EFEKTIVITAS PENERAPAN KOMBINASI MODEL KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DAN TALKING STICK PADA
PEMBELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII MTs. AISYIYAH SUNGGUMINASA
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Matematika
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar
Oleh
WINDARNI KADIR NIM 10536 5173 15
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2019
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertandatangan dibawah ini:
Nama : WINDARNI KADIR
Stambuk : 10536 5173 15 Program Studi : STRATA 1 (S1)
Jurusan : Pendidikan Matematika
DenganJudul : Efektivitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick Pada Pembelajaran Matematika Kelas VII MTs. Aisyiyah Sungguminasa
Dengan ini menyatakan bahwa skripsi yang saya ajukan di depan tim penguji adalah hasil karya saya sendiri dan bukan hasil ciptaan orang lain atau dibuatkan oleh siapapun.
Demikian pernyataan ini saya buat dan saya bersedia menerima sanksi apabila pernyataan ini tidak benar.
Makassar, 23 September 2019 Yang membuat pernyataan
Windarni Kadir
SURAT PERJANJIAN Saya yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : Windarni Kadir
Stambuk : 10536 5173 15
Jurusan : Pendidikan Matematika
Judul Skripsi : Efektivitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick Pada Pembelajaran Matematika Kelas VII MTs. Aisyiyah Sungguminasa
Dengan ini menyatakan perjanjian sebagai berikut:
1. Mulai dari penyusunan proposal sampai selesai penyusunan skripsi ini, saya akan menyusun sendiri skripsi saya (tidak dibuatkan oleh siapapun).
2. Dalam menyusun skripsi, saya akan selalu melakukan konsultasi dengan pembimbing yang telah ditetapkan oleh pimpinan fakultas.
3. Saya tidak akan melakukan penjiplakan (plagiat) dalam penyusunan skripsi.
4. Apabila saya melanggar perjanjian seperti pada butir1, 2, dan 3, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku.
Demikian perjanjian ini saya buat dengan penuh kesadaran.
Makassar, 23 September 2019 Yang Membuat Perjanjian
Windarni Kadir
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Jangan pernah menyerah untuk mendapat gelar seorang
sarjana yang menjadi cita-cita Anda dan harapan keluarga
Tetaplah berusaha dan meminta restu dari-Nya
Tetaplah semangat dalam menghadapi rintangan atau
masalah apapun karena semua itu akan menjadi kenangan
yang terindah yang tersimpan dalam memori Anda.
Kupersembahkan karya
ini buat: kedua orang tuaku, saudaraku, dan
sahabatku,
atas keikhlasan dan doanya
dalam mendukung penulis
mewujudkan harapan menjadi kenyataan.
ABSTRAK
Windarni Kadir, 2019. Efektivitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick Pada Pembelajaran Matematika Kelas VII MTs. Aisyiyah Sungguminasa. Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Ilham Minggi dan pembimbing II Sitti Rahmah Tahir.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick Pada Pembelajaran Matematika Kelas VII MTs. Aisyiyah Sungguminasa tahun ajaran 2019/2020. Penelitian ini mengacu pada tiga aspek kriteria keefektian pembelajaran, yaitu: (1) hasil belajar yang meliputi ketuntasan belajar secara individu dan klasikal, serta gain atau peningkatan hasil belajar, (2) aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran (3) respons siswa terhadap proses pembelajaran.
Suatu pembelajaran dikatakan efektif jika paling sedikit dua dari tiga aspek tersebut terpenuhi, dengan syarat aspek peningkatan hasil belajar terpenuhi.
Penelitian ini adalah penelitian pra-eksperimen yang melibatkan satu kelas sebagai kelas eksperimen. Desain penelitian yang digunakan adalah one group pretest–posttest desain. Sampel eksperimennya adalah siswa kelas VII B MTs.
Aisyiyah Sungguminasa. Instrument pengumpulan data yang digunakan adalah tes hasil belajar, lembar observasi aktivitas siswa dan angket respons siswa, serta lembar keterlaksanaan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) skor rata-rata posttest 83,50 lebih besar dari pada skor rata-rata pretest 50,6 dengan standar deviasi masing-masing pretest 12,89 dan posttest 7,62. Dari hasil tersebut diperoleh bahwa 30 siswa dari 32 siswa atau 94% telah mencapai ketuntasan individual dan ini berarti ketuntasan klasikal telah tercapai. Selain itu, terjadi peningkatan hasil belajar siswa setelah diterapkan model kooperatif kombinasi tipe think pair share (TPS) dan talking stick rata-rata gain ternormalisasi yaitu 0,71 dan umumnya berada pada katergori tinggi. (2) rata-rata persentase frekuensi aktivitas siswa yaitu 84% maka aktivitas siswa mencapai kriteria aktif. (3) respons siswa menunjukkan positif dimana rata-rata persentasenya adalah 90% dan (4) rata-rata kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran adalah 3,55 dan umumnya berada pada kategori sangat baik.
Dengan demikian model kooperatif kombinasi tipe think pair share (TPS) dan talking stick efektif diterapkan dalam pembelajaran matematika pada siswa kelas VII B MTs. Aisyiyah Sungguminasa.
Kata Kunci: Efektivitas Pembelajaran Matematika, Model Kooperatif Kombinasi Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick
KATA PENGANTAR
Assalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Alhamdulillah Rabbil ‘Alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah
SWT, yang karena-Nya kita hidup dan hanya kepada-Nya kita kembali. Dari-Nya segala sumber kekuatan dan inspirasi terindah dalam menapaki jalan hidup ini, Dialah yang memberikan begitu banyak nikmat khususnya kesehatan dan kesempatan sehingga skripsi yang berjudul "Efektivitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick Pada Pembelajaran Matematika Kelas VII MTs. Aisyiyah Sungguminasa” dapat penulis selesaikan.Shalawat dan taslim semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan uswatun hasanah atau suritauladan yang baik bagi ummat manusia sampai akhir zaman.
Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari kesempurnaan. Akan tetapi, berkat pertolongan dan petunjuk dari Allah SWT dan bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan walaupun dalam wujud yang sederhana. Oleh karena itu ucapan terima kasih dan penghargaan yang teristimewa dengan segenap cinta dan hormat penulis haturkan kepada kedua orang tuaku tercinta Ayahanda Kadir dan Ibunda Herni tercinta yang telah mencurahkan segala kasih sayang dan cintanya serta doa restu yang tak henti-hentinya untuk keberhasilan penulis. Semoga apa yang beliau berikan kepada penulis bernilai kebaikan dan dapat menjadi penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.
Terima kasih penulis ucapkan kepada beberapa pihak yang telah sangat membantu selama penulis menyusun skripsi ini yaitu diantaranya :
1. Dr. H. Abd. Rahman Rahim, S.E., M.M. sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
2. Dr. Erwin Akib, S.Pd., M.Pd sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Mukhlis, S.Pd., M.Pd sebagai Ketua Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Ma'rup, S.Pd.,M,Pd. Sebagai Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Makassar.
5. Dr. Ilham Minggi, M.Si. dan Sitti Rahmah Tahir, S.Pd., M.Pd. sebagai Pembimbing I dan II, yang telah meluangkan waktunya membantu dan membimbing penulis.
6. Prof. Dr. Usman Mulbar, M.Pd dan Dr. Alimuddin, M.Si. Sebagai Validator yang telah meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu, memberikan arahan dan petunjuk serta koreksi dalam penyusunan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian.
