PENGARUH LINGKUNGAN PADA TAMBAK
AIR PAYAU AKIBAT REMBESAN LUMPUR
LAPINDO DI SIDOARJO, JAWA TIMUR
O l e h :
ARY ANDRIYANI
0852010041
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” JATIM
SURABAYA
SKRIPSI
PENGARUH LINGKUNGAN PADA TAMBAK
AIR PAYAU AKIBAT REMBESAN LUMPUR
LAPINDO DI SIDOARJO, JAWA TIMUR
untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh
Gelar Sarjana Teknik ( S-1)
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
O l e h :
ARY ANDRIYANI
0852010041
PROGRAM STUDI TEKNIK LINGKUNGAN
FAKULTAS TEKNIK SIPIL & PERENCANAAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “ VETERAN” JATIM
SURABAYA
PENGARUH LINGKUNGAN PADA TAMBAK
AIR PAYAU AKIBAT REMBESAN LUMPUR
LAPINDO DI SIDOARJO, JAWA TIMUR
Oleh :
ARY ANDRIYANI
0852010041
Telah dipertahankan dan diterima oleh Tim Penguji Skripsi
Program Studi Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur
Pada hari : Rabu Tanggal : 23 Mei 2012
Menyetujui,
Pembimbing
Dr. Ir. Munawar, MT
NIP : 19600401 198803 1 00 1
Penguji I
Ir. Putu Wesen, MS
NIP : 19520920 198303 1 00 1
Mengetahui,
Penguji II
Ir. Naniek Ratni JAR., M.Kes
NIP : 19590729 198603 2 00 1
Ketua Program Studi
Dr. Ir. Munawar, MT
NIP : 19600401 198803 1 00 1
Penguji III
Ir. Novirina H., MT
NIP : 19681126 199403 2 00 1
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan
Untuk memperoleh gelar sarjana (S1), tanggal :...
Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan Perencanaan
CURRICULUM VITAE
Penelit i
Nama Lengkap
:
ARY ANDRI YANI NPM:
0852010041 Tempat/ tanggallahir
:
Jombang, 20 Januari 1989Alamat
:
Dsn.Banggle, Perak, Jombang Telp rumah:
-Nomor Hp.
:
03171185252:
Pendidik an
No .
Nama Univ / Sekolah Program Mulai Keterangan
Studi Dari Sampai 1 FTSP UPN” Veteran”
Jatim
Teknik Lingkungan
2008 2012 Lulus
2 SMA PGRI 1 Jombang I PS 2004 2007 Lulus 3 SLTP Negeri 1 Perak Umum 2001 2004 Lulus 4 SDN 5 Sukorejo Umum 1995 2001 Lulus
Tugas Ak adem ik
No. Kegiatan Tempat/ Judul Selesai tahun 1 Kuliah Lapangan PT. SI ER, PT. Royal Fisheries, PT. PI ER,
Balai Konservasi hutan Mangrove Denpasar-Bali, PDAM Denpasar-Denpasar-Bali, PDAM Ubud-Bali
2009
2 Kunj. Pabrik PT. Multi Bintang I ndonesia, PT. SRI TEX Sukoharjo
2010
3 KKN Ds. Karanganyar, Kec. Bantaran, Kab. Probolinggo
2011
4 Kerja Praktek Pengelolaan dan Pengolahan Limbah PT. ECCO Tannery I ndonesia
2011
5 PBPAB Perencanaan Bangunan Pengolahan Air Buangan I ndustri Penyamakan Kulit
2012
6 SKRI PSI Pengaruh Lingkungan Pada Tambak Air Payau Akibat Rembesan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur
2012
Or ang Tua
Nama
:
Zainul ArifinAlamat
:
Dsn. Banggle, Ds. Sukorejo, Kec. Perak, Kab.Jombang Telp:
-sehingga penyusun dapat menyelesaikan tugas skripsi ini dengan judul
PENGARUH LINGKUNGAN PADA TAMBAK AIR PAYAU AKIBAT
REMBESAN LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO, JAWA TIMUR. Tugas ini
merupakan salah satu persyaratan bagi setiap mahasiswa Program Studi Teknik
Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, UPN “ Veteran “ Jawa
Timur untuk mendapatkan gelar sarjana. Selama menyelesaikan tugas ini,
penyusun telah banyak memperoleh bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak,
pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada:
1. Ir. Naniek Ratni JAR., M.Kes, selaku Dekan Fakultas Teknik Sipil Dan
Perencanaan UPN “Veteran” Jawa Timur dan Dosen Penguji.
2. Dr. Ir. Munawar, MT, selaku Ketua Program Studi Teknik Lingkungan
UPN “Veteran” Jawa Timur dan Dosen Pembimbing yang telah
membantu, mengarahkan dan membimbing hingga tugas ini dapat selesai
dengan baik.
3. Ir. Putu Wesen, MS, selaku Dosen Penguji.
4. Ir. Novirina H. MT, selaku Dosen Penguji.
5. Kedua orang tua dan keluarga besar saya yang telah memberikan
semangat, membantu material, doa, serta support yang tidak pernah habis
ii
6. Erwin wijaya kusuma yang tidak habis-habisnya memberikan semangat,
membantu kelancaran dalam pengambilan sampel dan lain-lain.
7. Semua rekan-rekan di Teknik Lingkungan angkatan 2008 yang secara
langsung maupun tidak langsung telah membantu hingga terselesainya
tugas ini.
8. Semua pihak yang telah membantu dan yang tidak dapat saya sebutkan
satu per satu.
Apabila masih banyak kekurangan dalam penyusunan tugas skripsi ini,
saran dan kritik yang membangun akan saya terima. Akhir kata penyusun ucapkan
terimakasih dan mohon maaf yang sebesar-besarnya apabila didalam laporan ini
terdapat kata-kata yang kurang berkenan atau kurang dipahami.
Surabaya, Mei 2012
ABSTRACT... iv
DAFTAR ISI... v
DAFTAR TABEL... vii
DAFTAR GAMBAR... viii
BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang... 1
I.2. Rumusan Masalah... 2
I.3. Tujuan Penelitian... 3
I.4. Manfaat Penelitian... 3
BAB II TINJ AUAN PUSTAKA II.1. Lumpur Vulkanik (Mud vulcano)...…....……... 4
II.2. Pengelolaan Lingkungan... 6
II.3. Sumber Daya Air... 7
II.4. Pencemaran Air dan Dampaknya... 8
II.5. Tambak Air Payau... 12
BAB III METODE PENELITIAN III.1. Bahan Yang Digunakan... ….…... 18
III.2. Alat Yang Digunakan... 18
III.3. Kerangka Penelitian... ... 18
vi
III.5. Variabel... 19
III.6 Analisis Data... 19
III.7 Peta Lokasi Penelitian... 20
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1. Analisa Awal... 23
IV.2. Hasil Pengujian Pada Tambak... 24
IV.2.1 Amonia... 25
IV.2.2 Phospat... 26
IV.2.3 Nitrat... 28
IV.2.4 Nitrit... 30
IV.2.5 Oksigen Terlarut... 32
IV.3. Hasil Produksi Ikan Bandeng... 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN V.1. Kesimpulan... 36
V.2. Saran... 37
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN A. DATA HASIL PENELITIAN
LAMPIRAN B. BAKU MUTU
yang tercemar lumpur lapindo pada tambak Banjar Panji dan tambak tidak tercemar Kalanganyar. Metode analisa yang digunakan mengacu pada SNI (Standart Nasional Indonesia) dengan menggunakan Spectrofotometer. Kadar amonia pada tambak tercemar 12,32 ppm dan untuk tambak tidak tercemar 1,35 ppm. Kadar nitrit pada tambak tercemar lumpur lapindo 9,31 ppm dan untuk tambak tidak tercemar 2,34 ppm. Kadar nitrat pada tambak tercemar lumpur lapindo 38,24 ppm dan untuk tambak tidak tercemar 22,56 ppm. Kadar phospat pada tambak tercemar lumpur lapindo 0,11 ppm dan pada tambak tidak tercemar 0,13 ppm. Sedangkan untuk analisa Oksigen Terlarut (DO) adanya penambahan pada air sample yaitu MnSO4 , Alkali Iodida Acida, Na2S2O3, H2SO4 pekat,
Indikator Amilum. Sehingga diketahui DO pada tambak tercemar lumpur lapindo 6,10 ppm dan untuk tambak tidak tercemar ppm.
