DAFTAR PUSTAK A
BAGI SISWA KORBAN GEMPA LOMBOK Oleh: Arie B Susanto (e-mail: [email protected])
D. FAKTOR PENDUKUNG, KENDALA DAN HARAPAN
1. Faktor Pendukung
Faktor pendukung utama yang menjadi dasar bergeraknya seluruh elemen dalam memperbaiki kondisi Lombok paska gempa adalah adanya Instruksi Presiden (Inpres) RI No 5 tahun 2018 tentang Percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana gempa bumi di Kabupaten Lobar, Kabupaten Lomut, Kabupaten Loteng, Kabupaten Lotim, Kota Mataram, dan wilayah terdampak di Provinsi NTB. Inpres ini sekaligus merupakan faktor pendukung bagi membangun kembali Lombok secara keseluruhan setelah di rusak oleh rentetan gempa bumi. Khusus yang berhubungan dengan pendidikan, di dalam Inpres ini memuat instruksi untuk melaksanakan percepatan rehabilitasi dan rekonstrusi fasilitas pendidikan di wilayah yang terdampak gempa di Provinsi NTB agar aktivitas bisa berfungsi kembali paling lambat pada akhir bulan Desember 2018. Di dalam Inpres ini juga memuat tugas Menteri Pendidikan dan
Kebudayaan untuk: 1) berkoordinasi dengan Kepala BNPB, Menteri PUPR, dan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam rangka rehailitasi dan rekosntruksi peskabencana gempa bumi untuk sarana pendidikan yang rusak akibat bencana, dan 2) melakukan pemulihan fungsi proses belajar mengajar di kabupaten/kota dan wilayah terdampak bencana.
Selain kepada mendikbud, inpres juga memuat tugas gubernur NTB antara lain, melakukan verifikasi dan validasi terhadap kerusakan fasilitas pelayanan publik. Sementara itu, inpres ini juga menugaskan kepada Bupati dan Walikota di lingkungan provinsi NTB untuk melakukan pendataan kerusakan, menetapkan data kerusakan antara lain fasilitas pelajaran publik serta mengusulkan rencana kebutuhan rehabilitasi dan rekonstruksi paskabencana gempa bumi kepada pemda provinsi dan/atau BNPB melalui pemda provinsi. Inpres ini ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 23 Agustus 2018, atau empat hari paska gempa susulan terakhir di Lombok yang terjadi tanggal 19 Agustus 2018. Dengan keluarnya Inpres ini tentunya akan mempermudah dan dapat mempercepat seluruh komponen bangsa ini untuk melakukan langkah bagi perbaikan sekolah di Lombok sekaligus memperrcepat pemberian layanan pendidikan yang dibutuhkan oleh siswa terdampak gempa.
Selain penerbitan Inpres, kunjungan Presiden Joko Widodo dan Wakil presden Jusuf Kalla langsung ke sekolah yang terdampak, dapat dikatakan merupakan faktor pendukung, karena kehadiran pimpinan negara tersebut dapat memotivasi pihak sekolah untuk melaksanakan layanan pendidikan di sekolah.
Faktor pendukung lainnya dari komponen pemerintah yang berhubungan langsung dengan layanan pendidikan adalah Kemendikbud.
Mendikbud, Muhadjir Effendi, pada pernyataannya adanya upaya yang besungguh-sungguh yang ditempuh oleh kemendikbud berkenaan dengan fasilitas bagi layanan pendidikan di sekolah. pernyataan Mendikbud sebagai berikut:
“Fokusnya di sekolah. Kami prioritaskan bagaimana kegiatan belajar mengajar kembali lancar”.