7. Sri Satriani, S.Pd., M.Pd sebagai Penasehat Akademik atas bimbingan dan nasihat yang sangat berharga selama penulis menuntut ilmu di Universitas Muhammadiyah Makassar.
8. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu atas bimbingan, arahan, dan jasa-jasa yang tak ternilai harganya kepada penulis.
9. Hj. Hasnah R., S.Ag. sebagai Kepala MTs. Aisyiyah Sungguminasa dan Kapriana Eka Putri, S.Pd sebagai Guru Mata Pelajaran Matematika MTs.
Aisyiyah Sungguminasa telah menerima dan memberi kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.
10. Siswa-siswi MTs. Aisyiyah Sungguminasa, terkhusus kelas VII.B atas segala bantuan dan kerjasamanya yang baik selama penulis melaksanakan penelitian.
11. Teman-teman seperjuangan Jurusan Pendidikan Matematika angkatan 2015 terkhusus kelas F yang telah bersama-sama berjuang keras dan penuh semangat dalam menjalani studi dalam suka dan duka. Kebersamaan ini akan menjadi sebuah kenangan yang indah.
Akhirnya hanya kepada Allah jualah penulis serahkan segalanya. Semoga semua pihak yang banyak membantu penulis dapat pahala dari allah SWT, serta skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua orang khususnya bagi penulis sendiri.
Wassalamu 'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Makassar, 23 September 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN SAMPUL ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
SURAT PERNYATAAN ... iv
SURAT PERJANJIAN ... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiv
DAFTAR LAMPIRAN ... xv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR, DAN HIPOTESIS 9
A. Kajian Pustaka ... 9
1. Pengertian Efektivitas ... 9
2. Pengertian Belajar ... 12
3. Pembelajaran Matematika ... 13
4. Model Pembelajaran ... 14
5. Model Pembelajaran Kooperatif ... 16
6. Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick ... 17
7. Langkah-Langkah Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick ... 24
8. Hasil Penelitian Relevan ... 26
B. Kerangka Pikir ... 28
C. Hipotesis Penelitian ... 31
BAB III METODE PENELITIAN ... 32
A. Jenis Penelitian ... 32
B. Variabel dan Desain Penelitian ... 32
C. Populasi dan Sampel ... 33
D. Definisi Operasional Variabel... 34
E. Instrumen Penelitian ... 34
F. Teknik Pengumpulan Data ... 36
G. Teknik Analisis Data ... 36
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43
A. Hasil Penelitian ... 43
1. Hasil Analisis Deskriptif ... 43
2. Hasil Analisis Inferensial ... 55
B. Pembahasan ... 58
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 61
A. Kesimpulan ... 61
B. Saran ... 62 DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN – LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Kooperatif ... 17
Tabel 2.2 Sintaks Pembelajaran Think Pair Share (TPS) ... 19
Tabel 2.3 Sintkas Model Pembelajaran Talking Stick ... 22
Tabel 2.4 Langkah Kombinasi Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick... 24
Tabel 3.1 Desain Penelitian ... 32
Tabel 3.2 Kategori Standar Hasil Belajar ... 37
Tabel 3.3 Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) ... 37
Tabel 3.4 Kriteria Nilai Gain ... 38
Tabel 4.1 Statistik Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Sebelum dan Setelah Diberikan Perlakuan (Pretest dan Posttest) ... 46
Tabel 4.2 Distribusi Frekuensi Dan Persentase Skor Hasil Belajar Matematika Siswa Sebelum dan Setelah Diberikan Perlakuan 46 Tabel 4.3 Deskriptif Ketuntasan Posttest Hasil Belajar Matematika Siswa ... 47
Tabel 4.7 Deskriptif Peningkatan Hasil Belajar Matematika Siswa ... 49
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A
A.1. Jadwal Pelaksanaan Penelitian A.2. Daftar Hadir Siswa
A.3 Daftar Nama Kelompok
A.4 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) A.5 Lembar Kegiatan Siswa
LAMPIRAN B
B.1. Kisi-Kisi Tes Hasil Belajar
B.2. Instrumen Tes Hasil Belajar (Pretest-Posttest) LAMPIRAN C
C.1. Instrumen Lembar Observasi Aktivitas Siswa C.2. Instrumen Angket Respon
C.3. Instrumen Keterlaksanaan Pembelajaran
C.4. Lembar Validasi Tes, LKS, RPP, Angket Respon, Lembar Aktivitas LAMPIRAN D
D.1. Daftar Nilai Tes Hasil Belajar Siswa (Pretest, Posttest, dan Gain)
D.2. Analisis Data Tes Hasil Belajar Pretest dan Posttest Melalui Program SPSS
D.3. Analisis Observasi Aktivitas Siswa
D.4. Analisis Observasi Keterlasanaan Pembelajaran D.5. Analisis Data Respon Siswa
LAMPIRAN E
E.1. Lembar Tes Hasil Belajar
E.2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa E.3. Lembar Angket Respons Siswa E.4. Lembar Keterlaksanaan Pembelajaran LAMPIRAN F
F.1. Dokumentasi F.2. Persuratan F.3. Validasi
BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kemajuan suatu bangsa ditentukan dari bagaimana perkembangan pendidikan bagi anak bangsa itu. Kemajuan dalam satuan waktu jangka panjang akan dapat memprediksi kualitas bangsa pada sekian puluh tahun kedepan. Akhir dari hasil pendidikan yang terencana menghasilkan buah dimana masyarakatnya rata-rata berpendidikan tinggi seperti negara tetangga kita Singapura. Masyarakat suatu negara yang maju akan melahirkan kemajuan dalam berbagai bidang seperti pembangunan, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, sosial, politik, dan peradaban. Hal ini menunjukkan keberadaan pendidikan demikian pentingnya.
Sebagaimana dikemukakan dalam UU No. 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS pasal 1 ayat 1 menyebutkan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan Susana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negaranya.
Berdasarkan undang-undang di atas diketahui bahwa pendidikan dasar merupakan pondasi dari semua jenjang pendidikan selanjutnya. Untuk itu dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan harus diawali dari perbaikan kualitas pendidikan dasar, terutama perbaikan pada proses pembelajaran.
Dalam mencapai tujuan pendidikan nasional itu diperlukan seperangkat kurikulum yang menunjang untuk diberikan kepada anak didik dalam tingkatan
satuan pendidikan masing-masing seperti satuan pendidikan sekolah dasar, satuan pendidikan sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas.
Kurikulum sebagai jembatan untuk menuju tujuan pada tiap satuan pendidikan diuraikan atas beberapa mata pelajaran bagi sekolah atau beberapa mata kuliah bagi tingkat perguruan tinggi. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan pada dasarnya menekankan pada 5 mata pelajaran pokok, salah satunya adalah matematika.
Runtukahu & Selpius Kandou (Yanti, 2018:23), mengatakan bahwa yang dimaksud dengan matematika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan berbagai struktur abstrak dan hubungan antar-struktur tersebut sehingga terorganisasi dengan baik. Menurut Sabandar dalam (Wardiman:2018) dalam mempelajari matematika siswa harus memiliki keterampilan berpikir agar mampu memahami konsep-konsep matematika yang telah dipelajari serta menggunakannya dengan tepat untuk menyelesaikan permasalahan matematika yang dihadapi. Dalam hal ini matematika juga memiliki peran penting dalam kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta berperan mengembangkan daya pikir manusia.
