Lampiran IV
Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor :
Tanggal : 2014
PEMANTAUAN, PELAPORAN DAN EVALUASI
I. PEMANTAUAN
Pemantauan menjadi kewajiban bagi pelaku usaha dan atau kegiatan untuk mengetahui ketaatan dalam pengelolaan lingkungan dan sebagai bahan evaluasi ada tidaknya indikasi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan. Kewajiban tersebut dapat dilakukan sendiri atau menggunakan jasa laboratorium.
Kewajiban pemantauan yang harus menggunakan jasa laboratorium wajib menggunakan laboratorium yang terakreditasi dan/atau teregistrasi di kementerian lingkungan hidup atau laboratorium yang telah ditunjuk oleh Gubernur sebagai laboratorium rujukan.
Adapun yang wajib dilakukan pemantauan meliputi : I.1. BAHAN BAKU DAN PRODUKSI
Pencatatan bahan baku dan produksi senyatanya dilakukan secara harian dan di rekap bulanan sebagai bahan pelaporan.
I.2. AIR LIMBAH
I.2.1. Titik masuk IPAL ( Influent/inlet) dan/atau sebelum dipompakan ke pengomposan.
I.2.1.1. Kandungan Minyak 1) Lokasi
Minyak diambil di titik penaatan sebelum masuk ke IPAL dan/atau sebelum dipompakan ke pengomposan.
2) Frekuensi
Pemantauan minyak dilakukan minimal 1 (satu) kali sebulan I.2.1.2. Kualitas air limbah
1) Lokasi
Air limbah diambil di titik penaatan sebelum masuk ke IPAL.
2) Frekuensi
Pemantauan dilakukan minimal 1 (satu) kali sebulan dan beberapa parameter dilakukan harian dengan parameter sebagaimana tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1. Parameter dan Metode Analisa Air limbah
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD harian Mengikuti SNI
termutakhir
3. Minyak lemak 1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
4. pH harian Mengikuti SNI
termutakhir
5. Nitrogen Total (sebagai N)
1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
6. TSS 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7. Debit harian Mengikuti SNI
termutakhir
I.2.2. Titik keluar IPAL (efFluen/outlet) dan atau titik keluaran untuk pemanfaatan air limbah ke tanah di lahan perkebunan.
I.2.2.1. Pembuangan air limbah 1) Lokasi
Air limbah di ambil di titik penaatan (titik keluar IPAL(effluent/outlet)) yang sudah ditentukan dari masing-masing IPAL (apabila IPAL lebih dari satu).
2) Frekuensi dan parameter
Pemantauan air limbah di titik penaatan dilakukan minimal 1 (satu) kali sebulan dan beberapa parameter dilakukan harian dengan parameter sesuai dengan tabel 4.2. dan tabel 4.3.
Tabel 4.2. Parameter dan Metode Analisa Air limbah proses, air limbah hidrocyclon/claybath, air limbah lindi, air limbah blowdown ketel uap (boiler)
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD harian Mengikuti SNI
termutakhir
3. Minyak lemak 1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
4. pH harian Mengikuti SNI
termutakhir
5. Nitrogen Total 1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
No Parameter Frekuensi Metode
(sebagai N)
6. TSS 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7. Debit harian Mengikuti SNI
termutakhir
Tabel 4.2. Parameter dan Metode Analisa Air limbah abu ketel uap, air limbah air pembersihan (reject water) instalasi pengolahan Air (IPA)
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD harian Mengikuti SNI
termutakhir
3. Minyak lemak 1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
4. pH harian Mengikuti SNI
termutakhir
5. Sulfida (sebagai S) 1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
6. TSS 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7. Debit harian Mengikuti SNI
termutakhir
I.2.2.2. Pemanfaatan air limbah ke tanah di lahan perkebunan 1) Lokasi
Air limbah di ambil di titik penaatan yang sudah ditentukan.
2) Frekuensi dan parameter
a) Pemantauan air limbah di titik penaatan dilakukan minimal 1 (satu) kali sebulan dan beberapa parameter dilakukan harian dengan parameter sebagaimana tersebut dalam Tabel 4.4.
