PROFIL KESEHATAN
KABUPATEN SUMBAWA BARAT TAHUN 2014
DINAS KESEHATAN
KABUPATEN SUMBAWA BARAT
Jl. Bung KarnoKompleks KTC Taliwang Sumbawa Barat 84355Telp/Fax.0372-8281833
Websitehttp://dinkes.sumbawabaratkab.go.id
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 ii KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, atas telah tersusunnya Profil Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014. Profil kegiatan tahunan ini menggambarkan hasil pelaksanaan kegiatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat selama Tahun 2014.
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 disusun berdasarkan pada Buku Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota, Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI 2013.
Kami menyadari sepenuhnya di dalam penyusunan profil ini masih terdapat keterbatasan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan di dalam upaya mendapatkan data dan informasi kesehatan yang akurat, valid dan tepat waktu, sesuai dengan kebutuhan, untuk penyempurnaan penyusunan profil di tahun yang akan datang.
Akhirnya terima kasih kami sampaikan kepada semua pihak yang turut membantu penyusunan profil ini. Semoga profil ini bermanfaat bagi pembangunan dan peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di Bumi Pariri Lema Bariri.
KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN SUMBAWA BARAT
dr. H. SYAIFUDDIN PEMBINA TINGKAT I NIP. 19690718 199903 1 002
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 iii DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul i
Kata Pengantar ii
Daftar Isi iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan dan Manfaat 1
C. Sistematika Penyajian 2
BAB II GAMBARAN UMUM
A. Visi dan Misi 4
B. Keadaan Geografi 5
C. Keadaan Demografi 8
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN
A. Angka Kematian / Mortalitas 9
B. Angka Kesakitan / Morbiditas 14
C. Status Gizi Masyarakat 15
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
A. Pelayanan Kesehatan Dasar 18
B. Pengendalian Penyakit Menular 22
C. Perbaikan Gizi Masyarakat 22
D. Promosi Kesehatan 26
E. Pembinaan Kesehatan Lingkungan 38
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 iv BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN
A. Sarana Kesehatan 31
B. Perijinan Kesehatan 32
C. Tenaga Kesehatan 32
D. Jaminan Kesehatan 34
E. Pembiayaan Kesehatan
BAB VI KESIMPULAN 37
LAMPIRAN 37
1
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam upaya mewujudkan Sumbawa Barat yang sehat, pembangunan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat tidak dapat dilakukan sendiri oleh aparat pemerintah yang bertanggung jawab menangani kesehatan, tetapi juga harus dilakukan secara bersama melibatkan pihak swasta dan masyarakat.
Agar proses pembangunan kesehatan berjalan sesuai dengan arah dan tujuan, diperlukan tatanan manajemen yang baik sebagai langkah dasar pengambilan keputusan dan kebijakan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Untuk itu pencatatan dan pelaporan kegiatan pelayanan kesehatan perlu dikelola dengan baik dalam suatu system informasi kesehatan.
Kebutuhan akan Sistem Informasi Kesehatan (SIK) yang memadai bertujuan untuk menyediakan data dan informasi kesehatan yang evidence based, akurat, lengkap dan tepat waktu. Untuk itu data dan informasi menjadi sangat penting dan dibutuhkan dalam manajemen kesehatan.
Profil kesehatan hanyalah salah satu dari beberapa produk dari Sistem Informasi Kesehatan yang penyusunan dan penyajiannya dibuat sesederhana mungkin tapi informatif, dipakai sebagai alat ukur kemajuan pembangunan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat sekaligus sebagai bahan rujukan evaluasi program-program kesehatan. Profil kesehatan ini termuat berbagai data/informasi mengenai derajat kesehatan, upaya kesehatan, sumber daya kesehatan dan capaian indikator hasil pembangunan kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat selama satu tahun.
B. TUJUAN DAN MANFAAT
Tujuan dan manfaat disusunnya Profil Kesehatan ini adalah :
1. Untuk memperoleh informasi tentang hasil cakupan program kesehatan yang telah dilaksanakan di sarana pelayanan kesehatan dan instansi kesehatan.
2. Sebagai bahan evaluasi tahunan program kesehatan dan bahan dasar perencanaan pembangunan kesehatan di tahun mendatang.
3. Sebagai bahan masukan para pimpinan/kepala dalam menentukan arah pengambilan keputusan dan kebijakan di bidang kesehatan.
2
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
4. Untuk memacu penyempurnaan sistem pencatatan dan pelaporan kesehatan dengan mengembangkan jaringan kerjasama pengelolaan data dan informasi melalui Sistem Informasi Kesehatan.
C. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Adapun sistematika penyajian Profil Kesehatan ini adalah sebagai berikut : Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi tentang latar belakang, tujuan dan manfaat dari disusunnya profil kesehatan dan sistematika penyajian.
Bab II Gambaran Umum
Bab ini menyajikan visi misi Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat dan gambaran umum Kabupaten Sumbawa Barat dari sisi keadaan geografi, kependudukan, ekonomi dan pendidikan yang erat pengaruhnya terhadap kesehatan.
Bab III Situasi Derajat Kesehatan
Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian, angka kesakitan dan status gizi masyarakat.
Bab IV Situasi Upaya Kesehatan
Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar, pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang, pemberantasan penyakit menular, pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pelayanan kesehatan dalam kejadian luar biasa serta upaya kesehatan lainnya yang diselenggarakan di Kabupaten Sumbawa Barat.
Bab V Situasi Sumber Daya Kesehatan
Bab ini berisi uraian tentang sarana kesehatan, tenaga kesehatan dan pembiayaan kesehatan.
Bab VI Kesimpulan
Di bab akhir ini disajikan secara garis besar hasil-hasil cakupan program/kegiatan berdasarkan indikator-indikator di bidang kesehatan yang telah dicapai untuk dapat ditelaah lebih jauh dan untuk bahan perencanaan pembangunan kesehatan dan pengambilan kebijakan di Kabupaten Sumbawa Barat.
Lampiran
3
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
Pada lampiran ini berisi resume/angka pencapaian Kab/Kota dan 81 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten sehat dan Indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat.
4
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
BAB II GAMBARAN UMUM
A. VISI DAN MISI DINAS KESEHATAN KABUPATEN SUMBAWA BARAT 1. Visi
”Terwujudnya Masyarakat Sehat yang Mandiri dan Produktif Menuju Sumbawa Barat Sehat yang Beriman dan BertaqwaKepada Tuhan Yang Maha Esa”
2. Misi
Menggerakkan dan mengarahkan pembangunan di Kabupaten Sumbawa Barat berwawasan kesehatan
Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat di dalam lingkungan yang sehat
Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu dan terjangkau
Memelihara dan meningkatkan kesehatan dan produktifitas individu dan keluarga
Meningkatkan kualitas Tenaga Kesehatan yang beretika dalam pelayanan kesehatan.
3. Nilai-nilai
Nilai-nilai yang ditanamkan dalam pelayanan kesehatan :
Empati : ikut merasakan penderitaan orang yang dilayani
Beretika : menjunjung tinggi nilai moral dan nilai agama
Unggul : senantiasa mempersembahkan yang terbaik
Inovatif : melaksanakan kegiatan dengan berbagai kreativitas
Kebersamaan : bekerjasama lebih berhasil daripada kerjasendiri
B. KEADAAN GEOGRAFI
Kabupaten Sumbawa Barat merupakan kabupaten pesisir. Di sisi barat dan utara Kabupaten Sumbawa Barat dibatasi oleh Selat Alas, sedangkan di sisi selatan berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia. Hanya pada sisi timur Kabupaten Sumbawa Barat berbatasan dengan Kabupaten Sumbawa. Garis pantai yang mengelilingi wilayah Sumbawa Barat sepanjang 168,7 km dengan luas perairan sekitar 1.904,2 km2(diukur 12 mil dari pantai).
