• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH KECERDASAN INTERPERSONAL DAN TASK COMMITMENT TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENGARUH KECERDASAN INTERPERSONAL DAN TASK COMMITMENT TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA"

Copied!
196
0
0

Teks penuh

(1)

i

PENGARUH KECERDASAN INTERPERSONAL DAN TASK

COMMITMENT TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA

SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu

Pendidikan

Universitas Muhammadiyah Makassar

Oleh

NUR RIFQAH ANISAH NIM. 10536 11040 16

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA 2021

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto

“Keberhasilan itu hanya dilakukan oleh diri sendiri bukan orang lain. Keberhasilan bukan tentang seberapa banyak yang kita dapatkan, tetapi seberapa banyak yang dapat kita berikan dan itu berarti untuk orang lain”

“Jangan berhenti berupaya ketika menemui kegagalan. Bersyukurlah karena kegagalan adalah cara Tuhan mengajari kita arti kesungguhan”.

Persembahan

Segala perjuangan dan usaha yang saya lakukan dengan melewati segala rintangan hingga sampai di titik ini saya persembahkan kepada kedua orang tua yang paling berharga dalam hidup saya. Saya meyakini tanpa kekuatan do‟a dan dukungan dari mereka, skripsi ini tidak akan berjalan dengan mudah dan lancar. Terima kasih telah menjadi sosok orang tua yang hebat dan sempurna untukku.

Saudara-saudara, keluarga dan semua rekan-rekan seangkatanku khususnya teman-teman seperjuangan Algoritma 16B yang telah menguatkan, memotivasi,

mendo‟akan dan memberikan saran untuk kelancaran penulisan skripsi ini. I always love you all.

(7)

vii

ABSTRAK

Nur Rifqah Anisah. 2021. Pengaruh Kecerdasan Interpersonal dan Task

Commitment terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa. Skirpsi Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Dr. Rukli, M.Pd., M.cs. dan pembimbing II Sitti Rahma Tahir, S.Pd., M.Pd.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui: (1) seberapa besar gambaran kecerdasan interpersonal, task commitment dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa. (2) pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa. (3) pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa. (4) pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa. Jenis penelitian ini adalah penelitian ex-post facto dengan sampel 67 siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa tahun ajaran 2020/2021 dengan menggunakan teknik pengambilan sampel simple random sampling metode random (acak) melalui undian dari populasi seluruh kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa yang berjumlah 11 kelas. Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) gambaran umum kecerdasan interpersonal dan task commitment siswa dalam kategori sangat baik dengan persentase sebesar 48% dan 33%, sedangkan variabel prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa berada pada kategori baik dengan persentase sebesar 39%. (2) terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa dengan taraf signifikansi dan nilai ( ). (3) terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa dengan nilai signifikansi dan nilai ( ). (4) terdapat pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa dengan taraf signifikansi dan nilai ( )

Kata Kunci : kecerdasan interpersonal, task commitment dan prestasi belajar

(8)

viii ABSTRACT

Nur Rifqah Anisah. 2021. The Influence of Interpersonal Intelligence and Task Commitment on Mathematics Learning Achievement of Class VIII Students of SMP Negeri 1 Sungguminasa. Thesis of the Department of Mathematics Education, Faculty of Teacher Training and Education, University of Muhammadiyah Makassar. Advisor I Dr. Rukli, M.Pd., M.cs. and advisor II Sitti Rahma Tahir, S.Pd., M.Pd.

The study was conducted to determine: (1) how big is the description of interpersonal intelligence, task commitment, anda mathematics learning achievement of class VIII students of SMP Negeri 1 Sungguminasa. (2) the influence of interpersonal intelligence and task commitment on mathematics learning achievement of class VIII Students of SMP Negeri 1 Sungguminasa. (3) the influence of interpersonal intelligence on mathematics learning achievement of class VIII Students of SMP Negeri 1 Sungguminasa. (4) the influence of task commitment on mathematics learning achievement of class VIII Students of SMP Negeri 1 Sungguminasa. The type of research is an ex-post facto study with a sample of 67 class VIII students of SMP Negeri 1 Sungguminasa for the academic year 2020/2021 by using a simple random sampling technique by random through a lottery from the entire population of class VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa, amounting to 11 classess. Data collection techniques using questionnaires and documentation. The analysis technique uses descriptive statistics and inferential statistics. The results showed that: (1) the general description of students interpersonal intelligence and task commitment was in the very good category with a percentage of 48% and 33%, while the variables of mathematics learning achievement for class VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa were in the good category with a percentage of 39%. (2) there is a joint influence of interpersonal intelligence and task commitment on the mathematics learning achievement of class VIII students of SMP Negeri 1 Sungguminasa with significance level and value ( ). (3) there is a joint influence of interpersonal intelligence on the mathematics learning achievement of class VIII students of SMP Negeri 1 Sungguminasa with significance level and value ( ). (4) there is a joint influence of task commitment on the mathematics learning achievement of class VIII students of SMP Negeri 1 Sungguminasa with significance level and value ( ).

Keywords: interpersonal intelligence, task commitment and mathematics learning

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah Rabbil „Alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, berkat-Nya kita hidup dan hanya kepada-Nya kita kembali. Tuhan yang maha kuasa yang telah memberikan pertolongan kepada hambanya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Kecerdasaan Interpersonal dan Task Commitment Terhadap Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa” ini sebagai salah satu persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.. Salam dan shalawat semoga tetap tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, para keluarganya, para sahabatnya serta orang-orang yang tetap istiqomah di jalan-Nya.

Teristimewa dan terutama sekali penulis sampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada kedua orang tua tercinta ayahanda Drs. Nurdin Sanuddin dan ibunda Nurhaedah atas segala pengorbanan dan do’a restu yang telah diberikan demi keberhasilan penulis dalam menuntut ilmu sejak kecil sampai saat ini. Semoga apa yang telah mereka berikan kepada penulis menjadi kebaikan dan cahaya penerang kehidupan di dunia dan di akhirat.

Penulis menyadari bahwa tanpa bantuan dan motivasi dari banyak pihak, maka skripsi ini tidak dapat diselesaikan sebagaimana mestinya. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

(10)

x

1. Bapak Dr. Rukli, M.Pd., M.Cs sebagai Pembimbing I dan ibu Sitti Rahma Tahir, S.Pd., M.Pd sebagai pembimbing II yang telah meluangkan waktunya untuk memberi arahan dan bimbingan sejak awal penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

2. Bapak Prof. Dr. H. Ambo Asse, M.Ag. sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Bapak Erwin Akib, M.Pd., Ph.D., sebagai Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Bapak Mukhlis, S.Pd., M.Pd., sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar.

5. Ibu Mutmainnah, S.Pd., M.Pd sebagai validator I dan ibu Ernawati, S.Pd., M.Pd sebagai validator II yang telah menvalidasi instrumen penelitian ini. 6. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan khususnya

Jurusan Pendidikan Matematika yang telah mendidik dan memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis selama menempuh perkuliahan.

7. Ibu Adriani, S.Pd., M.M selaku kepala SMP Negeri 1 Sungguminasa atas kesediaannya memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian. 8. Ibu Sudarsih, S.Pd dan bapak Zainuddin, S.Pd selaku Guru bidang studi

pendidikan matematika yang telah memberikan bantuan dan masukan selama penulis melaksanakan penelitian.

9. Adik-adik kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa khususnya kelas VIII A, B, C, dan D yang telah membantu penulis untuk berpartisipasi dalam penelitian ini.

(11)

xi

10. Keluarga dan saudara(i) yang telah memberi dorongan dan motivasi.

11. Kepada sahabat seperjuanganku yang aku sayangi karena Allah Subhana Wata’ala yaitu Febrianti Nur yang telah banyak membantu dan mengarahkan serta mensuport segala sesuatu yang penulis lakukan.

12. Saudara-saudariku mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika Angkatan 2016 terkhusus Kelas 2016 B yang telah berjuang bersama selama kurang lebih 4 tahun untuk bersama-sama menimbah ilmu di bangku perkuliahan, atas segala perhatian dan kebersamaan kita selama ini.