Tabel 4.4. Parameter dan Metode Analisa Air limbah
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 1 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD harian Mengikuti SNI
termutakhir
3. Minyak lemak 1 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
4. pH harian Mengikuti SNI
termutakhir
5. NO3 sebagai N 6 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
6 NH3-N 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7 Debit harian Mengikuti SNI
termutakhir
b) Pencatatan dosis harian, rotasi dan produksi senyatanya bulanan
I.2.2.3. Pemanfaatan air limbah untuk Pengomposan
Air limbah yang dimanfaatkan untuk pengomposan harus dipantau yang meliputi :
1) Volume air limbah harian yang dimanfaatkan
2) Volume lindi (leachet) harian yang dimanfaatkan kembali untuk pengomposan, dan/atau
3) Volume lindi (leachet) harian yang diolah ke IPAL
Apabila air lindi (leachet) diolah di IPAL tersendiri (tidak dikembalikan ke IPAL sebelum pengomposan) maka :
1) Jika dilakukan pembuangan maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban memantau air limbah dengan frekuensi dan parameter mengikuti pemantauan pembuangan seperti poin I.2.2.1.
2) Jika dilakukan pemanfaatan air limbah lindi ke tanah di lahan maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban memantau air limbah dengan frekuensi dan parameter mengikuti pemantauan pemanfaatan seperti poin I.2.2.2.
3) Titik penaatan ditentukan di titik keluar IPAL air lindi (effluent/outlet) dan atau titik keluaran untuk pemanfaatan air limbah ke tanah di lahan perkebunan
I.3. AIR TANAH
I.3.1. Sumur pantau di Kolam IPAL a. Lokasi
Sampel air tanah diambil dari sumur pantau yang harus dibuat di lokasi disamping kolam IPAL hulu (upstream), dan kolam IPAL hilir (down stream).
b. Frekuensi dan Parameter
Pemantauan air tanah minimal dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali untuk setiap sumur pantau dengan parameter-parameter sebagaimana tersebut dalam Tabel 4.5
Tabel 4.5. Parameter dan Metode Analisa Air tanah
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
3. DO 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
4. pH 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
No Parameter Frekuensi Metode 5. NO3 sebagai N 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
6. NH3-N 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7. Minyak lemak 6 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
I.3.2. Sumur pantau yang memanfaatkan air limbah ke tanah di lahan perkebunan a. Lokasi
Sampel air tanah diambil dari sumur pantau yang harus dibuat di lahan kontrol (upstream), lahan pemanfaatan air limbah pada tanah yang lokasinya lebih rendah dan diperkirakan memiliki peluang tercemar air limbah (down stream).
b. Frekuensi dan Parameter
Pemantauan air tanah minimal dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali untuk setiap sumur pantau dengan parameter-parameter sebagaimana tersebut dalam Tabel 4.6.
Tabel 4.6. Parameter dan Metode Analisa Air tanah
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
3. DO 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
4. pH 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
5. NO3 sebagai N 6 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
6. NH3-N 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7. Minyak lemak 6 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
I.3.3. Sumur pantau yang melakukan pengomposan c. Lokasi
Sampel air tanah diambil dari sumur pantau yang harus dibuat yang lokasinya lebih rendah dan diperkirakan memiliki peluang tercemar air limbah dari proses pengomposan dan yang berdekatan dengan penampungan air lindi (leachet).
d. Frekuensi dan Parameter
Pemantauan air tanah minimal dilakukan setiap 6 (enam) bulan sekali untuk setiap sumur pantau dengan parameter-parameter sebagaimana tersebut dalam Tabel 4.7.
Tabel 4.7. Parameter dan Metode Analisa Air tanah
No Parameter Frekuensi Metode
1. BOD5 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
2. COD 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
3. DO 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
4. pH 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
5. NO3 sebagai N 6 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
6. NH3-N 6 bulan sekali Mengikuti SNI
termutakhir
7. Minyak lemak 6 bulan sekali Mengikuti SNI termutakhir
I.4. TANAH
1.4.1. Kualitas Tanah
Pemantauan kualitas tanah dilakukan untuk perusahaan yang melakukan pemanfaatan air limbah ke tanah di lahan perkebunan.
1. Lokasi
Syarat utama lokasi pengambilan sampel tanah adalah lokasi harus mewakili jenis tanah pada lahan yang diaplikasikan.
