Buletin Pengujian Mutu Obat Hewan No. ll Thhun 2005
KAJIAN MORFOPATOLOGI DAN IMMUNOLOGI PADA
AYAM SPECIFIC PATHOGEN FREE (SPF) SETELAH DIVAKSINASI DENGAN VAKSIN GUMBORO AKTIF
STRAIN INTERMEDIATE
Syahroni B.t), HandharyaniE.2), Soejoedono R. D.2), Jusa E. R.1) 1). Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan , Gunung Sindur, Bogor
2). Fakultas Kedokteran Hewan , Institut Pertanian Bogor, Bogor.
ABSTRACT
A study was conducted to determine the pathomorphology and immunology in specific pathogen free (SPF) chickens after vaccination with intermediate strain of infectious bursal disease (IBD) live vaccine. In this study, 60 SPF chickens, two weeks old, were allocated into two groups. A11 42 chickens in the first group were each vaccinated orally with 5X doses of intermediate strain of infectious bursal disease (IBD) live vaccine and 18 chickens in the second group were used as controi. All animals were observed every day for the occunence of clinical signs. One week after vaccination.
six chickens from vaccinated group and three chickens from control group were weighed, bleed, and necropsied at weekly intervals. At necropsy, bursa of Fabricius, thymus and spieen were weighed and immersed in 107o formalin in phosphate buffered saline (PBS) for histopathological examination.
Antibody titer against IBDV was measured by serum neutralization test (SNT). This study showed the value of bursa of Fabricius/body weight ratio index30.Tinbothgroupsexceptinthevaccinatedchickensnecropsiedatfirstweekpostvaccination(0,57). Thevalueofbursalesionscorewas 1-2in all vaccinated chickens and 0 in control group. From first to seventh week post vaccination, all chickens showed 3 800 times in SNT and control group = 8.0. The antibody titers were significantly increased after vaccination and decreased at the seventh week post vaccination, lower than the minimum requirement (800X).
Key words : Infectious bursal disease (IBD), strain intermediate, specific pathogen free, bursa lesion score, serum netralization test.
PENDAHULUAN
Penyakit virus unggas menimbulkan banyak
kerugian di
Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan untuk penanggulangan penyakit adalah dengan melakukan program vaksinasi yang baik danbenar. Dari sekian banyak penyakit virus unggas, penyakit Gumboro atau infectious bursal disease
(IBD) masih merupakan penyakit yang sangat sulit diberantas. Salah satu faktor penting yang menentukan suksesnya program vaksinasi adalah mutu vaksin itu
sendiri.
Beberapa tahun belakanganini
vaksin Gumboro aktif strain intermediate banyak digunakandi
lapangan untuk mencegah penyakit Gumboro karena penggunaan vaksin Gumboro aktif strain mild dinilai kurang memberi hasil yang memuaskan.Penggunaan
vaksin Gumboro aktif
strainintermediate
sekarang semakinmeningkat
di lapangan, terutama karena banyaknya impor vaksin Gumboro aktif strain intermediate.Di lapangan banyak dijumpai kegagalan vaksinasi (Partadireja et
al., I99I),
yang diduga disebabkanoleh
adanya perbedaanstruktur antigen
antara beberapa galur virus IBD dalam serotipe yang sama(Mc.
Ferran etal.,
1980;Ismail
danSaif,
1991;Partadireja dan Soejoedono, 1997). Strain virus tersebut dikenali sebagai strain varian virus yang dapat meniadakan kekebalan ayam yang divaksinasi (Rosenberger dan Cloud, 1986; Lukert, 1992).
