EVALUASI PELAKSANAAN SMK3 DI
PT. BALI MAYA PERMAI FOOD CANNING INDUSTRY
OLEH:
dr. Ni Luh Putu Ariastuti, MPH
PROGRAM STUDI SARJANA KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2022
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena atas karunia-Nya, Laporan Evaluasi Pelaksanaan SMK3 di PT Bali Maya Permai Canning Industry ini dapat diselesaikan. Laporan ini disusun dalam rangka melengkapi materi pembelajaran untuk divisi kesehatan kerja Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Universitas Udayana.
Semua tahapan laporan dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya berkat dukungan berbagai pihak.
Diharapkan hasil laporan ini dapat memberikan manfaat kepada pembaca dan dapat menjadi inspirasi dalam perencanaan kegiatan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia dan khususnya di Bali.
Denpasar, Februari 2022
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI ... 3
BAB I PENDAHULUAN ... 4
1.1. Latar Belakang ... 4
1.2. Rumusan Masalah ... 6
1.3. Tujuan Penelitian ... 7
1.4. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 8
1.1. Profil Perusahaan ... 8
1.2. Sistem Kerja di Perusahaan ... 9
1.3. Sistem Majamen K3 ... 10
1.4. Penilaian SMK3 ... 13
BAB III METODE OBSERVASI ... 17
2.1. Lokasi ... 17
2.2. Sumber dan Jenis Data ... 17
2.3. Pengumpulan Data... 17
2.4. Analisis Data... 18
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 19
3.1. Hasil Temuan Observasi berdasarkan Checklist Audit ... 19
3.2. Pembahasan ... 20
BAB V PENUTUP ... 30
5.1. Kesimpulan ... 30
5.2. Rekomendasi Bagi Perusahaan ... 31
DAFTAR PUSTAKA ... 36
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Kemajuan bidang industrialisasi, penerapan teknologi yang canggih seperti penggunaan mesin, bahan-bahan dan peralatan baru yang rumit serta kompleks dalam meningkatkan produktivitas kerja secara teknis saat ini sangat diperlukan. Namun, dalam penggunaan teknologi ini seringkali tidak diikuti dengan persiapan sumber daya manusia (SDM) yang memadai terutama dalam segi kualitas. Secara umum, penyebab kecelakaan kerja terbagi menjadi dua kategori yaitu yang disebabkan karena kondisi tidak aman (unsafe condition) terjadi apabila pelaksanaan kegiatan pekerja di lingkungan kerja tidak menaati peraturan dan prosedur yang telah ditetapkan, sedangkan yang disebabkan karena tindakan tidak aman (unsafe action) terjadi jika pekerja tidak mengetahui, tidak mampu, dan tidak mau menjalankan prosedur kerja dan peraturan yang telah ditetapkan(Yuliandi and Ahman, 2019).
Berdasarkan data dari International Labor Organization (ILO) tahun 2018, tingkat kecelakaan kerja dan berbagai ancaman keselamatan dan kesehatan kerja (K3) di Indonesia masih cukup tinggi. Berbagai kecelakaan kerja masih sering terjadi dalam proses produksi, lebih dari 6000 kasus kecelakaan kerja mengakibatkan korban fatal. Merujuk pada data BPJS Ketenagakerjaan, pada tahun 2019 terdapat 114 ribu kasus kecelakaan kerja. Sementara, tahun 2020 angka ini meningkat, pada rentang Januari hingga Oktober 2020, BPJS Ketenagakerjaan mencatat terdapat 177 ribu kasus kecelakaan kerja(Widianto,2021).
Upaya pemerintah dalam mengurangi angka kecelakaan kerja dengan mengeluarkan Undang-Undang RI No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Pasal 87 UU tersebut mewajibkan setiap perusahaan menerapkan SMK3 sebagai bagian dari Manajemen perusahaan, dan bagi yang tidak menerapkannya akan diberi sanksi. Pemerintah juga mengeluarkan PERMENAKER No.05/MEN/1996 tentang pedoman penerapan SMK3 dan parameter audit SMK3. Selain itu, telah dikeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 50 tahun 2012 tentang SMK3. PP tersebut merupakan peraturan pelaksanaan dari pasal 87 UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. PP Nomor 50 tahun 2012 menyatakan perusahaan yang memiliki karyawan lebih dari seratus atau kurang dari seratus tetapi memiliki potensi bahaya kecelakaan kerja cukup tinggi, maka wajib menerapkan SMK3(Herlinawati and Zulfikar, 2020).
Menurut Peraturan Pemerintah No. 50 tahun 2012, sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja atau SMK3 merupakan bagian dari sistem manajemen perusahaan untuk pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif, serta bagi perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak seratus orang atau lebih atau mengandung potensi bahaya tinggi yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan produksi yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja, wajib menerapkan SMK3.
Secara garis besar, apabila sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja pada suatu perusahaan tersebut masih buruk maka akan berisiko buruk bagi para pekerja. Risiko ini dapat berupa kecelakaan ringan, kecelakaan berat, serta yang paling serius dapat berupa kematian
bagi para pekerja. Untuk mencegah hal ini menjadi semakin besar, terdapat beberapa cara yang dilakukan perusahaan yang berpatokan kepada kebijakan serta keputusan divisi terkait guna memikirkan solusi yang dapat dilakukan (Anita, 2012).