ABSTRACT
The goals of this research were to know the effect of lapindo hot mud permeating through brackish waterpond on phosphate, ammonia, nitrate, nitrite and dissolved oxygen contents in Sidoarjo. The location were was at brackish waterponds permeated in Banjar Panji and unpermeated in Kalanganyar. The analysis method used was related to SNI (Indonesia National Standart) with using spektrofotometer. The result shoed amonia content of hot mud permeated pond 12,32 ppm and unper meated pond 1,35 ppm. Nitrite contents of permeated pond 9,31 ppm and unpermeated pond 2,34 ppm. Nitrate contents of permeated pond 38,24 ppm and unpermeated pond 22,56 ppm. Phosfate contents of permeated pond 0,11 ppm and unpermeated pond 0,13 ppm. As for the analysis of Dissolved Oxygen (DO) to the addition of the water sample is MnSO4, Alkali Iodides Acida, Na2S2O3, concentrated H2SO4, starch indicator. So that the unknown DO concents of permeated pond 1,38 ppm and unpermeated pond 3,66 ppm.
I.1 Latar Belakang
Kabupaten Sidoarjo selama ini dikenal sebagai daerah dan kota yang tumbuh
dan berkembang karena industri, pertokoan, perhotelan maupun berbagai fasilitas
layanan umum baik nasional maupun internasional. Kepadatan penduduk di kota
Surabaya dan padatnya lalu lintas maksa penduduk Surabaya untuk mengalihkan
tempat tinggalnya ke arah Kabupaten Sidoarjo yang lebih nyaman dan dibukanya
berbagai perumahan oleh para pengembang. Bukan hanya tanahnya yang masih
terbuka luas, namun produktivitas hasil-hasil pertaniannya juga sungguh
membanggakan, karena tanaman padi dan palawija serta hasil perikanannya
sangat besar dalam memberikan kontribusi baik terhadap pemerintah Kabupaten
Sidoarjo maupun bagi Pemerintah Propinsi Jawa Timur (Hidayat,2007).
Sejak terjadinya semburan lumpur panas di Kecamatan Porong, tapatnya pada
jarak 100-150 meter dari sumur eksplorasi Banjar Panji 1 dilokasi pertambangan
gas PT.Lapindo Brantas di Kelurahan Siring Kecamatan Porong Kabupaten
Sidoarjo. Lumpur panas yang bercampur gas telah merendam sebagaian desa di
Kecamatan Porong.
Keberadaan lumpur panas ini membuat ribuan warga mengungsi, mengancam
ekosistem tambak, mengganggu sistem transportasi regional dan bahkan
mengakibatkan dampak sosial akibat terganggunya infrastruktur ekonomi, dan
2
penanganan dampak lumpur panas ini dengan melakukan pembuangan lumpur ke
sebagaian areal pertambakan. Usaha ini menurut BRKP-DKP (Badan Riset
Kelautan dan Perikanan-Departemen Kelautan dan Perikanan) diperkirakan dapat
mengurangi potensi cemaran di perairan Selat Madura. Akan tetapi usaha tersebut
dapat pula berdampak negatif terhadap hasil usaha budidaya udang dan bandeng
(Hendrawati at all,2007).
Kandungan lumpur dan air luapan lumpur yang merembes ke sebagaian areal
pertambakan akan mengakibatkan penurunan kualitas air tambak yang
berpengaruh pula terhadap budidaya petani tambak di daerah tersebut. Penelitian
ini akan melakukan kajian besaran resiko lingkungan yang terkandung dalam air
rembesan lumpur lapindo tersebut terkait dengan dampak atau resiko terhadap
ekosistem perairan, untuk selanjutnya dapat ditetapkan manajemen resikonya.
Dengan manajemen resiko yang tepat, maka dampak ekologis perairan di wilayah
sekitar semburan akan dapat ditekan.
I.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah, maka perumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah terdapat kandungan atau kadar zat yang tinggi terkait dengan
rembesan lumpur lapindo.
2. Apakah kandungan dalam aliran air lumpur lapindo menimbulkan resiko
Peraturan Pemerintah RI No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas
Air dan Pengendalian Pencemaran air.
I.3 Tujuan Penelitian
1. Melakukan identifikasi kandungan air tambak disekitar lumpur lapindo
akibat rembesan air lumpur lapindo.
2. Melakukan analisis terhadap kandungan air tambak akibat rembesan
lumpur lapindo yang terkait dengan resiko terhadap ekosistem air.
3. Membandingkan produksi tambak bandeng yang tercemar air lumpur
lapindo dengan yang tidak tercemar air lumpur lapindo.
I.4 Manfaat
Membantu pengambil keputusan di dalam menentukan manejemen resiko
yang lebih efektif dan efisien dalam mengantisipasi dampak yang lebih besar
terhadap kerusakan lingkungan ekosistem air akibat rembesan aliran air lumpu
BAB II
TINJ AUAN PUSTAKA
II.1 Lumpur Vulkanik (Mud Vulcano)
Fenomena semburan lumpur di wilayah Cekungan Jawa Timur Utara,
sebenarnya bukanlah sebuah fenomena yang baru, karena sebelum semburan
lumpur panas di Sidoarjo terjadi, kawasan ini telah mengenal fenomena tersebut,
yang sering disebut dengan Gunung api Lumpur (Mud Volcano) (Zulkarnain,
2010).
Gambar 2. 1 Semburan Lumpur Lapindo
Menurut Niniek Herawati (2007), definisi dari Mud Volcano adalah suatu
gunung api lumpur yang berbentuk suatu kerucut tanah liat dan lumpur berukuran
kecil, yang pada umumnya kurang dari 1-2 m tingginya. Gunung api lumpur
kecilini terbentuk dari campuran air panas dan sedimen halus (tanah liat dan
lumpur) dimana terdapat aliran perlahan dari suatu lubang sepertisuatu arus lahar
cair; atau menyembur ke udara seperti suatu air mancur lahar yang melepaskan air
mendidih dan gas vulkanis. Tanah liat dan lumpur yang secara khas berasal dari
bawah memutar air bawah tanah menjadi suatu campuran panas dan asam yang
secara kimiawi merubah batuan vulkanik menjadi fraksi lumpur dan tanah liat.
Gambar 2.2 Lumpur vulkanik di wilayah Norris Geyser . (sumber : S.R. Brantley
pada September 1983)
Fenomena lumpur vulkanik yang terjadi di lokasi kegiatan PT.Lapindo
Brantas, Inc Porong Sidoarjo diperkirakan para ahli geologi karena patahan atau
crack yang memotong puncak dari batu gamping. Formasi Kujung, indikasi slump
(kemungkinan menunjukkan kemerosotan) dan Collapse zone (indikasi pernah
terjadinya runtuh didaerah ini pada masa lampau). Semburan lumpur vulkanik
dapat terjadi karena adanya liquifaction (pencairan) atau seperti agar-agar yg
dihentakkan secara mendadak sehingga menyembur keluar. Pada kondisi stabil
tanah liat adalah seperti tanah lempung yang sering dilihat dipermukaan bumi
dengan wujud sangat liat. Namun ketika kondisi dinamis karena mengalir maka
percampuran dengan air bawah tanah menjadikan lempung ini seperti bubur.
