MODUL
GEREJA SEBAGAI PERSEKUTUAN YANG TERBUKA
PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK DAN BUDI PEKERTI KELAS XI
SMA SWASTA SANTU XAVERIUS GUNUNGSITOLI
JULIUS LAHAGU, S.Ag
DAFTAR ISI Cover
Judul modul
Nama Mata Pelajaran Topik/Materi Pembelajaran Kelas
Penulis Daftar Isi Glosarium
I. PENDAHULUAN 1. KD dan IPK
2. Deskripsi singkat materi, rasionalisasi, dan relevansi 3. Prasyarat
4. Petunjuk Penggunaan Modul II. PEMBELAJARAN
1. Tujuan 2. Uraian Materi 3. Rangkuman 4. Tugas 5. Latihan 6. Penilaian Diri III. EVALUASI
Kunci Jawaban & Pedoman Penskoran
Daftar Pustaka Lampiran
GLOSARIUM
Ad Gentes adalah dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja, hasil Konsili Vatikan II, 1965
Konsili Vatikan II adalah pertemuan atau Sinode para Uskup sedunia dengan persekutuan bapak Paus, yang diadakan di Vatikan untuk kedua kalinya.
PENDAHULUAN
Umat katolik hidup di tengah dunia bersama sesama manusia lainnya yang bermacam-ragam latarbelakang suku-bangsa, agama, serta keyakinannya. Dalam sejarah panjangnya, Gereja Katolik pernah “menutup diri” dengan ajaran bahwa di luar Gereja (Katolik) tidak ada keselamatan (extra ecllesiam nula salus). Ajaran ini membuat Gereja (Katolik) menutup pintu dialog dengan agama dan kepercayaan serta masyarakat lain pada umumnya. Sejarah Gereja berubah ketika Konsili Vatikan II (1962-1965), membuka pintu-pintu dialog, serta memperbarui diri untuk hidup bersama dengan sesama manusia ciptaan Tuhan dari berbagai latarbelakang agama dan budaya. Meski pintu dialog sudah dibuka lebar-lebar oleh para bapa Gereja kita, di tengah masyarakat kita masih menjumpai banyak Umat Katolik yang hidup secara eksklusif, tertutup.
Paus Fransiskus dalam audensinya dengan para peziarah di Vatikan (lihat pelajaran sebelumnya) menegaskan bahwa Gereja ini lahir dari keinginan Allah untuk memanggil semua orang dalam persekutuan dengan dia, persahabatan dengan dia; untuk berbagi dalam kehidupan ilahi-Nya sendiri sebagai putra-putra dan putri-putri-Nya. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa kata “Gereja”, berasal dari bahasa Yunani “ekklesia”, berarti “orang – orang yang dipanggil. Demikian Paus Fransiskus menegaskan “Allah memanggil kita, Ia mendorong kita untuk keluar dari individualisme kita, dari kecenderungan kita untuk menutup diri kita sendiri, dan Dia memanggil kita untuk menjadi keluarga-Nya.
Pada pokok bahasan ini akan kita pelajari secara khusus tentang Gereja sebagai persekutuan yang terbuka. Gereja hadir di dunia dengan persekutuan yang terbuka artinya, Gereja hadir di dunia bukan untuk dirinya sendiri, Gereja hadir untuk dunia, kegembiraan dan harapan serta kabar sukacita sehingga menjadi tanda keselamatan bagi dunia. Gereja sebagai persekutuan terbuka, memperlihatkan kesiapan Gereja untuk berdialog dengan agama dan budaya manapun, dan memiliki partisipasi aktif untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan makmur. Melalui pelajaran ini para peserta didik diajak untuk memahami dan menghayati dirinya sebagai anggota Gereja yang hidup dalam persekutuan yang terbuka di tengah masyarakat.