Untuk maksud di atas maka lokasi pengambilan sampel ditetapkan pada 3 (tiga) lokasi yaitu di parit irigasi (rorak), antara parit dan tanaman (antar rorak), dan di lahan kontrol pada 3 (tiga) kedalaman sebagai berikut:
(a). 0 - 30 cm (b). 30 - 60 cm (d). 60 - 90 cm
2. Cara pengambilan sampel
Pengambilan sampel tanah di parit irigasi (rorak) dilakukan setelah kerak limbah yang menumpuk dipermukaannya dibuang atau disisihkan dari parit.
Pengambilan sampel tanah dilakukan secara komposit.
3. Frekuensi dan Parameter minimal yang harus diamati
Pengamatan dilakukan dengan frekuensi minimal satu tahun sekali untuk parameter-parameter yang tercantum dalam Tabel 4.8.
Tabel 4.8. : Parameter dan Metode Analisa Tanah
No Parameter Metode
1. pH dalam air Mengikuti SNI termutakhir
2. C-organik Mengikuti SNI termutakhir
3. N Total Mengikuti SNI termutakhir
4. P tersedia Mengikuti SNI termutakhir
5. Kation dapat ditukar K, Na, Ca, Mg
Mengikuti SNI termutakhir
6. Kapasitas tukar kation Mengikuti SNI termutakhir
7. Kejenuhan Basa Mengikuti SNI termutakhir
8. Tekstur (pasir, debu, liat) Mengikuti SNI termutakhir
9. Minyak lemak Mengikuti SNI termutakhir
Perusahaan wajib memantau berat volume tanah dan berat jenis tanah 1 (satu) tahun sekali
1.4.2. Porositas dan permeabilitas
Pemantauan porositas dan permeabilitas tanah dilakukan untuk perusahaan yang melakukan pemanfaatan air limbah ke tanah di lahan perkebunan. Lokasi pengambilan sampel di parit irigasi (rorak) dimana lokasi tersebut juga menjadi lokasi pengambilan sampel kualitas tanah dan di lahan kontrol. Frekuensi pemantauan porositas dan permeabilitas dilakukan 1 (satu) tahun sekali.
I.5. LIMBAH PADAT
Pemantauan yang harus dilakukan oleh perusahaan terhadap limbah padat meliputi : 1. Jenis limbah padat yang dihasilkan bulanan
2. Jumlah limbah padat yang dihasilkan bulanan
3. Jumlah limbah padat yang dikelola dan/atau dimanfaatkan bulanan 4. Waktu dan ketinggian penumpukan limbah padat harian
Pencataan waktu dilakukan saat limbah pada dihasilkan dan mulai ditumpuk sampai limbah padat dilakukan pengelolaan lanjutan. Demikian juga ketinggian juga dimulai limbah padat dihasilkan untuk ditumpuk sampai limbah padat dilakukan pengelolaan lanjutan .
5. Volume lindi (leachet) harian yang dihasilkan dari penumpukan limbah padat 6. Volume lindi (leachet) harian yang diolah ke IPAL,
Apabila air lindi (leachet) diolah di IPAL tersendiri (tidak dikembalikan ke IPAL utama) maka :
a. Jika dilakukan pembuangan maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban memantau air limbah dengan frekuensi dan parameter mengikuti pemantauan pembuangan seperti poin I.2.2.1.
b. Jika dilakukan pemanfaatan air limbah lindi ke tanah di lahan maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban memantau air
limbah dengan frekuensi dan parameter mengikuti pemantauan pemanfaatan seperti poin I.2.2.2.
c. Titik penaatan ditentukan di titik keluar IPAL air lindi (effluent/outlet) dan atau titik keluaran untuk pemanfaatan air limbah ke tanah di lahan perkebunan
7. Suhu harian kompos, apabila limbah padat dilakukan pengomposan
8. Melakukan pemantauan mutu kompos per 6 bulan dengan mengacu pada SNI 19-7030- 2004 tentang “Spesifikasi Kompos dari Sampah Organik Domestik” dengan parameter sebagai berikut :
Tabel 4.9. Standar Mutu Kompos (SNI-19-7030-2004)
I.6. UDARA AMBIEN, EMISI UDARA DAN SUMBER GANGGUAN I.6.1. Udara Ambien
Pemantauan udara ambien minimal 6 bulan sekali namun apabila pada peraturan yang berlaku dan atau di dalam kajian dokumen lingkungannya mewajibkan kurang dari 6 bulan maka ketentuan tersebut yang wajib diikuti.