Melihat pentingnya peranan matematika maka pembelajaran matematika di setiap jenjang pendidikan perlu dipahami oleh peserta didik dari sejak sekolah dasar. Hal ini dimaksudkan agar peserat didik memperoleh bekal kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, dan inovatif. Sehingga nantinya peserta didik mampu menghadapi tuntutan perkembangan jaman seiring dengan kemajuan ilmu teknologi.
Berdasarkan dengan hal tersebut maka dalam kegiatan pendidikan, hendaknya perlu diperhatikan bagaimana proses pembelajaran matematika sehingga dapat mencapai tujuan pendidikan berdasarkan kurikulum. Karina (2017:1) mengungkapkan bahwa pembelajaran matematika yang efektif merupakan tolak ukur keberhasilan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu menggunakan model dan strategi pembelajaran yang efektif agar proses pembelajaran dapat terjadi secara interaktif. Hal tersebut perlu dilakukan untuk menimbulkan motivasi serta minat siswa dalam mempelajari matematika. Sebab masih banyak dikalangan para siswa yang menganggap matematika itu sulit dipelajari sehingga mengurangi minat para siswa untuk mempelajarinya, bahkan beberapa siswa menganggap bahwa matematika itu sulit dan membosankan. Hal ini mengakibatkan dampak yang negatif bagi siswa dengan menurunnya kemampuan siswa dalam memahami pembelajaran matematika.
Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang diperoleh dari guru matematika pada tanggal 29 April 2019. Aisyiyah Sungguminasa mengatakan bahwa tingkat penguasaan dan kemampuan siswa dalam pelajaran matematika masih sangat rendah yang berpengaruh pada hasil belajar siswa. Kemudian pada tanggal 30 Juli 2019 dilakukan observasi ulang. Mengingat bahwa observasi sebelumnya di kelas VII dilakukan pada bulan April sehingga siswa kelas VII tersebut yang telah di observasi sekarang telah naik kelas VIII. Oleh sebab itu dilakukan observasi ulang untuk kelas VII. Hasil observasi tidak menunjukkan perbedaan, siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat, siswa tidak
menunjukkan pasrtisipasi dalam proses pembalajaran,siswa kurang aktif didalam kelas, dan kurangnya kesiapan siswa dalam pembelajaran.
Masalah–masalah yang telah diuraikan pada observasi diatas merupakan masalah-masalah yang dihadapi siswa-siswi kelas VII di MTs. Aisyiyah Sungguminasa. Hal tersebut dapat dilihat dari rata- rata hasil ulangan siswa kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh sekolah yakni 75, hanya 45% siswa yang mencapai nilai KKM dengan rata- rata hasil belajar siswa hanya 65.
Oleh karena itu model pembelajaran yang diharapkan dapat memberikan solusi terhadap masalah tersebut adalah model pembelajaran Kooperatif. Menurut Nurulhayati dalam (Rusman 2018:203) pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil untuk saling berinteraksi. Model pembelajaran Kooperatif dapat menumbuhkan minat belajar siswa ketika dilakukan dalam bentuk kelompok. Nurulhayati dalam Rusman (2018:204) mengemukakan lima unsur dasar model pembelajaran kooperatif, yaitu: (1) ketergantungan yang positif, (2) pertanggungjawaban individual, (3) kemampuan bersosialisasi, (4) tatap muka, dan (5) evaluasi proses kelompok. Untuk itu model pembelajaran kooperatif yang digunakan dalam penelitian adalah Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
Menurut Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara (2015:52) Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang merangsang
aktivitas berpikir siswa secara berpasangan dan berbagi pengetahuan kepada siswa lainnya. Menurut Hidayah dalam (Puasa 2014:6) Think Pair Share (TPS) merupakan model kooperatif yang dapat meningkatkan hasil belajar dan motivasi
siswa karena berperan langsung dalam pembelajaran. Dipilih model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) karena model pembelajaran ini memberi kesempatan pada siswa untuk memecahkan masalah,berpikir secara individu mengenai suatu permasalahan dalam pembelajaran, mampu mengemukakan pendapat ketika berdiskusi mengenai ide yang didapatkan ketika berada dalam kelompok.
Talking Stick (tongkat berbicara) adalah salah satu model pembelajaran yang
mendorong siswa agar berani mengungkapkan pendapat, berpartisipasi aktif dalam pembelajaran serta mengajarkan siswa agar selalu siap menjawab ketika Stick (tongkat) yang digulirkan jatuh padanya, Suprijono dalam (Puasa 2014:5).
Sedangkan Menurut Puspita dalam (Puasa 2014:6) Talking Stick merupakan metode yang efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa karena metode ini menawarkan pembelajaran kooperatif yang menyenangkan dengan menerapkan cara belajar sambil bermain. Mengingat dalam Talking Stick sebagai penanda berhentinya stick (tongkat) digulirkan adalah dengan menggunakan music, atau diberlakukan hukuman misalnya siswa yang disuruh bernyanyi, berhitung, atau yang sifatnya positif dan menumbuhkan motivasi belajar siswa.
Jadi dapat dikatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick adalah model pembelajaran yang mengajak siswa
untuk belajar secara aktif, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan masalah atai mengkorelasikan, apa yang mereka pelajari kedalam masalah kehidupan siswa itu sendiri. Kedua metode ini dirancang agar dalam proses pembelajaran siswa tidak hanya menerima informasi dari guru akan tetapi
siswa terlibat aktif untuk menemukan sendiri konsep dari apa yang dipelajari dengan cara yang menyenangkan.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Volindri tentang Penerapan kolaborasi model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick di SD Negeri Kaliwungu 03 menyuimpulkan bahwa terjadinya peningkatan hasil belajar siswa kelas 3 SD Negeri Kaliwungu 03dalam mata pelajaran Matematika dengan mnerapkan kolaborasi model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah siswa yang dapat
mencapai KKM (63). Dari hasil yang diperoleh, maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran dengan menerapkan kolaborasi model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick dapat meningkatkan hasil belajar siswa yang dapat
diterapkan guru untuk meningkatkan kualitas mutu pendidikan.
Pengintegrasian model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick terdiri dari 3 tahapan yaitu : (1) Tahap Think, pada
tahap ini peserta diberikan persoalan berupa masalah atau pertanyaan. (2) Tahap Pair, pada tahap ini peserta didik berpasangan dalam mneyelesaikan persoalan
atau pertanyaan yang telah diberikan. (3) Tahap Share, pada tahap ini peserta didik bermain dengan tongkat (Talking Stick).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Efektivitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick Pada Pembelajaran Matematika
Kelas VII MTs. Aisyiyah Sungguminasa”
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : Apakah Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick efektif diterapkan dalam pembelajaran
matematika pada siswa kelas VII MTs Aisyiyah Sungguminasa? Dilihat dari indikator keefektifan yaitu :
1. Hasil belajar matematika siswa sebelum dan setelah mengikuti Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
2. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
3. Respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick pada siswa kelas VII MTs Aisyiyah
Sungguminasa, yang dilihat dari tiga indikator yaitu :
1. Hasil belajar matematika siswa sebelum dan setelah mengikuti pembelajaran dengan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
2. Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
3. Respon siswa terhadap pembelajaran matematika dengan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Diharapkan dapat memberikan solusi yang berarti bagi pengembang pendidikan dan ilmu pengetahuan khususnya yang berkaitan dengan pembelajaran matematika dengan Penerapan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick untuk bahan acuan penelitian yang akan datang.