Upaya yang sudah dilakukan PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry dalam menanggulangi risiko kecelakaan dapat ditekan serendah- rendahnya yakni telah diberlakukannya sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (SMK3) di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry, hal ini merupakan upaya PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry dalam memenuhi pasar internasional untuk ekspor ke luar negeri yang mensyaratkan agar produk ekspor yang dikirim oleh PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry supaya dipasang label keamanan produk berdasarkan standar yang ada.
Pada kesempatan ini, penulis berkesempatan untuk turun ke lapangan secara langsung memperhatikan dan belajar kepada perusahaan terkait pada hal ini adalah PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry tentang sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang diterapkan di perusahaan ini. Selain itu penulis juga melakukan observasi secara langsung terhadap rancangan, kebijakan, serta layout yang berhubungan langsung dengan sistem manajemen kesehatan dan keselamatan kerja yang dilaksanakan.
1.2. Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana penerapan SMK3 di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry?
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1. Mengetahui penerapan SMK3 di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Memahami penerapan SMK3 di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry
1.4.2. Memberikan rekomendasi kepada di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry dari hasil temuan audit
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1. Profil Perusahaan
PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry merupakan sebuah perusahaan yang mulai beroperasi pada tahun 1978 sebagai produsen makanan laut kaleng, dan selama lebih dari 35 tahun menjadi salah satu produsen ikan kaleng terbesar di Indonesia. Dimana pabrik produksinya terletak strategis di tepi Selat Bali, yang banyak dijumpai habitat alami ikan sarden minyak, dan produk ini dikemas untuk memastikan bahwa kualitas dan kesegaran terjamin dan produk ini terkenal. PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry memberikan tiga kategori produk berkualitas yaitu sarden kalengan, tuna kalengan, dan makarel kalengan.
Setelah lebih dari 3 dekade beroperasi dan pengalaman luar biasa yang diperoleh, memungkinkan perusahaan ini untuk memberikan inovasi dan layanan produk berkualitas tinggi kepada pelanggannya. PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry mempekerjakan lebih dari 1.500 pekerja terlatih yang mampu memproduksi lebih dari 80 ton ikan setiap hari.
Perusahaan ini juga dilengkapi dengan penyimpanan dingin, dan memelihara persediaan ikan yang cukup dari sumber di seluruh dunia. PT.
Bali Maya Permai Food Canning Industry berdedikasi untuk meningkatkan kualitas produk secara terus menerus dan berkomitmen kuat untuk kepuasan pelanggan. Dan di dunia saat ini, perusahaan akan terus bergerak maju
untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar dan menjadi pengolah ikan kalengan terkemuka di negara ini.
1.1.1 Visi Perusahaan
Menciptakan bisnis yang berkelanjutan dengan memastikan kualitas, inovatif dan kreatif
1.1.2 Misi Perusahaan
1.1.3 Untuk menyediakan produk rasa yang aman, sehat, berkualitas premium, dan lezat dengan teknologi dan pengetahuan baru yang tinggi.
1.1.4 Komitmen yang kuat terhadap kepuasan pelanggan dan menjaga hubungan baik dengan pelanggan.
1.1.5 Memberikan kepemimpinan dan bimbingan dalam pengembangan, implementasi, dan administrasi kebijakan dan prosedur yang adil, sehingga mendorong lingkungan kerja yang positif.
1.1.6 BMP juga terlibat dalam program produksi jangka panjang untuk mengurangi limbah dan jejak lingkungan.
1.2. Sistem Kerja di Perusahaan
PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry dalam menetukan sistem kerjanya didasari pada peraturan UU Keselamatan kerja, dimana waktu dalam bekerja yaitu 7 jam kerja, waktu dalam istrirahat yaitu 1 jam dan waktu dalam lembur yaitu 2 jam. Setiap pekerja di perusahaan ini, diwajibkan untuk mengikuti traning pegawai yang dilakukan setiap tahunnya.Selain itu, ada pengawasan tim yaitu per 3 bulan sekali akan dilakukan audit internal, dan setiap harinya akan ada control pada ruangan
ditiap-tiap proses produksi. Pada perusahaan ini juga terdapat berbagai jenis karyawan yaitu, karyawan tetap, karyawan harian dan karyawan borongan.
Dimana karyawan di perusahaan ini akan melakukan pemeriksaan tenaga kerja yang dilakukan setiap setahun sekali periode bulan Agustus sampai Oktober yang akan diperiksa oleh dokter yang memiliki sertifikat industri sesuai peraturan yang ada.
1.3. Sistem Majamen K3
Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja menurut PP.
No.50 tahun 2012 merupakan bagian dari sistem manajemen dalam perusahaan secara keseluruhan dalam rangka pengendalian risiko terkait kegiatan kerja agar terciptanya lingkungan kerja yang aman, produktif, dan efisien. Penerapan SMK3 diatur melalui beberapa undang-undang dimana SMK3 wajib (Nugroho,2013) untuk diterapkan kepada seluruh perusahaan baik perusahaan yang besar maupun perusahaan kecil. Adapun dasar hukum penerapan SMK3 yaitu, UU No. 01 Tahun 1970 mengenai Keselamatan Kerja, UU No. 13 Tahun 2003 mengenai ketenagakerjaan, UU No. 02 Tahun 2017 mengenai jasa konstruksi, Peraturan menteri ketenagakerjaan (Permenaker) No. 26 tahun 2014, Peraturan pemerintah No. 50 Tahun 2012 tentang sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja, Peraturan menteri pekerjaan umum no. 05 Tahun 2014 tentang pedoman sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja konstruksi bidang pekerjaan umum, Peraturan menteri kesehatan No. 66 Tahun 2016 tentang keselamatan dan kesehataan kerja rumah sakit.