5
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Lokasi Kabupaten Sumbawa Barat berada di ujung barat pulau Sumbawa, sekaligus sebagai pintu gerbang dari pulau Lombok menuju pulau Sumbawa. Luas kabupaten Sumbawa barat sebesar 1.849,02 km2. Kabupaten Sumbawa Barat terbagi menjadi 8 Kecamatan dengan luas wilayah yang
bervariasi. Luas Kecamatan Taliwang mencapai 375,93 Km2 atau 20,14 persen dari seluruh luas Sumbawa Barat. Kondisi ini berbanding terbalik dengan Kecamatan Maluk yang memiliki luas wilayah hanya 5 persen dari total luas wilayah Sumbawa Barat atau seluas 92,42 Km2.
Dari sisi jarak ibu kota Kecamatan ke ibu kota Kabupaten, letak kecamatan Sekongkang berada pada 41,70 Km dari kecamatan Taliwang. Sedangkan Kecamatan Brang Ene hanya berjarak 4,30 dari kecamatan Taliwang.
Gambar 2.1 Peta Kabupaten Sumbawa Barat
Sumber : Sumbawa Barat Dalam Angka Tahun 2014, BPS Kab. Sumbawa Barat
Tabel 2.1 Luas Wilayah Kecamatan
Sumber : Sumbawa Barat Dalam Angka Tahun 2014, BPS Kab. Sumbawa Barat
6
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Rata-rata hari hujan di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013 berada pada rentang 8,00-15,67 hari dengan curah hujan mencapai rata-rata 126,3 mm sampai dengan 218,2 mm setiap bulannya dimana curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember yang mencapai 802 mm. Rata-rata lama penyinaran matahari pada tahun 2013 mencapai 77,5 persen dengan kecepatan angin rata-rata 5,1 knots.
Tabel 2.2 Rata-rata Temperatur dan Lama Penyinaran Matahari di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
NO BULAN
TEMPERATUR (°C) LAMA PENYINARAN MATAHARI (%) MAX MIN
1 JANUARI 31,8 22,8 44
2 FEBRUARI 32,9 22,9 64
3 MARET 33,8 22,3 78
4 APRIL 34 22 80
5 MEI 35 21 81
6 JUNI 33 22 77
7 JULI 33 18,7 86
8 AGUSTUS 34 18,6 96
9 SEPTEMBER 35,4 19,4 97
10 OKTOBER 37,1 21 96
11 NOVEMBER 36,4 22,2 76
12 DESEMBER 31,5 24,1 55
Rata-rata 34 21,4 77,5
Sumber : Sumbawa Barat Dalam Angka Tahun 2014, BPS Kab. Sumbawa Barat
Pada awal pembentukan, Kabupaten Sumbawa Barat terdiri dari 5 Kecamatan, 37 Desa dan 131 Dusun/Lingkungan. Sesuai dengan kebutuhan organisasi sekaligus untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat, wilayah administrasi kabupaten Sumbawa Barat mengalami
7
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
pemekaran menjadi 8 Kecamatan, 64 Desa/Kelurahan dan 220 Dusun/Lingkungan pada Tahun 2013.
Tabel 2.3 Distribusi dan Banyaknya Wilayah Administrasi Pemerintahan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
NO IBU KOTA
JUMLAH
KELURAHAN DESA DUSUN/
LINGKUNGAN
1 SEKONGKANG 0 7 21
2 JEREWEH 0 4 15
3 MALUK 0 5 17
4 TALIWANG 7 8 57
5 BRENG ENE 0 6 18
6 BRANG REA 0 9 32
7 SSETELUK 0 10 35
8 POTO TANO 0 8 25
JUMLAH 7 57 220
Sumber : Sumbawa Barat Dalam Angka Tahun 2014, BPS Kab. Sumbawa Barat
C. KEADAAN DEMOGRAFI
Berdasarkan Buku Sumbawa Barat Dalam Angka Tahun 2014 yang diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumbawa Barat, Jumlah penduduk Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2013 meningkat 2.559 orang dibandingkan tahun 2012. Sex ratio (rasio jenis kelamin) pada tahun 2013 mencapai angka 103, relatif sama dibandingkan tahun sebelumnya, dengan arti lain jumlah penduduk laki-laki lebih banyak 3 persen dari pada jumlah penduduk perempuan.
Kepadatan penduduk Sumbawa Barat mengalami kenaikan, yakni dari 64 jiwa/km2 pada tahun 2012 menjadi menjadi 66 jiwa/km2 pada tahun 2013.
8
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Untuk ukuran rata-rata jumlah anggota rumah tangga (ART) per rumah tangga pada tahun 2012 mencapai angka 3,93, dengan pengertian bahwa setiap rumah tangga di Kabupaten Sumbawa Barat pada umumnya terdiri dari 3 sampai dengan 4 anggota rumah tangga.
Tingkat partisipasi Angakatan Kerja di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013 mencapai 65,62 persen, hal ini berarti 65,62 persen berumur 15 tahun ke atas merupakan penduduk Angkatan Kerja. Tingkat pengangguran di Kabuapaten Sumbawa Barat Tahun 2013 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya yakni berkisar 6,91 persen dari jumlah penduduk Angkatan Kerja.
9
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN
Dalam menilai derajat kesehatan masyarakat, terdapat beberapa indikator yang dapat digunakan. Indikator-indikator tersebut pada umumnya tercemin dalam kondisi morbiditas, mortalitas, dan status gizi. Pada bagian ini, derajat kesehatan masyarakat Kabupaten Sumbawa Barat digambarkan melalui Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA), Angka Kematian Ibu (AKI), dan angka morbiditas beberapa penyakit.
Disamping itu, derajat kesehatan masyarakat pada umumnya tidak hanya dipengaruhi oleh sektor kesehatan seperti pelayanan kesehatan, SDM dan ketersediaan sarana dan prasarana, akan tetapi juga di pengaruhi factor lainnya seperti factor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, dan keturunan.
A. MORTALITAS
1. Angka Harapan Hidup
IPM mencerminkan pelaksanaan pembangunan manusia dalam 3 dimensi yaitu umur panjang dan sehat; pengetahuan dan keterampilan serta kehidupan yang layak.
Setiap dimensi di ukur dalam bentuk indikator, yang dibentuk ke dalam bentuk indeks harapan hidup (AHH), pendidikan yang terbagi menjadi Angka melek huruf (AMH) dan rata-rata lama sekolah (MYS) serta pendapatan (PPP).
Sumber : BPS Kabupaten Sumbawa Barat 2014
60,94
61,11
61,28
61,45
61,61
2008 2009 2010 2011 2012
ANGKA HARAPAN HIDUP
KAB. SUMBAWA BARAT
10
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Tahun 2012 Indeks Pembangunan Manusia di Kabupaten Sumbawa Barat tercatat sebesar 67,85. jika dibandingkan dengan sembilan kabupaten kota lainnya di NTB, KSB menempati urutan ketiga setelah Kota Mataram dan Kota Bima. Angka IPM KSB juga mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Bila dilihat dari masing- masing komponen pembentuknya IPM KSB mengalami peningkatan yang cukup menggembirakan, Angka Harapan hidup meningkat dai 61,45 tahun pada 2011 menjadi 61,61 tahun pada 2012. Angka Melek huruf juga mengalami peningkatan dari 91.47 persen pada tahun 2011 menjadi 92,50 persen pada tahun 2012, demikian pula halnya dengan rata-rata lama sekolah dan pendapatan regional per kapita mengalami peningkatan dari 72.371.824,92 rupiah pada tahun 2012 dan 75.833.010,17 rupiah pada tahun 2013. Hal ini menunjukkan perbaikan kualitas hidup masyarakat Sumbawa Barat baik dari dimensi kesehatan, pendidikan dan pendapatan.
Nilai IPM KSB yang mengalami peningkatan setiap tahun dan selalu lebih tinggi dibandingkan dengan IPM Nusa Tenggara Barat. Pada tahun 2010 IPM KSB 66,47 sedangkan IPM NTB 65,20, pada tahun 2011 IPM KSB 67,08 sedangkan IPM NTB 66,23, dan pada tahun 2012 IPM KSB mencapai 67,85 sedangkan IPM NTB sebesar 66,89.
2. Angka Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi (AKB) adalah jumlah yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakandalam 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun yang sama.
