• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA ORTHODOX

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENINGKATAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA ORTHODOX"

Copied!
66
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA ORTHODOX MELALUI PENERAPAN MEDIA BANTU PEMBELAJARAN YANG DIMODIFIKASI

PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 5 LENGKONG KECAMATAN RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA

TAHUN PELAJARAN 2010-2011

SKRIPSI

Oleh : K. KRISTIANA

X4709065

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

(2)

commit to user

PENINGKATAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA ORTHODOX MELALUI PENERAPAN MEDIA BANTU PEMBELAJARAN YANG DIMODIFIKASI

PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 5 LENGKONG KECAMATAN RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA

TAHUN PELAJARAN 2010-2011

Oleh : K. KRISTIANA

X4709065

Skripsi

Ditulis dan diajukan untuk memenuhi syarat mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Jasmani dan Kesehatan

Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

(3)

commit to user PERSETUJUAN

Skripsi ini telah disetujui untuk dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Surakarta, 8 April 2011

Pembimbing I Pembimbing II

Drs. Agustiyanto, M.Pd. Slamet Riyadi, S.Pd. M.Or.

NIP. 196808181994031001 NIP. 197011022005011002

(4)

commit to user PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta dan diterima untuk memenuhi persyaratan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan.

Hari : Jumat Tanggal : 17 Juni 2011

Tim Penguji Skripsi

Nama Terang Tanda Tangan

Ketua : Drs. Sunardi, M.Kes ...

Sekretaris : Drs. Wahyu Sulistyo, M.Kes ...

Anggota I : Drs. Agustiyanto, M.Pd ...

Anggota II : Slamet Riyadi, S.Pd,M.Or ...

Disahkan oleh

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret

Dekan

Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd.

NIP 196007271987021001

(5)

commit to user ABSTRAK

K. Kristiana. PENINGKATAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU GAYA ORTHODOX MELALUI PENERAPAN MEDIA BANTU PEMBELAJARAN YANG DIMODIFIKASI PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 5 LENGKONG KECAMATAN RAKIT KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN PELAJARAN 2010-2011, Skripsi. Surakarta : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta, Maret. 2011.

Tujuan Penelitian adalah meningkatkan hasil belajar tolak peluru gaya orthodox melalui penerapan media bantu pembelajaran yang dimodifikasi.

Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri 5 Lengkong yang berjumlah 16 siswa. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas yang dilaksanakan dalam 2 siklus. Setiap siklus terdiri dari 2 kali pertemuan dan setiap pertemuan waktunya 2 x 35 menit. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Untuk mengukur kemampuan siswa, pada setiap akhir siklus diadakan evaluasi dengan menggunakan tes unjuk kerja. Lembar observasi digunakan untuk mengetahui kegiatan guru dan keaktifan siswa.

Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata nilai hasil belajar siswa pada kondisi awal adalah 64.7, siklus I 70,0, dan pada siklus II 77,8. Prosentase kelulusan pada kondisi awal adalah 31%, siklus I sebesar 44%, dan pada siklus II sebesar 88%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian media bantu pembelajaran yang dimodifikasi dengan materi tolak peluru gaya orthodox dapat meningkatkan semangat siswa, antusias siswa, dan peningkatan hasil belajar siswa.

(6)

commit to user MOTTO

Nasehat Abu Darda dari Rosululloh SAW

”Jadilah Anda pendidik, atau anak didik atau pendengar yang baik. Jangan mendaftarkan orang jadi orang keempat (yakni) bukan pendidik, bukan pelajar, atau bukan pendengar

yang baik. Jika demikian halnya pasti Anda binasa”

H.R. Abu Hurairah

”Tuntutlah ilmu karena sesungguhnya menuntut ilmu itu diwajibkan atas tiap-tiap orang Islam. Dan bahwasannya Malaikat itu akan merendahkan sayapnya kepada orang yang

menuntut ilmu, karena sukarnya pada pekerjaan itu”

H A M K A

”Energi hidup adalah Ilmu Cahaya hidup adalah Iman Hiasan hudup adalah Amal

Maka goreskanlah dalam lembaran hidupmu Iman dan Amal”

(7)

commit to user PERSEMBAHAN

Skripsi ini dipersembahkan untuk :

- SD Negeri 5 Lengkong, sebagai tempat penelitian

- Suami tercinta, yang telah memberi semangat, bimbingan dan dukungan yang berarti sehingga skripsi ini dapat terselesaikan

- Anakku Haris, Ering, dan Diva tersayang yang telah mendukung penulisan skripsi - Almamaterku kampus PJOK tempat kutimba ilmu

- Semua sobat-ku di komunitas Penjas dan Olahraga

(8)

commit to user KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur kehadirat Alloh SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

Disadari bahwa dalam penulisan skripsi ini banyak mengalami hambatan, tetapi berkat bantuan dari beberapa pihak maka hambatan tersebut dapat diatasi. Oleh karena itu dalam kesempatan ini disampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat :

1. Prof. Dr. H. M. Furqon Hidayatullah, M.Pd., Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2. Drs. H. Agus Margono, M.Kes., Ketua Jurusan Pendidikan Olahraga dan Kesehatan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3. Drs. H. Sunardi, M.Kes, Ketua Program Studi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4. Drs. Agustiyanto, M.Pd., selaku Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

5. Slamet Riyadi, S.Pd.M.or., selaku Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Siti Nurkhayati, S.Pd, selaku Kepala Sekolah SD Negeri 5 Lengkong Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara yang telah memberikan ijin kepada penulis dalam melaksanakan kegiatan penelitian guna penyusunan skripsi ini

7. Berbagai pihak yang telah membantu penulis, yang tidak mungkin penulis sebutkan satu persatu

Semoga segala amal baik tersebut mendapatkan imbalan dari Alloh SWT.

Akhirnya penulis berharap semoga hasil penelitian yang sederhana ini dapat bermanfaat.

Surakarta, 8 April 2011

Penulis

(9)

commit to user DAFTAR ISI

JUDUL ... i

PENGAJUAN SKRIPSI ... ii

PERSETUJUAN ... iii

PENGESAHAN ... iv

ABSTRAK ... v

MOTTO ... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xi

DAFTAR GAMBAR ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II LANDASAN TEORI A. Tinjauan Pustaka ... 8

1. Tolak Peluru ... 8

2. Hakikat Pendidikan Jasmani ... 12

3. Karakteristik Peserta Didik ... 13

4. Hakekat Belajar Gerak ... 14

5. Pembelajaran ... 18

6. Media Pembelajaran ... 22

7. Alat Bantu Pembelajaran ... 25

B. Kerangka Berfikir ... 28

C. Hipotesis Tindakan ... 30

(10)

commit to user BAB III METODE PENELITIAN

A. Seting Penelitian ... 31

B. Subyek Penelitian ... 32

C. Sumber Data ... 33

D. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 33

E. Analisis Data ... 33

F. Prosedur Penelitian ... 34

G. Proses Penelitian ... 35

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian ... 38

B. Pembahasan ... 48

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 53

B. Implikasi ... 53

C. Saran-saran ... 53

DAFTAR PUSTAKA ... 54

(11)

commit to user DAFTAR TABEL

Tabel

1. Rincian Kegiatan Waktu dan Jenis Kegiatan Penelitian ... 31

2. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 31

3. Prosentase Target Pencapaian ... 32

4. Teknik dan Alat Pengumpulan Data ... 33

5. Prosentase Target Pencapaian Siklus I ... 37

6. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus I ... 41

7. Hasil Penelitian Tolak Peluru Gaya Orthodox Putra dan Putri Siklus I ... 42

8. Hasil Belajar Siswa Nilai Dasar dan Siklus I ... 43

9. Hasil Penelitian Tolak Peluru Siswa Kelas VI SDN 5 Lengkong ... 45

10. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Siklus II ... 47

11. Hasil Penelitian Tolak Peluru Gaya Orthodox Putra dan Putri Siklus II ... 48

12. Data Aktivitas Siswa ... 49

13. Data Hasil Belajar Siswa ... 50

14. Data Hasil Belajar Siswa Dari Nilai Awal, Nilai Siklus I, dan Nilai Siklus II ... 50

(12)

