TERAPI SYAR’I DI KOTA KISARAN
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis
Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Disusun Oleh :
YULI AFNIDA MANURUNG 170907002
PROGRAM STUDI ILMU ADMINISTRASI BISNIS FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
i ABSTRAK
ANALISIS STRATEGI KEUNGGULAN BERSAING (COMPETITIVE ADVANTAGE) SALON KECANTIKAN DALAM MENINGKATKAN
MINAT KONSUMEN TERHADAP JASA RUMAH TERAPI SYAR’I DI KOTA KISARAN
Nama : Yuli Afnida Manurung
Nim : 170907002
Program Studi : Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas : Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dosen Pembimbing : Feby Aulia Safrin, S.AB, MA
Semakin banyaknya permintaan pelanggan terhadap jasa salon kecantikan, membuat perawatan kecantikan menjadi salah satu kebutuhan wanita dizaman sekarang. Salon kecantikan juga di dukung dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan penampilan dan keinginan yang secara tidak langsung membawa kemajuan dalam dunia kecantikan. Semakin berjalannya waktu dan berkembangnya permintaan masyarakat terhadap jasa salon kecantikan, maka semakin ketat pula persaingan di bidang industri salon kecantikan. Hal ini mengharuskan setiap usaha salon kecantikan dapat menghadapi strategi bersaing dan memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan dengan salon kecantikan lainnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis strategi keunggulan bersaing salon kecantikan dalam meningkatkan minat konsumen terhadap jasa Rumah Terapi Syar’i di Kota Kisaran. Penelitian ini dilakukan untuk melihat dan mengetahui bagaimana strategi keunggulan bersaing yang dilakukan Rumah Terapi Syar’i agar dapat mempertahankan eksistensi usaha bisnisnya dalam meningkatkan minat konsumen di Kota Kisaran.
Penelitian ini menggunakan tiga informan penelitian yaitu informan kunci, informan utama ,dan informan utama yang dijadikan narasumber yang dianggap mampu memberikan informasi seputar objek peneltian. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan dengan wawancara, observasi, dan dokumentasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi keunggulan bersaing yang dilakukan sudah baik, namun perlu adanya perbaikan mengenai promosi yang dilakukan untuk lebih menyeluruh dan berinovasi agar masyarakat dengan mudah mendapatkan informasi yang di berikan. Diperoleh hasil penelitian bahwa strategi keunggulan bersaing yang dilakukan sudah dapat diterapkan dengan baik.
Kata Kunci : Strategi Keunggulan Bersaing, Salon Kecantikan, Minat Konsumen, Jasa
ii ABSTRACT
ANALYSIS OF BEAUTY SALON’S COMPETITIVE ADVANTAGE STRATEGY IN INCREASING CONSUMER INTEREST IN SYAR’I
THERAPY HOME SERVICES AT KISARAN
Name : Yuli Afnida Manurung Student ID Number : 170907002
Program Of Study : Bussiness Administration Faculty : Social and Political Sciences Supervisor : Feby Aulia Safrin, S.AB, MA
The increasing number of customer requests for beauty salon services, making beauty care one of the needs of women today. Beauty salons are also supported by the increasing public need for appearance and desires which indirectly bring progress in the world of beauty. The more time goes by and the growing public demand for beauty salon services, the competition in the beauty salon industry is getting tougher. This requires that every beauty salon business can face competitive strategies and have its own advantages compared to other beauty salons.
This study aims to identify and analyze the competitive advantage strategy of beauty salons in increasing consumer interest in Syar'i Therapy House services in Kisaran City. This research was conducted to see and find out how the competitive advantage strategy is carried out by Syar'i Therapy House in order to maintain the existence of its business business in increasing consumer interest in Kisaran City.
The research method used is descriptive qualitative. Data were collected by This study uses three research informants, namely key informants, key informants, and key informants who are used as resource persons who are considered capable of providing information about the object of research. The research method used is descriptive qualitative. Data were collected by interview, observation, and documentation.
The results show that the competitive advantage strategy that has been implemented is good, but there needs to be improvements regarding promotions that are carried out to be more comprehensive and innovate so that people can easily get the information provided. The results of the research show that the competitive advantage strategy that has been implemented can be implemented properly.
Keywords: Competitive Advantage Strategy, Beauty Salon, Consumer Interest, Service
iii
KATA PENGANTAR
Puji syukur Alhamdulilah penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala nikmat kebaikan dan limpahan rahmat karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini. Penulisan skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara. Adapun judul skripsi ini adalah “Strategi Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) Salon Kecantikan dalam meningkatkan minat konsumen terhadap jasa Rumah Terapi Syar’i Di Kota Kisaran”.
Skripsi ini dipersembahkan untuk orang-orang yang selalu mendukung, dan mendoakan penulis terkhusus kedua orang tua yang telah membesarkan penulis dengan segala kebaikan, kepada adik-adik penulis yang memberikan dukungan, dan kepada seluruh keluarga penulis yang telah memberikan dukungan moral dan materil kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
Keberhasilan penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud dan terselesaikan dengan baik tanpa ada ridho dari Allah SWT, juga bimbingan dan dukungan dari berbagai pihak. Dengan segala kerendahan dan ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata sempurna, karena berbagai kendala dan keterbatasan kemampuan yang dimiliki. Maka dari itu penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Drs. Hendra Harahap, M.Si, PhD Selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
iv
2. Bapak Prof. Marlon Sihombing, M.A, Selaku Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Feby Aulia Safrin S.AB, MA Selaku Dosen Pembimbing yang telah membimbing dan memberi dukungan penulis dalam penyusunan Skripsi ini hingga selesai.
4. Bapak Nicholas Marpaung S.AB, M.Si Selaku Dosen Penguji yang memberikan masukan dan juga dukungan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Siswati Saragi, S.Sos, MSP dan Bapak Ahmad Farid, S.H selaku Staf Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
6. Seluruh Staf Pengajar atau Dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu yang sangat bermanfaat bagi penulis.
7. Kedua orangtua penulis, Ayah dan Mama yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada penulis hingga akhir penyusunan skripsi ini.
8. Kepada Objek Penelitian yaitu Rumah Terapi Syar’i Kisaran yang telah mengizinkan dan membantu banyak dalam proses pengerjaan skripsi penulis terutama Ibu Lina selaku pemilik salon, Ibu Riza, Ibu Rivia dan karyawan beserta konsumen lainnya.
9. Teman-teman penulis yang spesial dan disayangi CilukBAA, Dina
v
Harniati yang selalu setia mendengarkan curahan hati dan memberikan nasehat kepada penulis sehingga menambah semangat penulis untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik, Sri Ufa Indira yang telah memberikan semangat dan dukungan kepada penulis, Erliani Aulia yang juga memberikan semangat dan dukungan kepada penulis, Putri Indah yang juga memberikan dukungan dan semangat. Terima kasih telah banyak membantu penulis selama masa perkuliahan dan memberikan dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Teman-teman terdekat penulis yang juga menjadi tempat curhat dan memberi dukungan selama menyelesaikan skripsi ini, Anggi Lisnadianti yang selalu menjadi tempat curhat penulis, berbagi suka dan duka selama perkuliahan dan penyusunan skripsi, Suci Ramadhani teman sekos penulis yang menyemangati dan memberikan doa untuk kemudahan penyusunan skripsi ini, Ummi Hasanah yang juga telah memberikan semangat dan doanya. Kepada senior yang banyak membantu penulis dalam berbagai kendala Bang Dio Ahmad Fuadi dan Kak Yola Laila Ulfa
11. Teman-teman seperdopingan yang telah berjuang bersama, Maya, Bang Togar, Rusmana, teman-teman UKMI-As Siyasah, Pema Fisip Usu 2020, dan teman-teman sekelas yang membantu penulis dalam segala hal.
