• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN TEORI"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

7 BAB II TINJAUAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Kosmetik

Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 mengatur tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika menyebutkan bahwa kosmetik adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh manusia seperti epidermis, rambut, kuku, bibir, membran mukosa mulut, gigi dan organ genital bagian luar terutama untuk membersihkan, mewangikan, mengubah penampilan, memperbaiki atau melindungi bau badan dan memelihara tubuh pada kondisi baik.

Penggolongan kosmetik berdasarkan kegunaannya bagi kulit dibagi menjadi dua yaitu kosmetik untuk perawatan kulit dan kosmetik riasan atau dekoratif (Tranggono dan Latifah, 2014).

a. Kosmetik untuk perawatan kulit

Kosmetik ini memiliki manfaat untuk merawat kebersihan dan menjaga kesehatan kulit, yang terdiri dari:

1) Kosmetik sebagai pemebersih kulit, misalnya sabun, cleansing cream, penyegar kulit dan cleansing milk.

2) Kosmetik sebagai pelembab kulit, misalnya mozturizer cream, night cream, anti wrincel cream.

3) Kosmetik sebagai pelindung kulit, misalnya sunscreen cream, sunscreen foundation, sunblock cream atau lotion.

(2)

4) Kulit (peeling) , misalnya scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai pengamplas.

b. Kosmetik riasan atau dekoratif

Kosmetik jenis ini diperlukan untuk menutup kekurangan pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang menarik serta menambah efek percaya diri. Dalam kosmetik riasan, zat pewarna dan zat pewangi sangat berperan besar dalam kosmetik dekoratif.

Kosmetik dekoratif terdiri dari:

1) Kosmetik dekoratif yang pemakaiannya sebentar dan menimbulkan efek pada permukaan misalnya bedak, lipstik, blush on, dan lain-lain.

2) Kosmetik dekoratif yang pemakaiannya biasanya bertahan lama menimbulkan efek mendalam dan misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut, penggeriting rambut, dan lain-lain

PerMenkes RI Nomor 220/Men.KesPer/IX/76 mengatur tentang Produksi dan Peredaran Kosmetika dan Alat Kesehatan. Mengenai syarat-syarat umum produksi dan peredaran kosmetik atau alat kesehatan harus mendapatkan ijin dari Menteri. Kosmetika dan alat kesehatan yang di produksi dan diedarkan harus memenuhi syarat keselamatan dan kesehatan, standar mutu atau persyaratan yang ditetapkan Menteri.

Kosmetika dan alat kesehatan sebelum diedarkan harus didaftarkan pada DepKes RI.

(3)

Kosmetik pada saat diproduksi dan dieredarkan harus memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Produsen sebelum menjual produk kepada konsumen harus menyerahkan laporan hasil pengujian keamanan baik praklinis dan klinis serta cara pakai produk tersebut kepada pemerintah. Produk yang dianggap berbahaya oleh pemerintah dilarang untuk diedarkan (Tranggono dan Ratna, 2014).

2. Lipstik

Lipstik adalah sediaan kosmetik yang terbuat dari parafin, pigmen atau pewarna dan minyak. Lipstik sebagai pewarna bibir menjadi

kebutuhan bagi wanita pada masa kini. Sebagian wanita merasa kurang percaya diri tanpa menggunakan pewarna bibir di depan umum.

Kebutuhan lipstik yang terus menerus meningkat baik dalam negeri maupun merek global yang terus mengikuti kebutuhan konsumen.

Lipstik sekarang ini dikemas dengan kemasan yang menarik dan pilihan warnanya yang semakin banyak (Wartaka, 2016). Lipstik dibagi menjadi beberapa jenis yaitu sebagai berikut (Chenny, 2010):

(4)

a. Stick

Lipstik jenis ini tidak mengkilap, sedikit lembab dan mudah diaplikasikan ke bibir.

Gambar 2.1 Lipstik Jenis Stick (Chenny, 2010)

b. Pallet

Lipstik jenis ini berbentuk krim padat atau balm. Dalam satu wadah terdapat beberapa jenis warna.