I.6.2. Emisi Udara a. Boiler
Pemantauan emisi boiler minimal 6 bulan sekali untuk masing-masing sumber boiler, namun apabila di dalam kajian dokumen lingkungannya mewajibkan kurang dari 6 bulan maka ketentuan tersebut yang wajib diikuti.
o
C
b. Genset atau Proses pembakaran di dalam mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine)
Pemantauan emisi genset atau proses pembakaran di dalam mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine) dilakukan berdasarkan kapasitas desain yaitu:
1) lebih kecil atau sama dengan 570 KW atau satuan lain yang setara, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 3 (tiga) tahun;
2) 570 KW sampai dengan 3 MW atau satuan lain yang setara, dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun;
3) lebih besar dari 3 MW atau satuan lain yang setara dilakukan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 6 (enam) bulan;
I.6.3. Sumber Gangguan
Pelaku usaha dan atau kegiatan berkewajiban untuk melakukan pengujian sumber gangguan minimal 6 bulan sekali. Sumber gangguan meliputi :
1. Kebisingan 2. Getaran 3. Kebauan
Untuk yang melakukan pengomposan diwajibkan melakukan pemantauan kebauan setiap 3 (tiga) bulan sekali
II. PELAPORAN
Pelaporan dilakukan dari seluruh hasil pemantauan yang telah dilakukan oleh penanggung jawab usaha dan atau kegiatan industri minyak sawit sebagaimana tabel 4.8 berikut ini :
Tabel 4.8. Frekuensi pelaporan
NO PEMANTAUAN FREKUENSI PELAPORAN
1. Kandungan minyak 3 bulan sekali
2. Air limbah 3 bulan sekali
3. Debit harian, pH harian, COD harian, dosis harian, rotasi dan bahan
baku/produksi senyatanya bulanan
3 bulan sekali
4. Air Tanah 6 bulan sekali 5. Kualitas Tanah, porositas dan
permeabilitas tanah
1 tahun sekali
6. Limbah Padat 6 bulan sekali
7 Emisi udara 6 bulan sekali
8. Udara Ambien termasuk kebauan, kebisingan dan getaran
6 bulan sekali
Pelaporan disampaikan kepada instansi terkait baik di tingkat Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota
III. EVALUASI
Evaluasi dilakukan oleh pemerintah dan atau pemerintah daerah dengan tujuan untuk mendapatkan nilai perbandingan antara hasil pemantauan dengan nilai pembanding yang ditetapkan dalam peraturan ini. Hasil dari evaluasi ini digunakan sebagai bahan untuk menentukan kebijakan dalam pengelolaan limbah industri minyak sawit dan atau digunakan sebagai acuan dalam perpanjangan izin perlindungan dan pengelolaan lingkungan.
Proses evaluasi dilakukan dengan dasar sebagai berikut : III.1. Sudah ditetapkan baku mutunya
Kewajiban pemantauan yang ada nilai baku mutunya maka evaluasi yang dilakukan diperbandingkan dengan baku mutu tersebut.
III.1.1. Pengelolaan Air Limbah
Hasil pemantauan air limbah yang dilakukan pembuangan dan atau dimanfaatkan ke tanah di lahan perkebunan dilakukan evaluasi dengan membandingkan dengan baku mutu yang sudah ditetapkan sebagaimana Lampiran I.
Adapun hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Hasil pemantauan kualitas air limbah ada parameter yang melebihi dan atau tidak memenuhi baku mutu maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib
melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat memperbaiki kualitas air limbahnya
2. Hasil pemantauan kualitas air limbah ada parameter yang melebihi dan atau tidak memenuhi baku mutu dan sudah dilakukan teguran oleh pemberi izin maka pemberi izin berkewajiban untuk meninjau ulang izin yang sudah dikeluarkan.
Khusus untuk yang melakukan pembuangan air limbah, selain kualitas air limbah juga dievuluasi beban pencemaran. Tindak lanjut dari proses evaluasi dapat dilakukan sebagai berikut :
1. Hasil perhitungan beban pencemaran melebihi baku mutu beban pencemaran maksimum maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat menurunkan beban pencemaran. 2. Hasil perhitungan beban pencemaran melebihi baku mutu beban pencemaran
maksimum dan sudah dilakukan teguran oleh pemberi izin maka pemberi izin berkewajiban untuk meninjau ulang izin pengelolaan air limbah yang sudah dikeluarkan dan tidak memperpanjang izin yang ada.