vi DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR ... x
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 10
1.3 Batasan Masalah ... 10
1.4 Tujuan Penelitian ... 10
1.5 Manfaat Penelitian ... 10
BAB II TUNJAUAN PUSTAKA ... 12
2.1 State Of The Art ... 12
2.2 Strategi ... 19
2.3 Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) ... 20
2.3.1 Indikator Strategi Keunggulan Bersaing ... 21
2.3.2 Faktor-faktor Keunggulan Bersaing ... 22
2.3.3 Tujuan Strategi Keunggulan Bersaing ... 22
2.3.4 Sumber Keunggulan Bersaing ... 23
2.3.5 Komponen-komponen Keunggulan Bersaing ... 24
2.3.6 Dimensi Keunggulan Bersaing ... 26
2.3.7 Langkah Strategis Keunggulan Bersaing ... 27
2.4 Salon Kecantikan ... 28
2.4.1 Perbedaan Salon Biasa dengan Salon Muslimah ... 30
2.5 Minat Beli ... 31
2.5.1 Indikator Minat Beli ... 32
vii
2.5.2 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli ... 33
2.6 Jasa... 34
2.6.1 Klasifikasi Jasa ... 34
2.6.2 Karakteristik Jasa ... 36
2.6.3 Kualitas Jasa ... 37
2.7 Pemasaran (Marketing)... 38
2.7.1 Komponen Utama Dalam Pemasaran ... 39
2.7.2 Strategi Pemasaran ... 40
2.8 Business Model Canvas ... 41
2.9 Penelitian Terdahulu ... 57
2.10 Kerangka Pemikiran ... 60
BAB III METODE PENELITIAN ... 61
3.1 Bentuk Penelitian ... 61
3.2 Lokasi danWaktu Penelitian ... 61
3.3 Subjek dan Objek Penelitian ... 61
3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 62
3.4.1 Teknik Wawancara ... 62
3.4.2 Teknik Dokumentasi ... 62
3.5 Jenis dan Sumber Data ... 62
3.6 Informan Penelitian ... 63
3.7 Definisi Konsep ... 64
3.8 Teknik Analisis Data... 66
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 68
4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 68
4.1.1 Profil Perusahaan ... 68
4.1.2 Visi dan Misi Perusahaan ... 69
4.1.3 Logo Perusahaan ... 70
4.1.4 Struktur Organisasi ... 71
4.2 Penyajian Data ... 72
4.2.1 Karakteristik Informan Penelitian ... 72
viii
4.2.2 Analisis Indikator Strategi Keunggulan Bersaing ... 75
4.2.2.1 Harga Bersaing ... 75
4.2.2.2 Eksplorasi Peluang ... 76
4.2.2.3 Pertahanan Ancaman Bersaing ... 76
4.2.2.4 Fleksibilitas ... 77
4.2.2.5 Hubungan Pelanggan ... 77
4.2.3 Analisis Sumber Keunggulan Bersaing ... 78
4.2.3.1 Kepemimpinan Biaya ... 78
4.2.3.2 Diferensiasi ... 78
4.2.3.3 Fokus ... 79
4.2.4 Analisis Komponen Keunggulan Bersaing ... 79
4.2.4.1 Superior Efficiency ... 79
4.2.4.2 Superior Quality ... 80
4.2.4.3 Superior Innovation ... 80
4.2.4.4 Superior Customer Responsiveness ... 81
4.2.5 Analisis Indikator Minat Konsumen ... 81
4.3 Pembahasan ... 83
4.3.1 Pelayanan Jasa Rumah Terapi Syar’i ... 83
4.3.2 Analisis Strategi Keunggulan Bersaing RTS ... 85
4.3.3 Perbandingan Kompetitor ... 91
4.3.4 Analisis Business Model Canvas ... 93
BAB V PENUTUP ... 96
5.1 Kesimpulan ... 96
5.2 Saran ... 97 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Jumlah Salon Kecantikan ... 5
Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian Sebelumnya (State of the Art) ... 16
Tabel 4.1 Identitas Informan Kunci ... 72
Tabel 4.2 Identitas Informan Utama ... 73
Tabel 4.3 Identitas Informan Utama ... 73
Tabel 4.4 Identitas Informan Tambahan ... 73
Tabel 4.5 Identitas Informan Tambahan ... 74
Tabel 4.6 Identitas Informan Tambahan ... ...74
x
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Blok Bangunan Business Model Canvas ... 42
Gambar 2.2 Kerangka Berfikir ... 60
Gambar 4.1 Logo Salon Kecantikan Rumah Terapi Syar’i ... 70
Gambar 4.2 Struktur Organisasi Salon Kecantikan Rumah Terapi Syar’i... 71
Gambar 4.3 Business Model Canvas ... 93
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perkembangan dunia bisnis saat ini melaju dengan begitu pesat, hal tersebut dapat dilihat dari semakin banyaknya pertumbuhan sektor dunia usaha yang berdampak pada sektor kehidupan. Dengan bertumbuhnya sektor dunia usaha maka dapat mempengaruhi perkembangan perekonomian nasional maupun global.
Perkembangan perekonomian global ditandai dengan berbagai gejolak, baik di bidang ekonomi maupun non-ekonomi yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi laju perekonomian dunia. Berdasarkan laporan East Asia and Pacific Economic Update yang dirilis Bank Dunia, Rabu 4 Oktober 2017 dalam website resmi The World Bank ulasan komprehensif dunia menyebutkan, meningkatnya prospek pertumbuhan ekonomi global diyakini akan mendorong permintaan komoditas. Hal ini tentu akan memberikan dampak pada perekonomian nasional. Maka dari itu, dengan adanya perkembangan perekonomian global, perusahaan-perusahaan baik yang bergerak di bidang manufaktur maupun jasa harus lebih kompetitif dalam mengembangkan usahanya.
Perkembangan dunia bisnis saat ini juga sudah mengalami peningkatan yang sangat tajam yang terbukti dari semakin banyaknya pebisnis-pebisnis baru yang memasuki pasar dengan bemacam-macam strategi yang digunakan. Kondisi semacam ini menuntut para pengusaha lama untuk dapat bertahan agar bisnisnya tetap berjalan tanpa harus kehilangan kesempatan untuk tetap melakukan pengembangan bisnisnya. (Sulthoni, 2010). Dalam dunia bisnis, tentunya akan
muncul persaingan yang tidak dapat dihindari. Dengan adanya persaingan, maka perusahaan- perusahaan atau pelaku bisnis dihadapkan oleh berbagai peluang dan ancaman baik dari luar maupun dalam negeri. Berbagai perubahan yang terjadi dalam dunia bisnis menuntut organisasi untuk membuka diri terhadap tuntutan perubahan dan berupaya menyusun strategi dan kebijakan yang mampu menjawab ketidakpastian lingkungan bisnis. Pada dasarnya seluruh aktivitas yang dilaksanakan oleh perusahaan bertujuan untuk mencapai sasaran tertentu, seperti memaksimalkan laba (profit), kelangsungan hidup perusahaan (survival), serta pertumbuhan perusahaan (growth). (Amelia, 2012).
Maka dari itu, strategi adalah hal yang penting dan utama untuk diterapkan dalam membantu dan mendorong kegiatan aktivitas bisnis. Strategi merupakan upaya yang dilakukan dalam memilih dan menganalisa target pasar yang ingin dicapai. Jadi, setiap perusahaan harus menganalisis kekuatan dan kelemahannya.
Menurut Chandler dalam (Mudrajad Kuncoro, 2008) strategi adalah penentuan tujuan dan sasaran jangka panjang perusahaan, diterapkannya aksi dan alokasi sumber daya yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Menurut Porter (2008) Strategi bersaing adalah kombinasi antara tujuan yang diperjuangkan oleh perusahaan dengan kebijaksanaan atau alat dimana perusahaan berusaha sampai kesana. Strategi bersaing bertujuan menegakkan posisi yang menguntungkan dan dapat dipertahankan terhadap kekuatan-kekuatan yang menentukan persaingan industri untuk menciptakan keunggulan bersaing.
Ada tiga strategi generik Porter untuk mencapai kinerja di atas rata-rata dalam suatu industri, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus. Strategi fokus mempunyai dua varian , fokus biaya dan fokus diferensiasi.
Kondisi persaingan ini terjadi pada persaingan bisnis perawatan kecantikan yang saat ini sangat digemari oleh banyak wanita. Kecantikan dan kesehatan kian menjadi penting bagi banyak manusia terutama kaum wanita. Dan lebih dari itu, kecantikan telah menjadi sebuah komoditas bisnis yang sangat menjanjikan, dimulai dari usaha salon kecantikan, gerai spa, sampai perawatan kulit. Salah satu contoh perusahaan yang bergerak dibidang jasa yang mulai berkembang dan banyak diminati di Indonesia yaitu usaha salon kecantikan. Seperti yang kita ketahui, dahulu salon kecantikan bukanlah menjadi kebutuhan utama bagi kaum wanita. Sejak jaman dulu wanita Indonesia hanya memanfaatkan kekayaan alam jika ingin merawat kecantikan dirinya. Saat ini wanita sudah menganggap kecantikan bukan hanya sekedar kebutuhan sekunder melainkan kebutuhan primer. Yang artinya salon kecantikan sudah menjadi kebutuhan dan pilihan utama bagi kaum wanita yangmerawat dan mempercantik diri.
