SKRIPSI
Oleh :
Gandhy Putra Pratama
0713010219/FE/AK
KEPADA
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAWA TIMUR
i
Assalamualaikum Wr. Wb.
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya yang diberikan kepada peneliti sehingga skripsi yang berjudul
“PENERAPAN PENGENDALIAN INTERNAL DALAM USAHA KECIL
MENENGAH (studi kasus pada UD. Prima Tani-Situbondo)”, dapat diselesaikan dengan tepat waktu. Penyusunan skripsi ini ditujukan untuk
memenuhi syarat penyelesaian Studi Pendidikan Strata Satu, Fakultas Ekonomi
Jurusan Akuntansi, Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
Pada kesempatan ini peneliti ingin menyampaikan terima kasih kepada
semua pihak yang telah member bimbingan, petunjuk serta bantuan baik spiritual
maupun materiil, khususnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Sudarto, MP selaku Rektor Universitas
Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
2. Bapak Dr. Dhani Ichsanudin Nur, SE, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.
3. Ibu Dr. Sri Trisnaningsih, MSi. selaku Ka. Progdi Akuntansi Universitas
ii
5. Ibu Dra. Siti Sundari, MSi., selaku Dosen Wali peneliti selama kuliah.
6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi yang tidak dapat
peneliti sebutkan satu persatu.
7. Terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Candra Sanjaya sebagai
pemilik serta seluruh karyawan yang ada di UD. Prima Tani-Situbondo yang
telah meluangkan waktu dan tenaga untuk membantu terlaksananya penelitian
ini,
8. Terima Kasih kepada Ayah dan Mama yang dengan ikhlas memberikan doa
dan semangat agar peneliti dapat menyelesaikan penelitian ini.
9. Kepada teman-teman Riscka, Vivi, Atta, Ribut, Daniel yang telah
memberikan semangat serta masukan yang berharga bagi peneliti.
Peneliti menyadari bahwa apa yang telah disusun dalam skripsi ini masih
jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis sangat berharap saran dan kritik
membangun dari pembaca dan pihak lain.
Akhir kata, peneliti berharap agar skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak
yang membutuhkan.
iii
iii
DAFTAR ISI... iii
DAFTAR TABEL... vi
DAFTAR LAMPIRAN... vii
ABSTRAKSI ... viii
I. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Fokus Penelitian ... 11
1.3 Perumusan Masalah ... 12
1.4 Tujuan Penelitian ... 12
1.5 Manfaat Penelitian ... 12
II. Tinjauan Pustaka 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu... 16
2.2 Landasan Teori... 21
2.2.1 Pengendalian Intern... 21
2.2.1.1 Pengertian Pengendalian Intern... 21
2.2.1.2 Tujuan Pengendalian Intern ... 22
2.2.1.3 Elemen Pengedalian Intern ... 23
iv
3.1 Jenis Penelitian... 31
3.2 Ketertarikan Penelitian... 32
3.3 Lokasi Penelitian... 33
3.4 Instrumen Penelitian ... 33
3.5 Sumber Data... 34
3.6 Penentuan Informan ... 34
3.7 Teknik Pengumpulan Data... 35
3.8 Analisis Data ... 36
3.9 Pengujian Kredibilitas Data ... 37
IV. Deskripsi Objek Penelitian 4.1. Pendahuluan ... 39
4.2. Sejarah Pertanian... 40
4.3. Perkembangan Pertanian... 43
4.4 Permasalahan Yang Terjadi ... 44
V. Hasil Penelitian Dan Pembahasan 5.1. Pemahaman Pengusaha Tentang Pengendalian Internal ... 46
5.2. Pengendalian Internal Sebagai Alat Melindungi Kekayaan Perusahaan 47 5.3. Pencatatan Transaksi Penjulan... 48
v
5.7. Pengecekan Kembali Atas Transaksi Yang Terjadi... 53
5.8. Yang Dilakukan Saat Terjadi Kesalahan Pencatatan ... 54
5.9. Keterbatasan Penelitian... 56
VI. Kesimpulan Dan Saran
6.1. Kesimpulan ... 57
6.2. Saran... 59
Daftar Pustaka
vi
vii
Lampiran II Surat Pernyataan Dari Pemilik UD. Prima Tani-Situbondo
Lampiran III Tabel Desain Studi
Lampiran IV Transkrip Wawancara
Lampiran V Daftar dokumentasi foto lapangan peneliti
viii
Gandhy Putra Pratama
Abstrak
Indonesia adalah negara agraris dengan budaya pertanian yang sudah ada sejak jaman dahulu, dengan didukung kekayaan alam yang melimpah dan tanah yang subur mengakibatkan semua tanaman dapat tumbuh ditanah Indonesia, dalam melakukan usaha pertanian tidak dapat dilepaskan dari obat-obatan pertanian yang digunakan untuk menunjang pertumbuhan tanaman yang sedang ditanam oleh petani.
Dari penjelasan diatas maka usaha perdagangan sarana produksi pertanian sangat menguntungkan, selain dari banyaknya lahan pertanian terutama di daerah selain itu pendapatan yang diperoleh dari penjualan dapat dikatakan sangat besar terutama pada saat musim tanam maka kebutuhan akan obat-obatan pertanian akan meningkat secara tajam, biasanya yang melakukan penjualan langsung pada petani adalah unit-unit usaha bersekala kecil dan menengah, walaupun sekala usaha yang tidak terlalu besar tapi ada beberapa unit usaha yang memiliki omset ratusan juta tapi dengan pengelolaan managemen yang jauh dari kata layak.
Dalam setiap usaha yang memiliki karyawan harus ada pengendalian internal yang memadai untuk menjamin keamanan kekayaan yang dimiliki perusahaan atau unit usaha, tapi hal ini sering sekali terabaikan oleh pemilik usaha yang bersekala kecil atau menengah, padahal mereka memiliki cita-cita untuk mengembangkan usahanya sebesar mungkin, dengan pengelolaan managemen yang seperti peneliti temukan akan sangat sulit untuk mengembangkan usahanya sesuai dengan yang diharapkan, dengan dilakukannya penelitian ini diharpkan menimbulkan kesadaran pada pemilik usaha untuk lebih membenahi sistem pengendalian internal yang ada pada usahanya untuk meningkatkan efisiensi dan kinerja unit usaha selain itu untuk meningkatkan pendapatan yang diperoleh unit usaha.
1 1.1. Latar Belakang Masalah
Perekonomian 2011 akan sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan
politik, dengan melihat kondisi ini maka akan banyak bermunculan peluang usaha
baru yang akan menandai kebangkitan pasar local, dengan syarat kreatif
memanfaatkan kesempatan yang ada. Peranan Usaha Kecil Menengah (UKM)
mempunyai peranan yang penting bagi Indonesia. Pemerintah juga tidak
menyampingkan peran UKM sebagai salah satu penggerak kegiatan ekonomi di
Indonesia. Sebaliknya, pemerintah harus turut berperan serta dalam
memberdayakan UKM di antaranya dengan menciptakan kebijakan yang berpihak
pada UKM.
Usaha pemerintah dalam memberdayakan UKM sebagai pondasi
perekonomian Indonesia sudah sepantasnya tidak hanya dikonsentrasikan di pulau
Jawa, tapi selayaknya juga menumbuh kembangkan UKM di luar Jawa. Hal ini
sangatlah penting untuk mengurangi ketimpangan ekonomi antar propinsi.
Beberapa penelitian tentang ketimpangan ekonomi daerah di Indonesia
menunjukkan adanya tendensi peningkatan disperitas yang terus menerus sejak
awal dekade 1970-an sampai 1997 (Syafrizal dalam Kuncoro dan Supomo, 2003).
Lincolin (1999) yang dikutip Wisnu Adi Hidayat mengatakan UMKM,
merupakan bagian integral dunia usaha nasional mempunyai kedudukan, potensi
dan peranan yang sangat penting dan strategis dalam mewujudkan tujuan
khususnya. Usaha Mikro Kecil dan Menengah merupakan kegiatan usaha yang
mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang
luas pada masyarakat, dapat berperan dalam proses pemerataan dan meningkatkan
pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kenyataan menunjukkan bahwa UMKM masih belum dapat mewujudkan
kemampuan dan perannya secara optimal dalam perekonomian nasional, hal ini
disebabkan UMKM masih menghadapi berbagai hambatan dan kendala, baik yang
berisfat eksternal maupun internal, dalam bidang produksi dan pengolahan,
pemasaran, permodalan, sumber daya manusia dan teknologi, serta iklim usaha
yang belum mendukung bagi perkembangnya (Akyuwen, 2005 yang dikutip oleh
Wisnu Adi Hidayat).
Lebih lanjut dikatakan (Akyuwen 2005 yang dikutip oleh Wisnu Adi
Hidayat) , secara spesifik setidaknya terdapat 3 (tiga) permasalahan internal yang
dihadapi UMKM yaitu: (1) terbatasnya penguasaan dan pemilikan asset produksi
terutama permodalan; (2) rendahnya kemampuan SDM dan(3) kelembagaan usaha
belum berkembang secara optimal dalam penyediaan fasilitas bagi kegiatan
ekonomi rakyat.
