• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gempa bumi disebabkan oleh adanya interaksi lempeng tektonik.

Peristiwa gempa bumi dapat menimbulkan gelombang pasang apabila

bumi karena posisinya yang berada di pertemuan tiga lempeng utama dunia, yaitu Eurasia, Indoaustralia dan Pasifik.

Gambar 1.3. Wilayah Rawan Gempa di Indonesia Sumber: Fauzi, 2018

Di Indonesia, terdapat beberapa wilayah yang rawan terjadi gempa, seperti ditunjukkan pada gambar berikut.

Indonesia termasuk daerah kegempaan aktif dimana selama tahun 1976-2006 sudah terjadi 3.486 gempa bumi dengan magnitudo lebih dari 6,0 SR. Penelitian Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sejak tahun 1991‐2009 (19 tahun) telah terjadi 27 kali gempabumi merusak dan 13 kali gempabumi menimbulkan tsunami (Sunarjo dkk, 2012:2) Kalau dirata ratakan dan pembulatan, Indonesia mengalami kejadian gempabumi sebanyak 2 kali dan tsunami 1 kali setiap tahunnya.

Berikut gempa bumi yang terjadi di Indonesia dengan korban mencapai ribuan (Indocrop Circles, 2013).

a. Gempa Ambon

Tanggal : 17 Februari 1674 Lokasi : Tidak tercatat

Magnitudo : Tidak tercatat karena belum ada teknologi pencatan gempa, diperkirakan 7,5 SR

Korban : 2.322 meninggal dunia Dampak : Tidak tercatat

b. Gempa Pulau Bali

Tanggal : 20 Januari 1917 jam 06.50 WITA Lokasi : pusat gempa di tenggara pulau Bali Magnitudo : 6,6 SR

Korban : Lebih dari 1500 orang meninggal dunia karena banyaknya tanah longsor akibat gempa.

Dampak :

• tanah longsor dan mengakibatkan kerusakan luas di seluruh Bali, terutama di bagian selatan pulau.

• Gempa ini juga dirasakan di bagian timur pulau Jawa dan Sumbawa, dan terasa sangat kuat di Lombok

• Banyak perumahan di desa-desa tertimbun longsoran tanah.

• Banyak bangunan yang runtuh

c. Gempa Papua, Pegunungan Jayawijaya, Papua Tanggal : 25 Juni 1976

Lokasi : Tidak tercatat lokasi tepatnya Magnitudo : 7,1 SR

Korban : 422 meninggal dunia : 5000 - 9000 hilang

Dampak : enam desa dilaporkan hancur di daerah gempa d. Gempa Flores, Nusa Tenggara Timur

Tanggal : 12 Desember 1992

Lokasi : lepas pantai Flores, Indonesia, diikuti dengan tsunami Magnitudo : 7,8 SR

Korban :

• 2000 meninggal dunia

• 500 hilang

• 447 luka

• 5.000 mengungsi Dampak :

• menyebabkan tsunami setinggi 36 meter yang menghancurkan rumah di pesisir pantai Flores

• menghancurkan 18.000 rumah, 113 sekolah, 90 tempat ibadah, dan lebih dari 65 tempat lainnya

• Kabupaten yang terkena gempa ini ialah Kabupaten Sikka, Kabupaten Ngada, Kabupaten Ende, dan Kabupaten Flores Timur

• Kota yang paling parah ialah Maumere. Lebih dari 1.000 bangunan hancur dan rusak berat

e. Gempa Andaman (gempa Aceh) Sumatera Tanggal : 26 Desember 2004

Lokasi : pusat gempa bumi di bagian pantai barat Sumatera, Indonesia.

Magnitudo : 9,1 – 9,3 SR

Korban : 301.225 meninggal dunia Dampak :

• Gempa memicu serangkaian tsunami di sepanjang pantai minimal 13 negara-negara ditengah samudera maupun dilepas pantai Samudera Hindia

• gelombang tsunami juga menerpa Malaysia, Thailand, Myanmar, Sri Lanka, India, Maladewa, Seychelles, Somalia, Kenya, Tanzania, Madagaskar dan Afrika Selatan

f. Gempa Pulau Nias Sumatera Utara Tanggal : 28 Maret 2005, jam 23.09

Lokasi : dasar Samudra Hindia, sejauh 200 km sebelah barat Sibolga, di lepas pantai Pulau Sumatera, atau 1.400 km barat laut Jakarta, sekitar setengah jarak atau antara dua pulau, yaitu Pulau Nias dan Pulau Simeulue.