2. Manfaat praktis
a. Bagi Siswa: Dapat menumbuhkan semangat kerjasama antar siswa, meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa terhadap matematika serta dapat meningkatkan hasil belajar matematika siswa.
b. Bagi peneliti: Menambah wawasan, pengetahuan, dan keterampilan peneliti khususnya yang terkait dengan penelitian yang menerapkan Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
c. Bagi Guru: Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi atau masukan tentang model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan hasil belajar matematika Siswa.
d. Bagi sekolah: Sebagai masukan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan dan proses belajar matematika.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori
1. Efektifitas Pembelajaran
Supardi (Laksono, 2016:23) menyatakan bahwa efektivitas berarti berusaha untuk dapat mencapai sasaran yang telah ditetapkan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan, sesuai pula dengan rencana, baik dalam penggunaan data, sarana, maupun waktunya atau berusaha melalui aktivitas tertentu baik secara fisik maupun non-fisik untuk memperoleh hasil yang maksimal secara kuantitatif maupun kualitatif. Lebih lanjut E. Mulyasa (Laksono, 2016:23) efektivitas adalah ukuran yang menyatakan sejauh mana sasaran atau tujuan (kuantitas, kualitas dan waktu) telah dicapai.
Menurut Susanto dalam (Karina, 2017:36) yang menyatakan bahwa dari segi proses, pembelajaran dikatakan efektif atau berhasil dan berkualitas apabila seluruh atau sebagian besar peserta didik terlibat aktif, baik secara fisik, mental, maupun sosialnya, selain itu dapat menunjukkan semangat belajar yang besar dan percara diri.
Menurut Supardi dalam (Karina, 2017:36-37) bahwa salah satu indicator yang digunakan untuk mengukur keberhasilan belajar adalah hasil belajar siswa, dimana hasil belajar yang dimaksud adalah pencapaian prestasi belajar yang diperoleh siswa dengan kriteria atau nilai yang telah ditetapkan melalui penilaian acuan patokan atau penilaian acuan norma.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam segi proses, pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruhnya atau sebagian besar peserta didik terlibat
aktif, baik secara fisik, mental, maupun sosialnya. Sedangkan dari segi hasil, pembelajaran dikatakan efektif apabila dapat menunjukkan adanya suatu keberhasilan atau tercapainya tujuan pembelajaran dengan indikator pencapaian hasil belajar tuntas atau pencapaian kriteria atau nilai yang telah ditetapkan sebagai acuan patokan. Dalam hal ini, efektivitas pembelajaran adalah suatu keadaan yang menunjukkan sejauh mana hasil guna yang diperoleh setelah pelaksanaan proses belajar mengajar.
Efektivitas pembelajaran dapat diketahui dengan memperhatikan beberapa indikator. Adapun indikator efektivitas ada 4 yaitu : hasil belajar siswa, aktivitas belajar siswa, respon siswa dan keterlaksanaan proses pembelajaran. Sehingga yang menjadi indikator keefektifan dalam penelitian ini berdasarkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick adalah sebagai berikut : beberapa indikator efektivitas pembelajaran matematika ditinjau dari tiga aspek, yaitu:
1. Hasil Belajar Siswa
Menurut Suprijono (2009:6) bahwa hasil belajar mencakup kemampuan, kognitif, afektif dan psikomotorik. Sedangkan menurut Susanto dalam (Fadli, 2018:9) bahwa hasil belajar siswa adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar mengajar. Perubahan tersebut tidak hanya berupa tingkah laku tetapi juga berupa pemahaman dan kemampuan. Alkrismanto (2003:7) menyatakan bahwa hasil belajar siswa akan lebih baik jika suasana belajar sesuai dengan yang mereka harapkan dan pencapaian ketuntasan belajar taraf penguasaan minimal yang telah ditetapkan guru dalam tujuan pembelajaran setiap satuan pelajaran.
Ketuntasan belajar siswa dapat diukur dengan tes hasil belajar, baik ketuntasan belajar secara individu maupun ketuntasan belajar secara klasikal. Tes hasil belajar adalah alat ukur yang banyak digunakan untuk menentukan taraf keberhasilan sebuah sebuah program pengajaran.
Berdasarkan hasil uraian diatas hasil belajar yang dimaksud dalam penelitian ini adalah tingkat penguasaan atau skor yang dicapai siswa terhadap materi pelajaran setelah melalui tahapan pembelajaran. Adapun hasil belajar yang dimaksud yaitu nilai rata-rata siswa yang diperoleh baik itu memenuhi Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM 75), ataupun tidak memenuhi KKM yang ditetapkan oleh sekolah dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
2. Aktivitas belajar siswa
Aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar merupakan kegiatan atau perilaku yang terjadi selama proses belajar mengajar. Kegiatan yang dimaksud adalah kegiatan yang mengarah pada proses belajar seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerja sama dengan siswa lain serta tanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Aktivitas siswa juga merupakan kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran. Aktivitas siswa mencerminkan adanya motivasi ataupun keinginan siswa untuk belajar.
Aktivitas belajar matematika adalah proses komunikasi antara siswa dan guru dalam lingkungan kelas baik proses akibat dari hasil interaksi siswa dan guru atau siswa dengan siswa sehingga menghasilkan perubahan akademik, sikap, tingkah
laku dan keterampilan yang dapat diamati melalui perhatian siswa, kesungguhan siswa, kedisiplinan siswa dan keterampilan siswa dalam bertanya/menjawab.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa dalam penelitian ini adalah proses komunikasi berdasarkan hasil interaksi antara guru dengan siswa yang akan menghasilkan adanya motivasi ataupun keinginan siswa untuk belajar.
3. Respon siswa
Menurut Sartilo dalam (Fadli, 2018:11) respon adalah setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan tanggapan atau balasan (respon) terhadap ransangan atau stimulus. Sedangkan menurut Gulo (Fadli, 2018:11) respon adalah suatu reaksi atau jawaban yang bergantung pada stimulus atau merupakan hasil stimulus tersebut.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa respon siswa adalah tanggapan atau reaksi siswa terhadap pelaksanaan pembelajaran.
2. Pengertian Belajar
Dalam kehidupan manusia, aktivitas yang dilakukan sehari-hari tidak pernah terlepas dari kegiatan belajar, baik dalam melaksanakan aktivitas sendiri maupun dalam suatu kelompok. Sebagian besar aktivitas dalam kehidupan sehari-hari merupakan kegiatan belajar, sehingga tidak ada manusia yang dapat melepaskan dirinya dari kegiatan belajar. Belajar tidak pernah dibatasi oleh usia, tempat, maupun waktu karena perubahan yang menuntut terjadinya aktivitas belajar itu juga tidak pernah berhenti, Aunurrahman dalam (Karina, 2017:14).
Menurut Gagne dalam (Saefuddin dan Ika Berdiati, 2014:8), belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus
menerus, bukan hanya disebabkan proses pertumbuhan saja. Gagne mengemukakan bahwa belajar dipengaruhi oleh factor luar diri dan factor dalam diri dan keduanya saling berinteraksi.