Lumpur vulkanik ini bisa melalui crack (patahan) yang sudah ada dapat juga
melalui pinggiran sumur dengan membentuk crack atau fracture yang baru.
6
Gambar 2.3 Kronologi terjadinya semburan Lumpur ( sumber : Kusumastuti, 2002 )
Dalam konteks bencana yang ditimbulkan oleh semburan Lumpur panas
tersebut, banyak para pakar dari ilmu kebumian yang sudah mencoba mengkaji
fenomena tersebut. Namun sayangnya, kebanyakan kajian tersebut lebih
terkonsentrasi pada mencari kemungkinan-kemungkinan yang menyebabkan
terjadinya semburan lumpur tersebut. Secara garis besar terdapat dua pendapat
tentang penyebab terjadinya semburan lumpur pada 29 Mei 2006 tersebut, yaitu:
semburan tersebut dipicu oleh gempa Yogyakarta yang terjadi pada tanggal 27
Mei 2006, dan semburan tersebut terjadi karena kesalahan dalam proses
pengeboran sumur Banjar Panji-1 (Zulkarnain, 2010).
II.2 Pengelolaan Lingkungan
Menurut Pasal 33 Undang-Undang No. 22 tahun 2001 tentang Minyak dan
wilayah dekat rumah tinggal, dekat bangunan umum dan wilayah pabrik.
Sementara, lokasi sumur Banjar Panji 1 berada 600 meter dari permukiman
warga. Namun pemerintah daerah justru meloloskan izin Upaya Pengelolaan
Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UPL) berikut turunan
izin lainnya terhadap kegiatan usaha ini. Seharusnya dalam dokumen UKL atau
UPL tersebut, sudah diperkirakan bagaimana kondisi geografis wilayah tersebut
dan desain (pengeboran) apa yang seharusnya dirancang untuk mengahadapi
situasi tersebut. Faktanya, pemerintah dan Lapindo justru menutup mata dengan
kondisi tersebut. Seolah-olah hal tersebut terjadi karena bencana alam dan
Lapindo lepas dari tanggung jawab.
Upaya penanganan (pasca semburan) yang dilakukan selama ini justru
jauh dari aspek perlindungan lingkungan. Selain itu, aroma yang timbul dari
luapan lumpur yang berdampak pusing dan mual turut hadir dalam peristiwa
tersebut. Dengan bergeraknya angin, aroma tersebut dapat dirasakan oleh
masyarakat yang berjarak lebih dari 2 km dari wilayah semburan (Solihin, 2010).
II.3 Sumber Daya Air
Air merupakan sumber daya alam untuk memenuhi hajat hidup orang
banyak sehingga perlu dilindungi agar tetap bermanfaat bagi hidup dan kehidupan
manusia serta mahluk hidup lainnya. Indonesia yang berada di wilayah iklim
tropis hanya memiliki dua musim, yaitu musim penghujan dan kemarau.
Suatu badan air seperti sungai sebagai bagian dari lingkungan hidup,
8
irigasi, listrik, perikanan, pertanaman, peternakan, industri dan keperluan
pemukiman (domestic). Peruntukan sungai perlu ditetapkan mengingat dampak
dari berbagai aktifitas kehidupan tersebut yang dapat memberikan dampak atau
risiko penurunan peruntukan badan air (Herawati, 2007).
Untuk memahami musim tersebut diperlukan pemahaman bagaimana air
dapat disimpan dengan baik didalam maupun dipermukaan tanah dan bagaimana
agar siklus air bekerja secara alamiah. Beberapa faktor yang menjadi penyebab
banjir, ternyata bukan hanya disebabkan karena curah hujan yang tinggi, akan
tetapi juga diakibatkan karena kondisi iklim global yang menyebabkan naiknya air
laut, sehingga air hujan tidak dapat mengalir dengan lancar ke laut.
Musim kemarau utamanya di Pulau Jawa selalu mengalami kekeringan
dan kesulitan air. Jumlah wilayah yang menderita kekeringan dari tahun ketahun
terlihat semakin meningkat dan meluas. Hal ini diakibatkan tidak hanya oleh
rusaknya lingkungan di daerah tangkapan air, akan tetapi juga diakibatkan oleh
pesatnya pembangunan fisik serta rendahnya tingkat kesadaran masyarakat dalam
penggunaan air yang tidak diikuti dengan upaya menjaga dan melestarikan
sumber daya air.
II.4 Pencemar an Air dan Dampaknya
Menurut Undang-Undang RI Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan
Lingkungan Hidup dan Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air, pencemaran air
komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia, sehingga kualitas air turun
sampai ke tingkat tertentu yang menyebabkan air tidak dapat berfungsi sesuai
dengan peruntukannya.
Air sebagai komponen lingkungan hidup dapat mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh komponen lainnya. Air yang kualitasnya buruk akan
mengakibatkan kondisi lingkungan hidup menjadi buruk sehingga akan
mempengaruhi kondisi kesehatan manusia dan kehidupan mahluk hidup lainnya.
Pencemaran air dapat disebabkan oleh kegiatan usaha atau dikenal dengan limbah
cair maupun oleh sebab alami atau bencana alam.
Berdasarkan cara pengamatan atau identifikasi pencemaran air, dapat
diketahui dari parameter :
1. Secara Fisika, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan tingkat
kejernihan air (kekeruhan), perubahan suhu air, perubahan rasa dan
warna air.
2. Secara Kimia, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan zat-zat kimia
yang terlarut dan perubahan pH.
3. Secara Biologi, yaitu pengamatan pencemaran air berdasarkan
mikroorganisme yang ada dalam air.
Air yang telah tercemar dapat menimbulkan resiko berupa kerugian yang
besar bagi manusia, yaitu :
1). Air menjadi tidak bermanfaat lagi; karena kualitasnya berubah maka
10
2). Air menjadi penyebab timbulnya penyakit, karena adanya zat-zat
kontaminan dan bakteri dalam air dapat membahayakan kehidupan biota
perairan serta kesehatan manusia yang berhubungan atau memanfaatkan
air tersebut.
Masalah lingkungan pada hakekatnya adalah masalah ekologi manusia.
Masalah lingkungan timbul sebagai akibat adanya pencemaran terhadap lingkungan.
Faktor penyebab utamanya adalah adanya unsur kesalahan dari
perusahaan-perusahaan yang beroperasi. Kesalahan itu meliputi unsur kesengajaan dan kelalaian.
Perusahaan atau korporasi di Indonesia saat ini belum sepenuhnya
memandang masalah lingkungan hidup sebagai konsepsi pembangunan yang
berwawasan lingkungan (ecodevelopment) sebagai suatu kewajiban sebagaimana
yang diamanahkan oleh undang-undang. Sehingga menyebabkan kualitas
lingkungan hidup yang semakin banyak menurun telah mengancam kelangsungan
kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Sebagai contoh pemanasan global
yang semakin meningkat, kasus lumpur PT. Lapindo Brantas yang mengakibatkan
rusaknya lingkungan alam dan pencemaran terhadap penduduk.
Akibat dari kasus lumpur PT. Lapindo Brantas yang tidak tahu kapan akan
berhentinya, sehingga pembuangan lumpur ke sungai porong menuju laut akan
tetap dilanjutkan untuk menjamin keselamatan penduduk di sekitar semburan.