Tujuan penerapan SMK3 sesuai dengan peraturan pemerintah No.
50 Tahun 2012 yakni meningkatkan efektifitas perlindungan keselamatan kerja serta kesehatan kerja yang terencana, terstruktur, terukur serta terintegrasi, kemudian mencegah serta mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang melibatkan berbagai unsur seperti unsur manajemen, pekerja maupun serikat pekerja dan menciptakan tempat kerja yang aman guna mendorong produktivitas. (Putra dkk, 2015)
Perusahaan yang wajib menerapkan SMK3 yakni perusahaan yang memiliki tenaga kerja/buruh minimal 100 orang atau perusahaan yang memiliki tingkat potensi bahaya tinggi. Sistem Manajemen K3 terdiri dari beberapa tahapan antara lain :
1. Penetapan Kebijakan K3
Kebijakan K3 yang disusun paling sedikit memuat mengenai visi, tujuan perusahaan, komitmen, dan kerangka serta program kerja yang mencakup kegiatan perusahaan secara komprehensif yang bersifat operasional
2. Perencanaan
Perencanaan dilakukan dengan tujuan menghasilkan rencana K3.
Rencana K3 disusun dan ditetapkan oleh pengusaha dengan mengacu pada kebijakan K3 yang telah ditetapkan.. Perusahaan wajib melibatkan Ahli K3, Panitia Pembina K3, wakil pekerja/buruh, dan pihak lain yang terkait di perusahaan pada saat penyusunan rencana K3.
3. Pelaksanaan Rencana K3
Pengusaha dalam melaksanakan rencana K3, harus melakukan kegiatan dalam pemenuhan persyaratan K3. Pengusaha dalam melaksanakan kegiatan harus melaksanakan hal-hal yang mengintegrasikan manajemen K3 dengan manajemen perusahaan yang meliputi menunjuk sumber daya manusia yang mempunyai kompetensi kerja dan kewenangan di bidang K3, melibatkan seluruh pekerja/buruh, membuat petunjuk K3 yang harus dipatuhi, membuat prosedur informasi, membuat prosedur pelaporan
4. Pemantauan dan evaluasi K3
Pemantauan dan evaluasi kinerja K3 wajib dilakukan oleh sumber daya manusia yang kompeten melalui pemeriksaan, pengujian, pengukuran, dan audit internal SMK3.
5. Peninjauan dan Peningkatan Kinerja SMK3
Peninjauan dan peningkatan kinerja SMK3 dilakukan untuk menjamin kesesuaian dan efektifitas penerapan SMK3. Peninjauan dilakukan terhadap kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi sehingga dapat digunakan untuk melakukan perbaikan dan peningkatan kinerja dalam hal jika terjadi perubahan peraturan perundang- undangan, adanya tuntutan dari pihak yang terkait dan pasar, adanya perubahan produk dan kegiatan perusahaan, terjadi perubahan struktur organisasi perusahaan, adanya perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, termasuk epidemiologi, adanya hasil kajian kecelakaan di tempat kerja.
1.4. Penilaian SMK3
Penilaian penerapan SMK3 dilakukan oleh lembaga audit independen yang ditunjuk langsung oleh Menteri atas permohonan perusahaan. Hasil audit selanjutnya dilaporkan kepada Menteri dengan tembusan disampaikan kepada menteri pembina sektor usaha, gubernur, dan bupati/walikota sebagai bahan pertimbangan dalam upaya peningkatan SMK3. Pedoman penilaian penerapan SMK3 (Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja) meliputi:
1.4.1. Kriteria Audit SMK3
1. Pembangunan dan pemeliharaan komitmen terdiri atas kebijakan K3, tanggung jawab dan wewenang untuk bertindak, tinjauan dan evaluasi, serta keterlibatan dan konsultasi dengan tenaga kerja.
2. Pembuatan dan pendokumentasian rencana K3 yang meliputi rencana strategi K3, manual SMK3, peraturan perundangan dan persyaratan lain di bidang K3, dan informasi K3.
3. Pengendalian perancangan dan peninjauan kontrak yang terdiri atas pengendalian perancangan dan peninjauan kontrak.
4. Pengendalian dokumen yang meliputi persetujuan, pengeluaran, dan pengendalian dokumen serta perubahan dan modifikasi dokumen.
5. Pembelian dan pengendalian produk yang terdiri dari spesifikasi pembelian barang dan jasa, sistem verivikasi barang dan jasa yang telah
dibeli, pengendalian barang dan jasa yang dipasok pelanggan, serta kemampuan telusur produk.
6. Keamanan berkerja berdasarkan SMK3 yang meliputi sistem kerja, pengawasan, seleksi dan penempatan personil, area terbatas, pelayanan, pemeliharaan, perbaikan, dan perubahan sarana prduksi serta kesiapan untuk mengangani keadaan darurat. Komponen penilaian yang lainnya yakni pertolongan pertama pada kecelakaan dan rencana pemulihan keadaan darurat.
7. Standar pemantauan yang meliputi pemeriksaan bahaya, pemantauan lingkungan kerja, inspeksi, pengukuran, dan pengujian. Standar pemantauan juga dilihat dari aspek pemantauan kesehatan tenaga kerja.
8. Pelaporan dan perbaikan kekurangan terdiri dari pelaporan biaya, pelaporan kecelakaan, pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan, serta penanganan masalah.
9. Pengelolaan material dan perpindahannya yang meliputi penanganan
secara manual dan mekanis, sistem
pengangkutan/penyimpanan/pembuangan, dan pengumpulan Bahan Kimia Berbahaya (BKB).