Permasalahan eksternal terdapat 7 (tujuh) permasalahan yaitu: (1)
terbatasnya pengakuan dan jaminan keberadaan UMKM; (2) alokasi kredit
sebagai aspek pembiayaan masih sangat timpang, baik antar golongan, antar
wilayah dan antar desa-kota; (3) sebagian besar produk industri kecil memiliki ciri
nilai komoditi yang dihasilkan; (5) terbatasnya akses pasar; (6) terdapatnya
pungutan-pungutan siluman yang tidak proporsional; (7) munculnya krisis
ekonomi dengan berbagai implikasinya, serta harapan untuk diterima di dunia
kerja tentunya tidaklah keliru, namun tidak dipungkiri kesempatan kerja pun
sangat terbatas dan tidak sebanding dengan lulusan lembaga pendidikan baik
dasar, menengah, maupun pendidikan tinggi. Oleh sebab itu semua pihak harus
berpikir dan mewujudkan karya nyata dalam mengatasi kesenjangan anatara
lapangan kerja dengan lulusan institusi pendidikan.
Indonesia sebagai negara yang memiliki sumber daya alam yang sangat
besar, dan dengan budaya agraris yang sangat kental dapat digunakan sebagai
kekuatan dalam membangun negara, kita tidak perlu bergantung pada negara lain
jika sumber daya yang kita miliki dapat dikelola dengan maksimal, pemerintah
diharapkan tidak hanya berpangku tangan dalam melihat permasalahan yang
dihadapi masyarakat, terutama petani. Karena Indonesia dianugrahi tanah yang
subur, hal ini dapat menjadi keuntungan untuk memajukan Indonesia.
Kesenjangan ini merupakan penyebab utama peningkatan angka
penganguran, sedangkan pengangguran adalah salah satu permasalahan
pembangunan yang sangat kritis terutama di negara Indonesia terutama di
daerah-daerah pelosok di Indonesia. Salah satu cara yang dapat ditempuh oleh pemerintah
untuk mengembangkan UKM sebagai salah satu alat atau cara yang digunakan
keterampilan menjadi usaha mandiri, yang akan mendatangkan berkah bagi orang
lain yang direkrut menjadi karyawan atau buruh pada usaha yang dirintisnya.
Pemerintah juga menyelenggarakan kegiatan untuk melatih kewirausahaan
masyarakat, PKMP mandiri adalah salah satu contoh sebagai sarana untuk melatih
warga Indonesia agar dapat menciptakan lapangan kerja sendiri, dengan cara
diberi modal pinjaman agar dapat mempunyai usaha sendiri sehingga secara tidak
langsung mendidik masyarakat untuk menjadi wirausahawan. Menjadi
wiraushawan sangat diperlukan, tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri, tetapi
juga untuk mengabdi pada bangsa dan negara dengan cara menciptakan lapangan
pekerjaan bagi orang lain.
Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat penting kontribusinya
dalam perekonomian Indonesia. Berdasarkan harga konstan 1993, kontribusi
sektor pertanian terhadap PDB tahun 1998 mencapai 17,20 persen.
Terjadinya krisis ekonomi, hanya sektor pertanian dan industri pengolahan
migas yang menunjukkan tingkat pertumbuhan yang positif yaitu masing-masing
sebesar 0,22 persen dan 1,84 persen.
Dilain pihak sektor lainnya seperti industri pertambangan dan penggalian,
pengolahan non migas, pembangunan, jasa (perdagangan – restoran – hotel,
transportasi – komunikasi), pembangunan, keuangan – kepemilikan – bisnis jasa
menunjukkan pertumbuhan yang negatif.
Perkembangan ekonomi pada pertengahan tahun 1980-an dengan orientasi
dan pola mobilitas penduduk. Jumlah penduduk aktif ekonomis meningkat setiap
waktu searah dengan pertumbuhan populasi, khususnya golongan penduduk usia
kerja.
Secara nasional selama tahun 1995-1998, persentase penduduk bekerja
terhadap penduduk aktif ekonomis menunjukkan peningkatan dari 92,76 persen
menjadi 94,54 persen, begitu pula untuk Jawa dan Luar Jawa masing-masing
menunjukkan peningkatan sebesar 1,32 persen dan 2,44 persen. Hal yang
sebaliknya terjadi pada persentase penduduk tidak bekerja terhadap penduduk
aktif ekonomis menunjukkan penurunan sebesar 1,78 persen (nasional) yang
terdiri dari penurunan sebesar 1,32 persen (Jawa) dan 2,44, persen (Luar Jawa).
Sarana produksi pertanian (saprotan) merupakan salah satu faktor yang
sangat penting dalam mendukung perkembangan atau kemajuan pertanian
terutama untuk mencapai tujuan terciptanya ketahanan pangan. Pupuk dan
pestisida (obat-obatan pertanian) adalah sarana produksi pertanian utama yang
paling banyak diperlukan petani dalam kegiatan pertanian. Pupuk dalam hal ini
terdiri dari pupuk organik (kompos, kotoran hewan, kasting, dan pupuk hijau) dan
pupuk anorganik (urea, ZA, TSP, SP36 dan KCL). Sedangkan pestisida meliputi,
herbisida, insektisida, fungisida, dan lainnya. Dengan semakin berkembangnya
dan semakin majunya sistem pertanian di Indonesia, kombinasi yang tepat dari
penggunaan sarana produksi pertanian, khususnya pupuk dan pestisida merupakan
hal yang sangat penting untuk diperhatikan, sehingga permintaan sarana produksi
prinsip enam Tepat yaitu, tepat jumlah/dosis, tepat jenis, tepat harga, tepat
mutu/kualitas, tepat waktu aplikasinya, dan tepat tempatnya (pupuk tersedia di
kios saprotan).
Dihapuskannya subsidi dan dibebaskannya tataniaga pupuk pada 1
Desember 1998, menyebabkan selain harga pupuk makro utama (urea, SP-36, ZA,
dan KCL) menjadi mahal, ketersediaan pupuk terutama jenis SP-36 dan KCL
yang berasal dari impor menjadi langka. Seringkali jumlah yang tersedia tidak
sesuai dengan jumlah yang diminta /diharapkan, sehingga petani sebagai pelaku
utama dari pertanian menjadi kesulitan untuk mencari pupuk. Akibatnya, kegiatan
pertanian menjadi terganggu dan hasil produksi pun menjadi tidak optimal,
terlebih lagi para petani saat ini sangat tergantung pada pupuk dalam
meningkatkan hasil produksinya, terutama sejak diterapkannya panca usaha tani
setelah terjadinya Revolusi Hijau pada tahun 1970-an.
Seringkali pada awal musim tanam, dimana petani sangat membutuhkan
saprotan, toko/kios saprotan tidak mampu melayani petani, baik karena jumlahnya
yang kurang dari yang diperlukan, ataupun karena tidak mampu menyediakan
saprotan sama sekali. Masalah lainnya yang sering dirasakan para
pemilik/pengelola toko/kios saprotan adalah dalam hal pembayaran. Petani
biasanya melakukan pembayaran setelah panen selesai sehingga perlu waktu
“tunggu”, padahal di sisi lain toko/kios saprotan juga memerlukan dana tunai
untuk membeli barang untuk penjualan berikutnya bahkan apabila
masalah karena modal yang dimiliki para pemilik/pengelola toko/kios saprotan
sangat terbatas.
Selain hal di atas, masalah lain yang sering terjadi adalah jumlah yang
tertulis di kemasan tidak sesuai dengan jumlah yang sebenarnya, apabila hal itu
terjadi, kerugian ada di pihak toko/kios saprotan, padahal keuntungan yang
diperoleh toko/kios saprotan yang berfungsi sebagai pengecer relatif sangat kecil
dibandingkan pedagang yang lebih besar (distributor/sub distributor), begitu pula
dengan kemasan yang seringkali sudah rusak dan usang. Tidak sesuainya jumlah
yang ada di kemasan dan kemasan yang rusak dan usang, merupakan hal yang
sulit terkontrol, hal tersebut dapat terjadi apabila pembelian dilakukan melalui
pesanan, terutama pesanan dalam jumlah relatif besar.
Uraian di atas terlihat bahwa toko/kios saprotan merupakan lembaga yang
sangat penting yang berhubungan langsung dengan petani dalam hal penyediaan
sarana produksi pertanian (saprotan), dengan kata lain, toko/kios saprotan
berperan sebagai “agent of development” dalam menunjang keberhasilan
pembangunan pertanian, oleh karena itu perlu diketahui bagaimana karakteristik
industri toko/kios saprotan baik skala kecil maupun menengah, dikaji dari aspek
teknis dan aspek pasar yang meliputi pembelian dan penjualan saprotan, aspek
finansial, prospek dan tingkat resiko yang dihadapi industri toko/kios saprotan
tersebut. (google.com/Peluang Usaha Perdagangan Sarana Produksi Pertanian
Pelaksanaan usaha pertanian, selain petani memerlukan pupuk sebagai
penunjang usahanya, petani juga memerlukan obat-obatan pertanian yang terdiri
dari insektisida, herbisida, fungisida dan lain sebagainya, sebagai penunjang agar
tanaman yang mereka tanam tumbuh sesuai dengan yang mereka harapkan, yang
menyediakan obat-obatan ini biasanya toko kecil yang laporan akuntansinya tidak
lengkap, atau bahkan ada yang tidak memiliki laporan keuangan sama sekali.