13. Seluruh pihak yang belum sempat dituliskan satu persatu, atas segala perannya sehingga karya ini dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa usaha yang dilakukan akan memberikan yang terbaik dalam penyusunan karya ini, namun tentu tidak akan mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk kemudian menjadi bahan perbaikan karya ini.

Hanya Allah Subuhana Wata‟ala yang dapat memberikan imbalan yang setimpal. Semoga keikhlasan dan bantuan yang telah diberikan memperoleh ganjaran di sisi-Nya. Amin ya robbal alamin.

Makassar, April 2020

(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

SURAT PERNYATAAN ... iv

SURAT PERJANJIAN ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAK ... vii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 6

C. Tujuan Penelitian ... 7

D. Manfaat Penelitian ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 9

A. Kajian Pustaka ... 9

1. Pembelajaran Matematika ... 9

2. Prestasi Belajar ... 12

3. Kecerdasan Interpersonal ... 21

(13)

xiii

B. Kerangka Pikir ... 35

C. Hipotesis ... 38

BAB III METODE PENELITIAN ... 40

A. Jenis Penelitian ... 40

B. Populasi dan Sampel ... 40

C. Variabel dan Desain Penelitian ... 41

D. Definisi Operasional Variabel ... 41

E. Prosedur Penelitian ... 42

F. Insrumen Penelitian ... 44

G. Teknik Pengumpulan Data ... 53

H. Teknik Analisis Data ... 54

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 60

A. Hasil Penelitian ... 60

B. Pembahasan Hasil Penelitian ... 74

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 81

A. Kesimpulan ... 81

B. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 83 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

xiv

DAFTAR TABEL

3.1 Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Interpersonal ... 45

3.2 Skor Alternative Jawaban Angket Kecerdasan Interpersonal ... 45

3.3 Kisi-kisi Instrumen Task Commitment ... 46

3.4 Skor Alternative Jawaban Angket Task Commitment ... 47

3.5 Hasil Validasi Instrumen Kecerdasan Interpersonal ... 49

3.6 Hasil Validasi Instrumen Task Commitment ... 51

3.7 Hasil Perhitungan Validitas ... 52

3.8 Hasil Perhitungan Realibilitas ... 52

3.9 Pengkategorian Nilai Prestasi Belajar ... 54

3.10 Pengkategorian Variabel Instrumen Angket ... 55

3.11 Kriteria Klasifikasi Penskoran Angket Kecerdasan Interpersonal ... 55

3.12 Kriteria Klasifikasi Penskoran Angket Task Commitment... 55

4.1 Statistik Deskriptif Kecerdasan Intrapersonal ... 60

4.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Kecerdasan Interpersonal ... 61

4.3 Statistik Deskriptif Task Commitment ... 62

4.4 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Task Commitment ... 63

4.5 Statistik Deskriptif Prestasi Belajar Matematika ... 64

4.6 Distribusi Frekuensi dan Persentase Skor Prestasi Belajar Matematika ... 64

4.7 Hasil Uji Normalitas ... 66

4.8 Hasil Uji Linearitas Y Dengan ... 68

4.9 Hasil Uji Linearitas Y Dengan ... 68

(15)

xv

4.11 Hasil Analisis Uji-t ... 71 4.12 Hasil Analisis Uji-f secara bersama-sama ... 71

(16)

xvi

DAFTAR GAMBAR

2.1 Paradigma Kerangka Pikir ... 37 3.1 Skema Desain Penelitian ... 41 4.1 Diagram Frekuensi Kecerdasan Interpersonal Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa ... 61 4.2 Diagram Frekuensi Task Commitment Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa ... 63 4.3 Diagram Frekuensi Prestasi Belajar Matematika Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa ... 65

(17)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah upaya dalam mempersiapkan siswa untuk menjadi seseorang yang bermanfaat dan berkualitas. Pendidikan sebelumnya telah dirancang untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Pendidikan memiliki tujuan dalam peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yaitu salah satunya dengan menolong siswa dalam mengembangkan potensi yang dimiliki semaksimal mungkin. Sehingga pendidikan sangat menguntungkan bagi pribadi siswa itu sendiri maupun orang-orang sekitarnya.

Pada era globalisasi saat ini, negara kita sangat memerlukan kontribusi yang ideal dari warga negara. Hal tersebut terjadi jika setiap warga negara mendapat peluang untuk mencapai pendidikan apabila kemampuan dan kecerdasan yang dimiliki perlu diperluas secara maksimal.

Matematika merupakan bidang studi yang terdapat di seluruh jenjang pendidikan, baik itu dari taman kanak-kanak hingga ke perguruan tinggi. Belajar matematika sangat diperlukan agar siswa berpikir secara logis dan kritis serta memiliki kemampuan dalam menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari. Suhendri (2011:32) mengemukakan bahwa matematika ialah ilmu yang mempelajari suatu angka (bilangan), bangun-bangun, konsep, prinsip, hubungan dan logika untuk menyelesaikan suatu

(18)

2 permasalahan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bahasa lambang atau biasa juga disebut dengan simbol.

Siswa yang berhasil dalam pendidikan akan memperoleh nilai sebagai hasil belajar atau sering juga disebut dengan prestasi belajar. Menurut Sardiman (2014:46), definisi dari prestasi belajar ialah kemampuan yang dimiliki dari reaksi yang tercipta ketika berinteraksi dengan beberapa faktor yang sangat berpengaruh baik dari dalam individu itu sendiri maupun dari luar individu dalam pembelajaran.

Adapun faktor dari dalam individu yang sering disebut dengan faktor internal, antara lain: faktor kesehatan, intelegensi (kecerdasan), perhatian, minat, bakat, motivasi, kematangan/pertumbuhan dan faktor pribadi lainnya. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal atau faktor dari luar individu, antara lain: faktor keluarga, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat (Slameto, 2010: 54).

Penilaian prestasi belajar ialah salah satu bagian dari sistem persekolahan. Walaupun dengan memberi nilai, tidak mengembangkan proses belajarnya bahkan seringkali mereka terhambat karena masih terdapat beberapa guru yang hanya menilai siswa dari tugas dan ujian yang diberikan, setelah itu guru melupakan tugasnya yang berperan sebagai pengajar. Seharusnya guru juga berperan sebagai observer sehingga guru dapat memahami latar belakang setiap siswanya. Banyak hal yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa salah satunya yaitu kecerdasan interpersonal.

(19)

3 Kecerdasan interpersonal ialah suatu bagian dari multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Kecerdasan ini berhubungan erat dengan social life (kehidupan sosial), misalkan dalam berteman dan berinteraksi ataupun bersosialisasi dengan orang lain. Safaria (Monawati, 2015:23) mengemukakan bahwa seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal (kecerdasan sosial) ialah seseorang yang mampu mencipta, menjaga dan mempertahankan serta membangun sebuah hubungan yang baru. Kecerdasan interpersonal berdasarkan Lwin (2008:197) ialah kemampuan dalam memahami dan memperkirakan perasaan, suasana hati, serta keinginan orang lain dan dapat memberi respon dengan layak.

Unsur pokok dari suatu kecerdasan interpersonal yakni kemampuan seseorang dalam menanggapi dan memberi respon secara cermat dan teliti terhadap suasana hati, maksud, motivasi, perasaan, dan keinginan dari orang lain serta mampu bekerja sama dan bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya terkhusus dalam lingkungan sekolah. Oleh sebab itu, kecerdasan interpersonal memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar matematika siswa. Siswa yang tinggi kecerdasan interpersonalnya, cenderung mudah memahami maksud dan perasaan orang lain, bekerja sama dengan orang lain serta dapat mengembangkan hubungan yang harmonis sehingga sangat mudah dalam bersosialisasi. Biasanya, siswa yang mempunyai kecerdasan interpersonal dilihat dari mereka yang bercita-cita menjadi ketua kelas dan pintar dalam mengkomunikasikan keinginannya kepada orang-orang sekitarnya. Menurut siswa, kecerdasan interpersonal sangat mendukung dalam penyesuaian diri dan pembentukan hubungan sosial dengan orang-orang sekitarnya. Demikian

(20)

4 juga sebaliknya, jika seorang siswa tidak memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi akan sangat sulit dalam bersosialisasi ataupun menjalin hubungan dengan orang-orang sekitarnya.