10. Pengumpulan dan penggunaan data meliputi catatan K3, data dan laporan K3.
11. Pemeriksaan SMK3 yang meliputi audit internal SMK3.
12. Pengembangan keterampilan dan kemampuan yang meliputi starategi pelatihan, pelatihan bagi manajemen dan tenaga kerja, pelatihan pengenalan dan pelatihan untuk pengunjung dan kontraktor, dan pelatihan keahlian khusus.
1.4.2. Penetapan Kriteria Audit Tiap Tingkat Pencapaian Penerapan SMK3 Pelaksanaan penilaian dilakukan berdasarkan tingkatan penerapan SMK3 yang meliputi tiga tingkatan diantaranya, penilaian Tingkat awal, yaitu penilaian penerapan SMK3 terhadap 64 kriteria, penilaian Tingkat Transisi, yang meliputi penilaian terhadap 122 kriteria serta penilaian Tingkat Lanjutan, yang meliputi penilaian terhadap 166 kriteria.
1.4.3. Ketentuan Penilaian Hasil Audit SMK3
Hasil Audit SMK3 terdiri dari 3 kategori yaitu: kategori tingkat awal, kategori penilaian tingkat transisi, dan kategori tingkat lanjutan perusahaan. Tingkat penilaian penerapan SMK3 ditetapkan menjadi:
Tingkat penilaian penerapan kurang (tingkat pencapaian penerapan 0-59%),
Tingkat penilaian penerapan baik (tingkat pencapaian penerapan 60-84%),dan
Tingkat penilaian penerapan memuaskan (pencapaian 85-100%).
Selain penilaian terhadap tingkat pencapaian penerapan SMK3, juga dilakukan penilaian terhadap perusahaan berdasarkan kriteria yang menurut sifatnya dibagi atas 3 kategori, yaitu
Kategori kritikal (temuan yang mengakibatkan fatality), Kategori mayor (temuan apabila perusahaan tidak memenuhi ketentuan peraturan perundangundangan, tidak melaksanakan salah
satu prinsip SMK3, dan terdapat temuan minor untuk satu kriteria audit di beberapa lokasi), dan
Kategori minor (temuan apabila suatu perusahaan mengalami ketidakkonsistenan dalam pemenuhan persyaratan peraturan perundang-undangan, standar, pedoman, dan acuan lainnya).
BAB III
METODE OBSERVASI 2.1. Lokasi
Penulis melakukan penelitian mengenai Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry yang bertempat di Jalan Raya Pengambengan, Desa Tegal Badeng, Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, Bali.
2.2. Sumber dan Jenis Data
Sumber dan jenis data yang digunakan dalam laporan ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dengan cara melakukan wawancara dan observasi secara langsung. Sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen yang yang telah ada dari pihak perusahaan PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry.
2.3. Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam laporan ini adalah observasi dan wawancara langsung dengan Bapak Eka Sabara yang merupakan Human Resource (HR) Manager di PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry. Selain itu, pengumpulan data juga dilakukan dengan metode desk study menggunakan data sekunder berupa dokumen-dokumen perusahaan yang terkait dengan sistem manajemen K3, seperti panduan emergency response manual, dokumen pemeriksaan kesehatan karyawan, dokumen mengenai bahan kimia berbahaya, laporan kegiatan Panitia Pembina Kesehatan dan Keselamatan Kerja (P2K3), dan lain sebagainya.
2.4. Analisis Data
Laporan ini ditulis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif argumentatif, dengan melakukan seleksi yang menyesuaikan dengan topik pembahasan dan ditulis secara sistematis pada pembahasannya.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Hasil Temuan Observasi berdasarkan Checklist Audit
Pelaksanaan audit Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) yang dilakukan pada PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry menggunakan 12 ruang lingkup audit sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3. 12 ruang lingkup SMK3 meliputi Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen, Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3, Peninjauan Ulang Desain dan Kontrak, Pengendalian Dokumen, Penilaian dan Pengendalian Produk, Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK3, Standar Pemantauan, Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan, Pengelolaan Material dan Perpindahannya, Pengumpulan dan Penggunaan Data, Pemeriksaan SMK3, serta Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan.
Berdasarkan hasil audit dengan metode melakukan check list pada lembar audit SMK3 didapatkan hasil bahwa dari 12 poin dengan 166 sub poin di dalamnya terdapat 151 sub poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 15 sub poin lainnya masuk dalam penilaian tidak sesuai.
Apabila 15 sub poin yang masuk dalam penilaian tidak sesuai diasumsikan sebagai kategori di luar penilaian yang sesuai maka persentase kesesuaian penerapan SMK3 secara keseluruhan mencapai 90,9% dengan tingkat penilaian masuk dalam penerapan yang memuaskan. Tingginya persentase kesesuaian penerapan SMK3 pada industri salah satunya dikarenakan PT.
Bali Maya Permai Food Canning Industry merupakan industri multinasional dimana audit yang dilakukan secara berkala sudah sesuai dengan audit nasional dan internasional (British Retail Consortium Audit).