1. Kompetensi Dasar dan Indikator Pencapaian Kompetensi
3.1 Memahami Gereja sebagai umat Allah dan persekutuan yang terbuka.
3.1.2. Menemukan perbedaan paham dan ciri khas dari gambaran model Gereja Institusional Hierarkis Piramidal dengan gambaran model Gereja sebagai Persekutuan Umat Allah.
3.1.3. Menjelaskan keanggotaan Gereja beserta peran dan fungsinya masing-masing menurut ajaran Gereja (Konsili Vatikan II)
3.1.4. Merumuskan paham Gereja sebagai persekutuan terbuka dari Kitab Suci Kis 4:32- 37 tentang “Cara Hidup Jemaat Perdana”
3.1.5. Menjelaskan konsekuensi arti Gereja sebagai persekutuan yang terbuka dengan bersikap inklusif atau terbuka.
4.1 Melakukan aktivitas (misalnya menuliskan refleksi/doa/puisi/membuat kliping berita dan gambar/melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh umat) tentang Gereja sebagai umat Allah dan persekutuan yang terbuka.
4.1.1. melakukan aktivitas (misalnya menuliskan refleksi/doa/puisi/membuat kliping berita dan gambar/melakukan wawancara dengan tokoh-tokoh umat) tentang Gereja sebagai umat Allah dan persekutuan yang terbuka
2. Deskripsi Singkat Materi
Gereja sebagai persekutuan terbuka merupakan sub materi bagian materi arti dan makna Gereja dan lanjutan dari sub materi Gereja sebagia umat Allah. Pada materi ini akan dibahas tentang Gereja sebagai persekutuaan terbuka dan bagaimana konsekuan dari persekutuan terbuka berdasrakan ajaran Gereja dan Kitab Suci. Pada materi ini siswa diharapkan untuk dapat mamahami makna Gereja sebagai persekutuan terbuka dan mampu membangun niat untuk hidup sebagai anggota Gereja. Materi ini akan sangat membantu uantuk mendalami kegiatan belajar selanjutnya dan membantu siswa untuk memahami dirinya sebgai bagian dari Gereja dan mampu mengaktulisasikan diri lebih aktif dalam menggereja.
3. Prasyarat
Siswa memahami perabedaan kata Gereja sebagai Umat Allah dan gereja sebagai gedung.
siswa telah dapat menyebutkan cirri-ciri Gereja sebagai umat Allah. Siswa telah mengetahui dasar dan konsekuensi Gereja sebagai umat Allah
4. Petunjuk Penggunaan Modul
a. Modul memuat ajaran Gereja dan Kitab Suci yang membahas tentang Gereja
b. Modul ini meminta siswa untuk membaca dengan teliti artikel dan ayat Kitab Suci yang di tampilkan sebab menjadi sumber utama.
c. Siswa diharapkan untuk mengerjakan latihan latihan dengan jujur dan membuat tugas yang diminta.
d. Siswa diarahkan untuk mengisi bagian penilaian diri dengan jujur
e. Siswa harus mampu merumuskan makna Gereja sebagai persekutuan terbuka.
5. Peta Materi
a. Materi diawali dengan mendalami ajaran Gereja dan Kitab Suci tentang Gereja sebagai persekutuan terbuka.
b. Penjelasan singakat tentang materi setelah itu rangkuman.
c. Dilanjutkan dengan latihan, tugas, dan penilaian diri.
PEMBELAJARAN Kegiatan Pembelajaran A. Tujuan
1. Melalui pendalaman pengalaman, dan cerita kehidupan, peserta didik menjelaskan pemahamannya tentang perubahan cara pandang terhadap Gereja.
2. Melalui pendalaman ajaran Gereja dan Kitab Suci peserta didik menjelaskan makna Gereja sebagai Persekutuan yang terbuka menurut ajaran Gereja dan ajaran Kitab Suci.
3. Melalui refleksi, peserta didik dapat menghayati Gereja sebagai Persekutuan Umat yang terbuka dalam hidupnya sehari-hari.