Magnitudo : 8,6 SR

Korban : 1.346 meninggal dunia Dampak :

• Getaran terasa di beberapa provinsi di Sumatra Utara, Aceh, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Bengkulu, dan Palembang.

• memutuskan aliran listrik dan telepon di sebagian pulau Sumatra.

g. Gempa Jogyakarta, DI Yogyakarta Tanggal : 26 Mei 2006

Lokasi : sekitar 25 km selatan-barat daya Yogyakarta, 115 km selatan Semarang, 145 km selatan-tenggara Pekalongan dan 440 km timur-tenggara Jakarta

Magnitudo : 6,3 SR

Korban : 6.234 meninggal dunia Dampak :

• Gempa juga dapat dirasakan di Solo, Semarang, Purworejo, Kebumen dan Banyumas. Getaran juga sempat dirasakan sejumlah kota di provinsi Jawa Timur seperti Ngawi, Madiun, Kediri, Trenggalek, Magetan, Pacitan, Blitar dan Surabaya.

• Gedung-gedung rusak parah

h. Gempa Padang

Tanggal : 30 September 2009

Lokasi : lepas pantai Sumatera Barat, sekitar 50 km barat laut Kota Padang.

Magnitudo : 7,9 SR

Korban : 1.117 meninggal dunia. 1,214 luka parah, dan 1.688 luka ringan

Dampak : kerusakan parah di beberapa wilayah di Sumatera Barat seperti Kabupaten Padang Pariaman, Kota Padang, Kabupaten Pesisir Selatan, Kota Pariaman, Kota Bukittinggi, Kota Padang Panjang, Kabupaten Agam, Kota Solok, dan Kabupaten Pasaman Barat.

i. Gempa Palu/Donggala, Sulawesi Tengah

Tanggal : 28 September 2018, terjadi beberapa kali gempa, diikuti dengan gelombang tsunami

Lokasi : Pusat gempa bumi (episentrum) berada di darat, sekitar Kecamatan Sirenja, 26 km utara Donggala dan 80 km barat laut kota Palu dengan kedalaman 10 km.

Magnitudo : 6,0 – 7,4 SR

Korban : Lebih dari 1,649 meninggal dunia : Lebih dari 600 luka-luka

:Lebih dari 100 hilang

:Lebih dari 16.000 mengungsi

Banyaknya korban jiwa selain karena gempa dan tsunami, juga akibat peristiwa likuifaksi.

Dampak :

• Guncangan gempa bumi dirasakan di kawasan Kabupaten Donggala, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi, Kabupaten Poso, Kabu-paten Tolitoli, Kabupaten Mamuju bahkan hingga Kota Samarinda, Kota Balikpapan, dan Kota Makassar.

• Daerah paling parah karena likuifaksi tanah adalah daerah Petobo,

Balaroa dan daerah Jono Oge. Semua bangunan di ketiga daerah tersebut terseret tanah berlumpur hingga sejauh kurang lebih dua kilometer, selain itu akibat likuifaksi banyak bangunan rumah yang terkubur atau tersedot ke dalam tanah.

Gambar 1.4. Tsunami di Indonesia sejak Tahun 1629 Sumber: Sidik, 2018

3. Tsunami

Tsunami merupakan gelombang yang biasanya ditimbulkan oleh guncangan di laut. Tsunami sangat mempengaruhi kondisi pesisir dan bawah laut karena gelombangnya bersifat menghantam. Peristiwa tsunami terjadi karena tubrukan atau pergeseran lempeng yang keras disertai gempa pada daerah lautan.

