari “gemuk”nya siswa di satu sekolah sedang sekolah lainnya tidak menerima siswa “pindahan”. Selain itu, sebaiknya disdik melakukan pemantauan selama saat siswa mendaftar, mulai masuk sekolah, dan mengikuti proses pembelajaran. Hal ini untuk mengetahui capaian tentang layanan yang telah diberikan sekolah kepada siswa “pindahan”, termasuk juga kendala yang dihadapi sekolah dalam kegiatan pemberian layanan kepada siswa “pindahan”.
Seandainya dijumpai kendala, seperti tidak adanya guru yang bisa memberikan pemulihan psikologi siswa, maka sudah selayaknya disdik dapat menyediakannya. Disdik dalam hal ini dapat menugaskan Pengawas untuk melakukan pemantauan yang merupakan perpanjangan tangan dari disdik kab/kota.
c. Kepada Disdik Prov dan Disdik Kab/Kota yang mengalami musibah bencana alam, sebaiknya dapat secara fleksibel menjalankan peran memberikan layanan kepada siswa termasuk pemenuhan keinginan siswa yang mutasi dari sekolah siswa tersebut yang berada di lokasi bencana. Hal tersebut mengingat banyak alasan yang menyebabkan siswa tidak mau kembali lagi ke sekolahnya semula, salah satunya faktor psikologis dan keberlangsungan pembelajaran siswa tersebut.
Dalam hal ini, sebaiknya disdik mengutamakan kepentingan kemajuan siswa.
Aini. N. (2018). Sulsel Instruksikan Sekolah Terima Siswa Korban Gempa Palu. https://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/
18/10/04/pg2xsx382-sulsel-instruksikan-sekolah-terima-siswa-korban-gempa-palu. Diposting tanggal 5 Oktober 2018, 01:15 WIB.
American Psychological Association. (2013). Recovering emotionally from disaster. https://www.apa.org/helpcenter/recovering-disasters.
Aulia, N. (2018). Korban Gempa Palu Butuh Pendampingan Psikologis.
https://beritagar.id/artikel/berita/korban-gempa-palu-butuh-pendampingan-psikologis. Diposting tanggal 2 Oktober 2018, 10:31 WIB.
BKKBN. (2018). BKKBN Sosialisasikan “Generasi Berencana” Melalui Jambore. https://www.bkkbn.go.id/detailpost/bkkbn-sosialisasikan-generasi-berencana-melalui-jambore. Diposting tanggal 19 Desember 2018.
Brocque, R. Le, Young, A. De, Montague, G., Pocock, S., March, S., Triggell, N., Rabaa, C., & Kenardy, J. (2020). Schools and Natural Disaster Recovery : The Unique and Vital Role That Teachers and Education Professionals Play in Ensuring the Mental Health of Students Following Natural Disasters. Journal of Psychologists and Counsellors
in School, 27(1), 1–23. https://doi.org/10.1017/jgc.2016.17.
Cipto. H. (Ed.). (2018). Ratusan Anak Korban Bencana Sulteng Ditampung di Sekolah. https://regional.kompas.com/read/2018/10/03/
18440351/ratusan-anak-korban-bencana-sulteng-ditampung-di-sekolah. Diposting tanggal 3 Oktober 2018, 18.44 WIB.
CNN Indonesia. 2 Oktober 2018, 18.58 WIB. Mendikbud Kesulitan Mendata Sekolah Terdampak Gempa Palu. https://www.cnnindonesia.com/
nasional/20181002132701-20-334963/mendikbud-kesulitan-mendata-sekolah-terdampak-gempa-palu.
Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. (2018). Disdik Sulsel Instruksikan Satuan Pendidikan Menerima Siswa Korban Gempa dan Tsunami. https://sulselprov.go.id/welcome/post/disdik-sulsel- instruksikan-satuan-pendidikan-menerima-siswa-korban-gempa-dan-tsunami. Diposting tanggal 5 Oktober 2018
Harususilo, Y.E. (2018). Ini Data Terbaru, Jumlah Sekolah Terdampak Bencana Sulawesi Tengah. https://edukasi.kompas.com/read/
2018/10/14/14290321/ini-data-terbaru-jumlah-sekolah-terdampak-bencana-sulawesi-tengah. Diposting tanggal 14 Oktober 2018, 14:29 WIB.
Jawa Pos. 8 Oktober 2018, 06:44 WIB. Trauma Terkena Gempa dan Tsunami, 8.110 Orang Mengungsi dari Palu. https://www.liputan6.com/news/
read/3661740/trauma-terkena-gempa-dan-tsunami-8110-orang-mengungsi-dari-palu.
Lin, M.M. dan Henschke, R. (2018). Gempa, Tsunami dan Likuifaksi:
Rangkaian Bencana di Palu yang Perlu Anda Ketahui. https://www.
bbc.com/indonesia/indonesia-45832237. Diposting tanggal 12 Oktober 2018.