Berdasarkan hasil observasi yang saya lakukan pada tanggal 25 November 2019 dan hasil wawancara saya dengan salah satu guru matematika SMP Negeri 1 Sungguminasa, terdapat 3 masalah dalam pembelajaran Matematika. Pertama, masih banyak siswa yang bersikap kurang bersosialisasi terhadap guru ataupun temannya sehingga ia mengalami kesulitan dalam menyampaikan apa yang diinginkan. Kedua, kurangnya keterampilan siswa dalam menyelesaikan soal-soal matematika, hal tersebut terjadi karena tidak ada motivasi atau tekad yang kuat untuk berusaha dalam menciptakan hal-hal baru. Ketiga, masih banyak siswa yang kurang berpastisipasi bahkan lebih senang berdiam diri dalam kegiatan pembelajaran dikarenakan tidak ada kepercayaan dirinya. Kondisi tersebut sangat berbeda dengan kondisi yang semestinya terjadi pada saat proses pembelajaran matematika. Optimalnya, siswa diharapkan fokus ketika mendengarkan penjelasan dari guru, melakukan diskusi untuk menggali informasi penting dalam pembelajaran, bersikap sopan dan santun, serta aktif berpartisipasi dalam pembelajaran.

Keberhasilan siswa dalam pembelajaran tidak hanya ditinjau dari pengaruh yang timbul akibat aspek intelegensi atau kecerdasan yang dimiliki. te beberapa siswa mempunyai kecerdasan interpersonal tinggi namun prestasi belajar yang diperoleh di bawah siswa yang mempunyai kecerdasan interpersonal rata-rata. Memang benar bahwa keberhasilan seorang siswa

(21)

5 ditentukan oleh kemampuan kognitif yang dimilikinya, namun faktor non kognitif juga sangat penting bahkan dapat berpengaruh terhadap perkembangan sosialnya. Beberapa siswa yang berkualitas untuk memperoleh prestasi yang baik, malah memperoleh prestasi belajar yang kurang, hal itu terjadi karena siswa tersebut tidak mempunyai faktor penunjang prestasi belajar yang lain yakni task commitment.

Task commitment berarti komitmen pada tugas. Task commitment ialah suatu tekad atau ambisi seseorang, yang tidak mengedepankan dorongan dari luar dalam mencapai suatu prestasi yang ditunjukkan dari sikap tangguh, ulet, tidak mudah bosan, mandiri, menetapkan tujuan aspirasi yang realitas dengan resiko sedang, suka belajar dan mempunyai hasrat untuk meningkatkan diri dan berhasil dalam bidang akademis.

Siswa yang berkomitmen pada tugas (task commitment) dapat dilihat dari sikap positif yang ditunjukkan terhadap tugas yang diberikan tentunya sebagai seorang pelajar. Siswa tidak akan menganggap tugas yang diberikan adalah beban, ia malah akan berusaha dengan keras, bertekad, ulet dan kontinu untuk memberikan hasil secara maksimal terhadap pekerjaan yang telah diberikan. Selain hal tersebut, tingginya task commitment siswa terlihat dari sikap siswa yang tidak gampang puas dengan pekerjaan yang apa adanya, ia memiliki keinginan yang tinggi dalam menyelesaikan tugas dengan cepat dan tepat serta memberikan hasil yang memuaskan.

Berdasarkan uraian diatas, penulis ingin mengetahui seberapa besar pengaruh antara kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika, pengaruh antara

(22)

6 kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika dan pengaruh antara task commitment terhadap prestasi belajar siswa. Oleh sebab itu, penulis tertarik ingin melakukan penelitian yang berjudul “PENGARUH

KECERDASAN INTERPERSONAL DAN TASK COMMITMENT

TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 1 SUNGGUMINASA”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. Seberapa besar gambaran kecerdasan interpersonal, task commitment dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa?

2. Apakah ada pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa?

3. Apakah ada pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa?

4. Apakah ada pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa?

(23)

7

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian yang penulis lakukan adalah:

1. Untuk mengetahui seberapa besar gambaran kecerdasan interpersonal, task commitment dan prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

2. Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

3. Untuk mengetahui pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa. 4. Untuk mengetahui pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar

matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dari penelitian yang diharapkan oleh penulis adalah: 1. Manfaat teoritis

Memberikan wawasan pemikiran yang luas dan mengembangkan pengetahuan tentang kecerdasan interpersonal dan task commitment dalam peningkatan kualitas mutu pendidikan.

2. Manfaat praktis a. Peserta didik

Menginformasikan kepada siswa bahwa kecerdasan interpersonal dan task commitment memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar khususnya pada mata pelajaran matematika.

(24)

8 b. Guru

Sebagai bakal (bahan) pertimbangan untuk guru bahwa kecerdasan interpersonal dan task commitment dapat meningkatkan prestasi belajar matematika.

c. Bagi Peneliti

Melalui hasil penelitian ini, diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta memberikan refleksi bagi peneliti berikutnya.

(25)

9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Pembelajaran Matematika a. Definisi Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu proses interaksi antar komponen dalam pendidikan yakni guru dan siswa dengan memanfaatkan kemampuan dan skill (keterampilan) yang dimiliki untuk saling bertukar informasi.

Menurut Sagala (2011: 61), dikatakan pembelajaran ialah membelajarkan siswa dengan memanfaatkan teori belajar maupun asas pendidikan yang menjadi penentu utama dalam mencapai keberhasilan pendidikan. Pembelajaran juga diartikan sebagai proses yang secara sengaja dikelola oleh komponen dalam pendidikan untuk memungkinkan adanya partisipasi dalam situasi khusus atau memberikan respon terhadap situasi tertentu.

Aunurrahman (2011:34) mendefinisikan pembelajaran sebagai suatu sistem yang bertujuan menunjang proses belajar siswa, berisi serangkaian peristiwa yang dibentuk dan disusun secara terstruktur guna mendukung dan mempengaruhi terjadinya suatu proses belajar.

Bersumber dari berbagai pendapat yang telah dipaparkan diatas, maka disimpulkan bahwa pembelajaran adalah suatu

(26)

10 aktivitas yang dirancang secara sengaja dengan memanfaatkan teori belajar ataupun asas pendidikan yang diciptakan pada situasi tertentu guna menunjang suatu keberhasilan pendidikan.

b. Definisi Pembelajaran Matematika

Matematika berasal dari kata Latin “mathematika” yang awalnya diambil dari kata Yunani mathematike yang memiliki arti mempelajari. Kemudian, asal mula kata tersebut yakni dari kata mathema yang memiliki arti pengetahuan (ilmu) (knowledge, science). Kata mathematike berhubungan pula dengan kata lainnya, yakni mathein/mathenein yang memiliki arti berpikir (bernalar). Sehingga dikatakan bahwa matematika artinya ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan cara berpikir (bernalar). Matematika tidak dituntut untuk memperoleh hasil dari eksperimen atau observasi dari pikiran-pikiran manusia tetapi lebih menekankan pada kegiatan penalaran (rasio) yang berhubungan dengan ide-ide, proses dan penalaran (Russeffendi dalam (Siagian:2016:59)). Matematika juga mengajarkan kita untuk pantang menyerah dalam menghadapi masalah-masalah tertentu, serta mampu memahami lebih tentang penyelesaian suatu masalah.

Suriasumantri dan Hakim Nasoetion (2019:190), menyatakan bahwa matematika adalah bahasa lambang yang berisi serangkaian makna dari suatu pernyataan yang hendak disampaikan, sehingga lambang matematika tersebut memiliki sifat artificial dan

(27)

11 memilikii arti setelah diberikan sebuah makna. Sedangkan Suhendri (2011:32), mengemukakan matematika ialah ilmu yang mempelajari suatu angka (bilangan), bangun-bangun, konsep, prinsip, hubungan dan logika untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dengan menggunakan bahasa lambang atau biasa juga disebut dengan simbol.

Menurut Soedjadi (Siagian:2016:59), matematika memiliki ciri-ciri yakni : (1) memiliki objek yang abstrak, (2) bertumpu pada kesepakatan, (3) memiliki pola pikir deduktif, (4) memiliki simbol-simbol yang kosong artinya, (5) memperhatikan semesta pembicaraan, dan (6) konsistensi dalam sistemnya.