Khairani dalam (Karina, 2017:15) menyatakan bahwa belajar adalah proses menuju perubahan fisik maupun perubahan mental melalui proses latihan dalam interaksi dengan lingkungan. Khairani dalam (Karina, 2017:15) mengemukakan pula bahwa belajar adalah suatu usaha atau perbuatan yang dilakukan secara sistematis dengan mendayagunakan fisik, mental, panca indera, otak, dan anggota tubuh lainnya.
Dari uraian tersebut disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses usaha yang mendayagunakan fisik maupun mental dalam interaksi dengan lingkungannya sehingga menghasilkan perubahan pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan nilai sikap..
3. Pembelajaran Matematika
Pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh guru untuk membuat siswa belajar (mengubah tingkah laku untuk mendapatkan kemampuan baru) yang berisi suatu sistem atau rancangan untuk mencapai suatu tujuan, Khanifatul dalam (Laksono, 2016:11). Menurut Isjoni dalam (Laksono, 2016: 11) bahwa pembelajaran adalah sesuatu yang dilakukan oleh siswa bukan dibuat untuk siswa yang pada dasarnya merupakan upaya pendidik untuk membantu peserta didik (siswa) melakukan kegiatan belajar dengan tujuan terwujudnya efisiensi dan efektivitas kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik (siswa).
Runtukahu & Selpius Kandou dalam (Yanti, 2018:23) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan matematika adalah pengetahuan yang berkaitan dengan
berbagai struktur abstrak dan hubungan antar-struktur tersebut sehingga terorganisasi dengan baik. Sementara kline lebih cenderung mengatakan bahwa matematika adalah pengetahuan yang tidak berdiri sendiri, tetapi dapat membantu manusia untuk memahami dan memecahkan permasalahn sosial, ekonomi, dan alam.
Menurut Amir (2017:7) bahwa pembelajaran matematika merupakan suatu proses atau kegiatan guru dalam mengajarkan matematika kepada peserta didik, untuk menciptakan iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan peserta didik yang beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan peserta didik serta antara peserta didik dengan peserta didik dalam memelajari matematika sehingga siswa mendapatkan pengalaman.
Menurut Kristiana (2016:34) bahwa hakikat pembelajaran matematika adalah proses yang sengaja dirancang dengan tujuan untuk menciptakan suasana lingkungan yang memungkinkan seseorang (pelajar) melaksanakan kegiatan belajar matematika. Menurut Robert M.Gagne dalam (Kristiana 2016:34) bahwa pembelajaran harus dikondisikan untuk memunculkan respon yang diharapkan.
Menurut Gagne, belajar matematika terdiri dari objek langsung dan objek tak langsung
4. Model Pembelajaran
Suprijono dalam (Wulandari dan Istiqomah, 2015:2) menyatakan bahwa model pembelajaran adalah pola komprehensif yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Model pembelajaran kooperatif tipe talking stick merupakan metode pembelajaran yang dapat mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat di muka umum.
Suprijono dalam (Listiana, 2015:13) menyatakan bahwa model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelasmaupun tutorial. Model pembelajaran mengacu pada pendekatan yang digunakan, termasuk di dalamnya tujuan-tujuan pembelajaran, tahap-tahap dalam kegiatan pembelajaran, lingkungan pembelajaran, pengelolaan kelas.
Menurut Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara (2015:37) bahwa model pembelajaran adalah suatu pola interaksi antara siswa dan guru di dalam kelas yang terdiri dari strategi, pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran yang diterapkan dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran dikelas. Strategi pembelajaran adalah perencanaan yang meliputi siasat dan kiat yang sengaja dibuat oleh guru berkenaan dengan persoalan pembelajaran, agar pembelajaran berjalan sesuai dengan tujuan.
Rifai dan Anni dalam (Listiana, 2015:13) mengemukakan bahwa pembelajaran yang berorientasi bagaimana perilaku pendidik yang efektif, beberapa teori belajar mendeskripsikan pembelajaran sebagai berikut:
a. Usaha pendidik membentuk tingkah laku yang diinginkan dengan menyediakan lingkungan, agar terjadi hubungan stimulus (lingkungan) dengan tingkah laku peserta didik.
b. Cara pendidik memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir agar memahami apa yang dipelajari.
c. Memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk memilih bahan pelajaran dan cara mempelajarinya sesuai dengan minat dan kemampuannya.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan serangkaian peristiwa yang dirancang untuk
mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa untuk mencapai tujuan dalam belajar.
5. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Slavin dalam (Suriani 2017:12) bahwa pembelajaran kooperatif adalah model pembelajaran di mana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok kecil secara kolaboratif dengan struktur kelompok yang bersifat heterogen dan 13 terdiri dari empat sampai enam orang siswa. Selanjutnya menurut Agus Suprijono dalam (Suriani, 2017:13) bahwa pembelajaran kooperatif adalah konsep yang lebih luas meliputi semua jenis kerja kelompok termasuk bentuk-bentuk yang lebih dipimpin oleh guru atau diarahkan oleh guru, dimana guru menetapkan tugas dan pertanyaan-pertanyaan serta menyediakan bahan-bahan dan informasi yang dirancang untuk membantu siswa menyelesaikan masalah yang dimaksudkan.
Menurut Rusman dalam (Sriyanti, 2015:22) menyatakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah strategi pembelajaran yang melibatkan partisipasi siswa dalam satu kelompok kecil dan saling berinteraksi. Cooperatve learning adalah teknik pengelompokan yang di dalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4-5 orang. Belajar cooperative adalah pemanfaatan kelompok kecil dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja bersama untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota lainnya dalam kelompok belajar tersebut.
Menurut Isjoni dalam (Laksono 2016:13) bahwa pembelajaran kooperatif yakni kegiatan belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lainnya dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya. Pendapat yang
sama juga diungkapkan oleh Siregar dan Hartini Nara dalam (Laksono, 2016:14) bahwa pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang menekankan aktivitas kolaboratif siswa dalam belajar yang berbentuk kelompok, mempelajari materi pelajaran, dan memecahkan masalah secara kolektif kooperatif.
Menurut Trianto dalam (Septiana, 2017:15) mengungkapkan ada empat elemen dasar dalam pembelajaran kooperatif, yaitu saling ketergantungan positif, interaksi tatap muka, akuntabilitas individual, dan keterampilan menjalin hubungan interpersonal. Jadi tidak semua pembelajaran yang menggunakan kerja kelompok merupakan pembelajaran kooperatif.
Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Kooperatif
Fase Tingkah Laku
Fase -1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa Fase -2
Menyajikan informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bacaan Fase -3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar
Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan transisi secara efisien
Fase -4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas
Fase -5 Evaluasi
Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari oleh masing- masing kelompok dan mempresentasikannya Fase -6
Memberi penghargaan
Guru mencari cara untuk menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok
6. Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick
a. Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS)
Model ini diperkenalkan oleh Frank Lyman pada tahun 1985. Pembelajaran Think Pair Share (TPS) ini dirancang untuk memengaruhi pada interaksi siswa,
Aqib (2013:24). Adapun menurut Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara (2015:52) menyatakan bahwa Think Pair Share (TPS) merupakan salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang merangsang aktivitas berpikir siswa secara berpasangan dan berbagi pengetahuan kepada siswa lainnya. Hal tersebut juga dikemukakan oleh Trianto dalam (Zulfah, 2017:5) bahwa Think Pair Share (TPS) merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas, dengan asumsi bahwa semua resitasi atau diskusi membutuhkan pengaturan untuk mengendalikan kelas secara keseluruhan.