Salon juga disebut adalah sebuah fasilitas umum yang menyediakan kebutuhan penunjang, khususnya bagi para wanita. Adanya kehadiran sebuah salon banyak dipengaruhi oleh adanya faktor gaya hidup dan trend mode yang berlaku pada masyarakat setiap tahunnya. Tuntutan peran dan pekerjaan, hingga padatnya aktivitas yang harus terpenuhi membuat seseorang harus memaksimalkan tenaga hingga mendapatkan hasil yang memuaskan. Tenaga dan pikiran yang sudah tercurahkan, diperlukan pengembalian kondisi tubuh menjadi lebih bugar dan fresh dengan menyeimbangkan dan merelaksasikan pikiran dan tubuh. Pada awal tahun 2000-an merupakan tahun pertama tumbuhnya kebutuhan perawatan untuk para wanita muslimah.
Meningkatnya jumlah wanita Indonesia yang mengenakan kerudung/jilbab selanjutnya diikuti kebutuhan perawatan tubuh berbasis syariah. Salon muslimah bermunculan di berbagai wilayah yang padat komunitas muslim. Bentuk salon muslimah bervariasi, mulai dari salon muslimah yang sangat sederhana menempati ruangan rumah di dalam gang sampai yang mewah berupa gedung bertingkat. Dalam menjalani bisnis salon muslimah, para wanita perlu mendalami beberapa hal yang berkaitan dengan syariah Islam. Bisnis salon muslimah yang ideal adalah mengatur kegiatan perawatan kecantikan apa saja yang boleh dilakukan secara kaidah Islam, sehingga ketika melakukan treatment kepada konsumen mereka para muslimah akan kenyamanan dan keamanan.
Salon muslimah pada umumnya sama saja dengan salon lainnya yaitu, sebuah tempat usaha yang bergerak di bidang jasa kecantikan yang berhubungan dengan perawatan kecantikan dan kosmetik. Di mana salon kecantikan sebagai tempat untuk memperindah dan mempercantik tubuh dengan menyediakan perawatan berbagai macam bentuk perawatan hanya saja yang membedakan salon muslimah atau salon syariah dengan salon pada umumnya adalah sebuah aturan- aturan yang sudah ditetapkan dalam agama Islam. Dari segi tempat pegawai dan pelanggan yang memang khusus wanita. Istilah syariah artinya perundang- undangan yang diturunkan oleh Allah melalui Rasulullah saw untuk seluruh umat manusia baik yang menyangkut masalah ibadah, akhlak, makanan, minuman, pakaian maupun muamalah. Terbentuknya bisnis salon muslimah adalah keterbatasan tempat untuk wanita berhijab yang ingin sekedar merawat rambut ataupun memanjakan dirinya di salon. Kebanyakan salon saat ini bercampur
antara laki-laki dan perempuan. Salon muslimah menyediakan berbagai pelayanan berkualitas khusus wanita.
Kondisi ini juga dimanfaatkan oleh produsen kosmetik untuk mendukung pertumbuhan usahanya. Jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, menjadikan Indonesia pasar yang menjanjikan bagi perusahaan kosmetik (Kemenperin, 2013).
Maka dari itu, hingga saat ini jumlah salon kecantikan di Indonesia sudah dapat dikatakan banyak dan meningkat dikarenakan respon pengusaha bisnis untuk antusias pelanggan yang menyukai perawatan didalam salon kecantikan.
Tabel 1.1
Jumlah Salon Kecantikan
Jumlah di Indonesia Jumlah di Medan Jumlah di Asahan
5357 364 112
Sumber : Yellow Pages Indonesia, 2019
Dari data tabel diatas, dapat dilihat jumlah usaha salon kecantikan yang tersebar di Indonesia bahkan diberbagai daerah kota besar hingga mengerucut ke bawah sudah berkembang. Hal ini membuktikan ramai nya antusias pelanggan terutama wanita yang ingin merawat dirinya ke salon kecantikan untuk melakukan berbagai perawatan. Kemudian, hal ini juga yang mendorong para pelaku usaha bisnis terutama pengusaha dibidang kecantikan untuk membuka dan mengembangkan usaha salonnya. Trend ini juga kembali popular belakangan ini dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan lingkungan.
Oleh karena itu, pasar industri kecantikan Indonesia menjadi pasar ketiga terbesar di Asia. Menurut Euromonitor International, negara-negara berkembang, termasuk Indonesia memiliki kontribusi 51% bagi industri kecantikan global.
Bahkan menurut Kementerian Perindustrian, Indonesia diestimasikan akan
menjadi pasar pertumbuhan utama di industri kecantikan pada 2019 mendatang (Safiera, 2016). Peluang besar menanti para pelaku industri kecantikan untuk berjaya di dunia internasional. Populasi penduduk Indonesia yang merupakan terbesar keempat di dunia, dianggap sebagai peluang besar di dunia kecantikan (Syadri, 2017). Menurut data Menteri Perindustrian, nilai ekspor produk kecantikan Indonesia di tahun 2015 mencapai USD 818 juta atau setara Rp 11 triliun. Sementara nilai impor pada tahun yang sama mencapai USD 441 juta, artinya terjadi surplus sekitar 85%. Industri kecantikan juga merupakan salah satu sektor industri dengan pertumbuhan tercepat di Indonesia dan secara konsisten mencatat pertumbuhan dua digit dalam beberapa tahun terakhir.
Selain itu, industri kecantikan dinobatkan sebagai industri prioritas dan strategis oleh pemerintah karena mempekerjakan tidak kurang dari 75.000 tenaga kerja langsung dan 600.000 untuk tenaga kerja tidak langsung. Dikutip dari sebuah portal berita online majalahkartini.co.id, dalam 10 tahun terakhir, industri kecantikan dan perawatan pribadi di Indonesia bertumbuh rata-rata 12% dengan nilai pasar mencapai sebesar 33 triliun Rupiah di tahun 2016. Bahkan di tahun 2020, industri kecantikan di Indonesia diprediksi akan mengalami peningkatan paling besar dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.
Pertumbuhan industri kecantikan ini dapat mendorong terjadinya persaingan yang ketat antar pelaku usaha salon kecantikan.
Salon kecantikan juga di dukung dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat akan penampilan dan keinginan yang secara tidak langsung membawa kemajuan dalam dunia kecantikan. Dengan hadirnya salon kecantikan ditengah masyarakat hal ini memudahkan kaum wanita untuk dapat meningkatkan
penampilannya. Usaha salon kecantikan ini juga diminati, karena hampir semua wanita pergi ke salon menyukai kegiatan yang berhubungan untuk mempercantik maupun merawat dirinya. Dapat dilihat saat ini ketergantungan wanita dengan salon kecantikan sangatlah tinggi karena hal ini dapat ditunjukkan dengan bertambahnya jumlah salon kecantikan dan selalu dibanjiri oleh pelanggan.
Mengingat pangsa pasar yang cukup besar khususnya bagi perempuan dimana seiring perkembangan jaman, tren dan model gaya rambut yang terus berubah ditambah kebutuhan akan kecantikan diri sangat penting bagi perempuan.
Dengan berkembangnya jasa layanan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, disatu sisi tentunya membawa keuntungan bagi konsumen karena akan lebih banyak alternative pilihan tempat bagi mereka yang ingin melakukan perawatan kesehatan dan kecantikan kulit, akan tetapi disisi lain akan menimbulkan ancaman bagi pengelola klinik-klinik kecantikan itu sendiri, karena harus menghadapi persaingan yang sangat ketat dalam memperebutkan jumlah pelanggan/konsumen yang ada. ( Hendri Sukotjo dan Sumanto Radix A: )
Bisnis klinik kecantikan telah menjadi bisnis yang menggiurkan. Hal ini didukung oleh masyarakat saat ini sangat memperhatikan penampilan mereka, sehingga banyak sekali pengguna dari jasa perawatan kecantikan ini.Tidak heran bila kemudian dalam beberapa tahun terakhir bisnis salon kecantikan tumbuh menjamur di hampir setiap pelosok kota.Trend industri kecantikan berkembang pesat di dunia termasuk di Indonesia. Negara Indonesia secara umum diakui sebagai salah satu wilayah yang mengalami pertumbuhan paling cepat secara global untuk kategori pasar “cosmetic and Toiletries”. Saat ini Indonesia merupakan salah satu penyumbang kekuatan perekonomian di Asia. Industri
kecantikan di Indonesia sangatlah luas dan menjanjikan dengan pertumbuhan pangsa pasar yang juga menjanjikan di tahun 2009. Hal ini mendorong bagi perusahaan kecantikan, menjadikan Indonesia sebagai salah satu prioritas dalam pengembangan pasar baru. (Majalah Marketing 05/X/Mei/2010 dalam Jurnal UPI:2)
Industri perawatan kecantikan pada tahun 2010-2011 mengalami pertumbuhan sebesar 7%. Bisnis perawatan kecantikan ini terus mengalami kemajuan, hal itu dapat dilhat dari banyaknya masyarakat yang mempercayakan masalah perawatan kecantikannya pada para ahli kecantikan. (Majalah Marketing 05/X/Mei/2010 dalam Jurnal UPI:2)
Jumlah usaha kecantikan di Indonesia sudah mencapai ratusan ribu. Jenis usaha ini makin beragam, dari salon kecantikan, perawatan kulit sampai dengan SPA. Pasar perawatan kulit, salon kecantikan dan SPA diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang signifikan. Industri kecantikan di Indonesia sudah berkembang dari tahun ke tahun dan menunjukkan pertumbuhan yang lebih stabil.