commit to user DAFTAR GAMBAR

Gambar

1. Persiapan Tolak Peluru ... 9

2. Meluncur ... 10

3. Tolakan Pada Peluru ... 11

4. Pembelajaran Tolak Peluru Menggunakan Alat Bantu Kertas Karton ... 27

5. Pembelajaran Tolak Peluru Menggunakan Alat Bantu Bola Berekor ... 27

6. Alur Kerangka Berpikir ... 29

7. Grafik Aktivitas Siswa Siklus I dan Siklus II ... 49

8. Grafik Hasil Belajar Siswa Nilai Awal, Siklus I, dan Siklus II ... 50

(13)

commit to user DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

1. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 55

2. Pendapat Siswa Terhadap Kegiatan Pembelajaran ... 93

3. Rekapitulasi Hasil Angket Siswa ... 95

4. Lembar Pengamatan Siklus I ... 98

5. Lembar Pengamatan Siklus II ... 101

6. Daftar Nilai Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II ... 104

7. Surat Keterangan Penelitian ... 105

8. Jadwal Penelitian ... 106

9. Foto Dokumentasi Kegiatan Belajar Mengajar ... 115

(14)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kesehatan, kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui aktivitas jasmani dan olahraga. Pendidikan jasmani merupakan bagian dari pendidikan secara umum dan merupakan salah satu dari subsistem pendidikan. Pendidikan Jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui gerak fisik. Menurut Toho Cholik dan Rusli Lutan (2001:1.10), bahwa ”pendidikan jasmani merupakan serangkaian materi pelajaran yang memberikan konstribusi nyata dalam kehidupan sehari-hari dalam upaya meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan jasmani rohani perserta didik”. Oleh karena itu, pendidikan jasmani harus diutamakan mengingat mempunyai tujuan yang penting dalam pengembangan pembelajaran. Banyak yang menganggap, kurang penting mengikuti mata pelajaran pendidikan jasmani, dikarenakan belum mengerti peran dan fungsi pendidikan jasmani.

Pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang mempunyai peran utama dalam menunjang prestasi siswa. Untuk meningkatkan proses pembelajaran yang sehat dalam dunia pendidikan harus meliputi beberapa hal sebagai berikut : (1) anak didik, (2) pendidik, (3) tujuan pendidikan, (4) alat pendidikan, (5) lingkungan pendidikan.

Komponen-komponen tersebut harus ada di dalam berlangsungnya proses pembelajaran.

Komponen-komponen di atas harus ada di dalam berlangsungnya suatu pendidikan. Jadi pendidikan tidak akan berarti apabila tidak ada yang dididik, demikian pula dengan pendidikan juga tidak akan berjalan apabila tidak ada yang menjalankan pendidikan, serta pendidik tidak ada gunannya kalau tidak ada tujuan. Pendidikan jasmani di sekolah harus memenuhi konsep-konsep di atas, dan mempunyai tujuan tertentu yang mengarah ke tujuan pendidikan, yaitu meningkatkan kesegaran jasmani dan daya tahan tubuh siswa, dengan bugarnya kondisi siswa akan mempengaruhi tingkat belajar siswa serta minat siswa dalam mengikuti pembelajaran.

(15)

commit to user

Salah satu masalah utama dalam pendidikan jasmani di Indonesia hingga dewasa ini ialah belum efektifnya pengajaran pendidikan jasmani di sekolah-sekolan, kondisi rendahnya kualitas pembelajaran pendidikan jasmani di sekolah telah dikemukakan di dalam berbagai forum oleh beberapa pengamat. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya ialah terbatasnya kemampuan guru pendidikan jasmani dan terbatasnya sumber-sumber yang digunakan untuk mendukung proses pengajaran pendidikan jasmani.

Kualitas guru pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah pada umumnya kurang memadai.

Guru kurang mampu dalam melaksanakan profesinya secara profesional, kurang berhasil melaksanakan tanggung jawab untuk mengajar dan mendidik siswa secara sistematik melalui gerakan pendidikan jasmani yang mengembangkan kemampuan dan keterampilan secara menyeluruh baik fisik, mental maupun intelektual. Sebagian besar guru pendidikan jasmani di sekolah dasar kurang kreatif dalam memberikan model pembelajaran. Guru pendidikan jasmani hanya menekankan hasil akhir tanpa memperhatikan proses pembelajaran. Hal ini akan berdampak buruk bagi siswa karena kurangnya pengetahuan yang diberikan oleh guru, secara tidak langsung akan mempengaruhi kinerja guru serta tujuan pendidikan jasmani tidak akan tercapai. Hal tersebut akan merusak citra guru pendidikan jasmani dimata siswa.

Gaya mengajar yang dilakukan oleh guru dalam praktek pendidikan jasmani cenderung tradisional, atau hanya menggunakan satu gaya mengajar saja, sehingga membuat situasi pembelajaran monoton dan membuat siswa jenuh untuk mengikuti pembelajaran tersebut. Model metode-metode praktek ditekankan pada teacher centered dimana para siswa melakukan latihan fisik berdasarkan perintah yang ditentukan oleh guru. Latihan-latihan tersebut tidak pernah dilakukan anak sesuai inisiatif sendiri.

Guru cenderung menggunakan pendekatan yang mendasarkan pada olahraga prestasi dalam pembelajarannya, sehingga dalam proses pembelajarannya jelas berbeda dengan pendidikan jasmani itu sendiri, tujuan utamanya bukan proses melainkan hasil akhir sebuah penilaian. Dalam pendekatan ini guru menentukan tugas-tugas bagi siswa melalui kegiatan fisik tak ubahnya seperti latihan olahraga. Biasanya tujuan pembelajaran ditekankan pada penguasaan yang mengarah pada pencapaian tujuan prestasi tanpa melakukan modifikasi baik dalam peraturan, ukuran lapangan maupun jumlah pemain.

Pendekatan seperti ini membuat siswa kurang senang bahkan merasa frustasi untuk melakukan program pendidikan jasmani, karena mereka tidak mampu dan sering gagal

(16)

commit to user

untuk melaksanakan tugas yang diberikan dalam bentuk yang kompleks. Untuk itu kebutuhan untuk memodifikasi olahraga sebagai suatu pendekatan alternatif dalam pengajaran pendidikan jasmani, mutlak perlu dilakukan. Guru harus memiliki kemampuan untuk memodifikasi keterampilan yang hendak diajarkan agar sesuai tingkat perkembangan siswa. Guru dituntut harus lebih kreatif, inovatif dalam menciptakan pembelajaran, yang akan diberikan kepada siswa, sehingga tercipta pembelajaran yang aktif bagi siswa, atau menyenangkan tanpa meninggalkan tujuan pembelajaran tersebut.

Banyak faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa yang salah satunya kurang kreatifnya guru pendidikan jasmani dalam membuat dan mengembangkan media pembelajaran yang sederhana, guru kurang akan model-model pembelajaran sehingga proses pembelajaran kurang menarik bagi siswa sehingga tercipta pembelajaran yang membosankan buat siswa.

Berdasarkan hasil observasi pra penelitian yang dilakukan peneliti di SD Negeri 5 Lengkong, siswa-siswi di kelas tersebut masih mengalami kesulitan dalam melakukan teknik tolak peluru gaya orthodox. Sebagian siswa baru menguasai cara melakukan tolakan, mereka belum mampu melakukan gerakan secara keseluruhan. Berdasarkan data yang diperoleh dari nilai siswa dapat diketahui bahwa nilai rata-rata yang diperoleh siswa kelas VI SD Negeri 5 Lengkong dalam kegiatan tolak peluru gaya orthodox menunjukkan 11 siswa atau 69% dari jumlah siswa mendapat nilai di bawah 70. Besar jumlah rata-rata dan nilai siswa yang mendapat nilai di bawah 70 menjadi bukti kongkrit bahwa hasil belajar siswa-siswi di kelas VI belum mencapai batas ketuntasan belajar siswa yang dipatok pada angka 70. Menunjukkan proses pembelajaran yang belum melibatkan siswa secara aktif, guru masih menjadi pusat pembelajaran, kurangnya model pembelajaran, gaya mengajar serta pemodifikasian dan media pembelajaran yang masih kurang untuk mencapai tujuan pendidikan. Penyebab masalah belajar dapat bersumber dari faktor interen dan eksteren, faktor dari dalam individu sendiri atau interen, misalnya motivasi dan antusiasme siswa terhadap materi pembelajaran. Sedangkan faktor eksternal mencakup keluarga, da lingkungan sekitar yang dapat berupa guru, lingkungan, materi, media dan metode yang digunakan guru. Kurangnya partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran akan menurunkan tingkat keberhasilan siswa dalam belajar, oleh karena itu diperlukan suatu tindakan yang mampu melibatkan peran aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut.