AKB terkelompok dua jenis kelompok umur yaitu kematian pada kelompok neonatal (0 hari-28 hari) dan kematian pada kelompok bayi (29 hari-11 bulan).
Pada tahun 2014 tercatat 21 kematian bayi (17 dimasa neonatal usia 0-28 hari dan 4 di usia 29 hari-29 bulan). Jumlah kematian bayi di wilayah KSB terus menurun dari tahun sebelumnya yaitu adalah sebanyak 27 kasus tahun 2013 dan 37 kasus tahun 2012. Penurunan AKB di tahun 2014 ini salah satunya disebabkan karena semakin meningkatnya penanganan kasus neonatal risti oleh tenaga kesehatan.
Berikut ini trend AKB di Kabupaten Sumbawa Barat selama kurun waktu 5 tahun terakhir, dapat dilihat pada Grafik 3.2 dibawah ini:
11
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
3. Angka Kematian Balita (AKABA)
Angka Kematian Balita (AKABA) adalah jumlah anak yang meninggal mulai usia 1 tahun sampai kurang 5 tahun yang dinyatakan dalam 1.000 Kelahiran Hidup pada tahun yang sama. AKABA KSB tahun 2011 terjadi peningkatan dan 3 tahun terakhir ini terus mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya yaitu 22 kasus Tahun 2014, 28 Kasus Tahun 2013 dan 38 kasus tahun 2012.
Trend Angka Kematian Balita (AKABA) Kab. Sumbawa Barat Tahun 2010-2014 sesuai Grafik 3.3 berikut ini :
2010 2011 2012 2013 2014
Jmlh Kasus Kematian Bayi 48 60 37 27 21
AKB KSB 18 22 13 9 7
Target MDG's 2015 23 23 23 23 23
0 10 20 30 40 50 60 70
JUMLAH
Tabel 3.2 TREND ANGKA KEMATIAN BAYI (AKB) KAB. SUMBAWA BARAT 2010-2014
2010 2011 2012 2013 2014
Jmlh Kasus Kematian
Balita 54 64 38 28 22
AKABA KSB 20 23 13 9 7
Target MDG's 2015 32 32 32 32 32
100 2030 4050 6070
JUMLAH
Tabel 3.3 TREND ANGKA KEMATIAN BALITA (AKABA) KAB. SUMBAWA
BARAT 2010-2014
12
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Berdasarkan Grafik 3.3 diatas dapat dilihat bahwa AKABA KSB masih berada jauh dibawah target MDG’s 2015. Hal ini seiring dengan pengembangan program tumbuh kembang balita yang dilakukan oleh Dinas Kabupaten Kab. Sumbawa Barat.
4. Angka Kematian Ibu (AKI)
Angka Kematian Ibu (AKI) adalah jumlah kematian ibu hamil, ibu bersalin, ibu nifas dalam 1 tahun yang sama dan dinyatakan dalam 100.000 kelahiran hidup. AKI ini didapatkan dari rumusan total kejadian kematian ibu dibandingkan dengan total persalinan dalam 1 tahun yang sama dan dinyatakan dalam 100.000 KH.
Dari hasil survey yang dilakukan AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu, namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan Millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus menerus.
Berikut ini ditampilkan trend AKI KSB daritahun 2210-2014 pada Grafik3.4 :
Gambar diatas menunjukkan trend AKI KSB tahun 2011 terjadi peningkatan menjadi 253/100.000 KH dan mengalami penurunan dari tahun ke tahun, hal ini disebebkan karena mulai ada pengelolaan ibu hamil resiko tinggi dengan baik dan berkesinambungan serta penggunaan kohort sebagai bahan surveillance untuk membantu ibu hamil, bersalin dan nifas. Pada tahun 2013 tercatat ada 5 kasus kematian ibu (maternal) sedangkan di tahun 2014 menurun menjadi 4 kasus.
2010 2011 2012 2013 2014
Jmlh Kasus Kematian
Ibu 3 7 6 5 4
AKI KSB 111 253 212 166 134
Target MDG's 2015 102 102 102 102 102
500 100150 200250 300
JUMLAH
Tabel 3.4 TREND ANGKA KEMATIAN IBU (AKI) KAB. SUMBAWA BARAT
2010-2014
13
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
B. ANGKA KESAKITAN / MORBIDITAS
Morbiditas adalah angka kesakitan, baik insiden atau prevalen dari suatu penyakit.
Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dari suatu populasi dalam kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.
1. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Polio Myelitis AFP
Surveilens AFP adalah penemuaan kasus semua anak berusia <15 tahun dengan kelumpuhan yang sifatnya Flaccid (Layuh) terjadi secara akut atau mendadak bukan disebabkan oleh ruda paksa. Merupakan komitmen global WHO menuju eradikasi Polio dan diperkirakan tahun 2009 dunia bebas Polio. Untuk menuju bebas Polio setiap negara diharuskan menemukan kasus lumpuh layuh mendadak/AFP minimal 1 setiap 100.000 anak umur <15 tahun.Pada Tahun 2014 ditemukan 3 kasus suspek AFP.
2. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit TB Paru
Berdasarkan hasil Survey Prevalens Nasional tahun 2004 bahwa perhitungan Case Detection Rate (CDR) untuk wilayah KTI termasuk Kabupaten Sumbawa Barat menggunakan working estimate incidence rate yaitu 210 per 100.000 penduduk untuk perkiraan penderita TBC BTA positif. Sumbawa Barat CDR baru mencapai 59% pada tahun 2012, tentu hal ini masih jauh dari target yang diharapkan sehingga perlu upaya penanganan yang serius. Untuk angka insidens, angka prevalensi, angka kematian akibat TB, angka penemuan kasus baru, success rate TB Paru dapat dilihat pada lampiran Tabel 7, 8 dan 9.
3. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Ispa Dan Pneumonia
Cakupan penemuan penderita pneumonia balita dibandingkan non pneumonia balita yang dilayani dari tahun ke tahun menunjukkan penurunan. Hal ini dipengaruhi beberapa factor antara lain PHBS sudah berjalan dilingkungan keluarga dan semakin pahamnya masyarakat tentang penyakit. Tahun 2014 penemuan dan penanganan kasus pneumonia hanya mencapat 28,4% (427 kasus) dari 39,2% (551 kasus). Untuk lebih jelas pendistribusian kasus per puskesmas dapat dilihat pada lampiran Tabel 10.
4. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit HIV/ AIDS
Upaya antisipasi dalam mencegah meningkatnya kasus HIV/AIDS adalah melalui sosialisasi dan kampanye anti AIDS, operasi ke lokasi dengan pihak-pihak lintas sektor terkait, kerjasama dengan lintas sektor terkait melalui pembentukan Komisi
14
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Provinsi Nusa Tenggara Barat, dan Kabupaten/
Kota, mengadakan survei dengan pengambilan sampel darah terhadap kelompok resiko tinggi untuk pemeriksaan HIV. Untuk Kabupaten Sumbawa Barat selama ini telah ditemukan kasus HIV/AIDS walaupun secara sembunyi-sembunyi pada tempat-tempat untuk menjajakan sex komersial.
Di tahun 2014 tercatat 5 kasus baru HIV dan 7 kasus syphilis sementara di tahun 2013 tercatat 36 kasus HIV/AIDS. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 11 dan 12.
5. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Diare
Hingga saat ini penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, hal ini dapat dilihat dengan meningkatnya angka kesakitan diare dari ttahun ke tahun. Pembangunan pada sektor kesehatan di Kabupaten Sumbawa Barat dalam rangka meningkatkan derajad kesehatan masyarakat masih dihadapkan pada berbagai permasalahan salah satunya adalah diare, dimana penemuan kasus diare pada tahun 2010 sebanyak 7.339 kasus, tahun 2011 sebanyak 6.652 kasus, tahun 2012 sebanyak 5.412 kasus, tahun 2013 sebanyak 5.007 kasus dan pada tahun 2014 sebanyak 4.586 kasus. Untuk lebih jelas pendistribusian tiap puskesmas dapat dilihat pada lampiran Tabel. 13.