Pembelajaran matematika merupakan seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan guru dan siswa yang sudah dirancang sebelumnya untuk membuat siswa belajar matematika. Melalui rancangan tersebut guru memberikan bantuan kepada siswa agar memperoleh pengetahuan atau informasi tentang matematika, baik berupa fakta, konsep, prinsip, keterampilan, cara memecahkan masalah, nilai (values), atau cara berpikir matematis (logika).

Menurut Brunner (Hudojo, 2010: 56) menyatakan bahwa pembelajaran matematika ialah pembelajaran mengenai konsep dan struktur matematika serta hubungan antar konsep dan struktur matematika didalamnya pada materi yang akan dipelajari. Sedangkan Cobb (Suherman, 2003: 71) berpendapat bahwa

(28)

12 pembelajaran matematika ialah proses belajar mengajar yang melibatkan siswa aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika.

Bersumber dari berbagai pendapat yang telah dipaparkan diatas, maka disimpulkan bahwa pembelajaran matematika adalah suatu proses pembelajaran yang melibatkan siswa untuk aktif mengkonstruksi pengetahuan matematika, mampu menyelesaikan permasalahan matematika, dan mengetahui hubungan antara konsep dan struktur matematika di dalamnya.

2. Prestasi Belajar

a. Definisi Prestasi Belajar

Sebelum kita mengetahui tentang prestasi belajar, terlebih dahulu kita mengetahui tentang prestasi dan belajar. Kata “prestasi” berasal dari bahasa Belanda yang berarti prestatie. Kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi kata “prestasi” yang memiliki arti yaitu “hasil usaha”. Kata prestasi banyak dijumpai dalam berbagai bidang atau kegiatan lain baik itu pada bidang seni, bidang olahraga, maupun dalam bidang pendidikan. Syah (2011:150), mengemukakan bahwa prestasi merupakan tingkat keberhasilan yang diperoleh seseorang untuk mencapai tujuan yang ditetapkan oleh suatu program. Sedangkan Arifin (2010:3) berpendapat yakni prestasi ialah hasil dari yang diperoleh dari intelegence (kemampuan), skill (keterampilan), dan attitude (sikap) seseorang dalam menyelesaikan berbagai hal.

(29)

13 Belajar menurut Aunurrahman (Hidayat, 2019:14) merupakan perubahan sebuah tingkah laku pribadi seseorang akibat adanya interaksi antarsesama ataupun interaksi dengan lingkungan. Sedangkan menurut Slameto (2010:2) belajar merupakan upaya yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru agar mendapatkan hasil pengalaman pada dirinya setelah terjadi interaksi dengan lingkungan. Perubahan tingkah laku yang dimaksudkan yaitu hasil dari proses belajar seseorang yang dilihat dari perubahan knowledge (pengetahuan), perubahan understanding (pemahaman), attitude (sikap), behavior (tingkah laku), kecakapan dan kebiasaan serta perubahan aspek lainnya dalam diri seseorang.

Suyono dan Hariyanto (2017:15) menyatakan bahwa belajar dapat dilakukan dimana dan kapan saja, tidak hanya pada situasi yang formal misal belajar hanya dilakukan di dalam kelas, namun belajar juga dapat dilakukan pada situasi informal atau nonformal sehingga siswa juga dapat belajar dari alam atau peristiwa sosial dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, berdasarkan dengan fakta yang dialami oleh siswa dalam tahap memperoleh kemahiran kompetensi yang dimiliki serta tahap pendewasaan dirinya, maka belajar bertujuan dalam menerima pengetahuan atau pemahaman yang didapatkan melalui pengalaman.

(30)

14 Menurut Hamalik (Amin,dkk., 2020 : 46) mengatakan bahwa seseorang yang telah belajar dapat dilihat dari perubahan tingkah laku yang ditunjukkan seperti dari tahu menjadi tahu dan dari tidak mengerti menjadi tidak mengerti. Unsur tingkah laku terbagi menjadi dua, yakni unsur subjektif (unsur rohani) dan unsur motoris (unsur jasmani).

Prestasi belajar berbeda dengan hasil belajar. Yang dimaksud prestasi belajar meliputi aspek pengetahuan, sedangkan hasil belajar meliputi aspek pembentukan watak peserta didik. Prestasi belajar artinya tingkat kemanusiaan yang dimiliki peserta didik dalam menerima, menolak, dan menilai informasi yang didapatkan selama proses pembelajaran berlangsung.

Menurut Sardiman (2014:46), definisi dari prestasi belajar ialah kemampuan yang dimiliki dari reaksi yang tercipta ketika berinteraksi dengan beberapa faktor yang sangat berpengaruh baik dari dalam individu itu sendiri maupun dari luar individu dalam pembelajaran. Lebih lanjut, Arifin (2010:13) menjelaskan bahwa prestasi belajar juga merupakan tanggapan bagi guru dalam proses belajar mengajar sehingga dapat diketahui apakah perlu adanya diagnosis, penempatan atau bimbingan terhadap siswa. Hasil penilaian dari evaluasi merupakan tanggapan guru untuk mengukur suatu keberhasilan pembelajaran. Dengan nilai yang diperoleh dapat memudahkan guru untuk mengenal tingkat keberhasilan dalam mengajar, sehingga hal tersebut dapat menjadi

(31)

15 pertimbangan bagi guru untuk perbaikan proses pembelajaran berikutnya.

Fungsi prestasi belajar bukan hanya sebagai indikator keberhasilan namun juga dapat dikatakan sebagai indikator kualitas institusi pendidikan. Oleh karena itu, seorang guru sangat penting dalam mengetahui dan memahami prestasi belajar siswa baik itu individu ataupun kelompok. Arikunto (Aini, dkk, 2012:52) menyatakan prestasi belajar perlu menjadi cerminan tingkatan-tingkatan siswa agar siswa dapat mengukur sejauh mana tujuan yang ditetapkan pada bidang studi tertentu. Prestasi belajar biasanya dinyatakan dalam bentuk nilai baik berupa huruf ataupun angka yang menggambarkan suatu hasil yang telah diperoleh.

Bersumber dari berbagai pendapat yang telah dipaparkan diatas, maka disimpulkan bahwa prestasi belajar merupakan hasil pengukuran yang diperoleh dari penilaian usaha siswa dalam belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol baik berupa huruf maupun angka yang mendeskripsikan hasil yang telah diperoleh oleh tiap siswa pada periode tertentu.

b. Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Baharuddin dan Esa Nur Wahyuni (2010:28) ada dua faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar, yakni: 1) Faktor internal (faktor dari dalam individu), seperti:

(32)

16  Faktor fisiologis: faktor yang berkaitan dengan kondisi

fisik seseorang.

 Faktor psikologis: faktor yang berkaitan dengan keadaan psikologis seseorang (contoh: intelegensi (kecerdasan), minat, motivasi, aktivitas, bakat, sikap dan kemampuan kognitif.

2) Faktor eksternal (faktor dari luar individu), seperti:

 Lingkungan sosial (seperti: lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga)

 Lingkungan non sosial (seperti: lingkungan alamiah, lingkungan instrumental dan lingkungan materi pelajaran) Sejalan dengan hal tersebut, Slameto (2010:54) juga mengemukakan bahwa berikut ini beberapa faktor-faktor yang dapat berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, yakni:

a. Faktor internal

1. Faktor Jasmani, meliputi :

a) Faktor Kesehatan; kesehatan seseorang memiliki pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Seseorang yang sehat berarti ia bebas dari segala penyakit. Apabila kesehatan seorang siswa terganggu maka proses pembelajarannya juga terganggu. Selain itu, siswa sangat mudah lelah, tidak bersemangat, gelisah dan kurang konsentrasi, cepat mengantuk, atau gangguan kesehatan lainnya.