Vaksin Gumboro aktif strain intermediate dapat menimbulkan kerusakan pada bursa F abric ius,
timts
dan
limpa,
tetapi kerusakan yang ditimbulkan tidak bersifat permanen, dimana organ organini
akan kembali normal pada jangka waktu tertentu pasca vaksinasi. Vaksin dinyatakan memenuhi syaratuji
keamanan bila nilai bursal lesion score (BLS)
f
2,0(Anonimous, 2002) dan index bursal body weight ratio (IBBWR) 3 0,7 (Palya et
al. l99l;
Anonimous, 2000).Tujuan
dari
penelitianini
adalah untuk menge-tahui perubahan histopatologi pada organ bursa Fabricius,
limpa dan
timus, setelah divaksinasi dengan vaksin Gumboro aktif strain intermediate.BAHAN DAN METODE
Tempat dan Waktu
Penelitian
ini
dilakukan di Balai BesarPengujianMutu
dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), Gunungsindur, Bogor dan Laboratorium PatologiBuletin Pengujian Mutu Obat Hewan No. l1 Tahun 2005
Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor selama 6 bulan mulai bulan Pebruari 2004 sampai dengan bulan
Juli
2005.Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
kandang i s o lat or, spuit, cl e an b e nch, s c alp e
l,
gunting,pinset, inkubator 37" C, tabung reaksi, tabung plastik, plate 96 well (tipe datar),
parafin drayer,
parafin stracher, gelas objek, gelas penutup, microtome, auto technicon, mikroskop, kamera dan mikropipet untuk pengerjaan ELISA.Sedangkan bahan yang dipergunakan adalah : ayam SPF umur 2 minggu, vaksin
IBD
aktif strain intermediate(winterfild 2512)
1000 dosis2
vial, phosphate buffer saline (PBS), formalin I0
7a,alkohol, ethyl alkohol 30Va, 507o, J}Va, 80Vo, 957o
dan alkohol absolut, parafin, hematoksilin Mayer, lithium carbonat, balsam Kanada, bursa Fabricius, limpa, timus, serum darah ayam, minimum essential medium (MEM), maintenanc e medium (MM), growth medium (GM) dan reagen -reagen ELISA.
Metode
Penelitian
ini
menggunakan 60 ekor ayam SPFumur
2
minggu. Ayam tersebut dibagi menjadi 2 kelompok, kelompokI
sebanyak 42 ekor divaksinasi secara per oral dengan vaksin IBD strain intermediate sebanyak 5x
dosis/ekor, sedangkan kelompokII
sebanyak 18 ekor sebagai kelompok kontrol tidak divaksinasi.
Ayam diamati setiap hari terhadap gejala klinis yang timbul. Setelah satu minggu pasca vaksinasi diambil 6 ekor ayam kelompok vaksinasi dan 3 ekor ayam kelompok kontrol. Ayam
ditimbang
berat badannya dan diambil darahnya. Kemudian ayam dinekropsi dan diperiksa secara patologi anatomi terhadap perubahan yang terjadi pada organ bursa F abricius,timus dan limpa. Lalu ditimbang juga berat organnya dan disimpan dalam buffer normal formalin (BNF)l0
Vo seLama2-3 hari.Pembuatan Preparat Histopatologi
Organ barsa Fabricizs, timus dan limpa yang telah difiksasi dalam BNF 10 Vo didehidrasi secara bertahap pada alkohol dan xylol, kemudian dibuat blok paraffin dengan metode standar. Jaringan yang sudah dibuat blok paraffin dipotong dengan ketebalan 3-5
mm
dan
dilekatkan pada gelas obyek kemudian dilakukan pewarnaan den gan hematorylin- eb sin (I7E).Selanjutnya slide dipeiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan histopatologi.
Serum N eatralization Test (SNT) dan Enzym Linke d Immuno Sorbent Assay (ELISA)
Darah yang diambil disimpan dulu di ruang37"C selama lebih
kurang 2
jam, kemudian disimpan di ruang 4oC
selama satu malam, keesokan harinya serum dipisahkan dan disentrifugasi dengan kecepatan 1000-2000 rpm selama 5 menit. Serum yang didapat dititrasi antibodinya dengan SNT sesuai dengan prosedur yang dipergunakan oleh FOHI (Anonimous, 2004).Pembuatan
Biakan Jaringan
Chicken Embryo Fibroblast (CEF)Terlebih dahulu dilakukan pembuatan biakan jaringan dad telur embryo tertunas (TET) umur 8-10 hari yaitu chicken embryo fibroblast (CEF). Setelah monolayer CEF tumbuh diinokulasi dengan serum yang telah diencerkan dan dinetralisir dengan virus
standar IBD. Diinkubasi menggunakan inkubator pada
suhu 37"C mengandung
5
VoCO'
Selanjutnyadilakukan
pengamatan setiaphari
terhadap sel tersebut. Amati timbulnya cytophaticeffict
(CPE)pada sel dan dihitung titer antibodinya (Anonimous, 2000; Soejoedono, 1998). Serum yang sama juga dititrasi dengan metode ELISA indirek.
Data yang diamati adalah berat badan, berat bursa,
limpa dan timus, titer antibodi, indeks rasio bursa Fabricius, lesi patologi anatomi, dan histopatologi.
