8 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA A. Penelitian terdahulu
1. Penelitian pertama yang dibuat oleh Ignatia Martha Hendrati dan Yunita Dwi S (2009). Penelitian tersebut tentang Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Volume Ekspor Pada Saat Krisis Di Indonesia. Dalam penelitian tersebut menggunakan analisis regresi linier berganda dengan Variabel bebas PDB riil, Kurs, Investasi, Indeks Harga Ekspor, Variabel terikat Volume Ekspor. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara simultan PDB riil dan kurs berpengaruh positif dan signifikan sedangkan investasi dan indeks harga ekspor berpengaruh negatif dan signifkan terhadap Volume Ekspor Indonesia.
2. Penelitian Kedua yang dibuat oleh Ali Wardhana (2011). Penelitian tersebut tentang Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Ekspor Non Migas Indonesia ke Singapura Tahun 1990-2010. Dalam penelitian tersebut menggunakan metode analisis Regresi Linear berganda dengan Variabel bebas Kurs Dollar AS Inflasi PDB riil perkapita negara pengimpor Variabel terikat Ekspor Non Migas. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara simultan Kurs Dollar, Inflasi, PDB riil perkapita negara pengimpor berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor non migas Indonesia ke Singapura.
3. Penelitian Ketiga yang dibuat oleh Gabriella Claudia, Edy Yulianto, M Kholid Mawardi (2016). Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui Pengaruh produksi karet alam domestik, harga karet alam internasional, dan
nilai tukar terhadap volume ekspor karet alam (studi pada komoditi karet alam volume ekspor karet alam (studi pada komoditi karet alam indonesia tahun 2010-2013). Dalam penelitian tersebut menggunakan metode analisis Regresi Linear berganda dengan Variabel Bebas karet alam domestik, harga karet alam Internasional dan Kurs, variabel terikat volume ekspor Karet.
Hasil penelitian tersebut Hasil Uji F menunjukkan bahwa variabel bebas produksi karet alam domestik, harga karet alam internasional, dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS secara simultan berpengaruh tidak signifikan terhadap volume ekspor karet alam Indonesia. Hasil Uji t menunjukkan bahwa variabel produksi karet alam domestik berpengaruh signifikan terhadap volume ekspor karet alam Indonesia. Sebaliknya, variabel harga karet alam internasional dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berpengaruh tidak signifikan terhadap volume ekspor karet alam Indonesia.
4. Penelitian Keempat yang dibuat oleh Nurul Alinda (2013). Penelitian tersebut yaitu tentang Analisis faktor-faktor yang mempengruhi ekspor karet di Indonesia. Dalam penelitian tersebut menggunakan metode analisis Regresi Linear berganda dengan Variabel bebas PDB, Nilai Tukar, Inflasi dan Ekspor Kuartal sebelumnya (Lags Ekspor) sebagai variabel penjelas (independent variable), sedangkan variabel tergantungnya (dependent variable) adalah Ekspor karet Indonesia dinyatakan dalam dollar. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara simultan PDB berpengaruh positif dan signifikan terhadap ekspor karet. Sedangkan Nilai tukar, Inflasi,
Ekspor kuartal Sebelumnya berpengaruh negatif dan signifikan terhadap ekspor karet.
5. Penelitian Kelima yang dibuat oleh Agus Priyono dan Nurul Widyawati (2019). Penelitian tersebut yaitu tentang Pengaruh PDB, Nilai Tukar, Inflasi terhadap Ekspor Karet Indonesia periode 2007-2013. Dalam penelitian tersebut menggunakan metode analisis Regresi Linear berganda dengan Variabel bebas PDB, Inflasi, dan nilai tukar , sedangkan variabel terikat yaitu Ekspor Karet. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa secara simultan PDB berpengaruh tidak signifikan terhadap ekspor karet Indonesia. Sedangkan Inflasi, dan Nilai tukar, berpengaruh signifikan terhadap ekspor karet Indonesia.