III.1.2. Pengelolaan Emisi dan gangguan
Hasil pemantauan emisi dan gangguan dilakukan evaluasi dengan membandingkan dengan baku mutu yang sudah ditetapkan sebagaimana Lampiran I dan atau peraturan yang ada.
Adapun hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan melakukan hal-hal sebagai berikut :
1. Hasil pemantauan kualitas udara emisi dan atau gangguan ada parameter yang melebihi dan atau tidak memenuhi baku mutu maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan dari semua sumber emisi dan sumber gangguan yang dapat memperbaiki kualitas udara emisi dan atau gangguan
2. Hasil pemantauan kualitas kualitas udara emisi dan atau gangguan ada parameter yang melebihi dan atau tidak memenuhi baku mutu selama 3 tahun dan sudah dilakukan teguran oleh pemberi izin maka dapat digunakan sebagai acuan bagi pemberi izin meninjau ulang izin yang sudah dikeluarkan.
III.2. Belum ditetapkan baku mutunya
Kewajiban pemantauan yang belum ada nilai baku mutunya maka evaluasi dapat diatur sebagai berikut :
III.2.1. Pengelolaan Air Limbah
Evaluasi dilakukan terhadap hasil pemantauan yang terkait dengan pengelolaan air limbah dan hasil evaluasi digunakan sebagai acuan dalam perpanjangan izin pengelolaan air limbah
1. Kandungan Minyak
Hasil pemantauan kandungan minyak dalam air limbah (diambil dari sebelum masuk ke kolam IPAL), ada 25 % data dalam satu tahun yang melebihi dari 0,65% maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya di dalam proses produksi, sehingga kehilangan (losses) minyak bisa kurang dari 0,65%.
Apabila selama lima tahun secara berturut-turut ada > 25 % data kandungan minyak melebihi 0,65% maka pemberi izin wajib tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
2. Sumur pantau disekitar kolam IPAL
Hasil pemantauan air tanah di sumur pantau di sekitar IPAL proses evaluasinya dapat dilakukan sebagai berikut :
a. Berdasarkan kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol; dan/atau
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan dengan kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol. Hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan :
1) Apabila ada parameter yang kualitasnya melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan seperti rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol.
2) Selama dua tahun secara terus menerus ada parameter yang kualitasnya melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban untuk memperbaiki dasar IPAL, tanggul IPAL dan atau permukaan IPAL.
3) Selama lima tahun terus menerus ada parameter yang kualitasnya melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka pemerintah sebagai pemberi izin wajib tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
b. Berdasarkan trend hasil pemantauan air tanah;
Evaluasi dilakukan dengan melihat trend hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan. Hasil pemantaun dibuat grafik sehingga dapat diketahui
apakah ada trend kenaikan, penurunan atau datar. Dari hasil dan grafik yang diperoleh tersebut dapat ditindaklanjuti dengan :
1) Apabila selama 3 tahun ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan serta berkewajiban untuk memperbaiki dasar IPAL, tanggul IPAL dan atau permukaan IPAL.
2) Selama lima tahun terus menerus ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % maka pemerintah sebagai pemberi izin wajib tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
3. Pemanfaatan air Limbah ke tanah a. Kualitas air limbah
Evaluasi kualitas air limbah untuk yang ada baku mutu dilakukan dengan membandingkan hasil pemantaun dengan baku mtua air limbah tersebut. Namun demikian karena di dalam pemanfaatan air limbah ada parameter yang wajib di lakukan pemantaun tetapi tidak ada baku mutunya maka proses evaluasinya dapat dilakukan berdasarkan trend hasil pemantauan air limbah;
Evaluasi dilakukan dengan melihat trend hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan. Hasil pemantaun dibuat grafik sehingga dapat diketahui apakah ada trend kenaikan, penurunan atau datar. Dari hasil dan grafik yang diperoleh tersebut dapat ditindaklanjuti dengan :
a) Apabila selama 1 tahun ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan serta berkewajiban menghentikan pemanfaatan air limbah.