B. Uraian Materi
Pada awal materi ini, akan didalami satu artikel dari dokumen Konsili Vatikan II yang berbicara tentang Gereja, sebagai berikut:
“Gereja, yang diutus oleh Kristus untuk memperlihatkan dan menyalurkan cinta kasih Allah kepada semua orang dan segala bangsa, menyadari bahwa karya misioner yang harus dilaksanakannya memang masih amat berat. Sebab masih ada dua miliar manusia, yang jumlahnya makin bertambah, dan yang berdasarkan hubunganhubungan hidup budaya yang tetap, berdasarkan tradisi-tradisi keagamaan yang kuno, berdasarkan pelbagai ikatan kepentingan-kepentingan sosial yang kuat, terhimpun menjadi golongan-golongan tertentu yang besar, yang belum atau hampir tidak mendengar Warta Injil. Di kalangan mereka ada yang tetap asing terhadap pengertian akan Allah sendiri, ada pula yang jelas-jelas mengingkari adanya Allah, bahkan ada kalanya menentangnya. Untuk dapat menyajikan kepada semua orang misteri keselamatan serta kehidupan yang disediakan oleh Allah, Gereja harus memasuki golongan-golongan itu dengan gerak yang sama seperti Kristus sendiri, ketika Ia dalam penjelmaan-Nya mengikatkan diri pada keadaan-keadaan sosial dan budaya tertentu, pada situasi orang-orang yang sehari-hari dijumpai-Nya” (Ad Gentes / AG art. 10).
Beberapa pertanyaan untuk mendalami artikel ini:
1. Apa makna Gereja sebagai persekutuan yang terbuka menurut AG, art. 10 2.
2. Apa pesan dokumen tersebut untuk kehidupan Gereja Katolik saat ini?
Gereja diutus oleh Kristus untuk memperlihatkan dan menyalurkan cinta kasih Allah kepada semua orang dan segala bangsa. - Sama seperti Yesus, Gereja harus memasuki golongan- golongan manusia apa saja, termasuk keadaan sosial, budaya untuk mewartakan dan melaksanakan karya keselamatan Allah bagi semua orang.
Sebelum Konsili Vatikan II Gereja mempunyai model istitusional dan hierarki piramidal.
Hierarki yang terdiri dari Paus, Gereja, Imam para tahbisan yang menguasai umat dan mengatur seluruhnya kehidupan menggereja yang terstruktur rapi bersifat piramidal. Gereja sering merasa sebagai satu-satunya penjamin kebenaran dan keselamatan dan bersifat triumfalistik (memgahkan diri).
Setelah Konsili Vatikan II, ada keterbukaan dan pembaharuan cara pandang pada Gereja sebagai persekutuan Umat. - Gereja tidak lagi “hierarki sentris” melainkan Kristosentris”
artinya Kristuslah pusat hidup Gereja. Sedangkan kaum hierarki, Awam, dan Biarawan- Biarawati sama-sama mengambil bagian dalam tugas Kristus dengan cara yang berbedabeda sesuai dengan talenta dan kemampuannya masing-masing. - Gereja lebih bersikap terbuka dan rela berdialog untuk semua orang. Gereja meyakini bahwa di luar Gereja pun terdapat keselamatan. - Adanya paham Gereja sebagai Umat Allah yang memberikan penekanan pada kolegialitas episkopal (keputusan dalam kebersamaan). - Adanya pembaharuan (aggionarmento) yang mendorong Umat untuk terlibat dan berpartisipasi serta bekerjasama dengan para klerus. - Kepemimpinan Gereja; Didasarkan pada spiritualitas Yesus yang melayani para murid-Nya, maka konsekuensi yang dihadapi oleh Gereja sebagai Umat Allah adalah: hierarki yang ada dalam Gereja bertindak sebagai pelayan bagi Umat dengan cara mau memperhatikan dan mendengarkan Umat. Selain itu keterlibatan Umat untuk mau aktif dan bertanggung jawab atas perkembangan Gereja juga menjadi hal yang penting. Maka, hierarki dan Umat/awam diharapkan dapat menjalin kerja sama sebagai partner kerja dalam karya penyelamatan Allah di dunia.