Gambar 2.2 Lipstik Jenis Pallet (Chenny, 2010)

c. Pen Lip Polish

Lipstik jenis ini berbentuk cair, kemasannnya seperti pena, ujungnya dilengkapi dengan kuas sehingga praktis dan dapat memberikan efek mengkilap pada bibir.

Gambar 2.3 Lipstik Jenis Pen Lip Polish (Chenny, 2010)

(5)

d. Liquid

Lipstik jenis ini berbentuk cair, mengkilap, bagian ujung dilengkapi dengan kuas yang berguna untuk memudahkan saat pengolesan.

Gambar 2.4 Lipstik Jenis Liquid (Chenny, 2010)

e. Pasta

Lipstik jenis ini berbentuk semacam gel, dikemas dalam bentuk tube dan dapat membuat bibir mengkilap.

Gambar 2.5 Lipstik Jenis Pasta (Chenny, 2010)

f. Lip cream

Gambar 2.6 Lip cream (Dokumentasi Pribadi)

Sediaan kosmetika pewarna bibir yang berbentuk cair hingga semi padat yang dapat melembabkan bibir dalam waktu

(6)

yang lama dari pada bentuk padat, lebih berkilau dan menghasilkan warna yang lebih homogen (Asyifaa dkk., 2017).

Pemilihan bahan dalam pembuatan lip cream perlu meninjau keamanan dan keyamanan saat pemakaian karena kulit bibir tidak memiliki folikel rambut dan kenjar keringat sehingga termasuk kulit yang sensitif (Kadu dkk., 2014).

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan lip cream meliputi minyak, antioksidan, zat warna, emolient, texturizer, dan thickener (Asyifaa dkk., 2017). Syarat lip cream yang baik yaitu dapat melapisi bibir dan menempel dengan baik tetapi tidak lengket di kulit bibir, tahan di bibir dalam jangka waktu yang lama, tidak menimbulkan iritasi atau alergi pada kulit bibir, dapat melembabkan kulit bibir, memberikan warna yang merata dan menarik pada bibir (Tranggono dan Latifah, 2014).

3. Pewarna

Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 mengatur tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika, menyebutkan bahwa bahan pewarna adalah bahan atau campuran bahan yang digunakan untuk memperbaiki warna pada kosmetik. Bahan pewarna secara umum digolongkan menjadi dua kategori yaitu:

a. Pewarna alami

Bahan warna alam adalah zat warna yang secara alami berasal dari akar, daun, bunga, dan buah. Zat warna alam dapat dikelompokan

(7)

sebagai warna hijau, kuning, merah. Bahan pewarna alami berasal dari tanaman atau buah-buahan seperti bunga rosella, buah manggis, daun jati, biji kesumba dan lain-lain (Afriyeni dkk., 2016).

b. Pewarna sintesis

Pewarna sintesis adalah bahan kimia yang dengan sengaja ditambahkan untuk memberikan warna tambahan yang diinginkan karena warna semula hilang (Susanti, 2016). Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 mengatur tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika, dimana untuk zat warna terlampir dalam peraturan tersebut yaitu:

Tabel 2.1 Zat Warna Sintetik Yang Diizinkan

No Nama No Indeks Warna

1. Pigment Red 51 15580

2. FD&C Red No. 4 14700

3. Acid Red No. 14 14720

Tabel 2.2 Zat Warna Sintetik Yang Dilarang

No Nama No Cas

1. Colouring agent C.I.15585 (Merah K3) 2092-56-0 2. Colouring agent C.I.12075 dan pigmen dan garamnya 3468-63-1 3. Colouring agent C.I.45170 (Merah K10 atau Rhodamin B)

dan Colouring agent C.I.45170:1 (Merah K11)