b) Selama 3 tahun terus menerus ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50
% maka pemerintah sebagai pemberi izin wajib tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
b. Kualitas air tanah di sumur pantau
Hasil pemantauan air tanah per enam bulanan di sumur pantau di kegiatan pemanfaatan air limbah ke tanah proses evaluasinya dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Berdasarkan kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol ; dan/atau
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan dengan kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol. Hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan :
a) Apabila ada parameter yang melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan seperti rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol.
b) Selama tiga tahun secara terus menerus ada parameter melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban untuk menghentikan pemanfaatan di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin untuk merubah lokasi pemanfaatan.
c) Selama lima tahun terus menerus ada parameter dari semua lokasi yang diizinkan untuk pemanfaatan melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
2) Berdasarkan trend hasil pemantauan air tanah;
Evaluasi dilakukan dengan melihat trend hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan. Hasil pemantaun dibuat grafik sehingga dapat diketahui apakah ada trend kenaikan, penurunan atau datar.
Dari hasil dan grafik yang diperoleh tersebut dapat ditindaklanjuti dengan : c) Apabila selama 3 tahun ada parameter yang trend kenaikan lebih dari
50 % maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban menghentikan pemanfaatan air limbah di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin untuk merubah lokasi pemanfaatan.
d) Selama 5 tahun terus menerus ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % dari semua lokasi pemanfaatan maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya..
c. Kualitas tanah
Hasil pemantauan tanah setahun sekali dari kegiatan pemanfaatan air limbah ke tanahproses evaluasinya dapat dilakukan sebagai berikut :
1) Berdasarkan kualitas tanah rona awal dan atau kualitas tanah di lahan kontrol; dan/atau
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pemantauan seluruh parameter tanah setahun sekali dengan kualitas tanah rona awal dan atau kualitas tanah di lahan kontrol. Hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan :
a) Apabila ada parameter yang melebihi kualitas tanah rona awal dan atau kualitas tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan seperti rona awal dan atau kualitas tanah di lahan kontrol.
b) Selama tiga tahun secara terus menerus ada parameter melebihi kualitas tanah rona awal dan atau kualitas tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban untuk menghentikan pemanfaatan di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin untuk merubah lokasi pemanfaatan.
c) Selama lima tahun terus menerus ada parameter dari semua lokasi yang diizinkan untuk pemanfaatan melebihi kualitas tanah rona awal dan atau kualitas tanah di lahan kontrol maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
2) Berdasarkan trend hasil pemantauan tanah;
Evaluasi dilakukan dengan melihat trend hasil pemantauan seluruh parameter tanah setahun sekali. Hasil pemantaun dibuat grafik sehingga dapat diketahui apakah ada trend kenaikan, penurunan atau datar. Dari hasil dan grafik yang diperoleh tersebut dapat ditindaklanjuti dengan :
a) Apabila selama 3 tahun ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban menghentikan pemanfaatan air limbah di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin untuk merubah lokasi pemanfaatan.
b) Selama 5 tahun terus menerus ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % dari semua lokasi pemanfaatan maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban untuk tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
d. Permeabilitas tanah
Hasil pemantauan permeabilitas tanah setahun sekali dari kegiatan pemanfaatan air limbah ke tanahproses evaluasinya dapat dilakukan sebagai berikut :
3) Berdasarkan permeabilitas tanah rona awal dan atau permeabilitas tanah di lahan kontrol; dan/atau
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pemantauan permeabilitas tanah setahun sekali dengan permeabilitas tanah rona awal dan atau
permeabilitas tanah di lahan kontrol. Hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan :
d) Apabila ada permeabilitas tanah tidak masuk dalam range permeabilitas tanah rona awal dan atau permeabilitas tanah di lahan control (1,5 cm/jam – 15 cm/jam) maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan seperti permeabilitas rona awal dan atau permeabilitas tanah di lahan kontrol.
e) Selama tiga tahun secara terus menerus ada permeabilitas tanah tidak masuk dalam range permeabilitas tanah rona awal dan atau permeabilitas tanah di lahan kontrol (1,5 cm/jam – 15 cm/jam) maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban untuk menghentikan pemanfaatan di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin untuk merubah lokasi pemanfaatan.