Adapun kebijakan pemberantasan penyakit diare dilaksanakan untuk menurunkan angka kesakitan, angka kematian dan penanggulangan kejadian luar biasa (KLB), meningkatkan kerjasama lintas program dan lintas sektor terkait serta partisipasi aktif masyarakat secara luas antara lain organisasi profesi dan lembaga masyarakat di pusat maupun di daerah.
6. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Kusta
Penyakit Kusta merupakan salah satu penyakit menular yang menimbulkan masalah yang sangat kompleks. Masalah yang dimaksud bukan hanya dari segi medis tetapi meluas sampai ke masalah sosial, ekonomi dan budaya karena merupakan suatu kenyataan bahwa sebagian besar penderita kusta adalah dari golongan ekonomi lemah, yang selain membutuhkan penanganan secara medis juga memerlukan penanganan dari aspek sosial.
15
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Program pemberantasan penyakit kusta di Kabupaten Sumbawa Barat masih mengalami masalah di beberapa puskesmas khususnya dalam hal penemuan penderita baru secara dini dimana penderita baru yang ditemukan sudah mengalami kecacatan.
Hal ini dimungkinkan karena seorang penderita kusta lebih cenderung menutup diri dan tidak bergaul dengan masyarakat. Disamping itu juga disebabkan karena masih adanya opini masyarakat bahwa penyakit kusta, terutama yang disertai adanya kecacatan disebabkan oleh kutukan, perbuatan sihir atau penyakit keturunan sehingga penderita lebih cendrung berobat ke dukun daripada ke puskesmas.
Cakupan penderita kusta tahun 2014 mengalami peningkatan yaitu 3 kasus PB dan 21 kasus MB sedangkan pada tahun 2013 hanya 2 kasus PB dan 13 kasus MB.
Untuk lebih jelas pendistriusian tiap puskesmas dapat dilihat pada lampiran Tabel. 14 s.d 17.
7. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Penyakit Demam Berdarah (DBD) merupakan masalah kesehatan masyarakat di Kabupaten Sumbawa Barat. Seiring dengan terjadinya perubahan iklim dari musim kemarau ke penghujan dimana curah hujan yang tidak menentu, hal ini menyebabkan tingkat perkembangan nyamuk menjadi pesat. Adanya genangan-genangan air di sembarang tempat merupakan media atau tempat perkembangbiakan nyamuk termasuk nyamuk Aedes Aegypti. Hal ini diperparah dengan perilaku masyarakat yang kurang mendukung penerapan pola hidup bersih dan sehat. Untuk mencegah terjadinya perkembangbiakan yang pesat maka perlu dilakukan 3M Efektif, yaitu Menutup tempat- tempat penyimpanan air, Menguras bak-bak mandi dan tempat menyimpan air terbuka, Mengubur barang bekas yang dapat dijadikan tempat perindukan oleh nyamuk.
Kabupaten Sumbawa Barat dinyatakan Endemis karena 3 tahun berturut-turut terdapat kasus DBD. Berdasarkan data jumlah kasus Deman Berdarah dan Demam Dengue di Kabupaten Sumbawa Barat mengalami fluktuasi dimana dimana tahun 2012 sebanyak 5 kasus meningkat tahun 2013 menjadi 53 kasus kemudian menurun pada tahun 2014 menjadi 19 kasus, yang meninggal tidak ada (lihat lampiran tabel 21).
8. Pengendalian Dan Pemberantasan Penyakit Malaria
Jumlah penderita penyakit malaria dapat dilihat berdasarkan angka positif malaria Annual Parasite Incidence (API). Besarnya API pada tahun 2014 adalah 4.01 permil, mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2013 sebesar 4.41 permil.
Akan tetapi angka ini jika dilihat secara absolut masih tergolong tinggi karena belum
16
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal Malaria Tahun 2014 yaitu < 3 permil. Dengan angka tersebut Kabupeten Sumbawa Barat berada pada strata Medium Case Incidence, sehingga masih diperlukan upaya-upaya yang intensif untuk menurunkan angka kesakitan malaria.
Annual Malaria Incidence (AMI) Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 sebesar 33,4 permil, menurun dari Tahun 2013 sebesar 47,06 permil. Penurunan bukan menjadi suatu masalah selama tetap diikuti dengan pancapaian pemeriksaan sediaan darah 100%. Dengan angka tersebut Kabupaten Sumbawa Barat berada pada strata Medium Incidence Area. Untuk lebih jelas pendistribusian per puskesmas dapat dilihat pada lampiranTabel 22.
C. STATUS GIZI MASYARAKAT
Salah satu indikator kesehatan yang dinilai berhasil pencapaiannya dalam MDG’s adalah status gizi balita. Status gizi balita diukur berdasarkan kategori umur (U), berat badan (BB), dan tinggi badan (TB). Variable BB dan TB ini disajikan dalam bentuk tiga indicator antropometri, yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U), dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB).
Salah satu cara untuk mengukur antropometri ini adalah dengan penimbangan.
Penimbangan bayi dan balita dimaksudkan untuk memantau pertumbuhannya setiap bulan.
Penimbangan bayi dan balita dilakukan setiap bulan mulai umur 1 bulan sampai 5 tahun di Posyandu, selanjutnya hasil penimbangan akan catat dibuku KIA (kesehatan ibu dan anak) atau KMS (kartu menuju sehat). Dari KMS akan terlihat apakah berat badan Bayi dan Balita itu naik, tetap atau turun.
Capaian bayi baru lahir ditimbang pada tahun 2014 mencapai 99,1%. Artinya bayi yang baru lahir yaitu sebanyak 2.967 bayi sudah langsung ditimbang. Dari hasil penimbangan tersebut didapatkan sebanyak 114 bayi (3,8%) yang BBLR menurun dari tahun sebelumnya 120 bayi (4%) yang BBLR. Untuk lebih jelas pendistribusiannya dapat dilihat pada lampiran Tabel 37.
Penanganan yang lain adalah pada balita gizi buruk yaitu sudah mencapai 100%. Di mana ditemukan 2 kasus balita gizi buruk dan semuanya sudah mendapat perawatan (lihat lampiranTabel 48). Jumlah ini berkurang dari tahun 2013 sebanyak 6 kasus yang juga semuanya sudah tertangani 100%.
17
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
Belum tercapainya pelayanan pada program gizi masyarakat ini berkaitan dengan kurangnya koordinasi antara lintas sektoral dan lintas program dalam penanggulangan gizi masyarakat, disamping itu juga disebabkan masih rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi dan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan kesehatannya ke petugas kesehatan terutama menimbang balitanya di posyandu ataupun di fasilitas-fasilitas kesehatan. Status gizi juga banyak dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan ibu balita tentang makanan yang sehat dan bergizi yang masih minim. Masyarakat masih beranggapan bahwa makanan bergizi itu mahal yaitu empat sehat lima sempurna, dan juga pemberian makanan yang kurang tepat pada balitanya.
Untuk meningkatkan status gizi balita sampai batas maksimal dapat ditanggulangi dengan mengurangi balita kurang gizi dan menurunkan angka balita pendek (stunting).
Diharapkan dengan adanya tenaga-tenaga terlatih di desa akan membantu para ibu balita dalam menyiapkan makanan yang sesuai dengan usia bayi dan makanan yang tersedia di daerah setempat untuk mensukseskan gerakan 1000 hari pertama kehidupan sehingga terciptalah generasi emas yang berkualitas sebagai penerus bangsa.
17
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN
Secara umum upaya kesehatan terdiri atas dua unsur utama yaitu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan. Upaya kesehatan masyarakat adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah (termasuk instansi Dinas Kesehatan Kabupaten dan jaringannya ataupun Pemda) dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat. Upaya kesehatan masyarakat mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan kesehatan, pemberantasan penyakit menular, pengendalian penyakit tidak menular, penyehatan lingkungan dan penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan kesediaan alat farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat adiktif dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, dan penganggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Upaya kesehatan perorangan adalah setiap kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta, untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perorangan. Upaya kesehatan perorangan mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pencegahan penyakit, pengobatan rawat jalan, pengobatan rawat inap, pembatasan dan pemulihan kecacatan yang ditujukan terhadap perorangan.
A. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak
a. Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil (K1 dan K4)
Definisi Operasional K1 : Cakupan ibu hamil yang pertama kali mendapat pelayanan antenatal oleh tenaga kesehatan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Adapun cakupan Kabupaten untuk tahun 2014 mencapai 100,6% atau 3.324 ibu hamil. Capaian tahun 2014 ini meningkat 0,6% dibandingkan tahun 2013 yaitu 100%
(3.14 ibu hamil) hal ini disebabkan karena tingginya kesadaran masyarakat akan pentingnya pemeriksaan kesehatan pada awal kehamilan serta didukung oleh ketersediaan bidan-bidan di setiap desa serta fasilitas kesehatan yang mendukung.
Tapi dilihat dari target sasarannya yaitu 100%, cakupan pelayanan K1 tahun 2014 mencapai target (Lihat Lampiran Tabel 26).
18
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
Definisi Operasional K4 : Cakupan ibu hamil yang telah memperoleh pelayanan antenatal sesuai dengan standar, paling sedikit empat kali dengan distribusi waktu 1 kali pada trimester ke-1, 1 kali pada trimester ke-2 dan 2 kali pada trimester ke-3 disuatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Adapun cakupan kabupaten tahun 2014 mencapai 93,6% atau 3.093 ibu hamil.
capaian tahun 2014 ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yaitu 98,61% (2.950 ibu hamil) hal ini dikarenakan sudah mulainya pengelolaan ibu hamil dan penggunaan kohort sebagai tools untuk memantau ibu hamil adapun capaian K4 lebih rendah dari K1 karena masih ada K1 akses dan kasus perdarahan hamil muda sehingga menyebabkan banyak K4 yang tidak tercapai. Dilihat dari target sarannya 100%, cakupan K4 belum mencapai target (Lihat Lampiran Tabel 26).
b. Penanganan Komplikasi Obstetri/Maternal
Definisi Operasional Maternal Komplikasi : Cakupan Ibu dengan komplikasi kebidanan di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu yang ditangani secara definitif sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan kompeten pada tingkat pelayanan dasar dan rujukan. Penanganan definitif adalah penanganan/pemberian tindakan terakhir untuk menyelesaikan permasalahan setiap kasus komplikasi kebidanan.
Adapun cakupan rata-rata kabupaten untuk tahun 2014 mencapai 101,9% atau 673 ibu hamil komplikasi. Dibanding dengan tahun 2013 angka ini mencapai penurunan yaitu 120,6% atau 746 ibu hamil komplikasi. Dilihat dari target sasarannya yaitu 85%, capaian maternal komplikasi tertangani sudah memenuhi target, untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 33.
c. Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan dengan Kompetensi Kebidanan (Pn)
Definisi Operasional : Cakupan ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, di suatu wilayah kerja dalam kurun waktu tertentu. Dengan indikator ini dapat diperkirakan proporsi persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan dan ini menggambarkan kemampuan manajemen program KIA dalam pertolongan persalinan sesuai standar.
Adapun cakupan rata-rata kabupaten untuk tahun 2014 mencapai 94,3% atau 2.974 ibu bersalin. Cakupan ini menurun sebesar 6% jika dibandingkan tahun 2013
19
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
mencapai 100,6% atau 2.968 ibu bersalin. Dilihat dari target sasarannya yaitu 90%, cakupan pelayanan persalinan tenaga kesehatan sudah mencapai target yang telah ditentukan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran Tabel 29.
d. Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas (KF3)
Definisi Operasional : Ibu nifas paling sedikit mendapatkan 3x pelayanan kesehatan selama masa nifas, ini dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir, dan untuk mencegah, mendeteksi dan menangani masalah-maslah yang terjadi.
Adpun cakupan kabupaten untuk tahun 2014 mencapai 95,00% atau 2.996 ibu nifas.
Cakupan pelayanan ibu nifas di tahun 2014 menurun sebesar 4% dibandingkan tahun 2013 yaitu 99,3% atau 2.930 ibu nifas. Dari target cakupan yaitu sebesar 95%, cakupan pelayanan ibu nifas ini sudah mencapai target yang ditentukan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 29.
e. Penanganan Komplikasi pada Neonatal
Definisi Operasional Neonatal Risti/Komplikasi : Cakupan neonatal komplikasi/resiko tinggi yang ditangani dibandingkan dengan jumlah sasaran neonatal dengan resiko tinggi (15% dari total neonatal) di wilayah dalam kurun waktu tertentu.
Adapun cakupan rata-rata Kabupaten untuk tahun 2014 mencapai 88,3% atau 398 neonatal komplikasi. Cakupan ini meningkat sebesar sebesar 2,9% dibandingkan tahun 2013 yaitu 85,4% atau 360 neonatal komplikasi. Dilihat dari target cakupan yaitu 84%, pencapaian tahun ini sudah memenuhi target. Untuk lebih jelasnya capaian neonatal komplikasi yang ditangani ini dapat dilihat pada lampiran Tabel 33.
f. Pelayanan Kesehatan pada Bayi
Definisi Operasional Bayi 4 : Prosentasi kunjungan yang keempat kalinya atau lebih pada bayi umur 10-12 bulan di sarana pelayanan kesehatan maupun rumah, posyandu, tempat penitipan anak, panti asuhan dan sebagainya dibanding dengan jumlah seluruh sasaran bayi di wilayah dalam kurun waktu tertentu.
Adapun cakupan rata-rata kabupaten untuk tahun 2014 mencapai 100,5% atau 3.020 bayi. Cakupan ini menurun sebesar 5% dibandingkan tahun 2013 yaitu mencapai 105,5% atau 2.967 bayi. Dilihat dari target sasarannya yaitu 94%, cakupan pelayanan Kunjungan Bayi 4 mencapai target. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 40.
20
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
g. Cakupan Bayi dengan Berat Lahir Rendah
Pada tahun 2014 terdapat 114 bayi BBLR atau 3,8% dari 2.995 bayi lahir hidup menurun dari tahun sebelumnya 2013 mencapai 120 bayi yang BBLR atau 4,0% dari 3.004 bayi lahir hidup. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 37.
h. Pelayanan Kesehatan pada Balita
Definisi Operasional Balita 2 : Prosentasi anak balita (1-5 tahun) yang mendapatkan pelayanan kesehatan standar kedua kali sesuai kelompok umur oleh petugas kesehatan dibandingkan jumlah sasaran anak balita satu tahun. Adapun cakupan rata-rata kabupaten tahun 2014 mencapai 88,0% atau 10.573 balita. Capaian ini meningkat sebesar 8% dibandingkan tahun 2013 yaitu mencapai 80,0% atau 8.993 balita. Dilihat dari target sasarannya yaitu 75%, cakupan pelayanan Kunjungan Balita 2 sudah mencapai target. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 46.
i. Pelayanan Keluarga Berencana (KB) Aktif
Definisi Operasional : Adalah cakupan dari peserta KB yang baru dan lama yang masih aktif menggunakan alat dan obat kontrasepsi (alokon) dibandingkan dengan jumlah pasangan usia subur di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.
Indikator ini menunjukkan jumlah peserta KB baru dan lama yang masih aktif memakai alkon terus-menerus hingga saat ini untuk menunda, menjarangkan kehamilan atau yang mengakhiri kesuburan. Adapun cakupan rata-rata kabupaten tahun 2014 mencapai 86,8% atau 17.720 akseptor KB aktif. Cakupan ini meningkat dibandingkan tahun 2013 yang mencapai 81,2% atau 16.378 akseptor KB aktif. Dari target sasaran yang telah ditentukan yaitu 75%, cakupan KB aktif ini mencapai target. Tercapainya target karena mulai tinginya kesadaran masyarakat untuk mengikuti program KB.Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 36.