81-88-9

4. Colouring agent C.I.5880 (Pigment Red 63:1) 6417-83-0

Nama lain dari Rhodamin B adalah tetraethylrhodamine; D&C Red No. 19; C.I. Basic Violet 10; C.I. 45170 dan nama kimia rhodamin B adalah N-[9-(carboxyphenil)-6-(diethylamino)-3H-xanten-3-ylidene]-N- ethylethanaminium clorida. Rhodamin B memiliki rumus kimia

C12H31N2O3CI dengan bobot molekul 479. Rhodmain B berbentuk hablur hijau atau serbuk ungu kemerahan, tidak berbau dan dalam larutan berwarna merah berfluoresensi. Rhodamin B sangat mudah larut di air

(8)

menghasilkan larutan merah kebiruan dan berfluoresensi kuat jika 24 diencerkan, sangat mudah larut dalam alkohol, sukar larut dalam asam encer dan dalam larutan alkali. Larutan dalam asam kuat membentuk senyawa kompleks antimon berwarna merah muda yang larut dalam isopropil eter (Agristika, 2015).

Gambar 2.7 Struktur Rhodamin B (Makhmadah, 2013) Efek samping rhodamin B penggunaan jangka pendek dari rhodamin B pada kulit dapat menimbulkan iritasi. Rhodamin B jika digunakan pada bibir dapat menghambat proses dari sintesis protein non-spesifik yang berakibat mengurangi kandungan protein lapisan sel fibroblast pada bibir. Rhodamin B dapat menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan dan termasuk zat karsinogenik. Pengunaan rhodamin B dalam konsentrasi yang tinggi dapat menyebabkan kerusakan pada hati (BPOM, 2014).

4. Metode Analisis Rhodamin B a. Analisis kualitatif

Analisis kualitatif rhodamin B dapat dilakukan dengan analisis pewarnaan, rapid test kid, dan Kromatografi Lapis Tipis (Yuniarto dan Maryam, 2019). Prosedur analisis dengan metode kromatografi

(9)

lapis tipis dapat dilakukan berdasarkan (PerKaBPOM) Nomor HK.03.1.23.08.11.07331 Tahun 2011.

Kromatografi Lapis Tipis adalah metode yang paling sederhana dan banyak digunakan. Pemisahan dan analisis sampel dengan metode ini membutuhkan peralatan dan bahan yang cukup sederhana yaitu bejana tertutup yang berisi pelarut dan lempeng KLT (Wulandari, 2011).

Pelaksanaan analisis ini untuk membentuk zona awal dilakukan dengan menotolkan sampel pada ujung fase diam. Kemudian sampel dikeringkan. Ujung fase diam terdapat zona awal dan dicelupkan pada fase gerak di dalam chamber. Fase diam dan fase gerak dipilih dengan benar, maka campuran komponen sampel bermigrasi dengan kecepatan yang berbeda selama pergeseran fase gerak melalui fase diam hal ini disebut dengan pengembangan kromatogram. Ketika fase gerak bergerak sampai jarak yang diinginkan, fase diam diambil kemudian dikeringkan. Zona yang telah didapat dideteksi secara langsung atau dibawah sinar UV dengan pereaksi penampak noda yang cocok (Wulandari, 2011). Identifikasi senyawa kromatografi dengan menggunakan harga Rf yang mengambarkan jarak yang ditempuh suatu komponen terhadap jarak keseluruhan yaitu :

Gambar 2.8 Rumus Rf (Sa’ad dkk., 2019)

(10)

Harga Rf biasanya berkisar 0,00-1,00 dan harga Rf sangat berguna untuk mengidentifikasi suatu senyawa. Faktor yang mempengaruhi harga Rf yaitu struktur kimia suatu senyawa, sifat penjerap, tebal dan kerataan lapisan penjerap, teknik percobaan, jumlah cuplikan, suhu, dan pelarut dan derajat kemurniaanya, derajat kejenuhan uap pengembang dalam bejana (Marjoni, 2016).

Penggunaan metode Kromatografi Lapis Tipis pada proses analisis memiliki beberapa keuntungan yaitu:

1) Kromatografi Lapis Tipis banyak digunakan untuk tujuan analisis.