Gerakan pembaruan yang terjadi dalam Gereja nampak dalam: - Umat punya hak dan wewenang yang sama (tetapi tetap ada batasnya), khususnya ikut menentukan gerak kegiatan liturgi di Paroki melalui wadah Dewan Paroki. - Gerakan pembaruan ini tidak hanya menyangkut kepemimpinan Gereja saja melainkan lebih dari itu menjangkau masalah- masalah dunia. - Susunan Kepengurusan Dewan Paroki bukan lagi Piramdal , melainkan lebih merupakan kaitan yang saling bekerjasama dan saling melengkapi . Intinya Gereja mengundang orang beriman untuk berkomunikasi terlibat dan diubah.
Dalam Kitab Suci (Kis. 4:32-37) memberikan gambaran yang ideal terhadap komunitas/persekutuan Umat Perdana. Cara hidup Umat Perdana tersebut tetap relevan bagi kita hingga sekarang. Kebersamaan dan menganggap semua adalah milik bersama mengungkapkan persahabatan yang ideal pada waktu itu. Yang pokok ialah bahwa semua anggota jemaat dicukupi kebutuhannya dan tidak seorang pun menyimpan kekayaan bagi dirinya sendiri sementara yang lain berkekurangan. - Mungkin saja kita tidak dapat menirunya secara harafiah, sebab situasi sosialekonomi kita sudah sangat berbeda.
Namun, semangat dasarnya dapat kita tiru, yaitu kepekaan terhadap situasi sosial- ekonomis sesama saudara dalam persekutuan Umat. Kebersamaan kita dalam hidup menggereja tidak boleh terbatas pada hal-hal rohani seperti doa, perayaan ibadah, kegiatan-kegiatan pembinaan iman, tetapi harus juga menyentuh kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya seperti yang sekarang digalakkan dalam Komunitas Basis Gereja.
C. Rangkuman
Gereja sebagai persekutuan terbuka adalah Gereja yang bersikap terbuka dan rela berdialog untuk semua orang. Gereja meyakini bahwa di luar Gereja pun terdapat keselamatan. - Adanya paham Gereja sebagai Umat Allah yang memberikan penekanan pada kolegialitas episkopal (keputusan dalam kebersamaan). Gereja tidak lagi “hierarki sentris” melainkan Kristosentris” artinya Kristuslah pusat hidup Gereja. Intinya Gereja mengundang orang beriman untuk berkomunikasi terlibat dan diubah. Hierarki dan Umat/awam diharapkan dapat menjalin kerja sama sebagai partner kerja dalam karya penyelamatan Allah di dunia. gambaran yang ideal terhadap komunitas/persekutuan Umat
Perdana. Cara hidup Umat Perdana tersebut tetap relevan bagi kita hingga sekarang.
Kebersamaan kita dalam hidup menggereja tidak boleh terbatas pada hal-hal rohani seperti doa, perayaan ibadah, kegiatan-kegiatan pembinaan iman, tetapi harus juga menyentuh kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya seperti yang sekarang digalakkan dalam Komunitas Basis Gereja.
D. Tugas
Buatlah satu artikel tentang keterlibatan diri anda dalam kehidupan menggereja dan buatlah satu kliping berita media cetak tentang keterlibatan Gereja Katolik dalam masyarakt umum.