Akseptor KB aktif ini terdiri dari beberapa jenis pemakaian alokon, antara lain:
metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan non MKJP. Yang termasuk dalam MKJP adalah IUD, MOP, MOW dan Implant. Sedangkan jenis non MKJP adalah suntik, PIL, kondom, dan obat vagina. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada Lampiran Tabel 34.
21
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
j. Kunjungan Neonatal
Definisi Operasional KN 1 : Prosentasi kunjungan neonatal umur 0-3 hari di sarana pelayanan kesehatan maupun pelayanan melalui kunjungan rumah dibandingkan dengan sasaran bayi baru lahir di wilayah dalam kurun waktu tertentu. Adapun cakupan rata-rata untuk tahun 2014 mencapai 98,7% atau 2.966 neonatal. Cakupan ini menurun 6,5% dibandingkan tahun 2013 yaitu mencapai 105,2% atau 2.958 neonatal. Dilihat dari target sasarannya yaitu 98%, cakupan KN-1 mencapai target.
Definisi Operasional KN 3 : Cakupan kunjungan neonatal umur 8-28 hari di sarana pelayanan kesehatan maupun pelayanan melalui kunjungan rumah serta sudah mendapat KN 1 dan KN 3 sesuai standar dibandingkan dengan sasaran bayi baru lahir di wilayah dalam kurun waktu tertentu. Adapun cakupan rata-rata Kabupaten tahun 2014 mencapai 98,0% atau 2.944 neonatal. Cakupan ini menurun sebesar 5,1% dibandingkan tahun 2013 yaitu mencapai 103,1% atau 2.899 neonatal. Dilihat dari target sasarannya yaitu 98%, cakupan pelayanan KN-3 telah mencapai target.
Untuk lebih jelas capaian KN1 dan KN3 ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 38.
B. PENGENDALIAN PENYAKIT MENULAR 1. Pelayanan Imunisasi
Program imunisasi di Kabupaten Sumbawa Barat dari tahun ke tahun mengalami peningkatan yang cukup berarti. Hal ini seiring dengan komitmen global program imunisasi mempunyai tujuan dampak terukur yang jelas yaitu eradikasi polio (ERAPO), eliminasi Tetanus Neonaturum (ETN) serta reduksi Campak. Untuk mencapai tujuan tersebut, perlu adanya peningkatan kualitas program dengan meningkatkan sumberdaya manusia melalui pelatihan, penggunaan alat suntik sekali pakai (ADS), penanganan limbah tajam yang benar, memantau secara ketat kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI) serta penanganan rantai dingin/ vaksin yang benar dan bermutu.
1) Cakupan Standar Pelayanan Minimal program Imunisasi
a) Cakupan Desa / Kelurahan Universal Child Immunization (UCI)
Definisi Operasional :Desa/Kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi yang ada di desa tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap dalam waktu satu tahun.
Capaian Kabupaten tahun 2014 untuk Desa/Kelurahan UCI mencapai 93,8% atau 60 dari 64 desa di KSB. Capaian ini menurun sebesar
22
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
1,5% dari tahun 2013 yaitu mencapai 95,3% atau 61 dari 64 desa. Untuk lebih jelas capaian desa/kelurahan UCI ini dapat dilihat pada Lampiran Tabel 41.
Adapun jenis imunisasi dasar lengkap yang harus didapatkan oleh bayi sampai berumur sembilan bulan adalah Hepatitis B<7 hari, BCG, DPT- HB/DPT-HB-Hib, polio, campak dan imunisasi dasar lengkap pada bayi.
Cakupan imunisasi berdasarkan jenisnya ini untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada lampiran Tabel 41, 42 dan 43.
b) Cakupan Imunisasi Anak Sekolah SD/MI
Definisi Operasional :Anak SD/MI klas 1,2 dan 3 yang mendapat imunisasi TT atau DT di satu wilayah pada kurun waktu tertentu.
C. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT
Masalah gizi merupakan masalah kompleks yang dapat disebabkan oleh banyak factor, misalnya karena kekurangan gizi mikro (hidden hunger), menyangkut defisiensi besi, yodium, asam folat, vitamin A dan beberapa jenis vitamin B, faktor ekonomi social, faktor lingkungan dan faktor perilaku masyarakat.
Terkait dengan target kinerja di program gizi, terdapat beberapa indikator yang menjadi acuan keberhasilan program, yaitu :
Tabel 4.12
Capaian indikator Program Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
No Kegiatan 2014 (%)
Target Realisasi KET
1 Ibu hamil mendapat 90 tablet Fe 100 90,28 Lampiran Tabel 32
2 Cakupan bayi mendapat vitamin A - 100 Tdk termasuk dalam SPM (Lampiran Tabel 44)
3 Cakupan anak balita mendapat vitamin A - 91,69 Tdk termasuk dalam SPM (Lampiran Tabel 44)
4 Cakupan ibu nifas mendapat vitamin A - 94,2 Tdk termasuk dalam SPM (Data dari seksi Gizi)
5 Bayi yang mendapat ASI eksklusif 80 87,6 Lampiran Tabel
23
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
39 6 Pemberian MP ASI pada anak usia 6 – 24
bulan keluarga miskin 100 0 -
7 Prevalensi balita gizi buruk <1,0 0 -
8 Prevalensi balita gizi kurang <10 0 -
9 Cakupan balita yang ditimbang (D/S) - 81,6 Tdk termasuk dalam SPM (Lampiran Tabel 47)
10 Cakupan berat badan yang naik (N/D) - 67,95 Tdk termasuk dalam SPM (Data dari seksi Gizi)
11 Cakupan berat badan dibawah garis merah
(BGM) - 1,0 Tdk termasuk
dalam SPM (Lampiran Tabel 47)
12 Balita gizi buruk mendapat perawatan 100 100 Lampiran Tabel 48
D. PROMOSI KESEHATAN
Program Promosi Kesehatan mencakup beberapa program yaitu antara lain desa siaga, Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS)/Rumah Tangga berperilaku Sehat (RTS), posyandu, Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)/Usaha Kesehatan Gigi di Sekolah (UKGS).
Karena program promkes mencakup banyak kegiatan, sehingga ada beberapa kegiatan yang menjadi indikator keberhasilan programnya. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 4.13 berikut ini:
Tabel 4.13
Capaian indikator Program Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
No Kegiatan
2014 (%) Target Realisasi (%) KET
1 Cakupan desa siaga aktif 97 100 Lampiran Tabel 71
2 Cakupan posyandu aktif 89 98,56 Lampiran Tabel 69
3 Cakupan rumah tangga sehat 55 48,9 Lampiran Tabel 57 4 Cakupan penjaringan kesehatan siswa SD
dan setingkat 100 93,6 Lampiran Tabel 49
5 Cakupan SD/MI yang melakukan sikat gigi
massal - 2,8 Tdk termasuk dalam
SPM (Lampiran Tabel 51) 6 Cakupan SD/MI yang mendapat pelayanan
gigi - 2,8 Tdk termasuk dalam
SPM (Lampiran Tabel 51)
24
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
7 Cakupan murid SD/MI yang diperiksa
(UKGS) - 92,1 Tdk termasuk dalam
SPM (Lampiran Tabel 51) 8 Cakupan murid SD/MI yang mendapat
perawatan (UKGS) - 0 Tdk termasuk dalam
SPM (Lampiran Tabel 51) 9 Cakupan siswa SD/MI setingkat yang
mendapat perawatan gigi dan mulut - 0 Tdk termasuk dalam SPM (Lampiran Tabel 51) Sumber : Seksi Promkes, 2014
1. Desa Siaga
Cakupan desa siaga aktif, diperoleh dari perhitungan persentase jumlah desa siaga yang aktif dibagi dengan jumlah desa siaga yang dibentuk.
Definisi operasional : Desa siaga aktif adalah desa yang mempunyai Poskesdes yang buka setiap hari dan berfungsi sebagai pemberi pelayanan kesehatan dasar, penanggulangan bencana dan kegawat daruratan, surveillance berbasis masyarakat yang meliputi pemantuan pertumbuhan (gizi), penyakit lingkungan dan perilaku sehingga masyarakatnya menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
Pembentukan Desa Siaga merupakan jawaban untuk mengurangi berbagai permasalahan yang ada dengan model pemberdayaan msayarakat. Keberadaan forum desa siaga serta kader pemberdayaan masyarakat di harapkan mampu mengatasi permasalahan kesehatan di lingkungannya.