Pertumbuhan pasar produk Skin Care :10%-17%/ tahun, pertumbuhan pasar produk SPA :15%-25% / tahun. (Spire Research and Consulting Market Analiys dalam Majalah Marketing 05/X/Mei/2010 dalam Jurnal UPI:3)
Bisnis klinik kecantikan merupakan dualism industry, artinya ada peraturan pemerintah yang mengijinkan pendirian klinik kecantikan namun di sisi lain banyak ditemukan kerugian-kerugian akibat adanya bisnis klinik kecantikan ini, terutama dari sisi produk yang di pasarkannya. Karena, salah satu kegiatan dari klinik kecantikan adalah menjual berbagai jenis produk kecantikan yang biasanya dibuat sendiri oleh dokter/tenaga ahli dan bukan merupakan produk yang sudah
terkenal mereknya, sehingga menimbulkan keraguan dari konsumen. Produk kecantikan atau kosmetika sejak dulu telah membantu wanita tampil lebih menarik.Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi,
Kenyataan diatas membuktikan bahwa usaha di bidang perawatan kecantikan sangat menjanjikan. Salah satu persaingan terjadi di Kota Kisaran, sekarang sudah banyak tempat-tempat perawatan kecantikan yang bermunculan yang mulai merambah di Kota Kisaran. Banyaknya tempat-tempat perawatan kecantikan tentu saja akan turut meramaikan persaingan yang ada. Oleh karenanya, perusahaan dituntut untuk mampu menentukan strategi yang tepat untuk memenangkan keunggulan bersaing.
Rumah Terapi Syar’i merupakan salah satu dari beberapa perusahaan yang bergerak dibidang jasa perawatan kecantikan di Kota Kisaran yang bisa dikatakan mampu bertahan ditengah kerasnya persaingan. Saat ini Rumah Terapi Syar’i sudah membuka cabang yang berada di beberapa Kecamatan dengan sistem Franchise. Namun dibalik kesuksesan tersebut, tidak terlepas dari ancaman pesaing- pesaingnya. Dengan demikian Rumah Terapi Syar’i harus mampu mengembangkan strategi yang tepat untuk terus bertahan dan tetap unggul dari pesaing-pesaingnya.
Perusahaan yang berhasil menjaga eksistensinya adalah perusahaan yang memiliki keunggulan dari perusahaan lain yang sejenis. Keunggulan bersaing yang berkesinambungan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk menciptakan suatu produk yang pada saat pesaing berusaha untuk menirunya akan selalu mengalami kegagalan secara signifikan. Dengan penjelasan yang telah diuraikan, peneliti tertarik untuk membahas masalah ini sebagai objek penelitian skripsi
dengan judul “Strategi Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) Salon Kecantikan dalam Meningkatkan Minat Konsumen terhadap Jasa Salon Rumah Terapi Syar’i di Kota Kisaran”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : “Bagaimana Analisis Strategi Bersaing (Competitive Advantage) Salon Kecantikan dalam Meningkatkan Minat Konsumen terhadap Jasa Salon Rumah Terapi Syar’i di Kota Kisaran?”.
1.3 Batasan Masalah
Penelitian ini terbatas kepada analisis strategi pemasaran jasa yaitu Strategi Bersaing (Competitive Advantage) Salon Kecantikan dalam Meningkatkan Minat Konsumen terhadap Jasa Salon Rumah Terapi Syar’i di Kota Kisaran.
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan dari peneltian ini adalah untuk menganalisa bagaimana Strategi Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) Salon Kecantikan dalam Meningkatkan Minat Konsumen terhadap Jasa Salon Rumah Terapi Syar’i di Kota Kisaran.
1.5 Manfaat Penelitian
Setiap penelitian dilakukan guna memperoleh manfaat yang berguna bagi seluruh pihak-pihak yang bersangkutan. Manfaat yang diharapkan oleh penulis dalam melakukan penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1.5.1 Bagi Program Studi
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk melatih, menerapkan, meningkatkan dan menambah wawasan dan ilmu pengetahuan serta lebih mengerti dan memahami teori-teori pembelajaran yang didapat selama proses perkuliahan. Penulis juga ingin menambah pengetahuan dibidang strategi keunggulan bersaing
1.5.2 Bagi Salon Kecantikan Rumah Terapi Syar’i
Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan atau masukan dalam merancang strategi pemasaran jasa kedepannya.
1.5.3 Bagi Penulis
Penelitian ini dapat menjadi bahan belajar bagi penulis terkait strategi pemasaran jasa dan persaingan.
12 BAB II
KERANGKA TEORI
2.1 State Of The Art
Penelitian sebelumnya berfungsi untuk menjadi pedoman dan memperkaya pembahasan dalam penelitian, juga membedakannya dengan penelitian yang sedang dilakukan. Dalam penelitian ini disertakan lima jurnal penelitian sebelumnya yang berhubungan dengan strategi keunggulan bersaing. Penelitian- penelitian terdahulu yang digunakan sebagai bahan referensi dalam penelitian ini antara lain :
1. Penelitian dengan judul “Analisis strategi keunggulan bersaing (competitive advantage) sektor usaha kecil menengah di kota Gorontalo (studi industri meubel di kota Gorontalo)” yang diteliti oleh Idris Yanto Niode pada tahun 2012 di Gorontalo. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor yang akan mempengaruhi eksternal dan lingkungan internal UKM untuk mempertahankan keunggulan kompetitifnya, untuk mengetahui dan menganalisis upaya apa yang dilakukan oleh UKM dan pemerintah dalam rangka mempertahankan dan mendukung daya saing keunggulan UKM di Gorontalo. Hasil penelitian menunjukkan, untuk mencapai keunggulan kompetitif antar pesaing, UKM harus menggunakan Strategi “agresif” yaitu dengan menurunkan biaya, menciptakan produk baru, peningkatan kualitas, perluasan pasar. Selain itu strategi lain berdasarkan matriks SWOT yang dapat digunakan untuk mencapai daya saing keuntungan adalah membuat rencana bisnis agar
mendapatkan lebih memiliki banyak modal, kemudian untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas produk asuransi tenaga kerja (keselamatan kerja) peningkatan kualitas layanan, dan intensitas promosi.
2. Penelitian dengan judul “Analisis strategi keunggulan bersaing pada perusahaan biro perjalanan di Malang” yang diteliti oleh Melissa Carmia Elias pada tahun 2018 di Malang. Penelitian ini dilakukan untuk menyusun strategi bersaing pada perusahaan biro perjalanan di Malang. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Data primer diperoleh dari hasil wawancara dengan para narasumber penelitian, kemudian data diuji keabsahannya dengan menggunakan metode triangulasi. Hasil analisis Porter Diamona menunjukkan bahwa perusahaan dapat menekankan biaya dan memberikan tarif yang murah dengan produk atau jasa yang sama.
Aktivitas operasional perusahaan tidak terkendala dalam mencari sumber daya manusia. Selain itu pertumbuhan tempat wisata di Indonesia semakin meningkat, dimana hal ini akan berdampak positif bagi perusahaan. Berdasarkan hasil analisis Porter Generic Strategy, maka dapat ditetapkan strategi keunggulan bersaing pada perusahaan yaitu Cost Leadership Strategy.
3. Penelitian dengan judul “Strategi Pemasaran Di Nurayya Salon Dan Spa Muslimah Surabaya” yang diteliti oleh Siti Hafdara Maghfiroh dan Dr. Mutimmatul Faidah, S.Ag., M.g tahun 2020, di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran fokus pada empat
komponen yaitu: segmentasi pasar dengan pemilihan salon khusus muslimah. Target pasar yang dipilih yaitu muslimah kalangan menengah atas. Posisi pasar di tengah kota, pusat keramaian, pusat kegiatan islami, pusat pemerintahan, area kampus dan perumahan mewah. Bauran pemasaran dengan menyesuaikan produk yang ditawarkan, harga, tempat dan promosi. Strategi promosi secara offline marketing dan digital marketing. Digital marketing merupakan strategi unggulan yang dapat menarik konsumen untuk memilih jasa salon muslimah pada Nurayya Salon dan Spa Muslimah Surabaya.