Sudah menjadi permasalahan global bahwa dewasa ini makin sulit untuk
mendapatkan air bersih sebagaimana dibutuhkan dan dibutuhkan teknologi yang
cukup mahal untuk dapat memanfaatkan sumber daya air yang ada. Dengan
pembuangan lumpur ke badan air sungai porong menuju laut masyarakat sekitar
Selain itu air Lumpur dibuang pada sekitar area tambak yang merupakan
mata pencaharian masyarakat sekitar. Pembuangan air Lumpur tersebut tentu
akan menimbulkan dampak terhadap ekosistem air, membahayakan kesehatan
masyarakat sekitar dan industri-industri kelautan seperti budidaya tambak udang,
ikan, dan produksi garam yang ada, namun sampai seberapa besar risiko tersebut
diperkirakan perlu dilakukan penelitian mengenai hal tersebut sebagai dasar
pertimbangan manajemen resikonya, melalui pemantauan kualitas air badan air
secara rutin dan analisis hasil pemantauan tersebut.
Selama air lumpur dialirkan ke areal tambak, maka secara tidak langsung
mata pencaharian penduduk sekitar akan hilang karena tercemarnya air tambak yang
akan mempengaruhi pertumbuhan ikan nantinya. Dan pengaruh dari pengolahan
tambak yang banyak menggunakan pupuk untuk kesuburan tanah, adanya penyebaran
pakan yang secara berlebih (tidak termakan oleh ikan) sehingga secara tidak langsug
mempengaruhi kualitas air. Kandungan pupuk banyak terdapat phospat dan
N-Nitrogen, sehingga perlu dikaji mengenai penelitian tersebut.
Menurut Hendrawati, dkk (2007) dalam penelitiannya “ Analisa Kadar
Phosfat dan N-Nitrogen ( Amonia, Nitrat, Nitrit ) pada Tambak Air Payau akibat
Rembesan Lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur “.
Tabel 2.1 Hasil Penelitian
No Jenis zat kimia
Tambak yang tercemar disekitar kali Alo dan Kali
Porong (mg/l)
Tambak tidak tercemar disekitar kali Alo dan kali
Porong (mg/l)
Baku mutu (mg/l)
1 Amonia (NH3-N) < 2 < 3 0,016
2 Nitrit (NO2-N) 0 - 27,86 0 - 0,22 0,06
3 Nitrat (NO3 - N) 0 - 1,7 0 - 0,3 30
4 Phosfat 0,11 - 0,35 0,11 - 0,35
(hampir sama)
1
12
Sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar ammonia dan nitrit masih berada
pada ambang batas baku mutu.
II.5 Tambak Air Payau
Tambak merupakan usaha perikanan dalam wilayah tertentu yang dikelola
secara intensif sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Budidaya tambak
merupakan suatu kegiatan membesarkan ikan atau udang dalam suatu kolam, dan
agar dapat diperoleh hasil yang optimal maka perlu disiapkan suatu kondisi
lingkungan tertentu yang sesuai bagi ikan atau udang yang dipelihara.
Menurut Muhammad Alifudin (2003), secara teknis lokasi tambak yang
baik dan benar sangat berpengaruh terhadap konstruksi tambak yang akan
dibangun serta biaya operasional pemeliharaan tambak. Faktor teknis yang harus
diperhatikan antara lain adalah :
1. Elevasi
Elevasi merupakan ketinggian tempat atau lokasi tambak terhadap
permukaan laut. Hal ini dapat diketahui dengan memantau gerakan air pasang
dan air surut. Air pasang atau air laut naik terjadi pada saat bulan berada
dekat sekali dengan bumi dan waktu bumi serta bulan berputar, bergerak
mengarungi angkasa dan terjadi daya tarik terhadap lautan. Air surut atau air
laut turun terjadi pada saat bumi menjauhi bulan. Bagi petambak yang akan
membudidayakan ikan bandeng harus mengetahui kapan terjadinya pasang
tersebut untuk dibuat menjadi tambak. Lokasi tambak yang baik bila lokasi
tersebut terletak diantara pasang tertinggi dan pasang terendah.
2. Lokasi Tambak
Letak tambak biasanya berada di sepanjang pantai dan mempunyai luas
berkisar antara 0,3 – 2 ha. Luas petak tambak sangat bergantung kepada
system budidaya yang diterapkan. Bentuk dan konstruksi tambak bandeng
relatif sama dengan kolam di air tawar. Perbedaan keduanya adalah jenis air
yang digunakan, yaitu kolam menggunakan air tawar sedangkan tambak
menggunakan air payau atau laut.
Gambar 2.4 Tambak Bandeng (sumber : Alifudin 2003)
3. Jenis Tanah
Tambak pada umumnya dibuat secara alami artinya tidak dilapisi
dengan tembok, sehingga jenis tanah sangat menentukan dalam memilih
lokasi tambak yang baik. Jenis tanah yang dipilih harus dapat menyimpan air
atau kedap air sehingga tambak yang akan dibuat tidak bocor. Jenis tanah
14
lempung yang mengandung bahan organik. Tanah liat berlempung tersebut
dikenal dengan silty loam. Untuk mengetahui jenis tanah ini dapat diketahui
dengan menggunakan alat ukur atau secara manual. Tanah yang mengandung
liat tinggi akan dapat dipilin mamanjang. Namun, tanah yang mengandung
debu atau pasir tinggi hanya akan mengahasilkan pilinan tanah yang pendek
saja. Jenis tanah liat saja kurang baik untuk dijadikan lokasi tambak, karena
jenis tanah ini bersifat kaku kalau kering dan lekat/lengket kalau becek dan
menjadi lembek kalau diairi. Oleh karena itu jika tanah liat ini bercampur
dengan tanah dan endapan maka kekakuannya akan berkurang dan
kemampuan memegang airnya lebih besar.
4. Kualitas Air
Kualitas air atau mutu air yang akan digunakan untuk memelihara
ikan bandeng di tambak harus diperhatikan. Dengan kualitas air yang baik,
maka ikan bandeng akan tumbuh dan berkembang dengan baik.
Dengan kualitas air yang baik dan tanah yang subur, diharapkan
makanan alami dapat tumbuh dengan baik. Disamping kesuburan tanah,
kandungan zat-zat beracun merupakan factor yang berpengaruh pada kualitas
produksi. Untuk tambak-tambak tradisional , usaha terpenting untuk
menaikkan produktivitas tambak adalah dengan menyediakan air kolam
tambak dengan kualitas air yang baik serta dengan perbaikan dan penataan
Menurut M. Raswin (2003), standar kualitas air tambak pada
hakekatnya dibuat untuk memberikan petunjuk tentang konsentrasi berbagai
parameter yang sebaiknya diperbolehkan ada dalam air, yaitu antara lain :
1)Suhu Air
Suhu air sangat berpengaruh terhadap kehidupan dan pertumbuhan
organisme di dalam air, termasuk ikan. Secara umum peningkatan suhu
hingga nilai tertentu diikuti dengan peningkatan pertumbuhan ikan. Di atas
nilai tersebut pertumbuhan mulai terganggu, bahkan pada suhu tertentu ikan
mati. Suhu ini berkaitan dengan kelarutan gas di dalam air, khususnya
oksigen. Pada keadaan suhu air di dalam tambak tinggi maka kelarutan
oksigen terlarut akan rendah. Sebaliknya, proses metabolisme organisme
malah semakin cepat, yang berarti memerlukan oksigen makin tinggi.
Kisaran suhu yang optimal bagi ikan bandeng adalah 280C-300C. Alat yang
digunakan untuk mengukur suhu air adalah termometer.
2)Kecerahan
Kecerahan air tambak sangat bergantung kepada banyak sedikitnya
partikel (anorganik) tersuspensi atau kekeruhan dan kepadatan fitoplankton.