Salah satu manajer klinik usaha dan koperasi Ikatan Akuntansi Indonesia
(IAI), (Idrus, 2000 dalam Pinasti, 2007), menyatakan bahwa para pengusaha kecil
tidak memiliki pencatatan dan pembukuan bagi kelangsungan usahanya.,
pengusaha kecil memandang bahwa proses akuntansi tidak terlalu penting untuk
diterapkan.
Selain itu para pengusaha belum memiliki atau memahami tentang
pentingnya pengendalian intern, banyak dari mereka yang masih berpikiran
sebagai pedagang bukan sebagai manjer yang harus mengontrol para karyawan
untuk kelangsungan usahanya. Menurut (Mulyadi yang dikutip oleh Wisnu Adi
Hidayat), menyebutkan bahwa sistem pengendalian internal meliputi struktur
organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikoordinasikan untuk menjaga
kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijaksanaan manajemen.
Pengendalian internal ialah suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan
komisaris, manajemen, dan personil satuan usaha lainnya, yang dirancang untuk
keandalan pelaporan keuangan, kesesuaian dengan undang-undang, dan peraturan
yang berlaku, efektifitas dan efisiensi operasi.
Pengendalian Internal meliputi rencana organisasi dan metode serta
kebijaksanaan yang terkoordinir dalam suatu perusahaan untuk mengamankan
harta kekayaan, menguji ketepatan dan sampai seberapa jauh data akuntansi dapat
dipercayai, menggalakkan efisiensi usaha dan dapat mendorong ditaatinya
kebijaksanaan pimpinan yang telah digaris bawahi. (Zaki, 1998: 97)
Pengertian sistem pengendalian internal menurut AICPA ( American
Institute of Certified Public Accountants ) yang dikutip oleh Wisnu Adi Hidayat
menyebutkan, sistem pengendalian internal meliputi struktur organisasi, semua
metode dan ketentuan-ketentuan yang terkoordinasi yang dianut dalam
perusahaan untuk melindungi harta kekayaan, memeriksa ketelitian, dan seberapa
jauh data akuntansi dapat dipercaya meningkatkan efisiensi usaha dan mendorong
ditaatinya kebijakan perusahaan yang telah diterapkan.
Berdasarkan definisi yang telah dikemukakan di atas, dapat dipahami
bahwa pengendalian internal adalah suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur
dan tidak terbatas pada metode pengendalian yang dianut oleh bagian akuntansi
dan keuangan, tetapi meliputi pengendalian anggaran, biaya standar, program
pelatihan pegawai dan staf pemeriksa intern.
Alasan perusahaan untuk menerapkan sistem pengendalian internal adalah
untuk membantu pimpinan agar perusahaan dapat mencapai tujuan dengan efisien.
pencapaian tiga golongan tujuan: keandalan informasi keuangan, kepatuhan
terhadap hukum dan peraturan yang berlaku, efektifitas dan efisiensi operasi.
Usaha dalam sarana produksi pertanian akan sangat cepat berkembang,
oleh karena itu pengusaha diharapkan untuk dapat meningkatkan kinerja para
karyawannya. Yang nantinya akan ikut menentukan kecepatan perkembangan
usaha yang telah dirintis.
Perekonomian Indonesia dihadapkan kepada krisis yang multi dimensi,
industri kecil dan UKM tetap bertahan dan mampu berperan untuk melaksanakan
fungsinya baik dalam memproduksi barang dan jasa ditengah kondisi usaha besar
(konglomerat) tidak mampu mempertahankan eksistensinya, sehingga dikenal
ketika itu industri kecil dan UKM ”tahan banting” (Ranto, 2007)
Ada beberapa UKM yang sudah memiliki usaha yang sangat maju,
sehingga memiliki beberapa karyawan dan struktur organisasi yang hampir
lengkap seperti perusahaan-perusahaan besar. Tapi masih banyak kekurangan
dalam pengendalian internal yang ada dalam UD. Prima Tani. Salah satu nya
adalah tidak adanya pemisahan yang jelas antara bagian gudang dengan bagian
pencatatan sehingga sering terjadi ketidak cocokan data di dalam UKM. Sebagai
contoh pada saat ada pelanggan yang mengembalikan barang yang tidak sesuai
dengan pesanan maka nota awal tidak diambil kembali, tapi dibuatkan nota baru
sehingga dapat terjadi dobel pencatatan. Dan karena tidak adanya stok persediaan
barang yang ada digudang, unit usaha ini sering mengecewakan pelanggan karena
Selain hal-hal yang ada diatas, beberapa produk yang ada pada unit UD.
Prima Tani memiliki harga di atas 100 ribu rupiah dan ukuran produk yang kecil,
sehingga mempermudah terjadinya pencurian atau barang hilang, bila tidak ada
pengendalian internal yang cukup baik dikhawatirkan akan terjadi kerugian yang
dialami oleh UD. Prima Tani.
1.2. Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas, hal-hal
yang menjadi fokus penelitian adalah sebagai berikut :
1. Pemahaman mengenai pengendalian internal yang ada di toko sarana
pertanian UD. PRIMA TANI
2. Memahami bagaimana pengendalian internal untuk penjualan di toko UD.
PRIMA TANI
1.3. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan. Maka perumusan masalah
yang dapat dibuat, yaitu : Bagaimana penerapan pengendalian internal atas
penjualan dalam usaha kecil menengah pada UD. Prima Tani ?
1.4. Tujuan Penelitian
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan
pengendalian internal atas penjualan pada usaha kecil menengah di toko sarana
1.5. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan :
1. Bagi Usaha Kecil Menengah
Penerapan pengendalian internal yang baik, maka akan bermanfaat untuk
mendatangkan keuntungan sehingga dapat meningkatkan mutu pelayanan yang
ditawarkan, dan diharapkan pengelola dapat mengelola unit usaha menjadi lebih
profesional.
2. Bagi Universitas
Memperbanyak kasanah ilmiah pada perpustakaan UPN ”VETERAN”
JATIM sehingga dapat digunakan sebagai referensi bagi mahasiswa lain yang
sedang melakukan penelitian dengan topik yang sama.
3. Bagi Peneliti
Sebagai sarana untuk menambah pengetahuan dan mengembangkan
pemahaman masyarakat, terutama para pemilik usaha tentang pentingnya
pengendalian internal di UKM serta meningkatkan semangat kewirausahaan di
13
2.1. Hasil-Hasil Penelitian Terdahulu
Dalam menunjang penelitian ini, maka didukung oleh penelitian
terdahulu yang relevan dengan penelitian ini :
1. Lia Rosliana(2007)
a) Judul :
“Sistem Pengendalian Internal Atas Penjualan Kredit Pada PT Sapukurata
Kharisma”
b) Tujuan :
1. Menganalisis sistem pengendalian internal sudah berjalan dengan baik.
2. Mengevaluasi pencatatan akuntansi penjualan kredit apakah telah
sesuai dengan standar akuntansi,
3. Mengevaluasi apakah penerapan sistem penjualan kredit yang telah
diterapkan mampu meningkatkan efisiensi dan efektivitas pemasaran
c) Kesimpulan :
Kesimpulan yang diperoleh dari pembahasan skripsi adalah bahwa
sistem pengendalian internal atas penjualan kredit pada PT Sapukurata
Kharisma sudah berjalan dengan baik karena seluruh unsur sistem
pengendalian internal atas penjualan kredit telah ditetapkan dengan baik.
Dengan demikian sebaiknya manajemen perusahaan selalu bersikap
kiranya dapat menghambat aktivitas usaha PT Sapukurata Kharisma
dengan lebih memahami secara mendalam berbagai kondisi internal dan
eksternal perusahaan agar tujuan umum dan tujuan khusus perusahaan
selalu dapat tercapai.
2. Bambang Indarto (2010)
a) Judul :
“Evaluasi Sistem Penjualan Kredit PT. Total Mandiri Farma Semarang”
b) Tujuan :
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi apakah sistem
penjualan kredit pada PT. Total Mandiri Farma Semarang yang telah
dilaksanakan selama ini telah dilaksanakan secara memadai atau belum.
c) Kesimpulan :
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan hasil evaluasi bahwa
struktur pengendalian intern pada aktivitas penjualan kredit pada PT. Total
Mandiri Farma Semarang masih terdapat kelemahan-kelemahan yang
perlu diperbaiki dalam sistem pengendalian internnya dan setelah
dilakukan pengujian pengendalian menggunakan metode
Fixed-Sample-Size-Attribbute Sampling didapat hasil pemeriksaan bahwa AUPL sebesar
6% dengan DUPL sebesar 5%, berarti AUPL>DUPL sehingga dapat
disimpulkan bahwa struktur pengendalian intern PT. Total Mandiri Farma
3. Rahima Br.Purba
.