(17)

commit to user

Hasil observasi dan wawancara salah satu guru mata pelajaran pendidikan jasmani di SD Negeri 5 Lengkong menunjukkan bahwa siswa-siswi SD tersebut secara umum memiliki kemampuan menengah ke bawah, disamping beberapa siswa memiliki intelegensi di atas rata-rata. Dalam sebuah observasi kelas, dapat diketahui bahwa siswa- siswi di kelas VI memiliki minat dan motivasi yang kurang terhadap pelajaran pendidikan jasmani. Masih tampak beberapa siswa yang mengobrol dengan temannya sendiri, mengantuk, malas-malasan dalam mengerjakan yang diberikan oleh guru. Sebagian besar siswa mengeluh dan merasa tidak mampu mengerjakan tugas yang diberikan.

Media yang digunakan guru pendidikan jasmani di SD Negeri 5 Lengkong masih sangat terbatas dan belum mampu membangkitkan kesenangan siswa terhadap materi ajar.

Keterbatasan media dan tingginya tingkat kesulitan siswa memahami materi ajar memaksa guru harus lebih banyak menggunakan metode, agar siswa dapat memahami materi ajar meskipun hanya dengan dukungan media yang terbatas.

Mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa dalam menerima materi pembelajaran berbeda antara satu siswa dengan siswa yang lain, guru perlu mengembangkan metode dan media pembelajaran yang dapat mempermudah siswa menerima pelajaran dengan baik. Sebuah media yang tidak hanya dapat diterima oleh siswa yang memiliki tingkat pemahaman yang tinggi, tetapi juga mempertimbangkan efektifitas media bagi mereka yang memiliki tingkat pemahaman yang masih kurang.

Dalam memilih sebuah media alat bantu, seorang guru juga harus mempertimbangkan tingkat keekonomisan media yang akan digunakan. Biaya yang digunakan harus seimbang dengan yang akan diperoleh. Diutamakan penggunaan media dengan biaya pengeluaran seminimal mungkin tetapi memiliki banyak manfaat dan keunggulan dalam proses pembelajaran, materi yang diberikan juga harus sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, berisi hal-hal yang dekat dengan siswa, dan sebaliknya menarik perhatian siswa.

Modifikasi pendidikan jasmani dapat dilakukan dengan penekanan pada berbagai aspek seperti materi, alat, ukuran lapangan, bentuk, jumlah pemain. Dengan modifikasi pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar, minat atau partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran, menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan dan tidak membosankan bagi siswa.

(18)

commit to user

Salah satu pendekatan dalam pembelajaran yang dapat digunakan dalam hal ini adalah pendekatan pembelajaran dengan menggunakan alat bantu berupa media (bola berekor, kertas koran bekas) yaitu suatu pendekatan pembelajaran yang dapat membantu siswa mempelajari ketrampilan dasar dalam mempelajari teknik dasar. Model pembelajaran dengan pendekatan alat bantu tersebut dirancang secara khusus untuk mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah.

Alat bantu berupa bola berekor, kertas koran bekas dalam sebuah pembelajaran akan membantu siswa lebih mudah menangkap materi ajar yang diberikan oleh guru.

Dengan alat bantu tersebut dapat mengubah suasana menjadi lebih santai dan menyenangkan, bahkan siswa bisa tertarik untuk saling berkompetisi melewati alat bantu tersebut. Keadaan ini akan membantu menumbuhkan motivasi dan antusiasme terhadap materi ajar tolak peluru gaya orthodox karena para siswa cenderung lebih menyukai suasana kelas yang santai dari pada yang serius.

Dalam penelitian ini, modifikasi pendidikan jasmani difokuskan pada aspek media-alat yaitu modifikasi pembelajaran tolak peluru gaya orthodox. Secara umum kendala yang sering dihadapi guru dalam pembelajaran tolak peluru adalah keterbatasan alat/tempat. Untuk mengatasi hal tersebut guru harus kreatif untuk membuat strategi belajar yang baik, yaitu berupa modifikasi alat, tempat, model gaya mengajar tolak peluru gaya orthodox yang mendukung jalannya pembelajaran tanpa meninggalkan tujuan pembelajaran.

Penelitian Tindakan Kelas ini, akan mencoba memodifikasi media bantu pembelajaran dalam pendidikan jasmani pada siswa kelas VI SD Negeri 5 Lengkong tahun pelajaran 2010/2011 dengan materi teknik dasar tolak peluru gaya orthodox. Pembelajaran dengan pendekatan alat bantu berupa bola berekor, bola kertas, untuk meningkatkan hasil tolak peluru gaya orthodox yang lebih baik dilakukan oleh siswa. Selain itu modifikasi pembelajaran ini untuk meningkatkan peran aktif siswa, partisipasi siswa dalam mengikuti pembelajaran tolak peluru gaya orthodox. Dengan penerapan modifikasi pembelajaran pendidikan jasmani yang dilakukan peneliti diharapkan dapat memecahkan atau memberi jalan keluar yang dihadapi guru dalam proses pembelajaran tolak peluru gaya orthodox.

Tujuan modifikasi pembelajaran tolak peluru gaya orthodox adalah agar siswa suka, senang mengikuti pembelajaran. Dengan perasaan suka akan pembelajaran tersebut

(19)

commit to user

membuat siswa menjadi aktif dan antusias dalam pembelajaran serta lebih mudah menguasai materi yang diajarkan. Guru dalam mengajarkan tolak peluru gaya orthodox harus membuat rencana pelaksanaan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan buat siswa, serta peralatan, suasana kelompok, gerakan teknik dasar yang variatif sehingga membuat situasi pembelajaran yang lebih menyenangkan dalam proses pembelajaran tolak peluru.

Dari permasalahan umum yang dihadapi guru pendidikan jasmani dalam menyampaikan materi khususnya teknik dasar tolak peluru gaya orthodox, maka peneliti merasa tertarik melakukan penelitian tindakan kelas (PTK) pada siswa kelas VI SD Negeri 5 Lengkong dengan judul : ”Peningkatan Hasil Belajar Tolak Peluru Gaya Orthodox Melalui Penerapan Media Bantu Pembelajaran yang Dimodifikasi Pada Siswa Kelas VI SD Negeri 5 Lengkong Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2010/2011”. Permasalahan ini peneliti temukan ketika observasi di SD Negeri 5 Lengkong yaitu pembelajaran tolak peluru gaya orthodox.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas, maka masalah dalam penelitian ini dapat dirumuskan : “Apakah penerapan media pembelajaran yang dimodifikasi dapat meningkatkan hasil belajar tolak peluru gaya ortodhox pada siswa kelas VI SD Negeri 5 Lengkong Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2010/2011 ?”

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ”Peningkatan Hasil Belajar Tolak Peluru Gaya Orthodox Melalui Penerapan Media Bantu Pembelajaran yang Dimodifikasi Pada Siswa Kelas VI SD Negeri 5 Lengkong Kecamatan Rakit Kabupaten Banjarnegara Tahun Pelajaran 2010/2011”.

(20)

commit to user D. Manfaat Penelitian

Setelah penelitian ini selesai, diharapkan mempunyai manfaat sebagai berikut :

1. Bagi Guru Pendidikan Jasmani

a. Untuk meningkatkan kreatifitas guru disekolah dalam membuat dan mengembangkan media bantu pembelajaran yang dimodifikasi, dalam rangka perancangan pembelajaran PAIKEM.

b. Sebagai bahan masukan guru dalam memilih alternatif pembelajaran yang akan dilakukan

c. Untuk meningkatkan kinerja guru dalam menjalankan tugasnya secara profesional, terutama dalam pengembangan media bantu pembelajaran

2. Bagi Siswa

a. Menciptakan suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan meningkatkan peran aktif siswa dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani, serta meningkatkan hasil belajar tolak peluru gaya orthodox

b. Dapat meningkatkan minat dan kemampuan tolak peluru gaya orthodox, serta mendukung pencapaian prestasi tolak peluru gaya orthodox

(21)

commit to user BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka 1. Tolak Peluru a. Pengertian Tolak Peluru

Tolak peluru terdiri dari dua kata yaitu tolak dan peluru. Kata tolak berarti sorong atau dorong. Sedangkan kata peluru berarti bola besi yang harus dilempar dengan tangan. Jadi tolak peluru adalah : olahraga yang menggunakan alat berupa bola besi dengan cara mendorong atau ditolak sejauh-jauhnya. Olahraga tolak peluru ini dapat dilakukan orang putra maupun putri. Tolak peluru gaya orthodox adalah : gerakan awal dengan posisi lempar berada di samping kiri, tangan kanan memegang peluru diletakkan di atas bahu, badan bongkok kedepan dan condong ke kanan, kaki kiri diayunkan begitu kaki kanan mendarat tolakan peluru sejauh-jauhnya ke arah lemparan.

b. Teknik Dasar Tolak Peluru Gaya Orthodox 1) Cara Memegang Peluru

Dalam menempatkan jari pada peluru, ada beberapa cara memegang yang dapat dilakukan antara lain :

a) Jari-jari agak merenggang, jari kelingking tidak tepat di belakang peluru tetapi ditekuk dan berada di samping peluru. Dengan demikian jari ini dapat membantu untuk menahan supaya peluru tidak mudah tergeser dari tempatnya, tetapi untuk dapat menggunakan cara ini, pelempar harus mempunyai jari-jari yang kuat dan panjang-panjang.

b) Cara ini hampir sama dengan cara pertama. Jari-jari agak rapat ibu jari di samping. Jari kelingking tidak dilipat tetapi berada di samping belakang peluru.