(33)

17 b) Cacat Tubuh

2. Faktor Psikologi, meliputi

a) Intelegence (kecerdasan): merupakan kemampuan seseorang dalam menghadapi dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru secara efektif, mengetahui hubungan suatu konsep yang abstrak dan mempelajari serta menguasai dengan cepat.

b) Perhatian: merupakan kesadaran yang dimiliki seseorang yang semata mata tertuju kepada satu objek atau sekelompok objek. Guna mendapatkan hasil belajar yang baik, maka siswa dituntut untuk memiliki perhatian terhadap materi yang akan dipelajari. Apabila materi pelajaran tidak menjadi pusat perhatian siswa, maka siswa akan merasa bosan dengan pembelajaran yang diterima. Akibatnya banyak siswa yang tidak lagi menyukai pembelajaran tersebut. c) Minat; yaitu suatu kondisi yang terjadi pada seseorang

yang dihubungkan dengan keinginan atau kebutuhan yang ingin dicapai. Untuk itu, dikatakan minat apabila kegiatan tersebut diminati seseorang yang ditunjukkan dari sikap senang. Minat memiliki pengaruh yang besar terhadap suatu pembelajaran, contohnya dapat dilihat apabila seorang siswa ingin belajar lantas bahan yang dipelajari tidak sesuai dengan minat siswa, maka

(34)

18 siswa tersebut tidak akan belajar dengan baik karena tidak ada daya ketertarikan dalam dirinya. Bahan pelajaran yang mudah akan menarik minat siswa sehingga dengan cepat bahan pelajaran tersebut mudah dikuasai.

d) Bakat: ialah kemampuan yang dimiliki seseorang sebagai bawaan sejak lahir yang dapat dilatih bahkan masih perlu dikembangkan agar mendapatkan hasil yang baik. Bakat memerlukan proses latihan agar tindakan yang dilakukan terarah untuk masa yang akan datang. Bakat juga merupakan faktor yang dapat menentukan keberhasilan seseorang. Belajar pada bidang yang sesuai dengan bakatnya akan memperbesar kemungkinan seseorang untuk berhasil. e) Motivasi: adalah suatu dorongan (sugesti) yang

muncul karena diberikan oleh seseorang kepada orang lain atau diri pribadi. Motivasi terbagi atas dua macam yakni motivasi instrinsik (motivasi yang timbul dari diri pribadi seseorang yang bersangkutan) dan motivasi ekstrinsik (motivasi yang timbul akibat rangsangan dari luar seseorang). Memotivasi siswa juga perlu diterapkan di sekolah karena tidak semua pelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

(35)

19 f) Kematangan; artinya fase perkembangan/pertumbuhan seseorang dimana seluruh tubuhnya siap untuk memenuhi struktur tingkah laku yang lebih tinggi. Sebagai contoh, ada seorang siswa dengan temannya sudah siap melakukan perjalanan, tangan dan jari-jarinya sudah siap untuk menulis, otaknya sudah siap untuk berfikir dan lain sebagainya.

g) Kesiapan; siap berarti sudah disediakan. Kesiapan merupakan kesediaan seseorang untuk berinteraksi di berbagai lingkungan serta memberi respon kepada orang lain. Kesiapan siswa dalam proses pembelajaran dapat ditunjukkan dari hasil belajar yang diperoleh sehingga dapat menimbulkan prestasi belajar yang baik.

b. Faktor eksternal, yaitu :

1. Lingkungan keluarga

a) Didikan orang tua

b) Hubungan antar keluarga c) Kondisi/suasana rumah

2. Lingkungan sekolah

a) Guru

b) Bahan pelajaran c) Fasilitas sekolah

(36)

20

3. Lingkungan sosial (lingkungan masyarakat)

a) Faktor media massa, contohnya: bioskop, tv, surat kabar, majalah, buku-buku dan komik yang ada di sekeliling kita). Hal tersebut dapat menghambat proses belajar jika siswa lebih banyak mempergunakan waktunya dengan hal tersebut. Akibatnya siswa akan lupa belajar atau bahkan lupa mengerjakan tugasnya. b) Lingkungan sosial, yaitu:

1. Pergaulan dengan orang-orang yang ada dilingkungan sekitar sangat berpengaruh terhadap seseorang. Untuk itu perlu adanya pengawasan dari orang tua guna mengurangi pergaulan yang dapat menimbulkan dampak negatif bagi anak tersebut.

2. Lingkungan tetangga berpengaruh terhadap keberhasilan seseorang, dimana yang dimaksud dengan orang-orang dalam lingkungan tetangga adalah orang-orang yang berpendidikan maka dapat memberikan dorongan baik bagi seseorang untuk belajar. Namun sebaliknya, jika lingkungan tetangga yang dimaksud berasal dari orang-orang yang tidak berpendidikan atau dengan kata lain tidak sekolah maka akan memberikan dampak buruk bagi seseorang.

(37)

21 3. Aktivitas dalam masyarakat juga berpengaruh dalam keberhasilan seseorang. Orang tua harus berperan untuk memberikan arahan agar kiranya mengikuti kegiatan di luar belajar dapat tanpa melupakan tugasnya dari sekolah.

Bersumber dari berbagai pendapat yang telah dipaparkan diatas, maka disimpulkan bahwa faktor yang dapat mempengaruhi suatu prestasi belajar digolongkan menjadi dua yakni faktor internal dan faktor eksternal. Yang dimaksud faktor internal berupa intelegensi/kecerdasan, perhatian, motivasi, minat, bakat, kepandaian, kesehatan, sikap, perasaan, dan faktor dalam diri lainnya. Sedangkan yang termasuk faktor eksternal berupa lingkungan keluarga (meliputi: didikan orang tua, hubungan antar anggota keluarga dan kondisi/suasana rumah), lingkungan sekolah (meliputi: guru, bahan pelajaran dan fasilitas sekolah) serta lingkungan masyarakat (meliputi: media massa, lingkungan pergaulan, lingkungan tetangga dan aktivitas dalam masyarakat).

3. Kecerdasan Interpersonal

a. Definisi Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal menurut Lwin (2008:197) adalah kemampuan dalam memahami dan memperkirakan perasaan,

(38)

22 suasana hati, serta keinginan orang lain dan dapat merespon dengan layak.

Sedangkan menurut Suyadi (2014, 133-134) mengatakan kecerdasan interpersonal itu ialah kemampuan seseorang untuk dapat berinteraksi dengan orang lain. Seseorang yang memiliki kecerdasan interpersonal yang baik akan mempunyai hati yang peka sehingga seseorang tersebut mampu berempati tanpa menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain.

Lebih lanjut Safaria, (Monawati, 2015:23) mengemukakan bahwa kecerdasan interpersonal atau sering disebut dengan Social Life (kehidupan sosial) yakni kemampuan seseorang dalam menciptakan, mempertahankan dan membangun hubungan yang baru.

Kecerdasan interpersonal juga merupakan suatu kemampuan seseorang untuk memahami dan membuat perbedaan terhadap suasana hati, keinginan, motivasi dan perasaan orang lain. Hal tersebut mencakup kepekaan yang ditunjukkan dari seseorang melalui ekspresi wajah, suara, dan gerak tubuh. Menurut Budiningsih (Wulandari dkk, 2016:186) mengungkap bahwa kemampuan yang ada pada kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan dalam berkomunikasi, berempati dan bersimpati, bekerja sama dan memotivasi.

Siswa yang dikatakan memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi ialah siswa yang cenderung mudah memahami

(39)

23 maksud dan perasaan orang lain sehingga mampu menjaga hubungan yang harmonis sehingga siswa tersebut akan mudah disenangi dan memiliki banyak teman. Biasanya, siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi adalah siswa yang sering menjadi pemimpin di antara teman-temannya dan pandai mengkomunikasikan keinginannya pada orang lain. Sejalan dengan hal tersebut, Uno & Masri (2009:14) menyatakan bahwa kecerdasan interpersonal berarti kemampuan yang ditunjukkan dari kepekaan seseorang terhadap perasaan orang lain, lebih cenderung untuk memahami dan berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah bersosialisasi dengan lingkungan yang ada di sekelilingnya. Kecerdasan interpersonal juga sering disebut sebagai kecerdasan sosial yang berarti kemampuan seseorang untuk menjalin sebuah persahabatan yang akrab dengan orang lain, mudah dalam bersosialisasi dan berorganisasi, mampu menangani permasalahan yang terjadi dan mudah mendapat simpati dari orang lain.