3.2. Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi langsung ke PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry yang beralamat di Jl. Raya Pengambengan No.Desa, Tegal Badeng Bar., Kec. Negara, Kabupaten Jembrana, Bali, pembahasan hasil audit SMK3 berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3 sebagai berikut:
1. Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen
Pada poin pembangunan dan pemeliharaan komitmen terdapat 26 sub poin yang ada di dalam 4 kategori. Dari 26 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa ada 21 poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 5 lainnya masuk dalam kategori tidak sesuai. Berikut penjelasan 5 sub poin yang tidak sesuai:
a. Sub poin 1.1.4 Kebijakan khusus dibuat untuk masalah K3 yang bersifat khusus, pada perusahaan ini kebijakan dibuat secara umum dan tidak ada termuat kebijakan khusus untuk masalah yang spesifik. Auditor mengkategorikan pada penilaian kategori minor dengan alasan bahwasannya secara keseluruhan kebijakan yang dibuat sudah bersifat umum dan menyeluruh dimana pun tidak ada kasus khusus yang membutuhkan kebijakan khusus. Sehingga poin ini dianggap masih bisa ditoleransi dengan catatan harus diberi
kritikal dengan memberikan saran kepada pihak perusahaan untuk dilakukan peninjauan ulang dan apabila dibutuhkan kebijakan khusus maka perusahaan dapat melakukan perubahan dengan membuatkan kebijakan khusus untuk kasus permasalahan K3 yang bersifat khusus.
b. Sub poin 1.4.1 Keterlibatan dan penjadwalan konsultasi tenaga kerja dengan wakil perusahaan didokumentasikan dan disebarluaskan ke seluruh tenaga kerja. Dalam hal penjadwalan dan dokumentasi konsultasi antara tenaga kerja dengan wakil perusahaan tidak disebarluaskan. Pada poin ini auditor mengkategorikan dalam penilaian kategori mayor sebab seharusnya sesuai dengan regulasi, penjadwalan dan dokumentasi kegiatan harus disebarluaskan untuk bisa menghimbau tenaga kerja untuk berpartisipasi aktif dalam peningkatan produktivitas kerja sehingga keterbukaan informasi dapat memudahkan proses SMK3 yang berlangsung di dalam internal perusahaan.
c. Sub poin 1.4.5 Sekretaris P2K3 adalah ahli K3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Di perusahaan ini, seluruh anggota divisi K3 yang tersebar di 6 departemen PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry bukan ahli K3 dan tidak memiliki sertifikat khusu K3 ahli sesuai bidangnya hanya saja mereka memang mendapatkan pelatihan dari pihak pemerintah dan swasta terkait SMK3. Dalam sub poin ini, auditor menilai masuk dalam kategori mayor sebab sesuai dengan PP No.50 Tahun 2012 tentang
Penerapan SMK3 divisi K3 seharusnya diisi oleh ahli K3 yang bersertifikat sesuai dengan keahliannya.
d. Sub poin 1.4.8 P2K3 mengadakan pertemuan secara teratur dan hasilnya disebarluaskan di tempat kerja. Di perusahaan ini sudah dilakukan pertemuan secara teratur tetapi hasilnya tidak disebarluaskan di tempat kerja sehingga auditor mengkategorikan dalam penilaian dengan kategori minor. Penyebarluasan hasil pertemuan dianggap penting selain untuk memberi peringatan juga dapat memberikan informasi kepada tenag kerja yang tidak hadir dalam pertemuan. Sehingga harapannya informasi yang didapatkan dapat bersifat holistik. Perusahaan kedepannya secara terstruktur dapat menyebarluaskan hasil pertemuan minimalnya pada papan pengumuman atau broadcast pada media sosial yang digunakan.
e. Sub poin 1.4.9 P2K3 melaporkan kegiatannya secara teratur sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Auditor mengkategorikan penilaian pada poin ini ke dalam penilaian kategori minor dengan alasan pelaporan beberapa kali tidak tercatat sehingga perlu adanya monitoring dan evaluasi dalam hal pelaporan kegiatan agar dapat dilakukan secara teratur sesuai dengan regualsi yang ada.
2. Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3
Pada poin pembuatan dan pendokumentasian rencana K3 terdapat 14 sub poin yang ada di dalam 4 kategori. Dari 14 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa seluruh sub poin masuk dalam
kategori sesuai dan memenuhi kriteria sesuai dengan regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3.
3. Pengendalian Perancangan dan Peninjauan Kontrak
Pada poin pengendalian perencanaan dan peninjauan kontrak terdapat 8 sub poin yang ada di dalam 2 kategori. Dari 8 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa seluruh sub poin masuk dalam kategori sesuai dan memenuhi kriteria sesuai dengan regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3.
4. Pengendalian Dokumen
Pada poin pengendalian dokumen terdapat 7 sub poin yang ada di dalam 2 kategori. Dari 7 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa ada 5 poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 2 lainnya masuk dalam kategori tidak sesuai. Berikut penjelasan 2 sub poin yang tidak sesuai:
a. Sub poin 4.2.2 Dalam hal ini terjadi perubahan diberikan alasan terjadinya perubahan dan tertera dalam dokumen atau lampirannya dan menginformasikan kepada pihak terkait. Saat auditor memeriksa beberapa dokumen amandemen, tidak ada lampiran terkait alasan terhadap perubahan yang dilakukan dalam hal ini auditor mengkategorikan dalam penilaian dengan kategori mayor dimana seharusnya perusahaan perlu melampirkan alasan terjadinya perubahan dalam setiap kebijakan yang ada terkait SMK3.
b. Sub poin 4.2.3 Terdapat prosedur pengendalian dokumen taua daftar seluruh dokumen yang mencantumkan status dari setiap dokumen tersebut, dalam upaya mencegah penggunaan dokumen yang usang. Perusahaan ini beberapa kali melakukan amandemen tetapi daftar amandemen yang dilakukan tidak ada diberitahukan atau disebarluaskan di seluruh perusahaan sehingga auditor mengkategorikan penilaian dalam penilaian kategori minor dimana harapannya perusahaan dapat mencantumkan daftar amandemen dan tanggal berlaku atau tidak berlaku secara rinci di papan pengumuman setiap departemen sebagai pengingat untuk seluruh tenaga kerja termasuk para petinggi perusahaan.