Oktarini, S. O. (2018). Ada Kaitan dengan Gempa, Ini Asal Muasal Nama Kota Palu. https://www.hitekno.com/sains/2018/10/04/133000/
ada-kaitan-dengan-gempa-ini-asal-muasal-nama-kota-palu.
Padmasari, S. I. (2018). 300 Pelajar Korban Gempa Palu di Makassar Mulai Bersekolah. https://www.merdeka.com/peristiwa/300-pelajar-korban-gempa-palu-di-makassar-mulai-bersekolah.html. Diposting tanggal 9 Oktober 2015, 14:35 WIB.
Padmasari, S. I. (2018). 5 Murid SD Asal Palu di Makassar Enggan Dipisah Belajar di Kelas Berbeda. https://www.merdeka.com/peristiwa/5- murid-sd-asal-palu-di-makassar-enggan-dipisah-belajar-di-kelas-berbeda.html. Diposting tanggal 10 Oktober 2018, 22:45 WIB.
Riyantama, R., Sere, Y. (2018). Efek Psikologis yang Dialami Korban Gempa D o n g g a l a d a n P a l u . h t t p s : / / w w w . h i m e d i k . c o m / info/2018/10/01/133000/efek-psikologis-yang-dialami-korban-gempa-donggala-dan-palu. Diposting tanggal 1 Oktober 2018, 13:30 WIB.
Rosalia, I. (2018). Donggala, Kota Pelabuhan Yang Tengah Berduka. https://
beritagar.id/artikel/berita/donggala-kota-pelabuhan-yang-tengah-berduka. Diposting tanggal 29 September 2018, 15:10 WIB.
Sartika, R. E. A. (2018). Korban Gempa Donggala Butuh “Psychological First Aids”, Ini Artinya. https://sains.kompas.com/read/
2018/10/02/193400123/korban-gempa-donggala-butuh-psychological-first-aid-ini-artinya. Diposting tanggal 2 Oktober 2018, 19:34 WIB.
Sinaga, S.N.M. (2018). Riwayat Likuefaksi di Tanah Palu. https://www.
liputan6.com/news/read/3663718/riwayat-likuefaksi-di-tanah-palu.
Diposting tanggal 10 Oktober 2018, 09:29 WIB.
Tribunnews. 4 Oktober 2018, 15:05 WIB. Mengenal Likuifaksi, Fenomena tanah Bergerak di Kota Palu dan Cara Mengantisipasinya. https://
travel.tribunnews.com/2018/10/04/mengenal-likuifaksi-fenomena-tanah-bergerak-di-kota-palu-dan-cara-mengantisipasinya.
Tribunnews. 9 Maret 2019, 23:35 WIB. Tribunwiki: Sejarah Lahirnya Kota Palu Sulteng, Awalnya Lautan. https://makassar.tribunnews.com/
2019/03/09/tribunwiki-sejarah-lahirnya-kota-palu-sulteng-awalnya-lautan?page=2.
Wiyanti. W. (2018). Korban Gempa Donggala Tsunami Palu Rentan Alami Trauma Hingga Stres Akut. https://health.detik.com/berita- detikhealth/d-4234081/korban-gempa-donggala-tsunami-palu-rentan-alami-trauma-hingga-stres-akut. Diposting tanggal 29 September 2018, 09:02 WIB.W
Abstrak
Kajian ini bertujuan menghasilkan model layanan pendidikan berbasis kesiapsiagaan siswa terhadap bencana alam. Metode yang digunakan adalah kualitatif. Data dan informasi diperoleh melalui kajian literatur, wawancara dan Diskusi Kelompok Terpumpun (DKT). Sumber informasi: 1) berbagai literatur dan kebijakan yang berhubungan dengan bencana alam, 2) pimpinan dinas pendidikan, 3) BNPB, 4) BPBD, 5) kepala sekolah, dan 6) guru. Lokasi pengumpulan data dan informasi: Makassar, Denpasar dan Mataram. Hasil antara kajian ini yakni: 1) seluruh provinsi di Indonesia rentan mengalami bencana sedang maupun tinggi yang berakibat pada rusaknya fasilitas sekolah, 2) pengetahuan tentang bencana dan kesiapan menghadapi bencana atau siaga bencana mengurangi resiko bencana, 3) berbagai upaya telah dilakukan untuk mengurangi risiko bencana diantaranya: berbagai kebijakan, pelatihan, modul, dan buku tentang kesiapsiagaan terhadap bencana, 4) pemberian layanan pendidikan kepada peserta didik korban bencana alam masih menghadapi kendala, dan 5) diperlukan langkah strategis secara menyeluruh agar peserta didik terhindar dari risiko bencana.
Hasil akhir yang didapat yakni diagram konsep model yang memuat langkah-langkah yang dapat dilakukan sebelum, pada saat, dan setelah bencana alam
B A B I V