Indonesia yang terdiri atas ribuan pulau yang dikelilingi oleh lautan yang luas, merupakan negara yang sering sekali mengalami tsunami. BNPB mencatat bahwa terjadi ratusan kali tsunami di Indonesia, ditunjukkan

Berikut adalah tujuh gelombang tsunami yang pernah terjadi di Indonesia yang digolongkan sebagai gelombang tsunami dahsyat. (Kompas, 2018):

a. Tsunami Sulawesi Tengah (10 Agustus 1968)

• 200 orang meninggal dunia di Donggala

• 500 keluarga hilang.

• Ribuan rumah hancur.

b. Tsunami Sumba (19 Agustus 1977)

• Di Pulau Sumbawa, 75 orang meninggal dunia, 26 orang hilang dan 18 orang lukan parah.

• Di Pulau Lomben, 187 orang meninggal dunia, dan 364 orang hilang.

c. Tsunami Flores (12 Desember 1992)

• Merusak sebagian besar wilayah Sikka dan Ende.

• Gelombang memporakporandakan rumah penduduk, rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, perkantoran, dan sarana umum lainnya.

• Lebih dari 1300 orang meninggal dunia, 500 orang hilang.

• Ribuan rumah penduduk rusak.

d. Tsunami Banyuwangi (3 Juni 1994)

• Merusak sebagian besar wilayah Banyuwangi.

• Meluluhlantakkan perkampungan nelayan.

• Korban meninggal dunia paling sedikit 203 orang.

• 213 rumah rata dengan tanah.

• 187 perahu nelayan rusak.

e. Tsunami Kepulauan Banggai (9 Mei 2000)

• Korban meninggal dunia sebanyak 46 orang

f. Tsunami Aceh (26 Desember 2004)

• Gelombang dengan tinggi 35 meter meluluhlantakkan Aceh dan wilayah sepanjang pesisir Sumatera.

• Diperkirakan 160.000 orang meninggal dunia.

• Menghacurkan kehidupan warga Aceh.

g. Tsunami Pangandaran (17 Juli 2006)

• gelombang besar mengempaskan 125 perahu dan menghancurkan tempat pelelangan ikan (TPI) di Karangduwur

• 20 warung hanyut ke laut setelah disapu gelombang, sementara 150 unit perahu nelayan di Ayah dan 372 perahu di Pantai Suwuk hancur.

• diperkirakan mengakibatkan sedikitnya 100 orang tewas, ratusan lainnya hilang, dan ribuan warga di sejumlah wilayah pesisir mengungsi ke tempat yang lebih aman.

4. Banjir

Banjir adalah peristiwa atau keadaan dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang meningkat (BNPB). Banjir merupakan bencana yang selalu terjadi setiap tahun di Indonesia terutama pada musim penghujan. Penyebab banjir di seluruh wilayah relatif sama, meskipun dengan intensitas berbeda, yaitu: (1) curah hujan tinggi; (2) jumlah dan kepadatan penduduk tinggi; (3) pengembangan kota yang tidak terkendali, tidak sesuai tata ruang daerah, dan tidak berwawasan lingkungan sehingga menyebabkan berkurangnya daerah resapan dan penampungan air; (4) drainase kota yang tidak memadai akibat sistem drainase yang kurang tepat, kurangnya prasarana drainase, dan kurangnya pemeliharaan; (5) luapan beberapa sungai besar yang mengalir ke tengah kota;

(6) kerusakan lingkungan pada daerah hulu; (7) kondisi pasang air laut pada saat hujan sehingga mengakibatkan backwater; (8) berkurangnya kapasitas

bantaran sungai; (9) kurang lancar hingga macetnya aliran sungai karena tumpukan sampah; serta (10) ketidakjelasan status dan fungsi saluran (Bappenas, 2008). Banjir memiliki kekuatan erosif yang sangat besar dan bisa sangat merusak karena dapat membawa benda-benda yang berat sekalipun seperti rumah, mobil hanyut. Bahkan banjir dapat merobohkan jembatan atau membuat tanah longsor.

