• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kegiatan di Sekolah dalam Kondisi Serba Terbatas

DAFTAR PUSTAK A

BAGI SISWA KORBAN GEMPA LOMBOK Oleh: Arie B Susanto (e-mail: [email protected])

C. PELAKSANAAN LAYANAN PENDIDIKAN PASKA GEMPA BUMI

3. Kegiatan di Sekolah dalam Kondisi Serba Terbatas

Gempa bumi yang terjadi di Lombok membuat sebagian bangunan sekolah rusak dengan kondisi ruang rusak sedang maupun parah, sehingga tidak layak digunakan untuk pembelajaran karena bisa membahayakan keselamatan siswa maupun guru. Sesuai ketetapan Mendikbud, bahwa aktivitas pembelajaran tetap harus dilaksanakan meskipun pada situasi yang kurang menguntungkan paska gempa bumi, maka dinas pendidikan menetapkan bahwa seluruh sekolah harus memberikan layanan pembelajaran kepada siswa. Demikian pula, ketetapan dinas pendidikan ini ditindaklanjuti oleh kepala sekolah dengan tetap menyelenggarakan pembelajaran di sekolah dengan menyesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing sekolah.

Dengan kondisi hancurnya sebagian atau hampir seluruh ruang kelas, pembelajaran di sekolah-sekolah terdampak gempa dilaksanakan di dalam tenda maupun di ruang kelas bangunan sementara (RKBS). Pembelajaran di tenda dan RKBS ini disampaikan oleh lima kepala sekolah yang berdiskusi tentang hal ini, yaitu kepala: SMKN 1 Pemenang, SMAN 1 Pemenang, SMAN 1 Gunungsari, SMPN 6 Mataram dan SDN 5 Mataram. Karena jumlahnya terbatas, kepala sekolah menetapkan jam pelajaran di sekolah tidak sama dengan sekolah dalam keadaan “normal”. Jumlah jam pelajaran dibuat lebih sedikit daripada sebelumnya. Dengan demikian masing-masing rombel dapat secara bergantian mengikuti pembelajaran baik di tenda

Sedangkan RKBS relatif lebih kuat karena terbuat dari baja ringan, berdinding triplek berkualitas dan berdinding aluminium yang kuat.

Bangunan ini semi permanen, di beberapa sekolah masih digunakan sampai sekarang, dan di beberapa sekolah sudah tidak digunakan lagi meskipun masih bagus karena sekolah sudah diperbaiki. Aktivitas pembelajaran di dalam tenda menurut kelima kepala sekolah yang berdiskusi, kurang efektif karena ruang pengap, berjendela kecil dan tidak cukup muat menampung siswa. Ketika tenda rusak, RKBS jumlahnya sangat terbatas di masing-masing sekolah, dan bangunan fisik sekolah belum sepenuhnya diperbaiki, mendorong kepala sekolah menetapkan kebijakan yang membolehkan guru melakukan akivitas pembelajaran di manapun di areal sekolah, misalnya taman, lapangan olah raga maupun lapangan upacara. Sepanjang aktivitas pembelajaran yang masih berlangsung di ruang sementara, yakni tenda dan RKBS, dirasakan oleh guru-guru kurang efektif. Oleh sebab itu baik guru maupun kepala sekolah sangat berharap bahwa perbaikan bangunan sekolah segera dapat diselesaikan agar pembelajaran dapat berjalan secara “normal”.

Saat ini, aktivitas pembelajaran sudah dilaksanakan di kelas biasa secara

“normal”, kecuali SMKN 1 Pemenang yang masih belajar di kelas sementara sambil menunggu pembangunan kembali seluruh fisik gedung sekolah yang akan dilakukan oleh UNDP.

Kurang efektifnya kegiatan pembelajaran juga bisa disebabkan oleh aspek guru. Menurut Kepala SMAK 1 Pemenang, guru di sekolahnya banyak yang terdampak oleh gempa. Rumah mereka ada rusak ringan, rusak sedang maupun rusak berat karena guru-guru umumnya bertempat tinggal di Lomut. Dengan kondisi yang demikian, ada beberapa guru yang tidak masuk di sekolah dengan berbagai alasan. Alasan yang sering disampaikan yakni, ingin memperbaiki rumah, memiliki anak kecil di rumah yang harus dijaga, masih sering trauma. Kepala sekolah bisa memaklumi kondisi guru yang demikian, dan bisa memaklumi ketidakhadiran guru tersebut. Akibatnya dalam satu hari, terdapat beberapa guru yang tidak hadir di sekolah. Dengan demikian ada jadwal pelajaran dimana tidak ada guru yang mengampunya.