Dan Adapun relevansi penelitian yang sekarang dengan penelitian yang terdahulu yaitu bentuk pengembangan dari penelitian terdahulu yang hanya dalam kurun waktu 7 tahun yaitu 2007-2013, bentuk pengembangan penelitian ini berkaitan dengan penambahan jumlah tahun yang lebih banyak dan terbaru yakni tahun 1994-2018 sehingga akan mendapat hasil yang lebih luas cakupannya.
B. Landasan Teori
1. Arti Perdagangan Internasional
Perdagangan dalam ilmu ekonomi adalah proses tukar menukar barang dan jasa yang didasarkan pada kehendak sukarela dari masing–masing pihak (Boediono, 2001). Perdagangan merupakan proses distribusi barang dari produsen ke konsumen, terjadi karena adanya kebutuhan kedua belah pihak. Pada awalnya perdagangan terjadi hanya antar individu, namun seiring perkembangan zaman, perdagangan sudah merambah luas ke wilayah bahkan terjadi antar negara.
Perdagangan antar negara lebih dikenal dengan perdagangan internasional.
Perdagangan internasional ini timbul karena terdapatnya komoditas yang sama sekali tidak dapat diproduksi suatu negara akibat keterbatasan sumberdaya keadaan alam ataupun iklim dan dianggap sebagai suatu akibat dari adanya interaksi antara permintaan dan penawaran yang bersaing
2. Teori Perdagangan Internasional
a) Teori keunggulan absolute
Menurut Adam Smith, perdagangan antara dua negara didasarkan pada keunggulan absolut (absolute adventage). Misal sebuah negara memiliki keunggulan absolut terhadap negara lain dalam memproduksi sebuah komoditi, namun memiliki kerugian absolute terhadap negara lain dalam memproduksi komoditi lainnya. Maka kedua negara tersebut dapat memperoleh keuntungan dengan cara masing –masing melakukan spesialisasi dalam memproduksi komoditi
yang memiliki keunggulan absolut, dan menukarkannya dengan komoditi lain yang memiliki kerugian absolute (Salvatore, 1997).
Kenyataan bahwa salah satu negara akan memperoleh keuntungan lebih banyak tidaklah hal terpenting. Yang penting adalah bahwa kedua negara dapat memperoleh keuntungan dengan melakukan spesialisasi dalam produksi perdagangan. Meskipun demikian, pada saat ini keunggulan absolut hanya dapat menjelaskan sebagian kecil saja dari perdagangan dunia, khususnya perdagangan antara negara–negara maju dan negara–negara berkembang. Sebagian besar perdagangan dunia, terutama perdagangan antara negara maju tidak dapat dijelaskan dengan teori keunggulan absolut (Salvatore, 1997)
b) Teori Kaunggulan Komparatif
Menurut hukum keunggulan komparatif, meskipun sebuah negara kurang efisien dibanding negara lain dalam memproduksi kedua komoditi, namun masih tetap terdapat dasar untuk melakukan perdagangan yang menguntungkan kedua belah pihak (Salvatore, 1997). Negara pertama harus melakukan spesialisasi dalam memproduksi dan mengekspor komoditi yang memiliki kerugian absolut lebih kecil, dan mengimpor komoditi yang memiliki kerugian absolut yang lebih besar.
Ini merupakan komoditi dengan keunggulan komparatif.
c) Teori Keunggulan Kompetitif
Menurut (Porter, 1990) The Competitive Advantage of Nation adalah mengenai tidak adanya korelasi langsung antara dua faktor produksi (sumber daya alam yang tinggi dan sumber daya alam yang murah) yang dimiliki suatu negara
untuk dimanfaatkan menjadi daya saing dalam perdagangan. Porter menyebutkan bahwa ada empat atribut utama yang menetukan mengapa industri tertentu dalam suatu negara dapat mencapai sukses internasional, antara lain:
a. Kondisi faktor produksi
b. Kondisi pemerintahan dan tuntunan mutu dalam negeri c. Eksistensi industri pendukung
d. Kondisi persaingan strategis dan struktur perusahaan dalam negeri.