Dengan demikian ibu jari kelingking kecuali untuk menahan jangan sampai peluru tergeser, juga dapat membantu mengadakan tekanan pada waktu peluru ditolak. Cara ini lebih banyak dipakai dari pada cara pertama

c) Bagi mereka yang tangannya kecil, dapat menggunakan cara terakhir. Jari-jari seperti pada cara kedua tetapi jari-jarinya lebih renggang. Kelingking di

(22)

commit to user

belakang peluru sehingga turut menolak pelurunya. Ibu jari untuk menahan geseran ke samping, peluru biasanya diletakkan pada lekuk tangan.

2) Persiapan

Dengan tenang pelempar memasuki lingkaran dari belahan lingkaran bagian belakang. Peluru masih dibawa dengan tangan kiri.

a) Peluru dipindahkan ke tangan kanan. Cara memegang peluru dapat dipilih sendiri

b) Arah lempar berada di samping kirinya

c) Pandangan ditujukan pada satu titik kurang lebih 1 meter di depannya d) Kaki kanan bengkok sedikit dengan menahan berat badan

e) Kaki kiri lemas-lemas saja

f) Tangan kanan yang memegang peluru, mengatur letak peluru. Peluru dapat diletakkan pada batas leher dan pundak, dan dapat juga agak ke belakang sedikit

g) Tangan kiri terlipat sedikit ke depan dada h) Badan bengkok ke depan dan condong ke kanan

i) Kaki kiri diayunkan. Ayunan ini untuk mengatur letak kaki kanan serta keseimbangan badan

Gambar 1. Persiapan

3) Meluncur

Sebagai awalan kaki kanan makin membengkok kemudian melakukan gerakan sebagai berikut.

a) Kaki kiri diayunkan ke kiri ke arah lemparan, lalu kembali lagi, seterusnya secepatnya dilempar ke arah balok

(23)

commit to user

b) Kaki kanan ditolakkan dan mendarat kira-kira pada pertengahan lingkaran.

Berat badan bertumpu pada kaki kanan. Perpindahan kaki dilakukan dengan menggeser dekat lingkaran

c) Waktu kaki kanan mendarat badan makin condong ke samping kanan d) Pundak kanan lebih rendah dari yang kiri

e) Tangan kiri tetap tertekuk di depan dada atau dagu f) Pandangan mata dan sikap kepala masih tetap g) Otot-otot sudah tegang semua

Gambar 2. Meluncur

4) Tolakan Pada Peluru

Pada posisi ini atlit telah mengambil sikap untuk menolak pelurunya.

Sikap ini hendaknya cepat-cepat diubah menjadi gerakan menolak, jangan terlalu lama kemudian gerakkan selanjutnya adalah :

a) Begitu kaki kanan mendarat, kaki kiri sudah menempati tempat yang dikehendaki, tolakkan kaki kanan dimulai

b) Kaki kiri turut membantu tolakkan kaki kanan

c) Badan yang sudah dicondongkan ke kanan dan ke belakang itu, diputar ke kiri d) Lengan kiri turut membantu memutar badan, tetapi jangan terlalu kuat dan

cepat

e) Pandangan diarahkan ke arah lemparan

f) Kaki kanan dengan kekuatan yang dimulai dari ujung kaki diluruskan ke atas depan, dilanjutkan otot-otot panggul, bahu, lengan dan jari-jari, dipergunakan untuk melakukan tolakkan. Waktu memutar, badan harus tepat dengan tolakkan kaki kanan. Terlalu cepat akan mengurangi kekuatan dorongan ke atas.

Sebaliknya jika terlambat kekuatan akan berkurang.

(24)

commit to user

g) Pada waktu akan dimulai dengan jejakan kaki kanan, pundak kanan lebih rendah dari yang kiri. Posisi siku kanan adalah sedemikian rupa, sehingga merupakan garis lurus dengan lengan kanan bagian atas, bahu kanan sampai dengan bahu kiri

h) Setelah kaki kanan dijejakkan, jangan langsung dilompatkan ke depan sebelum peluru dilepaskan

i) Sudut lempar adalah 400

j) Kaki kiri ditarik ke belakang kira-kira setinggi panggul, untuk memelihara keseimbangan

Gambar 3. Tolakan Pada Peluru

5) Lepasnya Peluru

Gerakan selanjutnya adalah lepasnya peluru, dapat dilakukan dengan gerakan sebagai berikut :

a) Dengan sudut + 400, lengan kanan diluruskan sekuat-kuatnya

b) Pada saat terakhir ujung jari-jari memukul peluru untuk membantu tolakan.

Pada waktu peluru lepas dari tangan, tangan menggantung sejauh-jauhnya diluar lingkaran

c) Badan menggantung di luar lingkaran. Hal ini dimungkinkan karena jejakan kaki kanan diiringi gerakkan menjatuhkan badan ke depan

6) Memelihara Keseimbangan

a) Kaki kiri sebagai keseimbangan pada waktu kaki kanan maju ke depan sampai tertahan pada balok. Adanya balok ini untuk menahan jangan sampai badan ikut terlempar keluar lingkaran lempar

(25)

commit to user

b) Lengan kiri juga digerakkan ke samping belakang untuk memelihara keseimbangan

c) Kaki kanan lutunya makin ditekuk untuk menurunkan titik berat badan.

Dengan demikian dapat memudahkan pemeliharaan keseimbangan

d) Setelah peluru jatuh dan juri lapangan sudah memberi tanda bahwa jatuhnya peluru sudah betul, atlit meninggalkan lingkaran lewat belahan lingkaran bagian belakang dengan langkah yang tenang. Kalau keluarnya itu dengan meloncat atau tidak melewati belahan belakang lemparannya akan dianggap gagal

2. Hakikat Pendidikan Jasmani

Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan ketrampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat, sikap sportif dan kecerdasan emosi (KTSP, 2006 : 1196). Sedangkan menurut Aip Syarifunddin dan Muhadi (1992 : 4), pendidikan jasmani adalah suatu proses melalui aktivitas jasmani, yang dirancang dan disusun secara sistematik, untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan kemampuan dan keterampilan jasmani, kecerdasan dan pembentukan watak, serta nilai sikap yang positif bagi setiap warga negara dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Bandi Utama (2005 : 75), mengatakan bahwa pendidikan jasmani mengandung dua pengertian pendidikan untuk jasmani dan pendidikan melalui aktivitas jasmani.

Pendidikan untuk jasmani mengandung pengertian bahwa jasmani merupakan tujuan akhir dari proses pendidikan dengan mengabaikan aspek yang lain, sedangkan pendidikan melalui aktivitas jasmani mengandung pengertian bahwa tujuan pendidikan dapat dicapai melalui aktivitas jasmani. Tujuan pendidikan dalam hal ini adalah tujuan pendidikan pada umumnya, yaitu aspek fisik, psikis dan sosial atau psikomotor, kognitif, dan afektif.

Sukintoko (1995 : 130) menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungan yang dikelola melalui aktivitas jasmani secara sistematik menuju pembentukan manusia seutuhnya. Ratal Wirjasantosa (1984 : 25) bahwa pendidikan jasmani adalah pendidikan yang menggunakan jasmani, sebagai titik pangkal, mendidik anak dan anak dipandang sebagai suatu kesatuan jiwa dan raga.