(2005)Judul :
“Analisis Pengendalian Intern Atas Penjualan Pada Pt. Coca Cola Bottling
Indonesia-Medan”.
a) Tujuan :
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui seberapa kuat
pengendalian intern atas penjualan pada PT. Coca Cola Bottling
Indonesia-Medan
b) Kesimpulan :
Penulis menyarankan agar perusahaan untuk lebih
menyempurnakan pengendalian intern pada perusahaan tersebut
khususnya pada bagian penjualan sebaiknya pihak manajemen terus
mengadakan pelatihan dan pendidikan terutama dalam hal yang berkaitan
dengan teknologi informasi agar tiap karyawan dapat lebih profesional
dalam menjalankan tugasnya Juga diharapkan kepada para salesman agar
dapat terus memberikan informasi-informasi yang akurat tentang
perkembangan produk di pasar baik produk saingan (kompetitor) maupun
produk sendiri kepada manajer, demi tercapainya tujuan perusahaan. Serta
Pihak manajemen khususnya manajer penjualan sebaiknya mengadakan
pertemuan dengan para pelanggan secara berkala untuk memperoleh
pendapat secara langsung yang berkaitan dengan kinerja penjualan dari
4. Rakhmawati Budhihastuti (2006)
a) Judul :
“Sistem Pengendalian Intern Atas Penjualan Dan Penerimaan Kas Di PT.
Pantjamitra Ichigojaya”
b) Tujuan :
Meneliti sistem pengendalian internal atas penjualan dan penerimaan kas
di PT. Pantjamitra Ichigojaya telah berjalan dengan baik.
c) Kesimpulan :
Dari hasil penelitian adalah sebagai berikut: (1) Jika dilihat dari
struktur organisasi perusahaan dimana memuat alur wewenang dan
tanggung jawab dari masing-masing bagian, struktur organisasinya sudah
bagus. (2) Dari hasil analisis dan pembahasan tentang penjualan dan
penerimaan kas PT. Pantjamitra Ichigodjaya Malang selama periode 1998
sampai dengan 2002, menyebutkan bahwa penjualan dari tahun 1998 ke
tahun 1999 mengalami penurunan. (3) Bahwa investor adalah bukan
sebagai penghalang dalam peningkatan pendapatan kas perusahaan bahkan
merupakan gambaran masa depan dalam pengembangan perusahaan. (4)
Untuk meningkatkan pendistribusian yang lebih cepat, hendaknya pihak
perusahaan membuka factory outlet-factory outlet dimana kota Malang
sebagai kota pelajar yang mana mereka sangat mengikuti perkembangan
5. Sembiring, Maria Ekaristi (2010)
a) Judul :
“Penerapan Pengendalian Intern Piutang Yang Digunakan Pada PT.
Federal International Finance (FIF) Cabang Medan”
b) ujuan :
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah penerapan
pengendalian intern piutang yang digunakan pada PT. Federal
International Finance (FIF) Cabang Medan telah dilaksanakan dengan baik
guna meminimalkan kerugian dan memberikan informasi akurat bagi
manajemen perusahaan
c) Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, penulis dapat
menyimpulkan bahwa penerapan pengendalian intern atas piutang pada
PT. Federal International Finance (FIF) Cabang Medan sudah cukup baik
dan memadai. Adanya prosedur penjualan kredit, kebijakan pemberian
kredit dan perusahaan ini telah menerapkan unsur – unsur pengendalian
intern atas piutangnya, hal ini dapat dilihat adanya pemisahan tugas
2.2. Landasan Teori
2.2.1.Pengendalian Internal
2.2.1.1. Pengertian Pengendalian Internal
Menurut Baridwan (1991:13) pengendalian internal mempunyai arti
sempit dan luas, dalam arti sempit, pengendalian internal merupakan pengecekan,
penjumlahan baik penjumlahan mendatar (cross footing) maupun penjumlahan
menurun (footing).
Dalam arti luas, pengendalian internal tidak hanya meliputi pekerjaan
pengecekan tapi meliputi semua alat-alat yang digunakan manajeman untuk
melakukan pengendalian.
Adapun pengertian pengendalian internal menurut Amir Abadi Yusuf
(1997:258) Adalah kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang dirancang
untuk memberikan manajeman keyakinan memadai bahwa tujuan dan sasaran
yang penting bagi satuan usaha dapt dicapai. Pengertian pengendalian internal
menurut The Commite Of Sponsoring Organization (COSO) yang dikutip oleh
Bodnar dan Hopwood (2001:182) adalah sebagai berikut :
Internal Control is process effected by an entity’s board of director,
management and other personal disagned to proved reasonable assurance
regarding achiement of objectivies in the following categories :
a. Reability of financial reporting
b. Effectivenees and efficiency of operation, and
Definisi tersebut dapat diketahui bahwa pengendalian internal memiliki
peran yang sangat penting dalam aktivitas usaha. Diantaranya peran pengendalian
internal tersbut adalah memberikan keyakinan yang memadai bahwa tujuan yang
penting bagi satuan usaha dapat dicapai, memeriksa ketelitian dan kebenaran data
akuntansi, memajukan efisiensi dalam operasi serta membantu menjaga agar tidak
ada yang menyimpang dari kebijakan manajeman yang telah ditetapkan terlebih
dahulu.
2.2.1.2. Tujuan pengendalian internal
Menurut Alvin dan Leobecke (1986:284), ada tujuh macam tujuan
Pengendalian Internal yang harus digunakan untuk mencegah setiap kesalahan
dan memberikan kepastian meyakinkan bahwa :
a. Setiap transaksi yang yang dicatat adalah sah (validitas)
b. Setiap transaksi diotorisasi dengan tepat (otorisasi)
c. Setiap transaksi dinilai dengan tepat (penilaian)
d. Setiap transaksi yang dapat diklasifikasikan dengan tepat (klasifikasi)
e. Setiap transaksi dicatat pada waktu yang tepat (ketepatan waktu)
f. Setiap transaksi dicatat (kelengkapan)
g. Setiap transaksi diikhtisarkan dengan benar (posting dan ikhtisar).
Selain tujuan di atas, pengendalian internal juga mempunyai beberapa
a. Mengetahui apakah data telah dikumpulkan, dicatat dan dilaporkan
dengan benar.
b. Mengetahui apakah transaksi yang telah dilakukan telah disetujui
dan ditandan tangani oleh pihak yang berwenang.
c. Menghindari adanya kesalahan dan kecurangan.
2.2.1.3. Elemen-elemen Pengendalian Intern
Committee of Sponsoring Organizations of the Treatway Commission
(COSO) memperkenalkan adanya lima komponen pengendalian intern yang
meliputi Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penilaian Resiko (Risk
Assesment), Prosedur Pengendalian (Control Procedure), Pemantauan
(Monitoring), serta Informasi dan Komunikasi (Information and Communication).
(Wikipedia.com/pengertian-pengendalian-internal)
1. Lingkungan Pengendalian (Control Environment)
Lingkungan pengendalian perusahaan mencakup sikap para manajemen
dan karyawan terhadap pentingnya pengendalian yang ada di organisasi tersebut.
Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap lingkungan pengendalian adalah
filosofi manajemen (manajemen tunggal dalam persekutuan atau manajemen
bersama dalam perseroan) dan gaya operasi manajemen (manajemen yang
progresif atau yang konservatif), struktur organisasi (terpusat atau ter
desentralisasi) serta praktik kepersonaliaan. Lingkungan pengendalian ini amat
penting karena menjadi dasar keefektifan unsur-unsur pengendalian intern yang
Filosofi dan Gaya Operasional Manajemen
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar yang menjadi parameter bagi
perusahaan dan karyawannya. (menggambarkan apa yang seharusnya dikerjakan
dan yang tidak dikerjakan)
Gaya Operasional mencerminkan ide manajer tentang bagaimana kegiatan
operasi suatu perusahaan harus dikerjakan (Filosofi perusahaan dikomunikasikan
melalui gaya operasi manajemen)
Struktur Organisasi
Salah satu elemen kunci dalam lingkungan pengendalian adalah struktur
organisasi. Struktur Organisasi menunjukkan pola wewenang dan tanggung jawab
yang ada dalam suatu perusahaan. (Desentralisasi maupun sentralisasi)
Metode Pendelegasian Wewenang Dan Tanggung Jawab
Metode pendelegasian wewenang dan tanggung jawab mempunyai
pengaruh yang penting dalam lingkungan pengendalian. Biasanya metode ini
tercermin dalam suatu bagan organisasi.