Keunggulan kompetitif yang hanya didukung oleh setengah atribut saja biasanya tidak akan bertahan, sebab keempat atribut saling berinteraksi positif dalam negara yang sukses. Disamping keempat atribut diatas, peran pemerintah juga sangat dibutuhkan.
3. Ekspor
Ekspor suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain harga domestik negara tujuan ekspor, harga impor negara tujuan, inflasi, pendapatan perkapita penduduk negara tujuan ekspor selera masyarakat negara tujuan dan nilai tukar antar negara. Perubahan volume ekspor terhadap perubahan nilai tukar, dalam hal ini nilai tukar riil adalah positif artinya depresiasi riil membuat produk domestik relatif makin murah sehingga merangsang ekspor (Krugman, 2003). Jika harga relatif dari barang luar negeri meningkat (REER naik) maka masyarakat luar negeri akan mengalihkan pengeluaran mereka untuk membeli barang domestik, sehingga akan memberikan efek positif terhadap ekspor. Dengan peningkatan nilai tukar riil (terdepresiasi), maka harga produk di pasar global akan lebih murah, sehingga dapat meningkatkan ekspor. Perubahan volume ekspor terhadap perubahan nilai tukar riil
tidak selalu positif. Hal ini karena nilai ekspor lebih dipengaruhi oleh harga pasar internasional. Nilai tukar riil dapat berpengaruh negatif terhadap volume ekspor pada jangka pendek. Depresiasi nilai tukar riil tidak dapat langsung direspon dengan baik oleh perubahan volume ekspor, sehingga membutuhkan waktu penyesuaian untuk mengubah permintaan akan ekspor. Selain itu daya saing antar negara juga mempengaruhi besarnya perubahan volume ekspor.Menurut (Mankiw, 2003), berbagai faktor yang dapat mempengaruhi ekspor, impor dan ekspor neto suatu negara meliputi :
a. Selera konsumen terhadap barang-barang produksi dalam negeri dan luar negeri.
b. Harga barang-barang di dalam dan di luar negeri.
c. Kurs yang menentukan jumlah mata uang domestik yang dibutuhkan untuk membeli mata uang asing.
d. Ongkos angkutan barang antar negara.
e. Kebijakan pemerintah mengenai perdagangan internasional.
f. Pendapatan konsumen didalam negeri dan luar negeri.
4. Kurs Tukar
Kurs tukar adalah harga dari mata uang asing yang harus dibayarkan dengan sejumlah nilai mata uang tertentu. Sejumlah nilai mata uang tertentu ini diperlukan agar mata uang tersebut dapat digunakan dalam kegiatan ekonomi. Nilai tukar mata uang suatu negara harus ditentukan dalam sistem perekonomian, nilai tukar terbagi menjadi dua yaitu nilai tukar nominal dan nilai tukar rill (Anindita dan Reed, 2008 hal 103). Tiap negara memiliki sistem penentuan nilai tukar yang berbeda sesuai
dengan kebijakan bank sentral dan kondisi perekonomiannya (Dornbusch, 2008 hal 283).
Kurs mata uang yang dipergunakan dalam perdagangan internasional pasti lebih dari satu jenis. Hal itu pasti akan menimbulkan perbedaan nilai mata uang. Karena adanya perbedaan mata uang, nilai tukar antar keduanya harus ditetapkan.
Hubungan nilai tukar mata uang ini dinyatakan dalam hubungan harga antar mata uang tersebut. Menurut (Mankiw, 2003) “Nilai tukar atau kurs antara dua negara adalah tingkat harga yang disepakati penduduk kedua negara untuk saling melakukan perdagangan”. Jika kurs melemah disebut depresiasi atau penurunan nilai mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Jika kurs menguat disebut apresiasi, atau kenaikan dalam nilai mata uang dalam negeri. Pada umumnya, kurs ditentukan oleh perpotongan kurva permintaan pasar dan kurva penawaran dari mata uang asing tersebut. Menurut Weston (2003) “’Nilai tukar adalah harga dari satu mata uang tertentu terhadap mata uang lainnya”. Berdasarkan uraian, penulis dapat simpulkan bahwa nilai tukar adalah harga yang harus dikeluarkan oleh satu mata uang agar nilainya menjadi sama dengan mata uang lainnya.