5. Penilaian dan Pengendalian Produk
Pada poin penilaian dan pengendalian produk terdapat 9 sub poin yang ada di dalam 4 kategori. Dari 9 sub poin tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat 8 poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan dua diantaranya tidak masuk dalam kategori sesuai. Berikut penjelasan sub poin yang tidak sesuai:
a. Sub poin 5.1.3 Konsultasi dengan tenaga kerja yang kompeten pada saat keputusan pembelian, dilakukan untuk menetapkan persyaratan K3 yang dicantumkan dalam spesifikasi pembelian dan diinformasikan kepada tenaga kerja yang menggunakannya. Dalam hal ini Auditor mengkategorikan penilaian pada kategori minor karena beberapa kali tenaga kerja yang kompeten tidak melakukan konsultasi dalam membuat keputusan pembelian namun pembelian
yang dilakukan masih sesuai dengan syarat K3 dalam spesifikasi pembelian dan tetap diinformasikan kepada tenaga kerja yang akan menggunakannya. Sehingga perlu dilakukan monitoring dan evaluasi dalam hal konsultasi dengan tenaga kerja yang kompeten dalam mengambil keputusan pembelian sehingga dapat dengan mudah menetapkan persyaratan K3 dalam spesifikasi pembelian.
b. Sub poin 5.3.1 Barang dan jasa yang dipasok pelanggan, sebelum digunakan terlebih dahulu diidentifikasi potensi bahaya dan dinilai risikonya dan catatan tersebut dipelihara untuk memeriksa prosedur. Pada sub poin ini auditor mengkategorikan sub poin ini dengan penilaian mayor dikarenakan perusahaan tidak dapat langsung mendistribusi pasokan terhadap pelanggan melainkan harus dikirim terlebih dahulu ke distributor pusat sesuai regulasi.
Oleh karenanya pemasokan ke pelanggan tidak menjadi tanggung jawab perusahaan, sehingga untuk identidikasi potensi bahaya maupun risikonya serta catatan dari pengidentifikasian tersebut tidak terdapat pada perusahaan ini.
6. Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK3
Pada poin keamanan bekerja berdasarkan SMK3 terdapat 41 sub poin yang ada di dalam 9 kategori. Dari 41 sub tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat 40 sub poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 1 diantaranya tidak masuk dalam kategori sesuai.
Berikut penjelasan sub poin yang tidak sesuai tersebut:
a. Sub poin 6.7.1 Keadaan darurat yang potensial di dalam dan/atau di luar tempat kerja telah diidentifikasi dan prosedur keadaan darurat telah didokumentasikan dan diinformasikan agar diketahui oleh seluruh orang yang ada di tempat kerja. Pada sub poin ini auditor mengkategorikan penilaian minor dengan alasan perusahan sudah memberikan pelatihan SOP seperti penanganan kebakaran namun ada sebagian pekerja yang masih belum memahami bagaimana melaksanakan SOP tersebut.
7. Standar Pemantauan
Pada poin keamanan standar pemantauan terdapat 17 sub poin yang ada di dalam 4 kategori. Dari 17 sub poin tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat 40 poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 1 diantaranya tidak masuk dalam kategori sesuai. Berikut penjelasan sub poin yang tidak sesuai tersebut:
a. Sub poin 7.2.2 Pemantauan/pengukuran lingkungan kerja meliputi faktor fisik, kimia, biologi, ergonomi dan psikologi. Pada sub poin ini Auditor memberi penilaian minor dengan alasan pemantauan tidak dilakukan secara rutin hanya dilakukan sesekali dalam kurun waktu dan tidak dilakukan secara konsisten.
8. Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan
Pada poin pelaporan dan perbaikan kekurangan terdapat 9 sub poin yang ada di dalam 4 kategori. Dari 9 sub poin tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat 40 poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori
sesuai dan 2 diantaranya tidak masuk dalam kategori sesuai. Berikut penjelasan sub poin yang tidak sesuai tersebut:
a. Sub poin 8.3.2 Pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan kerja dilakukan oleh petugas atau Ahli K3 yang ditunjuk sesuai peraturan perundang-undangan atau pihak lain yang berkompeten dan berwenang. Pada sub poin ini auditor mengkategorikan sub poin ini dalam penilaian minor dengan alasan pada perusahaan ini tidak memiliki ahli k3 jadi koordinator dari tiap departemen merangkap untuk melakukan pemeriksaan serta mengkaji kecelakaan kerja maka dari itu tidak mendapatkan hasil yang maksimal
b. Sub poin 8.3.6 Pelaksanaan tindakan perbaikan dipantau, didokumentasikan dan diinformasikan ke seluruh tenaga kerja.
Pada sub bagian ini Auditor mengkategorikan sub bagian ini dengan penilaian mayor disebabkan ketika melakukan pelaksanaan tindakan perbaikan selalu di pantau langsung namun untuk pendokumentasian dan penginformasian terhadap seluruh tenaga kerja tidak dilakukan oleh perusahaan.