(26)

commit to user

Berdasarkan berbagai pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran yang melalui aktivitas jasmani yang dilakukan secara sistematik untuk meningkatkan kebugaran jasmani, keterampilan gerak, pengetahuan kesehatan, perilaku hidup sehat dan kecerdasan emosi. Proses pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif dapat meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, kognitif, dan efektif setiap siswa.

3. Karakteristik Peserta Didik

Untuk mengembangkan pembelajaran yang efektif, guru pendidikan jasmani harus memahami karakteristik siswa, dengan memahami karakteristik perkembangan siswa, guru akan mampu membantu siswa belajar secara efektif. Selama di SD, seluruh aspek perkembangan manusia seperti psikomotor, kognitif, dan afektif mengalami perubahan luar biasa (KTSP, 2006 : 1200). Berikut rincian perkembangan aspek psikomotor, kognitif, dan afektif (KTSP, 2006 : 1200-1202).

a. Perkembangan Aspek Psikomotor

Menurut Wuest dan Lombardo (KTSP, 2006) menyatakan bahwa perkembangan aspek psikomotor siswa SD ditandai dengan perubahan jasmani dan fisiologis secara luar biasa. Salah satu perubahan yang luar biasa yang dialami oleh siswa adalah pertumbuhan tinggi badan, dan berat badan, siswa mengalami percepatan proses pertumbuhan tinggi badan. Pertumbuhan tinggi badan diikuti dengan perubahan berat badan, perubahan berat badan menggambarkan perubahan ukuran tulang, otot, dan organ tubuh dan juga lemak tubuh.

Perubahan yang lainnya yang dialami siswa SD adalah pubertas dan pematangan seksual, selain itu perubahan yang tidak kalah penting yang lainnya adalah perkembangan keterampilan motorik, kinerja motorik siswa mengalami penghalusan.

b. Aspek Kognitif

Menurut Wues dan Lambardo (KTSP, 2006) menyatakan bahwa perkembangan yang terjadi pada siswa SD meliputi peningkatan fungsi intelektual, kapabilitas memori dan bahasa, dan pemikiran dan konseptual. Perkembangan

(27)

commit to user

kematangan intelektual bervariasi, memori remaja sebanding dengan memori orang dewasa dalam hal kemampuan menyerap, memproses, dan mengungkap informasi.

Siswa mengalami peningkatan kemampuan mengekpresikan diri.

Kemampuan berbahasa lebih baik, perbendaharaan kata lebih bayak. Ketika remaja mencapai kematangan, mereka akan memiliki kemampuan untuk menyusun alasan rasional, menerapkan informasi, mengimplementasikan pengetahuan dan menganalisa situasi secara kritis. Kemampuan memecahkan masalah dan membuat keputusan akan meningkat.

c. Aspek Afektif

Menurut Wuest dan Lombardo (KTSP 2006), perkembangan afektif siswa SD mencakup proses belajar perilaku yang layak pada budaya tertentu, seperti cara berinteraksi dengan orang lain (bersosialisasi). Sosialisasi berlangsung lewat pemodelan dan peniruan perilaku orang lain. Pihak yang sangat berpengaruh terhadap proses sosialisasi adalah keluarga, sekolah, dan teman sebaya.

Siswa mengalami kondisi egosentris, yaitu kondisi yang banya mementingkan pendapat sendiri dan mengabaikan orang lain. Siswa SD mengalami perubahan persepsi diri selaras dengan peningkatan kemampuan kognitif. Persepsi diri berkaitan dengan persepsi atas kemampuan dan keyakinan yang kuat bahwa mampu mengerjakan sesuatu, sehingga timbul rasa percaya diri.

4. Hakikat Belajar Gerak a. Pengertian Belajar

Sri Rumini, dkk (1993 : 59) mengemukakan, belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang telatif menetap, baik yang diamati maupun tidak diamati secara langsung, yang terjadi sebagai suatu hasil latihan atau pengalaman dalam interaksinya dengan lingkungan.

Lebih lanjut Wasty Soemanto (1998 : 104) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses dasar perkembangan hidup manusia, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkal lakunya berkembang.

Menurut Sugihartono dkk (2007 : 74) mengatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan tingkah laku individu dengan lingkungannya dalam memenuhi

(28)

commit to user

kebutuhan hidupnya. Belajar merupakan suatu perubahan dimana perubahan itu untuk memenuhi kebutuhannya yang disesuaikan dengan lingkungannya.

Menurut Reber (dalam Sugihartono dkk (2007 : 74) mendefinisikan belajar dalam dua hal, pertama belajar sebagai proses memperoleh pengetahuan, dan kedua belajar sebagai perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan. Sejalan dengan pendapat sebelumnya Oemar Hamalik (2008 : 29) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses, belajar bukan suatu tujuan tetapi merupakan suatu proses untuk mencapai tujuan, jadi merupakan langkah-langkah atau prosesur yang harus ditempuh.

Berdasarkan pendapat dari para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses dari perkembangan hidup manusia, dengan belajar manusia melakukan perubahan-perubahan dalam hidupnya. Aktifitas dan prestasi dalam hidup manusia merupakan hasil dari belajar. Profesi seseorang, berdasarkan apa yang dipelajari, belajar merupakan suatu proses, bukan suatu hasil, karena itu belajar berlangsung secara aktif dan berkelanjutan dengan menggunakan berbagai bentuk perbuatan.

b. Ciri-ciri Perilaku Belajar

Tidak semua tingkah laku dikategorikan belajar atau aktivitas belajar.

Adapun tingkahlaku yang dikategorikan belajar menurut Sugihartono dkk (2007 : 74- 76), mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1) Perubahan Tingkah Laku Terjadi Secara Sadar

Suatu perilaku digolongkan sebagai aktivitas belajar apabila pelaku menyadari terjadinya perubahan atau sekurang-kurangnya merasakan adanya suatu perubahan dalam dirinya, misalkan menyadari pengetahuan bertambah. Sebaliknya perubahan tingkah laku yang terjadi karena mabuk atau tidak sadar tidak termasuk dalam pengertian belajar.

2) Perubahan Bersifat Kontinu dan Fungsional

Perubahan yang terjadi dalam diri seseorang berlangsung secara berkesinambungan dan tidak statis. Suatu perubahan yang terjadi akan menyebabkan perubahan berikutnya dan selanjutnya akan berguna bagi kehidupan

(29)

commit to user

atau proses belajar berikutnya. Misalkan : seorang anak belajar membaca, maka ia akan mengalami perubahan dari tidak dapat membaca menjadi dapat membaca.

Perubahan ini akan berlangsung terus sampai kecakapan membacanya menjadi cepat dan lancar.

3) Perubahan Bersifat Positif dan Aktif

Perubahan tingkah laku merupakan hasil dari proses belajar apabila perubahan- perubahan itu bersifat positif dan aktif. Dikatakan positif apabila perilaku senantiasa bertambah dan tertuju untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dari sebelumnya. Semakin banyak usaha belajar yang dilakukan, maka semakin baik dan makin banyak perubahan yang diperoleh. Perubahan belajar yang bersifat aktif berarti perubahan tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan karena usaha dari individu sendiri. Perubahan tingkah laku karena proses kematangan yang terjadi dengan dirinya oleh dorongan dari dalam tidak termasuk perubahan dalam pengertian belajar.

4) Perubahan Bersifat Permanen

Perubahan yang terjadi karena belajar bersifat menetap atau permanent. Misalkan kecakapan seseorang anak dalam bermain sepeda setelah belajar tidak akan hilang begitu saja, bahwak akan berkembang bila terus digunakan atau dilatih.

5) Perubahan Dalam Belajar Bertujuan atau Terarah

Perubahan tingkah laku dalam belajar mensyaratkan adanya tujuan yang akan dicapai oleh pelaku belajar dan terarah pada perubahan tingkah laku yang benar- benar disadari. Misalkan seseorang belajar mengetik, sebelumnya sudah menetapkan apa yang akan dicapai dengan belajar mengetik.

6) Perubahan Menyangkut Semua Aspek Tingkah Laku

Perubahan yang diperoleh seseorang setelah melalui proses belajar meliputi perubahan keseluruhan tingkah laku. Perubahan dalam hal sikap, keterampilan, pengetahuan, dan sebagainya.

(30)

commit to user c. Pengertian dan Batasan Belajar Gerak

Menurut Rusli Lutan (1999 : 57) bahwa belajar gerak meliputi tiga tahap.