Bersumber dari berbagai pendapat yang telah dipaparkan diatas, maka disimpulkan bahwa kecerdasan interpersonal ialah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk dapat memahami, berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain serta dapat bersosialisasi dan memberi respon (tanggapan) secara layak. Kecerdasan interpersonal sangat penting dalam kehidupan manusia karena pada hakikatnya manusia tidak bisa hidup sendiri.

(40)

24 Banyak kegiatan dalam kehidupan manusia yang berkaitan dengan orang lain, begitu juga seorang siswa yang membutuhkan motivasi/dorongan dari orang-orang terdekatnya seperti, keluarga, guru dan bahkan teman sebayanya. Keterampilan sosial peserta didik terjalin melalui hubungan dengan teman sebayanya.

b. Dimensi atau aspek-aspek Kecerdasan Interpersonal

Menurut Anderson (Wulandari, dkk, 2016:187-188), kecerdasan interpersonal terbagi atas tiga dimensi utama, yakni sebagai berikut :

1) Social sensitivity (sensitivitas sosial), adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam mengamati dan merasakan beragam reaksi pada orang lain baik yang ditunjukkan dalam bentuk verbal maupun non verbal. Adapun indikator dari social sensitivity ada dua, yakni sebagai berikut :

 Sikap empati

Sikap empati berarti kemampuan seseorang untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan menyelesaikan masalah, serta mengambil perspektif orang lain. Empati menunjukkan keterbukaan dan kepedulian satu sama lain. Empati juga berkaitan erat dengan rasa iba dan kasih sayang.

(41)

25  Sikap prososial

Sikap prososial yang dimaksud adalah kemampuan seseorang untuk saling membantu satu sama lain, berbagi dan bekerja sama dengan orang lain dan mengungkapkan rasa simpati.

2) Social communications (komunikasi sosial) adalah kemampuan yang dimiliki seseorang dalam berkomunikasi dengan baik, baik secara verbal maupun non verbal. Adapun indikator dari social communications ada dua, yakni sebagai berikut :

 Komunikasi efektif

Komunikasi efektif artinya berkomunikasi secara efektif. Dengan kata lain, kemampuan seseorang dalam bertukar informasi, ide-ide atau gagasan, dan perasaan yang menghasilkan sebuah perubahan tingkah laku sehingga tercipta sebuah hubungan yang baik. Antar orang yang memberikan informasi dan orang yang menerima informasi.

 Mendengarkan efektif

Mendengarkan efektif berarti kemampuan seseorang untuk mendengarkan dengan sungguh-sungguh, menyimak yang didengar dan memberi tanggapan (umpan balik) dari proses itu.

(42)

26 3) Social insight, adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memahami dan memecahkan sebuah permasalahan yang efektif dalam interaksi sosial. Adapun indikator dari social insight ada tiga, yakni sebagai berikut:

 Kesadaran diri

Kesadaran diri yaitu kondisi seseorang dalam memahami diri sendiri dengan setepat-tepatnya. Kesadaran memiliki dua fungsi utama yaitu sebagai self monitoring dan self controlling.

 Pemahaman situasi sosial dan etika sosial

Pemahaman situasi sosial dan etika sosial dimaksudkan ialah kemampuan seseorang untuk membina hubungan sosial dengan memperhatikan norma atau etika sosial yang berlaku.

 Keterampilan pemecahan masalah

Keterampilan pemecahan masalah merupakan kemampuan seseorang dalam memecahkan masalah khususnya materi Matematika yang telah diberikan oleh guru.

c. Karakteristik Kecerdasan Interpersonal

Menurut Gunawan (Monawati, 2015:24) kecerdasan interpersonal memiliki karakteristik khusus yakni sebagai berikut:

(43)

27 1. Mampu membentuk dan mempertahankan suatu hubungan

sosial yang terjadi.

2. Mampu berinteraksi dengan orang lain.

3. Mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara untuk menjalin suatu hubungan.

4. Mampu mempengaruhi pendapat dan tindakan orang lain. 5. Berpartisipasi dalam upaya bersama dan mengambil berbagai

peran yang sesuai, mulai dari menjadi pengikut hingga menjadi pemimpin.

6. Mampu mengamati dan memperhatikan perasaan, pikiran, motivasi, perilaku dan gaya hidup orang lain.

7. Mampu memahami dan melakukan komunikasi dengan efektif baik secara verbal maupun non verbal.

8. Mampu mengembangkan keahlian untuk mencari solusi dari suatu konflik

9. Mampu bekerja sama dengan orang lain yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.

10. Menekuni suatu bidang yang berkaitan dengan interpersonal, manajemen atau politik.

11. Memiliki kepekaan terhadap perasaan, motivasi, dan keadaan mental orang lain.

Pendapat lain datang dari Safaria (2005:25) yang menyatakan bahwa siswa yang memiliki kecerdasan interpersonal yang tinggi memenuhi karakteristik sebagai berikut:

(44)

28 1. Mampu menciptakan dan mengembangkan hubungan sosial

baru secara efektif.

2. Mampu berempati dengan orang lain atau memahami orang lain secara total.

3. Mampu mempertahankan hubungan sosial yang terjadi secara efektif sehingga hubungannya dapat bertahan lama dan berkembang semakin mendalam.

4. Mampu berkomunikasi secara verbal maupun non verbal.

d. Faktor yang mempengaruhi Kecerdasan Interpersonal

Menurut Santrock (2011:100-125), perkembangan sikap sosial anak dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a. Faktor keluarga

Pertumbuhan kedewasaan seseorang dapat dikatakan beragam. Hal tersebut dipengaruhi oleh perkembangan sosial para siswa baik itu yang terjadi didalam kelas ataupun diluar kelas. Oleh karena itu, pola asuh orang tua sangat menentukan perkembangan sosialnya. Menurut Izzaty (Monawati, 2015:27) menjelaskan bahwa setiap gaya pengasuhan yang diberikan oleh orang tua memberi pengaruh dan dampak yang berbeda pada setiap individu. Gaya pengasuhan yang dimaksud ialah (1) gaya pengasuhan tipe permisif (pola pengasuhan dimana orang tua lebih cenderung memberi kebebasan pada anaknya dan menentukan

(45)

29 pilihannya sendiri), (2) gaya pengasuhan tipe otoriter (pola pengasuhan dimana orang tua lebih cenderung berperan dalam pengawasan kehidupan anaknya serta memberi kebebasan terbatas pada anaknya), dan (3) gaya pengasuhan tipe otoritatif (pola pengasuhan dimana orang tua berperan penuh dalam pengawasan anaknya dan memberikan afeksi (kasih sayang), selain dari itu orang tua juga berperan memberikan kebebasan untuk menentukan pilihannya.

Selain pola asuh orang tua, faktor lain yang dapat mempengaruhi perkembangan sosial seseorang ialah kondisi anak dari orang tua yang bercerai. Lansford, dkk (Santrock, 2011:103) mengemukakan bahwa keluarga yang mengalami perubahan dalam bermasyarakat dapat mempengaruhi perkembangan sosial anak. Pengaruh yang ditunjukkan dari perceraian terhadap anak-anak sangatlah kompleks, bergantung pada faktor usia anak, kelebihan dan kekurangan anak pada saat perceraian, status sosial ekonomi keluarga, atau faktor lain yang terjadi dalam perceraian. Oleh karenanya keutuhan keluarga sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial anak.

b. Faktor teman sebaya

Teman sebaya juga berperan penting dalam perkembangan sosial anak. Yang dimaksud teman sebaya

(46)

30 ialah teman yang ada disekitar kita yang dapat dikatakan bagian dari diri seseorang, Melalui teman sebaya, siswa dapat berpartisipasi dan bersosialisasi dalam suatu kegiatan pembelajaran baik pada saat belajar maupun diluar pembelajaran karena adanya data tarik dari teman sebaya yang menjadi dukungan tersendiri oleh siswa tersebut. Selain itu, fungsi dari kelompok teman sebaya ialah untuk dapat memberikan berbagai informasi dan perbandingan tentang dunia di luar lingkungan keluarga.

c. Faktor sekolah

Sekolah adalah tempat yang memberi pengaruh terbesar terhadap perkembangan sosial anak. Dengan kehadiran di sekolah siswa dapat memperluas perkembangan sosialnya melalui proses sosialisasi yang terjadi. Kehadiran di sekolah juga dapat membuat siswa menemukan lingkungan baru yang lebih menantang dan dapat menyesuaikan diri tanpa mengalami kesulitan. Di sekolah siswa dapat menemukan sesuatu yang baru melalui interaksi yang telah terjadi dengan guru ataupun teman sebaya yang biasanya dibentuk dalam suatu diskusi kelompok kecil. Maka dari itu, lingkungan sekolah dituntut melahirkan iklim kehidupan sekolah yang mendukung perkembangan sosial anak.

