CEKAMAN AIR PADA TANAMAN PADI (Oryza sativa L. var.
Batang Piaman)
REPOSITORY
OLEH
RETNO WAHYU SUBEKTI NIM. 1403111031
JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2019
1 Cekaman Air pada Tanaman Padi (Oryza sativa L. var. Batang Piaman)
Retno Wahyu Subekti1) Wahyu Lestari2)
1)Mahasiswa Program Studi S1 Biologi
2)Dosen Bidang Botani Jurusan Biologi
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Riau [email protected]
Coresponden author : [email protected] ABSTRACT
The utilization of dry land in Riau is still not optimal. Rice variety of Batang Piaman is wetland rice which is one of the effort in utilizing dry land in Riau by means of water stress. The aim of this research was to find out the effect of water stress on rice plants on rice variety of Batang Piaman. Study used Randomized Block Design (RBD) with field capacity (100, 75, 50, 25%), with 3 replications of each treatment.
The results were analyzed using ANOVA (Analysis Of Variance). The results of this study indicated that a decrease in field capacity significantly reduced plant height.
But morphologically, lower plant produced higher number of tillers. The effect of various field capacity did not significantly reduce root dry weight.
Keywords: Field capacity, Oryza sativa L. var. Batang Piaman, water stress.
ABSTRAK
Pemanfaatan lahan kering di Riau masih belum optimal. Padi varietas Batang Piaman (Oryza sativa L. var. Batang Piaman) merupakan padi lahan sawah yang menjadi salah satu upaya dalam pemanfaatan lahan kering yang ada di Riau dengan cara pemberian cekaman air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh cekaman air pada tanaman padi varietas Batang Piaman. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan perlakuan kapasitas lapang (100, 75, 50, 25%), masing-masing 3 ulangan. Hasil dianalisis menggunakan ANOVA (Analysis Of Variance). Hasil penelitian didapatkan bahwa penurunan kapasitas lapang menurunkan secara nyata terhadap tinggi tanaman. Namun secara morfologi, tinggi tanaman yang lebih rendah menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak.
Pengaruh berbagai kapasitas lapang tidak menurunkan secara nyata berat kering akar.
Kata kunci: Cekaman air, kapasitas lapang, Oryza sativa L. var. Batang Piaman.
2 PENDAHULUAN
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu jenis dari marga Oryza, yang termasuk ke dalam suku Poaceae (Gramineae). (Grubben
& Partohardjono 1996). Padi menjadi komoditas pangan utama, terutama jenis padi sawah. Kebutuhan akan tanaman pangan tersebut akan terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.
Padi sawah yang dibudidayakan di Provinsi Riau, khususnya di Balai Benih Induk (BBI) Kampar saat ini adalah padi varietas Batang Piaman.
Padi ini memiliki tekstur nasi pera yang sesuai dengan selera masyarakat Sumatera Barat, yang tidak jauh berbeda dengan selera masyarakat Provinsi Riau (Atman 2007).
Provinsi Riau memiliki lahan pertanian yang cukup luas dan sangat potensial untuk dimanfaatkan. Riau memiliki lahan sawah seluas 114.354 ha, dimana 86.218 ha merupakan lahan irigasi yang digunakan untuk penanaman padi sawah, sedangkan 899.766 ha merupakan lahan non irigasi, namun yang baru dimanfaatkan seluas 21.328 ha untuk penanaman padi ladang (BPS Provinsi Riau 2015).
Hal tersebut menunjukkan masih banyak lahan non irigasi yang belum optimal diusahakan untuk penanaman padi ladang. Mengingat lahan non irigasi masih banyak yang belum dimanfaatkan dan padi varietas Batang Piaman cukup diminati di Provinsi Riau, maka perlu adanya suatu adaptasi yang dilakukan agar padi tersebut dapat tumbuh di lahan non irigasi. Adaptasi yang dilakukan
berupa pemberian cekaman air yaitu berdasarkan kapasitas lapang.
Cekaman air merupakan faktor abiotik yang berhubungan dengan rendahnya ketersediaan air tanah (Liu et al. 2013). Hal tersebut menyebabkan laju transpirasi terjadi lebih cepat dibandingkan dengan laju pengambilan air dari tanah sehingga pertumbuhan tanaman terhambat (Nio
& Banyo 2011).
Pengaruh cekaman air terhadap pertumbuhan tanaman sangat ditentukan oleh tingkat cekaman yang dialami dan fase pertumbuhan tanaman tersebut saat mengalami cekaman air.