Pertama, tahap orientasi, yakni penguasaan informasi. Kedua, tahap pemantapan gerak melalui latihan berdasarkan informasi yang diperoleh. Kegita, tahap otomatisasi, yaitu keterampilan itu dapat dilakukan esecara otomatis.

Menurut Schmidt (dalam Amung Mamun dan Yudha M Saputra, 2006 : 45), mengatakan bahwa belajar gerak adalah suatu rangkaian proses yang berhubungan dengan latihan atau pengalaman yang mengarah pada terjadinya perubahan-perubahan yang relatif permanen dalam kemampuan seseorang untuk menampilkan gerakan- gerakan yang terampil.

Menurut Gagne (dalam Arie Asnaldi, 2008) mengatakan bahwa belajar gerak adalah sebagai tingkah laku atau perubahan kecakapan yang mampu bertahan dalam jangka waktu tertentu, dan bukan berasal dari proses pertumbuhan. Lebih lanjut Weineck (dalam Arie Asnaldi, 2008) mengatakan bahwa tugas utama dari belajar gerak adalah penerimaan segala informasi yang relevan tentang gerakan-gerakan yang dipelajari, kemudian mengolah dan menyusun informasi tersebut memungkinkan suatu realisasi secara optimal.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat kita simpulkan bahwa belajar gerak merupakan suatu proses yang didalamya terjadi penyampaian informasi, pemberian latihan dan perubahan yang terjadi akibat latihan relatif permanen. Pernyampaian informasi ini sebagai awal dari proses belajar gerak atau sebagai dasar dari belajar gerak, penyampaian informasi dalam belajar gerak dapat berupa penjelasan dan pemberian contoh gerakan.

Proses selanjutnya dari belajar gerak adalah pemberian latihan, dalam hal ini tidak jauh berbeda dengan belajar pada umumnya, karena dalam belajar pada umumnya pemberian pengalaman atau latihan lewat latihan-latihan soal yang sifatnya teori, sedangkan pada belajar gerak prosesnya tidak jauh berbeda melainkan latihan- latihan yang digunakan berupa praktik atau yang berhubungan dengan gerak. Proses belajar gerak ini akan menuju pada keterampilan gerak atau penampilan geraknya akan meningkat.

Proses kematangan dan pertumbuhan dapat meningkatkan kemampuan seseorang tanpa melalui latihan, misalkan keterampilan anak dalam berlari, tanpa

(31)

commit to user

berlatihan dalam hal yang sebenarnya, kemampuan berlari akan berkembang dengan sendirinya karena adanya pengaruh kematangan. Perubahan keterampilan akan dalam hal ini bukan merupakan belajar gerak karena perubahan tersebut bukan dari hasil latihan.

Perubahan yang terjadi relatif permanen. Pemberian latihan atau pengalaman gerak ini akan masuk pada sistem memori otak, proses ini akan menyebabkan perubahan yang relatif permanen. Kejadian semacam ini tidak dapat diamati secara langsung, akan tetapi perubahan-perubahan yang terjadi lewat penampilan geraknya dapat diamati secara langsung. Kemampuan akibat latihan ini akan tersimpan dalam memori otak sehingga sewaktu-waktu dibutuhkan akan dapat digunakan.

5. Pembelajaran a. Konsep Pembelajaran

Pembelajaran adalah proses interaksi perserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain pembelajaran adalah proses untuk membantu perserta didik agar dapat belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun.

Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan belajar, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran sehingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta ketrampilan (aspek psikomotor) seorang peserta didik.

Peran guru bukan semata memberikan informasi melainkan juga mengarahkan dan memberi fasilitas belajar (directing and facilitating the learning) agar proses belajar lebih memadai dan kegiatan yang dirancang untuk membantu seseorang mempelajari suatu kemampuan atau nilai yang baru. Proses pembelajaran merupakan seperangkat prinsip-prinsip yang dapat digunakan sebagai pedoman untuk menyusun berbagai kondisi yang dibutuhkan mencapai tujuan pendidikan.

(32)

commit to user b. Hakekat Pembelajaran

Untuk menjalankan proses pendidikan, kegiatan belajar dan pembelajaran merupakan suatu usaha yang amat strategis untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Pergaulan yang sifatnya mendidik itu terjadi melalui interaksi aktif antara siswa sebagai peserta didik dan guru sebagai pendidik. Kegiatan belajar dilakukan oleh siswa, dan melalui kegiatan itu akan ada perubahan perilakunya, sementara kegiatan pembelajaran dilakukan oleh guru untuk memfasilitasi proses belajar, kedua peranan itu tidak akan terlepas dari situasi saling mempengaruhi dalam pola hubungan antara dua subyek, meskipun disini guru lebih berperan sebagai pengelola.

Pengajaran mempunyai arti cara (perbuatan) mengajar atau mengajarkan”.

Hal ini juga dikemukakan Wina Sanjaya (2006:74) bahwa ”mengajar diartikan sebagai proses penyampaian informasi dari guru kepada siswa”.

Pembelajaran adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Interaksi adalah saling mempengaruhi yang bermula adanya saling hubungan antar komponen antar komponen yang satu dengan yang lainnya. Interaksi dalam pembelajaran adalah kegiatan timbal balik dan saling mempengaruhi atara guru dengan peserta didik.

Pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk memfasilitasi dan meningkatkan proses belajar, maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat jenis hakikat dan jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Kegiatan belajar merupakan masalah yang sangat kompleks da melibatkan keseluruhan aspek psikofisik, bukan saja aspek kejiwaan, tetapi juga aspek neurofisiologis. Namun setelah guru berusaha untuk memusatkannya dan menangkap perhatian siswa pada peristiwa pembelajaran maka sesuatu yang asing itu menjadi berangsur-angsur berkurang. Oleh karena itu guru harus mengupayakan semaksimal mungkin penataan lingkungan belajar dan perencanaan materi agar terjadi proses pembelajaran di dalam maupun di luar kelas.

Dengan demikian proses belajar bisa terjadi di kelas, lingkungan sekolah, dan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam bentuk interaksi social kultural melalui media masa. Dalam konteks pendidikan non formal justru sebaliknya proses pembelajaran sebagian besar terjadi dalam lingkungan masyarakat, termasuk dunia kerja, media massa dan lain sebagainya. Hanya sebagian kecil saja pembelajaran terjadi di kelas dan lingkungan.

(33)

commit to user

Pembelajaran adalah ”Proses interaksi peserta didik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Jadi kita dapat mengetahui bahwa ciri pembelajaran yaitu inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa ini menunjukkan bahwa unsur kesengajaan dari pihak di luar individu yang melakukan proses belajar. Dalam hal ini pendidik secara perorangan atau kolektif dalam suatu sistem, merupakan ciri utama dalam pembelajaran.

Kegiatan mengajar selalu terkait langsung dengan tujuan yang jelas. Ini berarti, proses mengajar itu tidak begitu bermakna jika tujuannya tidak jelas. Jika tujuan tidak jelas, maka isi pengajaran berikut metode mengajar juga tidak mengandung apa-apa. Oleh karena itu, seorang guru harus menyadari benar-benar keterkaitan antara tujuan, pengalaman belajar, metode, dan bahkan cara mengukur perubahan atau kemajuan yang dicapai. Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam proses belajar mengajar, maka seorang guru harus mampu menerapkan cara mengajar cocok untuk mencapai tujuan yang dimaksud.

Mengajar merupakan kegiatan yang dilakukan seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan yang lebih dari pada yang diajarkan, untuk memberikan suatu pengertian, kecakapan, ketangkasan, kegiatan mengajar meliputi pengetahuan, menularkan sikap kecakapan atau keterampilan yang diatur sesuai dengan lingkungan dan menghubungkannya dengan subyek yang sedang belajar.