Dengan model pembelajaran ini siswa dilatih untuk berpikir kritis secara individual, melatih siswa berpikir dan berdiskusi dengan mengemukakan pendapat bersama teman sebangku, menanamkan rasa percaya diri siswa ketika mempresentasikan jawaban di depan kelas, saling membantu satu sama lain dan siswa juga belajar menghargai pendapat orang lain dengan tetap mengacu pada materi pembelajaran, selain itu model pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain sehingga dapat mengoptimalkan kerjasama antarsiswa.
Dari teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Thin Pair Share (TPS) ini adalah suatu model pembelajaran yang beriorentasi pada cara berpikir siswa baik secara individu maupun berpikir dalam bertukar pikiran terhadap teman sebangku atau teman dalam kelompoknya, dan mengemukakan
pendapatnya baik dalam kelompok maupun di depan kelas terkait dengan materi yang disampaikan.
Menurut Lestari dan Mokhammad Ridwan Yudhanegara (2016:52) ada 3 tahapan pembelajaran Think Pair Share yaitu :
1) Thinking (Berpikir) : Guru mengajukan suatu permasalahan yang merangsang kemampuan berpikir siswa. Siswa memikirkan jawaban dari permasalahan yang diajukan secara mandiri.
2) Pairing (Berpasangan) : Guru mengarahkan siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan apa yang telah dipikirkan.
3) Sharing (Berbagi) : Siswa berbagi pengetahuan yang diperoleh dari hasil diskusi di depan kelas.
Langkah-langkah (sintaks) model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS), Nurmawan dalam (Kasimuddin 2016:59):
Tahap Aktivitas Guru
Tahap 1 : Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.
Tahap 2 : Think (berfikir individu) Guru memberi umpan siswa dengan pertanyaan dan membimbing mereka untuk berfikir secara mandiri.
Tahap 3 : Pair (berpasangan dengan teman sebangku
Guru membentuk kelompok belajar dengan memasangkan siswa dengan teman sebangkunya serta membimbing mereka untuk berdiskusi.
Tahap 4 : Share (berbagi / presentasi) Guru membimbing kelompok belajar yang berpasangan untuk presentasi di depan kelas.
Tahap 5 : Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Tahap 6 : Memberikan penghargaan Guru mencari cara-cara untuk
Tabel 2.2 Sintak Pembelajaran Think Pair Share (TPS)
Menurut Kasimuddin (2016:59) bahwa model pembelajaran kooperatif Think Pair Share (TPS) juga memiliki kelebihan dan kekurangan :
Kelebihan :
1) Memungkinkan peserta didik untuk bekerja sendiri dan bekerja sama dengan orang lain.
2) Mampu mengoptimalkan partisipasi peserta didik.
3) Melatih peserta didik memahami materi dengan cepat.
4) Peserta didik berani mengemukakan pendapat.
5) Bisa diterapkan untuk semua mata pelajaran dan tingkatan kelas.
Kelemahan :
1) Membuat peserta didik tegang.
2) Jika jumlah kelas sangat besar, maka guru akan mengalami kesulitan dalam membimbing siswa yang membutuhkan perhatian lebih.
3) Siswa yang tidak siap tidak bisa menjawab.
4) Ketakutan akan pertanyaan yang diberikan guru.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan keaktifan belajar peserta didik dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
b. Model Pembelajaran Talking Stick
Talking Stick (tongkat berbicara) adalah metode yang pada mulanya digunakan oleh penduduk asli Amerika untuk mengajak semua orang berbicara
menghargai baik upaya maupun hasil belajar individu dan kelompok.
atau menyampaikan pendapat dalam suatu forum. Talking Stick sering digunakan kalangan dewan untuk memutuskan siapa yang mempunyai hak berbicara. Pada saat pimpinan rapat mulai berdiskusi dan membahas masalah, ia harus memegang tongkat. Tongkat akan pindah ke orang lain apabila ia ingin berbicara atau menanggapinya. Dengan cara ini tongkat berbicara (talking stick) akan berpindah dari satu orang ke orang lain jika orang tersebut ingin mengemukakan pendapatnya. Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa talking stick dipakai sebagai penanda seseorang mempunyai hak suara (berbicara) yang diberikan secara bergiliran/bergantian, Shoimin (2017:197-198).
Huda dalam (Nurtiningsih, 2017:17-18) mengemukakan bahwa talking stick merupakan model pembelajaran kelompok dengan bantuan tongkat. Kelompok yang memegang tongkat terlebih dahulu wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah mereka mempelajari materi pokoknya. Suprijono dalam (Nurtiningsih, 2017:18) mengemukakan bahwa model kooperatif talking stick adalah pembelajaran yang mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat.
Model pembelajaran talking stick termasuk salah satu model pembelajaran koperatif. Strategi pembelajaran ini dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah peserta didik mempelajari materi pokoknya. Pembelajaran talking stick sangan cocok diterapkan bagi peserta didik SD,SMP, dan SMA/SMK. Selain untuk melatih berbicara, pembelajaran ini akan menciptakan suasana yang menyenangkan dan membuat peserta didik aktif, Shoimin (2017:198).
Pembelajaran dengan strategi Talking Stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat. Selain itu strategi Talking Stick juga dapat
meningkatkan minat belajar siswa dengan menggunakan musik. Strategi ini diawali dengan penjelasan guru mengenai materi pokok yang akan dipelajari.
Kemudian dengan bantuan stick (tongkat) yang bergulir peserta didik dituntun untuk merefleksikan atau mengulang kembali materi yang sudah dipelajari dengan cara menjawab pertanyaan dari guru. Siapa yang memegang tongkat, dialah yang wajib menjawab pertanyaan (talking), Shoimin (2017:198).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Talking Stick merupakan sebuah model pembelajaran yang efektif untuk meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa, mendorong siswa agar berani mengungkapkan pendapat, berpartisipasi aktif dalam pembelajaran karena metode ini menawarkan pembelajaran kooperatif yang menyenangkan dengan menerapkan cara belajar sambil bermain.
Penggunaan model ini hendaknya mengikuti sintak dan langkah-langkah pelaksanaan dari model itu sendiri. Adapun sintak dari model pembelajaran talking stick, (Sulistyani:2013) :
Tabel 2.3 sintak model pembelajaran talking stick.
Fase Aktivitas Guru
Penyampaian tujuan/KD Pada tahap guru menyampaikan tujuan pembelajaran.
Pembentukan kelompok Pada tahap ini guru membentuk kelompok yang anggota kelompoknya terdiri dari 4-5 orang.
Penyampaian materi pokok
Pada tahap ini guru menyampaikan materi pokok dengan membimbing siswa terhadap penguasaan materi sebelum menggunakan talking stick.
Penyampaian tugas
Pada tahap ini guru menyampaikan tugas yang akan dikerjakan serta meminta siswa untuk menutup buku pegangan dan meminta siswa menyimak penjelasan yang disampaikan guru.
Menjalankan talking stick
Pada tahap ini guru memberikan pertanyaan kepada siswa yang mendapatkan talking stick. Jika siswa tidak bias menjawab maka siswa lain boleh membantu menjawab.
Menyimpulkan Pada tahap ini guru bersama siswa membuat kesimpulan
Evaluasi Pada tahap ini guru memberikan evaluasi kepada siswa untuk dikerjakan.