Kecerahan menggambarkan transparansi perairan, dapat diukur dengan alat
secchi disk. Nilai kecerahan (yang satuannya meter) sangat dipengaruhi oleh
keadaan cuaca, waktu pengukuran. serta ketelitian orang yang melakukan
pengukuran. Pengukuran kecerahan sebaiknya dilakukan pada saat cuaca
16
Warna air di dalam tambak mempengaruhi kecerahan, warna air ini
diakibatkan oleh adanya plankton di air tambak. Zat bewarna yang terlarut
pun dapat mempengaruhi kecerahan. Nilai kecerahan yang baik untuk
pertumbuhan ikan bandeng di tambak pembesaran berkisar antara 25 cm-35
cm.
3)Salinitas
Salinitas atau kadar garam adalah konsentrasi dari total ion yang
terdapat di perairan dan menggambarkan padatan total di air setelah semua
karbonat dikonversi menjadi oksida, bromida dan iodida dikonversi menjadi
klorida dan semua bahan organik telah dioksidasi.
4)Oksigen Terlarut
Ikan bandeng membutuhkan oksigen yang cukup untuk kebutuhan
pernafasannya. Oksigen tersebut harus dalam keadaan terlarut dalam air,
karena bandeng tidak dapat mengambil oksigen langsung dari udara. Ikan
bandeng dan organisme-perairan lainnya mengambil oksigen ini tanpa
melibatkan proses kimia.
5)pH
pH air tambak sangat dipengaruhi pH tanahnya. Sehingga pada
tambak baru yang tanahnya asam maka pH airnyapun rendah. Penurunan pH
dapat terjadi selama proses produksi disebabkan terbentuknya asam kuat,
adanya gas-gas dalam proses perombakan bahan organik, proses
metabolisme perairan dan lain-lain. Nilai pH yang baik untuk budidaya ikan
kurang baik, bahkan pada pH 4 atau 11 kematian bandeng dapat terjadi. pH
air laut cenderung basa. Karena itu pergantian air dapat digunakan untuk
meningkatkan pH air tambak. pH air dapat diukur menggunakan kertas
lakmus, yakni membandingkan warna kertas yang telah ditetesi air tambak
dengan warna standar pH atau cara yanglebih mudah, yakni menggunakan
Ph meter
6)Amonia
Amonia di perairan berasal dari hasil pemecahan nitrogen organik
(protein dan urea) dan nitrogen anorganik yang terdapat dalam tanah dan
air; dapat pula berasal dari dekomposisi bahan organik (tumbuhandan biota
akuatik yang telah mati) yang dilakukan oleh mikroba dan jamur. Kadar
amonia ditambak pembesaran bandeng sebaiknya tidak lebih dari 0,1 ppm –
0,3 ppm. Kadar amonia yang tinggi akan mematikan ikan di tambak
pembesaran. Oleh karena itu, kadar amonia di tambak pembesaran ini harus
selalu dipantau. Selain itu kadar amonia di tambak pembesaran juga
dipengaruhi oleh kadar pH dan suhu. Makin tinggi suhu dan pH air maka
makin tinggi pula konsentrasi NH3. Kadar amonia di tambak pembesaran
dapat diukur secara kolorimetri, yakni membandingkan warna air contoh
dengan warna larutan standar setelah diberi pereaksi tertentu. Biasanya
BAB III
METODE PENELITIAN
III. 1 Bahan yang Digunakan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah air tambak yang di
ambil dari pertambakan bandeng, berdasarkan tambak yang tercemar, tidak
tercemar lumpur dan air dari gorong-gorong (endapan dari lumpur lapindo).
III. 2 Alat yang digunakan
Spectroquant, Erlemeyer 250 ml, Botol winkler 250 ml, Buret 50 ml, Pipet
ukur, Corong, Karet penghisap, Pipet tetes dan Gelas ukur..
III. 3 Kerangka Penelitian
Secara umum kerangka penelitian yang dilakukan dapat dilihat pada
gambar 3.1
Gambar 3.1. Diagram Alir Penelitian Identifikasi Permasalahan
Studi Literatur
Pengambilan Sampel Persiapan Alat dan Bahan
Air tambak tidak tercemar rembesan air Lumpur Lapindo Air tambak tercemar
rembesan air Lumpur Lapindo
Analisa hasil dan Permasalahan
III.4 Langkah-langkah kerja
1. Pengambilan sample pada air gorong-gorong
2. Pengambilan sampel pada tambak tercemar
3. Pengambilan sampel pada tambak tidak tercemar
4. Menganalisa sampel
III.5 Var iabel
1. Amonia
2. Phospat
3. Nitrat
4. Nitrit
5. Oksigen Terlarut
III.6 Analisis Data
1. Analisis parameter amonia, nitrat, nitrit dan phospat menggunakan alat
spektrofotometer .
2. Analisis Oksigen Terlarut
1) Air sampel dimasukkan pada botol winkler sampai tidak ada
gelembung udaranya
2) Ditambahkan MnSO4
3) Ditambahkan Alkali iodida acida
4) Ditambahkan H2SO4
5) Ditambahkan indikator amilum
20
III.7 Peta Lokasi Penelitian
Gambar 3.2 Lokasi Penelitian Tambak Tercemar dan Air dari gorong-gorong
Gambar 3.3 Lokasi Penelitian Tambak tidak tercemar (Kalanganyar) Air Gor ong-Gor ong
Tambak Ter cemar Banjar Panji
Pusat Semburan Lumpur Lapindo
IV.1 Analisa Awal
Dalam penelitian ini kita ketahui bahwa lumpur lapindo dibuang secara
langsung tanpa danya proses terlebih dahulu. Pembuangan lumpur dilakukan
melewati pipa yang dipasang pada bawah tanah sehingga dibuang pada sungai
porong atau kali porong dan air dari sisa endapan lumpur lapindo tersebut dibuang
melalui pipa (dari gorong-gorong) yang kemudian di alirkan pada sungai kecil.
Pembuangan air dari sisa endapan lumpur lapindo merupakan sumber pencemaran
awal, karena disekitar pembuangan tersebut terdapat tambak, persawahan dan
pemukiman penduduk. Secara tidak langsung air yang dikonsumsi sehari- hari
oleh penduduk juga sudah tercemar sehingga tidak layak untuk dikonsumsi, perlu
adanya ketersediaan air bersih untuk keperluan penduduk baik buat dikonsumsi
dan mandi.
Sejak kasus semburan lumpur panas ini muncul, telah dilakukan uji
kandungan air lumpur oleh berbagai pihak untuk mengetahui kandungan air
lumpur tersebut. Hasil penelitian ini untuk menunjukkan ketentuan baku mutu
sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
22
Tabel 4.1 Hasil Uji Awal Air dari sisa endapan Lumpur lapindo
Parameter Hasil Pengukuran Baku Mutu
NH3 9,11 ppm 0,02
PO4 0,24 ppm 1
Nitrat (NO3) 43,05 ppm 20
Nitrit (NO2) 11,52 ppm 0,06
DO 2,37 ppm >3
9,11 0,24 43,05 11,52 2,37 0,02 1 20 0,06 >3 0 5 10 15 20 25 30 35 40 45
Amonia Phospat Nitrat Nitrit DO
H a si l Pengukur a n
Hasil Pengukuran Baku Mutu PP No. 82 tahun 2001
Gambar 4.1 Hasil Uji Awal Air dari sisa endapan Lumpur lapindo
Dari hasil penelitian ditemukan bahwa kandungan amonia (NH3) pada
gorong-gorong (air dari sisa endapan lumpur lapindo) 9,11 ppm, sedangkan baku
mutu dalam PP No.82 tahun 2001 sebesar 0,02 ppm. Dapat diketahui bahwa
hasil analisa lebih dari baku mutu yang ditentukan, sehingga akan menyebabkan
keracunan pada ikan dan biota lain.