9. Pengelolaan Material dan Perpindahannya
Pada poin pengelolaan material dan perpindahannya terdapat 11 sub poin dari 3 kategori. Dari 11 sub poin tersebut diperoleh hasil bahwa terdapat 10 poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 1 diantaranya tidak masuk dalam kategori sesuai. Berikut penjelasan 1 sub poin yang tidak sesuai:
a. Sub poin 9.3.4 Rambu peringatan bahaya terpasang sesuai dengan persyaratan peraturan perundang-undangan dan/atau standar yang relevan. Maka dalam hal ini Auditor mengkategorikan pada penilaian kategori kritikal dengan alasan bahwasannya kurangnya dari pihak perusahaan dalam memasang rambu-rambu peringatan berbahaya dan hanya dipasang di beberapa tempat saja dan tidak menyeluruh dapat menyebabkan bahaya luka- luka hingga terjadinya kematian fatal.
10. Pengumpulan dan Penggunaan Data
Pada poin pengumpulan dan penggunaan data terdapat 6 sub poin dari 2 kategori. Dari 6 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa seluruh sub poin masuk dalam kategori sesuai dan memenuhi kriteria sesuai dengan regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3.
11. Pemeriksaan SMK3
Pada poin pemeriksaan K3 terdapat 3 sub poin dari 1 kategori.
Dimana kategori tersebut adalah audit internal SMK3. Dari 3 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa seluruh sub poin masuk dalam kategori sesuai dan memenuhi kriteria sesuai dengan regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3.
12. Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan
Pada poin pengembangan keterampilan dan kemampuan terdapat 14 sub poin dari 5 kategori. Dari 14 sub poin dalam kategori tersebut didapatkan hasil bahwa seluruh sub poin masuk dalam kategori sesuai dan memenuhi kriteria sesuai dengan regulasi dalam Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3.
‘
BAB V
PENUTUP 4.1. Kesimpulan
PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry dalam menetukan sistem kerjanya didasari pada peraturan UU Keselamatan kerja. Pengawasan tim berupa audit internal dilakukan per 3 bulan sekali dan setiap harinya akan ada control pada ruangan ditiap-tiap proses produksi. Pelaksanaan audit SMK3 yang dilakukan menggunakan 12 ruang lingkup audit sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan SMK3.
hasil audit dengan metode check list pada lembar audit SMK3 memperoleh hasil dari 12 poin dengan 166 sub poin di dalamnya terdapat 151 sub poin yang masuk dalam penilaian dengan kategori sesuai dan 15 sub poin lainnya masuk dalam penilaian tidak sesuai dengan kategori yang bervariasi.
Persentase kesesuaian penerapan SMK3 secara keseluruhan pada PT.
Bali Maya Permai Food Canning Industry mencapai 90,9% dengan tingkat penilaian masuk dalam penerapan yang memuaskan apabila 15 sub poin yang masuk dalam penilaian tidak sesuai diasumsikan sebagai kategori di luar penilaian yang sesuai. Tingginya persentase kesesuaian penerapan SMK3 salah satunya dikarenakan PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry merupakan industri multinasional dimana audit yang dilakukan secara berkala sudah sesuai dengan audit nasional dan internasional (British Retail Consortium Audit).
Disamping tingkat kesesuaian yang tinggi, masih ada poin yang masuk dalam kategori kritikal dan mayor. Temuan kategori kritikal (adanya temuan
yang berakibat pada fatality) yaitu pada poin rambu peringatan bahaya terpasang sesuai dengan persyaratan peraturan perundang-undangan dan/atau standar yang relevan, dimana pada PT PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry, rambu-rambu tanda bahaya masih sangat kurang jumlahnya dan pemasangannya belum pada tempat yang mudah diakses oleh pekerja maupun tamu yang datang. Temuan kategor mayor yaitu pada poin pelaksanaan tindakan perbaikan dipantau, didokumentasikan dan diinformasikan ke seluruh tenaga kerja dimana pada PT PT. Bali Maya Permai Food Canning Industry, tindakan pemantauan sudah dilakukan namun belum didokumentasikan dan diinformasikan ke seluruh pekerja.
4.2. Rekomendasi Bagi Perusahaan
Rekomendasi yang dapat diberikan untuk temuan ketidaksesuaian pada penerapan SMK3 di beberapa perusahaan industri di Indonesia yaitu
1. Pembangunan dan Pemeliharaan Komitmen
Menyarankan pihak perusahaan untuk melakukan peninjauan ulang. Jika dibutuhkan kebijakan khusus maka perusahaan dapat melakukan perubahan dengan membuatkan kebijakan khusus untuk kasus permasalahan K3 yang bersifat khusus.
Menyarankan perusahaan untuk menaati regulasi dengan
menyebarluaskan penjadwalan dan dokumentasi kegiatan untuk menghimbau tenaga kerja agar berpartisipasi aktif dalam peningkatan produktivitas kerja sehingga keterbukaan informasi
dapat memudahkan proses SMK3 yang berlangsung di dalam internal perusahaan.
Menyarankan perusahaan untuk merekrut ahli K3 pada 6 departemen PT. Bali Maya Permai yang bersertifikat sesuai dengan keahliannya
Penyebaran informasi yang didapatkan disarankan dapat bersifat
lebih holistik. Perusahaan kedepannya secara terstruktur dapat menyebarluaskan hasil pertemuan minimalnya pada papan pengumuman atau broadcast pada media sosial yang digunakan.
Melakukan monitoring dan evaluasi dalam hal pelaporan kegiatan agar dapat dilakukan secara teratur sesuai dengan regualsi yang ada.