Penutup Pada tahap ini guru meminta siswa untuk melakukan refleksi
Adapun langkah-langkah Talking stick menurut (Aqib, 2013:26) yaitu : a. Guru menyiapkan sebuah tongkat.
b. Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari. Kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi pegangannya/paketnya.
c. Setelah selesai membaca buku dan mempelajarinya, guru mempersilahkan siswa untuk menutup bukunya.
d. Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya sampai sebagian besar siswa menjawab setiap pertanyaan dari guru.
e. Guru memberikan kesimpulan.
f. Evaluasi.
Kelebihan pada Model Pembelajaran Talking Stick :
a. Menguji kesiapan peserta didik dalam pembelajaran.
b. Melatih peserta didik memahami materi dengan cepat.
c. Memacu agar pesrta didiklebih giat belajar (belajar dahulu sebelum pelajaran dimulai).
d. Peserta didik berani mengemukakan pendapat.
Kelemahan Model Pembelajaran Talking Stick :
a. Membuat siswa menjadi senam jantung dan merasa gugup.
b. Siswa yang pandai lebih mudah menerima materi sedangkan siswa yang kurang pandai kesulitan menerima materi.
c. Membuat peserta didik tegang.
d. Siswa yang tidak siap tidak bisa menjawab.
7. Langkah-Langkah Kombinasi Model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick
Dalam penelitian ini menggunakan kombinasi model kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick. Masing-masing model pembelajaran
memiliki langkah-langkah atau sintaks yang berbeda, namun penelitian ini menggabungkan dua langkah atau sintaks dari model kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick. Berikut adalah kesimpulan dari langkah-langkah
model koooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
Tabel 2.4 Langkah Kombinasi model Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
No Tahap Pelaksanaan Kegiatan
1. Pendahuluan : Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa
- Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan memotivasi siswa belajar
- Guru mempersiapkan perlengkapan belajar yang diperlukan
2. Pelaksanaan : Fase 2
Menyajikan informasi
- Guru menyampaikan materi pokok dengan membimbing siswa terhadap penguasaan materi
- Guru memberikan masalah yang akan diberikan kepada siswa terkait materi pelajaran
Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok belajar
- Guru merencanakan pembagian kelompok diskusi
- Guru menetapkan berapa lamanya mereka berpikir atau secara individu ataupun kelompok dalam menyelesaikan masalah dan berapa lamanya siswa membaca dan memahami ulang materi sebelum dimulainya permainan menggunakan talking stick.
Fase 4
Membimbing kelompok bekerja dan belajar
1. Tahap Think (Berfikir)
- Guru memberikan soal yang harus dipecahkan siswa terkait dengan materi pelajaran
- Siswa berpikir secara individu 2. Tahap Pair (Berpasangan)
- Siswa berdiskusi dengan teman dalam kelompok (teman satu bangku) dalam menyelesaikan persoalan yang diberikan oleh guru
- Guru memantau proses diskusi yang dilakukan siswa
3. Tahap Share (Berbagi) dengan permainan Talking Stick
- Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan memahami lebih mendalam materi yang telah disampaikan
- Guru memberikan satu stick kepada salah satu siswa
- Siswa menggulirkan Stick dengan diirngi music atau dengan siswa yang bernyanyi, berhitung atau hukuman-hukuman yang sifatnya positif.
- Siswa bermain dengan Stick, siapa yang mendapatkan Stick maka berhak untuk menjawab pertanyaan dari guru.
- Guru menjelaskan materi pelajaran dan memberikan pembahasan dari apa yang telah siswa diskusikan
- Guru menciptakan suasana belajar tanpa tekanan dan suasana menyenangkan.
- Pemanfaatan media pembelajaran yang optimal
3. Kegiatan Akhir : Fase 5
Evaluasi
- Guru mengarahkan siswa membuat Kesimpulan
- Guru memberikan Evaluasi hasil belajar siswa secara individu
Fase 6 - Guru memberi penghargaan untuk
Jadi kesimpulan dari langkah-langkah kombinasi Model Kooperatif TipeThink Pair Share (TPS) dan Talking Stick adalah di awali dengan Sintaks model
pembelajaran Think Pair Share (TPS), yaitu diawali dengan guru memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan, guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk memikirkan jawaban atas pertanyaan yang diberikan, selanjutnya guru meminta siswa untuk berdiskusi dengan teman sebangkunya, hasil diskusi ini selanjutnya di sampaikan kepada teman satu kelas mereka yaitu pada tahap sharing, karena ini merupakan kombinasi dari model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick maka pada tahap share ini mereka menggunakan permainan dengan stick.
Guru mempersiapkan Stick terlebih dahulu selanjutnya menunjuk secara acak salah seorang siswa untuk memulai permainan Stick, kemudian siswa menggulirkan stick dari satu teman ke teman yang lain dengan diiringi music atau dengan siswa yang bernyanyi, berhitung atau hukuman-hukuman yang sifatnya positif dan apabila music berhenti atau pada saat berhitung siswa melakukan kesalahan maka disitulah stick berhenti maka siswa tersebut berhak menjawab pertanyaan yang guru berikan. Sehingga diharapkan kombinasi model pembelajaran ini dapat mengefektifkan pembelajaran matematika siswa setelah mengikuti pelajaran dengan kombinasi model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
8. Hasil Penelitian yang Relevan
Memberi Penghargaan menghargai hasil belajar kelompok yang menjawab pertanyaan paling banyak benar
Berdasarkan beberapa penelitian terdahulu tentang keberhasilan pembelajaran yang diterapkannya yaitu :
a. Penelitian yang dilakukan oleh Wardiman,dkk model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick dengan pendekatan Open-Ended dinyatakan efektif secara deskriptif dan inferensial. Kriteria ketercapaian keefektifan secara deskriptif yang diterapkan di SMP Negeri 3 Patalassang Kab. Gowa adalah sebagai berikut: (1) Hasil belajar matematika peserta didik kelas VII SMP Negeri 3 Patalassang Kab. Gowa setalah diterapkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share dan Talking Stick dengan pendekatan Open-Ended berada pada klasifikasi sedang dengan nilai rata-rata lebih dari 74,9 (KKM) yaitu 77,52 dengan standard deviasi sebesar 6,65 dari skor ideal 100. Selain itu, nilai rata-rata gain ternormalisasi peserta didik sebesar 0,68 dengan standar deviasi sebesar 0,07 dari skor ideal 1. Sedangkan proporsi ketuntasan hasil belajar peserta didik secara klasikal sebesar 0,82; (2) Aktivitas peserta didik pada model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share dan Talking Stick dengan pendekatan Open-Ended sebesar 3,18 berada pada kategori cukup aktif; (3) Respons peserta didik terhadap model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share dan Talking Stick dengan pendekatan Open- Ended berada pada kategori positif dengan nilai rata-rata sebesar 3,5.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Tri Nugroho Budi Santoso (2015), Hasil penelitian menunjukkan untuk Keaktifan siswa dalam proses pembelajaran meningkat dari kondisi awal terhitung hanya 12 siswa atau 38%, meningkat sebanyak 18% pada siklus I menjadi 18 siswa atau 56% dan meningkat 22%
pada siklus II menjadi 25 siswa atau 78%. Sehingga dapat diketahui setelah dilakukan penelitian terdapat peningkatan sebanyak 40% pada keaktifan siswa. Hasil Belajar Siswa dalam ranah kognitif meningkat dari kondisi awal terhitung 29 hanya 19 siswa atau 59% meningkat sebanyak 19% pada siklus I menjadi 25 siswa atau 78% dan meningkat sebanyak 9% pada siklus II menjadi 28 siswa atau 88%. Sehingga dapat diketahui setelah dilakukan penelitian terdapat peningkatan sebanyak 28% pada kelulusan siswa dalam aspek kognitif. Persamaan penelitian yang dilakukan Tri Nugroho Budi Santoso dengan penelitian ini terletak pada penerapan model pembelajaran kooperatif yaitu tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick untuk meningkatkan Keaktifan Belajar. Penelitian ini hanya menggunakan satu variabel terikat yaitu Keaktifan Belajar, menyesuaikan dengan permasalahan yang ada di sekolah tempat pelaksanaan penelitian ini. Sedangkan perbedaan penelitian ini adalah pada variabel penelitian berupa Hasil Belajar. Perbedaan lainnya terletak pada subjek, waktu, dan tempat penelitian.