Kandungan phospat (PO4) pada gorong-gorong (air dari sisa endapan
lumpur lapindo) 0,24 ppm, sedangkan baku mutu dalam PP No.82 tahun 2001
sebesar 1 ppm. Kandungan phospat pada air gorong-gorong tersebut masih
terdapat dampak yang dikhawatirkan. Jika dampak phospat yang berlebih di
lingkungan antara lain merangsang pertumbuhan ganggang dan eceng gondok.
Pertumbuhan ganggang dan eceng gondok yang tidak terkendali menyebabkan
permukaan air danau atau sungai tertutup sehingga menghalangi masuknya
cahaya matahari dan mengakibatkan terhambatnya proses fotosintesis. Jika
tumbuhan air ini mati, akan terjadi proses pembusukan yang menghabiskan
persediaan oksigen dan pengendapan bahan-bahan yang menyebabkan
pendangkalan (Hardiningtyas, 2008).
Kandungan Nitrat (NO3) pada gorong-gorong (air dari sisa endapan
lumpur lapindo) sebesar 43,05 ppm, sedangkan baku mutu yang ditentukan dalam
PP No.82 tahun 2001 sebesar 20 ppm. Nitrat pada konsentrasi tinggi dapat
menstimulasi pertumbuhan ganggang yang tak terbatas (bila beberapa syarat lain
seperti konsentrasi phospat terpenuhi), sehingga air kekurangan oksigen terlarut
yang menyebabkan kematian ikan dan pencemaran pada tanah apabila air tersebut
digunakan untuk irigasi sawah.
Kandungan Nitrit (NO2) pada gorong-gorong (air dari sisa endapan lumpur
lapindo) sebesar 11,52 ppm, sedangkan baku mutu yang ditentukan dalam PP
No.82 tahun 2001 sebesar 0,06 ppm. Nitrit yang berlebih dari sisa pembuang
lumpur dan air endapan lumpur akan mengalir bersama air menuju sungai atau
meresap ke dalam air tanah, sehingga akan mencemari tanah.
Kandungan DO pada gorong-gorong (air dari sisa endapan lumpur
24
2001 sebesar ≤ 3 ppm. Kadar oksigen terlarut dari analisa dibawah baku mutu
yang ditentukan sehingga tidak bias dipergunakan untuk budidaya ikan bandeng.
Banyaknya zat pencemar pada air limbah akan menyebabkan menurunnya
kadar oksigen terlarut dalam air tersebut. Sehingga akan mengakibatkankehidupan
dalam air yang membutuhkan oksigen terganggu serta mengurangi
perkembangannya. Selain itukematian dapat pula disebabkan adanya zat beracun
yang juga menyebabkan kerusakan pada tanaman dan tumbuhan air. Oleh sebab
itu, pemerintah harus membuat pengolahan untuk lumpur lapindo sebelum di
buang kebadan air, sehingga akan mengurangi kandungan zat-zat yang berada
didalamnya dan agar tidak merusak biota yang ada di dalam air.
IV.2 Hasil Pengujian Pada Tambak
Untuk penunjang hasil analisa dilakukan pengujian beberapa parameter,
meliputi Oksigen Terlarut (DO) , NH3 ,PO4 , Nitrat dan Nitrit.
Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Pada Tambak Tercemar dan Tidak Tercemar
Parameter Lokasi Pengambilan Sampel Air Tambak
Tambak Tercemar Tambak Tidak Tercemar
NH3 12,32 ppm 1,35 ppm
PO4 0,11 ppm 0,13 ppm
Nitrat 38,24 ppm 22,56 ppm
Nitrit 9,31 ppm 2,34 ppm
IV.2.1 Amonia (NH3)
Amoniak yang terdapat dalam air tambak adalah sebagai hasil dari
perombakan senyawa-senyawa nitrogen organik oleh bakteri. Senyawa
ammonia yang ada pada media pemeliharaan berasal dari sisa pakan, kotoran
ikan atau udang dan perombakan bahan organik melalui proses nitrifikasi
(Asih, 2008). 12,32 1,35 0,3 0 2 4 6 8 10 12 14 Hasil Pengukuran A m o n ia ( N H3 )
Tambak Tercemar Tambak Tidak Tercemar Standar Mutu Air Tambak
Gambar 4.2 Hasil Uji Pengukuran Amonia (NH3)
Berdasarkan penelitian, ditemukan bahwa kadar amonia pada tambak
tercemar 12,32 ppm dan tidak tercemar 1,35 ppm sehingga tidak memenuhi
kriteria untuk budidaya. Menurut Muh.M Raswin (2003), kadar amonia
ditambak pembesaran bandeng sebaiknya tidak lebih dari 0,1 ppm – 0,3 ppm.
Apabila kadar amoniak yang terlalu tinggi akan menyebabkan rusaknya
jaringan insang, dimana lempeng insang membengkak sehingga fungsinya
26
Amonia pada tambak tercemar terlalu tinggi jika dibandingkan dengan
amonia pada tambak tidak tercemar. Penyebab terjadinya amonia tinggi yaitu
meningkatnya jumlah sisa pakan yang tidak terkonsumsi akibat pemberian
pakan yang berlangsung secara terus menerus setiap hari. Sisa pakan yang
tidak terkonsumsi mengandung senyawa nitrogen yang akan mengalami proses
dekomposisi, sehingga jumlah amonia semakin meningkat (Izzati, 2011) . Pada
tambak tercemar memiliki amonia yang tinggi karena selain dari sisa pakan
juga dipengaruhi oleh rembesan lumpur lapindo.
Akan tetapi amonia di dalam air dibutuhkan oleh phytoplankton dan
organisme air (rumput laut) sebagai sumber nitrogen untuk sintesa protein.
Sehingga mereka bisa digunakan sebagai biofilter. Bila terkena sinar matahari
mereka akan berkembang dan bisa blooming. Alga yang banyak mati akan
kembali didekomposisi menjadi amonia dan terlarut di dalam air. Tingginya
amonia akan bersamaan dengan berkembangnya populasi bakteri vibrio.
Bakteri tersebut akan menginfeksi dan membunuh udang dan ikan. Upaya
pengendaliannya adalah dengan memberikan penggantian air, membuang
endapan lumpur bahan organik tanah, membalikan tanah dan melakukan
pengeringan (Nana, 2008).
IV.2.2 Phosphat (PO4)
Fosfor dalam bentuk fosfat merupakan mikronutrien yang diperlukan
dalam jumlah kecil namun sangat esensial bagi organisme akuatik (Bahri,
seperti ammoniumfosfat dan calsiumfosfat serta dari pakan. Fosfor yang ada
dalam pakan tidak semua dikonversi menjadi daging ikan/udang. Dua pertiga
fosfor dalam pakan terakumulasi di tanah dasar, sebagian besar diikat oleh
tanah dan sebagian kecil larut dalam air. Fosfor dimanfaatkan oleh fitoplankton
dalam bentuk ortofosfat (PO43-) dan terakumulasi dalam tubuh ikan/udang
melalui rantai makanan. Phosphat yang tidak diserap oleh fitoplankton akan
diikat oleh tanah. Kemampuan mengikat tanah dipengaruhi oleh kandungan liat
(clay) tanah. Semakin tinggi kandungan liat pada tanah, semakin meningkat
kemampuan tanah mengikat fosfat (Supono, 2008).
Menurut Ranoemiharjo dalam Amin Budi Raharjo (2003), phosphat
merupakan nutrient utama selain nitrat yang diperlukan untuk pertumbuhan
normal fitoplakton dalam perairan, selain itu phosphat essensial untuk
pernafasan, produksi protein, pembelahan sel dan pertumbuhan.