“…Banyak ruang kelas rusak, bahkan tidak sedikit dalam kondisi hancur, rata dengan tanah. Kota tidak boleh membiarkan kondisi seperti itu berlangsung terlalu lama. Hak anak-anak memperoleh pendidikan harus terus berjalan”
“Kita harus bergerak cepat. Anak-anak, para guru, dan tenaga kependidikan, tidak boleh terlalu lama menderita. Kita harus segera bangkit kembali. Pendidikan tidak boleh terlalu lama berhenti”
“Saya sudah minta kepada UPT sebagai unit terdekat di daerah untuk terjun ke lapangan memeriksa kondisi satuan pendidikan terdampak bencana”
Mendikbud dalam hal ini selain memberikan pernyataan terkait perlunya aktivitas pembelajaran harus berlangsung, juga melakukan langkah-langkah untuk percepatan pelaksanaan kegiatan pembelajaran di sekolah. Langkah yang dilakukan antara lain, 1) Kemendikbud menurunkan tim untuk memeriksa kondisi satuan pendidikan yang terdampak bencana serta siswa dan guru yang menjadi korban, 2) melalui LPMP Provinsi NTB melakukan pendataan dan memastikan pembelajran dapat berlangsung dengan menggunakan fasilitas darurat, 3) melakukan kerjasama dan koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur masyarakat seperti relawan dan LSM untuk membantu percepatan pemulihan NTB. Dalam upaya percepatan pemulihan komponen pendidikan paska gempa bumi di Lombok ini, Kemendikbud melakukan kerjasama dengan berbagai pihak, diantaranya: 376 organisasi masyarakat, UNICEF, Rumah Pelangi, Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Wahana Visi Indonesia, Kerajaan Dongeng, Yayasan GUgah Nurani Indonesia, LAZNAS, dan Kidsmile Foundation. Wujud fisik dukungan Kemendikbud ini antara lain berbentuk (Jendela Pendidikan dan Kebudayaan, 2018:12): 1) mendirikan 133 tenda kelas darurat dan 179 terpal dengan bantuan pemerintah daerah dan relawan, 2) pemberian 29.000 paket
peralatan sekolah untuk siswa melalui Ditjen PAUDDIKMAS, 3) pemberian layanan psikososial untuk siswa dan guru oleh LSM dan relawan, 4) menyelenggarakan pemutaran film edukatif di beberapa lokasi pengungsian oleh Pusbangfilm, 5) mendistribusikan buku cerita rakyat, logistik sembako, selimut, pakaian, obat-obatan serta makanan dan minuman. Kemenidkbud juga mendirikan Posko Satuan Tugas Gabungan Terpadu untuk memberikan layanan pendidikan kepada korban gempa bumi Lombok yang dipimpin oleh unsur LPMP. Berkenaan dengan bangunan sekolah yang terdampak gempa bumi, bentuk dukungan Mendikbud yakni, seluruh sekolah yang mengalami kerusakan baik ringan, sedang atau berat harus bisa ditangani. Dalam penanganan bangunan sekolah ini, ditetapkan boleh Mendikbud bahwa bangunan yang rusak berat akan dirobohkan untuk dibangun kembali, sedangkan bangunan yang rusak sedang maupun rusak ringan dapat direhabilitasi. Ketetapan Mendikbud tentang fisik gedung sekolah merupakan faktor pendukung bagi pelaksanaan layanan pendidikan bagi siswa korban gempa bumi Lombok secara optimal.
Faktor pendukung pada pelaksanaan pemberian layanan pendidikan paska gempa di Lombok yakni Kepala Sekolah. Kelima kepala sekolah yakni dari SMKN 1 Pemenang, SMAN 1 Pemenang, SMAN 1 Gunungsari, SMPN 6 Mataram, dan SDN 5 Mataram, pada diskusi dengan tim Pengumpul data terlihat tentang upaya keras agar pelaksanaan pembelajaran dapat berlangsung sesegera mungkin. Upaya yang dilakukan oleh kelima kepala sekolah ini adalah yang berhubungan langsung dengan ruang belajar sementara dan akhirnya pada bangunan fisik sekolah secara perrmanen.
Usul kepala sekolah bahwa sekolah tetap harus berjalan meskipun kondisi guru dan siswa masih belum pulih secara kejiwaan paska gempa di Lombok, menyebabkan seluruh warga sekolah termasuk orang tua siswa termotivasi untuk terus bersekolah. Selain itu upaya kepala sekolah untuk bisa mendapatkan bantuan dalam bentuk apapun, merupakan pendorong bagi
terdampak oleh bencana.
Beberapa contoh jawaban kepala sekolah saat diskusi disampaikan sebagai berikut. Jawaban Kepala SDN 5 Mataram.
“Awal pembelajaran kami menggunakan terpal yang didapatkan dari Bapak Walikota. Kemudian karena muridnya banyak jadi kam masih kekurangan tenda, kami berusaha lagi untuk bisa mendapatkan terpal untuk tenda. Kami menghubungi Kodim untuk meminta bantuan terpal, dan kami mendapatkan bantuan terpal tersebut karena ada walimurid yang bekerja di Kodim. Karena terpal masih kurang, saya menghubungi kodya kota Malang untuk meminta bantuan terpal. Saya meminta bantuan itu karena anak saya mengajar menjadi guru di kota Malang. Dari kodya Malang mendapatka bantuan lima terpal. Setelah dapat bantuan dari Malang, ternyata masih kurang. Lalu kami minta bantuan dari MOGE, persatuan Motor Gede. Dari MOGE sekolah dapat bantuan lima terpal”.
Jawaban kepala SMAN 1 Pemenang.
“…. sejak hari pertama gempa, saya memfoto kondisi bangunan sekolah dan saya kirim ke teman-teman semua, termasuk ke pejabat di PUPR, saya lupa namanya”.
“….sekolah saya merupakan sekolah pertama sekolah darurat yang selesai didirikan, dengan jumlah ruangan yang sangat memadai, bahkan selesai sekolah darurat dan akhirnya ke sekolah permanen. Alhamdulillah sampai dua kali lipat dari yang kita butuhkan, yang lain dapatnya enam ruangan, sedangkan sekolah saya mendapatkan 20 ruangan baru”.