(47)

31

4. Task Commitment (Komitmen terhadap tugas)

a. Definisi Task Commitment

Menurut Renzulli (Syarifa dkk, 2011:2) task commitment yaitu bentuk halus dari motivasi (dorongan). Sedangkan menurut Sutisna (Syarifa dkk, 2011:4) yang menyatakan task commitment (komitmen terhadap tugas) yaitu daya dalam diri yang mendorong seseorang untuk tekun dan ulet dalam menyelesaikan tugas yang diberikan walaupun mengalami berbagai macam hambatan dalam menyelesaikan tugas yang merupakan tanggung jawabnya karena diri individu telah terkait sebelumnya terhadap tugas.

Renzulli (Nawantara, dkk, 2016:166) mengatakan bahwa task commitment merupakan motivasi instrinsik yang diintegrasikan ke dalam sebuah tindakan mengerjakan tugas yang meliputi ketekunan, percaya diri, kerja keras, daya tahan dan cara pandang atau ketertarikan. Seseorang yang memiliki task commitment akan memiliki motivasi yang tinggi untuk ikut serta dalam suatu aktivitas pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut, Renzulli (Munandar, 2009:15) menyatakan bahwa individu yang memiliki komitmen terhadap tugas (task commitment) merupakan hasil dari efek sinergis antara motivasi ekstrinsik dengan motivasi intrinsik.

Pendapat lain datang dari Laezar (Lindrayanti, 2015:11) yang memberikan pengertian tentang task commitment yaitu seseorang yang memiliki pribadi yang tekun dan ulet mengerjakan tugasnya, mengerti tujuannya, terlibat pada tugas dan masalahnya, antusias

(48)

32 pada setiap aktivitasnya, cukup membutuhkan sedikit motivasi eksternal untuk menyelesaikan tugasnya dan memilih untuk fokus dan tanggung jawabnya dalam tugas yang harus terselesaikan

Bersumber dari berbagai pendapat yang telah dipaparkan diatas, maka disimpulkan bahwa task commitment (komitmen terhadap tugas adalah kemauan seseorang yang mendorongnya untuk tekun dan ulet, walaupun mengalami berbagai macam hambatan dalam melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya.

b. Dimensi atau aspek task commitment

Adapun aspek task commitment menurut Azwar (Widodo, 2015:44), yakni sebagai berikut:

1) Sikap tangguh, ulet, dan tidak mudah bosan

2) Mandiri, tidak memerlukan dorongan dari luar, dan bertanggung jawab

3) Menetapkan tujuan aspirasi realistis dengan resiko sedang 4) Suka belajar dan mempunyai hasrat untuk meningkatkan diri 5) Mempunyai hasrat untuk berhasil dalam bidang akademis.

Menurut Renzulli (Hawadi, 2002), menyatakan bahwa aspek-aspek task commitment, yakni sebagai berikut:

1) Tekun menghadapi tugas . 2) Ulet.

(49)

33 4) Ingin mendalami bahan atau bidang pengetahuan yang

diberikan di dalam kelas.

5) Selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin.

6) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah orang dewasa

7) Senang dan rajin belajar dengan penuh semangat. 8) Cepat bosan dengan tugas-tugas rutin.

9) Dapat mempertahankan pendapatnya.

10) Menunda pemuasan kebutuhan untuk mencapai tujuan di kemudian hari.

c. Karakteristik task commitment

Menurut Sardiman (2014 : 83), karakteristik atau ciri task commitment, antara lain :

a. Tekun menghadapi tugas.

b. Ulet menghadapi kesulitan tanpa memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi sebaik mungkin.

c. Menunjukkan minat terhadap masalah yang berbeda-beda d. Mengerjakan sesuatu secara mandiri.

e. Cepat bosan pada tugas-tugas yang rutin. f. Dapat mempertahankan pendapatnya. g. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakini.

h. Senang mencari dan memecahkan soal-soal untuk memperoleh informasi baru.

(50)

34 Jika seseorang mempunyai karakteristik seperti yang disebutkan diatas, maka orang tersebut memiliki motivasi yang akan berpengaruh penting dalam aktivitas pembelajaran. Pembelajaran akan berhasil jika orang tersebut tekun mengerjakan tugas, ulet dan mandiri dalam memecahkan suatu permasalahan. Seseorang yang belajar baik tidak akan mengalami kesulitan pada hal yang rutinitas maupun mekanis.

d. Faktor yang mempengaruhi task commitment

Adapun faktor yang mempengaruhi task commitment siswa menurut Dimyati (Syarifa, dkk, 2011:5) antara lain :

a. Cita-cita atau aspirasi siswa. Melalui cita-cita siswa dapat memperkuat motivasi belajar dan menciptakan aktualisasi diri, baik secara intrinsik maupun ekstrinsik.

b. Kemampuan siswa. Kemampuan seseorang akan memperkuat tanggung jawabnya untuk dapat menyelesaikan tugas yang diberikan oleh sekolah secara cepat dan tepat.

c. Kondisi siswa. Kondisi siswa yang dimaksud meliputi kondisi jasmani dan rohani yang dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam mengerjakan tugas.

d. Kondisi lingkungan. Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan dan kehidupan kemasyarakatan. Oleh sebab itu, kondisi lingkungan sekolah yang sehat, kerukunan hidup, ketertiban pergaulan serta

(51)

35 hubungan antara siswa dengan orang tua perlu untuk ditingkatkan.

e. unsur dinamis dalam belajar dan pembelajaran. Unsur-unsur yang dimaksud ialah Unsur-unsur yang dimiliki siswa seperti perasaan, kemampuan, perhatian, kemauan, ingatan dan pikiran yang dapat mengalami suatu perubahan akibat sebuah pengalaman.

f. Upaya guru dalam membelajarkan siswanya. Guru ialah pendidik yang professional dan bergaul dengan siswanya. Kekuatan dalam pergaulan dan bimbingan dari guru dapat mempengaruhi suatu pertumbuhan dan perkembangan siswa. Sehingga guru yang professional harus mampu membelajarkan siswanya secara mahir.

B. Kerangka Pikir

Keberhasilan seseorang dalam belajar ditentukan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah kecerdasan interpersonal dan task commitment. Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang sangat berpengaruh bagi perkembangan seorang peserta didik. Kecerdasan interpersonal merupakan kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk memahami maksud dan perasaan orang lain sehingga tercipta hubungan yang harmonis dengan orang lain. Kecerdasan interpersonal sering juga disebut dengan kecerdasan sosial peserta didik. Kecerdasan interpersonal penting dalam kehidupan manusia karena pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri.

(52)

36 Kecerdasan interpersonal yang baik akan membawa peserta didik untuk belajar secara mandiri yaitu peserta didik dapat memecahkan permasalahan dalam belajar dan berusaha mencari solusi dari kesulitan yang dialami. Kecerdasan interpersonal yang berkembang baik akan memudahkan peserta didik memahami materi pembelajaran yang secara otomatis membawa dampak pada prestasi belajarnya. Tentunya dalam proses pembelajaran, perkembangan kecerdasan interpersonal akan memudahkan guru, seperti peserta didik akan memahami pelajaran dengan baik, dapat bersosialisasi dengan guru ataupun peserta didik lainnya, dapat berkomunikasi dengan baik dan lainnya. Peserta didik juga bisa memotivasi dirinya untuk lebih giat belajar dan semangat dalam mengikuti pelajaran.

Task commitment atau sering juga disebut dengan komitmen terhadap tugas adalah kemauan yang berasal dari dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk tekun dan ulet, meskipun mengalami berbagai rintangan dan hambatan dalam melakukan dan menyelesaikan tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya.