0,11
0,13
0,2
0 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25
Hasil Pengukuran
P
h
os
p
a
t (P
O4
)
Tambak Tercemar Tambak Tidak Tercemar Standar Mutu Air Tambak
28
Dari hasil tersebut diketahui bahwa kadar phosphat dalam tambak
tercemar 0,11 ppm dan tambak tidak tercemar 0,13 ppm.
Sedangkan nenurut Amin Budi Rahajo (2003), untuk air tambak hanya
diperbolehkan 0,2 mg/l phospat, sehingga hasil dari penelitian tersebut
phosphat pada tambak tercemar maupun tidak tercemar masih berada dibawah
standart mutu ikan bandeng.
Apabila tedapat pospat yang tinggi maka akan menyebabkan
pertumbuhan tanaman dan gangga tidak terbatas lagi dimana akan dapat
menghabiskan oksigen pada malam hari (Siregar, 2009). Posphat yang berlebih
dapat menimbulkan blooming fitoplankton. Blooming fitoplankton berbahaya
jadi jika terjadi die-off akan menyebabkan penurunan oksigen pelarut yang
besar dan timbul senyawa beracun. Sehingga diharapkan kepada para budidaya
ikan dan udang untuk mengurangi pupuk dan makanan yang berlebih.
IV.2.3 Nitrat (NO3)
Menurut Effendi dalam Suminaring Asih (2008), Nitrat yang optimal
bagi perairan pertumbuhan bandeng kurang dari 0,1 mg/l. Dalam keadaan
tanpa oksigen, banyak mikroorganisme memanfaatkan nitrat atau bentuk
nitrogen teroksidasi yang lain untuk respirasi sebagai ganti oksigen
38,24 22,56 0,1 0 3 6 9 12 15 18 21 24 27 30 33 36 39 Hasil Pengukuran N it a rt ( N O 3 )
Tambak Tercemar Tambak Tidak Tercemar Standar Mutu Air Tambak
Gambar 4.4 Hasil Uji Pengukuran Nitrat
Berdasarkan hasil penelitian pada tambak tercemar terdapat 38,24 ppm
dan tidak tercemar terdapat 22,56 ppm, jumlah nitrat tersebut terlalu tinggi,
sehingga tidak sesuai dengan standart mutu pada ikan bandeng.
Menurut Pillay dalam Amin Budi Raharjo (2003), kandungan nitrat dan
phosphat yang berlebihan akan menyebabkan tingginya kelimpahan alga
terutama dari jenis yang beracun, sehingga secara tidak langsung akan
mengakibatkan berkurangnya oksigen secara cepat terutama pada malam hari
yang mengakibatkan kematian ikan.
Menurut pendapat Hutagalung dan Rozak dalam Hendrawati, dkk (2007),
menyatakan bahwa peningkatan kadar nitrat di perairan disebabkan oleh
masuknya limbah domestik atau pertanian (pemupukan) yang umumnya
30
Tindakan bisa dilakukan adalah dengan mengurangi volume pemberian
pakan dan melakukan pergantian air hingga 50% yang kemudian bisa
dilanjutkan dengan pemberian probiotik yang mampu mengikat amonia.
IV.2.4 Nitr it (NO2)
Nitrit merupakan hasil dari oksidasi amonia dengan bantuan bakteri
nitrisomonas dan nitrat hasil dari oksidasi nitrit dengan bantuan bakteri
nitrobacter. Keduanya slalu ada dalam konsentrasi rendah karena tidak stabil
akibat proses oksidasi dan sangat tergantung pada keberadaan bahan yang
dioksidasi dan bakteri (Nana, 2008).
Nitrit (NO2) biasanya ditemukan dalam jumlah yang sangat sedikit di
perairan alami, kadarnya lebih kecil daripada nitrat karena nitrit bersifat tidak
stabil jika terdapat oksigen (Irawan at all, 2009).
9,31
2,34
0,5
0 2 4 6 8 10
Hasil Pengukuran
N
it
ri
t (N
O
2
)
Tambak Tercemar Tambak Tidak Tercemar Standar Mutu Air Tambak
Menurut Ir. Gentur Handoyo Msi (1996), kandungan nitrit yang berada
pada tambak bandeng maksimal 0,5 ppm. Dari hasil pengukuran kandungan
nitrit yang diperoleh pada tambak tercemar 9,31 ppm dan tambak tidak
tercemar 2,34 ppm, dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa kandungan
nitrit dari kegiatan tambak tidak layak untuk suatu perairan karena tingkat nitrit
sangat tinggi sehingga tingkat keracunan pada ikan juga semakin tinggi.
Nitrit adalah senyawa nitrogen anorganik yang terbentuk oleh adanya
oksidasi amonia oleh bakteri Nitrosomonas . Oleh karena itu konsentrasi nitrit
tergantung pada jumlah amonia. Semakin tinggi jumlah amonia, maka
konsentrasi nitrit dalam perairan semakin meningkat (Izzati, 2011). Bila kadar
nitrit dan phosphat terlalu tinggi bisa menyebabkan perairan bersangkutan
mengandung unsur hara tinggi (eutrof) sehingga terjadi blooming pada salah
satu jenis fitoplakton yang akan mengeluarkan toksin (Siregar, 2009).
Tingkat racun dari nitrit sangat bergantug pada kondisi internal dan
eksternal ikan seperti spesies, umur ikan, kualitas air, ion nitrit masuk ke dalam
ikan dengan bantuan sel klorida insang. Di dalam darah nitrit akan bersatu
dengan hemoglobin, yang berakibat pada peningkatan methaemoglobin. Ini
akan mengurangi kemampuan transportasi oksigen dalam darah. Bila terus
meningkat maka ikan akan kehilangan kemampuan bergerak dan tidak akan
32
IV.2.5 Ok sigen Ter lar ut (DO)
DO adalah jumlah oksigen terlarut di dalam air. Maksimum oksigen yang
terlarut di dalam air dikenal dengan “oksigen jenuh”. Oksigen masuk ke dalam
air ketika permukaan air bergejolak dan berasal dari proses fotosintesis.
Peningkatan salinitas dan suhu air akan menurunkan tingkat oksigen jenuh di
dalam air. Air yang mengandung oksigen jenuh cukup untuk mendukung
kehidupan organisme air, tetapi oksigen akan cepat habis bila ikan dalam
jumlah yang padat (Nana, 2008).
Ikan bandeng membutuhkan oksigen yang cukup untuk kebutuhan
pernafasannya. Oksigen tersebut harus dalam keadaan terlarut dalam air,
karena ikan tidak dapat mengambil oksigen langsung dari udara.
Menurut Suminaring Asih (2008), fungsi oksigen terlarut di perairan
selain untuk pernafasan organisme, juga untuk mengoksidasi bahan organik
yang terdapat didasar perairan menjadi bahan anorganik yang dapat
dimanfaatkan. Jumlah oksigen yang di butuhkan untuk pernafasan ikan
1,38 3,66 >3 0 0,5 1 1,5 2 2,5 3 3,5 4 Hasil Pengukuran O k si ge n T er la ru t (D O )
Tambak Tercemar Tambak Tidak Tercemar Standar Mutu Air Tambak
Gambar 4.6 Hasil Uji Pengukuran Oksigen Terlarut (DO)
Kadar oksigen terlarut (DO) perairan tambak tercemar 1,38 ppm dan
tambak tidak tercemar 3,66 ppm, sesuai dengan baku mutu air perikanan yang
diisyaratkan ≥ 3 ppm. Muh.M Raswin (2003),menyatakan bahwa untuk
kehidupan ikan bandeng dengan nyaman diperlukan kadar oksigen minimum 3
mg/L.