Kondisi ini menyebabkan pembelajaran menjadi tidak efektif.

Selain aspek guru, aspek sarana pembelajaran juga menjadi penyebab kurang efektifnya pembelajaran di sekolah paska gempa. SMKN 1 Pemenang adalah sekolah kejuruan yang berfokus pada pariwisata dengan jurusan Tata Boga dan Perhotelan. Sebagaimana hakikatnya sekolah kejuruan, aktivitas pembelajarannya terbagi atas pembelajaran teori sebanyak 30%

dan pembelajaran praktek sebanyak 70%. Khusus untuk pembelajaran praktek, tentunya memerlukan ruang praktek yang dilengkapi dengan peralatannya. Karena seluruh peralatan praktek di SMKN 1 Pemenang rusak, akibatnya tidak ada kegiatan praktikum kejuruan di sekolah ini.

Kondisi ini menyebabkan pembelajaran di sekolah menjadi tidak efektif.

Bagi sekolah lainnya SMP dan SMA yang memerlukan paktikum misalnya IPA di SMP dan Fisika, kima serta biologi di SMA tentunya juga memerlukan laboratorium termasuk peralatan prakteknya. Tidak adanya peralatan praktek ini karena gempa menyebabkan pembelajaran juga tidak berjalan secara efektif.

Selama Lombok dalam kondisi darurat gempa, dan selama di masing-masing sekolah terdampak oleh gempa masih melaksakan pembelajaran di kelas darurat baik menggunakan tenda maupun menggunakan RKBS, maka di setiap sekolah akan kekurangan jumlah ruang kelas untuk pembelajaran bagi seluruh siswa. Oleh sebab itu kelima pimpinan sekolah yang mengikuti diskusi tentang pembelajaran bagi siswa yang terdampak gempa di Lombok, semuanya melakukan strategi agar pembelajaran dapat berjalan seoptimal mungkin. Salah satu strategi yang dilakukan oleh kelima sekolah ini adalah mengurangi jam pelajaran setiap mata pelajaran. Di SMP, SMA dan SMK masing-masing mengurangi 15 – 20 menit untuk setiap jam pelajarannya.

Dengan berkurangnya lama waktu setiap tatap muka berakibat pada pembelajaran seluruhnya di SMP maupun SMA lebih pendek waktunya dan siswa lebih awal pulangnya. Pengaturan di SD berbeda dengan SMP maupun SMA. SD tidak membuat jadwal secara ketat karena sifat

cepat pulang. Menurut keterangan guru, seluruh sekolah di Lombok terutama yang terdampak oleh gempa, mempercepat jam belajar di sekolah.

Di SMK, selain mengurangi jam tatap muka juga mengatur strategi pembelajaran lainnya yang berbeda dengan SMP maupun SMA. Kepala SMKN 1 Pemenang mengatur jadwal pembelajaran supaya pembelajaran tetap bisa berjalan, misalnya hari senin dan selasa mata pelajaran normtif dan adaptif, nanti gurunya berkelompok dan siswanya juga berkelompok berdasarkan mata pelajaran bukan berdasarkan tingkat kelas. Jadi hari senin dan selasa pelajarannya adaptif dan normati, rabu kamis pelajaran produktif.

Hari jumat dan sabtunya olahraga dan imtaq. Kegiatan ini sifatnya temporer sampai suasana “normal” kembali, kira-kira selama dua minggu.

Berkenaan dengan kelengkapan siswa dan guru di sekolah, lima kepala sekolah menyatakan bahwa tidak ada keharusan kepada siswa maupun guru untuk menggunakan seragam atau pakaian rapi dan formal di sekolah. Di lima sekolah ini membolehkan siswa dan guru mengenakan pakaian apa saja yang dimiliki. Sekolah dalam hal ini lebih mengutamakan kehadiran guru dan siswa di sekolah untuk mengikuti aktivitas di sekolah termasuk pembelajaran. Oleh sebab itu, ada siswa dan guru yang mengenakan sandal selama pembelajaran. Sekolah juga tidak mengharuskan siswa membawa alat tulis serta buku pelajaran secara lengkap.