Terdapat lima macam banjir, yaitu banjir air, banjir lumpur, banjir rob, banjir lahar dan banjir bandang (Gilang, 2019). Banjir air merupakan banjir yang sering terjadi yang disebabkan oleh kondisi air yang meluap di beberapa tempat seperti sungai, danau maupun selokan. Banjir air biasanya terjadi karena hujan yang begitu lama sehingga sungai, danau maupun selokan tidak cukup menampung air hujan tersebut. Banjir lumpur merupaka banjir yang disebabkan oleh lumpur yang keluar dari dalam bumi yang menggenangi daratan. Banjir lumpur yang terkenal adalah banjir lumpur Lapindo di Sidoarjo Surabaya. Banjir rob merupakan banjir yang disebabkan oleh naiknya air laut menggenangi daratan di sekitarnya. Banjir rob biasanya melanda wilayah yang dekat dengan laut, misalnya Muara Baru Jakarta. Banjir lahar merupakan banjir yang disebabkan oleh lahar gunung berapi yang mengalami erupsi atau meletus. Banjir bandang merupakan banjir yang memiliki tingkat bahaya yang tinggi karena biasanya disebabkan oleh bendungan air yang jebol (Ilmugeografi.com, tanpa tahun) Umumnya banjir bandang memiliki arus yang deras sehingga manusia sulit berenang. Keadaan ini yang sering menyebabkan banjir bandang menelan korban jiwa.

Banjir merupakan salah satu bencana alam dengan tingkat kekerapan yang paling tinggi di Indonesia dibandingkan dengan bencana alam lainnya.

Sebagian besar kab/kota di Indonesia mengalami banjir dan ditengarai memiliki risiko atau dampak yang tinggi pula. Tabel berikut menginformasikan banyaknya kab/kota di Indonesia dikaitkan dengan tingkat risiko yang ditimbulkan oleh banjir pada tahun 2018.

Tabel 1.2. Jumlah Kab/Kota Per Provinsi Sesuai Risiko Banjir 2018

No Provinsi Juml Kab/Kota Sesuai Risiko oleh Banjir

Tinggi Sedang Rendah

1 Aceh 19 0 0

2 Sumatera Utara 22 3 1

3 Sumatera Barat 9 0 0

4 Riau 11 0 0

5 Jambi 9 1 0

6 Sumatera Selatan 15 0 0

7 Bengkulu 7 0 0

8 Lampung 13 0 0

9 Kep. Riau 0 0 0

10 Kep. Bangka Belitung 6 0 0

11 Banten 7 0 0

12 Jawa Barat 22 0 0

13 Jawa Tengah 23 1 0

14 D I Yogyakarta 2 2 0

15 Jawa Timur 36 2 0

16 DKI Jakarta 4 1 0

17 Kalimantan Barat 14 0 0

18 Kalimantan Tengah 12 1 0

19 Kalimantan Selatan 13 0 0

20 Kalimantan Timur 10 0 0

21 Kalimantan Utara 4 0 0

22 Sulawesi Utara 1 0 0

23 Sulawesi Tengah 0 8 0

24 Gorontalo 1 0 0

25 Sulawesi Tenggara 2 12 0

26 Sulawesi Barat 1 4 0

27 Sulawesi Selatan 1 14 0

28 Nusa Tenggara Barat 5 0 0

30 Bali 0 0 0

31 Maluku 5 6 0

32 Maluku Utara 8 0 0

33 Papua Barat 11 2 0

34 Papua 23 1 0

Jumlah total 307 69 2

Sumber: BPS, 2018, diolah

Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa pada tahun 2018 jumlah kabupaten/kota dengan risiko akibat banjir tinggi (81,21%) jauh lebih banyak daripada kabupaten/kota dengan risiko akibat banjir sedang (18,25%). Bahkan pada tabel terlihat bahwa, hanya sedikit sekali kabupaten/

kota di Indonesia dengan risiko akibat banjir rendah yakni 0,53%. Dengan merujuk pada tabel maka dapat diartikan bahwa akan terjadi begitu banyak fasilitas salah satunya adalah fasilitas sekolah yang akan rusak. Kerusakan fasilitas sekolah ini secara langsung akan menyebabkan aktivitas pembelajaran di sekolah menjadi terhambat.

E. DAMPAK BENCANA ALAM TERHADAP PENDIDIKAN DI