2. Pembuatan dan Pendokumentasian Rencana K3
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu dengan menyusun rencana strategis K3 yang berpedoman pada peraturan perundang- undangan untuk membentuk tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam hal penerapan K3 serta pihak manajemen perlu untuk menetapkan SDM dalam bidang K3 yang cukup sehingga terdapat penanggung jawab yang akan memelihara dan mendistribusikan informasi terbaru terkait persyaratan K3.
3. Pengendalian Perancangan dan Peninjauan Kontrak
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu selama tahap perancangan K3, baik prosedur, instruksi kerja, serta informasi lainnya terkait K3 dapat dikembangkan dan diinformasikan kepada seluruh tenaga kerja serta ditinjau secara ulang dan berkala jika terdapat perubahan.
4. Pengendalian Dokumen
Dokumen merupakan informasi tertulis yang menguraikan persyaratan, proses/kegiatan dan tanggung jawab dari masing-masing bagian terkait. Untuk itu, pengendalian dokumen sebaiknya dilaksanakan dengan prosedur yang tepat untuk memelihara catatan K3 agar mudah dibaca, diambil, dan ditunjukkan bila diperlukan. Dokumen dan catatan harus disimpan pada media yang aman dan sesuai dengan jenis dokumen. Apabila dokumen telah kadaluarsa, maka harus ditarik dari penggunaan dan disimpan terpisah dari dokumen asli yang masih berlaku.
5. Penilaian dan Pengendalian Produk
Adapun rekomendasi yang dapat diberikan yaitu sebelum melakukan pembelian barang atau jasa, dilakukan konsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kerja yang berkompeten untuk menetapkan persyaratan K3. Hal tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi potensi bahaya yang dapat menimbulkan kecelakaan saat barang digunakan.
6. Keamanan Bekerja Berdasarkan SMK3
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu terkait dengan sistem kerja, diperlukannya sistem izin kerja pada tempat kerja yang memiliki risiko tinggi untuk memastikan keselamatan pekerja. Perusahaan perlu menerapkan prosedur kerja khusus terkait sistem izin kerja agar tiap pekerja yang bekerja di tempat berbahaya mengetahui risiko bahayanya.
Standar Pemantauan
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu dengan menunjuk petugas yang berkompeten serta telah memperoleh pelatihan identifikasi bahaya untuk melakukan pemeriksaan/inspeksi. Inspeksi dapat dilakukan oleh petugas K3 sebagai upaya mencegah terjadinya PAK dan KAK. Lingkungan kerja di perusahaan juga sebaiknya dipantau secara teratur agar dapat dilakukannya pengendalian risiko.
Pelaporan dan Perbaikan Kekurangan
Terkait dengan pemeriksaan dan pengkajian kecelakaan, sebaiknya perusahaan memiliki ahli K3 yang memahami tentang penanganan masalah K3 seperti KAK dan PAK. Selain itu, tindakan perbaikan yang dilakukan dapat diinformasikan kepada tenaga kerja dalam bentuk gambar atau simulasi.
Pengelolaan Material dan Perpindahannya
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu sebaiknya dilakukan prosedur untuk penanganan secara manual dan teknis serta penanganan bahan untuk meminimalisir terjadinya KAK dan PAK.
Pengumpulan dan Penggunaan Data
Adapun rekomendasi yang dapat diberikan yaitu Pengurus K3 sebaiknya mendokumentasikan dan menerapkan prosedur pelaksanaan identifikasi, pengumpulan, pengarsipan, pemeliharaan, dan penggantian catatan k3 di dalam perusahaan serta membuat laporan rutin K3 yang disebarluaskan kepada tenaga kerja di perusahaan.
Pemeriksaan SMK3
Pelaksanaan audit internal diperlukan untuk memastikan bahwa K3 telah memenuhi persyaratan standar yang telah ditetapkan dan
dipelihara dengan baik sehingga dapat secara efektif menyampaikan informasi yang benar kepada tim manajemen puncak dalam hasil audit.
Untuk itu laporan audit perlu didistribusikan kepada petugas lain yang berkepentingan agar dapat mengetahui kelemahan setiap unsur SMK3, sehingga dapat mencegah timbulnya kecelakaan, insiden maupun kerugian-kerugian.
Pengembangan Keterampilan dan Kemampuan
Rekomendasi yang dapat diberikan yaitu sebaiknya perusahaan melakukan analisa terhadap kebutuhan pelatihan K3 terhadap tenaga kerja agar pekerja lebih kompeten, dan melakukan peninjauan apakah pelatihan yang dilaksanakan berjalan dengan efektif. Pelatihan sebaiknya diadakan secara rutin dan terjadwalkan untuk kemudian bisa didokumentasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Anita Dewi PS. 2012. Dasar-Dasar Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Jember, UPT Penerbitan UNEJ
Herlinawati, H. and Zulfikar, A.S. (2020) ‘Analisis Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3)’, Jurnal Kesehatan, 8(1), pp. 895–
906. doi:10.38165/jk.v8i1.94.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2012 tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Ramadhan, A. (2012) Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (Smk3) (Studi Pada Proyek Pembangunan Jalan Rawa Buaya, Cengkareng).
Widianto, S. (2021) ‘Kecelakaan Kerja Masih Tinggi’, Biro Hubungan
Masyarakat, p. 7. Available at:
http://perpustakaan.kemnaker.go.id/admin/assets/product_img/pdf/13_Januari _2021.pdf.
Yuliandi, C.D. and Ahman, E. (2019) ‘Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Di Lingkungan Kerja Balai Inseminasi Buatan (Bib) Lembang’, Penerapan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja (K3) Di Lingkungan Kerja Balai Inseminasi Buatan (Bib) Lembang, 18(2), pp. 98–109.