“Saya waktu itu berkomunikasi dan bertemu secara intens dengan PUPR, Aset dan Adhi Karya. Sampai saat direktur Adhi Karya yang sebagai pelaksana di sana meminta saya mengurus dokumen-dokumen termasuk SK Penghapusan Aset yang dibutuhkan Adhi Karya”.
“Hampir setiap hari saya menelpon ke Aset kalau tidak telpon saya datang ke Aset yang ada di Provinsi”.
“Pihak Adhi Karya sampai mengancam kalau dana ini tidak dipakai
sebesar 200 M maka dana ini akan saya bawa ke Palu, pada saat itu Palu sudah terjadi gempa bumi juga. Adhi Karya memberi batas waktu sampai bulan April”.
“Akhirnya saya memaksa ke Aset, setiap hari Aset saya paksa pokoknya harus sampai selesai, bagaimanapun caranya”.
“Ketika itu, SK keluar sebelum libur Natal, SK Penghapusan Aset tahun 2018, langsung saya scan, langsung saya kirim ke PUPR dan saya kirim ke Adhi Karya, besok paginya mereka langsung berkumpul, langsung membuat MOU, dan ini dikuatkan. Jadi yang tadinya 13 ruangan dikembangkan menjadi 20 ruang kelas.
Jawaban Kepala SMPN 6 Mataram.
“ Ketika terjadi gempa awal, kami sebetulnya menyiapkan bantuan gempa ke Lombok Timur, ternyata besoknya sekolah kami kena musibah.
Saya cek gedung sekolah, waktu itu hari minggu, saya foto-foto dan saya kirim ke semua yang saya kenal baik di daerah maupun di jakarta”
“Saya juga bersurat kepada Unram fakultas Teknik, pemerintah daerah, walikota. Waktu itu SMP 6 paling parah”
“Kami berkoordinasi dengan LPMP, lalu dibuatkan SOP untuk kelas darurat dari terpal. Terpal tidak tahan lama, ada angin ada hujan terpal rusak. Jadi semua murid saya belajar di luar kelas, karena tidak ada yang berani ke dalam kelas, kami dan para guru juga tidak berani. Orang tua tidak mengijinkan anaknya masuk kelas”
“Asesmen oleh PUPR, lantai satu layak, lantai dua kuning, dan lantai tiga merah semua. Artinya lantai 2 dan 3 masih meragukan. Akhirnya kami bersepakat, anak-anak belajar di halaman, kami berkoordinasi dengan dinas Perumahan dan Pemukiman Penduduk”
“Ketika menteri pariwisata lewat, turun melihat anak-anak belajar di taman. Nah kahirnya dibuatkanlah kelas darurat sebanyak 16 kelas.
Kemudian kelasnya juga direhab”
pelaksanaan pelayanan pendidikan di sekolah yakni, kepedulian. Seperti disampaikan oleh Kepala SMKN 1 Pemenang yang menyatakan bahwa teman-temannya yang berdomisili di luar negeri melakukan gerakan pengumpulan dana untuk membantu SMK dan juga SD. Kepedulian beberapa komunitas seperti Harley Davidson yang memberikan sumbangan berupa tenda, sangat membantu memperlancar aktivitas pembelajaran pada masa darurat. Demikian pula beberapa LSM yang memiliki kepedulian untuk membantu siswa melalui kegiatan layanan psikologi sosial juga paling tidak membantu sekolah mengatasi permasalahan psikologi siswa yang mengalami trauma.
2. Kendala
Pelaksanaan layanan pendidikan di sekolah ternyata juga menghadapi kendala meskipun sifatnya ringan. Kendala dimaksud diantaranya:
1) tidak meratanya pemberian tunjangan khusus kepada guru-guru yang terdampak bencana, yang menyebabkan rasa cemburu karena guru yang tidak mendapatkan tunjangan khusus tersebut juga ada yang rusak rumahnya, 2) kurang lengkapnya perbaikan bangunan sekolah, seperti tidak dibangunnya pagar tembok yang mengelilingi sekolah membuat pihak sekolah merasa kurang aman dan nyaman, 3) tidak diberikannya aktivitas trauma healing kepada guru membuat sebagian guru ada yang masih trauma seperti rasa takut mengajar di dalam ruangan, rasa cemas atau kondisi psikologis lainnya, 4) masih kurangnya koordinasi menyebabkan tidak meratanya rehabilitasi dan rekonstruksi gedung sekolah, 5) adanya fokus pemberian bantuan hanya kepada wilayah atau kabupaten/kota yang terdampak paling parah menyebabkan ada beberapa sekolah yang tidak mendapatkan bantuan secara tuntas yang akhirnya menyebabkan aktivitas pembelajaran tidak dapat berjalan secara baik, dan 6) kurangnya variasi dalam pemberian trauma healing, dalam waktu pelaksanaan yang relatif lama menyebabkan rasa bosan pada siswa sehingga aktivitas ini menjadi kurang efektif.