Metode Pengendalian Manajemen
Lingkungan pengendalian juga dipengaruhi oleh metode pengendalian
manajemen. Metode ini meliputi pengawasan yang efektif (melalui peranggaran),
Kebijakkan dan praktik kepegawaian
Kebijakan dan praktek yang berhubungan dengan perekrutan, pelatihan,
evaluasi, penggajian dan promosi pegawai, mempunyai pengaruh yang penting
dalam mencapai tujuan perusahaan sebagaimana juga dilakukan dalam
meminimumkan resiko.
Pengaruh Eksternal
Organisasi harus mematuhi aturan-aturan yang dikeluarkan oleh
pemerintah maupun pihak yang mempunyai juridiksi atas organisasi. Hal tersebut
sangat berpengaruh pada pengendalian intern perusahaan.
2. Penilaian Risiko (Risk Assesment)
Semua organisasi memiliki risiko, dalam kondisi apapun yang namanya
risiko pasti ada dalam suatu aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan bisnis
(profit dan non profit) maupun non bisnis. Suatu risiko yang telah di identifikasi
dapat di analisis dan evaluasi sehingga dapat di perkirakan intensitas dan tindakan
yang dapat meminimalkannya.
3. Prosedur Pengendalian (Control Procedure)
Prosedur pengendalian ditetapkan untuk menstandarisasi proses kerja
sehingga menjamin tercapainya tujuan perusahaan dan mencegah atau mendeteksi
terjadinya ketidakberesan dan kesalahan. Prosedur pengendalian meliputi hal-hal
sebagai berikut:
Personil yang kompeten, mutasi tugas dan cuti wajib.
Pemisahan tanggung jawab untuk kegiatan terkait.
Pemisahan fungsi akuntansi, penyimpanan aset dan operasional.
4. Pemantauan (Monitoring)
Pemantauan terhadap sistem pengendalian intern akan menemukan
kekurangan serta meningkatkan efektivitas pengendalian. Pengendalian intern
dapat di monitor dengan baik dengan cara penilaian khusus atau sejalan dengan
usaha manajemen. Usaha pemantauan yang terakhir dapat dilakukan dengan cara
mengamati perilaku karyawan atau tanda-tanda peringatan yang diberikan oleh
sistem akuntansi.
Penilaian secara khusus biasanya dilakukan secara berkala saat terjadi
perubahan pokok dalam strategi manajemen senior, struktur korporasi atau
kegiatan usaha. Pada perusahaan besar, auditor internal adalah pihak yang
bertanggung jawab atas pemantauan sistem pengendalian intern. Auditor
independen juga sering melakukan penilaian atas pengendalian intern sebagai
bagian dari audit atas laporan keuangan.
5. Informasi dan Komunikasi (Information and Communication)
Informasi dan komunikasi merupakan elemen-elemen yang penting dari
pengendalian intern perusahaan. Informasi tentang lingkungan pengendalian,
penilaian risiko, prosedur pengendalian dan monitoring diperlukan oleh
manajemen Winnebago pedoman operasional dan menjamin ketaatan dengan
Informasi juga diperlukan dari pihak luar perusahaan. Manajemen dapat
menggunakan informasi jenis ini untuk menilai standar eksternal. Hukum,
peristiwa dan kondisi yang berpengaruh pada pengambilan keputusan dan
pelaporan eksternal.
2.2.2. Pengertian Usaha Kecil Menengah
UU No. 9 Tahun 1995 tentang usaha kecil dapat dikatagorikan sebagai
usaha kecil sepanjang omsetnya berada dibawah Rp. 1 miliar, memiliki aset
kurang dari Rp. 200 juta diluar tanah dan bangunan dan bukan merupakan anak
perusahaan dari usaha besar.
Cakupan yang luas dan melebar memang menyebabkan fokus
pengembangan sering tidak efektif, karena karakter dan orientasi bisnis yang
dijalankan oleh para pemilik usaha, jika digunakan basis penyediaan pembiayaan
sebagi tolak ukur, maka usaha kecil dalam pengertian UU No. 9/1995 dapat
dibedakan menjadi tiga kelompok:
1. Kelompok usaha mikro dengan omset di bawah Rp. 50 juta
2. Kelompok usaha kecil dengan omset antara Rp. 50 juta – Rp. 500 juta.
3. Kelompok usaha menengah yang memiliki omset antara Rp. 500 juta – Rp. 1
miliar
Sebenarnya hanyalah usaha kecil dalam kelompok dua atau tiga yang
pantas disebut sebagai usaha kecil, bahkan dalam perbandingan regional hanya
kelompok tiga yang dapat dibandingkan dengan pengertian enterprises didalam
Sedangkan Glendoh (2001) yang dikutip oleh Wisnu Adi Hidayat
menyebutkan usaha kecil dalam arti luas memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Industri kecil adalah industri berskala kecil, baik dalam
ukuran modal, jumlah produksi maupun tenaga kerjanya.
2. Perolehan modal umumnya berasal dari sumber tidak
resmi seperti tabungan keluarga, pinjaman dari kerabat dan
mungkin dari “lintah darat”.
3. Karena skala kecil, maka sifat pengelolaannya terpusat,
demikian pula pengambilan, keputusan tanpa atau dengan
sedikit pendelegasian fungsi dalam bidang-bidang
pemasaran, keuangan, produksi dan lain sebagainya.
4. Tenaga kerja yang ada umumnya terdiri dari anggota
keluarga atau kerabat dekat, dengan sifat hubungan kerja
yang “informal” dengan kualifikasi teknis yang apa adanya
atau dikembangkan sambil bekerja.
5. Hubungan antara keterampilan teknis dan keahlian dalam
pengelolaan usaha industri kecil ini dengan pendidikan
formal yang dimiliki para pekerjanya umumnya lemah.
6. Peralatan yang digunakan adalah sederhana dengan
Dengan ciri-ciri tersebut usaha kecil dapat terhambat perannya yang
sangat potensial dan secara nyata menunjang pembangunan di sektor ekonomi
yaitu:
1. Usaha kecil merupakan penyerap tenaga kerja.
2. Usaha kecil merupakan penghasil barang dan jasa pada tingkat
harga yang terjangkau bagi kebutuhan rakyat banyak yang
berpenghasilan rendah.
3. Usaha kecil merupakan penghasil devisa negara yang potensial,
karena keberhasilannya dalam memproduksi komoditi non migas.
Memperhatikan ciri-ciri Usaha Kecil dan peranannya yang sangat
potensial bagi pembangunan di sektor ekonomi, maka usaha kecil
perlu terus menerus dibina dan diberdayakan secara berkelanjutan
agar dapat lebih berkembang dan maju.
2.2.3. Kebijakan Pengembangan UKM
Guritno (1999) yang dikutip oleh Wisnu Adi Hidayat (2007)
menyebutkan pengembangan UMKM di Indonesia dapat dititik dari empat tataran
kebijakan pengembangan, yaitu: tataran meta, tataran makro, tataran meso dan
tataran mikro. Pada tataran meta, kemauan politik para pendiri Republik Indonesia
telah memberikan dukungan berdasarkan perundangundangan yang jelas dan
tegas kepada koperasi, sebagaimana tercantum dalam pasal 33 UUD 1945 dan
penjelasannya. MPR RI juga secara tegas selalu mencantumkan perlunya
diperkuat dengan adanya UU No. 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian dan UU
No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah.
Kebijakan pada tataran makro akan menentukan kondusif atau tidaknya
sistem dan kondisi perekonomian dengan pembangunan UMKM. Kebijakan pada
tataran makro akan menentukkan struktur dan tingkat persaingan pasar yang
dihadapi oleh pelaku usaha termasuk UMKM. Tugas Pemerintah (pusat dan
daerah) untuk menumbuhkan iklim yang kondusif bagi UMKM, dalam arti
UMKM memiliki kesempatan berusaha yang sama dan menanggung beban yang
sama dibandingkan pelaku usaha lainnya secara proporsional.
Kebijakan makro bisa ditransfer ke dalam tataran mikro (skala usaha
UMKM) umumnya melalui mekanisme dukungan perkuatan pada tataran meso.
Pada tataran meso, kebijakan perkuatan ini dapat dibedakan menjadi dukungan
finansial dan dukungan non finansial. Proses transmisi dukungan perkuatan pada
tataran meso ke tataran mikro memerlukan alat berupa proses innovasi dan
pemberdayaan, agar sasaran pelaku yaitu UMKM dapat diantisipatif dan
responsive terhadap kebijakan pada tataran meta, makro dan meso. Dengan
demikian efektifitas pemberdayaan UMKM ditentukan oleh keselarasan dan
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui pemahaman dan penerapan pengelolaan
keuangan bagi pelaku usaha UKM, dengan pendekatan ini peneliti berada dalam
posisi tidak bias mengontrolobjek penelitian. Penelitian ini memerlukan interaksi
antara peneliti dengan objek penelitian yang bersifat interaktif untuk memahami
realitas objek.
Penelitian kualitatif pada hakekatnya adalah mengamati orang dalam
lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, serta berusaha memahami
bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya, (Sugiyono,2005).
Adapun ciri-ciri penelitian yang menggunakan pendekatan kualitatif adalah :
1. Sumber data bersifat ilmiah, artinya peneliti harus dapat memahami
fenomena sosial secara langsung dalam kehidupan masyarakat.