Untuk keperluan analisis tugas guru sebagai pengajar, maka kemampuan guru atau kompetensi guru yang banyak hubungannya dengan usaha meningkatkan proses dan hasil belajar dapat diguguskan ke dalam empat kemampuan yakni :

1) Merencanakan program belajar mengajar

2) Melaksanakan dan memimpin/mengelola proses belajar mengajar 3) Menilai kemajuan proses belajar mengajar

4) Menguasai bahan pelajaran dalam pengertian menguasai bidang studi atau mata pelajaran yang dipegangnya

Dalam kegiatan pembelajaran guru bertugas merencanakan program pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai kemajuan pembelajaran dan menguasai materi atau bahan yang diajarkannya. Jika seorang guru memiliki kemampuan yang baik sesuai dengan bidang studi yang diajarkan, maka akan diperoleh hasil belajar yang optimal. Hasil belajar dapat dicapai dengan baik, jika

(34)

commit to user

seorang guru mampu melaksanakan tugas diantaranya mengelola proses pengajaran berupa aktivitas merencanakan dan mengorganisasikan semua aspek kegiatan. Tugas utama guru adalah untuk menciptakan iklim atau atmosfir supaya proses belajar terjadi dikelas dilapangan, ciri utamanya terjadinya proses belajar adalah siswa dapat secara aktif ikut terlibat di dalam proses pembelajaran. Para guru harus selalu berupaya agar para siswa dimotivikasi untuk lebih berperan. Walau demikian guru tetap berfungsi sebagai pengelola proses belajar dan pembelajaran.

Untuk itu seorang guru harus memiliki beberapa kemampuan dalam menyampaikan tugas ajar, agar tujuan pengajaran dapat tercapai. Hal yang terpenting dan harus diperhatikan dalam mengajar yaitu guru harus mampu menerapkan metode mengajar yang tepat dan mampu membelajarkan siswa menjadi aktif melaksanakan tugas yang diberikan oleh guru.

c. Prinsip-prinsip Pembelajaran

Belajar suatu ketrampilan adalah sangat kompleks. Belajar membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan akibat belajar tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penyesuaian diri, minat, penghargaan, pendeknya mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang.

Perubahan akibat dari belajar adalah menyeluruh pada diri siswa. Untuk mencapai perubahan atau peningkatan pada diri siswa, maka dalam proses pembelajaran harus diterapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang tepat. Menurut Wina Sanjaya (2006:30) bahwa sejumlah prinsip yang harus diperhatikan dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran diantaranya :

1) Berpusat pada siswa 2) Belajar dengan melakukan

3) Mengembangkan kemampuan sosial

4) Mengembangkan keingintahuan, imajinasi dan fitrah 5) Mengembangkan ketrampilan pemecahan masalah 6) Mengembangkan kreatifitas siswa

7) Mengembangkan kemampuan ilmu dan teknologi

8) Menumbuhkan kesadaran sebagai warga negara yang baik 9) Belajar sepanjang hayat

(35)

commit to user

Prinsip-prinsip pembelajaran tersebut sangat penting untuk diperhatikan oleh seorang guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran. Pembelajaran yang didasarkan pada prinsip-prinsip belajar yang benar, maka akan diperoleh hasil belajar yang optimal.

6. Media Pembelajaran a. Pengertian Media Pembelajaran

Media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti tengah, perantara, atau pengantar. Oleh karena itu media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan dari pengirim ke penerima pesan. Media dapat berupa sesuatu bahan, atau alat. Media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media. Banyak batasan tentang media, Association of Education and Comunication Technology (AECT) memberikan pengertian tentang media sebagai salah satu bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan dan informasi. Dalam dunia pendidikan, seringkali istilah alat bantu atau media komunikasi digunakan secara bergantian atau sebagai pengganti istilah media pendidikan (pembelajaran). Dengan penggunaan alat bantu berupa media komunikasi, hubungan komunikasi akan dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal.

Media merupakan sarana pembelajaran yang digunakan untuk menyampaikan informasi kepada siswa yang bertujuan untuk membuat tahu siswa. Media adalah pembawa pesan yang berasal dari suatu sumber pesan (dapat berupa orang atau benda) kepada penerima pesan. Dalam proses belajar mengajar, penerima pesan itu siswa.

Pembawa pesan (media) itu berinteraksi dengan siswa melalui indera mereka. Siswa dirangsang dengan media itu untuk menggunakan inderanya untuk menerima informasi. Kadang-kadang siswa dituntut untuk menggunakan kombinasi dari beberapa indera supaya dapat menerima pesan itu lebih lengkap.

Dalam suatu proses belajar mengajar, pesan yang disalurkan oleh media dari sumber pesan ke penerima pesan itu ialah materi pelajaran. Dengan perkataan lain,

(36)

commit to user

pesan itu ialah isi pelajaran yang berasal dari kurikulum yang disampaikan oleh guru kepada siswa. Pesan ini dapat bersifat rumit dan mungkin harus dirangsang dengan cermat supaya dapat dikomunikasikan dengan baik kepada siswa. Sehingga dengan adanya media itu mempermudah siswa dalam menerima materi pelajaran yang diajarkan oleh guru.

b. Peran dan Kegunaan Media

Media dapat digunakan dalam proses belajar mengajar dengan dua arah yaitu sebagai alat bantu mengajar dan sebagai media belajar yang dapat digunakan sendiri oleh siswa. Media yang dipakai sebagai alat bantu mengajar disebut dependent media.

Sebagai alat bantu efektifitas media itu sangat tergantung pada cara dan kemampuan guru dalam menggunakan alat tersebut, tetapi kalau guru kurang kreatif atau tak banyak memanfaatkannya, siswa tak akan banyak belajar dari media itu. Jadi guru harus dituntut untuk lebih pandai dan kreatif dalam menggunakan media pembelajaran.

Media belajar yang dapat digunakan oleh siswa dalam kegiatan belajar mandiri, disebut independent media. Media itu dirancang dan dikembangkan dan diproduksi secara sistematik, serta dapat menyalurkan informasi secara terarah untuk mencapai tujuan instruksional tertentu. Contohnya media film bingkai bersuara, film rangkai bersuara, radio, TV, video dan media tercetak seperti modul yang memang dirancang untuk belajar secara mandiri. Siswa diminta belajar dari berbagai media dan sumber belajar yang lain yang sesuai dengan tujuan yang dicapai. Dalam sistem belajar ini media digunakan untuk menggantikan sebagian dari fungsi guru, yaitu fungsi dalam memberikan informasi atau isi pelajaran. Kalau sistem belajar mengajar seperti ini dapat diterapkan, ada beberapa keuntungan yang diperoleh :

1) Guru mempunyai lebih banyak waktu untuk membantu siswa yang lemah.

Sementara siswa sibuk belajar sendiri, guru dapat memberikan bantuan kepada siswa yang lebih membutuhkan

2) Siswa belajar secara aktif

3) Siswa dapat belajar sesuai dengan gaya dan kecepatan masing-masing

4) Namun demikian perlu disadari benar-benar bahwa sistem ini digunakan, guru perlu membuat persiapan yang matang, dan perlu penyediaan media dan peralatan belajar yang cukup

(37)

commit to user c. Kriteria Pemilihan Media

Salah satu penyebab mengapa orang memilih media adalah untuk memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan yang diinginkan. Sekiranya suatu media yang telah sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, maka media tersebut dapat dimanfaatkan.

Salah satu kriteria yang harus digunakan dalam pemilihan media yaitu sesuai dengan faktor-faktor di atas. Beberapa patokan yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media yaitu : 1) Ketersediaan sumber, 2) Ketersediaan dana, tenaga, dan fasilitas, 3) Keluwesan, kepraktisan, dan daya tahan (umur) media, 4) Efektifitas media untuk waktu yang panjang.

Atas dasar uraian mengenai faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam memilih media dan saran, dapat disajikan kriteria pemilihan media adalah sebagai berikut :

1) Tujuan

Kalau yang ingin diajarkan adalah suatu proses, media gerak seperti video, film atau TV merupakan pilihan yang sesuai. Kalau yang ingin diajarkan adalah suatu keterampilan dalam menggunakan alat bantu, sehingga membutuhkan media yang tepat sesuai dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai.

2) Karakteristik Siswa

Berapa jumlahnya? Dimana lokasinya? Bagaimana gaya mengajarnya? Dan berbagai karakteristik yang mempengaruhi pemilihan media itu.

3) Karakteristik Media

Dalam pemilihan media perlu mempertimbangkan kelebihan dan keterbatasan masing-masing media.

4) Alokasi Waktu

Cukupkah waktu untuk kegiatan perancangan, pengembangan, pengadaan ataupun penyajian.

(38)

commit to user 5) Ketersediaan

Tersediakah media yang diperlukan? Tersediakah layanan purna jualnya? Apakah tenaga pengelolaannya?

6) Efektifitas

Apakah efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan? Efektif untuk penggunaan dalam jangka waktu yang lama?