4. Penelitian dengan judul “Competitive advantage : the courage in formulating objectives and expansiveness of a strategy “ yang diteliti oleh Letycja Soloducho-Pelc pada tahun 2014 di Polandia. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara keunggulan kompetitif dan keberanian ketika merumuskan tujuan. Mengingat tujuan tersebut di atas, telah dianalisis asumsi mengenai sumber dan evaluasi keunggulan kompetitif perusahaan dalam kaitannya dengan keberanian dalam merumuskan tujuan utama. Secara khusus, analisis tersebut menyangkut masalah yang berkaitan dengan evaluasi keunggulan kompetitif terhadap latar belakang pesaing, sumber utama keunggulan kompetitif, dan hubungan antara pilihan keunggulan kompetitif dan keberanian dalam merumuskan tujuan utama, yang memanifestasikan dirinya dalam tingkat ekspansif strategi.
5. Penelitian dengan judul “Influence of competitive advantage on formulation business strategy “ yang diteliti oleh Monika Švárová dan Jaroslav Vrchota pada tahun 2014 di Czech Republic, Eropa. Dalam lingkungan saat ini, dengan meningkatnya saling ketergantungan antara pasar dan meningkatnya persaingan, lebih sulit untuk mempertahankan posisi pasar perusahaan saat ini. Semakin penting untuk memilih strategi perusahaan dengan benar, karena seperti yang disebutkan oleh Kotler: “jika perusahaan memiliki strategi yang sama dengan pesaing, sebenarnya tidak memiliki strategi. Untuk alasan ini, penting bagi perusahaan untuk mendasarkan strategi ini pada posisi pasar mereka sendiri dan membangun keunggulan kompetitif yang khas.” Tujuan dari makalah ini adalah untuk menganalisis hubungan antara keunggulan kompetitif dan strategi dan untuk menentukan di bidang bisnis apa perusahaan memiliki strategi yang paling terhubung dengan keunggulan kompetitif mereka sendiri.
Tabel 2.1 Perbandingan Penelitian Sebelumnya (State of the Art) No. Judul Jurnal dan
Peneliti
Tahun dan Tempat Penelitian
Metode Penelitian
Subjek Penelitian
Perbandingan yang dijadikan
alasan tinjuan penelitian 1. Analisis strategi
keunggulan bersaing (competitive advantage) sektor usaha kecil
menengah di Kota Gorontalo (studi industri meubel di Kota Gorontalo
Peneliti : Idris Yanto Niode
2017, Surabaya
Kualitatif Manajer pemasaran, Pegawai, Owner, dan pelanggan
Hasil penelitian menunjukkan, untuk mencapai keunggulan kompetitif antar pesaing, UKM harus
menggunakan Strategi “agresif”
yaitu dengan menurunkan biaya, menciptakan produk baru, peningkatan kualitas,
perluasan pasar.
2. Analisis strategi keunggulan bersaing pada perusahaan biro perjalanan di Malang Peniliti :
Melissa Carmia Elias
2018, Malang
Kualitatif Kepala Bidang pemasaran, Pegawai, dan Beberapa Konsumen pengguna.
Berdasarkan hasil analisis Porter Generic Strategy, maka dapat ditetapkan strategi keunggulan bersaing pada perusahaan yaitu Cost Leadership Strategy.
3. Strategi Pemasaran di Nurayya Salon dan Spa Muslimah Surabaya
Peneliti - Siti Hafdara
Maghfiroh - Dr. Mutimmatul
Faidah, S.Ag., M.g 2020, Surabaya
Kualitatif Manajer pemasaran, Pegawai, Owner, dan pelanggan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pemasaran fokus pada empat komponen yaitu:
segmentasi pasar dengan pemilihan salon khusus muslimah, target pasar yang dipilih yaitu muslimah kalangan menengah atas, posisi pasar di tengah kota, pusat keramaian, pusat kegiatan islami, pusat
pemerintahan, area kampus dan perumahan mewah, dan bauran pemasaran dengan
menyesuaikan produk yang ditawarkan, harga, tempat dan promosi.
Sumber : Diolah oleh penulis (2021) 4. Competitive
advantage : the courage in formulating objectives and expansiveness of a strategy
Peniliti : Letycja Soloducho-Pelc
2014, Polandia
Kualitatif Manajer pemasaran, Pegawai, Owner, dan pelanggan
Hasil penelitian menyangkut masalah yang berkaitan dengan evaluasi
keunggulan kompetitif terhadap latar belakang pesaing, sumber utama keunggulan kompetitif, dan hubungan antara pilihan
keunggulan kompetitif dan keberanian dalam merumuskan tujuan utama, yang
memanifestasikan dirinya dalam tingkat ekspansif strategi.
5. Influence of competitive advantage on formulation business strategy Peneliti : Monika Švárová dan Jaroslav Vrchota
2014, Czech Republic, Eropa
Kualitatif Manajer pemasaran, Pegawai, Owner, dan pelanggan
Hasil penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara keunggulan kompetitif dan strategi dan untuk menentukan di bidang bisnis apa perusahaan memiliki strategi yang paling terhubung dengan keunggulan kompetitif mereka sendiri
2.2 Strategi
Menurut Amirullah (2015), strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan keungggulan strategi perusahaan dengan tantangan lingkungan dan yang dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh perushaan. Strategi dipahami bukan hanya sebagai berbagai cara untuk mencapai tujuan melainkan mencakup pula penentuan berbagai tujuan itu sendiri. Menurut Johnson and Scholes (2016), strategi adalah arah dan ruang lingkup sebuah organisasi dalam jangka panjang yang mencapai keuntungan bagi organisasi melalui konfigurasi sumber daya dalam lingkungan yang menantang, untuk memenuhi kebutuhan pasar dan memenuhi harapan pemangku kepentingan.
Menurut Siagian (2016) juga menyatakan strategi adalah serangkaian keputusan dan tindakan mendasar yang dibuat oleh manajemen puncak dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran suatu organisasi dalam rangka pencapaian tujuan organisasi tersebut. Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa strategi merupakan hal yang penting dilakukan untuk mencapai suatu tujuan terutama dalam dunia bisnis. Untuk mencapai sebuah tujuan bisnis, tentunya memerlukan berbagai strategi seperti bagaimana cara menghadapi persaingan yang terjadi dalam dunia bisnis, bagaimana melihat peluang yang akan dicapai dan bagaimana mengelola hal-hal yang berkaitan dengan peluang serta ancaman yang terjadi.
Maka dari itu perlu adanya rancangan dan penetapan strategi yang tepat dalam menanganinya. Setelah dilakukannya strategi yang tepat maka suatu usaha bisnis tidak akan bingung dan memiliki arah tujuan yang tepat.
2.3 Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage)
Menurut Muhammad Bukhori Dalimunthe (2017) keunggulan bersaing adalah kemampuan usaha menciptakan keunggulan kompetitif agar dapat bersaing dengan kompetitor. Adapun indikator keunggulan bersaing dikembangkan dari beberapa ahli, yaitu harga bersaing, kemampuan manajemen, keuntungan, posisi dan tempat strategis. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Delta dan Paulus (2017), Strategi Porter yang menjelaskan bahwa keunggulan bersaing (competitive advantage) adalah jantung kinerja bisnis untuk menghadapi persaingan. Keunggulan bersaing diartikan sebagai strategi benefit dari perusahaan yang melakukan kerjasama untuk menciptakan keunggulan bersaing yang lebih efektif dalam pasarnya. Sedangkan menurut Barney dalam Djodjobo dan Tawas (2014) keunggulan bersaing adalah perusahaan mengalami keunggulan bersaing ketika tindakan-tindakan dalam suatu industri atau pasar menciptakan nilai ekonomi dan ketika beberapa perusahaan yang bersaing terlibat dalam tindakan serupa.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan keunggulan bersaing merupakan strategi atau kemampuan sebuah perusahaan dalam menciptakan kelebihan atau sesuatu yang bernilai lebih dibandingkan pesaing lainnya sehingga membuat konsumen merasa puas dan perusahaan akan unggul dalam bersaing. Agar dapat unggul dalam bersaing, perusahaan juga harus mampu mengendalikan sumber daya yang dimiliki dengan sebaik mungkin, mampu dalam mengelola dan menerapkan strategi bisnis yang tepat agar mencapai tujuan yang diinginkan. Dalam dunia bisnis tentunya akan menemukan pasar persaingan baik itu peluang maupun ancaman. Hal tersebut
menuntut agar setiap usaha bisnis memiliki keunggulan yang berbeda dari kompetitor lain.