2) Identifikasi pemisahan komponen dapat dilakukan dengan pereaksi warna, fluoresensi dan dengan radiasi menggunakan sinar UV.

3) Dapat dilakukan dengan elusi secara mekanik (ascending), menurun (descending), atau juga dengan cara dua dimensi.

4) Ketepatan penentuan kadar akan lebih baik karena komponen yang akan ditentukan merupakan bercak yang tidak bergerak (Gandjar dan Rohman, 2012).

b. Analisis kuantitatif

Analisis kuantitaf rhodamin B dapat dilakukan dengan Kromatografi Cair Kinerja Tinggi, TLC- Densitometeri dan Spektrofotometri UV-Vis (Hasanah dkk., 2012). Spektrofotometri adalah pengukuran suatu interaksi antara radiasi elektromagnetik

(11)

dengan molekul atau atom dari suatu zat kimia. Spektrofotometri yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum ultraviolet, terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatik dalam jangkauan panjang gelombang 190-380 nm.

Spektrum ultraviolet dapat digunakan untuk pemeriksaan kuantitatif dan untuk identifikasi (KemenKes RI, 2014).

Terdapat berbagai faktor yang mengatur pengukuran serapan absorbansi UV-Vis yakni, adanya gugus penyerap sinar UV-Vis (kromofor), pengaruh pelarut yang digunakan untuk melarutkan sampel, pengaruh suhu, pengaruh pH, dan ion-ion anorganik (Gandjar dan Rohman, 2012).

Spektrofotometri yang sesuai untuk pengukuran di daerah spektrum ultraviolet dan sinar tampak terdiri atas suatu sistem optik dengan kemampuan menghasilkan sinar monokromatis dalam jangkauan panjang gelombang 200-800 nm. Diagram sederhana Spektrofotometri UV-Vis yaitu :

Gambar 2.9 Diagram Spektrofotometri UV-Vis (Gandjar dan Rohman, 2012).

(12)

Keterangan : 1) Sumber sinar

Sumber sinar atau lampu mampu menjangkau keseluruhan daerah spektrum ultraviolet dan visible. Sumber sinar tampak menggunakan lampu tungsten. Lampu tungsten mengemisikan sinar pada panjang gelombang 350 – 2000 nm (Gandjar dan Rohman, 2012). Sumber sinar ultraviolet yang biasa digunakan adalah lampu hidrogen dan lampu deuterium.

Lampu deuterum salah satu isotop hidrogen, yang mempunyai satu netron lebih banyak dibandingkan hidrogen biasa dalam inti atomnya. Lampu deuterum mampu mengemisikan sinar pada spektrum panjang gelombang 200 – 370 nm dan digunakan untuk semua spektroskopi dalam daerah spektrum ultraviolet (Gandjar dan Rohman, 2012).

2) Monokromator

Monokromator adalah serangkaian alat optik yang digunakan untuk memperoleh sinar monokromatik yang berasal dari sumber sinar dengan kisaran panjang gelombang yang lebar disebut dengan sinar polikromatik (Sastrohamidjojo, 2013).

3) Kuvet

Kuvet adalah tempat cuplikan atau sampel di simpan.

Analisis pada daerah ultraviolet lazim digunakan quartz atau kuvet dari silika yang dilebur, sedangkan pada daerah sinar

(13)

tampak digunakan gelas biasa atau quartz. Sebelum kuvet dipakai harus dibersihkan dengan air (Sastrohamidjojo, 2013).

4) Detektor

Detektor menyerap tenaga foton yang mengenainya dan mengubah tenaga tersebut untuk dapat diukur secara kuantitatif.

Persyaratan untuk detektor meliputi, waktu respon yang pendek, sensitivitas tinggi hinggga dapat mendeteksi tenaga cahaya yang memiliki tingkatan rendah sekalipun, stabilitas yang lama untuk menjamin respon secara kuantitatif, sinyal elektrolit mudah diperjelas (Gandjar dan Rohman, 2012).