HASIL
DAN PEMBAHASANHasil studi ini menunjukkan bahwa pada minggu pertama pasca
vaksinasi IBBWR
mengalami penurunan hingga di bawah 0.7, namun akan segera naik hingga di atas 0,7. Berdasarkan data pada Grafik 1, angka indeks bwsa Fabricius di minggu pertama pasca vaksinasi adalah 0,57 berada di bawah standar 0,7 (Palya etal., I99l)
lalu naik di atas stdndar pada minggu kedua 1,17 kemudian turun lagi pada minggu ketiga dan keempat sampaidi
bawah standar 0,68.Minggu kelima, keenam dan ketujuh angka indeks
Buletin Penguiian Mutu Obat Hewan No. 11 Tahun 2005
bursa relatif stabil
di
angka0,85.
Sedangkan nilai IBBWR ayam kelompok kontrol pada setiap interval pengamatan selalu beradadi
atasnilai
kelompok vaksinasi. Halini
menunjukkan bahwa kelompokayam yang tidak mengalami vaksinasi
tidak menunjukkan adanya kerusakan pada bursa Fabricius.Karena strain vaksin yang diaplikasikan cukup keras, sehingga satu minggu setelah vaksinasi menyebabkan
btrsa
Fabricius mengalamiatrofi
atau mengecil.Reaksi vaksin Gumboro
aktif
strain intermediate sering merusak organlimfoid
primer seperti bursa Fabricius dan timus kemudiandiikuti
oleh limpa, ginjal dan ceca tonsil, diikuti oleh perdarahan pada otot dada dan paha (Craig, 1919). Jika dibandingkan dengan ayam kontrol angkaIBBR kelompok vaksinasi di bawah 0,7. Hal ini mengindikasikan bahwa vaksin yang digunakan dalam penelitianini
masuk dalam kategori aman atau memenuhi persyaratan minimum pengujian.Hasil yang sama diperlihatkan pada Graflk 2,
dimana tingkat kerusakan bursa
Fabricius
ayam kelompok vaksinasi (BLS) didapat =2.
Hal ini juga mengindikasikan vaksin yang sedangdiuji
aman karena memenuhi kriteria standar pengujian vaksin (Anonimous,2002).
Bursa Fabricius ayam tidak mengalami kerusakan parah seperti nekrosa folikel limfatik, edema jaringan intertisial, adanya vakuola/cystic cavity dari korteks
folikel,
fibroblasia pada jaringan ikat interfolikuler dan bentuk plica bursa F abricius tidak teratur.234567
Pasca Vaksinasi (minggu)
-- Konhol -* Vaksimsi
Grafik 1. Perbandingan index bursa body weight ratio
(IBBWR)
antara kelompok ayam yangdivaksinasi dengan vaksin Gumboro aktif strain intermediate dan ayam kontrol
345
Pasca Vaksinasi (Minggu) --.- Kontrol * Vaksinasi
Grafik 2. Perbandingan kelompok ayam Gumboro aktif kontrol
Bursa Score
Lesio
antara yang divaksinasi dengan vaksin sttain intermediate dan ayamKegagalan vaksinasi Gumboro
di
lapangan banyak disebabkan oleh kerusakan bursa Fabricius, dimanavirus
vaksin strain intermediate banyak berperan (Partadiredja et al.,l99l).
Kerusakan bursa Fabricius dapat juga disebabkan oleh virus lapangan yang ganas, dimana vaksin yang dipakai tidak dapat melawan virus lapangan tersebut. Diduga karena adanya perbedaan struktur antigen antara beberapastrain
virus
Gumboro dalam serotipe yang sama (Mc.Ferran etal.,
1980;Ismail
danSaif, I99l;
Partadiredja dan Soejoedono, 1997). Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa nilai BLS ayam kelompok vaksinasi dan kontrol = 2,halini menunjukkan bahwa vaksin yang digunakan masuk dalam kategori aman.
Grafik
3 dan 4, menunjukkan bahwa kelompok ayam yang divaksinasi dengan vaksin Gumboro aktif strain intermediate menghasilkan titer antibodi SNT danELISA
yang cukuptinggi.
Kelompok ayam kontrol dengan SNT menunjukkan titer antibodi 1: 8 dan dengan metode ELISA < 5 EU sepanjang interval pengamatan.Untuk
SNT nilai protektifIBD
3 800 (Anonimous, 2002) sedangkan dengan metode ELISA nilai positip IBD adalah > 5 EU (Affini Teech. ELISA TestKit.
2004). Hal ini menunjukkan bahwa semua ayam kelompok kontrol tidak mempunyai antibodi protektif. Sedangkan pada ayam kelompok vaksinasi dengan SNT memperlihatkan titer>
1 : 800 mulai minggu perlama sampai dengan minggu ke tujuh post vaksinasi dan dengan metode ELISA semua ayam kelompok vaksinasi memperlihatkan nilai titer > 5 EU.Buletin Penguiian Mutu Obat Hewan No. I I Tahun 2005
Angka titer antibodi meningkat secara teratur sampai minggu keempat pasca vaksinasi atau hari ke 28 dimana virus vaksin Gumboro mampu bertahan pada bursa dan mampu menstimulir produksi antibodi (Bayyari et
al.