2.3.1 Indikator Strategi Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) Keunggulan bersaing diartikan sebagai strategi benefit dari perusahaan yang melakukan kerjasama untuk menciptakan keunggulan bersaing yang lebih efektif dalam pasarnya. Menurut Hajar dan Sukaatmadja (2016) terdapat 5 indikator, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Harga bersaing, adalah harga jual eceran yang rendah, baik sedikit atau banyak, dibandingkan harga jual eceran dari rata-rata pesaing.
2. Eksplorasi peluang, adalah mengindentifikasi peluang dengan cara-cara yang baru untuk mengembangkan sumber daya yang ada.
3. Pertahanan ancaman bersaing, adalah kemampuan perusahaan untuk bertahan dari ancaman bersaing untuk keberlangsungan hidup dan pertumbuhan perusahaan.
4. Fleksibilitas, adalah sebuah konsep untuk segera menanggapi perubahan lingkungan.
5. Hubungan pelanggan, adalah hubungan untuk mengetahui kebutuhan pelanggan lebih baik dari pesaing dengan harapan pelanggan loyal.
2.3.2 Faktor-faktor Keunggulan Bersaing
Menurut Gilang Prasidyjati (2014) ada tiga faktor yang dibutuhkan untuk menciptakan suatu keunggulan bersaing yang dapat di pertahankan, yaitu:
1. Dasar Persaingan (Basic of competition), yaitu strategi harus didasarkan pada seperangkat asset, skill, dan kemampuan. Ketiga hal tersebut akan mendukung strategi yang sedang dijalankan sehingga turut mempertahankan keunggulan.
2. Di pasar mana perusahaan bersaing (where you compete). Penting bagi perusahaan untuk memilih pasar sasaran yang sesuai dengan strategi yang dijalankan, sehingga asset, skill dan kemampuan dapat mendukung strategi dalam memberikan sesuatu yang bernilai bagi pasar.
3. Dengan siapa perusahaan bersaing (who you compete against).
Perusahaan juga harus mampun mengidentifikasi pesaingnya, apakah pesaing tersebut lemah, sedang atau kuat.
2.3.3 Tujuan Strategi Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage)
Tujuan dari strategi keunggulan bersaing (Kotler dan Amstrong, 2012) adalah:
1. Membentuk posisi yang tepat
2. Mempertahankan loyalitas pelanggan 3. Mendapatkan pangsa pasar baru 4. Memaksimalkan penjualan
5. Menciptakan kinerja bisnis yang efektif
2.3.4 Sumber Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage)
Menurut Porter dalam Ismail Solihin (2012) keunggulan bersaing perusahaan bersumber dari tiga hal, yaitu sebegai berikut:
1. Cost Leadership (Kepemimpinan biaya). Dalam Strategi ini perusahaan berusaha untuk mencapai biaya paling rendah dibandingkan perusahaan lain dalam satu industri. Keunggulan biaya perusahaan dapat berasal dari berbagai sumber seperti keunggulan skala ekonomi (economies of scale), penerapan teknologi produksi yang tepat, memiliki akses terhadap bahan baku yang lebih menguntungkan di banding pesaing, dll. Perusahaan akan memperoleh manfaat yang sangat besar dengan adanya keunggulan biaya. Pertama, biaya yang rendah dapat menjadi hambatan masuk (entry barrier) bagi pesaing potensial yang ingin memasuki industri yang sama.
2. Differentiation (Diferensiasi). Dalam strategi ini, perusahaan berusaha untuk mmemiliki keunikan pada dimensi tertentu dari produk yang dihasilkan, dimana keunikan tersebut dianggap bernilai bagi konsumen.
Perusahaan akan memilih beberapa atribut yang di anggap oleh pembeli sebagai atribut yang penting dan perusahaan berupaya untuk menempatkan posisinya secara unik agar dapat meenuhi kebutuhan para pembeli tersebut.
3. Focus (fokus). Dalam strategi ini, perusahaan akan memilih satu atau beberapa kelompok segmen dalam suatu industri kemudian mereka akan mengembangkan strtegi yang sesuai untuk segmen tersebut yang tida bisa dilayani dengan baik oleh pesaing lain yang memiliki cakupan
pasar yang lebih luas. Melalui optimalisasi strage ini, perusahaan akan memperoleh keunggulan kompetitif pada segmen pasar tertentu meskipun mereka tidak memiliki keunggulan kompetitif dalam industri secara keseluruh
2.3.5 Komponen-komponen Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage) Adapun komponen-komponen dalam competitive advantage menurut Hill dan Jones dalam Amirullah (2015) adalah : Superior Efficiency, Superior Quality, Superior Innovation, Superior Customer Responsiveness. Komponen-komponen dari competitive advantage dapat dijelaskan bahwa:
1. Superior Efficiency. Suatu perusahaan dikatakan sumakin efisien jika perusahaan tersebut memerlukan input yang semakin sedikit untuk menghasilkan output yang ditentukan, sehingga struktur biayanya semakin rendah.
2. Superior Quality. Produk yang berkualitas adalah barang dan jasa yang reliable dalam arti bahwa barang dan jasa tersebut dapat melaksanakan fungsi yang telah didesain. Keunggulan kualitas memberikan dua keuntungan: Pertama, konsumen akan memberikan nilai yang lebih tinggi terhadap produk tersebut, yang selanjutnya peningkatan nilai ini akan memungkinkan perusahaan membebani harga yang lebih tinggi untuk produk tersebut; kedua, dapat menimbulkan keunggulan kompetitif yang berasal dari efisiensi yang lebih besar dan biaya persatuan yang lebih rendah.
3. Superior Innovation. Dalam beberapa hal, inovasi merupakan blok bangunan paling penting dari keunggulan kompetitif. Inovasi adalah
kemampuan perusahaan untuk memperkenalkan produk baru dan proses produksi untuk mengkapitalisasi peluang besar. Perusahaan melakukan inovasi dengan dua acara mendasar yaitu dengan meniru atau mengembangkan inovasi mereka sendiri. Keberhasilan inovasi produk atau proses memberikan sesuatu yang unik kepada perusahaan yang sebelumnya tidak dimiliki. Keunikan perusahaan mungkin bisa memperoleh harga premi atau memiliki struktur biaya yang lebih rendah dari pada pesaing-pesaingnya, namun demikian pesaing akan mencoba untuk meniru inovasi yang telah berhasil dilakukan perusahaan dan seringkali pesaing berhasil melakukannya walaupun kendala imitasi dapat memperlambat kecepatan ini.
4. Superior Customer Responsiveness. Untuk mencapai responsifitas pelanggan suatu perusahaan harus dapat memberikan apa yang diinginkan pelanggan ketika mereka membutuhkannya. Perusahaan yang semakin responsive terhadap kebutuhan pelanggannya, semakin besar loyalitas terhadap merk yang dapat dicapai perusahaan sebaliknya, loyalitas merk yang kuat memungkinkan perusahaan membebankan harga premi untuk produknya atau menjual lebih banyak produk kepada pelanggannya.
2.3.6 Dimensi Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage)
Menurut Danang Sunyoto (2015), terdapat lima dimensi yang dapat digunakan untuk menentukan Competitive Advantage yaitu sebagai berikut:
Harga, Kualitas, Pengiriman yang dapat diandalkan, Inovasi, Time to market.
Berikut ini dalah penjelasan dari kelima dimensi diatas, yaitu sebagai berikut.
1. Harga, yang dibebankan pada pelanggan merupakan atribut yang paling memengaruhi keunggulan bersaing.
2. Kualitas, dapat digunakan sebagai alat strategis untuk mencapai keunggulan bersaing dan merupakan elemen penting dalam penentuan nilai bagi pelanggan.
3. Pengiriman, yang dapat diandalkan adalah kemampuan perusahaan untuk mengirimkan produk/jasa tepat waktu, dalam tipe dan volume yang sesuai dengan keinginan pelanggan.
4. Inovasi, merupakan konsep lebih luas yang meliputi penerapan dari ide, produk, atau proses yang baru. Luasnya lini produk yang dimiliki sebuah perusahaan memengaruhi nilai dan pangsa pasar yang dapat diperoleh. Semakin tepat sebuah produk/jasa dapat memenuhi kebutuhan pelanggan, maka semakin besar nilai yang akan diberikan oleh pelanggan untuk produk/jasa tersebut. Dengan bertambah luasnya lini produk, maka akan semakin banyak pelanggan yang dapat menemukan produk/jasa yang memenuhi kebutuhan mereka.
5. Time to market merupakan dimensi yang penting dari keunggulan bersaing. Time to market adalah sejauh mana sebuah perusahaan mampu untuk meluncurkan produk baru lebih cepat dari pesaingnya.