5. Kartasura

Gambar 2.10 Wilayah Kartasura (Anisah dkk., 2017)

Kecamatan Kartasura termasuk dalam salah satu kecamatan di Kabupaten Sukoharjo. Kecamatan kartasura berkembang sangat pesat karena terdapat jalur lalu lintas, beberapa universitas, sekolah, pasar dan pusat perbelanjaan. Kecamatan Kartasura memiliki luas wilayah 1923 Ha yang terdiri 12 kelurahan (Anisah dkk., 2017).

(14)

B. Kerangka Teori

Gambar 2.11 Kerangka Teori Modifikasi (Anggraini, 2019)

Kromatografi Lapis Tipis

Diizinkan Pewarna

Sintetik

Dilarang Penggunaannya Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 mengatur tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika. Zat warna tersebut salah satunya Rhodamin B.

Peraturan BPOM Nomor 23 Tahun 2019 mengatur tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetika:

1. Pigment Red 51 2. FD&C Red No. 4 3. Acid Red No. 14 4. Dan lain-lain.

Rhodamin B dapat menimbulkan iritasi hingga kerusakan hati Spektrofotometri

UV-Vis Analisis Kuantitatif

Analisis Kualitatif Lipsik

Pewarna Alami Komposisi lip cream:

1. Minyak 4. Texturizer 2. Antioksidan 5. Thickener 3. Emolient 6. Zat Pewarna

Zat Pewarna Jenis lipstik yaitu:

Stick, Pallet, Pen Lip Polish, Liquid dan Pasta

(15)

C. Kerangka Konsep

Gambar 2.12 Kerangka Konsep

D. Pertanyaan Penelitian

1. Apakah lip cream yang beredar di toko kosmetik di wilayah Kartasura mengandung rhodamin B?

2. Berapakah kadar rhodamin B yang terkandung dalam lip cream yang beredar di toko kosmetik di wilayah Kartasura?

Lip Cream

Kadar Rhodamin B Ada tidaknya bercak

dan nilai Rf

Analisis kualitatif Analisis kuantitatif Analisis

Spektrofotometri UV-Vis Kromatografi

Lapis Tipis

Gambar

Gambar 2.9 Diagram Spektrofotometri UV-Vis (Gandjar dan  Rohman, 2012).
Gambar 2.10 Wilayah Kartasura (Anisah dkk., 2017)
Gambar 2.11 Kerangka Teori  Modifikasi (Anggraini, 2019) Kromatografi Lapis Tipis   Diizinkan  Pewarna Sintetik  Dilarang Penggunaannya  Peraturan  BPOM  Nomor  23 Tahun 2019 mengatur tentang  Persyaratan  Teknis Bahan Kosmetika
Gambar 2.12  Kerangka Konsep

Referensi

Dokumen terkait

Pada proses khlorinasi langsung ini diperoleh .hasil percobaan sebagai berikut : kecepatan alir gas Cl2 sebesar 4,4 liter/menit, tinggi bed sekitar 6 cm dari dasar

Anomali akan berpotensi menghambat kinerja jaringan pada sebuah trafik jaringan tertentu. Karena sifatnya menimbulkan aktivitas yang tidak wajar dalam trafik

“Pemerintah seharunya serius terhadap kondisi pekerja anak di pasar sentral kota Gorontalo. Jika tidak jumlah tersebut akan bertambah dan semakin bertambah sehingga akan

Pada pengujian ini dilakukan pengujian plant secara close loop, dimana pada percobaan ini tegangan output diharapkan dapat tetap konstan pada saat beban berubah,

Oleh karenanya, material yttria standar yang telah dikembangkan oleh peneliti sebelumnya tersebut akan digunakan untuk menentukan karakteristik lebar dan bentuk puncak pola

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mengembangakan bahan ajar berbasis kearifan lokal Kota Batu untuk kelas IV SD adalah: (1) memiliki cakupan materi yang luas

Untuk membangun aplikasi yang baik dan berskala dibutuhkan IDE yang mendukung. Pada bab ini IDE yang digunakan adalah Eclipse Java EE. Seperti halnya Visual Studio,