7) Kapatibilitas

Apakah penggunaan alat tersebut tidak bertentangan dengan norma-norma yang berlaku? Tersediakah sarana penunjang pengoperasiannya? Bagaimana daya tahan umurnya?

8) Biaya

Cukupkah dana yang diperlukan untuk pengadaan, pengelolaan dan pemeliharaannya?

7. Alat Bantu Pembelajaran a. Pengertian Alat Bantu Pembelajaran

Alat bantu merupakan alat-alat yang digunakan oleh pendidik dalam menyampaikan materi pembelajaran. Alat bantu ini lebih sering disebut alat peraga karena berfungsi untuk membantu dan mempraktekan sesuatu dalam proses pendidikan pengajaran.

Jelas perlu pengertian atau pengetahuan yang diperoleh. Dengan perkataan lain, alat peraga ini dimaksudkan untuk mengerahkan indra sebanyak mungkin suatu objek sehingga mempermudah persepsi.

Manfaat alat bantu pembelajaran menurut Soekidjo (2003) secara terperinci manfaat alat peraga antara lain sebagai berikut :

1) Menimbulkan minat sasaran pendidikan 2) Mencapai sasaran yang lebih banyak 3) Membantu mengatasi hambatan bahasa

4) Merangsang sasaran pendidikan untuk melaksanakan pesan-pesan kesehatan

(39)

commit to user

5) Membantu sasaran pendidikan untuk belajar lebih banyak dan cepat

6) Merangsang sasaran pendidikan untuk meneruskan pesan-pesan yang diterima kepada orang lain

7) Mempermudah penyampaian bahan pendidikan/informasi oleh para pendidik pelaku pendidikan

8) Mempermudah penerimaan informasi oleh sasaran pendidikan

b. Syarat Alat Bantu Pembelajaran yang Baik

Suatu alat pembelajaran dikatakan baik, apabila mempunyai tujuan pendidikan untuk mengubah pengetahuan, pengertian, pendapat dan konsep-konsep, mengubah sikap dan persepsi, menanamkan tingkah laku/kebiasaan yang baru. Selain itu alat bantu harus efisien dalam penggunaannya, dalam waktu yang singkat dapat mencakup isi yang luas dan tempat yang diperlukan tidak terlalu luas. Penempatan alat bantu perlu diperhatikan ketepatannya agar dapat diamati dengan baik oleh siswa.

Efektif artinya memberikan hasil guna yang tinggi ditinjau dari segi pesannya dan kepentingan siswa yang sedang belajar. Sedangkan yang dimaksud dengan komunikatif ialah bahwa media tersebut mudah untuk dimengerti maksudnya, sehingga membuat siswa menjadi lebih mudah dalam menerima pembelajaran yang diberikan oleh guru.

1) Pembelajaran Tolak Peluru Menggunakan Alat Bantu Kertas Koran

Pembelajaran menggunakan bola berekor merupakan bentuk belajar tolak peluru yang pelaksanaannya sebuah peluru digantikan oleh bola yang terbuat dari kertas koran yang dibuat menyerupai bola. Dengan bola dari kertas, saat pembelajaran siswa tidak akan mengalami kesulitan dalam mempraktekkan gerakannya karena ringan dan bentuknya masih sederhana. Sehingga siswa akan terpacu untuk melakukan gerakan-gerakan dasar menolak. Salah satu bentuk kegiatannya adalah tampak seperti gambar di bawah ini, yaitu menyusun kotak kardus, kemudian melemparinya dengan bola dari kertas koran dan terakhir disusun kembali.

(40)

commit to user

Gambar 4. Pembelajaran tolak peluru menggunakan alat bantu kertas koran

2) Pembelajaran Tolak Peluru Menggunakan Alat Bantu Bola Berekor

Pembelajaran gerak dasar tolak peluru dapat menggunakan bola tenis berekor.

Pembelajaran menggunakan bola berekor merupakan bentuk belajar tolak peluru yang pelaksanaannya sebuah peluru digantikan oleh sebuah bola yang diberi ekor.

Pembelajaran dengan bola berekor ini bertujuan lebih mendekatkan ke alat sesungguhnya serta gerakan menolak dari atas. Pembelajaran ini cocok untuk pembelajaran tolak peluru, serta siswa akan lebih tertarik karena terdapat alat modifikasinya. Penggunaan bola berekor ini mempunyai banyak keuntungan, antara lain : akan mengurangi laju bola, terlihat menarik jika dilempar-lempar, dapat dilakukan dengan pendekatan gaya pemberian tugas, bahayanya relatif kecil, dan dapat pula melakukan lontaran dengan jalan dipegang talinya.

Salah satu kegiatan tersebut adalah seperti terlihat dalam gambar di bawah ini :

Gambar 5. Pembelajaran tolak peluru menggunakan alat bantu bola berekor

(41)

commit to user

Jarak antar barisan siswa dapat bervariasi disesuaikan dengan kemampuan siswa kita, serta formasinya juga dapat kita berubah-ubah. Kegiatan tersebut tidak hanya bagi kelas atas, namun kelas rendahpun juga dapat diperkenalkan dengan kegiatan seperti itu.

B. Kerangka Berpikir

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diarahkan untuk menyelesaikan masalah yang sesuai dengan konsep pembelajaran yang sesuai dengan konsep yang dipelajari.

Permasalahan yang sering dihadapi dalam pembelajaran pendidikan jasmani khususnya pada model atau cara guru menyampaikan materi pelajaran. Seringkali materi yang diajarkan oleh guru kurang tertanam kuat dalam benak siswa. Khususnya dalam pembelajaran praktik dasar tolak peluru gaya orthodox. Siswa kurang mampu menganalisis gerakan yang telah diajarkan oleh guru, sebab guru hanya menyampaikan materi secara verbal, adapun memberikan demonstrasi atau contoh kurang dapat ditangkap oleh siswa secara optimal. Guru bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi siswa, siswa diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan berfikirnya dalam menyelesaikan masalah yang sesuai dengan materi pembelajaran.

Permasalahan umum dalam pembelajaran pendidikan jasmani adalah kurangnya sarana atau peran aktif siswa dalam kegiatan belajar. Proses pembelajaran yang berlangsung belum mewujudkan adanya partisipasi siswa secara penuh. Siswa berperan sebagai objek pembelajaran, yang hanya mendengarkan dan mengaplikasikan apa yang disampaikan guru. Selain itu proses pembelajaran kurang mengoptimalkan penggunaan modifikasi pembelajaran yang dapat memancing peran aktif siswa.

Penggunaan model nyata yang dapat diamati dan dipegang secara langsung oleh siswa memungkinkan siswa untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar. Model nyata yang dimaksud adalah media pembelajaran, penggunaan modifikasi pembelajaran memungkinkan siswa lebih banyak melakukan kegiatan seperti melihat, menyentuh, merasakan, melalui modifikasi alat bantu tersebut.

Penggunaan modifikasi dalam pelaksanaan tindakan tiap siklusnya disesuaikan dengan topik materi yang sedang dipelajari. Secara garis besar modifikasi yang digunakan antara lain berupa alat bantu yaitu bola berekor dan kertas koran yang digunakan untuk pembelajaran dalam teknik dasar tolak peluru gaya orthodox. Secara lebih rinci jenis-jenis media tersebut dijabarkan dalam RPP setiap pertemuan.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan kinerja pada pegawai negeri sipil, tenaga honor daerah, dan tenaga harian lepas

No/Not yet in school Elementary school Junior high - general Junior high - vocational Senior high - general Senior high - vocational Adult Education A Adult Education B

Kemukiman Padang Bakau, Bakau Hulu, dan Manggis Harapan akhir-akhir ini lebih sering bergabung dalam mengadakan Rateb Siribee, apabila berzikirnya di desa Padang Bakau, maka

Tujuan utama analisis fakta ialah untuk memahami makna dari segi yang paling kecil. Menyimak untuk

into bystanders’ behavioural intentions to help the victim or reinforce the bully. How do victims react to cyberbullying on social networking sites? The influence

Kombinasi antara metode eksak yaitu algoritma Dijkstra dengan metode heuristic yaitu Saving Heuristic dapat menghasilkan rute yang memenuhi kriteria permasalahan

Motivasi menurut kamus terbaru bahasa Indonesia (2008: 456) adalah kecenderungan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar melakukan tindakan dengan

Menyadari pentingnya peran UMKM dan karena beberapa permasalahan yang ada, antara lain : wacana yang telah dijelaskan diatas dan hasil penelitian- penelitian