Berkembangnya Desa dan Kelurahan Siaga Aktif di Kabupaten Sumbawa Barat tidak lepas dari adanya dukungan sarana dan tenaga yang terdistribusi di setiap desa yang ada. Distribusi sarana dan tenaga tersebut dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :
Tabel 4.14
Data Sarana dan Tenaga terkait Desa Siaga Tahun 2013 di Kabupaten Sumbawa Barat
No. Puskesmas Jumlah Desa Sasaran
Jumlah Pustu
Status Poskesdes Jumlah Bidan
Desa
Jml Kader Desa Siaga Bangunan
Sendiri Sewa
1 Poto Tano 8 2 8 - 8 16
2 Seteluk 10 3 9 1 11 21
3 Taliwang 15 5 13 2 15 20
4 Brang Ene 6 4 6 - 6 12
25
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
5 Brang Rea 9 5 7 2 9 153
6 Jereweh 4 1 4 - 4 8
7 Maluk 5 1 4 1 5 10
8 Sekongkang 3 2 2 1 3 15
9 Tongo 4 4 4 - 6 55
Kabupaten 64 27 57 7 67 310
Sumber : Seksi Promkes, 2014
2. PHBS / Rumah Tangga Sehat
Cakupan rumah tangga sehat, diperoleh dari perhitungan persentase jumlah rumah tangga sampel yang termasuk rumah tangga sehat di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu dibagi dengan jumlah rumah tangga sampel di suatu wilayah dalam kurun waktu yang sama.
Untuk rumah tangga dengan perilaku PHBS ini mencakup 10 indikator yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi bayi ASI ekslusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktifitas fisik setiap hari, dan tidak merokok di dalam rumah. Cakupan Rumah Tangga Sehat (RTS) atau sering disebut juga cakupan rumah tangga ber-PHBS tahun 2014 meningkat hingga mencapai 48,9% jika dibandingkan dengan tahun 2013 hanya mencapai 41,3%. Angka 48,9%
ada 976 KK yang telah melaksanakan 10 indikator PHBS dalam kehidupannya sehari-hari, sementara 757 KK lainnya telah melaksanakan beberapa indikator PHBS.
3. Posyandu
Cakupan posyandu aktif ,diperoleh dari perhitungan persentase jumlah posyandu aktif di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu dibagi dengan jumlah seluruh posyandu di suatu wilayah dalam kurun waktu yang sama.
Keberadaan posyandu merupakan salah satu indicator dalam pentahapan Desa dan Kelurahan Desa Siaga Aktif. Kegiatan pokok di posyandu adalah pelayanan KIA, KB, Imunisasi, Gizi dan Penanggulangan Diare. Posyandu diselenggarakan oleh kader posyandu yang berasal dari masyarakat setempat dan tenaga kesehatan puskesmas. Berhasil tidaknya suatu posyandu dilihat dari peran serta masyarakat
26
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
sebagai sasaran posyandu datang ke posyandu dan naik tidaknya berat badan bayi dan balita yang ditimbang di posyandu. Cakupan posyandu aktif tahun 2014 mencapai 98,56%, cakupan ini meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya tahun 2013 hanya mencapai 69,05%.
4. Usaha Kesehatan Sekolah
Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) diutamakan pada upaya peningkatan kesehatan dalam bentuk promotif dan preventif. Upaya Promotif dilakukan dalam bentuk pembinaan UKS di setiap sekolah dan melalui berbagai penyuluhan. Adapun upaya preventif antara lain kegiatan penjaringan kesehatan (skrining kesehatan) peserta didik, pelaksanakan Upaya Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) dan pemeriksaan berkala.
Kegiatan penjaringan kesehatan anak usia sekolah merupakan salah satu bentuk pelaksanaan pelayanan kesehatan oleh petugas puskesmas. Tahun 2014 target Standar Pelayanan Minimal (SPM) untuk kegiatan penjaringan adalah Penjaringan Kesehatan Siswa kelas 1 SD setingkat yaitu 95% artinya 95 bagian dari total jumlah siswa kelas 1 pada suatu wilayah telah dijaring kesehatannya.
Parameter-parameter yang diperiksa pada kegiatan penjaringan meliputi beberapa hal antara lain :
1) Status Gizi
2) Tajam Penglihatan 3) Otitis Media 4) Tajam dengar 5) Gigi dan Mulut
6) Gangguan Mental Emosional
7) Hasil Periksa Penunjang (Anemia; Kecacingan; Risiko GAKY) 8) Kesegaran Jasmani
E. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Kegiatan pokok pada program Penyehatan Lingkungan mencakup berbagai program dan kegiatan antara lain :
a. Pengawasan Kualitas Air dan Lingkungan.
b. Penyehatan Lingkungan Permukiman.
c. Penyehatan Tempat – Tempat Umum.
d. Pengembangan Kawasan Wisata.
27
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
e. Penyehatan Makanan dan Minuman.
Kegiatan pokok masing–masing program dapat diketahui tingkat keberhasilannya dengan mengevaluasi beberapa indikator yang termasuk dalam Standart Pelayanan Minimal berikut ini :
Tabel 4.15
Capaian indikator Program Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
No Kegiatan
2014 Target Realisasi (%) KET
1 Cakupan rumah sehat 69 80,94 Lampiran Tabel
58 2 Cakupan rumah/bangunan bebas jentik nyamuk aedes 98 83,85
Data dari Seksi Penyehatan Lingkungan 3 KK dengan Jamban yang memenuhi syarat kesehatan 75 87,04
Data dari Seksi Penyehatan Lingkungan 4 KK dengan SPAL yang memenuhi syarat kesehatan 75 83,32
Data dari Seksi Penyehatan Lingkungan 5 KK dengan TPS yang memenuhi syarat kesehatan 76 84,48
Data dari Seksi Penyehatan Lingkungan 6 KK yang menggunakan air bersih 76 96,00 Lampiran Tabel
59
7 TTU yang memenuhi syarat 70 98,0 Lampiran Tabel
63
8 Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat - 87,54 Lampiran Tabel 64
9 Cakupan Institusi dibina kesehatan
lingkungannya - 100 Lampiran Tabel
63 Sumber : Seksi Penyehatan Lingkungan, 2014
1. Pengawasan Kualitas Air dan Lingkungan
Kegiatan pokok ini dievaluasi dengan melihat cakupan KK yang menggunakan air bersih.
Definisi Operasional : KK yang menggunakan air bersih diperoleh dari perhitungan persentase keluarga yang menggunakan air yang memenuhi syarat
28
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
kesehatan untuk MCK serta dapat diminum setelah dimasak dibagi dengan estimasi jumlah rumah tangga.
Kabupaten Sumbawa Barat sudah mencapai target Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan yang sudah ditetapkan yaitu 76%, Tahun 2014 mencapai 96,23% penduduk dan 95,28% Kepala Keluarga memiliki akses terhadap sarana air bersih.
2. Penyehatan Lingkungan Pemukiman
Kegiatan Penyehatan Lingkungan Permukiman telah dilaksanakan diseluruh kecamatan di Kabupaten Sumbawa Barat meliputi : Pengawasan Lingkungan Permukiman, Pengawasan Sarana Pembuangan Kotoran (Jamban), Pengawasan Pestisida dan Pengawasan Sampah.
Dari tabel diatas dapat dilihat target Standar Pelayanan Minimal (SPM) cakupan rumah sehat sebesar 69% dan di Kabupaten Sumbawa Barat sudah mencapai target Standar Pelayanan Minimal (SPM), tahun 2014 mencapai 80,94%
lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun 2013 hanya mencapai 79,98%.
Berdasarkan tabel diatas tahun 2014 KK yang menggunakan jamban yang memenuhi syarat kesehatan 87,04% sudah mencapai target Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan (75%).