Penelitian mengenai cekaman air berdasarkan kapasitas lapang telah banyak dilakukan diantaranya penelitian Supriyanto (2013) pada padi gogo lokal kultivar jambu, didapatkan bahwa kapasitas lapang 60, 70 dan 80% menghasilkan tinggi tanaman lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas lapang 90 dan 100%.
Penelitian lainnya oleh Santoso (2008) pada beberapa varietas padi gogo yang mendapatkan hasil bahwa kapasitas lapang 25 dan 50% menghasilkan tinggi tanaman, jumlah anakan dan berat kering akar lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas lapang 75 dan 100%. Berdasarkan hal tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh cekaman air pada tanaman padi varietas Batang Piaman.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Januari sampai Maret 2018. Penelitian dilakukan di Balai Benih Induk Hortikultura, Jl. Kaharudin Nasution, Simpang Tiga, Bukit Raya, Kota
3 Pekanbaru, Riau. Penimbangan berat
kering dilakukan di Laboratorium Botani Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Riau.
Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah baki persemaian, polybag ukuran 30x40 cm, logbook, alat tulis, ember, gelas ukur, timbangan analitik, penggaris, meteran, oven dan kamera.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah benih padi varietas Batang Piaman dari BBI Padi Kampar, tanah mineral, pupuk kompos, pupuk kimia (urea, TSP dan KCl), kertas koran dan plastik label.
Persiapan Benih
Benih yang akan digunakan direndam dengan air selama 24 jam kemudian diperam (dimasukkan ke dalam karung) selama 24 jam (Wardana & Hariyati 2016).
Persiapan Media & Pemupukan Media terdiri dari media persemaian dan media tanam. Media persemaian berupa tanah dan pupuk kompos dengan perbandingan 1:1 (Wardana & Hariyati 2016).
Sedangkan media tanam berupa tanah mineral. Pemupukan dibagi menjadi tiga waktu pemberian yaitu pupuk dasar (saat tanam), pupuk susulan I (4 MST) dan pupuk susulan II (7 MST) (Arsyad 2011).
Penanaman
Bibit yang telah berumur 15 hari pada media persemaian kemudian dipindahkan ke dalam polybag yang telah berisi media tanam. Bibit
tanaman padi ditanam pada tiap polybag, masing-masing 1 bibit per polybag.
Pemberian Perlakuan
Perlakuan penyiraman dilakukan 2 minggu setelah tanam.
Penyiraman sebelum perlakuan dilakukan berdasarkan kapasitas lapang. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian volume air berdasarkan kapasitas lapang tanah (100, 75, 50, 25%). Penentuan kapasitas lapang dilakukan dengan menggunakan metode volumetri (Ichsan et al. 2010).
Pemeliharaan
Pemeliharaan meliputi pengendalian hama dan gulma.
Pengendalian hama dilakukan dengan cara pengamatan secara teratur dan dapat menggunakan insektisida DECIS 25 EC. Penyemprotan dilakukan 1 kali pada saat stadia tanaman padi anakan maksimum. Pengendalian gulma dilakukan secara rutin dengan cara mencabut gulma secara manual yang terdapat pada sekitar tanaman setiap minggu.
Tinggi Tanaman
Tinggi tanaman diukur pada akhir pengamatan. Pengukuran tinggi tanaman dengan cara mengukur tanaman padi dari permukaan tanah hingga ujung daun tertinggi (Wang et al. 2015).
Jumlah Anakan
Jumlah anakan dihitung pada akhir pengamatan dengan cara menghitung jumlah anakan yang
4 tumbuh disekitar batang tanaman
utama (Hatta 2012).
Berat Kering Akar
Penimbangan berat kering akar dilakukan pada akhir pengamatan dengan cara memisahkan akar tanaman dari tajuknya kemudian akar tanaman dibersihkan dari tanah yang menempel menggunakan air mengalir. Akar dibungkus dengan kertas koran dan dimasukkan ke dalam oven dengan suhu 60 0C (Sinaga 2008), kemudian ditimbang menggunakan timbangan analitik hingga beratnya konstan.
Analisis Data
Data hasil pengamatan dianalisis secara kuantitatif menggunakan Analysis Of Variance.
Apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) pada taraf 5% dengan menggunakan software Statistical Package for Social Sciences (SPSS) versi 25.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN Tinggi Tanaman
Hasil uji lanjut terhadap tinggi tanaman dapat dilihat pada Tabel 1.