2. Peneliti sendiri merupakan instrument penelitian yang penting didalam
pengumpulan data dan penginterprestasian data.
3. Penelitian Kualitatif bersifat deskriptif, artinya mencatat secara teliti
4. Penelitian harus digunakan untuk memahami bentuk-bentuk tertentu
(shaping), atau kasus (studi kasus)
5. Analisis bersifat induktif
6. Di lapangan peneliti harus berperilaku seperti masyarakat yang ditelitinya.
7. Data dan informan harus berasal dari tangan pertama
8. Kebenaran data harys dicek dengan data lain
9. Orang atau sesuatu yang dijadikan subjek penelitian tersebut partisipan
(buku dapat dianggap sebagai partisipan) dan konsultan serta teman dapat
dijadikan partisipan.
10. Titik berat perhatian harus pada pandangan emik, arinya peneliti harus
menaruh perhatian pada masalah penting yang diteliti dari orang yang
diteliti dan bukan dari etik (dari kaca mata peneliti).
Menurut Sugiyono (2008 : 8) metode penelitian kualitatif sering disebut metode
naturalistic karena metode penelitiannya dilakukan dengan kondisi yang alamiah
(natural setting).
3.2 Ketertarikan Penelitian
Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan usaha yang unik karena
dimungkinkan dengan jumlah tenaga kerja yang sedikit tapi dapat menghasilkan
penghasilan yang dapat mengalahkan pegawai kantoran. Di satu sisi, pelaku UKM
adalah embrio dari para pengusaha besar karena sebelum menjadi “bos besar”
Didalam era pembangunan dalam mewujudkan cita-cita bangsa,
munculnya pengusaha muda yang berkualitas merupakan pioneer untuk
menunjang suksesnya pembangunan (Sudradjad,1999 : 10).
Peneliti melihat dan merasakan dari pengalaman peneliti sebagai pelaku
bisnis, kebanyakan keinginan yang mengebu-gebu dari pelaku bisnis adalah dalam
segi produksi dan promosi, misalkan mengenai bagaimana caranya agar
produknya dapat dikenal luas di masyarakat yang nantinya diharapkan order yang
masuk banyak sehingga pundi-pundi rupiah dapat dikumpulkan
sebanyak-banyaknya, tetapi ada salah satu celah dimana setelah pundi-pundi rupiah tersebut
didapatkan, untuk mengelola dan menjaga pundi-pundi tersebut menjadi suatu
masalah tersendiri, karena masih sangat lemahnya pemaahaman masyarakat
dalam pengendalian intern apalagi untuk usaha-usaha yang mempunyai beberapa
karyawan, harus ada pemisahan otoritas yang jelas di unit usaha tersebut.
3.3 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian yang dipilih adalah di kota Situbondo, karena di kota ini
banyak UKM yang ada di tengah-tengah masyarakat. Masih banyak UKM di kota
ini yang masih belum memandang pengendalian internal sebagai suatu hal yang
sangat penting bagi mereka.
3.4 Instrumen Penelitian
Informasi tentang pengendalian internal pada UKM sangat dibutuhkan
peneliti untuk menunjang dan akan digali sebagai instrument. Dalam penelitian
Oleh karena itu peneliti sebagai instrument juga harus divalidasi seberapa jauh
peneliti kualitatif siap melakukan penelitian selanjutnya terjun ke lapangan.
Sugiyono(2008 : 222).
3.5 Sumber Data
Teknik pengambilan data mengunakan teknik non-propabilitas. Menurut
Sumarsono (2004:51) dalam penarikan sample secara non-propabilitas penentuan
ukuran sample didasarkan pada pertimbangan atau penilaian yang bersifat
subjektif dan tidak berdasar teori propabilitas, sehingga setiap anggota populasi
tidak mempunyai peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sample.
Pemilihan sumber data yaitu UKM yang akan dijadikan objek penelitian
berasal dari landasan UU No. 20 tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan
Menengah. Lantas peneliti menetukan bidang usaha dagang yang dijadikan objek
di kota Situbondo. Pemilik UD. Prima Tani dipilih sebagi objek penelitian karena
usaha yang sudah peneliti kenal sebelumnya disamping itu, pemilik yang
selanjutnya adalah sebagai informan kunci dinilai sangat kooperatif.
3.6 Penentuan Informan
Informan yang peneliti gunakan untuk mendapatkan informasi adalah Bpk
Ashen sebagi pemilik UD. Prima Tani dan karyawan yang ada pada unit usaha
UD. Prima Tani yang menurut peneliti dianggap sebagai orang yang secara
langsung berhubungan dengan kegiatan oprasional UD. Prima Tani.
Peneliti memilih orang-orang tersebut sebagai informan dalam penelitian
mengikhtisarkan dan penafsiran transaksi keuangan yang terjadi di unit usaha
tersebut sebab hal-hal peneliti sebutkan diatas adalah termasuk suatu informasi
yang berguna bagi usaha tersebut untuk bertindak demi kelangsungan usaha
mereka mendatang dan untuk mengatasi pelayanan yang kurang terhadap
pelanggan dan mengurangi terjadinya pengembalian barang karena kesalahan
yang disebabkan oleh pencatatan pesanan yang tidak sesuai.
3.7. Teknik Pengumpulan Data
Ada tiga teknik yang akan digunakan dalam pengumpulan data yaitu
wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut dapat
diuraikan sebagai berikut :
a. Wawancara Mendalam
Wawancara jenis ini tidak dilakukan dengan struktur ketat, tetapi dengan
permasalahan yang semakin memfokus pada permasalahan sehingga informasi
yang dikumpulkan cukup mendalam. Kelonggaran semacam ini mampu mengorek
kejujuran informan untuk memberikan informasi yang sebenarnya, terutama yang
berkenaan dengan penggunaan system informasi akuntansi pada UD. Prima Tani,
usaha yang bergerak dibidang perdagangan sarana pertanian.
Dengan demikian peneliti sebagai instrument dituntut bagaimana membuat
responden lebih terbuka dan leluasa delam memberikan informasi dan data, untuk
mengemukakan pengetahuannya dan pengalamnya terutama yang berkaitan
suatu diskusi, obrolan santai, spontanitas (alamiah) dengan subjek peneliti sebagai
pemecah masalah dan peneliti sebagai pemancing timbulnya wacana detail.
b. Observasi
Observasi dilaksanakan oleh peneliti dengan cara observasi partisipan
untuk mengamati berbagai kegiatan yang terjadi. Observasi tersebut dapat
dimualai dari awal pencatatan pesanan, pengambilan barang dari gudang,
pengiriman barang pada pelanggan dan penerimaan kas atas hasil penjualan.
Semua yang didengar dan dilihat oleh peneliti sebagai aktivitas observasi ketika
para responden atau informan melakukan kegiatan ini, diceritakan kembali atau
dicatat sehingga merupakan data atau informasi yang berasal dari wawancara.
c. Dokumentasi
Teknik dokumentasi dilaksanakan untuk mendapatkan bukti-bukti
penelitian yang dapat dipertanggung jawabkan. Dokumentasi dilaksanakan pada
UD. Prima Tani, mengenai bagaimana pemilik usaha menerapkan pengendalian
intern atas unit usaha yang dimilikinya. Yang digunakan adalah foto dan hasil
wawancara.
3.8. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat penelitian
berlangsung dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Pada
saat wawancara peneliti sudah mealkukan analisis terhadap jawaban yang
diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis dirasa kurang
tertentu diperoleh data yang dianggap kredibel. Dikutip dari Sugiyono
(2008:246-253). Miles and Huberman (1992:16-21), mengemukakan bahwa aktivitas dalam
analisis data kualitatif dilakukan secara terus menerus sampai tuntas sehingga
datanya sudah jenuh.
3.9. Pengujian Kredibilitas Data
Pengujian kredibilitas data penelitian akan dilakukan dengan cara
(Sugiyono, 2005)
1. Perpanjangan Pengamatan
Penelitian ini diperpanjang sampai dua kali karena pada periode I
data yang diperoleh dirasa kurang memadai dan belum kredibel. Belum
memadai karena belum semua rumusan masalah dan fokus terjawab
melalui data, sehingga data yang diperoleh pada tahap I ternyata masih
belum konsisten, masih berubah-ubah. Perpanjangan pengamatan sampai
dua kali maka data yang diperoleh dirasa sudah jenuh.
2. Meningkatkan Ketekunan
Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini
dilakukan dengan cara membaca semua hasil penelitian dengan cermat,
sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya, demikian dengan
meningkatkan ketekunan maka, peneliti dapat memberikan deskripsi data
Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan adalah
dengan cara membaca berbagai refrensi buku maupun hasil penelitian atau
dokumentasi-dokumentasi yang berkaitan dengan temuan yang diteliti.
Dengan membaca ini maka wawasan peneliti akan semakin luas dan
tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan
itu benar/dipercaya atau tidak.