Persentase TP2 Pestisida yang diawasi dan memenuhi syarat kesehatan 100%, di Kabuapeten Sumbawa Barat ada 8 TP2 Pestisida semuanya sudah memenuhi syarat kesehatan yaitu dari segi tempat penyimpanan.
Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) mencapai 84,48%, sudah diatas Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan (76%). Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang ada menggunakan system yaitu Open Dumping (2 buah memenuhi syarat) dan Control Landfil (1 buah memenuhi syarat) serta TPA yang menggunakan sistem lainnya ada 6 dan semuanya memenuhi syarat kesehatan.
3. Penyehatan Tempat–Tempat Umum ( T T U )
Tempat-tempat umum yang memenuhi syarat diperoleh dari perhitungan persentase tempat umum yang dipantau yang memenuhi syarat hgiene sanitasi di Tempat umum satu wilayah pada kurun waktu tertentu dibagi dengan estimasi
29
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014
jumlah tempat umum yang dipantau di suatu wilayah kerja pada kurun waktu yang sama.
Hasil pengawasan sanitasi terhadap Tempat-Tempat Umum termasuk sarana pendidikan, sarana kesehatan dan hotel di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 dari 197 TTU atau 98,0% yang memenuhi syarat kesehatan. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada lampiran Tabel 63.
4. Pengembangan Kawasan Sehat
Pengembangan kawasan sehat di kabupaten Sumbawa Barat dilaksanakan melalui pendekatan Kabupaten/Kota Sehat. Kawasan sehat ini sudah termasuk dalam salah satu tempat-tempat umum. Jadi, syarat kesehatannya tidak jauh berbeda dengan tempat-tempat umum.
5. Tempat Pengelolaan Makanan ( TPM )
Penyehatan makanan minuman ini terdiri dari beberapa kegiatan yaitu, pengawasan jasa boga, pengawasan restoran/rumah makan, Pengawasan Depot Air Minum (DAM), pengawasan makanan jajanan.
Hasil pengawasan Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi syarat higiene sanitasi sebanyak 274 TPM atau 87,54%.
31
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
BAB V SUMBER DAYA KESEHATAN
Sumber daya kesehatan merupakan salah satu faktor pendukung dalam penyediaan pelayanan kesehatan yang berkualitas, yang diharapkan dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pada Bab ini, sumber daya kesehatan diulas dengan menyajikan gambaran keadaan sarana kesehatan, tenaga kesehatan, dan pembiayaan kesehatan.
A. SARANA KESEHATAN
Wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat sampai dengan tahun 2014 mencakup:
1. Puskesmas berjumlah 9 buah yaitu: Taliwang, Brang Rea, BrangEne, Seteluk, PotoTano, Jereweh, Maluk, Sekongkang dan Tongo.
2. Puskesmas Perawatan dan Non Perawatan
Terdapat 6 unit Puskesmas Perawatan yaitu Puskesmas Seteluk, Poto Tano, Brang Rea, Maluk, Jereweh dan Sekongkang. Sedangkan 3 Puskesmas sisanya adalah Puskesmas non Perawatan yaitu Puskesmas Taliwang, Brang Ene dan Tongo. 5 Puskesmas Perawatan tersebut sudah menjadi Puskesmas PONED yaitu Puskesmas Seteluk, Brang Rea, Jereweh, Maluk, Sekongkang. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Lampiran Tabel 67.
3. RumahSakit
Keberadaan Rumah Sakit Umum Daerah di KSB baru melalui tahun pertamanya di tahun 2012. Yang mana pelayanan dimulai per Januari 2012.
4. Puskesmas Pembantu berjumlah 27 Buah
5. Poskesdes berjumlah 65 buah. Di perjelas pada Lampiran Tabel 70.
B. PERIJINAN KESEHATAN
Tabel 5.16. Pelayanan perijinan dari tahun 2006 - 2013 yang telah dilayani adalah sebagai berikut:
32
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
No JenisPerijinanSaranaKesehatan Jumlah Yang Berijin 1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
Izin Balai Pengobatan Izin Apotek
Izin Penyelenggaraan Laboratorium Izin Industri Obat Tradisional Izin Klinik
Izin Usaha Mikro Obat Tradisional Izin Operasional Rumah Sakit
1 Buah 15 Buah
6 Buah 1 Buah 3 Buah 3 buah 1 Buah
Sumber: Data Seksi Kefarmasian dan Sarana Kesehatan, 2014
C. TENAGA KESEHATAN
Undang – undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan mendefinisikan bahwa yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Sedangkan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan, menyebutkan bahwa Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan. Jenis tenaga kesehatan terdiri dari 7 jenis yaitu tenaga medis, tenaga keperawatan, tenaga kefarmasian, tenaga kesehatan masyarakat, tenaga gizi, tenaga keteknisian medis dan tenaga keterapian fisik.
Ketersediaan tenaga di sarana kesehatan baik di puskesmas maupun rumah sakit pada umumnya sudah baik. Jumlah tenaga kesehatan yang ada di seluruh Kab. Sumbawa Barat yang terdiri dari RSUD Pemerintah, Puskesmas dan Dinas Kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Tenaga Medis
Tenaga medis merupan salah satu tenaga kesehatan yang mengambil peran penting dalam upaya pengobatan dan rehabilitasi. Tenaga medis adalah dokter, dokter gigi dan dokter spesialis. Peran tersebut menuntut pengambil kebijakan baik di tingkat pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terkait dalam pemenuhan kebutuhan jumlah tenaga kesehatan medis untuk selalu menjadi perhatian utama. Dalam rangka pemenuhan kebutuhan tersebut baik jumlah, spesifikasi pendidikan, kategorim profesi
33
Profil Kesehatan Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2013
dan orientasi distribusi maka diselenggarakan pendidikan lanjutan bagi tenaga dokter dan dokter gigi ke tingkat spesialis dengan program PPDS.
Tabel 5.17. Distribusi Tenaga Medis Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 No Instansi Dokter Dokter Gigi
Jumlah
L P L P
1 Dikes 1 - - - 1
2 Puskesmas Poto Tano 1 1 - - 2
3 Puskesmas Seteluk - 2 - 1 3
4 Puskesmas Taliwang 1 2 - 1 3
5 Puskesmas Brang Ene - 2 - 1 3 6 Puskesmas Desa Beru 1 `1 - 1 3
7 Puskesmas Jereweh - 1 - `1 2
8 Puskesmas Maluk - 2 - 1 3
9 Puskesmas Sekongkang 1 1 1 - 3
10 Puskesmas Tongo 1 - 1 - 2
Sumber: Data Seksi Ketenagaan, 2014
2. Tenaga Keperawatan
Tenaga keperawatan dibagi menjadi tiga kategori yakni perawat, bidan dan perawat gigi. Jumlah Tenaga Keperawatan di Kabupaten Sumbawa Barat Tahun 2014 masing-masing Bidan (228 orang), Perawat (330 orang) dan Perawat gigi (11 orang).
Untuk lebih jelas dapat dilihat pendistribusiannya pada Lampiran Tabel 73.
3. Tenaga Kefarmasian
Tenaga kefarmasian merupakan salah satu jenis tenaga kesehatan dengan dua kategori yakni tenaga teknis kefarmasian dan apoteker. Jumlah tenaga Apoteker dan tenaga teknis kefarmasian di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2014 adalah masing- masing 6 orang tenaga teknis kefarmasian dan 11 orang apoteker. Untuk lebih jelas dapat dilihat pendistribusiannya pada Lampiran Tabel 74.
4. Tenaga Kesehatan Masyarakat
Tenaga Kesehatan Masyarakat berjumlah 20 orang. Jenis tenaga kesehatan masyarakat Untuk lebih jelas dapat dilihat pendistribusiannya pada Lampiran Tabel 75.
5. Tenaga Gizi
Tenaga Gizi terbagi menjadi dua kategori yakni Nutrisionis dan Dietisien. Jumlah tenaga Nutrisionis di Kabupaten Sumbawa Barat tahun 2014 adalah 24 orang.Untuk lebih jelas dapat dilihat pendistribusiannya pada Lampiran Tabel 76.