Berdasarkan penelitian dapat diketahui bahwa oksigen terlarut pada
tambak tercemar tidak memenuhi standar air tambak karena tambak tersebut
sudah terkena rembesan lumpur lapindo, dan tambak tidak tercemar memiliki
tingkat oksigen yang bagus, sehingga ikan dapat memperoleh udara atau
34
IV. 3 Hasil Pr oduksi Ikan Bandeng
Berdasarkan dari sumber laporan tahunan Kec. Tanggulangin dan Kec.
Sedati, pada tahun 2005, 2006, 2007, 2008, 2009, 2010 dan 2011. Hasil ikan
bandeng selama tahun 2005 sampai dengan 2011, dapat dilihat pada tabel 4.3.
Tabel 4.3 Jumlah Hasil Produksi Setiap Tahunnya
Desa Banjar panji Desa Kalanganyar
Tahun
Luas (Ha)
Hasil Bandeng
(Kg) Tahun
Luas (Ha)
Hasil Bandeng (Kg)
2005 290 245.000 2005 2.400 268.000
2006 290 220.300 2006 2.585 289.000
2007 253 195.220 2007 2.600 212.500
2008 177 132.700 2008 2.720 264.300
2009 103 102.380 2009 2.754 320.000
2010 57 98.640 2010 2.800 342.700
2011 21 10.500 2011 2.800 457.100
Dari tabel tersebut terdiri dari dua kecamatan yaitu Kec. Tanggulangin dan
Kec. Sedati, yang setiap tahunnya mempunyai jumlah produksi yang
berbeda-beda. Pada Kec. Sedati produksi ikan badeng dari tahun ketahun seimbang atau
rata. Tetapi pada Kec. Tanggulangin, produksi atau hasil ikan bandeng mengalami
penurunan. Penurunan tersebut terjadi karena penurunan kualitas air tambak
sebagai dampak dari lumpur lapindo, dan pengaruh pemasaran produk budidaya.
Penurunan perikanan secara umum dikarenakan Pembuangan Lumpur ke laut
melalui sungai Porong akan berdampak terhadap lingkungan pesisir dan laut.
Apabila air Lumpur dibuang secara tidak terkendali, maka tingginya kandungan
zat-zat tersebut dapat mengganggu kehidupan biota perairan dan ekosistem
Berdasarkan luas tambaknya juga dapat dilihat, bahwa sebagaian tambak
pada Kec. Tanggulangin tidak dapat lagi digunakan atau berproduksi lagi karena
sebagaian tambak sudah terendam dengan lumpur lapindo dan tercemar lumpur
lapindo. Oleh karena itu, para petani tambak beralih pada ikan nila untuk
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
V. 1 Kesimpulan
Dari hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan dapat
disimpulkan bahwa :
1. Kadar oksigen terlarut pada tambak tercemar lumpur lapindo terdapat 1,38
ppm, jadi sangat rendah untuk persyaratan air tambak ikan. Sehingga ikan
tidak dapat bernafas dengan baik, dan bisa terjadi kematian.
2. Kadar amonia pada tambak tercemar dan tidak tercemar masih diatas
ambang baku mutu, sehingga akan menyebabkan rusaknya jaringan
insang.
3. Kadar nitrit pada tambak tercemar dan tidak tercemar masih tinggi, apabila
terus meningkat maka ikan akan kehilangan kemampuan bergerak dan
tidak akan merespon terhadap stimulant.
4. Kadar nitrat pada tambak tercemar dan tidak tercemar masih tinggi,
sehingga menyebabkan berkurangnya oksigen karena tingginya
kelimpahan alga.
5. Kadar phospat pada tambak tercemar dan tidak tercemar masih dibawah
V. 2 Sar an
Dari hasil penelitian tersebut, disarankan untuk melakukan proses terlebih
dahulu untuk menurunkan kadar atau parameter yang tinggi agar sesuai dengan
baku mutu yang ditentukan oleh pemerintah. Dan perlu adanya pengkajian
kembali mengenai titik pengambilan sampel yang benar mewakili kondisi tambak
DAFTAR PUSTAKA
Alifudin,Muhammad,2003,Bidang Budidaya Ikan Program Keahlian Budidaya Ikan
Air Payau, Pembesaran Ikan Bandeng, Modul: Penyiapan Tambak,
Departemen Pedidikan Nasional.
Asih, Suminaring, 2008, Pengaruh Penggunaan Produk Pupuk Organik Kotoran
Kelelawar Bebas Mikroba dengan Dosis yang Berbeda Terhadap
Pertumbuhan Bandeng (Chanos- chanos Forskal) pada Usia Tebar Sampai 3
Bulan, Fakultas Perikanan Universitas Brawijaya Malang.
Bahri, Andi Faisal, 2010, Analisis Kandungan Nitrat dan Fosfat pada Sedimen
Manggrove yang Termanfaatkan di Kec. Mallusetasi Kab. Barru
Handoyo, Gentur, 1996, Kajian Kualitas Ait pada Pertambakan Desa Tambakrejo,
Genuk, Semarang, Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu
Kelautan, Universitas Diponegoro Semarang
Hardiningtyas, Nadia, dkk, 2008, Parameter Udara dan Air Lemak , Minyak, Nitrat,
Nitrit, Fosfat dan NOx, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Uninersitas
Diponegoro Semarang
Haryati, dkk, 2010, Pengaruh Tingkat Subtitusi Tepung Ikan dengan Tepung Maggot
terhadap Komposisi Kimia Pakan dan Tubuh Ikan Bandeng (Chanos chanos
Forsskal)
Hendrawati,dkk,2007,Analisis Kadar Phosphat dan N-Nitrogen (Amonia, Nitrat,
Nitrit) pada Tambak Air Payau akibat Rembesan Lumpur Lapindo di
Sidoarjo, Jawa Timur, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
di Fasilitas Nursery dan Pembesaran, Bidang Konsentrasi Aquaculture
Program Alih Jenjang Diploma IV ITB- SEAMOLEC-VEDCA
Izzati, Munifatul, 2011, Perubahan Kandungan Ammonia, Nitrit dan Nitrat Dalam Air
Tambak Pada Model Budidaya Udang Windu Dengan Rumput Laut
Sargassum plagyophyllum dan Ekstraknya, Laboratorium Biologi dan
Struktur Fungsi Tumbuhan FMIPA Undip Semarang
Nana, 2008, Makalah Manejemen Kualitas Tanah dan Air dalam Kegiatan Perikanan
Budidaya, Departemen Kelautan dan Perikanan Direktorat Jenderal
Perikanan Budidaya Balai Budidaya Air Payau Talakar
Raharjo, A.,B, 2003, Pengaruh Kualitas Air Pada Tambak Tidak Bermangrove dan
Bermangrove dalam Hasil Udang Alam di Desa Grinting Kabupaten Brebes,
Program Studi Magister Manajemen Sumberdaya Pantai, Program
Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang
Raswin, Muhammad, 2003, Pembesaran ikan Bandeng, Modul pengelolaan air
tambak.
Siregar, 2009, Studi Keanekaragaman Plankton di Hulu Sungai Asahan Porsea,
Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Sumatera Utara
Supono, 2008, Analisis Diatom Epipelic Sebagai Indikator Kualitas Lingkungan
Tambak untuk Budidaya Udang, Program Pascasarjana Universitas
Diponegoro Semarang
Zulkarnain, iskandar, 2010,Mencari Sumber Air Lumpur Panas Sidoarjo : Sebuah
Pendekatan Geofisika untuk Menentukan Cara Menghentikan Semburan
Lumpur Panas di Wilayah Porong, Provinsi Jawa timur, Pusat Penelitian