c. Penelitian yang dilakukan oleh Winayah, dkk (2013. 1-10), Hasil observasi dalam penelitian ini berupa data aktivitas klasikal peningkata aktivitas siswa pada pra siklus sampai siklus 2 peningkatan pada siklus 1 sebesar 20,51%, dari siklus 1 sampai siklus 2 sebesar 5,13%, melakukan percobaan pada pra siklus belum ada sehingga mengalami peningkatan pada siklus 1 sebesar 72,51%, dari siklus 1 sampai siklus 2 sebesar 5,84%, melakukan pengamatan data percobaan pada pra siklus belum ada sehingga mengalami peningkatan pada siklus 1 sebesar 73,07%, dari siklus 1 sampai siklus 2 sebesar 5,13%, menuliskan hasil percobaaan pada pra siklus belum ada sehingga mengalami
peningkatan pada siklus 1 sebesar 75,64%, dari siklus 1 sampai siklus 2 sebesar 10,25%. Dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa Kelas VIII B SMPN 7 Jember dengan menggunakan pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share mengalami peningkatan
B. Kerangka Pikir
Berdasarkan uraian dan kerangka teori maka dapat disusun kerangka pikir yang menggambarkan menggambarkan keterkaitan variable-variabel yang akan diteliti yakni model pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick dengan efektivitas pembelajaran matematika yang terdiri dari beberapa indicator yaitu, (1) hasil belajar, (2) aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran, (3) respon siswa terhadap pembelajaran matematika.
Berdasarkan hasil observasi menunjukkan tingkat penguasaan siswa dalam pelajaran matematika masih sangat rendah, siswa kurang memahami materi pelajaran matematika disebabkan karena metode mengajar guru yang kurang tepat, siswa kurang berani dalam mengemukakan pendapat, siswa tidak menunjukkan pasrtisipasi dalam proses pembalajaran,siswa kurang aktif didalam kelas, dan kurangnya kesiapan siswa dalam pembelajaran. Oleh sebab itu hasil belajar siswa termasuk rendah karena masalah-masalah tersebut. Sehingga dibutuhkan model pembelajaran yang dapat memberi solusi terhadap masalah tersebut.
Salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran matematika adalah model kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
Model kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick merupakan salah satu alternative yang dapat membuat siswa lebih bersemangat dalam belajar karena pada tahap talking stick siswa belajar sambil bermain dengan cara bernyanyi, berhitung, dan hal-hal yang dapat digunakan untuk memainkan stick (tongkat). Siswa dapat menunjukkan partisipasi dalam belajar, dalam hal ini
siswa berpartisipasi dalam melalukan permainan untuk melalukan persentase didepan kelas. Siswa lebih berani bertanya atau mengemukan pendapat sehingga siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran. Oleh sebab itu, kedua model dikombinasikan untuk mendukung satu sama lain sehingga menciptakan suasana belajar sambal bermain. Dampak dari kombinasi model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick sangan berpengaruh terhadap hasil berlajar maupun
aktivitas siswa didalam kelas, sehingga pembelajaran matematika akan efektif.
Bagan Dari Kerangka Pikir
Respon siswa Aktivitas siswa
aktif Positif
tuntas
Hasil belajar
Gain ≥ 0,30
KKM ≥ 75 Klasikal
≥ 75%
Termasuk dalam kategori
sedang-rendah terpenuhi
- Metode mengajar yang digunakan guru kurang tepat - Siswa kurang aktif dalam pembelajaran
- Siswa kurang berani mengemukakan pendapat - Siswa tidak menunjukkan partisipasi dalam belajar
Model Pembelajaran Kooperatif Kombinasi Tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick
C. Hipotesis
Berdasarkan kajian pustaka dan kerangka pikir, maka hipotesis penelitian ini adalah penerapan kombinasi model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick efektif dalam pembelajaran matematika.
Untuk menguji hipotesis tersebut digunakan beberapa hipotesis minor, sebagai berikut :
1. Hasil belajar setelah diajar melalui kombinasi model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick minimal sama dengan nilai KKM yaitu
75.
2. Ketuntasan belajar siswa setelah pembelajaran matematika melalui kombinasi model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick secara klasikal minimal 75% (tuntas klasikal).
3. Gain ternormalisasi (peningkatan) hasil belajar matematika siswa setelah diajar melalui kombinasi model kooperatif tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick minimal kategori sedang dengan nilai gain lebih dari 0,3.
BAB III
METODE PENELITIAN A. Rancangan Penelitian
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimen yang melibatkan satu kelompok yang bertujuan untuk mengetahui keefektifan pembelajaran matematika melalui model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick pada siswa kelas VII MTs Aisyiyah Sungguminasa.
2. Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Hasil belajar matematika siswa setelah diajarkan melalui model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
b. Aktivitas siswa selama pembelajaran matematika selama diterapkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
c. Respon siswa terhadap pembelajaran matematika selama diterapkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
3. Desain Penelitian
Pada penelitian ini menggunakan desain The One Group Pretest-Posttest yaitu sebuah eksperimen yang dilaksanakan dengan satu kelompok yang diberikan pretest sebelum diberikan perlakuan atau treatmant dan posttest setelah diberikan perlakuan.
Tabel.3.1 Desain Penelitian
Keterangan:
Pre-test Variabel Post-test
O1 X O2
O1 : Pretest, yaitu tes untuk mengetahui kemampuan awal siswa sebelum diterapkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
X : Treatment (perlakuan) model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick dalam pembelajaran matematika
O2 : Posttest, yaitu tes hasil belajar matematika siswa setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif kombinasi tipe Think Pair Share (TPS) dan Talking Stick.
B. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII MTs Aisyiyah Sungguminasa tahun ajaran 2019/2020 yang terdiri dari kelas VII A, kelas VII B, dan kelas VII C dengan jumlah 105 peserta didik dari 3 kelas.
2. Sampel
Sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut. Sedangkan teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah cluster random sampling.
Teknik ini digunakan untuk menentukan sampel bila objek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas. Serta apabila populasi tidak terdiri dari individu- individu, melainkan terdiri dari kelompok-kelompok individu atau cluster.
Adapun tahap dalam menentukan sampel yaitu tahap pertama menentukan sampel daerah, dan tahap berikutnya menentukan individu yang ada pada daerah itu secara sampling juga, (Sugiyono, 2018:83).