3. Triangulasi
Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik, sumber data
dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara menanyakan hal
yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu dengan wawancara,
observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan
menanyakan hal yang sama dengan sumber yang berbeda. Triangulasi
waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada pada berbagai
kesempatan dan dalam kondisi yang berbeda, dengan triangulasi dalam
pengumpulan data tersebut, maka dapat diketahui apakah narasumber
memberikan data yang sama atau tidak. Apabila narasumber memberikan
BAB IV
DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
4.1. Pendahuluan
Penelitian ini disusun dengan mengambil objek penelitian di UD. Prima
Tani, lokasi objek berada di kota Situbondo dengan alamat jl. Raya Panji No.262,
usaha ini memiliki latar belakang yaitu berdiri sejak tahun 1993 sehingga
menjadikan usaha ini yang terbesar yang ada di kota Situbondo, dengan omset
yang mencapai 1 miliar rupiah dalam sebulan, tetapi dengan pengelolaan
manajeman yang menurut peneliti masih jauh dari kata layak, dengan
dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat memeperbaiki sistem pengendalian
internal yang ada pada usaha ini, dan dapat semakin meningkatkan kinerja
sehingga pendapatan yang dihasilkan usaha ini semkin meningkat.
Kota Situbondo yang berada di ujung timur pulau Jawa masih memiliki
banyak lahan pertanian sehingga usaha sarana produksi pertanian (saprodi) sangat
menjanjikan, karena petani masih tergantung pada obat-obatan pertanian untuk
menunjang usaha pertaniannya, omset yang didapatkan sangat besar karena harga
obat yang tidak murah dan juga keuntungan yang didapat oleh pengusaha juga
sangat besar bisa mencapai 20% dari harga jual tiap produk.
Karena usaha ini dirintis dari bawah sehingga sistem pengendalian internal
yang ada tidak sama dengan yang diterapkan perusahaan-perusahaan besar karena
adalah usaha warisan dari orang tua maka pemilik atau pengelola usaha saat ini
adalah anak dari pendiri usaha UD. Prima Tani, karena merupakan warisan dari
orang tua dan sejak awal terjun ke dalam usaha pemilik merasa sudah terbiasa dan
tidak terlalu mengalami masalah dengan pengelolaan manajeman yang sudah ada
sejak usaha ini mulai ini dirintis, tapi dibalik itu semua ada bermacam
permasalahan yang biasa dihadapi oleh usaha kecil menengah yang berhubungan
dengan keterbatasan laporan keuangan, dan sumber daya manusia yang ada dalam
usaha tersebut.
Pemilik atau pengelola usaha UD. Prima Tani saat ini adalah Candra
Sanjaya (ashen), usaha yang diwariskan oleh orang tuanya tiga tahun yang lalu,
setelah diwariskan usaha ini mengalami peningkatan yang signifikan dalam
penjualan dan pendapatan yang diperoleh, tapi hal ini tidak diimbangi dengan
perbaikan dalam pengelolaan manajeman dan pencatatan atau pelaporan
keuangan, dari pengamatan peneliti pelaporan keuangan serta pengendalian
internal yang ada sama dengan yang ada pada usaha kecil yang lainnya, padahal
dengan jumlah omset serta barang yang dimiliki harus ada perbaikan dalam
pengelolaan manajeman untuk mengurangi resiko kerugian yang dialami.
4.2. Sejarah Pertanian
Sejarah pertanian adalah bagian dari sejarah kebudayaan manusia.
Pertanian muncul ketika suatu masyarakat mampu untuk menjaga ketersediaan
pangan bagi dirinya sendiri. Pertanian memaksa suatu kelompok orang untuk
perubahan dalam sistem kepercayaan, pengembangan alat-alat pendukung
kehidupan, dan juga kesenian akibat diadopsinya teknologi pertanian.
Kebudayaan masyarakat yang tergantung pada aspek pertanian diistilahkan
sebagai kebudayaan agraris.
Sebagai bagian dari kebudayaan manusia, pertanian telah membawa
revolusi yang besar dalam kehidupan manusia sebelum revolusi industri. Bahkan
dapat dikatakan, revolusi pertanian adalah revolusi kebudayaan pertama yang
dialami manusia.
Agak sulit membuat suatu garis sejarah pertanian dunia, karena setiap
bagian dunia memiliki perkembangan penguasaan teknologi pertanian yang
berbeda-beda. Di beberapa bagian Afrika atau Amerika masih dijumpai
masyarakat yang semi-nomaden (setengah pengembara), yang telah mampu
melakukan kegiatan peternakan atau bercocok tanam, namun tetap
berpindah-pindah demi menjaga pasokan pangan. Sementara itu, di Amerika Utara dan
Eropa traktor-traktor besar yang ditangani oleh satu orang telah mampu
mendukung penyediaan pangan ratusan orang.
Berakhirnya zaman es sekitar 11.000 tahun sebelum Masehi (SM)
menjadikan bumi lebih hangat dan mengalami musim kering yang lebih panjang.
Kondisi ini menguntungkan bagi perkembangan tanaman semusim, yang dalam
waktu relatif singkat memberikan hasil dan biji atau umbinya dapat disimpan.
Ketersediaan biji-bijian dan polong-polongan dalam jumlah memadai
dan peramuan tidak perlu dilakukan setiap saat. Contoh budaya semacam ini
masih terlihat pada masyarakat yang menerapkan sistem perladangan berpindah
(slash and burn) di Kalimantan dan Papua.
Berdasarkan bukti-bukti peninggalan artefak, para ahli prasejarah saat ini
bersepakat bahwa praktik pertanian pertama kali berawal di daerah "bulan sabit
yang subur" di Mesopotamia sekitar 8000 SM. Pada waktu itu daerah ini masih
lebih hijau daripada keadaan sekarang. Berdasarkan suatu kajian, 32 dari 56
spesies biji-bijian budidaya berasal dari daerah ini. Daerah ini juga menjadi satu
dari pusat keanekaragaman tanaman budidaya (center of origin) menurut Vavilov.
Jenis-jenis tanaman yang pertama kali dibudidayakan di sini adalah gandum, jelai
(barley), buncis (pea), kacang arab (chickpea), dan flax (Linum usitatissimum).
Di daerah lain yang berjauhan lokasinya dikembangkan jenis tanaman lain
sesuai keadaan topografi dan iklim. Di Tiongkok, padi (Oryza sativa) dan
jewawut (dalam pengertian umum sebagai padanan millet) mulai didomestikasi
sejak 7500 SM dan diikuti dengan kedelai, kacang hijau, dan kacang azuki. Padi
(Oryza glaberrima) dan sorgum dikembangkan di daerah Sahel, Afrika 5000 SM.
Tanaman lokal yang berbeda mungkin telah dibudidayakan juga secara tersendiri
di Afrika Barat, Ethiopia, dan Papua. Tiga daerah yang terpisah di Amerika (yaitu
Amerika Tengah, daerah Peru-Bolivia, dan hulu Amazon) secara terpisah mulai
membudidayakan jagung, labu, kentang, dan bunga matahari.
Kondisi tropika di Afrika dan Asia Tropik, termasuk Nusantara, cenderung
peramuan karena relatif mudahnya memperoleh bahan pangan. Migrasi
masyarakat Austronesia yang telah mengenal pertanian ke wilayah Nusantara
membawa serta teknologi budidaya padi sawah serta perladangan. Secara umum
dapat dikatakan bahwa pertanian bermula sebagai dampak perubahan iklim dunia
dan adaptasi oleh tanaman terhadap perubahan ini.(wikipedia.com/sejarah
pertanian)
4.3. Perkembangan Pertanian
Tulang punggung pertanian terdiri dari tanaman-tanaman yang sekarang
masih penting untuk persediaan pangan dunia: gandum dan barlai, kurma dan ara,
zaitum dan anggur. Kebudayaan kuni dari Mesopotamia - Sumeria, Babilonia,
Asiria, Cahldea - mengembangkan pertanian yang bertambah kompleks dan
terintegrasi. Reruntuhan menunjukkan sisa teras-teras, taman-taman dan
kebun-kebun yang beririgasi. Emapt ribu tahun yang lalu saluran irigasi dari bata dengan
sambungan beraspal membantu areal seluas 10.000 mil persegi tetap ditanami
untuk memberi pangan 15 juta jiwa. Pada tahun 700 SM sudah dikenal 900
tanaman.
Pengetahuan tentang pertanian kuno di mana pun tidak lebih banyak dari
pada di Mesir, di mana pasri yang bertiup dari gurun memelihara data dan catatan
dari zaman yang menakjubkan. Walaupun lembah Nil telah mendukung manusia
sekurang-kurangnya 20.000 tahun, di duga perkembangan pertaniannya yang
Kebudayaan Mesir jaya, yang berpengaruh pada kebudayaan-kebudayaan
Barat sekarang, adalah makmur dalam keberlimpahan pertanian yang
dimungkinkan oleh kebanjiran Sungai Nil yang menyuburkan tanah kembali.
Orang Mesir adalah akhli dalam mengembangkan teknik drainase dan irigasi.