Kapasitas lapang 50% tidak berbeda nyata dengan kapasitas lapang 75%
dan 100%, sementara kapasitas lapang 25% berbeda nyata dengan kapasitas lapang 100%.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Supriyanto (2013) pada tanaman padi gogo lokal kultivar jambu yang mendapatkan hasil bahwa kapasitas lapang 60, 70 dan 80%
menghasilkan tinggi tanaman lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas lapang 90% dan 100%. Penelitian
lainnya yaitu oleh Subekti (2016) pada tanaman Setaria italica L.
menunjukkan bahwa kapasitas lapang 25% menghasilkan tinggi tanaman lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas lapang 50 dan 75%. Hal ini diduga kondisi pada kapasitas lapang 50 dan 75% ternyata masih mampu mempertahankan turgor sel, seperti halnya kondisi tanah pada kapasitas lapang 100%. Sementara pada kapasitas lapang 25% menunjukkan kondisi air yang terbatas.
Tabel 1. Rerata tinggi tanaman pada berbagai perlakuan kapasitas lapang.
Kapasitas Lapang (%) Rerata Tinggi Tanaman (cm)
100 97,15b
75 92,43ab
50 95,17b
25 88,21a
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada uji DMRT taraf 5%.
Tanaman yang mendapatkan air dalam jumlah sedikit umumnya memiliki tinggi tanaman yang lebih rendah dibandingkan dengan tanaman yang mendapatkan air dalam jumlah yang cukup. Hal ini menunjukkan bahwa sel tanaman yang mendapatkan air yang cukup dapat memungkinkan sel mengalami pemanjangan dibandingkan dengan yang mendapatkan air yang terbatas.
5 Jumlah Anakan
Hasil analisis sidik ragam terhadap jumlah anakan dapat dilihat pada Tabel 2. Kapasitas lapang 25, 50 dan 75 tidak berpengaruh nyata dengan kapasitas lapang 100%.
Tabel 2. Rerata jumlah anakan (batang) pada berbagai perlakuan kapasitas lapang.
Kapasitas Lapang (%)
Rerata Jumlah Anakan (batang)
100 15,00
75 14,00
50 15,75
25 14,83
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada uji DMRT taraf 5%.
Perlakuan kapasitas lapang pada penelitian ini tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan diduga kondisi kandungan air tanah 25, 50 dan 75%
masih memungkinkan tanaman untuk membentuk anakan, sama halnya dengan kondisi kandungan air tanah pada 100%. Hasil pada penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Effendi (2008) dan Santoso (2008) pada beberapa varietas tanaman padi gogo. Kapasitas lapang 25 dan 50% menghasilkan jumlah anakan lebih sedikit dibandingkan dengan kapasitas lapang 75% dan 100%. Namun, menurut penelitian Ahadiyat (2012), varietas padi sawah yang diberi pemberian air hingga akhir pertumbuhan vegetatif menunjukkan bahwa tanaman yang memiliki
pertumbuhan tinggi yang rendah, jumlah anakannya banyak seperti varietas Cisokan, Situ Bagendit, Way Apo Buru dan Gilirang. Hal ini, menunjukan bahwa tanaman membagi fotosintat ke bagian-bagian tanaman dengan memberikan jumlah yang tinggi ke organ tertentu tapi lebih rendah ke organ lainnya.
Berat Kering Akar
Hasil analisis sidik ragam terhadap berat kering akar dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Rerata berat kering akar (g) pada berbagai perlakuan kapasitas lapang
Kapasitas Lapang (%)
Rerata Berat Kering Akar (g)
100 6,94
75 7,62
50 5,54
25 6,14
Keterangan: Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan berbeda nyata (P<0,05) pada uji DMRT taraf 5%.
Perlakuan kapasitas lapang pada penelitian ini tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering akar, namun terdapat kecenderungan terendah pada kapasitas lapang 50 dan 25% yang menghasilkan berat kering akar lebih rendah dibandingkan dengan kapasitas lapang 75 dan 100%. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Santoso (2008) pada tanaman padi gogo.