1996) dan menurun lagi secara teratur sampai minggu ketujuh pasca vaksinasi.Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilaksanakan
Kim
etal.
(1999) yang menyatakan bahwa recovery kemampuan memproduksi antibodidan repopulasi dari folikelbursa Fabricius pada ayam SPF umur satu minggu yang divaksinasi dengan vaksin Gumboro aktif strain intermediate akan terlihat pada minggu ketujuh pasca vaksinasi. Kondisi
ini
menggambarkan bahwa organ limfoid primer sebagai
kelenjar
pertahanantubuh
ayam seperti bursa Fabricius,limpa dan timus cukup stabil memproduksi antibodi setelah 7 minggu pasca vaksinasi.23456
Pasca Vaksinasi (1t4inggu)
- Kontrol + Vaksinasi
Grafik 3. Perbandingan Titer Antibodi antara Vaksinasi dan Kontrol dengan SNT.
Kelompok
*
Kontrol*
VaksinasiGrafik 4. Perbandingan Titer Antibodi antara Kelompok Vaksinasi dan Kontrol dengan Metode ELISA.
walaupun
divaksinasi dengan 5 x
dosis yang direkomendasikan oleh produsen ternyata nilai BLS danIBBWR
masih berada dibawah persyaratanminimum (Grafik
I
dan 2).
Titrasi antibodi secaraserologis baik dengan
SNT
maupun ELISA tidak berbeda,grafik titer
menunjukkan kenaikan dan penurunan yang sama. Hasil titer antibodi dengan SNTsecara keseluruhan mulai dari minggu pertama sampai minggu ketujuh berada di atas persyaratan minimum
1 : 800
(Anonimous, 2000). Sedangkan dengan metodeELISA juga
menghasilkantiter
antibodi Gumboro yang positip kuat (Moderately positivefor
antibodies to IBD), titer berada pada range 15 EU
-
75 EU (Affini Teech. ELISA Test
Kit,
2004).Data berat organ limfoid primer yang lain yaitu timus dan
limpa
ditampilkan pada Grafik 5 dan 6 menunjukkan berat rata-rata timus dan limpa ayam kelompok vaksinasi lebih rendah pada setiap interval mingguan dibandingkan dengan ayam kelompokkontrol Diduga
ayamkelompok
vaksinasi mengalami tekanan berat karena pengaruh virus Gumboro dari vaksin. Reaksi virus vaksin tersebut mempengaruhi kedua organlimfoid
(Craig et al.,197 9). Menurut hasil penelitian Tanimura et
al
(1998)terjadi insitu apoptosis bursa Fabricizs dan timus pada ayam SPF yang diinokulasi dengan virus IBD strain yang virulen. Hasil histopatologi menunjukkan adanya peningkatan endogenous apoptosis pada limfosit bursa Fabricius dan peningkatan apoptosis sel pada limfosit cortical timus, hal ini bermakna dan berpengaruh negatif terhadap kinerja bursa tersebut.
Hasil penelitian ini menunjukkan
adanya penunrnan kwalitas sel-sel bwsa Fabricius karena pengaruhdari vaksinasi
menggunakan vaksin Gumboro aktif strain intermediate, akan tetapi tidak sampai menurunkan titer antibodi yang diproduksi, hal ini ditunjukkan dari hasil titer antibodi dengan SNTdan ELISA yang paralel meningkat mulai dari minggu pertama sampai minggu ketiga dan keempat ialu cenderung menurun pada minggu kelima sampai minggu ketujuh (Grafik 6).
Menurut hasil penelitian Eddy et
al.
(1985) persembuhan dari bursa Fabricius,limpa dan usus pada ayam umur 36 hari yang diinokulasi isolat lapangvirus
Gumboro terjadi pada minggu ketujuh dan kedelapan, tetapi timus mengalami persembuhan pada minggu kedelapan. Pada penelitianini,
vaksinasi Gumboro diduga menyebabkan penurunan berat timus dan limpa kelompok ayam vaksinasi disebabkan karena kedua organlimfoid
bekerja keras dalam memproduksi antibodi dan pengaruh dari supresor sel60 50
40 30 20 t0
5
0
Grafik
5.
Perbandingan berat (gram) timus kelompok vaksinasi dan kontrolBuletin Pengujian Mutu Obat Hewan No. 1l Tahun 2005
T yang ada didalam kedua organ. (Soedijar, 1989).