2.3.7 Langkah Strategis Keunggulan Bersaing (Competitive Advantage)
Menurut Danang Sunyoto (2015), untuk memenangkan suatu persaingan diperlukan langkah strategis sebagai berikut.
1. Selalu berada di depan para pesaing baik dalam promosi, pembentukan citra maupun pemberian informasi.
2. Lebih unggul dari apa yang dimiliki pesaing, seperti: kualitas, kesesuaian produk, daya tahan, harga, sistem pembayaran, pelayanan, pemeliharaan, penawaran produk purna jual, delivery order, discount harga, garansi produk dan kemasan
3. Kerjasama pelayanan dengan produk atau usaha yang sama dengan perusahaan lain, seperti membeli tiket pesawat, tidak pernah terlambat atau tepat waktu, dan refund jika terjadi pembatalan pembelian mendadak.
4. Mempunyai keunggulan baru, seperti unggul dalam ukuran produk, rasa, distribusi produk, posisi pasar, dan teknologi yang digunakan, dan lain sebagainya.
5. Memiliki keunggulan mutlak, yaitu suatu keunggulan yang harus diciptakan dimana pihak pesaing akan kalah bersaing dengan adanya keunggulan tersebut, misalnya bidang sumber daya manusia, kepemimpinan, organisasi, strategi bisnis, teknologi, kualitas, inovasi, promosi, modal, sistem jaringan, komunikasi, dan lain-lain.
6. Memiliki strategi dan kebijakan strategis yang tepat, misalnya strategi biaya rendah, pembedaan produk, stabilitas, bertahan hidup, ekspansi produk atau pabrik, kualitas, harga, pelayanan, dan sebagainya.
2.4 Salon Kecantikan
Anastasia (2009) menyatakan bahwa Salon adalah usaha dibidang jasa yang tujuannya untuk memperbaiki dan mempercantik penampilan fisik, dari 3 berbagai jenis perawatan yang ditawarkan seperti (1)Perawatan kecantikan rambut antara lain:creambath, pemangkasan, pengeritingan rambut, penataan rambut, dan (2) Perawatan kecantikan kulit antara lain: perawatan badan diantaranya yaitu facial, manicure pedicure, rias wajah dan depilasi. Menurut peraturan Kementrian Kesehatan RI (2011) dalam peraturan Dirjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan anak Nomor. HK 01.01/B1.4/4051/2011 menyatakan bahwa: Usaha salon kecantikan adalah fasilitas pelayanan untuk memperbaiki penampilan melalui tata rias dan pemeliharaan kecantikan kulit dan rambut dengan menggunakan kosmetika secara manual, pemeliharaan kesehatan khusus kulit dan rambut tanpa bantuan media (preparatif) dan pelayanan kecantikan dengan kosmetika riasan (dekoratif) yang dilakukan oleh ahli kecantikan sesuai dengan kompetensi yang dimiliki.
Macam-macam salon yang ada didalam masyarakat, yaitu salon kecantikan disesuaikan dengan jenis pelayanan, salon kecantikan rambut dan salon kecantikan kombinasi kulit dan rambut. Berdasarkan pengetahuan, keterampilan dan sarana salon, salon kecantikan dibedakan menjadi 4 tipe yakni:
1. Salon kecantikan tipe A ( usaha menengah keatas dengan ditambah perawatan khusus), kegiatan pelayanan meliputi pemotongan, pencucian, pengeringan dan penataan rambut, pengeritingan, pengecatan, perawatan kulit kepala dan rambut (creambath), perawatan rambut dengan kelainan ringan (ketombe, kerontokan, kebotakan),
merawat kulit wajah bermasalah (komedo, jerawat, flek), tangan, kaki, merias wajah sehari-hari, panggung, khusus dan massage (pijit) untuk kecantikan, siatsu/akupuntur, aroma terapi, SPA, reflekzone, perawatan dengan alat litrik, perawatan dan rias pengantin, perawatan ibu hamil dan sesudah melahirkan.
2. Salon kecantikan tipe B (usaha menengah), kegiatan pelayanan meliputi pencucian, pemotongan, pengeringan, dan penataan rambut, pengeritingan, pengecatan, perawatan rambut dan kulit kepala (creambath), perawatan rambut dengan kelainan ringan (ketombe, kerontokan, kebotakan), merawat kulit wajah bermasalah (komedo, jerawat, flek), tangan, kaki, merias wajah sehari-hari, panggung, khusus dan massage (pijit) untuk kecantikan.
3. Salon kecantikan tipe B (usaha kecil menengah), kegiatan pelayanan meliputi pencucian, pemotongan, pengeringan, dan penataan rambut, pengeritingan, pengecatan, perawatan rambut dan kulit kepala (creambath), perawatan rambut dengan kelainan ringan (ketombe, kerontokan, kebotakan), merawat kulit wajah bermasalah (komedo, jerawat, flek), tangan, kaki, merias wajah sehari-hari, menghilangkan bulu yang tidak dikehendaki.
4. Salon kecantikan tipe B (usaha kecil-kecilan) kegiatan pelayanan meliputi pencucian, pemotongan, pengeringan, dan penataan rambut, pengeritingan, pengecatan, perawatan rambut dan kulit kepala (creambath), merawat kulit wajah tidak bermasalah tangan, kaki, merias wajah sehari-hari (Marwiyah, 2009)
2.4.1 Perbedaan Salon Biasa dengan Salon Muslimah
Berikut ini terdapat beberapa perbedaan yang mendasar antara salon biasa dan salon muslimah, yaitu :
a. Salon wanita yang biasa
1. Wanita dengan berbagai kekayinan agama muslim/nonmuslim dapat melakukan perawatan di salon tersebut
2. Semua bentuk perawatan sesuai tren mode yang berlaku saat ini 3. Suasana dan pelayanan nonIslami
4.Wanita muslim, nonmuslim, tidak berkerudung b. Salon Muslimah
1. Hanya wanita yang beragama Islam saja, yang bisa melakukan perawatan di tempat ini karena menurut hukum Islam membuka aurat di hadapan wanita nonmuslim sama dengan membuka aurat di depan laki- laki.
2. Berpatokan pada al Quran dan hadits, tidak boleh mencabut alis, tidak boleh tato alis, tidak boleh menyambung rambut, tidak boleh menggunting rambut menyerupai model rambut laki-laki, tidak boleh melakukan tindakan perawatan menggunakan yang merugikan klien, misalnya penggunaan bahan kimia untuk rambut, ternyata menimbulkan banyak sekali kerugian, seperti rambut patah-patah, merah, kering, rontok, dan cenderung tidak tumbuh lagi, mengecat rambut menggunakan henna,
warna henna yang digunakan selain hitam adalah cokelat, chesnut, mahogany, burgundy, kuning, red supreme.
3. Merias wajah secara soft/lembut yang tidak menonjolkan kecantikan diri dan tidak berlebihan. Intinya perawatan yang dilakukan lebih
“mensyukuri nikmat Allah”.
4. Menjalankan adab Islami dalam bermuamalah, seperti: mengingatkan klien untuk sholat tepat waktu, melayani klien dengan ramah tamah dan sopan santun tidak membedakan klien dari segi materi, kedudukan atau apapun dan siapapun yang dilayani dengan hati, menyuguhkan ceramah Islami, nashid atau murrottal lewat speaker salon sebagai bagian dari syiar Islam, mengadakan pengajian satu kali setiap minggu bagi karyawan salon atau klien yang ingin bergabung, wanita muslim, berkerudung, taat, berakhlak baik, bisa membaca al Quran, mau melaksanakan syariat Islam dengan mengikuti pengajian di salon
2.5 Minat Beli
Menurut Assael Sukmawati dan Suyono yang dikutip dalam Pramono (2015) minat beli adalah tahan yang dilakukan oleh konsumen sebelum merencanakan untuk membeli suatu produk. Menurut Fandy Tjiptono (2015) menyatakan bahwa minat beli konsumen mencerminkan hasrat dan keinginan konsumen untuk membeli suatu produk. Sedangkan pengertian lain menurut Kotler dan Keller (2016) minat beli adalah seberapa besar kemungkinan konsumen membeli suatu merek dan jasa atau seberapa besar kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya. Bila manfaat yang lebih besar dibandingkan pengorbanan untuk mendapatkannya maka dorongan
untuk membeli semakin tinggi.
2.5.1 Indikator Minat Beli
Terdapat empat model hierarki respon konsumen yaitu: model AIDA, model hierarki pengaruh, model inovasi adopsi, dan model komunikasi. Dari semua model tersebut mengasumsikan bawa pembelian melewati tahap kognitif, afektif, dan tahap perilaku. Menurut Philip Kotler yang dialihbahasakan oleh Benyamin Molan (2014) menjelaskan bahwa indikator minat beli adalah melalui model stimuli AIDA, yaitu:
1. Perhatian (Attention).
Minat beli seseorang diawali dengan tahap perhatian terhadap suatu produk setelah mendengar atau melihat produk yang dipromosikan oleh perusahaan. Jika produk dapat menarik perhatian lebih bagi konsumen maka kemungkinan besar konsumen membeli cukup tinggi.