Semakin rendah kapasitas lapang yang diberikan, maka ketersediaan air tanah semakin berkurang sehingga penyerapan air oleh akar terhambat
6 dan fotosintat yang dihasilkan dari
proses fotosintesis juga berkurang sehingga berat kering akar yang dihasilkan rendah. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Gardner et al. (1991) bahwa apabila suplai air pada tanaman rendah, maka
akan terjadi penurunan laju fotosintesis. Hasil fotosintesis tersebut selain dialokasikan untuk disimpan didalam organ, sebagian fotosintat dirombak untuk mensintesis senyawa organik terlarut yang berkontribusi terhadap berat kering.
Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan yaitu penurunan kapasitas lapang menurunkan secara nyata terhadap tinggi tanaman. Namun secara morfologi, tinggi tanaman yang lebih rendah menghasilkan jumlah anakan yang lebih banyak. Sementara pengaruh berbagai kapasitas lapang tidak menurunkan secara nyata berat kering akar.
DAFTAR PUSTAKA
Ahadiyat, Y.R. 2012. Toleransi kekeringan beberapa varietas padi gogo unggul nasional terhadap ketersediaan air yang terbatas. Jurnal Agroland. 19(1):
1-9.
Arsyad D.M, dkk. 2011. Petunjuk Pelaksanaan Unit Pengelola Benih Sumber Tanaman. Bogor : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Pertanian.
Atman. 2007. Teknologi budidaya padi sawah varietas unggul baru batang piaman. Jurnal Ilmiah Tambua. VI(1): 58-64.
BPS Provinsi Riau. 2015. Riau Dalam Angka Tahun 2016. Badan Pusat Statistik Provinsi Riau Kerja Sama dengan Badan
Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Riau.
Pekanbaru. hlm 426.
Effendi, Y. 2008. Kajian resistensi beberapa varietas padi gogo (Oryza sativa L.) terhadap cekaman kekeringan [skripsi].
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Gardner, F.P, R.B. Pearce dan R.I.
Mitchell. 1991. Fisiologi tanaman budidaya. Terjemahan Herawati Susilo. Jakarta : University of Indonesia.
Grubben GJH, Partohardjono S. 1996.
Plant Resources of South-East Asia No. 10 : Cereals. Bogor : Prosea.
Hatta, M. 2012. Uji Jarak Tanam Sistem Legowo Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Beberapa Varietas Padi Pada Metode Sri. Jurnal Agribisnis Fakultas Pertanian Unsyiah.
16(2): 87-93.
Ichsan C.N, Mardhiah H, Syarifah P.M. 2010. Respon kedelai kultivar kipas putih dan wilis pada kadar air tanah yang berbeda terhadap pertumbuhan dan hasil. Jurnal Agribisnis
7 Fakultas Pertanian Unsyiah.
14(1): 25-29.
Liu X, Fan Y, Long J, Wei R, Kjelgren R, Gong C & Zhao J. 2013.
Effects of soils water and nitrogen availability on photosynthesis and water use efficiency of Robinia pseudoacacia seedlings. Journal of Environmental Sciences.
25(3): 585-595.
Nio S.A, Banyo Y. 2011. Konsentrasi klorofil daun sebagai indikator kekurangan air pada tanaman.
Jurnal Ilmiah Sains. 11(2):
166-173.
Santoso. 2008. Kajian morfologis dan fisiologis beberapa varietas padi gogo (Oryza sativa L.) terhadap cekaman kekeringan [skripsi].
Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret, Surakarta.
Sinaga, R. 2008. Keterkaitan nisbah tajuk akar dan efisiensi penggunaan air pada rumput gajah dan rumput raja akibat penurunan ketersediaan air tanah.
Jurnal Biologi Sumatera. 3(1):
29-35.
Subekti, R.W. 2016. Pengaruh Cekaman Air Terhadap Respon Fisiologis Tanaman Jewawut Aksesi Gambir Manis (Setaria italica L.) di Puslit Biologi - LIPI Cibinong Science Center.
Laporan Kerja Praktek.
Supriyanto, B. 2013. Pengaruh cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan dan hasil padi gogo lokal kultivar jambu (Oryza sativa Linn). Jurnal Agrifor.
11(1): 77-82.
Wang M, C Wu, F Yang, Z Cheng, H Meng. 2015. Growth, chlorophyll content and combined output value in eggplant/garlic relay intercropping systems. Pak. J.
Bot. 47(5): 1727-1734.
Wardana.R, Hariyati.I. 2016.
Optimalisasi jumlah anakan produktif padi dengan pengairan macak-macak serta penambahan pupuk P dan K. Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Dana BOPTN, ISBN : 978-602-14917-3-7.