Untuk itu dimungkinkan adanya penelitian lebih lanjut tentang pengaruh
vaksin
Gumboroaktif
strain intermediate terhadap organ timus dan limpa.345
Pas c a Vaksinasi (Minggu) --r- Vaksinasi --r- Konfol
Anonimous.
2000.Balai
PengujianMutu
danSertifikasi Obat Hewan. Petunjuk
Teknis Pengujian Vaksin Viral.Anonimous. 2004. Farmakope Obat
HewanIndonesia. Direktorat
Kesehatan Hewan.Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan.
Departemen Pertanian
Bayyari
G.R.,
StoryJ. D.,
BeasleyJ. N.
and Skeeles J.K.
1996. Pathogenicity Studies of an Arkansas Variant Infectious Bursal Disease Virus.Avian Diseasess;40: 516
-
532Craig
D.W.,
BrownJ.
andLukert P.D.
19'79.Effect of
Standard andVariant Strains of
Infectious Bursal Disease Virus on Infections
of
Chickens. Am Jof
Res 51:Il92 - ll97
Eddy R.
K.,
Chettle N. J. and Wyeth P.J.
1985Antibody Responses and
Virus
Reisolation inTurkeys Experimentally
Infectedwith
anInfectious Bursal Disease Isolate. Vet RecApril:
368
-
369Ismail N. M. and Saif Y. M . 1991. Immunogenicity of Infectious Bursal Disease Viruses in Chickens.
Avian Diseases 35: 460-469.
Kumar K.o Singh K. C. P. and Prasad C.
B.
2000.Immune Respons
to
Intermediate Strain IBD Vaccine at Different Levels of Maternal Antibodi in Broiler Chickens. Trop Anim Health and Prod 32:357-
360.Kim I. J.,
GagicM. and
SharmaJ. M.
1999.Recovery of Antibodi
-
ProducingAbility
andLymphocyte Repopulation of Bursal Follicles in Chickens Exposed to Infectious Bursal Disease
Virus.
Avian Diseasess 43 :401-
4I3.Lukert
P.D.1992. Didalam Soejoedono RD. 1996.Pathogenic and
Antigenic
Characteristicof
Variant Infectious Bursal Disease Virus. Personal Communication
antara
1,6
r,4
1,2
I 0,8 0,6 0,4 0,2 0
345
Pasc a Vaksinasi QAinggu)
-r-
Vaksinasi --r- KontrolGrafik 6. Perbandingan berat (gram)
limpa
antara kelompok vaksinasi dan kontrolDAFTAR
PUSTAKAAnonimous. 1990. Pedoman Pengendalian Penyakit Hewan Menular. Direktorat Kesehatan Hewan.
Direktorat Jenderal Peternakan. Departemen Perlanian.
Anonimous.
I99I.
Pedoman Pengkajian Penyakit Gumboro . Balai Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan / BPMSOH.Buletin Pengujian Mutu Obat Hewan No' 91 N@fiMOs
Mazariegos L.
A., Lukert
P. D.and
Brown J' 1990. Pathogenicity and Immunosupresive Propertiesof Infectious Bursal
Disease "Intermediate Strain
".
Avian Diseases 34:203'208.
McFerran JB et at' 1980. Isolation and Serological Studies of
IBDV in
Fowl' Turkeys and Ducks' Avian PathologY 9:395-
404.PaylaV. 1991. Manual for the Production of Mareks Disease, Gumboro Disease' and Inactivated Newcastle Disease
Vaccine. FAO
Annual Production&
Health PaPers.Partadiredja M., Soejoedono R. D., Nurhadayani A. dan Leksmono C. S. 1991. Mempelajari Cara Pembuatan Vaksin Gumboro
Inaktif '
SeminarPenelitian Dirlitbanmas. Ditjen Dikti'
Depdikbud. Sawangan . Bogor'
Partadiredja M. and Soejoedono R. D' 1 997' Cross Protection Study of Chickens Vaccinated with an
Imported IBD
Vaccine Challengedwith
3Pathogenic IBDV Isolates in Indonesia. Hemera Zoa
79:22-29.
Rosenberger
J.K.
and Cloud S. S. 1986. Antigenicand Cross Protection Studies of Infectious Bursal Diseae
Virus
Variants.NECAD - 86'
Univ'Delware. Newark.
America.
Soedijar
I. L.
1989. Response of Japanese Quail to Various Vaccines. Animal Hygiene Department' Agriculture Faculty' Tohoku University' Japan'Soejoedono R.