f) Selama lima tahun terus menerus ada data permeabilitas tanah tidak masuk dalam range permeabilitas tanah rona awal dan atau permeabilitas tanah di lahan kontrol (1,5 cm/jam – 15 cm/jam) dari semua lokasi yang diizinkan untuk pemanfaatan maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
4) Berdasarkan trend hasil pemantauan permeabilitas tanah;
Evaluasi dilakukan dengan melihat trend hasil pemantauan permeabilitas tanah setahun sekali. Hasil pemantaun dibuat grafik sehingga dapat diketahui apakah ada trend kenaikan, penurunan atau datar. Dari hasil dan grafik yang diperoleh tersebut dapat ditindaklanjuti dengan :
c) Apabila selama 3 tahun ada data permeabilitas tanah yang trend kenaikan dan atau penurunan lebih dari 50 % dari range permeabilitas (1,5 cm/jam – 15 cm/jam) maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban menghentikan pemanfaatan air limbah di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin untuk merubah lokasi pemanfaatan.
d) Selama 5 tahun terus menerus ada data permeabilitas tanah yang trend kenaikan dan atau penurunan lebih dari 50 % dari range permeabilitas (1,5 cm/jam – 15 cm/jam) dari semua lokasi pemanfaatan maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban untuk tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
III.2.2. Pengelolaan Limbah Padat
1. Waktu penumpukan dan Ketinggian tumpukan limbah padat
Hasil pencatatan waktu penumpukan dan ketinggian tumpukan yang telah dilakukan oleh penanggung jawab wajib dilakukan evaluasi oleh pemerintah dan atau pemerintah daerah.
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan waktu dan atau ketinggian penumpukan di lapangan dengan waktu penumpukan yang diperbolehkan yaitu 10 hari dan atau ketinggian 2 meter. Hasil perbandingan yang dilakukan ditindaklanjuti dengan : a. Apabila waktu penumpukan sudah melebihi dari 10 hari dan atau ketinggian
penumpukan melebihi 2 meter maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib segera melakukan pengangkatan untuk pengelolaan lebih lanjut
b. Apabila waktu penumpukan sudah melebihi dari 10 hari dan atau ketinggian penumpukan melebihi 2 meter secara komulatif dan atau tidak komulatif selama 1 tahun, serta sudah dilakukan teguran secara tertulis maka dapat digunakan sebagai acuan bagi pemberi izin meninjau ulang izin yang sudah dikeluarkan.
2. Kualitas air tanah di sumur pantau lokasi pengomposan
Hasil pemantauan air tanah per enam bulanan di sumur pantau di kegiatan pemanfaatan pengomposan proses evaluasinya dapat dilakukan sebagai berikut : 3) Berdasarkan kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan
kontrol; dan/atau
Evaluasi dilakukan dengan membandingkan hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan dengan kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol. Hasil perbandingan dapat ditindaklanjuti dengan :
a) Apabila ada parameter yang melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya-upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan seperti rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol.
b) Selama tiga tahun secara terus menerus ada parameter melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau kualitas air tanah di lahan kontrol maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan berkewajiban untuk menghentikan pemanfaatan di lokasi tersebut serta mengajukan perubahan izin.
c) Selama lima tahun terus menerus ada parameter dari semua lokasi yang diizinkan untuk pemanfaatan melebihi kualitas air tanah rona awal dan atau
kualitas air tanah di lahan kontrol maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.
4) Berdasarkan trend hasil pemantauan air tanah;
Evaluasi dilakukan dengan melihat trend hasil pemantauan seluruh parameter air tanah per enam bulanan. Hasil pemantaun dibuat grafik sehingga dapat diketahui apakah ada trend kenaikan, penurunan atau datar. Dari hasil dan grafik yang diperoleh tersebut dapat ditindaklanjuti dengan :
a) Apabila selama 3 tahun ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % maka penanggung jawab usaha dan atau kegiatan wajib melakukan upaya- upaya pengelolaan lingkungan yang dapat mengembalikan kondisi lingkungan serta berkewajiban menghentikan pemanfaatan air limbah di lokasi tersebut.
b) Selama 5 tahun terus menerus ada parameter yang trend kenaikan lebih dari 50 % dari semua lokasi pemanfaatan maka pemerintah sebagai pemberi izin berkewajiban untuk tidak memperpanjang izin pengelolaan air limbahnya.