5. Inflasi
Inflasi adalah kecendrungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Diartikan juga sebagai naiknya terus menerus tingkat harga pada suatu perekonomian akibat kenaikan permintaan agregat atau penurunan penawaran agregat. Untuk menentukannya perlu diperhatikan data indeks harga konsumen dari suatu tahun tertentu dan seterusnya dibandingkan dengan indeks harga pada tahun sebelumnya (Sukirno, 2006). Indeks
harga konsumen adalah ukuran tingkat harga sebagai indikator inflasi. Sedangkan menurut Keynes inflasi adalah kenaikan dalam tingkat harga rata-rata, harga adalah dimana mempertukarkan uang dengan barang atau jasa (Mankiw, 2003)
Inflasi dapat disebabkan oleh adanya kenaikan dalam jumlah permintaan (demand pull inflation) atau pun penurunan dalam jumlah penawaran (cost push inflation).
a) Demand Pull Inflation
Inflasi yang disebabkan oleh meningkatnya jumlah permintaan akan barang dan jasa. Perhatikan grafik berikut.
2.1. Gambar Kurva Demand Pull Inflation Keterangan:
Grafik di atas menunjukkan hubungan antara harga barang (P), jumlah yang diminta dan ditawarkan (Q), dan keseimbangan harga (E). Terjadinya Demand Pull Inflation ketika permintaan akan barang dan jasa meningkat, maka kurva permintaan total (D) bergeser dari D1D1 ke D2D2. Ketika itu para pedagang akan
mengambil keuntungan dengan menaikkan harga barang dari P1 ke P2. Sehingga pada saat itu, terjadi inflasi dan menimbulkan harga keseimbangan baru dari E1 ke E2.
b) Cost Push Inflation
Yaitu inflasi yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi
2.2. Gambar Kurva Cost Push Inflation Keterangan:
Grafik di atas menunjukkan perilaku produsen ketika menghadapi situasi dimana harga produksi mengalami peningkatan. Ketika terjadi kenaikan harga produksi maka produsen akan menaikkan harga dari P1 ke P2 tetapi dia justru akan menurunkan jumlah barang/jasa yang dihasilkan dari Q1 ke Q2 sehingga akan menggeser kurva penawaran dari S1S1 menjadi S2. Hal ini dilakukan agar produsen tidak terus merugi sambil menunggu harga produksi kembali turun.
Demand Pull Inflation terjadi apabila perusahaan tidak mampu dengan cepat melayani permintaan masyarakat dalam pasaran dan biasanya terjadi pada saat
perekonomian mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi berjalan dengan pesat. Selain itu demand pull inflation juga dapat terjadi didalam masa perang atau ketidakstabilan politik. Sedangkan cost push inflation merupakan masalah kenaikan harga-harga dalam perekonomian yang diakibatkan oleh kenaikan biaya produksi dan biasanya terjadi ketika perekonomian mengalami kekurangan tenaga kerja (Mctaggart, 2003).
Inflasi dapat memberikann dampak positif dan negatif. Dampak negatif dari inflasi yaitu ketika terjadi inflasi maka harga komoditi akan semakin meningkat.
Ketika tingkat inflasi tinggi akan menyebabkan harga barang dan jasa yang dihasilkan atau ditawarkan oleh suatu negara akan meningkat sehingga barang dan jasa tersebut menjadi kurang kompetitif dan ekspor akan turun. Selain itu, inflasi juga mempunyai pengaruh positif terhadap ekspor.
Inflasi bisa menguntungkan dan merugikan. Dikatakan merugikan Ketika terjadi inflasi maka harga komoditi akan meningkat. Peningkatan harga komoditi disebabkan karena untuk menghasilkan suatu komoditi diperlukan biaya yang perlu banyak. Sedangkan inflasi dikatakan menguntungkan apabila suatu negara dapat meningkatkan ekspor karena suatu suatu pinjaman untuk menghasilkan barang dan jasa meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat (Ball, 2005:280-281), yaitu ketika inflasi tinggi maka akan mendorong dilakukannya pinjaman, pinjaman tersebut akan dibayarkan Kembali dengan uang yang lebiihrendah nilainya.