E. Latihan
1. Jelaskan perbedaan paham Gereja dan cirri khas Gereja sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II!
2. Jelaskan peran dan fungsi umat sebagai anggota Gereja menurut Konsili Vatikan II!
3. Jelaskan konskuensi dari Gereja sebagai persekutuan yang terbuka yang kaitannya dengan inklusif atau terbuka!
4. Jelaskan apa rumusan paham tentang Gereja sebagai persekutuan terbuka bersadarkan Kitab Suci Kis 4:32-37!
F. Penilaian Diri
No Pertanyaan Jawaban
1. Saya telah memahami makna Gereja sebagai persekutuan terbuka.
Ya Tidak
2. Saya dapat membedakan model Gereja sebelum dan sesudah Konsili Vatikan II.
Ya Tidak
3. Saya dapat merumuskan paham Gereja menurut Kitab Suci.
Ya Tidak
4. Saya dapat memahami apa peran umat sebagai anggota Gereja yg terbuka.
Ya Tidak
EVALUASI KUNCI JAWABAN
1. Sebelum Konsili Vatikan II Gereja mempunyai model/bentuk institusional, hierarki pyramidal.
Para hierarki (Paus, Uskup, dan para tahbisan) menguasai Umat. Organisasi (lahiriah) yang berstruktur piramidal, tertata rapi. Mereka memiliki kuasa untuk menentukan segala sesuatu bagi seluruh Gereja. Sedangkan Umat hanya mengikuti saja hasil keputusan hierarki. Model ini cenderung “imamsentris” atau “hierarki sentris” artinya hierarki pusat gerak Gereja.
Setelah Konsili Vatikan II, ada keterbukaan dan pembaharuan cara pandang pada Gereja sebagai persekutuan Umat. Gereja tidak lagi “hierarki sentris” melainkan Kristosentris”
artinya Kristuslah pusat hidup Gereja. Sedangkan kaum hierarki, Awam, dan Biarawan- Biarawati sama-sama mengambil bagian dalam tugas Kristus dengan cara yang berbeda- beda sesuai dengan talenta dan kemampuannya masing-masing. Gereja lebih bersikap terbuka dan rela berdialog untuk semua orang.
2. Gereja diutus oleh Kristus untuk memperlihatkan dan menyalurkan cinta kasih Allah kepada semua orang dan segala bangsa. - Sama seperti Yesus, Gereja harus memasuki golongan- golongan manusia apa saja, termasuk keadaan sosial, budaya untuk mewartakan dan melaksanakan karya keselamatan Allah bagi semua orang.
3. Gereja sebagai persekutuan terbuka adalah Gereja yang bersikap terbuka dan rela berdialog untuk semua orang. Gereja meyakini bahwa di luar Gereja pun terdapat keselamatan. - Adanya paham Gereja sebagai Umat Allah yang memberikan penekanan pada kolegialitas episkopal (keputusan dalam kebersamaan).
4. Kebersamaan dan menganggap semua adalah milik bersama mengungkapkan persahabatan yang ideal pada waktu itu. Yang pokok ialah bahwa semua anggota jemaat dicukupi kebutuhannya dan tidak seorang pun menyimpan kekayaan bagi dirinya sendiri sementara yang lain berkekurangan. Kebersamaan kita dalam hidup menggereja tidak boleh terbatas pada hal-hal rohani seperti doa, perayaan ibadah, kegiatan-kegiatan pembinaan iman, tetapi harus juga menyentuh kehidupan sosial, ekonomi, politik, dan budaya seperti yang sekarang digalakkan dalam Komunitas Basis Gereja.
PENSKORAN
No. Soal Skor Nilai
1.
2.
3.
4.
2 2 3 3
20 20 30 30
10 100
DAFTAR PUSTAKA
Heuken SJ. 2004. Ensiklopedi Gereja.Edisi Empat. Jakarta: Cipta Loka Caraka
Konferensi Waligereja Indonesia. 1996. Iman Katolik. Buku Informasi dan Referensi. Yogyakarta:
Kanisus, Jakarta: Obor
Hardawiryana,R, SJ. (penterj). 1993. Dokumen Konsili Vatikan II, Jakarta: Dokumentasi dan Penerangan KWI dan Obor
Propinsi Gerejani Ende (penterj). 1995. Katekismus Gereja Katolik. Ende: Nusa Indah