Kecerdasan interpersonal dan task commitment mempengaruhi prestasi belajar matematika peserta didik di sekolah. Setiap peserta didik mempunyai tingkat kecerdasan interpersonal dan task commitment yang berbeda-beda. Dalam pengaruhnya secara bersama-sama dua factor ini memberikan sumbangan pengaruh yang berbeda-beda. Salah satu indikator dari keberhasilan proses belajar mengajar dapat ditandai dengan prestasi belajar yang diperoleh oleh peserta didik setelah menerima pengalaman

(53)

37

Peserta Didik Kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa

belajar. Untuk mencapai prestasi belajar tersebut diharapkan maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi antara lain faktor dari dalam dan faktor dari luar individu. Kedua faktor tersebut saling berinteraksi dalam mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, khususnya prestasi belajar matematika. Dari kerangka pemikiran yang telah dijelaskan maka hubungan antara variabel dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Paradigma Kerangka Pikir Analisis Data

Kecerdasan Interpersonal

Pengumpulan data : - Dokumentasi -Angket

Task Commitment

Prestasi Belajar

(54)

38

C. Hipotesis

Berdasarkan kajian teori dan kerangka pikir yang telah dipaparkan maka hipotesis dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Hipotesis Penelitian

Hipotesis dalam penelitian ini adalah:

a) Terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

b) Terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

c) Terdapat pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa

2. Hipotesis Statistik

Hipotesis Pertama

Adapun hipotesis statistik pertama dalam penelitian ini, yaitu :

Keterangan:

: Variabel Kecerdasan Interpersonal : Variabel Task Commitment

: Tidak terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

(55)

39 : Terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal dan task commitment secara bersama-sama terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

Hipotesis Kedua

Adapun hipotesis statistik kedua dalam penelitian ini, yaitu :

Keterangan:

: Variabel Kecerdasan Interpersonal

: Tidak terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

: Terdapat pengaruh kecerdasan interpersonal terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

Hipotesis Ketiga

Adapun hipotesis statistik ketiga dalam penelitian ini, yaitu :

Keterangan:

: Variabel Task Commitment

: Tidak terdapat pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

: Terdapat pengaruh task commitment terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa.

(56)

40

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Pada penelitian ini, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian ex post facto. Ex post facto berarti sebuah fakta yang terjadi. Penelitian ini tidak memberikan perlakuan melainkan mengungkapkan hal yang terjadi secara alamiah dan sudah berlangsung yang mempunyai keterikatan antara variabel dependen dengan independen sehingga peneliti dapat melacak kembali jika dimungkinkan apa yang menjadi faktor penyebabnya.

B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri 1 Sungguminasa yang terdiri dari 11 kelas yang berjumlah 400 siswa.

2. Sampel

Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling. Simple random sampling adalah pengambilan sampel dari populasi yang dilakukan secara acak (random) tanpa memperhatikan tingkatan yang ada dalam populasi tersebut. Dalam teknik simple random sampling, seluruh anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terpilih menjadi sampel. Adapun teknik ini untuk memilih sampel secara random (acak) yaitu melalui undian.

(57)

41

𝑌

Melalui undian yang dilakukan maka diperoleh 2 kelas yang berjumlah 67 siswa yaitu kelas VIII C dan VIII D sebagai sampel penelitian.

C. Variabel dan Desain Penelitian

Variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini yakni kecerdasan interpersonal dan task commitment dijadikan variabel bebas yang disimbolkan dengan dan , sedangkan prestasi belajar matematika dijadikan variabel terikat yang disimbolkan dengan . Berikut desain penelitian dalam penelitian ini :

Gambar 3.1 Skema Desain Penelitian

Keterangan:

: Variabel kecerdasan interpersonal : Variabel task commitment

: Variabel prestasi belajar matematika

D. Definisi Operasional Variabel

Dalam penelitian ini, agar memudahkan dan menunjukkan arah yang jelas tentang apa yang akan diukur maka diberikan definisi operasional dari

𝑋

(58)

42 masing-masing variabel. Definisi operasional variabel penelitian ini sebagai berikut:

1. Kecerdasan Interpersonal ( )

Kecerdasan interpersonal ialah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk dapat memahami, berinteraksi dan bekerja sama dengan orang lain serta dapat memberi respon (tanggapan) secara layak. Ada tiga aspek penting dalam kecerdasan interpersonal, yaitu social sensicity (sensitivitas social), social communication (komunikasi sosial), dan social insight.

2. Task Commitment ( )

Task commitment ialah suatu tekad atau ambisi seseorang, yang tidak mengedepankan dorongan dari luar dalam mencapai suatu prestasi yang ditunjukkan dari sikap tangguh, ulet, tidak mudah bosan, mandiri, menetapkan tujuan aspirasi yang realitas dengan resiko sedang, suka belajar dan mempunyai hasrat untuk meningkatkan diri dan berhasil dalam bidang akademis.

3. Prestasi Belajar (Y)

Prestasi belajar adalah hasil pengukuran dari penilaian usaha belajar siswa yang dinyatakan simbol baik itu huruf maupun angka yang mendeskripsikan hasil yang telah diperoleh oleh setiap siswa pada periode tertentu.

E. Prosedur Penelitian

(59)

43 1. Tahap Persiapan

a. Melakukan eksplorasi kepustakaan yang mendukung variabel sebagai indikator pengumpulan informasi.

b. Melakukan validiasi instrumen terhadap hasil eksplorasi kepustakaan yang dilakukan oleh validator.

c. Meminta persetujuan atau izin dari kepala sekolah.

d. Mendiskusikan jadwal kegiatan penelitian dengan wakasek bidang kurikulum.

2. Tahap Pelaksanaan

a. Menyampaikan tujuan dan menjelaskan kegiatan yang ingin dilakukan kepada siswa melalui wali kelas dan guru matematika berhubung penelitian dilakukan secara online menggunakan google forms.

b. Membagikan angket kecerdasan interpersonal dan task commitment dalam bentuk link google form.

c. Mengumpulkan data yang telah diperoleh berupa nilai rapor mata pelajaran matematika semester ganjil siswa dan mengolahnya serta selanjutnya diinterpretasikan.

3. Tahap Analisis Data

Kegiatan yang dilaksanakan pada tahap ini adalah menganalisis data yang telah diperoleh baik data yang berupa kualitatif maupun data kuantitatif dengan menggunakan analisis data statistik deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan maka kita dapat menarik kesimpulan mengenai variabel yang diteliti. Apakah variabel

Gambar

Gambar 2.1 Paradigma Kerangka Pikir Analisis Data
Gambar 3.1 Skema Desain Penelitian  Keterangan:
Tabel 3.1 Kisi-kisi Angket Kecerdasan Interpersonal
Tabel 3.3 Kisi-kisi Angket Task Commitment
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari rumusan strategi program yang sudah disepakati masyarakat khususnya kelompok bunga teratai dan juga telah pendamping paparkan pada design , dapat disimpulkan bahwa

atas tanah tersebut, dan oleh karenanya Pihak Kedua. dibebaskan oleh Pihak Pertama dari segala

Berdasarkan hasil yang didapat dari pengujian ini (gambar 2) spesimen las pemnbanding tidak ditemukan adanya cacat permukaan pada daerah las. Pengujian selanjutnya adalah

Kuliah interaktif / Small Group Discussion (SGD)/ Collaborative Learning (CL) Memahami dimensi- dimensi diplomasi publik sebagai bentuk komunikasi strategis dalam rangka

Tampak bahwa persentase kalus tertinggi yang meng- ekspresikan GUS dihasilkan pada kon- sentrasi asetosiringon 150 mg/L, baik pada pengamatan 3 hari setelah

“Persaingan usaha tidak sehat adalah persaingan antar pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan cara

Diterima pada salah sat u perguruan t inggi di luar negeri pada peringkat 200 t erbaik dunia. Atau memiliki sertifikat kejuaraan/ prestasi pada tingkat perguruan tinggi, atau

Pokja Barang/Jasa Konsultansi dan Jasa Lainnya pada Unit Layanan Pengadaan Barang/Jasa Kabupaten Aceh Barat Daya akan melakukan klarifikasi dan/atau verifikasi kepada penerbit