6. Produk Domestik Bruto
Dalam perekonomian suatu negara terdapat suatu indikator yang digunakan untuk menilai apakah perekonomian berlangsung dengan baik atau buruk. Indikator dalam menilai perekonomian tersebut harus dapat digunakan untuk mengetahui total pendapatan yang diperoleh semua orang dalam perekonomian. Indikator yang pas dan sesuai dalam melakukan pengukuran tersebut adalah Gross Domestic Product (GDP) (Mankiw, 2006).
Produk Domestik Bruto (PDB) atau Gross Domestic Product (GDP) sering dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian dan PDB menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa.
(Mankiw, 2003). Produk Domestik Bruto atau GDP (Gross Domestic Product) merupakan statistika perekonomian yang paling diperhatikan karena dianggap sebagai ukuran tunggal terbaik mengenai kesejahteraan masyarakat.
Hal yang mendasarinya karena PDB mengukur dua hal pada saat bersamaan yaitu total pendapatan semua orang dalam perekonomian dan total pembelanjaan negara untuk membeli barang dan jasa hasil dari perekonomian. Alasan PDB dapat melakukan pengukuran total pendapatan dan pengeluaran dikarenakan untuk suatu perekonomian secara keseluruhan, pendapatan pasti sama dengan pengeluaran (Mankiw,2003).
Pengertian dari PDB adalah nilai pasar dari semua barang dan jasa akhir (final) yang diproduksi dalam sebuah negara pada suatu periode. Namun, dalam PDB terdapat beberapa hal yang tidak disertakan seperti nilai dari semua kegiatan
yang terjadi di luar pasar, kualitas lingkungan dan distribusi pendapatan. Oleh sebab itu, PDB per kapita yang merupakan besarnya PDB apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk di suatu negara merupakan alat yang lebih baik yang dapat memberitahukan kita apa yang terjadi pada rata –rata penduduk, standar hidup dari warga negaranya (Mankiw, 2006).
Pada umumnya perbandingan kondisi antar negara dapat dilihat dari pendapatan nasionalnya sebagai gambaran. Dalam menentukan apakah suatu negara berada dalam kelompok negara maju atau berkembang, maka Bank Dunia (The World Bank) melakukannya melalui pengelompokan besarnya PDB, dan PDB suatu negara sama dengan total pengeluaran atas barang dan jasa dalam perekonomian.
Sadono Sukirno (2006) mengatakan bahwa PDB adalah nilai barang dan jasa dalam suatu negara yang diproduksikan oleh faktor-faktor produksi milik warga negara tersebut dan negara asing. Dengan demikian warga negara yang bekerja di negara lain, pendapatannya tidak dimasukan ke dalam PDB. Sebagai gambaran PDB Indonesia baik oleh warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA) yang ada di Indonesia tetapi tidak diikutisertakan produk WNI di luar negeri. PDB diartikan sebagai nilai keseluruhan semua barang dan jasa yang diproduksi didalam wilayah tersebut dalam jangka waktu tertentu (biasanya per tahun).
PDB berbeda dari Produk Nasional Bruto karena memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri yang bekerja di negara tersebut. Sehingga PDB
hanya menghitung total produksi dari suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi itu dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri atau tidak.
Sebaliknya, PNB memperhatikan asal usul faktor produksi yang digunakan. PDB Nominal (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Berlaku) merujuk kepada nilai PDB tanpa memperhatikan pengaruh harga. Sedangkan PDB riil (atau disebut PDB Atas Dasar Harga Konstan) mengoreksi angka PDB nominal dengan memasukkan pengaruh dari harga.