2. Minat (Interest)
Setelah mendapatkan informasi mengenai produk yang dipromosikan oleh perusahaan, maka timbut minat konsumen terhadap produk tersebut. Jika konsumen terkesan dengan stimuli yang diberikan oleh perusahaan maka pada tahap ini akan timbul rasa ketertarikan terhadap produk yang ditawarkan.
3. Keinginan (Desire)
Setelah konsumen mendalami tentang kelebihan produk, maka pada tahap ini konsumen akan memiliki keinginan dan hasrat untuk membeli produk tersebut.
4. Tindakan (Action)
Pada tahap ini, konsumen sudah melewati beberapa tahap yaitu mulai dari melihat dan mendengar suatu produk yang dipromosikan, sehingga timbul perhatian, ketertatikan dan minat terhadap produk. Jika adanya keinginan dan hasrat yang kuat, maka akan mengambil keputusan untuk membeli produk tersebut.
2.5.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Beli
Faktor-faktor yang membentuk minat beli konsumen menurut Kotler, Bowen, dan Makens (dalam Wibisaputra, 2011) yaitu:
a. Sikap orang lain, sejauh mana sikap orang lain mengurangi alternatif yang disukai seseorang akan bergantung pada dua hal, yaitu intensitas sifat negatif yang orang lain terhadap alternatof yang disukai konsumen dan motivasi konsumen untuk menuruti keinginan orang lain.
b. Situasi yang tidak terantisipasi, faktor ini nantinya akan dapat mengubah pendirian konsumen dalam melakukan pembelian. Hal tersebut tergantung dari pemikiran konsumen sendiri, apakah konsumen percaya diri dalam memutuskan akan membeli suatu barang atau tidak.
Kotler dan Keller (2016) mengemukakan bahwa perilaku membeli dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu :
1. Budaya (culture, sub culture, dan social classes)
2. Sosial (kelompok acuan, keluarga, serta peran dan status)
3. Pribadi (usia dan tahapan daur hidup, pekerjaan dan keadaan ekonomi, kepribadian dan konsep diri, serta gaya hidup dan nilai)
4. Psikologis (motivasi, persepsi, pembelajaran, emotions, memory).
2.6 Jasa
Definisi jasa menurut Kotler dan Keller (2016) adalah “jasa adalah setiap tindakan atau unjuk kerja yang ditawarkan oleh salah satu pihak kepada pihak lain yang secara prinsip intangible dan tidak menyebabkan perpindahan apapun”.
Sedangkan menurut Kotler dalam Lupiyoadi (2014) “Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan perpindahan kepemilikan apapun. Produksi jasa mungkin berkaitan dengan produk fisik atau tidak.” Dari beberapa pendapat berikut, dapat artikan bahwa jasa merupakan proses kegiatan yang diberikan kepada konsumen yang tidak berwujud tetapi dapat dirasakan secara langsung dan pada waktu yang bersamaan. Dan memiliki nilai bagi konsumen karena dapat memenuhi kebutuhannya.
2.6.1 Klasifikasi Jasa
Pada hakikatnya klasifikasi jasa terdapat berbagai macam tingkatan kombinasi antara barang fisik dan jasa tangible. Penawaran jasa dibedakan menjadi lima kategori menurut Fandy Tjiptono (2015) yaitu sebagai berikut :
1. Segmen Pasar
Dapat dibedakan menjadi : jasa yang ditunjukkan pada konsumen akhir (misalnya : taksi, asuransi jiwa, katering, jasa tabungan dan pendidikan) dan jasa bagi konsumen organisasional (misalnya: biro periklanan, jasa akuntansi dan perpajakan, dan jasa konsultasi manajemen). Perbedaan utama antara kedua segmen bersangkutan terletak pada alasan dan kriteria spesifik dalam memilih jasa dan penyedia jasa, kuantitas jasa yang dibutuhkan, dan kompleksitas pengerjaan jasa yang diperlukan.
2. Tingkat Keberwujudan (Tangibility). Ada 3 (tiga) macam jasa berdasarkan kriteria ini, yaitu :
a. Rented Goods Services, yakni konsumen menyewa dan menggunakan produk-produk tertentu berdasarkan tarif tertentu selama jangka waktu tertentu pula. Konsumen hanya dapat menggunakan produk tersebut, karena kepemilikannya tetap berada pada pihak perusahaan yang menyewakannya, misalnya penyewaan mobil, kaset vidio, villa dan apartemen.
b. Owned Goods Services, produk yang dimiliki oleh konsumen direparasi, dikembangkan atau ditingkatkan untuk kerjanya, atau dipelihara oleh perusahaan jasa.
c. Non Goods Services, karakteristik khusus pada jenis ini adalah jasa personal bersifat intangible (tidak berbentuk produk fisik) ditawarkan kepada para pelanggan.
3. Keterampilan Penyedia Jasa
Berdasarkan klasifikasi ini jasa dibagi menjadi dua tipe pokok jasa yaitu: professional services (seperti konsultan manajemen, konsultan hukum dan konsultan pajak) sertanon profesional services (seperti sopir taksi).
4. Tujuan organisasi jasa.
Berdasarkan klasifikasi ini jasa dibagi menjadi dua yaitu commersial service atau profit services (seperti bank dan penerbangan) sertanon
profesional services (seperti sekola, yayasan, pantiasuhan dan museum).
5. Regulasi.
Dalam klasifikasi ini, jasa dibedakan menjadi regulated services (seperti pialang, angkutan umum, dan perbankan) dan non-regulated services (seperti katering dan pengecatan rumah).
6. Tingkat intensitas karyawan. Berdasarkan tingkatan ini, klasifikasi jasa dibedakan menjadi dua macam yaitu: equipment based services (seperti cuci mobil otomatis, jasa sambungan telepon interlokal dan internasional, internet banking dan ATM) serta people based services (seperti satpam, konsultan manajemen dan dokter anak).
7. Tingkat Kontak Penyedia Jasa dan Pelanggan
Pada klasifikasi ini jasa dibedakan menjadi : high contact services (seperti bank, dokter) dan low contac services (misalnya jasa PLN, jasa telekomunikasi, dan jasa layanan pos).
2.6.2 Karakteristik Jasa
Karakteristik jasa merupakan sifat dari jasa yang ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak yang lain yang berfungsi untuk membedakan produk barang.
Menurut Kotler dan Armstrong (2016), terdapat empat point karakteristik jasa, yaitu :
1. Tidak Berwujud (Intangibility). Jasa bersifat abstrak dan tidak berwujud, jasa tidak dapat dilihat, diraba, didengar, atau dicium sebelum jasa tersebut telah diterima.
2. Bervariasi (Variability). Jasa bersifat non standart dan sangat variable.
Berbeda dengan kualitas produk fisik yang sudah terstandart, pada kualitas pelayanan jasa tergantung pada yang menyediakan, kapan, dimana dan bagaimana jasa tersebut diberikan karena itulah jasa disebut bervariasi.
3. Tidak dapat dipisahkan (Insenparability). Umumnya jasa diproduksi dan dikonsumsi pada waktu yang bersamaan dengan partisipasi konsumen di dalamnya.
4. Tidak dapat disimpan (Pershability). Jasa tidak mungkin disimpan dalam bentuk persediaan. Nilai jasa hanya ada pada saat jasa diproduksi dan langsung diterima oleh penerimanya. Karakteristik ini berbeda dengan barang berwujud yang dapat diproduksi terlebih dahulu, disimpan, dan digunakan lain waktu.
2.6.3 Kualitas Jasa
Definisi dari kualitas jasa yaitu menurut Lupiyoadi (2014) kualitas produk (jasa) adalah sejauh mana produk (jasa) memenuhi spesifikasi-spesifikasinya.
Menurut ISO9000 dalam Lupiyoadi (2014) “Kualitas adalah “degree to which a set of inherent characteristics fulfils requirements” (derajat yang dicapai oleh karakteristik yang inheren dalam memenuhi persyaratan). Persyaratan dalam hal ini adalah: “need or expectation that is stated, generally implied or abligatory”
(yaitu, kebutuhan atau harapan yang dinyatakan, biasanya tersirat atau wajib).
Jadi, kualitas sebagaimana yang diinterpretasikan ISO9000 merupakan perpaduan antara sifat dan karakteristik yang menentukan sejauh mana keluaran dapat memenuhi persyaratan kebutuhan pelanggan.