Drainase yaitu pembuangan kelebihan air, merupakan tuntutan di daerah seperti
lembah Nil; hal ini meminta pengembangan lereng-lereng lahan dan pembuatan
sistem pengangkutan serta saluran air yang efisien. Irigasi yaitu pemberian air
pada tanaman secara buatan, menyangkut penadahan, pengantaran dan pemberian
air. Masalah drainase dan irigasi saling menjalin; pemecahannya oleh orang Mesir
dengan membangun serentetan parit untuk menyimpan air dan saluran yang
melayani kedua tujuan tersebut. Orang Mesir mengembangkan teknik menaikkan
air, yang masih dipakai sekarang. Penemuan yang utama adalah shaduf, yang
memungkinkan menaikkan 2.250 liter air setinggi 1.8 m tiap hari kerja pria.
Teknologi pengolahan tanah dapat dilacak lewat perbaikan cangkul,
cangkul asalnya dari suatu tongkat bercabang yang lancip dan digunakan dengan
gerakan memotong. Bajak kuno juga hanya merupakan cangkul yang ditarik
manusia (belakangan oleh hewan) untuk menggaruk permukaan tanah, dan masih
banyak digunakan kini di banyak bagian dunia. Kemudian bajak diperbaiki
dengan penemplean besi di bagian yang besinggungan dengan tanah dan dengan
konstruksi yang lebih kuat dan efisien. Orang-orang Mesir menggunakan berbagai
alat potong pada waktu panen, salah satunya adalah arit yang merupakan alat yang
4.4. Permasalahan Yang Terjadi
Dalam Usaha Yang memiliki sekala kecil dan menengah, permasalahan
manajerial sering terjadi, masalah yang ada berkaitan dengan pembagian tugas
dan tanggung jawab yang belum jelas, baik secara tertulis atau tidak, selain itu
masalah pencatatan yang dialami oleh sebagian besar pemilik usaha dengan skala
kecil dan menengah dapat menimbulkan kesulitan dalam mengendalikan aktivitas
usaha dan mengontrol kekayaan yang dimiliki unit usaha.
Penilitian yang dilakukan di unit UKM UD. Prima Tani bermula dari
ketertarikan peneliti pada aktivitas usaha yang dilakukan oleh para pegawai serta
pemilik usaha, dimana peneliti melihat masih banyak kekurangan yang ada pada
sistem pengendalian internal yang akan menimbulkan resiko terjadinya
kehilangan barang dagangan, karena sistem dan pencatatan yang ada sangat
BAB V
HASIL PENELITIAN
5.1. Pemahaman Pengusaha Tentang Pengendalian Internal
Pada sub bab ini akan dibahas tentang penerapan pengendalian internal
dan bagaimana pemahaman pengusaha UD. Prima Tani tentang pengendalian
internal, pengendalian sangat penting dalam setiap usaha, apalagi yang sudah
memiliki karyawan karena harus ada sistem yang dapat menjamin dan menjaga
kekayaan yang dimiliki, selain itu untung mengetahui berapa pendapatan yang
diperoleh serta untuk mengetahui keluar masuknya barang yang ada di gudang.
“….kalo internal kontrol gak terlalu paham mas, terus pencatatan ya
biasa aja kayak gini yang penting saya ngerti, ini usaha warisan dari orang tua
dari dulu ya kayak gini dah….”
(Informan Candra)
Karena merintis usaha dari bawah sehingga pengusaha merasa sudah
terbiasa dengan pencatatan dan pembagian tugas yang ada sehingga apabila terjadi
kehilangan barang atau salah perhitungan cek fisik barang yang ada di gudang,
maka tidak ada yang dapat langsung bertanggung jawab, karena tidak adanya
pembagian tugas yang jelas antar karyawan, dengan omset yang begitu besar dan
banyaknya jenis barang yang dimiliki harusnya sudah ada pengendalian internal
yang layak.
Selain dari pemilik usaha, para karyawan yang ada pada UD. Prima Tani
keuangan yang baik, hal ini dapat dilihat dari bagaimana karyawan bagian
pencatatan melakukan aktivitas pencatatan yang tidak sesuai dengan proses
pencatatan keuangan yang baik.
“….kalo salah ya dibuatkan nota baru, terus nyari yang ada di buku terus
diganti atau dihapus…”
(Informan Wartini)
Saat ditanyakan pada informan lain tentang sejauh mana pemahaman
karyawan yang ada tentang pengendalian internal.
“…gak tahu saya mas kalo yang itu…”
(Informan Tarno)
Hal ini menunjukkan masih sangat lemahnya pengertian karyawan dan
pemilik usaha tentang pengendalian internal, selain itu pencatatan keuangan yang
tidak sesuai dengan standar mengakibatkan kesalahan perhitungan serta pemilik
usaha tidak mengetahui secara persis karena laporan keuangan yang tidak
lengkap.
5.2. Pengendalian Internal Sebagai Alat Melindungi Kekayaan Perusahaan Salah satu fungsi dari pengendalian internal adalah untuk melindungi
kekayaan perusahaan baik berupa uang atau barang yang ada dan dimiliki oleh
perusahaan, dalam sekala usaha yang tidak terlalu besar hal ini sangat sering
sekali diabaikan, contohnya tidak adanya bagian atau karyawan yang khusus
mengakibatkan adanya kehilangan barang atau salah perhitungan jumlah barang
yang ada di gudang, yang tentu saja mengakibatkan ketidakcocokan antara jumlah
di buku stok dengan barang yang ada di gudang.
“….ya semua karyawan disini bisa masuk gudang, gak ada karyawan
khusus bagian gudang…”
(Informan Candra)
Karena tidak adanya pemisahan fungsi yang jelas antar karyawan sehingga
para karyawan dengan mudahnya keluar masuk gudang, hal ini dapat
memperbesar resiko terjadinya pencurian barang yang ada di gudang, sehingga
sangat sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab apabila terjadi kehilngan
barang yang ada di gudang.
“…waduh semua (karyawan) bisa masuk ke gudang mas…”
(Informan Tarno)
Peneliti melakukan konfirmasi pada karyawan yang bertugas untuk
melakukan pencatatan memberikan jawaban yang tidak jauh berbeda dengan
jawaban yang diperoleh peneliti dari informan lainnya.
“…ya semua bisa masuk gudang mas….”
(Informan Wartini)
Dari penjelasan informan diatas dapat disimpulkan sangat sulit untuk
mengetahui secara pasti keluarnya barang karena semua karyawan yang ada di
5.3. Pencatatan Transaksi Penjualan
Pencatatan atas transaksi penjulan yang ada pada UD. Prima Tani yaitu
dengan menggunakan nota kemudian di pindahkan pada buku, hal ini sudah cukup
memadai untuk mengetahui berapa pendapatan yang diperoleh serta keluarnya
barang.
“….ya pake nota mas, kadang gak pake kalo beli sedikit, tapi tetep
dimasukkan ke buku meskipun cuma beli sedikit…”
(Informan Wartini)
Pencatatan model seperti ini menurut peneliti sudah cukup layak karena
mengurangi resiko kesalahan pencatatan atau hilangnya bukti transaksi yaitu nota,
sehingga apabila nota hilang atau terselip pemilik masih memiliki bukti transaksi
yang telah dicatat di buku transaksi, kelemahan atau kekurangan dari
pengendalian internal ini adalah masih belum adanya nomer nota yang
memungkinkan tertukarnya transaksi atau belum tercatatnya sebagian transaksi
yang sudah terjadi.
“…ya notanya gak ada nomernya mas…”
(Informan Wartini)
Selain itu apabila ada pengiriman barang pesanan nota dapat dimanipulasi
oleh karyawan yang mengantarkan barang pesanan karena tidak adanya nomer
5.4. Pencatatan Transaksi Piutang
Transaksi penjulan dalam usaha UD. Prima Tani ada yang langsung tunai
dan ada juga yang menggunakan sistem utang atau bon, transaksi yang
menggunakan sistem utang diperlakukan tidak sama dengan transaksi secara
tunai, yaitu dengan menggunakan nota rangkap tiga kemudian dicatat kembali ke
dalam buku.
“….ya pake nota dobel kalo ngutang, terus dicatet dibuku, kalo buat yang
mingguan pake nota lain mas, soalnya kalo keluar kota cuma seminggu sekali…”
(Informan Wartini)
Peneliti mengkonfirmasi jawaban yang diberikan oleh informan pada
pemilik usaha, pemilik usaha memberikan jawaban yang sama dengan yang
diberikan karyawan-karyawan yang dijadikan informan oleh peneliti.
“…ya pake bon…”
(Informan Candra)
Ada tiga lembar nota yang memiliki warna berbeda-beda, putih, merah,
biru tiap warna memiliki fungsi yang berbeda, warna merah diberikan pada
pelanggan pada saat terjadi transaksi, warna putih diberikan pada pelanggan saat
telah melunasi hutangnya sesuai dengan yang di nota, warna biru sebagai arsip
transaksi untuk UD. Prima Tani, selain itu perbedaannya dengan nota penjualan