C. Hubungan Antar Variabel
1. Hubungan Antara Nilai Tukar Terhadap Ekspor
Nilai tukar dapat berpengaruh positif dan negatif terhadap ekspor. Pengaruh positif terjadi ketika penguatan nilai tukar dapat mempengaruhi ekspor sehingga ekspor dapat bertambah. Nilai tukar mempengaruhi harga suatu barang yang diekspor, sehingga ketika nilai tukar rupiah terhadap dollar menguat, maka harga barang ekspor akan naik. Mankiw menjelaskan bahwa ketika harga suatu barang naik mka jumlah barang yang diminta akan turun dan harga turun, maka jumlah barang yang diminta akan naik (Mankiw 2012 hal 67). Pengaruh negatif dari nilai tukar terjadi ketika nilai tukar mengalami pelemahan, maka ekspor naik atau bertambah. Sukirno menjelaskan bahwa ketika nilai rupiah turun atau terjadi devaluasi mata uang, maka ekspor akan bertambah, karena dipasaran luar negri, ekspor negara menjadi lebih murah (Sukirno, 2012 hal 408).
2. Hubungan Antara Variabel Inflasi Terhadap Ekspor
Inflasi bisa menguntungkan dan merugikan. Dikatakan merugikan Ketika terjadi inflasi maka harga komoditi akan meningkat. Peningkatan harga komoditi disebabkan karena untuk menghasilkan suatu komoditi diperlukan biaya yang perlu banyak. Sedangkan inflasi dikatakan menguntungkan apabila suatu negara dapat meningkatkan ekspor karena suatu suatu pinjaman untuk menghasilkan barang dan jasa meningkat. Hal ini sesuai dengan pendapat (Ball, 2005:280-281), yaitu ketika inflasi tinggi maka akan mendorong dilakukannya pinjaman, pinjaman tersebut akan dibayarkan Kembali dengan uang yang lebih rendah nilainya.
3. Hubungan Antara variabel Produk Domestik Bruto Terhadap Ekspor
Produk Domestik Bruto (PDB) sering dianggap sebagai ukuran terbaik dari kinerja perekonomian dan PDB menyatakan pendapatan total dan pengeluaran total nasional atas output barang dan jasa. (Mankiw, 2003). Produk Domestik Bruto (PDB) merupakan statistika perekonomian yang paling diperhatikan karena dianggap sebagai ukuran tunggal terbaik mengenai kesejahteraan masyarakat. Menurut Marbun (2015), pendapatan nasional memiliki kaitan yang positif dengan ekspor. Pendapatan nasional suatu negara meningkat maka ekspor atau permintaan ekspor suatu barang dari negara lain akan meningkat.
D. Kerangka Pemikiran
Dalam penelitian ini berupa data dalam kurun waktu 1994 sampai 2018.
Dalam meneliti pengaruh Kurs Tukar, Inflasi, dan PDB terhadap Ekspor Karet
Indonesia. Nilai Ekspor Karet merupakan variabel tidak bebasnya, sedangkan variabel bebasnya adalah pada Kurs Tukar, Inflasi, dan PDB.
Adapun kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dijelaskan pada gambar di bawah ini:
Gambar 2. 3 Grafik Kerangka Pemikiran Pengaruh Nilai Tukar, Inflasi, dan Produk Domestik Bruto Terhadap Ekspor Komoditi Karet Di Indonesia Tahun 1994-2018.
E. Hipotesis Penelitian
Hipotesis adalah jawaban sementara atau kesimpulan yang diambil untuk menjawab permasalahan yang diajukan dalam suatu penelitian yang sebenarnya harus diuji secara empiris. Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan perlu dibuktikan atau dugaan yang sifatnya masih sementara (Hasan, 2008:140). Hipotesis yang akan di uji dalam penelitian ini berdasarkan kerangka pemikiran diatas adalah :
Kurs Tukar (X1)
Inflasi (X2)
PDB (X3)
Ekspor Karet (Y)
1. H0 : Diduga Variabel Kurs Tukar, Inflasi, PDB Tidak Berpengaruh Terhadap Ekspor Karet Indonesia Tahun 1994-2018
2. H1 : Diduga Variabel Kurs Tukar, Inflasi, PDB Berpengaruh Terhadap Ekspor Karet Indonesia Tahun 1994-2018